Potensi Dan Tantangan Ekonomi Maritim Di Indonesia

Oleh Suci Muqaddimatulj

6 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Potensi Dan Tantangan Ekonomi Maritim Di Indonesia

POTENSI DAN TANTANGAN EKONOMI MAYARAKAT MARITIM DI
INDONESIA
Suci Muqaddimatul Jannah
F041191043
Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Hasanuddin, Makassar 90245
Abstrak
Maritime dikonotasikan dengan masyarakat yang terletak dekat pesisir pantai beserta kegiatan yang
dilakukan di perairan atau laut, atau dapat dikatakan terdapat interaksi antara sumberdaya manusia
(penduduk) di daerah pesisir pantai dengan berbagai kegiatan, terutama dalam penangkapan ikan di
laut, pemanfaatan sumberdaya kelautan lainnya, industry maritim, transportasi laut, pemasaran hasilhasil laut, dan perdagangan antar pulau. Sebagai Negara Kepulauan yang memiliki laut yang luas dan
garis pantai yang panjang, sektor maritim dan kelautan menjadi sangat strategis bagi Indonesia
ditinjau dari aspek ekonomi dan lingkungan, sosial-budaya, hukum dan keamanan. Indonesia

mempunyai beberapa tantangan dalam menjaga perekonomian maritimnya, tantangan
tersebut ialah memanfaatkan segala kekayaan laut Indonesia serta alur laut navigasi bagi
kemaslahatan
dan
kemakmuran
bangsa
Indonesia.
Memahami ancaman terhadap laut dan ancaman dari laut, ancaman terhadap laut dapat bermula dari
manusia secara langsung seperti polusi dan eksploitasi sumber daya secara tidak lestari dan tidak
berkesinambungan. Sedangkan, ancaman di laut biasanya terkait dengan tindakan pelanggaran hukum
seperti perompakan, perampokan di laut, penyelundupan orang, perdagangan orang, perbudakan anak
buah kapal, penyelundupan senjata, obat-obatan terlarang. Mengamankan kawasan maritim Indonesia
dari berbagai ancaman. Sehingga, bangsa Indonesia dapat memanfaatkan secara maksimal dengan
prinsip kelestarian dan kesinambungan laut bagi seluruh rakyat Indonesia. Artikel ini mengangkat

judul "Potensi dan Tantangan Ekonomi Masyarakat Maritim Di Indonesia", yang didasarkan
dari hasil mengkaji berbagai literatur sebagai sumber rujukan dan mengobservasi sebagai
hasil penelitian. Kemudian, data yang diperoleh disajikan dalam pemaparan deskriptif.
Tujuan artikel ini yaitu untuk mengetahui Potensi Ekonomi Indonesia sebagai Negara
maritime dan tantangan apa saya yang di hadapi untuk tetap menjaga perokonomian
Indonesia tetap stabil.

Kata Kunci :Potensi Ekonomi Maritim Indonesia dan Tantangan Yang Dihadapinya

A. LATAR BELAKANG
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan
terbesar di dunia, yang memiliki ± 18.110 pulau dengan garis pantai sepanjang
108.000 km. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia
memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 3,2 juta km2 yang terdiri dari
perairan kepulauan seluas 2,9 juta km2 dan laut teritorial seluas 0,3 juta km2. Bahkan
secara historis menunjukan bahwa wilayah maritime ini telah berfungsi sebagai pusat
kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan geografis yang
dimilikinya. Untuk mengoptimalkan nilai manfaat sumberdaya kemaritiman bagi
pengembangan wilayah secara berkelanjutan dan menjamin kepentingan umum secara
luas (public interest), diperlukan intervensi kebijakan dan penanganan khusus oleh
Pemerintah untuk pengelolaan wilayah maritim.
Posisi strategis Indonesia yang berada diantara dua benua (Asia dan Australia)
menempatkan Indonesia sebagai poros maritim dunia dalam konteks perdagangan
global yang menghubungkan kawasan AsiaPasifik dengan Australia (KKP 2016).
Indonesia mempunyai potensi besar dalam pengembangan kelautan dan perikanan.
Berdasarkan hasil kajian potensi lestari sumber daya ikan di Indonesia mencapai 9,9
juta ton per tahun baik di wilayah Indonesia maupun di perairan (ZEEI). Potensi
perikanan budidaya air tawar di Indonesia tercatat lebih dari 2 juta hektar (KKP
2016).
Arah pengembangan sektor perikanan dan kelautan ke depan sesuai dengan
yang disampaikan oleh presiden dalam RPJMN 2014-2019 di mana laut adalah masa
depan bangsa, selain itu sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah laut yang
sangat besar, percepatan pembangunan kelautan merupakan tantangan yang harus
diupayakan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Tantangan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia antara lain:
1. Perlunya penegakan kedaulatan dan yuridiksi nasional yang perlu diperkuat
sesuai dengan konvensi PBB tentang Hukum Laut yang telah diratifikasi,
2. Bagaimana

mengembangkan

industry

kelautan,

industry

perikanan,

perniagaan laut dan peningkatan pendayagunaan potensi laut dan dasar laut
bagi kesejahteraan rakyat Indonesia,
3. Menjaga daya dukung dan kelestarian fungsi lingkungan laut. Selain itu pada
poin 7 pada RPJPN 2005-2025 yang memiliki sasaran untuk terwujudnya
Indonesia sebagai negara kepulauan yang mandiri.

Maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional ditandai oleh 5 aspek, yaitu:
1. Terbangunnya jaringan saran dan prasaran sebagai perekat smeua pulau dan
kepulauan Indonesia,
2. Meningkat dan menguatnya SDM di bidang kelautan yang didukung
pengembangan IPTEK,
3. Ditetapkannya wilayah negara kesatuan NKRI, asset dan hal-hal yang terkait
dalam kerangka pertahanan negara,
4. Terbangunnya ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan
pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan,
5. Berkurangnya dampak bencana pesisir dan pencemaran laut. Perikanan dan
kelautan merupakan salah satu sektor strategis di Indonesia.
Dengan demikian, maka perlu diadakan analisis mengenai potensi dan
tantangan ekonomi maritime Indonesia yang perlu diketahui oleh masyarakat. Oleh
karena itu, perlunya peran serta pihak yang berkepentingan khususnya pemerintah
dalam menjaga kondisi keadaan yang berada di pesisir maritim Indonesia.
Berdasarkan hasil mengkaji berbagai literatur dan mengamati berbagai fenomena
yang terjadi, maka adapun rumusan permasalahannya yang dapat disajikan sebagai
berikut:
1. Bagaimana potensi ekonomi maritime yang ada di Indonesia ?
2. Bagaimana tantangan ekonomi maritime yang dihadapi Indonesia ?

B. Pembahasan
B.1 Potensi Ekonomi Mariti Yang Ada Di Indonesia
Berdasarkan definisinya, ekonomi maritim adalah seluruh aktivitas ekonomi yang
berlangsung di wilayah pesisir dan lautan serta aktivitas ekonomi yang terjadi di daratan yang
menggunakan bahan baku dari wilayah pesisir dan lautan.
Dari definisi ini, dapat disimpulkan bahwa ekonomi maritim Indonesia meliputi beberapa
sektor, yaitu:


Perikanan tangkap.



Perikanan budi daya.



Industri pengolahan perikanan dan hasil laut.



Industri bioteknologi kelautan.



ESDM (Energi dan Sumber Daya Material).



Pariwisata Bahari.



Perhubungan Laut.



Kehutanan.



Sumber daya pulau-pulau kecil.



Industri dan jasa maritim.



SDA (Sumber Daya Alam) non-konvensional.

Mata pencaharian penduduk desa pesisir cukup beragam, namun sebagian besar penduduk
desa pesisir memiliki sumber penghasilan utama dari bidang pertanian dan perikanan sebagai
nelayan dan pembudi daya ikan. Menurut Koentjaraningrat (1997), mencari ikan merupakan
mata pencaharian atau sumber kehidupan yang sudah ada sejak awal keberadaan manusia di
bumi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mata pencaharian menangkap ikan lebih banyak
dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, seperti perkembangan alat-alat yang digunakan
(kail, tombak, jala, perangkap) dan peralatan navigasi dan pengamanan.
Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, yang ditaburi oleh 13.466 pulau pada
luasan laut 5,8 juta km2 termasuk zona ekonomi eksklusif Indonesia (ZEEI) dan dikelilingi
oleh 95.181 km garis pantai, Indonesia diberkahi dengan kekayaan laut yang sangat besar dan
beranekaragam. Kekayaan itu baik berupa sumberdaya alam yang dapat pulih seperti
perikanan, terumbu karang, hutan mangrove, rumput laut, dan produk-produk bioteknologi;

dan sumber daya alam yang tak dapat pulih seperti minyak dan gas bumi, timah, bijih besi,
bauksit,

dan

minerallainnya.

Selain itu, energi kelautan seperti pasang-surut, gelombang, angin, dan "Ocean
Thermal Energy Conversion" (OTEC); maupun jasa-jasa lingkungan kelautan seperti
pariwisata bahari dan transportasi laut. Potensi produksi lestari ikan laut Indonesia yang dapat
dimanfaatkan melalui usaha perikanan tangkap sebesar 6,5 juta ton/tahun, sekitar 8 persen
dari total potensi produksi lestari ikan laut dunia (90 juta ton/ tahun). Kurang lebih 24 juta
hektare (ha) perairan laut dangkal Indonesia cocok untuk usaha budi daya laut (mariculture)
ikan kerapu, kakap, baronang, kerang mutiara, teripang, rumput laut, dan biota laut lainnya
yang bernilai ekonomis tinggi, dengan potensi produksi sekitar 42 juta ton/tahun.
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut pada tingkatan genetik, spesies
maupun ekosistem tertinggi di dunia. Karenanya, Indonesia dikenal di dunia sebagai "megamarine biodiversity".Potensi ekonomi ini akan menjadi lebih bermakna dan bernilai strategis,
seiring dengan kenyataan bahwa pusat kegiatan ekonomi dunia sejak akhir abad-20
sebenarnya telah bergeser dari Poros Atlantik ke Poros Asia-Pasifik. Hampir 70 persen total
perdagangan dunia berlangsung di antara negara-negara di Asia-Pasifik. Lebih dari 75 persen
dari barang-barang yang diperdagangkannya di transportasikan melalui laut, terutama Selat
Malaka, Selat Lombok, Selat Makassar, dan laut-laut Indonesia lainnya dengan nilai sekitar
1.300 triliun AS setiap tahunnya.
Ada banyak sektor ekonomi maritim di Indonesia, yaitu: hubungan laut; perikanan
tangkap dan budidaya; pengolah hasil laut; pariwisata bahari; dan banyak lagi.
1. Sektor pelayaran
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di Bumi. Tetapi, industri
pelayaran Indonesia masih memiliki banyak tantangan yang perlu dihadapi. Hal ini membuat
kondisi pelayaran di Indonesia belum maksimal dalam meningkatkan perekonomian negara.
Selain dari fasilitas kapal angkut yang belum memadai, sistem pelabuhan yang ada di
Indonesia perlu terus diperbaiki. Tidak hanya itu, potensi Sumber Daya Manusia di sektor
pelayaran juga harus ditingkatkan, agar sektor pelayaran dapat berjalan dengan baik.
2. Sektor Perikanan

Sektor perikanan merupakan salah satu sektor yang cukup berkembang di Indonesia.
Pada pemerintahan yang lalu, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengadakan
gerakan makan ikan. Hal ini ditujukan agar adanya peningkatan yang konsisten di sektor
perikanan dan mempopulerkan ikan sebagai salah satu bahan makanan orang Indonesia.
Sektor ini memiliki tingkat hubungan ekonomi dan kesempatan kerja paling tinggi (ILOR).
Skor ILOR sektor perikanan ini sebesar 14,02.
3. Sektor Pariwisata Bahari
Ada banyak dampak positif yang ditimbulkan jika pariwisata bahari di Indonesia
dimaksimalkan. Beberapa di antaranya : terserapnya lapangan pekerjaan, meningkatnya
minat investor di bidang pariwisata, dan meningkatnya devisa negara dengan masuknya para
wisatawan asing. Ada banyak pariwisata bahari di Indonesia, salah satu di antaranya adalah
Raja Ampat yang berada di Papua. Sama dengan sektor perikanan, sektor ini juga memiliki
tingkat ILOR yang tinggi. Skor ILOR sektor pariwisata bahari ini sebesar 13,09
 Sarana dan pra-sarana kegiatan ekonomi
1. Industri Perikanan dan Bioteknologi
Sektor industri perikanan dan bioteknologi yang dimiliki Indonesia, katanya, bernilai
miliaran dolar Amerika tiap tahunnya. Sektor ini sayangnya belum serius digarap, sehingga
tidak menutup kemungkinan Indonesia kehilangan nilai miliaran dolar Amerika tersebut dari
sektor produk bioteknologi. Menilik inventarisasi Divisi Bioteknologi Kelautan PKSPL IPB,
ada sekitar 35 ribu biota laut.
2. Pertahanan dan Keamanan
Industri pertahanan dan keamanan tak bisa dipisahkan dari konsep Indonesia sebagai
negara maritim. Hal ini harus berwujud supaya Indonesia bisa menjaga kedaulatan sekaligus
melindungi kekayaan alam laut yang dimilikinya. Analis pertahanan maritim Indonesia,
Corrnie Rahakundini Bakrie, menilai sumber alam Indonesia banyak yang bisa dimanfaatkan.
Misalnya industri besi dan baja. Kedua industri tersebut bisa dinilai sebagai industri yang
membantu pertahanan dan keamanan, karena bisa digunakan untuk bahan pembuatan produk
militer – seperti kapal perang atau persenjataan.
3. Transportasi Laut

Bagaimana juga industri transportasi laut juga sangat dibutuhkan oleh ekonomi
maritim Indonesia, baik kebutuhan transportasi internasional maupun lokal. Transportasi laut
juga diperlukan bagi industri pariwisata, khususnya tempat-tempat wisata yang letaknya
terisolasi. Potensi industri transportasi laut ini masih sangat besar. Pasalnya Indonesia secara
geografis adalah negara kepulauan.
4. Pertambangan dan Energi
Indonesia memiliki banyak tempat yang memiliki sumber daya mineral. Semuanya
tersebar di seluruh kawasan perairan Indonesia. Beberapa sumber tersebut antara lain: agregat
bahan konstruksi, gas, minyak bumi, emas dan perak, monazite dan zircon, pasir kuarsa,
timah, nodul dan kerak mangan, kromit, posporit, pasir besi, mineral hydrothermal, dan gas
biogenic kelautan.
5. Tol Laut
Tol laut merupakan konsep gagasan Presiden Jokowi, yang berfungsi sebagai sarana
penyeberangan logistik yang menghubungkan semua pelabuhan besar yang ada di Indonesia.
Tol laut ini diharapkan menciptakan kelancaran pendistribusian barang sampai ke pelosok
negara Indonesia. Keberadaan tol laut juga berguna agar harga logistik antar-wilayah di
Indonesia bisa sama, setidaknya tidak berbeda jauh.
6. Jasa Pergudangan Laut
Salah satu contoh kegiatan ekonomi maritim yang memberikan kontribusi devisa negara
yang besar adalah jasa pergudangan laut. Dengan keberadaan industri ini, maka para pelaku
usaha bisa menyimpan barang di sekitar pelabuhan. Hal ini menghemat biaya transportasi dan
tidak membebani harga pokok barang. Apalagi jasa pergudangan laut ini disokong oleh tol
laut, maka perubahan harga tidak berbeda terlalu jauh antar-wilayahnya.
B.2 Tantangan ekonomi maritime yang dihadapi Indonesia
Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia belum mampu memberdayakan
potensi ekonomi maritime. Negeri ini belum mampu mentransformasikan sumber kekayaan
laut menjadi sumber kemajuan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Indonesia bagaikan
Negara yang belum bangkit. Indonesia juga memiliki posisi strategis antar benua yang
menghubungkan Negara-negara ekonomi maju. Posisi geopolitis strategis tersebut
memberikan peluang Indonesia sebagai jalur ekonomi. Sebagai Negara kekuatan menengah

yang berada di posisi silang strategis dua samudera, Pasifik dan Hindia, konsep poros
maritime dunia memerlukan rumusan strategi yang berjangkau jauh ke depan.
Indonesia sejauh ini belum bisa disebut sebagai Negara maritime, karena belum mampu
menempatkan kekuatan laut (sea power) sebagai landasan utama struktur penguatan ekonomi
dan politik Indonesia. Kita belum optimal mengelola laut beserta kekayaan yang terkandung
didalamnya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Perjuangan menuju Negara maritime
memang tidak mudah, namun jika seluruh bangsa ini memiliki kesamaan visi dan kebulatan
tekad maka hal tersebut bukanlah hal yang mustahil.
Indonesia menyadari, sebuah transformasi besar sedang terjadi di abad ke-21 ini. Pusat
gravitasi geoekonomi dan geopolitik dunia sedang bergeser dari barat ke Asia Timur. Dengan
pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 persen per tahun, dan total GDP sekitar 40 triliun dollas
AS. Sistem konektivitas Indonesia memiliki peringkat terendah di antara Negara ASEAN,
tertinggal jauh dari Negara, tertinggal jauh dari Negara-negara jauh terdekat yang berhasil
memanfaatkan ‘ambil untung’ posisi silang dunia. Konektivitas maritime tidak terlepas dari
jaringan transportasi laut sebagai tulang punggung logistik maritim, yang mendasarkan
percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah atau pulau. Kondisi infrastruktur masih terpusat di
Jawa, sedangkan di wilayah lain, seperti wilayah timur kurang mendapat perhatian. Ide
tentang ‘tol laut’ pada dasarnya adalah mewujudkan konektivitas pelayaran (shipping
connectivity) yang efektif dan efesien.
Indonesia harus menjadi kekuatan ekonomi maritime dengan segala sumber daya laut
biasa yang telah dimilikinya, sumber daya itu belum sepenuhnya optimal. Padalah semua itu
adalah prasyarat untuk disebut sebagai Negara poros maritime dunia. Suatu Negara maritime,
adalah Negara yang secara efektif menggunakan, memanfaatkan dan menguasai laut sebagai
sumber kehidupan ekonomi, sosial-budaya, politik dan keamanan untuk sebesar-besarnya
kesejahteraan rakyat.
Walaupun kekuasaan asing menguasai pelayaran dan perdagangan Nusantara, tetapi
keberadaan para pelaut BugisMakassar dalam pelayaran tidak hilang. Demikian juga
pedagang Melayu, Banjar, Minang, dan Jawa, mereka tetap saja memanfaatkan ruang laut
yang sama untuk berdagang seperti para nenek moyang mereka sebelumnya. Sementara itu
kehadiran pedagang asing di ruang laut itu terus bertambah, bahkan sampai berakhirnya
kekuasaan kolonial Belanda menjelang pertengahan abad ke-20. Begitu juga dengan volume

dan nilai perdagangan laut terus meningkat, menyusul bertambahnya variasi jenis komoditas
atau barang yang diperdagangkan, baik ekspor maupun impor. Kekuasaan Belanda dan
Inggris sampai dekade ketiga abad ke-19, selanjutnya tinggal Belanda saja, menggantikan
kekuasaan lokal dalam menentukan berbagai hal yang menyangkut perdagangan dan
pelayaran. Hal yang berubah pada waktu itu antara lain adalah kondisi struktural yang
disebabkan oleh munculnya dominasi kelompok baru di luar kelompok lokal, menyusul
peminggiran berbagai aspek para penguasa lokal, yang berdampak pada penurunan peran
ekonomi mereka.
Perubahan pola pasar dan berbagai kebijakan dunia saat itu menempatkan para pedagang
lokal berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Para pelaut Bugis-Makassar harus
bersaing ketat dengan perusahaan pelayaran milik orang Cina, Arab, dan terutama Eropa,
walaupun cukup banyak dari mereka yang mampu memanfaatkan kesempatan ekonomi baru
untuk mengembangkan aktivitas ekonomi. Pembangunan ekonomi nasional yang terus
berkembang akan makin bergantung pada potensi ekonomi maritim dan kelautan. Negara
harus mampu mendayagunakan potensi ekonomi dan sumberdaya pesisir dan lautan secara
optimal dengan memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan lingkungan. Oleh karena
itu, perlu perubahan paradigma pembangunan ekonomi dari darat ke maritim dan kelautan.
C. Kesimpulan
Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan kekayaan lautnya yang melimpah.
Perairan Indonesia yang luasnya mencapai 5,8 km2, Dimana luas tersebut mempunyai begitu
banyak sumber daya ekonomi kelautan dari permukaan, badan air, hingga dasar laut. Letak
Indonesia yang sangat strategis yaitu diapit oleh Samudera Pasifik dan Samudera Hindia serta
Benua Asia dan Australia seharusnya juga dapat memberikan keuntungan paling besar bagi
bangsa Indonesia dilihat dari posisi kelautan global.
Persoalan Indonesia saat ini adalah belum adanya keinginan dan kebutuhan untuk
memaksimalkan seluruh potensi maritim kita. Padahal, potensi maritim kita ini mampu
memberikan solusi bagi Indonesia, seperti masalah konektivitas antar pulau, hankam negara,
kesejahteraan rakyat, krisis pangan, pengangguran, bahkan bargaining power negara
kedepannya. Maka, dengan Indonesia memiliki presiden yang bervisi maritim, diharapkan
seluruh kekayaan maritim Indonesia dapat diberdayakan semaksimal mungkin sehingga dapat
membantu menyelesaikan permasalahan Indonesia lainnya.

Dibutuhkan suatu perubahan paradigma untuk mengembalikan kembali orientasi maritim
bangsa. Cara paling efektif agar maritim Indonesia dapat dikelola, diatur, dan dikendalikan
ialah dengan memiliki Presiden bervisi maritim, mulai dari periode ini hingga seterusnya. Hal
ini begitu dibutuhkan agar seluruh kebijakan, strategi, dan seluruh program dibawahnya
mengacu pada cita-cita menciptakan Indonesia sebagai negara maritim. Visi ini bukanlah ego
sektoral atau elit kepentingan karena berdasarkan fakta yang ada, Indonesia memang sudah
ditakdirkan menjadi negara maritim. Persoalannya hanya pada kemauan dan komitmen
pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA
Chandra Ellen. 2019. Begini Potensi dan Pembangunan Ekonomi Maritim di Indonesia.
https://www.finansialku.com/ekonomi-maritim/
Sultra

Antara.

2014.

Potensi

Ekonomi

Maritim

Indonesia

Sangat

Besar.

https://sultra.antaranews.com/berita/274815/potensi-ekonomi-maritim-indonesiasangat-besar
Adji Laksamana TNI Siwi Sukma. 2018. Menuju Negara Maritim.
https://books.google.co.id/books?
id=TV5uDwAAQBAJ&pg=PA171&dq=tantangan+ekonomi+maritim&hl=id&sa=X
&ved=0ahUKEwjepJWLobzpAhWEe30KHRJlABYQ6AEIKDAA#v=onepage&q=ta
ntangan%20ekonomi%20maritim&f=false
Hakim Musral Fajar. 2013. Blue Economy daerah Pesisir Berbasis Kelautan dan Perikanan.
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/edaj
Darma Bani Adi. 2019. Pengembangan Ekonomi Berbasis Maritim Di Provinsi Banten.
http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Ekonomi-Qu

Judul: Potensi Dan Tantangan Ekonomi Maritim Di Indonesia

Oleh: Suci Muqaddimatulj


Ikuti kami