Makalah Dasar-dasar Ilmu Tanah Disusun Oleh Siti Nur Hasanah

Oleh Siti Nurhasanah

398,7 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Dasar-dasar Ilmu Tanah Disusun Oleh Siti Nur Hasanah

MAKALAH Dasar-Dasar Ilmu Tanah Pemanfaatan Tanah Bekas Tambang Batubara dengan Pupuk Hayati Mikoriza Sebagai Media Tanam Jagung Manis Dosen Pengampu: Nanang Ardiansyah, SPt, Msi. Disusun Oleh: Bima Oktaviyanto Nur Rahmawati A.E. Siti Nur Hasanah Agus Mariani Indra Lesmana SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN BERAU TAHUN AKADEMIK 2015/2016 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan makalah ini dapat dirampungkan. Penulisan makalah merupakan salah satu tugas umum yang diberikan oleh setiap dosen pengampu mata kuliah, salah satunya adalah mata kuliah Ilmu Tanah. Dengan tugas tersebut, apabila dikerjakan dengan keseriusan, kejujuran, dan ketekunan, maka akan melatih Mahasiswa belajar mandiri, penuh tanggung jawab, dan dapat memerkaya khazanah Mahasiswa yang bersangkutan. Akhirnya, tiada gading yang tak retak dan tiada besi yang tidak berkarat meskipun penyusunan makalah ini sudah rampung, tetapi bukan berarti sudah sempurna. Dengan demikian, saya mengharapkan kritik dan saran yang konstuktif dari bebagai pihak agar penyusunan makalah berikutnya tambah lebih baik daripada sekarang. Penyusun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bekas galian tambang batubara yang terbengkalai dapat dimanfaatkan sebagai tempat pertanian untuk beberapa jenis tanaman dan sebagai tempat budidaya ikan. Hal ini akan sangat meguntungkan masyarakat sekitar. Umumnya areal bekas timbunan batubara dalam beberapa tahun memang sulit ditumbuhi vegetasi, tetapi dengan kemajuan bidang bioteknologi tanah tersebut mampu ditingkatkan. Bekas galian batubara jika diketahui cara memanfaatkannya dapat memberikan keuntungan ekonomis bagi pengelolanya. Tanah bekas galian batubara dapat dipergunakan untuk kegiatan pertanian. Saat ini lahan untuk pertanian semakin menyempit sedangkan permintaan akan hasil pertanian semakin tinggi. Lahan pertanian yang menyempit disebabkan oleh adanya alih fungsi lahan dari pertanian menjadi lahan non-pertanian seperti aktivitas pertambangan batubara. Kegiatan pertambangan dapat memberikan keuntungan ekonomis dan dampak yang buruk bagi lingkungan dan ekosistem tanah. Tanah sisa galian pertambangan batubara terdiri dari sisa batubara (batubara muda) dan batuan-batuan. Tanah galian batubara umumnya tersusun terbalik dari susunan awalnya. Tanah lapisan atas (top soil) berada di bawah tanah lapisan bawah (sub soil). Umumnya bahan-bahan ini ditumpuk diatas tanah tanah yang produktif sehingga menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan produktivitas tanah. Dalam beberapa tahun pertama areal bekas pertambangan batubara sulit untuk ditumbuhi vegetasi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu tanah yang terlalu padat, struktur tanah tidak mantap, aerasi dan drainase tanah buruk, serta tanah yang lambat meresapkan air. Terdapat pula kendala kimia seperti pH yang sangat masam, tingginya kadar garam, dan rendahnya tingkat kesuburan tanah (Margaretha: 2010:1). Untuk mengembalikan kualitas tanah diperlukan adanya sistem pertanian ekologis terpadu yang ramah lingkungan. Pengembangan pertanian ini didukung oleh kemajuan dalam bidang bioteknologi yaitu dengan pemanfaatan pupuk hayati. Pupuk hayati yang sering digunakan dalam rehabilitasi lahan bekas pertambangan adalaha mikoriza. Mikoriza adalah bentuk simbiosis mutualisme antara jamur dan akar tanaman tingkat tinggi. Mikoriza dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas tanah serta memepertahankan kualitas tersebut sehingga dapat menaikkan kualitas vegetasi yang ditanam. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengaruh jumlah inokulan cendawan mikoriza terhadap kolonisasi dan derajat infeksi mikoriza pada akar jagung manis ? 2. Bagaimana pertumbuhan tanaman jagung manis dengan media tanaman lahan bekas timbunan galian tambang batubara ? C. Tujuan Masalah Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah inokulan cendawan mikoriza terhadap kolonisasi dan derajat infeksi mikoriza pada akar jagung manis serta beberapa sifat kimia tanah dan pertumbuhan tanaman jagung manis dengan media tanaman lahan bekas timbunan galian tambang batubara. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pemanfaatan Tanah Bekas Tambang Batubara Upaya peningkatan produktivitas sektor pertanian menjadi sangat penting karena permintaan hasil yang semakin tinggi. Disisi lain penyempitan lahan pertanian selalu terjadi disebabkan karena adanya alih fungsi lahan dari pertanian menjadi lahan non-pertanian diantaranya disebabkan kegiatan aktivitas pertambangan (batubara, minyak bumi, emas, timah, dan lain-lain). Secara umum kegiatan pertambangan seperti tambang batubara dapat memberikan keuntungan ekonomis namun juga dapat menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem tanah. Beberapa kendala fisik yang dihadapi dalam upaya reklamasi tanah bekas penambangan batubara yakni: tanah terlalu padat, struktur tanah tidak mantap, aerasi dan drainase tanah jelek, serta lambat meresapkan air. Simarmata (2005) menyebutkan salah satu strategi dan upaya yang ramah lingkungan untuk mengembalikan vitalitas (kualitas dan kesehatan) tanah adalah dengan sistem pertanian ekologis terpadu. Pengembangan pertanian ekologis ini didukung dengan kemajuan dalam bidang bioteknologi tanah yang ramah lingkungan, yaitu pemanfaatan pupuk hayati (biofertilizers).Pupuk hayati yang sering digunakan dalam rehabilitasi lahan bekas pertambangan adalah mikoriza. Mikoriza merupakan suatu bentuk simbiosis mutualisme antara jamur dan akar tanaman tingkat tinggi. Dimana jamur mendapatkan keuntungan dari suplai karbon (C) dan zat-zat essensial dari tanaman inang dan tanaman inang mendapatkan berbagai nutrisi, air, dan proteksi biologis (Turjaman et al., 2005). Mikoriza memiliki peranan yang sangat penting untuk melindungi tanaman dari serangan patogen, dan kondisi tanah dan lingkungan yang kurang kondusif seperti: pH rendah, stress air, temperatur ekstrim, salinitas yang tinggi, dan tercemar logam berat (Brundret et al.,1996). Hasil berbagai penelitian pada lahan marjinal di Indonesia menunjukkan bahwa aplikasi pupuk biologis seperti mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan berbagai tanaman (Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Tomat, Padi, dan tanaman lainnya) dan ketersediaan hara bagi tanaman antara 20 hingga 100% (Simarmata dan Herdiani, 2004). Tanaman jagung sendiri merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dijadikan objek dalam penelitian mengenai mikoriza. Menurut Simanungkalit (2004) dosis mikoriza yang dianjurkan dalam budidaya tanaman jagung adalah sebanyak 50 g spora/ pot. B. Mikoriza Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) C. Pemanfaatan Mikoriza Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas, 1997). 1. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Setelah periode kekurangan air (water stress), akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas, 1997). 2. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya, sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Dilain pihak, cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas,1997). 3. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti, sitokinin dan giberalin. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas, 1997). Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin, citokinin, dan giberalin, yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. 4. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor, 40% kebutuhan nitrogen, dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz, 1981 dalam Husin dan Marlis, 2000). 5. Perbaikan Struktur Tanah Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Menurut Hakim, et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme, seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya. 6. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting, yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P, dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza, khususnya pada tanah yang miskin P. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA, meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). 7. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis (Bioremediasi Tanah Tercemar) Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. BAB III PEMBAHASAN DAN HASIL A. Hasil Analisis Sifat Fisika dan Kimia Tanah Sisa Galian Tambang Batubara Dari tabel 1 menunjukkan bahwa media tanam yang digunakan dalam penelitian ini memiliki sifat kimia yang miskin unsur hara. Hal ini dapat dilihat dari pH tanah yang sangat masam, yang merupakan salah satu indikator kesuburan tanah. Karena sifat pH tanah mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan sifat kimia tanah yang lain, seperti ketersediaan hara terutama hara makro (unsur P dan K) dan kation seperti Al. 1. C-Organik Tabel 1 menunjukkan tingginya kadar C di dalam tanah yaitu sebesar 17,14 %, namun hal ini bukan merupakan indikator kesuburan tanah, karena C yang tinggi ini diduga berasal dari serpihan batubara muda. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya nisbah C/N yaitu sebesar 41,80, yang menunjukkan bahwa proses dekomposisi bahan organik tanah belum berlangsung sempurna. Kandungan C-organik dalam tanah lahan bekas pertambangan dapat dikategorikan sangat rendah. Hal ini menunjukan bahwa secara langsung kandungan bahan organik tanah tersebut sangat rendah juga. Rendahnya kandungan C-Organik tanah ini, menyebabkan perlunya penambahan bahan organik ke dalam media tanam. Dengan meningkatnya kandungan bahan organik diharapkan dapat meningkatkan aktivitas mikrob tanah sehingga komunitas mikrob di rhizosfer semakin meningkat. 2. Nitrogen (N-Total) Kandungan N (nitrogen) pada tabel 1 adalah 0,41 %, termasuk kriteria sedang dibandingkan nilai N standar hasil analisis kimia tanah menurut Lembaga Penelitian Tanah (1980) yaitu 0.22-0.51. Juga berkriteria sedang dibandingkan kandungan N di bawah tegakan hutan alam AekNauli yaitu 0,37% (Sembiring et al.,2000). 3. P tersedia (ppm) Kandungan P tersedia (ppm) adalah 6.16 termasuk kriteria sangat rendah. Hal ini mengakibatkan tanaman yang kekurangan unsur P akan mengalami gejala pembentukan buah atau biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan (kurang sehat). 4. Aluminium Dapat Ditukar (Al-dd) Kandungan aluminium dapat ditukar (Al-dd) adalah 4,25 me/100 gr, sangat rendah dibandingkan standar analisis kimia tanah menurut Lembaga Penelitian Tanah (1980) yaitu 5 me/ 100 gr. Kejenuhan Al dipengaruhi oleh KTK dan juga dipengaruhi oleh tekstur, semakin kasar tekstur tingkat kebahayaan Al semakin tinggi (Rosmarkam dan Yuwono, 2002). Dwidjoseputro (1983) berpendapat keracunan Al pada tanaman umumnya terlihat pada daun kuning kurus, pucuk tidak tumbuh normal, dan tanaman agak pucat. 5. Kalium Dapat Ditukar (K-dd) Kandungan K (K-dd) adalah 0,26 me/100 gr, termasuk kriteria rendah dibandingkan standar analisis kimia tanah menurut Lembaga Penelitian Tanah (1980) yaitu berkisar antara 0,1-0,3 me/ 100 gr. Hal ini dapat dilihat dari nilai KTK yang tinggi sehingga menyebabkan rendahnya kandungan Kalium. Apabila kandungan K-dd rendah maka dapat menyebabkan akar-akar menjadi busuk dan menstimulasi absorbsi hara besi dalam jumlah yang terlalu banyak, sehingga tanaman menjadi sakit akibat keracunan besi. Tanaman-tanaman yang sakit, daun-daunnya berwarna kekuning-kuningan sampai jingga dengan bintik-bintik coklat. Dalam keadaan lebih lanjut daun-daun tersebut berwarna coklat yang akhirnya menjadi kering (M.Ismunadji, dkk.1979) 6. KTK (Kapasitas Tukar Kation) Tanah dengan tekstur halus (liat berdebu) menunjukkan tingginya aktivitas kimia, yang ditandai dengan tingginya KTK yaitu sebesar 38,10 me/100 gr. Hal ini disebabkan muatan negatif bergantung pH yang sebagian besar dari gugus karboksil dan gugus hidroksil dari fenol (Driessen dan Soepraptohardjo, 1974). Tingginya nilai KTK pada tanah ini bukanlah indikasi bagusnya kesuburan tanah, karena reaksi tanah sangat masam sehingga diduga ion yang mendominasi kompleks jerapan adalah ion H +¿¿ . Reaksi tanah yang sangat masam menyebabkan rendahnya ketersediaan hara makro seperti N, P, dan K yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan tanaman. 7. pH H 2O Mengacu pada nilai pH di tabel 1 menunjukan bahwa pH tanah dari beberapa bekas pertambangan dikategorikan sangat masam sebagai akibat +¿¿ adanya mineral pirit (Fe S2) yang dapat teroksidasi menghasilkan ion H 2−¿ ¿ dan SO 4 seperti dalam reaksi : 4 Fe S2 + 15 O2 + 2 H 2O Fe S2 + 15/4 O2 + 7/2 H 2O 2−¿ ¿ +¿¿ 4 Fe3 +¿¿+ 8 SO 4 +4H atau +¿¿ 2−−¿¿ Fe(OH ¿ ¿3 + 2 SO 4 + 4H ¿ Terbentuknya ion SO 2−¿ dan H +¿¿ tersebut menyebabkan pH tanah 4 menjadi masam, sehingga perlu ada upaya untuk menetralkan pH tanah tersebut agar dapat dijadikan sebagai lahan yang berguna (Lakitan dan Gofar, 2013). Pemberian bahan organik merupakan salah satu contoh untuk menetralkan pH tanah yang masam tersebut (Kaderi, 2004). B. Jumlah Kolonisasi dan Persentase Infeksi pada Berbagai Takaran Inokulan Mikoriza Tabel 2. Jumlah kolonisasi dan persentase infeksi pada berbagai takaran inokulan Mikoriza Kolonisasi Mikoriza Perlakuan Infeksi CMA (%) (Spora 50 g-1 tanah) A 17,25 0 B 20,25 1,50 C 30,75 4,50 D 16,25 6,75 E 14,75 28,75 F 6,25 21,75 Dari tabel 2 diatas menunjukkan, bahwa : 1. kolonisasi tertinggi diperoleh pada perlakuan C (100 g pot −1 dengan jumlah koloni rhizosfer sebesar 30,75 spora 50 g−1 tanah 2. kolonisasi terendah diperoleh pada perlakuan F (250 g pot −1) dengan jumlah koloni pada rhizosfer sebesar 6,25 spora 50−1 g tanah. 3. infeksi mikoriza tertinggi pada akar tanaman diperoleh pada perlakuan E(200 g pot −1) dengan persentase infeksi sebesar 28,75%. C. Hal ini memperlihatkan bahwa peningkatan takaran inokulan mikoriza dapat meningkatkan persentase infeksi akar. Namun, peningkatan infeksi pada akar ini tidak sejalan dengan kolonisasi pada rhizosfer tanaman. Pada perlakuan B dan C menunjukkan koloni di daerah rhizosfer lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan lain, sehingga infeksinya pada perakaran tanaman jagung justru lebih sedikit. Hal ini diduga karena lingkungan tumbuh yang tidak mendukung perkembangan spora mikoriza. Kandungan karbon aktif yang tinggi menyebabkan kekahatan unsur P dan K pada media tanam yang merupakan faktor penghambat perkembangan spora mikoriza. Selanjutnya disebutkan oleh Simarmata (2004) mikoriza mengambil berbagai nutrisi dari dalam tanah untuk perkembangan hidupnya, terutama C organik dari dalam tanah. Delvian (2004) menyebutkan bahwa inokulum yang berlimpah bukanlah faktor penentu keberhasilan asosiasi cendawan mikoriza dan perakaran. Ditambahkan oleh Sleverding (1991) bahwa O2, CO 2, kelembaban, suhu, status hara tanah, dan sumber hara berpengaruh pada perkecambahan spora mikoriza. Pengaruh Mikoriza Terhadap pH Tanah, N-total Tanah, P Tersedia, Corganik Tanah Tabel 3. Pengaruh mikoriza terhadap pH tanah, N-total tanah, P tersedia, C-organik tanah. Perlakuan A B C D E F pH H 2O 3,65 3,56 3,51 3,54 3,58 3,52 a a a a a a N-total (%) 0,427 a 0,428 a 0,434 a 0,436 a 0,429 a 0,440 a P- tersedia (ppm) 19,95 a 25,27 b 24,93 b 15,62 a 23,61 b 29,56 b C-organik (%) 12,33 ab 14,57 b 12,64 ab 11,29 a 11,39 a 11,13 a 1. pH H 2O Pada Tabel 3 menunjukkan inokulasi Mikoriza belum memberikan pengaruh nyata terhadap pH tanah. Hal ini disebabkan adanya asam-asam organik akibat kegiatan jasad mikro. Adanya asam-asam organik ini terlihat dari turunnya kadar C/N ratio tanah setelah perlakuan bila dibandingkan dengan kadar C/N ratio tanah pada awal penelitian yang mencapai angka 41,80. Adanya penurunan kadar C/N ratio ini mengindikasikan bahwa telah terjadi proses dekomposisi bahan organik pada media tanam, yang selanjutnya akan menghasilkan asam-asam organik. Selanjutnya ditambahkan oleh Simarmata (2004) bahwa akar tanaman menghasilkan asam organik atau zat asam arang sebagai hasil pernapasan. 2. N total (%) Tabel 3 menunjukkan bahwa penginokulasian mikoriza dapat meningkatkan kandungan N total tanah dibandingkan kontrol. Kandungan N total tertinggi diperoleh pada pelakuan F (250 g pot −1) yaitu sebesar 0,44% dan semakin rendah pada perlakuan D, C, E, B, dan A. Namun secara statistik penginokulasian mikoriza tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan N total tanah. 3. P- tersedia (ppm) Ketersediaan P tanah meningkat secara signifikan dengan peningkatan jumlah inokulan Mikoriza yang diberikan. Efektivitas mikoriza dalam meningkatkan ketersediaan P pada tanah marginal telah banyak dilaporkan, hal yang sama juga dibuktikan oleh Margarettha (2007) dimana pemberian inokulan Mikoriza 100 g pot −1meningkatkan ketersediaan P menjadi 75,21 ppm. 4. C-organik (%) Pada Tabel 3 terlihat adanya pengaruh inokulasi Mikoriza terhadap kandungan C-organik tanah. Dimana perlakuan B (100 g pot −1) memberikan kandungan C-organik tertinggi sebesar 14,57 % dan diikuti oleh perlakuan C, A, E, D, dan F. Secara keseluruhan, kandungan C-organik pada penelitian ini masih sangat tinggi, namun bukan merupakan indikator kesuburan tanah, diduga merupakan sisa dari batubara yang masih muda. Kandungan karbon yang tinggi, pada kondisi pH yang rendah menunjukkan bahwa karbon yang terdapat dalam media tanam berupa karbon aktif yang berasal dari serpihan batubara muda. Penurunan kadar karbon ini diduga disebabkan oleh kegiatan dekomposisi bahan organik yang sudah mulai berjalan. Hal ini terlihat dari turunnya nisbah C/N ratio tanah bila dibandingkan dengan perlakuan kontrol. D. Rata-Rata Pengaruh Mikoriza Terhadap Tinggi dan Berat Kering Tanaman Tabel 4. Rata-rata pengaruh Mikoriza terhadap tinggi dan berat kering tanaman Perlakuan A B C D E F 1. Tinggi Tanaman (cm) Tinggi Tanaman (cm) 54,30 34,58 45,58 53,85 62,15 67,93 Berat Kering (g) 14,65 4,43 11,33 11,93 8,15 12,05 Tabel 4 diatas menunjukkan bahwa penginokulasian mikoriza dapat meningkatkan pertambahan tinggi tanaman. Inokulasi Mikoriza sebesar 250 g −1 pot (F) memberikan pertambahan tinggi tanaman tertinggi yaitu sebesar 67,93 cm, dan semakin menurun secara tidak berurutan pada perlakuan E, D, A, C, dan B. 2. Berat Kering (g) Penginokulasian Mikoriza juga dapat meningkatkan berat kering tanaman, kecuali pada perlakuan E. Berat kering tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan F (250 g pot −1) yaitu sebesar 12,05 g dan semakin rendah pada perlakuan D, C, E, dan B. E. Hasil Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Selanjutnya disebutkan oleh Simarmata (2004) mikoriza mengambil berbagai nutrisi dari dalam tanah untuk perkembangan hidupnya, terutama Corganik dari dalam tanah. Gunawan (1993) menambahkan bahwa vesikula mikoriza cenderung menurun pada ketersediaan karbon yang terbatas. Delvian (2004) menyebutkan bahwa inokulum yang berlimpah bukanlah faktor penentu keberhasilan asosiasi cendawan mikoriza dan perakaran. Ditambahkan oleh Sleverding (1991) bahwa O2, CO2, kelembaban, suhu, status hara tanah, dan sumber hara berpengaruh pada perkecambahan spora mikoriza. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Subiksa (2004) bahwa efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara, pH, kadar air, temperatur, pengolahan tanah, dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial, spesies cendawan, tanaman inang, tipe perakaran tanaman inang, dan kompetisi antar cendawan). Iriani (2004) menyebutkan bahwa pada tanah dengan kandungan unsur P alam rendah, secara teoritis mempunyai kandungan cendawan indigen yang mampu berasosiasi dengan akar tanaman yang tumbuh disekelilingnya, karena tingkat kolonisasi mikoriza adalah berbanding terbalik dengan tingkat ketersediaan P dalam tanah. BAB IV SIMPULAN A. Ringkasan Isi Pemberian mikoriza dapat mempengaruhi kolonisasi mikoriza pada rhizosfer, derajat infeksi akar, C-organik, P tersedia dan tinggi tanaman, namun belum berpengaruh terhadap pH tanah, N-total tanah, dan berat kering tanaman. Pemberian mikoriza pada takaran 200 g pot −1 memberikan pengaruh tertinggi terhadap derajat infeksi akar, dan perlakuan 100 g pot −1memberikan pengaruh tertinggi terhadap kolonisasi mikoriza di rhizosfer tanaman jagung manis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung. DAFTAR PUSTAKA Delvian. 2004 . Aplikasi Cendawan Mikoriza Arbuskula dalam Rekalmasi Lahan Kritis Pasca Tambang. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan. 21 Hal Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jambi. 2003. Laporan Akhir Tahun. Jambi. Iriani, Farida. 2004. Identifikasi Cendawan Mikoriza serta Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Stek Tebu yang ditanam pada Media Bekas Pertanaman Padi Gogo dan Ubikayu Bermikoriza Dalam Prosiding Teknologi Produksi dan Pemanfaatan Inokulan Endo-ektomikoriza untuk Pertanian, Perkebunan, dan kehutanan. Asosiasi Mikoriza Indonesia-Jawa Barat. Bandung. Hal 49-54. Gofar, Nuni. 2003. Reaksi Tanah, P tersedia, Pertumbuhan Tanaman Padi Gogo pada Ultisol yang Diinokulasi dengan CMA, BPF, dan Kompos Jerami Padi. Dalam Prosiding Teknologi Produksi dan Pemanfaatan Inokulan Endo-ektomikoriza untuk Pertanian, Perkebunan, dan kehutanan. Asosiasi Mikoriza Indonesia-Jawa Barat. Bandung. Hal 86-102. Gunawan, Agustin Widya. 1993. Bahan Pengajaran Mikoriza Arbuskula. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 174 Hal. Margarettha. 2007. Peranan Cendawan Mikoriza terhadap Ketersediaan P, Kolonisasi Minoriza serta Hasil Jagung pada Ultisol. Makalah pada Ekspose dan Seminar Nasional PENNAS, Sembawa Sumatera Selatan, Juli 2007. Turjaman, Maman., Yana Sumarba. Winarto. Erdy Santoso. 2005. Prospek Aplikasi Teknologi Cendawan Ektomikoriza (ECM) untuk Mempercepat Rehabilitasi Hutan dan Lahan Tergredasi. Seminar Nasional dan Workshop Cendawan Mikoriza. Universitas Jambi. Jambi. 19 Hal. Sihaloho, EL. 1999. Pengaruh Mikoriza Vesikular Arbuskular dan Kaptan Super Fosfat Terhadap ketersediaan P, Konsentrasi P Daun, dan Hasil Jagung (Zea Mays) pada Ultisol. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Jambi. 51 Hal. Simanungkalit, RDM. 2004. Teknologi Cendawan Mikoriza Arbuskula: Produksi Inokulan dan Pengawasan Mutunya. Dalam Prosiding Teknologi Produksi dan Pemanfaatan Inokulan Endo-ektomikoriza untuk Pertanian, Perkebunan, dan kehutanan. Asosiasi Mikoriza Indonesia-Jawa Barat. Bandung. Hal 7-17. Simarmata, T. Reginawati,H. Mieke,RS. Betty,RF. Pujawati Suryatmana. Yuyun Sumarni. D.H. Arief.2004. Strategi Pemanfaatan Pupuk Hayati CMA dalam Revitalisasi Ekosistem Lahan Marginal dan Tercemar. Dalam Prosiding Workshop Produksi Inokulan Cendawan Mikoriza Arbuskula. Asosiasi Mikoriza Indonesia-Jawa Barat. Bandung. Hal 1-33. Simarmata,T. 2004. Pemanfaatan Pupuk Hayati CMA dan Kombinasi Pupuk Organik dengan Biostimulan untuk Meningkatkan Kolonisasi Mikoriza, Serapan Hara P, dan Hasil Tanaman Kedelai Pada Ultisol. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Agroland. Volume 11. ____________ . 2005. Revitalisasi Kesehatan Ekosistem Lahan Kritis dengan Memanfaatkan Pupuk Biologis Mikoriza dalam Percepatan Pengembangan Pertanian Ekologis di Indonesia. Seminar Nasional dan Workshop Cendawan Mikoriza. Universitas Jambi. Jambi. 18 Hal. Sitorus, M. Pengaruh Pemberian Batu Fosfat Alam dan Mikoriza Vesikular Arbuskular Terhadap Ketersediaan dan Konsentrasi P daun Jagung pada Ultisol. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Jambi. 38 Hal. Subiksa. 2002. Pemanfaatan Mikoriza untuk Penanggulangan Lahan Kritis. http://timoutou.net/ 702_04212/igm_subiksa (diakses Februari 2007). Surya, MA. R Budiasih. Nur Ikhsan. 2004. Pemanfaatan Tumbuhan Tahan Kekeringan sebagai Inang Cendawan Mikoriza Arbuskula. Dalam Prosiding Teknologi Produksi dan Pemanfaatan Inokulan Endoektomikoriza untuk Pertanian, Perkebunan, dan kehutanan. Asosiasi Mikoriza Indonesia-Jawa Barat. Bandung. Hal 111-113. Tala’ohu, SH. Moersidi, S. Sukristiyorubowo. Gunawan. 1995. Sifat Fisiko Kimia Tanah Timbunan Tambang Batubara (PTBA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Dalam Prosiding Pertemuan pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bidang Konservasi Tanah dan Air, serta Agroklimat. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor. Hal 39-47. Tala’ohu, SH. 1999. Reklamasi Areal Timbunan Pasca Penambangan Batubara Suatu Peluang dan Kendala. Dalam Prosiding Kongres Nasional VII HITI, Komisi Fisiska, Mekanika, dan Konservasi Tanah. Bandung. Hal 47-49. Setiadi, Y. 2004. Arbuscular Mycorrhizal Inoculum Production. Dalam prosiding Teknologi Produksi dan Pemanfaatan Inokulan Endo Ektomikoriza untuk Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan. Asosiasi Mikoriza Indonesia-Jawa Barat. Bandung. Hal 18-31. Wiryono. 2006. Pengaruh Pemberian Serasah dan Cacing Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala Lam De aWit) dan Turi (Sesbania grandiflora) pada Media Tanam Tanah Bekas Penambangan Batubara. Dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 8 No. 1.

Judul: Makalah Dasar-dasar Ilmu Tanah Disusun Oleh Siti Nur Hasanah

Oleh: Siti Nurhasanah

Ikuti kami