Potensi Dan Tantangan Ekonomi Maritim Di Indonesia

Oleh Suci Muqaddimatulj

157,8 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Potensi Dan Tantangan Ekonomi Maritim Di Indonesia

POTENSI DAN TANTANGAN EKONOMI MAYARAKAT MARITIM DI INDONESIA Suci Muqaddimatul Jannah F041191043 Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, Makassar 90245 Abstrak Maritime dikonotasikan dengan masyarakat yang terletak dekat pesisir pantai beserta kegiatan yang dilakukan di perairan atau laut, atau dapat dikatakan terdapat interaksi antara sumberdaya manusia (penduduk) di daerah pesisir pantai dengan berbagai kegiatan, terutama dalam penangkapan ikan di laut, pemanfaatan sumberdaya kelautan lainnya, industry maritim, transportasi laut, pemasaran hasilhasil laut, dan perdagangan antar pulau. Sebagai Negara Kepulauan yang memiliki laut yang luas dan garis pantai yang panjang, sektor maritim dan kelautan menjadi sangat strategis bagi Indonesia ditinjau dari aspek ekonomi dan lingkungan, sosial-budaya, hukum dan keamanan. Indonesia mempunyai beberapa tantangan dalam menjaga perekonomian maritimnya, tantangan tersebut ialah memanfaatkan segala kekayaan laut Indonesia serta alur laut navigasi bagi kemaslahatan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Memahami ancaman terhadap laut dan ancaman dari laut, ancaman terhadap laut dapat bermula dari manusia secara langsung seperti polusi dan eksploitasi sumber daya secara tidak lestari dan tidak berkesinambungan. Sedangkan, ancaman di laut biasanya terkait dengan tindakan pelanggaran hukum seperti perompakan, perampokan di laut, penyelundupan orang, perdagangan orang, perbudakan anak buah kapal, penyelundupan senjata, obat-obatan terlarang. Mengamankan kawasan maritim Indonesia dari berbagai ancaman. Sehingga, bangsa Indonesia dapat memanfaatkan secara maksimal dengan prinsip kelestarian dan kesinambungan laut bagi seluruh rakyat Indonesia. Artikel ini mengangkat judul "Potensi dan Tantangan Ekonomi Masyarakat Maritim Di Indonesia", yang didasarkan dari hasil mengkaji berbagai literatur sebagai sumber rujukan dan mengobservasi sebagai hasil penelitian. Kemudian, data yang diperoleh disajikan dalam pemaparan deskriptif. Tujuan artikel ini yaitu untuk mengetahui Potensi Ekonomi Indonesia sebagai Negara maritime dan tantangan apa saya yang di hadapi untuk tetap menjaga perokonomian Indonesia tetap stabil. Kata Kunci :Potensi Ekonomi Maritim Indonesia dan Tantangan Yang Dihadapinya A. LATAR BELAKANG Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki ± 18.110 pulau dengan garis pantai sepanjang 108.000 km. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 3,2 juta km2 yang terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta km2 dan laut teritorial seluas 0,3 juta km2. Bahkan secara historis menunjukan bahwa wilayah maritime ini telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan geografis yang dimilikinya. Untuk mengoptimalkan nilai manfaat sumberdaya kemaritiman bagi pengembangan wilayah secara berkelanjutan dan menjamin kepentingan umum secara luas (public interest), diperlukan intervensi kebijakan dan penanganan khusus oleh Pemerintah untuk pengelolaan wilayah maritim. Posisi strategis Indonesia yang berada diantara dua benua (Asia dan Australia) menempatkan Indonesia sebagai poros maritim dunia dalam konteks perdagangan global yang menghubungkan kawasan AsiaPasifik dengan Australia (KKP 2016). Indonesia mempunyai potensi besar dalam pengembangan kelautan dan perikanan. Berdasarkan hasil kajian potensi lestari sumber daya ikan di Indonesia mencapai 9,9 juta ton per tahun baik di wilayah Indonesia maupun di perairan (ZEEI). Potensi perikanan budidaya air tawar di Indonesia tercatat lebih dari 2 juta hektar (KKP 2016). Arah pengembangan sektor perikanan dan kelautan ke depan sesuai dengan yang disampaikan oleh presiden dalam RPJMN 2014-2019 di mana laut adalah masa depan bangsa, selain itu sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah laut yang sangat besar, percepatan pembangunan kelautan merupakan tantangan yang harus diupayakan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Tantangan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia antara lain: 1. Perlunya penegakan kedaulatan dan yuridiksi nasional yang perlu diperkuat sesuai dengan konvensi PBB tentang Hukum Laut yang telah diratifikasi, 2. Bagaimana mengembangkan industry kelautan, industry perikanan, perniagaan laut dan peningkatan pendayagunaan potensi laut dan dasar laut bagi kesejahteraan rakyat Indonesia, 3. Menjaga daya dukung dan kelestarian fungsi lingkungan laut. Selain itu pada poin 7 pada RPJPN 2005-2025 yang memiliki sasaran untuk terwujudnya Indonesia sebagai negara kepulauan yang mandiri. Maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional ditandai oleh 5 aspek, yaitu: 1. Terbangunnya jaringan saran dan prasaran sebagai perekat smeua pulau dan kepulauan Indonesia, 2. Meningkat dan menguatnya SDM di bidang kelautan yang didukung pengembangan IPTEK, 3. Ditetapkannya wilayah negara kesatuan NKRI, asset dan hal-hal yang terkait dalam kerangka pertahanan negara, 4. Terbangunnya ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan, 5. Berkurangnya dampak bencana pesisir dan pencemaran laut. Perikanan dan kelautan merupakan salah satu sektor strategis di Indonesia. Dengan demikian, maka perlu diadakan analisis mengenai potensi dan tantangan ekonomi maritime Indonesia yang perlu diketahui oleh masyarakat. Oleh karena itu, perlunya peran serta pihak yang berkepentingan khususnya pemerintah dalam menjaga kondisi keadaan yang berada di pesisir maritim Indonesia. Berdasarkan hasil mengkaji berbagai literatur dan mengamati berbagai fenomena yang terjadi, maka adapun rumusan permasalahannya yang dapat disajikan sebagai berikut: 1. Bagaimana potensi ekonomi maritime yang ada di Indonesia ? 2. Bagaimana tantangan ekonomi maritime yang dihadapi Indonesia ? B. Pembahasan B.1 Potensi Ekonomi Mariti Yang Ada Di Indonesia Berdasarkan definisinya, ekonomi maritim adalah seluruh aktivitas ekonomi yang berlangsung di wilayah pesisir dan lautan serta aktivitas ekonomi yang terjadi di daratan yang menggunakan bahan baku dari wilayah pesisir dan lautan. Dari definisi ini, dapat disimpulkan bahwa ekonomi maritim Indonesia meliputi beberapa sektor, yaitu:  Perikanan tangkap.  Perikanan budi daya.  Industri pengolahan perikanan dan hasil laut.  Industri bioteknologi kelautan.  ESDM (Energi dan Sumber Daya Material).  Pariwisata Bahari.  Perhubungan Laut.  Kehutanan.  Sumber daya pulau-pulau kecil.  Industri dan jasa maritim.  SDA (Sumber Daya Alam) non-konvensional. Mata pencaharian penduduk desa pesisir cukup beragam, namun sebagian besar penduduk desa pesisir memiliki sumber penghasilan utama dari bidang pertanian dan perikanan sebagai nelayan dan pembudi daya ikan. Menurut Koentjaraningrat (1997), mencari ikan merupakan mata pencaharian atau sumber kehidupan yang sudah ada sejak awal keberadaan manusia di bumi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mata pencaharian menangkap ikan lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, seperti perkembangan alat-alat yang digunakan (kail, tombak, jala, perangkap) dan peralatan navigasi dan pengamanan. Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, yang ditaburi oleh 13.466 pulau pada luasan laut 5,8 juta km2 termasuk zona ekonomi eksklusif Indonesia (ZEEI) dan dikelilingi oleh 95.181 km garis pantai, Indonesia diberkahi dengan kekayaan laut yang sangat besar dan beranekaragam. Kekayaan itu baik berupa sumberdaya alam yang dapat pulih seperti perikanan, terumbu karang, hutan mangrove, rumput laut, dan produk-produk bioteknologi; dan sumber daya alam yang tak dapat pulih seperti minyak dan gas bumi, timah, bijih besi, bauksit, dan minerallainnya. Selain itu, energi kelautan seperti pasang-surut, gelombang, angin, dan "Ocean Thermal Energy Conversion" (OTEC); maupun jasa-jasa lingkungan kelautan seperti pariwisata bahari dan transportasi laut. Potensi produksi lestari ikan laut Indonesia yang dapat dimanfaatkan melalui usaha perikanan tangkap sebesar 6,5 juta ton/tahun, sekitar 8 persen dari total potensi produksi lestari ikan laut dunia (90 juta ton/ tahun). Kurang lebih 24 juta hektare (ha) perairan laut dangkal Indonesia cocok untuk usaha budi daya laut (mariculture) ikan kerapu, kakap, baronang, kerang mutiara, teripang, rumput laut, dan biota laut lainnya yang bernilai ekonomis tinggi, dengan potensi produksi sekitar 42 juta ton/tahun. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut pada tingkatan genetik, spesies maupun ekosistem tertinggi di dunia. Karenanya, Indonesia dikenal di dunia sebagai "megamarine biodiversity".Potensi ekonomi ini akan menjadi lebih bermakna dan bernilai strategis, seiring dengan kenyataan bahwa pusat kegiatan ekonomi dunia sejak akhir abad-20 sebenarnya telah bergeser dari Poros Atlantik ke Poros Asia-Pasifik. Hampir 70 persen total perdagangan dunia berlangsung di antara negara-negara di Asia-Pasifik. Lebih dari 75 persen dari barang-barang yang diperdagangkannya di transportasikan melalui laut, terutama Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Makassar, dan laut-laut Indonesia lainnya dengan nilai sekitar 1.300 triliun AS setiap tahunnya. Ada banyak sektor ekonomi maritim di Indonesia, yaitu: hubungan laut; perikanan tangkap dan budidaya; pengolah hasil laut; pariwisata bahari; dan banyak lagi. 1. Sektor pelayaran Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di Bumi. Tetapi, industri pelayaran Indonesia masih memiliki banyak tantangan yang perlu dihadapi. Hal ini membuat kondisi pelayaran di Indonesia belum maksimal dalam meningkatkan perekonomian negara. Selain dari fasilitas kapal angkut yang belum memadai, sistem pelabuhan yang ada di Indonesia perlu terus diperbaiki. Tidak hanya itu, potensi Sumber Daya Manusia di sektor pelayaran juga harus ditingkatkan, agar sektor pelayaran dapat berjalan dengan baik. 2. Sektor Perikanan Sektor perikanan merupakan salah satu sektor yang cukup berkembang di Indonesia. Pada pemerintahan yang lalu, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengadakan gerakan makan ikan. Hal ini ditujukan agar adanya peningkatan yang konsisten di sektor perikanan dan mempopulerkan ikan sebagai salah satu bahan makanan orang Indonesia. Sektor ini memiliki tingkat hubungan ekonomi dan kesempatan kerja paling tinggi (ILOR). Skor ILOR sektor perikanan ini sebesar 14,02. 3. Sektor Pariwisata Bahari Ada banyak dampak positif yang ditimbulkan jika pariwisata bahari di Indonesia dimaksimalkan. Beberapa di antaranya : terserapnya lapangan pekerjaan, meningkatnya minat investor di bidang pariwisata, dan meningkatnya devisa negara dengan masuknya para wisatawan asing. Ada banyak pariwisata bahari di Indonesia, salah satu di antaranya adalah Raja Ampat yang berada di Papua. Sama dengan sektor perikanan, sektor ini juga memiliki tingkat ILOR yang tinggi. Skor ILOR sektor pariwisata bahari ini sebesar 13,09  Sarana dan pra-sarana kegiatan ekonomi 1. Industri Perikanan dan Bioteknologi Sektor industri perikanan dan bioteknologi yang dimiliki Indonesia, katanya, bernilai miliaran dolar Amerika tiap tahunnya. Sektor ini sayangnya belum serius digarap, sehingga tidak menutup kemungkinan Indonesia kehilangan nilai miliaran dolar Amerika tersebut dari sektor produk bioteknologi. Menilik inventarisasi Divisi Bioteknologi Kelautan PKSPL IPB, ada sekitar 35 ribu biota laut. 2. Pertahanan dan Keamanan Industri pertahanan dan keamanan tak bisa dipisahkan dari konsep Indonesia sebagai negara maritim. Hal ini harus berwujud supaya Indonesia bisa menjaga kedaulatan sekaligus melindungi kekayaan alam laut yang dimilikinya. Analis pertahanan maritim Indonesia, Corrnie Rahakundini Bakrie, menilai sumber alam Indonesia banyak yang bisa dimanfaatkan. Misalnya industri besi dan baja. Kedua industri tersebut bisa dinilai sebagai industri yang membantu pertahanan dan keamanan, karena bisa digunakan untuk bahan pembuatan produk militer – seperti kapal perang atau persenjataan. 3. Transportasi Laut Bagaimana juga industri transportasi laut juga sangat dibutuhkan oleh ekonomi maritim Indonesia, baik kebutuhan transportasi internasional maupun lokal. Transportasi laut juga diperlukan bagi industri pariwisata, khususnya tempat-tempat wisata yang letaknya terisolasi. Potensi industri transportasi laut ini masih sangat besar. Pasalnya Indonesia secara geografis adalah negara kepulauan. 4. Pertambangan dan Energi Indonesia memiliki banyak tempat yang memiliki sumber daya mineral. Semuanya tersebar di seluruh kawasan perairan Indonesia. Beberapa sumber tersebut antara lain: agregat bahan konstruksi, gas, minyak bumi, emas dan perak, monazite dan zircon, pasir kuarsa, timah, nodul dan kerak mangan, kromit, posporit, pasir besi, mineral hydrothermal, dan gas biogenic kelautan. 5. Tol Laut Tol laut merupakan konsep gagasan Presiden Jokowi, yang berfungsi sebagai sarana penyeberangan logistik yang menghubungkan semua pelabuhan besar yang ada di Indonesia. Tol laut ini diharapkan menciptakan kelancaran pendistribusian barang sampai ke pelosok negara Indonesia. Keberadaan tol laut juga berguna agar harga logistik antar-wilayah di Indonesia bisa sama, setidaknya tidak berbeda jauh. 6. Jasa Pergudangan Laut Salah satu contoh kegiatan ekonomi maritim yang memberikan kontribusi devisa negara yang besar adalah jasa pergudangan laut. Dengan keberadaan industri ini, maka para pelaku usaha bisa menyimpan barang di sekitar pelabuhan. Hal ini menghemat biaya transportasi dan tidak membebani harga pokok barang. Apalagi jasa pergudangan laut ini disokong oleh tol laut, maka perubahan harga tidak berbeda terlalu jauh antar-wilayahnya. B.2 Tantangan ekonomi maritime yang dihadapi Indonesia Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia belum mampu memberdayakan potensi ekonomi maritime. Negeri ini belum mampu mentransformasikan sumber kekayaan laut menjadi sumber kemajuan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Indonesia bagaikan Negara yang belum bangkit. Indonesia juga memiliki posisi strategis antar benua yang menghubungkan Negara-negara ekonomi maju. Posisi geopolitis strategis tersebut memberikan peluang Indonesia sebagai jalur ekonomi. Sebagai Negara kekuatan menengah yang berada di posisi silang strategis dua samudera, Pasifik dan Hindia, konsep poros maritime dunia memerlukan rumusan strategi yang berjangkau jauh ke depan. Indonesia sejauh ini belum bisa disebut sebagai Negara maritime, karena belum mampu menempatkan kekuatan laut (sea power) sebagai landasan utama struktur penguatan ekonomi dan politik Indonesia. Kita belum optimal mengelola laut beserta kekayaan yang terkandung didalamnya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Perjuangan menuju Negara maritime memang tidak mudah, namun jika seluruh bangsa ini memiliki kesamaan visi dan kebulatan tekad maka hal tersebut bukanlah hal yang mustahil. Indonesia menyadari, sebuah transformasi besar sedang terjadi di abad ke-21 ini. Pusat gravitasi geoekonomi dan geopolitik dunia sedang bergeser dari barat ke Asia Timur. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 persen per tahun, dan total GDP sekitar 40 triliun dollas AS. Sistem konektivitas Indonesia memiliki peringkat terendah di antara Negara ASEAN, tertinggal jauh dari Negara, tertinggal jauh dari Negara-negara jauh terdekat yang berhasil memanfaatkan ‘ambil untung’ posisi silang dunia. Konektivitas maritime tidak terlepas dari jaringan transportasi laut sebagai tulang punggung logistik maritim, yang mendasarkan percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah atau pulau. Kondisi infrastruktur masih terpusat di Jawa, sedangkan di wilayah lain, seperti wilayah timur kurang mendapat perhatian. Ide tentang ‘tol laut’ pada dasarnya adalah mewujudkan konektivitas pelayaran (shipping connectivity) yang efektif dan efesien. Indonesia harus menjadi kekuatan ekonomi maritime dengan segala sumber daya laut biasa yang telah dimilikinya, sumber daya itu belum sepenuhnya optimal. Padalah semua itu adalah prasyarat untuk disebut sebagai Negara poros maritime dunia. Suatu Negara maritime, adalah Negara yang secara efektif menggunakan, memanfaatkan dan menguasai laut sebagai sumber kehidupan ekonomi, sosial-budaya, politik dan keamanan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Walaupun kekuasaan asing menguasai pelayaran dan perdagangan Nusantara, tetapi keberadaan para pelaut BugisMakassar dalam pelayaran tidak hilang. Demikian juga pedagang Melayu, Banjar, Minang, dan Jawa, mereka tetap saja memanfaatkan ruang laut yang sama untuk berdagang seperti para nenek moyang mereka sebelumnya. Sementara itu kehadiran pedagang asing di ruang laut itu terus bertambah, bahkan sampai berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda menjelang pertengahan abad ke-20. Begitu juga dengan volume dan nilai perdagangan laut terus meningkat, menyusul bertambahnya variasi jenis komoditas atau barang yang diperdagangkan, baik ekspor maupun impor. Kekuasaan Belanda dan Inggris sampai dekade ketiga abad ke-19, selanjutnya tinggal Belanda saja, menggantikan kekuasaan lokal dalam menentukan berbagai hal yang menyangkut perdagangan dan pelayaran. Hal yang berubah pada waktu itu antara lain adalah kondisi struktural yang disebabkan oleh munculnya dominasi kelompok baru di luar kelompok lokal, menyusul peminggiran berbagai aspek para penguasa lokal, yang berdampak pada penurunan peran ekonomi mereka. Perubahan pola pasar dan berbagai kebijakan dunia saat itu menempatkan para pedagang lokal berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Para pelaut Bugis-Makassar harus bersaing ketat dengan perusahaan pelayaran milik orang Cina, Arab, dan terutama Eropa, walaupun cukup banyak dari mereka yang mampu memanfaatkan kesempatan ekonomi baru untuk mengembangkan aktivitas ekonomi. Pembangunan ekonomi nasional yang terus berkembang akan makin bergantung pada potensi ekonomi maritim dan kelautan. Negara harus mampu mendayagunakan potensi ekonomi dan sumberdaya pesisir dan lautan secara optimal dengan memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, perlu perubahan paradigma pembangunan ekonomi dari darat ke maritim dan kelautan. C. Kesimpulan Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan kekayaan lautnya yang melimpah. Perairan Indonesia yang luasnya mencapai 5,8 km2, Dimana luas tersebut mempunyai begitu banyak sumber daya ekonomi kelautan dari permukaan, badan air, hingga dasar laut. Letak Indonesia yang sangat strategis yaitu diapit oleh Samudera Pasifik dan Samudera Hindia serta Benua Asia dan Australia seharusnya juga dapat memberikan keuntungan paling besar bagi bangsa Indonesia dilihat dari posisi kelautan global. Persoalan Indonesia saat ini adalah belum adanya keinginan dan kebutuhan untuk memaksimalkan seluruh potensi maritim kita. Padahal, potensi maritim kita ini mampu memberikan solusi bagi Indonesia, seperti masalah konektivitas antar pulau, hankam negara, kesejahteraan rakyat, krisis pangan, pengangguran, bahkan bargaining power negara kedepannya. Maka, dengan Indonesia memiliki presiden yang bervisi maritim, diharapkan seluruh kekayaan maritim Indonesia dapat diberdayakan semaksimal mungkin sehingga dapat membantu menyelesaikan permasalahan Indonesia lainnya. Dibutuhkan suatu perubahan paradigma untuk mengembalikan kembali orientasi maritim bangsa. Cara paling efektif agar maritim Indonesia dapat dikelola, diatur, dan dikendalikan ialah dengan memiliki Presiden bervisi maritim, mulai dari periode ini hingga seterusnya. Hal ini begitu dibutuhkan agar seluruh kebijakan, strategi, dan seluruh program dibawahnya mengacu pada cita-cita menciptakan Indonesia sebagai negara maritim. Visi ini bukanlah ego sektoral atau elit kepentingan karena berdasarkan fakta yang ada, Indonesia memang sudah ditakdirkan menjadi negara maritim. Persoalannya hanya pada kemauan dan komitmen pemerintah. DAFTAR PUSTAKA Chandra Ellen. 2019. Begini Potensi dan Pembangunan Ekonomi Maritim di Indonesia. https://www.finansialku.com/ekonomi-maritim/ Sultra Antara. 2014. Potensi Ekonomi Maritim Indonesia Sangat Besar. https://sultra.antaranews.com/berita/274815/potensi-ekonomi-maritim-indonesiasangat-besar Adji Laksamana TNI Siwi Sukma. 2018. Menuju Negara Maritim. https://books.google.co.id/books? id=TV5uDwAAQBAJ&pg=PA171&dq=tantangan+ekonomi+maritim&hl=id&sa=X &ved=0ahUKEwjepJWLobzpAhWEe30KHRJlABYQ6AEIKDAA#v=onepage&q=ta ntangan%20ekonomi%20maritim&f=false Hakim Musral Fajar. 2013. Blue Economy daerah Pesisir Berbasis Kelautan dan Perikanan. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/edaj Darma Bani Adi. 2019. Pengembangan Ekonomi Berbasis Maritim Di Provinsi Banten. http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Ekonomi-Qu

Judul: Potensi Dan Tantangan Ekonomi Maritim Di Indonesia

Oleh: Suci Muqaddimatulj

Ikuti kami