Ajaran Ki Hajar Dewantara Di Bidang Ekonomi

Oleh Azizah Rahmadani

167,8 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Ajaran Ki Hajar Dewantara Di Bidang Ekonomi

AJARAN KI HAJAR DEWANTARA DI BIDANG EKONOMI DISUSUN OLEH VIRDAWATI 2019017124 MARIA KURNIATI REVILDA SON 2019017126 GALUH SETYOWATI 2019017131 AZIZAH RAHMADANI 2019017144 MAY ADIATI 2019017160 PRODI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA 2020 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan aplikasi komputer yang berjudul “Ajaran Ki Hajar Dewantara di bidang ekonomi” ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan dari laporan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Aplikasi Komputer. Selain itu, laporan ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Ajaran Ki Hajar Dewantara di bidang ekonomi bagi para pembaca dan juga bagi penyusun. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak serta teman-teman yang telah membantu dan saling berbagi tugas dan pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini. Kami menyadari bahwa laporan yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan laporan ini. Yogyakarta, 12 Juni 2020 Tim Penyusun i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR..........................................................................................................................i BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................................1 Latar Belakang................................................................................................................................1 Rumusan Masalah...........................................................................................................................2 Tujuan Penulisan.............................................................................................................................2 BAB II LANDASAN TEORI..............................................................................................................3 a. Sistem Among..........................................................................................................................3 b. Ajaran yang bersifat konsepsional.........................................................................................3 c. Ajaran yang Bersifat Petunjuk Operasional Praktis............................................................4 d. Ajaran yang Berupa Fatwa.....................................................................................................5 BAB III PEMBAHASAN....................................................................................................................7 Konsep Ki Hajar di Bidang Ekonomi............................................................................................7 BAB IV PENUTUP..............................................................................................................................8 Kesimpulan......................................................................................................................................8 DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................9 ii BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Ki Hajar Dewantara merupakan salah satu pahlawan nasional yang memiliki kontribusi sangat penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ki Hajar Dewantara berasal dari keluarga Kadipaten Pakualaman yang menamatkan sekolah dasarnya di Europeesch Lagere School (ELS) pada masa kolonial Hindia Belanda dan sempat melanjutkan sekolah kedokteran di STOVIA tetapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian beliau memutuskan untuk bekerja sebagai wartawan di berbagai surat kabar seperti De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, dll. Selain itu, Ki Hajar Dewantara merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, beliau bergabung dalam organisasi Budi Utomo dan merupakan pendiri organisasi Indische Partij bersama dengan Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo. Dalam catatan sejarah, Ki Hajar Dewantara pernah diasingkan ke Belanda oleh Pemerintah Hindia karena tulisannya yang berjudul “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Tulisan tersebut dibuat bertujuan untuk mengkritisi tindakan kolonial yang semena-mena terhadap bangsa Indonesia. Namun selama menjalani pengasingan di Belanda, Ki Hajar Dewantara memanfaatkannya untuk mempelajari masalah pendidikan dan pengajaran hingga memperoleh Europeesche Akter. Setelah kembalinya Ki Hajar Dewantara ke Indonesia dengan ilmu yang telah didapatkan pada masa pengasingan di Belanda, beliau kemudian bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Dengan pengalaman mengajar beliau bertekad untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan untuk mewujudkan Indonesia merdeka beliau mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa (National Onderwijs Institur Taman Siswa) pada 3 Juli 1922. Tamansiswa berkaitan dengan keutamaan “Daulat Rakyat”, bahwa kepentingan rakyat adalah utama atau sentral-substansial. Pemerintahan negara dijalankan atas kehendak dan kepentingan rakyat. Demokrasi terpimpin bagi Tamansiswa diartikan sebagai demokrasi dan 1 leiderschap (kepemimpinan) yakni nilai kebatinan di dalam manusia yang menurut ajaran adab dianggap pusat gerak-gerik kejiwaan yang mengandung unsur-unsur benar dan adil. Rumusan Masalah 1. Apa saja macam-macam ajaran Ki Hajar Dewantara yang ada? 2. Apa saja ajaran Ki Hajar Dewantara dalam bidang ekonomi? Tujuan Penulisan 1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Aplikasi Komputer. 2. Mengetahui ajaran Ki Hajar Dewantara dalam bidang ekonomi a. 2 BAB II LANDASAN TEORI Ki Hajar Dewantara merupakan Bapak Pendidikan Indonesia yang menciptakan sistem pendidikan perjuangan dengan metode among. Sebagai Bapak Pendidikan, sudah seyogyaknya ajaran-ajarannya dianut untuk menjadi pedoman dalam pembelajaran di Indonesia. Ajaran Ki Hadjar Dewantara terdiri dari beberapa hal yang bersifat konsepsional, petunjuk operasional-praktis, fatwa, nasihat dan sebagainya. Berikut beberapa ajaran Ki Hadjar Dewantara (Ki B. Boentarsono, dkk: 19-23): a. Sistem Among Sistem among ini diimplementasikan sebagai realisasi dan asas kemerdekaan diri tertib damainya masyarakat, atau demokrasi dan pimpinan kebijaksanaan dengan laku “tut wuri handayani”. Among (mengemong), berarti memberi kebebasan pada anak didik dan pamong akan bertindak bila anak didik akan berbuat/melakukan tindakan yang membahayakan keselamatannya. Sistem among ialah cara pendidikan yang dilakukan Tamansiswa, yang mewajibkan para pamong agar mengikuti dan mementingkan kodrat pribadi anak didik dengan tidak melakukan pengaruh-pengaruh yang melingkunginya (Tim Dosen Ketamansiswaan.2014:39). b. Ajaran yang bersifat konsepsional 1. Tri Pusat Pendidikan Ajaran ini merupakan sistem pendidikan Tamansiswa yang dilakukan dalam perguruan (sistem Paguron) yang memusatkannya tiga lingkungan Pendidikan: keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga lingkungan tersebut saling berkaitan erat dilaksanakan dalam bentuk perguruan yang mensyaratkan adanya rumah pamong, kegiatan belajar mengajar, kegiatan berlatih, kegiatan hidup kemasyarakatan berasaskan kekeluargaan, dan pondok asrama bagi anak didik. Hal ini menjadikan perguruan sebagai pusat kegiatan kebudayaan dalam melaksanakan “belajar seumur hidup dan membias keluar perguruan yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar dalam usaha mencerdaskan kehidupan Bangsa Keluarga merupakan tempat pertama bersemainya pendidikan seseorang. Sekolah merupakan tempat pendidikan secara kulikuler dan ekstra kulikuler. Sedangkan masyarakat merupakan tempat pendidikan 3 yang beragam fungsinya dan pada umumnya kurang terkendali. Sistem among/ Tutwuri Handayani, berasaskan kekeluargaan dan pemerataan Pendidikan yang diterapkan dalam komunikasi di tri pusat pendidikan ini. 2. Bidang Kebudayaan: Trikon Ajaran trikon yang selalu diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam pengembangan kebudyaan adalah kontinyu, konvergen, dan konsentris. Kontinyu adalah peningkatan dan pengembangan kebudayaan sebagai kelanjutan dari kebudayaan yang sudah ada. Kontinyu ini juga diartikan sebagai keberlanjutan. Keberlanjutan disini merupakan keberlanjutan ilmu pengetahuan yang telah diterima harus berkesinambungan dan berlanjut sehingga menjadikan ilmu menjadi bermakna. Konvergensi merpakan jalan bersama antara kebudayaan bangsa sendiri dengan kebudayaan bangsa asing dan saling memperkaya (menyertap dengan seleksi adaptasi). Sedangkan konsentris merupakan lingkaran-lingkaran kebudayaan dalam pergaulan umat manusia pada umumnya dengan tidak kehilangan kepribadian kebudayaan masing-masing bangsa (kebhinekaan dalam pergaulan hidup). 3. Trilogi kepemimpinan/pembelajaran Trilogi kepemimpinan/pembelajaran yang juga menjadi icon kementerian pendidikan dan budaya Republik Indonesia adalah Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang artinya di depan memberi contoh, di tengah memberikan dorongan dan di belakang selalu menyemangati. c. Ajaran yang Bersifat Petunjuk Operasional Praktis 1. Tri Pantangan Tri pantangan yang dimaksud dalam ajaran Ki Hadjar Dewantara adalah pantangan yang tidak beloh dilakukan oleh semua orang yang ingin meraih kesuksesan adalah Penyalahgunaan kekuasaan/kewenangan, penyalahgunaan keuangan dan pelanggaran kesusilaan/moral. 2. Tri Hayu Tri hayu merupakan cita-cita Ki Hadjar Dewantara dalam hidup. Hasil renungan para tokoh pejuang kemerdekaan dalam kelompok “sloso Kliwonan” yang menjadi garis dan tujuan perjuangan, yaitu Memayu hayuning sariro, yang artinya membahagiakan diri, Memayu hayuning bongso, yang artinya 4 membahagiakan bangsa, dan Memayu hayuning manungso yang artinya membahagiakan umat manusia. 3. Tri Nga (Ngerti, ngroso, nglakoni) Ajaran ini mengingatkan kita terhadap segala aharan hidup atau citacita kita diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan dalam pelaksanaannya, tahu dan mengerti saja tidak cukup kalau tidak menyadari dan tidak ada artinya kalau tidak dilaksanakan dan memperjuangkannya. Tri nga merupakan implementasi dari seseorang yang telah memiliki ilmu pengetahuan. Seseorang jika telah memiliki pengetahuan (ngerti) tentang suatu hal, maka ia harus memiliki rasa ingin melakukan hal yang sesuai dengan pengetahuan yang ia miliki. Dan tidak hanya sampai ingin (ngroso), tetapi hendaknya ia melakukan (nglakoni) dari ilmu pengetahuan yang ia miliki. 4. Tri Juang: berjuang memberantas kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan. 5. Tri N (Niteni, nirokke, nambahi) Tri N ini merupakan ajaran yang mengajarkan kita dalam menemukan temuan yang lebih baik dan anti plagiatisme. Untuk membuat hal baru kita harus melihat terlebih dahulu produk yang sudah ada, meniru bagaimana cara pembuatannya, dan menambahi inovasi hasil pikir dari individu tersebut sebagai pembeda dari hasil yang sudah-sudah. d. Ajaran yang Berupa Fatwa 1. Lawan sastra ngesti mulya: dengan ilmu pengetahuan/budaya mencita-citakan kebahagiaan dan kesejahteraan. 2. Suci tata ngesti tunggal: Dengan suci hati, dalam keadaan yang teratur, tertib mencita-citakan persatuan, kesempurnaan. 3. Ning-neng-nung-nang Kesucian fikiran kebatinan yang didapat dengan ketenangan hati, itulah yang mendatangkan kekuasaan dan jika sudah ada tiga tiganya maka kemenangan akan menjadi bahagia kita Dengan fikiran yang hening, tenang, diam tidak mudah emosi, memiliki keteguhan, kekuatan hati akhirnya memperoleh kemenangan. Ning dari kata hening, tenang; neng dari kata meneng, diam, tidak emosi, tidak gegabah; nung dari kata hanung, teguh, kuat, sentosa; dan nang dari kata menang, wewenang. 5 4. Ngandel-kendel-bandel-kandel Ngandel: percaya kepada Tuhan, percaya diri; kendel: berani, berani karena benar; bandel: tahan banting, tidak mudah putus asa; kandel: tebal, tebal kepercayaan, tebal imannya. Percaya akan memberikan pendirian yang tegak, maka kemudian kendel (berani), dan bandel (tidak lekas ketakutan, tawakal) akan menyusul sendiri. 5. Bibit-bebet-bobot. Dalam membentuk keluarga yang baik, sejahtera, perlu memperhatikan bibit, bebet, bobot. Bibit: benih yanng dimaksud anak (calon pengantun); bebet: yang menurunkan (orangtua, asal usul) dari keluarga yang baik ataukah tidak, mempunyai penyakit yang menurun atau tidak, dst; bobot: berat, yang dimaksud adalah mutu dan kualitas. 6. Hak diri untuk menuntut salam dan bahagia: setiap orang memiliki hak untuk memperoleh kebahagiaan, dan kesejahteraan. 7. Salam bahagia diri tidak boleh menyalahi damainya masyarakat. 8. Alam hidup manusia adalah alam hidup pembulatan: bahwa manusia hidupnya tidak terlepas dari keadaan alam, ekologi. Manusia yang mampu menyatu dengan alam itulah yang dapat bahagia 9. Dengan bebas dari segala ikata dan dalam kesucian, kita berhamba kepada sang anak. 10. Tetep – antep – mantep Tetep: ketetapan hati, tetap pada pendiriannya tidak tergoyahkan oleh pengaruh negatif. Antep: berat, berbobot, bermutu. Mantep: mantap, tetap pada pilihannya. Ketetapan fikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang dan jika tetep dan antep itu sudah ada, maka mantep itu datang juga, yakni tidak dapat diundurkan lagi. 6 BAB III PEMBAHASAN Konsep Ki Hajar di Bidang Ekonomi a. Ekonomi kerakyatan 1. Dilakukan sebagai usaha bersama yang berasas kekeluargaan dan kemanusiaan. 2. Sumber daya pokok dikuasai negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat. 3. Distribusi hasil ekonomi disalurkan secara merata dan profesional. 4. Tujuan ekonomi untuk menyalambahagiakan diri pribadi tiap orang, seluruh bangsa Indonesia, dan umat manusia pada umumnya. b. Usaha ekonomi berciri khas Pancadharma 1. Menjunjung tinggi adanya kekuasan Tuhan yang Mahakuasa terhadap alam seisinya (kodrat alam). 2. Dalam mengusahakan ekonomi harus menggunakan iptek, imtaq, etika, estetika,dan life skill (kebudayaan). 3. Dalam mengusahakan ekonomi harus memerdekakan pikiran dan perbuatan manusia sejauh mampu menjaga tertib damainya persatuan dalam kehidupan bersama (kemerdekaan). 4. Dalam mengusahakan ekonomi harus memperhatikan konsep dasar kebangsaan yaitu religius, humanistis, dan kultural (kebangsaan). 5. Dalam mengusahakan ekonomi harus memperhatikan manusia sesuai kodrat, harkat, dan martabatnya (kemanusiaan). 7 BAB IV PENUTUP Kesimpulan Dengan adanya konsep ajaran Ki Hajar Dewantara di bidang ekonomi, diharapkan dapat menjadi pondasi menjalankan praktik ekonomi kerakyatan. Dengan adanya ekonomi kerakyatan dapat membantu perekonomian Indonesia dalam masa pandemic Covid-19 saat ini. 8 DAFTAR PUSTAKA Ana, F. N. M, Pd. I., Dra.Hidayati. M, Pd. (2015). Laporan Akhir Penelitian Pemula Th 2015. https://journal.ustjogja.ac.id/download/LAPORAN AKHIR.pdf http://catatan-manusia.blogspot.com/2013/12/ketamansiswaan-i-konsep-ekonomi-asas.html 9

Judul: Ajaran Ki Hajar Dewantara Di Bidang Ekonomi

Oleh: Azizah Rahmadani


Ikuti kami