Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Genitourinenaria : Inkontinensia Urine

Oleh Oktaviana Ana

335,1 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Genitourinenaria : Inkontinensia Urine

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM GENITOURINENARIA : INKONTINENSIA URINE A. Latar Belakang Inkontinensia urine merupakan pengeluaran urine secara tidak sadar, sering pada orang tua dan menyebabkan meningkatnya resiko infeksi saluran kemih, masalah psikologis, dan isolasi sosial. Inkontinensia cenderung tidak dilaporkan, karena penderita merasa malu dan juga menganggap tidak ada yang dapat menolong nya dari penelitian pada populasi lanjut usia dari masyarakat, didapatkan 75% dari pria dan 12% dari wanita diatas 70 tahun mengalami inkontinensia urine. Sedangkan mereka yang dirawat di psikogeriatri 15-50% menderita inkontinensia urine. Inkontinensia dibagi menjadi inkontinensia akut, dan inkontinensia kronik. Inkontinensia akut atau transien bersifat tiba-tiba, biasanya berhubungan dengan kondisi pengobatan atau pembedahan. Penyebab inkontinensia akut antara lain mobilitas terbatas, pecal impaction, delirium, infeksi saluran kemih, DM tak terkontrol, hiperkalsemia pengobatan anti kolinergik/beta adrenergik/alpha loker, diuretic, psikotropic, narkotik atau alkohol. Inkontinensia kronik atau persisten dibagi menjadi stress inkontinensia, urge inkontinensia, overflow inkontinensia dan fungsional dan fungsional inkontinensia. Stress inkontinensia biasa terjadi pada lansia wanita. Terjadi akibat peningkatan yang tiba-tiba pada tekanan intraabdmomen akibat adanya kelemahan otot-otot disekitar uretra karena kehamilan. Kelahiran pervagina, trauma pembedahan, obesitas dan batuk kronik. Pada pria stress inkontinensia tidak biasa terjadi tetapi dapat terjadi apabila ada pembedahan prostate dan terapi radiasi. Urgeinkontinensia pada lansia biasanya dihubungkan dengan ketidakseimbangan otot detrusor/hiperrefleksia akibat dari cystitis, urethritis, tumor, batu, juga stroke, dementia dan penyakit parkinson digubungkan dengan nocturia. Overflow inkontinensia ditandai dengan keluhan sering miksi dengan volume urine sedikit, sulit memulai miksi dan merasa tidak puas. Biasanya terjadi pada neuropati diabetic injury tulang belakang, hipertropi prostat dan multiple sklerosis. Dari data-data tersebut, maka kami kelompok pada kesempatan kali ini membahas tentang masalah pada lansia dengan inkontinensia urin B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari asuhan keperawatan ini adalah : 1. Tujuan Umum Memberikan gambaran tentang Asuhan Keperawatan Gerontik dengan Gangguan Sistem Perkemihan : Inkontinensia Urin 2. Tujuan Khusus a. Memberikan gambaran tentang Konsep Dasar Medis dalam Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan Asuhan Keperawatan Gerontik dengan Gangguan Sistem Perkemihan : Inkontinensia Urin 1 b. Memberikan gambaran tentang Konsep Dasar Keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan. c. Asuhan Keperawatan kepada Ny. M dengan Gangguan Sistem Perkemihan : Inkontinensia Urin C. Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam asuhan keperawatan ini menggunakan metode deskriptif yaitu berdasarkan : 1. Studi Kepustakaan, dilakukan dalam mempelajari dan mengutip dari buku-buku sumber bacaan yang berkaitan dengan Labiopalatoskisis. 2. Studi Internet, dilakukan untuk mengambil gambar-gambar dan mengutip materi dari sumber internet yang terpercaya, yang berkaitan dengan Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan Labiopalatoskisis. D. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan pada penulisan asuhan keperawatan ini terdiri dari 5 bab yang berdasarkan sistematika sebagai berikut : Bab I pendahuluan, meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II, tinjauan teoritis, meliputi konsep dasar medik, yang terdiri dari definisi, klasifikasi, anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala,pemeriksaan diagnositk, penatalaksanaan medik, dan komplikasi. Kemudian konsep dasar keperawatan, yang terdiri dari, pengkajian, diagnosa, intervensi keperawatan, implementasi dan evaluasi. Bab III berisi pembahasan kasus, yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi. Kemudian Bab IV penutup, meliputi kesimpulan dan saran. 2 BAB II LANDASAN TEORI A. KONSEP DASAR MEDIK 1. Definisi Inkontinensia urine adalah berkemih diluar kesadaran, pada waktu dan tempat yang tidak tepat, dan menyebabkan masalah kebersihan atau sosial. Aspek sosial yang akan dialami oleh lansia antara lain kehilangan harga diri, merasa terisolasi dan depresi. Inkontinensia urine adalah sering berkemih/ngompol yang tanpa disadari merupakan salah satu keluhan orang lanjut usia. Inkontinensia urine adalah pengeluaran urine dalam jumlah dan frekuensi yang cukup banyak, sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan sosial (Kane, dkk, 1989). 2. Klasifikasi 1) Inkontinensia Stress Akibat adanya tekanan didalam abdomen, seperti bersin, atau selama latihan, menyebabkan kebocoran urine dari kandung kemih. Tidak terdapat aktivitas kandung kemih. Tipe inkontinensia urine ini sering diderita wanita yang mempunyai banyak anak. 2) Inkontinensia Mendesak (urge incontinence) Berkemih dapat dilakukan, tetapi orang biasanya berkemih sebelum sampai ke toilet. Mereka tidak merasakan adanya tanda untuk berkemih. Kondisi ini terjadi karena kandung kemih seseorang berkontraksi tanpa didahului oleh keinginan untuk berkemih. Kehilangan sensasi untuk berkemih ini disebabkan oleh adanya penurunan fungsi persarafan yang mengatur perkemihan. 3) Inkontinensia Overflow Seseorang yang menderita inkontinensia overflow akan mengeluh bahwa urinenya mengalir terus menerus. Hal ini disebabkan karena obstruksi saluran kemih seperti pada pembesaran prostat atau konstipasi. Untuk pembesaran prostat yang menyebabkan inkontinensia dibutuhkan tindakan pembedahan. Dan untuk konstipasinya relatif mudah diatasi. 4) Inkontinensia Refleks Ini terjadi karena kondisi sistem saraf pusat yang terganggu, seperti demensia. Dalam hal ini, pengosongan kandung kemih dipengaruhi refleks yang dirangsangoleh pengisian. Kemampuan rasa ingin berkemih dan berhenti berkemih tidak ada. Penatalaksanaannya dengan permintaan untuk miksi secara teratur setiap jam atau dengan menggunakan diapers ukuran dewasa. 5) Inkontinensia fungsional Pada klien ini mempunyai kandung kemih dan saluran urine yang utuh dan tidak mengalami kerusakan persarafan yang secara langsung 3 mempengaruhi sistem perkemihan tersebut. Kondisi ini muncul akibat ketidakmampuan lain yang mengurangi kemampuannya untuk mempertahankan kontinensia. 3. Etiologi Etiologi inkontinensia urine menurut (Soeparman & Waspadji Sarwono, 2001) : a. Poliuria, noktoria b. Gagal jantung c. Faktor usia : lebih banyak ditemukan pada usia > 50 tahun. d. Lebih banyak terjadi pada lansia wanita dari pada pria hal ini disebabkan oleh: 1) Penurunan produksi esterogen menyebabkan atropi jaringan uretra dan efek akibat dilahirkan dapat mengakibatkan penurunan otot-otot dasar panggul. 2) Perokok, minum alkohol. 3) Obesitas. 4) Infeksi saluran kemih (ISK) 4. Anatomi Fisiologi 1) Ureter Terdiri dari 2 saluran pipa untuk mengalirkan urine dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria), panjangnya sekitar 25 cm dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri dari 3 lapisan : a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa) b. Lapisan tengah otot polos (smooth muscle) c. Lapisan sebelah dalam (lapisan mukosa) 2) Vesika urinaria (kandung kemih) Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak dibelakang simfisis pubis didalam rongga panggul. Bentuk 4 kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbikalis medius. 3) Uretra Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar dari tubuh. Pada lakilaki uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa ke bangian penis. Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubis, berjalan mirirng sedikit kearah atas, panjangnya sekitar 3-4 cm. 5. Patofisiologi Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain: a. Perubahan yang terkait dengan usia pada sistem perkemihan vesika urinaria (kandung kemih). Kapasitas kandung kemih yang normal sekitar 300-600 ml. Dengan sensasi keinginan untuk berkemih diantara 150-350 ml. Berkemih dapat ditundas 1-2 jam sejak keinginan berkemih dirasakan. Ketika keinginan berkemih atau miksi terjadi pada otot detrusor kontrasi dan sfingter internal dan sfingter ekternal relaksasi, yang yang membuka uretra. Pada orang dewasa muda hampir semua urine dikeluarkan dengan proses ini. Pada lansia tidak semua urine dikeluarkan, tetapi residu urine 50 ml atau kurang dianggap adekuat. Jumlah yang lebih dari 100 ml mengidentifikasi adanya retensi urine. Perubahan yang lainnya pada proses penuaan adalah terjadinya kontraksi kandung kemih tanpa disadari. Wanita lansia, terjadi penurunan produksi estrogen menyebabkan atrofi jaringan uretra dan efek akibat melahirkan mengakibatkan penurunan pada otot-otot dasar ( Stanley M & Beare G Patricia, 2006 ). b. Fungsi otot besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi kandung kemih. Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak dalam kandung kemih sampai kapasitas berlebihan. Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau bersin . 6. Tanda dan Gejala a. Melaporkan merasa desakan berkemih, disertai ketidakmampuan mencapai kamar mandi karena telah mulai berkemih. b. Desakan, frekuensi, dan nokturia. c. Inkontinensia stres, dicirikan dengan keluarnya sejumlah kecil urine ketika tertawa, bersin, melompat, batuk, atau membungkuk. d. Inkontinensia overflow, dicirikan dengan aliran urine buruk atau lambat dan merasa menunda atau mengejan. e. Inkontinensia fungsional, dicirikan dengan volume dan aliran urine yang adekuat. f. Higiene atau tanda-tanda infeksi. g. Kandung kemih terletak diatas simfisis pubis. 5 7. Pemeriksaan Diagnostik a. Urinalisis digunakan untuk melihat apakah ada bakteri, darah dan glukosa dalam urine. b. Uroflowmetry digunakan untuk mengevaluasi pola berkemih dan menunjukkan obstruksi pintu bawah kandung kemih dengan mengukur laju aliran ketika pasien berkemih. c. Cysometry digunakan untuk mengkaji fungsi neuromuskular kandung kemih dengan mengukur efisiensi refleks otot detrusor, tekanan dan kapasitas intravesikal, dan reaksi kandung kemih terhadap rangsangan panas. d. Urografi eksretorik, disebut juga pielografi intravena, digunakan untuk mengevaluasi struktur dan fungsi ginjal, ureter, dan kandung kemih. e. Voiding cystourethrography digunakan untuk mendeteksi ketidaknormalan kandung kemih dan uretra serta mengkaji hipertrofi lobus prostat, struktur uretra, dan tahap gangguan uretra prostatik stenosis (pada pria). f. Urterografi retrograde, digunakan hampir secara eksklusif pada pria, membantu diagnosis struktur dan obstruksi orifisium uretra. g. Elektromiografi sfingter eksternal mengukur aktivitas listrik sfingter urinarus eksternal. h. Pemeriksaan rektum pada pasien pria dapat menunjukkan pembesaran prostat atau nyeri, kemungkinan menandakan hipertfrofi prostat jinak atau infeksi. Pemeriksaan tersebut juga dapat menunjukkan impaksi yang mungkin dapat mentebabkan inkontinensia. i. Kateterisasi residu pascakemih digunakan untuk menentukan luasnya pengosongan kandung kemih dan jumlah urine yang tersisa dalam kandung kemih. 8. Penatalaksanaan Medik a. Terapi obat disesuaikan dengan penyebab inkontinensia. Antibiotik diresepkan jika inkontinensia akibat dari inflamasi yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Obat antikolinergik digunakan untuk memperbaiki fungsi kandung kemih dan mengobati spasme kandung kemih jika dicurigai ada ketidakstabilan pada otot destrusor. Obat antispasmodik diresepkan untuk hiperrefleksia detrusor aktivitas otot polos kandung kemih. Estrogen baik dalam bentuk oral, topikal, maupun supositoria, digunakan jika ada vaginitis atrofik. Inkontinensia stress kadang dapat diterapi dengan obat antidepresan. b. Terapi perilaku meliputi latihan berkemih, latihan kebiasaan dan waktu berkemih, penyegeraan berkemih, dan latihan otot panggul (latihan kegel). Pendekatan yang dipilih disesuaikan dengan masalah pasien yang mendasari. Latihan kebiasaan dan latihan berkemih sangat sesuai untuk pasien yang mengalami inkontinensia urgensi. Latihan otot panggul sangat baik digunakan oleh pasien dengan fungsi kognitif yang utuh yang mengalami inkontinensia stress. Intervensi perilaku umumnya tidak dipilih untuk pasien yang mengalami inkontinensia sekunder akibat overflow. Teknik tambahan, seperti umpan biologis dan rangsangan listrik, 6 c. d. e. f. berfungsi sebagai tambahan pada terapi perilaku.Latihan kebiasaan, bermanfaat bagi pasien yang mengalami demensia atau kerusakan kognitif, mencakup menjaga jadwal berkemih yang tetap, biasanya setiap 2 sampai 4 jam. Spiral dapat diresepkan bagi pasien wanita yang mengalami kelainan anatomi seperti prolaps uterus berat atau relaksasi pelvik. Spiral tersebut dapat dipakai secara internal, seperti diafragma kontrasepsi, dan menstabilkan dasar kandung kemih serta uretra, yang mencegah inkontinensia selama ketegangan fisik. Toileting terjadwal Penggunaan pads Indwelling kateter, jika retensi urine tidak dapat dikoreksi secara medis/pembedahan dan untuk kenyamanan klien terakhir. 9. Komplikasi a. Infeksi saluran kemih. 7 B. Konsep Dasar Medik 1. Pengkajian Adapun data-data yang akan di kumpulkan dikaji pada asuhan keperawatan klien dengan diagnosa medis inkontinensia urine : a. Identitas klien Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama/kepercayaan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, alamat, diagnosa medis b. Keluhan utama Pada kelayan inkontinensia urine keluhan-keluhan yang ada adalah nokturia, urgence, disuria, poliuria, oliguri, dan strategi c. Riwayat penyakit sekarang Memuat tentang perjalanan penyakit sekarang sejak timbul keluhan, usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi keluhan d. Riwayat penyakit dahulu Adanya penyakit yang berhubungan dengan ISK ( infeksi saluran kemih ) yang berulang, penyakit kronis yang pernah di derita e. Riwayat penyakit keluarga Apakah ada penyakit keturunan dari salah satu anggota keluarga yang menderita penyakit inkontinensia urine, adakah anggota keluarga yang menderita DM, hipertensi f. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik yang digunakan adalah B1-B6 : 1) B1 (breathing) Kaji adanya pernafasan adanya gangguan pada palo nafas, sianosis karena suplai oksigen menurun. Kaji ekspansi dada, adakah kelainan pada perkusi 2) B2 (blood) Terjadi peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan gelisah 3) B3 (brain) Kesadaran biasanya sadar penuh 4) B4 (bladder) Inspeksi : periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat karena adanya aktifitas mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih serta disertai keluhan keluarnya darah apabila ada lesi pada bladder, pembesaran daerah supra pubik lesi pada neatus uretra, banyak kencing dan nyeri saat berkemih mendadah disurea akibat dari infeksi, apakah klien terpasang kateter sebelumnya. Palpasi : rasa nyeri disapat pada daerah supra pubik atau pelvis, seperti rasa terbakar di uretra luar sewaktu kencing atau dapat juga diluar waktu kencing. 5) B5 (bowel) Bising usus adalah peningkatan atau penurunan, adanya nyeri tekan abdomen, adanya ketidaknormalan perkusi, adanya ketidaknormalan palpasi pada ginjal. 6) B6 (bone) Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkan dengan ekstremitas yang lain, adakah nyeri pada persendian. 8 2. Diagnosa Keperawatan a. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan tidak adanya sensasi untuk berkemih dan kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kantung kemih. b. Resiko infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter dalam waktu yang lama. c. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan irigasi kontras oleh urine d. Resiko kekurangan volume tubuh berhubungan dengan intake yang adekuat 3. Intervensi Keperawatan a. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan tidak adanya sensasi untuk berkemih dan kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung kemih. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien akan bisa melaporkan suatu pengurangan / penghilangan inkontinesia. Kriteria Hasil : Klien dapat menjelaskan penyebab inkontinesia dan rasional penatalaksaan. Intervensi : 1) Kaji kebiasaan pola berkemih dan gunakan catatan berkemih sehari. Rasional : Berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan beri distensi kandung kemih 2) Ajarkan untuk membatasi masukan cairan selama malam hari Rasional : Pembatasan cairan pada malam hari dapat mencegah terjadinya enurasis 3) Bila masih terjadi inkontinesia kurangi waktu antara berkemih yang telah direncanakan Rasional : Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menampung volume urine sehingga diperlukan untuk lebih sering berkemih. 4) Instruksikan klien batuk dalam posisi litotomi, jika tidak ada kebocoran, ulangi dengan posisi klien membentuk sudut 45, lanjutkan dengan klien berdiri jika tidak ada kebocoran yang lebih dulu. Rasional : Untuk membantu dan melatih pengosongan kandung kemih. 5) Pantau pemasukan dan pengeluaran, pastikan klien mendapat masukan cairan 2000 ml, kecuali harus dibatasi. Rasional : Dehidrasi optimal diperlukan untuk mencegah ISK dan batu ginjal 6) Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan kemungkinan perubahan obat, dosis/ jadwal pemberian obat untuk menurunkan frekuensi inkontinensia. 9 b. Resiko infeksi berhubungan dengan inkontinesia, imobilitas dalam waktu yang lama. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat berkemih dengan nyaman. Kriteria Hasil : Urine jernih, urinalisis dalam batas normal, kultur urine menunjukan tidak adanya bakteri. Intervensi : 1) Berikan perawatan perineal dengan air sabun setiap shift. Jika pasien inkontinensia, cuci daerah perineal segera mungkin. Rasional : Untuk mencegah kontaminasi uretra . 2) Jika dipasang kateter indwelling, berikan perawatan kateter 2x sehari (Merupakan bagian dari waktu mandi pagi dan pada waktu akan tidur) dan setelah buang air besar. Rasional : Kateter memberikan jalan pada bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan. 3) Ikuti kewaspadaan umum (Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak langsung, pemakaian sarung tangan), bila kontak dengan cairan tubuh atau darah yang terjadi (Memberikan perawatan perineal, pengosongan kantung drainase urine, penampungan spesimen urine). Pertahankan teknik aseptik bila melakukan kateterisasi, bila mengambil contoh urine dari kateter Indwelling. Rasional : Untuk mencegah kontaminasi silang 4) Kecuali dikontra indikasikan, ubah posisi pasien setiap 2 jam dan anjurkan masukan sekurang-kurangnya 2400ml / hari. Bantu melakukan ambulasi sesuai dengan kebutuhan . Rasional : Untuk mencegah stasis urine. 5) Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine. a) Tingkatkan masukan sari buah berri . b) Berikan obat-obat, untuk meningkatkan asam urine. c) R : Asam urine menghalangi tumbuhnya kuman . Karena jumlah sari buah berri diperlukan untuk mencapai dan memelihara keasaman urine. Peningkatan masukan cairan sari buah dapat berpengaruh dalam pengobatan infeksi saluran kemih. c. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan irigasi kontras oleh urine Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kerusakan integritas kulit teratasi. Kriteria hasil: 1) Jumlah bakteri <100.000/ml 2) Kulit periostomal penuh 3) Suhu 37c 4) Urine jernih dengan sendimen minimal. Intervensi 1) Pantau penampilan kulit periostomal setiap 8 jam Rasional : untuk mengindetifikasi kemajuan atau penyimpanan dari hasil yang diharapkan 2) Ganti wafer stomehesif setiap minggu atau bila bocor terdefekasi. Yakinkan kulit bersih dan kering sebelum memasang wafer yang baru. 10 Potong lubang wafer kira-kira setengah inci lebih besar dan diameter stoma untuk menjamin ketepatan ukuran kantung yang benar-benar menutupi kulit periastomal. Kosongkan kantung urostomi bila telah seperempat sampai setengah penuh. Rasional : peningkatan berat urine dapat merusak segel periostomal,memungkinkan kebocoran urin. Pemajanan menetap pada kulit periostomal terhadap asam urin dapat menyebabkan kerusakan kulit dan peningkatan resiko infeksi. d. Resiko kekurangan volume tubuh berhubungan dengan intake yang adekuat Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan volume cairan seimbang Kriteria hasil : pengeluaran urine tepat, berat badan 50 kg Intervensi 1) Awasi tanda-tanda vital Rasional : pengawasan invasive diperlukan untuk mengkaji volume intravaskular, khususnya pada pasien dengan fungsi jantung buruk. 2) Catat pemasukan dan pengeluaran Rasional : untuk menentukan fungsi ginjal, kebutuhan penggantian cairan dan penurunan resiko kelebihan cairan. 3) Awasi berat jenis urine Rasional : untuk mengukur kemampuan ginjal dalam mengkonsestrasikan urine 4) Berikan minuman yang disukai sepanjang 24 jam Rasional : membantu periode tanpa cairan meminimalkan kebosanan pilihan yang terbatas dan menurunkan rasa haus 5) Timbang BB setiap hari Rasional : untuk mengawasi status cairan 4. Implementasi Pelaksanaan asuhan keperawatan merupakan radiasi daripada rencana tindakan keperawatan yang telah diterapkan. Meliputi tindakan independent, dependent, dan interpendent. Pada pelaksanaan terdiri dari beberapa kegiatan, validasi, rencana keperawatan, mendokumentasikan rencana keperawatan memberikan asuhan keperawatan dan pengumpulan data. (Susan Martin, 1998). 5. Evaluasi Evaluasi adalah hasil akhir dari proses keperawatan dilakukan untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan tindakan yang diberikan sehingga dapat menemukan intervensi yang akan dilanjutkan. (Susan Martin, 1998) 11 C. Patoflowdiagram 12 BAB III PAPARAN KASUS A. Karakteristik Demografi 1. Identitas Diri Nama Tempat/tanggal Lahir Jenis Kelamin Status perkawinan Agama Suku/Bangsa Pendidikan Terakhir Diagnosa Medik Alamat : Ny. M : Ngabang, 17 Juli 1956 : Perempuan : Menikah : Islam : Jawa/Indonesia : Sekolah Rakyat : Inkontinensia Urine : Jln. Merdeka No.5 2. Keluarga atau Orang lain yang penitng/dekat yang dapat dihubungi: Nama : Tn.P Alamat : Jln. Merdeka No.5 No. Telpon : 082153532121 Hubugan Dengan Klien : Anak Kandung 3. Riwayat pekerjaan dan Status Ekonomi Pekerjaan Saat Ini : Guru Mengaji Pekerjaan Sebelumnya :Sumber Pendapatan : Uang dari anak-anaknya Kecukupan pendapatan : Cukup 4. Aktivitas Rekreasi Hobi Berpergian/wisata Keanggotaan organisasi Lain-lain : Tidak Ada : Tidak Pernah : Tidak tergabung :- 5. Riwayat Keluarga a. Saudara Kandung No Nama 1 Tn. E 2 Tn. I Keadaan Saat Ini Sehat, tinggal bersama anak sulungnya Sehat, tinggal bersama anak bungsunya Keterangan b. Riwayat kematian dalam keluarga (1 tahun terakhir) Nama :Umur :Penyebab Kematian :c. Kunjungan Keluarga : Anaknya Tn.P dan istri tampak mengunjungi ibunya Ny.M di panti 13 B. Pola kebiasaan sehari-hari 1. Nutrisi a. Frekuensi makan b. Nafsu makan c. Jenis makanan d. Kebiasaan sebelum makan e. Maknan yang tidak disukai f. Alergi terhadap makanan g. Pantang makan h. Keluhan yang berhubungan dengan makan : 3 kali sehari : ada : nasi, sayur-sayuran dan lauk pauk : berdoa terlebih dahulu : ada, masakan yang berbau laut : tidak ada : tidak ada : tidak ada 2. Eliminasi a. BAK 1) Frekuensi dan waktu : 15-18x sehari 2) Kebiasaan BAK dalam : ya, ada malam hari Keluhan yag berhubungan : tidak bisa menahan keluarnya urine jika terasa dengan BAK ingin BAK b. BAB 1) Frekuensi dan waktu : 2x sehari 2) Konsistensi : lembek, berwarna kuning 3) Keluhan yang berhubu- : tidak ada ngan dengan BAB 4) Pengalaman memakai : tidak pernah Laxantif/Pencahar 3. Personal Higiene a. Mandi 1) Frekuensi dan waktu mandi 2) Pemakaian sabun (Ya/Tidak) b. Oral Higiene 1) Frekuensi dan waktu gosok gigi 2) Menggunakan pasta gigi c. Cuci Rambut 1) Frekuensi 2) Penggunaan shampo (Ya/Tidak) d. Kuku dan Tangan 1) Frekuensi gunting kuku 2) Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun : 2x/sehari, pagi dan sore hari : ya : 2x sehari, sehabis mandi dan sebelum tidur : ya : 3x seminggu : ya : 2x dalam sebulan : ya. 14 4. Istirahat dan tidur a. Lama tidur malam b. Tidur siang c. Keluhan yang berhubungan Dengan tidur : 5 jam sehari : 1 jam sehari : tidur terganggu sering ke WC karna mau kencing 5. Kebiasaan mnegisi waktu luang Klien mengatakan mengisi waktu luangnya dengan membaca al-quran dan berdoa 6. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan (jenis/frekuensi/ljumlah/lama pakai) a. Merokok (Ya/Tidak) : tidak b. Minuman keras (Ya/Tidak) : tidak c. Ketergantungan terhadap : ya Obat (Ya/Tidak) 7. Uraian kronologis kegiatan sehari-hari No Jenis Kegiatan Lama Waktu untuk Setiap kegiatan 1 Merapikan tempat tidur 3 menit 2 Sholat subuh 10 menit 3 Mandi pagi 20 menit 4 Sarapan 10 menit 5 Berkebun 1 jam 6 Istirahat 5 menit 7 Mandi 20 menit 8 Menonotn tv 30 menit 9 Tidur siang 2 jam 10 Bersih-bersih panti 30 menit 11 Istirahat 5 menit 12 Mandi 20 menit 13 Mengajar ngaji 1 jam 14 Berkumpul bersama teman panti 1 jam 15 Makan malam 10 menit 16 Menonton tv 30 menit 17 Tidur malam 5 jam 15 C. Status kesehatan 1. Status kesehatan saat ini a. Keluhan utama selama 1 tahun terakhir Ny.M mengatakan 1 tahun terakhir sering mengeluh nyeri saat berkemih, kalau bersin atau batuk kencing keluar secara tiba-tiba, nokturia. b. Gejala yang dirasakan Kencing dalam sehari 1-18x/hari c. Faktor pencetus Dimensia, ISK d. Timbulnya keluhan ( ) Mendadak (V) Bertahap e. Waktu mulai timbulnya keluhan Satu tahun f. Upaya mengatasi 1) Pergi ke RS/klinik pengobatan/dokter praktik 2. Riwayat kesehatan Masa Lalu a. Penyakit yang pernah di derita Klien mengatakan dua tahun lalau terkena hipertensi dan rutin mengonsumsi obat diuretik b. Riwayat alergi (obat,makanan, binatang, debu dan lain-lain) Tidak ada alergi c. Riwayat kecelakaan Tidak pernah mengalami kecelakaan d. Riwayat dirawat di rumah sakit Klien mengatakan tidak pernah dirawat dirumah sakit karna sering berobat ke dokter klinik e. Riwayat pemakaian obat Klien mnegatakan rutin mnegonsumsi obat diuretik 3. Pengkajian/pemeriksaan Fisik (Observasi, pengukuran, auskultasi, perkusi dan palpasi) a. Keadaan umum (TTV) : TD 180/140 mmHg, Nadi 80x/menit Pernapasan 18x/menit, Suhu 36oC b. BB/TB : 45 Kg, 150 cm c. Rambut : bersih, berwarna putih, tidak ada ketombe d. Mata : simetris, konjungtiva anemis, palpebrae gelap, sclera anikterik e. Telinga : bersih, tidak ada benda asing f. Mulut, gigi dan bibir : bersih, tidak berbau, gusi tidak ada peradangan, tidak ada karies, tidak ada gigi palsu, lidah bersih, mampu untuk mnegunyah keras g. Dada : bentuk dada simetris, getaran dinding kiri dan kanan sama, tidak ada suara tambahan, 16 h. Abdomen i. Kulit j. Ekstremitas atas k. Ekstremitas bawah payudara mneyusut, tidak teraba massa, tidak ada suara tambahan : datar, tidak ada bendungan vena pada abdomen, tidaka da striae, kendung kemih teraba keras, tidak ada mengalami usus buntu, tidak ada pembesaran limfe : tekstur kulit terhilat kendur, keriput, tugor kulit jelek, terdapat ruam dan kemerahan disekitar genetalia : tonus otot baik, kekuatan otot tangan kiri kanan sama yaitu pada skala 5 : kekuatan otot kaki kiri dan kanan sama yaitu pada skala 5, tidak ada nyeri persendian, tidak terjadi osteoporosis, dan tidak ada kelainan tulang D. Hasil Pengkajian Khusus (Format Terlampir) a. Masalah kesehatan Kronis :6 b. Fungsi kognitif :6 c. Status fungsional : 13 d. Status psikologis (skala depresi) : 3 e. Dukungan keluarga : E. Lingkungan Tempat Tinggal 1. Kebersihan dan kerapian ruangan 2. Penerangan 3. Sirkulasi udara 4. Keadaan kamar mandi dan WC 5. Pembuangan air kotor 6. Sumber air minum 7. Pembuangan sampah 8. Sumber pencemaran 9. Penataan halaman (kalau ada) 10. Privasi 11. Risiko jatuh : Bersih : listrik, Sangat terang : ada, baik : ada, toilet duduk : ada : ada, sumber dari PAM : ada, tertutup, diambil petugas di depan panti : tidak ada : rapi, bersih : Aman : tinggi Resume Ny.M datang ke RS. B diantar keluarga. Keluarga mengatakan Ny.M sering kencing tanpa disadari (ngompol). Klien sendiri mengatakan tidak bisa menahan jika sudah terasa ingin BAK. Frekuensi berkemih tiap hari 15-18x/hari. Klien juga mengatakan saat dia bersin, membungkuk, batuk tiba-tiba keluar sedikit air kencing. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan data TB dan BB Ny.M adalah 150cm, 45 kg, TD 180/140 mmHg, Nadi 80x/menit, repirasi 18x/menit dan suhu 36,5oC, output 2100cc. Terdapat Terdapat distendi kandung kemih. Kegiatan sehari-hari Ny.M adalah menjadi guru mnegaji, akan tteapi semenjak ia sering mengompol kegiatan menjadi terganggu. 17 1. Masalah Kesehatan Kronis No Keluhan kesehatan atau gejala yang Selalu dirasakan klien dalam waktu 3 bulan (3) terakhir berkaitan dengan fungsifungsi A Fungsi Penglihatan 1. Penglihatan Kabur 2. Mata berair 3. Nyeri pada mata B Fungsi pendengaran 4. Pendengaran berkurang 5. Telinga berdenging C Fungsi Paru (Pernapasan) 6. Batuk lama disertai keringat malam 7. Sesak napas 8. Berdahak/sputum D Fungsi Jantung 9. Jantung berdebar-debar 10. Cepat lelah 11. Nyeri dada E Fungsi pencernaan 12. Mual muntah 13. Nyeri ulu hati 14. Makan dan minum banyak (berlebihan) 15. Perubahan kebiasaan buang air besar (mencret atau sembelit) F Fungsi pergerakan 16. Nyeri kaki saat berjalan 17. Nyeri pinggang atau tulang 18 Sering (2) Jarang (1) T.Pernah (0) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 belakang 18. Nyeri persendian/bengkak 0 G Fungsi persyarafan 19. Lumpuh/kelemahan pada kaki 0 atau tangan 20. Kehilangan rasa 0 21. Gemetar atau tremor 0 22. Nyeri/pegal pada daerah tekuk 0 H Fungsi saluran perkemihan 23. Buang air kecil banyak 2 24. Sering buang air kecil pada 2 malam hari 25. Tidak mamapu mengontrol 2 pengeluaran urine kemih (mengompol) Jumlah 6 Analisa hasil : Skor < 25 : tidak ada masalah kesehatan kronis sampai dengan masalah kesetahan kronis ringan 2. FUNGSI KOGNITIF No Item pertanyaan Benar 1 Jam berapa sekarang ?  Jawab : 2 Tahun berapa sekarang ?  Jawab : 3 Kapan Bapak/Ibu lahir? Jawab : 4 Berapa umur Bapak/Ibu sekarang? Jawab : 5 Dimana alamatt Bapak/Ibu sekarang ?  Jawab : 6 Berapa jumlah anggota keluara yang tinggal bersama  Bapak/Ibu? Jawab : 7 Siapa nama anggota keluarga yang tinggal bersama  Bapak/Ibu? Jawab : 8 Tahun berapa Hari Kemerdekaan Indonesia? Jawab : 9 Siapa nama presiden Republik Indonesia ?  Jawab : 10 Coba hitung terbalik dari angka 20 ke 1 ! Jawab : Jumlah benar 6 Analisa hasil : Jumlah skor = 6 berarti ada ganggguan Salah     3. STATUS FUNGSIONAL No Aktivitas Mandiri 19 Tergantung (Nilai 1) 1 Mandi dikamar mandi (menggosok, membersihkan, dan 1 mengeringkan badan). 2 Menyiapkan pakaian, membuka, dan mengenakannya. 1 3 Memakan makanan yang telah disiapkan 1 4 Memelihara kebersihan diri unruk penampilan diri 1 (menyisir rambut, menggosok gigi, mencukur kumis). 5 Bunag air besar di WC (membersihakan dan 1 mnegeringkan daerah bokong). 6 Dapat mnegontrol pengeluaran feses (tinja). 1 7 Buang air kecil di kaamr mandi (membersihkan dan 1 mnegeringkan daerah kemaluan) 8 Dapat mengontrol pengeluaran air kemih. 9 Berjalan dilingkungan tempat tinggal atau keluar 1 ruangan tanpa alat bantu, seperti tongkat. 10 Menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan 1 yang dianut. 11 Melakukan pekerjaan rumah, seperti : merapikan 1 tempat tidur, mencuci pakaian, memasak, dan membersihkan ruangan. 12 Berbelanja untuk kebutuhan sendiri atau kebutuhan 1 keluarga. 13 Mengelola keuangan (menyimpan dan menggunakan uang sendiri). 14 Menggunakan sarana transportasi umum untuk berpergian. 15 Menyiapkan obat dan minum obat sesuai dengan aturan 1 (takaran obat dan waktu minum obat tepat) 16 Merencanakan danmengambil keputusan unutk kepeentingan keluarga dalam hal penggunaan uang, aktivitas sosial yang dilakukan dan kebutuhan akan pelayanan kesehatan. 17 Melakukan aktivitas diwaktu luang (kegiatan 1 keagamaan, sosial, rekreasi, olahraga dan menyalurkan hobi) Jumlah Poin Mandiri 13 Analisa hasil : Jumlah skor 13, disimpulkan bahwa klien dapat mandiri (0) 0 0 0 0 4. STATUS PSIKOLOGIS No 1 2 3 4 5 6 7 Apakah Bapak/Ibu dalma satu minggu terakhir ? Merasa puas dengan kehidupan yang dijalani? Banyak meninggalkan kesenangan/minat dan aktivitas anda? Merasa bahwa kehidupan anda hampa? Sering merasa bosan? Penuh pengharapan akan masa depan? Mempunyai semangat yang baik setiap waktu? Diganggu oleh pikiran-pikiran yang tidak tepat diungkapkan? 20 Ya ya Tidak tidak tidak tidak ya ya tidak 8 9 10 11 12 Merasa bahagia disebagian besar waktu? tidak Merasa takut sesuatu yang terjadi pada Anda? tidak Sering kali merasa tidak berdaya? tidak Sering merasa gelisah dan gugup? tidak Memilih tinggal dirumah daripada pergi melakukan sesuatu yang ya bermanfaat? 13 Sering kali merasa khawatir akan masa depan? tidak 14 Merasa mempunyai lebih banyak masalah dengan daya ingat ya dibandingkan orang lain? 15 Berfikir bahwa hidup ini sangat menyenangkan sekarang? ya 16 Sering kali merasa merana? tidak 17 Merasa kurang bahagia? tidak 18 Sangat khawatir terhadap masa lalu? tidak 19 Merasakan bahwa hidup ini sangat menggairahkan? ya 20 Merasa berat untuk memulai sesuatu hal yang baru? tidak 21 Merasa dalam keadaan penuh semangat? ya 22 Berfikir bahwa keadaan penuh semangat? tidak 23 Berfikir abhwa banyak orang yang lebih baik daripada anda? tidak 24 Sering kali menjadi kesal dengan hal yang sepele? tidak 25 Sering kali merasa ingin menangis? Tidak 26 Merasa sulit untuk berkonsentrasi? ya 27 Menikmati tidur? tidak No Apakah Bapak/Ibu dalam satu minggu terakhir: 28 Memilih menghindar dari perkumpulan sosial? tidak 29 Mudah mengambil keputusan? tidak 30 Mempunyai pikiran yang jernih? Ya Jumlah item yang terganggu Analisa Hasil : Jumlah terganggu sebanyak 3. Jadi kesimpulannya Status psikologis dalam rentang normal. 21 A. ANALISA DATA NO DATA 1 DS: keluarga mengatakan Ny.M seing kencing tanpa disadari (ngompol). Klien juga mengatakan saat dia bersin, membungkuk, batuk tiba-tiba keluar sedikit kencing. Sebelumnya Ny.M ada riwayat hipertensi 2 tahun lalu dan mengonsumsi obat diuretik. DO : Terdapat distensi kandung kemih. 2 DS: klien mengatakan tidak mengingat umurnya, kapan dia lahir, dan tidak tahau tahun berapa dia lahir DO: analisis hasil fungsi kognitif berjumlah 6, dikategorikan bahwa fungsi kognitifnya ada gangguan 3 DS : Klien sendiri mengatakan tidak bisa menahan jika sudah terasa ingin BAK. Klien juga mengatakan frekuensi berkemih tiap ahri 15-18x/hari. Klien juga mengatakan, sring bolak-nalik WC. DO : Skor status fungsional hasil analisisnya berjumlah 13 dikategorikan bahwa pasien mandiri. WC terpisah dari kamar, jaraknya sekitar 10 meter. 4 DS : Klien mengatakan tidurnya tergaggu karna sering kencing pada malam hari DO : conjungtiva anemis, palpebrae gelap, sering menguap 22 ETIOLOGI PROBLEM Kehilangan Gangguan kemampuan untuk Eliminasi Urine menghambat kontraksi kandung kemih Proses degenerasi Gangguan kognitif Modifikasi lingkungan Resiko Jatuh Nokturia malam hari pada Gangguan Tidur fungsi Pola B. DIAGNOSA KEPERAWATAN NO DP I II III IV Tanggal/ waktu Diganosa Keperawatan Gangguan Eliminasi Urine b.d kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung kemih ditandai oleh : DS: keluarga mengatakan NY.M seing kencing tanpa disadari (ngompol). Sebelumnya Ny.M ada riwayat hipertensi 2 tahun lalu dan mengonsumsi obat diuretik. Klien juga mengatakan saat dia bersin, membungkuk, batuk tiba-tiba keluar sedikit kencing. DO : Hasil observasi : TD 180/140 mmHg, Nadi 80x/menit, repirasi 18x/menit dan suhu 36,5oC Gangguan fungsi kognitif berhubungan dengan Proses degenerasi ditandai oleh : DS: klien mengatakan tidak mengingat umurnya, kapan dia lahir, dan tidak tahau tahun berapa dia lahir DO: analisis hasil fungsi kognitif berjumlah 6, dikategorikan bahwa fungsi kognitifnya ada gangguan Resiko Jatuh berhubungan dengan Modifikasi lingkungan, yang ditandai oleh : DS : Klien sendiri mengatakan tidak bisa menahan jika sudah terasa ingin BAK. Klien juga mengatakan frekuensi berkemih tiap ahri 15-18x/hari. Klien juga mengatakan, sring bolak-nalik WC. DO : Skor status fungsional hasil analisisnya berjumlah 13 dikategorikan bahwa pasien mandiri. WC terpisah dari kamar, jaraknya sekitar 10 meter. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan Nokturia pada malam hari DS : Klien mengatakan tidurnya tergaggu karna sering kencing pada malam hari DO : conjungtiva anemis, palpebrae gelap, sering menguap 23 Paraf RENCANA KEPERAWATAN NO DP 1 Diagnosa keperawatan Gangguan Eliminasi Urine b.d kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung kemih ditandai oleh : DS: keluarga mengatakan NY.M seing kencing tanpa disadari (ngompol). Klien sendiri mengatakan tidak bisa menahan jika sudah terasa ingin BAK. klien juga mengatakan frekuensi berkemih tiap ahri 15-18x/hari. Sebelumnya Ny.M ada riwayat hipertensi 2 tahun lalu dan mengonsumsi obat diuretik. Klien juga mengatakan saat dia bersin, membungkuk , batuk tiba- Tujuan Setelah dilakuka n tindakan keperwat an selama 3x24 jam, klien mampu mengont rol eliminasi urine Kriteria Hasil Rencana Keperawatan 1. Kaji kebiasaan pola berkemih dan gunakan catatatn berkemih sehari Rasional 1. Kandung kemih kosong secara penuh 2. Intake cairan dalam rentang normal 2. Ajarkan unutk 3. Balance membatasi cairan masukan seimbang cairan pada 4. Keluhan malam hari tidak bisa menahan kencing berkurang 3. Ajarkan teknik 5. Keluhan unutk nyeri di mencetuskan daerah refleks perut berkemih hilang (ransangan pacantus dengan penepukan supra pubik) 1. Berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan dan beri distensi kandung kemih 4. Berikan penjelasan tentang penitngnya hidrasi optimal, sedikitnya 2000cc/hari bila tidak ada kontra indikasi 4. Hidrasi optimal diperlukan unutk menegah ISK dan batu ginjal 5. Bila masih terjadi inkontinensia kurangi waktu antara 24 2. Pembatasan cairan pada malam hari dapat mencegah terjadniya enurasis 3. Unutk membantu dan melatih pengosongan kandung kemih 5. Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menumpang Paraf tiba keluar sedikit kencing. DO : Klien tampak terpasang kateter indweling, terdapat distensi kandung kemih. 2 Gangguan fungsi kognitif berhubungan dengan Proses degenerasi ditandai oleh : DS: klien mengatakan tidak mengingat umurnya, kapan dia lahir, dan tidak tahau tahun berapa dia lahir DO: analisis hasil fungsi kognitif berjumlah 6, dikategorikan bahwa fungsi kognitifnya ada gangguan berkemih yang telah direncaakan Setelah dilakuka n tindakan keperaw atan selama 3x24 jam, fungsi kognitif tidak mengala mi ganggua n 6. Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan kemungkinan perubahan obat, dosis/jadwal pemberian obat 1. Fungsi 1. Ingatkan kognitif kembali halbernilai hal yang lupa, 10 seperti bak, 2. Klien bisa bab, tempat menginga 2. Ingatkan hari, t tanggal tanggal, bulan lahirm dan tahun, umurnya, serta ingatkan tahun untuk kemerdek mencoret aan dan kalender menghitu 3. Buat catatan ng. unutk nomor telepon penting 4. Meltih mengingat dan memperlihatka n album pada orang-oran yang dikenal 5. Memperkenal kan keluarga kembali di ajak berkomunikasi Mencatat seriap pesan, siapkan obat pada tempat yang sudah ada lebelnya 25 volume urine sehingga diperlukan untuk lebih sering berkemih 6. Menurunkan frekuensi inkontinensia 3 4 Resiko Jatuh berhubungan dengan Modifikasi lingkungan, yang ditandai oleh : DS : Klien sendiri mengatakan tidak bisa menahan jika sudah terasa ingin BAK. Klien juga mengatakan frekuensi berkemih tiap ahri 15-18x/hari. Klien juga mengatakan, sring bolakbalik WC. DO : Skor status fungsional hasil analisisnya berjumlah 13 dikategorikan bahwa pasien mandiri. WC terpisah dari kamar, jaraknya sekitar 10 meter. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan Setalah dilakuka n tindakan keperaw atan 3x24 jam, resiko jatuh teratasi 1. Jatuh tidak terjadi 2. Modifikas i lingkunga n yang baik 1. Kaji tingkat kemampua n pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari 1. Mengetahui tingkat kemampuan pasien dalam beraktivitas 2. Kaji kemampua n pasien dalam melihat 2. Penglihatan merupakan salah satu indikator dalam terjadinya jatuh 3. Mencegah terjadinya resiko jatuh 3. Pasang pagar pengaman tempat tidur 4. Jaga lantai jangan sampai basah 5. WC, dibuat ada pegangan 6. Temani pasien kalau berjalan Setelah dilakuka n tindakan 7. Tempat tidur lebih rendah, sehingga klien bisa mencapai lantai 8. Berikan peneranga n yang cukup 1. Ciptakan suasana dan peneranga 1. Freku ensi tidur pasien 26 4. Mencegah terjadinya jatuh dan fraktur 5. Mencegah terjadinya terpeleset 6. Meminimalisir terjadinya jatuh dan menghindari lantai yang licin 7. Memudahkan klien untuk mencapai lantai. 8. Meminimalisir terjadinya jatuh 1. Meningkatkan kualitas tidur lansia Nokturia pada malam hari DS : Klien mengatakan tidurnya tergaggu karna sering kencing pada malam hari DO : conjungtiva anemis, palpebrae gelap, sering menguap kan keperaw atan selama 3x24 ja, kebutuha n tidur pasien dalam rentang normal mala m hari menin gkat 2. Pasien tampa k tidak meng uap, ocnju ngtiva anemi s, palpe brae gelap n yang cukup bagi lansia tidur 2. Hindari penyebab keributan yang akan menggang gu tidur pasien seperti kebisingan musik 3. Kurangi intake cairan yang berlebihan pada saat menjelang tidur 4. Jika perlu tingkatkan aktivitas lansia pada siang hari seperti berkebun 5. Beritahu lansia tentang manfaat istirahat 27 2. Memberikan suasana yang tenang bagi lansia untuk istirahat 3. Meminimalka n keadaan sering berkemih pada malam hari 4. Untuk meningkatkan frekuensi tidur, karena dengan aktivitas maka akan membuat pasien tidur lebih nyenyak 5. Menambah pengetahuan lansia tentang pentingnya tidur IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Tanggal/Waktu No DP 11 oktober 2016 I 08.00 I 08.05 II 08.10 II 08.15 II 08.20 II 08.25 IV 08.30 IV 08.35 I&IV 08.40 III 08.45 III 08.50 IV 08.55 I 11.00 I 11.05 I&IV 11.10 IV 11.15 I 11.20 IV 11.25 Implementasi Mengkaji TTV : TD : 120/70 mmHg, Suhu 35,4oC, pernapasan 18x/menit, nadi 88x/menit Mengkaji kebiasaan pola berkemih : pasien mengatakan sudah 3 kali buang air besar dari jam 4 sampai dengan sekarang, warna urine putih kekuningan, jumlah + 200 ml, keluarnya seperti air mancur, biasanya keluar sebelum klien samapi ke wc. Menanyakan hari, tanggal dan waktu. Klien mengatakan hari ini adalah hari rabu, tanggal 12 september, sekarang jam 08.05 Mengingatkan kembali hari, tanggal dan waktu. Hari ini hari selasa 11 oktober 2016 Mengingatkan pasien unutk mencoret kalender. Klien mengatakan iya akan mencoretkalender agar ingat kembali tentang tangggal. Melatih klien untuk menuliskan angka 1-20 di kertas, pasien belum dapat menulis angka dengan urutan yang benar. Mengkaji frekuensi tidur tadi malam. Klien mengatakan hanya 5 jam tidur tadi malam, sering terbangun untuk kencing. Mengkaji frekuensi minum pasien, pasien mengatakan minum sebelum tidur sebanyak ½ gelas Menganjurkan klien unruk membatasi masukan cairan pasa malam hari, pasien tampak mengerti dan akan melakukannya 28 Evaluasi S: - Klien mengatakan hari ini adalah hari rabu, tanggal 12 september, sekarang jam 08.05 - Hari ini hari selasa 11 oktober 2016 - Klien mengatakan iya akan mencoret kalender agar ingat kembali tentang tangggal. - Klien mengatakan hanya 5 jam tidur tadi malam, sering terbangun untuk kencing - pasien mengatakan minum sebelum tidur sebanyak ½ gelas - Pasien mengatakan tadi pagi bangun, sholat, membereskan tempat tidur, berkebun, kemudian mandi dan berkumpul dengan teman- Mengkaji aktivitas pasien sehari-hari. Pasien mengatakan tadi pagi bangun, sholat, membereskan tempat tidur, berkebun, kemudian mandi dan berkumpul dengan teman-teman. Mengkaji penerangan dikamar pasien dan wc, pasien mengatakan lampu kamar saya cukup terang, kalau tidur saya lebih senang lampunya dihidupkan, di wc lampunya kurang terang, lantainya agak licin Menciptaka suasana yang tenang bagi lansia untuk istirahat. Pasien dapat beristirahat dengan nyaman Mengkaji frekuensi kencing. Pasien mengatakan sudah 6 kali kencing bolak-balik WC, tadi hampir jatuh d wc karena lantai licin. ,memberitahu lansia tentang manfaat istirahat. Pasien tampak mngerti. Menganjurkan klien untuk meningkatkan aktivitas pasien disiang hari. Pasien tampak mengerti. Menganjurkan pasien untuk membatasi minum pada malam hari, pasien tampak mengerti. Menganjurkan pasien unutk memakai popok pada malam hari unutk mengurangi resiko jatuh. Pasien tampak mengerti. Menganjurkan pasien unutk sena kegel jika kendingnya sering. Pasien tampak mengerti Menciptakan lingkungan yang tenang untuk lansia. Pasien tampak bisa beristirahat dengan nyaman. 29 - - teman. pasien mengatakan lampu - kamar saya cukup terang, kalau tidur saya lebih senang lampunya dihidupkan, di wc lampunya kurang terang, lantainya agak licin Pasien dapat beristirahat dengan nyaman Pasien mengatakan sudah 6 kali kencing bolakbalik WC, tadi hampir jatuh d wc karena lantai licin. O: - warna urine putih kekuningan, jumlah + 200ml, keluarnya seperti air mancur, biasanya keluar sebelum klien samapi ke wc. - wc karena lantai licin. - pasien belum dapat menulis angka dengan urutan yang benar. A: - Diagnosa I,II,III,IV belum teratasi P : melanjutkan ke intervensi selanjutnya 30 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Inkontinensia urine adalah pengeluaran urine dalam jumlah dan frekuensi yang cukup banyak, sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan sosial (Kane, dkk, 1989). Inkontinensia urine banyak terjadi pada lansia perempuan, karena sistem anatomis dan oersonal higiene. Pengkajian untuk lansia difokuskan pada poin-poin yang didalamnya berisi data yang abnormal. Diagnosa yang diangkat mendekati KMB namun lebih spesifiknya karena proses degeneratif, maka dari itu intervensi yang diberikan adalah intervensi yang lebih mengarah ke lansia. Seperti senam kegel. Senam kegel berfungsi untuk mempertahankan status berkemih. B. Saran Sumber buku diharapkan lebih banyak referensi lagi. Format pengkajian referensinya harus sesuai. Kelompok menyadari bahwa makalah kami tidak sempurna masih banyak kekurangan, maka kelompok membutuhkan kritik dan saran untuk memperbaiki makalah kami kedepannya. 31 DAFTAR PUSTAKA Fatimah, 2010. Meraat Lanjut Usia Suatu Pendekatan Proses Keperawatan Gerontik. Cetakan Pertama. Jakarta : TIM www.scrib.com ( di unduh, 16 Oktober 2016) 32

Judul: Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Genitourinenaria : Inkontinensia Urine

Oleh: Oktaviana Ana


Ikuti kami