Toleransi Dan Etika Dalam Pergaulan, Menuntut Ilmu Dan Menyampaikannya Kepada Sesama

Oleh Cici N U R U L Hidayanti

474,2 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Toleransi Dan Etika Dalam Pergaulan, Menuntut Ilmu Dan Menyampaikannya Kepada Sesama

ANALISIS BUKU PELAJARAN ALQUR’AN HADITS PADA MADRASAH ALIYAH SEMESTER I BAB IV DAN BAB V ( TOLERANSI DAN ETIKA DALAM PERGAULAN, MENUNTUT ILMU DAN MENYAMPAIKANNYA KEPADA SESAMA ) Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah : Al-Qur’an Hadits Pada MA Dosen Pengampu : Dr. H. Muhammad Rozali, LC.MA DISUSUN OLEH : PAI 5/ SEM 4 KELOMPOK 6 CICI NURUL HIDAYANTI (Nim : 0301183205) DEWI LESTARI DAMANIK ( Nim : 0301182148) NADIA SAPINAH HRP ( Nim : 0301182138) RAHMI GUSTINA MATONDANG ( Nim : 0301181006 ) SULAINA ( Nim : 0301182098 ) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA 2020 A. PENDAHULUAN Negara kita mengakui beberapa agama. Akibatnya, kita hidup di tengah masyarakat yang agama penduduknya berbeda-beda. Walaupun agamanya berbeda-beda, kita harus bertoleransi dalam pergaulan. Adanya toleransi antar umat beragama menyebabkan dua tempat ibadah agama yang berbeda dapat berdiri berdampingan. Pada prinsipnya agama merupakan kumpulan system nilai yang mengajarkan bagaimana seseorang menjalani kehidupan didunia ini, melaksanakan yang baik-baik dan menjauhi yang buruk. Kesadaran adanya prinsip yang dimiliki oleh semua agama ini seharusnya tertanam dalam masing-masing pemeluk agama sehingga bisa bertoleransi antaragama dengan cara mentolerir praktik keagamaan yang dilakukan oleh mereka yang tidak seagama tanpa mengganggu atau membujuk maupun memaksa agar meninggalkan keyakinanannya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan terlepas dari pergaulan terhadap sesama. Dengan berbagai sikap yang dimiliki, manusia tentu tidak bisa hanya mementingkan dirinya sendiri. Semua itu memerlukan sikap toleransi (tenggang rasa) agar kehidupan dapat berjalan dengan harmonis. Untuk itu, diperlukan adanya tuntunan yang mengatur semua itu. Islam telah mengajarkan bagaimana bertoleransi dan beretika dalam pergaulan terhadap sesama manusia dengan berbagai sifat dan keyakinannya. Begitu juga halnya dengan menuntut ilmu. Buku adalah gudang ilmu. Dengan banyak membaca, ilmu pengetahuan kita akan selalu bertambah. Walaupun demikian, kita masih memerlukan guru agar membimbing kita. Hal itu disebabkan buku tidak dapat membenarkan ketika pembacanya salah tafsir, sedangkan guru dapat selalu membenarkan jika ada salah tafsir dari keterangan yang diberikannya. Ada pepatah yang mengatakan dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan seni hidup akan jadi indah, dan dengan agama hidup akan jadi terarah. Dari ketiga hal tersebut, hal yang paling mendasar adalah ilmu. Dengan ilmu orang bisa berkesenian dengan baik. Di samping menghibur, juga meninspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan. Sementara itu, agama juga tidak bisa dikuasai dengan baik tanpa penguasaan keilmuan agama yang memadai. Ilmu merupakan saran memperoleh dan mewujudkan keinginan. Islam mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu. Oleh karena itu, tepat kiranya kalau Al Qur’an memberi petunjuk tentang kewajiban bagi setiap muslim dalam menuntut ilmu. B. PEMBAHASAN A. TOLERANSI DAN ETIKA DALAM PERGAULAN a) Pengertian Toleransi dan Etika serta Adab Dalam Pergaulan Toleransi menurut Kamus Besar Indonesia Tolerasi berarti sifat Toleran. Kata Toleran sendiri didefinisikan sebagai bersifat atau bersikap tenggang Rasa (menghargai,membolehkan) pendirian (pendapat, atau keyakinan) yang berbeda atau bertentangan dengan diri sendiri.1 Toleransi merupakan kata serapan dari bahasa inggris “Tolerance” yang berarti sabar menghadapi atau melihat dan tahan terhadap sesuatu, sementara kata sifatnya adalah “ Tolerance” yang bersikap toleran, sabar terhadap sesuatu. 2 Sedangkan menurut Abdul Malik Salman, kata Tolerancy berasal dari bahasa latin yang berarti berusaha tetap bertahan hidup tinggal atau berinteraksi dengan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai.3 Dalam Bahasa Arab, istilah yan Lazim dipergunakan sebagai kata Toleransi adalah Samahah atau Tasamuh, maka kata ini berkembang dan mempunyai arti sikap lapang dada atau terbuka dalam menghadapi perbedaan yang bersumber dari kepribadian yang mulia .4 Sedangkan Etika berasal dari bahasa Yunani adalah “ Ethos”, yang berarti Watak kesusialaan atau adatdalam bentuk tunggal mempunyai arti kebiasaan-kebiasaan tingkah laku manusia, adat, akhlak, watak, petasaan, sikap, dan cara berpikir. Menurut kamus besar bahasa Indonesi etika artinya ilmu pengetahuan tentang azas-azas akhlak (moral). Menurut kamus besar bahasa Indonesia etika mengandung arti : a. Ilmu tentang apa yang baik dana pa yang buruk tentang hak dan kewajiban moral. b. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak. c. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.5 Sedangkan, Pergaulan adalah salah satu cara seseorang untuk berinterkasi dengan alam persekitarannya. Jadi Etika Pergaulan adalah Sopan Santun atau tata keramah dalam 1 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), hlm.114 2 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1991), hlm. 1065 3 Abdul Malik Salman, al-Tasamuh Tijah al-Aqliyat ka Dharuratin li al –Naahdhah, ( Kairo: The International Insitute of Islmic Thought, 1993), hlm. 2 4 5 Asmawati Burhan, Buku Ajar Etika Umum, ( Yogyakarta : CV.Budi Utama, 2019 ), hal.2-3 pergaulan yang sesuai dengan situasi dan keadaan serta tidak melanggar norma-norma yang berlaku baik noerma agama, kesopanan, adat, hukum, dan lain-lain. Berikut beberapa adab didalam pergaulan : 1) Adab bergaul dengan teman sebaya : a. Memilih teman yang baik ; kamu harus dapat memilih teman yang baik, sebab dari pergaulan dapat mmengaruhi pribadimu. b. Saling menghormati dan menghargai ; jika ingin hubungan antar teman sebaya terjalin terus, sikap meremehkan, melecehkan, merendahkan, atau menganggap lemah teman harus dihindari. 2) Adab bergaul dengan orang yang lebih tua : a. Memberi kesempatan lebih dahulu dalam segala urusan, misalnya duduk, berjalan, makan dan berbicara atau berpendapat. b. Menyapa dan mengucapkan slaam terlebih dahulu.6 3) Adab bergaul dengan orang yang lebih muda : a. Bergaul dengan penuh kasih sayang. b. Saling membantu. c. Berperilaku baik. 4) Adab bergaul dengan lawan jenis : a. Bergaul dengan baik dan tetap menjaga aturan (norma agama dan sosial). b. Pria dan wanita sama-sama menahan pandangan yang dapat menimbulkan rangsangan, menjaga kehormatan masing-masing, dan sama-sama menjaga rasa malu.7 Toleransi Islam ini tampak jelas bahkan pada saat-saat di mana jiwa manusia sudah mau membalas dendam. Dimana-mana para tawanan biasanya dilakukan sebagai musuh terlaknat yang sangat dibenci. Mereka dibunuh, dijual atau diperbudak dan dibebani pekerjaan-pekerjaan yang sangat berat. Akan tetapi Rasulullah saw tidak demikian. Beliau memperlakukan tawanan perang Badar dengan hormat beliau membagibagikan ketujuh puluh tawanan itu kepada para sahabat beliau. Beliau menginstruksikan 6 H.Aminudin, Harjan Syuhada, Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas XII, ( Jakarta Timur : PT. Bumi Aksara), hal. 54-61 7 Ibid, hal. 64 supaya mereka diperlakukan dengan baik. Para sahabat mematuhi perintah itu sampaisampai mereka mendahulukan para tawanan itu untuk makan sebelum mereka makan.8 b) Surah Al-Kafirun : 1-6 Surah Al –Kafirun termasuk shalat makkiyah. Selain nama Al-Kafirun,Surah ini juga dinamakan Al-Ibadah, Ad-din, dan Al-Muqasqishah(penyembuh).Dinamakan Almuqasqishah karena kandungannya menyembuhkan dan menghilangkan penyakit kemusyrikan .Tema utama Surah ini adalah penolakan usul kaum Musyrikin untuk penyatuan ajaran agama dalam rangka mencapai kompromi. Berikut ini adalah Surah AlKafirun ayat 1-6: Artinya : “Katakan lah(Muhammad ),”Wahai orang-orang Kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,dan kamu bukan penyembah apayang aku sembah ,dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah .Untuk mu Agamamu dan untukku Agamaku.(Q.S Al-Kafirun 1-6) Surah Al-Kafirun diturunkan sekaligus jawaban atas ajakan tokoh tokoh Kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad Saw.Mereka itu, antara lain Walid bin Mugirah,Al’Ash bin Wa’il Assahim, Al-aswad bin Abu Muthalib , dan Umayyah bin Khalaf.Orang-orang Kafir Quraisy itu mengajak Nabi Muhammad Saw agar mau berkompromi dengan bergantian dalam menyembah Tuhan. Mereka akan menyembah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad Saw. Dalam waktu ya ng lain,beliau dimint menyembah apa yang mereka sembah. 8 93 Muhammad Said Mursi, Panduan Praktis dalam Pergaulan, ( Jakarta: Gema Insani Press, 2004 ), hal. Surah Al-Kafirun merupakan pernyataan yang tegas bahwa Tuhan yang disembah Nabi Muhammad Saw. Dan para pengikut beliau bukan apa yang disembah orang-orang Kafir. Secara tegas,beliau menyatakan bukan penyembah apa yang disembah oleh orangorang Kafir. Dalam surah Al Kafirun : 1-3. Ayat ini juga menjelaskan bahwa tidak mungkin ada titik temu antara Nabi Muhammad Saw. dan tokoh kafir tersebut. Pada ayat 4-5, ditegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. memiliki konsistensi dalam pengabdiannya. Surah Al Kafirun ayat 6 merupakan pengakuan eksistensi secara timbal balik, yaitu untukmu agamamu dan untukku agamaku. Surah Yunus Ayat 40 – 41 Para Nabi terdahulu sebagai utusan Allah telah berjuang untuk menyampaikan syiar Islam. Namun, diantara umat mereka ada yang beriman dan ada yang tetap durhaka yang akhirnya diazab oleh Allah. Berikut ini adalah Surah Yunus : 40-41 : Artinya : Dan diantara mereka ada orang-orang yang beriman kepada-nya (Al Qur’an), dan diantaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Seangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggungjawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku tidak bertanggungjawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus : 40-41) Surah Al Kahfi Ayat 29 Allah telah berulang kali memberikan penegasan bagaimana keadaan orang-orang yang beriman dan imbalannya serta keadaan orang kafir dengan balasannya. Berikut adalah Surah Al-Kahfi : 29 Artinya : Dan katakanlah Muhammad, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa yang menghendaki (kafir) biarlah dia kafir”. Sesungguhnya kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi mendidih yang menghanguskan wajah. (itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS. Al-Kahfi :29) Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa kebenaran datang dari nya. Dalam menghadapi kebenaran, tidak ada perbedaan status antara orang yang kaya atau yang miskin, orang yang kuat dan lemah. Oleh karena itu, manusia dapat merasakan bahwa yang benar memang benar dan disetujui oleh hati nurani. Dengan diberikan nya kesempurnaan akal, manusia dapat menimbang dan menguji sebuah kebenaran. Bagi orang yang kafir, mereka akan menanggung akibat kekafirannya. Surah Al Hujurat Ayat 10-13 Allah Swt. Menciptakan manusia dalam berbagai ras dan sifat yang berbeda-beda. Perbedaan itu mestinya tidak menjadikan saling bermusuhan tetapi, menjadi suatu kenyataan yang harus disikapi dengan penuh kearifan. Apabila perbedaan itu dapat dijadikan sarana persatuan, akan terwujud kehidupan yang harmonis. Islam mengajar umatnya untuk senantiasa menjalani hubungan baik dengan sesamanya. Berikut ini arti dari Q.S Al-Hujurat ayat 10-13 . Artinya : 10) Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antar a kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. 11) Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. 12) Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lai. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik.dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah maha penerima tobat, maha penyayang. 13) Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. AlHujrat : 10-13) Dalam ayat 10 Allah Swt. Menegaskan bahwa orang-orang mukmin adalah bersaudara. Dalam ayat 11, merupakan konsekuensi logis dari makna yang terkandung dalam ayat 10. Jika pada ayat 10 Allah Swt. Menegaskan bahwa orang –orang mukmin itu bersaudara, konsekuensi nya orang – orang mukmin itu tidak boleh saling mengolokolok. Pada ayat 12, Allah Swt. Melarang orang – orang beriman berprasangka. Dalam ayat 13, Allah Swt menegaskan dia maha kuasa menciptakan manusia yang peluraslitik: beraneka bangsa, suku, bahasa, adat istiadat, budaya, dan warna kulit. Ayat ini memberi informasi sekaligus perintah kepada manusian untuk selalu sadar bahwa dirinya sering cenderung berbuat sesuatu yang kurang baik. c) Hadits Tentang Etika Pergaulan Di dalam ajaran islam, agar hubungan sesama muslim berjalan dengan harmonis, Nabi telah menjelaskan bagaimana etika muslim bergaul dalam kehidupan dunia. Berikut adalah hadits tentang etika pergaulan: Artinya: “Dari Ibnu Abbas, dan dia merafa’kannya kepada Nabi saw. beliau bersabda, ‘Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih besar dan tida menyayangi yang lebih kecil sterta tidak menyuruh kepada kebaikan dan melarang yang mungkar’”. (HR.Ahmad :2214) Etika sopan santun dalam kehidupan sehari-hari perlu diperhatikan dan dilaksanakan. Bagaimanapun seseorang bersikap atau berbicara, kalau caranya tidak benar dapat menimbulkan kesalah pahaman atau tersinggung.9 Hadits ini merupakan bagian dari hadits Nabawi yang dimana hadits ini disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik dalam perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat.10 Imam Asy-Syafi’I pernah mengatakan memberikan pengertian bahwa segala pendapat ulama harus ditinggalkan apabila dalam kenyataannya berlawanan dengan hadits Nabi SAW, ummat Islam berpegang pada hadits karena selain memang diperintahkan oleh Al Qur’an juga untuk memudahkan dalam menentukan suatu perkara yang tidak dibicarakan secara rinci.11 B. MENUNTUT ILMU DAN MENYAMPAIKAN KEPADA SESAMA a) Defenisi Ilmu serta Adab dalam Menuntut Ilmu Ilmu berasal dari Bahasa Arab yaitu (‘Alima-Ya’lamu-‘Ilman) yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Ilmu dari segala istilah ialah seagala pengetahuan atau kebenaran tentang sesuatu yang datang dari Allah Swt yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan Alam ciptaan-Nya termasuk manusia yang memiliki aspek lahiriah dan batiniah. 12 Ilmu dalam Bahasa Inggris disebut Science, sedangkan pengertian Ilmu yang terdapat dalam kamus Bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat dugunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Menuntut Ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum Muslimin. Banyak sekali dalil yang menunnjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya. 9 Lilis Fauziyah RA, Andi Setyawan, Kebenaran Al-Qur’an dan Hadits, ( Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2015 ), hal. 56-67 10 Dr. H. M. Rozali, MA, Pengantar Kuliah Ilmu Hadits, ( Medan : Azhar Centre, 2020 ), hal. 13 11 Ibid, hal. 18-19 12 Abdul Hamid M.Djamil, Lc., Agar Menuntut Ilmu Jadi Mudah, ( Jakarta : PT.Gramedia, 2015 ), hal. 4-6 Seorang yang menuntut ilmu wajib mempelajari adab dan akhlak menuntut ilmu. Dengan mengetahui adab dan akhlak menuntut ilmu maka ilmu akan mudah masuk dan lekat dalam hati sanubari sehingga mudah diamalkan, ditularkan, dan dimanfaatkan dengan baik. untuk mendapatkan pemahaman ilmu yang baik dan bermanfaat, tentu melalui proses yang benar pula. Selain itu menuntut ilmu juga harus memperhatikan tata cara/ adab-adab dalam menuntut ilmu, berikut adab-adab dalam menuntut ilmu : a. Berwudhu ; ilmu bersumber dari Allah SWT. Yang Mahasuci. Untuk menerimanya tentu juga lebih baik dalam keadaan suci. b. Mandi dan memakai wangi-wangian (khusus untuk pria) c. Duduk iftirasy (duduk tahiyat awal) d. Tawajjuh (konsentrasi) e. Ta’zim wal ikhtiram (mengagungkan dan memuliakan) f. Tasdiq wal yaqin (membenarkan dan meyakini) g. Ta’asur fil qalbi (hunjamkan dalam hati) h. Niyyatul ‘amal wa tablig (berniat mengamalkan dan menyampaikan13 A. Surah At-Taubah Ayat 122 Dalam suatu riwayat, dikemukakan bahwa ada beberapa orang yang jauh dari kota Madinah tidak turut berperang karena mengajar kaumnya. Orang munafik mencela mereka karena tidak ikut berperang. Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum muslimin yang bersungguh-sungguh ingin ke Medan perang, apabila disuruh ke medan perang, mereka segera berangkat meninggalkan Rasulullah saw beserta orang-orang yang lemah. Berikut pembahasannya didalam Surah At-Taubah : 122: 13 Handono, Aris Mustafa, Zaenuri Siroj, Meneladani Akhlak Untuk Kelas XI Madrasah Aliyah Program keagamaan, ( Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2015 ), hal.46-48. Artinya: Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.AtTaubah: 122) Dalam ayat ini Allah SWT. Menerangkan kewajiban menuntut ilmu pengetahuan serta mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Hal itu merupakan salah satu alat dan cara berjihad. Peperangan ini bertujuan mengalahkan musuh-musuh Islam serta mengamankan jalannya dakwah Islamiah . Surah Al-Mujadilah Ayat 11 Allah memberikan tuntunan kepada orang yang beriman dan berilmu dalam berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, diantaranya dalam bekerja dan menuntut ilmu. Sesuai dengan Surah Al-Mujadilah : 11 berikut: Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan, dalam mejelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila diakatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu berapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Mujadilah : 11) Surah Al-Baqarah Ayat 164 Allah adalah zat yang Maha kuasa yang harus kita imani. Kekuasaan Allah meliputi segalanya, diantaranya menciptakan alam dan segala isinya. Sebagai makhluk yang diberikan kesempurnaan akal, kita diharapkan dapat merenungkan kekuasaan dan kebesaran Allah. dengan demikian, kita tidak hanya meyakini adanya kekuasaan dan kebesaran Allah, tetapi juga dapat membuktikannya melalui akal dan ilmu pengetahuan. Pembuktian inilah yang akan membuat keimanan kita kepada Allah makin bertambah. Pada surah Al-Baqarah ini, Allah menjelaskan sebagian dari tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. Berikut surah Al-Baqarah : 164: Artinya: Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angina dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti. (QS. Al-Baqarah : 164) Ayat ini mendorong kita untuk berpikir dan merenung tentang sekian banyak ciptaan Allah. dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita dapat memikirkan, merenungkan, dan meneliti apa yang ada di alam ini. Ada enam hal yang dapat kita jadikan bahan pemikiran dan perenungan : a) Kejadian Langit dan Bumi b) Pergantian Siang dan Malam c) Kapal yang Berlayar di Lautan d) Turunnya Air Hujan e) Adanya Berbagai Macam Jenis Binatang f) Perkisaran Angin dan Pergeseran Awan Dengan adanya perkisaran ini manusia dapat mempelajari dan meneliti, akhirnya dapat diketahui keadaan angina atau keadaan cuaca suatu tempat. Hal ini menjadi suatu bukti adanya keteraturan alam dan tentunya ada yang mengatur, yaitu Allah. C. Hadits Tentang Kewajiban Mencari Ilmu Artinya : Dari Anas bin Malik berkata Rasulullah saw. bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan orang yang meletakkan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya (orang yang enggan untuk menerimanya dan orang yang menertawakan ilmu agama) seperti orang yang mengalungi beberapa babi dengan beberapa permata, mutiara, dan emas.” (HR.Ibnu Majah : 220) Manusia dilahirkan di dunia tidak dalam keadaan tanpa mengetahui suatu apa pun, tetapi Allah telah membekalinya dengan panca indra dan akal. Dengan panca indra dan akal dapat dapat dignakan sebagai alat untuk diambil manfaatnya, selanjutnya disumbangkan untuk kemakmuran, kebahagiaan, dan kelestarian hidup manusia. Karena begitu pentingnya ilmu itu, maka menuntut ilmu bagi setiap umat Islam hukumnya Wajib, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan tidak dibatasi usia, sebagaimana perintah tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang Lahat. Mencari ilmu juga tidak dibatasi tempat dimana pun berada, tentunya ilmu yang diharapkan adalah ilmu yang bermanfaat. Hadits Tentang Kewajiban Menyampaikan Ilmu Artinya: Dari Abdullah ibn Amr bahwa Nabi saw. bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. Ceritakanlah apa yang telah aku beritahukan mengenai Bani Israil karena demikian itu tidak berdosa. Barang siapasengaja berdusta tentang aku, kelak tempatnya di neraka”. (HR.Al-Bukhari : 3202) Hadits ini menjelaskan tentang perintah Rasulullah saw. kepada umatnya untuk menyampaikan ajaran-ajaran beliau. Kata “Walau aayatan” menunjukkan bahwa dakwah dilakukan menurut kemampuan masing-masing. Meskipun hanya satu ayat (sedikit ajaran Islam) yang kita terima, kita mempunyai kewajiban untuk menyampaikannya kepada orang lain. Dalam berdakwah, kita juga diperbolehkan menyampaikan tentang kisah-kisah Bani Israil sebagai ibrah (pelajaran) tentang perjalanan umat terdahulu. 14 C. ANALISIS BUKU AL-QUR’AN HADITS UNTUK KELAS XI MADRASAH ALIYAH SEMESTER I a) Kelebihan 1. Dari segi cover buku sudah menarik perhatian pembaca 2. Buku ini sangatlah sistematis baik dari sisi kompetensi inti dan juga kompetensi dasarnya. 3. Dalam setiap awal bab-bab baru diiringi dengan sebuah gambar yang relevan dengan judul bab. 4. Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa referensi ataupun rujukan dalam penyusunan buku. b) Kekurangan 1. Sampul depan buku ini tidak memaparkan atau memberi petunjuk mengenai buku ini digunakan untuk semester berapa, didepan buku hanya menunjukkan angka 2 saja. 2. 3. Untuk nomor halaman kata pengantar sampai daftar isinya tidak begitu jelas dilihat oleh paca indra karena menggunakan tinta hitam dan ditimpa lagi dengan objek yang berwarna sama pula. D. PENUTUP 14 Kebenaran Al-Qur’an dan Hadits, hal. 74-84 Dapat disimpulkan bahwa toleransi dan etika dalam pergaulan, merupakan salah satu peran penting dalam sosial kehidupan dengan tujuan agar menjalin komunikasi sosial yang baik dengan yang lainnya, tanpa memandang seseorang dengan agamanya, karena toleransi dan etika dalam pergaulan selain dianjurkan didalam agama Islam juga berlaku bagi orang-orang yang non muslim karena hal ini bersifat umum untuk semua orang. Begitu juga untuk menuntut ilmu serta mengamalkannya, dalam melakukan apapun itu yang berkaitan dengan yang namanya kehidupan harus dijalankan dengan landasan adanya ilmu yang tertanam didalam setiap individu. Walau ada perkataan yang mengatakan bahwa adab itu diatas ilmu, namun perlu diperhatikan dalam mengkaji adab sebelumnya kita juga butuh ilmu untuk mengenali sebuah adab, barulah kita dapat sampai kepada pemahaman mengenai adab, kemudian kita mendapat ilmu dari itu. Kemudian setelah ilmu didapat maka kewajiban untuk menyampaikan ilmu yang didapat kepada orang lain. Karena percuma jika menuntut ilmu hanya untuk diri sendiri dapat dikatakan ilmu itu tidak menjadi berkah. DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2003 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1991 Handono, Aris Mustafa, Zaenuri Siroj, dkk. Meneladani Akhlak Untuk Kelas XI Madrasah Aliyah Program Keagamaan, Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2015 Lilis Fauziyah RA, Andi Setyawan, dkk. Kebenaran Al-Qur’an dan Hadits. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2015. Lc, Abdul Hamid M.Djamil. Agar Menuntut Ilmu Jadi Mudah. Jakarta : PT. Gramedia, 2015. Mursi, Muhammad Said. Panduan Praktis dalam Pergaulan. Jakarta : Gema Insani Press, 2004. Rozali, M. Pengantar Kuliah Ilmu Hadits. Medan : Azhar Centre, 2020 Yahya, Ahmad Syarif. Ngaji Toleransi. Jakarta : PT. Gramedia, 2017

Judul: Toleransi Dan Etika Dalam Pergaulan, Menuntut Ilmu Dan Menyampaikannya Kepada Sesama

Oleh: Cici N U R U L Hidayanti


Ikuti kami