Adillita Pramanti S. Sos. M. Si, Fakutas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Sosiologi, Universitas Nasion...

Oleh Paras Rastafara

68,3 KB 11 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Adillita Pramanti S. Sos. M. Si, Fakutas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Sosiologi, Universitas Nasional, Sosiologi Lingkungan, Kursi Prioritas Pada Bus Trans Jakarta, Hadi Farras Barakat, 153112350350010

“Tolong bapak dan ibu, berikan kursi prioritas kepada yang sedang hamil, orang tua, dan bawa anak,” ujar seorang petugas Trans Jakarta, saat transportasi publik itu melaju dari halte ke halte, melintasi jalur bus yang disediakan sesuai dengan koridornya. Anjuran seperti ini pasti pernah didengar tidak hanya sekali oleh para pengguna Trans Jakarta. Sebenarnya petugas hingga kini tak perlu selalu mengingatkannya kepada setiap penumpang yang naik, lantaran transportasi publik ini sudah lebih dari sepuluh tahun beroprasi. Namun, ternyata cara ini masih cukup ampuh untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian para penumpang yang sengaja duduk di kursi prioritas. Seperti halnya kursi-kursi lain yang tersedia di dalam Trans Jakarta, kursi prioritas juga menjadi incaran duduk para penumpang supaya tidak berdiri sepanjang rute perjalanan. Maklum, kapasitas kursi untuk penumpang duduk lebih sedikit daripada untuk penumpang yang berdiri. Apalagi, kalau sehabis berpergian atau bekerja yang melelahkan. Bisa mendapatkan tempat duduk di Trans Jakarta saat jam padat dan penuh penumpang, dapat membuat kita menghela nafas lega. Di saat penumpang yang lain berdiri, yang mendapatkan tempat duduk bisa beristirahat, sibuk dengan ponsel mulai dari mendengarkan musik, membuka sebuah permainan, chatting, buka internet, hingga menelepon kerabat. Jadi wajar, jika mendapatkan sebuah tempat duduk, baik yang prioritas atau bukan, hingga kini masih memberikan kebahagiaan pelepas lelah. Usia muda, laki-laki dan perempuan pun tak mau melewatkan adanya kursi prioritas yang kosong. Salahkah duduk di kursi prioritas? Tidak juga menurut saya, jika memang kosong dan tidak ada ada penumpang lain yang masuk 4 kategori, yang berhak dan sangat pantas duduk di kursi prioritas, yakni sedang hamil, lansia, membawa anak, dan disabilitas. Duduk di kursi prioritas itu seharusnya membuat siapa pun penumpang menjadi lebih peduli dan lebih peka. Karena biasanya sudah ditempelkan tanda diatas kursi prioritas tersebut tentang golongangolongan yang diperbolehkan untuk duduk dikursi prioritas tersebut. Hal itu sudah bisa terlihat jelas sehingga seharusnya masyarakat sadar akan perintah yang dibuat tersebut. Sebenarnya kursi prioritas diperuntukan bagi mereka yang berada pada 4 golongan tersebut, namun bila kita perhatikan sekarang ini kursi prioritas ini kadang juga menjadi bagian dari kaum perempuan. Seperti misalnya bila kita berada diangkutan umum kini sudah ada beberapa angkutan yang menyediakan daerah khusus bagi perempuan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan bagi perempuan mengingat sering terjadinya kasus-kasus terkait dengan hal-hal yang merugikan perempuan seperti pelecehan seksual. Adanya ruang khusus wanita ini kemudian memberikan jarak antara penumpang laki-laki dan perempuan dimana perempuan lebih di khususkan. Namun terkadang hal ini pula sering memberikan pandangan bahwa tempat duduk yang tersedia adalah khusus untuk perempuan, yang kemudian timbulah anggapan pula pada masyarakat bahwa perempuan juga menjadi bagian dari golongan kursi prioritas. Penumpang perempuan biasanya akan meminta kepda penumpang laki-laki untuk mempersilahkan dirinya untuk dapat duduk dibangku dengan alasan bahwa dirinya adalah ‘perempuan’, dimana perempuan diidentikan dengan individu yang lemah sehingga perlu untuk di prioritaskan. Namun hal ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi perempuan, tak jarang sering kita temui beberapa kasus yang terjadi antara sesama perempuan dalam memperoleh tempat duduk didalam angkutan umum layaknya transjakarta. Mereka yang merasa dirinya perempuan kemudian membela dirinya sendiri bahwa dia layak untung menduduki tempat duduk yang disediakan. Mereka sering lupa bahwa perempuan tidaklah hanya mereka tetapi ada perempuan yang digolongkan berdasarkan umur dan kondisi fisik. Seringkali kita jumpai banyak perempuan yang sudah tua berdiri dalam kendaraan umum sementara disampingnya terdapat perempuan muda yang duduk santai sambil sibuk bermain dengan ponselnya. Nah di sinilah masih ada beberapa tipe penumpang saat duduk di kursi prioritas. Ada penumpang yang peduli dan segera berdiri memberikan kursinya kepada para penumpang kategori prioritas, ada penumpang yang baru memberikannya saat hendak akan turun, dan ada juga penumpang yang tidak begitu peduli dan tidak memperhatikan karena tertidur ataupun sibuk dengan ponselnya. Peter Ludwig Berger adalah seorang sosiolog dan teolog Amerika. Salah satu karyanya yang terkenal yaitu, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge, yang ditulis bersama Thomas Luckmann. Berger dikenal luas karena pandangannya bahwa realitas sosial adalah suatu bentuk dari kesadaran. Konstruksi sosial merupakan suatu proses pemaknaan yang dilakukan oleh setiap individu terhadap lingkungan dan aspek di luar dirinya yang terdiri dari proses eksternalisasi, internalisasi, dan objektivasi. Eksternalisasi adalah penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. Internalisasi adalah individu mengidentifikasi diri di tengah lembaga-lembaga sosial di mana individu tersebut menjadi anggotanya. Sedangkan, Objektivasi adalah interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. 1. Di dalam eksternalisasi, individu berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dalam moment adaptasi tersebut, sarana yang digunakan bisa berupa bahasa maupun tindakan. Manusia menggunakan bahasa untuk melakukan adaptasi dengan dunia sosiokulturalnya dan kemudian tindakannya juga disesuaikan dengan dunia sosiokulturalnya. Pada moment ini, terkadang dijumpai orang yang mampu beradaptasi dan juga mereka yang tidak mampu beradaptasi. Penerimaan dan penolakan tergantung dari apakah individu tersebut mampu atau tidak beradaptasi dengan dunia sosiokultural tersebut. 2. Di dalam internalisasi yang merupakan moment penarikan realitas sosial ke dalam diri atau realitas sosial menjadi realitas subjektif. Realitas sosial itu berada di dalam diri manusia dan dengan cara itu, maka diri manusia akan teridentifikasi di dalam dunia sosiokulturalnya. Individu akan berusaha mengambil peran di dalam masyarakat dengan mengikuti kegiatan sosial di dalamnya, sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara dirinya dengan masyarakat pada umumnya, dan individu akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat pada umumnya. Sehingga individu dapat dikatakan bahwa dirinya telah mengidentifikasi diri dengan lingkungan sosiokulturalnya. 3. Di dalam objektivasi, di mana individu akan berusaha untuk berinteraksi dengan dunia sosiokulturalnya. Di dalam objektivasi, realitas sosial tersebut seakan-akan berada di luar diri manusia. Ia menjadi realitas objektif, sehingga dirasa aka nada dua realitas, yaitu: 1) realitas yang berada di dalam diri atau yang subjektif, dan 2) realitas yang berada di luar diri atau yang objektif. Dua realitas tersebut membentuk jaringan intersubjektif melalui proses pelembagaan atau institusionalisasi. Pelembagaan atau institusionalisasi yaitu, proses untuk membangun kesadaran menjadi tindakan. Di dalam proses pelembagaan tersebut, nilai-nilai yang menjadi pedoman di dalam melakukan interpretasi terhadap tindakan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan, sehingga apa yang disadari adalah apa yang dilakukan. Terbentuknya realitas sosial dalam masyarakat tidak terlepas dari adanya interaksi sosial, dimana setiap interaksi yang dilakukan oleh masyarakat menghasilkan makna-makna di dalam masyarakat itu sendiri. Dari interaksi tersebut secara bersama masyarakat memaknai sesuatu yang kemudian di dalam masyarakat disebut sebagai realitas sosial. Realitas sosial itu sendiri terbentuk bukan dari satu atau dua makna yang dibentuk oleh manusia itu sendiri, tetapi realita sosial terbentuk akibat masyarakat membentuk makna secara bersama yang muncul akibat adanya interaksi sosial dan apa yang pernah dialaminya yang kemudian ditetapkan dengan kesepakatan bersama mengenai makna dari realitas tersebut. Dalam konstruksi sosial terdapat dua bentuk realitas sosial yaitu, masyarakat sebagai realitas objektif, dan masyarakat sebagai realitas subjektif. Realitas objektif adalah realitas yang bersifat apa adanya, artinya realitas yang tidak ada dalam diri manusia itu sendiri, sebagai contoh adalah lingkungan tempat manusia itu berada. Realitas subjektif adalah realitas yang berada dalam diri manusia yang dikonstruksi berdasarkan pengalamannya. Sebagai contoh dari realitas subjektif adalah pandangan, penilaian, konsep, aturan, dan sebagainya. Kepedulian untuk memberikan kursi kepada penumpang yang lebih membutuhkan duduk pun tetap diperlukan. Kepedulian dan kepekaan bisa diawali dari memperhatikan kursi prioritas pada transportasi publik. Hal ini tetap perlu diasah seiring dengan waktu sehingga timbul kesadaran yang lebih baik kepada setiap penumpang kepada penumpang yang lain. Caranya, cukuplah dengan membayangkan bila kita berada dalam posisi 4 kategori yang termasuk prioritas. Maukah saat ada pada kondisi prioritas tidak dapat duduk? Setiap orang sebenarnya sudah tahu jawabannya. Untungnya, saat ini sudah tersedia kursi roda pada transportasi publik seperti di stasiun. Untungnya lagi, sebagai pengguna transportasi publik, saya melihat masih ada yang mau membantu untuk mendorongkan kursi roda dan menuntun orang tuna netra hingga benar-benar duduk di kursi yang disediakan. Sumber:  https://www.kompasiana.com/riapwindhu/membangun-moral-bangsa-dimulai-darikursi-prioritas_58b5ab2df87e610f0b6810a2  http://www.braindilogsociology.or.id/2017/07/teori-konstruksi-sosial-sebagai.html

Judul: Adillita Pramanti S. Sos. M. Si, Fakutas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Sosiologi, Universitas Nasional, Sosiologi Lingkungan, Kursi Prioritas Pada Bus Trans Jakarta, Hadi Farras Barakat, 153112350350010

Oleh: Paras Rastafara


Ikuti kami