Muhamad Cholid Izza Rasydi, Dinamika Hubungan Ilmu Dan Agama, 17060484008.docx

Oleh Cholid Izza

173,3 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Muhamad Cholid Izza Rasydi, Dinamika Hubungan Ilmu Dan Agama, 17060484008.docx

DINAMIKA HUBUNGAN ILMU DAN AGAMA Mata Kuliah Filsafat Ilmu Dosen: Dr. Made Pramono, M.Hum Disusun Oleh: Nama: Muhamad Cholid Izza Rasydi NIM: 17060484008 Kelas: IKOR 2017 A DAFTAR ISI A. BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang…………………………………………………………………….1 2. Rumusan masalah…………………………………………………………………2 3. Tujuan………………………………………………………………………..……2 B. BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian ilmu……………………………………………………………………3 2. Pengertian agama………………………………………………………………….5 3. Hubungan ilmu dan agama………………………………………………………..7 C. BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan……………………………………………………………………….10 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk Tuhan yang diberi potensi akal dan hati. Manusia pun diberi oleh Allah beberapa pengetahuan (Ar-Rahman: 3). Dalam sejarah pun dicatat perkembangan pengetahuan manusia mulai dari filsafat sampai pada ilmu pengetahuan. Pada zaman Yunani Kuno yang ditandai dengan perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Manusia tidak lagi berpikir mitos terhadap gejala alam, tetapi mulai berpikir itu sebagai kausalitas. Sehingga, manusia pada waktu itu tidak pasif, melainkan proaktif dankreatif, sehingga alam dijadikan objek penelitian dan pengkajian. Pengetahuan manusia pun berkembang dari masa ke masa. Mulai dari masa Yunani Kuno (700 SM), masa Islam klasik, masa kejayaan Islam, masa Renaisans (abad ke 15-16), masa modern (abad 17-19), dan zaman kontemporer (abad ke 20). Zaman kontemporer ditandai dengan perkembangan ilmu dan teknologi tinggi, sehingga dikenal pula zaman eraglobalisasi. Dimana informasi dan transpormasi budaya dapat dilakukan dengan sangat mudah.Perkembangan ilmu dan teknologi yang semula untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh adanya penemuan televisi, komputer, handphone telah mengakibatkan kita terlena dengan dunia layar. Sehingga, kamunikasi sosial kita dengan keluarga dan masyarakat sering terabaikan. Begitu pun dengan adanya bioteknologi yang merancang adanya bayi kloning, mengakibatkan keresahan berbagai kalangan, seperti agamawan dan ahli etika.Dalam dunia filsafat pun melahirkan berbagai pemikiran-pemikiran tentang hal-hal yang metafisik, seperti berfilsafat tentang tuhan. Dimana tuhan dijadikan objek berpikir filsafat, sehingga pada masa pasca khulafaur Rasyidin muncul beberapa aliran teologi. Hal ini menjadi keresahan bagi ulama dan intelektual Islam. Berbagai pandangan pun muncul mengenai filsafat, salah satunya pandangan hujjatul Islam al-Ghazali dengan munculnya kitab tahafutul falasifah (kesalahan para filosof). Bahkan beliau mengatakan bahwa orang yang berfilsafat maka dia termasuk kaum Zindiq. Padahal dalam agama kita (Islam), terdapat ajaran-ajaran tentang pentingnya berpikir dan menuntut ilmu. Sehingga dalam beberapa ayat Allah memuji orangorang yang mampu berpikir dengan benar (ulil albab) dan meninggikan derajat orang-orang beriman lagi berilmu (al-Mujadalah: 9).Hal inilah yang menjadi latar belakang penulisan makalah yang berjudul “Dinamika Hubungan Ilmu dan Agama”. 1 B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan ilmu? 2. Apa yang dimaksud dengan agama? 3. Bagaimana hubungan ilmu dan agama? C. Tujuan 1. Memahami tentang apa itu ilmu. 2. Memahami tentang apa itu agama. 3. Memahami hubungan ilmu dan agama. 2 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Ilmu Ilmu berasal dari bahasa Arab: ’Alima-ya’lamu-ilman dengan wazan fa’ila-yaf’ulu, yang berarti : mengerti, memahami benar-benar. Dalam bahasa inggris disebut science; dari bahasa latin scientia (pengetahuan) scire(mengetahui). Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Kemudian Anshari (1981: 47-49) telah menghimpun beberapa pengertian ilmu menurut beberapa ahli sebagai berikut: 1. Mohammad Hatta mendifinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kdudukannya tampak dari luar, maupun menurut hubungannya dari dalam. 2. Ralp Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan keempatnya serentak. 3. Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana. 4. Ashely Montagu, Guru Besar Antropolo di Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disususn dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menetukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji. Harsojo, Guru Besar antropolog di Universitas Pajajaran, menerangkan bahwa ilmu: 1. Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan. 2. Suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca indera manusia. 3. Suatu cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…”. 4. Afanasyef, seorang pemikir Marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapnnya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis. 3 Dari keterangan para ahli tentang ilmu di atas, dapat menyimpulkan bahwa ilmu adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu, yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka, dan kumulatif (bersusun timbun). Adapun objek ilmu pada dasarnya ada dua bentuk, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tiubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Sedangkan objek formalnya adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Ilmu adalah pengetahuan. Tetapi ada berbagai pengetahuan. Dengan “pengetahuan ilmu” dimaksud pengetahuan yang pasti, eksak dan betul-betul terorganisasi. Jadi pengetahuan yang berdasarkan kenyataan dan tersusun baik. Baik ilmu ataupun filsafat sama-sama mencari pengetahuan dan pengetahuan yang dicari itu ialah pengetahuan yang benar. Dalam segi ini maksud kedua-duanya sama tetapi dalam persamaan itu ada perbedaan. Pengetahuan ilmu melukiskan, sedangkan pengetahuan filsafat menafsirkan. Definisi ilmu menurut Athur Thomson mendefinisikan ilmu sebagai pelukisan fakta-fakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah sederhana mungkin. Menurut Titus, ilmu (science) diartikan sebagai commonsense yang diatur dan diartikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi, yang teliti dan kritis. Ashkey Montagu yang disunting oleh endang syaifuddin anshori, menggemukakan ilmu (sains) merupakan pengetahuan yang disusun yang berasal dari pengamatan, studi, dan pengalaman, untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang sedang dipelajari. Selanjutnya menurut Sikun Pribadi, mengemukakan bahwa ilmu sebagai “objek kajian pengetahuan dan metode pendekatannya ialah berdasarkan pengalaman dengan mempergunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimen, survei, studi kasus, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman itu diolah oleh pikiran atas dasar hukum logika yang tertib. Data yang dikumpulkan diolah dengan cara analisis, induktif, kemudian ditentukan relasi-relasi antara data-data, diantaranya relasi kausalitas. Konsepsi-konsepsi dan relasirelasi disusun menurut suatu sistem tertentu yang merupakan suatu keseluruhan yang terintergratif. Keseluruhan integratif ini kita sebut ilmu pengetahuan.” Dari seluruh paparan banyak ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati pancaindera manusia. 4 B. Pengertian Agama Kata agama berasal dari dua suku kata yaitu “A” yang berarti tidak ada “Gama” yang berarti kacau. Jadi agama berarti tidak kacau. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama berarti ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Edgar Sheffield Brightman mengatakan bahwa agama adalah suatu unsur mengenai pengalaman-pengalaman yang dipandang mempunyai nilai tertinggi, pengabdian kepada suatu kekuasaan-kekuasaan yang dipercayai sebagai suatu yang menjadi asal mula, yang menambah dan melestarikan nilai-nilai ini, dan sejumlah ungkapan yang sesuai tentang urusan serta pengabdian tersebut, baik dengan jalan melakukan upacara-upacara yang simbolis maupun melalui perbuatan-perbuatan yang lain yang bersifat perseorangan, serta yang bersifat kemasyarakatan. Albert Einsten (1879-1955) seorang ahli pikir bangsa Yahudi berkewarganegaraan Amerika Serikat, teoritikus terbesar dalam bidang ilmu alam, pemenang hadiah nobel tahun 1921 untuk sumbangan pada bidang fisika teori, tentang agama dan ilmu beliau berkata : “Ilmu tanpa agama adalah buta, sedangkan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Pernyataan Einsten ini ada benarnya juga, betapa pemikiran tradisional dari kelompok rohaniawan dan ulama’ ortodoks yang kaku, menjadikan mereka tidak berkembang seperti orang lumpuh. Sedangkan sebaliknya kaum intelektual sekuler yang sombong, menganggap agama hanya kendala karena hanya merupakan sekedar pengaturan moral agar manusia senantiasa tertib, menjadikan mereka sesat ibaratkan orang buta.Jadi agama itu mutlak wajib ada. Agama memang tidak mudah diberi definisi, karena agama mengambil berbagai bentuk sesuai dengan pengalaman pribadi masing-masing. Meskipun tidak terdapat definisi yang universal, namun dapat disimpulkan bahwa sepanjang sejarah manusia telah menunjukkan rasa "suci", dan agama termasuk dalam kategori "hal yang suci". Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tidak terbatas yang diberikan kepada obyek yang disembah. Hubungan manusia dengan "yang suci" menimbulkan kewajiban, baik untuk melaksanakan maupun meninggalkan sesuatu. Tidak mudah bagi kita untuk menentukan pengertian agama, karena sikap terhadap agama bersifat batiniah, subjektif, dan individualistis, walaupun nilai-nilai yang dimiliki oleh agama bersifat 5 universal. Kalau kita membicarakan agama, maka kita akan dipengaruhi oleh pandangan agama yang kita anut sendiri. Istilah agama memiliki pengertian yang sama dengan istilah religion dalam bahasa Inggris. Bozman (Anshari, 1979) mengemukakan bahwa agama dalam arti luas merupakan suatu penerimaan terhadap aturan-aturan dari suatu kekuatan yang lebih tinggi, dengan jalan melakukan hubungan yang harmonis dengan realitas yang lebih agung dari dirinya sendiri, yang memerintahkan untuk mengadakan kebaktian, pengabdian, dan pelayanan yang setia. Religi berasal dari kata religie (bahasa Belanda) atau religion (bahasa Inggris), masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia dibawa oleh orang-orang Barat yang menjajah bangsa Indonesia. Religi mempunyai pengertian sebagai keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang suci, menentukan jalan hidup dan mempengaruhi kehidupan manusia yang dihadapi secara hati-hati dan diikuti jalan dan aturan serta norma-normanya dengan ketat agar tidak sampai menyimpang atau lepas dari kehendak jalan yang telah ditetapkan oleh kekuatan gaib suci tersebut. Secara terminologi dalam ensiklopedi Nasional Indonesia, agama diartikan aturan atau tata cara hidup manusia dengan hubungannya dengan tuhan dan sesamanya. Dalam alQur’an agama sering disebut dengan istilah din. Istilah ini merupakan istilah bawaan dari ajaran Islam sehingga mempunyai kandungan makna yang bersifat umum dan universal. Artinya konsep yang ada pada istilah din seharusnya mencakup makna-makna yang ada pada istilah agama dan religi.Konsep din dalam Al-Qur’an di antaranya terdapat pada surat AlMaidah ayat 3 yang mengungkapkan konsep aturan, hukum atau perundang-undangan hidup yang harus dilaksanakan oleh manusia. Islam sebagai agama namun tidak semua agama itu Islam. Surat Al-Kafirun ayat 1-6 mengungkapkan tentang konsep ibadah manusia dan kepada siapa ibadah itu diperuntukkan. Dalam surat As-Syura ayat 13 mengungkapkan din sebagai sesuatu yang disyariatkan oleh Allah. Dalam surat As-Syura ayat 21 Din juga dikatakan sebagai sesuatu yang disyariatkan oleh yang dianggap Tuhan atau yang dipertuhankan selain Allah. Karena din dalam ayat tersebut adalah sesuatu yang disyariatkan, maka konsep din berkaitan dengan konsep syariat. Konsep syariat pada dasarnya adalah “jalan” yaitu jalan hidup manusia yang ditetapkan oleh Allah. Pengertian ini berkembang menjadi aturan atau undang-undang yang mengatur jalan kehidupan sebagaimana ditetapkan oleh Tuhan. Pada ayat lain, yakni di surat Ar-Rum ayat 30, konsep agama juga berkaitan dengan konsep fitrah, yaitu konsep yang berhubungan dengan penciptaan manusia. 6 Di dalam setiap agama, paling tidak ditemukan empat ciri khas. Pertama, aspek kredial, yaitu ajaran tentang doktrin-doktrin ketuhanan yang harus diyakini. Kedua, aspek ritual, yaitu ajaran tentang tata-cara berhubungan dengan Tuhan, untuk meminta perlindungan dan pertolongan-Nya atau untuk menunjukkan kesetiaan dan penghambaan. Ketiga, aspek moral, yaitu ajaran tentang aturan berperilaku dan bertindak yang benar dan baik bagi inidividu dalam kehidupan. Keempat, aspek sosial, yaitu ajaran tentang aturan hidup bermasyarakat. Agama-agama yang tumbuh dan berkembang di muka bumi, sesuai dengan asalnya, dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, agama samawi (agama langit), yaitu agama yang dibangun berdasarkan wahyu Allah. Kedua, agama ardli (agama bumi), yaitu agama yang dibangun berdasarkan kreasi manusia. C. Hubungan Ilmu dan Agama Agama dan ilmu sangatlah saling terkait karena orang yang banyak ilmunya apabila tanpa di topang oleh agama semua ilmu tidak akan membawa kemaslahatan umat, sebagai contoh negara- negara maju yang sangat gigih mendalami ilmu dan teknologi, tetapi sering menjadi sumber pemicu terjadinya peperangan, begitupun juga orang yang sangat sibuk dengan belajar agama ,tetapi tidak mau menggali ilmu dan pengetahuan alam disekitar kita , maka akan mengalami kemunduran , sedangkan untuk mencapai kebahgiaaan akhirat haruslah banyak berbut/beribadah dalam hal untuk kemajuaan umat, apa jadinya apabila semua umat berkutik di ritualitas saja, ini adalah suatu pertanyaan gambaran yang menyedihkan. Seperti halnya dengan ilmu dan filsafat, agama tidak hanya untuk agama, melainkan untuk diterapkan dalam kehidupan dengan segala aspeknya. Pengetahuan dan kebenaran agama yang berisikan kepercayaan dan nilai- nilai dalam kehidupan, dapat dijadikan sumber dalam menentukan tujuan dan pandangan hidup manusia, dan sampai kepada prilaku manuisitu sendiri. Dalam agama sekurang – kurangnya ada empat ciri yang dapat kita kemukakan, yaitu : Adanya kepercayaan terhadap yang gaib, kudus, dan maha agung, dan pencipta alam semesta (Tuhan). Melakukam hubungan dengan hal- hal diatas,dengan berbagai cara. Seperti 7 dengan mengadakan acara – acara ritual, pemujaan, pengabdian, dan, doa. Adanya uatu ajaran (doktrin) yang harus dijalankan oleh setiap penganutnya. Menganut ajaran Islam, ajaran tersebut diturunkan oleh Tuhan rtidak langsung kepada seluruh umat manusia, melainkan kepada Nabi – nabi dan rasulnya. Maka menurut ajaran islam adanya rosul dan kitab suci merupakan ciri khas dari pada agama. Agama berbeda dengan sains dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi, walaupun kita dapat sepakat tidak ada definisi agama yang dapat diterima secara universal. Kemajuan spritual manusia dapat diukur dengan tinggi nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada objek yang ia sembah. Seorang yang religius merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan. Wilayah ilmu berbeda dengan wilayah agama. Jangankan ilmu, akal saja tidak sanggup mengadili agama. Para ulama sekalipun, meski mereka meyakini kebenaran yang dianut tetapi tetap tidak berani mengklaim kebenaran yang dianutnya, oleh karena i-tu mereka selalu menutup pendapatnya dengan kalimat wallohu a`lamu bissawab, bahwa hanya Allahlah yang lebih tahu mana yang benar. Agama berhubungan dengan Tuhan, ilmu berhubungan dengan alam, agama membersihkan hati, ilmu mencerdaskan otak, agama diterima dengan iman, ilmu diterima dengan logika. Meski demikian, dalam sejarah manusia, ilmu dan agama selalu tarik menarik dan berinteraksi satu sama lain. Terkadang antara keduanya akur, bekerjasama atau sama-sama kerja, terkadang saling menyerang dan menghakimi sebagai sesat, agama memandang ilmu sebagai sesat, sebaliknya ilmu memandang perilaku keagamaan sebagai kedunguan. Belakangan fenomena menunjukkan bahwa kepongahan ilmu tumbang di depan keagungan spiritualitas, sehinga bukan saja tidak bertengkar tetapi antara keduanya terjadi perkawinan. Sangat menarik bahwa Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa, kemulian seorang mukmin itu diukur dari agamanya, kehormatannya diukur dari akalnya dan martabatnya diukur dari akhlaknya. Ketika nabi ditanya tentang amal yang paling utama, hingga lima kali nabi tetap menjawab husn al khuluq, yakni akhlak yang baik yaitu sekuat mungkin jangan marah. 8 Agama maupun filsafat berhubungan dengan realitas yang sama. Kedua-duanya terdiri dari subjek-subjek yang serupa dan sama-sama melaporkan prinsip-prinsip tertinggi wujud. Keduanya juga melaporkan tujuan puncak yang diciptakan demi manusia yaitu kebahagiaan tertinggi. Filsafat memberikan laporan berdasarkan persepsi intelektual. Sedangkan agama memaparkan laporannya berdasarkan imajinasi. Dalam setiap hal yang didemonstrasikan oleh filsafat, agama memakai metode-metode persuasivfe untuk menjelaskannya. Agama berusaha membawa tiruan-tiruan kebenaran filosofis sedekat mungkin dengan esensi mereka. Filsafat dan agama merupakan pendekatan mendasar menuju pada kebenaran. Filsafat dapat digambarkan sebagai ilmu tentang realitas yang didasarkan atas metode demonstrasi yang meyakinkan, suatu metode yang merupakan gabungan dari intuisi intelektual dan putusan logis yang pasti. Berdasarkan alasan ini, filsafat lantas disebut sebagai ilmu dari segala ilmu, induk dari segala ilmu, kebijaksanaan dari segala kebijaksanaan, dan seni dari segala seni. 9 BAB III PENUTUP KESIMPULAN Agama menunjukan jalan kepada manusia, agar ia senantiasa mengikuti tuntunan Sang Maha Esa demi keselamatanya. Ilmu memberikan manusia kemampuan agar ia lebih berhasil menaikan kesejahteraan jasmani dan rohaninya. Dalam kitab suci weda terdapat sejumlah sloka yang memberikan bimbingan kepada para ilmuan agar mereka dapat memanfaatkan alam dengan tetap berpedoman kepada dua hal yaitu : hasil-hasil dari alam hendaknya dipergunakan bagi kesejahteraan manusia dan semua yang hidup di dunia ini, dan dalam mengelola alam selalu berpedoman kepada kelestarian dan kesehatan alam tersebut. Bila ketentuan itu dipenuhi maka kesejahteraan akan tercipta, namun apabila ilmu (teknologi) dikembangkan tanpa bimbingan agama maka kehancuran alam niscaya segera terjadi. 10 DAFTAR PUSTAKA http://hanafixart.blogspot.co.id/2014/11/filsafat-ilmu-dan-agama-pengertian_24.html http://bantur.malangkab.go.id/?page_id=4799

Judul: Muhamad Cholid Izza Rasydi, Dinamika Hubungan Ilmu Dan Agama, 17060484008.docx

Oleh: Cholid Izza

Ikuti kami