Spat Dan Kontribusinya Untuk Pengembangan Ekonomi Lokal

Oleh Galuh Syahbana Indraprahasta

4,1 MB 5 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Spat Dan Kontribusinya Untuk Pengembangan Ekonomi Lokal

Sistem IInovasi novasi Daerah: Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Sistem IInovasi novasi Daerah: Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Mohamad Arifin Dudi Hidayat Setiowiji Handoyo Sri Mulatsih Prakoso Bhairawa Putera Dini Oktaviyanti Galuh Syahbana Indraprahasta Sistem Inovasi Daerah: Inovasi Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Penulis: Mohamad Arifin Dudi Hidayat Setiowiji Handoyo Sri Mulatsih Prakoso Bhairawa Putera Dini Oktaviyanti Galuh Syahbana Indraprahasta Copyright © 2013 IPB Press Penyunting bahasa Penata letak Desainer sampul Korektor : Galuh Syahbana Indraprahasta dan Nia Januarini : Noval Tensai : Sani Etyarsah : Dwi M Nastiti PT Penerbit IPB Press Kampus IPB Taman Kencana Bogor Cetakan Pertama : Mei 2013 Dicetak oleh Percetakan IPB Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Dilarang memperbanyak buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit - Anggota IKAPI ISBN : 978-979-493-504-0 Kata Pengantar Buku ini merupakan hasil penulisan kembali dari penelitian mengenai Penguatan Inovasi Teknologi dalam Rangka Mendukung Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL). Penguatan inovasi yang berorientasi pada spesialisasi kewilayahan menjadi kunci keberhasilan pengembangan riset dan aplikasinya. Seiring dengan itu, pergeseran paradigma pembangunan dari yang bersifat sentralistik top-down menjadi desentralisasi bottom-up telah menempatkan daerah sebagai salah satu ujung tombak pembangunan nasional. Untuk itu perlu dipetakan kegiatan inovasi teknologi yang dilakukan oleh UKM, khususnya industri makanan dan minuman dalam rangka mendukung PEL. Lokus kegiatan ini adalah Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, dan Kota Salatiga. Keempat daerah tersebut dipilih karena memiliki potensi daerah yang dapat dikembangkan untuk mendukung ekonomi lokal dari hasil inovasi teknologi. Fokus kegiatannya meliputi a) Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT), industri berbahan baku ketela; b) Agaricus Sido Makmur Sentosa (ASIMAS), industri berbahan baku jamur; c) Bangkit Cassava Mandiri (BCM), industri berbahan baku singkong; dan d) UKM Sehati, industri berbahan baku kedelai. Industri yang dikelola oleh SPAT dan ASIMAS dalam mengembangkan produk dari hasil inovasinya, tercermin dari tiga indikator inovasi yang baik, yaitu (i) perusahaan ini mampu mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas produksi, termasuk menggunakan teknologi dalam pembibitan; (ii) keinovatifan perusahaan yang ditandai dari terbukanya manajemen terhadap ide-ide baru terkait dengan peningkatan kualitas produk, terutama ide-ide varian produk dan pengemasan; dan (iii) kapasitas berinovasi dari perusahaan ini terlihat sangat baik, tidak hanya dari bagaimana perusahaan memaksimalkan produksi setiap tahunnya tetapi juga mampu menghasilkan berbagai varian dari produk. Sementara itu, kasus pengembangan mocaf yang dikembangkan oleh BCM ditujukan untuk mengembangkan ekonomi pedesaan yang hanya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Selain itu, inovasi yang terjadi tidak ada sharing pengetahuan kepada UKM lainnya Kata Pengantar serta teknologi packaging-nya masih rendah. Untuk kasus UKM Sehati dalam pengembangan usaha tidak terlepas dari adanya keterbukaan pemilik untuk selalu mencari berbagai informasi berkaitan dengan pengelolaan UKM yang baik dan berusaha untuk terus mencoba menerapkan ide-ide kreatif yang muncul ke dalam berbagai bentuk inovasi, mulai dari inovasi proses, inovasi produk, dan inovasi pemasaran. Berbagai bentuk inovasi tersebut pada akhirnya berperan dalam memajukan UKM yang ia kelola dan turut mengangkat pengembangan ekonomi lokal, minimal di sekitar tempat UKM Sehati berada. Akhirnya tim penulis yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Perkembangan Iptek-LIPI mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Riset dan Teknologi yang telah memberikan dana kegiatan ini melalui Program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa. Tak lupa tim penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyampaikan pemikirannya serta memberikan masukan dalam penyusunan akhir buku ini. Jakarta, Januari 2013 Tim Penulis vi Daftar Isi Hal Kata Pengantar............................................................... v Daftar Isi...................................................................... vii Daftar Tabel................................................................ xiii Daftar Gambar..............................................................xv Prolog......................................................................... xvii Bab 1 Strategi Pengembangan Ekonomi Wilayah dengan Pendekatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa): Hambatan dan Prospek..................1 1.1 Pendahuluan......................................................................... 1 1.2 Konsep Sistem Inovasi dalam Diskursus Ekonomi Wilayah................................................. 2 1.3 Pokok-pokok Konsep Sistem Inovasi.................................... 4 1.3.1 Pengertian SINas.......................................................................5 1.3.2 Dasar Pemikiran Perlunya Konsep SINas.................................6 1.3.3 Konsep SINas bagi Negara Berkembang...................................8 1.4 Isu-isu Penting dan Permasalahan dalam Pengembangan SIDa di Indonesia....................................... 11 1.5 Interaksi antara Praktik Inovasi, Kebijakan Inovasi, dan Teori Inovasi................................................................ 15 1.6 Penutup.............................................................................. 19 Daftar Pustaka.................................................................... 19 Daftar Isi Bab 2 Kajian Potensi Sumber Daya Lokal dalam Pengembangan Inovasi Daerah ................23 2.1 Pendahuluan....................................................................... 23 2.2 Konsep Sistem Inovasi Daerah............................................ 25 2.3 Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi.................................... 27 2.4 Kebijakan Inovasi dan Kebijakan Daerah............................ 28 2.5 Potensi Daerah.................................................................... 30 2.5.1 Kota Salatiga............................................................................31 2.5.2 Kabupaten Trenggalek.............................................................33 2.5.3 Kabupaten Malang...................................................................36 2.5.4 Kabupaten Pasuruan................................................................39 2.6 Penutup.............................................................................. 41 Daftar Pustaka.................................................................... 42 Bab 3 Potensi Pengembangan Singkong sebagai Pengganti Tepung Terigu: Kasus di Kabupaten Trenggalek................................45 3.1 Awal Mula Pengembangan Mocaf di Trenggalek...................................................................... 45 3.2 Mocaf dan Potensi Kemandirian Bangsa............................. 48 3.3 Konsep Pengembangan Mocaf di Kabupaten Trenggalek.................................................... 53 3.4 Inovasi dan Pengembangan Ekonomi Lokal........................ 55 3.5 Potensi Keberlanjutan Mocaf di Kabupaten Trenggalek.................................................... 60 3.6 Penutup.............................................................................. 65 Daftar Pustaka.................................................................... 65 viii Daftar Isi Bab 4 Peran Inovasi Teknologi dan Potensi Unggulan Daerah dalam Pengembangan UKM Sehati Salatiga...................................67 4.1 Pendahuluan....................................................................... 67 4.2 Inovasi Teknologi dan Potensi Keunggulan Daerah sebagai Faktor Pendorong Pengembangan Ekonomi Lokal................................................................... 74 4.3 Perkembangan UKM Sehati, Salatiga di Bidang Makanan Olahan................................................ 76 4.4 Model Peran Inovasi Teknologi dan Potensi Unggulan Daerah dalam Mendukung Pengembangan UKM Sehati, Salatiga................................. 80 4.4.1 Potensi Unggulan Daerah.......................................................81 4.4.2 Inovasi Teknologi...................................................................83 4.4.3 Kebijakan Pemerintah.............................................................88 4.5 Penutup.............................................................................. 91 Daftar Pustaka.................................................................... 91 Bab 5 Kinerja Bisnis Agaricus Sido Makmur Sentosa dalam Penguatan Inovasi Teknologi Mendukung Pengembangan Ekonomi Lokal............................................93 5.1 Pendahuluan....................................................................... 93 5.2 Profil Wilayah Lawang-Malang (Jawa Timur)..................... 95 5.3 Perspektif Sejarah Pembentukan Agaricus Sido Makmur Sentosa........................................... 99 5.4 Kegiatan Usaha dan Produksi........................................... 101 5.5 Penerapan Teknologi........................................................ 103 ix Daftar Isi 5.6 Pola Hubungan Kinerja Bisnis-Inovasi-Mendukung Ekonomi Lokal...................... 108 5.7 Penutup............................................................................ 113 Daftar Pustaka.................................................................. 114 Bab 6 SPAT dan Kontribusinya untuk Pengembangan Ekonomi Lokal..............117 6.1 Otonomi Daerah, Pengembangan Ekonomi Lokal, dan SPAT......................................................................... 117 6.2 SPAT dan Aktivitasnya..................................................... 121 6.2.1 Sejarah...................................................................................121 6.2.2 Kelembagaan.........................................................................122 6.2.3 Produk SPAT........................................................................124 6.3 Inovasi dan Pengembangan Ekonomi Lokal...................... 126 6.3.1 Pengembangan Inovasi..........................................................126 6.3.2 Pengembangan Ekonomi Lokal............................................128 6.3.3 Tantangan Pengembangan Inovasi dalam Mendukung PEL........................................................130 6.4 Kesimpulan....................................................................... 131 Daftar Pustaka.................................................................. 131 Bab 7 Penerapan Teknologi Pascapanen (Studi Kasus: Penerapan Teknologi Pascapanen di Kabupaten Malang)..............................133 7.1 Pendahuluan..................................................................... 133 7.2 CV Agrindo Cipta Mandiri............................................... 141 7.2.1 Inovasi Teknologi.................................................................142 7.2.2 Kompleksitas Aset Khusus....................................................144 7.2.3 Diferensiasi Produk..............................................................145 x Daftar Isi 7.3 CV Inovasi Anak Negeri (Susu Listrik)............................. 146 7.3.1 Inovasi Teknologi.................................................................148 7.3.2 Kompleksitas Aset Khusus....................................................150 7.3.3 Diferensiasi Produk..............................................................150 7.4 Dampak Inovasi Teknologi Pascapanen terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal dan Permasalahannya........................................................ 151 7.5 Penutup............................................................................ 155 7.5.1 Kesimpulan...........................................................................155 7.5.2 Saran.....................................................................................156 Daftar Pustaka.................................................................. 156 Bab 8 Inovasi Teknologi Industri Makanan dan Minuman untuk Mendukung Pengembangan Ekonomi Lokal..............159 8.1 Pendahuluan..................................................................... 159 8.2 Kompleksitas Alat Khusus................................................. 163 8.3 Inovasi Teknologi di Industri Makanan dan Minuman................................................................... 164 8.4 Inovasi Teknologi dan Potensi Daerah sebagai Faktor Pendorong Pengembangan Ekonomi Lokal................................................................. 171 8.4.1 Sumber Daya Alam................................................................174 8.4.2 Inovasi Teknologi.................................................................174 8.4.3 Kompleksitas Aset Khusus....................................................175 8.4.4 Diferensiasi Produk..............................................................175 8.4.5 Kebijakan Pemerintah...........................................................176 8.5 Penutup............................................................................ 178 Daftar Pustaka.................................................................. 179 xi Daftar Isi Epilog......................................................................... 183 Profil Penulis.............................................................. 191 xii Bab VI SPAT dan Kontribusinya untuk Pengembangan Ekonomi Lokal Galuh Syahbana Indraprahasta 6.1 Otonomi Daerah, Pengembangan Ekonomi Lokal, dan SPAT Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Nomor 24 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Daerah antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang kemudian direvisi menjadi UndangUndang Nomor 32 dan 33 Tahun 2004 telah memberikan landasan legal bagi terwujudnya otonomi daerah di Indonesia. Desentralisasi kewenangan yang terjadi dalam otonomi daerah bermakna pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab lebih besar dalam membangun daerahnya masing-masing. Konsekuensi dari perubahan sistem pemerintahan (dari sentralistik menjadi desentralistik) ini tidaklah seragam: beberapa dampak positif bermunculan dan dapat diambil sebagai pembelajaran yang baik, begitupun dengan beberapa konsekuensi negatif yang perlu menjadi perhatian bersama. Salah satu konsekuensi negatif dari pelaksanaan otonomi daerah ini adalah banyak daerah bertindak seolah mereka adalah kerajaan-kerajaan kecil (Firman 2010). Desentralisasi kewenangan dalam konteks otonomi daerah bermakna daerah mempunyai peran yang lebih besar dalam mengembangkan potensi ekonomi daerahnya. Daerah diharapkan dapat memanfaatkan potensi lokal yang ada untuk dapat dikembangkan lebih lanjut, sehingga akan berdampak positif terhadap daerah maupun masyarakatnya. Pengembangan ekonomi lokal atau biasa disingkat dengan PEL1 menjadi sangat relevan untuk dapat 1 Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) dalam Bahasa Inggris secara akademik sering kali diistilahkan dengan Local Economic Development (LED). Istilah ini tidak menjadi domain subjek Sistem IInovasi novasi Daerah: Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal dijadikan pendekatan pengembangan ekonomi daerah. Carroll and Blair (2012) mengungkapkan bahwa PEL merupakan salah satu topik bahasan utama (centerpiece) yang telah berlangsung lama dan produktif antara para ekonom dan geografer. PEL sangat menekankan pada pemanfaatan potensi lokal di suatu daerah tertentu yang kemudian pemanfaatan potensi tersebut dapat meningkatkan kualitas pembangunan ekonomi daerah serta kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut (Swinburn et al. 2006; Zaaijer dan Sara 1993 dalam Nel 2001). Adapun definisi PEL dari lembaga internasional seperti dari World Bank dan UN-Habitat adalah sebagai berikut. World Bank: “Local Economic Development (LED) is the process by which public, business and nongovernmental sector partners work collectively to create better conditions for economic growth and employment generation. The aim is to improve the quality of life for all” (2003, p 7). UN-HABITAT: “Local economic development (LED) is a participatory process where local people from all sectors work together to stimulate local commercial activity resulting in a resilient and sustainable economy. It is a tool to help create decent jobs and improve the quality of life for everyone, including the poor and marginalized” (Trousdale 2003, p 1). PEL seharusnya berjalan lebih mudah seiring dengan otoritas pemerintah daerah yang lebih besar dalam mengelola daerahnya. Namun keadaan seperti ini tidak membuat isu pembangunan daerah sudah terselesaikan. Hal ini terkait dengan bagaimana transformasi keorganisasian pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya terjadi. Ada 3 bentuk organisasi peran pemerintah daerah yang berkembang dalam kaitannya dengan PEL (Valler 1996). 1. Enabling authority. Pemerintah daerah dipandang sebagai pihak yang mampu (enable) menyediakan pelayanan, bukan sebagai pihak yang langsung mengoperasikan keseluruhan penyediaan pelayanan. 2. Post-Fordist. Pemerintah daerah lebih banyak terlibat dalam PEL, mulai munculnya kerja sama pemerintah-swasta (public-private partnership) dan munculnya pergeseran dari pemerintah (government) menjadi pemerintahan/tata kelola (governance). 3. Local governance entrepreneurialism. Pemerintah daerah dan sektor swasta mempunyai hubungan dan koalisi yang menguntungkan dalam bentuk kerja sama pemerintah-swasta (public-private partnership). akademik tertentu dan dipandang secara lintas disiplin, utamanya ekonomi, manajemen, dan bisnis, geografi, serta perencanaan (kota dan wilayah) 118 SPAT dan Kontribusinya untuk Pengembangan Ekonomi Lokal Pilihan bentuk organisasi pemerintah daerah, terutama dalam mendukung PEL untuk Indonesia tidak bisa disamaratakan. Karakteristik geografis, ekonomi, sosial-budaya yang berbeda membuat pola-pola pengelolaan daerah berbeda. Satu hal yang tampaknya lebih menjadi prioritas untuk diperhatikan adalah bagaimana otonomi daerah dapat menjadi wadah bagi setiap pemangku kepentingan di daerah, termasuk sektor swasta untuk lebih leluasa dalam mengembangkan usahanya sehingga berdampak positif terhadap pembangunan daerah. Terkait dengan hal tersebut, Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT) yang merupakan salah satu aktor bisnis di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur mampu melihat potensi lokal untuk dapat dikembangkan menjadi produk yang bernilai guna sehingga tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi usahanya, tetapi juga berdampak positif terhadap PEL di Kabupaten Pasuruan. SPAT atau yang dalam 2–3 tahun terakhir juga dikenal dengan nama lain “Repoeblik Telo” mencoba memanfaatkan ubi jalar (atau telo dalam Bahasa Jawa) yang banyak tersedia untuk dikembangkan. Menurut Unggul Abinowo (Direktur dan founder SPAT)2, hanya komoditas ubi jalar (telo) yang keberadaannya masih tersedia di Indonesia dan tidak perlu mengimpor. Tidak seperti kedelai yang sudah menjadi makanan sehari-hari (terutama dalam bentuk produk tempe, tahu, kecap, dan beberapa produk lainnya), tetapi masih saja perlu untuk mengimpor. Oleh karena itu, Unggul Abinowo ingin mencoba memanfaatkan potensi lokal asli untuk dapat diolah dengan proses yang dapat meningkatkan nilai tambah produk ini. Lebih lanjut lagi, ia mengemukakan bahwa selama ini ubi jalar (telo) dianggap sebagai makanan rendahan. Hal inilah yang membuatnya ingin mengangkat level makanan dari level rendahan menjadi lebih bermartabat. Berbicara ubi jalar berarti berbicara potensi pertanian di Kabupaten Pasuruan. Sektor pertanian di Kabupaten Pasuruan relatif masih mempunyai peran dominan dalam membentuk struktur PDRB. Pada tahun 2011 diketahui bahwa sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap PDRB (harga konstan 2000) sebesar 24,95%. Kabupaten Pasuruan sendiri mempunyai struktur PDRB yang cukup berimbang antarsektornya, yaitu dengan kontribusi sektor industri pengolahan sebesar 31,96% dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 20,17%. Untuk sektor pertanian, subsektor tanaman pangan memberikan kontribusi sebesar 17,87% dari PDRB. Adapun untuk sektor industri pengolahan, subsektor industri makanan, minuman, dan 2 Wawancara mendalam dengan Unggul Abinowo pada tanggal 31 Juli 2012 di SPAT, Kabupaten Pasuruan 119 Sistem IInovasi novasi Daerah: Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal tembakau membentuk 18,06% PDRB. Secara sekilas dapat terlihat bahwa ada keterkaitan antara sumber daya lokal (potensi pertanian tanaman pangan) dan kemampuan pembentukan nilai tambah (industri makanan dan minuman). Secara struktur kependudukan, mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian (28,10%). Proporsi ini sama dengan persentase pengangguran di Kabupaten Pasuruan sebesar 28,10%. Angka ini relatif tinggi dan perlu mendapatkan perhatian lebih dari para pemangku kepentingan daerah. Sektor industri pengolahan serta jasa lainnya menempati urutan kedua sebagai penyedia lapangan pekerjaan utama di Kabupaten Pasuruan dengan persentase masing-masing 10,53% dan 10,07% (Tabel 6.1). Struktur ekonomi dan ketenagakerjaan tersebut menunjukkan sektor pertanian di Kabupaten Pasuruan menjadi sumber daya lokal yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Tabel 6.1 Struktur lapangan pekerjaan Kabupaten Pasuruan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Lapangan Pekerjaan Tidak/Belum Bekerja Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Perdagangan Listrik dan Gas Konstruksi Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan dan Asuransi Jasa-jasa Lainnya Total Tenaga Kerja Orang Persen 427.424 427.337 4.044 160.205 100.811 1.965 40.484 11.190 33.724 3.231 153.102 157.461 1.520.978 28,10 28,10 0,27 10,53 6,63 0,13 2,66 0,74 2,22 0,21 10,07 10,35 100,00 Sumber: BPS (2012), diolah Meskipun luas panen ubi jalar tidak terlalu besar (252 ha tahun 2010) dibandingkan dengan komoditas pangan lain seperti padi sawah (83.308 ha) dan jagung (4.271 ha), potensinya sebagai komoditas lokal tetap tidak bisa dikecilkan. Ada 4 kecamatan yang menjadi lokasi dibudidayakannya ubi jalar, yaitu Purwodadi, Tutur, Pasrepan, dan Prigen. Kecamatan Purwodadi di 120 SPAT dan Kontribusinya untuk Pengembangan Ekonomi Lokal mana SPAT berada merupakan kecamatan dengan luas panen ubi jalar terluas (tahun 2010), yaitu sebesar 150 ha (59,52%) dari total 252 ha. Tentunya SPAT mampu menjadikan komoditas ubi jalar yang sudah ada dan sengaja ditanam di Kabupaten Pasuruan, khususnya Kecamatan Purwodadi menjadi lebih bernilai ekonomis. Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, lokasi SPAT berada adalah daerah di mana tenaga kerjanya banyak bergerak di sektor pertanian. Pada tahun 2010, terdapat 16.568 orang yang bekerja di sektor pertanian dari total 37.808 tenaga kerja. Tenaga kerja sektor industri pengolahan menempati urutan kedua terbanyak dengan jumlah 11.843 orang. Adapun tenaga kerja terkecil pada sektor keuangan dan lembaga keuangan dengan jumlah 70 orang serta sektor hotel dan restoran dengan jumlah 77 orang. Secara penggunaan lahan, Kecamatan Purwodadi didominasi oleh lahan pertanian yang mempunyai luas 110.922 ha adalah luas pertanian bukan sawah dan 13.033 ha adalah luas pertanian sawah. Adapun sisanya yaitu 15.034 ha adalah luas lahan bukan pertanian (termasuk hutan negara dan rawa-rawa). Secara lebih detail, luas tegal/kebun (termasuk lahan pertanian bukan sawah) mendominasi Kecamatan Purwodadi, seluas 48.237 ha. Luas perkebunan menempati posisi kedua dengan luas 36.786 ha. Latar belakang tersebut memberikan gambaran awal tentang bagaimana eksplorasi lebih lanjut aktivitas SPAT di Kabupaten Pasuruan menjadi menarik, khususnya terkait dengan PEL dan pengembangan inovasi yang dilakukan. Adapun pembahasan tulisan ini dibagi menjadi 4 bagian utama. Pertama, tulisan ini memberikan pendahuluan awal mengenai SPAT sebagai salah satu aktor bisnis yang berpotensi memberikan kontribusi secara nyata dalam PEL yang sudah dibahas di subbab ini. Kedua, tulisan ini mencoba mengeksplorasi beberapa aktivitas yang dilakukan SPAT. Ketiga, tulisan ini mencoba menganalisis keterkaitan antara inovasi dan PEL dalam konteks SPAT. Keempat, tulisan ini akan memberikan kesimpulan berdasarkan analisis dan pembahasan sebelumnya. 6.2 SPAT dan Aktivitasnya 6.2.1 Sejarah Minat Unggul Abinowo (Pemilik SPAT saat ini) terhadap dunia pertanian sudah ada sejak dia duduk di kelas 2 sekolah menengah atas. Pengaruh ayahnya, Prof. Dr. Ir. Moeljadi Banoewidjojo (profesor bidang 121 Sistem IInovasi novasi Daerah: Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal pertanian) sangat kuat bagi minat Unggul di bidang pertanian. Usahanya terus berkembang saat Unggul menjadi mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya tahun 1980-an. Saat menjadi mahasiswa, Unggul mulai merintis usaha budi daya pertanian di Desa Parerejo, Kabupaten Pasuruan. Beragam tanaman pangan dan hortikultura yang dia budidayakan, seperti padi, jagung, ubi jalar, jeruk, tomat, melon, dan sayur-sayuran. Saat kuliah, Unggul sudah mempunyai kendaraan dan supir pribadi serta sudah mengelola 22 ha lahan dengan status sewa. Periode 1990-an, Unggul semakin mengembangkan bisnisinya antara lain dengan merintis usaha peternakan bebek dan sapi, pembangunan pabrik, mengadakan magang serta pelatihan bagi petani, kelompok tani, LSM, dinas pemerintah, dan lembaga lainnya. Beberapa prestasi/jabatan yang diperoleh antara lain kursus singkat agribisnis di Australia Barat tahun 1991, Ketua Litbang Asosiasi Pupuk Cair tahun 1993, Pemuda Pelopor tahun 1996, Ketua Brigade Pemuda Pelopor Pembangunan Desa (BP3D) tahun 1997, Sekjen KTNA Nasional tahun 1999. Secara kelembagaan formal, SPAT berdiri tanggal 16 April 1999 yang diresmikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga dan ditandai dengan peresmian Terminal Agribisnis di Desa Simping, Kabupaten Pasuruan. Sebelum diresmikan, SPAT pernah menjadi Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) oleh Menteri Pertanian tahun 1998. SPAT kembali terpilih sebagai P4S pada tahun 2003. Sejak tahun 2000, SPAT mempunyai struktur organisasi seperti saat ini, yaitu yang terbagai dalam 6 divisi. 6.2.2 Kelembagaan SPAT seperti namanya mencoba untuk mengembangkan bisnisnya secara terpadu. Hal ini tercermin dari visi yang diemban, yaitu “Menjadi industri terkemuka di bidang agribisnis dengan model usaha pertanian terpadu yang efisien, tangguh, modern, berkelanjutan, dan berdimensi kerakyatan”. Visi ini kemudian diwujudkan dalam misi “Pemberdayaan segenap potensi sumber daya alam dan manusia”. Visi dan misi SPAT kemudian diturunkan dalam 6 tujuan utama, yaitu: 1. menghasilkan produk agribisnis yang mempunyai daya saing tinggi; 2. menyejahterakan petani; 3. menyejahterakan UKM; 4. melatih dan mencetak petani yang handal; 122 SPAT dan Kontribusinya untuk Pengembangan Ekonomi Lokal 5. rebuilding image produk lokal; dan 6. berperan serta dalam pengembangan ekonomi daerah. Sistem agribisnis terpadu mempunyai lini kegiatan dari hulu, usaha tani, dan hilir. Subsistem hulu mempunyai aktivitas terkait dengan produksi dan budi daya komoditas tertentu. Subsistem usaha tani mempunyai aktivitas terkait dengan pengolahan ataupun peningkatan nilai tambah produk pascapanen. Adapun subsistem hilir mempunyai aktivitas seputar pemasaran produk. Dalam beberapa kondisi, hasil dari subsistem hulu bisa saja langsung didistribusikan ke subsistem hilir (pemasaran) atau dengan proses penambahan nilai melalui proses sederhana, seperti pemilahan kualitas (sorting-grading) maupun pembungkusan (packaging). Untuk menjamin terselenggaranya sistem agribisnis terpadu, SPAT mempunyai 6 divisi yang berfungsi sebagai sistem penunjang. 1. Divisi data & informasi 2. Divisi pendidikan & latihan 3. Divisi teknologi tepat guna 4. Divisi kajian strategi pembangunan desa 5. Divisi investasi & pembiayaan 6. Divisi terminal agribisnis Gambar 6.1 Kerangka kerja SPAT 123 Sistem IInovasi novasi Daerah: Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Selain kerangka kerja yang telah diterangkan di atas, SPAT mempunyai 3 prinsip strategi bisnis. 1. Kompetisi. Menciptakan produk-produk yang kompetitif dan diminati konsumen. 2. Koneksi. Memperluas jaringan dengan pihak luar yang memiliki kesepahaman dalam pembangunan pertanian. 3. Kolaborasi. Melaksanakan kerja sama dengan pihak-pihak yang memiliki visi dan misi sama untuk mencapai tujuan bersama. Lebih detail mengenai kolaborasi, SPAT mengembangkan kerja sama dalam 3 aspek, yaitu riset dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, serta kualitas pasar dan pertumbuhan pasar. Adapun aktor-aktor untuk setiap bidang kerja sama adalah sebagai berikut. 1. Riset dan pengembangan: universitas, lembaga penelitian, dan pengembangan. 2. Pendidikan dan pelatihan: kelompok tani, UKM, bank, sekolah, lembaga pemerintah. 3. Kualitas pasar dan pertumbuhan pasar: sertifikasi mutu (HACPP dan halal), ITF-net, SIRIM Malaysia, UKM, bank. 6.2.3 Produk SPAT Sistem agribisnis terpadu ini juga membuat jenis produk SPAT bervariasi. Ubi jalar (telo) adalah produk pertama yang dikembangkan dan menjadi trademark tersendiri bagi SPAT. Perkembangan lebih lanjut, membuat SPAT tidak hanya berkembang pada pengolahan ubi jalar (telo), tetapi juga merambah pada komoditas serta produk lainnya. Dengan beragam produk yang ada, SPAT tetap memberikan penekanan bahwa produk pengolahan pertanian tetap menjadi produk utama di mana ubi jalar (telo) menjadi ciri khas. Produk pengolahan pertanian ini dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu produk makanan, herbal, dan olahan hasil ubi jalar (telo). Produk makanan utamanya berupa keripik buah dan sayur yang saat ini terdiri atas 9 jenis produk; produk herbal berupa minuman instan (9 jenis produk) dan ekstrak buah (3 jenis produk); serta adapun produk olahan ubi jalar (telo) terdiri atas 40 jenis produk (terbanyak di antara jenis produk olahan makanan lainnya). Ada 3 jenis ubi jalar (telo) yang digunakan di SPAT, yaitu (berdasarkan warna) oranye yang kaya akan β karoten, ungu anthosian, dan putih yang 124 SPAT dan Kontribusinya untuk Pengembangan Ekonomi Lokal bagus untuk tepung. Ada beberapa alasan ilmiah yang dijadikan SPAT untuk mengembangkan ubi jalar (telo). 1. Peringkat 1 dari 58 jenis sayuran (Nutrition Action Health Letter, USA) 2. Kandungan Vit A 4 kali lebih banyak daripada wortel (World Health Organization) 3. Mengandung betacarotene (Dr. Sanjay Gupta in www.cnn.com) 4. Kandungan gula relatif sedikit (www.cnn.com) 5. Memiliki kandungan antioksidan (Jack. D. Osman, Towson University) 6. Kandungan Glycemix Index Carbohydrate (LGI, 54) yang rendah (Dr. dr Elvina Karyadi, M.Sc., Pusat Gizi UI Indonesia) 7. Kolesterol rendah (Dr. Robert Cordell, Wake Forest School of Medicine, USA) 8. Memiliki serat yang baik untuk pencernaan (World Health Organization) Beberapa variasi produk dari ubi jalar (telo) antara lain hamburger telo, hotdog telo, jus telo, tepung telo, mi telo, nugget telo, pizza telo, dan kukis (cookies) telo. Variasi produk ini ada yang langsung dikembangkan dari telo seperti jus telo, ada juga yang perlu dikombinasikan dengan bahan-bahan lainnya seperti pizza, hotdog, dan sebagainya (Gambar 6.2). (a) (b) (c) (d) Gambar 6.2 Beberapa produk SPAT (a) hotdog, (b) jus, (c) tepung, (d) mi 125 Sistem IInovasi novasi Daerah: Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Dari 90 varian produk telo, bakpia telo dan bakpao telo menjadi produk yang paling favorit. Kedua produk ini juga merupakan produk awal yang dikembangkan oleh SPAT. Untuk banyak produk unggulan seperti bakpia dan bakpao, SPAT memperhatikan kualitas kemasan menjadi semenarik mungkin dengan warna dominan ungu yang menjadi ciri khasnya (Gambar 6.3). (a) (b) Gambar 6.3 Produk unggulan SPAT (a) bakpia telo, (b) bakpao telo 6.3 Inovasi dan Pengembangan Ekonomi Lokal 6.3.1 Pengembangan Inovasi Inovasi merupakan keharusan bagi setiap perusahaan untuk terus berkembang dan bersaing, termasuk SPAT. Inovasi yang dilakukan tentunya harus mempunyai dampak positif terhadap peningkatan nilai ekonomi bisnis SPAT. Pengembangan inovasi yang dilakukan oleh SPAT berkisar pada inovasi produk yang kemudian menghasilkan produk yang lebih beragam (diferensiasi produk) serta inovasi teknologi yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan beragam. Di SPAT tidak ada bagian ataupun divisi khusus yang menangani penelitian dan pengembangan. Semua orang yang terlibat di SPAT, terutama bagian produksi dan pemasaran merupakan aktor utama dari inovasi produk. Inovasi produk yang dikembangkan di SPAT tidak selalu merupakan produk baru, tetapi juga dapat terinspirasi dari produk-produk yang dihasilkan oleh 126 SPAT dan Kontribusinya untuk Pengembangan Ekonomi Lokal para pesaingnya. Tentunya produk-produk yang dihasilkan harus mempunyai ciri khas, sehingga tidak terkesan hanya meng-copy dari produk-produk pesaingnya. Dengan posisinya yang juga “merangkap” sebagai inovator jenis produk, orang-orang yang bekerja di bagian produksi dan pemasaran dituntut untuk bisa berpikir kreatif dan jeli dalam membaca perkembangan yang ada. Untuk menjaga kualitas dari bagian produksi ini, sarjana teknologi pangan ditempatkan sebagai pimpinannya. Adapun di bawah divisi kerjanya, ada beberapa pekerja yang mempunyai latar belakang tata boga dengan lulusan ratarata dari sekolah menengah kejuruan (SMK). Status sarjana teknologi pangan sebagai pimpinan dapat menjadi salah satu sumber dari inovasi produk, oleh karena itu pendidikan sarjana banyak melatih proses dan pola berpikir yang baru. Bagian ini juga tentunya turut berperan dalam menciptakan pembaruanpembaruan dalam komposisi bahan untuk membuat suatu produk tertentu. Jika bagian pemasaran dapat memberi masukan mengenai produk-produk baru apa yang mungkin dapat dikembangkan dan diterima pasar, bagian produksi perlu menerjemahkannya dalam konteks rasionalitas pembuatan dan komposisi bahan untuk menghasilkan produk-produk tersebut. Untuk memproduksi suatu produk makanan tertentu dibutuhkan teknologi dan permesinan, sehingga produk yang dihasilkan dapat diproduksi massal dengan kualitas terjamin. Divisi teknologi tepat guna (TTG) hadir di SPAT khususnya untuk mendukung hal ini. Beberapa teknologi masih dibeli dari luar karena pertimbangan efisiensi dan kemampuan pembuatan; beberapa sudah dibuat sendiri baik untuk keperluan produksi SPAT maupun sebagai pesanan dari aktor usaha lainnya. Sebagai contoh, mesin vacuum frying yang sudah diekspor ke Malaysia dan India, mesin granulasi pupuk untuk PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang Cikampek, dan PT Pupuk Kaltim Bontang. Selain inovasi yang berasal dari sumber internal, SPAT membuka diri sebagai wadah uji coba beberapa hasil penelitian dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian dan pengembangan. Beberapa yang pernah mengujicobakan hasil penelitiannya di SPAT adalah UGM untuk es krim telo, Balitkabu untuk sari telo, IPB untuk snack darurat bencana, dan beberapa lainnya. Tidak semua produk yang dikembangkan berhasil di pasaran dan pada akhirnya berhenti untuk diproduksi, seperti pada kasus sari telo meskipun mesin untuk mengolah dan memproduksinya sudah ada. Meskipun ada beberapa kegagalan dalam pengembangan produk, hal ini tidak membuat SPAT berhenti untuk mencari ide-ide baru. Pembelajaran dari kegagalan maupun keberhasilan membuat SPAT justru semakin berkembang. 127 Sistem IInovasi novasi Daerah: Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Pembahasan tersebut memberikan gambaran bahwa inovasi produk maupun teknologi pembuatan dan pengembangan produk di SPAT relatif baik dan saling mendukung. Inovasi teknologi yang dikembangkan di SPAT lebih bersifat teknologi tepat guna yang bisa langsung diaplikasikan. Beberapa produk mesin yang dihasilkan oleh SPAT, yang kemudian digunakan oleh pihak luar menjadi salah satu indikasi bahwa inovasi teknologi tepat guna yang ada di SPAT telah berjalan dengan baik dan menjadi produk bisnis tersendiri. 6.3.2 Pengembangan Ekonomi Lokal Pengembangan ekonomi lokal mengandung arti bahwa potensi yang dikembangkan berdasarkan keadaan lokal serta dapat memberikan dampak yang positif terhadap meningkatnya aktivitas sosial ekonomi lokal. Filosofi SPAT yang memanfaatkan ubi jalar (telo) sebagai sumber daya lokal menjadi salah satu ciri bahwa PEL terjadi pada kasus ini. Selain sumber daya yang tersedia, rasa dari ubi jalar (telo) sudah familiar bagi sebagian besar masyarakat. Selain itu, budi daya ubi jalar (telo) tidak memerlukan keahlian yang sangat rumit. Untuk mengetahui dampak dari pengembangan SPAT terhadap ekonomi lokal dapat dilihat dari kontribusinya dalam menghidupkan petani dan usaha kecil menengah (UKM) maupun tenaga kerja secara umum. Ada 7 kelompok petani yang dilibatkan, khususnya dalam penyediaan ubi jalar (telo) dalam wadah kerja sama berbentuk inti-plasma. SPAT berfungsi sebagai inti, sedangkan para petani berfungsi sebagai plasma. Konsep intiplasma yang diterapkan di SPAT tidak seperti kebanyakan praktik pada kasus perkebunan besar (estate) karena harga pembelian pada kasus SPAT disesuaikan dengan harga pasar. Sebagai contoh lainnya adalah terkait dengan pembelian pupuk untuk budi daya ubi jalar (telo). Prinsip dari pengembangan komoditas di SPAT adalah organik. SPAT menyediakan pupuk organik yang dapat digunakan/dibeli oleh para petani, tetapi SPAT juga memberikan kebebasan kepada petani untuk membeli pupuk dari tempat lain dengan syarat pupuk tersebut organik. Selain petani, SPAT melibatkan sekitar 368 UKM dengan pola kerja sama yang tidak sama. Ada UKM yang mempunyai produk dan merek sendiri, ada pula SPAT yang membantu dalam pemasaran. Ada juga UKM yang perlu di-rebranding­dan menggunakan nama SPAT. Dalam model yang terakhir, SPAT juga membantu dalam pemasaran produk ini. Dari semua produk yang ada termasuk yang dibuat sendiri maupun produk dari UKM, 128 SPAT dan Kontribusinya untuk Pengembangan Ekonomi Lokal produk bakpia dan bakpao telo merupakan 2 produk unggulan SPAT. Ada 9 jenis klasifikasi jenis produk dari 368 UKM yang bermitra dengan SPAT, di mana banyak yang bergerak di aneka keripik (sejumlah 123 UKM). Adapun produk dengan jumlah UKM terkecil adalah makanan siap saji (9 UKM) dan minuman fermentasi (8 UKM). Lebih detail mengenai diversifikasi produk per UKM disajikan pada Tabel 6.2 berikut ini. Tabel 6.2 Klasifikasi UKM pangan terminal SPAT No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Aneka keripik Minuman instan Makanan siap saji Aneka cake Jajanan basah Makanan semi basah Minuman segar Aneka snack Minuman fermentasi Total UKM 123 53 9 47 21 11 27 69 8 368 Sumber: SPAT (2012) UKM dan petani mitra yang terlibat dengan SPAT tidak hanya berasal dari Kabupaten Pasuruan. Beberapa mitra berasal dari wilayah sekitar dalam Provinsi Jawa Timur, seperti Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Jember, Kota Surabaya, Kota Madiun, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Blitar, Kota Batu, Kabupaten Trenggalek, dan Kota Mojokerto. Keragaman mitra ini menunjukkan keahlian SPAT dalam bidang yang saat ini menjadi lini bisnis utamanya. Selain terkait dengan penciptaan lapangan kerja bagi petani dan UKM, SPAT juga mempunyai tenaga kerja di pabrik sejumlah 120 orang dan pemasaran 50 orang. Upaya SPAT untuk terus mengembangkan produk tentunya menjadi pengungkit (trigger) bagi terciptanya lapangan kerja baru secara langsung. Beberapa usaha lainnya seperti wisata agribisnis, tempat penginapan (cottage), budi daya tanaman hias, buah, sayuran, beras hitam, dan beras merah tentunya secara langsung akan menyerap tenaga kerja baru. Penciptaan lapangan kerja oleh SPAT juga berpotensi dilakukan secara tidak langsung, terutama melalui pelatihan dan pendampingan kepada para UKM, kelompok petani, dan purna tugas tidak hanya di Kabupaten 129 Sistem IInovasi novasi Daerah: Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Pasuruan, tetapi juga beberapa wilayah lainnya di luar Jawa. Pengembangan ekonomi melalui Program Dana Abadi Umat yang bekerja sama dengan NU Kabupaten Pasuruan juga menjadi potensi menciptakan akses permodalan yang lebih baik bagi petani dan pelaku usaha kecil. Dapat dikatakan bahwa dampak ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas SPAT tidak hanya berdampak untuk Kabupaten Pasuruan semata, tetapi juga sudah menjangkau luar daerah (beyond administrative boundary). 6.3.3 Tantangan Pengembangan Inovasi dalam Mendukung PEL Keberadaan SPAT beserta aktivitasnya menunjukkan gejala positif, baik secara bisnis maupun dalam meningkatkan perekonomian daerah. Inovasi khususnya dalam produk dan teknologi tepat guna mempunyai relevansi yang baik terhadap peningkatan kualitas ekonomi lokal. Keterbukaannya untuk menjadi wadah bagi pengembangan produk dari perguruan tinggi serta lembaga penelitian dan pengembangan menjadi indikasi kuat jika SPAT terbuka untuk menerima inovasi dari sumber eksternal. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan produk melalui beragam pelatihan yang diikuti serta standarisasi produk juga menjadi penguat yang sangat baik terhadap penciptaan sumber daya manusia yang inovatif serta kualitas produk yang mampu berdaya saig secara bisnis. Berkembangnya bisnis SPAT beserta jaringan yang dibentuknya tentunya memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan daerah. Namun, dukungan Pemerintah Kabupaten Pasuruan dirasa hampir tidak ada3. SPAT dengan nama yang sudah besar dan reputasi yang baik seharusnya dapat menjadi pemicu bagi Pemerintah Daerah untuk turut memfasilitasi terciptanya bisnis dan aktivitas ekonomi yang lebih besar dan dapat memberikan kontribusi positif untuk ekonomi daerah. Jika merujuk pada klasifikasi organisasi pemerintah daerah menurut Valler (1996), tampaknya peran pemerintah daerah belum mencapai bentuk post-fordist maupun local governance entrepreneurialism. Justru SPAT-lah yang cenderung berfungsi sebagai local governance entrepreneurialism dengan melakukan beragam inisiasi dalam fasilitasi, pendampingan, pelatihan, serta kerja sama dengan UKM, petani, dan pelaku bisnis lainnya baik di Kabupaten Pasuruan maupun di luar daerah dalam meningkatkan kualitas dan aktivitas bisnis. Kondisi yang terjadi pada SPAT dan Kabupaten Pasuruan sebenarnya Wawancara mendalam dengan Direktur SPAT pada tanggal 31 Juli 2012 di SPAT, Kabupaten Pasuruan 3 130 SPAT dan Kontribusinya untuk Pengembangan Ekonomi Lokal sejalan dengan pendapat Stohr (1993) yang mengidentifikasi aspek “inisiatif” dan “kewirausahaan (entrepreneurship)” sebagai dua konsep kunci PEL. Dalam perspektif inilah dapat dikatakan bahwa SPAT telah berperan sebagai inisiator dan penggiat PEL di Kabupaten Pasuruan. Kondisi tersebut terjadi karena SPAT mempunyai komitmen yang besar dalam pengembangan ekonomi masyarakat yang diiringi dengan kualifikasi bisnis dan terus terasah. Sementara pemerintah daerah tampaknya perlu lebih meningkatkan jiwa dan pemahaman tentang dunia usaha, sehingga dapat lebih memahami kebutuhan pengembangan ekonomi lokal. Upaya pemerintah daerah dengan mengajak SPAT untuk ikut serta dalam pameran bisnis perlu membayar stand sendiri agar mencerminkan tingkat keseriusan yang kurang. Sektor bisnis yang berkembang di suatu daerah seharusnya menjadi bagian dari aktor daerah, bukan menjadi ladang dari aktivitas rent-seeking (pendapatan daerah dan sponsor kegiatan). Pergeseran government menjadi governance memberikan penekanan bahwa pemerintah daerah bukanlah satusatunya aktor yang dapat bertindak sebagai pengelola daerah. 6.4 Penutup Pengembangan inovasi terutama produk dan teknologi tepat guna serta ekonomi lokal yang dilakukan oleh SPAT berjalan dengan cukup baik. Komitmen SPAT dalam mengembangkan ekonomi lokal, yang tidak hanya sekadar berorientasi bisnis telah mampu menciptakan jaringan bisnis UKM yang baik. Keterbukaannya terhadap produk perguruan tinggi serta lembaga penelitian dan pengembangan membuatnya semakin berkembang. Pengembangan ekonomi lokal akan lebih mempunyai dampak yang masif jika pemerintah daerah mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator ekonomi yang baik, bukan sekadar sebagai pihak yang mengambil keuntungan (orientasi peningkatan pendapatan daerah) jika suatu aktivitas bisnis tumbuh di wilayahnya. Daftar Pustaka BPS. 2012. Kabupaten Pasuruan dalam Angka. Pasuruan: BPS. BPS. 2011. Kecamatan Purwodadi dalam Angka. Pasuruan: BPS. Carroll MC, Blair JP. 2012. Local economic development and the academy. Applied Geography. 32 (1): 51–53. 131 Sistem IInovasi novasi Daerah: Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Firman T. 2010. Multi local-government under Indonesia’s decentralization reform: The case of Kertamantul (The Greater Yogyakarta). Habitat International. 32 (4): 400–405. Nel E. 2001. Local economic development: A review and assessment of its current status in South Africa. Urban Studies. 8 (2): 277–293. SPAT. 2012. Profil Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT). Tidak Dipublikasikan. Stohr WB. 1990. Global Challenge and Local Response. (ed). London: Mansell Publishing Limited. Swinburn G, Soraya G, Murphy F. 2006. Local Economic Development. A Primer. Developing and Implementing Local Economic Development Strategies and Action Plans. Washington DC: World Bank Publication. Trousdale W. 2003. Strategic Planning for Local Economic Development. The Manual. Volume I: Concepts & Process. UN-Habitat and Ecoplan International, Inc. Valler D. 1996. Locality, local economic strategy, and private sector involvement: case studies in Norwich and Cardiff. Political Geography. 15 (5): 383–403. World Bank. 2003. Local Economic Development. A Primer. Developing and Implementing Local Economic Development Strategies and Action Plans. Washington DC: World Bank Publication. 132

Judul: Spat Dan Kontribusinya Untuk Pengembangan Ekonomi Lokal

Oleh: Galuh Syahbana Indraprahasta

Ikuti kami