Ekonomi Mikro Islam Tentang Teori Permintaan Islam

Oleh Adella Nurlita

245,3 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Ekonomi Mikro Islam Tentang Teori Permintaan Islam

STRUKTUR DOSEN PENGASUH Ekonomi Mikro Islam Yulia Hafizah,, SHI, MEI Teori Permintaan Islam OLEH : KELOMPOK 1  Ervina : 1301150137  AdellaNurlita : 1401150097  Annisa Fitri : 1401151445 Institut Agama Islam Negeri ANTASARI BANJARMASIN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM EKONOMI SYARIAH 2015 KATA PENGANTAR Bismillahhirrohmannirrohim.. Segala Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas Rahmat dan Izin-Nya lah kami mampu menyelesaikan tugas makalah mengenai “Teori Permintaan Islami” ini dengan baik dan lancar. Tak lupa Sholawat dan Salam kami sampaikan kepada Junjungan Nabi besar Muhammad Saw, keluarga, para sahabat, dan juga umat beliau hingga akhir zaman. Makalah ini disusun sebagai tugas kelompok pada Mata Kuliah Ekonomi Mikro Islam. “Tidak ada gading yang tak retak”, Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik yang disengaja maupun tidak. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar Makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata kami berharap semoga Makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami sebagai penulis dan pembaca pada umumnya. Banjarmasin, 20 Oktober 2015 Penulis DAFTAR ISI Cover Kata pengantar………………………………………………… i Daftar isi………………………………………………………………. ii Pendahuluan A. Latar belakang……………………………………………. 1 B. Rumusan masalah…………………………………………. 1 C. Tujuan…………………………………………………………….. 1 Pembahasan A. Pengertian dari Permintaan.............................................. B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan.............. C. Konsep Permintaan dari Persefektif Ekonomi Islam........... D. Hukum Permintaan............................................................ E. Perbedaan Teori Permintaan Konvensional dengan Permintaan Islami... F. Penurunan Kurva Permintaan...................................... G. Pilihan Konsumen: Pendekatan Iso Maslahah................. H. Efek Berkah pada Pilihan Optimal.................................. Penutup.............................................................................. DAFTAR PUSTAKA 15 BAB 2 PEMBAHASAN A. Pengertian dari Permintaan a. Konvensional Secara umum permintaan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu .Besar kecilnya perubahan permintaan ditentukan oleh besar kecilnya perubahan harga.Jika ini terjadi maka berlaku perbandingan terbalik antara harga terhadap harga permintaan dan berbanding lurus dengan penawaran.Hukum permintaan menyatakan “bila harga suatu barang naik, maka permintaan barang tersebut turun, sebaliknya jika harga suatu barang turun maka permintaan terhadap suatu barang tersebut akan naik”. Menurut N.Gregory Mankiw dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Mikro Ekonomi” menyebutkan bahwa permintaan adalah sejumlah barang yang diinginkan dan dapat dibeli oleh pembeli.kita tahu bahwa untuk barang apapun, ada banyak hal yang menentukan jumlah yang akan diminta pembeli, namun ketika menganalisis bagaimana pasar bekerja, suatu hal yang sangat berperan adalah harga barang tersebut. Jumlah permintaan barang menurun ketika harga barang naik dan meningkat ketika harga barang turun.Hal ini berarti jumlah permintaan barang berbanding terbalik dengan harga. Hubungan antara harga dengan jumlah permintaan ini berlaku untuk hamper semua barang dalam ekonomi, dan dalam kenyataannya, para ekonom dimanapun menyebut hal ini sebagai hukum permintaan. Jika hal-hal lain tetap, ketika suatu barang naik jumlah permintaan untuk barang tersebut akan turun. Sebaliknya ketika harga turun jumlah permintaan naik. Permintaan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: a. Permintaan absolut (absolut demand) adalah seluruh permintaan terhadap barang dan jasa baik yang bertenaga beli/berkemampuan membeli, maupun yang tidak bertenaga beli. b. Permintaan efektif (effective demand) adalah permintaan terhadap barang dan jasa yang disertai kemampuan membeli. Adapun permintaan menurut ekonomi Islam, misalnya Ibnu Taimiyah, permintaan adalah hasrat atau keinginan terhadap suatu barang (raghbah fi al-syai)1 b. Islam Adiwarman A. Karim. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Edisi Ketiga. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2012), hal. 364 1 Menurut Ibnu Taimiyyah, permintaan suatu barang adalah hasrat terhadap sesuatu, yang digambarkan dengan istilah raghbah fil al-syai. Diartikan juga sebagai jumlah barang yang diminta2. Secara garis besar, permintaan dalam ekonomi islam sama dengan ekonomi konvensional, namun ada prinsip-prinsip tertentu yang harus diperhatikan oleh individu muslim dalam keinginannya. Islam mengharuskan orang untuk mengkonsumsi barang yang halal dan thayyib. Aturan islam melarang seorang muslim memakan barang yang haram, kecuali dalam keadaan darurat dimana apabila barang tersebut tidak dimakan, maka akan berpengaruh terhadap nya muslim tersebut. Di saat darurat seorang muslim dibolehkan mengkonsumsi barang haram secukupnya. Dalam ajaran Islam, orang yang mempunyai uang banyak tidak serta merta diperbolehkan untuk membelanjakan uangnya untuk membeli apa saja dan dalam jumlah berapapun yang diinginkannya. Batasan anggaran (budget constrain) belum cukup dalam membatasi konsumsi. Batasan lain yang harus diperhatikan adalah bahwa seorang muslim tidak berlebihan (israf), dan harus mengutamakan kebaikan (maslahah). Islam tidak menganjurkan permintaan terhadap suatu barang dengan tujuan kemegahan, kemewahan dan kemubadziran. Bahkan islam memerintahkan bagi yang sudah mencapai nisab, untuk menyisihkan dari anggarannya untuk membayar zakat, infak dan shadaqah. B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan a. Konvensional 1. Harga barang lain. Permintaan akan dipengaruhi juga oleh harga barang lain. Dengan catatan barang lain itu merupakan barang substitusi (pengganti) atau pelengkap (komplementer). Apabila barang substitusi naik, maka permintaan terhadap barang itu sendiri akan meningkat. Sebaliknya, apabila harga barang substitusi turun, maka permintaan terhadap barang itu sendiri akan turun. 2. Tingkat pendapatan konsumen akan menunjukkan daya beli konsumen. Semakin tinggi tingkat pendapatan, daya beli konsumen kuat, sehingga akhirnya akan mendorong permintaan terhadap suatu barang. 3. Selera, kebiasaan, mode atau musim juga akan memengaruhi permintaan suatu barang. Jika selera masyarakat terhadap suatu barang meningkat, permintaan terhadap barang itu pun akan meningkat. 4. Jumlah Penduduk mencerminkan jumlah pembeli. Sifat hubungan jumlah penduduk dengan permintaan suatu barang adalah positif, apabila jumlah penduduk meningkat, maka konsumen terhadap barangpun meningkat. Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islami, The International Institute of Islamic Thougt Indonesia, Jakarta, 2003. 2 5. Perkiraan harga dimasa dating. Apabila kita memperkirakan harga suatu barang di masa mendatang naik, kita lebih baik membeli barang tersebut sekarang guna menghemat belanja di masa mendatang, maka permintaan terhadap barang itu sekarang akan meningkat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hubungan antara permintaan dan perkiraan harga di masa mendatang adalah positif. b. Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa menjelaskan, bahwa hal-hal yang mempengaruhi permintaan suatu barang antara lain: 1. Keinginan atau selera masyarakat terhadap suatu barang yang berbeda daan selalu berubah-ubah. Dimana ketika masyarakat telah memiliki selera terhadap suatu barang maka hal ini akan mempengaruhi jumlah permintaan terhadap barang tersebut. 2. Jumlah para peminat terhadap suatu barang. Jika jumlah masyarakat yang menginginkan barang tersebut semakin banyak, maka harga barang tersebut akan semakin meningkat. 3. Kualitas pembeli (al-mu’awid). Dimana tingkat pendapatan merupakan salah satu cirri kualitas pembeli yang baik. Semakin besar tingkat pendapatan, semakin tinggi kualitas manyarakat untuk membeli 4. Lemah atau kuatnya kebutuhan suatu barang. Apabila kebutuhan terhadap suatu barang itu tinggi maka permintan terhadap barang itu juga tinggi 5. Cara pembayaran (tunai atau angsuran).Jika pembelian barang tersebut dengan transaksi tunai, biasanya permintaannya lebih tinggi 6. Besarnya biaya transaksi. Apabila biaya transaksi dari suatu barang rendah, maka permintaan akan meningkat. C. Konsep permintaan dalam Perspektif Ekonomi Islam Konsep permintaan dalam islam menilai suatu komoditi (barang atau jasa) tidak semuanya bisa dikonsumsi maupun digunakan, dibedakan antara yang halal dengan yang haram. Karena itu, dalam teori permintan Islami membahas permintaan barang halal, sedangkan dalam permintaan konvensional, semua komoditi dinilai sama, bisa dikonsumsi dan digunakan. QS. Al Maidah: 87-88 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang telah dihalalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas “ Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah Yang kamu beriman kepada-Nya” . Menurut Ibnu Taimiyah, permintaan suatu barang adalah hasrat terhadap sesuatu, yang digambarkan dengan istilah raghbah fil al-syai. Yang diartikan sebagai Jumlah barang yang diminta.secara garis besar, permintaan dalam ekonomi Islam sama dengan ekonomi konvensional, namun ada batasan batasan tertentu yang harus diperhatikan oleh individu muslim dalam keinginannya. Islam mengharuskan untuk mengkonsumsi barang yang halal lagi thoyyib. Aturan Islam melarang seorang muslim memakan barang yang haram, kecuali dalam keadaan darurat dimana apabila barang tersebut tidak dimakan, maka akan berpengaruh pada kesehatan muslim tersebut. Dalam ajaran Islam orang yang mempunyai banyak uang tidak diperbolehkan membelanjakan uangnya semau hatinya.Batasan anggaran belum cukup untuk membatasi konsumsi. Batasan lain yang perlu diperhatikan adalah seorang muslim tidak boleh berlebihan (ishrof), dan harus mengutamakan kebaikan (maslahah)islam tidak menganjurkan permintaan suatu barang dengan tujua kemegahan, kemewahan, kemubadziran. Bahkan Islam memerintahkan bagi yang sudah mencapai nishab, untuk menyisihkan dari anggarannya untuk membayar zakat, infaq, dan shodaqoh. D. Hukum Permintaan Dalam hukum permintaan dijelaskan sifat hubungan antara permintaan suatu barang dengan tingkat harganya. Hukum permintaan pada hakikatnya merupakan suatu hipotesis yangmenyatakan : Makin rendah harga suatu barang maka makin banyak permintaan terhadap barang tersebut, sebaliknya makin tinggi harga suatu barang maka makin sedikit permintaan terhadapbarang tersebut. Hukum (Sunnatullah) permintaan tersebut berlaku, jika asumsi-asumsi yang dibutuhkan terpenuhi, yaitu : cateris paribus atau dengan kata lain faktor-faktor lain selain harga dianggap tetap (tidak mengalami perubahan). 1. Hubungan Antara Harga dan Permintaan Berdasarkan hukum permintaan tersebut, dapat dipahami adanya hubungan antara permintaan dengan harga. Secara teori, hukum ini dijelaskan yaitu : manakala pada suatu pasar terdapat permintaan suatu produk yang relatif sangat banyak, sehingga : 1) Barang yang tersedia pada produsen tidak dapat memenuhi semua permintaan tersebut sehingga untuk membatasi jumlah pembelian produsen akan menaikkan harga jual produk tersebut. 2) Penjual akan berusaha menggunakan kesempatan tersebut untuk meningkatkan dan memperbesar keuntungannya dengan cara menaikkan harga jual produknya. Sebaliknya, manakala pada suatu pasar permintaan suatu produk relatif sedikit, maka yang terjadi adalah harga turun. Keadaan ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Barang tersedia pada produsen/penjual relatif sangat banyak sehingga manakala jumlah permintaan sedikit produsen akan berusaha menjual produknya sebanyak mungkin dengan cara menurunkan harga jual produknya; 2) Produsen/penjual hanya akan meningkatkan keuntungannya dari volume penjualannya. Perilaku ekonomi seperti ini pernah ditangkap dan dirumuskan oleh para pemikir ekonomi Islam masa silam, yaitu : Abu Yusuf, Ibn Taymiyah, Al-Ghazali dan Ibn Khaldun3 a. Abu Yusuf (113-182 H/ 731-798 M) Beliau tercatat sebagai ulama terawal yang mulai menyinggung tentang mekanisme pasar. Fenomena yang terjadi pada masa beliau adalah kelangkaan barang maka harga cenderung akan tinggi, sedangkan pada saat barang tersebut melimpah, maka harga cenderung untuk turun atau lebih rendah. Harga P1 A P2 B 0 Q1 Q2 Jumlah Pemahaman pada zaman Abu Yusuf tentang hubungan antara harga dan kuantitas hanya memerhatikan kurva demand. Dalam literatur kontemporer, Sadono Sukirno. Mikroekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), hal 115 3 fenomena yang berlaku pada zaman Abu Yusuf dapat dijelaskan dengan teori permintaan. Teori ini menjelaskan hubungan antara harga dengan kuantitas yang diminta4. Dimana hubungan harga dan kuantitas dapat diformulasikan sebagai berikut: D=Q=f Formulasi ini menujukkan bahwa pengaruh harga terhadap jumlah permintaan suatu komoditi adalah negatif, apabila P (harga) naik maka Q (barang yang diminta) turun, begitu pula sebaliknya. Abu Yusuf membantah pemahaman seperti ini, karena pada kenyataannya tidak selalu terjadi bahwa bila persediaan barang sedikit, harga akan mahal dan bila persediaan barang melimpah, harga akan murah. Ia menyatakan “Kadang - kadang makanan berlimpah, tetapi mahal dan kadang-kadang makanan sangat sedikit tetapi murah. Hal ini dapat digambarkan, berikut: Abu Yusuf menyangkal pendapat umum mengenai hubungan terbalik antara persediaan barang dan harga, karena pada kenyataannya harga tidak bergantung pada permintaan saja, tetapi juga pada kekuatan penawaran. Karena itu, peningkatan atau penurunan harga tidak selalu berhubungan dengan peningkatan atau penurunan permintaan, atau penurunan atau peningkatan dalam produksi. Beliau menyatakan: ” Tidak ada batasan tertentu tentang murah dan mahal yang dapat dipastikan. Hal tersebut ada yang mengaturnya. Prinsipnya tidak bisa diketahui. Murah bukan karena melimpahnya makanan, demikian juga mahal tidak disebabkan karena kelangkaan makanan. Murah dan mahal merupakan ketentuan Allah.” Di lain pihak, beliau juga menegaskan menegaskan bahwa ada beberapa variabel lain yang memengaruhi, tetapi dia tidak menjelaskan lebih rinci. Bisa jadi variabel itu adalah pergeseran dalam permintaan atau jumlah uang yang beredar di suatu negara atau penimbunan dan penahanan barang, atau semua hal tersebut. Beberapa abad sesudahnya, ketidakjelasan apa variabel lain yang memengaruhi dalam permintaan juga dialami oleh Adam Smith (1776 M) dengan mengatakan bahwa harga ditentukan oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat (The Invisible Hands). b. Al-Ghazali ( 450-505 H/ 1058 – 1111 M) Adiwarman A. Karim. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Edisi Ketiga. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2012), hal. 250 4 Kontribusi beliau dalam pemikiran ekonomi salah satunya adalah tentang keseimbangan permintaan dan penawaran. Pemahamannya tentang kekuatan pasar terlihat jelas ketika membicarakan harga makanan yang tinggi, ia menyatakan bahwa harga tersebut harus didorong ke bawah dengan menurunkan permintaan. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut: P (Harga) S (Penawaran) P1 B D2 P2 B D1 Q2 Q1 Q (Jumlah) Pernyataan Al-Ghazali adalah pada mulanya harga yang diminta oleh petani adalah sebesar P1. Pada harga ini jumlah permintaan dan penawaran terhadap produk petani tersebut adalah Q1. Dengan menurunkan jumlah permintaan dari Q1 menjadi hanya sebesar Q2 (yakni dengan menggeser kurva permintaan D1 ke kiri bawah menjadi kurva D2), maka tingkat harga akan turun pula dari P1 menjadi P2. Dengan demikian harga dapat diturunkan dengan mengurangi permintaan. c. Ibnu Taimiyah (661-728 H/ 1263-1328 M) Ibnu Taimiyah memiliki sebuah pemahaman yang jelas mengenai hubungan antara harga dengan kekuatan permintaan dan penawaran. Beliau menyatakan: “Naik dan turunnya harga tidak selalu diakibatkan oleh kezaliman orangorang tertentu. Terkadang, hal tersebut disebabkan oleh kekurangan produksi atau penurunan impor barang-barang yang diminta. Oleh karena itu, apabila permintaan naik dan penawaran turun, harga-harga naik. Di sisi lain, apabila persediaan barang meningkat dan permintaan terhadapnya menurun, harga pun turun. Kelangkaan atau kelimpahan ini bukan disebabkan oleh tindakan orangorang tertentu. Ia bisa jadi disebabkan oleh sesuatu yang tidak mengandung kezaliman, atau terkadang, ia juga bisa disebabkan oleh kezaliman. Hal ini adalah kemahakuasaan Allah yang telah menciptakan keinginan dihati manusia.” Dari pernyataan tersebut, tampaknya pada masa beliau kenaikan hargaharga dianggap sebagai akibat dari kezaliman para pedagang. Namun menurut beliau pandangan tersebut tidak selalu benar. Lebih jauh, ada berbagai alasan ekonomi terhadap naik turunnya harga-harga. E. Perbedaan Teori Permintaan Konvensional dengan Permintaan Islami Definisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap permintaan, antara permintaan konvensional dan islam mempunyai kesamaan. Ini dikarenakan bahwa keduanya merupakan hasil dari penelitian kenyataan dilapangan (empiris) dari tiap-tiap unit ekonomi. Namun terdapat perbedaan yang mendasar di antara keduanya, diantaranya : 1. Mengenai sumber hukum dan adanya batasan syariah dalam teori permintaan Islami. Permintaan Islam berprinsip pada entitas utamanya yaitu Islam sebagai pedoman hidup yang langsung dibimbing oleh Allah SWT. Permintaan Islam secara jelas mengakui bahwa sumber ilmu tidak hanya berasal dari pengalaman berupa data-data yang kemudian mengkristal menjadi teori-teori, tapi juga berasal dari firman-firman Tuhan (revelation), yang menggambarkan bahwa ekonomi Islam didominasi oleh variabel keyakinan religi dalam mekanisme sistemnya. Sementara itu dalam ekonomi konvensional filosofi dasarnya terfokus pada tujuan keuntungan dan materialme. Hal ini wajar saja karena sumber inspirasi ekonomi konvensional adalah akal manusia yang tergambar pada daya kreatifitas, daya olah informasi dan imajinasi manusia. Padahal akal manusia merupakan ciptaan Tuhan, dan memiliki keterbatasan bila dibandingkan dengan kemampuan. 2. Konsep permintaan dalam Islam menilai suatu komoditi tidak semuanya bisa untuk dikonsumsi maupun digunakan, dibedakan antara yang halal maupun yang haram. Allah telah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 87, 88. Oleh karenanya dalam teori permintaan Islami membahas permintaan barang halal, barang haram, dan hubungan antara keduanya. Sedangkan dalam permintaan konvensional, semua komoditi dinilai sama, bisa dikonsumsi atau digunakan. 3. Dalam motif permintaan Islam menekankan pada tingkat kebutuhan konsumen terhadap barang tersebut sedangkan motif permintaan konvensional lebih didominasi oleh nilai-nilai kepuasan (interest). Konvensional menilai bahwa egoisme merupakan nilai yang konsisten dalam mempengaruhi seluruh aktivitas manusia. 4. Permintaan Islam bertujuan mendapatkan kesejahteraan atau kemenangan akhirat (falah) sebagai turunan dari keyakinan bahwa ada kehidupan yang abadi setelah kematian yaitu kehidupan akhirat, sehingga anggaran yang ada harus disisihkan sebagai bekal untukkehidupan akhirat. F. Penurunan Kurva Permintaan G. Pilihan Konsumen: Pendekatan Iso Maslahah Terdapat dua pendekatan untuk mengetahui perilaku konsumen, yaitu pendekatan maslahah marginal dan pendekatan iso-mashlahah. Pendekatan pertama didasarkan pada pandangan bahwa manfaat ataupun berkah atas suatu kegiatan konsumsi bisa dirasakan dan diukur oleh konsumen. Sementara pendekatan yang kedua didasarkan pada pandangan bahwa mashlahah, terutama berkah hanya bisa dirasakan, namun tidak bisa diukur seberapa besarnya. Konsumen hanya bisa membandingkan tinggi rendahnya berkah antar kegiatan konsumsi. Bab ini akan menjelaskan pendekatan kedua, yaitu pendekatan iso-mashlahah. 1. Karakteristik Iso Maslahah Kurva iso-mashlahah menunjukkan kombinasi dua barang atau jasa yang memberikanmashlahah yang sama. Untuk itu, setiap konsumen memiliki alternative kombinasi berbagai barang atau jasa yang diperkirakan memberikan mashlahah yang sama. Missal, Zaid membeli dua belas surat kabar dan satu majalah yang memberikan mashlahah yang sama jika membeli enam surat kabar dan dua majalah. Kombinasi itulah yang disebut dengan isomashlahah. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut: Y Y1 Y2 A B Y3 C IM1 0 X1 X2 X3 X Gambar 5.1.kurva iso-mashlahah Pada gambar ditunjukkan adanya kurva iso-mashlahah (IM). Setiap titik yang ada pada kurva iso-mashlahah tersebut memiliki tingkat mashlahah yang sama walaupun kombinasi barang yang terkandung adalah berbeda pada masing-masing titik. Dan hal ini akan berlaku ketika barang X dan Y keduanya halal dan memiliki hubungan substitusi yang dekat. a. Bentuk kurva iso maslahah Kurva iso mashlahah berbentuk cembung dan memiliki slope negative. Hal ini menunjukkan adanya mekanisme substitusi antar-kedua barang dengan substitusi dekat tidak sempurna . hal ini bisa dilihat pada gambar 5.1, dimana terjadi pergerakan dari titik A ke titik B menunjukkan penurunan kandungan barang Y, dari Y1 ke Y2 dan peningkatan barang X, dari X1 ke X2. Dari pergerakan tersebut kita mengetahui mekanisme substitusi atau kompensasi. Ketika jumlah barang Y turun, sementara konsumen harus tetap berada pada tingkat kepuasan yang sama, maka penurunan barang Y ini harus dikompensasi dengan naiknya barang X. a. Posisi Kurva dan Tingkat Mashlahah Kurva iso-maslahah yang lebih tinggi menunjukkan tingkat mashlahah yang lebih tinggi pula. Hal ini dapat pada gambar 5.2. Y Y1 Y2 A E B Y3 C IM2 IM1 0 X1 X2 X3 X Gambar 5.2. Perubahan Tingkat Mashlahah Pada gambar diatas menunjukkan adanya dua kurva iso-mashlahah dengan posisi yang berbeda. IM2 mempunyai tingkat mashlahah yang lebih tinggi dari IM1. Hal ini bisa ditunjukkan dengan membandingkan kedua titik A yang terletak pada kurva IM1, dan titik E terletak pada kurva IM2. Kita lihat kandungan isi barang pada kedua titik kombinasi ini, terlihat bahwa pada titik A mempunyai kandungan barang X1 dan Y1 sementara pada titik kombinasi E mempunyai isi barang X2 dan Y2. Dengan demikian bisa kita bandingkan secara langsung: Titik E: X2, Y1 Titik A: X1, Y1 Selisih = X2-X1 > 0, karena X2 > X1 karena X memiliki barang yang halal dan mendatangkan mashlahah, maka bisa dikatakan bahwa titik E mashlahah yang lebih tinggi dari pada titik A. b. Tingkat Substitusi Semakin Menurun Pergerakan dari titik A menuju B menunjukkan bahwa konsumen mau mengorbankan barang Y yang dikonsumsi sebesar (Y2-Y1) untuk mendapatkan tambahan konsumsi X sebesar (X2X1). Demikian pula konsumen bisa menurunkan kembali jumlah Y yang dikonsumsi dari titik B menuju titik C dengan mengorbankan Y sebesar (Y3-Y2). Dan hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak Y yang dikonsumsi, maka kemampuan barang X di dalam menggantikan fungsi Y semakin kecil. 2. Bentuk Kurva Iso-Mashlahah a. Kurva Iso-Mashlahah dengan Kandungan Berkah yang Setingkat Adakalanya seorang konsumen dihadapkan pada pilihan konsumsi antara dua barang yang memiliki berkah yang setingkat. Hal ini bisa dilihat pada barang-barang halal yang memiliki hubungan substutusi sempurna atau dekat, seperti computer berbeda merek. Sebagaimana yang kita ketahui, persaingan dalam produk computer saat ini sangat ketat sehingga antara merek yang satu dengan yang lainnya sesungguhnya secara kualitas sama. Y Y2 B Y1 C IM2 IM1 0 X1 X2 X Gambar 5.3. Perubahan Mashlahah Pada Dua Barang dengan Berkah yang Setingkat b. Kurva Iso-Mashlahah dengan Kandungan Berkat yang Tidak Setingkat Dalam dunia nyata, sebenarnya sulit menemukan barang-barang yang memiliki kandungan berkah yang benar-benar sama. Dalam hal ini, jika konsumen ingin meningkatkan mashlahah yang ia peroleh, maka ia harus melakukan perubahan jumlah barang yang dibelanjakannya dalam komposisi yang berbeda. Sebagai missal, jika kandungan berkah Y lebih tinggi dari pada barang X, maka kurva iso-mashlahah dilukiskan akan cenderung landai. Y (beras local) Y2 B Y1 A C IM2 IM1 0 X1 X2 X (beras impor) Gambar 5.4. Perubahan Mashlahah Ketika Kandungan Barang X Lebih Rendah Jika misalnya kondisi awal di titik A, dan konsumen ingin menambah konsumen barang Y menjadi Y2, maka mashlahah yang ia peroleh akan meningkat menjadi IM2. Namun jika ia dicegah untuk mendapatkan barang Y sejumlah (Y2-Y1), maka ia akan berusaha menambah pembelian barang X sejumlah (X2-X1) dan barang X ini lebih besar dari tambahan barang Y. artinya konsumen menghargai barang Y lebih tinggi daripada barang X untuk mendapatkan mashlahah yang optimal. Hal ini disebabkan barang Y memiliki berkah yang lebih tinggi. 3. Kemampuan substitusi Antarbarang Bahwasannya kandungan berkah yang ada masing-masing bisa berbeda sehinggga kecenderungan pilihan konsumen muslim akan jatuh pada barang tersebut. Namun bagaimana kedua barang yang berbeda kandungan berkahnya ini bisa saling menggantikan? Apakah barang yang kandungan berkahnya lebih tinggi tidak bisa digantikan dengan barang yang kandungan berkahnya lebih rendah? Untuk bisa menjawabnya, lihat kembali bahwa domain dari konsumsi muslim adalah barang yang kandungan berkahnya positif. Sehingga substitusi di antara barang yang ada sama-sama halal (kandungan berkah minimum). Secara aljabar, kurva iso-mashlahah bisa diekspresikan sebagai berikut: M = m(X,Y, Bx, By) (5.1) Tingkat kemampuan barang X menggantikan fungsi barang Y bisa dirumuskan sebagai perbandingan antara perubahan Y dan perubahan X untuk mendapatkan mashlahah yang sama, Kemampuan substitusi Y terhadap X adalah: ∆Y∕∆X ≡ δY∕δX Dengan melakukan derivasi parsial dengan mengaitkan konsep mashlahah pada bab IV, maka akan didapat: │δY∕δX│= MMx∕MMy, Dimana MMx, dan MMy adalah mashlahah marginal untuk barang X dan barang Y. Di sisi lain, berkah marginal mempunyai sifat non decreasing. Hal ini member implikasi bahwa mashlahah marginal mempunyai beberapa kemungkinan sifat, yaitu: konstan, meningkat, dan menurun. a. Kemampuan substitusi yang menurun (decreasing) Jika berkah marginal (MB) bersifat increasing dengan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dari tingkat penurunan marginal manfaat duniawi (MF), maka mashlahah marginal akan mengalami decreasing. b. Kemampuan substitusi yang konstan Jika berkah marginal (MB) bersifat increasing dengan tingkat pertumbuhan yang sama dengan tingkat penurunan marginal manfaat duniawi (MF), maka mashlahah marginal akan konstan. c. Kemampuan substitusi yang meningkat Jika berkah marginal (MB) bersifat increasing dengan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dari tingkat penurunan marginal manfaat fisik (MF), maka mashlahah marginal akan increasing. 1. Batasan Individu dan Etika dalam Konsumsi Konsumsi akan mengalami berbagai kendala atau batasan yang harus diperhatikan dalam menentukan konsumsi. Batasan ini antara lain: barangnya harus halal, dikonsumsi tidak dalam jumlah yang berlebihan (israf), memperhatikan kebutuhan orang lain, dan menyesuaikan kemampuan angggaran karena kehalalan adalah batasan minimum dalam konsumsi. Maka diasumsikan seluruh barang yang dikonsumsi adalah halal sehingga terdapat kendala utama yang harus diperhatikan. a. Kendala Anggaran (Budget) Seseorang tidak akan bisa membeli barang-barang yang mereka butuhkan jika anggaran yang ada tidak mencukupi untuk memenuhi itu semua. Untuk itu, bagaimana anggaran mampu menghalangi konsumen dari mengkonsumsi barang. 1. Penurunan kurva anggaran (Allocated Budget) Jika seluruh pendapatan konsumen adalah I, maka pendapatan yang siap dikonsumsikan (Ic) merupakan suatu bagian dari pendapatan total. Sementara terdapat alokasi lain dari pendapatan, yaitu untuk menabung (Is) dan amal shaleh (Ia), sehingga: I = Ic + Is + Ia AB ≥ Ic Kurva AB mempunyai slope yang menurun, yang bisa dilacak dari hubungan antara jumlah barang Y yang dibeli dalam kaitannya dengan barang X yang dibeli. Semakin banyak barang X yang dibeli, maka makin sedikit jumlah barang Y yang dibeli. Inilah latarbelakang menurunnya slope dari kurva anggaran. 2. Efek perubahan pendapatan pada kurva anggaran Pendapatan mempunyai dampak langsung pada kemampuan untuk mengkonsumsi barang. Jika pendapatan naik, maka besarnya pendapatan yang dialoksikan untuk tujuan konsumsi pun akan naik. Asumsikan di sini bahwa allocated budget naik dari AB menjadi ABʹ. 3. Efek perubahan harga pada kurva alokasi anggaran a) Penurunan harga pada salah satu barang Dalam kasus ini dapat diasumsikan bahwa harga barang yang turun adalah barang X. harga barang X turun dari Px menjadi PʹX. dengan adanya perubahan yang terjadi, maka slope dari kurva budget berubah menjadi: dY/dX = -(Pʹx/Py). b) Penurunan harga pada kedua barang Asumsikan di sini bahwa penurunan harga untuk kedua barang adalah sebesar δ sehingga: AB = (1-δ)Px X + (1-δ)Py Y Jika persamaan disederhanakan, maka diperoleh: AB/(1-δ)Py – (Px/Py)X = Y dY/dX = slope AB = -(Px/Py) intercept = AB/(1-δ)Px dengan demikian, efek yang ditimbulkan oleh penurunan harga pada kedua barang, dengan jumlah penurunan yang sama, adalah kenaikan intercept dari AB/Py menjadi AB/(1-δ)Py. b. Kendala Israf Dalam ajaran Islam, seseorang mempunyai pendapatan banyak tidak serta merta mereka diperbolehkan untuk mempergunakan uangnya untuk apa saja dan dalam jumlah berapa pun yang mereka inginkan. Batasan anggaran memang harus dipenuhi. Salah satu batasan lain yang harus diperhatikan adalah tidak boleh berlebih-lebihan atau israf. Agar terhindar dari israf, maka terdapat prinsif-prinsif yang terus dipegang yaitu dalam mengkonsumsi sejumlah barang, maka harus bisa menciptakan mashlahah. Adapun indicator yang bisa digunakan untuk menilai apakah konsumsi barang tersebut menciptakan mashlahah atau tidak, antara lain: 1) Untuk barang lama (non-durable), maka konsumsinya tidak menimbulkan hal yang siasia. 2) Untuk barang habis pakai (durable), maka tingkat utilisasi tinggi. 3) Mencapai tingkat kelayakan yang standar atau lebih besar. 4) Menimbulkan opportunity cost yang tinggi jika tidak dikonsumsi. 5) Adanya mashlahah yang tidak bisa dikategorikan pada keempat poin diatas. Misalnya, mengkonsumsi sesuatu barang dalam rangka memenuhi hobby yang halal atau mubah yang sifatnya spesifik. 6) Kelima poin diatas tidak boleh dilandasi ataupun terkontaminasi dengan tujuan-tujuan yang batil. c. Mempertimbangkan Kebutuhan Orang Lain Islam juga menuntun agar kita peduli kepada orang lain, terutama sanak kerabat, tetangga, fakir miskin, anak yatim ataupun konsumen lainnya. Tingkat kepedulian ini akan mempengaruhi seberapa barang yang dibeli. Kepedulian ini dimaknai sebagai amal saleh, yaitu kemauan konsumen membelanjakan barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan orang lain. 2. Keseimbangan konsumen Y X maksimal A E Y*1 Y maksimal B F C X* AB1 AB2 AB3 IM X Gambar: keseimbangan konsumen dengan kendala Anggaran dan Israf Pada gambar di atas menunjukkan situasi seorang konsumen yang ingin mencapai tingkat mashlahah tertentu yang ditunjukkan oleh IM. Konsumen tersebut menginginkan jumlah pengeluaran yang minimum dalam rangka mencapai mashlahah tersebut. Situasi anggaran konsumen ditunjukkan oleh kurva anggaran, sementara kendala israf ditunjukkan oleh kedua garis vertical X = β dan garis horizontal Y = α. Daerah seluas segiempat AECF merupakan daerah yang memungkinkan untuk dikonsumsi oleh konsumen. Tampak pada gambar, bahwa titik D berada di luar kurva iso-mashlahah yang berarti titik D tidak mampu menjangkau tingkat mashlahah yang di inginkan. Kemudian, setelah seberapa besar jumlah biaya yang harus dikeluarkan, maka titik B merupakan satu-satunya titik yang menghasilkan tingkat tingkat pengeluaran terendah karena titik B berada pada kurva anggaran yang lebih rendah yaitu (AB)2. Sementara titik-titik lainnya, A dan C berada pada kurva anggaran yang lebih tinggi yaitu (AB)3. Dengan demikian, maka titik B menghasilkan pengeluaran yang optimal bagi konsumen yang bersangkutan. 1 Jika dianalisa secara matematis, maka: Dx = [( ) ] ( β +by ) +1 Px ( α +bx ) Ini menunjukkan fungsi permintaan, di mana jumlah barang yang diminta (Dx) memiliki korelasi negative dengan harga barang tersebut. Jika harga suatu barang meningkat, maka permintaan barang tersebut akan menurun, jika kandungan berkah pada barang tersebut dan barang lain tidak berubah. H. Efek Berkah pada Pilihan Optimal Lihat suatu situasi perubahan kandungan berkah setelah konsumen mencapai optimalnya. Anggaplah bahwa konsumen yang bersangkutan menghadapi perubahan kandungan berkah. Hal ini jelas mempengaruhi preferensi konsumen. Yang tadinya netral, kini konsumen “terpaksa” harus lebih menyukai barang X. perubahan ini ditunjukkan oleh perubahan bentuk kurva iso-mashlahah dari IM0 menjadi IM1, dan kurva iso-mashlahah menjadi lebih curam sehingga berdampak pada konsumsi terhadap barang X yang lebih tinggi. Y Y1 IMr Y2 0 IMq X1 X2 X Gambar: efek perubahan kandungan berkah DAFTAR PUSTAKA  Karim Adiwarman. Ekonomi Mikro Islami, The International Institute of Islamic Thougt Indonesia, Jakarta, 2003.  A. Karim Adiwarman. 2012. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Edisi Ketiga. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada  Sukirno Sadono. 2013. . Mikroekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Judul: Ekonomi Mikro Islam Tentang Teori Permintaan Islam

Oleh: Adella Nurlita

Ikuti kami