Tugas 2 Ekonomi Maritime Blue Economi Consep

Oleh Abdul Gafur

155,1 KB 10 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas 2 Ekonomi Maritime Blue Economi Consep

Penerapan “Blue and Green Economy” di Indonesia Abdul Gafur Program Pasca Sarjana, Jurusan Teknik Sistem dan Pengendalian Kelautan , Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 e-mail: abdulgafur84@yahoo.com 1. Pendahuluan Pada KTT Rio+20 di Riocentro, Rio de Janeiro, Brasil yang dilaksanakan selama sembilan hari mulai 13 – 22 Juni 2012, Presiden Susilo Bambang Yodoyono menyampaikan pidato moving towards sustainability: together we must create the future we want yang merupakan konsep “Blue Economy Indonesia”. Konsep blue economy Indonesia yang disampaikan presiden Susilo Bambang Yudoyono tentu mempunyai alasan yang kuat, mengingat Indonesia merupakan salah satu dari sedikit bangsa di dunia yang secara intrinsik kehidupannya paling terkait dan sangat bergantung pada laut. Berdasarkan hasil konvensi hukum laut internasional “UNCLOS ( United Nation Convention on The Law of Sea)” pada desember 1982 di Montego Bay, Jamika, luas wilyah laut Indonesia Mencapai 3.257.357 km2, sedangkan luas daratannya adalah 1.919.443 km2. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa Tiga per empat (75%) wilayah Indonesia adalah laut (termasuk ZEEI atau Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia). Dalam wilayah laut itu terdapat sekitar 13.487 pulau yang dirangkai oleh 95.200 km garis pantai, yang merupakan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada. Itu sebabnya, Indonesia dikenal sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia. Dengan kondisi geografis Indonesia yang didominasi lautan, menjadi sebuah potensi besar bagi Indonesia untuk menerapkan konsep blue Econmy. Sebelum menelurkan ide konsep blue Economy, Indonesia sudah menerapkan green economy dalam dalam perancangan pembangunan Indonesia. Economy hijau sangat penting untuk diterapkan di Indoseia, mengingat model sistem ekonomi yang dijalankan sekarang merusak lingkungan tempat kita tinggal. Pendekatan green economy dimaksudkan untuk mensinergikan 3 nilai dasar, yakni profit, planet, dan people. Jadi sistem ekonomi hijau memastikan bahwa setiap negara dalam upaya mengurangi kemiskinan dan mensejahterakan penduduk dengan mengedepankan penjagaan lingkungan hidup. Konsep Blue and Gree Economy tentu bisa diterapkan secara bersamaan untuk menunjang perencanaan pembangunan Indonesia. Kedua pendekatan konsep ekonomi tersebut didukung oleh ketersediaan sumber daya alam yang melimpah yang dimiliki oleh Indonesia. Konsep blue economy yang menjadikan laut sebagai objeknya sangat mungkin diterapkan di Indonesia, karena Indonesia adalah negara dengan ¾ nya adalah lautan. Sedangkan konsep green economy yang mengembangkan sistem ekonomi dari energi hijau dan teknolgi hijau, menjadikan Indonesia sebagai negara yang mempunyai peluang besar untuk menerpkannya, karen ketersediaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah seperti pertanian, hutan, energy panas bumi, dan lainlain. 2. Tinjauan Litelatur Konsep blue economy pertama kali diperkenakan oleh Prof. Gunter Pauli dalam bukunya yang berjudul “The Blue Economy, 10 Years, 100 Innovations, 100 Million Jobs” yang menggambarkan potensi manfaat teorinya bagi perlindungan lingkungan hidup komunitas dunia, pelestarian sumber daya alam, inisiatif pengurangan biaya industri dengan pengalihan pada konsumsi energi hijau, bersih, hasil daur ulang atau terbarukan. Menurut Pauli (2006) menyebutkan bahwa “Blue Economy is a collection of innovations contributing towards the creation of a global consciousness rooted in the search for practical solutions based on sustainable natural systems”. Menurut nurhayati (2013) Blue Economy adalah sebuah konsep baru pembangunan kelautan dan perikanan akan diaarahkan pada pembangunan ekonomi yang seimbang antara pemanfaatan sumber daya kelautan dengan upaya pengelolaan lingkungan secara optimal. Pengertian Green Economy dalam kalimat sederhana dapat diartikan sebagai perekonomian yang rendah karbon (tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan), hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial ( UNEP, dalam Almendah’s blog 3 juni 2012). Menurut Alexandru Bogdan (2013) Green economy adalah pola pengembangan ekonomi yang didasarkan pada energy hijau, teknologi hijau, industry hijau, dan bisnis hijau. Penggunaan teknologi hijau akan menghasilkan energy yang bersih dan ramah lingkungan. Pada dasarnya blue and green economy merupakan konsepekonomi baru yang menjadi harapan atas dua maalah besar yang mendera dunia yakni masalah lingkungan dan krisis energy. Saat ini banyak negara yang mangalami masalah tersebut, sudah banyak dana yang dikeluarkan untuk mencari solusi dalam menyelesaikan masalah ini. Menciptakan energi besar seperti nuklir untuk mengatasi masalah krisis energy, namun disisi lain radiasi yang ditimbulkan tidak sangat tidak ramah terhadap lingkungan. Begitu juga sebaliknya, meminimalkan praktek-praktek eksploitasi dengan tujuan untuk menajaga kelestarian lingkungan akan menyebabkan krisis energi yang juga akan menyengsarakan masyarakat dunia. Ditengah kerumitan inilah konsep blue and green economy hadir menjadi solusi bagi masyrakat dunia. Hal ini karena konsep blue and green economy berbeda dengan ekonomi lain yang cenderung bersifat eksploitatif terhadap alam. Disaat ekonomi eksloitatif hanya mencarai profit saja, konsep blue and green economy hadir sebagai konsep yang ideal dan berkelanjutan berbasis ramah lingkungan. 3. Analisa dan Pembahasan 3.1. Penerapan blue and green economy di Indonesia Mantan mentri kehutanan zulkifli hasan mengatakan “blue economy ini berkaitan satu sama lain saling melengkapi dan mendukung, bahkan seluruh dunia telah mengembangkan ekonomi ramah lingkungan dari green economy dan blue economy. Potensi blue dan green atau antara laut dan darat dimaksimalkan maka itu jauh akan lebih besar lagi terhadap ekonomi Indonesia. Pada saat ini potensi green economy masih belum dikelola secara maksimal. Sebagai pembanding ekspor kehutanan Swedia menyumbang US$110 miliar terhadap ekonomi negara tersebut. “Sedangkan kita baru US$8 miliar, apakah itu pertukangan dan industri kertas. Oleh karena itu, kita masih bisa meningkatkan lebih dari US$100 miliar per tahun, ( Jurnas.com 2013). Padahal luas hutang swedia hanya 23 juta ha yang hanya 1/5 luas hutan Indonesia yang berkisar 133 juta ha. Begitu juga dengan penerapan konsep blue economi di Indonesia yang masih belum maksimal. Potensi kelautan dan perikanan Indonesia sangat besar. Lautan Indonesia dan selatnya merupakan alur transportasi internasional yang ramai yang menghubungkan antara Benua Asia, pantai Barat Amerika, dan Benua Eropa. Lautan Indonesia memeiliki 8500 spesies ikan, 555 species rumput laut, 950 species terumbu karang ( jurnas.com 2013). Menurut mantan mentri kelautan dan perikanan syarif cicip suhtardjo penerapan blue economy akan semaki memperkuat pengelolaan potensi kelautan secara berkelanjutan, produktif dan berwawasan lingkungan. Pendekatan blue economy juga akan mendorong economi sumber daya alam secara efisien melalui kreativitas dan inovasi teknologi. Konsep blue economy juga mengajarkan bagaimana menciptakan produk nirlimbah (zero waste), sekaligus menjawab ancaman kerentanan pangan serta krisis energi (fossil fuel). Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyatakan, sektor laut juga memiliki potensi baik sebagai lokasi pengeboran gas laut dangkal dan dalam. Selain itu, laut juga berguna sebagai sumber pembangkit energi seperti ombak. “Arus laut itu sumber energi berkelanjutan dan terbarukan, dan juga temperatur laut hangat dan dingin itu bisa menjadi sumber listrik. Dari sektor energi saja itu jadi sumber ekonomi, apalagi yang lain. Laut juga bisa menjadi sumber pariwisata dan sumber kekayaan Indonesia. Kita harus dorong lebih keras,” Dari potensi-potensi laut yang dimiliki Indonesia tersebut tentu akan menghasilkan devisa yang sangat besar ketika dikelola seoptimal mungkin. Potensi-potensi yang sudah bisa dikelola Indonesia antara lain bidang perikanan, sektor pariwisata, bidang pelabuhan, dan energy laut terbarukan. a. Bidang perikanan Laut Indonesia adalah pusat penting keaneka ragaman hayati laut dunia sekligus tempat penagkapan ikan yang sangat berharga yang menyediakan makanan dan mata pencaharian bagi jutaan orang. Untuk memastikannya terus terjaga untuk generasi mendatanga adalah dengan memulihkan kondisi dan melindungi ekosistem laut, serta harus IUU fishing dan over fishing. Volume produksi perikanan Indonesia baik dari perikanan tangkap maupun perikanan budidaya terus meningkat setiap tahunnya. Produksi perikanan tangkap tahun 2006 sebesar 4,8 juta ton dan meningkat menjadi 5,7 juta ton pada tahun 2011. Rata-rata kenaikan produksi perikanan dirasakan cukup lambat hanya sekitar 3,2 persen. Produksi dari perikanan budidaya berbeda dengan perikanan tangkap, rata-rata kenaikan produksi perikanan budidaya 2006-2011 adalah 25,62 persen. Volume produksi perikanan budidaya tahun 2006 sebesar 2,68 juta ton, meningkat hampir 3 kali pada tahun 2011 yaitu 7,92 juta ton. Seiring dengan meningkatnya volume produksi perikanan tahun 2006-2011, nilai produksi perikanan tangkap tahun 2006 adalah sebesar Rp48,43 triliun dan meningkat 1,5 kali pada mtahun 2011 yaitu sebesar Rp70,03 triliun. Sedangkan nilai produksi perikanan budidaya sebesar Rp27,92 triliun pada tahun 2006 meningkat tajam pada tahun 2011 menjadi Rp66,54 triliun. Rata-rata kenaikan nilai produksi perikanan budidaya 2006-2011 sebesar 25,97 persen. (Agunan Samosir 2013, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI). Tahun lalu total produksi perikanan Indonesia mencapai 10,5 juta ton, sehingga menjadikan bangsa kita sebagai produsen perikanan terbesar ketiga di bumi ini setelah China dan Peru. Selain sebagai bahan pangan, komoditas dan produk laut lainnya seperti rumput laut, mikro algae (fitoplankton), teripang, karang lunak, kerang mutiara, dan ekinodermata sejak lama menjadi bahan baku (raw materials) utama bagi industri farmasi, kosmetika, biofuel, dan barbagai jenis industri lainnya. b. Sektor pariwisata pantai Sektor pariwisata memiliki potensi besar untuk membantu perekonomian Indonesia. Adanya pemberlakuan masyarakat ekonomi ASEAN pada 2015 mendatang menjadi peluang untuk bisnis industry pariwisata. Untuk menunjang peluang tersebut perlu didukung dengan pembenahan infrastruktur dan sarana di sejumlah tempat yang menjadi tujuan wisata di Indonesia. Terumbu karang, panorama pantai dan laut Indonesia yang indah menjadi obyek dan tujuan wisata bagi jutaan wisatawan domestik maupun asing. Sektor pariwisata bahari setiap tahunnya menyediakan lapangan kerja bagi jutaan warga negara Indonesia, menghasilkan devisa sedikitnya 3 miliar dolar AS, dan sejumlah multiplier effects (efek pengganda). Pecapaian sektor pariwisata Indonesia masih tertinggal jauh dibanding Negara-negara tetangga. Malaysia mampu menarik 24,7 juta wisatawan maca Negara pada 2011 dengan pendapatan 10 miliar dollar AS, 3 kali lipat lebih banyak dari pada Indonesia yang hanya mampu menarik 7,6 wisatawan manca Negara. Pada 2011, Thailand mampu meraup pendapatan hingga 30,9 miliar dolar AS, lebih dari tiga kali lipat penerimaan Indonesia yang hanya 9 miliar dolar AS. Dari sisi pendapatan dan penyerapan tenaga kerja, Indonesia juga tertinggal dari Kamboja, Thailand, Filipina, Singapura dan Vietnam (Jurnas.com 2014). Untuk meningkatkan sector pariwisata Indonesia perlu dilakukan promosi lebih gencar kepada warga dunia mengenai pariwisata Indonesia. Pemerataan pertumbuhan di daerah selain bali juga perlu dilakukan. Sebab selama ini 50% wisatawan mancanegara hanya berkunjung ke daerah Bali (jurnas.com 2014). c. Bidang pelabuhan d. Energy laut terbarukan Wilayah Indonesia sekitar 7,7 juta kilometer persegi, terdiri dari 25 persen teritorial daratan (1,9 juta km2) dan 75 persen adalah teritorial laut (5,8 juta km2). Dari luas laut tersebut, 2,8 juta km2 merupakan perairan nusantara (perairan kepulauan) dan 0,3 juta km2 laut teritorial, serta 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Karena itu, energy laut merupakan sumber energi baru yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Salah satunya listrik, di mana potensi energi laut ini mampu memenuhi empat kali kebutuhan dunia. Tidak mengherankan bila negara-negara maju berlomba memanfaatkan energi laut sebagai sumber energi alternatif. Energy laut yang bisa dikonversi menjadi energi listrik adalah energi pasang surut, energi gelombang laut, energi panas laut, dan enrgi ganggang laut. Energy pasang surut Pada prinsipnya teknologi ini hampir sama dengan teknologi pembangkit listrik tenaga air. Hanya saja arah turbin harus bisa berputar dua arah. Oleh karenanya tentunya ilmuwan Indonesia tidak akan kesulitan dalam mengaplikasikan teknologi ini. Kapasitas listrik yang dihasilkan Pembangkit listrik tenaga pasang surut (PLPS) sebaiknya untuk kapasitas besar, di atas 50 Mega Watt, agar bisa ekonomis seperti PLTA. Sumber energi PLPS ini banyak berada wilayah timur Indonesia, mulai dari Ambon hingga ke Papua Energy gelombang laut Peneliti Universitas Oregon, AS mempublikasikan temuan teknologi terbarunya yang diberi nama Permanent Magnet Linear Buoy. ekilas bila dilihat dari bentuknya, Buoy ini mirip dengan dinamo sepeda. Bentuknya silindris dengan perangkat penghasil listrik pada bagian dalamnya. Buoy diapungkan di permukaan laut dengan posisi sebagian tenggelam dan sebagian lagi mengapung.Dalam percobaan sistem ini diletakkan kurang lebih satu atau dua mil laut dari pantai. Kondisi ombak yang cukup kuat dan mengayun dengan gelombang yang besar akan menghasilkan listrik dengan tegangan yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Universitas Oregon, setiap pelampung mampu menghasilkan daya sebesar 250 kilowatt. Di Indonesia teknologi ini sudah banyak dikembangkan Energy panas laut Pembangkit listrik yang dapat memanfaatkan perbedaan temperatur tersebut untuk menghasilkan energi adalahOcean Thermal Energy Conversion (OTEC). Perbedaan temperatur antara permukaan yang hangat dengan air laut dalam yang dingin dibutuhkan minimal sebesar 77 derajat Fahrenheit (25 °C) agar dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik dengan baik. Adapun proyek-proyek demonstrasi dari OTEC sudah terdapat di Jepang, India, dan Hawaii. Di Indonesia sendiri teknologi ini masih belum diaplikasikan. Energy ganggang laut Alga atau dikenal sebagai tanaman ganggang termasuk tumbuhan yang bisa hidup di perairan mana saja. Selain tidak memerlukan air tawar untuk tumbuh, alga juga dapat ditanam di lahan yang tidak subur, dan perairan laut dangkal yang banyak terdapat di Indonesia. Walaupun tidak memerlukan lahan luas, potensi hayati yang dimiliki alga dinilai luar biasa oleh para ahli biologi. Beberapa waktu lalu, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan akan mengambil sumber hayati tersebut sebagai salah satu cadangan untuk menggantikan BBM fosil, yang dalam waktu tidak lama diperhitungkan akan habis dari perut bumi. Indonesia sebagai Negara yang mempunyai luas lautan 2/3 dari luas daratannya, mempunyai potensi yang besar untuk mengembangkan energi ini. 3.2. Dampak penerapan blue and green economy terhadap kesejahteraan masyarakat. Dalam pidato presiden pada konversi di rio de jenario ke 20 mempunyai maksud bahwa dalam penerapan konsep blue and green economy dalam perencanaan pembangunan Indonesia bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan lebih lanjut green economy akan membantu mensejahterakan masyarakat Indonesia. Konsep green economy yang banyak dikembangkan dan berperan dalam memberikan profit terhadap masyarakat Indonesia adalah bidang pertanian, bidang perkebunan, bidangn kehutanan, dan peternakan. Berdasarkan data pusat ststistik per 1 juni 2014 jumlah rumah tangga usaha pertanian Indonesia 2013 tercatat 26,1 juta rumah terjadi penurunan sebesar 16 % dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Jumlah rumah tangga yang mempunyai usaha tanaman padi tercatat 14,1 juta rumah tangga. Kegiatan usaha holtikultura kususnya bawang merah dan jeruk mengalami penurunan jumlah tumah tangga selama sepuluh tahun terkahir. Tercatat pada tahun 2013 terdapat 226 ribu rumah tanggga yang usaha jeruk, 1,1 juta rumah tangga usaha cabe rawit, dan 554 ribu rumah tangga yang usaha jeruk. Kegiatan perkebunan tercatat 1,4 juta usaha rumah tangga yang usaha kelapa sawit, 2,9 juta rumah tangga usaha karet, dan 2,18 juta rumah tangga kakao. Di bidangan tercatat 6,6 juta rumah tangga yang usaha peternakan ayam lokal, 77 ribu rumah tangga yang usaha ayam ras, dan 29 ribu rumah tangga ayam petelur. Yang bergerak di bidang Kehutanan tercatat 2,8 juta rumah tangga yang usaha pohon sengon, 100, 6 ribu rumah tangga yang usaha kayu jati. Untuk Pendapatan rumah tangga pertanian, perkebunan, dan peternakan rata-rata perbulan adalah 1 juta rupiah (BPS 2014). 4. Rekomendasi Pada paper yang berjudul New holistic approach of bioeconomics and ecoeconomics theories, practical bridging from the green economy to blue economy, trough new integrated and innovative paradigm about “bio-eco-geoeconomy merupakan paper hasil penelitian. Para penulis menyajikan pendekatan praktis baru melalui konsep hubungan antara ekonomi hijau dan ekonomi biru, dengan contoh-contoh praktis tentang pedesaan eco-bio-ekonomi, untuk pertanian pangan hijau, inovatif eco-bioteknologi, pengelolaan sistem yang kompleks dll. Dalam konteks pertanian pangan global dan krisis iklim, dengan dampak sosial yang besar, penulis memberikan contoh dinamika numerik dari beberapa kesenjangan mengenai kemiskinan dan kelaparan di seluruh dunia, termasuk "kelaparan tersembunyi" melalui ketidakstabilan pangan yang disebabkan oleh polusi. Dalam makalah tersebut, penulis menyarankan serangkaian proyek yang diperlukan untuk kesejahteraan sosial dan solusi yang layak, didasarkan pada inovatif bio-eco geo-ekonomi melalui ilmu kompleksitas dan integrasi sistem sosio-ekologi yang kompleks, termasuk pengetahuan tentang prinsip-prinsip sistem chaordic untuk membentuk dunia hijau dan membentuk kembali inovatif untuk bioeconomy biru, yang akan menyimpan ketahanan pangan planet Bumi. Dalam paper selanjutnya diharapkan konsep blue and green economi bisa direncanakan dengan sempurna untuk kesejahteraan masyarakat dunia. Pembahasan pada jurnal ini menitikberatkan pada penerapan konsep blue and green economy di indoseia seperti pemanfaatan bidang perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, dan pemanfaatan laut secara luas untuk meningkatkan pereknomian masyarakat. Daam paper ini juga menganalisa seberapa besar dampak penerapan blue and green economy secara financial terhadap masyarakat. Referensi Agunan Samosir, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI 2013 Bogdan, Alexandru dkk.2013. New holistic approach of bioeconomics and ecoeconomics theories, practical bridging from the green economy to blue economy, trough new integrated and innovative paradigm about “bio-eco-geoeconomy”. Jurnal economic and finance. Humayun Asaf & Zafar Naghmana. 2011. Pakistan‟s „Blue Economy‟ Potential and Prospects. Jurnal economic Hasil pencacahan lengkap sensus pertanian 2013 dan survey pendapatan rumah tangga usaha pertanian 2013. http://www.jurnas.com/news/109753/Potensi_Bl ue_dan_Green_Economy_Indonesia_Besar_2 013/1/Ekonomi/Ekonomi#sthash.qpkkGOY1. dpuf http://rokhmindahuri.info/

Judul: Tugas 2 Ekonomi Maritime Blue Economi Consep

Oleh: Abdul Gafur


Ikuti kami