Kumpulan Makalah Pengantar Filsafat Ilmu Dosen Pengampu Dr. Sigit Sardjono, Ms

Oleh Cela Merine

846,2 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Kumpulan Makalah Pengantar Filsafat Ilmu Dosen Pengampu Dr. Sigit Sardjono, Ms

KUMPULAN MAKAH PENGANTAR FILSAFAT ILMU Pengantar Filsafat Ilmu (Kelas U) Dosen Pengampu : Dr. Sigit Sardjono, MS Disusun Oleh : 1. Cela Merine Novelita (1221800054) 2. Indry Kumala Dewi (1221800058) 3. Devi Thalia Puspa Kemuning (1221800115) FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA 2019 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas petunjuk dan rahmatNya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu. Ucapan terima kasih kepada beberapa pihak yang ikut serta membatu menyelesaikan makalah ini. Semoga dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita khususnya bagi penyusun. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik. ii DAFTAR ISI Halaman Judul ............................................................................................................... i Kata Pengantar ............................................................................................................... ii Daftar Isi ......................................................................................................................... iii BAB I MANFAAT FILSAFAT BAGI MAHASISWA ............................................ 01 A. DEFINISI FILSAFAT............................................................................ 01 B. LATAR BELAKANG TIMBULNYA FILSAFAT ................................. 02 C. OBYEK FILSAFAT .............................................................................. 05 D. CIRI-CIRI PEMIKIRAN FILSAFAT..................................................... 06 E. CABANG-CABANG FILSAFAT .......................................................... 07 F. MANFAAT BELAJAR FILSAFAT ....................................................... 14 BAB II PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU........................................................ 19 A. PENDAHULUAN .................................................................................. 19 B. PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU .................................................. 20 C. KESIMPULAN ....................................................................................... 24 BAB III LOGIKA BERPIKIR UNTUK MENEMUKAN KEBENARAN ILMIAH .... 25 A. PENDAHULUAN .................................................................................. 25 B. PENGERTIN LOGIKA ILMU................................................................ 26 C. HAKIKAT SARANA BERPIKIR ILMIAH ............................................ 28 D. PENUTUP .............................................................................................. 30 BAB IV TEORI KEBENARAN ................................................................................. 31 A. PENDAHULUAN ................................................................................. 31 B. PENGERTIAN KEBENARAN............................................................... 32 C. TEORI-TEORI KEBENARAN ............................................................... 34 D. PENUTUP .............................................................................................. 36 BAB V TAKARAN KEILMUAN-PENGETAHUAN : ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI ................................................................................................ 37 A. PENDAHULUAN .................................................................................. 37 B. PEMBAHASAN ..................................................................................... 38 C. KESIMPULAN ....................................................................................... 48 BAB VI FILSAFAT PANCASILA ............................................................................. 49 A. PENDAHULUAN .................................................................................. 49 iii B. PEMBAHASAN ..................................................................................... 50 C. KESIMPULAN ....................................................................................... 61 BAB VII FILSAFAT KARYA ILMIAH ...................................................................... 62 A. LATAR BELAKANG ............................................................................ 62 B. PENALARAN ILMIAH ......................................................................... 63 C. PENERAPAN DALAM PENELITIAN ILMIAH ................................... 64 D. KESIMPULAN ....................................................................................... 67 BAB VIII SOAL DAN JAWABAN .............................................................................. 68 iv BAB I MANFAAT FILSAFAT BAGI MAHASISWA A. DEFINISI FILSAFAT a. Definisi etimologi Dari segi asal usul kata (etimologi), filsafat berasal dari Bahasa Yunanni philosopos (philos = pencinta, pencari;dan Sophia =hikmat, kebijaksanaan, atau pengetahuan)yang berarti pencinta kebijaksanaan. Pythagoras (582-497 SM) adalah orang pertama yang menggunakan kata philosopos. Ia menyebut diri philosophos yang berarti pencinta kebijaksanaan. Menurut Pythagoras, hanya Tuhan mempunyai kebijaksanaan sesungguhnya. Tugas manusia pengetahuan.itulah di dunia adalah sebabnya, filsuf mencari adalah kebijaksanaan pencari hikmat dan dan mencintai pencinta kebijaksanaan. Pythagoras dan Ploto (428-348 SM) menggunakan kata philosophos untuk mengejek kaum sofis yang menganggap diri tahu jawaban untuk semua pertanyaan. (Humersma, 1987, 10) Istilah filsafat sebetulnya sudah ada dalam sastra Yunani pertama. Filsafat pada mulanya berarti menganggap benda-benda di dsekitar dengan penuh perhatian. Kemudian berarti merenung tentang benda-benda tadi. Herakleitos (sekitar tahun 500 M) sudah menggunakan kata filsuf. Tapi menurut dia,hanya Tuhanlah yang dapat disebut bijaksana dan pandai. Ploto kemudian mengatakan para dewa tidak dapat disebut filsuf, sebab mereka sudah memiliki kebijaksanaan. Hanya manusialah yang mendambakan kebijaksanaan karena ia tak dapat meraihnya. (Van Peursen : 3). b. Definisi nominalis Dari definisi secara etimologis di atas, filsafat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari seluruh realitas sampai sebab-sebab yang paling dalam. Sebagai ilmu, filsafat juga merupakan pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren. Tapi kekhasannya adalah bahwa filsafat mau menyelidiki seluruh kenyataan sampai sebab-sebab paling dalam. 1 B. LATAR BELAKANG TIMBULNYA FILSAFAT Filsafat bukan monopoli segelintir orang. Bukan pula monopoli bangsa-bangsa tertentu. Bukan pula monopoli zaman tertentu. Semua manusia, segala suku bangssa, yang hidup di zaman apa saja, dapat berfilsafat. Mengapa? Sebab filsafat bertolak dari kejadian yang di alami setiap saat. Ketika orang bertanya, mulailah ia berfilsafat. Filsafat muncul bersamaan dengan kemunculan manusia dalam sejarah. Hewan tak dapat berfilsafat, sebab hewan tak dapat bertanya. Manusia dapat bertanya sebab ia memiliki alak budi yang mampu mengambil jarak dengan benda-bendadan segala sesuatu di sekitarnya. Itulah sebabnya manusia di juluki hewan yang berakal budi (animal rationale). Ada hal-hal yang sangat lumrah, dialami seperti orang-orang lain. Misalnya, bangun tidur, mandi, berpakaian, sarapan, belajar, bekerja, bermain, beristirahat, pulang ke rumah menonton tv, mendengarkan radio, membaca koran. Ada pula peristiwa kosmis yang selalu berulang setiap hari. Misalnya, pagi berganti siang, siang berganti senja, senja berganti malam, melang berganti siang, dan seterusnya. Atau pula musim panas berganti musim gugur, musim gugur berganti musim bunga, musim bunga berganti musim dingin, musim dingin berganti musim berikutnya, dan seterusnya. Semuanya ini mendorong manusia untuk bertanya. Ada kejadian-kejadian yang lebih unuk bagi setiap orang. Misalnya, lahir, menjadi dewasa, menikah, penderitaan, pertobatan, penyembuhan, terperanjat, dan kematian. Manusia bertanya tentang semua peristiwa tersebut dan berusaha mendapat jawabannya. Menurut C.A. can Peursen, bertanya merupakan tali pengikat Antara manusia dan peristiwa. (Peursen, 1-2) Setelah bertanya, manusia melakukan refleksi. Dalam peristiwa alam itu seakan-akan ia melihat cerminan dirinya sendiri. Ketika memandang bunga-bunga berguguran, ia seakan-akan melihat perjalanan hidupnya sendiri sebahai manusia. Seperti halnya bunga mekar, menjadi tua, dan kemudian mati. Orang itu menjadi filsuf! (van Peursen: 2) Kegiatan berfilsafat pada manusia berawal dari rasa heran, kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan. a. Rasa Heran : berfilsafat berarti bertanya-tanya disertai rasa heran dan kagum. Plato, misalnya, mengatakan bahwa filsafat berawal dengan dorongan untuk menyelidiki bintang-bintang, matahari dan langit yang kita pandang. Dari penyelidikan adalah muncul filsafat. 2 Dalam sebuah bagian terkenal dialog Theatesos, Plato menampilkan Snerates yang menghubungkan filsafat dengan rasa heran. Seperti dalam Simposium, Plato menempatkan filsafat diantara para dewa dan manusia. Utusan para dewa dikaitkan dengan rasa heran. Rasa heran itu malah dibarengi rasa pening. Mengapa? Karenaperistiwa-peristiwa merupakan belenggu yang harus dipatahkan dan dilewati guna mempertanyakan makna benda-benda. Rasa heran itulah yang mematahkan belenggu rasa biasa tersebut. Sebab itu seakan orang menjadi pusing (van Peursen: 2-3; Hamersma: 14) Aristoteles mengatakan, manusia berbeda dengan hewan dalam hal pengalaman yang menghasilkan keterampilan teknis dalam menangani barang-barang. Dalam perkiraannya ia menelusuri kembali gejala-gejala yang dialaminya. Ia bertanya-tanya tentang makna dan sebab segala sesuatu. Rasa heran merupakan perangsang bagi filsafat. Dan kemampuan untuk mengadakan renungan filsafat menggunakan derajat manusia (Van Peursen: 2) Immanuel Kant (1734-1804) mengatakan langit bertaburan bintang dan hukum moral dalam hati manusia merupakan dua gejala yang paling mengherankan. Dan dari situlah ia mulai berfilsafat. Tentang Thales, filsafat pertama yunani, diceritakan bahwa ia tak puas-puasya memperhatikan langit dan bintang-bintang. Suatu ketika Thales sampai terperosok ke dalam sumur karena terlalu asyik menengadah ke langit. Ia juga memperhatikan segala benda dan melihat bahwa air ada di mana-mana. Ia memperhatikan bahwa segalanya hidup dari embun, dan bahwa panas itu sendiri beral dari embun. Segala macam benih, menurut Thales, dari kodratnya terdiri dari embun. Air adalah asal dari hakekat bendabenda basah. Pada peristiwa penguwapan air menjadi embun atau udara. Pada peristiwa pembekuan, air akan menjadi dunia. Akhirnya Thales berkesimpulan bahwa inti paling dasar segala-galanya adalah air. (Copleston: 1962, 38-39; Hamersma: 1987, 36; Bertens 1975, 9-10; Hadi Wijono: 1975,16) Sesudah mengamati segala sesuatu Anaximander berkesimpulan bahwa asal usul segala sesuatu adalah “yang tak terbatas”. Selabiknya, anaximenes berpendapat unsur segala sesuatu bukan air, melainkan udara. Herakleitos mengajarkan bahwa segala sesuatu mengalir. Kesimpulan ini diambilnya setelah mengamati bahwa dunia ini tidak ada suatu yang tetap. Semuanya berubah terus menerus. Sebaliknya parmenides mengatakan segala sesuatu merupakan kesatuan mutlak yang diabadikan dan tidak terbagi-bagi, (HAmersma: 1987,36; Coppleston: 1962, 40-70). 3 b. Kesangsian: filsafatjuga bias diawali dengan rada sangsi. Manusia menyagsikan apa yang dilihat indranya. Ia bertanya jangan-jangan apa yang dilihat itu suatu tipuan. Dengan kata lain, manusia menginginkan kepastian. Berdasarkan sikap skeptic inilah manusia didorong untuk menemukan jawaban yang pasti. Di sini,kesangsian merupan metode untuk mencapai kepastian dan kebenaran. Harus dicatat bahwa rasa tak pasti, bimbang, dan skeptic yang dimaksud di sini bukan merupakan gangguan psikologis, tapi justru merupakan proses mental dalam mencapai kebenaran. Filsuf yang mengawali fulsafat dengan sikap ragu-ragu adalah, Antara lain, Agistinus (354-430) dan Rene Descartes (1596-1650) c. Kesadaran dan keterbatasan: manusia mulai berfilsafat ketika ia menyadari batapa kecil, lemah, dan tak berarti dirinya di tengah alam semesta yang maha luas, kuat dan dahsyat. Pengalamannya juga menunjukkan betapa manusia itu tak berdaya. Ini dialami, misalnya ketika berhadapan dengan tebing terjal, atau gunung api yang sedang memuntahkan lava. Atau tatkala menyaksikan gelombang pasang yang mengancam kehidupan nelayan. Alau longsor yang memakan korban jiwa. Pada tataran yang lain, manusia yang selamat begitu bahagia hidup bersama orang yang dicintai tetapi dikompensasi karena orang yang dicintai itu adalah manusia yang percaya begitu rapuh. Lalu bertanya tentang apa itu kematian? Apa yang terjadi setelah kematian? Apakah perpisahan dengan kekasihnya itu untuk-lamanya atau setiap kali manusia melawan penderitanya atan gagal, selalu ia mendukung untuk hertanya: Mengapa menderita? Mengapa gagal? Kenapa orang orang lain seakan-tidak akan pernah tahu nasib n air mata ?. Mengapa penipu, maling, atau orang jahat hidup berkecukupan dan bahagia? Mengapa orang-orang baik dan dermawan malah menderita? Dia berkesimpulan bahwa harus ada kebahagiaan setelah menjalani hidup fana ini yang akan menerima orang-orang yang mendapatkan baik di duia. Kalau kebahagiaan di dunia hanya sementara, harus ada kebahagiaan yang lidak berkesudahan (Hamersma, 1987. 11-12) Karena filsafat timbul dari pengalaman sehari-hari, filsafat muncul sejak adanya manusia. Berarti pula, filsafat tidak hanya dikenal di Yunani, tapi juga di tempat-tempa lain. Orang Cina dan India sudah lebih dulu mengenal permenungan filsafat dibandingkan orang Yunani (sekitar abad 6 SM). Pada waktu itu permenungan filsafat di Yunani dilakukan demi kegembiraan yang dihasilkan oleh pengartian. 4 Jadi, setiap pengalaman manusta mengandun kemugkian untuk berfilsafat. Menghadapi, setap permasalahaat, entah menggunakan manusia atau Ada pada umumnya, berakar pada manusia yang bertanya di tengah pengalaman bertanya seharihari. Pertanyaan-pertanyaan fisafat tak kunjung selesai. Mengapa Karena menyangkut yang manusia selalu terbuka, bukan merupakan bola tertutup. Filsafat juga tidak berawal dari nol, tidak dimulai dari selembar halaman kosong. Kata van Peursen: filsafat selalu berurusan dengan manusia yang sudah berangkat pada perjalanannya. Manusia atau filsuf mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis (siapakah aku? Ada itu?) Dari situasinya sendiri (van Peursen: 3-4) C. OBYEK FILSAFAT Obyek dibedakan atas obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah apa yang dibicarakan, dipelajari, diselidiki, dibahas, dibahas, dipandang,disoroti. Dengan kata lain, hal yang menjadi target yang ingin dipahami (Gegenstand). Atau menurut I.R. Poedjawijatna, objek material adalah bahan atau lapangan penyelidikan. Sementara objek formal adalah sudut pandang (sudut atau sudut pandang) dalam diskusi, membahas atau mengubah sesuatu. Contoh. objek material psikologi, antropologi. dan sosiologi sama, yaitu manusia, tetapi objek formalnya berbeda. Psikologi yang menggambarkan manusia dari segi kejiwaan, antropologi yang menggambarkan manusia dari segi budaya, sedangkan sosiologı menyorotinya dari segi interaksi dengan manusia lain. Jadi, yang menghubungkan ilmu yang satu dengan ilmu lainnya adalah obyek formal (Poedjawijatna: 6-8; Tim LGM: 6-7). Manakah obyek material dan obyek formal filsafat? Obyek materi lilsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Yang ada itu bisa dalam kenyataan, atau bisa pula hanya dalam pikian. Obyek formal filsafat mencari keterangan sedalam-dalamnya. Filsafat tidak memutar objek dari segi susunannya saja, tetapi totalitas objek itu. Filsafat menyoroti dari segi hakikat, inti terdalam. Ilmu pengetahuan lain membahas tentang hanya pada pengalaman empiris, sebaliknya menentang filsafat mencari penjelasan tentang inti dan hakekat segala sesuatu. 5 Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren (bertalian) tentang sumber bidang tertentu dari kenyataan. Sedangkan, filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan (Hamersma: 10). D. CIRI-CIRI PEMIKIRAN FILSAFAT Seperti dikatakan di atas, hewan tak bisa dibawa ke berfilsafat, karena tak punya akal budi. Karena akal budi itulah, manusia bertanya. Dengan akal budi itu manusia herpikir. Manusia berfilsafat karena ia berpikir, dan ia berpikir karena berfilsafat. Berlilsafat adalah berfikir, tetapi berfikir tidak selalu berarti herfilsafat. Berfilsafat memiliki ciri khas berfikir, berfikir sedalam- dasarnya. Berfikir biasa berbeda dengan berfikir secara filsafat. Karakteristik atau ciri-ciri filsafat adalah: a. Komprehensif (menyeluruh): memandang obyek penyelidikan secara totalitas. Filsafat ingin memahami "apanya" atau hakikat dari objek tersebut Filsafat tidak puas hanya menyelidiki dari sudut tertentu seperti yang dilakukan ilmu-ilmu lain. Menyeluruh di sini berarti filsafat juga menyelidiki kansep- konsep abstrak seperti manusia, keadilan, kebaikan, kejahatan, kebebasan. Berarti juga berfikir tentang hal-hal atau proses-proses yang miliknya secara umum (universal). Filsafat selalu menyangkut pengalaman umum umat manusia (common experience of mankind). Cara pemikiran seperti itu menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang universal. (Tim UGM. 14) b. Spekulatif: artinya apa yang diselamatkan filsafat berdasarkan dugaan-dugaan yang masuk akal, dan tidak berdasarkan bukti empiris. Ini bukan maksud dari dugaan filsafat yang tidak ilmiah, tetapi pemikiran filsafat memang tidak termasuk dalam persetujuan otoritas khusus. (Achmadi: 9-10) Misalnya, filsafat menemukan jawaban untuk pertanyaan apa itu benar (logika), apa itu baik (etika), apa itu indah (estetika). Itulah yang dilakukan filsafat. Tidak lebih dari itu. Ilmu-ilmu lain dapat memanfaatkan pemikiran filosofis tersehut. (Dardiri: 1516) Dengan kata lain, berpikir secara politis konseptual. Karena konseptual maka ia merupakan hasil generalisasi dan abstraksi dari hal hal konkrit dan individu. Berfilsafat tidak berpikir tentang manusia tertentu, tetapi manusia secara umum. Ciri ini melampaui batas pengalaman empiris sehari-hari (Tim UGM: 14) 6 c. Mendasar atau radikal: filsafat bertanya hingga ke dasar atau akar terdalam dari segala sesuatu. Berfikir tentang filsafat berfikir hingga ke esensi, hakikat dan substansi benda-benda. Orang yang berfilsafat tidak puas dengan hasil pengamatan indera, tapi berusaha sampai kepada pengetahuan paling dalam yang mendasari pengetahuan inderawi. (Tim UGM: 13) d. Konsisten: bagan konsepsional, hasil perenungan, harus bersifat konsisten.lawannya adalah bagan konsepsional yang kontradiktif alias saling bertentangan. Pertanyaanpertanyaan yang tidak runtut pada dasarnya tidak masuk akal. e. Koheren atau logis: bagan konsepsional harus bersifat logis. Kesimpulan harus diperoleh dari premis-premis yang mendahuluinya. Premis-premis tersebut harus diuji kebenarannya. Jadi antara satu kalimat dengan kalimat lain harus ada hubungan logis. Dalam rangkaian tersebut,bagian satu harus terkandung pada bagia lainnya. f. Sistematis: artinya dalam menjawab suatu permasalahan. Digunakan pendapat pendapat sebagai wujud dari proses berfikir filsafat. Pendapat-pendapat itu harus saling berhubungan secara teratur, dan mempunyai makna atau tujuan tertentu. (Tim UGM: 14) g. Bebas: setiap filsafat adalah hasil pemikiran yang bebas. Bebas dari prasangkaprasangka social, historis, kultural, ataupun religious.soerates misalnya, memilih meminum racun daripada mengorbankan kebebasannya untuk berfikir mengenai keyakinan. h. Bertanggung jawab: orang yang berfilsafat berfikir sambil bertanggungjawab. Bertanggung jawab terhadap siapa? Pertama-tama terhadap hati nuraninya. Jadi, ada hubungan Antara kebebasan berfikir dalam filsafat dan etika. Selanjutnya, orang yang berfikir harus merumuskan fikiran-fikirannya sedemikian agar dapat berkomunikasi kepada orang lain. (Tim UGM: 13-15) E. CABANG-CABANG FILSAFAT Filsafat dapat dibagi sebagai berikut: 1. Filsafat tentang pengetahuan a. Empistemologi b. Logika c. Kirtik Ilmu 7 2. Fisafat tentang keseluruhan kenyataan a. Metafisika Umum(otologi) b. Metafisika Khusus 1) Teologi Metafisik (teodicea) 2) Antropologi Filsafat 3) Kosmologi (Filsafat Alam) 3. 4. Filsafat tentang tindakan b. Etika (Filsafat Moral) c. Estetika (Filsafat Seni) Sejarah Filsafat Dibawah ini dibahas secara ringkas cabang-cabang filsafat tersebut: 1. Epistemologi Epistemologi berasal dari kata bahasa yunani episteme, yang berarti pengetahuan. Epistemologi adalah ilmu yang menyelidiki hakekat dan asal usul ilmu pengetahuan. Pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab epistemology antara lain: - Apa itu Pengetahuan ? - Apa itu pengetahuan apriori dan aposteriori? - Dari mana asal pengetahuan? - Apakah manusia dapat mencapai kepastian pengetahuan? Bagaimana validitas pengetahuan itu dapat dinilai? (Hamersma: 17; Tim UGM: 17) Rasionalisme, empirismefenomenalisme kant, intuisionisme, dan metode ilmiahmemberikan jawaban yang berbeda. Rasionalisme (dari bahasa latin: ratio = akal budi) menegrjakan bahwa akal budi merupakan sumber utama untuk pengetahuan. Tokoh-tokohrasionalisme dalam filsafat modern antara lain Rene Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Empirisme (dari bahasa yunani: empiria = pengalaman) mengajarkan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi . Aliran ini menolak ajaran rasionalisme. Menurut mereka pengetahuan bukan berasal dari kal buda tapi dari pengamatan indra. Akal budi diisi dengan kesan-kesan yang berasal dari pengamatan. Baru kemudian kesan-kesan ini oleh akal budi dihubung-hubungkan, sehingga tercipta ide-ide 8 majemuk. Tokoh-tokohnya antara lain Francis Bacon, Thomas Hobbes, Jhon Locke, dan Davide Hume. Fenomenalismeyang dikemukakan oleh Immanuel Kant merupakan jalan tengah antara rsinalosme dan empirisme. Baik indra maupun akal budi sama-sama berperan dalam terciptanya pengetahuan. Manusia mengetahui suatu benda sejauh benda itu tampak sebagai gejala (fenomena). Tetapi benda itu sendiri tidak pernah diketahui. Intuisinasionisme dikemukankan oleh filsuf asal Prancis , Henry Bergson. Intuisi adalah pengetahuan langsung, buakn pengetahuan nisbi dengan pengantara. Intuisi adalah sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Lewat pengetahuan ituitif, orang mengenal suatu kejadian secara keseluruhan. Metode Ilmiah menggabungkan peran akal budi dan indra, serta menambahkan suatu cara baru untuk memverifikasi penyelesaian-penyelesaian yang disarankan (hipotesa). Metode ilmiah dimulai dengan pengalaman, lalu dibuat hipotesa, yang kemudian diuji lagi kebenarannya. (kattshoff, 136-149) 2. Logika Logika berasal dari kata yunani logikos (berhubungan dengan pengetahuan). Epistemologi mempelajari pengetahuan (termasuk asal usulnya), yang merupakan isi akal budi, sedangkan logika mempelajari bentuk pemikiran, yakni cara kerjanya (sah atau tidak. Logika adalah ilmu, kecakapan atau alat untuk berfikir secara lurus. Jadi obyek material logika adalah pemikiran atau kegiatan berpikir, sedangkan obyek formalnya adalah kelurusan berfikir. Untuk membedakannya dari epistemologi (logika material, maka logika dulu disebut juga logika formal. Persoalan-persoalan yang dibahas dalm logika antara lain: - Apa itu Konsep? - Apa itu putusan (proposisi)? - Apa itu penyimpulan (inferensi)? - Manakah hokum-hukum untuk mengambil kesimpulan secara lurus? - Silogisme dan jenis-jenisnya - Kesesatan fikir (fallacy) 9 Dalam logika dipelajari aturan-aturan yang harus dipatuhi supaya pernyataanpernyataan kita dapat disebut valid (sah). Jadi, logika adalah taknik atau “seni” yang mementingkan segi formal atau bentuk dari pengetahuan. (Dardiri: 22-23, Hamrsma: 16-17) Perhatikan contoh berikut. Semua Manusia pasti mati Bambang adalah manusia Bambang pasti mati Dua kalimat pertama disebut premis (kalimat pertama dinamakan premis mayor, kalimat kedua premis minor). Kalimat ketiga merupakan kesimpulan (konklusi). Untuk menarik konklusi yang benar, premis-premisnya harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Setiap premis harus diselidiki kebenarannya. Sebuah konklusi yang sah hanya bisa ditarik dari premis-premis yang benar. (Hamersma: 17) Logika dibedakan atas logika tradisional atau klasik, dan logika matematis atau formal. Logika tradisional berkembang pada Aristoletes dan abad pertengahan. Sedangkan logika modern dekembangkan antara lain oleh Frege, Whitehead, dan Russell. (Hamersma : 17-18) 3. Kritik Ilmu-Ilmu Kritik ilmu-ilmu adalah cabang filsafat yang mengajukan pertanyaanpertanyaan kritis terhadap ilmu pengetahuan. Yang dipertanyakan misalnya pembagian ilmu-ilmu, metode ilmu-ilmu, dasar kepastian, dan jenis-jenis keterangan yang diberikan. Misalnya ada yang mempertanyakan ilmiah tidaknya ilmu sejarah, karena dalam sejarah tidak dicapai kepastian. Ada yang mengatakan bahwa sejahra hanya memberikan inferpretasi atas fakta, dan tidak pernah ada kepastian bahwa interpretasi itu benar. (Hamersma: 18) 4. Metafisika Umum Metafisika umum atau ontologi menyelidiki seluruh kenyataan. Dalam metafisika ingin dijawab pertanyaan- pertanyaan paling mendasar seperti: - Apa itu ada atau keberadaan (eksistensi)? 10 - Penggolongan ada , keberadaan (eksistensi)? - Apa sifat dasar (kodrat)realitas ? - Apakah kenyataan itu kesatuan atau tidak? Ontologi sering disebut puncak filsafat karena pertanyaan-pertanyaan dalm ontology langsung berhubungan dengan sikap manusia terhadap pertanyaanpertanyaan paling dasar, yakni mengenai Allah. Pertanyaan dalam ontology mengungkapkan suatu kepercayaan. Ada empat jenis kepercayaan ontology yakni ateisme, agnotisisme, panteisme, dan teisme. Ateisme dari bahasa yunani, a = bukan, theos = Allah, mengajarkan bahwa tidak ada Allah, dan manusia hanya sendirian saja di kosmos. Agnostisisme dari bahasa yunani, a = tidak/bukan dan gnosis = pengetahuan, mengajarkan bahwa manusia tidak mungkin tau mengetahui apakah Alah ada atau tidak ada. Panteisme dari bahasa yunani, a = bukan, dan theos = Allah, mengajarkan bahwa seluruh kosmos sama dengan Allah. Akibatnya tidak ada perbedaan antara pencipta dan ciptaan. Dengan kata lain: Allah dan alam itu sama saja, tak ada bedanya. Teisme mengajarkan bahwa Allah itu ada, bahwa ada perbedaan antara pencipta dan ciptaan. 5. Teologi Metefisik (Theodicea) Teologi metafisik dapat disebut juga theodicea atau filsafat keutuhan. Dinamakan pula meta-theologi. Teologi metafisik mempelajari antara lain tentang: - Apakah betul ada Allah? - Bagaimana membuktikan adanya Allah? - Hubungan pencipta dan ciptaan? 6. Antropologi Filsafat Cabang filsafat ini berbicara tentang manusia. Immanuel Kant mengatakan pertanyaan siap itu manusia? Merupakan satu-satunya pertanyaan filsafat. Manusia memiliki banya dimensi. Manusia adalah materi dan hidup, badan dan jiwa, memiliki kehendak dan pengertian. Manusia adalah individu, tetapi sekaligus juga merupakan makhluk social. Semua dipelajari dalam antropologi filsafat atau filsafat manusia. (Hamersma: 21-22) Persoalan yang dipelajari dalam filsafat manusia antara lain: - Hubungan antara jiwa dan badan 11 - Kesadaran - Menusia sebagai makhluk bebas 7. Kosmologi Kosmologi dari bahasa yunani kosmos yang berarti dunia, aturan, dan keseluruhan teratur atau filsafat alam berbicara tentang dunia. Cabang filsafat ini sudah ada sejak Mesir dan Mesopotamia kuno, kemudian berkembang di yunani dan member hidup kepada ilmu alam. Persoalan-persoalan yang dibahasdalm kosmologi antara lain: - Apakah ada keteraturan dalam alam? - Finalitas alam semesta - Hubungan antara sebab dan akibat - Ruang dan waktu Masih diperdebatkan apakah kosmologi masih ada disamping ilmu fisika yang begitu maju. Bagaimana juga kosmologi masih diperlukan karena di tengah perkembangan ilmu alam yang sangat maju dewasa ini, dibutuhkan suatu refleksi mendalam secara keseluruhan. (Hamersma:23) 8. Etika Etika dari bahas yunani ethos yang berarti adat, cara bertindak, tempat tinggal, atau kebiasaan atau filsafat moral mempelajari tindakan manusia. Etika mempelajari bagaimana manusia harus bertindak. Etika dibedakan atas etika deskriptif dan etika normatif. Etika diskriptif mengajarkan tentang gambaran dari gejala kesadaran moral (suara hati), dari normanorma dan konsep-konsep etis. Sedangkan etika normatif berbicara tentang tindakan apa yang harus dilakukan manusia. Dalm etika normatif, norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan. (hamersma: 24) Persoalan-persoalan yang dipelajari dalam filsafat tingkah laku antara lain: - Pengertian baik dan buruk secara moral - Persyaratan suatu tindakan itu disebut baik secara moral - Kebebasan kehendakan dan tindakan moral - Kesadaran moral - Suara hati - Pertimbangan moral 12 9. Estetika Estetika dari bahasa yunani aesthesis yang berarti pengamatan adalah cabang filsafat yang berbicara tentang keindahan. Jadi, estetika adalah filsafat keindahan. Kalau etika adalah filsafat tentang kajian baik-buruk secara moral, maka estetika adalah kajian tentang indah-jelek, etika dan estetika sama-sama bertalian dengan nilai. Etika berkaitan dengan nilai moral, sedangkan estetika berhubungan dengan nilai bukan moral. Obyek estetika adalah pengalaman akan keindahaan. Estetika mencari hakekat dari keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan (keindaha jasmani dan rohani, keindahan alam dan keindahan seni), dan emosi-emosi manusia sebagai reaksi terhadap yang indah, yang agung, yang tragis, yang mengharukan dan seterusnya. Ada estetika diskriptif dan estetika normatif. Estetika diskriptif menggambarkan gejala-gejala pengalaman keidahan. Estetika normative mencari dasar pengalaman tersebut. Misalnya, apakah keindahan itu suatu yang obyektif (terletak dalam obyek yang indah), atau subjektif ( terletak dalam mata manusiasendiri). Persoalan-persoalan yang dipelajari dalam filsafat keindahan antara lain: - Apa itu keindahan? - Sifat keindaha obyektif atau subyektif? - Apa ukuran keindahan? - Fungsi keindahan dalam kehidupan manusia? - Hubungan keindaha dan kebenaran ? (Tim UGM: 19) 10. Sejarah Filsafat Dalam sejarah fisafat di pelajari hasil penyelidikan semua cabang filsafat disitu kita temukan jawaban-jawaban yang diwariskan oleh para pemikir besar, tema-tema yang dominan pada periode-periode tertentu, serata aliran-aliran filsafat yang pernah hidup di suatu periode tertentu atau disuatu tempat tertentu. Dalm sejarah filsafat dikenal tiga tradisi besar yakni filsafat India, filsafat Cina, dan filsafat Barat. Ada banyak paralelisme antara tiga tradisi itu. Tetapi yang paling menonjol adalah bahwa adanya proses demintologisasi dalm kurun waktu antara tahun 800 dan 200 SM. Dalam periode ini hidup pemikir-pemikir dan tokoh-tokoh besar. Konfusius dan Lao Tse di Cina, Buddha Gautama dan para penyusun Upanishad di india, serta Parmenides, Herakleito, Sokrates, Plato, dan aristoletes di Yunani. (hamersma: 26). 13 F. MANFAAT BELAJAR FILSAFAT Seperti yang dijelaskan diatas, pada mulanya semua ilmu pengetahuan menyatu pada filsafat. Tetapi dalam perkembangannya, satu per satu ilmu-ilmu itu melepaskan diri dari filsafat. Dan kenyataannya, ilmu-ilmu itu lebih laku dalam kehidupan praktis. Ada kesan bahwa sebagian masyarakat menganggap filsafat kurang penting. Paling tidak, mereka berpendapat bahwa filsafat tidak praktis. Maksudnya, filsafat tidak dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis sehari-hari. Kehidupan di zaman ini memang menuntut spesialisasi dan keahlian. Maka filsafat yang membanggabanggakan diri sebagai ilmu yang menyelidiki segala sesuatu secara menyeluruh tersisih, atau katakanlah diistirahatkan. Apa yang dituturkan Prof Dr Franz Magins Suseno dan Prof DR Kees Bertens tentang nasib filsafat barangkali membuat sewot orang-orang yang sedang semangat belajar filsafat. Bertens mengutip film taxi (1990) yang disutradarai Arifin C.Noer, dan dibintangi Rano Karno (sebagai Giyon). Dalam cerita itu Giyon, yang adalah sarjana filsafat. Bekerja sebagai supir taksi kaarena memang susah mendapat lowongan kerja. Dan dalam seluruh dialog kelihatan bahwa Giyon menyesal menjadi sarjana filsafat. Toh, akhirnya ijazah filsafat tak dapat memberinya pekerjaan (G. Moedjanto dkk: 39) Bertens selanjutnya menguraikan bahwa perkembangan pesat ilmu-ilmu empiris dewasa ini secara otomatis membuat gengsi filsafat merosot. Falkutas yang dipadati mahasiswa pasti adalah falkutas yang bukan filsafat. Mata kuliah yang paling dicari-cari pasti bukan filsafat ketuhanan atau filsafat ilmu pengetahuan. Ini ada kaitannya dengan semangat utilitaris yang menjadi ciri kehidupan moderen. Orang mencari Pertama-tama yang berguna dan praktis bagi kehidupan. (Bertens: 40) Franz Magnis Suseno Berpendapat, filsafat yang sedang in di indonesia bukan filsafat akademis tapi filsafat yang merupakan saingan dari kebatinan atau agama. Ada kesan, filsafat ilmiah justru dipandang rendah dikalangan akademis sekalipun. “Kalau saya memperkenalkan diri sebagai dosen filsfat pada seseorang anggota elite intelek Indonesia yang betul-betul ahli dalam salah satu bidang ilmiah, tak jarang saya mencium reaksi yang dia mau merahasiakannya, yaitu suatu pertanyaan skeptis tentang dimana tempat kesibukan filsafat dalam kalangan ilmu –ilmu, dan apa kita di Indonesia tidak sebenarnya memerlukan ahli-ahli yang sungguh-sungguh, misalnya dibidang kedokteran, teknologi ekonomi, dan sebagainya dari pada filosof,” tulis magnis dalam bukunya Berfilsafat Dari Konteks. (Magnis: 3) 14 Selain tudingan bahwa filsafat tidak relevan untuk negara yang sedang membangun seperti Indonesia, ilmu filsafat dituding terlalu mementingkan diri sendiri. Filsafat adalah satu-satunya ilmu yang pekerjaan pokoknya terdiri dalam mempelajari sejarahnya sendiri serta satu-satunya hasilnya ialah filsuf-filsuf yang lagi membicarakan sejarah mereka. (Magnis Suseno: 4) Pendek kata filsafat masih dianggap suatu yang aneh, asing, tidak relevan, usaha yang sia-sia untuk mencari jawaban atas suatu masalah (sebab setiap filsuf selalu mengemukakan pendapatnya sendiri-sendiri tanpa mengidahkan filsuf lain), suatu ilmu yang using, hanya merupakan khayalan belaka. Auguste Comte, sosiolog Prancis, bahkan sampai berkata bahwa filsafat hanyalah sebuah fosil dari zaman kedua perkembangan umat manusia, yaitu zaman metafisik, yang berhasil diselamatkan ke zaman ketiga, zaman kita, zaman positif-ilmiah. (Magnis Suseno: 4) Archie J.Bahm. dalam tulisannya berjudul Philosophy and Interdisciplinary Research (dalam Spectrum, bunga rampai untuk menghormati Sutan Takdir Alisjahbana pada ulang tahun ke -70) mengidentifiksi Sembilan factor tersebut adalah proliferation, obsolescence, specialization, indifferentiation, sectarianization, personalization, reductionism, complexification, dan incompetencification. a. Proliferation: meningkatnya secara mencolok jumlah filsuf dan aliran-aliran filsafat menyebabkan semakin sulit, bahkan mustahil, menguasai semua ajaran filsafat. Filsafat cenderung tidak komprehensif, karena hanya sekedar memenuhi kebutuhan praktis. Minat terhadap filsafat juga berkurang karena meningkatnya kompetisi yang disebabkan bertambahnya jumlah ilmu-ilmu dan cabang-cabang ilmu baru. b. Obsolescence: banyak pemikiran filosofis tua masih harus dipelajari untuk memahami pemikiran-pemikiran konteporer. Tapi kecenderungan ini mengakibatkan pengajaran filsafat yang ketinggalan zaman masih banyak dilakukan. Pada gilirannya ini menyebabkan tidak ada rangsangan untuk menemukan pemikiran filosofis baru yang relevan dengan keadaan zaman. c. Specialization: spesialisasi ilmu-ilmu menyebabkan filsafat makin ditinggalkan. Proses itu berawal pada pemisahan ilmu-ilmu dari filsafat. d. Indefferentization: sikap acuh tak acuh dari masyarakat terhadap profesi filsuf. Masyarakat tampaknya tidak merasa membutuhkan filsuf untuk urusan kegiatan profesionalnya. Akibatnya, filsuf-filsuf dan pengajar filsafat itu sendiri juga cenderung sibuk dengan urusan-urusan yang diminatinya. 15 e. Sectarianization: jabatan-jabatan structural di perguruantinggi, khususnya falkutas filsafat, dipegang oleh orang-orang yang menganut aliran filsafat tertentu yang berkembang. f. Personalization: apa yang diajarkan dibangku kuliah adalah pandangan pribadi pengajar yang bersangkutan. Ini berkaitan dengan sikap indeferen masyarakat terhadap profesi filsuf dan filsafat yang mengakibatkan filsuf cenderung untuk berfilsafat sendiri. g. Reductionism: cara piker filsafat yang komperhensif direduksi kepada pemikiran pribadi. Orang cenderung menarik kesimpulan sendiri-sendiri. Contoh, empirisme yang memungkinkan orang menarik kesimpulan berdasarkan pengalaman empirisnya sendiri skeptisisme yang membuat orang untuk tidak mengambil kesimpulan apapun terhadap dunia rill. h. Complexification: kemajuan ilmu-ilmu lain menyebabkan diri pribadi, masyarakat dan alam raya semakin kompleks. Hal ini menyebabkan permenungan atas dunia dan realitas juga menjadi semakin rumit. i. Incompetencification: karena dunia semakin kompleks, maka manusia juga semakin tidak mampu untuk memecahkan masalah –masalah yang semakin kompleks tersebut. (bahm: 47-56) Meredupnya pamor ilmu filsafat,ditengah-tengah perkembangan pesat dan kejayaan ilmu-ilmu positif, mempunyai dampak negative yang dirumuskan Bahm sebagai disorientasi (disorientation), demoralisasi (demoralization), ketidakmampuan bertindak (incapacitation), bencana (crucifixion), dan rekrontuksi (reconstruction). Disorientasi: karena kita tidak memiliki gambaran utuh tentang hakekat, tujuan hidup, pribadi, masyarakat, dan masyarakat manusia, maka kita kehilangan orientasi. Ini menyebabkan Negara-negara dan kelompok-kelompok menhayati doktrin-doktrin seketarian sehingga menyulitkan kerja sama yang lebih luas. Demoralisasi: kekaburan pengertian tentang konsep moral , misalnya, menghasilkan pemahaman yang salah terhadap berbagai bidang kehidupan seperti tantang tugas, pekerjaan, atau kebebasan. Salah satu akibatnya adalah meningkatnya angka kriminalitas dan akses-akses sosial lainnya. 16 Ketidak mampuan bertindak (incapacitation): tidak adanya visi bersama di kalangan pempinpin bangsa atau kelompok mempersulit usaha kearah perdamaian dunia dan penegakan perdamaian, keadilan, survival, atau standart hidup minimal. Krisis semakin parah (crucifixation): krisis demi krisis yang terjadi tanpa ditangani secara mendasar akan menghasilkan krisis yang lebih parah. Rekontruksi: upaya rekrontuksi akan menjadi lebih mahal. (Bahm: 54-56) Apa yang dikemukakan diatas menunjukan bahwa peran filsafat dewasaini sebetulnya sangat besar. Sebagai contoh beberapa negaramenghadapi akses negatif karena ledakan penduduk dunia yang semakin mencemaskan. Tetapi ini terjadi justru karena Negaranegara tidak mempunyai filosofi kependudukan yang jelas. Oleh karena itu, bahwa pamor filsafat kelihatannya menurun (sedangkan di Indonesia khususnya dikalangan akademis bahkan memperlihatkan tren sebaliknya), sehingga membawa dampak negatif seperti disebut diatas , itu merupakan bukti bahwa filsafat dan belajar filsafat dewasa ini tetap dan tetap penting. Kita dapat menyebutkan beberapa manfaat filsafat: a. Filsafat memungkinkan orang berfikir secara komperehensif, member [peran yang wajar terhadap konsep, mendasar/radikal, konsisten/runtut, koheren/logis, sistematis, bebas, dan bertanggung jawab. b. Filsafat memperluas pandangan melampaui disiplin ilmu tertentu. Filsafat membentu seseorang untuk menempatkan bidang ilmunya dalam perspektif lebih luas dan mendasar. Tanpa filsafat ilmuwan cenderung untuk berpandangan lebih sempit. “Fisikawan yang mempelajari seekor gajah hanya dengan mikroskop, akan memperoleh sedikit sekali pengetahuan tentang binatang itu.” Kata Henri Poincare (1854-1912), seorang ahli matematika dan filsafat prancis. (Bertens: 42) c. Filsafat memberikan pendasaran rasional tentang hakekat eksistensi , pengetahuan, nilai-nilai, dan masyarakat. Filsafat memberikan pendasaran mendasar tentang hakekat ilmu (epistemologi), menjadi orang berpikir lurus (logika), memberikan kritik terhadap ilmu-ilmu memberikan keterangan tentang dasar terdalam realitas, memberikan argumentasi rasional bagi konsep-konsep teologi (teologi metafisik), membahas secara mendalam tentang manusia (antropologi filsafat). Memberikan penjelasan mendasar tentang hakekat dan tujuan jagat raya (kosmologi), membimbing manusia dalam kegiatannya sebagai manusia (etika), memberikan dasar apresiasi bagi 17 keindahan (estetika), dan mendorong orang untuk mengukur segalanya berdasarkan perspektif sejarah (sejarah filsafat). d. Bagi orang yang beragama, filsafat memberikan pendasaran rasional bagi kepercayaannya. Hasilnya, iman seseorang akan menjadi semakin kokoh karena kepercayaannya mendapat dasar rasional dan dipertanggungjawabkan. e. Filsafat merupakan kritik ideologi. Idiologi adalah teori menyeluruh tentang makna hidup dan/atau nilai-nilai daripadanya ditarik kesimpulan-kesimpulan mutlak tentang bagaimana manusia harus hidup dan/atau bertindak. Cirri khas ideologi adalah bahwa tuntutannya bersifat mutlak. Ideologi menuntut bahwa suatu tidak boleh dipertanyakan. Sedangkan filsafat menuntut pertanggung jawaban. “Filsafat menggonggong, mengganggu dan menggigit.” (Magnis-Suseno: 21-22) Filsafat dibutuhkan untuk memecahkan masalah-masalah etis yang disebabkan oleh perkembangan pesat ilmu pengetahuan. Misalnya, dibidang kedokteran , teknologi, penjelajahan ruang angkasa, dan sebagainya. 18 BAB II PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU A. PENDAHULUAN Secara umum, filsafat biasanya di pahami dari dua sisi, yaitu sebagai disiplin ilmu dan sebagai landasan filosofis bagi proses keilmuan. Sebagai sebuah disiplin ilmu, filsafat ilmu merupakan cabang dari ilmu filsafat yang membicarakan obyek khusus yaitu ilmu pengetahuan dan sudah memiliki sifat dan karakter hampir sama dengan filsafat pada umumnya. Sementara sebagai landasan filosofis bagi proses keilmuan dan merupakan kerangka dasar dari proses keilmuan itu sendiri. Artinya filsafat itu mecakup makna yang mengarahkan kepada penelaahan secara ilmiah sebagai smber pengetahuan dan ilmu. Perkembangan ilmu pengetahuan hingga seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan melalui proses bertahap, dan evolutif. Karenanya, untuk memahami sejarah perkembangan ilmu pengetahuan harus melakukan pembagian atau klasifkasi secara periodik. Setiap periode sejarah pekembangan ilmu pengetahuan menampilkan ciri khas tertentu. Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “ Philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Mengetahui perkembangan filsafat sangatlah penting peranannya terhadap perkembangan pemikiran manusia untuk kedepannya. Sebab, pembahasan tentang filsafat akan menyelidiki, menggali, dan menelusuri sedalam, sejauh,dan seluas mungkin semua tentang hakikat hidup dan aspek di dalamnya. Dalam hal ini, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa filsafat merupakan akar dari semua ilmu dan pengetahuan yang berkembang di muka bumi ini. 19 B. PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU Filsafat ilmu sebagai bagian integral dari filsafat secara keseluruhan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan filsafat itu sendiri secara keseluruhan. Menurut Lincoln Cuba, sebagai yang dikutip oleh Ali Abdul Azim, bahwa kita mengenal tiga babakan perkembangan paradigma dalam filsafat ilmu di Barat yaitu era prapositivisme, era positivisme dan era pasca modernisme. Era prapositivisme adalah era paling panjang dalam sejarah filsafat ilmu yang mencapai rentang waktu lebih dari dua ribu tahun. Dalam uraian ini, penulis cenderung mengklasifikasi perkembangan filsafat ilmu berdasarkan ciri khas yang mewarnai pada tiap fase perkembangan. Dari sejarah panjang filsafat, hususnya filsafat ilmu, penulis membagi tahapan perkembangannya ke dalam empat fase sebagai berikut: a. Filsafat Ilmu zaman kuno, yang dimulai sejak munculnya filsafat sampai dengan munculnya Renaisance. b. Filsafat Ilmu sejak munculnya Rennaisance sampai memasuki era positivisme. c. Filsafat Ilmu zaman Modern, sejak era Positivisme sampai akhir abad kesembilan belas. d. Filsafat Ilmu era kontemporer yang merupakan perkembangan mutakhir Filsafat Ilmu sejak awal abad keduapuluh sampai sekarang. Perkembangan Filsafat ilmu pada keempat fase tersebut akan penulis uraikan dengan mengedepankan aspek-aspek yang mewarnai perkembangan filsafat ilmu di masanya sekaligus yang menjadi babak baru dan ciri khas fase tersebut yang membedakannya dari fase-fase sebelum dan atau sesudahnya. Di samping itu penulis juga akan mengungkap tentang peran filosof muslim dalam perkembangan filsafat ilmu ini, walaupun bukan dalam suatu fase tersendiri. 1. Filsafat Ilmu Zaman Kuno Filsafat yang dipandang sebagai induk ilmu pengetahuan telah dikenal manusia pada masa Yunani Kuno. Di Miletos suatu tempat perantauan Yunani yang menjadi tempat asal mula munculnya filsafat, ditandai dengan munculnya pemikir-pemikir (baca: filosof) besar seperti Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Pemikiran filsafat yang memiliki ciri-ciri dan metode tersendiri ini berkembang terus pada masa selanjutnya. Pada zaman Yunani Kuno filsafat dan ilmu merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan. Keduanyatermasuk dalam pengertian episteme yang sepadan 20 dengan kata philosophia. Pemikiran tentang episteme ini oleh Aristoteles diartikan sebagaian organized body of rational konwledge with its proper object. Jadi filsafat dan ilmu tergolong sebagai pengetahuan yang rasional. Dalam pemikiran Aritoteles selanjutnya pengetahuan rasional itu dapat dibedakan menjadi tiga bagian yang disebutnya dengan praktike (pengetahuan praktis), poietike (pengetahuan produktif), dan theoretike (pengetahuan teoritis). Pemikirannya hal tersebut oleh generasigenerasi selanjutnya memandang bahwa Aristoteleslah sebagai peletak dasar filsafat ilmu. Selama ribuan tahun sampai dengan akhir abad pertengahan filsafat logika Aristoteles diterima di Eropa sebagai otoritas yang besar. Para pemikir waktu itu mengaggap bahwa pemikiran deduktif (logika formal atau sillogistik) dan wahyu sebagai sumber pengetahuan. 2. Filsafat Ilmu Era Renaisance Memasuki masa Rennaisance, otoritas Aritoteles tersisihkan oleh metode dan pandangan baru terhadap alam yang biasa disebut Copernican Revolution yang dipelopori oleh sekelompok sanitis antara lain Copernicus (1473-1543), Galileo Galilei (1564-1542) dan Issac Newton (1642-1727) yang mengadakan pengamatan ilmiah serta metode-metode eksperimen atas dasar yang kukuh. Selanjutnya pada Abad XVII, pembicaraan tentang filsafat ilmu, yang ditandi dengan munculnya Roger Bacon (1561-1626). Bacon lahir di ambang masuknya zaman modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Bacon menanggapi Aristoteles bahwa ilmu sempurna tidak boleh mencari untung namun harus bersifat kontemplatif. Menurutnya Ilmu harus mencari untung artinya dipakai untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi, dan bahwa dalam rangka itulah ilmu-ilmu berkembang dan menjadi nyata dalam kehidupan manusia. Pengetahuan manusia hanya berarti jika nampak dalam kekuasaan mansia; human knowledge adalah human power. Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang berdasar pada metode eksperimental dana matematis memasuki abad XVI mengakibatkan pandangan Aritotelian yang menguasai seluruh abad pertengahan akhirnya ditinggalkan secara defenitif. 3. Filsafat Ilmu Era Positivisme Memasuki abad XIX perkembangan Filsafat Ilmu memasuki Era Positivisme. Positivisme adalah aliran filsafat yang ditandai dengan evaluasi yang sangat terhadap 21 ilmu dan metode ilmiah. Aliran filsafat ini berawal pada abad XIX. Pada abad XX tokoh-tokoh positivisme membentuk kelompok yang terkenal dengan Lingkaran Wina, di antaranya Gustav Bergman, Rudolf Carnap, Philip Frank Hans Hahn, Otto Neurath dan Moritz Schlick. Pada penghujung abad XIX (sejak tahun 1895), pada Universitas Wina Austria telah diajarkan mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan Induktif. Hal ini memberikan indikasi bahwa perkembangan filsafat ilmu telah memasuki babak yang cukup menentukan dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dalam abad selanjutnya. Memasuki abad XX perkembangan filsafat ilmu memasuki era baru. Sejak tahun 1920 panggung filsafat ilmu pengetahuan didominasi oleh aliran positivisme Logis atau yang disebut Neopositivisme dan Empirisme Logis. Aliran ini muncul dan dikembangkan oleh Lingkaran Wina (Winna Circle, Inggris, Wiener Kreis, Jerman). Aliran ini merupakan bentuk ekstrim dari Empirisme. Aliran ini dalam sejarah pemikiran dikenal dengan Positivisme Logic yang memiliki pengaruh mendasar bagi perkem-bangan ilmu. Munculnya aliran ini akibat pengaruh dari tiga arah. Pertama, Emperisme dan Positivisme. Kedua, metodologi ilmu empiris yang dikembangkan oleh ilmuwan sejak abad XIX, dan Ketiga, perkembangan logika simbolik dan analisa logis. Secara umum aliran ini berpendapat bahwa hanya ada satu sumber pengetahuan yaitu pengalaman indrawi. Selain itu mereka juga mengakui adanya dalil-dalil logika dan matematika yang dihasilkan lewat pengalaman yang memuat serentetan tutologi -subjek dan predikat yang berguna untuk mengolah data pengalaman indrawi menjadi keseluruhan yang meliputi segala data itu. Lingkaran Wina sangat memperhatikan dua masalah, yaitu analisa pengetahuan dan pendasaran teoritis matematika, ilmu pengetahuan alam, sosiologi dan psikologi. Menurut mereka wilayah filsafat sama dengan wilayah ilmu pengetahuan lainnya. Tugas filsafat ialah menjalankan analisa logis terhadap pengetahuan ilmiah. Filsafat tidak diharapkan untuk memecahkan masalah, tetapi untuk menganalisa masalah dan menjelaskannya. Jadi mereka menekankan analisa logis terhadap bahasa. Trend analisa terhadap bahasa oleh Harry Hamersma dianggap mewarnai perkembangan filsafat pada abad XX, di mana filsafat cenderung bersifat Logosentrisme. 22 4. Filsafat Ilmu Kontemporer Perkembangan Filsafat Ilmu di zaman ditandai dengan munculnya filosoffilosof yang memberikan warna baru terhadap perkembangan Filsafat Ilmu sampai sekarang. Muncul Karl Raymund Popper (1902-1959) yang kehadirannya menadai babak baru sekaligus merupakan masa transisi menuju suatu zaman yang kemudian di sebut zaman Filsafat Ilmu Pengetahuan Baru. Hal ini disebabkan Pertama, melalui teori falsifikasi-nya, Popper menjadi orang pertama yang mendobrak dan meruntuhkan dominasi aliran positivisme logis dari Lingkaran Wina. Kedua, melalui pendapatnya tentang berguru pada sejarah ilmu-ilmu, Popper mengintroduksikan suatu zaman filsafat ilmu yang baru yang dirintis oleh Thomas Samuel Kuhn. Para tokoh filsafat ilmu baru, antara lain Thomas S. Kuhn, Paul Feyerabend, N.R. Hanson, Robert Palter dan Stephen Toulmin dan Imre Lakatos memiliki perhatian yang sama untuk mendobrak perhatian besar terhadap sejarah ilmu serta peranan sejarah ilmu dalam upaya mendapatkan serta mengkonstruksikan wajah ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya terjadi. Gejala ini disebut juga sebagai pemberontakan terhadap Positivisme. Thomas S. Kuhn populer dengan relatifisme-nya yang nampak dari gagasan-gagasannya yang banyak direkam dalam paradigma filsafatnya yang terkenal dengan The Structure of Scientific Revolutions (Struktur Revolusi Ilmu Pengetahuan). Kuhn melihat bahwa relativitas tidak hanya terjadi pada Benda yang benda seperti yang ditemukan Einstein, tetapi juga terhadap historitas filsafat Ilmu sehingga ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa teori ilmu pengetahuan itu terus secara tak terhingga mengalami revolusi. Ilmu tidak berkembang secara komulatif dan evolusioner melainkan secara revolusioner. Salah seorang pendukung aliran filsafat ilmu Baru ialah Paul Feyerabend (Lahir di Wina, Austria, 1924) sering dinilai sebagai filosof yang paling kontroversial, paling berani dan paling ekstrim. Penilaian ini didasarkan pada pemikiran keilmuannya yang sangat menantang dan provokatif. Berbagai kritik dilontarkan kepadanya yang mengundang banyak diskusi dan perdebatan pada era 1970-an. 23 C. KESIMPULAN 1. Perkembangan filsafat pada masa yunani kuno lebih focus pembahasannya mengenai kosmosentris artinya yang difikirkan oleh orang-orang terdahulu ialah alam semesta, entah bumi maupun matahari menjadi pusat edar. 2. Perkembangan filsafat pada masa pertengahan lebih banyak membicarakan tentang theocentris yaitu dimana yang menjadi topic pembicaraannya pada masa itu ialah tentang ke-Tuhanan. 3. Sedangkan perkembangan filsafat pada masa modern atau bias juga disebut masa eropa, lebih banyak kajiannya tentang antroposentris yakni membicara pada diri manusia itu sendiri. 4. Dan terakhir masa perkemkembangan filsafat pada masa kontemporer atau sekarang, dimana yang menjadi pokok pembahasannya saat ini ialah logosentris artinya membicarakan kata/kalimat tapi itu di Eropa, sedangkan di Amerika lebih pragmatis yakni mereka akan mengambilnya jika menguntungkan diri mereka dan membuangnya jika tidak berguna bagi mereka walaupun berguna bagi orang lain. 24 BAB III LOGIKA BERPIKIR UNTUK MENEMUKAN KEBENARAN ILMIAH A. PENDAHULUAN Akal manusia pada hakikatnya memerlukan aturan dalam menganalisa berbagai masalah yang ada karena ilmu logika merupakan ilmu yang mengatur cara berpikir (analisa) manusia, maka keperluan kita kepada ilmu logika adalah untuk mengatur dan mengarahkan kita kepada suatu cara berpikir yang benar. Logika merupakan bagian dari kajian epitemologi, yaitu cabang filsafat yang membicarakan mengenai pengetahuan. Ia bisa dikatakan ruh dari filsafat. Karena mungkin tidak akan ada filsafat kalau tidak ada logika. Kegiatan berfikir kita lakukan dalam keseharian dan kegiatan ilmiah. Berpikir merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah. Berfikir ilmiah merupakan berfikir dengan langkah – langkah metode ilmiah seperti perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literatur, menjugi hipotesis, menarik kesimpulan. Kesemua langkah – langkah berfikir dengan metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat / sarana yang baik sehingga diharapkan hasil dari berfikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil yang baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengehahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Ditinjau dari pola berfikirnya, maka maka ilmu merupakan gabungan antara pola berfikir deduktif dan berfikir induktif, untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif .Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berfikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kearah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir tersebut dalam keseluruhan berfikir ilmiah tersebut. Untuk dapat melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistik. 25 B. PENGERTIAN LOGIKA ILMU Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Nama logika untuk pertama kali muncul pada filsuf Cicero (abad ke -1 sebelum Masehi), tetapi dalam arti “seni berdebat”, Alexander Aphrodisias (sekitar permulaan abad ke-3 sesudah Masehi adalah orang pertama yang mempergunakan kata “logika” dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme(Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan yang mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal. Logika secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara valid. Logika merupakan cabang filsafat yang bersifat praktis berpangkal pada penalaran, dan sekaligus sebagai dasar filsafat dan sebagai sarana ilmu. Dengan fungsi sebagai dasar filsafat dan sarana ilmu logika merupakan “jembatan penghubung” antara filsafat dan ilmu, yang secara terminologis logika didefinisikan teori tentang penyimpulan yang sah. Penyimpulan pada dasarnya bertitik tolak dari suatu pangkal-pikir tertentu, yang kemudian ditarik suatu kesimpulan. Penyimpulan yang sah, artinya sesuai dengan pertimbangan akal dan runtut sehingga dapat dilacak kembali sekaligus juga benar, yang berarti dituntut kebenaran bentuk sesuai dengan isi. Contohnya, pada kupu-kupu mengalami fase metamorfosa. Karena sebelum menjadi kupu-kupu adanya tahap-tahapan yang dilalui yaitu yang pertama fase telur kemudian menetas menjadi ulat lalu berubah menjadi kepompong dan selanjutnya menjadi kupu-kupu. Penyimpulan di atas dikatakan penyimpulan yang sah karena sesuai dengan kenyataan yang ada dan tidak dibuat-buat (masuk akal). Menurut Louis O. Kattsoff (2004), Logika ialah ilmu pengetahuan mengenai penyimpulan yang lurus. Ilmu pengetahuan ini menguraikan tentang aturan-aturan serta cara untuk mencapai kesimpulan, setelah didahului oleh suatu perangkat premis. Contoh penerapan ilmu logika dalam kehidupan misalnya pada manusia yang mengalami penyakit serak pada tenggorokan maka pengobatannya dapat dilakukan dengan minum air putih. Logikanya air putih adalah cairan yang diperlukan manusia untuk menjaga keseimbangan tubuh, memberi kekuatan kepada leukosit untuk menjalankan tugasnya menghasilkan 26 makrofag untuk membunuh patogen yang masuk, menjadikan kekebalan tubuh meningkat sehingga luka yang dihinggapi bakteri akan sembuh dan akhirnya tenggorokan menjadi lapang dan dikatakan sembuh.  Macam-macam Logika Macam-macam Logika menurut The Liang Gie (1980) dalam Adib (2010: 102104) yaitu: Logika dalam pengertian Sempit dan Luas Dalam arti sempit logika dipakai searti dengan logika deduktif atau logika formal. Sedangkan dalam arti luas, pemakaiannya mencakup kesimpulan-kesimpulan dari berbagai bukti dan tentang bagaimana sistem penjelasan disusun dalam ilmu alam serta meliputi pula pembahasan mengenai logika itu sendiri. Logika Deduktif dan Induktif Logika deduktif adalah cara berpikir dengan menggunakan premis-premis dari fakta yang bersifat umum ke khusus yang menjadi kesimpulannya. Contoh argument pada logika deduktif yaitu : Semua Mahasiswa IAIN SALATIGA semester 5 tinggal di Ma’had Firman adalah mahasiswa IAIN SALATIGA semester 5 Firman tinggal di Ma’had Logika induktif merupakan cara berpikir yang berdasarkan fakta-fakta yang bersifat (khusus) terlebih dahulu dipakai untuk penarikan kesimpulan (umum). Contohnya argument pada logika induktif yaitu : Buku 1 besar dan tebal adalah mahal. Buku 2 besar dan tebal adalah mahal. Jadi, semua buku besar dan tebal adalah mahal. Logika Formal (Minor) dan Material (Mayor) Logika Formal atau disebut juga Logika Minor mempelajari asas, aturan atau hukum-hukum berfikir yang harus ditaati, agar orang dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran. Sedangkan Logika Material atau Mayor mempelajari langsung pekerjaan akal serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan praktis yang sesungguhnya, mempelajari sumber-sumber dan asalnya 27 pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, dan akhirnya merumuskan metode ilmu pengetahuan itu. Logika Murni dan Terapan Logika Murni merupakan pengetahuan mengenai asas dan aturan logika yang berlaku umum pada semua segi dan bagian dari pernyataan-pernyataan dengan tanpa mempersoalkan arti khusus dalam sesuatu cabang ilmu dari istilah pernyataan yang dimaksud. Logika Terapan adalah pengetahuan logika yang diterapkan dalam setiap cabang ilmu, bidang-bidang filsafat, dan juga dalam pembicaraan yang menggunakan bahasa sehari-hari. Logika Filsafati dan Matematik Logika Filsafati merupakan ragam logika yang mempunyai hubungan erat dengan pembahasan dalam bidang filsafat, seperti logika kewajiban dengan etika atau logika arti dengan metafisika. Sedangkan Logika Matematik menelaah penalaran yang benar dengan menggunakan metode matematik serta bentuk lambang yang khusus dan cermat untuk mengindarkan makna ganda. C. HAKIKAT SARANA BERPIKIR ILMIAH Berfikir ilmiah adalah berfikir yang logis dan empiris. Logis adalah masuk akal, dan empiris adalah dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan, selain itu menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, dan mengembangkan. Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi. Induksi adalah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat khusus, sedangkan, deduksi ialah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum. Sarana berfikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang baik. Mempunyai metode 28 tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. Menurut Soejono Soemargono (1983) metode ilmiah secara garis besar ada dua macam, yaitu : Metode analitiko sintesa dan metode non deduksi. Metode analitioko sintesa merupakan gabungan dari metode analisis dan metode sintesis. Metode analisis yaitu cara penanganan terhadap sesuatu objek ilmiah tertentu dengan jalan memilah-milahkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya. Misalnya, seorang filusuf memahami kata atau istilah “keberanian”. Dari segi ekstensi, dia mengungkapkan makna kata ini berdasarkan bagaimana kata ini digunakan, dan mengetahui sejauh mana kata “keberanian” menggambarkan realitas tertentu. Apabila kita menggunakan metode analisis, dalam babak terakhir kita memperoleh pengetahuan analitis. Metode sintesis yaitu cara penanganan terhadap sesuatu objek tertentu dengan cara menggabungkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya sehingga menghasilkan sesuatu pengetahuan yang baru. Contohnya, (1) Ilmu adalah aktifitas, (2) Ilmu adalah metode, (3) Ilmu adalah produk. Jadi, hasil sintetisnya yaitu Ilmu adalah aktifitas, metode, dan produk. Metode non deduksi merupakan gabungan dari metode induksi dan metode deduksi. Metode induksi, yaitu suatu cara yang dipakai untuk mendapati ilmu pengetahuan ilmiah dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau masalah yang bersifat khusus, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum. Contohnya: Umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kambing mempunyai mata, gajah mempunyai mata, demikian juga dengan singa, kucing, dan berbagai binatang lainnya. Dari kenyataankenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum yakni semua binatang mempunyai mata. Metode deduksi, yaitu suatu cara yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah dengan bertitik tolak dari pengamatan atas hal-hal atau masalah yang bersifat umum, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Contohnya: setiap manusia yang ada didunia pasti suatu ketika pasti akan mati, si Ahmad adalah manusia; atas 29 dasar ketentuan yang bersifat umum tadi karena Ahmad adalah manusia maka suatu ketika ia akan mati juga. D. PENUTUP 1. KESIMPULAN Dari makalah ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam mempelajari suatu nilai kebenaran, manusia dituntut untuk bisa memanfaatkan wahana berpikir yang dimilikinya, manusia juga harus mampu memposisikan dirinya diposisi kebenaran. Hal yang harus dilakukan manusia adalah menempatkan penalaran. Penalaran sebagai salah satu langkah menemukan titik kebenaran. Pengetahuan inilah yang disebut dengan ilmu dan ilmu inilah yang membuat manusia bisa berpikir. Didalam penalaran ditemukan logika. Logika melahirkan deduksi dan induksi, secara umum induksi dan induksi suatu proses pemikiran untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang benar didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki. Metode ilmiah berkaitan dengan gabungan dari metode deduksi dan metode induksi. Jadi suatu proses pemikiran dapat dituangkan dalam pembuatan metode ilmiah dan juga membuktikan tentang penalaran yang melahirkan logika dibantu dengan metode deduksi dan induksi maka akan menghasilkan pengetahuan yang baru. Dengan metode ilmiah pengetahuan akan dianggap sah adanya. 2. SARAN Diharapkan pembaca dapat dituntut untuk memikirkan secara mendalam mengenai logika ilmu dan berpikir ilmiah untuk itu diharapkan memiliki referensi keilmuan yang mencukupi guna menguasai cabang filsafat tersebut. Hal ini amat penting mengingat filsafat ilmu adalah akar dari berbagai keilmuan yang terus berkembang pesat dewasa ini. 30 BAB IV TEORI KEBENARAN A. PENDAHULUAN Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yang tunduk pada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul. Ilmu pengetahuan adalah formulasi hasil aproksimasi atas fenomena alam atau simplifikasi atas fenomena tersebut. Struktur pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal menangkap kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan struktur terendah dalam struktur tersebut. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkap kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya kabur, khususnya pada pengetahuan inderawi dan naluri. Oleh sebab itulah pengetahuan ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Pada tingkat pengetahuan rasional-ilmiah, manusia melakukan penataan pengetahuannya agar terstruktur dengan jelas. Filsafat ilmu memiliki tiga cabang kajian yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi membahas tentang apa itu realitas. Dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, filsafat ini membahas tentang apa yang bisa dikategorikan sebagai objek ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern, realitas hanya dibatasi pada hal-hal yang bersifat materi dan kuantitatif. Ini tidak terlepas dari pandangan yang materialistiksekularistik. Kuantifikasi objek ilmu pengetahuan berari bahwa aspek-aspek alam yang bersifat kualitatif menjadi diabaikan. Epistemologis membahas masalah metodologi ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern, jalan bagi diperolehnya ilmu pengetahuan adalah metode ilmiah dengan pilar utamanya rasionalisme dan empirisme. Aksiologi 31 menyangkut tujuan diciptakannya ilmu pengetahuan, mempertimbangkan aspek pragmatis-materialistis. Dari semua pengetahuan, maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologinya telah jauh lebih berkembang dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lain, dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin. misalnya hukum-hukum, teori-teori, ataupun rumus-rumus filsafat, juga kenyataan yang dikenal dan diungkapkan. Mereka muncul dan berkembang maju sampai pada taraf kesadaran dalam diri pengenal dan masyarakat pengenal. Kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasa, etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akal budi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akal budi yang menyatakannya. B. PENGERTIAN KEBENARAN Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha "memeluk" suatu kebenaran.Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah. Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik, ataupun yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya. Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran, pertama, pada dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, sebagai proses dan sebagai produk. Kedua, pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus terstruktur atas komponen32 komponen, obyek sasaran yang hendak diteliti (begenstand), yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu, sedang hasil-hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan system. Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Tentang kebenaran ini, Plato pernah berkata: "Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; "Kebenaran itu adalah kenyataan", tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidak benaran (keburukan). Dalam bahasan, makna "kebenaran" dibatasi pada kekhususan makna "kebenaran keilmuan (ilmiah)". Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidangbidang kehidupan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran. Selaras dengan Poedjawiyatna yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden,dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia. Kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasan etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara 33 pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akalbudi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akalbudi yang menyatakannya. C. TEORI-TEORI KEBENARAN 1. Teori Kebenaran Korespondensi Kebenaran korespondesi adalah kebenaran yang bertumpu pada relitas objektif.Kesahihan korespondensi itu memiliki pertalian yang erat dengan kebenaran dan kepastian indrawi. Sesuatu dianggap benar apabila yang diungkapkan (pendapat, kejadian, informasi) sesuai dengan fakta (kesan, ide-ide) di lapangan. Contohnya: ada seseorang yang mengatakan bahwa Provinsi Yogyakarta itu berada di Pulau Jawa. Pernyataan itu benar karena sesuai dengan kenyataan atau realita yang ada. Tidak mungkin Provinsi Yogyakarta di Pulau Kalimantan atau bahkan Papua. Cara berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini. Teori kebenaran menurut corespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga pendidikan moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian moral yang telah merupakan kebenaran itu. Apa yang diajarkan oleh nilai-nilai moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam tingkah lakunya. 2. Teori Kebenaran Koherensi Teori ini disebut juga dengan konsistensi, karena mendasarkan diri pada kriteria konsistensi suatu argumentasi. Makin konsisten suatu ide atau pernyataan yang dikemukakan beberapa subjuk maka semakin benarlah ide atau pernyataan tersebut. Paham koherensi tentang kebenaran biasanya dianut oleh para pendukung idealisme, seperti filusuf Britania F. H. Bradley (1846-1924). Teori ini menyatakan bahwa suatu proposisi (pernyataan suatu pengetahuan, pendapat kejadian, atau informasi) akan diakui sahih atau dianggap benar apabila memiliki hubungan dengan gagasan-gagasan dari proporsi sebelumnya yang juga sahih dan dapat dibuktikan secara logis sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan logika. 34 Sederhannya, pernyataan itu dianggap benar jika sesuai (koheren/konsisten) dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contohnya; Setiap manusia pasti akan mati. Soleh adalah seorang manusia. Jadi, Soleh pasti akan mati. 3. Teori Kebenaran Pragmatik/Pragmatisme Artinya, suatu pernyataan itu benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Teori pragmatis ini pertama kali dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul "How to Make Our Ideas Clear". Dari pengertian diatas, teori ini (teori Pragmatik) berbeda dengan teori koherensi dan korespondensi. Jika keduanya berhubungan dengan realita objektif, sedangkan pragmamtik berusaha menguji kebenaran suatu pernyataan dengan cara menguji melalui konsekuensi praktik dan pelaksanaannya. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima pengalaman pribadi, kebenaran mistis, yang terpenting dari semua itu membawa akibat praktis yang bermanfaat. 4. Teori Performatif Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Misalnya mengenai penetapan 1 syawal. Sebagian muslim di indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI. Sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu. Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, dan pemimpin masyarakat. Kebenaran performatif dapat membawa kehidupan sosial yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil dan sebagainya. Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak bisa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran dari pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebenaran ini seakan akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar 35 keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran. D. PENUTUP 1. KESIMPULAN Semua teori kebenaran itu ada dan dipraktekkan manusia di dalam kehidupan nyata. Yang mana masing-masing mempunyai nilai di dalam kehidupan manusia. Teori Kebenaran mempunyai Kelebihan Kekurangan Korespondensi sesuai dengan fakta dan empiris kumpulan fakta-fakta Koherensi bersifat rasional dan Positivistik Mengabaikan hal-hal non fisik Pragmatis fungsional-praktis tidak ada kebenaran mutlak Performatif Bila pemegang otoritas benar, pengikutnya selamat Tidak kreatif, inovatif dan kurang inisiatif Konsensus Didukung teori yang kuat dan masyarakat ilmiah Perlu waktu lama untuk menemukan kebenaran. Dari beberapa Teori Tentang Kebenaran dapat disimpulkan :Teori Korespondensi : "Kebenaran/keadaan benar itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh sebuah pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya/faktanya" Jadi berdasarkan teori korespondensi ini, kebenaran/keadaan benar itu dapat dinilai dengan membandingkan antara preposisi dengan fakta atau kenyataan yang berhubungan dengan preposisi tersebut. Bila diantara keduanya terdapat kesesuaian (korespondence), maka preposisi tersebut dapat dikatakan memenuhi standar kebenaran/keadaan benar. 2. SARAN Dari makalah kami yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya kami pribadi. Yang baik datangnya dari Allah, dan yang buruk datangnya dari kami. Dan kami sedar bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna, masih banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi kami harafkan saran dan kritik nya yang bersifat membangun, untuk perbaikan makalah-makalah selanjutnya. 36 BAB V TAKARAN KEILMUAN-PENGETAHUAN : ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI A. PENDAHULUAN Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia dewasa ini tidak terlepas dari peran ilmu. Bahkan perubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu. Tahap-tahap dalam konteks ini sebagai priodesasi sejarah perkembangan ilmu; sejak dari zaman klasik, zaman pertengahan, zaman modern dan zaman kontemporer. Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa ibarat mata rantai yang tidak terputus satu sama lain. Hal-hal baru yang ditemukan suatu masa menjadi unsur penting bagi penemuan-penemuan lainnya di masa berikutnya. Satu hal yang tidak sulit untuk disepakati, bahwa hampir semua sisi kehidupan manusia modern telah disentuh oleh berbagai efek perkembangan ilmu dan teknologi, sektor ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, sosial dan budaya, komunikasi dan transportasi, pendidikan, seni, kesehatan, dan lain-lain, semuanya membututuhkan dan mendapat sentuhan teknologi. Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Pada perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya (Semiawan, 2005). Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia (The Liang Gie, 2004). Sedangkan menurut Lewis White Beck, filsafat ilmu bertujuan membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan nilai dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan. Pembahasan filsafat ilmu sangat penting karena akan mendorong manusia untuk lebih kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan spirit bagi perkembangan dan kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologi, epistemologis maupun aksiologi. 37 B. PEMBAHASAN Ketika membicarakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan tercakup pula telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Pertama, dari segi ontologi, yaitu tentang apa dan sampai di mana yang hendak dicapai ilmu. Ini berarti sejak awal kita sudah ada pegangan dan gejala sosial. Dalam hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi dalam dimensi ruang dan waktu, dan terjangkau oleh pengalaman inderawi. Dengan demikian, meliputi fenomena yang dapat diobservasi, dapat diukur, sehingga datanya dapat diolah, diinterpretasi, diverifikasi, dan ditarik kesimpulan. Telaah yang kedua adalah dari segi epistemologi, yaitu meliputi aspek normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping aspek prosedural, metode dan teknik memperoleh data empiris. Kesemuanya itu lazim disebut metode ilmiah, meliputi langkah-langkah pokok dan urutannya, termasuk proses logika berpikir yang berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir ilmiah yang digunakannya. Telaah ketiga ialah dari segi aksiologi yaitu terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh. Berikut ini digambarkan batasan ruang lingkup atau bidang garapan tahapan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. 1. ONTOLOGI Ontologi merupakan salah satu kajian ke-filsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan dengan kenyataan. a. Pengertian Ontologi  Menurut Bahasa : Ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on / ontos = being atau ada, dan logos = logic atau ilmu. Jadi, ontologi bisa diartikan : The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau Ilmu tentang yang ada.  Menurut istilah : Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani / kongkret maupun rohani / abstrak. 38 b. Term ontologi Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun1636M untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangan selanjutnya Christian Wolf (1679 – 1754 M) membagi Metafisika menjadi 2 yaitu :  Metafisika Umum : Ontologi Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Jadi metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.  Metafisika Khusus : Kosmologi, Psikologi, Teologi (Bakker, 1992). c. Aliran-aliran Ontologi Dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok/aliran-aliran pemikiran antara lain: Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme. 1) Monoisme Aliran ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua, baik yang asal berupa materi ataupun rohani. Paham ini kemudian terbagi kedalam 2 aliran : a) Materialisme Aliran materialisme ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Dia berpendapat bahwa sumber asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan. Aliran ini sering juga disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi/alam, sedangkan jiwa /ruh tidak berdiri sendiri. Tokoh aliran ini adalah Anaximander (585-525 SM). Dia berpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Dari segi dimensinya paham ini sering dikaitkan dengan teori Atomisme. Menurutnya semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap tak dapat dirusakkan. Bagianbagian yang terkecil dari itulah yang dinamakan atom-atom. Tokoh aliran ini 39 adalah Demokritos (460-370 SM). Ia berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat di hitung dan amat halus. Atom-atom inilah yang merupkan asal kejadian alam. b) Idealisme Idealisme diambil dari kata idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idelisme sebagai lawan materialisme, dinamakan juga spiritualisme. Idealisme berarti serbacita, spiritualisme berarti serba ruh. Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Tokoh aliran ini diantaranya :  Plato (428 -348 SM) dengan teori ide-nya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada dialam mesti ada idenya, yaitu konsep universal dari setiap sesuatu.  Aristoteles (384-322 SM), memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide itu sebagai sesuatu tenaga yang berada dalam benda-benda itu sendiri dan menjalankan pengaruhnya dari dalam benda itu.  Pada Filsafat modern padangan ini mula-mula kelihatan pada George Barkeley (1685-1753 M) yang menyatakan objek-objek fisis adalah ide-ide.  Kemudian Immanuel Kant (1724-1804 M), Fichte (1762-1814 M), Hegel (1770-1831 M), dan Schelling (1775-1854 M). 2) Dualisme Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari 2 macam hakikat sebagai asal sumbernya yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan). Tokoh yang lain : Benedictus De spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm Von Leibniz (1646-1716 M). 3) Pluralisme Aliran ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri 40 dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M) yang terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of Truth, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Apa yang kita anggap benar sebelumnya dapat dikoreksi/diubah oleh pengalaman berikutnya. 4) Nihilisme Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Doktrin tentang nihilisme sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3 proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis, Kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh modern aliran ini diantaranya: Ivan Turgeniev (1862 M) dari Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-1900 M), ia dilahirkan di Rocken di Prusia dari keluarga pendeta. 5) Agnotisisme Aliran ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown A artinya not Gno artinya know. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti: Soren Kierkegaar (1813-1855 M), yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme dan Martin Heidegger (1889-1976 M) seorang filosof Jerman, serta Jean Paul Sartre (1905-1980 M), seorang filosof dan sastrawan Prancis yang atheis (Bagus, 1996). 2. EPISTEMOLOGI Epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. Epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki 41 fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. Ketika kita membicarakan epistemologi, berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi. a. Pengertian Epistemologi Istilah epistemologi didalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “Theory of knowledge”. Epistemologi berasal dari kata “episteme” dan “logos”. Episteme berarti pengetahuan dan logos berarti teori. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Menurut Musa Asy’arie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Menurut Dagobert D.Runes epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Jadi, Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. b. Tujuan dan Objek Epistemologi Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. Objek material adalah sarwa-yang-ada, yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan, hakikat alam dan hakikat manusia. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya, sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwayang-ada). 42 Objek epistemologi ini menurut Jujun S.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. Tujuan epistemologi menurut Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. Hal ini menunjukkan, bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari, akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan. c. Landasan Epistemologi Kholil Yasin menyebut pengetahuan dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge), sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa, juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari, atau pengalaman sehari-hari. Pada bagian lain, disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah, juga sering disebut ilmu dan sains. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah, sedangkan substansisnya relatif sama, kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan, misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut, sumber-sumbernya, batas-batasanya, dan sebagainya. Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu fenomena pengetahuan logis, tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan, melaikan termasuk wilayah filsafat. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif. 43 d. Hakikat Epistemologi Epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan, apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya; apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui; apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui; dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. Tidak semua objek mesti dijelajahi oleh pengetahuan manusia. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar, sehingga tidak perlu diketahui, meskipun memungkinkan untuk diketahui. Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri, sehingga tidak mungkin bisa diketahui. Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya, berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. Sebaliknya, ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama, baruk ditarik kesimpulan secara umum, berarti dia menggunakan pendekatan induktif. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh, ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang, yaitu masa lampau yang telah dilalui. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis, sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia, karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek, jika dilihat dari kepentingan jangka panjang, maka tindakannya itu justru merugikan. Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi, maka menimbulkan pemahaman, bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme, atau deduktif dengan induktif), dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu 44 bertumpu pada landasannya, karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali, sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius. e. Pengaruh Epistemologi Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu—dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis, yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu, perangkatperangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu, dan sebagainya. 3. AKSIOLOGI a. Pengertian Aksiologi Menurut Kamus Filsafat, Aksiologi Berasal dari bahasa Yunani Axios (layak, pantas) dan Logos (Ilmu). Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari 45 nilai. Jujun S.Suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Aksiologi berkaitan dengan kegunaan dari suatu ilmu, hakekat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapat dan berguna untuk kita dalam menjelaskan, meramalkan dan menganalisa gejala-gejala alam. (Cece Rakhmat, 2010). Dari pendapat diatas dapat dikatakan bahwa Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan. b. Penilaian Aksiologi Bramel (Jalaluddin dan Abdullah,1997) membagi aksiologi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral. Bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni etika. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Didalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam maupun terhadap Tuhan sebagai sang pencipta. Bagian kedua dari aksiologi adalah esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena disekelilingnya. Mengutip pendapatnya Risieri Frondiz (Bakhtiar Amsal, 2004), nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangannya yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya; atau eksistensinya, maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis ataupun fisik. Dengan demikian nilai subjekif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia seperti perasaan, intelektualitas dan hasil nilai subjektif akan selalu mengarah pada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang. Selanjutnya nilai itu akan objektif, jika tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektivisme. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu 46 gagasan berada pada objeknya, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benarbenar ada (Bakhtiar Amsal, 2004). Bagian ketiga dari Aksiologi adalah , sosio-political life, yaitu kehidupan social politik yang akan melahirkan filsafat sosiopolitik. Manfaat dari ilmu adalah sudah tidak terhitung banyaknya manfaat dari ilmu bagi manusia dan makhluk hidup secara keseluruhan. Mulai dari zamannya Copernicus sampai Mark Elliot Zuckerberg , ilmu terus berkembang dan memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan ilmu manusia bisa sampai ke bulan, dengan ilmu manusia dapat mengetahui bagian-bagian tersembunyi dan terkecil dari sel tubuh manusia. Ilmu telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi peradaban manusia, tapi dengan ilmu juga manusia dapat menghancurkan peradaban manusia yang lain. Mengutip pendapatnya Francis Bacon dalam Suriasumantri (1999) yang mengatakan bahwa “Pengetahuan adalah kekuasaan”. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkat atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada system nilai dari orang yang menggunakan kekuasaan tersebut. Ilmu itu bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap. Selanjutnya Suriasumantri juga mengatakan bahwa kekuasaan ilmu yang besar ini mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang kuat. Untuk merumuskan aksiologi dari ilmu, Jujun S.Sumantri merumuskan kedalam 4 tahapan yaitu: (1) Untuk apa ilmu tersebut digunakan? (2) Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? (3) Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? (4) Bagaimana kaitan antara teknik procedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral / professional. Dari apa yang dirumuskan diatas dapat dikatakan bahwa apapun jenis ilmu yang ada, kesemuanya harus disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana. Bagi seorang ilmuwan, nilai dan norma moral yang dimilikinya akan menjadi penentu apakah ia sudah menjadi ilmuwan yang baik atau belum. 47 C. KESIMPULAN Setiap jenis pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara detail, tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik, justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. Demikian juga, setiap jenis pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Pembahasan mengenai epistemologi harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi. Secara jelas, tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Dalam membahas dimensi kajian filsafat ilmu didasarkan model berpikir sistemik, sehingga harus senantiasa dikaitkan. 48 BAB VI FILSAFAT PANCASILA A. PENDAHULUAN Perkembangan masyarakat dunia yang semakin cepat secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan perubahan besar pada berbagai bangsa di dunia. Gelombang besar kekuatan internasional dan transnasional melalui globalisasi telah mengancam bahkan menguasai eksistensi negara-negara kebangsaan, termasuk Indonesia. Akibat yang langsung terlihat adalah terjadinya pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan kebangsaan, karena adanya perbenturan kepentingan antara nasionalisme dan internasionalisme. Permasalahan kebangsaan dan kenegaraan di Indonesia menjadi semakin kompleks dan rumit manakala ancaman internasional yang terjadi di satu sisi, pada sisi yang lain muncul masalah internal yaitu maraknya tuntutan rakyat, yang secara obyektif mengalami suatu kehidupan yang jauh dari kesejahteraan dan keadilan sosial. Paradoks antara kekuasaan global dengan kekuasaan nasional ditambah konflik internal seperti gambaran di atas mengakibatkan suatu tarik menarik kepentingan yang secara langsung mengancam jati diri bangsa. Nilai-nilai baru yang masuk baik secara subyektif maupun obyektif serta terjadinya pergeseran nilai di masyarakat pada akhirnya mengancam prinsip-prinsip hidup berbangsa masyarakat Indonesia. Prinsip-prinsip dasar yang telah ditemukan oleh peletak dasar (the founding fathers) negara Indonesia yang kemudian diabstraksikan menjadi suatu prinsip dasar filsafat bernegara itulah Pancasila. Dengan pemahaman demikan maka Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa Indonesia saat ini mengalami ancaman dari munculnya nilai-nilai baru dari luar dan pergeseran nilai-nilai yang terjadi. Secara ilmiah harus disadari bahwa suatu masyarakat, suatu bangsa, senantiasa memiliki suatu pandangan hidup atau filsafat hidup masing-masing , yang berbeda dengan bangsa lain di dunia dan hal inilah yang disebut sebagai local genius (kecerdasan/kreatifitas lokal) dan sekaligus sebagai local wisdom (kearifan lokal) bangsa. Dengan demikian bangsa Indonesia tidak mungkin memiliki kesamaan pandangan hidup dan filsafat hidup dengan bangsa lain. 49 Ketika para pendiri negara Indonesia menyiapkan berdirinya negara Indonesia merdeka, mereka sadar sepenuhnya untuk menjawab suatu pertanyaan yang fundamental ‘di atas dasar apakah negara Indonesia merdeka ini didirikan’. Jawaban atas pertanyaan mendasar ini akan selalu menjadi dasar dan tolok ukur utama bangsa ini meng-Indonesia. Dengan kata lain jati diri bangsa akan selalu bertolok ukur kepada nilai-nilai Pancasila sebagai filsafat bangsa. Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan sistem filsafat. Pemahaman demikian memerlukan pengkajian lebih lanjut menyangkut aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi dari kelima sila Pancasila. B. PEMBAHASAN 1. Pengertian Filsafat Pancasila Untuk memahami filsafat Pancasila, terlebih dahulu perlu diajukan pertanyaan apa yang dimaksud filsafat ? secara etimologi Filsafat adalah satu bidang ilmu yang senantiasa ada dan menyertai kehidupan manusia. Secara etimologis istilah “filsafat” berasal dari bahasa Yunani “philein” yang artinya “cinta” dan “sophos” yang artinya “ hikmah” atau “kebijaksanaan” atau “wisdom” (Nasotion, 1973). Jadi secara harfiah istilah filsafat adalah mengandung makna cinta kebijaksanaan. Filsafat menurut J. Greet adalah ilmu pengetahuan yang timbul dari prinsip-prinsip mencari sebaab-mushababnya yang terdalam atau hekaket terdalam. Secara sederhana filsafat dapat diartikan sebagai kebenaran yang sejati. Ada dua pengertian filsafat, yaitu : a. Filsafat dalam arti proses dan filsafat dalam arti produk. b. Filsafat sebagai ilmu atau metode dan filsafat sebagai pandangan hidup Pancasila dapat digolongkan sebagai filsafat dalam arti produk, sebagai pandangan hidup, dan dalam arti praktis. Ini berarti Filsafat Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, dalam tataran kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi bangsa Indonesia Jika demikian apa Pengertian Filsafat Pancasila ? menurut Ruslan Abdulgani, Pancasila adalah filsafat negara yang lahir sebagai ideologi kolektif (cita-cita bersama) seluruh bangsa Indonesia. Mengapa pancasila dikatakan sebagai filsafat, hal itu karena pancasila merupakan hasil perenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh para 50 pendahulu kita, yang kemudian dituangkan dalam suatu sistem yang tepat. Menurut Notonagoro, Filsafat Pancasila ini memberikan pengetahuan dan pengertian ilmiah yaitu tentang hakikat pancasila. Secara ontologi, kajian pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar sila-sila pancasila. Menurut Notonagoro, hakikat dasar antologi pancasila adalah manusia, karena manusia ini yang merupakan subjek hukum pokok sila-sila pancasila. Pancasila sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia memiliki susunan lima sila yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak, yang berupa sifat kodrat monodualis yaitu sebagai makhluk individu sekaligus juga sebagai makhluk sosial, serta kedudukannya sebagai makhluk pribadi yang berdiri sendiri dan sekaligus juga sebagai makhluk Tuhan. Konsekuensi pancasila dijadikan dasar negara Indonesia adalah segala aspek dalam penyelenggaraan negara diliputi oleh nilai-nilai pancasila yang merupakan kodrat manusia yang monodualis tersebut. Kajian epistemologi filsafat pancasila dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari hakikat pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Hal ini dimungkinkan adanya karena epistemologi merupakan bidang filsafat yang membahas hakikat ilmu pengetahuan (ilmu tentang ilmu). Kajian epistemologi pancasila ini tidak bisa dipisahkan dengan dasar antologinya. Oleh karena itu, dasar epistemologis pancasila sangat berkaitan dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia. Sebagai suatu paham epistemologi, pancasila mendasarkan pandangannya bahwa imu pengetahuan pada hakikatnya tidak bebas nilai karena harus diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia serta moralitas religius dalam upaya untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu pancasila secara epistemologis harus menjadi dasar moralitas bangsa dalam membangun perkembangan sains dan teknologi pada saat ini. Kajian Aksiologi filsafat pancasila pada hakikatnya membahas tentang nilai praksis atau manfaat suatu pengetahuan mengenai pancasila. Hal ini disebabkan karena sila-sila pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki satu kesatuan dasar aksiologi, nilai-nilai dasar yang terkandung di dalam pancasila pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan yang utuh. Aksiologi pancasila ini mengandung arti bahwa kita membahas tentang filsafat nilai pancasila. 51 Secara aksiologi, bangsa Indonesia merupakan pendukung nilai-nilai pancasila. Sebagai pendukung nilai, bangsa Indonesia itulah yang mengakui, menghargai, menerima pancasila sebagai sesuatu yang bernilai. Pengakuan, penerimaan dan penghargaan pancasila sebagai sesuatu yang bernilai itu akan tampak menggejala dalam dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan bangsa Indonesia. Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara Republik Indonesia mengandung makna bahwa setiap aspek kehidupan kebangsaan, kenegaraan dan kemasyarakatan harus didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, pesatuan, kerakyatan dan yang terakhir keadilan. Pemikiran filsafat kenegaraan ini bertolak dari pandangan bahwa negara merupakan suatu persekutuan hidup manusia atau organisasi kemasyarakatan, di mana merupakan masyarakat hukum. 2. Prinsip – Prinsip Filsafat Pancasila Jika ditinjau dari kausa Aristoteles, Prinsip-prinsip pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut.  Kausa Material yaitu sebab yang berhubungan dengan materi atau bahan. Dalam hal ini Pancasila digali dari nilai-nilai sosial budaya yang ada dalam bangsa Indonesia sendiri.  Kausa Formalis ialah sebab yang berhubungan dengan bentuknya. Pancasila di dalam pembukaan UUD 1945 memenuhi syarat formal (kebenaran formal).  Kausa Efisiensi yaitu kegiatan BPUPKI dan PPKI dalam menyusun dan merumuskan pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka.  Kausa Finalis Ialah berhubungan dengan tujuannya, dimana tujuan yang diusulkannya pancasila menjadi dasar negara Indonesia merdeka. Inti atau esensi sila-sila Pancasila meliputi :  Tuhan yang berarti bahwa sebagai kausa prima.  Manusia berarti bahwa makhluk individu dan makhluk sosial.  Satu berarti bahwa kesatuan memiliki kepribadian sendiri.  Rakyat yang berarti bahwa unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong royong.  Adil yang berarti bahwa memberikan keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya. 52 3. Nilai – nilai sebagai Dasar Filsafat Negara Nilai-nilai pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia pada hakikatnya merupakan suatu sumber dari hukum dasar dalam negara Indonesia. Sebagai suatu sumber hukum dasar, secara objektif merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran, cita-cita hukum, serta cita-cita moral yang luhur yang meliputi suasana kejiwaan, serta watak bangsa Indonesia, yang pada tanggal 18 agustus 1945 yang telah dipadatkan dan diabstraksikan oleh para pendiri negara menjadi lima sila dan ditetapkan secara yuridis formal menjadi dasar filsafat negara Republik Indonesia. Hal ini sebagaimana telah ditetapkan dalam ketetapan No. XX/ MPRS/1996. Adapun Pembukaan UUD 1945 yang didalamnya memuat nilai-nilai Pancasila mengandung empat pokok fikiran yang bilamana dianalismakna yang terkandung didalamnya yang tidak lain adalah merupakan derivasi atau penjabaran dari Pancasila. Pokok fikiran yang pertama menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara persatuan, yaitu negara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, mengatasi segala paham golongan maupun perseorangan. Hal ini merupakan penjabaran sila ketiga. Pokok fikiran kedua menyatakan bahwa negara hendak mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam hal ini negara berkewajiban mewujudkan kesejahteraan umum bagi seluruh warga negara. Mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pokok fikiran ini sebagai penjabaran sila kelima. Pokok fikiran ketiga menyatakan bahwa negara berkedaulatan rakyat. Berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan / perwakilan. Hal ini menunjukkan bahwa negara Indonesia adalah negara demokrasi yaitu kedaulatan ditangan rakyat. Hal ini sebagai penjabaran sila keempat. Pokok fikiran keempat menyatakan bahwa, negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini mengandung arti bahwa negara Indonesia menjunjung tinggi keberadaan semua agama dalam pergaulan hidup negara. Hal ini merupakan penjabaran sila pertama dan kedua. Selain itu bahwa nilai-nilai Pancasila juga merupakan suatu landasan moral etik dalam kehidupan kenegaraan. Hal ini ditegaskan dalam pokok fikiran keempat yang menyatakan bahwa negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa berdasar atas kemanusiaan yang adil dan beradab. Konsekuensinya dalam segala aspek kehidupan negara, antara lain pemerintah negara, pembangunan negara, pertahanan dan keamanan 53 negara, politik negara srta pelaksanaan demokrasi harus senantiasa berdasarkan pada moral Ketuhanan dan Kemanusiaan. Selain itu dasar Fundamental moral dalam kehidupan kenegaraan tersebut juga meliputi moralitas para penyelenggara negara dan seluruh warga negara. 4. Karakterisrtik Sistem Filsafat Pancasila Sebagai filsafat, Pancasila memiliki karakteristik sistem filsafat tersendiri yang berbeda dengan filsafat lainnya, yaitu Sila-sila Pancasila merupakan satu-kesatuan sistem yang bulat dan utuh (sebagai suatu totalitas). a. Aspek Ontologis Pancasila Dasar-dasar ontologis Pancasila menunjukkan secara jelas bahwa Pancasila itu benar-benar ada dalam realitas dengan identitas dan entitas (satuan yang berwujud) yang jelas. Melalui tinjauan filsafat, dasar ontologis Pancasila mengungkap status istilah yang digunakan, isi dan susunan sila-sila, tata hubungan, serta kedudukannya. Dasar ontologis Pancasila pada hakekatnya adalah manusia yang memiliki hakekat mutlak mono-pluralis. Manusia Indonesia menjadi dasar adanya Pancasila. Manusia Indonesia sebagai pendukung pokok sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat raga dan jiwa, jasmani dan rohani, sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan sosial, serta kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Pancasila amat bergantung pada manusia Indonesia. Selain ditemukan adanya manusia Indonesia sebagai pendukung pokok Pancasila, secara ontologis, realitas yang menjadikan sifat-sifat melekat dan dimiliki Pancasila dapat diungkap sehingga identitas dan entitas Pancasila itu menjadi sangat jelas. Jika ditinjau menurut sejarah asal-usul pembentukannya, Pancasila memenuhi syarat sebagai dasar filsafat negara. Ada empat macam sebab (causa) yang menurut Notonagoro dapat digunakan untuk menetapkan Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara, yaitu sebab berupa materi (causa material), sebab berupa bentuk (causa formalis), sebab berupa tujuan (causa finalis),dan sebab berupa asal mula karya (causa eficient). Selanjutnya Pancasila sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia memiliki susunan lima sila yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak yaitu berupa sifat kodrat monodualis, 54 sebagai makhluk individu sekaligus juga sebagai makluk sosial, serta kedudukannya sebagai makluk pribadi yang berdiri sendiri juga sekaligus sebagai makhluk Tuhan. Konsekuensinya segala aspek dalam penyelenggaraan negara diliputi oleh nilai-nilai Pancasila yang merupakan suatu kesatuan yang utuh yang memiliki sifat dasar yang mutlak berupa sifat kodrat manusia yang monodualis tersebut. Kemudian seluruh nilai-nilai Pancasila tersebut menjadi dasar rangka dan jiwa bagi bangsa Indonesia. Hal ini berarti bahwa dalam setiap aspek penyelenggaraan negara harus dijabarkan dan bersumberkan pada nilai-nilai Pancasila, seperti bentuk negara, sifat negara, tujuan negara, tugas dan kewajiban negara dan warga negara, sistem hukum negara, moral negara dan segala aspek penyelenggaraan negara lainnya. Hal yang sama juga berlaku dalam konteks negara Indonesia, Pancasila adalah filsafat negara dan pendukung pokok negara adalah rakyat (manusia). b. Aspek Epistemologis Pancasila Epistemologis Pancasila terkait dengan sumber dasar pengetahuan Pancasila. Eksistensi Pancasila dibangun sebagai abstraksi dan penyederhanaan terhadap realitas yang ada dalam masyarakat bangsa Indonesia dengan lingkungan yang heterogen, multikultur, dan multietnik dengan cara menggali nilai-nilai yang memiliki kemiripan dan kesamaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat bangsa Indonesia. Masalah-masalah yang dihadapi menyangkut keinginan untuk mendapatkan pendidikan, kesejahteraan, perdamaian, dan ketentraman. Pancasila itu lahir sebagai respon atau jawaban atas keadaan yang terjadi dan dialami masyarakat bangsa Indonesia dan sekaligus merupakan harapan. Diharapkan Pancasila menjadi cara yang efektif dalam memecahkan kesulitan hidup yang dihadapi oleh masyarakat bangsa Indonesia. Pancasila memiliki kebenaran korespondensi dari aspek epistemologis sejauh sila-sila itu secara praktis didukung oleh realita yang dialami dan dipraktekkan oleh manusia Indonesia. Pengetahuan Pancasila bersumber pada manusia Indonesia dan lingkungannya. Pancasila merupakan pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta, manusia, 55 masyarakat, bangsa dan negara tentang makna hidup serta sebagai dasar bagi manusia dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan. Epistemologis sosial Pancasila juga dicirikan dengan adanya upaya masyarakat bangsa Indonesia yang berkeinginan untuk membebaskan diri menjadi bangsa merdeka, bersatu, berdaulat dan berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta ingin mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sumber pengetahuan Pancasila dapat ditelusuri melalui sejarah terbentuknya Pancasila. Akar sila-sila Pancasila ada dan berpijak pada nilai serta budaya masyarakat bangsa Indonesia. Nilai serta budaya masyarakat bangsa Indonesia yang dapat diungkap mulai awal sejarah pada abad IV Masehi di samping diambil dari nilai asli Indonesia juga diperkaya dengan dimasukkannya nilai dan budaya dari luar Indonesia. Nilai-nilai dimaksud berasal dari agama Hindu, Budha, Islam, serta nilai-nilai demokrasi yang dibawa dari Barat. Berdasarkan realitas yang demikian maka dapat dikatakan bahwa secara epistemologis pengetahuan Pancasila bersumber pada nilai dan budaya tradisional dan modern, budaya asli dan campuran. Selain itu, sumber historis itu, menurut tinjauan epistemologis, Pancasila mengakui kebenaran pengetahuan yang bersumber dari wahyu atau agama serta kebenaran yang bersumber pada akal pikiran manusia serta kebenaran yang bersifat empiris berdasarkan pada pengalaman. Dengan sifatnya yang demikian maka pengetahuan Pancasila mencerminkan adanya pemikiran masyarakat tradisional dan modern. c. Aspek Aksiologis Pancasila Aksiologi terkait erat dengan penelaahan atas nilai. Dari aspek aksiologi, Pancasila tidak bisa dilepaskan dari manusia Indonesia sebagai latar belakang, karena Pancasila bukan nilai yang ada dengan sendirinya (given value) melainkan nilai yang diciptakan (created value) oleh manusia Indonesia. Nilai-nilai dalam Pancasila hanya bisa dimengerti dengan mengenal manusia Indonesia dan latar belakangnya. Pancasila mengandung nilai, baik intrinsik maupun ekstrinsik atau 56 instrumental. Nilai intrinsik Pancasila adalah hasil perpaduan antara nilai asli milik bangsa Indonesia dan nilai yang diambil dari budaya luar Indonesia, baik yang diserap pada saat Indonesia memasuki masa sejarah abad IV Masehi, masa imperialis, maupun yang diambil oleh para kaum cendekiawan Soekarno, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan para pejuang kemerdekaan lainnya yang mengambil nilai-nilai modern saat belajar ke negara Belanda. Kekhasan nilai yang melekat dalam Pancasila sebagai nilai intrinsik terletak pada diakuinya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial sebagai satu kesatuan. Kekhasan ini yang membedakan Indonesia dari negara lain. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan memiliki sifat umum universal. Karena sifatnya yang universal, maka nilai-nilai itu tidak hanya milik manusia Indonesia, melainkan manusia seluruh dunia. Pancasila sebagai nilai instrumental mengandung imperatif dan menjadi arah bahwa dalam proses mewujudkan cita-cita negara bangsa, seharusnya menyesuaikan dengan sifat-sifat yang ada dalam nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Sebagai nilai instrumental, Pancasila tidak hanya mencerminkan identitas manusia Indonesia, melainkan juga berfungsi sebagai cara dalam mencapai tujuan, bahwa dalam mewujudkan cita-cita negara, bangsa Indonesia menggunakan caracara yang berketuhanan, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan, berkerakyatan yang menghargai musyawarah dalam mencapai mufakat, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila juga mencerminkan nilai realitas dan idealitas. Pancasila mencerminkan nilai realitas, karena di dalam sila-sila Pancasila berisi nilai yang sudah dipraktekkan dalam hidup sehari-hari 57 oleh bangsa Indonesia. Di samping mengandung nilai realitas, sila-sila Pancasila berisi nilai-nilai idealitas, yaitu nilai yang diinginkan untuk dicapai. Secara aksiologis, bangsa Indonesia merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila (subcriber of values Pancasila). Bangsa Indonesia yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan dan yang berkeadilan sosial. Sebagai pendukung nilai, bangsa Indonesia itulah yang menghargai, mengakui, menerima Pancasila sebagai sesuatu yang bernilai. Pengakuan, penghargaan, dan penerimaan Pancasila sebagai sesuatu yang bernilai itu akan tampak menggejala dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia. Kalau pengakuan, penerimaan atau penghargaan itu telah menggejala dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan manusia dan bangsa Indonesia, maka bangsa Indonesia dalam hal ini sekaligus adalah pengembannya dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan manusia Indonesia. 5. Kesatuan Sila-Sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem Filsafat Pancasila yang berisi lima sila, menurut Notonagoro (1967: 32) merupakan satu kesatuan utuh. Kesatuan sila-sila Pancasila tersebut, diuraikan sebagai berikut : a. Kesatuan Sila-Sila Pancasila dalam struktur yang bersifat hirarkis dan berbentuk piramidal. Susunan secara hirarkis mengandung pengertian bahwa sila-sila Pancasila memiliki tingkatan berjenjang, yaitu sila yang ada di atas menjadi landasan sila yang ada di bawahnya. Sila pertama melandasi sila kedua, sila kedua melandasi sila ketiga, sila ketiga melandasi sila keempat, dan sila keempat melandasi sila kelima. Dalam susunan hirarkis dan piramidal, sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis kemanusiaan, persatuan Indonesia, kerakyatan dan keadilan sosial. Sebaliknya Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan, yang membangun, memelihara dan mengembangkan persatuan Indonesia, yang 58 berkerakyatan dan berkeadilan sosial. Demikian selanjutnya, sehingga tiap-tiap sila di dalamnya mengandung sila-sila lainnya. Secara ontologis, kesatuan sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem yang bersifat hirarkis dan berbentuk piramidal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut, hkekat adanya Tuhan adalah ada karena dirinya sendiri, Tuhan sebagai causa prima. Oleh karena itu segala sesuatu yang ada termasuk manusia ada karena diciptakan Tuhan atau manusia ada sebagai akibat adanya Tuhan (sila pertama). Adapun manusia adalah sebagai subyek pendukung pokok negara, karena negara adalah lembaga kemanusiaan, negara adalah sebagai persekutuan hidup bersama yang anggotanya adalah manusia (sila kedua). Dengan demikian, negara adalah sebagai akibat adanya manusia yang bersatu (sila ketiga). Selanjutnya terbentuklah persekutuan hidup bersama yang disebut rakyat. Rakyat pada hakekatnya merupakan unsur negara di samping wilayah dan pemerintah. Rakyat adalah totalitas individuindividu dalam negara yang bersatu (sila keempat). Adapun keadilan yang pada hakekatnya merupakan tujuan bersama atau keadilan sosial (sila kelima) pada hakekatnya sebagai tujuan dari lembaga hidup bersama yang disebut negara. b. Hubungan Kesatuan Sila-Sila Pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasi. Sila-sila Pancasila sebagai kesatuan dapat dirumuskan pula dalam hubungannya saling mengisi atau mengkualifikasi dalam kerangka hubungan hirarkis piramidal seperti di atas. Dalam rumusan ini, tiap-tiap sila mengandung empat sila lainnya atau dikualifikasi oleh empat sila lainnya. Untuk kelengkapan hubungan kesatuan keseluruhan sila-sila Pancasila yang dipersatukan dengan rumusan hirarkis piramidal tersebut, berikut disampaikan kesatuan sila-sila Pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasi. 1) Sila pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; 2) Sila kedua; kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kemanusiaan yang berKetuhanan Yang Maha Esa, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan 59 yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; 3) Sila ketiga; persatuan Indonesia adalah persatuan yang ber-Ketuhanan YME, berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; 4) Sila keempat; kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, adalah kerakyatan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; 5) Sila kelima; keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. c. Kelima Pancasila Merupakan Suatu Kesatuan Pancasila susunannya adalah majemuk tunggal (merupakan satu kesatuan yang bersifat organis), yaitu : 1) Terdiri dari bagian-bagian yang tidak terpisahkan. 2) Masing-masing bagian mempunyai fungsi dan kedudukan tersendiri, 3) Meskipun berbeda tidak saling bertentangan,akan tetapi saling melengkapi, 4) Bersatu untuk mewujudkannya secara keseluruhan, 5) Keseluruhan membina bagian-bagian, 6) Tidak boleh satu silapun ditiadakan, melainkan merupakan satu kesatuan. Bentuk susunannya adalah hirarkis piramidal (kesatuan bertingkat dimana tiap sila dimuka sila lainnya merupakan basis). Pancasila yang bentuk susunannya hirarkis-piramidal adalah sebagai berikut : 1) Sila Pertama; meliputi dan menjiwai sila kedua, sila ketiga, sila keempat dan sila kelima. 2) Sila Kedua : diliputi dan dijiwai sila pertama, meliputi dan menjiwai sila ketiga, sila keempat dan sila kelima. 3) Sila Ketiga : diliputi dan dijiwai sila pertama, sila kedua, meliputi sila keempat dan sila kelima. 60 4) Sila Keempat: diliputi dan dijiwai sila pertama, sila kedua, sila ketiga dan meliputi sila kelima. 5) Sila Kelima : diliputi dan dijiwai oleh seluruh sila-sila. C. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat Pancasila merupakan hasil pemikiran mendalam dari bangsa Indonesia, yang dianggap, diyakini sebagai kenyataan nilai dan norma yang paling benar, dan adil untuk melakukan kegiatan hidup berbangsa dan bernegara di manapun mereka berada. Selain itu, filsafat Pancasila memiliki beragam fungsi, diantaranya yaitu; sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia, Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, dan Pancasila sebagai sistem ideologi nasional. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sedangkan Pancasila sebagai sistem filsafat adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, Saling bekerjasama antara sila yang satu dengan sila yang lain untuk tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh yang mempunyai beberapa inti sila, nilai dan landasan yang mendasar. 61 BAB VII FILSAFAT KARYA ILMIAH A. LATAR BELAKANG Kegiatan berfikir kita lakukan dalam keseharian dan merupakan ciri utama dari kita sebagai manusia ciptaan tuhan yang dianugerahi akal pikiran yang membedakan manusia dengan makhluk lain ciptaan tuhan. Berpikir merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah. Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin. Seseorang yang tidak berpikir, berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Banyak yang beranggapan bahwa untuk “berpikir secara mendalam”, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sebenarnya, mereka telah menganggap “berpikir secara mendalam” sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan “filosof”. Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berfikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh. Berfikir ilmiah merupakan berfikir dengan langkah–langkah metode ilmiah seperti perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literatur, menjugi hipotesis, menarik kesimpulan. Kesemua langkah–langkah berfikir dengan metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat/sarana yang baik sehingga diharapkan hasil dari berfikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil yang baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengehahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Ditinjau dari pola berfikirnya, 62 maka maka ilmu merupakan gabungan antara pola berfikir deduktif dan berfikir induktif, untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berfikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kearah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir tersebut dalam keseluruhan berfikir ilmiah tersebut. Untuk dapat melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistik. Berdasarakan uraian tersebut maka dibuatlah makalah mengenai sarana berpikir ilmiah. B. PENALARAN ILMIAH Menurut Andi Hakim Nasution dalam Jujun mengemukakan bahwa sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini yang dilestarikan jangan punah, melainkan manusia jawa. Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adan dan Hawa dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan. Dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama, maka oleh sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu-pun berbeda-beda. Menurut Juyun penalaran merupakan suatu proses perpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses kesimpulan terseburt dilakukan menurut cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dapat didefinisikan 63 sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih.Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan, namun untuk kesesuaian studi yang memusatkan diri pada penalaran ilmiah. Baik logika deduktif maupun logika induktif dalam proses penalarannya, merupakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggapnya benar. Kenyataan ini membawa kita kepada sebuah pernyataan yaitu bagaimanakah caranya mendapatkan pengetahuan yang benar. Sebenarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama mendasarkan diri pada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk kita ketahuai adalah intuisi dan wahyu. Namun sampai sekarang ini pengetahuan yang didapatkan secara rasional dan empiris. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bersipat personal dan tidak bisa diramalkan. Pengetahuan Intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Maslow dalam Stanley mengemukakan intuisi ini merupakan pengalaman puncak. Sedangkan bagi Nietzsche dalam George mengemukakan intuisi merupakan inteligensi yang paling tinggi. Penalaran mempunyai banyak masalah yang sulit. Namun yang terpenting adalah bagaimana cara kita menemukan atau mengetahui suatu objek yang belum tentu lewat penarikan kesimpulan. Saya mengetahui masalah ini tampaknya sangat sulit bagi saya dan saya tak bisa memberikan pemecahan yang lengkap. Namun suatu hal yang pasti bahwa kita dapat mempelajari sesuatu dengan diskusi. Contoh, jika seorang bertanya kepada saya berapakah 23.169 x 7.84. Mula-mula memang saya tidak tahu, tetapi setelah saya duduk mengerjakan perkalian tersebut lalu saya tahu bahwa 23.169 x 7.84 adalah 181.807.143.tetapi proses perkalian ini adalah berpikir:adalah penalaran. C. PENERAPAN DALAM PENELITIAN ILMIAH Sebelum melakukan tindakan atau penerapan dalam penelitian ilmiah, maka terlebih dahulu harus memahami struktur penelitian dan penulisan ilmiah. Pemilihan bentuk dan cara penulisan dari khasanah yang tersedia merupakan masalah selera dan prefrensi program dengan memperhatikan berbagai faktor lainnya seperti masalah apa 64 yang sedang dikaji, siapakah pembaca tulisan ini dan dalam rangka kegiatan keilmuan apa karya ilmiah ini disampaikan. Penulisan ilmiah pada dasarnya merupakan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Maka itu mutlak diperlukan penguasaan yang baik mengenai hakikat keilmuan agar dapat melakukan penelitian dan sekaligus mengkomunikasikannya secara tertulis. Sehingga tidak lagi menjadi soal dari mana dia akan memulai, sesudah itu melakngkah ke mana. Sebab penguasaan tematis dan teknik akan menjamin suatu keseluruhan bentuk yang utuh. Demikian juga bagi seorang penulis ilmiah yang baik, tidak jadi masalah apakah hipotesis ditulis langsung setelah perumusan masalah, ditempat mana akan dinyatakan postulat, asumsi, atau prinsip, sebab dia tahu benar hakikat dan fungsi unsur-unsur tersebut dalam keseluruhan struktur penulisan ilmiah. Setelah masalah dirumuskan denganbaik, maka seorang peneliti menyatakan tujuan penelitiannya. Tujuan penelitian ini adalah pernyataan mengenai ruang lingkup dan kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan masalah yang dirumuskan.Setelah itu dibahaslah kemungkinan-kemungkinan kegunaan penelitian yang merupakan manfaat yang dapat dipetik dari pemecahan masalah yang didapat dari peneliti. Menurut Jujun S. mengemukakan secara kronologis dapat kita simpulkan enam kegiatan dalam langkah dalam pengajuan masalah yaitu latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian. Patut dikemukakan bahwa terdapat kaitan yang erat antara keenam kegiatan tersebut. Antara latar belakang masalah dan kegunaan penelitian kadamg-kadang sudah terdapat kaitan yang bersifat a priori umpamanya sebuah penelitian akan digunakan sebegian dasar penyusunan kebijakan secara nasional. Tentu saja hasil penelitian dipergunakan untuk kebijakan bersifat nasional maka hal ini akan mempengaruhi empat kegiatan lainnya terutama sekali proses pembatasan masalah, sebab untuk generalisasi ke tingkat nasional kita tidak mungkin melakukan infersens dari hasil penelitian yang terbatas pada suatu kecamatan. Penyusunan kerangka teoritis. Setelah masalah berhasil dirumuskan dengan baik maka langkah kedua dalam metode ilmiah adalah mengajukan hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan. Seperti diketahui dalam memecahkan berbagai persoalan terdapat bermacam cara yang dapat ditempuh 65 manusia. Namun secara garis besarnya maka cara tersebut dapat dikategorikan kepada cara ilmiah dan non ilmiah. Dengan meletakkan kerangka teoritis pada fungsi sebenarnya maka kita lebih maju dalam meningkatkan mutu keilmuan keegiatan penelitian. Secara ringkas langkah dalam menyusun kerangka teoritis dan pengauan hipotesis adalah: pengkajian mengenai teori-teori ilmiah yang akan dipergunakan dalam analisis, pembahasan mengenai penelitian-penelitian yang relevan, penyusunan kerangka berpikir, dalam pengajuan hipotesis dengan menggunakan premis-premis dan perumusan hipotesis. Metodologi penelitian. Pada bagian ini setelah berhasil merumuskan hipotesis yang diturunkan secara deduktif dari pengetahuan ilmiah yang relevan maka langkah berikutnya adalah mengajukan hipotesis tersebut secara empirik. Artinya kita melakukan verifikasi apakah pernyataan yang didukung. Oleh hipotesis yang diajukan tersebut didukung atau tidak oleh kenyataan yang bersifat faktual. Secara ringkas dalam penyusunan dalam metodologi penelitian mencakup kegiatan sebagai berikut: tujuan penelitian secara lengkap dan operasional dalam bentuk pertanyaan yang mengidentifikasikan variabel-variabel dan karakteristik-karakteristik hubungan yang akan diteliti, tempat dan waktu penelitian dimana akan dilakukan generalisasi mengenai variabel-variabel yang ditelit, metode penelitian yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian dan tingkat generalisasi yang diharapkan,teknik pengambilan contoh yang relevan dengan tujuan penelitian tingkat keumuman dan metode penelitian, teknik pengumpulan data yang mencakup identifikasi variabel yang akan dikumpulkan, suber data, teknik pengukuran, instrument, dan teknik mendapatkan data, teknik analisis data yang mencakup langkah-langkah dan teknik analisis yang dipergunakan yang ditetapkan berdasarkan pengajuan hipotesis. Setelah perumusan masalah, pengajuan hipotesis dan penetapan metode penelitian maka sampailah kita kepada langkah berikutnya yakni melaporkan hasil apa yang kita temukan berdasarkan hasil penelitian. Sebaiknya bagian ini betul-betul dipergunakan untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan selama penelitian untuk menarik kesimpulan penelitian. Deskripsi tentang langkah-langkah dan cara pengelompokan data sebaiknya sudah dinyatakan dalam metodologi penelitian. Namun sering kita melihat bahwa bagian ini dipenuhi dengan pernyataan-peryataan yang kurang relevan dan pembahasan hasil penelitian yang menyebabkan menjadi kurang tajamnya fokus analisis dalam pengkajian. 66 Dengan memahami struktur penelitian dan penulisan ilmiah, maka barulah dalam peroses penerapan ilmia dapat dilakukan dengan baik sehinga hasilnya-pun dapat dicapai dengan baik serta bermanfaat kepada pengembangan ilmu pengetahuan. D. KESIMPULAN Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Teori kebenaran yang ada pada filsafat ilmu digunakan sebagai dasar untuk menghasilkan kebenaran untuk berpikir tepat dan logis. Dengan adanya cara berpikir logis, maka pengetahuan manusia akan kebenaran dan cara memperoleh pengetahuan juga berkembang. Namun bila dilihat dari sisi lain bahwa teori kebenaran juga merupakan batas pengetahuan dalam landasan teori kebenaran. Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adan dan Hawa dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan. Penulisan ilmiah pada dasarnya merupakan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Maka itu mutlak diperlukan penguasaan yang baik mengenai hakikat keilmuan agar dapat melakukan penerapan dalam suatu penelitian dan sekaligus mengkomunikasikannya secara tertulis. 67 BAB VIII SOAL DAN JAWABAN A. MANFAAT FILSAFAT BAGI MAHASISWA 1. Jelaskan manfaat belajar filsafat ! Jawaban: Filsafat memberikan pendasaran rasional tentang hakekat eksistensi , pengetahuan, nilai-nilai, dan masyarakat. Filsafat memberikan pendasaran mendasar tentang hakekat ilmu (epistemologi), menjadi orang berpikir lurus (logika), memberikan kritik terhadap ilmu-ilmu memberikan keterangan tentang dasar terdalam realitas, memberikan argumentasi rasional bagi konsep-konsep teologi (teologi metafisik), membahas secara mendalam tentang manusia (antropologi filsafat). Memberikan penjelasan mendasar tentang hakekat dan tujuan jagat raya (kosmologi), membimbing manusia dalam kegiatannya sebagai manusia (etika), memberikan dasar apresiasi bagi keindahan (estetika), dan mendorong orang untuk mengukur segalanya berdasarkan perspektif sejarah (sejarah filsafat). 2. Sebutkan beberapa macam-macam filsafat ? Jawaban: Kosmologi, Etika, Estetika, Sejarah Filsafat, dan Logika B. PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU 1. Ditinjau dari segi historis bagaimana hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan ? Jawaban : Hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “ Philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. 2. Sebutkan fase perkembangan filsafat ilmu ! Jawaban : Filsafat Ilmu Zaman Kuno, Filsafat Ilmu Era Renaisance, Filsafat Ilmu Era Positivisme, Filsafat Ilmu Kontemporer. 3. Masa perkemkembangan filsafat pada masa kontemporer atau sekarang, dimana yang menjadi pokok pembahasannya saat ini ialah logosentris, apa arti dari legosentris ? Jawaban : Legosentris artinya membicarakan kata/kalimat tapi itu di Eropa, sedangkan di Amerika lebih pragmatis yakni mereka akan mengambilnya jika 68 menguntungkan diri mereka dan membuangnya jika tidak berguna bagi mereka walaupun berguna bagi orang lain. C. LOGIKA BERPIKIR UNTUK MENEMUKAN KEBENARAN ILMIAH 1. Mengapa masalah merupakan komponen penting dalam sains? Jawabanya : karena ilmu pengetahuan itu ada, dan karena masalah yang terpecahkan. Dengan kata lain tanpa masalah, tidak pernah akan ada apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan. Demikian juga tanpa masalah tidak akan ada solusi dan dengan sendirinya tidak akan ada pengetahuan ilmiah. 2. Apakah semua masalah itu ilmiah? Apa yang menyebabkan masalah menjadi ilmiah? Jawaban : Jika jawaban pertama adalah tidak semua masalah itu ilmiah, lalu apa yang menjadikan masalah menjadi ilmiah? Masalah itu dianggap ilmiah jika memenuhi tiga ciri khas, yaitu dapat dikomunikasikan, bisa didekati dengan sikap ilmiah dan metode ilmiah. 3. Bagaimana suatu sikap akan dianggap sebagai sikap ilmiah? Jawaban : Ada lima hal pokok yang menandai suatu sikap, sehingga bisa disebut sikap ilmiah. a. Rasa ingin tahu (curiosity) b. Bersikap spekulasi (speculativeness). c. Terbuka/objektif (willingness to be objective). d. Mau menunda kesimpulan e. Bersifat sementara (relativity). D. TEORI KEBENARAN 1. Apa yang dimaksud dengan kebenaran itu ? Jawaban : Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha "memeluk" suatu kebenaran.Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. 2. Apa yang dimaksudkan dari kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik ? 69 Jawaban : Kebenaran moral menjadi bahasan etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akalbudi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akalbudi yang menyatakannya. 3. Bagaimana contoh dari teori kebenaran korespondensi ? Jawaban : Ada seseorang yang mengatakan bahwa Provinsi Yogyakarta itu berada di Pulau Jawa. Pernyataan itu benar karena sesuai dengan kenyataan atau realita yang ada. Tidak mungkin Provinsi Yogyakarta di Pulau Kalimantan atau bahkan Papua. 4. Apa yang dimaksud dengan Teori Kebenaran Pragmatik/Pragmatisme ? Jawaban : yaitu suatu pernyataan itu benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Teori pragmatis ini pertama kali dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul "How to Make Our Ideas Clear". E. TAKARAN KEILMUAN-PENGETAHUAN : ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI 1. Bahwa ilmu pengetahuan itu adalah sebuah bangunan yang tidak pernah akan selesai (never ending process), ia tegak karena ditopang oleh tiga tiang utamanya. Jelaskan mengapa ilmu itu never ending process dan sebutkan serta jelaskan tiga tiang penyangga ilmu pengetahuan yang dimaksud! Jawaban : Karena ilmu,dengan berjalannya waktu serta berkembangnya zaman maka ilmu tidak akan berhenti dalam artian akan selalu berkembang. Ilmu akan mengalami perubahan dalam wilayah ontologi maupun epistemologi, serta aksiologi. Jika ilmuan bisa mengamalkan wilayah aksiologi, maka ilmu akan memiliki nilai yang tinggi sehingga akan bermanfaat bagi masyarakat 2. Filsafat Ilmu Pengetahuan (Philosophy of Scientific Knowledge), merupakan cabang dari Filsafat Pengetahuan (Epistemologi). Ia kadang disebut sebagai Theory of Science, Science of Science. Mengapa demikian (jelaskan berdasarkan istilah-istilah tersebut), dan apa yang sebenarnya yang menjadi kajian utama/ruang lingkup kajian dari disiplin Filsafat Ilmu itu. Jelaska! 70 Jawaban : Kerangka pengetahuan sebuah ilmu dibangun berdasarkan filsafat pengetahuan (Epistemology) yang mana kemudian menjadi salah satu dasar penyangga ilmu pengetahuan. Sebuah ilmu berasal dari proses apa yang namanya itu tahu yang kemudian berkembang menjadi pengetahuan (knowledge). Pengetahuan dapat diperoleh melalui pemahaman yang dilakukan dengan cara persepsi baik lewat indera, akal dan hati. Oleh karenanya sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa filsafat pengetahuan (philosopi of scientific knowledge) disebut sebagai theory of science, science of science. Kajian utama dari filsafat ilmu adalah:Wilayah ontologis: Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia? Wilayah epistemologis: Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? Wilayah aksiologis: Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan ilmu pengetahuan dengan kaidah-kaidah moral atau etika? Bagaimana penentuan objek dan metode yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana hubungan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral atau professional. F. FILSAFAT PANCASILA 1. Aspek ontologi pancasila mengkaji tentang hakekat keberadaan Pancasila sebagai filsafat bangsa. Jelaskan ! Jawaban : Secara ontologis, penyelidikan Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. Pancasila yang terdiri atas lima sila, setiap sila bukanlah merupakan asas yang berdiri sendiri-sendiri, malainkan memiliki satu kesatuan dasar ontologism. Dasar ontologis Pancasila pada hakikatnya adalah manusia, yang memiliki hakikat mutlak yaitu monopluralis, atau monodualis, karena itu juga disebut sebagai dasar antropologis. Subyek pendukung pokok dari sila-sila Pancasila adalah manusia. 2. Aspek Epistemologi Pancasila mengakaji tentang hakekat pengetahuan. Bagaimana hubungannya dengan pengetahuan tentang Pancasila dari aspek epistimologi tersebut. 71 Jawaban : Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya. Maka, dasar epistemologis Pancasila sangat berkaitan erat dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia. Pancasila sebagai suatu obyek pengetahuan pada hakikatnya meliputi masalah sumber pengetahuan dan susunan pengetahuan Pancasila. Tentang sumber pengetahuan Pancasila, sebagaimana telah dipahami bersama adalah nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai tersebut merupakan kausa materialis Pancasila. 3. Aspek Aksiologi Pancasila mengkaji tentang hakekat nilai-nilai Pancasila. Jelaskan ! Jawaban : Kajian aksiologi filsafat Pancasila pada hakekatnya membahas tentang nilai praksis atau manfaat suatu pengetahuan tentang Pancasila. Karena sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki satu kesatuan dasar aksiologis, sehingga nilainilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakekatnya juga merupakan suatu kesatuan. G. FILSAFAT KARYA ILMIAH 1. Apa pengertian filsafat karya ilmiah menurut Andi Hakim Nasution? Jawaban : Menurut Andi Hakim Nasution dalam Jujun mengemukakan bahwa sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini yang dilestarikan jangan punah, melainkan manusia jawa. Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adan dan Hawa dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan. Dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya. 2. Bagaimana penerapan dalam penelitian limiah? Jawaban : Memahami stuktur penelitian dan penulisan ilmiah, merumuskan masalah, menyatakan tujuan penelitian, menyusun kerangka teoritis, metodologi penelitian, melaporkan hasil penelitian. 72

Judul: Kumpulan Makalah Pengantar Filsafat Ilmu Dosen Pengampu Dr. Sigit Sardjono, Ms

Oleh: Cela Merine

Ikuti kami