Teori Ekonomi Bisnis Internasional Makalah Bisnis Internasional

Oleh Tri Mugiarti

458,6 KB 11 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Teori Ekonomi Bisnis Internasional Makalah Bisnis Internasional

TEORI EKONOMI BISNIS INTERNASIONAL Makalah Bisnis Internasional Dosen Pengampu: Friztina Anisa, S.E., MBA. Disusun Oleh : Kelompok 5 Dhwan Fasya N.H Ayuk Puji R. Novia Nur A. Denia Larasati Ulfa Chanifah Tri Mugiarti Arif Zulfikar 15.0102.0014 15.0102.0040 15.0102.0043 15.0102.0051 15.0102.0060 15.0102.0065 15.0102.0068 FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI AKUNTANSI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG 2017 BAB I PENDAHULUAN Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional telah terjadi selama ribuan tahun, dampaknya terhadap kepentingan ekonomi, social dan politik baru dirasakan beberapa abad belakangan. Perdagangan internasional terjadi karena setiap negara memiliki kelebihan dan keterbatasan untuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan, sehingga mendorong setiap negara untuk melakukan aktivitas bisnis dengan negara lain. Para manajer bisnis harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai teori ekonomi agar dapat memahami strategi pembangunan ekonomi suatu negara untuk melakukan perdagangan internasional, yang sangat bergantung pada kepercayaan dan pendidikan para perencana ekonomi pemerintah. Dengan mengikuti secara cermat tindakan dan pidato para pemimpin pemerintahan, manajer sering kali dapat menemukan teori-teori ekonomi yang mendasari tindakan dan pidato itu. Jika mereka mengetahui teori-teori yang mendasari, maka mereka dapat mengantisipasi perubahan-perubahan dalam strategi pemerintah dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk keuntungan mereka. BAB II PEMBAHASAN A. TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL 1. Merkantilisme Merkantilisme, falsafah ekonomi yang diserang Smith, menganut pendirian bahwa adalah penting bagi kesejahteraan sebuah negara untuk mengakumulasi persediaan logam-logam berharga. Hal ini, dalam pandangan penganut merkantilisme merupakan satu-satunya sumber kesejahteraan. Karena Inggris tidak memiliki pertambangan, para merkantilis cenderung ke perdagangan intenasional untuk memasok emas dan perak. Meskipun era kaum merkantilis berakhir pada tahun 1700an, argumen-argumennya masih tetap hidup. Sebuah neraca perdagangan yang “memuaskan” masih berarti negara mengekspor lebih banyak barang dan jasa daripada yang diimpornya. Dalam akunting neraca pembayaran, ekspor yang membawa dolar ke negara ini disebut positif, tetapi impor yang menyebabkan dolar mengalir ke luar diberi nama negatif. Di Amerika Serikat, banyak oang bisnis percaya bahwa Jepang, karena proteksionismenya, tetap merupakan pasar yang sebagian besar hampir tidak dapat ditembus “benteng merkantilisme di zaman ini”. 2. Teori Keunggulan Absolut Adam Smith menyatakan bahwa kekuatan-kekuatan pasar, bukan pengendalian pemerintah, yang seharusnya menentukan arah, volume dan komposisi perdagangan internasional. Dia beralasan bahwa dalam perdagangan yang bebas dan tidak diregulasi, masing-masing negara akan mengkhususkan diri dalam memproduksi barang-barang yang dapat diproduksinya dengan lebih efisien (memiliki suatu keunggulan absolut, baik alamiah maupun yang diperoleh). 3. Teori Keunggulan Komparatif Pada tahun 1817 Ricardo memperlihatkan bahwa meskipun sebuah bangsa memegang keunggulan absolut dalam produksi dua barang, kedua negara masih dapat berdagang dengan keunggulan bagi masing-masing sepanjang bangsa yang kurang efisien, tingkat kekurang-efisiensinya tidak sama dalam memproduksi kedua barang tersebut. Batas Kemungkinan Produksi Ini adalah versi yang lebih modern dari contoh-contoh Ricardo dan Smith, yang menggunakan hanya masukan tenaga kerja. Mereka melakukannya karena pada saat itu hanya tenaga kerja yang dianggap penting dalam memperhitungkan biaya produksi. Juga, tidak ada pertimbangan yang diberikan bagi kemungkinan memproduksi barang-barang yang sama dengan kombinasi faktor-faktor yang berbeda, dan tidak ada penjelasan yang diberikan tentang mengapa biaya produksi berbeda. Barulah pada tahun 1933, Ohlin seorang ahli ekonomi Swedia, melanjutkan pekerjaan yang dimulai oleh ahli ekonomi Hecksher, mengembangkan teori perolehan faktor (factor endowment). Teori dari Hecksher-Ohlin bahwa negara-negara mengekspor produk-produk yang memerlukan sejumlah besar faktor produksi mereka yang berlimpah, dan mengimpor produk-produk yang memerlukan sejumlah besar faktor produksi mereka yang langka. 4. Teori Faktor Endowment Heckscher-Ohlin Teori Heckscher-Ohlin menyataka bahwa perbedaan-perbedaan internasional dan interegional dalam biaya produksi timbul karena perbedaan dalam pasokan faktorfaktor produksi. Barang-barang yang memerlukan sejumlah besar faktor melimpah jadi lebih murah akan memperendah biaya produksi, sehingga memungkinkan untuk dijual lebih murah dipasar-pasar internasioanl. Ada asumsi bahwa harga dari faktorfaktor bergantung hanya pada faktor pendukung an ternyata asumsi tersebut tidak benar. Harga-harga faktor tidak ditetapkan dalam pasar sempurna. Upah miunum dan manfaat kerja yang diatur memaksa biaya tenaga kerja meningkatkan sampai pada titik yang lebih tinggi daripada nilai produk yang dapat diproduksi oleh banyak tenaga kerja. Kredit pajak investasi mengurangi biaya modal dibawah biaya pasar. Akibatnya harga-harga faktor tidak sepenuhnya mencerminkan pasokan faktor. Ohlin juga mengasumsiakan bahwa suatu teknologi tertentu tersedia secara universal, tetapi tidaklah demikian. Selalau terdapat ketertinggalan antara pengenalan metode produksi baru dan aplikasinya diseluruh dunia. Akibatnya teknologi unggul seringkali memungkinkan sebuah negara untuk memproduksi barang-barang dengan biaya yang lebih rendah dari pada di negar yang memiliki lebih baik faktor produksi yang lebih rendah. a. Paradoks Leontief Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1935 oleh ahli ekonomi Wassily Leotief mempersoalkan manfaat teori Heckscher-Ohlinsebgai peramal arah perdagangan. Studi ini yang dikenal dengan Leontief Paradoks, menemukan bahwa Amerika Serikat salah satu dari negara-negara yang paling padat modal di dunia, mengekspor produk-produk yang padat tenaga kerja. Para ahli ekonomi berspekulasi bahwa hal ini timbul karena Amerika Serikat mengekspor produkproduk padat teknologi yang diproduksi oleh tenga kerja yang sangat trampil yang memerlukan investasi modal besar untuk mendidik dan melatih serta mengimpor barang-barang yang dibuat dengan teknologi dewasa yang terdidik. Sebuah studi yang yang dilakukan oleh ahli ekonomi Harvard Sachs dan Shatz tahun 1994 ternyata memperlihatkan bahwa Amerika Serikat telah meningkatkan ekspor barang-barang intensif tenaga kerja yang terdidik ke negara-negara berkembang, sementara mengurangi produksi barang-barangnya yang tidak memerlukan tenaga kerja terdidik. b. Perbedaan Selera Hal ini bisa terjadi karena adanya sisi permintaan yang selalu sulit untuk berhubungan dengan teori ekonomi dan yang begitu jauh telah diabaikanperbedaan-perbedaan dalam rasa/selera. Orang-orang bisnis tidak dapat mengabaikan perbedaan ini, yang memungkinkan perdagangan mengalir dalam arah yang sama sekali berlawanan dengan yang diramalkan oleh teori keunggulan komparatif dari negara-negara biaya tinggi sampai rendah. Prancis menjual kepada Amerika Serikat anggur, komestik, pakaian, dan bahkan air minum yang semuanya diproduksi disini dan pada umumnya dijual dengan harga yang lebih rendah. Jerman dan Italia mengirim Porche dan maserati ke salah satu produsen mobil terbesar didunia. Amerika Serikat membeli barang-barang ini tidak hanya atas dasar harga yaitu variabel independen yang diterapkan yang sudah diterapkan. 5. Memperkenalkan Uang Misalkan jumlah biaya tanah, tenaga kerja dan modal kerja untuk memproduksi keluaran harian dari beras dan mobil dalam contoh mengenai keunggulan absolut adalah $10.000 di Amerika Serikat dan 2,5 juta yen di Jepang. Biaya per unit adalah sebagai berikut: Harga per Unit Komoditas Amerika Serikat Jepang Ton beras $10.000 = $3.330/ton 3 $2,5 juta yen = $2,5 juta yen/ton 1 Mobil $10.000 = $5.000/ton 2 $2,5 juta yen = $0,625 juta yen 4 /mobil Untuk menentukan apakah terdapat lebih banyak keuntungan untuk membeli secara lokal atau mengimpor, para pedagang perlu mengetahui harga mata uangnya sendiri. a. Kurs Kurs adalah harga sebuah mata uang yang dinyatakan dalam nilai mata uang lainnya. Apabila kurs yang berlaku adalah $1= 20 yen, maka 1 yen haruslah bernilai 0,004 dolar.* Menggunakan kurs 1$= 250 yen maka harga-harga dalam contoh tersebut kepada pedagang Amerika Serikat sebagai berikut: Harga per Unit Komoditas Amerika Serikat Jepang Ton beras $3.330 $10.000 Mobil 5.000 2.500 Para produsen beras Amerika dapat memperoleh $6.670 lebih banyak dengan mengekspor beras ke Jepang daripada yang dapat mereka jual secara lokal. Harga per Unit Komoditas Ton beras Amerika Serikat 0,83 juta yen Mobil 1,25 juta yen Jepang $2,5 0,625 Dalam pembuatan mobil Jepang akan mengekspor mobil ke Amerika Serikat karena mereka dapat memperoleh keuntungan sebesar o,625 juta yen. Namun, para pabrikan mobil Amerika akan memerlukan beberapa argumentasi penjualan yang sangat kuat untuk menjual di Amerika Serikat apabila mereka harys mengatasi perbedaan harga $2.500. b. Pengaruh Kurs Beras ke Jepang dan mobil ke Amerika Serikat akan merupakan arah perdaganagn sepanjang kurs tetap dalam kisaran sekitar $1= 25 yen. Tetapi jika dolar menguat menjadi $1= 750 yen, maka beras Amerika akan sama harganya dalam yen dengan beras Jepang dan impor akan berhenti. Di pihak lain, seandainya dolar melemah menjadi $1= 125 yen, maka mobil Jepang akan berharga $5.000 bagi para pedagang Amerika dan mereka akan memiliki alasan yang lemah untuk mengimpor. Sebenarnya apabila dolar mencapai 100 yen pada tahun 1993, penjualan mobil-mobil Jepang menurun karena para pabrikan dipaksa meningkatkan secara tajam harga dolar dari ekspor mereka ke Ameriak Serikat agar dapat mempertahankan laba mereka dalam bentuk yen. Karena mobil-mobil mereka yang diproduksi di Amerika Serikat mengandung begitu banyak suku cadang dari Jepang, merekaharus meningkatkan juga harga tersebut. Para analis menggambarkan pada tahun 1993 mobil-mobil jepang berharga $2.500 lebih besar dari mobil Amerika. Cara lain bagi sebuah negara untuk dapat menghindari kehilangan pasar dan memperoleh kembali daya saingnya dipasar-pasar dunia adalah melalui devaluasi mata uang asing (menurunkan harganya terhadap mata uang lain). 6. Daur Hidup Produk Internasional Konsep yang berhubungan dengan daur hidup produk ini berkaitan dengan peranan inovasi dalam pola perdagangan. Daur hidup produk internasional merupakan sebuah teori yang menjelaskan mengapa suatu produk yang mula-mula sebagai ekspor sebuah negara akhirnya menjadi impor. Empat tahap yang dilalui sebuah produk baru sebagai berikut : a) Ekspor AS. Karena Amerika Serikat memiliki penduduk yang konsumennya berpenghasilan tinggi terbesar didunia, pesaingnya untuk memperoleh dukungan mereka sangat intensif. Karenanya pabrikan didorong untuk untuk secara terus menerusmencari yang lebih baik guna memuaskan kebutuhan konsumennya. Untuk menyediaakan produk-produk baru, perusahaan mempertahankan keberadaan laboratorium ppenelitian dan pengembangan yang besar, yang harus secara tetap melakukan kontak pengembanga produk. Bahwa para pemasokbahan-bahan yang mereka perlukan untuk memberikan fasilitas untuk kontak tersebut. b) Produksi luar negeri dimulai. Para konsumen luar negeri, utamanya di negaranegara maju memiliki kebutuhan kemampuan untuk memebeli produk yang sama. Volume ekspor tumbuh dan menjadi cukup besar untuk mendukung produksi lokal. Apabila inovatornya adalah perusahaan multinasional, maka ia akan mengirim ke anak-anak perusahaannya informasi mengenai produk baru dengan penjelasan yang engkap tentang bagaimana memproduksinya. Jika tidak ada afiliasi, para pelaku bisnis di luar negeri ketika mngetahui produk itu, akan memperoleh lisensi untuk memproduksinya. Maka dimulailah produksi luar negeri. Perusahaan Amerika masih harus mengekspor ke pasr-pasar dimana tidak terdapat produksi, tetapi pertumbuhan ekspornya akan berkurang. c) Persaingan luar negeri dalam pasar ekspor. Kemudian, begitu pabrikan luar negeri mulai memperoleh pengalaman dalam pemasaran dan produksi, biaya-biaya mereka akan turun. Mereka bahkan mungkin mampu menjual lebih murah daripasa produsen Amerika apabila mereka menikmati keunggulan biaya tenaga kerja dan bahan baku. Pada tahap ini, perusahaan-perusahaan asing bersaing dipasar-pasar ekspor dan akibatnya penjualan ekspor Amerika akan terus merosot. d) Persaingan impor di Amerika Serikat. Apabila penjualan dan ekspor memungkinkan para produsen luar negeri memperoleh skala ekonomi yang dinikmati oleh perusahaan Amerika, mereka dapat mencapai suatu titik dimana mereka dapat bersaing dalam kualitas dan menjual lebih murah daripada perusahaan Amerika di pasar Amerika. Sejak itu pasar Amerika akan dilayani hanya oleh impor. Para penulis konsep IPLC juga menyatakan bahwa siklus ini dapat berulang ketika negara-negara berkembang dengan biaya yang masih rendah memperoleh teknologi dan memperlukan keunggulan biaya atas negara-negara yang lebih maju industrinya. 7. Beberapa Penjelasan yang lebih Baru untuk Arah Perdagangan a. Skala Ekonomi dan Kurva Pengalaman Pada tahun 1920an para ahli ekonomi mulai mempertimbangkan fakta bahwa kebanyakan industri memperoleh keuntungan dari skala ekonomi yaitu dengan semakin besarnya pabrik dan meningkatnya keluaran, biaya produksi per unit menurun. Skala ekonomi dan kurva pengalaman mempengaruhi perdagangan internasional karena memungkinkan industri-industri suatu negara menjadi produsen biaya rendah tanpa memiliki faktor-faktor produksi yang berlimpah. b. Teori Penggerak Pertama (First Movers Theory) Sebagian ahli teori manajemen menyatakan bahwa perusahaan yang pertama menerobos pasar (penggerak pertama) akan segera mendominasinya. Sebagian hasil dari bagian pasar yang besar akan memungkinkan mereka memperoleh manfaat skala ekonomi yang disebutkan pada bagian sebelumnya. c. Teori Linear mengenai Permintaan yang Tumpang Tindih Teori orientasi permintaan menyatakan bahwa selera konsumen sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, dan karenannya tingkat pendapatan pe kapita suatu bangsa menentukan jenis barang-barang yang akan diminta. Teori Linder mengambil kesimpulan bahwa perdagangan internasional dalam barang-barang manufaktur akan menjadi lebih besar antara negara-negara yang tidak sama tingkat pendapatan per kapitanya. Keunggulan Kompetitif Bangsa-bangsa dari Poter Teori Porter menyatakanbahwa empat jenis variabel akan mempunyai dampak atas kemampuan perusahaan-perusahaan lokal di suatu negara untuk menggunaka sumber-sumber negara itu guna memperoleh keunggulan komparatif. a) Kondisi-kondisi permintaan-sifat dasar dari permintaan domestik. Apabila para pelanggan sebuah perusahaan mempunyai permintaan, perusahaan akan berusaha memproduksi produk-produk yang berkualitas tinggi dan inovatif dan dalam melakukan hal itu akan memperoleh keunggulan kompetitif atas perusahaan yang berada ditempat dimana tekanan domestik lebih kecil. b) Kondisi-kondisi faktor-level dan komposisi faktor produksi. Porter membedakan antara faktor-faktor dasar (teori Hecksher Ohlin) dan faktorfaktor lanjutan (infra struktur sebuah negara). c) Industri-industri terkait dan pendukung–para pemasok dan jasa dukungan industri. Selama berpuluh puluh tahun perusahaan dalam sebuah industri dengan para penyediaannya, penyedia bagi penyedia dan seterusnya cenderung membentuk sebuah kelompok dilokasi tertentu sering kali tanpa alasan yang jelas. d) Strategi, struktur dan persaingan perusahaan perluasan persaingan domestik,adanya hambatan-hambatan untuk masuk, serta organisasi dan gaya manajemen perusahaan. 8. Ringkasan Teori Perdagangan Internasional Perbedaan-perbedaan ini berasal dari perbedaan dalam biaya produksi yang diakibatkan oleh : a) Perbedaan-perbedaan dalam perolehan atas faktor produksi b) Perbedaan dalam tingkat teknologi yang menentukan intensitas faktor yang digunakan c) Perbedaan dalam efisiensi pemanfaatan faktor-faktor ini d) Kurs valuta asing Pada umumnya, hambatan-hambatan perdagangan yang memberhentikan mengalirnya barang-barang dengan bebas akan membahayakan kesejahteraan suatu bangsa. B. RESTRIKSI PERDAGANGAN 1. Pertahanan Nasional Industri tertentu memerlukan proteksi dan impor karena vital bagipertahanan nasional dan harus diberlakukan meskipun terdapat kerugian secara komparatif berkenan dengan para pesaing luar negeri. Apabila persaingan dari perusahaan asing mendorong perusahaan menghentikan usahnya dan membiarkan negara ini bergantung padaimpor, impor itu mungkin tidak tersedia dimasa perang. 2. Melindungi Industri yang Baru Tumbuh (Infant Industry) Para pendukung proteksi atas industri yang baru tumbuh bisa menyatakan bahwa dalam jangka panjang industri itu akan memiliki keunggulan komparatif, tetapi perusahaan itu memerlukan proteksi terhadap impor sampai angkatan kerja telah terlatih teknik-teknik produksi dikuasai dan mereka mencapai skala ekonomi. 3. Melindungi Tenaga Kerja Domestik dari Tenaga Asing yang Murah Para proteksionis yang menggunakanalasan ini akan membandingkan tingkat upah per jam tenaga asing yang lebih murah dengan yang meeka bayar di AS dan menyimpulkan bahwa para eksportir dari negara-negara ini dapat memasok Amerika Serikat dengan barang-barang murah dan menyebabkan orang amerika kehilangan pekerjaan. 4. Tarif Ilmiah atau Persaingan yang Adil Para pendukung argumen ini hanya menginginkan bea masuk yang meningkatkan biaya barang impor sama dengan biaya barang yang diproduksi di dalam negeri. Hal ini bertujuan untuk mengurangi setiap keunggulan yang dimiliki oleh pesaing asing sehingga mengalahkan barang produksi dalam negeri. Peningkatan biaya tersebut kemudian akan mendorong perdagangan menuju persaingan yang adil. 5. Tindakan Balasan Perwakilan industri yang kegiatan ekspornya mendapat hambatan impor di sebuah negara meminta kepada pemerintah mereka untuk melakukan hambatan impor yang sama. Permasalahan sengketa semacam ini ditindak lanjut oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tindaan balasan yang biasa dilakukan oleh beberapa negara adalah dumping dan subsidi. a. Dumping Dumping merupakan penjualan produk ke luar negeri dengan harga kurang dari biaya produksi, harga di pasar dalam negeri, atau harga untuk negara ketiga. Motif industri asing melakukan hal ini dengan harapan dapat menjual kelebihan produksi tanpa mengganggu harga di pasar domestiknya atau untuk menurunkan harga ekspor tersebut untuk memaksa semua produksen domestik di negara pengimpor menghentikan bisnisnya. Eksportir berharap terjadi kenaikan harga setelah tujuan itu tercapai (predatory dumping). Jika praktek dumping terjadi di Amerika Serikat, maka perusahaan lokal dapat meminta Office of Investigation (Kantor Investigasi di Departemen Perdagangan) untuk melakukan penyelidikan. Jika Depdag menemukan bukti suatu produk telah didumping, maka kasus ini diteruskan ke Komisi Perdagangan Internasional untuk menentukan apakah impor tersebut merugikan produksen Amerika Serikat. Jika hal itu terbukti, maka bea cukai AS berhak membebankan bea masuk anti dumping. Tindakan anti dumping ini hanya berlaku dibeberapa negara tertentu saja. Beberapa negara yang pernah menerapkan anti dumping adalah antara Uni Soviet dan China. Di Indonesia, pengenaan bea masuk anti dumping paling tinggi adalah sama dengan marjin dumping. Marjin dumping adalah selisih antara nilai normal sengan harga ekspor dari barang dumping. Kegiatan dumping dapat digolongkan menjadi: 1) Dumping sosial, persaingan tidak adil oleh berbagai perusahaan negara berembang yang telah menurunkan biaya tenaga kerja dan memperburuk kondisi kerja. 2) Dumping lingkungan, persaingan tidak adil yang disebabkan karena belum adanya standar lingungan suatu negara. 3) Dumping jasa keuangan, persaingan tidak adil karena rendahnya rasio modal bank/aset yang disyaratkan oleh suatu negara. 4) Dumping budaya, persaingan tidak adil yang disebabkan oleh hambatan budaya yang membantu perusahaan lokal. b. Subsidi Subsidi merupakan sumbangan keuangan yang diberikan secara langsung atau tidak langsung oleh pemerintah tanpa imbalan keuntukngan. Subsidi pemerintah kepada perusahaan domestik bertujuan untuk mendorong ekspor maupun membantu melindunginya dari impor. Contoh dari subsidi adalah pembayaran tunai, partisipasi pemerintah dalam kepemilikan, pinjaman dengan bunga rendah untuk para pembeli dan eksportir luar negeri, dan perlakuan pajaak preferensial. Pesaing dari negara pengimpor sering meminta pemerintah untuk menetapkan countervailing duties untuk mengatasi pengaruh subsidi. Countervailing duties merupakan pajak impor tambahan yang dikenakan atas impor yang telah memperoleh keuntukngan dari subsidi ekspor. Negara yang terbukti mendapat subsidi ekspor dari pemerintahnya diwajibkan membayar countervailing duties sebesar subsidi yang telah diterima. Tabel 10 negara yang terlibat Countervailing Duties dan Anti Dumping Negara Indonesia memiliki kasus anti dumping sebanyak 135 kasus sejak 1995 hingga 2016. Diantaranya adalah kasus yang terjadi pada tahun 2015 yaitu penggugatan terhadap Uni Eropa di WTO terkait terhambatnya ekspor fatty alcohol ke beberapa negara di Uni Eropa. Kasus lain terjadi pada 2016 yaitu produk kertas Indonesia yang diekspor ke Australia dan Amerika Serikat dikenakan tarif bea masuk anti dumping hingga 70%. Hal ini dinilai sangat merugikan pihak Indonesia. Tindakan balasan yang dilakukan Indonesia adalah dengan menetapkan tarif anti dumping yang tinggi terhadap produk susu dan daging yang diekspor Australia ke Indonesia. Argumen lain yang termasuk penggunaan proteksi terhadap barang impor untuk mengizinkan diversifikasi perekonomian domestik atau untuk meningkatkan neraca perdagangan. Proteksi terhadapa impor hanya menguntukngkan beberapa pihak dan merugikan banyak pihak. Bahaya yang mungkin terjadi ketika pemberlakuan proteksi terhadap barang impor adalah pembalasan dari mitra dagang untuk melakukan hambatan perdagangan, sehingga merugikan industri yang tidak menerima proteksi. 6. Jenis-jenis Restriksi a. Hambatan-hambatan Tarif 1) Tarif, merupakan pajak atas barang impor yang bertujuan menaikkan harga sehingga mengurangi persaingan bagi produksen lokal atau merangsang produksi lokal. Ekspor komoditas seperti kopi dan tembaga biasanya dikenakan pajak di negara berkembang. 2) Bea Ad Valorem, Spesifik, dan Kombinasi, merupakan bea-bea impor (pabean). Bea ad valorem adalah pajak impor yang dikenakan sebagai presentase dari nilai faktur barang yang diimpor. Bea spesifik diartikan sebagai jumlah tetap yang dikenakan atas unit fisik barang yang diimpor. Sedangkan bea kombinasi merupakan kombinasi pajak spesifik dan ad valorem. Pajak spesifik sering berubah pada saat inflasi dan pajak ad valorem meningkat karena kenaikan harga faktur. 3) Harga Resmi, termasuk dalam tarif bea cuka dari beberapa negara dan merupakan dasar perhitungan pajak ad valorem jika harga faktur yang sebenarnya lebih rendah. Harga resmi menjamin bahwa pajak impor minimum tertentu akan dibayar tanpa memperhatikan harga faktur sebenarnya. Negara importir dengan pajak tinggi meminta pemasok asing untuk mengeluarkan faktur palsu yang bernilai rendah untuk mengurangi pembayaran pajak. Importir mengirimkan harga faktur yang benar dan tidak benar tersebut secara terpisah. 4) Pajak Variabel, pajak yang menjamin harga pasar barang impor sama dengan harga barang yang diproduksi secara domestik. Tingkat pajak ini ditetapkan dengan perbedaan antara harga di pasar dunia dengan harga pendukung untuk produksen domestik. 5) Bea yang Lebih Rendah untuk Masukan Lokal yang Lebih Banyak. Bea impor/bea pabean ditetapkan oleh banyak negara untuk mendorong masukan lokal. Barang setengah jadi dikenakan pajak lebih rendah dibandingkan dengan barang jadi. Keadaan ini memberikan peluang bagi pabrikan luar negeri yang berproduksi dengan teknologi rendah. b. Hambatan – hambatan Nontarif Hambatan – hambatan nontarif adalah semua bentuk diskriminasi terhadap impor selain pajak – pajak impor/bea masuk. Negara anggota GATT, yaitu organisasai perdagangan internasional dunia pada tahun 1994 menciptakan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan mengajukan pengurangan hambatan– hambatan nontarif, baik kuantitatif maupun nonkuantitatif selama 10 tahun. 1) Kuantitatif Kuota. Sebuah bentuk hambatan kuantitatif adalah pembatasan– pembatasan jumlah jenis barang tertentu yang diizinkan diimpor oleh sebuah negara tanpa hambatan dalam jangka waktu tertentu. Apabila kuota itu absolut, sekali jumlah tertentu telah diimpor, makaimpor berikutnya selama sisa waktu satu tahun dilarang. Kuota pada umumnya bersifat global, yaitu suatu jumlah yang ditetapkan tanpa melihat sumbernya. Kuota juga bisa dialokasikan , dalah hal ini pemerintah negara pengimpor manyetujui kuantitas untuk negara– negara tertentu. Oleh karena itu karena terdapat penentangan terhadap pemberlakuan kuota secara sepihak atas baranag–barang, maka pemerintah merundingkan pembatasan ekspor secara sukarela, yaitu ekspor yang dikenakan oleh negara pengekspor. 2) Persetujuan Tertib Pemasaran. Persetujuan tertib pemasaran adalah persetujuan resmi antara negara – negara pengekspor dan pengimpor yang mencantumkan kuota impor atau ekspor yang akan diperoleh tiap negara untuk suatu barang. 3) Hambatan – hambatan nontarif nonkuantitatif. Banyak pakar perdagangan internasional menyatakan bahwa hambatan – hambatan nontarif yang paling penting adalah jenis nonkuantitatif. Banyak pemerintah cenderung menetapkan hambatan nontarif untuk memperoleh perlindungan yang diupayakan melalui pajak impor. Tiga judul pokok dalam hambatan – hambatan nonkuantitatif yang bentuknya berbeda : 1) Partisipasi pemerintah langsung dalam perdagangan. Bentuk yang paling lazim partisipasi pemerintah langsung adalah subsidi. Kebijakan pengandaan barang pemerintah juga merupakan hambatan perdagangan karena biasanya menguntungkan produsen domesik dan menghambat pembelian barang – barang impor oleh instansi pemerintah. 2) Produsen kepabeanan dan administratif. Ini meliputi beraneka ragam kebijakan dan prosedur pemerintaha baik yang mengadakan diskriminasi terhadap impor maupun menguntungkan untuk ekspor. 3) Standar. Standar – standar pemerintah maupun swasta untuk melindungi kesehatan dan keselamatan warga negaranya, tetapi selama bertahun – tahun perusahan – perusahaan ekspor telah diganggu oleh banyaknya standar yang rumit dan diskriminatif. 7. Menciptakan Pasar Baru Perusahaan–perusahaan ekspor perlu memperoleh informasi tentang status hambatan–hambatan tarif dan nontarif yang sedang berubah di negara–negara mereka melakukan bisnis. Pemerintah–pemerintah telah meninggalkan pasar dengan pajak impor yang sangat tinggi atau hambatan–hambatan nontarif. 8. Dari Sistem Multinasional ke Sistem Pabrikasi Terpadu secara Global Penurunan pajak–pajak impor atau pengurangan hambatan–hambatan nontarif lebih memudahkan dan mengurangi biaya bagi perusahaan untuk menempatkan aktivitas produksinya di negara–negara biaya rendah. Membayar pajak impor yang lebih rendah atas komponen–komponen yang dibuat di tempat lain mengurangi total biayanya, dan tidak perlu mengatasi hambatan–hambatan nontarif memungkinkan penyebaran kegiatan produksiinternasional dan membuatnya lebih ekonomis. Juga ada kemungkinan perusahaan multidomestik dengan banyak pabrik manufaktur yang masing–masing memiliki sistem pemanufakturan lengkap untuk memasok negara yang ditempat dapat menemukan bahwa dengan hambatan impor yang lebih rendah, perusahaan itu memiliki dua kemungkinan untuk meningkatkan efisiensi: 1. Menutup pabrik yang paling tidak efisien dan memasok pasar – pasar meereka dengan ekspor dari cabang–cabang lain. 2. Mengubah sistem pemanufakturan multidomestik menjadi sistem terpadu secara global. 9. Biaya Hambatan Perdagangan Karena sistem kuota Amerika Serikat untuk gula, para konsumen di Amerik harus membayar dua kali lipat dari harga dunia, tetapi ini hanya sebagian kecil dari biaya yang harus dibayar konsumen atas hambatan – hambatan perdagangan. Pada studi tahun 1994, para ahli ekonomi menelaah 21 kelompok produk yang masing – masing memiliki pasar domestik $1 miliar dan setelah penghapusan hambatan – hambatan memiliki impor potensial $100 juta. Mereka memperkirakan rata- rata biaya konsumen untuk tiap pekerjaan yang dipertahankan adalah $170.000 pertahun. Ini berarti konsumen membayar enam kali lebih rata – rata kompensasi pekerjaan pabrik setahunnya, untuk melindungi pekerjaan dari hambatan impor. C. PEMBANGUNAN EKONOMI Pelaku bisnis yang bergerak dari bisnis domestik ke internasional akan menghadapi pasar dengan perbedaan tingkat pembangunan ekonomi yang lebih besar daripada asalnya. Tingkat pembangunan ekonomi memengaruhi seluruh aspek bisnis yang meliputi pemasaran, produksi, dan keuangan. 1. Kategori Pasar Berdasarkan Tingkat Pembangunan Ekonomi a. Maju (developed), merupakan klasfikasi untuk semua negara industri yang secara teknis paling maju. Beberapa negara tersebut antara lain negara di Eropa Timur, Jepang, Australia, Selandia Baru, Kanada, Israel, dan Amerika Serikat. b. Berkembang (developing), merupakan klasifikasi untuk negara yang berpenghasilan rendah dan kurang maju secara teknis. c. Negara Industri Baru (Newly Industrializing Countries-NIC), menurut Bank Dunia dianggap sebagai negara yang perekonomiannya tumbuh secara cepat dengan penghasilan sedang atau tinggi, memiliki konsentrasi investasi luar negeri yang berat, dan mengekspor barang manufaktur berteknologi tinggi dengan jumlah yang besar. Negara tersebut adalah keempat macan Asia dan perekonomian Brazil, Meksiko, Malaysia, Chili, dan Thailand yang berpenghasilan menengah. d. Perekonomian Industri Baru (Newly Industrialized Economies-NIE), merupakan negara dengan keadaan perekonomian berpenghasilan menengah atas dan berpenghasilan tinggi yang tumbuh dengan cepat. Negara tersebut diantaranya Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. Badan-badan internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, International Monetary Fund-IMF, dan Bank Dunia menggunakan berbagai sistem klasifikasi yang berbeda untuk membuat laporan statistik. Namun PBB hanya menggunakan klasfikasi perekonomian maju dan berkembang. Bank Dunia menggunakan klasifikasi berdasarkan Gross National Income-GNI/kapita dengan metode konversi Atlas per 2016, yaitu: 1) Pendapatan rendah (≤ $1.005) 2) Pendapatan menengah rendah ($1.006-$3.955) 3) Pendapatan menengah tinggi ($3.956-$12.235) 4) Pendapatan tinggi (≥ $12.236) Sebelum tahun 2002, Bank Dunia menggunakan sistem klasifikasi Produk Domestik Bruto (Gross National Produkct-GNP)/kapita. Namun pada 2002 beralih ke GNI/kapita yang mengikuti praktik statistik terbaru kebanyakan negara. PNB mengukur pendapatan yang dihasilkan oleh penduduk sebuah negara dari kegiatan internasional dan domestik serta lebih disukai oleh organisasi internasional daripada produk domestik bruto, yang mengukur pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan domestik oleh penduduk negara itu dan juga yang bukan penduduk. Bank Dunia mengklasifikasikan perekonomian sebagai berpendapatan rendah, berpendapatan menengah rendah, dan berpendapatan menengah tinggi berdasarkan pinjaman operasionalnya. Negara berkembang biasanya disebut juga sebagai negara berpendapatan rendah dan menengah. 2. PNB/Kapita sebagai Indikator Produk Nasional Bruto (PNB)/kapita yang sekarang Pendapatan Nasional Bruto (GNI)/kapita digunakan secara luas untuk membandingkan negara-negara dalam hal kesejahteraan warganya dan untuk pasar atau potensi investasi. Meskipun demikian, pelaku bisnis harus memakai data tesebut dengan berhati-hati. Untuk memperoleh hasil PNB, ahli ekonomi pemerintah harus menghubungkan nilai-nilai moneter dengan berbagai barang dan jasa yang tidak dijual di pasar. Banyak barang dan jasa yang dibarter di negara berpendapatan rendah karena jumlah kepemilikan uang tunai yang sedikit. Sementara di negara yang berpendapatan tinggi melakukan barter untuk mengurangi pendapatan yang dilaporkan sehingga mengurangi pembayaran pajak. Hal demikian disebut sebagai bagian dari perekonomian bawah tanah (undergground economy). a. Perekonomian Bawah Tanah (Underground Economy) Perekonomian bawah tanah merupakan bagian dari pendapatan nasional yang tidak dilaporkan atau dilaporkan lebih sedikit sehingga tidak terukur oleh statistik resmi. Beberapa perekonomian bawah tanah diantaranya produksi yang sah tetapi tidak diumumkan, produksi dan jasa ilegal, dan pendapatan bentuk natura (barter) yang tersembunyi. Semakin tinggi tingkat perpajakan dan ketatnya peraturan pemerintah semakin mendorong perekonomian bawah tanah. b. Konversi Mata Uang Dalam memperkirakan PDB untuk membandingkannya, PDB mata uang lokal harus dikonversi ke suatu mata uang yang diterima secara internasional (seperti Dolar) dengan menggunakan kurs. Jika nilai relatif kedua mata uang tersebut mencerminkan daya beli konsumen, maka konversi tersebut dapat diterima. Bank Dunia menganggap bahwa penggunaan kurs resmi untuk mengkonversi mata uang nasional ke dolar AS tidak mencerminkan daya beli mata uang domestik. Program Pembandingan Internasional PBB telah mengembangkan metode untuk membandingkan PDB berdasarkan paritas daya beli. Paritas daya beli merupakan jumlah unit mata uang yang diperlukan untuk membeli jumlah barang dan jasa yang sama di pasar domestik sebanyak yang dapat dibeli dengan $1 di AS. Berdasarkan paritas daya beli, menghasilkan nilai PNB/kapita yang lebih tinggi daripada yang diperoleh negara berkembang dan lebih rendah untuk negara yang paling maju. c. Faktor Konversi Atlas Faktor konversi atlas adalah metode aritmatika yang menghitung rata-rata nilai tukar saat ini dengan nilai tukar dua tahun sebelumnya yang sudah disesuaikan dengan rasio antara inflasi domestik dan inflasi negara G5 (Perancis, Jerman, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat). Pendapatan yang dihitung menggunakan metode ini lebih stabil. Pemberian peringkat negara menurut pendapatan lebih dipengaruhi kinerja ekonomi daripada fluktuasi nilai tukar. 3. Karakteristik Negara Berkembang Beberapa karakteristik negara berkembang yang paling umum adalah sebagai berikut: a. PNB/kapita kurang dari $12.236 (kriteria Bank Dunia) b. Distribusi pendapatan tidak merata dengan presentase kelas menengah yang sangat kecil c. Dualisme teknologi, yaitu campuran perusahaan yang menggunakan teknologi canggih dan perusahaan yang memakai cara yang sangat tradisional d. Mayoritas penduduk bermata pencaharian dalam sektor pertanian yang kurang produktif e. Pengangguran tidak kentara f. Tingginya pertumbuhan penduduk g. Tingkat buta huruf yang tinggi dan sarana pendidikan tidak memadai h. Tingginya kasus kurang gizi dan berbagai permasalahan kesehatan lainnya i. Instabilitas politik j. Bergantung pada beberapa produk ekspor seperti produk pertanian atau pertambangan k. Topografi yang tidak ramah, seperti gurun pasir, pegunungan, dan hutan tropis l. Tingkat tabungan yang rendah dan fasilitas perbankan yang kurang memadai 4. Pendekatan Kebutuhan Manusia pada Pembangunan Ekonomi Pendektan kebutuhan manusia mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai pengurangan kemiskinan, pengangguran, dan peningkatan pendapatan. Karena penekanan yang meningkat atas kesejahteraan manusia dan kurangnya hubungan yang jelas antara pertumbuhan pendapatan dan kemajuan manusia, Program Pembangunan PBB (United Nation Development Progrm) telah merencanakan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks) berdsarkan tiga elemen, anatara lain: (1)Panjang Umur dan Hidup Sehat, (2)Kemampuam memperoleh Pengetahuan, (3)Akses sumber yang diperlukan untuk standar hidup yang layak. 5. Tidak Ada Teori Umum yang Diterima Masuknya variabel nonekonomi membuat mustahil untuk merumuskan teori pembangunan umum yang diterima secara luas. Para ahli ekonomi pembangunan sedang memusatkan perhatian pada bidang permasalahan seperti pertumbuhan penduduk, distribusi pendapatan, alih teknologi, dll. D. TEORI INVESTASI INTERNASIONAL 1. Teori Keunggulan Monopolistik Teori Keunggulan Monopolistik dikemukakan oleh Stephen Hymer pada tahun 1960-an yang menyatakan bahwa investasi langsung luar negeri dilakukan oleh perusahan dalam industri oligopolistik memiliki keunggulan teknis dan keunggulan lain atas perusahaan pribumi. Investasi langsung luar negeri terjadi karena ketidaksempurnaan pasar produk dan faktor produksi. 2. Ketidaksempurnaan Pasar Produk dan Faktor Produksi Caves mengungkapkan bahwa dengan pengetahuan yang unggul memungkinkan perusahaan yang melakukan investasi untuk memproduksi produk lebih disukai konsumen daripada produk buatan lokal, dengan demikian akan memberikan perusahaan beberapa kendali untuk harga jual. Hal tersebut dengan catatan perusahaan yang berinvestasi di luar negeri adalah industri yang secara khusus terkait dalam penelitian produk dan usaha pemasaran yang kuat. 3. Daur Hidup Produk Internasional (Internasional Product Life Cycle-IPLC) Untuk menghindari kehilangan pasar yang dilayaninya melaui ekspor, sebuah perusahaan dipaksa untuk menanamkan modal dalam sarana produksi diluar negeri ketika perusahaan lain mulai menawarkan produk yang sama. 4. Teori-teori Lain Knickerbocker mengemukakan bahwa sebuah perusahaan khususnya yang memimpin dalam industri oligopolistik memasuki sebuh pasar, maka perusahaan lain dalam industri akan mengikutinya yang sering disebut dengan Teori Ikut Sang Pemimpin (follow the leader theory). Teori tersebut dianggap defensif karena para pesaing melakukan investasi untuk menghindari kehilangan pasar yang dilayani dengan ekspor ketika investor pertama memulai produksi lokal. Graham mengungkapkan kecenderungn untuk melakukan Investasi Silang (cross investment) yaitu investasi langsung luar negeri oleh perusahaan oligopoli di negara-negara asal masing-masing sebagai tindakan pertahanan. Teori Internalisasi Teori ini merupakan pengembangan dari teori ketidaksempurnaan pasar. Dalam teori pasar tidak sempurna dijelaskan bahwa untuk memperoleh laba yang lebih tinggi atas investasinya, sebuah perusahaan akan mentransfer pengetahuan unggulnya ke cabang di luar negeri daripada menjualnya dipasar terbuka. Dengan melakukan investasi dianak perusahaan luar negeri ketimbang memberikan lisensi, perusahaan itu mampu mengirim pengetahuannya melewati batas negara dan tetap mempertahankannya didalam perusahaan. 5. Teori Eklektik Produksi Internasional Dunning menyatakan apabila sebuah perusahaan melalukan investasi dalam sarana produksi diluar negeri, ia harus memiliki tiga keunggulan, yaitu: a. Kepemilikan khas (ownership spesific) yaitu sejauh mana perusahaan memiliki atau memperoleh aset-aset kelihatan(tangible) dan tidak kelihatan(intangible) yang tidak dapat diperoleh perusahaan lain. b. Internalisasi (internalization) yaitu dalam kepentingan terbaik perusahaan untuk menggunakan keunggulan kepemilikan khas(menginternalisasi) ketimbang melisensikannya kepada pemilik asing(mengeksternalisasi). c. Kekhasan Lokasi (location specific) yaitu perusahaan akan memperoleh keuntungaan dengn menemptkan sebagian fasilitas produksinya diluar negeri. BAB III KESIMPULAN Dalam perjalanannya pemikiran Adam Smith maupun David Ricardo sedikit banyak mempegaruhi teori perekonomian dunia. Teori Komparatif Ricardo bisa dikatakan menjadi sebuah titik awal ekspansi perusahaan-perusahaan untuk melakukan transaksi maupun perdagangan dengan dunia di luar negara asalnya. Jika dilihat dari perspektif hubungan internasional, semakin maraknya Multinational Corporations (MNCs) maupun Transnational Corporations (TNCs) berkembang di dunia ini, yang di dalam ilmu hubungan internasional merupakan sebuah kajian dalam diskurus Transnasionalisme sedikit banyak juga bisa dikatakan terpengaruh oleh pemikiran Ricardo maupun Smith. Model Adam Smith ini memfokuskan pada keuntungan mutlak yang menyatakan bahwa suatu negara akan memperoleh keuntungan mutlak dikarenakan negara tersebut mampu memproduksi barang dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan negara lain. Menurut teori ini jika harga barang dengan jenis sama tidak memiliki perbedaan di berbagai negara maka tidak ada alasan untuk melakukan perdagangan internasional. Model Heckscgher-Ohlin dibuat sebagai alternatif dari model Ricardian dan dasar kelebihan komparatif. Mengesampingkan kompleksitasnya yang jauh lebih rumit model ini tidak membuktikan prediksi yang lebih akurat. Bagaimanapun, dari sebuah titik pandangan teoritis model tersebut tidak memberikan solusi yang elegan dengan memakai mekanisme harga neoklasikal kedalam teori perdagangan internasional. Teori ini berpendapat bahwa pola dari perdagangan internasional ditentukan oleh perbedaan dalam faktor pendukung. Model ini memperkirakan kalau negara-negara akan mengekspor barang yang membuat penggunaan intensif dari faktor pemenuh kebutuhan dan akan mengimpor barang yang akan menggunakan faktor lokal yang langka secara intensif. Masalah empiris dengan model H-o, dikenal sebagai Pradoks Leotief, yang dibuka dalam uji empiris oleh Wassily Leontief yang menemukan bahwa Amerika Serikat lebih cenderung untuk mengekspor barang buruh intensif dibanding memiliki kecukupan modal dan sebagainya. DAFTAR PUSTAKA Ball, Donald A., dkk. 2004. Binsis Internasional: Tantangan Persaingan Global. Edisi 9. Jakarta: Salemba Empat. http://bisnis.liputan6.com/read/2841626/ekspor-kertas-ri-terhambat-imbas-bea-masuk-antidumping-2-negara https://bisnis.tempo.co/read/723150/kasus-dumping-indonesia-gugat-uni-eropa-di-wto https://datahelpdesk.worldbank.org/knowledgebase/articles/906519-world-bank-country-andlending-groups http://kadi.kemendag.go.id/BD82660&1=21e381dcde69c9d8ce530669032e65f5 https://www.wto.org/english/tratop_e/scm_e/CV_InitiationsByRepMem.pdf https://www.wto.org/english/tratop_e/adp_e/AD_InitiationsByRepMem.pdf

Judul: Teori Ekonomi Bisnis Internasional Makalah Bisnis Internasional

Oleh: Tri Mugiarti


Ikuti kami