Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Geografi Universitas Negeri Semar...

Oleh Johanes Mingge

207,1 KB 9 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Geografi Universitas Negeri Semarang

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN GEOGRAFI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG PROPOSAL SKRIPSI 1. Nama : Novalino Pawori Mingge NIM : 3201410013 Jurusan : Geografi Prodi : Pend. Geografi Judul PENGARUH IMPLEMENTASI PROGRAM AKSELERASI TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS SISWA SMP 3 PATI KABUPATEN PATI TAHUN AJARAN 2013/2014 2. Latar Belakang Menurut UU No 20 Tahun 2003 merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan masyarakat, bangsa dan negara. UUD 1945 pasal 31 menyebutkan bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Amanat yang terkandung dalam ayat tersebut adalah mendapatkan pendidikan merupakan hak setiap individu tanpa memandang latar belakang maupun kondisi yang ada pada mereka. Meskipun demikian, pendidikan yang diharapkan bukanlah sebatas pemberian dan pentransferan ilmu dari pengajar ke peserta didik saja, tetapi pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik menjadi pribadi yang lebih unggul dan dapat menghadapi kehidupannya dimasa yang akan datang. Lebih lanjut dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan peserta didik dalam menampilkan keunggulan dirinya yang cerdas, kreatif serta mandiri. Untuk menciptakan peserta didik yang unggul tersebut, pendidikan harus berorientasi untuk menciptakan generasi muda yang mandiri dengan memberikan pendidikan yang bermutu. Namun pada kenyataannya penyelenggaraan pendidikan secara reguler yang dilaksanakan selama ini lebih banyak bersifaat massal, yaitu lebih berorientasi pada kuantitas untuk dapat melayani sebanyak-banyaknya jumlah siswa. Kelemahan yang segera tampak dari penyelenggaraan pendidikan seperti ini adalah tidak terakomodasinya kebutuhan individual siswa. Siswa yang relatif lebih cepat daripada yang lain terlayani secara baik sehigga potensi yang dimilikinya tidak dapat tersalur atau berkembang secara optimal. Padahal di hakikat pendidikan yang sebenarnya adalah untuk memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi kecerdasan dan bakatnya secara optimal. Sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 5 ayat 4 yang berbunyi, “Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.” Selain itu juga terdapat pada Pasal 12 ayat 1 yang berbunyi, “Setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak: ... (b) mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masingmasing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.” Untuk SLTP ditindaklanjuti dengan Kep. Mendikbud Nomor 054/U/1993. Kep. Mendikbud pasal 16 ayat (1) menyebutkan bahwa “siswa yang memiliki bakat istimewa dan kecerdasan luar biasa dapat menyelesaikan program belajar lebih awal dari waktu yag telah ditentukan, dengan ketentuan telah mengikuti pendidikan SLTP sekurang-kurangnya dua tahun.” Untuk memfasilitasi anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dalam halnya peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya yaitu dengan penyelenggaraan kelas akselerasi. Kelas akselerasi merupakan salah satu program unggulan di dalam dunia pendidikan Indonesia. Tujuan utama dari kelas akselerasi adalah menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dalam dunia kerja. Hal ini diperlihatkan dari bahan ajar dapat dipercepat dari yang seharusnya dikuasai siswa pada saat itu dan siswa dapat menyelesaikan sekolahnya satu tahun lebih cepat dibandingkan dengan kelas reguler maupun kelas RSBI. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Depdiknas, yang menyatakan bahwa : Program kelas akselerasi bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumberdaya manusia dengan cara memberikan wadah kepeada peserta didik yang berbakat dan cerda istimewa yang diidentifkasi oleh tenaga profesional dan mempunyai pencapaian kinerja tinggi. Kinerja tinggi ditunjukkan dengan pencapaian den mempunya kemampuan dalam salah satu area atau kombinasi beberapa bidang studi. Adapun area kemampuan yang ditunjukkan oleh siswa cerdas istimewa adalah kemampuan kecerdasan umum, bakat akademik khusu, berfikir kreatif dan produktif, kemampuan kepemimpinan, kemampuan psikomotorik, dan seni peran dan visual. Program akselerasi dapat diselenggarakan dalam 3(tiga) bentuk pilihan seperti kelas reguler, dimana siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa belajar bersama-sama dengan siswa lainnya di kelas rehuler (model terpadu/inklusif). Bentuk penyelenggaraan pada kelas dapat dilakukan dengan model sebagai berikut : a. Kelas reguler dengan kelompok (cluster) Siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa belajar bersama dengan siswa lain (normal) di kelas reguler dengan kelompok khusus. b. Kelas reguler dengan pull out Siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa belajar bersama siswa lain (normal) di kelas reguler, namun dalam waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruamg sumber (ruang khusus) untuk belajar mandiri, belajar kelompok, dan belajar dengan guru pembimbing khusus. 1. Kelas Khusus, dimana siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dan bakat istimewa belajar dalam kelas khusus. 2. Sekolah Khusus, dmana semua siswa yang belajar di sekolah ini adalah siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Penyelenggaran pembeleajaran SMP Negeri 3 Pati menjadi salah satu proyek percontohan Depdiknas Provinsi Jawa Tengah dalam soal penerapan pengembangan kelas imersi sejak Tahun Pelajaran 2005/2006. Dari lima SMP se-Jawa Tengah hanya SMP Negeri 3 Pati yang merupakan satu-satunya berada di wilayah Karesidenan Pati. Sedangkan empat di antaranya yaitu SMP Negeri 5 Semarang, SMP Negeri 1 Magelang, SMP Negeri 2 Purwokerto, dan SMP Negeri 1 Kabupaten Tegal. Dua tahun berikutnya tepatnya pada Tahun Pelajaran 2007/2008 kelas akselerasi mulai dibuka. Sekolah SMP Negeri 3 Pati merupakan salah satu sekolah unggulan yang berada di Pati. Sejak tahun 2008 SMP Negeri 3 Pati telah membuka program kelas akselerasi, dimana didalam kelas ini terdapat siswa-siswi yang mempunyai kemampuan kecerdasan yang lebih. Kelas akselerasi ini dirancang menjadi kelas unggulan di SMP Negeri 3 Pati. Tentu saja dalam proses seleksi masuk kelas akselerasi ini menggunakan tes IQ berbeda dengan kelas reguler. Setiap kelas akselerasi yang ada di SMP Negeri 3 Pati memiliki minimal 5 siswa-siswi dan maksimal 20 siswa-siswi. Muatan materi kurikulum untuk program akselerasi tidak berbeda dengan kurikulum standar yang digunakan untuk program reguler. Perbedaannya terletak pada penyusunan kembali struktur program pengajaran dalam alokasi waktu yang lebih singkat (pemadatan). Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: Sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik,hokum dan budaya (Diknas,2004:3). Ilmu pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan indisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam membentuk warga negara yang baik. Ada tiga tujuan membelajarkan IPS kepada siswa, yaitu agar setiap peserta didik menjadi warga negara yang baik, melatih peserta didik berkemampuan berpikir matang untuk menghadapi dan memecahkan masalah sosial, dan agar peserta didik dapat mewarisi dan melanjutkan budaya bangsanya (Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2004: 15). Pada jenjang SMP, pencapaian tujuan yang demikian itu bukan merupakan pekerjaan yang mudah, karena (1) saat ini mata pelajaran IPS menjadi pelajaran yang dianggap kurang penting dibandingkan dengan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA; yang ditunjukkan melalui kenyataan bahwa IPS tidak lagi menjadi mata pelajaran yang diujikan secara nasional; (2) IPS juga diasumsikan oleh masyarakat dan kalangan guru sendiri sebagai pelajaran yang tidak menarik karena hanya bersifat hafalan, kurang menantang untuk berpikir, sarat dengan kumpulan konsep-konsep, pengertian-pengertian, data, atau fakta yang harus dihafal dan tidak perlu dibuktikan (Sanjaya, 2008:226); dan (3) adanya kenyataan bahwa mata pelajaran IPS di beberapa sekolah, khususnya sekolahsekolah swasta, terkadang diajarkan oleh guru yang tidak memiliki basis IPS (Wasino, 2007). Gambar 1. Keterpaduan Cabang Ilmu Pengetahuan Sosial Dalam pembelajaran IPS di SMP dengan menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sangat dianjurkan menggunakan pendekatan terpadu. Hal ini tertera dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2005 tentang Standar Isi yang menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”. Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD/MI) sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA/MA). Dalam kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Pati tentunya ada mata pelajaran IPS yang diajarkan. Berbicara mengenai pembelajaran IPS terkadang banyak kendala yang dialami di dalam kelas, dari anggapan pelajaran IPS tidak menarik, kebanyakan hafalan, dan penyampaian materi pelajaran IPS selalu menggunakan metode ceramah sehingga terkadang membosankan. Maka dari itu dalam kelas akselerasi dituntut adanya pengembangan metode dan strategi dalam menyampaikan materi IPS. Dari sini peneliti mengambil judul “Pengaruh Penerapan Program Akselerasi Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ips Siswa Smp 3 Pati Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2013/2014” 3. Rumusan Masalah Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai latar belakang masalah di atas, maka dalam hal ini peneliti dapat merumuskan permasalahan yang kan dibahas. Adapun rumusan masalah yang di bahas adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran IPS di kelas akselerasi SMP N 3 Pati ? 2. Apakah ada pengaruh implementasi Program Akselerasi Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Siswa Smp 3 Pati Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2013/2014 ? 3. Seberapa besar pengaruh implementasi Program Akselerasi Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Siswa Smp 3 Pati Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2013/2014 ? 4. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui implementasi pembelajaran IPS pada kelas akselerasi di SMP Negeri 3 Pati tahun ajaran 2013/2014. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk: 1. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran IPS di kelas akselerasi SMP N 3 Pati. 2. Untuk mengetahui pengaruh implementasi Program Akselerasi Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Siswa Smp 3 Negeri Pati Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2013/2014. 3. Untuk mengetahui besarnya pengaruh implementasi Program Akselerasi Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Siswa Smp Negeri 3 Pati Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2013/2014. 5. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak, yakni: 1. Manfaat Teoritis Dari segi ilmiah, penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu mengenai program percepatan belajar (akselerasi). 2. Manfaat Praktis a. Bagi guru 1. Menambah kemampuan dalam mengelola perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran yang sesuai dengan program pendidikan kelas akselerasi. 2. Meningkatkan keterampilan dan kompetensi yang memenuhi standar pendidikan nasional dan internasional dalam mengelola pembelajaran di kelas akselerasi. 3. Meningkatkan kegiatan pembelajaran sehingga hasil belajar siswa sesuai dengan tuntutan kurikulum program pendidikan di kelas akselerasi. b. Bagi penulis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan penulis dan dapat menerapkan ilmu-ilmu yang telah didapat dari bangku kuliah serta dapat digunakan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Geografi pada Universitas Negeri Semarang. c. Bagi Universitas Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan bacaan dan masukan atau sebagai bahan referensi penelitian selanjutnya. 6. Penegasan Istilah Beberapa istilah yang terdapat dalam penelitian ini dan perlu dijelaskan secara operasional adalah: 1. Pengaruh Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang (Poerwadarminto, 1990:664). Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pengaruh adalah penerapan program akselerasi. 2. Kelas Akselerasi Kelas akselerasi adalah kelas VII di SMP Negeri 3 Pati Tahun Ajaran 2014/2015 yang menerapkan pendekatan atau metode percepatan belajar (akselerasi). 3. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar (Anni, 2004:4). Yang dimaksud dengan hasil belajar dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa akselerasi dalam menguasai mata pelajaran IPS yang tercermin dalam nilai ulangan umum semester 1 tahun pelajaran 2014/2015. 7. Kajian Pustaka A. Konsep Belajar 1. Pengertian Belajar Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannnya (Slameto, 2003:2) Belajar merupakan proses penting bagi perubahan setiap orang dan belajar itu mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang. Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi seseorang. 2. Jenis-Jenis Belajar Jenis belajar menunjuk pada fokus apa yang dipelajari oleh pembellajar, atau dapat disebut dengan variasi kemampuan yang dipelajari. Kemampuan ini merupakan kinerja yang harus diamati dalam menentukan hasil belajar, sebab dari kinerja yang ditunjukkan oleh pembelajar dapat diketahui apakah pembelajar itu telah belajar ataukah belum atau tidak belajar. Jenis-jenis belajar antara lain : a) Belajar bagian (part learning, fractioned learning) Umumnya belajar bagian dilakukan seseorang bila ia dihadapkan pada materi belajar yang bersifat luas dan ekstensif. b) Belajar dengan wawasan (learning by insight) Menurut Gesalt teori wawasan merupakan proses mereorganisasikan pola-pola tingkah laku yang telah terbentuk menjadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan. c) Belajar Diskriminatif (discriminatif learning) Suatu uasaha untuk memilih beberapa sifat situasi/stimulus dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman dalam bertingkah laku. d) Belajar global/keseluruhan (global whole learning) Bahan pelajaran dipelajari secara keseluruhan berulang sampai pelajar menguasainya; lawan dari belajar bagian. e) Belajar insidental (insidental learning) Konsep ini bertentangan dengan anggapan bahwa belajar itu selalu berarah-tujuan. Belajar disebut insidental bila tidak ada instruksi atau petunjuk yang diberikan pada individu mengenai materi yang akan diujikan. f) Belajar instrumental (instrument learning) Reaksi-reaksi seseorang siswa yang diperlihatkan diikuti oleh tanda-tanda yang mengarah pada siswa akan mendapat hadiah, hukuman, berhasil atau gagal. g) Belajar intensional (intentional learning) Belajar dalam arah tujuan, merupakan lawan dari belajar insidental, yang akan dibahas lebih luas pada bagian berikut. h) Belajar laten (latent learning) Perubahan-perubahan tingkah laku yang terlihat tidak terjadi secara segera, dan oleh karena itu disebut laten. i) Belajar mental (mental learning) Belajar mental sebagai belajar dengan cara melakukan observasi dari tingkah laku orang lain, membayangkan gerakangerakan orang lain. j) Belajar produktif (productive learning) Belajar disebut produktif bila individu mampu mentransfer prinsip menyelesaikan satu persoalan dalam satu situasi ke situasi lain. k) Belajar verbal (verbal learning) Belajar mengenai materi verbal dengan melalui latihan dan ingatan. Dasar dari belajar verbal diperlihatkan dalam eksperiment klasik dari Ebbinghaus. 3. Unsur-Unsur Belajar Belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang saling kait mengait sehingga menghasilkan perubahan perilaku (Gagne, 1997:4). Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : a) Peserta Didik Istilah peserta didik dapat diartikan sebagai peserta didik, warga belajar, dan peserta pelatihan yang sedang melakukan kegiatan belajar. b) Ransangan (stimulus) Merupakan sebuah peristiwa yang merangsang penginderaan peserta didik. Banyak stimulus yang berada di lingkungan seseorang. Suara, sinar, warna, panas, tanaman, gedung, dan orang adalah stimulus yang selalu berada dilingkungan seseorang. Agar peserta didik mampu belajar optimal, ia harus memfokuskan pada stimulus tertentu yang diminatinya. c) Memori Memori yang ada pada peserta didik berisi berbaga kemampuan yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sika yang dihasilkan dari kegiatan belajar sebelumnya. d) Respon Tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori. Peserta didik yang sedang mengamati stimulus akan mendorong memori memberikan respon terhadap stimulus tersebut. Respon dalam peserta didik diamati pada akhir proses belajar yang disebut dengan perubahan perilaku ata perubahan kinerja (performance). 4. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspekaspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh peserta didik. Oleh karena itu apabila peserta didik mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dalam peserta didikan, perubahan perilaku yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melaksanakan kegiatan belajar dirumuskan dalam tujuan peserta didikan. Tujuan peserta didikan merupakan deskripsi tentang perubahan perilaku yang diinginkan atau deskripsi produk yang menunjukkan bahwa belajar telah terjadi (Gerlach dan Ely, 1980). Menurut Darsono (2000:112) mengukur hasil belajar termasuk dalam pengukuran psikologis. Dalam pengukuran psikologis ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip tersebut antara lain: a) Pengukuran psikologis bersifat tidak langsung (indirect) berarti untuk mengukur gejala hasil belajar perlu diungkap dahulu dengan alat yang disebut tes. b) Hasil pengukuran psikologis dipengaruhi oleh jenis instrumennya (tesnya). Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil ukur yang obyektif diperlukan alat yang valid dan reliabel. c) Hasil pengukuran psikologis diwarnai oleh kondisi orang yang diukur. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa pengukuran hasil belajar itu perlu dilakukan dengan cermat, khususnya pada saat pengukuran hasil belajar berlangsung. Menurut Sardiman (1988:30) mengemukakan tujuan belajar adalah ingin mendapatkan pengetahuan , ketrampilan dan penanaman sikap mental/nilai-nilai. Pencapaian tujuan belajar berarti akan menghasilkan, hasil belajar. Relevan dengan uraian mengenai tujuan belajar tersebut, maka hasil belajar itu meliputi: a) hal ihwal keilmuwan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif) b) hal ihwal personal, kepribadian atau sikap (afektif) c) hal ihwal kelakuan, ketrampilan atau penampilan (psikomotorik ) Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah pencapaian tujuan belajar yang ditunjukkan dengan perubahan perilakau siswa yang dapat diukur dengan alat penilaian yang disebut dengan tes. a) Macam-macam tes sebagai hasil belajar Menurut Webster’s Collegiate yang dikutip dalam bukunya Arikunto (2001:32-39) tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, tes ada 3 macam yaitu: 1) Tes Diagnostik Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahankelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Yang termasuk dalam tes diagnostik adalah tes penempatan/penjurusan IPA. IPS dan Bahasa pada kelas III. 2) Tes Formatif Tes formatif untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelah mengikuti sesuatu program tertentu. Yang termasuk dalam tes formatif adalah ulangan harian, mid semester. 3) Tes Sumatif Tes sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Tujuannya untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar para siswa. Yang termasuk dalam tes sumatif adalah ulangan umum pada akhir semester. 5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar Sebelum seorang peserta didik dapat mencapai tujuan belajar, dalam pencapaian itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi, menurut Slameto (2003) faktor yang berpengaruh pada proses belajar siswa dibagi menjadi 2, yaitu: a) Faktor internal (faktor jasmaniah) 1) Faktor kesehatan Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang sedang tidak baik. Agar seseorang dapat belajar dengan baik maka seseorang tersebut haruslah mengusahakan kesehatannya supaya tetap terjaga. 2) Cacat tubuh Cacat tubuh adalah suatu faktor fisik yang kurang sempurna keadaannya. Keadaan ini mempengaruhi proses belajar. 3) Faktor psikologis Faktor ini lebih bersifat kejiwaan pada seseorang yang sedang melakukan proses belajar, diantaranya: (a) Intelegensi Kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. (b) Perhatian Perhatian menurut Gazali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekumpulan obyek. (c) Minat Kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang. (d) Bakat Kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau beratih. (e) Motif Motif erat sekali dengan tujuan yang akan dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapi tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak/pendorongnya. (f) Kematangan Suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. (g) Kesiapan Kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi. 4) Faktor Kelelahan Kelelahan sangat mempengaruhi proses belajar, karena hal ini dapat berdampak pada konsentrasi individu tersebut sehingga perlu diusahakan kondisi yang sehat. b) Faktor eksternal 1) Faktor keluarga Cara orang tua mendidik anak di lingkungan keluarga akan sangat mempengaruhi proses belajar siswa, selain itu hubungan antara anak dengan orang tua, serta kondisi maupun suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga tersebut. (a) Cara orangtua mendidik, Faktor ini sangatlah penting. Hal ini dipertegas oleh Sutjipto Wirowidjojo menyatakan bahwa dengan : keluarga pernyataan adalah yang lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Cara orangtua mendidik anak-anaknya akan berpengaryhh terhadap belajarnya. (b) Relasi antaranggota keluarga Yang terpenting dari relasi ini adalah relasi orangtua dan anaknya. Selain itu relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga yang lain pun turut mempengrauhi belajar anak. (c) Suasana rumah Dimaksudkan sebagai situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga dimana anak berada dan belajar. (d) Keadaan ekonomi keluarga Memiliki hubungan dengan belajar anak. Senak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, fasilitas belajar juga dipenuhi jika keluarga mempunyai dana. (e) Pengertian orangtua Ketika anak belajar tentunya perlu dorongan dan pengertian dari orangtua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas di rumah. Kadangkadang anak mengalami lemah semangat, orangtua wajib memberi pengertian dan mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anak di sekolah. (f) Latar belakang kebudayaan Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar mendorong semangat anak untuk belajar. 2) Faktor sekolah Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar siswa di antaranya metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, disiplin sekolah, standar pembelajaran, keadaan gedung, dan tugas rumah. (a) Metode mengajar Suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Menurut Ign. S. Ulih Bukit Karo Karo mengajar adalah menyajikan bahan pelajaran oleh orang kepada orang lain agar orang lain itu menerima, menguasai dan mengembangkannya. (b) Kurikulum Sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adadalh menyajikanbahan pelajaranagar siswa mampu menerima, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu. (c) Relasi guru dengan siswa Di dalam relasi guru dengan siswa yang baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikannya sehingga siswa berusaha mempelajari sebiak-baiknya. Hal tersebut terjadi sebaliknya, jika siswa membenci gurunya. Ia segan mempelajari mata pelajaran yang diberikannya, akibatnya pelajarannya tidak maju. (d) Disiplin sekolah Memiliki hubungan erat dengan kerajinan siwa dalam sekolah dan juga dalam belajar. Semakin staf sekloah yang mengikuti tata tertib dan bekerja dengan disiplin membat siswa menjadi displin pula. (e) Alat pelajaran Memiliki hubungan erat dengan cara belajar siswa, karena alat pelajaran yang dipakai oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. (f) Waktu sekolah Waktu terjadinya proses belajar dan mengajar di sekolah, waktu itu dapat dipagi hari, disiang, sore/malam hari (g) Standar pelajaran di atas ukuran Guru berpendirian untuk mempertahankan wibawanya, perlu memberi pelajaran di atsa ukuran satandar. Aibatnya siswa merasa kurang mampu dan takut kepada guru. Guru dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing. Yang penting tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai. (h) Keadaan gedung Dengan jumlah siswa yang banyak serta variasi karakteristik mereka masing-masing menuntut keadaan gedung harus memadai di dalam setiap kelas. Jadi semakin baik keadaan gedung maka semakin baik siswa dalam memahami pelajaran. (i) Metode belajar Dengan cara belajar yang tepat akan efektif pula hasil belajar siswa. Maka perlu belajar secara teratur setiap hari, dengan pembagian waktu yang baik, memilih cara belajar yang tepat dan cukuo istirahat akan meningkatkan hasil belajar. (j) Tugas rumah Waktu belajar terutama adlaah di sekolah, di samping untuk belajar waktu di rumah biarlah digunakan untuk kegiatan-kegiatan lain. Maka diharapkan guru jangan terlalu banyak memberi tugas yang harus dikerjkana di rumah, sehingga anak tidak mempunyai waktu lagi untuk kegiatan yang lain. 3) Faktor masyarakat Yang termasuk faktor masyarakat yang mempengaruhi belajar siswa, di antaranya : a) Kegiatan siswa di masyarakat Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu banyak waktu belajarnya akan terganggu, lebih-lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur waktunya. b) Media masyarakat Media masyarakat yang baik akan memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya media masyarakat yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap siswa. c) Teman bergaul Pengaruh dari teman bergaul siswa lebih cepat masuk dalam jiwanya daripada yang kita duga. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri siswa, begitu juga sebaliknya, teman bergaul yang jelek pasti mempengaruhi yang bersifat buruk juga. d) Bentuk kehidupan masyarakat kehidupan masyarakat yang baik akan memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya kehidupan masyarakat yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap siswa. B. Kelas Akselerasi 1. Dasar Hukum Program Siswa Cepat atau kelas akselerasi berlandaskan pada Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan sebagai berikut: a) Pasal 8 ayat 2 yang berbunyi: “bahwa warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan yang luar bisa berhak memperoleh perhatian khusus”. b) Pasal 24 yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak antara lain sebagai berikut: Ayat 1 : mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Ayat 2 : mengikuti program pendidikan yang bersangkutan atas dasar pendidikan berkelanjutan, baik untuk mengembangkan kemampuan diri maupun untuk memperoleh pengakuan ringkat pendidikan tertentu yang telah dibakukan. Ayat 6 : menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan. 2. Tujuan Program Akselerasi Ada 2 tujuan yang mendasari dikembangkannya program percepatan belajar bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa : a) Tujuan Umum 1) Memenuhi kebutuhan peserta didik yang memiliki karakteristik spesifik dari segi perkembangan kognitif dan afektifnya. 2) Memenuhi hak asasi peserta didik sesuai dengan kebutuhan pendidikan bagi dirinya sendiri. 3) Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta didik. 4) Memenuhi kebutuhan aktualisasi diri peserta didik. 5) Menimbang peran peserta didik sebagai aset masyarakat dan kebutuhan masyarakat untuk pengisian peran. 6) Menyiapkan peserta didik sebagai pemimpin masa depan. b) Tujuan Khusus 1) Memberi penghargaan untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara lebih cepat sesuai dengan potensinya. 2) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran peserta didik. 3) Mencegah rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang mendukung berkembangnya potensi keunggulan peserta didik secara optimal. 4) Memacu mutu siswa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosionalnya secara berimbang. 3. Pengertian Akselerasi Pengertian akselerasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti : a. Percepatan, b. Peningkatan Kecepatan, c. Laju perubahan kecepatan Sedangkan menurut Prof. Dr. Oemar Hamalik (2004:186) akselerasi berarti memberi kesempatan kepada siswa yang bersangkutan untuk naik ke tingkat kelas berikutnya lebih cepat satu atau dua sekaligus. Hal ini tentu saja tidak dapat dipenuhi bagi semua siswa yang belajar dan bagi yang mampu merupakan suatu kesempatan untuk mempercepat studinya di sekolah tersebut sehingga dapat mempersingkat waktu studinya. Menurut Dr. E. Mulyasa (2003:161) akselerasi berarti belajar dimungkinkan untuk diterapkan sehingga siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dapat menyelesaikan pelajarannya lebih cepat dari masa belajar yang ditentukan. Akselerasi belajar tidak sama dengan loncat kelas sebab dalam akselerasi belajar setiap siswa tetap harus mempelajari seluruh bahan yang seharusnya dipelajari. Akselerasi dapat dilakukan dengan bantuan modul atau lembar kerja yang disediakan sekolah. Melalui akselerasi belajar peserta didik yang berkemampuan tinggi dapat mempelajari seluruh bahan pelajaran dengan lebih cepat dibandingkan peserta didik yang lain. Menurut Mimin Haryati (2006:95), akselerasi berarti percepatan belajar sebagai implikasi dari sistem belajar tuntas (master learning) juga menunjukkan adanya siswa yang memiliki kecerdasan luar biasa dan mampu mencapai kompetensi yang telah diterapkan jauh lebih cepat dan mempunyai nilai amat baik (>95) siswa yang memiliki kecerdasan luar biasa ini memiliki karakteristik khusus yaitu tidak banyak memerlukan waktu dan bantuan dalam menyelesaikan percepatan kompetensi yang telah ditetapkan, misalnya program remedial dan pengayaan dapat mengganggu optimalisasi belajarnya. Dengan menghadapi peserta didik yang demikian, seorang guru memberikan pelayanan yang terbaik yang seharusnya diberikan yaitu progra akselerasi (percepatan belajar), peserta didik menyelesaikan pencapaian kompetensi dasar yang ditentukan dengan kecepatan luar biasa yang didukung dengan nilai > 95, maka sebaiknya tidak perlu diberikan pengayaan tetapi langsung mempelajari kompetensi dasar selanjutnya. Supaya program akselerasi dapat terlaksana dengan baik maka program pelajaran perlu dikemas dalam modul-modul atau paket pembelajaran, tanpa hal ini maka program akselerasi sulit terlaksana. Akselerasi adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjalani kurikulum yang ada dengan lebih cepat (Heward,1996). Terdapat beberapa jenis dari akselerasi, yaitu: a) Memasuki sekolah formal pada usia dini b) Loncat kelas c) Mengikuti bidang studi tertentu di kelas yang lebih tinggi d) Kurikulum yang dipadatkan atau dipersingkat e) Memasuki sekolah menengah atas dan universitas secara bersamaan f) Memasuki universitas lebih awal Menurut Drs. B. Subroto (1997:123) akselerasi dikenal dengan nama maju berkelanjutan yang artinya adalah sistem administrasi kurikulum yang memberikan kesempatan pada setiap siswa dapat mengikuti pelajaran sesuai irama kecepatan belajarnya sendiri. Maju berkelanjutan dibagi menjadi 3 sistem, yaitu: a) Maju berkelanjutan kelompok b) Maju berkelanjutan individu c) Maju berkelanjutan berdasarkan perbedaan studi 4. Bentuk Penyelenggaraan Program Akselerasi Program akselerasi dapat diselenggarakan dalam 3(tiga) bentuk pilihan seperti kelas reguler, dimana siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa belajar bersama-sama dengan siswa lainnya di kelas rehuler (model terpadu/inklusif). Bentuk penyelenggaraan pada kelas dapat dilakukan dengan model sebagai berikut : a) Kelas reguler dengan kelompok (cluster) Siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa belajar bersama dengan siswa lain (normal) di kelas reguler dengan kelompok khusus. b) Kelas reguler dengan pull out Siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa belajar bersama siswa lain (normal) di kelas reguler, namun dalam waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruamg sumber (ruang khusus) untuk belajar mandiri, belajar kelompok, dan belajar dengan guru pembimbing khusus. 1) Kelas Khusus, dimana siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dan bakat istimewa belajar dalam kelas khusus. 2) Sekolah Khusus, dmana semua siswa yang belajar di sekolah ini adalah siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. 5. Lama Belajar Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan program belajar bagi siswa akselerasi atau yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa lebih cepat dibandingkan dengan siswa reguler. Pada satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD), dari 6 tahun dapat dipercepat menjadi 5 tahun. Sedangkan pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) masing-masing dari 3 tahun dapat dipercepat menjadi 2 tahun. 6. Persyaratan Peserta Didik Siswa yang diterima sebagai peserta program pecerpatan belajar danalah siswa yang memenuhi persyaratan sebagai berikut : a) Persyaratan Akademis, yang diperoleh dari skor rata-rata nilai Rapor, Nilai Ujian Nasional, serta Tes Kemampuan Akademis dengan nilai sekurang-kurangnya 8,00. b) Persyaratan Psikologis, yang diperoleh dari hasil pemeriksaan psikologis meliputi tes kemampuan intektual umum, tes kreativitas, an keterikatan pada tugas. Peserta yang lulus tes psikologis adalah mereka yang memiliki kemampuan intektual umum dengan kategori jenius (IQ ≥ 140) atau mereka yang memiliki kemampuan intektual umum dengan kategori cerdas (IQ ≥ 125) yang ditunjang dengan kreativitas dan keterikatan terhadap tugas dalam kategori di atas rata-rata. c) Informasi Data Subyektif, yanitu nominasi yang diperoleh dari diri sendiri (self nomination), teman sebaya (peer nomination), orangtua (parent nomination), dan guru (teacher nomination) sebagai hasil dari pengamatan dari sejumlah ciri-ciri keberbakatan. d) Kesehatan fisik, yang ditunjukkan dengn surat keterangan sehat dari dokter. e) Kesediaan calon siswa dan persetujuan orangtua. 7. Tenaga Pengajar/Guru Guru yang mengajar program akselerasi adalah guru-guru biasa yang juga mengajar di program reguler. Hanya saja sebelumnya mereka telah dipersiapkan dalam suatu lokakarya dan workshop sehingga mereka memiliki pemahaman tentang perlunya layanan menyusun pendidikan Program bagi anak-anak Kerja Guru berbakat, (PKG), keterampilan pemilihan strategi pembelajaran, penyususnan catatan lapangan, serta melakukan svaluasi pengajaran bagi Program Siswa Cepat. 8. Kurikulum Muatan materi kurikulum untuk program akselerasi tidak berbeda dengan kurikulum standar yang digunakan untuk program reguler. Perbedaannya terletak pada penyusunan kembali struktur program pengajaran dalam alokasi waktu yang lebih singkat. Program akselerasi ini akan menjadikan kurikulum standar yang biasanya ditempuh siswa SMU dalam tiga tahun menjadi dua tahun. Pada tahun pertama, siswa akan mempelajari seluruh materi kelas 1 ditambah dengan setengah materi kelas 2. Di tahun kedua, mereka akan mempelajari materi kelas 2 yang tersisa dan seluruh materi kelas 3. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam skema perbandingan berikut ini. Pengaturan kembali program pembelajaran pada kurikulum standar yang biasanya diberikan dengan alokasi waktu sembilan cawu menjadi enam cawu dilakukan tanpa mengurangi isi kurikulum. Kuncinya terletak pada analisis materi kurikulum dengan kalender akademis yang dibuat khusus. Seperti diketahui, untuk siswa yang berbakat intelektual dengan keberbakatan tinggi, tidak semua materi kurikulum standar perlu disampaikan dalam bentuk tatap muka dan atau dengan irama belajar yang sama dengan siswa reguler. Oleh karena itu, setiap guru yang mengajar di kelas akselerasi perlu terlebih dahulu melakukan analisis materi pelajarn untuk menentukan sifat materi yang esensial dan kurang. Suatu materi dikatakan memiliki konsep esensial bila memenuhi kriteria berikut ini: a) Konsep dasar b) Konsep yang menjadi dasar untuk konsep berikut c) Konsep yang berguna untuk aplikasi d) Konsep yang sering muncu pada Ebtanas e) Konsep yang sering muncuk pada UMPTB untuk SMU. Mata pelajaran yang diidentiikasi sebagai konsep-konseo yang esensial diprioritaskan untuk diberikan secara tatap muka, sedangkan materi-materi yang nonesensial, kegiatan pembelajarannya dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan mandiri. 9. Proses Pembelajaran Akselerasi Proses pembelajaran akselerasi merupakan suatu proses internalisasi pengetahuan dalam diri individu. Aktivitas belajar akan berlangsung efektif apabila seseorang yang belajar berada dalam keadaan positif dan bebas dari tertekan (presure). Selama ini proses belajar yang berlangsung di sekolah maupun program-program pelatihan yang diselenggarakan cenderung berlangsung dalam suasana yang monoton dan membosankan. Dalam kondisi ini guru hanya menuangkan ilmu pengetahuan ke dalam kepala siswa yang berlaku pasif yang dikenal denga istilah “pour and snoor”. Materi yang diajarkan hanya diceramahkan tanpa ada upaya untuk melibatkan potensi siswa untuk berpikir dan memberi respons terhadap pengetahuan yang ditransfer. Kadangkadang aktvitas belajar disertai dengan ancaman yang membuat siswa cenderung menjadi tertekan. Aktivitas belajar terpisah ini, jelas tidak akan membuat pembelajaran (learner) dapat menciptakan pengetahuan secara optimal. Agar dapat menyelesaikan permasalahan tersebut, banyak perubahan yang perlu dilakukan agar dapat membuat siswa mengembangkan potensi yang dimilikinya menjadi kompetensu aktual. Perubahan yang perlu dilakukan mencakup pengayaan strategi dan metode pembelajaran yang dapat menjadi proses belajar yang lebih baik bagi semua proses dan praktik pembelajaran, dan menjadikan semua proses pembelajaran yang menyenangkan (fun) dan dapat membuat semua siswa berkreasi dengan pengetahuan yang dipelajarinya. C. Mata Pelajaran IPS Mata pelajaran ekonomi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: Sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik,hokum dan budaya (Diknas,2004:3). Ilmu pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan indisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam membentuk warga negara yang baik. Ada tiga tujuan membelajarkan IPS kepada siswa, yaitu agar setiap peserta didik menjadi warga negara yang baik, melatih peserta didik berkemampuan berpikir matang untuk menghadapi dan memecahkan masalah sosial, dan agar peserta didik dapat mewarisi dan melanjutkan budaya bangsanya (Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2004: 15). Pada jenjang SMP, pencapaian tujuan yang demikian itu bukan merupakan pekerjaan yang mudah, karena (1) saat ini mata pelajaran IPS menjadi pelajaran yang dianggap kurang penting dibandingkan dengan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA; yang ditunjukkan melalui kenyataan bahwa IPS tidak lagi menjadi mata pelajaran yang diujikan secara nasional; (2) IPS juga diasumsikan oleh masyarakat dan kalangan guru sendiri sebagai pelajaran yang tidak menarik karena hanya bersifat hafalan, kurang menantang untuk berpikir, sarat dengan kumpulan konsep-konsep, pengertian-pengertian, data, atau fakta yang harus dihafal dan tidak perlu dibuktikan (Sanjaya, 2008:226); dan (3) adanya kenyataan bahwa mata pelajaran IPS di beberapa sekolah, khususnya sekolah-sekolah swasta, terkadang diajarkan oleh guru yang tidak memiliki basis IPS (Wasino, 2007). 8. Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan dugaan (conjectural) tentang hubungan dua variabel atau lebih. Jadi, hipotesis merupakan pernyataan atau jawaban tentatif atas masalah, yang kebenarannya perlu diverifikasi secara empiris. Berdasarkan apa yang menjadi permsalahan dalam penelitian ini, maka disusunlah hipotesis penelitian sebagai berikut: Hipotesis Umum: “ada pengaruh penerapan Program Akselerasi Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ips Siswa Smp 3 Pati Kabupaten Pati” Hipotesis Nol (H0:µ1= µ2) : Tidak terdapat pengaruh penerapan Program Akselerasi Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ips Siswa Smp 3 Pati Kabupaten Pati. Hipotesis Kerja (Ha:µ1≠ µ2) : Terdapat pengaruh penerapan Program Akselerasi Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ips Siswa Smp 3 Pati Kabupaten Pati. 9. Tempat Penelitian Lokasi atau tempat penelitian adalah di SMP Negeri 3 Pati yang beralamat di jalan kol. R. Sugiyono no. 17, kabupaten Pati 10. Waktu Waktu penelitian dimulai pada awal semester dan dilakukan observasi sampai akhir semester di tahun kedua pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. 11. Populasi Menurut Arikunto (1998:115) populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Sugiyono (2009: 61) mengemukakan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/ subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik simpulannya. Dari luasnya definisi populasi, maka penulis membatasi definisi populasi yang merupakan seluruh unit-unit yang darinya sampel dipilih, maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa akselerasi kelas sekolah bertaraf internasional di SMP Negeri 3 Pati Tahun Ajaran 2013/2014. 12. Sampel Menurut Sugiyono (2009: 62), sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sementara teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Adapun teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nonprobability sampling dengan purposive sampling (pengambilan sampel tujuan). Purposive sampling adalah pengambilan sampel berdasarkan penilaian subjektif peneliti berdasarkan pada karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai kaitan dengan karakteristik yang sudah diketahui sebelumnya dengan pertimbangan tertentu. Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar IPS siswa kelas VII dan VIII akselerasi. Jumlah siswa kelas VII adalah 16 siswa dan siswa kelas VIII adalah 15 orang. Penulis menetapkan seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian. Sampel penelitian untuk masing-masing kelas secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1 Penyebaran Anggota Populasi Penelitian No Populasi Kelas L P Jumlah 1. VII (Akselerasi) 4 12 16 2. VIII (Akselerasi) 6 9 15 10 21 31 Jumlah 13. Variabel Masalah yang akan diteliti terdiri atas variabel bebas (X) yaitu program akselerasi, serta variabel terikat (Y) hasil belajar mata pelajaran IPS, kemudian akan diteliti apakah terdapat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Keterkaitan antara variabel bebas dan terikat dalam penelitian ini digambarkan dalam desain penelitian sebagai berikut: Tabel 2 Desain penelitian Variabel bebas Siswa Kelas Akselerasi Variabel terikat (X) Hasil belajar geografi Aspek Penguasaan Konsep dan Penerapan XY Konsep (Y) 14. Instrumen Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Suharsimi Arikunto (2007: 134) mengemukakan bahwa: “kualitas instrumen akan menentukan kualitas data yang terkumpul, ... menyusun instrumen bagi kegiatan penelitian merupakan langkah penting yang harus dipahami betul-betul oleh peneliti. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu berupa dokumen studi dokumentasi. Pada dokumen ini disusun atau ditentukan dokumen-dokumen apa saja yang diperlukan sebagai sumber data penelitian seperti hasil tes seleksi, transkrip nilai, laporan hasil belajar (rapor) legger, dan data-data lain yang diperlukan. Selain itu juga dibuat pedoman wawancara berupa kisi-kisi atau lembar wawancara yang berisi catatan apa saja pertanyaan yang akan diajukan kepada sumber data (terwawancara) mengenai informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian. Adapun yang menjadi sumber datanya adalah kepala sekolah SMP Negeri 3 Pati, guru, dan wali kelas yang bersangkutan dengan variabel penelitian. 15. Analisis Data Analisis data dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian atau untuk menguji hipotesis-hipotesis penelitian yang telah dinyatakan sebelumnya. Setelah data diperoleh melalui studi dokumentasi dan wawancara, kemudian data tersebut diolah dalam bentuk tabel dengan menggunakan teknik deskriptif dan teknik komparatif. Metode analisis data yang relevan dalam penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. a. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data perolehan prestasi belajar siswa dalam penelitian seperti nilai rata-rata (Mean), nilai tengah data (Median), nilai modus (Mode), Variansi (Variance), simpangan baku (Standard Deviation), nilai terendah data (Minimum) dan nilai tertinggi data (Maksimum). b. Statistik Inferensial Statistik inferensial/ analitik digunakan peneliti untuk menetapkan sejauh manakah dapat menyimpulkan (menggeneralisasi) hasil penelitian dari data yang diperoleh dalam kelompok subjek yang terbatas (sampel) bagi populasi penelitian. Dalam penelitian ini digunakan analisis inferensial untuk menentukan apakah hipotesis diterima atau ditolak dan mngukur signifikasni rata-rata antara sampel yang diteliti yaitu dengan uji-t tepatnya uji-t dua sampel (Independent sample T-Test).

Judul: Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Geografi Universitas Negeri Semarang

Oleh: Johanes Mingge


Ikuti kami