Analisis Ekonomi Media Pt. Global Mediacom, Tbk

Oleh Berliyantin Puspaningrum

1,2 MB 36 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Analisis Ekonomi Media Pt. Global Mediacom, Tbk

1406 5420 22 ANALISIS EKONOMI MEDIA PT GLOBAL MEDIACOM, Tbk [Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document. Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document.] BERLIYANTIN PUSPANINGRUM UNIVESITAS INDONESIA 1406542022 PENDAHULUAN Perkembangan industri media di Indonesia diawali dengan lahirnya PP No. 5 tentang Radio Siaran Non-Pemerintah. Semenjak peraturan tersebut diterbitkan, jumlah radio swasta di Indonesia mengalami kenaikan yang pesat. Peralihan fungsi radio yang semula sebagai alat pemerintah kini menjadi salah satu media hiburan bagi masyarakat dengan sumber penghasilan dari iklan. Setelah tumbangnya era kepemimpinan Soeharto pada tahun 1998, perkembangan televisi di Indonesia turut mendapatkan angin segar, ditandai dengan perizinan siaran untuk 5 televisi swasta baru – yang pemilknya – bukan berasal dari kroni dekat Soeharto. Semenjak itu pertumbuhan industri media di Indonesia semakin menjamur dilihat dari munculnya perusahaan media. Beberapa di antaranya adalah Global Mediacom, EMTEK, CT Corp, VIVA, Kompas Gramedia. Dibarengi dengan era globalisasi yang didukung oleh kemajuan teknologi secara signifikan mengubah cara bermedia seseorang. Ekspansi melalui akuisisi dan integrasi baik secara horizontal maupun vertikal secara giat dilakukan oleh perusahaan media untuk meningkatkan pendapatan seiring memenuhi kebutuhan dan keinginan pembeli yang semakin beragam dan tersegmentasi. Praktik tersebut yang menjadikan terciptanya sebuah pasar dengan kompetisi sengit hanya bagi perusahaan dengan kapital tinggi. Meskipun pasar industri media terlihat memiliki banyak pemain namun pada kenyataannya hanya segelintir pemain saja yang mendominasi pasar. Hal ini dapat dilihat perolehan iklan televisi pada tahun 2015 yang hanya didominasi oleh tiga perusahaan media, di antaranya adalah MNC Group dengan perolehan sebesar Rp65,5 triliun atau sebesar 36%, disusul oleh SCM Group dengan 24 persen, dan Viva Group yang mencapai 17%. 1 Konsentrasi dan konglomerasi pasar industri media tidak hanya terjadi di televisi saja namun terjadi di hampir seluruh level platform media mulai dari bisnis surat kabar hingga tv berlangganan. PT Global Mediacom yang membawahi MNC Media Group merupakan salah satu raksasa besar yang sukses menjadikan MNC Group sebagai industri media terbesar di Asia Tenggara merupakan pemain terkuat dalam industri media Indonesia dengan dominansinya di berbagai platform media. Tulisan ini berusaha memberikan gambaran dan analisis mengenai posisi PT Global Mediacom sebagai salah satu pemain kuat dalam industri media di Indonesia dan perluasan usaha serta strategi bisnis yang dilakukan melalui perspektif analisis ekonomi media. Analisis didasarkan pada data Annual Report Global Mediacom tahun 2012 hingga 2014. 1 http://bisnis.liputan6.com/read/2386786/ini-tiga-grup-media-yang-terima-iklan-terbesar-di-tahun-ini diakses pada pukul 15:33 tanggal 1 Juni 2016 KERANGKA TEORITIS Albarran (1996:5) menjelaskan bahwa ekonomi media merupakan suatu kajian yang khusus melihat pada bagaimana industri media menggunakan sumber daya terbatas untuk menghasilkan content yang didistribusikan kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka yang beragam. Ekonomi media memiliki beberapa keunikan yang membedakannya dengan ranah ekonomi lainnya. Pertama adalah nature of product yang dihasilkan oleh industri media, Lavine dan Wackman (1988) mengatakan bahwa industri media harus menghasilkan produk baru di setiap siklus produksinya. Berbeda dengan industri nonmedia yang menghasilkan produk sama dalam jangka waktu lama. Meskipun produk yang dihasilkan berbeda di setiap siklus produksinya, namun produk – produk tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam kategori besar seperti kategori cetak, elektronik, dan fotografi (Albarran, 1996:4). Keunikan kedua adalah – berbeda dengan produk industri lain – produk industri media masih dapat dikonsumsi meski telah digunakan sebelumnya.Contohnya adalah surat kabar yang masih dapat dibaca meski sudah dibaca sebelumnya. Selain itu, nature of market yang dimiliki oleh industri media pun berbeda (Picard, 1989, dalam Albarran, 1996:27). Industri media memiliki dua pasar yakni pasar audiens dan pasar pengiklan. Sehingga dapat dikatakan bahwa praktik mengonsumsi media oleh konsumen secara langsung memengaruhi proses produksi Media dan kebijakan ekonomi yang diambil oleh Products sebuah perusahaan (1996:5). Dalam melihat dan menganalisis sistem ekonomi industri media terdapat tiga Access to audience kerangka analisis resiprokal yang dapat digunakan yaitu market structure, market performance, dan market conduct. Bagan 1 Meskipun setiap kerangka analisis memiliki Audience Advertiser fokus yang berbeda namun pada Market Market penerapannya saling memengaruhi satu Bagan 2 sama lain. Secara singkat ketiga kerangka analisis ini bertujuan untuk melihat dan membaca bagaimana struktur suatu pasar yang meliputi konsentrasi dan persaingan antar pelaku di dalamnya mampu memengaruhi kinerja finansial satuan perusahan industri tertentu dan bagaimana satuan persuahaan tersebut memberikan respon berupa strategi – strategi untuk meningkatkan kinerja finansial dari perusahaan – yang pada akhirnya – akan memengaruhi kembali struktur dan Market persaingan di dalam pasar. Structure Information and entertainment a. Market Structure Menurut Albarran (1996:29) struktur pasar dipengaruhi oleh berbagai macam faktor namun terdapat beberapa faktor utama yang mampu mengategorikan struktur pasar ke dalam tipe – tipe tertentu, yaitu 1. Konsentrasi pasar Market Conduct Market Performance Concentrations Concentrations of Market Share Concentrations of Ownership Vertical Integration Audience market concentration Advertisers market concentrations Horizontal Integration Cross-media Integration Bagan 3 Berdasarkan bagan di atas, konsentrasi pasar di industri media dibagi menjadi dua yaitu konsentrasi terhadap kepemilikan dan konsentrasi terhadap pangsa pasar itu sendiri. Terdapat tiga jenis konsentrasi kepemilikan yang dapat terjadi, yang pertama adalah horizontal integration – merupakan konsentrasi kepemilikan pada satu jenis usaha yang sama. Kedua adalah vertical integration – merupakan konsentrasi kepemilikan pada jenis usaha yang berbeda, biasanya bersifat dari hulu ke hilir. Sedangkan cross-media integration merupakan konsentrasi yang terjadi jika satu satuan bisnis media memiliki usaha dengan jenis yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Di sisi lain, konsentrasi terhadap pangsa pasar melihat bagaimana posisi pelaku industri media dalam memerebutkan konsentrasi pangsa audiens dan pangsa pengiklan. Setidaknya terdapat dua metode untuk mengukur konsentrasi terhadap pangsa pasar yakni concentration ratio dan herfindahl index. Pengukuran concentration ratio melihat dan membandingkan rasio keseluruhan pendapatan dari pemain utama pasar dengan seluruh pendapatan pasar dengan menggunakan empat perusahaan berpendapatan tertinggi (CR4), atau dengan menggunakan delapan perusahaan berpendapatan tertinggi (1996:47). Jika rasio empat perusahaan sama dengan atau lebih dari 50% atau jika rasio delapan perusahaan sama dengan atau lebih dari 75% maka dapat dikatakan bahwa pasar tersebut berkonsentrasi tinggi, (lihat tabel 1). Konsentrasi pasar memiliki implikasi terhadap jenis pasar; jika concentration ratio suatu pasar semakin tinggi maka dapat dikatakan bahwa pasar tersebut cenderung menjadi pasar oligopoli bahkan pasar monopoli. Tabel 1 (Sumber: Albarran, 1996:48) High Concentrations Moderate Concentrations CR4 CR8 ≥ 50% ≥ 75% 33% ≤ to < 50% 50% ≤ to < 75% ≤ 33% Low Concentrations ≤ 50% Selain concentration ratio, terdapat metode pengukuran lain yakni Herfindahl Index (HI) yang berfungsi untuk mengukur tingkat competitiveness suatu pasar dengan menjumlahkan hasil pangkat dua dari market share setiap perusahaan yang ada di pasar. Herfindahl Index dapat dirumuskan sebagai berikut n si = the size of any firm in the market S = the size of the market n = the numbers of firms in the market H   ( si / S )^ 2 i 1 Apabila HI semakin mendekati nol, hal tersebut menunjukkan bahwa persaingan semakin ketat, sebaliknya, apabila HI semakin mendekati nilai nol, maka persaingan yang terjadi dalam pasar semakin longgar sehingga dapat dikatakan bahwa pasar cenderung memiliki tipe pasar oligopoli bahkan monopoli (lihat tabel 2). Tabel 2 (Sumber: (Sumber: Presentasi Mata Kuliah Ekonomi Media Pertemuan 3) Nature of Market Structure Range of HI Intensity of Competition  Close to Perfect competition  Below 0.2  Fierce, depending on product differentiation  Oligopoly  0.2 to 0.7  Fierce or light, depending on the degree of collusion  Close to Oligopoly  Above 0.7  Usually light, unless threatened by entry Tipe struktur pasar sendiri menurut Albarran dibedakan menjadi empat seperti yang dapat dilihat di Tabel 3 berikut Tabel 3 (Albarran 1996) Players Products Large buyers and Homogeneous sellers and undifferentiated Monopoly competition Large buyers and Heterogeneous sellers but highly substitutable products Oligopoly A few major Homogeneous or - Noncullusive sellers differentiated - Collusive products Monopoly A single seller Single product, or homogeneous products Perfect competition Barriers to entry Absence of (artificial) serious barriers Absence of (artificial) serious barriers Some (artificial) serious barriers to entry Serious barriers to entry 2. Diferensiasi Produk Diferensiasi produk merupakan perbedaan baik yang terlihat maupun tidak yang dirasakan pembeli dibandingkan dengan produk lainnya, (1996:30). Perbedaan ini dapat dilihat mulai dari konten produk itu sendiri, cara pengemasan produk, hingga proses pemasaran yang memperlihatkan perbedaan satu produk dengan produk lainnya. Bagan 4 Barriers to Entry Natural Financial Artificial Structural Legal Political 3. Barriers to Entry Barriers to entry dapat diartikan sebagai hambatan atau halangan yang perusahaan baru harus lalui untuk memasuki sebuah pasar tertentu (1996:31). Secara singkat jenis – jenis barriers to entry dapat dilihat melalui bagan 5. Dapat dilihat dari bagan bahwa pada dasarnya barriers to entry digolongkan menjadi dua, yaitu yang berjenis natural dan artificial. Pada barriers to entry jenis natural, hambatan dari segi keuangan yang harus dilewati oleh suatu perusahaan baru meliputi biaya – biaya yang harus dilakukan untuk melakukan pemasaran, biaya untuk melakukan promosi, dan pengurangan harga per satuan produk agar dapat bersaing dengan perusahaan yang sudah berdiri sebelumnya. Sedangkan dari segi struktural, hambatan yang harus dihadapi adalah dampak dari integrasi vertikal perusahaan – perusahaan yang sudah mapan sebelumnya. Pada jenis artificial, hambatan dapat berupa kebijakan – kebijakan politik ataupun kebijakan – kebijakan hukum. 4. Cost Structure Merupakan biaya yang harus dikeluarkan suatu perusahaan untuk melakukan produksi (1996:31). Biaya ini terdiri dari fixed cost dan variable cost, yaitu biaya yang dibutuhkan untuk melakukan suatu produksi unit tertentu, sedangkan variable cost merupakan biaya yang beragam bergantung pada kondisi suatu pasar. 5. Vertical Integration Vertical Integration merupakan suatu kondisi di mana suatu perusahaan mengontrol berbagai macam aspek usaha media mulai dari produksi, distribusi, hingga ekshibisi dari sebuah produk (1996:31). Kerangka market structure dalam tulisan ini digunakan untuk menganalisis bagaimana struktur pasar suatu platform media tertentu dan bagaimana posisi unit usaha yang dimiliki oleh PT Global Mediacom dengan platform sama di dalam pasar tersebut. b. Market Performance Kerangka market performance merupakan kerangka yang berfungsi untuk melihat kemampuan suatu bisnis industri dalam mencapai tujuan sesuai dengan target dan kriteria yang ingin dicapai (1996:39). Terdapat beberapa variabel yang digunakan untuk mengevaluasi suatu market performance dari perusahaan tertentu menurut Albarran (1996) yaitu efficiency yang merujuk pada kemampuan sebuah perusahaan dalam memaksimalkan kekayaannya. Kemudian equity yang fokus pada bagaimana kekayaan suatu badan usaha didistribusikan kepada produsen dan konsumen. Serta progress, yang merujuk pada kemampuan sebuah perusahaan di dalam sebuah pasar untuk meningkatkan output dalam suatu waktu. Selain itu, market performance mencoba menganalisa kinerja suatu perusahaan yang biasanya dilihat melalui financial performance perusahaan tersebut. Terdapat setidaknya tiga tipe pengukuran yang masing – masing memiliki indikator yang berbeda. Pertama adalah pengukuruan pertumbuhan yang memiliki dua indikator yakni growth of assets dan growth revenue. Pengukuran ini berfungsi untuk mengetahui seberapa besar peningkatan pertumbuhan yang terjadi pada perusahaan. Kedua adalah profitability ratio yang memiliki empat indikator, di antaranya adalah return on sales, return on assets, return on equity, dan price earning ratio. Keempat indikator tersebut berfungsi menunjukan rasio keuntungan dari perusahaan. Ketiga adalah liquidity ratio yang memiliki dua indikator pengukuran, yaitu current ratio dan acid test ratio. Pengukuran ini berfungsi untuk melihat perbandingan antara kelancaran aset dan kewajiban langsung yang dimiliki oleh perusahaan. Terakhir adalah debt ratio, yang memiliki dua pengukuran yaitu leverage ratio dan debt to equity ratio. Pengukuran ini mencoba melihat bagaimana perbandingan antara kewajiban dengan aset dan modal yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam tulisan ini, kerangka market performance digunakan untuk melihat bagaimana kinerja finansial dari perusahaan PT Global Mediacom secara keseluruhan. c. Market Conduct Menurut Albarran (1996:37) market conduct merujuk pada kebijakan dan perilaku yang dilakukan baik oleh penjual dan pembeli di dalam sebuah pasar. Market conduct setidaknya meliputi lima aspek, yaitu pertama adalah kebijakan dalam menentukan harga, strategi produk, penelitian dan inovasi, rencana investasi, dan legal tactics. Dalam tulisan ini, kerangka market conduct digunakan untuk melihat strategi – strategi yang dilakukan oleh PT Global Mediacom beserta entitas anaknya dalam merespon struktur pasar dan untuk meningkatkan market performance mereka. PROFIL PT GLOBAL MEDIACOM TBK PT Global Mediacom Tbk (MCOM) merupakan perusahaan media terintegrasi di Indonesia yang menawarkan serentetan produk media mulai dari televisi FTA, TVberlangganan dan konten multimedia, portal berita online, surat kabar, majalah, radio, layanan internet, talent management, hingga agensi iklan. Didirikan pada 30 Juni 1981 pada mulanya berfokus pada sektor perdagangan sebelum akhirnya beralih fokus ke bidang media setelah melakukan beberapa akuisisi dan investasi. Pada tahun 1995, perseroan mendaftarkan sahamnya dengan kode BMTR di Bursa Efek Indonesia (BFI). Pada penewaran umum perdananya, perseroan menawarkan 200 juta saham dengan harga penawaran sebesar Rp1250 per saham. Tahun 2001 hingga 2004, persereoan melakukan akuisisi terhadap RCTI dan Global TV. Pada tahun tersebut perseroan mulai fokus membangun pustaka konten dengan cara memproduksi dan melakukan segmentasi penonton. Hal ini dapat dilihat pada tahun 2005 ketika Global TV mulai memfokuskan cakupannya pada segmen anak muda dan keluarga. Pada tahun yang sama, perseroan mengakuisisi PT Media Nusantara Indonesia dan meluncurkan harian Seputar Indonesia. Disusul dengan pendirian PT MNC Networks yang membawahi empat stasiun radio yakni Trijaya FM, Radio Dangdut Indonesia, V radio, dan Global Radio. Setelah melakukan beberapa akuisisi dan investasi, perseroan mempertgas fokus usahanya ke dalam ranah media dengan mengganti nama perseroan menjadi PT Global Mediacom Tbk pada tahun 2007. Perseroan mulai melebarkan pasarnya dengan meluncurkan media online okezone.com yang berfokus pada berita dan hiburan. Satu tahun berikutnya perseroan mengakuisisi PT MNC Sky Visio. Pada tahun 2010 perseroan kembali memperluas bidang usahanya dengan mengakuisisi saham sebuah penyedia mobile games dan PC online games dari Republik Rakyat Cina yaitu Letang Game Ltd. Sumber pemasukan terbesar dari persereon didapatkan dari dua lini bisnis utama yaitu media berbasis konten dan iklan yang dikelola oleh PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dan media berbasis pelanggan yang dikelola oleh PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY). Hal ini dapat dilihat dari tiga TV MNC yang memperoleh total rata – rata pangsa pemirsa sebesar 31.0 % sepanjang tahun 2014 dan pangsa pasar MSKY sebesar 74,6%. Selain itu, pendapatan PT Global Mediacom yang terus mengalami kenaikan secara stabil dalam kurun waktu empat tahun terakhir memantapkan posisinya sebagai perusahaan media berprospek baik di masa yang akan datang. Visi dari perseroan adalah menjadi grup persereoan media terintegrasi yang terkemuka melalui inovasi – inovasi strategis dengan menyajikan konten berkualitas terbaik dengan menggunakan platform – platform media yang paling tepat. Sesuai dengan visi tersebut kini PT Global Mediacom sudah melakukan ekspansi usaha yang dapat dikategorikan ke dalam beberapa bidang usaha utama yakni content and advertising based media, subscription based media, online media, dan media support and infrastructure. ANALISIS UMUM PT GLOBAL MEDIACOM TBK Bidang Usaha PT Global Mediacom Tbk Secara umum Struktur Perusahaan dari PT Global Mediacom Tbk dapat dipetakan sebagai berikut, COMPANY STRUCTURE Content & Advertising Baded Media Subscription-Based Media MNCN Content Business FTA Sindo Media MSKY MNC Print Media RCTI MNC Pictures Koran Sindo MNCTV MNC Animation Sindo Trijaya FM GlobalTV MNC Contents SINDOne ws MNC Channels Sindo Weekly Star Media Nusantara iNewsTV MNC Radio Networks Tabloid Mom & Kiddie Agency Global Radio Cross Media International MNI Global Radio Dangdut Indonesia Highend V-Radio Online Media Media Support & Infrastructure Okezone Infokom Elektrindo PT MNC Kabel Mediakom Indovision MNC Play Media MNC Shop TOP TV WeChat Okevision Joymeng Moviebay Highend Teen Bagan 5 (sumber www.mediacom.co.idMarket Performance PT Global Mediacom, Tbk Pengukuran Pertumbuhan (Growth) 30000000 25365211 25000000 19995526 21069471 20000000 15000000 10000000 15111603 14335319 6326514 7162935 8925419 10019977 10657152 5000000 0 2010 2011 Growth of Assets (dalam jutaan) 2012 2013 Growth of Revenues (dalam jutaan) Diagram 1 (Global Mediacom Annual Report 2012-2014) 2014 Pendapatan (Revenue) Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, MCOM berhasil menunjukkan peningkatan pendapatan yang cukup stabil. Peningkatan pendapatan ini disebabkan karena meningkatnya pendapatan iklan, konten dan online, serta subscription fee yang diperoleh oleh MCOM. Sebesar 65% pendapatan konsolidasian MCOM merupakan kontribusi dari iklan TV FTA, konten dan online – yang – meningkat sebesar 8% menjadi Rp6,97 trilun di tahun 2014 dari Rp6,48 triliun pada tahun 2013. Sedangkan MNC Sky dengan TV berlangganannya memberikan kontribusi pemasukan sebesar 31% dari pendapatan konsolidasian dan meningkat sebesar 9% menjadi Rp3,28 triliun dari Rp3,02 triliun pada tahun 2013. Dari sektor media berbasis online melalui anak perusahaan di Cina, memberikan kontribusi sebesar 6% dari total pendapatan konsolidasian di tahun 2014. Pendapatan yang diperoleh dari media online mengalami peningkatan signifikan, yaitu sebesar 115% menjadi Rp621 milyar setelah sebelumnya hanya mendapatkan pendapatan sebesar Rp288 milyar pada tahun 2013. Beberapa pencapaian tersebut sukses memberikan peningkatan pendapatan MCOM sebesar 6% menjadi Rp10,6 triliun. Aset (Assets) Sesuai dengan Global Mediacom Annual Report tahun 2014, jumlah asset per 31 Desember 2014 yang dimiliki MCOM tercatat sebesar Rp25,37 triliun, naik sebesar 20% dari Rp21,07 triliun pada tahun 2013. Kenaikan aset ini disebabkan karena pada tahun 2013 hingga tahun 2014, MCOM secara giat membangun unit usaha baru, diantaranya adalah PT MNC Lisensi Internasional, PT MNC Tencent, dan Koran Sindo. Di sisi lain, aset lancar mengalami pertumbuhan sebesar 10% menjadi Rp10,7 triliun dari Rp9,75 triliun pada tahun 2013. Sedangkan aset tidak lancar mengalami kenaikan sebesar 30% menjadi Rp14,67 triliun dari Rp11,32 triliun pada tahun 2013. Pengukuran Keuntungan return on sales 30% return on assets return on equity net profit margin 28.50% 25% 14.55% 9.09% 6.50% 2012 6.19% 4.65% 2.94% 2013 Diagram 2 (Profitability Ratio) 6.62% 4.44% 2.78% 2014 Profitability ratio mencoba melihat rasio keuntungan sebuah perusahaan melalui lima indikator, yakni return on sales, return on assets, return on equity, dan net profit margin. Seperti yang dapat dilihat di diagram 2, persentase return on sales, return on assets, return on equity, dan net profit margin dari tahun 2012 hingga tahun 2014 hampir seluruhnya mengalami penurunan jumlah persentase. Pada return on sales – yang membandingkan antara pendapatan operasional dan pendapatan total – disebabkan karena peningkatan pendapatan yang cukup baik tidak diimbangi dengan jumlah peningkatan laba usaha – yang bahkan – mengalami penurunan sebesar 6,3% pada tahun 2014. Return on assets – yang membandingkan pendapatan operasional dengan aset total – terus mengalami penurunan persentase dalam tiga tahun terakhir. Dapat terlihat bahwa pada tahun 2013 return on assets MCOM bahkan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sama halnya dengan return on sales, hal ini disbabkan karena pertumbuhan aset yang dimiliki oleh MCOM berkembang lebih cepat melebihi perkembangan laba usaha. Meskipun laba usaha terus mengalami kenaikan hingga tahun 2013 yaitu sebesar Rp2,85 triliun, sebelum mengalami penurunan pada tahun 2014 sebesar (persen) yaitu Rp2,67 triliun. Sejalan dengan return on assets, return on equity juga terus mengalami penurunan. Penurunan persentase secara drastis terjadi pada tahun 2013 yakni dari 9,09 turun menjadi 4,65%. Pemicu dari turunnya return on equity ini adalah peningkatan jumlah ekuitas yang sangat pesat dari tahun ke tahun. Meskipun sempat mengalami penurunan persentase yang cukup drastis pada tahun 2013, MCOM berhasil menaikkan net profit margin-nya pada tahun 2014 sebesar 6,62% dari 6,19% pada tahun 2013. Penurunan persentase pada tahun 2013 disebabkan karena anjloknya laba bersih yang didapatkan MCOM dari Rp1,3 triliun pada tahun 2012 menjadi setengahnya – R620 miliiar di tahun 2013. Secara keseluruhan, MCOM dapat dikatakan sebagai perusahaan yang memiliki financial performance menguntungkan dan memiliki prospek ke depan yang bagus, terlihat dari jumlah pendapatan serta aset yang terus meningkat setiap tahun. Namun perbedaan ritme pertumbuhan pada pendapatan dan aset – dimana aset lebih cepat – menyebabkan terjadinya penurunan pada hampir seluruh indikator profitability ratio. Kurangnya peningkatan pertumbuhan pendapatan dibandingkan dengan pertumbuhan aset bisa disebabkan karena aset yang dimiliki oleh MCOM tidak dikelola secara optimal. Meskipun MCOM masih dapat dikatakan sebagai perusahaan yang menguntungkan namun rasio keuntungan yang didapatkan oleh MCOM selama tiga tahun berturut – turut mengalami penurunan. Pengukuran Likuiditas current ratio acid test ratio 4.40% 2.40% 1.80% 4.34% 2012 4.65% 2013 Diagram 3 4.17% 2014 Dapat terlihat melalui grafik di samping bahwa baik current ratio maupun acid test ratio mengalami kenaikan yang cukup fluktuatif. Kenaikan hasil dari acid test ratio pada tahun 2013 disebabkan karena adanya peningkatan aset likuid yang cukup signifikan. Hasil dari acid test ratio ini mengalami penurunan pada tahun 2014 karena adanya peningkatan liabilitas sebesar 23% menjadi Rp9,49 triliun dari Rp7,72 triliun di tahun 2013. Sedangkan pada perhitungan current ratio, peningkatan persentase tidak terlalu menampakkan perubahan yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan persentase pertumbuhan antara aset saat ini dengan kewajiban saat ini tidak memiliki perbedaan yang cukup besar. Pengukuran Hutang Debt ratio mengukur kewajiban atau hutang terhadap modal dan aset yang dimiliki oleh perusahaan. Terdapat dua pengukuran dalam debt ratio, yang pertama adalah leverage ratio. Leverage ratio melihat perbandingan antara jumlah kewajiban dibandingkan dengan jumlah aset yang ada. Apabila hasil yang didapatkan dari leverage ratio semakin mendekati nol leverege ratio debt to equity ratio hal tersebut mendadakan bahwa jumlah kewajiban yang dimiliki oleh suatu perusahaan lebih sedikit dibandnigkan 59.78% dengan jumlah asetnya – kondisi 57.78% perusahaan yang baik – dan begitu sebaliknya. Berdasarkan diagram di 39.87% 37.40% 36.62% samping terlihat bahwa leverage ratio 28.50% Efficiency Equity 2012 2013 2014 yang dimiliki oleh MCOM mengalami kenaikan dari tahun 2012 hingga tahun 2014. Hal ini menujukkan bahwa peningkatan jumlah kewajiban yang Progress dimiliki lebih besar dibandingkan dengan peningkatan jumlah aset. Sejalan dengan leverage ratio, debt to equity ratio juga mengalami peningkatan semenjak tahun 2012 hingga tahun 2014. Hal ini menandakan bahwa selama kurun waktu tiga tahun terakhir, hutang yang dimiliki MCOM terus mengalami kenaikan dilihat dari total liabilitas pada tahun 2014 meningkat sebesar 23% menjadi Rp9,49 triliun dari Rp7,72 triliun di tahun 2013. Analisis terhadap Kriteria Market Performance Terdapat setidaknya tiga kriteria yang mengindikasikan baik tidaknya kinerja suatu perusahaan, yaitu efisiensi, pertumbuhan, dan ekuitas. Pertama adalah efisiensi yang terbagi menjadi dua yaitu efisiensi teknikal dan efisiensi alokatif. Efisiensi teknikal adalah penggunaan secara efektif seluruh sumber daya yang ada untuk memaksimalkan outputnya. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan akuisisi dan merger. Praktik ini telah lama MCOM lakukan, dilihat dari banyaknya perusahaan media yang sudah MCOM akuisisi mulai dari 2001 yaitu Global TV, kemudian RCTI pada tahun 2004, disusul dengan pengakuisisian PT MNC Sky Vision pada tahun 2008. Seiring dengan semakin meluasnya ekspansi MCOM melalui akuisis dan merger, pertumbuhan kapital dari waktu ke waktu yang didapatkan oleh MCOM ikut meningkat. Pada kriteria ekuitas – yang – merujuk pada pemusatan perhatian terhadap kekayaan yang didistribusikan di antara produsen dan konsumen (1996:40) dapat dilihat bahwa MCOM mendapatkan ekuitas yang lebih banyak dibandingkan dengan perusahaan media lainnya. Pertama dilihat dari pangsa iklan tertinggi yang didapatkan MCOM melalui industri televisi FTA dan TV berlangganan. Dengan ketiga tv FTA ditambah satu televisi jaringan, MCOM hampir menguasai baik pasar iklan maupun pemirsa. Selain itu produk tv berlangganan milik MNC Sky bahkan mendominasi pasar lebih dari 70%. Hal tersebut menjadi salah satu kunci pembawa sukses entitas anak perusahaan MCOM menjadi pemain – pemain dominan di industri media. Market Conduct PT Global Mediacom, Tbk Dalam merencanakan strategi pasar, MCOM membagi fokusnya menjadi tiga bidang utama, yaitu strategi media berbasis konten dan iklan, strategi media berbasis pelanggan, dan strategi media baru & new media. Strategi media berbasis konten dan iklan Kontributor pendapatan terbesar MCOM berasal dari usaha pertelevisian dengan empat stasiun yang bersiaran baik seara gratis (free to air) maupun melalui kanal televisi berlangganan – yaitu RCTI, MNC TV, Global Tv, dan SINDO TV (yang sekarang menjadi iNews TV). Mengingat akan hal tersebut, memastikan saluran free to air MNC tetap menduduki peringkat teratas merupakan salah satu tujuan dan strategi pasar yang diterapkan oleh MNC. Hal ini direalisasikan dengan penemuan kebutuhan dan keinginan pemirsa terhadap jenis tayangan yang disajikan. Contohnya adalah RCTI yang secara konsisten memberikan program drama serial – yang secara mengejutkan mampu menguasai rating dan pangsa iklan. Selain hal tersebut, perseroan baru saja mendirikan empat studio TV terpusat. Ini dilakukan untuk mengoptimalkan kinerja dan menciptakan sinergi penghematan antar perusahaan MNC. Strategi tersebut dibarengi dengan penambahan 15.000 jam program baru setiap tahunnya. Dari sisi produksi dan hak siar, perseroan berusaha menjaga kontrol sepenuhnya dalam program – program yang dimiliki. Contohnya melalui Star Media Nusantara (SMN), yang merupakan agensi talent milik MNC, dimana perseroan memberikan saran harga serta mengontrol pengeluaran dan permasukan para pemain. Selain itu, MNC juga memproduksi konten acara secara in-house, hal tersebut bertujuan untuk mengontrol dan menekan biaya produksi. Jika diamati, RCTI menayangkan sejumlah serial drama yang memiliki episode hingga beribu – ribu, contohnya Anak Jalanan dan Tukang Bubur Naik Haji. Hal tersebut merupakan salah satu strategi dari MNC – berupa penciptaan tv waralaba berjangka panjang dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. SINDO TV (sekarang menjadi iNews) yang merupakan tv jaringan turut menjadi salah satu strategi MCOM dalam memperluas pangsa pemirsanya. Strategi Media Berbasis Pelanggan Terdapat empat strategi bisnis yang dilakukan oleh MSKY untuk mempertahankan dominasinya di bisnis tv berlangganan, pertama adalah menciptakan perbedaan dan nilai lebih untuk membedakan produk dan layanan perseroan dari kompetitor lainnya. Terdapat tiga perbedaan besar yang MSKY pertahankan untuk membedakannya dengan kompetitior lainnya, yaitu penggunaan frekuensi S-Band, meningkatkan penjualan internal yang bertujuan evaluasi pelanggan baru dan mempertahankan churn rendah, serta persebaran 100 pusat penjualan di seluruh Indonesia. Kedua adalah mengusahakan untuk mengerti target market lebih baik terutama dalam kebutuhan dan keinginan pelanggan. Hal ini dapat dilihat dari Play Media – mislanya – yang memberikan beberapa fitur interaktif bagi pengguna di samping menawarkan kecepatan internet mulai dari 7Mbps hingga 200Mbps. Ketiga adalah menyediakan layanan after sales untuk menjaga market share pelanggan, serta memproduksi tenaga kerja yang mampu berkompetisi dengan tenaga kerja luar. Namun strategi utama penjualan yang utama adalah strategi bundling antara Play Media dengan planggan TV berbayar MSKY yang nanti akan penulis paparkan lebih jauh di market conduct unit usaha PT Global Mediacom. Strategi Media Berbasis Online dan New Media Pada tahun 2015, kerja sama dengan Tencent menjadi fokus utama perseroan, hal ini dilatarbelakangi kesuksesan WeChat yang menjadi salah satu platform sosial media terbesar di Indonesia dengan unduhan lebih dari 100 juta. Monetisasi dilakukan melalui games dan stiker. Selai itu, melalui MNC Media Investment Ltd, perseroan mulai terfokus dalam pengembangan online game – yang berkontribusi sebesar 68% dari total pendapatan MNC Media Investment pada tahun 2014. Di sisi lain MNC Media Investment terus mengoptimalkan kinerja portal berita okezone di tahun 2015. ANALISIS ANAK PERSEROAN PT GLOBAL MEDIACOM TBK PERIKLANAN DAN MEDIA BERBASIS KONTEN Periklanan dan media berbasis konten merupakan bidang usaha yang paling banyak mengontribusikan keuntungan bagi perseroan. Didukung dengan jumlah penduduk usia muda di Indonesia yang memicu peningkatan terhadap belanja iklan bagi semua media. Hingga kini televisi masih menjadi media mainstream yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai sarana hiburan dan dirasa masih menjadi medium terbaik untuk memasang iklan. Hal ini dapat dilhat Advertising Expenditure by Type of Media 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 2009 2010 2011 2012 2013 2014 TELEVISION 58.50% 60.10% 61.70% 62.80% 65.80% 67.70% NEWSPAPER 34.70% 34% 32.70% 32.20% 29.90% 28.30% MAGAZINE 2.50% 2.20% 2.10% 1.80% 1.50% 1.40% TABLOID 1.20% 1.10% 1.00% 0.90% 0.70% 0.60% RADIO 1.20% 1.00% 0.90% 0.80% 0.70% 0.70% OUTDOOR 1.90% 1.70% 1.60% 1.40% 1.40% 1.30% Diagram 4 (Sumber : Media Scene 2013-2014) melalui diagram tersebut dapat dilihat bahwa televisi merupakan satu – satunya platform yang mengalami kenaikan pangsa pasar dibandingkan dengan platform lainnya. Pertumbuhan pangsa iklan di televisi dipicu karena televisi masih dirasa sebagai platform yang mampu menjangkau pemirsa dalam cakupan paling luas dibandingkan dengan platform lain. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC) PT Media Nusantara Citra Tbk merupakan perusahaan media yang didirikan pada 17 Juni 1997 dan memiliki fokus unit usaha berbasis periklanan dan konten. Hingga kini MNC memiliki berbagai unit usaha media yang dapat dipetakan melalui tabel di bawah Bisnis Usaha Unit Usaha FTA RCTI, MNC TV, Global TV, iNews TV Content Business MNC Pictures, MNC Animation, MNC Contents, MNC Channels, Star Media Nusantara Koran Sindo, Sindo Trijaya FM, SINDONews, Sindo Weekly Tabloid Mom & Kiddie, MNI Global, Highend, Highend Teen Global Radio, Radio Dangdut Indonesia, V-Radio Cross Media International Sindo Media MNC Print Media MNC Radio Networks Agency Tabel 4 Market Structure dan Market Conduct Satuan Unit Usaha PT Media Nusantara Citra Tbk Televisi Seperti yang terlihat dari diagram 4 pada tahun 2014 televisi mendapatkan pangsa iklan terbesar yakni 67,7% dibandingkan dengan industri media lainnya yang justru cenderung mengalami penurunan. Ketika media tradisional mulai ditinggalkan oleh pengiklan, televisi masih tetap menjadi medium favorit bagi pengiklan dengan grafik pengguna yang semakin meningkat. Pemasangan iklan di televisi dirasa efektif karena televisi merupakan medium satu – satunya yang memiliki pengukuran menit per menit melalui data people meter (Media Scene Volume 25, 34). Saat ini terdapat 10 TV swasta yang melakukan siaran secara nasional, yakni RCTI, Global TV, MNC TV, SCTV, Indosiar, TVOne, Antv, Metro TV, Trans TV, Trans 7 dan satu televisi publik – TVRI, (Merlyna Lim, 2012). Meskipun demikian, pada kenyataannya hanya lima perusahaan media besar saja yang menjadi pemilik dari sepuluh stasiun tersebut. Akuisisi dan merger stasiun televisi besar terhadap stasiun televisi kecil pun tidak dapat terbendung. Sehingga dapat terlihat bahwa pasar industri televisi dalam level nasional hanya didonimasi oleh industri media raksasa – MNC dengan RCTI, Global TV, dan MNC TV, Grup EMTEK dengan SCTV dan Indosiar, Trans TV dan Trans 7 yang berada di bawah Trans Corpora Group, Visi Media Asias yang membawahi TVOne dan Antv, serta Media Group dengan Metro TV. Terbatasnya ketersediaan jumlah saluran televisi di Indonesia menyebabkan beberapa perusahaan bisnis media beralih ke ranah tv jaringan untuk mengekspansi wilayahnya – seperti yang dilakukan oleh Grup Jawa Post, Grup Bali Post, dan MNC dengan iNews yang bersiaran baik secara nasional maupun jaringan (Merlyna Liem, 2012). Hal ini berdampak pada timbulnya konsentrasi pada level tv jaringan, serupa dengan apa yang terjadi dalam level industri televisi nasional. Konsentrasi tidak hanya terjadi pada level kepemilikan namun juga dalam persaingan mendapatkan kue iklan. Berikut merupakan data jumlah pangsa iklan yang didapatkan oleh stasiun televisi nasional tahun 2013 Stasiun Televisi Pangsa Iklan (dalam persen) RCTI 14,8 MNC TV 13,9 SCTV 13,2 TRANS 7 9,1 INDOSIAR 9 TRANS TV 8,1 ANTV 7,9 TVONE 6,8 GLOBAL TV 6,5 METRO TV 3,2 TVRI 0,2 LAINNYA 7,3 Tabel 5 (Sumber: Media Scene 2013-2014) Berdasarkan data di atas, kita dapat melihat konsentrasi pasar dan tingkat daya saing (competitiveness) pasar dengan menggunakan metode concentration ratio dan herfindahl index (HI). Concentration Ratio Advertising Market Concentration Stasiun Televisi Pangsa Iklan Individual HI RCTI 14,8 0,021904 MNC TV 13,9 0,019321 SCTV 13,2 0,017424 TRANS 7 9,1 0,008281 INDOSIAR 9 0,0081 TRANS TV 8,1 0,006561 ANTV 7,9 0,006241 TVONE 6,8 0,004624 GLOBAL TV 6,5 0,004225 METRO TV 3,2 0,001024 TVRI 0,2 0,000004 LAINNYA 7,3 0,005329 CR 4 = 51% Total 0,103038 CR 8 = 82,8% Dengan melihat tabel di atas maka dapat dikatakan bahwa RCTI, MNCTV, SCTV, dan Trans 7 menempati posisi empat teratas. Sehingga dengan menjumlahkan pangsa iklan keempat stasiun televisi tersebut, CR4 yang diperoleh sebesar 51%. Dengan menambahkan empat stasiun dengan perolehan pangsa iklan terbesar berikutnya yakni Indosiar, Trans TV, Antv, dan TVOne, maka CR8 yang diperoleh sebesar 82.8%. Dari hasil CR4 dan CR8 menunjukkan bahwa dalam konsentrasi pangsa iklan televisi memiliki konsentrasi yang tinggi (high concentration). Dari data sebelumnya, terlihat bahwa pangsa pasar iklan cenderung dikuasai oleh MNC Group yang – dengan sukses – mendapatkan dua posisi teratas untuk pangsa iklan melalui RCTI dan MNC TV. Tidak hanya itu, RCTI, Global TV, dan MNC TV sukses membawa Grup MNC sebagai pemain kuat dalam pasar iklan dengan memperoleh pangsa total tertinggi pada tahun 2013 sebesar 35,2%, diikuti oleh Grup EMTEK dengan share sebesar 22,2%, menyusul berikutnya Trans Corpora dengan share sebesar 17,2%, Visi Media Asia mendapat share sebesar 14,7%, dan diikuti oleh Metro TV dengan share sebesar 3,2%. Apabila pangsa iklan stasiun televisi dikelompokkan dan dijumlahkan sesuai dengan kepemilikannya maka akan menimbulkan pasar yang lebih terkonsentrasi yaitu dengan CR4 mencapai 88,9%. Stasiun Televisi Pangsa Iklan Individual HI MNC Group (RCTI, MNC TV, Global TV) 35,2 0,123904 EMTEK Group (SCTV & Indosiar) 22,2 0,049284 Trans Corpora (Trans TV & Trans 7) 17,2 0,029584 Visi Media Asia (Antv & TVOne 14,3 0,020449 Media Group (Metro TV 3,2 0,001024 TVRI 0,2 0,000004 Lainnya 7,3 0,005329 Total CR4 = 88.9 0,229578 Tabel 6 Pendapatan iklan yang tidak merata menjadi sebuah barriers to entry tersendiri bagi industri televisi kecil untuk tetap bertahan dalam pasar mengingat bahwa iklan merupakan salah satu sumber dana utama dan terbesar dari televisi. Semakin berkurangnya pendapat karena porsi kue iklan yang kecil – pada akhirnya – menyebabkan industri televisi kecil diakuisisi oleh industri televisi yang jauh lebih besar. Herfindahl Index Dengan herfindahl index (HI) sebesar 0,103038 (lihat tabel 6), dapat dikatakan bahwa pasar pangsa iklan televisi memiliki persaingan pasar jenis close to perfect competition. Namun jika stasiun televisi dikelompokkan berdasarkan kepemilikan maka herfindahl index yang diperoleh meningkat menjadi 0,229578. Hal ini menandakan bahwa struktur pasar close to perfect competition merupakan struktur pasar semu, diindikasikan dengan herfindahl index yang meningkat setelah adanya pengelompokan stasiun televisi berdasarkan kepemilikan – yang – mengartikan bahwa struktur pasar industri televisi yang sebenarnya bestruktur oligopli. Sesuai dengan apa yang dikatakan Albarran (1996:81) bahwa industri televisi menggambarkan dan cenderung memiliki tipe pasar oligopoli baik pada level nasional maupun jaringan. Salah satu ciri dari pasa oligopoli adalah pasar terdiri dari beberapa penjual dengan produk yang ditawarkan bersifat homogen (1996:81). Produk homogen dapat dilihat dari lima tayangan stasiun televisi swasta yang memperoleh rating tertinggi adalah tayangan yang memiliki genre sama yakni drama. Hampir setiap stasiun televisi memiliki tayangan unggulan yang – kebanyakan – berupa drama serial. Misalnya RCTI dengan “Anak Jalanan” dan ANTV dengan “Uttaran” Pasar oligopoli yang berakibat pada penawaran produk homogen menyebabkan turunnya keberagaman konten acara di televisi nasional. Tidak hanya pasar yang terkonsentrasi, sejumlah pemilik televisi yang – juga – partisipan partai politik secara tidak langsung menjadikan kanal televisi mereka sebagai medium untuk melakukan kampanye baik untuk eksistensi mereka atau partai yang mereka ikuti. Hal ini merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan frekuensi yang seharusnya digunakan untuk kepentingan publik. Analisis Konsentrasi TV Free-to-Air MNC terhadap Pasar Sejalan dengan pendapatan pangsa iklan yang memeproleh jumlah tertinggi, pangsa pemirsa yang diperoleh MNC melalui tiga stasiun FTA – RCTI, MNC TV, dan Global TV – juga menduduki posisi kuat. Pada tahun 2013 tiga televisi FTA milik MNC memeroleh pangsa pemirsa sebesar 40,1%. Pada tahun 2014, pangsa pemirsa yang diperoleh turun sebesar 9,1% menjadi 31%. Meskipun mengalami penurunan, dengan pangsa pemirsa sebesar 31% masih menempatkan ketiga stasiun milik MNC sebagai pemain kuat di dalam pasar, hal ini ditambah dengan dinobatkannya RCTI sebagai stasiun televisi terpopuler pada bulan Januari tahun 2014. Berikut merupakan perbandingan pangsa pemirsa televisi milik MNC terhadap pangsa keseluruhan pada tahun 2013 dan 2014. Audience Share 2013 ) Audience Share 2014 RCTI (21,5%) RCTI (15,1%) MNC TV (13,2%) MNC TV (9,6%) Global TV (6,4%) Global TV (6,3%) Terlihat bahwa dalam dua kurun waktu terakhir televisi FTA milik MNC mampu menguasai pasar pemirsa setidaknya satu per tiga dari total keseluruhan pasar. Posisi tersebut diperkuat dengan praktik vertical integration yang dilakukan oleh MNC. Melalui bisnis kontennya – MNC Pictures dan MNC Animation – berfungsi pada tahap produksi untuk program acara RCTI, MNC TV, dan Global TV, ditunjang dengan MNC Content yang mengontribusikan konten untuk ketiga stasiun televisi tersebut. MNC tidak hanya memproduksi konten acara namun sekaligus iklan melalui agensi iklannya, Cross Media International. Pada tahap ekshibisi, MNC memiliki MNC Channels yang sudah tersegmentasi berdasarkan kategori konten acara. Praktik integrasi vertikal ini semakin memantapkan posisi MNC sebagai raksasa di dalam pasar industri televisi. UU Penyiaran No. 32 Tahun 2008 yang mengatur izin penggunaan frekeunsi dan kewajiban untuk menggunakan pola penyiaran jaringan yang adil dan terpadu menjadi hambatan lagi bagi satuan bisnis industri televisi baru. Dengan peraturan ini, MNC melalui iNews mengembangkan stasiun televisi jaringannya dan sampai sekarang telah memiliki 42 stasiun jaringan tersebar di seluruh Indonesia. Mengingat perbedaan kekuatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis televisi serta konsentrasi yang tidak merata pada pasar menjadikan UU Penyiaran No. 32 Tahun 2008 sebagai celah konglomerasi tv berjaringan. Market Conduct Industri Televisi TFA PT Media Nusantara Citra, Tbk Meskipun memiliki berbagai macam unit usaha namun konten yang disajikan memiliki segmentasi berbeda – beda, terlebih lagi pada unit usaha MNC Channels. Berikut merupakan pemetaan konten acara yang dimiliki oleh perseroan melalui MNC Contents dan MNC Channels Unit Usaha Segmentasi MNC Content Drama, Series, dan Animation MNC Channels MNC News, MNC Business, MNC Infotainment, MNC Muslim, MNC Entertainment, MNC International, MNC Music, MNC Movie, MNC Drama, MNC Comedy, MNC Lifestyle, MNC Fashion, MNC Home & living, MNC Health Beauty, MNC Food and Travel, MNC Kids, MNC Sports, dan Golf channel. Konten tersegmentasi yang dihasilkan oleh MNC Channels dan MNC memudahkan para pengiklan dalam melakukan penempatan iklan. Melalui unit usaha ini, persereoan mendapatkan keuntungan besar dengan laba pustaka konten yang mencapai jumlah 20.000 jam program tayangan. MNC juga memiliki MNC Pictures yang berperan sebagai production house. Dibentuk pada tahun 2005, MNC Pictures telah memproduksi program dengan berbagai genre baik drama, nondrama, covering movies, FTV, drama serial, variety show, reality show, acara musik, dokumentari untuk stasiun TV FTA yang dimiliki oleh MNC. Di samping itu, MNC memiliki Star Media Nusantara yang bergerak pada usaha agensi artis. Kepemilikan MNC Pictures dan Star Media Nusantara merupakan strategi MNC dalam mengoptimalkan dan menghemat pengeluaran biaya produksi RCTI (Rajawali Citra Televisi) Didirikan pada tanggal 24 Agustus 1989, kini RCTI menjadi TV FTA dengan jumlah penonton terbanyak se-Indonesia. Dengan pangsa iklan maupun pemirsa yang besar membuat barriers to entry tipe natural – berupa – finansial dan structural tidak menjadi masalah bagi RCTI. Meskipun begitu terdapat beberapa market conduct berupa strategi scheduling program stasiun tv. Strategi scheduling yang digunakan berupa a. Blocking Senin (30 Mei 2016) Acara 16.30 – 17.30 Kabayan Sekolah Lagi 17.30 – 18.30 Tukang Ojek Pengkolan 18.30 – 21.00 Anak Jalanan Strategi blocking merupakan strategi penempatan program dengan jenis target pemirsa yang sama secara berurutan; bertujuan untuk mengikat pemirsa agar tidak berpindah channel tv. Pada hari Senin tanggal 30 Mei 2016 dari pukul 16.30 hingga 21.00, RCTI menempatkan tayangan jenis sama yaitu drama serial dengan target audiens yang sama pula yakni remaja dan ibu rumah tangga. b. Head to Head Senin (30/05/2016) RCTI SCTV ANTV 18.30 – 21.00 Anak Jalanan Candra Kirana Uttaran Strategi head to head merupan strategi penempatan tayangan dengan jenis acara sama pada waktu yang bersamaan di antara stasiun televisi. Dari tabel bisa dilihat bahwa baik RCTI, SCTV, maupun ANTV, menempatkan tayangan berjenis drama serial yang memiliki target pemirsa sama di jam yang sama. c. Stripping Terdapat beberapa tayangan RCTI khususnya untuk tayangan kategori drama serial yang menempatkan tayangannya pada jam yang sama setiap harinya dan dengan target pemirsa sama seperti Anak Jalanan, Tukang Bubur Naik Haji (The Series), dan Catatan Hati Seorang Istri 2. Apabila tayangan tersebut mendapatkan rating yang bagus, maka selain memerolah pendapatan stabil dari iklan dalam jangka waktu yang lama, RCTI mampu mendapatkan kesetiaan dari pemirsanya. MNC TV MNC didirikan pada tahun 1991 dan memiliki tujuan untuk mengakomodasi seluruh segmen demografis. Saat ini menduduki peringkat kedua baik pada pangsa pemirsa maupun iklan, MNC memfokuskan program tayangannya ke dalam kategori hiburan, program olahraga, dan variety shows. Strategi ini dapat dilihat melalui kategori program MNC TV yang hampir seluruhnya merupakan kategori hiburan – yakni – drama, animasi, music & variety show, sinema FTV, dan Bollywood. Keberhasilan strategi tersebut dapat dilihat dari lima tayangan anaknya pada Top Ten Program Animasi All Stations – Upin & Ipin Ultraman Ribut, Puteri, Boboi Boy, Grap&Play Wonder Ball’s, dan The Worl. Dengan pendapaian tersebut MNC mampu meningkatkan pendapatan iklannya pada tahun 2014. Selain itu, MNC TV memiliki situs mnctvmobile yang menjadi perangkat pendamping MNC TV untuk berinteraksi dengan pemirsa lainnya. Global TV Setelah diakuisisi oleh MNC Media pada tahun 2004, Global TV masih giat menyajikan tayangan dengan target anak – anak dan remaja. Hal ini bisa dilihat sebagai startegi Global TV dalam memertahankan kesetiaan penontonnya. Sebagai saluran dengan target anak – anak dan remaja dapat dilihat dari porsi tayangan dengan program kategori anak – anak lebih besar daripada porsi tayangan dengan kategori nonanak. Beberapa tayangan anak Global TV adalah Blaze and the Monster, Ninjago, My Little Pony, Machine, Dunia Hand Made, Kate dan Mim Mim, Super Wings, Kungfu Panda, Ultimate Spiderman, Paw Patroli, Superhero Squad, Thomas and Friends, Spongebob Squarepants, Rabbits Invasion, dan Aksi Bocah Cilik. Tidak hanya menyasar kalangan anak – anak, Global TV memiliki segmen BIG Movies – yang – menayangkan film – film luar negeri untuk target penonton seluruh anggota keluarga. Berdasarkan Global Mediacom, film – film yang tayang pada big movies ini menjadi kontributor beban pengeluaran perseroan. iNews TV Pada awalnya iNewsTV – pertama kali – diluncurkan dengan nama SUN TV pada tahun 2008 lalu berganti nama menjadi SINDOTV pada tahun 2011. Pada tahun 2014 secara resmi mendapat izin stasiun jaringan dari Menteri Komunikasi dan Informatika RI. Kemudian pada tahun 2015 SINDOTV berubah menjadi iNews TV. Meskipun iNews TV tidak berada dalam posisi bagus di persaingan pasar iklan dan pemirsa antar tv nasional – berbeda dengan RCTI, Global TV, dan MNC TV – namun iNews TV merupakan tv nasional yang memiliki jaringan lokal televisi terbanyak dengan jumlah 42 stasiun tersebar dari Aceh hingga Papua. iNews TV Gambar 1 (Contoh Pemberitaan Perindo di iNews TV) juga mempersempit segmen konten acaranya dengan lebih mengunggulkan program berita. Hal ini didukung dengan dimilikinya news centre dan news gathing terbesar di Indonesia. Pendirian iNews TV sebagai tv berjaringan menarik untuk dianalisis lebih jauh mengingat bahwa pendirian tersebut berbarengan dengan majunya Hary Tanoesoedibjo ke ranah politik dengan Perindo. iNews TV tidak luput dijadikan salah satu media yang berfungsi untuk menyokong eksistensinya di ranah politik. Hal ini dilakukan dengan cara pemberitaan yang bersifat positif terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Hary Tanoesoedibjo bersama artainya. Cetak Sejauh ini terdapat dua pemain besar dalam industri surat kabar. Pertama adalah Kompas Gramedia Group yang memproduksi 600,000 ribu eksemplar koran setiap hari, tidak hanya dengan Harian Kompas, Kompas Gramedia Group juga memiliki 11 koran lokal, 43 majalah dan tabloid, serta lima penerbit buku (Merlyna Liem, 2012). Hal tersebut yang membawa kompas menjadi pemain dengan dominasi terkuat dalam ranah industri cetak, disusul oleh Jawa Post dengan posisi kedua. Jawa Post memiliki konsentrasi yang cukup tinggi di level koran lokal dengan memiliki 151 koran lokal di lebih dari dua puluh provinsi, 11 tabloid, dan dua majalah (Merlyna Liem, 2012). Surat Kabar Beberapa tahun terakhir, surat kabar menghadapi permasalahan di antaranya adalah berkurangnya pembaca, sirkulasi yang lamban, kenaikan biaya cetak, dan kemajuan teknologi (Albarran 1996:152). Berbeda dengan industri media lainnya, surat kabar memiliki dua pasar yang berbeda yaitu pasar sirkulasi dan pasar iklan. Khususnya pada kemajuan teknologi, Picard (19993 dalam 1996:159) mengatakan bahwa kemajuan teknologi memiliki dua dampak utama, yang pertama adalah koran dapat diproduksi dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit. Kedua, dengan adanya teknologi, koran dapat diproduksi lebih cepat dari sebelumnya. Di sisi lain, teknologi menjadi diduga menjadi salah satu penyebab turunnya jumlah pembaca surat kabar. Penurunan jumlah pembaca surat kabar dibarengi dengan penurunan jumlah pangsa iklan yang didapatkan oleh surat kabar, yakni hanya sebesar 28,3% pada tahun 2013 (lihat diagram 4). Audience Market Share Berikut merupakan pangsa pembaca surat kabar berskala nasional tahun 2013 Jumlah Pembaca (dalam ribuan) Share Individual H Index Jawa Pos 1077 47,1334792 0,222156 Kompas 1015 44,4201313 0,197315 Koran Sindo 124 5,42669584 0,002945 Media Indonesia 69 3,01969365 0,000912 2285 CR4 = 100% Ʃ = 0,423328 Surat Kabar Total Pangsa pembaca surat kabar cakupan nasional hanya dikuasai oleh empat grup media besar yakni Jawa Pos, Kompas Gramedia Group, MNC Group, dan Media Group. Dapat dilihat melalui tabel bahwa Jawa Pos menguasai pasar pembaca sebesar 47,1% disusul dengan Kompas yang mendapatkan pangsa sebesar 44,4%. Dari persentase pangsa pasar yang didapatkan terlihat bahwa industri pasar surat kabar sangatlah terkonsentrasi dan untuk skala nasional hanya dipimpin oleh dua pemain kuat. Konsentrasi tersebut akan semakin meningkat seiring dengan berkurangnya besar pasar (Picard, 1988a, dalam 1996:158). Meskipun turut menjadi pemain kuat dibandingkan dengan koran lainnya – Koran Sindo dan Media Indonesia – hanya memeroleh pangsa pembaca sebesar 5,4% dan 3,0%. Persentase tersebut jauh berbeda dari persentase yang didapatkan oleh Jawa Pos dan Kompas. Konsentrasi pasar ini yang nantinya menjadi barriers to entry bagi satuan bisnis surat kabar baru karena pangsa pembaca akan berpengaruh langsung dengan pangsa iklan dari sebuah surat kabar. Tidak hanya struktur pasarnya yang terkonsentrasi, dengan index herfindahl sebesar 0,4 menunjukkan bahwa persaingan pasar pembaca pada industri surat kabar nasional lemah dan memiliki struktur pasar oligopoli. Advertisers Market Share Surat Kabar Ads. Revenue Share Individual H Index Kompas 3086006 42,67681 0,182131 Koran Sindo 1348132 18,64351 0,034758 Jawa Pos 1225039 16,94124 0,028701 Media Indonesia 489767 6,773056 0,004587 Koran Tempo 476710 6,592489 0,004346 Republika 362293 5,0102 0,00251 Bisnis Indonesia 243161 3,362707 0,001131 7.231.108 CR4 = 85,0346 Ʃ = 0,258164 Total Seperti yang dapat dilihat di tabel, empat satuan bisnis surat kabar yang memiliki pangsa pembaca tertinggi dalam cakupan nasional kembali mendapatkan pangsa iklan dengan jumlah tertinggi. Kompas tetap menjadi surat kabar yang memeroleh pendapatan tertinggi dengan persentase sebesar 42,67%. Koran Sindo menjadi surat kabar yang mendapatkan pangsa iklan terbesar kedua dan mengalahkan Jawa Pos yang memiliki pangsa pemirsa jauh lebih besar daripada Koran Sindo. Dengan CR4 sebesar 85,0% terlihat jelas bahwa pasar iklan industri surat kabar juga terkonsentrasi dan berstruktur oligopli – Kompas, Koran Sindo, dan Jawa Pos. Barriers to entry Hambatan utama dalam pasar industri surat kabar adalah adanya integrasi vertikal, integrasi cross media, integrasi horizontal, dan konsentrasi pasar itu sendiri. Integrasi horizontal ditunjukkan dengan kepemilikan 151 surat kabar oleh Jawa Pos, dan 25 surat kabar oleh Kompas Gramedia Group, serta integrasi vertikal yang dilakukan oleh Jawa Pos,berupa kepemilikan satuan bisnis untuk melakukan produksi hingga distribusi. Persaingan yang lemah antara pemain dalam industrsi surat kabar tidak hanya disebabkan oleh monopoli pasar namun juga di produksi, iklan, sirkulasi, dan berita itu sendiri (Dertouzous dan Trautman, 1990 dalam 1996:158). Selain barriers to entry bersifat structural yang berupa konsentrasi dan konglomerasi, terdapat barriers to entry – lain – yang berjenis finansial berupa biaya untuk membuat sebuah surat kabar bagi satuan bisnis industri surat kabar baru. Meskipun barriers to entry berupa peraturan pemerintah – SIUPP – sudah dicabut, namun hambatan lain cukup membuat industri surat kabar sebagai sebuah industri yang susah untuk dimasuki. Market Conduct Industri Surat Kabar PT Media Nusantara Citra, Tbk Koran Sindo (Seputar Indonesia) Koran Sindo merupakan salah satu bagian dari Sindo Media 5-in-1 – bersama Sindonews.com, Sindo Radio, SINDO TV (kini bernama iNews TV), dan Sindo Weekly. yang memiliki basis media baru dan fokus pada pasar lokal. Di tengah meningkatnya popularitas surat kabar siber yang menggantikan posisi surat kabar tradisional, Koran Sindo bersama Sindonews.com bekerja sama untuk menjangkau lebih banyak pembaca. Selain itu, Koran Sindo menyediakan surat kabar versi digital melalui aplikasi yang dapat diunduh di Play Store. Strategi ini juga sebelumnya sudah dilakukan oleh Kompas dan Tempo. Di tengah perdebatan mengenai eksistensi media cetak dan digital, Koran Sindo memberikan kesempatan bagi publik luas berupa kuisioner untuk ikut serta mengevaluasi eksistensi media cetak dan digital. Kuisioner tersebut dapat diakses dengan mengunjungi portal koransindo.com. Hasil kuisioner tersebut dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan market conduct dalam menghadapi pasar surat kabar tradisional yang semakin tergerus oleh media digital. Majalah Berbeda dari surat kabar, industri majalah memiiki pasar yang lebih teridentifikasi mengingat bahwa target pembaca dari satuan bisnis majalah tertentu sudah tersegmentasi. Majalah juga memiliki periode terbit yang berbeda yaitu mingguan, bulanan, dua bulanan, maupun tahunan. Majalah Ads. Revenue Share Individual H Index Tempo 147434 29,41561 0,086528 Femina 98148 19,58221 0,038346 Sindo Weekly 48602 9,696933 0,009403 Cosmopolitan 46478 9,273159 0,008599 Ayah Bunda 32332 6,450789 0,004161 Kartini 32001 6,384749 0,004077 Aneka Yess 25795 5,146545 0,002649 Gadis 21076 4,205024 0,001768 Female 19398 3,870234 0,001498 Bobo 17189 3,429501 0,001176 High End 12757 2,545241 0,000648 Total 501210 CR4 = 67,96792 Ʃ = 0,158853 CR8 = 90,15502 Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pasar industri majalah memiliki konsentrasi pasar yang tinggi, dilihat dari CR4 sebesar 67,9%. Sementara itu CR8 dari kompetisi pasar iklan majalah menunjukan bahwa pasar memiliki konsentrasi tinggi dengan CR8 sebesar 90,1%. Hal yang perlu digarisbawahi adalah terdapat beberapa majalah yang dimiliki oleh satu perusahaan media sama, seperti Femina Grup yang memiliki Gadis, Cleo, Femina, Pesona, Dewi, Ayahbunda, dan lain – lain, kemudian Kompas Gramedia Grup yang membawahi Intisari, Hai, Kawanku, Bobo, dan sejumlah majalah lainnya, MNC Grup dengan High End Teen Mag, Trust (yang kini menjadi SINDO Weekly, dan Just for Kid Mag. Integrasi horizontal tersebut mengubah struktur pasar; ditandai dengan peningkatan konsentrasi pasar dan semakin melemahnya dasa saing pasar. Tidak hanya itu, jika tabel tersebut diamati kembali, maka hanya terdapat dua pemain yang menguasai pasar iklan, yaitu Tempo dan Femina. Analisis Market Conduct Produk Majalah MNC Media SINDO Weekly Sindo weekly merupakan majalah mingguan berita, hingga kini mempunyai oplah lebih dari 125,000 eksemplar setiao minggu dengan jangkauan sirkulasi mencakup Bali, Sulawesi, Kalimantan, Batam, Sumatera, Jawa, dan Jakarta. Dalam persaingan memperebutkan iklan, Sindo berada pada posisi ketiga dengan pangsa sebesar 9% meskipun baru muncul pada tahun 2012. Segmentasi yang cukup luas dan penfokusan pada isu politik menyebabkan perolehan iklan yang didapat Sindo Week cukup tinggi. Tak kalah dengan bisnis surat kabar siber lainnya, Sindo weekly juga hadir dalam bentuk siber – sindoweekly.com. Majalah Sindoweekly secara digital juga dapat diunduh secara gratis melalui portal sindoweekly.com. Disebarkannya majalah sindoweek secara gratis ini dapat dikatakan sebagai sarana lain bagi Hary Tanoesoedibjo untuk membangun citra baik bagi dirinya dan partainya. Hal tersebut dilihat dari jenis pemberitaan mengenai Perindo dan Hary yang bersifat positif. High End dan High End & Teen Bila dibandingkan dengan Sindo weekly, pangsa iklan High End dan HighEnd & Teen berada di posisi yang jauh lebih rendah. Hal tersebut dikarenakan segmentasi pembaca yang lebih sempit dengan SES menengah ke atas. Perbedaan pencapaian pangsa iklan dan pembaca juga bisa disebabkan karena manajemen perusahaan yang berbeda. Di mana High End dibawahi oleh MNI Global, sedangkan SINDO Weekly oleh Sindo Media 5-in-1. Meskipun begitu dengan harga Rp75.000 per eksemplar sudah mampu menutupi biaya produksi yang hanya terbit setiap bulan. Harga tersebut tiga kali lipat lebih mahal dari Sindo week yang terbit setiap minggu. DI samping itu High End memiliki usaha berupa acara di luar produksi majalah. Tabloid Dilihat pada Diagram 4, pendapatan kue iklan tabloid semakin tahun semakin turun, hingga memosisikannya sebagai tipe media dengan pendapatan iklan terendah. Hal ini yang menyebabkan baik majalah maupun tabloid sering mengadakan acara yang melibatkan para pemasang iklan untuk mendapatkan pendanaan lebih. Audience Market Share Tabloid Readership (dalam ribu) Share Individual H Index Nova 484 13,57263 0,018422 Pulsa 446 12,50701 0,015643 Bola 347 9,730791 0,009469 Soccer 293 8,216489 0,006751 Otomotif 280 7,851935 0,006165 Motor Plus 250 7,010656 0,004915 Gaul 241 6,758273 0,004567 Genie 155 4,346607 0,001889 Cek & Ricek 149 4,178351 0,001746 Saji 145 4,066181 0,001653 Nyata 139 3,897925 0,001519 Bintang Indonesia 117 3,280987 0,001076 Wanita Indonesia 114 3,196859 0,001022 Ototrend 72 2,019069 0,000408 Aneka Misteri 70 1,962984 0,000385 Koki 62 1,738643 0,000302 Otoplus 61 1,7106 0,000293 Mom & Kiddy 53 1,486259 0,000221 Ponsel 48 1,346046 0,000181 Nakita 40 1,121705 0,000126 3566 CR4 = 44,02692 Ʃ = 0,076754 Total CR8 = 69,99439 Berdasar tabel di atas terlihat bahwa memiliki pasar pembaca memiliki konsentrasi yang moderate dengan CR4 sebesar 44,02% dan CR8 sebesar 69,99%. Tingkat persaingannya pun dapat bilang tinggi dan mendekati persaingan pasar sempurna dengan index herfindahl sebesar 0,07. Namun jika nama – nama tabloid tersebut dikelompokan berdasarkan kepemilikan, maka akan menghasilkan struktur pasar dan tingkat persaingan yang berbeda. Dapat dilihat di tabel bahwa struktur pasar yang sebenarnya sangatlah terkonsentrasi dimana Kompas Gramedia Group menjadi pemain paling kuat dengan pangsa pembaca sebesar 53,28%. Melalui persentase yang melebih 50% dari keseluruhan pasar dapat dikatakan bahwa Kompas Gramedia Group memonopoli pasar industri tabloid. Dengan struktur pasar seperti ini, tingkat persaingan yang ada menjadi melemah – hal tersebut – dilihat dari index herfindahl yang jauh mengalami peningkatan dari index herfindahl sebelumnya menjadi 0,31. Grup Media Pembaca Pangsa Individual H Index Kompas 1900 Gramedia Grup (Nova, Bola, Soccer, Otomotif, Motor Plus, Saji, Otoplus, Nakita) 53,28099 0,283886 Jawa Pos Grup 201 (Nyata, Koki) 5,636568 0,003177 MNC Group 208 (Genie, Mom&Kiddie) 5,832866 0,003402 Pulsa 446 12,50701 0,015643 Gaul 241 6,758273 0,004567 Cek & Ricek 149 4,178351 0,001746 Bintang Indonesia 117 3,280987 0,001076 Wanita Indonesia 114 3,196859 0,001022 Ototrend 72 2,019069 0,000408 AnekaMisteri 70 1,962984 0,000385 Ponsel 48 1,346046 0,000181 Total 3566 CR4=77, 25743 CR8=94,6719 Advertiser Market Share 0,315494 Kondisi pasar pangsa iklan sudah terlihat memiliki konsentrasi tinggi dengan CR4 sebesar 56% dan CR8 sebesar 75,5% meskipun pasar pangsa iklan memiliki tingkat persaingan yang baik dengan index herfindahl sebesar 0,122. Tabloid Ads Revenue Share Nova 163624 27,33646 0,074728 Pulsa 22510 3,760717 0,001414 Bola 50828 8,49177 0,007211 Soccer 9102 1,52066 0,000231 Otomotif 63599 10,62541 0,01129 Motor Plus 39827 6,653847 0,004427 Gaul 10144 1,694745 0,000287 Genie 33276 5,55938 0,003091 Cek & Ricek 19158 3,200703 0,001024 Saji 9429 1,575291 0,000248 Nyata 58817 9,826482 0,009656 Bintang Indonesia 39233 6,554608 0,004296 Wanita Indonesia 19629 3,279392 0,001075 Ototrend 9821 1,640782 0,000269 Koki 3123 0,521756 2,72E-05 Otoplus 9195 1,536197 0,000236 Mom & Kiddy 6207 1,036996 0,000108 Nakita 31034 5,184811 0,002688 Total 598556 CR4 = Individual H Index Ʃ = 0,122308 56,28011 CR8 = 75,50170 Konsentrasi pangsa iklan setelah tabloid tersebut dikelompokan berdasarkan kepemilikan mengalami peningkatan yang tajam. CR4 mencapai 86,42% dan CR8 mencapai 98,35%. Index herfindahl sebesar 0,41 menunjukkan tingkat persaingan di pasar pangsa iklan yang sebenarnya, dimana iklan hanya dikuasai oleh beberapa pemain saja. Sama halnya dengan pangsa pasar pemirsa, Kompas Gramedia Group juga mendapatkan pangsa pasar iklan lebih dari 50% yakni 62,9%. Hal ini memperlihatkan bahwa pasar industri tabloid terpusat dan dikuasai oleh satu pemain kuat – Kompas Gramedia Grup. Grup Media Pembaca Individual Index Pangsa H Kompas 376638 Gramedia Grup (Nova, Bola, Soccer, Otomotif, Motor Plus, Saji, Otoplus, Nakita) 62,92444 0,283886 Jawa Pos Grup 61940 (Nyata, Koki) 10,34824 0,003177 MNC Group 39483 (Genie, Mom&Kiddie) 6,596375 0,003402 Pulsa 22510 3,760717 0,015643 Gaul 10144 1,694745 0,004567 Cek & Ricek 19158 3,200703 0,001746 Bintang Indonesia 39233 6,554608 0,001076 Wanita Indonesia 19629 3,279392 0,001022 Ototrend 9821 1,640782 0,000408 Total 3598556 CR4= 0,419375 86,42366 CR8= 98,35922 Analisis Market Conduct Produk Tabloid MNC Media Baik pasar pemirsa dan pasar iklan yang terkonsentrasi merupakan barriers to entry bagi pebisnis baru di industri tabloid. Hal tersebut juga menjadi kendala tersendiri bagi dua tabloid milik MNC – Genie dan Mom Kiddie yang bukan merupakan pemain besar dalam pasar. Dilihat dari pendapatan pangsa pembaca yang hanya memroleh 4,3% untuk Genie dan 1,4% untuk Mom&Kiddie. Hal serupa terjadi pada persaingan dalam mendapatkan kue iklan di mana Genie hanya mendapatkan pangsa iklan sebesar 5,5% dan Mom & Kiddie yang harus puas mendapatkan 1%. Genie Genie merupakan tabloid yang berfokus pada konten gossip dan kehidupan selebriti. Dengan pangsa pasar pembaca sebesar 4,3% dapat dikatan bahwa Genie bukanlah pemain kuat dalam industri tabloid. Ditambah dengan dominasi Kompas Gramedia Group – yang menjadi – barriers to entry tersendiri tidak hanya untuk Genie namun untuk tabloid lain. Meskipun memiliki pangsa pemirsa iklan yang sedikit namun menurut Nielsen Media Research, Genie merupakan tabloid dengan sirkulasi terbesar untuk segmen infotainment dan selebriti. Hal tersebut menunjukkan bahwa Genie menerapkan segmentasi target pembaca sebagai salah satu market conduct-nya. Di samping itu, dengan pendapatan pangsa iklan sebesar 5,5% menjadikan Genie membuat beberapa usaha lain di luar tabloid. Salah satunya adalah “Woman Festival 16” yang diselenggarakan pada tanggal 28 Januari 2016. Festival tersebut terdiri dari beberapa acara yan berbeda. Selain itu Genie juga aktif melakukan acara yang bekerja sama dengan produk – produk kecantikan seperti MAKARIZO. Acara seperti tersebut selain digunakan sebagai sumber penghasilan juga digunakan sebagai alat untuk membangun public awareness terhadap Genie, mengingat jumlah pangsa pemabaca Genie yang tidak terlalu banyak. Mom & Kiddie Tabloid Mom & Kiddie merupakan tabloid yang fokus dalam memberikan informasi tentang anak dan ibu. Sama halnya dengan Genie, dalam persaingan pasar baik iklan maupun pembaca, Mom & Kiddie tidak mampu mendapatkan posisi yang baik. Mom & Kiddie menggunakan kanal facebook, instagram (@mom_kiddie), dan twitter (@mom_kiddie) untuk media pemasarannya. Radio Kepemilikan radio lebih beregam dibandingkan dengan kepemilikan televisi. Dari 2,800 stasiun radio yang ada di Indonesia, 700 diantaranya merupakan radio komunitas, (Merlyna Liem). Sebelum munculnya PP No. 5 tentang Radio Siaran Non-Pemerintah, industri radio di Indonesia dimonopoli oleh RRI dan berfungsi sebagai media penyebaran informasi dan edukasi sekaligus melindungi kedaulatan dan kebhinekaan Bangsa Indonesia. Pertumbuhan industri radio semakin pesat pada tahun – tahun setelahnya. Jaringan radio komersial sendiri dipimpin oleh Citra Prima Pariwara (CPP), dan diikuti oleh Hard Rock FM, Cosmopolitan, I-Radio, dan Trax yang dimiliki oleh MRA Group, MNC Group dengan Trijaya FM, ARH yang sekarang berubah nama menjadi Global Radio, dan Radio Dangdut Indonesia, kemudian Elshinta yang dibawahi EMTEK, serta Sonora FM oleh Kompas Gramedia Group (Merlyna Liem, 2012). Pasar radio terdiri dari pasar iklan dan pasar pendengar, dimana struktur pasarnya berjenis persaingan monopoli (1996:68) dengan terdapat banak pejual dan pembeli. Masing – masing penjual tidak mampu menentukan harga namun kekuasaan pasar terletak pada sejumlah penjual. Produk yang ditawarkan oleh radio bersifat heterogen dan terdeferensiasi, hal ini dapat dlihat dari industri pasar radio yang memiliki segmentasi tertentu. Audience Market Share Radio memiliki pangsa pasar pemirsa yang berbeda di setiap daerahnya. Di daerah Jakarta, pangsa pemirsa radio dipimpin oleh Gen FM dengan konsentrasi pasar moderate, ditandai dengan CR4 sebesar 46,93% dan CR8 sebesar 74,10%. Dengan index herfindahl sebesar 0,150103 mengimplikasikan bahwa pasar pendengar radio di Jakarta mengalami persaingan yang ketat. Jakarta Radio Listernership Share Individual H Index GEN FM 2754 14,9139 0,015853 BENS 2325 12,59071 0,010398 ELSHINTA 1883 10,19712 0,008525 RDI 1705 9,233185 0,006991 ELGANGA 1544 8,361313 0,004964 URBAN RKM 1301 7,045381 0,003712 MEGASWARA 1125 6,092278 0,003215 POP FM 1047 5,66988 0,002754 CBB 969 5,247482 0,002547 I-RADIO 932 5,047114 0,001554 DELTA FM 728 3,942381 0,000997 MERSI 583 3,157154 0,000963 PRAMBORS 573 3,103 0,000757 JAK FM 508 2,751002 0,000701 CAMAJAYA 489 2,64811 0,086172 Total 18466 CR 4 = 46,93 Ʃ =0,150103 CR 8 = 74,10 Bandung Sedangkan di Bandung, pasar pendengar iklan cenderung memiliki konsentrasi tinggi, ditunjukkan dengan CR4 sebesar 67,40% dan CR8 sebesar 83,37%. Meskipun index herfindahl sebesar 0,130 mengimplikasikan bahwa pasar penengar radio di Bandung memiliki persaingan yang ketat namun dapat dilihat bahwa hanya terdapat empat pemain kuat di dalam pasar yakni Dahlia FM, Rama FM, Cosmo FM, dan Ardan FM. Radio Listernership Share Individual H Index DAHLIA 903 22,64293 0,05127 RAMA 737 18,48044 0,034153 COSMO FM 525 13,16449 0,01733 ARDAN 523 13,11434 0,017199 URABANFM 180 4,513541 0,002037 I-RADIO 161 4,037111 0,00163 GARUDA 151 3,786359 0,001434 MQFM 145 3,635908 0,001322 LITA 119 2,983952 0,00089 ERS 95 2,382146 0,000567 BOBOT 95 2,382146 0,000567 BANDUNG FM 91 2,281846 0,000521 HITS FM 90 2,25677 0,000509 RAKA 89 2,231695 0,000498 RDI 84 2,106319 0,000444 Total 3988 CR4 = 67,40 Ʃ= 0,130372 CR8 = 83,37 Semarang Meskipun memiliki konsentrasi pasar yang moderate dengan CR4 sebesar 49,91% dan CR8 sebesar 77,01% dan index herfindahl sebesar 0,102 yang mengindikasikan bahwa pasar memiliki tingkat persaingan baik namun terlihat bahwa pangsa pasar pemirsa dikuasai oleh satu pemain kuat saja yaitu POP FM dengan pangsa pasar sebesar 22%. Radio Listernership Share Individual H Index POP FM 651 22,70666 0,051559 GAJAH MADA 272 9,487269 0,009001 SUARA SMG 268 9,34775 0,008738 KIS FM 240 8,37112 0,007008 RASIKA 234 8,161842 0,006662 BOOM FM 200 6,975933 0,004866 IMELDA FM 175 6,103941 0,003726 BEST FM 168 5,859784 0,003434 RCT FM 112 3,906522 0,001526 IDOLA 104 3,627485 0,001316 PRAMBORS 97 3,383328 0,001145 RASIKA SMG 96 3,348448 0,001121 IBC FM 94 3,278689 0,001075 SAHARA FM 89 3,10429 0,000964 RDI 67 2,336938 0,000546 Total 2867 CR4 = 49,91 Ʃ =0,102686 CR8 = 77,01 Analisis Market Conduct Produk Radio MNC Media Ketiga jaringan radio MNC – V-Radio, RDI, dan Global Radio dikelola oleh PT MNC Networks sedangkan Sindo Trijaya FM merupakan radio di bawah Sindo Media 5-in-one. Dari keempat jaringan radio yang dimiliki oleh MNC, RDI merupakan satu – satunya stasiun radio yang masuk ke dalam 15 radio dengan pangsa pendengar terbanyak. Meskipun begitu, posisinya tidak mampu untuk membuat RDI menjadi pemain kuat di industri radio. Audience Share Radio 2014 10 RDI Audience Share Market Dapat dilihat melalui grafik bahwa pangsa pendengar terbesar RDI 5 0 Jakarta Bandung (dalam persen) Semarang berada di Jakarta dengan perolehan pangsa sebesar 9,2%. Saat ini RDI bersiaran selama 24 jam dalam seminggu melalui frekuensi 97,1 FM. Terdapat beberapa program utama yakni Room Door, Republican Dangdut, Cool at Heart, Dangdut Legend, New Song, BegaDANGdut. Dilihat dari media penetrationnya pada tahun 2013 oleh Media Scene, pendengar RDI didominasi oleh pendengar laki – laki dengan usia 30 tahun ke atas. Global Radio Global Radio merupakan stasiun radio milik MNC yang memiliki segmentasi pendengar umur dari tahun 20 – 40 tahun untuk ukuran SES AB+ seperti mahasiswa, pegawai, pengusaha, dan professional. Tidak masuknya Global Radio ke dalam jajaran radio dengan pendengar terbanyak dapat disebabkan karena banyak radio yang sudah memiliki segmentasi serupa dan telah memiliki pendengar setia jauh lebih banyak dari Global Radio. V-Radio V Radio merupakan stasiun radio yang diperuntukkan untuk wanita dengan gaya hidup modern. Ide dari pembuatan stasiun radio ini adalah kebutuhan perempuan untuk berbagi, sehingga V-Radio dijadikan platform bagi perempuan untuk mendapatkan teman dan bertukar cerita. Target pendengar V-Radio adalah perempuan dengan usia 25-40 tahun dan memiliki status sosial ekonomi A, B. Kategori konten acara yang dimiliki oleh V-Radio adalah infotainment, family, cooking, fashion, lifestyle, movie review, dan beauty & health, mengingat segmentasi pendengar V-Radio yang hampir seluruhnya perempuan. Selain konten acaranya yang tersegmentasi, V-Radio juga membuat berbagai acara seperti V-Reunion, VCooking Class, V-Book Club, dan V-Classic Audio – yang dapat dikatakan sebagai strategi pasar V-Radio untuk mendapatkan pendapatan tambahan mengingat posisinya yang tidak terlalu baik di industri radio. Market Performance PT Media Nusantara Citra Tbk Pengukuran Pertumbuhan Asset (dalam triliun) Revenue (dalam triliun) 13.60 9.62 6.52 2013 6.67 2014 Dari tabel di samping terlihat bahwa baik pertumbuhan aset maupun pendapatan mengalami peningkatan. Meskipun peningkatan tajam yang terjadi pada aset tidak dibarengi dengan hal serupa pada pendapatan. RCTI, Global TV, dan MNC TV menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang porsi pendapatan sebesar 88% dari seluruh pendapatan. Sementara itu aset yang bertumbuh sebesar 41,5% dilatarbelakangi oleh pembangunan gedung 3TV dan News Center yang nantinya akan digunakan untuk meningkatkan sinergi. Pengukuran Keuntungan dalam persen Chart Title 45.00% 40.00% 35.00% 30.00% 25.00% 20.00% 15.00% 10.00% 5.00% 0.00% 2012 2013 2014 Return on Assets 18.49% 17.59% 12.95% Return on Equity 22.70% 21.84% 18.76% Return on Sales 35.35% 39.25% 39% Net Profit Margin 26.45% 25.93% 26.43% Dengan melihat grafik di atas, MNC masih dapat dikatakan sebagai perusahaan media dengan prospek bagus, meskipun pada tahun 2013 terjadi penurunan pada return on assets, return on equity, dan net profit margin. Hal ini dapat dikorelasikan dari pertumbuhan asetnya yang terus menaik meskipun tingkat pertumbuhannya tidak dibarengi dengan pertumbuhan pendapatan yang seritme. Pengukuran Likuiditas Acid Test Ratio (dalam persen) Current Ratio (dalam persen) 9.7 5.4 4.2 7.8 4.5 3.4 2012 2013 2014 Setelah mengalami kenaikan hingga tahun 2012, baik current ratio maupun acid test ratio mengalami penurunan pada tahun 2013. Hal ini disebabkan karena jumlah hutang pendek tahun 2013 mengalami peningkatan. Meskipun begitu MNC mampu meningkatkan kembali current ratio dan acid test ratio pada tahun 2014 secara signifikan. Hal ini dikarenakan terjadi pengurangan kewajiban jangka pendek yang dimiliki oleh MNC. Pengukuran Hutang 0.5 0.45 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 2012 Debt Equity (dalam persen) 2013 2014 Leverage Ratio (dalam persen) Pengukuran hutang MNC mengalami kenaikan pada tahun 2014 secara signifikan. Hal ini disebabkan karena pembangunan beberapa aset baru seperti pembangunan studio dan peluncuran Koran Sindo. MEDIA BERBASIS LANGGANAN PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) merupakan salah satu anak perusahaan utama perseroan yang unggul dalam kategori media berbasis langganan dengan tiga unit usaha tv berlangganan yakni Indovision, Okevison, dan Top TV yang sukses meraih pangsa pasar gabungan sebesar 75% dengan jumlah 2,5 juta pelanggan pada tahun 2014. Selain hal tersebut, MSKY merupakan satu – satunya penyedia layanan TV-berlangganan yang menyiarkan frekuensi S-band – yaitu frekuensi yang diandalkan untuk daerah beriklim tropis. Di bulan Juni 2014, MCOM meluncurkan MNC Play Media yang memberikan layanan internet broadband fiber optik pertama di Indonesia dan telah memperluas cakupannya lebih dari 1 juta rumah di tujuh kota bear di Indonesia. Selain itu Play Media memberikan fitur berupa kecepatan internet hingga 200Mbps, IPTV, Video-on-Demand (VOD), TV on demand (TVOD), dan time-shift TV. Market Structure dan Market Conduct Satuan Unit Usaha PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) TV Berlangganan Industri pasar tv berlangganan di Indonesia sebagian besar didominasi oleh pay tv milik MNC Sky dengan pangsa gabungan sebesar 74,6%. Hal tersebut menjadi barriers to entry tersendiri bagi satuan bisnis industri tv berlanggan lainnya. MNC Sky tidak hanya melakukan integrasi horizontal dengan memiliki tiga tv berlangganan, namun juga melakukan integrasi vertikal di mana tayangan dari beberapa channel televisinya diproduksi oleh MNC Media. Selain itu MNC Sky melalui Indovision, Play Media, dan Moviebay, melakukan strategi bundling yang bertujuan untuk meningkatkan pelanggan sebesar 600.000 pelanggan. Indovision Indovision merupakan sebuah brand name tv berlangganan milik MNC Sky yang saat ini menjadi pemimpin dalam pasar industri tv berlangganan. Kini hingga akhir tahun 2014, Indovision telah memiliki 140 saluran dengan 36 saluran eksklusif, dimana 20 diantaranya merupakan saluran in-hous yang diproduksi sendiri oleh MNC Media. Target pemirsa Indovision sendiri merupakan pemirsa dengan SES AB. Kini indovision sudah memiliki pelanggan sebesar 1,7 juta pelanggan. Berbagai strategi pasar dilakukan oleh Indovision untuk meningkatkan pemasukannya, pertama adalah dengan menggunakan frekuensi S-Band yang sangat cocok untuk iklim negara tropis. Dengan menggunakan frekuensi tersebut pelanggan mendapatkan tayangan televisi dengan kualitas yang baik. Kedua adalah kebebasan pagi pelanggan Indovision untuk memilih paket siaran yang ditawarkan dengan harga yang berbeda. Terdapat empat paket yang ditawarkan oleh Indovision dengan tiga jenis harga yang berbeda. Pertama adalah paket Mars dan Venus dengan harga langganan Rp169,900 per bulan. Segmentasi tayangan pada paket Mars lebih ditujukan kepada pemirsa laki – laki dengan ditambahkannya dua chanel khusus olahraga. Berbeda dengan Mars, paket Venus lebih mengkhususkan target pemirsanya untuk perempuan – dengan tambahan chanel bersegmentasi lifestyle, entertainment, dan kids & toddler. Paket berikutnya adalah paket Galaxy dengan harga langganan sebesar Rp199,900. Terakhir adalah paket Super Galaxy yang memiliki harga langganan paling tinggi yaitu Rp269,000 per bulan. Perbedaan paket galaxy dan super galaxy terletak di jumlah channel yang diberikan, pada paket galaxy pelanggan diberi pilihan 89 channel sedangkan pada paket super galaxy sebanyak 102 channel. Okevision Merupakan tv berlangganan di bawah PT Nusantara Vision. Sama halnya dengan Indovision, Okevision juga menggunakan frekuensi S-band untuk memancarkan siarannya kepada pelanggan. Saat ini Okevision memiliki 69 channel dengan berbagai kategori yang dapat dipilih melalui paket tayangan. Okevision membrandol paket basicnya dengan harga sebesar Rp139,900 dan berbagai macam Ala Carte. Slogan Okevision adalah “Bisokop Masuk Rumah” hal ini dilihat dari target pelanggannya yang merupakan remaja dan fokus konten acaranya yang berupa film dan hiburan. Top TV Top TV merupakan tv berlangganan yang dimiliki oleh MCOM dan menyasar konsumen menengah dan menengah-bawah dengan harga langganan paling murah dibandingkan dengan Indovision dan Okevision, yakni Rp99,000. Meskipun begitu, TOP TV tetap menggunakan frekuensi S-Band yang memberikan kualitas siaran yang bagus bagi pelanggan. Mulai diluncurkan pada tahun 2007, pada tahun 2014 memiliki total 49 saluran. Strategi pasar lain yang dimiliki oleh Top TV adalah dengan “Paket Hemat” di mana pelanggan dapat membayar sejumlah Rp3,300 per harinya. Pada tahun 2014 TopTV sukses menduduki posisi ke-2 dalam pasar industri televisi berlangganan nasional dengan pangsa sebesar 25%. Hal ini disebabkan karena Top TV mampu menjangkau daerah pasar di luar Jawa yang tidak terjangkau siaran TV FTA. Moviebay Merupakan salah satu unit usaha berbasis langganan yang MCOM miliki. Moviebay sendiri merupakan layanan video online streaming berupa film dan serial dalam negeri baik mancanegara. Terdapat beberapa strategi pasar yang dilakukan oleh Moviebay, pertama adalah, khusus bagi pelanggan Indovision mendapatkan akses gratis berupa “Layanan Indovision Anywhere” dan 6 bulan Moviebay On Demand jika melakukan registraso di Moviebay. Selain itu, khusus pelanggan Play Media mendapatkan dua akses gratis pada “Layanan Play Media Multiscreen” dan 6 bulan Moviebay On Demand. Kedua strategi tersebu dapat dikatakan sebagai strategi bundling, di mana pelanggan dapat memeroleh akses lebih jika berlangganan baik Moviebay, Indovision, maupun Play media. Selain meningkatkan daya tarik calon pelanggan secara langsung – jika – strategi ini berhasil maka strategi ini juga menaikkan jumlah pelanggan Indovision dan Play Media. Market Performance MNC Sky Vision Tbk (MSKY) Pengukuran Pertumbuhan Seperti yang terlihat di grafik, (dalam triliun) jumlah pendapatan yang dimiliki oleh MNC Sky Vision Tbk mengalami Assets Revenues kenaikan sebesar 9%. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan jumlah 3.28 pelanggan MSKY yang saat ini berada 3.02 pada kisaran 2,5 juta pelanggan. Jumlah tersebut sudah mengalami 5.94 5.88 kenaikan sebesar 10% dari 2,3 juta pelanggan pada tahun 2013. Berbeda halnya dengan aset yang justru mengalami penurunan pada tahun 2014 sebesar 0,01 persen. Penurunan juga terjadi pada aset lancar sebesar 2013 2014 29%, hal tersebut disebabkan pinjaman sindikasi berjangka setelah pelunasan obligasi anak perusahaan Perseroan pada 2013 telah diutilisasi pada tahun 2014 untuk pembelian peralatan. Pengukuran Keuntungan 40% 30% 20% dalam triliun 10% 0% -10% -20% -30% -40% -50% -60% 2012 2013 2014 Return on Sales 21% 15% 15% Net Profit Margin 3% -16% -5% Return on Equity 4% -28% -10% Return on Assets 2% -8% -3% Apabila dilihat melalui grafik dapat dikatakan bahwa MNC Sky Vision mengalami kerugian yang cukup besar pada tahun 2013, meskipun pada tahun 2014 mengalami peningkatan namun masih menjadikan posisi MNC Sky sebagai perusahaan yang rugi, hal ini dapat dibaca melalui net profit margin, return on equity, dan return on assets yang hingga tahun 2014 masih rugi. Salah satu penyebab kerugi yang dialami oleh MNC Sky karena transaksi non-kas Perseroan, tepatnya kerugian atas selisih kurs yang belum terealisasi. Pengukuran Likuiditas Current Ratio 1.5 1 1.2 1.12 0.81 0.5 Current Ratio 0 2012 2013 Dalam kurun waktu tiga tahun, MNC Sky mengalami penurunan dalam hal Current Ratio, hal ini disebabkan karena jumlah liabilitas yang meningkat di tahun 2014 mencapai 4,2 triliun dari 4,1 triliun pada tahun 2013. Peningkatan liabilitas ini tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah aset lancar. 2014 Pengukuran Hutang Leverege Ratio 2.4 2.69 1.18 0.54 2012 0.71 2013 0.73 2014 Baik leverage ratio maupun debt to equity ratio mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena pertama, kenaikan liabilitas pada tahun 2013 dan 2014, kemudian penurunan jumlah aset, pada tahun 2013 dan 2014. Serta terus menurunnya jumlah ekuitas di dalam perusahaan dari posisi tahun 2013 sebesar Rp1,75 triliun menjadi Rp1,59 triliun pada akhir tahun 2014. PT MNC KABEL MEDIACOM MNC Play Media MNC Play Media diluncurkan pada tahun 2014 di bawah PT MNC Kabel Mediacom merupakan unit usaha yang fokus sebagai penyedia layanan jaringan berbasis serat optic dengan menggunakan teknologi Fiber-To-The-Home (FTTH). Terdapat beberapa keunggulan yang dimiliki oleh MNC Play Media yaitu kecepatan internet 2.5 Gbps, Interactive Cable TV, Interactive New Media yang memungkinkan berbagai aktifitas dilakukan secara interaktif melalui TV di rumah pelanggan, dan Crystal Clear Telephony yang memberikan kualitas suara jernih dengan fasilitas video call khusus ditujukan untuk area perumahan pengembangan baru. Harga berlangganan MNC Play Media beragam sesuai dengan kecepatan internet, dimulai dari Rp249,000 per bulan dengan kecepatan 7Mbps hingga Rp2,999,999 per bulan untuk kecepatan 100Mbps. Dengan harga langganan yang tergolong mahal, MNC Play Media menawarkan lima partnership promo sebagai salah satu strategi pasarnya. Pertama adalah promo dari Mister Aladin, Promo ANZ, Promo BCA, Promo Alfamidi, dan Promo Mandiri. MEDIA BERBASIS ONLINE DAN NEW MEDIA PT Global Mediacom (MCOM) memiliki beberapa unit usaha di bidang media baru, pertama adalah WeChat, merupakan aplikasi media sosial kolaborasi dengan Tencent dan menjadi aplikasi media sosial terpopuler ketiga di Indonesia dengan total unduhan lebih dari 100 juta unduhan. Kedua adalah keterlibatan MCOM di dalam bisnis mobile games. Melalui MNC Media Investment Ltd, mobile games studio Letang mampu mendatangkan pengguna sebesar 234 juta di awal tahun 2014. Ketiga adalah portal berita yang berfokus pada berita dan hiburan – okezone – yang memiliki dua juta pengguna harian pada tahun 2014 dan sindownews.com. Ketiga adalah layanan online streaming, Moviebay. Keempat adalah layanan home shopping yang dikelola oleh PT MNC GS HOMESHOPPING. Layanan MNC Shop tersebut berfungsi untuk mengembangkan platform e-commerce di Indonesia. PT LINKTONE INDONESIA Okezone Okezone bergabung dengan PT Linktone Indonesia di tahun 2012. Dengan kemampuan editorial yang dimiliki oleh Okezone, kini portal berita siber tersebut mampu memproduksi berita sejumlah 700 hingga 800 per harinya. Segmentasi berita tidak hanya untuk Indonesia namun beragam hingga India, AS, Malaysia, dan Arab Saudi. Menurut allyoucanread.com, okezone.com menempati posisi keempat untuk kategori situs berita. Sedangkan detik pada peringkat satu, disusul oleh Liputan 6, dan Kompas.com. Berdasarkan similarweb.com, hingga saat ini jumlah pengunjung di okezone.com sejumlah 12.7 juta dimana 93,24% pengunjungnya merupakan penduduk Indonesia. Sedangkan menurut alexa.com, okezone.com menempati posisi ke 14 dan posisi 515 untuk peringkat secara global. Berdasarkan engangement terhadap pengunjung selama tiga bulan, rata – rata waktu seseorang berada di situs ini selama 6 menit. Dengan bounce rate sebesar 42.90% menandakan bahwa terdapat – bahkan setengahnya – orang mengunjungi situs tersebut langsung keluar tanpa melihat halaman lain dari situs. Okezone juga hadir dalam bentuk aplikasi seperti Okezone.com yang dapat diunduh melalui Google Play dan App Store. Di samping hal tersebut, PT Linktone Indonesia yang membawahi Okezone telah berhasil memeroleh pencapaian pada tahun 2014, di antaranya adalah penandatanganan dengan Asia Wall Street Journal dan Yahoo PT MNC TENCENT WeChat WeChat merupakan aplikasi media sosial hasil kerjasama dengan PT MNC Tencent. Kini aplikasi ini tersedia untuk Mac, iPhone, Android, Windows Phone, Nokia S40, Symbian Keyboard, Symbian Touch, BlackBerry OS. Saat ini WeChat dapat diakses melalui pc tanpa mengunduh meskipun harus dilakukan pengunduhan sebelumnya di handphone. Pada tahun 2014, WeChat telah melakukan beberapa strategi untuk meningkatkan jumlah pengguna WeChat. Pertama adalah peluncuran game WeChat Speed, peluncuran stiker Atu Tingting dan stiker 3D Rio 2. Kedua adalah pemberian 1GB cloud storage secara gratis untuk menyimpan gambar, video, pesan suara, dan pesan video dari pengguna. Awal November 2014, WeChat menambah fitur baru bernama Mojime yang memperbolehkan penggunanya untuk membuat stiker sendiri. WeChat adalah platform social pertama dari luar Amerika yang mampu menjangkau pasar global. PT MNC GS HOMESHOPPING MNC Shop MNC Shop merupakan TV Home Shopping 24 jam pertama di Indonesia melalui channel 88 yakni (Indovision, Top TV, OkeVision, Play Media), TV FTA, atau dengan mengunjungi situs www.mncshop.co.id. Terdapat beberapa strategi pasar yang dilakukan oleh MNC Shop, antara lain adalah metode pembayaran melalui VISA, Mastercard, Bank Transfer, dan COD & CCOD dan pengiriman yang mudah dan semakin terjamin melalui MNC SHOP dan JNE dengan cicilan sebesar 0%. Selain itu, MNC Shop telah berhasil membangun studio produksi sendiri yang dapat menurunkan biaya produksi secara signifikan sebesar 85%. Strategi pasar lain adalah dengan diluncurkannya produk yang hanya bisa didapatkan di MNCShop, contohnya Spped Up Pad 7s. MEDIA SUPPORT DAN INFRASTRUKTUR PT INFOKOM ELEKTRINDO Didirikan pada tahun 1998, Infokom Elektrindo merupakan unit usaha yang bergerak pada bidang media support dan infrastruktur. Infokom Elektrindo memberikan jasa kepada perusahaan yang bergerak pada industri minyak, pertambangan, dan gas. Selain itu, Infokom Elektrindo juga memberikan jasa yang meliputi Telecommunication Networks, IT Outsourcing Services, Multimedia Value Added Services, dan Business Outsourcing Services. KESIMPULAN Berdasarkan analisa secara keseluruhan terhadap Annual Report PT Global Mediacom tahun 2012-2014, menunjukkan bahwa PT Global Mediacom merupakan perusahaan media yang cukup baik, ditunjukkan dengan posisi beberapa unit usaha dari entitas anak perusahaan yang menjadi pemain kuat di hampir seluruh platform media. Sejalan dengan hal tersebut pendapatan dan aset yang terus meningkat dalam kurun waktu lima tahun terakhir menjadikan PT Global Mediacom sebagai salah satu perusahaan media yang memiliki prospek paling baik. Berikut merupakan kesimpulan dan catatan yang penulis dapatkan mengenai market structure, market conduct, dan market performance setelah menganalisis entitas anak perusahan PT Global Mediacom Media Berbasis Iklan dan Konten - - - - - - Bisnis TV FTA yang dimiliki oleh MNC sudah berjalan dengan baik hal ini terlihat dari baik jumlah pangsa iklan maupun penonton yang tinggi. Strategi penempatan program yang diterapkan di masing – masing televisi milik MNC Media secara efektif mampu menaikkan rating dan laba. Selain hal tersebut bisnis jangka panjang berupa penayangan drama serial dengan jumlah episode banyak terbukti mampu meningkatkan kesetiaan penonton dengan diperolehnya rating tinggi pada drama serial tersebut. Manajemen dari ketiga televisi FTA – RCTI, MNC TV, dan Global TV berjalan dengan baik hal tersebut terlihat dari masuknya ketiga stasiun televisi tersebut sebagai penerima pangsa iklan maupun penonton terbesar di Indonesia. Meskipun tv jaringan milik MNC tidak mendapatkan pangsa iklan dan penonton sebesar bisnis tv FTA, namun menurut penulis iNews termasuk unit usaha yang memberikan keuntungan cukup baik dengan stasiun jaringannya yang berjumlah 42. Integrasi vertikal dan integrasi horizontal yang dilakukan oleh MNC menjadi salah satu kunci keberhasilan perusahaan media tersebut sebagai salah satu pemimpin kuat di dunia industri media Namun perlu digarisbawahi bahwa tidak semua unit usaha dari MNC memberikan keuntungan signifikan meski unit usaha tersebut masih memberikan kontribusi pendapatan konsolidasi. Keuntungan yang sedikit disebabkan karena produk yang dihasilkan memiliki segmentasi sempit berbeda dengan segmentasi televisi yang menjangkau segala jenis golongan. Hal tersebut terlihat dari sedikitnya pangsa pasar majalah untuk High End dan High End Teen Kehadiran Sindo 5-in-1 merupakan sebuah inovasi baik di tengah era konvergensi yang tengah terjadi. Ditambahnya portal berita dan versi digital - - - - dari produk merupakan langkah pintar dalam menjawab kondisi pasar yang sudah mulai meninggalkan perangkat tradisional Meskipun unit bisnis pertelevisian yang dimiliki oleh MNC menjadi pemain kuat di pasar, namun perpindahan televisi dari analog ke digital perlu menjadi satu catatan tersendiri, terlebih lagi jumlah hutang dan aset yang dimiliki oleh perseroan tidak sebanding dengan jumlah pendapatan yang dihasilkan. Apabila MNC mampu mengambil momentum dan siap dalam menghadapi keijakan switch off analog pada tahun 2018, maka kebijakan tersebut dapat menjadi celah baru bagi perseroan untuk melebarkan usahanya. Segmentasi yang sama seperti kompetitor lain membuat pangsa penonton produk MNC media tidak begitu banyak. Hal ini terlihat dari segmentasi tabloid genie dan stasiun radio Global yang sudah banyak di pasar Perlunya optimalisasi pada unit usaha cetak dan radio yang tidak semuanya memiliki pangsa pasar dan iklan baik Media Berbasis Langganan - - - - Strategi pasar yang dilakukan oleh MNC Sky Vision berupa bundling pada Play Media, Moviebay, dan Indovison merupakan strategi yang baik dalam menghadapi pasar freeconomics Perbedaan segmentasi yang dimiliki oleh Indovision, TOP TV, dan Okevision merupakan bentuk diversifikasi produk yang cukup efektif dalam menjangkau pasar dari seluruh segmen Perlu adanya pemikiran inovasi kembali terhadap unit usaha Moviebay mengingat kemunculan Netflix – yang memiliki usaha serupa – yang sukses mendapatkan pangsa cukup besar di pasar. Penggunaan kurs asing perlu menjadi catatan tersendiri bagi MNC Sky mengingat bahwa kerugian signifikan yang dialami pada tahun 2013 disebabkan karena perubahan kurs yang bergantung pada ekonomi dunia Media Online dan New Media - - Peringkat okezone yang berada pada peringkat 4 dan mengalami penurunan pada cakupan global menjadi catatan penting bahwa perseroan membutuhkan inovasi baru agar okezone menjadi produk media yang lebih tersegmentasi dan dikenal MNC Shop merupakan inovasi baik dalam bidang transaksi dan jual beli, namun pengelolaannya belum dapat dikatakan maksimal. Di tambah dengan banyaknya usaha serupa yang jauh lebih memiliki engagement pada pengguna internet REFERENSI B. Albarran, A. (2016). Media Economics. Iowa State University Press. Global Mediacom Annual Report (2012-2014) MNC Annual Report (2014) MNC Sky Annual Report (2014 Liem, M. (2012). The League of Thirteen: Media Concentration in Indonesia. Media Scene Volume 25. (2014).

Judul: Analisis Ekonomi Media Pt. Global Mediacom, Tbk

Oleh: Berliyantin Puspaningrum


Ikuti kami