Pengaruh Menonton Tayangan Kekerasan Pada Tingkat Imitasi Perilaku Remaja Disusun Untuk Memenuhi Tug...

Oleh Yudistira Yusran

258,4 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Pengaruh Menonton Tayangan Kekerasan Pada Tingkat Imitasi Perilaku Remaja Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

PENGARUH MENONTON TAYANGAN KEKERASAN PADA TINGKAT IMITASI PERILAKU REMAJA Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif Dosen Pengampu: Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn. Disusun oleh : Kunto Jati P 115120207111067 Winda Rahmadewanti 115120207111009 Yudistira Yusran 125120209111001 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang 2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Televisi pada zaman dulu dianggap sebagai sumber berita yang utama. Satu – satunya alasan menonton televisi adalah untuk mendapatkan berita terkini yang akurat. Makin kesini tayangan televisi mulai bergeser. Kontennya bukan lagi hal – hal yang mengedukasi (walau konten edukasi masih ada). Sekarang banyak kita temui adegan kekerasan yang tayangkan di televisi. Kadang tayangan kekerasan itupun ada di kartun anak. Contohnya saja Spongebob, Doraemon, Shin-Can. Walaupun pihak televisi telah memberikan kategori program seperti yang diatur dalam Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) pasal 21 dan pasal 33 tahun 2012, tetapi itu tidak menjamin ketaatan dari penonton. Pengawasan dari orang tua pun kerap kali kendur. Televisi sebagai salah satu fasilitas di rumah memiliki berbagai kelebihan baik dari sisi programatis maupun teknologis. Dengan kelebihan dan kekuatannya, televisi diduga memberikan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan anak, baik yang sifatnya positif maupun negatif. Salah satu sisi dampak positifnya adalah televisi dapat memberikan hiburan (rasa senang, kesegaran dan kebahagiaan) informasi dan nilai-nilai pendidikan bagi anak. Melalui televisi anak mengenal lingkungan dan masyarakat lain, dan belajar dari hal-hal yang tidak diperoleh anak di rumah dan di sekolah. Namun disisi lain televisi kadang justru diduga dapat berdampak negatif terhadap anak. Kalau diperhatikan menu dari acara televisi, terutama dalam penyajian film-filmnya, hal itu dapat dinilai cenderung pada hal yang bersifat negatif destruktif. Dapat dikatakan demikian karena film sering menyajikan adegan kekerasan, eksploitasi sexual dan sebagainya. Anak tak jarang mengidentifikasikan (menyamakan) dirinya dengan pelaku-pelaku dalam cerita itu yang cocok dengan dirinya Di awal tahun 2000-an, masyarakat Indonesia dihebohkan oleh tayangan gulat bebas dari Amerika yang berjudul WWE (World Wrestling Entertainment) Smack Down. Acara ini ditayangkan pada Jumat malam dan tonton oleh mayoritas kaum lelaki. Tapi dengan banyaknya laporan tentang anak – anak dan remaja yang memperagakan gerakan dan menirukan kata – kata kotor dalam tayangan tersebut, WWE Smack Down diganti jam tayang menjadi lebih larut. Sekarang WWE Smack Down sebenarnya tetap ada, akan tetapi sudah dilarang untuk ditanyangkan di Indonesia. Selain tayang langsung di TV, WWE Smack Down ini juga membuat game yang berbasis pada acara aslinya Menonton televisi/film memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan hatinya yang terpendam, akibatnya anak akan meniru adegan tersebut seperti suka memukul, membangkang perintah orang tua, mencuri, menipu, merusak barang orang lain dan sebagainya. Anak-anak yang mempunyai tingkah laku seperti diatas itu termasuk tingkah laku yang bermassalah. Tingkah laku yang bermassalah mencakup berbagai macam tingkah laku yang sangat banyak ciri-ciri. Tingkah laku itu juga berbeda dalam akibat yang ditimbulkan pada lingkungan ataupun pada anaknya sendiri. Anak yang pemalu dan ketakutan misalnya, tidak merugikan lingkungan. Namun anak tersebut mudah menjadi ejekan teman-temannya dan cenderung menjadi depresif. Sedangkan pada perilaku agresif maka lingkungannya yang terganggu. Disamping itu maka perilaku agresif tadi merupakan tanda-tanda kuatakan tingkah laku delinkuen/ kenakalan anak dikemudian hari. Kenakalan anak merupakan proses kejiwaan yang penuh gejolak yang harus dilalui untuk mencapai pematangan pola berfikir dan berperilaku pada saat mereka dewasa. Kadangkadang, kenakalan anak membuat orang tua merasa bingung. Massa disorganisasi jiwa anakanak merupakan massa transisi anak-anak menuju massa remaja. Kondisi jiwa yang tak stabil membuat getaran batin yang tak tenang, kemudian perilaku anak menyimpang dari normanorma kehidupan. Anak pada usia antara 15-20 tahun adalah remaja yang sedang mencari jati diri terutama siswa-siswi SMP. Siswa-siswi SMP pada usia ini, remaja mulai merasa memiliki hak untuk meniru, mulai belajar mengidentifikasi masalah dan cenderung mengikuti perilaku orang dewasa. Remaja sangat rentan mengalami sifat yang cenderung bertindak dahulu tanpa memikirkan akibatnya. Tingkat kognisi juga memberikan pengaruh yang besar bagi apapun yang dilakukan pada usia mereka sekarang ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di usia SMP ini merupakan fase metamorphosis seorang anak menjadi sosok yang lebih dewasa. Dalam tahap ini, remaja cenderung menjadi lebih agresif. Berkowitz (1995) mengatakan bahwa perilaku agresif adalah suatu tindakan, ucapan baik secara langsung maupun tidak langsung menyakiti atau merugikan orang lain. Dalam perilaku agresif terdapat unsur niat, atau unsur kesengajaan dalam melakukan perilaku yang merugikan orang lain. Lekatnya anak – anak dan remaja zaman sekarang pada TV dan internet dikhawatirkan dapat menjadi suatu ajang pengimitasian. Dalam social learning theory, manusia cenderung untuk mengamati lalu mengimitasi atau menirukan kejadian – kejadian yang ada di sekitarnya (dalam hal ini, tayangan kekerasan di TV). Seperti percobaan Bobo Doll yang dilakukan oleh Albert Bandura. Dimana ada dua orang anak yang ditemani mainan dan boneka Bobo ditempatkan di ruangan yang berbeda dan mendapatkan tayangan yang berbeda. Satu ditunjukkan tayangan kasih sayang dan yang lain ditunjukkan tayangan aksi. Hasilnya, anak yang ditunjukkan tayangan kasih sayang, mainan dan bonekannya utuh. Berbeda dengan anak yang tinjukkan tayangan aksi. Mainan dan bonekannya rusak karena anak tersebut menirukkan apa yang ada di tayang yang ia tonton. Seringnya terjadi tawuran antar remaja atau penindasan di kalangan remaja dinilai berkaitan dengan seringnya penanyangan acara – acara yang mengandung adegan – adegan kekerasan. Selain agresifitas dalam perilaku, sering kita temui anak – anak atau remaja yang juga menirukan kata – kata kasar yang aktor ucapkan. Kata – kata sumpah serapah baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa asing. Sebagai contoh kalimat yang sering muncul di tayangan – tayangan kekerasan asing adalah “What the fuck?”. Dalam tayangan – tayangan kekerasan Indonesia kata yang paling sering diucapkan berhubungan dengan hewan tertentu (anjing, babi, monyet) dengan nada tinggi untuk menekankan emosi pada kata tersebut. Disini peneliti ingin mengetahui adanya hubungan antara tingginya tingkat tayangan kekerasan yang ditonton oleh remaja dengan tingkat peniruan (imitasi) di kehidupan sehari hari. 1.2 Rumusan Masalah Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. Berdasarkan latar belakang yang telah kami jelaskan mengenai Pengaruh Menonton Tayangan Kekerasan Pada Tingkat Imitasi Perilaku Remaja , maka rumusan masalah yang akan kami bahas yaitu: 1. Adakah keterkaitan antara tingginya tingkat tayangan kekerasan yang ditonton oleh remaja dengan tingkat imitasi perilaku mereka (sering mengumpat, sering berkelahi, terobesi untuk menjadi seperti yang ada di tayangan yang mereka tonton)? 2. Apa akibat dari tingginya tingkat tayangan kekerasan yang ditonton oleh remaja dengan tingkat imitasi perilaku mereka (sering mengumpat, sering berkelahi, terobesi untuk menjadi seperti yang ada di tayangan yang mereka tonton)? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Mengetahui keterkaitan antara tingginya tingkat tayangan kekerasan yang ditonton oleh remaja dengan tingkat imitasi perilaku mereka. 2. Mengetahui akibat dari tingginya tingkat tayangan kekerasan yang ditonton oleh remaja dengan tingkat imitasi perilaku mereka. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat akademis (bagi penulis dan pembaca) dan Praktis yang diperoleh : 1. Manfaat akademis Agar penulis tidak hanya mengetahui secara teori mengenai metode penelitian, namun penulis juga dapat mendalami lebih jauh implementasi dalam penerapan penelitian. 2. Manfaat Praktis: Menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan, serta bahan dalam penerapan ilmu metode penelitian, khususnya metode kuantitatif yang dijadikan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Remaja Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, perubahan psikologis, dan perubahan sosial. Remaja sering kali didefinisikan sebagai periode transisi antara masa kanak-kanak ke masa dewasa, atau masa usia belasan tahun, atau seseorang yang menunjukkan tingkah laku tertentu seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya dan sebagainya. Kartini Kartono (1995: 148) “masa remaja disebut pula sebagai penghubung antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa”. Pada periode ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsi-fungsi rohaniah dan jasmaniah, terutama fungsi seksual. Disisi lain Sri Rumini dan Siti Sundari (2004: 53) “menjelaskan masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa”. World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja dalam (Sarlito Wirawan Sarwono, 2006: 7) adalah suatu masa ketika: a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. b. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri. Berdasarkan beberapa pengertian remaja yang telah dikemukakan para ahli, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja adalah individu yang sedang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial. 2. Batasan Usia Remaja Terdapat batasan usia pada masa remaja yang difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku dewasa. Menurut Kartini Kartono (1995: 36) dibagi tiga yaitu: a. Remaja Awal (12-15 Tahun) Pada masa ini, remaja mengalami perubahan jasmani yang sangat pesat dan perkembangan intelektual yang sangat intensif, sehingga minat anak pada dunia luar sangat besar dan pada saat ini remaja tidak mau dianggap kanak-kanak lagi namun belum bisa meninggalkan pola kekanak-kanakannya. Selain itu pada masa ini remaja sering merasa sunyi, ragu-ragu, tidak stabil, tidak puas dan merasa kecewa. b. Remaja Pertengahan (15-18 Tahun) Kepribadian remaja pada masa ini masih kekanak-kanakan tetapi pada masa remaja ini timbul unsur baru yaitu kesadaran akan kepribadian dan kehidupan badaniah sendiri. Remaja mulai menentukan nilai-nilai tertentu dan melakukan perenungan terhadap pemikiran filosofis dan etis. Maka dari perasaan yang penuh keraguan pada masa remaja awal ini rentan akan timbul kemantapan pada diri sendiri. Rasa percaya diri pada remaja menimbulkan kesanggupan pada dirinya untuk melakukan penilaian terhadap tingkah laku yang dilakukannya. Selain itu pada masa ini remaja menemukan diri sendiri atau jati dirnya. c. Remaja Akhir (18-21 Tahun) Pada masa ini remaja sudah mantap dan stabil. Remaja sudah mengenal dirinya dan ingin hidup dengan pola hidup yang digariskan sendiri dengan keberanian. Remaja mulai memahami arah hidupnya dan menyadari tujuan hidupnya. Remaja sudah mempunyai pendirian tertentu berdasarkan satu pola yang jelas yang baru ditemukannya. Remaja memelukan media katarsis dalam proses perkembangannya. Teori Katarsis pertama kali diperkenalkan pada kisaran awal tahun 1960 dalam tulisan berjudul The stimulating versus catharsis effect of a vicarious aggressive activity yang dipublikasikan dalam journal of abnormal social psychology. Konsep teori ini berdiri diatas psikoanalisa Sigmund freud, yaitu emosi yang tertahan bisa menyebabkan ledakan emosi yang berlebihan, maka dari itu diperlukan sebuah penyaluran atas emosi yang tertahan tersebut. Penyaluran emosi yang konstruktif ini disebut dengan katarsis. Katharsis yang merupakan penyaluran emosi dan agresi yang bias berupa kekesalan, kesedihan, kebahagiaan, impian dan lainnya ini dilakukan dengan pengalaman wakilan (vicarious experience) seperti mimpi, lelucon, fantasi atau khayalan. Dalam konteks ini, seseorang tidak melakukan penyaluran emosi dan agresi-nya secara nyata oleh individu tersebut, melainkan dilakukan hanya melihat atau membayangkan sesuatu tersebut dilakukan, atau dengan istialah lain yaitu pengalaman wakilan. Seperti contoh ketika seorang remaja menonton smack down, remaja tersebut membayangkan dirinya adalah seorang pemain smack down dengan ditonton oleh ribuan penonton. Dari definisi di atas karena remaja yang sedang mencari jati diri mereka, mereka membayangkan tokoh atau sosok yang dianggap keren atau menjadi panutan mereka. Sosok yang dijadikan panutan tersebut yang terlalu melekat didalam benak remaja yang membuat mereka menirukan apa yang dilakukan dari sosok tersebut. 2.2 Kekerasan Dalam Media Kekerasan berarti penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan salah. Menurut WHO (dalam Bagong. S, dkk, 2000), kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak. Tidak hanya itu saja kekerasan juga ada yang berupa kekerasan seksual. Kekerasan seksual sendiri merupakan bentuk kontak seksual atau bentuk lain yang tidak diinginkan secara seksual. Kekerasan seksual biasanya disertai dengan tekanan psikologis atau fisik (O’Barnett et al., dalam Matlin, 2008). Perkosaan merupakan jenis kekerasan seksual yang spesifik. Perkosaan dapat didefiniskan sebagai penetrasi seksual tanpa izin atau dengan paksaan, disertai oleh kekerasan fisik (Tobach,dkk dalam Matlin, 2008). Menurut Dwyer (dalam Jahja & Irvan, 2006) menyatakan bahwa sebagai media audiovisual, televisi mampu merebut 94% saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia lewat mata dan telinga. Televisi juga berkemampuan membuat seseorang pada umumnya, mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dari layar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum seseorang akan mengingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah 3 (tiga) jam kemudian, dan 65% setelah 3 (tiga) hari kemudian. Menurut Baron, Byrne, & Branscombe (2006), ketika menonton televisi, individu dapat mengidentifikasikan diri terhadap tokoh dalam tayangan program televisi tersebut. Dalam hal ini, adanya sebuah reaksi emosional yang muncul terhadap kegembiraan (joys), dukacita (sorrows), dan ketakutan (fears) yang dialami oleh tokoh tersebut. Selain itu dampak lain dari tayangan kekerasan yang berulang-ulang adalah munculnya rasa ketidakpekaan terhadap kekerasan. Para remaja yang cukup sulit untuk mencari identitas diri mereka apabila melihat tayangan kekerasan berulang-ulang maka mereka melihat hal itu seakan menjadi hal yang biasa. Mereka juga menjadi tidak peduli terhadap kekerasan yang terjadi di dunia nyata. Inilah yang disebut dengan efek desensitisation tayangan kekerasan di televisi (Pikiran Rakyat, 2006). Efek desensitisation adalah pengurangan respon emosional terhadap kekerasan di televisi. Artinya, individu menjadi resisten terhadap rasa sakit dan penderitaan orang lain, terdapat penerimaan kekerasan sebagai realitas yang wajar dalam kehidupan sehari-hari (Baron & Byrne, 2000). Sebagai contoh, apabila terjadi suatu perkelahian maka yang kita lakukan hanya diam dan menonton saja. Kita melihat bahwa itu hal yang biasa saja serta terkadang kita malah menonton saja. 2.3 Teori Social Learning Teori Pembelajaran Sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1986). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberikan lebih banyak penekanan pada kesan dan isyarat-isyarat perubahan perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Jadi dalam teori pembelajaran sosial kita akan menggunakan penjelasan-penjelasan reinforcement eksternal dan penjelasan-penjelasan kognitif internal untuk memahami bagaimana belajar dari orang lain. Dalam pandangan belajar sosial manusia itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipengaruhi oleh stimulus-stimulus lingkungan. Teori belajar sosial menekankan bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan; lingkunganlingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, sebagaimana dikutip oleh (Kard, S, 1997:14) bahwa “sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. Inti dari pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan pemodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu. Mengimitasi model merupakan elemen paling penting dalam hal bagaimana si anak belajar bahasa, berhadapan dengan agresi, mengembangkan perasaan moral dan belajar perilaku yang sesuai dengan gendernya. Analisis perilaku terapan (applied behavior analysis) merupakan kombinasi dari pengkondisian dan modeling, yang dapat membantu menghilangkan perilaku yang tidak di inginkan dan memotivasi perilaku yang diinginkan secara sosial. Definisi belajar pada asasnya ialah tahapan perubahan perilaku siswa yang relative positif dan menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa semakin tinggi frekuensi kontak terhadap kekerasan dalam film maupun televisi, semakin kuat pula kemungkinan seseorang untuk berperilaku secara agresif, bahkan setelah para peneliti mengontrol kelas sosial, kecerdasan, dan factor-faktor lainnya (Anderson & Bushman, 2001). Ketika siswa-siswa sekolah mengurangi waktu yang biasa digunakannya untuk menyaksikan televisi atau bermain permainan video yang sering kali mengandung kekerasan, tingkat agresivitasnya akan menurun. Disimpulkan bahwa “penelitian mengenai kekerasan yang termuat dalam televisi, serta film, permainan video, dan musik menunjukkan bukti yang jelas bahwa kekerasan pada media meningkatkan kecenderungan perilaku agresif dan keras,” baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang (Anderson dkk., 2003). Dalam pandangan sosial-kognitif, kedua kesimpulan mengenai hubungan agresi dan media memiliki bukti dan dapat dibenarkan. Perilaku yang menunjukkan kekerasan yang ditampilkan secara berulang di media dapat menjadi model perilaku dan respons terhadap konflik yang akan diikuti oleh sebagian orang, seperti juga iklan-iklan di media mempengaruhi banyak orang untuk membeli dan mempengaruhi cara berpikir mereka mengenai tubuh lelaki atau perempuan yang ideal. Meskipun pendekatan perilaku sosialkognitif mengenai pembelajaran berbeda dalam penekanannya, mereka memiliki kesamaan dalam optimisme mendasar mengenai kemungkinan perubahan dalam diri individu maupun masyarakat. 2.4 Teori Peniruan (Modelling) Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963) melakukan eksperimen pada anakanak yang juga berkenaan dengan peniruan. Hasil eksperimen mereka mendapati, bahwa peniruan dapat berlaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model (orang yang ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus menerus. Proses belajar semacam ini disebut “observational learning” atau pembelajaran melalui pengamatan. Bandura (1971), kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial diperbaiki memandang teori pembelajaran sosial yang sebelumnya hanya mementingkan perilaku tanpa mempertimbangan aspek mental seseorang. Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri (kognitif) dan lingkungan. pandangan ini menjelaskan, beliau telah mengemukakan teori pembelajaran peniruan, dalam teori ini beliau telah menjalankan kajian bersama Walter (1963) terhadap perlakuan anak-anak apabila mereka menonton orang dewasa memukul, mengetuk dengan palu besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam video. Proses peniruan yang seterusnya ialah elisitasi. Proses ini timbul apabila seseorang melihat perubahan pada orang lain. Menurut teori belajar sosial, perbuatan melihat saja menggunakan gambaran kognitif dari tindakan, secara rinci dasar kognitif dalam proses belajar dapat diringkas dalam empat tahap, yaitu: 1) Perhatian (Attention) Subjek harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya. Subjek memberi perhatian tertuju kepada nilai, harga diri, sikap, dan lain-lain yang dimiliki. 2) Mengingat (Retention) Subjek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem ingatannya. Ini membolehkan subjek melakukan peristiwa itu kelak bila diperlukan atau diinginkan. Kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses belajar. 3) Reproduksi gerak (Reproduction) Setelah mengetahui atau mempelajari sesuatu tingkahlaku, subjek juga dapat menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku. Setelah subyek memperhatikan model dan menyimpan informasi, sekarang saatnya untuk benarbenar melakukan perilaku yang diamatinya. Praktek lebih lanjut dari perilaku yang dipelajari mengarah pada kemajuan perbaikan dan keterampilan. 4) Motivasi Motivasi juga penting dalam pemodelan Albert Bandura karena ia adalah penggerak individu untuk terus melakukan sesuatu. 2.5 Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai pembanding bagi penelitian kami yaitu skripsi milik Tika Dwi Andani. Tika Dwi Andani merupakan mahasiswi jurusan komunikasi dan penyiaran dari Universitas Kristen Satya Wacan Salatiga. Tika Dwi Andani telah menyelesaikan skripsi tentang “Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan pada Televisi dengan Perilaku Agresif Siswa Kelas VII SMP Mardi Rahayu Unggaran”. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh dan hubungan antara intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi. Selain itu dapat mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap intensitas tayangan kekerasan terhadap remaja. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi dengan perilaku agresif siswa kelas VII SMP Mardi Rahayu Unggaran. Penelitian selanjutnya adalah dari mahasiswi jurusan ilmu komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Nuri Rahmah Fajria telah mengerjakan sebuah skripsi yang berjudul “Pengaruh Tayangan Opera Van Java Terhadap Perubahan perilaku Kekerasan di SMA Triguna Utama Ciputat”. Tujuan dalam penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh komunikasi massa dalam perubahan perlaku kekerasan Siswa-siswi usia menengah atas. Mendeskripsikan, menganalisis dan memeberikan solusi dari efek tayangan hiburan yang disisipkan adegan kekerasan yang disiarkan oleh media televisi di Indonesia. Hasil dari penelitian tersebut membuktikan dari variabel kognitif memilki kecenderungan perubahan perilaku kekerasan, namun variabel afektif menunjukan tidak adanya perubahan perilaku kekerasan yang terjadi setelah menonton tayangan tersebut. 2.6 Tabel Penelitian No. 1 2 Judul Hubungan 3 Intensitas Pengaruh Tayangan Opera Pengaruh Menonton Tayangan Van Java Terhadap Perubahan Kekerasan Perubahan Kekerasan pada Televisi perilaku Kekerasan di SMA Remaja dengan Perilaku Agresif Triguna Utama Ciputat tayangan pada Perilaku Siswa Kelas VII SMP Mardi Rahayu Unggaran Teori Teori perilaku dengan agresif Jarum Hipodermic dan Teori Teori Katarsis pendekatan Imitasi dan Peniruan biologis Metode Metode yang digunakan dalam Metode pengumpulan data penelitian ini adalah metode dalam penelitian penelitian kuantitatif survey adalah wawancara dan yang di tujukan untuk menggunakan memperoleh fakta dari gejala- Kuesioner gejala yang ada dan mencari penelitian keterangan secara kuesioner. dalam ini factual. memberikan Responden adalah siswa SMA menyebar Triguna Utama Ciputat ini pertanyaan dengan atau daftar kepada responden Hasil Tidak ada hubungan yang Pada tayangan Opera Van Java Hasil signifikan intensitas dari antara (variable kogntif) dan variabel menunjukan menonton negatif) tidak mempengaruhi penagruh hipotesis bahwa menonton tayangan kekerasan pada perubahan perilaku kekerasan. tayangan kekerasan dapat televisi dengan perilaku Meskipun variable agresif siswa kelas VII memiliki SMP Mardi Rahayu kepada kognitif merubah identitas diri dari kecenderungan remaja apabila semakin perilaku kekerasan, tingi intensitas menonton Ungaran dengan koefisien namun pada variable afektif tayangan tersebut maka korelasi r xy = 0,082 bersifat dengan p = 0,170>> 0,05. negatif terhadap semakin tinggi pengaruh erubahan perilaku kekerasan perubahan sosial yang terjadi setelah menonton identitas diri mereka. tayangan tersebut. Sedangkan hasil akhir penelitian ini afektif sendiri berhubungan negatif dengan perubahan perilaku kekerasan yang ada. 2.7 Kerangka Pemikiran Media (Media Elektronik berupa televisi) Konten Media (Tayangan Kekerasan) Terpaan konten media terhadap Konsumen Media (Remaja) Perilaku (Negatif): tawuran, emosional, pelecehan seksual) Berdasarkan kerangka di atas dapat disimpulkan bahwa remaja menentukan apa yang dilihat oleh media dan mereka merepresentasikannya untuk dijadikan acuan mereka. Remaja sekarang melihat tayangan-tayangan yang menampilkan adegan kekerasan, pemerkosaan, tawuran. Dari situ mereka menjadikan karakter dalam tayangan tersebut menjadi seorang yang dianggap keren. Lalu karena mereka menganggap keren maka mereka meniru dan mencontoh perilaku dari tokoh tersebut. Mereka mempresentasikan bahwa di dunia yang sebenarnya seperti di dalam tayangan kekerasan tersebut. Padahal apa yang terjadi di dalam tayangan tersebut tidak seperti di dunia yang sebenarnya. dan 2.8 Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu masalah penelitian, dirumuskan dalam pernyataan yang dapat diuji dan menjelaskan hubungan dua perubah atau lebih (Herman Wasito, 1993). Hipotesis juga dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara maksudnya jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori, belum didasarkan pada bukti-bukti empiris yang diperoleh dari pengumpulan data (Sugiyono, 1999). Kelompok kami menggunakan hipotesis directional, karena kami sudah dapat menduga akan hasil dari penelitian ini. Namun yang menjadi fokus dalam penelitian kami ialah berupa seberapa besar pengaruh media terhadap perubahan perilaku remaja. Berbeda dengan hipotesis non-directional yang tidak menunjukan adanya hubungan dan hasil dari hipotesil non-directional belum dapat diketahui. H 0 = diduga tidak ada dari pengaruh tayangan kekerasan di media terhadap perubahan perilaku remaja. H 1 = diduga ada pengaruh dari tayangan kekerasan di media terhadap perubahan perilaku remaja. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Metode penelitian kuantitatif adalah metode yang dipakai untuk mengelolah data yang dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah pendekatan yang digunakan untuk mencari informasi faktual secara mendetail yang sedang terjadi di dalam masyarakat dan mengidentifikasikan masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan. Pendekatan tersebut di gunakan untuk mengetahui pengaruhmenonton tayangan kekerasan pada tingkatimitasi perilaku remaja. Dengan melakukan pendekatan kuantitatif maka dapat menemukan jawaban dengan memakai rumus statistik. Peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif, karena pendekatan ini dapat mengukur sejara jelas pengaruhmenonton tayangan kekerasan padatingkatimitasiperilaku remaja, melalui perbandingan angka. Dengan perbandingan angka akan mempermudah dalam menganalisis dan menyimpulkan jawaban dari rumusan masalah. 3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 5 Malang yang beralamat di Jalan WR. Supratman No. 12, Malang dan penelitian ini dilakukan pada tanggal 21 april 2014. 3.3 Teknik Pengambilan Sampel  Populasi Populasi adalah keseluruhan dari penelitian yang menjadi pusat perhatian dan menjadi sumber data penelitian. Populasi penelitian ini adalah kelompok usia remaja yang bersekolah di SMP Negeri 5 Malang-Jawa Timur. Menurut data yang diambil oleh peneliti, murid yang bersekolah di SMP 5 negeri Malang berjumlah 958 Jiwa, terdiri dari 407 Siswa dan 551 Siswi. Peneliti melalukan penelitian di SMP Negeri 5 Malang, karena SMP Negeri 5 Malang adalah salah satu sekolah favorite di Malang. Peneliti mempunyai harapan, dengan mengambil penelitian di sekolah tersebut, maka sudah dapat menyimpulkan pengaruh menonton tayangan kekerasan pada tingkatimitasi perilaku remaja.  Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi yang kakteristiknya hendak diduga dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi dan jumlahnya merupakan sebagian dari jumlah populasi. (Djarwanto P.S.1995). Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Dr. Sugiyono, 1999). Sampel dapat juga diartikan sebagai subset dari populasi yang terdiri dari beberapa anggota populasi, dengan begitu peneliti dapat menarik kesimpulan yang dapat digeneralisasi untuk seluruh populasinya (Augusty Ferdinand, 2006). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling. Purposive Sampling adalah pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan (sifat-sifat, karakteristik, ciri, kriteria). Purposive sampling dapat juga diartikan sebagai teknik penegambilan sampel dimana peneliti memilih sampel berdasarkan penilaian terhadap beberapa karakteristik anggota sampel yang disesuaikan dengan maksud penelitian (Kuncoro, 2003). Dalam penelitian ini peneliti akan mengambil sampel di SMP Negeri 5 Malang-Jawa Timur. Jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin: n = jumlah sampel N = jumlah populasi yang diketahui d = presisi yang ditetapkan 5% atau 0.05, dengan taraf kepercayaan 95% n= ____958____ = 282.17 958 (0.05)2+1 Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh hasil sampel 282.17 yang kemudian dibulatkan menjadi 283 responden. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian dengan cara wawancara, observasi, dan kuisioner. Teknik pengumpulan data yang kami terapkan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan penyebaran angket atau kuesioner tertutup kepada siswa SMP Negeri 5 Malang , yang dimana Setiap pertanyaan telah disertai sejumlah pilihan jawaban. Responden hanya memilih jawaban yang paling sesuai. 3.5 Teknik Pengolahan Data Menurut Hasan (2006:24) pengolahan data adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara atau rumus-rumus tertentu. Pengolahan data bertujuan mengubah data mentah dari hasil pengukuran menjadi data yang lebih halus sehingga memberikan arah untuk pengkajian lebih lanjut (sudjana, 2001: 128). Teknik pengolahan data menuruh Hasan (2006: 24) meliputi kegiatan : 1. Editing Editing adalah pengecekan atau pengoreksian data yang telah terkumpul, tujuannya untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada pencatatan dilapangan dan bersifat koreksi. 2. Coding (Pengkodean) Coding adalah pemberian kode-kode pada tiap data yang termasuk dalam kategori yang sama. Kode adalah isyarat yang dibuat dalam bentuk angka dan huruf yang memberikan petunjuk atau identitas pada suatu informasi atau data yang akan dianalisis 3. Pemberian Score atau Nilai Dalam pemberian score digunakan skala likert yang merupakan salah satu cara untuk menentukan score. 4. Tabulasi Tabulasi adalah pembuatan tabel-tabel yang berisi data yang telah diberi kode sesuai dengan analisis yang dibutuhkan. Dalam melakukan tabulasi diperlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan. Tabel hasil tabulasi dapat berbentuk : a. Tabel Pemindahan yaitu tabel tempat memindahkan kode-kode dari kuisioner atau pencatatan pengamatan titik. Tabel ini berfungsi sebagai arsip. b. Tabel Biasa yaitu tabel yang disusun berdasarkan sifat responden dan tujuan tertentu. c. Tabel Analisis yaitu tabel yang memuat suatu jenis informasi yang telah dianalisa (Hasan, 2006 : 20). 3.6 Teknik Analisis Data Teknik analisis data menggunakan regresi linier sederhana dan korelasi. Menggunakan regresi untuk meramalkan pengaruh tayangan kekerasan yang menjadi variable X, pada perubahan perilaku remaja yang menjadi variable Y. Dan menggunakan Kolerasi untuk mengetahui keeratan dari kedua variabel tersebut. Rumus regresi linear sederhana sebagi berikut: Y’ = a + bX Keterangan: Y’ = Variabel dependen (nilai yang diprediksikan) X = Variabel independen a = Konstanta (nilai Y’ apabila X = 0) b = Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun penurunan) 3.7 Variabel Penelitian Menurut Sugiyono (2007) variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan. Variabel bebas penelitian ini adalah pengaruh tayangan kekerasan yang mengikat variable kami yaitu apakah mempengaruhi tingkat imitasi perilaku remaja, sebagai berikut: 1. Variabel Independent yaitu variabel yang mempengaruhi atau variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat (Arikunto, 1998). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah eksposur kekerasan dalam tayangan televisi (X). 2. Variabel Dependen, yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas (Arikunto, 1998). Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah peniruan atau tingkat imitasi perilaku pada remaja (Y). 3.8 Definisi Operasional 1. Eksposur kekerasan dalam tayangan televisi Eksposur Kekerasan dalam Tayangan Televisi didefinisikan sebagai representasi, frekuensi, dan intensitas seseorang dalam menonton Tayangan Televisi jenis kekerasan sehingga ia mengimitasi atau mencontoh agresi yang dilihatnya. Pengukuran eksposur kekerasan dalam Tayangan Televisi dilakukan dengan mengimitasi metode pengukuran yang digunakan oleh Anderson dan Dill (2000) yaitu dengan melihat rata-rata dari hasil kali antara frekuensi dan durasi menonton Tayangan Televisi dan persepsi kekerasan pada tayangan televisi yang paling digemari responden. Aspek yang diamati adalah: - Frekuensi menonton tayangan kekerasan - Durasi menonton tayangan kekerasan - Persepsi tayangan kekerasan - Representasi Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara verbal tingkah laku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latihan simbolik dalam pikiran, tanpa benar- benar melakukannya secara fisik. Seperti misalnya pembunuhan, pemukulan, perkelahian, mengumpat kata-kata kasar dan lain sebagainya. 2. Peniruan atau tingkat imitasi perilaku remaja Tentu saja, mengamati orang lain melakukan sesuatu tidak tidak mesti berakibat belajar, karena belajar melalui observasi memerlukan beberapa faktor atau prakondisi. Menurut Bandura, ada empat proses yang penting agar belajar meinlui observasi dapat terjadi, yakni: Unsur utama dalam peniruan: 1) Perhatian (Attention) Subjek harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya. Subjek memberi perhatian tertuju kepada nilai, harga diri, sikap, dan lain-lain yang dimiliki. Meliputi aspek: 2) Mengingat (Retention) Subjek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem ingatannya. Ini membolehkan subjek melakukan peristiwa itu kelak bila diperlukan atau diinginkan. Kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses belajar. 3) Reproduksi gerak (Reproduction) Setelah mengetahui atau mempelajari sesuatu tingkahlaku, subjek juga dapat menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku. Setelah subyek memperhatikan model dan menyimpan informasi, sekarang saatnya untuk benarbenar melakukan perilaku yang diamatinya. Praktek lebih lanjut dari perilaku yang dipelajari mengarah pada kemajuan perbaikan dan keterampilan. Meliputi aspek peniruan dalam tayangan kekerasan: - Pemukulan - Perkelahian - Mengumpat dengan kata-kata kasar 4) Motivasi Motivasi juga penting dalam pemodelan Albert Bandura karena ia adalah penggerak individu untuk terus melakukan sesuatu. Meliputi aspek: - Reward yang didapat dari menonton tayangan kekerasan - Punisment yang didapat dari menonton tayangan kekerasan Hubungan variabel dan indikatornya dapat dilihat pada Tabel di bawah ini: No Variabel 1. Eksposur Indikator kekerasan X1: Frekuensi menonton dalam tayangan televisi tayangan televisi Item 1) Seberapa sering menonton tayangan televisi jenis kekerasan.. 2) Waktu menonton tayangan televisi jenis kekerasan. X2: Durasi menonton tayangan televisi 1) Lamanya (durasi) menonton tayangan televisi jenis kekerasan). X3: Persepsi tayangan kekerasan 1) Menarik. 2) Menegangkan. 3) Mengerikan. X4: Representasi 1) Adegan perkelahian. 2) Adegan pembunuhan. 3) Adegan pemukulan. 4) Adegan mengumpat kata-kata kasar. 2. Tingkat imitasi perilaku Y1: Perhatian remaja 1) Ketertarikan terhadap tokoh. 2) Ketertarikan terhadap konsep cerita. Y2: Pengingatan 1) Menyimak adegan kekerasan dalam tayangan televisi. 2) Mengingat adegan kekerasan dalam tayangan televisi. 3) Memiliki hasrat untuk menirukan setiap adegan dalam tayangan kekerasan. Y3: Reproduksi Gerak 1) Spontanitas menirukan adegan tayangan kekerasan seperti memukul, berkelahi dan mengumpat dengan katakata kasar. 2) Menirukan adegan tayangan kekerasan seperti memukul, berkelahi dan mengumpat dengan katakata kasar. 3) Intensitas menirukan Y4: Motivasi dan penguatan adegan tayangan kekerasan. 1) Hadiah atau penghargaan yang didapat dari menirukan adegan kekerasan di televisi. 2) Hukuman yang didapat dari menirukan adegan kekerasan di televisi. 3.9 Uji Hipotesis Uji hipotesis menggunakan uji hipotesis non-directional yaitu pengujian dengan menggunakan 2 ekor. Dengan menggunakan rumus t hitung dan Z hitung. 3.10 Keabsahan Data 3.10.1 Validitas Mengenai validitas Azwar (2010) menuliskan bahwa Validitas merupakan ketepatan dana kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat akan tetapi juga harus dapat memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Uji Validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Dalam penelitian ini dilakukan seleksi item (khususnya daya diskriminasi) dengen menggunakan teknik Korelasi Corrected ItemTotal Correlation. Aswar (2010) menyatakan bahwa item yang memiliki daya diskriminasi baik memiliki nilai r ≥0,3. Namun apabila item yang memiliki indeks daya diskriminasi tidak mencukupi jumlah yang diinginkan, dapat mempertimbangkan untuk menurunkan batas kriteria menjadi 0,25. Dalam penelitian ini, penulis memakai daya diskriminasi item 0,25. 3.10.2 Uji Reliabilitas Reliabilitas alat ukur menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hal ini ditunjukan oleh taraf konsistensi skor yang diperoleh oleh para subjek yang diukur dengan alat yang sama, atau diukur dengan alat yang setara pada kondisi yang berbeda (Suryabrata, 1999). Reliabilitas adalah suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukuran di dalam mengukur gejala yang sama. Dalam reliabilitas menggunakan metodeAlpha Cronbach, dan dengan menggunakan program SPSS for windows versi 17.0. BAB IV STATISTIK DESKRIPTIF DAN STATISTIK INFERNAL 4.1. Gambaran Distribusi Frekuensi Hasil dari kuesioner yang telah peneliti berikan pada responden, peneliti sajikan dalam bentuk tabel. Adapun indikator dalam pertanyaan yang peneliti berikan meliputi: 1. Data demografi, 2. Pengetahuan dan pengalam responden, 3. Tingkat imitasi. Dari 3 indikator tersebut, peneliti membuat 20 pertanyaan yang berhubungan dengan tingginya pengaruh tayangan kekerasan pada tingkat imitasi pada remaja. Peneliti memilih murid SMP Negeri 5 Malang sebagai responden. 4.1.1. Data Demografi Jenis Kelamin Responden No . 1. 2. Jenis Kelamin Pria Wanita Jumlah Frekuensi Presentasi 10 20 30 33,33% 66,67% 100% Mean Peneliti memilih secara acak responden di SMP Negeri 5 Malang dengan bantuan guru. Kami meminta partisipasi murid kelas VIII pada saat jam pulang sekolah. 4.1.2. Pengetahuan dan Pengalaman Responden Tabel 1 Tingakt Keseringan Responden Menonton Tayangan Kekerasan No Tingkat keseringan responden . menonton tayangan kekerasan Frekuensi Presentasi 1. Setiap hari 9 30% 2. Kurang dari 1 Minggu Sekali 12 40% 3. 1 Minggu Sekali 9 30% 30 100% Jumlah Mean Tabel 2 Waktu Tonton Responden No Waktu tonton Frekuensi Presentasi . 1. Pagi 3 10% 2. Siang 2 6,67% 3. Malam 25 83,33% 30 100% Jumlah Mean Tabel 3 Jenis Tayangan Kekerasan yang Responden Tonton No Jenis tayangan Frekuensi Presentasi . 1. Iklan 0 0% 2. Film 17 56,67% 3. Sinetron Jumlah 13 43,33% 30 100% Mean Tabel 4 Bentuk Kekerasan yang Responden Tonton No Bentuk kekerasan Frekuensi Presentasi . 1. Pemukulan 2 6,67% 2. Perkelahian 16 53,33% 3. Mengumpat dengan kata kasar 12 40% 30 100% Jumlah Mean Tabel 5 Persepsi Tayangan Kekerasan Menurut Responden No Persepsi Frekuensi Presentasi . 1. Menarik 3 10% 2. Menegangkan 15 50% 3. Mengerikan 12 40% 30 100% Jumlah Mean Kebanyakan responden dapat dibilang jarang dalam menonton tayangan kekerasan. Karena mereka menyempatkan waktu mereka untuk menonton tayangan kekerasan khusus, yaitu berbentuk film. Waktu responden menonton juga pada malam hari. Beberapa responden mengatakan ini dilakukan kala malam minggu atau saat tidak bisa tidur di malam hari. Responden mengatakan keseruan menonton tayangan kekerasan adalah karena suasana menegangkan yang terjadi saat adegan perkelahian. Baik itu kungfu, silat atau perkelahian kelompok. Tabel 6 Tayangan Kekerasan Menarik Karena Alur Ceritanya No. Skala Frekuensi Presentasi 1. Sangat Setuju 1 3,33% 2. Setuju 9 30% 3. Netral 11 36,67% 4. Tidak Setuju 6 20% 5. Sangat Tidak Setuju 3 10% Jumlah 30 100% Mean 6 Dari hasil tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa responden tidak sepenuhnya setuju terhadap daya tarik tayangan kekerasan berdasarkan alur ceritanya. Terbukti dengan hasil kuesioner yang peneliti sebarkan. Sebanyak 11 responden memilih netral. Taufan, 14 tahun, mengatakan dirinya tertarik dengan tayangan kekerasan karena alur ceritanya yang bagus. Taufan memberi contoh film “Kungfu Hustle”. Film ini menceritakan tentang pertempuran para master kungfu di Cina. Di film ini sarat Tabel 7 Seringnya Responden Menonton Adegan Perkelahian di Televisi No. Skala Frekuensi Presentasi 1. Sangat Setuju 2 6,67% 2. Setuju 22 73,33% 3. Netral 3 10% 4. Tidak Setuju 3 10% 5. Sangat Tidak Setuju 0 0% Jumlah 30 100% Mean 6 Tabel 8 Umpatan Kasar Tidak Disensor Dalam Tayangan Televisi No Skala Frekuensi Presentasi . 1. Sangat Setuju 3 10% 2. Setuju 10 33,33% 3. Netral 3 10% 4. Tidak Setuju 9 30% 5. Sangat Tidak Setuju 5 16,67% Jumlah 30 100% Mean 6 Responden sudah menyadari bahwa sekarang ini, tayangan kekerasan dapat disisipkan dalam setiap acara yang ditayangkan oleh televisi. Dalam hal ini adalah adegan perkelahian. Perkelahian bukan saja dilakukan oleh adu fisik, akan tetapi juga adu mulut yang kerap kali pelaku perkelahian mengucapkan kata – kata kasar. Nabila, 13 tahun, mengatakan hal ini tidak pantas bila ditayangkan di televisi. Mengingat televisi adalah hiburan menarik yang mudah dijangkau oleh segala usia. Tabel 9 Responden Tidak Memiliki Hasrat Untuk Mencoba Adegan Kekerasan No . Skala Frekuensi Presentasi 1. Sangat Setuju 14 46,67% 2. Setuju 8 26,67% 3. Netral 3 10% 4. Tidak Setuju 4 13,33% 5. Sangat Tidak Setuju 1 3,33% Jumlah 30 100% Mean 6 Salah satu responden kami, Taufik, 14 tahun, mengakui bahwa dirinya menyukai film dengan adegan kekerasan. Akan tetapi, dirinya tidak ada keinginan untuk menirukan gerakan yang diperagakan oleh aktor di dunia nyata. Karena selain Taufan tidak memiliki skill tersebut, dirinya juga merasa itu tidak mungkin dilakukan di dunia nyata. Pendapat Taufan ini di dukung oleh 14 responden lain yang menyatakan bahwa mereka tidak memiliki keinginan untuk meniru adegan kekerasan tersebut di dunia nyata. Tabel 10 Responden Tidak Pernah Berkelahi Dalam Situasi Apapun No. Skala Frekuensi Presentasi 1. Sangat Setuju 5 16,67% 2. Setuju 6 20% 3. Netral 7 23,33% 4. Tidak Setuju 10 33,33% 5. Sangat Tidak Setuju 2 6,67% Jumlah 30 100% Mean 6 Tabel 11 Responden Sering Berkata Kasar Baik Disengaja Atau Tidak No. Skala Frekuensi Presentasi 1. Sangat Setuju 2 6,67% 2. Setuju 7 23,33% 3. Netral 8 26,67% 4. Tidak Setuju 11 36,67% 5. Sangat Tidak Setuju 4 13,33% Jumlah 30 100% Mean 6 Efek dari menonton tayangan bisa dilihat dari reflek seseorang dalam menanggapi permasalahan. Hal yang paling mudah ditiru adalah dialog yang diucapkan aktor dalam tayangan tersebut. Ini terbukti dari 11 responden yang menjawab mereka sadar saat mengumpat atau menirukan dialog kasar yang diucapkan oleh aktor di tanyngan kekerasan. Responden pun menyatakan bahwa mereka pernah berkelahi. Ari, 13 tahun, mengaku bahwa dirinya akan berkelahi jika terpaksa. Dalam artian dirinya tidak akan memulai suatu perkelahian jika tidak ada masalah. Tetapi jika ada anak yang mengganggunya dan tidak bisa dicegah, Ari akan berkelahi. Tabel 12 Tayangan Kekerasan Tidak Memberikan Pengaruh Pada Kehidupan Responden No Skala Frekuensi Presentasi . 1. Sangat Setuju 2 6,67% 2. Setuju 7 23,33% 3. Netral 5 16,67% 4. Tidak Setuju 9 30% 5. Sangat Tidak Setuju 7 23,33% Jumlah 30 100% Mean 6 Apa yang kita tonton sedikit banyak akan mempengaruhi pikiran kita. Pada tabel diatas tidak terlihat perbedaan yang signifikan dari jawaban responden. Tapi 30% responden menyatakan adanya pengaruh dari tayangan kekerasan pada kehidupan sehari – hari mereka. Putri, 14 tahun, mengatakan bahwa dirinya merasa kurang nyaman bila dirinya berada di dekat lelaki yang berbadan kekar. Karena menurutnya itu adalah gambaran dari orang jahat yang digambarkan oleh tayangan kekerasan yang ia tonton. Tabel 13 Responden Secara Spontan Memukul dan Mengumpat Jika Ada yang Mengganggu No Skala Frekuensi Presentasi . 1. Sangat Setuju 0 0% 2. Setuju 9 30% 3. Netral 5 16,67% 4. Tidak Setuju 10 33,33% 5. Sangat Tidak Setuju 6 20% Jumlah 30 100% Mean 5,8 Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa 16 responden yang menyatak bahwa dirinya tidak pernah memiliki reflek untuk memukul atau mengumpat jika ada yang mengganggu. Lain halnya dengan Chika, 14 tahun. Dia akan reflek mengumpat pada orang yang mengganggu dirinya. Dalam hal ini, Chika menggambarkan mengganggu secara terus menerus. Tabel 14 Responden Akan Diakui di Lingkungannya Jika Responden Melakukan Tindakan Kekerasan No Skala Frekuensi Presentasi . 1. Sangat Setuju 1 3,33% 2. Setuju 3 10% 3. Netral 2 6,67% 4. Tidak Setuju 12 40% 5. Sangat Tidak Setuju 11 36,67% Jumlah 30 100% Mean 5,8 Peneliti bertanya pada salah satu responden yaitu Irma, 13 tahun. Menurutnya bila ada anak lelaki yang berkelahi, memalak, berkata kasar tanpa sebab adalah alay. Karena hal – hal semacam itu harusnya tidak akan terjadi pada murid SMP Negeri 5 Malang. Mereka hanya akan bahan gunjingan di sekolah kalau sampai ada yang berkelahi. Ini didukung oleh 76,67% reponden yang menyatakan bahwa mereka tidak akan mendapat pengakuan bila melakukan tindak kekerasan. Tabel 15 Responden Mendapat Hukuman Setiap Kali Melakukan Tindakan Kekerasan No Skala Frekuensi Presentasi . 1. Sangat Setuju 5 16,67% 2. Setuju 9 30% 3. Netral 4 13,33% 4. Tidak Setuju 9 30% 5. Sangat Tidak Setuju 3 10% Jumlah 30 100% Mean 6 Jawaban dari respon hampir imbang. Ini dikarenakan mereka akan mendapat hukuman jika mereka ketahuan oleh orang tua mereka atau guru mereka saat melakukan tindakan kekerasan. Tetapi, bila tidak ketahuan mereka tidak akan mendapatkan sanksi atas apa yang telah dilakukan. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada hubungan antara pengaruh menonton tayangan kekerasan pada tingkat imitasi perilaku remaja. Dari hasil penelitian tersebut dapat di ambil kesimpulan: 1. Mayoritas responden menonton tayangan kekerasan pada saaat malam hari. 2. Mayoritas responden menonton tayangan kekerasan berupa Film yang disiarkan di televisi. 3. Kebanyakan responden dapat di bilang jarang dalam menonton tayangan kekerasan. Karena mereka menyempatkan waktu mereka untuk menonton tayangan kekerasan secara khusus. Beberapa responden mengatakan ini dilakukan saat malam minggu atau saat tidak bisa tidur. 4. Beberapa responden mengatakan keseruan menonton tayangan kekerasan karena suasana yang menegangkan yang terjadi saat adegan perekelahian. Baik itu kungfu, silat atau perkelahian kelompok. 5. Kebanyakan responden tidak sepenuhnya setuju jika tayangan kekerasan menarik karena alur ceritanya, ini terbukti dari presentase responden yang memilih netral sebesar 33,67%, yang memilih setuju sebesar 30%, dan yang memilih tidak setuju sebesar 20%. 6. Presentasi responden menonton adegan perkelahian di televisi ternyata juga sangat besar, yaitu sebesar 73,33% menjawab setuju, atau sebanyak 22 orang yang menjawab setuju. 7. Responden sudah menyadari bahwa sekarang ini, tayangan kekerasan dapat disisipkan dalam setiap acara yang ditayangkan oleh televisi. Dalam hal ini adalah adegan perkelahian. Perkelahian bukan saja dilakukan oleh adu fisik, akan tetapi juga adu mulut yang kerap kali pelaku perkelahian mengucapkan kata – kata kasar. 8. Mayoritas responden tidak memiliki hasrat untuk mencoba adegan kekerasan. 9. Efek dari menonton tayangan bisa dilihat dari reflek seseorang dalam menanggapi permasalahan. Hal yang paling mudah ditiru adalah dialog yang diucapkan aktor dalam tayangan tersebut. Ini terbukti dari 11 responden yang menjawab mereka sadar saat mengumpat atau menirukan dialog kasar yang diucapkan oleh aktor di tanyngan kekerasan. Responden pun menyatakan bahwa mereka pernah berkelahi. 10. Apa yang kita tonton sedikit banyak akan mempengaruhi pikiran kita. Pada tabel diatas tidak terlihat perbedaan yang signifikan dari jawaban responden. Tapi 30% responden menyatakan adanya pengaruh dari tayangan kekerasan pada kehidupan sehari – hari mereka. 11. Kebanyakan Responden akan mendapat hukuman dari orang tua atau guru mereka jika ketahuan melakukan tindakan kekerasan. 5.2 Saran 1. Pentingnya peran dari orang tua murid untuk mengawasi putra putrinya dengan apa yang mereka tonton di televisi setiap harinya. 2. Sebaiknya KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) lebih ketat lagi dalam mengawasi tayangan tayangan di televisi, khususnya untuk tayangan yang berupa adegan kekerasan. 3. Sebaiknya orang tua dan guru di sekolah memberikan hukuman yang berat kepada anak atau muridnya yang melakukan tindakan kekerasan, ini supaya anak atau murid merasa jera dan tidak melakukan tindakan kekerasan lagi. 4. Pentingnya penyuluhan rutin setiap minggunya mengenai tayangan kekerasan yang tidak mendidik di sekolah untuk mencegah terjadinya kekerasan yang di lakukan oleh murid baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Lampiran 1: Kuesioner Penelitian “KUESIONER PENGARUH TAYANGAN KEKERASAN PADA TINGKAT IMITASI REMAJA” Petunjuk Pengisian: 1. Jawablah pertanyaan ini dengan jujur dan benar. 2. Bacalah terlebih dahulu pertanyaan dengan cermat sebelum anda memulai jawabannya. 3. Pilihlah salah satu jawaban yang tersedia dengan memberi tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap paling benar. 4. Atas kesediaan anda untuk mengisi angket ini terlebih dahulu kami ucapkan terima kasih. I. DATA DEMOGRAFI Jenis Kelamin a. ( ) Pria b. ( ) Wanita II. PENGETAHUAN DAN PENGALAMAN RESPONDEN 1. Seberapa sering anda menonton tayangan televisi jenis kekerasan? a. ( ) Setiap hari b. ( ) Kurang dari 1 Minggu sekali c. ( ) 1 Minggu sekali 2. Pada waktu apa anda menonton tayangan televisi jenis kekerasan? a. ( ) Pagi b. ( ) Siang c. ( ) Malam 3. Jenis tayangan kekerasan yang sering anda lihat dalam bentuk? a. ( ) Iklan b. ( ) Film c. ( ) Sinetron 4. Bentuk kekerasan yang sering anda lihat ? a. ( ) Pemukulan b. ( ) Perkelahian c. ( ) Mengumpat dengan kata-kata kasar 5. Persepsi tayangan kekerasan menurut Anda? III. a. ( ) Menarik b. ( ) Menegangkan c. ( ) Mengerikan PENGUKURAN TINGKAT IMITASI Isilah dengan ketentuan sebagai berikut: SS : Sangat Setuju TS : Tidak Setuju S : Setuju STS : Sangat Tidak Setuju N : Netral No Pernyataan Skor Tingkat Kinerja SS 6 Tayangan kekerasan menarik karena alur ceritanya bagus dan menegangkan 7 Saya sering melihat adegan perkelahian dalam tayangan televisi 8 Umpatan kasar tidak disensor dalam setiap tayangan S N TS STS di televisi 9 Saya sama sekali tidak memiliki hasrat untuk mencoba adegan kekerasan 10 Saya tidak pernah berkelahi dalam situasi apapun 11 Saya sering berkata kasar baik sengaja maupun tidak sengaja 12 Tayangan kekerasan tidak memberikan pengaruh dalam kehidupan anda 13 Saya secara spontan memukul dan mengumpat jika ada yang mengusik saya 14 Saya akan diakui dalam lingkungan pergaulan jika dapat meniru adegan kekerasan dalam tayangan televisi 15 Saya mendapat hukuman setiap kali bertingkah laku atau meniru adegan kekerasan dalam tayangan televisi REFERENSI :  http://www.wwe.com/shows/smackdown (diakses pada 27 Maret 2014)  Berkowitz., L.1995. Agresi 1:sebab dan akibatnya.penerjemah :Hartini Woro Susiatni. Jakarta: PT.Pustaka Binaman Pressindo  McQuail, Dennis. 2000. McQuail’s Mass Communication Theory, 4th Edition. New Delhi: SAGE publications Ltd.  M. Ghojali Bagus A.P., S.Psi. Buku Ajar Psikologi Komunikasi – Fakultas Psikologi Unair 2010

Judul: Pengaruh Menonton Tayangan Kekerasan Pada Tingkat Imitasi Perilaku Remaja Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Oleh: Yudistira Yusran

Ikuti kami