Kontribusi Tokoh Jnb Tairas Dan Melvil Dewey Dalam Ilmu Perpustakaan

Oleh Ardhina Pratiwi

195,4 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Kontribusi Tokoh Jnb Tairas Dan Melvil Dewey Dalam Ilmu Perpustakaan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Keberadaan ilmu perpustakaan saat ini telah mengalami perkembangan yang signifikan, salah satu faktornya disebabkan oleh keberadaan ilmu perpustakaan yang mulai diperkenalkan pada tahun 1923 tatkala Universitas of Chicago memulai pendidikan pustakawanan pada tingkat master. Di Indonesia terdapat sekitar 30 universitas yang membuka program ilmu perpustakaan, hal ini didasari oleh minimnya lulusan ilmu perpustakaan yang masih sedikit, hingga akhirnya universitasuniversitas di Indonesia membuka jurusan ilmu perpustakaan dengan harapan lulusan ilmu perpustakaan semakain banyak dan mampu bersaing serta dapat mengembangkan dunia perpustakaan di kancah nasional maupun internasional. Ironisanya sampai saat ini masih banyak orang yang tidak memahami jika ilmu perpustakaan adalah bidang interdisipliner yang menghubungkan ilmu sosial, ilmu hukum dan ilmu manajemen yang didalam nya mempelajari berbagai bidang yang berkaitan dengan perpustakaan. Jadi tak heran apabila orang masih menganggap ilmu perpustakaan hanya sebatas ilmu yang pempelajari buku, padahal jika dilhat lebih dalam dan untuk mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan di perpustakaan dibutuhkan orang yang profesional yang memiliki kemampuan dan keterampilan dalam bidang ilmu perpustakaan. Perkembangan ilmu perpustakaan tidak akan diketahui oleh masyarakat dan tidak akan pernah mencapai perkembangan yang signifikan jika tidak terlepas dari peran, perjuangan dan sumbangsih seorang tokoh yang menguasai bidang ilmu perpustakaan. Kajian tentang ilmu perpustakaan sampai saat ini masih banyak digeluti oleh beberapa pakar ptofesional dalam ilmu perpustakaan, sehingga di Indonesia terdapat beberapa tokoh yang menyumbangkan pemikiran dan berkontribusi dalam mewarnai perjalanan ilmu perpustakaan, salah satunya J.N.B Tairas. Pemikiran-pemikiran yang ditawarkan sampai saat ini masih mewarnai 1 seluruh kegiatan pengolahan perpustakaan. Adalah J.N.B Tairas, sosok yang selalu tertera pada paralatan pengatalogan seperti halnya “Peraturan Katalogisasi Indonesia”, “Daftar Tajuk Subjek dan Klasifikasi Bahan Pustaka Tentang Indoensia Menurut DDC”. J.N.B Tairas adalah seorang pustakawan yang pertama kali menjadi wakil Indonesia dan sekaligus menjadi pemakalah di International Conference on Cataloguing Principle (1CCP) yang dilakukan di Paris pada bulan oktober 1961. Pada konferensi itu, J,N.B Tairas menyajikan makalah dengan judul “ Cataloguing of Indonesian Names”. Sampai saat ini peran dan pengabdian beliau dalam pakar ilmu perpustakaan tidak diragukan lagi, khususnya dalam bidang pengatalogan dan klasifikasi. Bahkan dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang sangat menglobal dan canggih seperi saat ini, ternyata paralatan pengatalogan seperti Peraturan Katalogisasi Indonesia, Daftat Tajuk Subjek dan Klasifikasi Bahan Pustaka masih akurat dan masih diperlukan dalam pengolahan bahan pustaka di perpustakaan. 1.2 Rumusan masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu : 1. Siapa J.N.B Tairas dan Melville Dewey? 2. Apa saja kontribusi J.N.B Tairas dan Melville Dewey dalam ilmu perpustakaan? 3. Apa perbandingan pemikiran J.N.B Tairas dengan Melville Dewey? 1.3 Tujuan Tujuan dalam makalah ini, antara lain: 1. Untuk mengetahui pemikiran-pemikiran tokoh dalam ilmu perpustakaan. 2. Untuk mengetahui apa saja kontribusi tokoh tersebut dalam kajian ilmu perpustakaan. 3. Untuk mengetahui perbandingan tokoh tersebut dan tokoh lain yang sama-sama bergelut dalam ilmu perpustakaan. 2 1.4 Manfaat 1. Memberikan kontribusi dengan memperkaya dan memperluas pengetahuan dalam bidang perpustakaan. Sehingga dapat berguna bagi pengembangan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, khususnya dalam bidang pengatalogisasi dan klasifikasi. 2. Memberikan pemahaman kepada pustakawan tentang pengolahan bahan pustaka dalam proses pengatalogisasi dan klasifikasi. 3 BAB II PEMBAHASAN DAN ANALISIS 2.1 Biografi Tokoh 1. J.N.B Tairas Putra Minahasa Jan Ngion Benyamin Tairas atau yang lebih dikenal dengan J.N.B di lahirkan di Kota Kotamobagu Sulawesi Utara pada tanggal 9 Januari 1929. Putra Minahasa ini dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah lingkungan dan keluarga yang sederhana. Ayah J.N.B Tairas merupakan seorang guru sekolah rakyat dan sekaligus menjadi guru Zending1. Pada tahun 1961 J.N. Menikah dengan Els Singal, mereka dikaruniai tiga anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Sebagai seorang yang taat dengan kehidupan beragama dan bermasyarakat, kini dimasa tuanya beliau aktif pada berbagai pelayanan keagamaan dan kemasyarakatan di tempat tinggalnya2. Seorang pustakawan senior ini semenjak tahun 1952 terus mengabdikan hidupnya dalam dunia perpustakaan, maka tidak heran jika beliau memiliki jenjang pendidikan yang terbaik dan cemerlang. Pada tahun 1948 beliau menyelesaikan pendidikan pada jenjang MULO B3, kemudian pada tahun 1949-1950 melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu AMS B4, yang sekarang dikenal 1 Guru Zending adalah guru Jemaat, mereka harus bertugas sebagai guru di sekolah Zending dari Senin sampai Sabtu. Sekolah Zending menjadi cikal bakal dari segala jenis pendidikan di Tanah Batak. 2 Jonner Hasugian, J.N.B Tairas Tokoh Katalogisasi dan Klasifikasi Indonesia : Kajian Singkat Dari Sisi Kepustakawanannya, (Usu Digital Library,2003) terdapat di http://library.usu.ac.id/download/lib/perpus-jonner3.pdf 3 MULO singkatan dari bahasa Belanda yaitu Merr Uitgebreid Lager Onderwijs. Adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaman Kolonial Belanda di Indonesia. MULO berarti “ Pendidikan Basar yang Lebih Luas”. Pada tahun 1930 an sekolah MULO sudah hampir ada di setiap kabupaten di Jawa, dan hanya ada beberapa kebupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO. Terdapat di https://www.tirto.id diakses pada 8 Desember 2017 4 AMS singkatan dari Algemeene Middelbare School atau Sekolah Menengah Atas merupakan kelanjutan dari MULO berbhasan Belanda dan diperuntukkan bagi golongan pribumi dan timur asing. Lama belajar sekolah ini 3-4 tahuan dan pertama didirikan pada tahun 1915. Terdapa di https://www.organisasi.org diakses pada 8 Desember 2017 4 dengan SMA. Beliau akhirnya menyelesaikan pendidikannya dari AMS B pada tahun 1952 di Tomohon, Sulawesi Utara. Pada tahun 1952 beliau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Makassar. Sesuai dengan cita-cita sejak SMA beliau ingin menjadi ahli ekonomi. Oleh karena itu beliau mendaftar dan diterima sebagai mahasiswa di perguruan tinggi swasta, Fakultas Ekonomi, Universitas Saweri Gading Makassar. Namun semenjak menjadi mahasiswa ekonomi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, akhirnya pada tahun yang sama beliau melamar pekerjaan dan diterima bekerja di Perpustakaan Rakyat Makasar, Jawatan Pendidikan Masyarakat, Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Pada tahun 1952 inilah perjuangan awal seorang J.N.B Tairas dalam menggeluti profesi pustakawan muda di Perpustakaan Rakyat Makassar, hingga harus membagi waktu mudanya dari pagi sampai sore hari untuk bekerja dan kuliah. Pada tahun 1954 beliau mendapat amanah untuk mengikuti Pendidikan Khusus Pegawai Perpustakaan di Jakarta. Pendidikan khusus pegawai perpustakaan yang diikutinya bernama Kursus Pendidikan Ahli Perpustakaan (KPAP) yang diselenggarakan oleh Biro Perpustakaan, Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, bertempat di Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial, Jakarta. Selama mengikuti pendidikan selama dua tahun, beliau lulus dengan prestasi terbaik dan mendapat apresiasi yang baik selama mengikuti Kursus Pendidikan Ahli Perpustakaan. Oleh karena itu Kepala KPAP meminta beliau agar dipindahan dari Perpustakaan Rakyat Pusat menjadi tenaga pengajar tetap di KPAP. Sehingga permintaan itu akhirnya dipenuhinya, maka dari itu semanjak tahun 1957 J.N.B Tairas menjadi dosen di KPAP. Setelah mengabdikan diri menjadi seorang dosen KPAP di Jakarta. J.N.B Tairas mendapat kesempatan belajar di Library School, National Library Service, Wellington, di New Zealand pada tahun 1958. Bentuk pendidikan yang diikuti adalah pendidikan profesional bidang ilmu perpustakaan. Sebenarnya pendidikan yang 5 diikutinya diperlukan syarat sarjana muda pada bidang perpustakaan. Namun dilihat dari latar belakang pendidikannya beliau tidak memiliki syarat itu, namun karena pertimbangan pihak KPAP beliau diperkenankan bisa mengikuti tersebut, karena dilihat dari hasil testing yang diperolehnya sangat baik, dan prestasi belajar selama di KPAP menunjukkan bahwa beliau mahasiswa berprestasi. Sebelum mengikuti belajar ilmu perpustakaan di New Zealand beliau harus mengikuti kursus awal. Kurus awal merupakan pelatihan unuk melatih kemampuan dan penguasaan bahasa Inggris. Kurus awal ini lama pendidikannya selama sepuluh bulan, selain digunakan untuk kursus awal beliau juga dilatih mengikuti praktek kerja lapangan di berbagai perpustakaan di New Zeland. Pada akhir studinya muncul beberapa pemikiran dan ide beliau untuk membuat Indonesia memiliki perpustakaan nasional. Dari ide dan pemikiran itu yang melatarbelakangi itu mendorong beliau untuk menyusun sebuah karya ilmiah pertamanya dengan judul “ Toward a National Library for Indonesia”5. Saat kembali ke Indoensia beliau pun tetap terdaftar menjadi dosen tetap Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indoensia, walaupun selama beliau belajar di New Zeland, peralihan KPAP dialihkan menjadi Jurusan Ilmu Perpustakaan. Selama menjadi dosen, beliau aktif mengajar di Jurusan Ilmu Perpustakan sampai tahun 1970. Selama menjadi menjabat dosen di Universitas Indonesia banyak pengalaman menarik selama mengajar di Jurusan Ilmu Perpustakaan. Pada tahun 1966 Surat Keputusan dari Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia mengangkat beliau sebagai penguji ujian sarjana. Mengingat pada tahun lalu, J.N.B Tairas tidak diberi hak mengajar karena tidak memiliki gelar sarjana. Pada waktu itu mahasiswa yang akan diuji ialah Soekarman Kartosedono, Payungan Dalimunte, Budi S. Maswan dan Djumena Martanegara. Namun karena beliau bukan sarjana maka muncul konflik diantara sesama dosen, maka sebelum 5 Toward a National Library for Indonesia adalah skripsi karya J.N.B Tairas pada tahun 1960 yang terpilih sebagai salah satu karya yang di muat pada majalah yang diterbitkan oleh National Library Serviceal. Karya ilmiah ini merupakan salah satu penelitian yang berupa pemikiran dan ide J.N.B Tairas mengenai pentingnya Perpustakaan Nasional di Indoensia. 6 ujian berlangsung beliau membuat surat kepada Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia untuk menyatakan bahwa dirinya bukanlah orang yang layak sebagai penguji ujian sarjana, beliau menganggap bahwa dirinya belum memperoleh gelar sarjana. Akan tetapi, setelah surat tersebut disampaikan kepada Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia dengan tegas Dekan mengatakan secara langsung bahwa kepada Tairas“ Dimata saya saudara Tairas telah melebihi pendidikan sarjana”. Oleh karean itulah beliau layak dijadikan sebagai tim penguji untuk menguji Soekarman dan kawan-kawan. Calon sarjana yang diuji beliau adalah lulusan pertama dalam bidang ilmu perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1966. Hingga akhirnya sejak dibukanya Ilmu Perpustakaan di Fakultas Sastra Univeristas Indonesia telah menghasilkan 62 angkatan. 2.2 Kontribusi J.N.B Tairas Dalam Ilmu Perpustakaan 1. Pustakawan Penuh Karya yang Memiliki Segudang Prestasi J.N.B Tairas selain aktif mengajar di lembaga formal, beliau juga aktif menjadi tenaga pengajar di berbagai lembaga seperti Departemen Penerangan, Departemen Kesehatan, Departemen Kehakiman dan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. Walaupun beliau memiliki segudang pengalaman kerja dalam dunia pendidikan, namun beliau juga aktif mengajar di luar pendidikan formal. Kontribusi dan sumbangan pemikiran-pemikiran J.N.B Tairas yang paling mewarnai dunia perpustakaan adalah saat beliau menjabat sebagai Chief Cataloger dan editor dari Library of Congres Accession List6. Selain itu beliau juga bekerja sebagai pustakawan pada The Library of Congres Acquisition Office di Jakarta pada tahun 1964-1975. Semenjak prestasi dan apresiasi yang diemban sangat baik, beliau sering diminta untuk mengajar pada yayasan, seperti Administrasi Badan Peneribit Kristen Gunung Mulia. Tapi hanya bertahan enam tahun, karena sesuai ketentuan dan peraturan yayasan dari BPK Gunung Mulia bahwa usia maksimal karyawan adalah 56 tahun. Walaupun demikian kiprahnya sebagai pustakwan masih aktif dan prestasinya 6 Library of Congres Accession List adalah salah satu dalam pembuatan bibliografi dari bahan pustaka terbitan Indonesia yang dikumpulkan oleh The Library of Congres Acquisition Office Jakarta, yang selanjutnya dikirim ke Amerika lengkap dengan anotasi bahasa Inggris. 7 semakin dikenal oleh masyarakat luas, hingga dari tahun 1991 beliau dikenal sebagai sebagai konsultan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, selain itu beliau juga berperan aktif dalam berbagai proyek di perpustakaan. 2. Apresiasi Internasional dalam Bidang Kepustakawanan Berbagai pengalaman kerja, prestasi nasional maupun internasional serta didukung penguasaaan ilmu perpustakaan yang sangat baik mengantarkan J.N.B Tairas untuk menjadi pemakalah mewakili Indonesia pada Internaional Conference on Cataloguing Principle (ICCP) di Paris bulan Oktober tahun 1961. Dalam sejarahnya konferensi internasional ini dipandang sebagai titik awal dalam evolusi peraturan pengatalogan dalam bidang perpustakaan. Langkah J.N.B Tairas bisa mengikuti konferensi tersebut saat ada undangan International Federation of Library Association (IFLA) yang ditunjukkan kepada Asosiasi Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Indonesia (APADI ) agar dapat mengirimkan wakilnya pada konferensi tersebut. Dimana diharapkan wakil yang dikirimkan dapat sebagai pembicara lengkap dengan memprentasikan makalahnya. Pada waktu itu APADI melakukan rapat pengurus dan memutuskan bahwa orang yang tepat untuk mewakili Indonesia dalam konferensi Internasional adalah J.N.B Tairas. Pada saat itu J.N.B Tairas menyajikan makalah yang berjudul “ Cataloguing of Indonesian Names”. Dalam makalah tersebut banyak ide dan pemikiran – pemikiran beliau tertuang dalam makalahnya, hingga salah satu pemikiran beliau terdapat pada salah satu butir dari 12 fasal “ Steatment of Principle ICCP” dalam fasal 8.2 yaitu mengenai tajuk seragam pengarang. Dalam pembuatan tajuk subjek, fasal tersebut menyatakan bahwa untuk mengatalog nama pengarang dipedomani oleh ketentuan yang dibuat negara yang bersangkutan, hal ini menyangkut abjad, bahasa, ejaan dan kebiasaan yang berlaku di negara masing-masing. Oleh karena Steatment of Principle ICCP menjadi dasar dalam pembuatan tajuk subjek berdasarkan nama-nama pengarang. 8 Pada tahun 1972 dalam rangka peringatan buku Internasional, J.N.B Tairas menyusun Daftar Tajuk Nama-Nama Pengarang Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1973. Buku yang diperluakan dalam penyusunan daftar tajuk subjek, antara lain: 1. Hasil pengalaman beliau saat melakukan pengatalogan buku – buku Indonesia di Library of Congress, tahun 1964. 2. Penelitian dari buku-buku kesustraan Indonesia dan majalah sastra baik yang lama maupun baru 3. Hasil kuesioner yang dikirmkan pada pengarang buku Dalam penyusunan Daftar Tajuk Nama-Nama Pengarang Indonesia, beliau mengatakan bahwa daftar tajuk nama-nama pengarang ini sangat relevan digunakan untuk mengetahui pengarang yang dalam karya bukunya menggunakan nama samaran, misalnya Prof. Prijono (Alm) bila menulis buku-buku cerita bahasa Jawa selalu memakai nama samarannya Prayana Windu Winata. Selain itu, banyak sekali pengarang Indoensia yang menggunakan nama mereka dalam beberapa bentuk. Pada karyanya mereka selalu menggunakan nama pendek, nama tengah sedangkan nama belakang dan depan dihilangkan. Misalnya Raden Samekto Mangkubumi disingkat menjadi R. Samekto. M. selain itu masih banyak lagi ketentuan dalam penentuan tajuk nama pengarang yang dibuat oleh J.N.B Tairas. Apresiasi tingkat internasional tidak hanya sampai sini saja, namun waktu terus mengajak J.N.B Tairas untuk menghadiri Library Seminar 28 th Internasional Congress of Orientalist di Canberra, tahun 1971. Pada saat kongres beliau mempresentasikan malakalahnya yang berjudul “Some Aspect of Descriptive Cataloguing Standardization in Indonesia”. Selang enam tahun beliau juga diundang oleh UNESCO untuk memprentasikan makalah pada Congres on National Bibliography di Paris. Pada kongres tersebut beliau mempresentasikan maklaah dengan judul “ Indonesia National Bibliography”. 9 4. Spesialis Katalogisasi dan Klasifikasi Indonesia Hasil dari belajar dan mengikuti seminar dikancah dunia internasional membuat J.N.B Tairas terus memperdalam ilmu perpustakaan, khususnya katalogisasi dan klasifikasi. Bagi beliau kedua pelajaran tersebut sebenarnya suduah terlintas sejak pertama kali bekerja di Perpustakaan Rakyat Makassar. Secara umum, katalogisasi dan klasifikasi sangat membantu saat beliau menjabat sebagai Chief Cataloger di Jakarta. Beberapa kegiatan tentang kepustakawanan dari kancah internasional dan nasional telah beliau ikuti, seperti seminar nasional pada tahun 1973 J.N.B Tairas mengikuti Kongres Pustakawan Seluruh Indonesia yang berlangusung di Bogor. Dalam kongres tersebut beliau menyajikan makalah dengan judul “Tinjauan Katalogisasi dan Klasifikasi Dewasa ini di Indonesia”. Isi dari makalah beliau menyatakan bahwa pendidikan perpustakaan di Indonesia telah berusia 20 tahun, namun masih sedikit yang dapat dicapai dalam bidang klasifikasi dan katalogisasi. Fenomena tersebut menjadi perhatian bagi seluruh pustakawan di Indonesia, sehingga klasifikasi dan katalogisasi dipandang sebagai masalah sekunder menjadi terabaikan. Padahal lebih dari itu katalogisasi dan klasifikasi merupakan kunci yang yang terpenting dalam pengolahan buku di perpustakaan. Tantangan beliau untuk menjadi spesialis katalogisasi dan klasifikasi masih beliau perdalam lagi, hingga pada tahun 1976 beliau bersama tim dari Pusat Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan Peraturan Katalogisasi Nama-nama Indonesia. Peraturan baru ini merupakan satu ruang lingkup dari peraturan katalogisasi secara keseluruhan. Kerja keras beliau dengan menekuni bidang perpustakaan juga terbukti saat beliau menerjemahkan International Standard Bibliography Description for Monographic Publication ISBD(M) kedalam bahasa Indonesia. Beliau juga berhasil menyusun buku dengan judul “Peraturan Mengkatalog Terbitan Berseri, peraturan menentukan tajuk entri utama untuk majalah dan surat kabar, yang diterbitkan oleh Lembaga Perpustakaan Dokumentasi dan Informasi Jakarta. Usaha dan kerja keras dengan menghasilkan segudang prestasi 10 dan pencapaian yang luar biasa inilah yang mengantarkan J.N.B Tairas menuju titik awal untuk membuat salah satu aspek paling penting dalam sejarah pengatalogan bahan pustaka di Indonesia. Pada tahun 1977, beliau juga menyusun buku pedoman klasifikasi dan katalogisasi yang berjudul “ Pedoman Tajuk Subjek Untuk Perpustakaan Umum dan Sekolah”, yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pun sampai saat ini buku tersebut masih banyak digunakan oleh berbagai aktifis perpustakaan sekolah dalam proses pengatalogan. Sementara itu pada tahun 1978 bersama pakar klasifikasi dan pengatalogisasi Towa P.Hamakonda mengarang buku dengan judul “ Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey” edisi pertama. Buku ini adalah adaptasi dari buku “Klasifikasi Persepuluhan Dewey” dan bukan hanya sekedar ringkasan atau penyederhanaan dari buku aslinya. Namun, buku ini diadaptasi didasarkan pada edisi lengkap Dewey Decimal Classification yang mutahir (edisi ke 18) yang kemudian disusun kembali untuk membantu kebutuhan perpustakaan di Indonesia. Buku “Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey” edisi pertama ini juga mengalami dua kali revisi pada tahun 1982 dan buku tersebut sampai sekarng masih digunakan oleh mahasiswa perpustakaan sebagai pedoman, penentuan dalam melakukan kegiatan klasifikasi. Sampai sekarang buku ini telah mengalami lima kali revisi terakhir terbit tahun 1997. Berdasarkan kententuan-ketentuan klasifikasi dan katalogisasi yang dibuat oleh J.N.B Tairas dalam buku yang berjudul “Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey”, dapat dikatakan bahwa klasifikasi berasal dari kata latin “classis” jadi klasifikasi adalah proses pengelompokan dan mengumulkan tata urutan yang sistematis dari sejumlah objek kedalam benda-benda lain ke dalam kelas tertentu berdasarkan karateristik yang sama7. 7 Towa, Hamakonda dan J.N.B Tairas.Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey. (Jakarta : BPK Gunung Maulia,2009)1 11 Di dalam bidang perpustakaan, klasifikasi menjadi bagian yang tak terpisahan dalam hal pengolahan buku, penyusunan buku yang sistematis, pembuatan katalog yang berdasarkan subjek, dan semua kegiatan tersebut dimanfaatkan dalam mempermudah temu kembali informasi.8 Jadi berdasarkan pengertian klasifikasi dapat disimpulkan bahwa klasifikasi adalah proses dari semua kegiatan pengolahan bahan pustaka yang dikelompokkan berdasarkan katalog, bibliografi dan indeks dalam susuan tata yang sistematis. 2. Melvillele Louis Kossuth Dewey dan Dewey Decimal Classificatin (DDC) Jika membicarakan klasifikasi di Indonesia kita mengenal sosok J.N.B Tairas yang memiliki segudang prestasi atas apresiasi dalam keilmuan bidang kepustakawanan dan perpustakaan. Dalam sejarah klasifikasi dunia kita mengenal sosok pustakawan di Amhers College, Massachuseets yang bernama Melvillele Louis Kossuth Dewey atau yang lebih dikenal dengan Melville Dewey adalah asisten perpustakaan dari Amerika Serikat yang berkontribusi dalam ilmu perpustakaan ia membantu berdirirnya American Library Association (ALA) pada tahun 1876 dengan menjabat sebagai sekretaris periode 1976-1890. Karya Melville telah menciptakan revolusi bagi dunia ilmu perpustakaan dan informasi dan menjadi titik awal dalam bidang kepustakawanan. Beliau kemudian mendapat sebutan Bapak Kepustakawanan (Father of Modern Librarianship), beliau banyak membantu mendirikan Library Journal dan mempromosikan standariasi perpustakaan dan banyak mendirikan lembaga perpustakaan. Beliau juga menjadi pustakawan di Comombia College pada tahun 1883 dan pendiri sekolah perpustakaan pertama tahun 1887. Melville juga aktif dalam bidang pembinaan perempuan, beliau bersama istri pertamanya, Annie Dewey mengembangkan Club yang berjutuan untuk peningkatan bidang sosial, budaya dan spiritual. Tujuh dekade sesudah kematiannya beliau sampai kini masih sangat dikenal dengan “Deway Decimal Classification”, sebuah skema klasifikasi perpustakaan yang paling banyak dikenal di seluruh dunia.9 Melville Dewey juga yang 8 9 Sulistyo-Basuki.Pengantar Ilmu Perpustakaan.(Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1991)21 http://www.oclc.org/dewey/resources/biography/default.htm diakses pada 8 Desember 2017 12 meneribitkan Dewey Decimal Classification (DDC) edisi pertama dengan judul “ A Classification and Subject Index for a Library”. Terbit pertama kali hanya 42 halaman dan berisi 12 halaman pendahuluan, 12 halaman bagan, dan 18 halaman indeks. Semenjak pertama kali diterbitkan DDC terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan subjek-subjek baru ditambahkan untuk menyesuaikan kebutuhan penggunanya. Keunggulan DDC sampai saat ini masih digunakan di belahan dunia, hal ini karena DDC secara berkala terus menerus dilakukan revisi namun tetap berpedoman pada kebijakan DDC yang terdahulu. Untuk mendukung agar tidak ada perubahan di dalam buku tersebut, ada lembaga yang bertugas untuk mengawasi dan mendukung peneribitan DDC. Lembaga tersebut adaah “ The Lake Placed Education Foundation” dan “ The Library of Congress” berada di Amerika Serikat sebagai sarana komunikasi yang diterbitkan oleh “ Decimal Classification, adition,notes,decisions” (DC). Beberapa hal yang paling mendasar perkembangan sistem klasifikasi DDC adalah penggunaan notasi yang menggunakan angka Arab yang bersifat universal, sehingga mudah dipahami oleh semua orang di dunia. Disamping itu ada satu kekuatan utama DDC ini adalah sistem tersebut terus dikembangkan dan dikelola oleh badan bibliografis nasional yaitu Library of Congress atau yang lebih dikenal dengan Decimal Classification Division, dimana setiap tahun spesialis klasifikasi ini menambahkan lebih dari 110.000 angka DDC dalam cantuman karya yang dikatalog oleh Libray of Congress. Unsur-unsur yang terdapat dalam DDC juga sangat berpengaruh untuk membantu pustakawan dalam mengolah klasifikasi, unsur-unsur tersebut adalah : 1. Sistematika adalah pembagian ilmu pengetahuan yang ditungakan dalam bagan yang lengkap yang dilandaskan pada beberapa prinsip dasar tertentu. 13 2. Notasi adalah serangkain symbol berupa angka, yang mewakili dari serangkaian istilah (subjek tertentu) . dalam bagan. Bagian dan sub bagian dalam bagan memiliki notasi sendiri yang disebut nomor kelas. 3. Indeks relative adalah sejunlah tajuk dengan perincian aspek-aspek yang disusun secara alfabetis dan memberikan petunjuk berupa nomor kelas, yang tercantum dalam indeks pada bagan. 4. Tabel pembantu adalah serangkain notasi khusu yang digunakan untuk menyatakan aspek tertentu yang terdapat dalam beberpa subjek berbebda. Dalam DDC edisi terakhir terdapat 7 tabel pembantu yaitu.  Tabel Subdivisi Standar  Tabel Wilayah  Tabel Subdivisi Kesustraan  Tabel Subdivisi Bahasa  Tel Ras, bangsam kelompok etnis  Tabel Bahasa –bahasa  Tabel Tentang Orang Secara umum DDC membagi pengetahuan kedalam 10 bidang utama, ,masingmasing – masing kelas utama kemudaian dibagi menjadi 10 divisi dan masing-masing divisi dibagi lagi menjadi 10 seksi. Semua nomor klesifikasi adalah 3 digit, seperti 00,150,297 dan sebagainya. Meskipun begitu, DDC masih diperlukan diadakannya pembagian lebih lanjut dari seksi menjadi subseksi, dan dari subseksi menjadi sub seksi dan selanjutnya. Oleh karean itu pola pencarian yang didasarkan pada kelipatan sepuluh inilah yang disebut Klasifikasi Persepuluhan atau Klasifikasi Desimal. Apabila dirincikan dalam tiga digit tersebut, digit pertama mengindikasikan kelas utama, digit kedua divisi dan digit ketiga menginikasikan seksi. contohnya nomor kelas 025,0 adalah kelas utama Generalitas , nomor 2 ditengah mengindikasikan divisi Library and Information Science, dan nomor 5 mengindikasikan seksi Library operations of libraries, archive, information centers. Namun jika lebih spesifik nomor 14 025.43 digunakan untuk mengindikasikan buku tentang Library Classification Systems. 1.3 Perbandingan Pemikiran J.N.B Tairas Dan Melville Dewey Dalam Bidang Klasifikasi Dan Katalogisasi Hasil pemikiran yang dituangkan oleh J.N.B Tairas mengenai Klasifikasi dan Katalogisasi yaitu bukan sekedar atau penyederhanaan dari buku aslinya. Adaptasi dalam buku ini di dasarkan pada edisi lengkap Dewey Decimal Classification yang mutahir (edisi ke 18) yang disusun kembali untuk menyesuaikan kebutuhan perpustakaan Indonesia10. J.N.B Tairas yang meringkas dari DDC Melville Dewey memiliki perbedaan dan persamaan dari hasil pemikirannya. Berikut perbandingan pemikiran kedua tokoh yang dapat dilihat dibawah ini: Tabel 1 Perbedaan Notasi J.N.B Tairas Melville Dewey Dalam Pengantar Klasifikasi Dalam DDC subjek agama Persepuluhan Dewey, disusun Islam atau ilmu-ilmu Islam klasifikasi islam yang lebih hanya mendapat jatah notasi representative dengan 297. mengganti notasi 297 menjadi 2X. Nomor kelas Nomor kelas yang dicantunkan Pada nomor yang terdapat pada pada umumnya tidak lebih bagan (schedule) dan tabel dariada satu angka dibelakang (table) diberikan pilihan untuk titik desimal, meskipun pada menentukan titik berat aspek bagian tertentu diadakan dari koleksi yang tdak terdapat perincian lebih lanjut, yang pada “pilihan yang diberikan” menurut pendapat penyusunan dalam notasi standar. Dalam sesuai 10 dengan kebutuhan beberapa kasus, clasifer Towa Hamakonda, J.N.B Tairas,Pengantar Persepuluhan Dewey ( PT BPK : Gunung Mulia,2009).1 15 perpustakaan di Indonesia dan dianjurkan untuk menyediakan untuk memberikan contoh- notas yang lebih pendek dari contoh yang dirasa perlu dalam aspek tersebut. kepentingan pelajaran klasifikasi. Tabel 2 Persamaan Bagan J.N.B Tairas Semua subjek dasar untuk pada semua Melville Dewey dijadikan Semua bagan disusun untuk semua penyusunan sebjek yang mencakup keseluruhan kelas yang ilmu pengetahuan manusia ke dalam bagiannya diberikan notasi suatu susuanan yang sistematis dan atau simbol tertentu, teratur, yang umumnya terdiri dari sehingga subjek yang sama sejumlah kelas utama yang masingdapat dikumpulkan pada masing diperinci lagi menjadi satu tempat. Simbol yang bagian-bagian yang lebih kecil lagi, dipakai berupa angka, huruf menurut aturan logis yang biasanya atau kombinasi dari angka bersifat umum pada sifat khusus. dan huruf. Bagan DDC terdiri dari kelas utana, divisi, seksi, subseksi dan masih dapat diperinci lagi. Unsur – unsur Klasifikasi menggunakan Penyusunan 16 klasifikasi harus pokok DDC DDC dapat melalui indeks dilakukan memiliki tertentu relative, sebagai persyaratan bagi system langsung pada bagan atau klasifikasi skema klasifikasi dengan sistematika, memperhatikan unsur-unsur yang baik, notasi, seperti indeks instruksi relative,dan tabel pembantu. yang terdapat dalam bagan, penambahan tabel pembantu dan penambahan dari bagan lain DDC. Berdasarkan tabel di atas, dapat dianalisis bahwa pemikiran kedua tokoh tersebut terdapat perbedaan dan persamaan. Dari segi perbedaan terdapat beberapa pemikiran yang berbeda dari keduanya walaupun keduanya sama-sama pakar klasifikasi dan katalogisasi. Pertama, pemikiran J.N.B Tairas tentang perubahan notasi 297 menjadi 2X. Hal ini perlu diketahui bahwa subjek agama Islam atau ilmuilmu keislaman dalam DDC hanya mendapat jatah notasi 297 dengan semua unsurunsurnya. Oleh karena itu para ahli (kalangan umat Islam) jatah ini dianggap kurang memberikan tempat yang wajar. Hal ini mendorong paa ahli untuk memperluas DDC seksi Islam dengan tetap mengacu pada prinsip-prinsip DDC aslinya. Setelah melalui berbagai persetujuan akhirnya dapat disusun klasifikasi Islam yang memiliki nilai resprentatif dengan menggantui 297 menjadi 2X. Sedangkan Melville Dewey mengkatagorikan DDC subjek agama Islam hanya mendapat jatah notasi 297. Kedua, J.N.B Tairas menyebutkan bahwa nomor kelas yang dicantumkan tidak lebih dari satu angka di belakang titik desimal, meskipun pada bagian tertentu diadakan perincian lebih lanjut. Sedangkan Melville Dewey mengatakan bahwa pada nomor terdapat pada bagan bagan (schedule) dan tabel (table) diberikan pilihan untuk 17 menentukan titik berat aspek dari koleksi yang tdak terdapat pada “pilihan yang diberikan” dalam notasi standar. Bagan (schedule) dan tabel (table) diberikan pilihan untuk menentukan titik berat aspek dari koleksi yang tdak terdapat pada “pilihan yang diberikan” dalam notasi standar. Setelah melihat beberapa perbedaan diatas maka terdapat segi persamaan dalam pemikiran kedua tokoh tersebut. Pertama, keduanya sepakat bahwa dalam proses klasifikasi semua subjek dapat dijadikan dasar dalam penyusunan pada semua kelas yang bagiannya diberikan notasi atau symbol tertentu, yang umumnya terdiri dari sejumlah kelas utama yang masing-masing diperinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Kedua, penyusunan klasifikasi harus sesuai petunjuk dan harus memiliki unsur-unsur tertentu sebagai persyaratan bagi sistem klasifikasi yang baik, seperti sistematika, notasi, indeks relative,dan tabel pembantu. Jadi berdasarkan pemikiran kedua tokoh tersebut terdapat kontribusi yang sangat dalam dengan ilmu perpustakaan, sejauh ini kedua tokoh tersebut telah membuktikan bahwa yang namanya klasifikasi dan katalogisasi sangat penting dilakukan dalam pengolahan bahan pustaka di perpustakaan. Masih tentang J.N.B Tairas yang mengadaptasi DDC Melville Dewey hal ini karena beberapa asalasan, pertama adopsi DDC ini bertujuan untuk melengkapi pelajaran klasifikasi yang diberikan pada berbagai penataran perpustakaan, kedua buku “Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey “ ini diadaptasi sesuai dengan kebutuhan perpustakaan di Indonesia dan ketiga, buku ini bisa dijadikan pedoman bagi perpustakaan yang tidak terlalu besar, seperti perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum. 18 BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Berdasarkan pemaparan tentang pemikiran J.N.B Tairas dan Melville Dewey dapat disimpulkan bahwa : 1. J.N.B Tairas adalah seorang dosen senior Ilmu Perpustakaan di Universitas Indoensia yang memiliki penghargaan sebagai pustakawan berprestasi dalam bidang klasifikasi dan katalogisasi Indonesia. Beliau juga tercatat sebagai tokoh yang memiliki karya dan prestasi yang cemerlang dalam kancah nasional dan internasional dalam bidang ilmu perpustakaan. Beliau mengarang buku dengan judul “ Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey” edisi pertama,buku ini adalah adaptasi dari buku “Klasifikasi Persepuluhan Dewey” yang di perkenalkan oleh Melville Dewey. Buku ini digunakan untuk bahan ajar mahasiswa perpustakaan Indonesia dalam menentukan klasifikasi dan tajuk subjek, sampai saat ini pun buku tersebut masih digunakan dalam perpustakan sekolah, perguruan tinggi dan umum. Sedangkan Melville Dewey dikenal dengan sebutan Bapak Kepustakawanan (Father of Modern Librarianship), beliau banyak membantu mendirikan Library Journal dan mempromosikan standariasi perpustakaan dan banyak mendirikan lembaga perpustakaan. Beliau juga menjadi pustakawan di Comombia College pada tahun 1883 dan pendiri sekolah perpustakaan pertama tahun 1887. Beliau juga pernah menjadi asisten perpustakaan dari Amerika Serikat yang berkontribusi dalam ilmu perpustakaan ia membantu berdirirnya (Ala) pada tahun 1876 dengan menjabat sebagai sekretaris periode 1976-1890. 2. Adapun pemikiran-pemikiran kedua tokoh J.N.B Tairas dan Melville Dewey sangat berpengaruh dalam kontribusi ilmu perpustakaan, khususunya klasifikasi 19 dan katalogisasi. J.N.B Tairas. Kontribusi dan sumbangan pemikiran-pemikiran J.N.B Tairas yang paling mewarnai dunia perpustakaan adalah saat beliau menjabat sebagai Chief Cataloger dan editor dari Library of Congres Accession List11. Selain itu beliau juga bekerja sebagai pustakawan pada The Library of Congres Acquisition Office di Jakarta pada tahun 1964-1975. Pada tahun 1977, beliau juga menyusun buku pedoman klasifikasi dan katalogisasi yang berjudul “ Pedoman Tajuk Subjek Untuk Perpustakaan Umum dan Sekolah”, yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan kontribusi Melville Dewey beliau banyak membantu mendirikan Library Journal dan mempromosikan standariasi perpustakaan dan banyak mendirikan lembaga perpustakaan. Beliau juga menjadi pustakawan di Comombia College pada tahun 1883 dan pendiri sekolah perpustakaan pertama tahun 1887. Tujuh dekade sesudah kematiannya beliau sampai kini masih sangat dikenal dengan “Deway Decimal Classification”, sebuah skema klasifikasi perpustakaan yang paling banyak dikenal di seluruh dunia.12 3. Jika dilihat dari latar belakang pendidikannya dan pekerjaannya kedua tokoh tersebut dapat dikatagorikan sebagai ahli dalam bidang klasifikasi. Meskipun saat ini perkembangan zaman sudah maju, namun jika kita lihat sekarang buku tersebut masih banyak digunakan perustakaan umum, sekolah dan perguruan tinggi. Pustakawan masih menggunakan dan berpedoman pada DDC dan buku Klasifikasi dan Persepuluhan Dewey karena dianggap tetap relevan digunakan untuk perpustakaan. Semua buku Kalasifikasi yang ditulis oleh Melville Dewey dan diadopsii oleh J.N.B Tairas,jika diaplikasikan secara terperinci dalam proses klasifikasi dan katalogisasi di perpustakaan, maka akan membantu meringankan pekerjaan katalogisasi bahan pustaka. Selain itu juga dapat 11 Library of Congres Accession List adalah salah satu dalam pembuatan bibliografi dari bahan pustaka terbitan Indonesia yang dikumpulkan oleh The Library of Congres Acquisition Office Jakarta, yang selanjutnya dikirim ke Amerika lengkap dengan anotasi bahasa Inggris. 12 http://www.oclc.org/dewey/resources/biography/default.htm diakses pada 8 Desember 2017 20 memberikan kontribusi terhadap perkembangan perpustakaan saat ini dan masa yang akan mendatang. 21 Daftar Pustaka Hasugian, Jonner, J.N.B .2003 ,“Tairas Tokoh Katalogisasi dan Klasifikasi Indonesia : Kajian Singkat Dari Sisi Kepustakawanannya” . USU Digital Library terdapat di http://library.usu.ac.id/download/lib/perpus-jonner3.pdf Sulistyo-Basuki.1991 ,“Pengantar Ilmu Perpustakaan”. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama Hamakonda Towa dan J.N.B Tairas.2009 ,”Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey”. Jakarta : BPK Gunung Maulia. http://www.oclc.org/dewey/resources/biography/default.htm diakses pada 8 Desember 2017 22

Judul: Kontribusi Tokoh Jnb Tairas Dan Melvil Dewey Dalam Ilmu Perpustakaan

Oleh: Ardhina Pratiwi

Ikuti kami