Perspektif Umat Islam Tentang Agama Dan Ilmu Pengetahuan: Dari Dikotomi Ke Integrasi

Oleh Syamsul Kurniawan

456,9 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Perspektif Umat Islam Tentang Agama Dan Ilmu Pengetahuan: Dari Dikotomi Ke Integrasi

Jurnal Dinamika Penelitian: Media Komunikasi Sosial Keagamaan Volume 19, Nomor 01, Juli 2019. Halaman 145-166 P-ISSN: 1412-2669; E-ISSN: 2549-4244 PERSPEKTIF UMAT ISLAM TENTANG AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN Syamsul Kurniawan IAIN Pontianak syamsulkurniawan001@gmail.com Abstrak Fokus tulisan ini adalah tentang perspektif umat Islam tentang agama dan ilmu pengetahuan, dari kecenderungan mendikotomikan sampai ada kesadaran untuk kembali mengintegrasikan keduanya. Hal ini berangkat dari kenyataan sejarah umat Islam, yang mana hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan pernah berada dalam hubungan yang tidak harmonis, mengalami dikotomi, bahkan selama beberapa dekade tidak pernah berhenti dan selalu dihadapkan pada pembedaan antara apa yang disebut “ilmu Islam” dan “ilmu non Islam”, “ilmu barat” dan “ilmu timur”. Karena itu, tulisan ini ingin menjawab beberapa pertanyaan sesuai fokus, yaitu mengapa dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan terjadi, padahal Islam tidak pernah mendikotomikan (memisahkan dengan tanpa saling terkait) antara ilmu-ilmu agama dan umum? Apa konsekuensi yang dialami umat Islam sebagai akibat dari dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan? Kata Kunci: Agama, Ilmu Pengetahuan, Dikotomi, Integrasi [146] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 A. PENDAHULUAN Hakikatnya Islam tidak pernah mendikotomikan (memisahkan dengan tanpa saling terkait) antara ilmu-ilmu agama dan umum. Semua ilmu dalam Islam dianggap penting asalkan berguna bagi kemashlahatan umat manusia. Dalam Islam, pengakuan adanya kebenaran ayat qauliyah (yang tertera di dalam kitab suci) dan ayat kauniyah (ayat yang ada di alam semesta) harusnya dipandang cukup untuk menjelaskan bahwa, tidak ada pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Bahkan secara ontologis, kedua jenis ayat tersebut bersumber dari Allah Swt, Tuhan Yang Maha Esa.1 Al-Qur’an sebagai pedoman bagi umat Islam, juga mempertegas bahwa tidak ada dikotomi dalam Islam, yang berarti antara agama dan ilmu pengetahuan, merupakan satu paket yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain. Al-Qur’an pada aras ini sangat mungkin berperan sebagai cara berpikir, bahkan menjadi paradigma. Sehingga eksperimeneksperimen yang dilakukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, dapat berlandaskan pada paradigma Al-Qur’an dan memperkaya khazanah dari ilmu pengetahuan. Paradigma al-Qur’an dapat mendorong lahirnya beragam ilmu pengetahuan baru. Jelas pada konteks ini, premis-premis Al-Qur’an dapat dirumuskan menjadi teori-teori empiris dan rasional. Struktur transedental Al-Qur’an, menurut Kuntowijoyo, merupakan sebuah ide normatif dan filosofis yang dapat dirumuskan menjadi paradigma teoritis. Al-Qur’an dalam hal ini memberikan kerangka bagi pertumbuhan “ilmu pengetahuan yang empiris” dan “rasional yang empiris”, sehingga bersesuaian dengan kebutuhan pragmatis manusia sebagai khalifah di dunianya dan sejalan dengan prinsip-prinsip kemashalahatan.2 1 Syamsul Kurniawan, ‘Dikotomi Agama Dan Ilmu Dalam Sejarah Umat Islam Serta Kemungkinan Pengintegrasiannya’, Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keislaman, vol. 1, no. 1 (2013), 132. 2 Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu (Jakarta: Teraju, 2005), 25. Syamsul Kurniawan: Perspektif Umat..... Sayangnya, sebagaimana diinformasikan dalam sejarah keilmuan umat Islam, hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan pernah berada dalam hubungan yang tidak mesra, mengalami dikotomi, sampai kemudian muncul kesadaran akan pentingnya kembali menginterasikan keduanya terutama akibat berbagai bentuk kemunduran yang dialami umat Islam.3 Sampai sekarang perdebatan seputar dikotomi keilmuan yang ditandai dengan pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan masih terjadi. Sebagian berpandangan bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan merupakan dua kategori yang berbeda, memiliki wilayah kajian yang berbeda dan diorientasikan pada hal-hal yang berbeda pula. Sementara pandangan lain mengatakan sebaliknya, baik agama dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang bersifat integratif, dua aktivitas yang sama dan keduanya tidak boleh dipilah-pilah, karena keduanya dapat saling melengkapi serta dapat dimanfaatkan bagi kepentingan umat manusia. B. TERJADINYA DIKOTOMI AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN SERTA KONSEKUENSINYA Saat ini ada kecenderungan pengelompokkan disiplin ilmu menjadi disiplin ilmu agama dan ilmu umum. Kecenderungan ini menunjukkan adanya dikotomi keilmuan yang memisahkan antara ilmuilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Kondisi seperti ini sesungguhnya bukan barang baru, karena sudah nampak pada saat akhir-akhir abad pertengahan yaitu ketika Islam mulai mengalami kemunduran. Padahal, pandangan yang dikotomis terhadap agama dan ilmu pengetahuan tersebut sesungguhnya tidak pernah dijumpai dalam permulaan sejarah umat Islam atau periode klasik Islam. Bahkan pada permulaan sejarah umat Islam atau periode klasik Islam, agama dan ilmu pengetahuan menyatu, menjadi satu paket yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain. 3 Syamsul Kurniawan, ‘Dikotomi Agama,…. . 132–3. Media Komunikasi Sosial Keagamaan, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 ж [147] [148] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 Mengapa dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan terjadi dalam dunia Islam? Terdapat dua penyebab utama terjadinya dikotomi pendidikan dalam dunia Islam, yaitu: pertama, faktor kolonialisme dan imperialisme Barat atas dunia Islam. Serbuan Bangsa Tartar dari Timur dan Pasukan Salib tidak hanya mengakibatkan kerusakan tetapi juga membuat hilangnya kepercayaan diri umat Islam pada kemampuannya membangun kembali peradabannya.4 Mereka berfikir bahwa dunia mereka telah mengalami bencana, sehingga mereka mengambil sikap yang sangat konservatif dan berusaha untuk menjaga identitas dan milik mereka yang paling berharga (Islam) dengan melarang segala bentuk inovasi dan mengampanyekan untuk menjadi fanatik secara harfiah kepada syari’ah. Saat itu mereka meninggalkan sumber utama kreatifitas, yakni “ijtihad”. Muncullah kecenderungan menutup pintu ijtihad. Sebaliknya, mereka memberlakukan syari’ah sebagai hasil karya yang sempurna dari para leluhur. Mereka menyatakan bahwa setiap penyimpangan dari syari’ah adalah inovasi, dan setiap inovasi tidak disukai dan terkutuk. Sebagaimana yang dijelaskan di sekolah-sekolah, syari’ah harus menjadi beku dan karenanya menjaga keselamatan Islam. Kebangkitan Islam, terlebih kemenangan dan ekspansi kaum Muslimin ke Rusia, Balkan, Eropa Tengah, dan Barat Daya di sekitar abad ke-8 dan ke-12 tidak dapat meniadakan tindakan-tindakan konservatif tersebut. Pada zaman modern, Barat membebaskan daerah-daerah yang ditaklukkan Ottoman di Eropa. Barat menduduki, menjajah, dan memecah belah dunia Islam, kecuali Turki karena di sini kekuatan Barat berhasil diusir. Sementara Yaman dan Arab Tengah dan Barat tidak menarik untuk dijadikan daerah jajahan. Kekuatan Barat mengeksploitir kelemahan kaum Muslimin sebesar mungkin, dan merekalah yang menyebabkan malaise yang dialami dunia Islam. Sebagai respon terhadap kekalahan, tragedi, dan krisis yang ditimbulkan Barat di dunia Islam dalam dua abad terakhir ini, para pemimpin Muslim di Turki, Mesir, dan 4 Abdul Hakim Siregar, ‘Eksistensi Ijtihad di Era Modern’, Wahana Inovasi, vol. 3, no. 1 (2014), 65. Syamsul Kurniawan: Perspektif Umat..... India mencoba melakukan westernisasi terhadap umat dengan harapan membuatnya dapat bertahan secara politik, ekonomi, dan militer. Penjajahan Barat atas dunia Muslim menyebabkan umat Islam tidak berdaya. Dalam kondisi seperti itu, tidak mudah bagi umat Islam untuk menolak upaya-upaya yang dilakukan Barat terutama tekanan budaya dan peradaban modern Barat. Tak pelak, ilmu-ilmu Barat sering menggantikan posisi ilmu-ilmu agama dalam kurikulum sekolah Islam. Sementara upaya untuk mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum (Barat) tidak begitu dilakukan waktu itu, sehingga yang terjadi justru pemisahan secara dikotomis antara ilmu agama dan ilmu umum sekuler.5 Selanjutnya, terjadi dikotomi antara pemikiran dan aksi di kalangan umat Islam. Pada awal-awal sejarah Islam, antara pemimpin dan pemikir ibarat sebuah koin logam dengan dua sisi yang saling menyatu. Saat menyebut pemimpin, maka yang disebut merupakan seorang pemikir handal. Demikian pula sebaliknya, seorang pemikir adalah pemimpin. Wawasan Islam pada waktu itu dominan, dan hasrat untuk mewujudkan wawasan Islam di dalam sejarah menentukan semua tingkah laku. Itulah kekhasan dari warna kehidupan masyarakat Islam saat itu. Bahkan banyak Muslim yang sangat sadar dan berusaha menyelidiki realitas tentang materi-materi dan kesempatan-kesempatan untuk kemudian dibentuk kembali ke dalam pola-pola Islam. Pada waktu yang bersamaan, seorang faqih (ahli fiqih) adalah imam, mujtahid, qari, muhaddits, guru, mutakallimun, pemimpin politik, jenderal, petani atau pengusaha, dan kaum profesional. Jika ada yang merasa lemah, maka orang-orang di sekelilingnya dengan senang hati akan membantunya dalam mengatasi kekurangan itu. Semua orang memberikan semuanya demi cita-cita Islam. Di kemudian hari, kesatupaduan antara pemikiran dan aksi ini terdikotomikan, atau bahkan didikotomikan. Namun saat keduanya mengalami dikotomi, masing-masing kondisinya memburuk. Para 5 M. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik (Yogyakarta: Ircisod-UMG Press, 2004), 10–2. Media Komunikasi Sosial Keagamaan, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 ж [149] [150] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 pemimpin politik dan pemilik kebijakan mengalami krisis tanpa memperoleh manfaat pemikiran, tanpa berkonsultasi kepada para cerdik-pandai, dan tidak memperoleh kearifan mereka. Terjadilah kemandegan (stagnasi) yang membuat kalangan ilmuan dan intelektual merasa terasing dan semakin terisolasi dari lingkaran kekuasaan, apalagi didapuk sebagai pemimpin. Para pemikir yaitu ilmuan dan intelektual menjadi asing dan semakin jauh dari keterlibatan aktif di dalam urusan umat. Di saat itulah stagnasi pemikiran di kalangan umat Islam tampak nyata, karena tidak padunya berbagai pemikiran dan aksi di dalamnya. Stagnasi pemikiran di dunia Islam itu terjadi –juga- karena umat Islam terlena dalam kelesuan politik dan budaya. 6 Mereka cenderung kembali melihat ke belakang pada masa kejayaan Islam masa silam. Para sarjana Barat seolah mengatakan bahwa rasa bangga atas keunggulan budaya masa lampau telah membuat para sarjana Muslim kurang menanggapi tantangan yang dilemparkan oleh para sarjana Barat. Padahal bila tantangan itu ditanggapi secara positif dan arif, dunia Muslim akan dapat mengasimilasikan ilmu pengetahuan baru dan bisa memberinya arah. Trend dikotomi yang melanda umat Islam eperti menandai jatuhnya peradaban umat Islam, seperti dalam pendidikan Islam yang tidak menunjukkan inovasi. 7 Konsekuensi dari munculnya pandangan dikotomis, di mana agama sebagai suatu disiplin ilmu yang sengaja diasingkan dari disiplin ilmu lain, telah menyebabkan ketertinggalan para ilmuan Islam baik dalam pengembangan wawasan keilmuan maupun untuk menyelesaikan berbagai masalah, yang mana masalah-masalah tersebut hanya bisa diselesaikan dengan multimensional approach. Oleh karena itulah wajarlah jika fenomena dikotomi keilmuan yang bertumbuh di kalangan umat Islam, mendapat gugatan dari sebagian sarjana muslim melalui wacana Ibid. Eniyawati, ‘Kesatuan Ilmu dalam Bingkai Pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi’, Tadris, vol. 10, no. 1 (2015), 40. 6 7 Syamsul Kurniawan: Perspektif Umat..... tentang pentingnya mengintegrasikan kembali agama dan ilmu pengetahuan.8 Bahkan selama beberapa dekade dapat dikatakan bahwa persoalan dikotomi ilmu yang dihadapi dunia Islam tak pernah berhenti dan selalu dihadapkan pada pembedaan antara apa yang disebut “ilmu Islam” dan “ilmu non Islam”, “ilmu barat” dan “ilmu timur”. Bahkan lebih parah ketika dikotomi tersebut menjalar sebagai satu bentuk dikotomi antara ilmu pengetahuan dan teknologi. Khususnya di bidang pendidikan, dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan ini menjalar sebagai satu bentuk pembedaan antara sekolah bercirikhaskan agama di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) dan sekolah umum dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sebagaimana kecenderungan sistem pendidikan nasional kita saat ini. Sekolah bercirikhaskan agama secara khusus diwakili oleh madrasah dan pesantren, sedangkan sekolah umum diwakili oleh sekolah-sekolah umum dan sekolah-sekolah kejuruan. 9 Kesalahan pertama pelacakan dasar-dasar keilmuan antara agama dengan ilmu pengetahuan adalah tidak dimulai dari sumber, metode, tahapan dan fungsi dari masing-masing objek ilmu pengetahuan. Akibatnya, agama yang secara metodologi cenderung bersumber dari penalaran berpikir bercampur secara acak dengan ilmu pengetahuan yang secara metodologi cenderung bersumber dari daya mengindera manusia tanpa penjelasan yang tepat. Sehingga, sebagian orang tidak bisa membedakan antara pengembangan ilmu pengetahuan yang dibangun di atas basis ilmu murni, dengan ilmu agama yang dibangun di atas basis ilmu empiri. 10 Ilmu murni melahirkan pandangan ilmu pengetahuan sebagai ilmu, sementara ilmu empiri terarah pada unsur manusia sebagai Syamsul Kurniawan, ‘Dikotomi Agama dan Ilmu dalam Sejarah Umat Islam Serta Kemungkinan Pengintegrasiannya’, 134. 9 Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 1–2. 10 Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis (Yogyakarta: Andi Offset, 1993), 13–23. 8 Media Komunikasi Sosial Keagamaan, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 ж [151] [152] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 pembentuk ilmu pengetahuan. Ilmu murni meletakkan manusia di “luar pagar ilmu”, oleh sebab itu ilmu pengetahuan cenderung bersifat objektif. Pada sisi lain, ilmu agama dalam konteks ini bersifat empiris karena manusia mendapatkan peranannya dalam pembentukan ilmu, dalam hal ini ilmu empiri seringkali menjadi bersifat subjektif. Hakikat hubungan konsep keduanya menjadi kurang dapat dijelaskan. Akibatnya gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan atau kerja-kerja dalam mengintegrasikan agama dan ilmu pengetahuan sampai sekarang belum dapat dirasakan hasil kongkritnya.11 C. MENGINTEGRASIKAN KEMBALI AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN SERTA URGENSITASNYA Seorang ilmuan yaitu Ian G. Barbour memetakan hubungan ilmu dan agama ke dalam empat tipologi yaitu konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Pertama, konflik. Hubungan ini ditandai dengan adanya dua pandangan yang saling berlawanan antara agama dan ilmu pengetahuan dalam melihat suatu persoalan. Keduanya sama-sama mempunyai argumentasi yang tidak hanya berbeda tapi juga saling bertentangan dan bahkan menafikan satu dengan yang lain. Momentum kuat munculnya konflik antara agama dan ilmu pengetahuan telah terjadi pada abad pertengahan, manakala otoritas gereja menjatuhkan hukuman kepada Galileo Galilei pada tahun 1663, karena mengajukan teori Copernicus bahwa bumi dan planet-planet mengelilingi matahari (heliosentris) dan menolak teori Ptolomeus yang didukung otoritas ilmiah Aristoteles dan otoritas kitab suci yang meyakini bahwa bumi sebagai pusat alam semesta (geosentris). Seseorang tidak dapat menerima pandangan heliosentris dan geosentris sekaligus atau dengan kata lain harus memilih salah satu apakah akan menerima kebenaran agama atau kebenaran ilmu. Jika menerima kebenaran agama akan berimplikasi pada penolakan objektifitas kebenaran ilmu dan jika menerima kebenaran ilmu akan berimplikasi pada pengingkaran 11 Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif, 2. Syamsul Kurniawan: Perspektif Umat..... kebenaran agama dan dituduh sebagai kafir. Persoalan lain yang menggambarkan hubungan konflik antara agama dan ilmu adalah masalah teori evolusi Darwin yang muncul pada abad XIX. Sejumlah ilmuan dan agamawan menganggap bahwa teori evolusi Darwin dan kebenaran kitab suci tidak dapat dipertemukan. Kaum literalis Biblikal memahami bahwa alam semesta diciptakan Tuhan secara langsung, sementara kaum evolusionis berpendapat bahwa alam semesta terjadi secara alamiah melalui proses yang sangat panjang atau evolusi. Dengan menunjukkan bukti-bukti empiris kaum evolusionis tidak menisbahkan proses panjang tersebut pada Tuhan namun melalui proses yang alamiah. Makhluk hidup menurut kaum evolusionis dapat berkembang menjadi beraneka ragam melalui mekanisme adaptasi, survival for live, dan seleksi alam. Bagi Darwin dan kaum evolusionis, manusia bukanlah makhluk yang diciptakan khusus dan kemudian ditempatkan di bumi ini sebagaimana pendapat kaum literalis Biblikal. Menurut mereka, manusia hanyalah proses evolusi tersebut. Pandangan demikian tentu menggeser pandangan gereja bahwa Tuhanlah yang menciptakan satu persatu makhluk hidup dan secara khusus menciptakan manusia yang memiliki posisi yang lebih tinggi dari makhluk yang lain. Ada sementara agamawan menyatakan bahwa teori evolusi bertentangan dengan keyakinan agama, sedangkan ilmuan atheis bahkan mengklaim bahwa berbagai bukti ilmiah atas teori evolusi tidak sejalan dengan keimanan. Dua kelompok ini sepakat bahwa tidak mungkin seseorang dapat mempercayai Tuhan dan teori evolusi sekaligus. Jadilah agama dan ilmu berada pada posisi yang bertentangan. Kedua, Independensi. Berbeda dengan yang pertama, pandangan independensi menempatkan agama dan ilmu tidak berada dalam posisi konflik. Kebenaran agama dan ilmu pengetahuan sama-sama absah selama berada pada batas ruang lingkup penyelidikan masing-masing. Agama dan ilmu tidak perlu saling mencampuri satu dengan yang lain karena memiliki cara pemahaman akan realitas yang benar-benar terlepas satu sama lain, sehingga tidak ada artinya mempertentangkan keduanya. Menurut pandangan ini upaya peleburan merupakan upaya Media Komunikasi Sosial Keagamaan, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 ж [153] [154] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 yang tidak memuaskan untuk menghindari konflik. Kalangan Kristen Konservatif berusaha meleburkan agama dan ilmu dengan mengatakan bahwa kitab suci memberikan informasi ilmiah yang paling dapat dipercaya tentang awal mula alam semesta dan kehidupan, yang tidak mungkin mengandung kesalahan. Mereka menolak teori evolusi Darwin dan membangun konsep baru tentang penciptaan yang dinamakan creation science berdasarkan atas penafsiran harfiah terhadap kisah-kisah Biblikal. Karl Bath berpendapat bahwa agama dan ilmu memiliki metode dan pokok persoalan yang berbeda. Ilmu pengetahuan dibangun berdasarkan pengamatan dan penalaran manusia, sedangkan teologi berdasarkan wahyu Tuhan. Oleh karenanya Bath berpendapat bahwa agama dan ilmu mesti berjalan sendiri-sendiri tanpa ada campur tangan satu dengan yang lain. Selain metode dan pokok persoalan, bahasa dan fungsinya juga berbeda. Bahasa ilmiah berfungsi menjawab “bagaimana”, yang ditunjukkan untuk mendeskripsikan dan mencari jalan keluar atas fenomena riil kemanusiaan, sedangkan bahasa agama berfungsi untuk menjawab “mengapa”, yang akan mendorong seseorang untuk mematuhi prinsip-prinsip moral tertentu. Gambaran yang sering digunakan untuk menjelaskan tipologi ini adalah seperti halnya permainan, misal catur dan ular tangga. Peraturan dalam catur tidak dapat diterapkan dalam permainan ular tangga, demikian pula sebaliknya. Demikian pula ilmu dan agama, tidak ada yang dapat diperbandingkan satu dengan yang lain dan keduanya tidak dapat ditempatkan pada posisi bersaing atau konflik. Pendekatan independensi ini dinilai cukup aman karena dapat menghindari konflik dengan cara memisahkan hubungan di antara keduanya. Pendekatan ini menggambarkan agama dan ilmu pengetahuan sebagai jalur kereta yang berel ganda, masing-masing mempunyai jalan yang independen dan otonom. Ketegangan antara Galileo Galilei dengan gereja semestinya tidak perlu terjadi jika agama dapat masuk ke wilayah privasi ilmu, demikian pula ilmu tidak memaksakan diri dengan rasionalismeempirisme pada agama. Agama dan ilmu pengetahuan mempunyai bahasa sendiri karena menjalani fungsi yang berbeda dalam kehidupan Syamsul Kurniawan: Perspektif Umat..... manusia. Agama berurusan dengan fakta objektif, agama rentan dengan perubahan karena sifatnya yang deduktif, sedangkan ilmu pengetahuan setiap saat bisa berubah karena sifatnya yang lebih induktif. Menurut pandangan independen, agama dan ilmu adalah dua domain independen yang dapat hidup bersama sepanjang mempertahankan “jarak aman” satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan berada pada posisi sejajar dan tidak saling mengintervensi satu dengan yang lain. Ketiga, Dialog. Pendekatan independensi meskipun merupakan pilihan yang cukup aman, namun dapat menjadikan realitas kehidupan menjadi terbelah. Penerimaan kebenaran agama dan ilmu menjadi satu pilihan dikotomis yang membingungkan karena tidak dapat mengambil keduanya sekaligus. Adapun bagi seseorang yang berusaha menerima keduanya dapat mengalami split personality, karena menerima dua macam kebenaran yang saling berseberangan. Pendekatan ini membantu tetapi membiarkan segala sesuatu berada pada jalan buntu yang bisa membuat seseorang putus asa. Karena itulah pendekatan dialog memandang bahwa agama dan ilmu pengetahuan tidak dapat disekat dengan kotakkotak yang sama sekali terpisah, meskipun pendekatan ini menyadari bahwa keduanya berbeda secara logis, linguistik, maupun normatif. Bagaimanapun juga, di Barat, agama telah memberikan banyak inspirasi bagi perkembangan ilmu, demikian pula penemuan-penemuan ilmiah juga mempengaruhi teologi. Meskipun keduanya berbeda namun tidak mungkin benar-benar dipisahkan. Pendekatan dialog ini dapat membangun hubungan yang mutualis. Dengan mempertimbangkan temuan-temuan dari ilmu pengetahuan, agama dapat membangun kesadaran kritis dan lebih terbuka sehingga tidak terlalu over sensitive terhadap hal-hal yang baru. Sebaliknya, ilmu pengetahuan perlu mempertimbangkan perhatian agama pada masalah harkat kemanusiaan. Dalam dunia manusia, ada realitas batin yang membentuk makna dan nilai. Ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya jalan menuju kebenaran, dan ilmu bukan hanya untuk ilmu tetapi ilmu juga untuk kemanusiaan. Agama dapat membantu memahami batas-batas rasio, yaitu pada wilayah adikodrati atau supranatural ketika ilmu tidak mampu Media Komunikasi Sosial Keagamaan, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 ж [155] [156] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 menyentuhnya. Hubungan dialogis berusaha membandingkan metode kedua bidang yang dapat menunjukkan kemiripan dan perbedaan. Dialog dapat terjadi manakala agama dan ilmu pengetahuan menyentuh persoalan di luar wilayahnya sendiri. Keempat, Integrasi. Ada dua makna dalam bentuk ini: (a) bahwa integrasi mengandung makna implisit reintegrasi, yaitu menyatukan kembali agama dan ilmu pengetahuan setelah keduanya terpisah; (b) integrasi mengandung makna unity yaitu bahwa agama dan ilmu pengetahuan merupakan kesatuan primordial. Makna pertama populer di Barat karena kenyataan sejarah menunjukkan keterpisahan itu. Adapun makna kedua lebih banyak berkembang di dunia Islam karena secara ontologis diyakini bahwa kebenaran agama dan ilmu pengetahuan adalah satu. Perbedaannya ada pada ruang lingkup pembahasan, yang satu pengkajiannya dimulai dari pembacaan al-Quran, sementara yang satu lagi dimulai dari pembacaan alam. Kebenaran keduanya saling mendukung dan tidak saling bertentangan. 12 Secara historis, ilmuan dan cendekiawan muslim pada era klasik Islam memandang agama dan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang integratif. Pada masa ini, ilmuan dan cendekiawan muslim memandang bahwa ajaran agama Islam memuat semua sistem ilmu pengetahuan, sehingga tidak ada dikotomi dalam sistem keilmuan Islam. 13 Kebanyakan ilmuan dan cendekiawan muslim saat itu memang mengasumsikan bahwa dalam dataran konsep ideal, Islam diyakini sebagai agama yang memiliki ajaran yang sempurna, komprehensif dan universal, sehingga memungkinkan memuat semua sistem ilmu pengetahuan 14. Namun, kenyataan yang terjadi sebaliknya, paska abad pertengahan muncullah pemisahan antara kelompok ilmu profan yaitu Ian G. Barbour, When science meets religion, 1st ed edition (San Francisco: HarperSanFrancisco, 2000). 13 Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam: Pokok-pokok Pikiran tentang Islam dan Umatnya (Jakarta: Rajawali Press, 1991), 120–5. 14 Nasruddin Razak, Dienul Islam (Bandung: Al-Maarif, 1996), p. 7; Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif, 1. 12 Syamsul Kurniawan: Perspektif Umat..... ilmu-ilmu keduniaan yang melahirkan perkembangan sains dan teknologi, yang selanjutnya dihadapkan pada ilmu-ilmu agama pada sisi lain. 15 Kecelakaan sejarah umat Islam terjadi pada saat bangunan keilmuan natural science menjadi terpisah dan tidak bersentuhan sama sekali dengan ilmu-ilmu agama yang fondasi dasarnya berupa teks atau nash, yaitu al-Qur’an dan Hadits. 16 Meskipun peradaban Islam klasik pernah mencatatkan tinta emas dalam sejarah umat Islam dengan nama-nama ilmuan yang terkenal seperti Ibn Sina sebagai seorang filsuf yang juga menguasai disiplin ilmu kedokteran, Ibn Haitsam seorang fisikawan, Abu Abbas al-Fadhl Hatim an-Nizari seorang ahli astronomi, Umar ibn Ibrahim al-Khayyami (yang lebih dikenal dengan sebutan Umar Khayyam) penulis buku al-Jabbar, Muhammad al-Syarif al-Idrisi seorang ahli ilmu bumi, dan lain-lain. Namun sayangnya nama-nama ini di kalangan umat Islam pada hari ini sebatas dihapal dan tidak menjadi inspirasi. 17 Mulla Shadra seorang pemikir Islam kelahiran Persia menganologikan integrasi agama dan ilmu dengan “sinar yang satu” yang menyinari suatu ruangan yang mempunyai jendela yang beragam warna. Setiap jendela akan memancarkan warna yang bermacam-macam sesuai dengan warna kacanya. Melalui analogi ini Shadra hendak menggambarkan bahwa kebenaran berasal dari Yang Satu, dan akan tampak muncul beragam kebenaran tergantung sejauh mana manusia mampu menangkap kebenaran itu. Dapatlah dimengerti bahwa kebenaran yang ditangkap ilmuan hanyalah sebagian yang mampu ditangkap dari kebenaran Tuhan, demikian pula kebenaran yang ditangkap oleh agamawan. Jadi kebenaran yang ditangkap oleh ilmuan 15 Abdul Munir Mulhan (ed.), ‘“Rekonstruksi Kritis Ilmu dan Pendidikan Islam”’, in Religiusitas IPTEK (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pustaka Pelajar, 1998), 78–83. 16 M. Amin Abdullah, Islamic Studies dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi (Yogyakarta: Suka-Press, 2007), 27. 17 Syamsul Kurniawan, ‘Dikotomi Agama dan Ilmu dalam Sejarah Umat Islam Serta Kemungkinan Pengintegrasiannya’, 140–1. Media Komunikasi Sosial Keagamaan, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 ж [157] [158] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 dan agamawan bagi Mulla Shadra bersifat komplementer dan saling melengkapi.18 Sesudah periode klasik ini yaitu sejak abad XIII, perkembangan ilmu pengetahuan dalam umat Islam menampakkan gejala kemunduran. Sebaliknya di dunia Barat, warisan ilmu pengetahuan yang sebelumnya berkembang pada umat Islam, mereka pelajari dan kembangkan sehingga mampu mengantar mereka ke era renaissance. Mulai saat inilah ada kecenderungan umat Islam memilah-milah mana ilmu yang boleh mereka pelajari dan mana yang tidak. Ilmu yang diambil langsung dari al-Quran dan Hadits dapat dipelajari dan dipandang sebagai struktur ilmu Islam, sedangkan ilmu yang bersumber dari alam dan dari masyarakat hendaknya ditepikan dari struktur ilmu pengetahuan dalam Islam. Keadaan inilah yang melatar-belakangi adanya dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan dalam sejarah umat Islam yang berujung pada kemunduran umat Islam hingga sekarang dalam banyak aspek. 19 Terjadinya dikotomi antara agama dan ilmu selanjutnya berdampak pada kemunduran umat Islam. Hal ini yang kemudian memberikan motivasi pada sebagian sarjana muslim untuk kembali menyuarakan tentang pentingnya pengintegrasian kembali agama dengan ilmu pengetahuan. Bagi sebagian sarjana muslim ini, mustahil mengandaikan kemajuan umat muslim, tanpa memosisikan agama secara mutualis sebagai bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan. Ismail Raji al-Faruqi seorang sarjana muslim kelahiran Palestina yang hijrah ke Amerika Serikat berpendapat bahwa agama dan ilmu dapat diintegrasikan, dan dapat dimulai dengan mengembalikan ilmu pada pusatnya yaitu tauhid.20 Setiap penelitian dan pengembangan keilmuan harus diarahkan sebagai refleksi dari keimanan dan realisasi ibadah kepada-Nya. Ini berbeda dengan prinsip keilmuan Barat. Sejak 18 Syamsul Kurniawan, ‘Dikotomi Agama dan Ilmu dalam Sejarah Umat Islam Serta Kemungkinan Pengintegrasiannya’, 141. 19 Ibid., 142. 20 Ismaʾil R. Al-Faruqi, Al Tawḥīd: its implications for thought and life, 2nd ed edition (Herndon, VA: International Institute of Islamic Thought, 1992). Syamsul Kurniawan: Perspektif Umat..... abad ke-15 mereka sudah tidak berterima kasih kepada Tuhan melainkan hanya pada dirinya sendiri. Mereka telah memisahkan ilmu pengetahuan dari prinsip teologis dan agama. Gagasan dan teorinya tentang proyek integrasi ilmu tersebut, terangkum dalam bingkai besar "Islamisasi Ilmu Pengetahuan". Gagasan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan ini ia lontarkan untuk pertama kalinya pada saat pembentukan The International Institute of Islamic Thought di Washington dan forum The First International Conference of Islamic Thought and Islamization of Knowledge di Islamabad tahun 1982. Melalui gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan, al-Faruqi ingin mempertegas keyakinannya tentang penyebab kelumpuhan politik, ekonomi, dan religio kultural umat Islam, merupakan akibat dari dualism sistem pendidikan di dunia Islam, di tambah hilangnya identitas dan pudarnya visi Islam. Al-Faruqi pada konteks ini mempertegas pentingnya mengkaji kembali peradaban Islam dan melakukan apa yang ia sebut sebagai islamisasi ilmu pengetahuan. Al-Faruqi berpendapat bahwa pengetahuan modern mengakibatkan adanya pertentangan wahyu dan akal dalam diri umat Islam, memisahkan pemikiran dan aksi serta adanya dualisme kultural dan religius. Karena itu diperlukan Islamisasi ilmu pengetahuan yang berpijak dari ajaran tauhid. Ilmu pengetahuan menurut tradisi Islam hakikatnya tidak menerangkan dan memahami realitas sebagai entitas yang terpisah dan independen dari realitas absolut (Allah), tetapi melihatnya sebagai bagian dari eksistensi Allah. Oleh sebab itu, Islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi mesti diarahkan pada sebuah model analisa dan sintesa mengenai hubungan realitas yang sedang dipelajari dengan pola hukum Tuhan (divine pattern). Pada konteks ini, al-Faruqi meyakini bahwa Islam sebagai solusi atas berbagai problematika yang dihadapi manusia saat ini. Karenanya, ia tidak pernah bosan mengingatkan umat Islam yang menelan secara “bulat” westernisasi dan modernisasinya Barat dalam rangka mereformasi pemikiran Islam. Ini berarti bahwa umat Islam tidak saja harus menguasai ilmu-ilmu warisan keislaman saja, melainkan juga harus Media Komunikasi Sosial Keagamaan, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 ж [159] [160] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 menguasai disiplin keilmuan modern. Sangat perlu bagi umat Islam melakukan integrasi ilmu pengetahuan yang baru dengan turats Islam, dalam pengertian melakukan penafsiran kembali dan mengadaptasikan ilmu pengetahuan yang baru tersebut dengan pandangan atau nilai-nilai Islam. Dalam buku, Islamization of Knowledge: General Principle and Work Plan, alFaruqi tidak hanya mengelaborasi gagasannya atau sebatas memberikan teori-teori seputar hal ini, melainkan juga memberikan perencanaan praktis.21 Senada dengan al-Faruqi, Syed Naquib al-Attas yang melebarkan sayap The International Institute of Islamic Thought di Kuala Lumpur sejak tahun 1991 juga berpandangan perlunya membersihkan unsur-unsur yang menyimpang dari ilmu pengetahuan berdasarkan pandangan dan nilai-nilai Islam, sehingga ilmu pengetahuan yang diperoleh bisa benarbenar bernilai Islami. Namun perbedaannya juga ada. Jika al-Faruqi lebih menekankan pada islamisasi ilmu-ilmu sosial, maka al-Attas lebih fokus pada islamisasi ilmu-ilmu humaniora. Ziauddin Sardar juga sependapat dengan gagasan al-Faruqi tentang islamisasi ilmu pengetahuan, hanya saja tahapan islamisasi ilmu pengetahuan yang diusulkan oleh al-Faruqi menurut Sardar memiliki kelemahan. Sardar mengungkap bahwa langkah islamisasi ilmu pengetahuan yang menekankan adanya relevansi Islam yang khas terhadap disiplin ilmu pengetahuan modern justru menjadikan kita terjebak pada westernisasi Islam, yang mengantarkan pada pengakuan ilmu Barat sebagai standar atau dalam istilahnya Sardar “putting the card before the horse”. Dengan demikian, upaya islamisasi ini akan sia-sia mengingat seluruh standarnya, pada akhirnya dikembalikan kepada ilmu pengetahuan Barat. Menurut Sardar, bukan Islam yang perlu dibuat relevan dengan ilmu pengetahuan modern, melainkan ilmu pengetahuan modern yang harus dibuat relevan dengan Islam. Untuk mengatasai kelemahan ini, Sardar mengusulkan upaya Islamisasi yang diawali dengan membangun 21 International Institute of Islamic Thought (ed.), Islamization of knowledge: general principles and work plan, 2nd ed., rev. and expanded edition (Herndon, Va., U.S.A: International Institute of Islamic Thought, 1989). Syamsul Kurniawan: Perspektif Umat..... worldview Islam dengan titik pijak utama membangun epistemologi Islam. Pembangunan epistemology Islam harus disandarkan pada AlQur’an dan Hadits serta dengan memahami perkembangan kontemporer umat manusia. Ini artinya, pembangunan epistemology Islam tidak dapat dimulai dengan menitikberatkan pada disiplin-disiplin ilmu yang sudah ada, tetatpi dengan mengembangkan paradigmaparadigma di mana ekspresi-ekspresi eksternal peradaban Islam – sains dan teknologi, politik dan hubungan-hubungan internasional, struktur sosial dan kegiatan ekonomi, pembangunan desa dan kota – dapat dipelajari dan dikembangkan dalam kaitannya dengan kebutuhankebutuhan dan realitas kontemporer. Melalui langkah ini, Sardar yain umat Islam akan bisa benar-benar akan menghasilkan sistem ilmu pengetahuan yang dibangun di atas pandangan dan nilai-nilai Islam.22 Berikutnya Kuntowijoyo yang menyuarakan ilmuisasi Islam. Dalam konteks ini, Kuntowijoyo berpendapat bahwa agama dapat diintegrasikan dengan ilmu manakala sarjana muslim segera melakukan perumusan teori ilmu pengetahuan yang didasarkan kepada al-Quran dan menjadikan al-Quran sebagai suatu paradigma. Upaya yang dilakukan adalah objektifikasi. Agama Islam dijadikan sebagai ilmu yang objektif, sehingga ajaran agama yang terkandung dalam al-Quran dapat dirasakan manfaatnya bagi seluruh alam atau menjadi rahmatan lil ‘alamin, dalam arti tidak hanya untuk umat Islam tapi juga non Islam dapat merasakan manfaat dari objektifikasi ajaran agama Islam. Kuntowijoyo menyatakan bahwa inti dari integrasi adalah upaya menyatukan bukan sekedar menggabungkan wahyu Tuhan dengan temuan pikiran manusia, tidak mengucilkan Tuhan sebagaimana kecenderungan sekularisme, dan atau sebaliknya mengucilkan manusia (other worldly asceticism). 23 Imam Suprayogo berpendapat bahwa integrasi agama dan ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan menjadikan al-Quran dan asSunnah sebagai grand theory dari ilmu pengetahuan, sehingga ayat-ayat 22 Umma Farida, ‘Pemikiran Ismail Raji al-Faruqi tentang Tauhid, Sains dan Seni’, Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keislaman, vol. 2, no. 2 (2014), 216–21. 23 Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, 57–8. Media Komunikasi Sosial Keagamaan, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 ж [161] [162] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 qauniyah dan qauliyah kedua-duanya dapat dipakai. 24. Dalam kerja mengintegrasikan agama dan ilmu pengetahuan ini, Imam Suprayogo meyakini bahwa keduanya bisa dipadukan, namun bukan dalam makna dicampurkan, karena keduanya tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang terpisah. Keduanya menjadi sumber ilmu pengetahuan yang dianjurkan oleh Islam untuk digunakan. Al-Qur’an yang bersifat universal tentu tidak menjamah persoalan yang sifatnya teknis. Persoalan teknis inilah yang memberi peluang bagi temuan-temuan ilmu pengetahuan untuk memberikan solusi, yang bersumber dari hasil observasi, eksperimentasi, dan penalaran logis.25 Untuk menjelaskan model integrasi agama dan ilmu pengetahuan, Imam Suprayogo menggunakan metafora sebatang pohon besar dan rindang, yang akarnya menghujam ke bumi, batangnya kokoh dan besar, berdahan dan ranting serta daun yang lebat dan akhirnya pohon itu berbuah yang segar dan sehat. Akar yang kuat menghujam ke bumi merupakan metafora untuk menggambarkan kecakapan yang harus dimiliki oleh siapapun yang melakukan kajian keislaman yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits mesti cakap dalam berbahasa Arab, bahasa Inggris, ilmu logika, ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Sebagaimana posisinya sebagai alat, idealnya kecakapan itu harus dikuasai secara penuh sebelum yang bersangkutan memulai melakukan kajian Islam yangbersumber dari kitab suci. Batang dari sebuah pohon merupakan metafora yang menggambarkan objek kajian Islam yaitu Al-Qur’an, Hadits, pemikiran Islam, dan sirah nabawiyah dan atau sejarah Islam lainnya yang lebih luas. Berikutnya dahan yang jumlahnya cukup banyak, ranting dan daun dalam metafora ini untuk menggambarkan beragamnya disiplin ilmu yang dapat dipilih. Sementara buah pohon Zainal Abidin Bagir (ed.), ‘“Membangun Integrasi Ilmu dan Agama: Pengalaman UIN Malang”’, in Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi (Bandung: Mizan, 2005), 49–50. 25 Imam Suprayogo, ‘Membangun Integrasi Ilmu dan Agama: Pengalaman UIN Maulana Malik Ibrahim Malang’, Integration and Interconection of Science, the Reflection of Islam Kaffah (IAIN Batu Sangkar, 16 Oktober 2016), 32–3. 24 Syamsul Kurniawan: Perspektif Umat..... tersebut menggambarkan hasil kegiatan kajian agama dan ilmu pengetahuan, yaitu iman, amal shalih dan akhlaq al-karimah.26 Urgensitas dari integrasi agama dan ilmu pengetahuan ini sesungguhnya tidak hanya sebagai respon ketertinggalan umat Islam dalam pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga merupakan respon mutakhir umat Islam terhadap ilmu pengetahuan Barat yang sekular. Hal ini dibenarkan oleh Kuntowijoyo, yang mana modernisasi telah memaksakan suatu kondisi terpisahnya antara agama dan ilmu pengetahuan, antara ilmu pengetahuan yang mandiri dan ilmu pengetahuan yang sekular. Maka wajar menurut Kuntowijoyo, jika pada masa ini umat Islam banyak yang menghendaki paradigma baru yang merupakan hasil rujuk kembali antara agama dan ilmu pengetahuan atau dalam istilah lain antara rasio dan wahyu. 27 Integrasi agama dan ilmu pengetahuan menjadi sebuah hal yang urgen, terutama dikarenakan situasi yang sangat problematik di dunia modern yang umumnya disebabkan oleh pemikiran manusia sendiri. Di balik kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, ada potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia. Kita memang melihat bagaimana umat manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban yang maju untuk dirinya dan komunitasnya, tetapi pada saat yang sama pula, kita juga melihat betapa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil-hasil ciptaannya itu. Sejak manusia memasuki zaman modern, yaitu sejak manusia mampu mengembangkan potensi-potensi rasionalnya, mereka yang dikira telah berhasil membebaskan diri dari belenggu pemikiran mistis yang irrasional dan belenggu pemikiran hukum alam yang sangat mengikat kebebasan manusia, justru di zaman modern sulit melepaskan diri dari jenis belenggu lain yaitu penyembahan kepada dirinya sendiri. 28 Ibid., pp. 33–4. Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, 58–9. 28 Ibid., 112. 26 27 Media Komunikasi Sosial Keagamaan, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 ж [163] [164] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 KESIMPULAN Dalam sejarah keilmuan umat Islam, hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan pernah berada dalam hubungan yang tidak harmonis, mengalami dikotomi, bahkan selama beberapa dekade, tidak pernah berhenti dan selalu dihadapkan pada pembedaan antara apa yang disebut “ilmu Islam” dan “ilmu non Islam”, “ilmu barat” dan “ilmu timur”. Bahkan lebih parah ketika dikotomi tersebut menjalar sebagai satu bentuk dikotomi antara ilmu pengetahuan dan teknologi. Khususnya di bidang pendidikan, dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan ini menjalar sebagai satu bentuk pembedaan antara sekolah bercirikhaskan agama di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) dan sekolah umum dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sebagaimana kecenderungan sistem pendidikan nasional kita saat ini. Sekolah bercirikhaskan agama secara khusus diwakili oleh madrasah dan pesantren, sedangkan sekolah umum diwakili oleh sekolah-sekolah umum dan sekolah-sekolah kejuruan. Dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan ini berdampak pada kemunduran umat Islam dalam berbagai aspek. Kesalahan pertama pelacakan dasar-dasar keilmuan antara agama dengan ilmu pengetahuan adalah tidak dimulai dari sumber, metode, tahapan dan fungsi dari masing-masing objek ilmu pengetahuan. Akibatnya, agama yang secara metodologi cenderung bersumber dari penalaran berpikir bercampur secara acak dengan ilmu pengetahuan yang secara metodologi cenderung bersumber dari daya mengindera manusia tanpa penjelasan yang tepat. Sehingga, sebagian orang tidak bisa membedakan antara pengembangan ilmu pengetahuan yang dibangun di atas basis ilmu murni, dengan ilmu agama yang dibangun di atas basis ilmu empiri. Syamsul Kurniawan: Perspektif Umat..... DAFTAR PUSTAKA Abdul Hakim Siregar, ‘Eksistensi Ijtihad di Era Modern’, Wahana Inovasi, vol. 3, no. 1, 2014. Abdul Munir Mulhan (ed.), ‘“Rekonstruksi Kritis Ilmu dan Pendidikan Islam”’, in Religiusitas IPTEK, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pustaka Pelajar, 1998. Al-Faruqi, Ismaʾil R., Al Tawḥīd: its implications for thought and life, 2nd ed edition, Herndon, VA: International Institute of Islamic Thought, 1992. Ali Anwar Yusuf, Islam dan Sains Modern, Bandung: Pustaka Setia, 2006. Barbour, Ian G., When science meets religion, 1st ed edition, San Francisco: HarperSanFrancisco, 2000. Departemen Agama RI, Diponegoro, 2010. Al-Qur’an dan terjemahan, Bandung: Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 4th edition, Jakarta: Gramedia, 2013. Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam: Pokok-pokok Pikiran tentang Islam dan Umatnya, Jakarta: Rajawali Press, 1991. Eniyawati, ‘Kesatuan Ilmu dalam Bingkai Pemikiran Ismail Raji AlFaruqi’, Tadris, vol. 10, no. 1, 2015. [http://dx.doi.org/10.19105/jpi.v10i1.637] Imam Suprayogo, ‘Membangun Integrasi Ilmu dan Agama: Pengalaman UIN Maulana Malik Ibrahim Malang’, Integration and Interconection of Science, the Reflection of Islam Kaffah, IAIN Batu Sangkar, 16 Oktober 2016. International Institute of Islamic Thought (ed.), Islamization of knowledge: general principles and work plan, 2nd ed., rev. and expanded edition, Herndon, Va., U.S.A: International Institute of Islamic Thought, 1989. Media Komunikasi Sosial Keagamaan, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 ж [165] [166] ж Dinamika Penelitian, Vol. 19, No. 01, Juli 2019 Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. John M. Echols and Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia, 2006. Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, Jakarta: Teraju, 2005. M. Amin Abdullah, Islamic Studies dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi, Yogyakarta: Suka-Press, 2007. M. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik, Yogyakarta: Ircisod-UMG Press, 2004. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Bandung: Al-Maarif, 1996. Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, Yogyakarta: Andi Offset, 1993. Syamsul Kurniawan, ‘Dikotomi Agama dan Ilmu dalam Sejarah Umat Islam Serta Kemungkinan Pengintegrasiannya’, Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keislaman, vol. 1, no. 1, 2013 [https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21043/fikrah.v1i1.309 ]. Umma Farida, ‘Pemikiran Ismail Raji al-Faruqi tentang Tauhid, Sains dan Seni’, Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keislaman, vol. 2, no. 2, 2014. [http://dx.doi.org/10.21043/fikrah.v2i2.669 ] Zainal Abidin Bagir (ed.), ‘“Membangun Integrasi Ilmu dan Agama: Pengalaman UIN Malang”’, in Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi, Bandung: Mizan, 2005. ---- (ed.), ‘“Reintegrasi Ilmu-ilmu dalam Islam”’, in Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi, Bandung: Mizan, 2005. ---- (ed.), ‘“Ilmu dan Agama dalam Kurikulum Perguruan Tinggi”’, in Integrasi Ilmu Dan Agama: Interpretasi Dan Aks, Bandung: Mizan, 2005.

Judul: Perspektif Umat Islam Tentang Agama Dan Ilmu Pengetahuan: Dari Dikotomi Ke Integrasi

Oleh: Syamsul Kurniawan

Ikuti kami