Sistem Ekonomi Dan Etos Kerja Dalam Islam.docx

Oleh Rica Filasari

219,1 KB 11 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Sistem Ekonomi Dan Etos Kerja Dalam Islam.docx

SISTEM EKONOMI DAN ETOS KERJA DALAM ISLAM MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Pendidikan Agama Islam Yang dibina oleh H. Abdul Adzim, Lc., M.A Oleh Intan Choni Kustantia Martha Herninda Novita Arumsari Dinda Prima Rica Filasari 160731614803 160731614865 160731614835 160731614884 160731614846 UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN SEJARAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH Oktober 2016 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Sistem Ekonomi dan Etos Kerja Dalam Islam ini tepat pada waktunya. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas matakuliahPengantar Ilmu Sejarah yang diampu oleh Bapak H. Abdul Adzim, Lc., M.A. Dalam makalah ini memuat materi tentang sistem ekonomi dalam Islam yang berupa pengertian, nilai dasar dan instrumental ekonomi islam serta perbedaan ekonomi islam dengan sistem ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis. Kedua tentang respon Islam atas transaksi ekonomi modern yang berupa –commerce dan buang bank. Ketiga tentang etos kerja dan kemandiriann hidup yang berupa etos kerja islami dan kemandirian dalam Islam Segala upaya telah kami dilakukan untuk menyempurnakan makalahini, namun bukan tidak mungkin dalam penulisan makalahini masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnakan makalah lain di masa yang akan datang. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua, serta menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin. Malang, 28 September2016 Penyusun i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR..........................................................................................i DAFTAR ISI.........................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah............................................................................... 2 1.3 Tujuan Penulisan................................................................................. 2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sistem Ekonomi Islam...................................................................... 3 2.2 Respon Islam Atas Transaksi konomi Modern................................. 7 2.3 Etos Kerja dan Kemandirian Hidup.................................................. 11 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan...................................................................................... 18 3.2 Saran............................................................................................... 19 DAFTAR RUJUKAN....................................................................................... 20 ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banyak orang menerjemahkan makna dari sejahtera secara berbeda beda, dari yang sekedar tercukupi kebutuhannya sehari hari, memiliki asset yang berlimpah, hingga memiliki semua yang ada. Pun untuk mencapai semua keingginannya itu banyak dari mereka yang lakukan segala hal, bahkan cenderung bagi mereka untuk tak mempedulikan orang lain. Banyak teori teori ekonomi yang mendeskripsikan tentang pola tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhannya dan teori teori itu lahir dari pola tingkah laku manusia itu sendiri. Tapi ketika sebuah teori yang merupakan hasil deskripsi polah tingkah laku manusia tersebut telah gagal dalam memenuhi sesuatu yang di idam idamkan, maka dengan otomatis manusia akan melakukan perubahan dalam pola tingkah laku mereka dan yang berujung pada munculnya teori ekonomi baru. Agama Islam yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai tuntunan dan pegangan bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak hanya mengatur dalam segi ibadah saja melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntutan dalam masalah yang berkenaan dengan kerja. Rasulullah SAW bersabda: “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” Dalam ungkapan lain dikatakan juga, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis, Mukmin yang kuat lebih baik dari pada mukslim yang lemah. Allah menyukai mukmin yang kuat bekerja.” Nyatanya kita kebanyakan bersikap dan bertingkah laku justru berlawanan dengan ungkapan-ungkapan tadi. Padahal dalam situasi globalisasi saat ini, kita dituntut untuk menunjukkan etos kerja yang tidak hanya rajin, gigih, setia, akan tetapi senantiasa menyeimbangkan dengan nilai-nilai Islami yang tentunya tidak boleh melampaui rel-rel yang telah ditetapkan al-Qur’an dan as-Sunnah. 1 2 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana sistem ekonomi dalam Islam? 2. Bagaimana respon Islam atas transaksi ekonomi modern? 3. Bagaimana etos kerja dan kemandirian hidup dalam Islam? 1.3 Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui sistem ekonomi dalam Islam. 2. Untuk mengetahui respon Islam atas transaksi ekonomi modern. 3. Untuk mengetahui etos kerja dan kemandirian hidup dalam Islam. 3 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sistem Ekonomi Islam 2.1.1 Pengertian Sistem Ekonomi Islam Dalam buku Teori dan Praktik Ekonomi Islam, M.A. Manan (1993:19) menyatakan bahwa ekonomi Islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai islam. Sementara itu, Halide berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ekonomi Islam ialah kumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari al-Qur’an dan sunnah yang ada hubungannya dengan urusan ekonomi (Ali,1988: 3). Sebagai pakar ekonomi Islam mengistilahkan dasar-dasar itu dalam istilah “Madzab Ekonomi Islam.” Sementara pakar ekonomi mengistilahkannya dengan “bangunan perkonomian yang didirikan di atsa landasan dasar-dasar yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan masa” (Ahmadi, 1980: 14). Berdasar pendapat-pendaat dia atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud sistem ekonomi Islam adalah sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari al-Qur’an dan sunnah, dan merupakan bangunan perekonomian yang didirikan diatas landasan dasar-dasar tersebut sesuai dengan kondisi lingkungan dan masa tertentu. Menurut Halide, pendekatan Islam dalam masalah ekonomi berbeda dengan pendekatan kebijakan ekonomi Barat berdasarkan perhitungan materialistic dan sedikit sekali memasukkan pertimbangan moral agama. Pendekatan Islam dan ekonomi, antara lain: a. Konsumsi manusia dibatasi sampai pada tingkat yang perlu dan bermanfaat bagi kehidupan manusia b. Alat pemuas dan kebutuhan manusia harus seimbang c. Dalam pengaturan distribusi dan sirkulasi barang dan jasa, nilai-nilai moral harus ditegakkan d. Pemerataan pendapatan harus dilakukan dengan mengingat bahwa sumber kekayaan seseorang yang diperoleh berasal dari usaha yang halal e. Zakat sebagai sarana distribusi pendapatan dan peningkatan taraf hidup golongan miskin merupakan alat yang ampuh (Ali, 1986: 5). 4 2.1.2 Nilai Dasar dan Instrumental Ekonomi Islam Nilai-nilai dasar ekonomi Islam sebagai implikasi dari asas filsafat tauhid ada tiga, yaitu: a. Kepemilikan Kepemilikan oleh manusia bukanlah penguasaaan mutlak terhadap sumber-sumber ekonomi, sebab sesungguhnya segala sesuatu yang ada di dunia adalah milik Allah. Manusia hanya berhak mengurus dan memanfaatkannya sesuai dengan aturan Allah. Kepemilikan perorangan tidak boleh meliputi sumber-sumber ekonomi yang menyangkut kepentingan hajat hidup orang banyak, tetapi menjadi milik umum atau Negara. Hal ini didasarkan pada hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud yang artinya “Semua orang berserikat (memiliki kepemilikan bersama dalam tiga hal, yaitu: rumput, air, dan api”. Ketiga sumber daya alam itu kini dikiaskan pada minyak dan gas bui, barang tambang, dan kbutuhan barang pokok lainnya. b. Keseimbangan Keseimbangan merupakan nilai dasar yang mempengaruhi berbagai aspek tingkah laku ekonomi seorang muslim. Atas keseimbangan ini, misalnya terwujud dalam kesederhanaan, hemat, dan menjauhi pemborosan. ”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (Q.S. Al-Furqan: 67). Keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, keseimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan umum, dan keseimbangan antara hak dan kewajiban. c. Keadilan 5 Keadilan harus diterapkan di semua bidang ekonomi dalam proses produksi, konsumsi maupun distribusi. Selain itu, keadilan juga harus menjadi alat pengatur efisiensi dan pemberantasan pemborosan. ”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (Q.S. Al-Isra’: 16). Keadilan juga berarti kebijaksanaan dalam mengalokasikan sejumlah kecil kegiatan ekonomi tertentu bagi orang yang tidak mampu memasuki pasar, yaitu melalui zakat, infak, dan sedekah kepada orang miskin, yang tidak ditentukan jenis, jumlah maupun waktunya. Ketiga nilai dasar ekonomi Islam itu, menurut Saefuddin (dalam Ali, 1988:17), merupakan pangkal nilai-nilai instrumental dari sistem ekonomi islam yang berjumlah lima, yaitu zakat, larangan riba, kerjasama, jaminan sosial, dan peranan Negara. Kelima nilai instrumental strategis ini mempengaruhi tingkah-laku ekonomi seorang Muslim, masyarakat, dan pembangunan ekonomi pada umumnya (Ali, 1998:9). 2.1.3 Perbedaan Sistem Ekonomi Islam dngan Sistem Ekonomi Kapitalis dan Sistem Ekonomi Sosialis Jika dipandang semata-mata dari tujuan dan prinsip ekonominya, maka tidak ada perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lain. Sebab menurut Daud Ali, semua sistem ekonomi, termasuk sistem ekonomi Islam, memiliki tujuan yang sama, yaitu mengupayakan pemuasan atas berbagai keperluan hidup masyarakat secara keseluruhan. Di samping itu, setiap sistem ekonomi bekerja diatas motif ekonomi yang sama, yaitu berusaha mencapai hasil sebesar-besarnya dengan tenaga dan ongkos seminim-minimnya. 6 Namun jika dilihat dari perbedaan keperluan hidup harus dipnuhi, trdapat perbedaan dalam upaya mencapai tujuan, terutama dalam pelakssanaan prinsip ekonomi. Karena perbedaan-perbedaan itu pula, muncul beragam sistem ekonomi manusia sekarang ini yaitu sistem ekonomi yang mmpengaruhi pemikiran dan kegiatan ekonomi manusia sekarang ini, yaitu sistem eknomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis. Disamping kesua sistem itu, kini sedang berkembang sisteem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam sangat berbeda dari ekonomi kapitalis maupun sosialis. Ekonommi Islam juga tidak berada diantara keduanya, karena ini sangat brtolak belakang dengan sistem ekonomi kapitalis yang lebih bersifat individual, dan sistem ekonomi sosialis yang membrikan hampir smua tanggung jawab kepada warganya. Ekonomi Islam menetapkan bentuk perdagangan serta penntuan yang boleh dan tidak boleh ditransaksikan. Sistem konomi Islam adalah sistem ekonomi mandiri dan terlpas dari sistem-sistm konomi lainnya. Adapun yang mmbeddakan sistem-sistem ekonomi Islam dengan sistem-sistem konomi lainnya, sebagaimana diungkapkan oleh Suroso (dalam Lubis, 2000: 15), adalah: a. Asumsi dasar dan norma pokok dalam proses maupun interaksi kegiatan ekonomi yang diberlakukan. Asumsi dasar sistem ekonomi Islam adalah syariat Islam. Syariat Islam dibrlakukan secara menyluruh trhadap individu, keluarga, kelompok masyarakat, pengusaha dan pemerintah dalam upaya mereka memenuhi kebutuhan hidupnya, baik untuk kebutuhan jasmani maupun rohani. Perintah agar melaksanakan ajaran Islam alam seluruh kegiatan umat Islam dapat dilihat di Q.S. Al-Baqorah: 208. b. Prinsip ekonomi Islam adalah penerapan asas efisiensi dan manfaat dengan tetap menjaga kelstarian lingkungan alam. Hal ini dapat dilihat ketentuannya dalam Q.S. Al-Rum: 41. c. Motif konomi Islam adalah mencari keseimbangan antara dunia dan akhirat dengan jalan beribadah dalam arti yang luas. Persoalan motif ekonomi menurut pandangan Islam dapat dilihat diketentuannya dalam Q.S. AlQashash: 77. 7 2.2 Respon Islam Atas Transaksi Ekonomi Modern 2.2.1 E-Commerce (Perdagangan Elektronik) Teknologi merubah banyak aspek bisnis dan aktivitas pasar. Dalam bisnis perdagangan misalnya, kemajuan teknologi telah melahirkan mtode transaksi yang dikenal dngan istilah e-commerce (elctronic commerce). Menurut Raharjo, e-commrce adalah suatu cara berbelanja atau brdagang secara online dngan memanfaatkan internet yang di dalamnya terdapat website yang dapat menyediakan layanan get and deliver. Dalam istilah lain, E-Commerce adalah bisnis online yang menggunakan media elektronik internet secara keseluruhan, baik dalam hal pemasaran, pemesanan, pengiriman, serta transaksi jual beli. Dalam pandangan Islam, jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuh agar sah. mnurut pandangan mayoritas para ulama, rukun jual beli ada tiga. Pertama, orang yang bertransaksi (penjual dan pembeli), dngan syarat brakal dan dapat membdakan baik buruk. Kedua, sighat (ijab dan qabul); ijab mnunjukkan keinginan untuk melakukan transaksi, dan qabul mngindikasikan krlaan untuk menerima ijab. Ketiga, barang sebagai obyek transaksi , dengan syarat barangnya dapat dimanfaatkan, milik orang yang melakukan akad , mampu menyerahkan, dan barang yang diakadkan ada pada diri orang tersebut. Fikih memandang bahwa transaksi bisnis di dunia maya diprbolehkan karena maslahat. Maslahat adalah mengambil manfaat dan menolak bahaya dalam rangka memelihara tujuan syara’. Bila E-Commrce dipandang seperti layaknya perdagangan dalam islam, maka dapat dianalogikan sebagai berikut. Pertama, penjualnya adalah mrcant (internet servic provider atau ISP), sedangkan pembelinya disebut customer. Kedua, obyek adalah barang dan jasa yang ditawarkan dngan berbagai informasi, profil, harga gambar barang, serta status perusahaan. ketiga , sighat (ijab-qabul) dilakukan dengan payment gateway, yaitu software pendukung (otoritas dan monitor) bagi acquirer, serta berguna untuk service online. 8 Komoditi yang diperdagangkan dalam E-Commerce dapat berupa komoditi digital dan non digital. Untuk komoditi digital seperti electronik neewspaper, -book, digital libraru, virtual school, software program aplikasi komputer dan lain sebagainya, dapat langsung diserahkan melalui media internet kepada pembeli, misalnya pembeli mendonwload produk tersebut dari website yang ditentukan. Sedang untuk komoditi non digital, karena komoditi ini tidak dapat diserahkan lagsung melalui internet, maka prosedur pengirimannya harus sesuai kesepakatan bersama, begitu juga spsifikasi komoditi, waktu dan tempat penyerahannya. Sebelum transaksi berlangsung perlu disepakati batas waktu penyerahan komoditi. 2.2.2 Bunga Bank Bunga bank adalah ketetapan nilai mata uang oleh bank yang memiliki tenggang waktu, untuk kemudian pihak bank memberikan kepada pemiliknya atau menarik dari pinjamin sejumlah tambahan tetap. Menurut UU Nomor 7 Tahun 1992 (pasal 1, ayat 1) tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (Lubis, 2000:8). Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa Bank merupakan perusahaan yang memperdagangkan utang – piutang, baik berupa uang sendiri maupun dana masyarakat, dan mengedarkan uang tersebut untuk kepentingan umum. Dilihat dari sistem pengelolahannya, bank dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu bank konvensional dan bank syariah. a. Bank Konvensional Bank konvensional adalah bank yang menggunakan sistem bunga dalam bertransaksi dengan nasabah. Bank jenis ini ada dua macam, yaitu bank umum dan bank perkreditan. Dalam era globalisasi sekarang ini, umat Islam boleh dikatakan hampir tidak dapat menghindarkan diri dari bertransaksi dengan bank konvensional, termasuk dalam hal kegiatan ibadah (misalnya ibadah haji). Di sisi lain, dalam bidang aktivitas perekonomian nasional dan internasional serta era perdagangan bebas 9 dewasa ini, penggunaan jasa bank konvensional tidak dapat dikesampingkan. Pokok persoalannya sekarang ialah bagaimana perdagangan hukum Islam terhadap umat Islam yang menggunakan jasa bank konvensional. Pertanyaan ini mendapatkan jawaban yang berbeda dari para ulama. Dengan mengambil dasar Q.S. Ali ‘Imran:130, ada ulama yang mengatakan haram, mubah, dan mutasyabihat (tidak jelas halal haramnya). b. Bank Syariah dan Praktiknya Bank syariah adalah bank yang dirancang sesuai dengan ajaran atau syariat Islam. Perbankan Islam yang beroperasi atas prinsip syirkah (mitra usaha) telah diakui di seluruh dunia. Artinya, seluruh bagian sistem perbankan yakni pemegang saham, depositor, investor, dan peminjam turut beerperan – serta atas dasar mitra usaha Kedudukan bank syariah dalam sistem perbankan nasional mendapat pijakan yang kokoh setelah dikeluarkannya UU Nomor 7 Tahun 1992 yang diperkuat dengan PP Nomor 72 Tahun 1992 tentang bank berdasarkan prinsip bagi hasil. Hal lain yang membedakan bank syariah dan bank konvensional adalah, selain dituntut untuk tunduk pengelolahannya dibatasi dengan pengawasan yang dilakukan oleh dewan syariah. Dengan kata lain, pengelolaan dan produk bank syariah ini harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Dewan Pengawas Syariah sebelum diluncurkan ke tengah – tengah masyarakat. Perbedaan pokok antara bank konvensional dan bank syariah adalah operasionalnya. Pada bank konvensional, sistem operasionalnya didasarkan pada bunga, sedangkan pada bank syariah dalam menjalankan usahanya minimal mempunyai lima prinsip operasional yang terdiri dari :sistem simpanan, sistem bagi hasil, margin keuntungan, sewa, dan fee (Antonio, 1994:138). Selain itu ada pula akad qardh, hiwalah, rahn, wakalah, kafalah yang semuanya menjadi ciri khas sekaligus pembeda antara Bank syariah dan Bank Konvensional. Akan tetapi banyaknya pelayanan dan transaksi, sering dijumpai praktik menyimpang dari perbankan syariah. Misalnya dalam akad musyawarah, 10 penentuan margin sepenuhnya dilakukan oleh Bank Syariah. Penentuan sepihak tidak diperbolehkan karena dalam akad harus ada ketrbukaan dari pihak bank. Kebanyakan Bank syariah tidak menyerahkan barang kepada nasabah, tetapi memberi uang kepada nasabah sebagai wakil untuk membeli barang untuk membeli barang yang dibutukan. Hal ini menyimpang dari aturan fikih, karena ada dua transaksi dalam satu akad yaitu wakalah dan Murabahah. Selain itu, dalam praktik masih ada Bank syariah yang hanya mau memberikan pembiayaan pada usaha yang sudah berjalan selama kurun waktu tertentu, artinya bank memilih calon nasabah (mudharib). Pembagian return pembiayaan tidak berdasarkan pada sistem bagi hasil dan rugi (profit and loss sharing). Sistem ini dipilih karena Bank Syariah belum sepenuhnya berani berbagai resiko secara penuh. Jika keadaannya seperti ini maka dapat dikatakan bahwa kegiatan bank syariah belum secara sempurna mengacu pada tujuan Ekonomi Islam (Hidayat, t.t). c. Hukum Bunga Bank: Riba atau bukan? Melihat fungsi dan peranannya yang bermanfaat bagi manusia dan masyarakat dalam perekonomian modern sekarang, keberadaan bank dapat dibenarkan dalam ajaran Islam. Permasalahannya adalah apakah bunga bank yang dipungut oleh bank dan bunga yang dibeerikan kepadda masyarakat termasuk riba atau bukan. Jawanban terhadap pertanyaan ini sangat erat hubungannya dengan pemahaman seseorang atau sekelompok orang tentang riba sebagai hasil ijtihad mereka. Oleh karena para ulama sampai saat ini belum berkonsensus secara bulat. Berikut pendapat para ulama yang berbeda-beda tersebut: 1) Abu Zahra, Guru Besar Hukum Islam dari Universitas Kairo Mesir, mengatakan bahwa bunga (rente) adalah sama dengan riba nasi’ah yang dilarang dalam Islam. Akan tetapi karena sistem perekonomian sekarang dan peranan bank dan bunga tidak dapat dihapuskan, maka umat Islam dapat melakukan transaksi melalui bank berdasarkan keadaan darurat. 2) Menurut Mustafa Ahmad Az Zaqra, Guru besar Hukum Islam dan hukum Perdata, bunga dalam hutang piutang yang bersifat konsumtif adalah riba, 11 sedangkan bunga dalam hutang piutang yang bersifat produktif tidak sama dengan riba nasi’ah. 3) A. Hasan, ahli tafsir dan tokoh Islam Persatuan Islam (PERSIS), berpendapat bahwa bunga bank bukanlah riba yang diharamkan karena tidak bersifat berlipat ganda, sebagaimana disebut dalam Q.S Ali Imron 130. 4) Hasil muktamar Muhammadiyah tahun 1968 di Sidoarjo menyatakan bahwa bunga yang diberikan oleh bank milik negara kepada para nasabahnya termasuk dalam kategori tidak jelas hukumnya (Ali, 1988:12 – 13). 5) Hasil lokakarya Majlis Ulama Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 19 – 20 Agustus 1990 tentang status bunga bank menyebutkan bahwa untuk menghindari kesulitan, maka daat dimungkinkan adanya rukhshah (keringanan hukum) jika dapat dipastikan adanya kebutuhan (Lubis, 2000: 42 – 46). 2.3 Etos Kerja dan Kemandirian Hidup 2.3.1 Etos Kerja Islami Sebelum membahas etos kerja Islami, perlu dipahami hakikat kerja. Kerja adalah sebuah aktivitas yang telah direncanakan dan dilakukan tahap demi tahap agar bisa mendapatkan nilai lebih demi memenuhi kbutuhan hidup serta memberikan manfaat bagi seluruh manusia (Agung, 2007: 112). Dengan pemahaman tersebut, sebuah pekerjaan tidak mengenal waktu dan tempat sehingga dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Adalah persepsi yang keliru jika memahami pekerja adalah mereka yang hanya bekerja pada sebuah instansi pemerintah atau pada sebuah perusahaan. Seorang pengembala kambing adalah pekerja karena ia memiliki motif untuk mendapatkan nilai tambah, baik dari dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Seorang muslim harus memiliki prinsip bahwwa bekerja adalah ibadah dengan menjadikan taqwa sebagai landasannya. Sehingga yang mnjadi tujuan utamanya adalah mencari ridha Allah, tidak semata mengejar materi belaka. Selain itu seorang muslim harus juga memperhatikan etika bekerja, yaitu: 12 a. Menyadari pekerjaannya terkait dengan Allah, sehingga membuat dia bersikap cermat, bersungguh-sungguh dalam bekeerja, dan menjalin hubungan baik dengan relasinya demi memperoleh keridhaan Allah; b. Bekerja dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan; c. Tidak membrikan beban berlebih pada pekerja, alat produksi atau binatang dalam bekrja. Semua harus dipekerjakan secara profesional dan wajar. d. Tidak melakukan pekrjaan yang melanggara aturan Allah. e. Profesional dalam setiap pekerjaan (Ismail, 2012) Untuk mendapat kesuksesan dalam bekerja dan mendapatka rezeki yang baik dan barkah, seorang muslim dituntut untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Etos berasal dari kata Yunani ‘ethos’ yang berarti sikap, watak, kepribadian, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya serta sistem nilai yang diyakini (Ismail, 2012). Dengan etos kerja yang kuat, sebuah perkerjaan akan mencapai hasil yang maksimal. Berkaitan dengan etos kerja, Allah berfirman: Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orangorang yang dzalim itu tidak akan mendapat keberuntungan (Q.S. Al-An’aam: 135) Bekerja adalah suatu keharusan bagi umat Islam. Allah tidah akan menurunkan rezeki dari langit, tetapi rezeki harus diusahakan. Umat Islam diharuskan untuk bekerja dan dilarang untuk menganggur atau bermalasmalasan. Hal ini disebutkan dalam Q.S al-Mulk ayat 15. 13 Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. Ungkapan Arab menyebutkan’alfaraaghu mafsadtun’, menganggur itu merusak. Sifat malas, tidak memiliki etos kerja, sikap menganggur, hanya akan melahirkan pikiran-pikiran negatif, kesengsaraan, penyakit jiwa, kerapuhan jaringan saraf, mengkhayal tanpa realitas, keresahan dan kegundaan. Sebaliknya, kerja dan semangat akan menghadirkan kreativitas, kegembiraan, sukacita, dan kebahagiaan. Islam sangat mnganjurkan kepada pemeluknya untuk bekerja dan berusaha. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah SWA menguji seorang sahabat mencari nafkah dengan cara mencari dan membelah kayu di hutan. Tangannya keras dan kaku, pakaian dan penampilannya sangat sederhana dan bersahaja. Itu dilakukannya setiap hari untuk menafkahi anak dan istrinya. Rasulullah menghampiri sahabat tersebut dan memegang tangannya seraya berkata, “Inilah tangan yang dicintai Allah SWT.” Agama Islam memberikan apresiasi yang sangat tingki kepada siapapun yang mlakukan kerja keras mencari rezeki yang halal, thayyib (baik), dan berkah. Lebih dari itu, bekerja merupakan sarana untuk menjadikan watak dan kepribadian manusia bersifat mandiri, tekun, teliti, peduli, berani, taat, dan bertanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda: “Adalah Nabiyullah Daud tidak makan kecuali dari hasil kerja kedua tangannya” (HR. Imam Bukhari dari Abu Hurairah). Bahkan sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW sendiri dalam usia 8 tahun bekerja mengembala kambing yang hasinya diserahkan kepada pamannya, Abu Thalib. Pada usia 12 tahun, Muhammad SAW sudah diperkenalkan berwirausaha olh pamannya untuk berdagang dengan 14 melakukan perjalanan jauh melintasi beberapa kota sampai ke negeri Syam. Dengan bekrja, seseorang bisa hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain. Dengan bekerja pula, seseorang dapat memiliki harga diri dan percaya diri, bahkan menjadi manusia terhormat karena bisa meringankan beban orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak bermanfaat (HR. Bukhari Muslim). Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdoa dan berusaha (bekerja) demi mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Hal ini dinyatakan dalam al-Qur’an, Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Q.S. AnNahl: 97). Agar dalam bekerja bisa memperoleh kesuksesan dan keridhaan, terdapat sejumlah panduan yang perlu dipatuhi, diantaranya adalah: a. Mulai mencari pekerjaan yang halal. b. Jadilah pekerja yang jujur (bisa dipercaya) saat mengembangkan usaha. c. Carilah mitra kerja yang baik dalam bekerja secara baik pula. d. Gunakan cara yang baik dalam bekerja supaya memperoleh hasil yang baik. e. Setalahnya memperoleh upah, keluarkanlah sebagian rezeki yang diperoleh untuk zakat, infak atau sedehah. f. Bersyukurlah atas nikmat Allah yang diperoleh dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. 15 Senada dengan pendapat di atas, Uchrowi menyatakan bahwa untuk memmbuka pintu kesuksesan diperlukan lima kunci, yaitu: berdoa, bercita-cita, bekerja keras, bekerja sama dan berhijrah. Sehingga sukses menurutnya adalah orang yang memiliki peningkatan setiap harinya, dan memastikan orang tersebut berimbang dalam urusan dunia dan akhirat yang dapat membawa keberkahan dan kebahagian dala hidup (Anonim, 2013:14) Tasmara (2002:73-105) menjelaskan bahwa etos kerja berhubungan dengan hal penting seperti: a. Orientasi ke masa depan, yaitu segala sesuatu direncanakan dengan baik (waktu maupun kondisi) agar hari esok lebih baik dari hari kemarin. b. Menghargai waktu. Disiplin waktu merupakan hal yang sangat penting guna efisinsi dan efektivitas bekerja. c. Tanggung jawab, yaitu memberikan asumsi pekerjaan yang dilakukan merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan. d. Hemat dan sederhana agar pengeluaran bermanfaat untuk masa depan. e. Persaingan sehat, yaitu dengan memacu diri agar saat bekerja tidak muddah patah semangat dan berusaha menambah kreativitas diri. Etos kerja islami memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah: (a) baik dan bermanfaat; (b) kualitas kerja yang mantap; (c) kerja keras, tekun dan kreativ; (d) berkompetisi dan tolong-menolong; (e) objektif (jujur); (f) disiplin dan konsekuen; (g) konsisteen dan istiqomah; (h) percaya diri dan kemandirian; (i) efisien dan hemat (Ismail, 2012). Dalam hadist Nabi juga disebutkan bahwa Allah sungguh sangat mencintai orang yang berjerih payah untuk mencari yang halal (HR. al-Dailami), dan orang yang bekerja dengan tekun (HR. Baihaqi). Bahkan, dalam hadist lain dijelaskan bahwa hanya dengan kesusahpayahan dalam mencari nafkah dapat menghapus dosa yang tidak bisa dihapus dengan pahala shalat dan sedekah atau haji (HR. AlThabrani). 2.3.2 Kemandirian Dalam Islam Dalam Islam kemandirian adalah melakukan usaha sekuat – kuatnya untuk tidak menjadi benalu bagi orang lain selagi seseorang masih mampu, tanpa 16 melupakan peran Allag SWT. Dengan kata lain, konsep kemandirian Islam dibangun atas dasar tauhid sehingga manusia cukup bergantung hanya kepada Allah SWT tanpa menafikan kerjasamadengan sesama untuk melipatgandakan kinerja. Kemandirian dalam Islam berakar dari kata kunci, yakni harga diri (Abdurahman, 2012). Dalam hadis riwayat Imam Daruquthni dari Jabir, Nabi SAW bersabda: “suatu yang amat aku khawatirkan terhadap umatku adalah besar perut, tidur siang hari, malas, dan lemah kenyakinan (tekad)”. Dalam hidup, seseorang pasti membutuhkan orang lain, askan tetapi menikamati hidup dengan membebani orang lain adalah hidup yang tidak mulia. Mandiri adalah sikap mental yang membuat seseorang lebih tenang dan tentram. Dalam Q.S. Al – Ra’d ayat 11 ditegakan bahwa Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu gigih mengubah nasibnya sendiri. ”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” Menurut ayat di atas, setiap manusia diberi kemmpuan Allah untuk mengubah nasibnya sendiri. Hal ini berarti kemampuan manusia untuk mandiri dalam mengarungi hiduo merupakan kunci yang dibewri Allah untuk sukses di dunia dan di akhirat kelak. Dalam hal ini, Gymnastiar (2004) menjelaskan bahwa yang ditekankan adalah kesungguhasn berikhtiar agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Disamping itu ia harus berani mencoba dan berani menanggung resiko. Orang yang bermental mandiri tidak akan menganggap kesulitan sebagai hambatan, melainkan sebagai tantangan dan peluang. Tindakan selanjutnya adalah 17 mempertebal kenyakinan kepada Allah, sebab dialah Dzat pencipta sekaligus pemberi rizki. Islam mengutamakan pemahaman bahwa setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan terbaik (Q.S. Al – tiin:4). Potensi yang dimiliki manusia menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki peluang untuk menjadi mulia. Oleh karenanya setiap muslim tidak layak menjadi beban orang lain. Muslim yang mentalnya peminta dianggap rendah harga dirinya, sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah (HR. Muslim). Demikianlah konsep kemandirian dalam Islam. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjadi beban bagi siapapun, namun tetap menjadikan Allah SWT sebagai tempat berharap dan meminta pertolongan. Perilaku Rasulullah SAW dalam bekerja patut di contoh dan dijadikann teladan bagi seluruh aktivitas orang muslim. Semangat kerja yang dilandasi dengan ketauhidan kepada Allah SWT akan melahirkan produktivitas yang dapat menghadirkan manfaat bagi dirinya, usahanya, dan orang lain, di dunia maupun akhirat. BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Ekonomi Islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai islam. Semua sistem ekonomi, termasuk sistem ekonomi Islam, memiliki tujuan yang sama, yaitu mengupayakan pemuasan atas berbagai keperluan hidup masyarakat secara keseluruhan. Di samping itu, setiap sistem ekonomi bekerja diatas motif ekonomi yang sama, yaitu berusaha mencapai hasil sebesar-besarnya dengan tenaga dan ongkos seminimminimnya. 18 Namun jika dilihat dari perbedaan keperluan hidup harus dipenuhi, terdapat perbedaan dalam upaya mencapai tujuan, terutama dalam pelakssanaan prinsip ekonomi. Karena perbedaan-perbedaan itu pula, muncul beragam sistem ekonomi manusia sekarang ini yaitu sistem ekonomi yang mmpengaruhi pemikiran dan kegiatan ekonomi manusia sekarang ini, yaitu sistem eknomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis. Disamping kesua sistem itu, kini sedang berkembang sisteem ekonomi Islam. Kerja adalah sebuah aktivitas yang telah direncanakan dan dilakukan tahap demi tahap agar bisa mendapatkan nilai lebih demi memenuhi kbutuhan hidup serta memberikan manfaat bagi seluruh manusia. Etos kerja islami memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah: (a) baik dan bermanfaat; (b) kualitas kerja yang mantap; (c) kerja keras, tekun dan kreativ; (d) berkompetisi dan tolong-menolong; (e) objektif (jujur); (f) disiplin dan konsekuen; (g) konsisteen dan istiqomah; (h) percaya diri dan kemandirian; (i) efisien dan hemat. 3.2. Saran Setelah mempelajari tentang sistem ekonomi dalam Islam dan etos kerja, hendaknya kita dapat meneerapkan sebuah prinsip-prinsip ekonomi daam Islam. Setelah kita tahu mana yang boleh dan tidak, hendaknya kita bisa memilah-milah tentang apa yang kita lakukan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi tentang larangannya. Sebagai umat Islam hendaknya kita rajin bekerja, namun tidak mengesampingkan aspek Islam didalamnya. Bekerja merupakan suatu kewajiban dalam agama Islam, oleh karena itu kita harus menjalankan apa yang diperintahkan dalam Islam. 19 DAFTAR RUJUKAN Abdurrahman, Aditya. 2012. Konsep “Do It Yourself” dan Konsep Kemandirian Islam (Online), (www.undergroundtauhuid.com), diakses 7 Juni 2012. Agung, Lukman. 2007. Menjadi Kaya Bersama Rasulullah. Yogyakarta: Diva Press. Al-Assal, A.M. 1980. Sistem Ekonomi Islam: Prinsip-prinsip dan Tujuantujuannya. (Terj. Abu Ahmadi). Surabaya: Bina Ilmu. Anonim. 2013. Mmbangun Kemandirian Anak Bangsa. Yatim Mandiri, hlm.14. Daud, Ali. M. 1998. Sistem Ekonomi Islam: Zakat dan wakaf. Jakarta: Universitaas Indonesia. 20 Gymnastiar, Abdullah. 2004. Sebuah Nasehat Kecil. Jakarta: Penerbit Republika. http://ananganggarjito.blogspot.com/2008/07. E-Commerce dalam Prespektif Islam.html Jazimah & Maziyah, L. 2015. Pendidikan Islam Transformatif. Malang: Lembaga Pengembangan Pendidikan Dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang. 21

Judul: Sistem Ekonomi Dan Etos Kerja Dalam Islam.docx

Oleh: Rica Filasari


Ikuti kami