Membuat Cerita Berdasarkan Realita Dan Informasi Siti Maulida Nim: E1041151074 Fakultas Ilmu Sosial...

Oleh Siti Maulida

126,8 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Membuat Cerita Berdasarkan Realita Dan Informasi Siti Maulida Nim: E1041151074 Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Program Studi Sosiologi Universitas Tanjungpura Pontianak 2015 Karena Bersama Tidak Harus Sama

Membuat Cerita Berdasarkan Realita dan Informasi TUGAS Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Nilai Mata Kuliah Pengantar Antropogi Dosen : ( Dr. Muhil Shonhadji, M. Si ) Oleh: Siti Maulida NIM: E1041151074 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Sosiologi UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2015 KARENA BERSAMA TIDAK HARUS SAMA Aku bukan lagi kenyang merangup kisah hidup gadis kelahiran Ambawang 16 Mey 1996 ini. Bahkan begah dan jenuh. Seluruh panca indraku bereaksi ketika berhadapan dengannya. Terlebih ketika ia bercerita dan mulai menyenandungkan seruan hati kecilnya kepadaku. Berbagai konflik dan realita dikehidupannya bahkan yang termasuk privasi hidupnya pun tidak canggung untuk ia curahkan. Menjalin persahabatan dengannya selama tiga tahun silam membuatku khatam betul gerak-gerik dan perangai nya. Gadis ini bernama Mayalinda. Rambutnya ikal dan berkulit sawo matang. Ia merupakan anak peratama dari dua bersaudara, adik bungsunya laki-laki yang sekarang masih berusia 10 tahun. Dilahirkan dari kedua orang tua yang berbeda kepercayaan. Ayahnya beragama Kristen dan dari etnis cina sementara ibunya beragama Budha dan dari etnis dayak. Sebagaimana kedekatan seorang anak terhadap ibunya. Lantas ia pun memeluk agama yang sama seperti ibunya. Ia dan keluarga kecilnya bertempat tinggal di salah satu desa yang ada di Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kuburaya bersama nenek dan kakek orang tua dari ayahnya. Ia dibesarkan dilingkungan masyarakat yang dominannya merupakan muslim. Dimana teman-teman sepermainannya pun rata-rata muslim termasuklah aku. Hal Itu mulai aku ketahui sejak kami masih duduk di jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Disitulah aku mulai mengenal sosoknya. Saat itu kami memang sekelas , dia menjabat sebagai bendahara dan aku sekretarisnya. Kami duduk amat sangat berjauhan. Dia di pojok kiri dekat jendela bersama teman-teman karibnya, sedangkan aku di pojok kanan di dekat pintu kelas dengan siapapun yang bisa membuatku merasa nyaman. Saat itu kami belum begitu akrab. Bicara pun ketika berkeperluan saja. Ya… Indah ini merupakan salah satu siswi paling aktif dikelas. Ia sering sekali menjadi trending topic para siswa siswi disekolah. Bukan saja karna prestasinya, tetapi juga karna sikapnya yang secara tidak langsung membuat posisi siswa-siawi lain menjadi terancam. Sikapnya yang begitu aktif, senang mencari perhatian guru dan selalu menunjukan kebolehan dirinya membuat penilaian-penilaian negatif mulai mencemarinya. Namun tak sedikit pula yang beranggapan bahwa itu merupakan bagian dari usaha seseorang untuk mengukir prestasi. Contohnya ketika selesai mengumpulkan tugas dan tahu bahwa nilai yang ia peroleh begitu menakjubkan, ia senang sekali membandingkan nilai tersebut dengan siswa-siswi sekelas. Modus nya sok-sokan seperti orang sedang mensurvei . “ Yang dapet nilai 100 berapa orang sih?” “ Yang 90… 90…?” Hal ini ia lakukan tentu dengan maksud ingin mengetahui siapa saja saingannya dan seberapa mampu ia mengalahkan saingannya tersebut. Anehnya hal ini justru berbanding terbalik ketika nilai yang diperolehnya begitu menyedihkan. Dia malah terdiam seribu bahasa seolah tidak ada yang namanya stratifikasi nilai tugas yang selama ini ia budayakan setiap selesai menerima hasil tugasnya. Begitupun ketika guru masuk dan bertanya apakah ada PR atau tidak. Pertanyaan yang begitu dihindari oleh mereka siswa-siswi malas dan juga siswa-siswi pengidap amnesia akut di ruang kelas. Pertanyaan yang begitu angker dan ketika dilontarkan laksana petir di siang bolong. Tentu tak berlaku bagi Indah , siapa lagi yang paling bersemangat menjawab pertanyaan itu. Dengan semangat45 yang berkobar. Indah menjawab dengan berdiri “Ada Pak!” jawaban yang walaupun tidak diutarakan dengan berteriak namun menggema di telinga-telinga para pemalas. Membuat siswa-siswi yang bermasalah dengan pekerjaan rumahnya menganga dan melotot, juga berbagai reaksi lainnya. Ada yang memandang sinis kearah Indah. ada yang tertawa karna mungkin menganggap itu suatu hal yang aneh dan berlebihan, ada pula yang mendadak seolah serangan jantung. Begitulah Indah tiga tahun yang lalu. Tidak begitu indah seperti namanya. Datang kesekolah dengan rambut seolah tidak disisir. Berjalan sendiri di lorong sekolah sambil membaca buku dengan kacamata dipelipis hidungnya. Rambut yang terurai panjang hingga ke punggung melambai- lambai dimainkan angin. Seragamnya tidak pernah disetrika. Masuk ke kelas tanpa sapa dan duduk dengan menunduk fokus ke bukunya. Seperti tak punya selera humor. Bahkan aku tak pernah melihat kurva di wajahnya itu melengkung bahagia. Satu peristiwa yang begitu ku ingat. Waktu pengumuman kelulusan dan kami datang dengan wali kami masing-masing. Saat itu Indah datang bersama ayahnya. Tampak wajar dan sama seperti ayah-ayah lainnya. Ia mengenakan batik bercorak burung enggang khas Kalimantan. Kali ini indah tampak berbeda. Rambutnya rapi mengkilap, bajunya licin disetrika, rautnya berseriseri. Gadis yang mendapat juara pertama dua tahun berturut-turut ini tentunya menantikan hasil ujung perjuangannya selama tiga tahun. Ketika saat pengumuman tiba, Kepala sekolah kami pun mulai membacakan urutan rangking sepuluh besar. Alhasil dari urutan sepuluh hingga ke tiga nama Indah belum juga disebut. Rasa percaya dirinya pun meningkat bercampur dengan rasa takut. Kepala sekolah semakin melambatkan pengumumannya, menambah keteganganku dan siswa siswi lain. Dan ternyata 3 rangking teratas jatuh kepada siswa laki-laki yang justru begitu terkenal dengan kenakalannya. Indah seolah tidak percaya, ditengah kebahagiaan siswa-siswi yang saling berpelukan atas kelulusan 100% yang diraih sekolah kami. Dia tampak linglung, wajahnya pucat pasi, plangak-plongok melihat kiri kanan. Dia tampak sedang mencari seseorang. Ya… siapa lagi kalau bukan ayahnya yang saat itu tiba-tiba keluar dengan wajah seperti menelan sesendok garam. Makanan yang dibagikan pun tidak ia cicipi sedikitpun. Dahiku mengkerut mengamatinya, rasa penasaran membawaku mengikuti langkah Indah menyusul ayahnya waktu itu . “Pak, tunggu !” Namun lelaki paruhbaya itu terus berjalan menuju parkiran tempat iya memarkir motornya. Langkahnya terhenti ketika putri sulungnya itu menghalangi jalannya. “Pak, maafin indah” Indah menangis dan berlutut di kaki ayahnya, roknya basah karna saat itu kondisi halaman yang sedikit tergenag air. Bukannya mengangkat anaknya untuk berdiri. Ayah yang masih memerah wajahnya itu malah menepis kaki kanannya hingga membuat indah jatuh. Indah menangis namun semakin pilu. Tapi sang ayah seperti tak berbelas kasih terhadap anaknya tersebut. Dan sekarang tak hanya rok nya yang basah tapi juga baju di lengan kanannya. Mataku terbelalak , padahal hanya gagal mendapat juara umum sekali namun dihujat seolah tidak lulus dan gagal bertahun-tahun. “Lalu untuk apa kamu belajar semalaman jika ini hasilnya? Seharusnya bapak tidak hadir mewakilimu hari ini. Bapak malu dengan hasil ujianmu ndah! Bisanya kamu hanya menghabiskan uang orang tuamu saja”. Hujatnya sambil menunjuk-nunjuk kearah indah. Aku memutar hadapanku dan berniat untuk melaporkan kejadian ini agar dapat segera ditangani sebagaimana mestinya. Namun ternyata hiruk-pikuk yang terjadi di luar ruangan ini juga disadari oleh salah satu staff tata usaha sekaligus tenaga pengajar disekolah kami yaitu Pak Irwan. Ia berlari dan menghampiri keduanya. “ Sudahlah pak.” Pak Irwan setengah merangkul pundak ayah Indah. Tadinya berniat untuk menetralkan keadaan. Tapi apa respon dari ayah Indah, Pak Irwan malah kecipratan getah dari permasalahan tersebut. “Anda jangan ikut campur pak!” tegas ayah indah. “Iya.. tapi ini masih di lingkungan sekolah pak, malu dilihat banyak orang. Lagi pula Indah kan sudah berusaha, gagal juara itu hal yang lumrah pak, karena orang tak mungkin selalu diatas bukan?.” Ujar Pak Irwan “Saya tau!” nada bicaranya melemah. “Bukankah sekolah ini mengedarkan kunci jawaban kepada peserta ujiannya? Iyakan? Lalu kenapa nilai anakku tetap saja pas-pasan? Itupun tidak gratis, percuma saja mengeluarkan uang tapi tidak menghasilkan apa-apa, nilai anakku malah lebih bagus ketika ia tidak menggunakan kunci jawaban itu” tuturnya panjang. Pak Irwan tentu saja kaget mendengar ucapan ayah Indah mengenai kunci jawaban yang dimaksud. Padahal kedua belah pihak sebelumnya sudah berjanji untuk merahasiakannya. Ungkapan ayah Indah memacu degup jantung Pak Irwan semakin kencang. Bagaimana tidak ? jika saja hal itu sampai ketelinga masyarakat, bisa tamat riwayatnya. Pak Irwan hanya terdiam, sementara Indah dan Ayahnya berlalu pulang. Kejadian ini merupakan salah satu yang membuatku bertanya-tanya tentang kehidupan Indah. Dan semua terjawab ketika kami dipertemukan lagi pada saat melanjutkan pendidikan di jenjang sekolah menengah atas (SMA). Kami sekelas lagi bahkan kali ini duduk bersama dalam satu meja. Kali ini dia mengajukan diri sebagai ketua kelas dan aku tetap setia menjadi sekretarisnya. Semenjak saat itulah persahabatan kami terjalin, dan aku mulai menemukan perbedaan yang luar biasa pada seorang Indah. Ia ternyata begitu humoris dan terbuka, tidak seperti tiga tahun lalu yang terlihat misterius. Ia pun mulai bisa merawat dirinya dan lebih memperhatikan penampilannya. Kedekatan ini membuatku semakin mengenalnya lebih jauh. Menguak satu persatu realita di kehidupannya. Lewat peristiwa yang aku saksikan langsung maupun yang ia ceritakan. Indah tidak seperti anak remaja pada umumnya. Meskipun tinggal di pelosok desa, namun pergaulannya begitu dibatasi oleh keluarganya. Kenapa? Karna itu tadi, ia begitu sering bergaul dengan mereka-mereka yang tidak seiman. Hal yang tidak mungkin bisa ia elakkan. Sedangkan dari lingkungan rumah sampai lingkungan sekolah pun ia menjadi seorang minoritas. Kekangan dari keluarganya itu semakin ia rasakan semenjak ditinggal wafat oleh sang ibunda tercinta. Beliau wafat karena menderita komplikasi jantung. Tentu saja itu sangat membuatnya terpukul. Kehilangan satu-satunya pembela dan pemberi kasih sayang sepenuhnya dirumah. Dan saat itu, dia harus kembali beradaptasi, ibaratkan sebuah bulu putih dikulit domba hitam. Dimana dirumahnya sekarang hanya ia sendiri yang beragama Budha sedangkan yang lainnya Kristen. Sewaktu jam istirahat sekolah ia pernah bercerita padaku “Dulu sewaktu Ibuku masih hidup, beliau bangun pagi sekali untuk berdo’a. Dalam do’anya ia selalu menangis, lalu setelah sembahyang ia tidak lupa memelukku dan berpesan agar aku tidak lupa berdo’a kepada Tuhan. Tapi semenjak Ibuku tiada, dirumahku sendiri aku seperti dikucilkan oleh keluargaku. Ketika suatu pagi, waktu itu wafatnya Ibuku genap enam hari, aku sangat merindukannya hingga mungkin suara tangisku ketika bedo’a terdengar sampai ke kamar sebelah yaitu kamar nenekku. Lantas ia datang dan mengetok pintu kamarku lalu memberikan isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di mulutnya dan mengatakan “Mau sampai kapan kau ikuti ajaran Ibumu itu”. Padahal waktu itu aku hanya berdo’a dengan tersedu-sedu bukan pula histeris, aku pun bingung kenapa ia selalu melarangku menagis dan berdo’a seperti itu, keesokan harinya aku malah diajak kegereja” begitu ujarnya. Lalu apa yang terjadi ketika perayaan hari raya dirumah itu? pertanyaan seperti itu lantas muncul dibenakku. Dan seperti ini jawaban Indah ketika aku benar-benar menanyainya perihal itu “Aku merayakan keduanya, hanya saja kami tetap beribadah pada tempat kami masing-masing. Meskipun sering dipaksa meninggalkan wasiat itu tapi keyakinanku tak bisa berubah, walau tak dapat aku pastikan berapa lama aku sanggup bertahan di tengah perbedaan ini”. Jelasnya. Tidak hanya itu, aku pun pernah membuat badai di rumah itu. Ketika bersilahturahmi dan tidak sengaja sebuah foto yang terselip dibuku catatanku jatuh dari tas. Foto dimana aku dan Indah duduk berdua di sebuah taman bacaan. Bukan duduk berdua yang menjadi masalahnya, Tapi pada foto itu Indah mengenakan khimar dan jilbab ,dan lebih masalahnya lagi adalah foto itu dilihat oleh neneknya Indah. Orang yang paling berkuasa untuk hal apapun di rumah itu. Lantas apa yang terjadi ? dua beranak cucu tersebut mengoceh-ngoceh dengan bahasa cina yang sama sekali tidak aku pahami. Nada bicara mereka seperti petasan perayaan tahun baru. Dengan raut tidak menyenangkan sesekali ia menoleh ke arahku. Lalu berakhir dengan moment ekstrim ketika ia menyobek-nyobek foto yang diambil ketika kami belajar kelompok itu menjadi sampah. Neneknya tidak mau jikalau cucu perempuannya itu sampai berpindah ke agama Islam. Bagaimana cara mencegahnya? Ya itu tadi .. kedekatanku dengan Indah dibatasi, Indah tidak boleh sering bersamaku, dan sejak moment itu lah aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki dirumahnya. Memang Indah banyak sekali terpengaruh dengan peradaban kami, terlebih disekolah. Aku tak pernah menyuruh apalagi mempengaruhinya mengenakan hijab ,tetapi itu adalah keinginannya sendiri waktu itu, dan tentu dengan senang hati aku akan mendukungnya untuk hal-hal positif. Karena hidup dilingkungan seperti itu maka bukanlah kemustahilan pabila ia mencintai orang-orang itu juga. Indah begitu sering menjalin hubungan dengan teman-teman sekelas. Lagi-lagi yang tidak seiman. Maka pada suatu kesempatan aku pun diintrogasi oleh bibinya perihal tersebut. “Apa benar Indah pacaran dengan Rizki?” Tanya beliau “Benar tante?” jawabku “Apa sebelumnya dia juga pernah pacaran dengan yang lain?” “Pernah tante?” Aku tidak berani menjawab panjang lebar karna meng iyakannya saja membuat Indah seperti kebakaran jenggot. “Sudah berapa lama ia pacaran?” “Wah kalo itu ..saya kurang tau tante” “Lalu apalagi yang kamu tau?” “Saya ndak tau apa-apa tante?” “Jangan bohong kamu” Tegasnya “Benar tante, saya tidak tau menau tentang siapa saja mantan pacarnya”. Aku melirik kearah indah yang sepertinya mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Memang semenjak SMA prestasinya bukan malah semakin membaik . Juara 1 2 3 bahkan jarang ia pegang seperti dulu. Tentu itu pun menjadi perhitungan keluarganya saat ia mulai pacaran,apalagi dengan mereka yang tidak seiman itu. Sampai lah ketika kami lulus di SMA . Kekangan itu bukan malah berhasil mengeluarkan Indah justru malah membuatnya semakin dekat dan mengenal muslim. Ia hendak dilamar oleh mantan pacar terakhirnya itu yang mana adalah seorang muslim pula. Bersama muslim memang menjadi habits seorang Indah. Bahwa sebenarnya pun pabila kita ingin mengelakkan suatu yang berbeda di muka bumi ini, maka hendaknya membuat bumi atas kaum kita sendiri. Terlebih manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan tidak satu pula kepercayaan yang ada di dalamnya. Maka agama, suku, budaya,adat istiadat , bukanlah satu alasan untuk berhenti menjadi makhluk yang membutuhkan orang lain meski dalam keterbedaan latar belakang dan kepercyaan. Karna itu tadi, kebersamaan tak mewajibkan kita untuk menjadi sama seperti mereka. SELESAI Membuat Cerita Berdasarkan Realita dan Informasi TUGAS Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Nilai Mata Kuliah Pengantar Antropogi Dosen : ( Dr. Muhil Shonhadji, M. Si ) Oleh: Nurbani NIM: E1041151095 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Sosiologi UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2015

Judul: Membuat Cerita Berdasarkan Realita Dan Informasi Siti Maulida Nim: E1041151074 Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Program Studi Sosiologi Universitas Tanjungpura Pontianak 2015 Karena Bersama Tidak Harus Sama

Oleh: Siti Maulida

Ikuti kami