Many Worlds Interpretation Dalam Mekanika Kuantum Ditinjau Dari Filsafat Ilmu Kealaman

Oleh Agustinus Damar

157,9 KB 10 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Many Worlds Interpretation Dalam Mekanika Kuantum Ditinjau Dari Filsafat Ilmu Kealaman

MANY WORLDS INTERPRETATION DALAM MEKANIKA KUANTUM DITINJAU DARI FILSAFAT ILMU KEALAMAN Daftar Isi Intisari A. Pendahuluan B. Metode Penelitian C. Problem Filosofis dalam Many Worlds Interpretation D. Penutup Daftar Pustaka MANY WORLDS INTERPRETATION DALAM MEKANIKA KUANTUM DITINJAU DARI FILSAFAT ILMU KEALAMAN Oleh : Agustinus Mario Damar INTISARI Pembahasan penelitian ini adalah gagasan many worlds interpretation dalam mekanika kuantum yang digagas oleh Hugh Everett III ditinjau dari filsafat ilmu kealaman. Penelitian ini berusaha menjawab dua pertanyaan mengenai gagasan many worlds interpretation, tentang konsep many worlds interpretation sebagai salah satu interpretasi untuk menjawab permasalahan pengukuran dalam mekanika kuantum serta pembahasan mengenai permasalahan filosofis many worlds interpretation yang meliputinya ditinjau dari filsafat ilmu kealaman. Objek material penelitian ini adalah many worlds interpretation dalam mekanika kuantum dengan tinjauan filsafat ilmu kealaman. Penelitian ini merupakan penelitan kepustakaan dengan model penelitian mengenai teori ilmiah. Bahan dalam penelitian ini bersumber dari data pustaka baik berupa buku maupun jurnal ilmiah mengenai many worlds interpretation. Analisis data dilakukan secara filosofis dengan unsur metodis yang digunakan, yaitu deskripsi, interpretasi, dan koherensi intern. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut, pertama many worlds interpretation selain merupakan salah satu tafsiran untuk menjawab permasalahan pengukuran dalam mekanika kuantum, namun pada dasarnya setelah dilakukan pembacaan lebih lanjut ditemukan bahwa gagasan ini juga merupakan usaha penggambaran realitas dunia yang didasarkan atas mekanika kuantum. Kedua, probabilitas yang muncul dalam many worlds interpretation memiliki konsep probabilitas berbeda dengan konsep probabilitas klasik, sehingga kemudian diajukan gagasan mengenai ignorance probability untuk dapat memahami konsep probabilitas antara konsep probabilitas klasik dengan konsep probabilitas dalam many worlds interpretation. Ketiga, status ontis realitas kuantum dalam many worlds interpretation mendasarkan konsepnya didasarkan atas bentuk realisme yang objektif, selain itu permasalahan ontis dalam ilmu dewasa ini tidak lagi menyertakan permasalahan kebenaran sebagai salah satu pembahasannya. Hal ini dikarenakan permasalahan kebenaran tidak lagi dipandang sebagai pembahasan yang penting karena pengembangan ilmu sekarang ini tidak lagi berpijak pada usaha untuk menemukan kebenaran, namun lebih menitikberatkan pada usaha bagi ilmu untuk dapat berkembang. Kata kunci : many world interpretation, mekanika kuantum, filsafat ilmu kealaman A. Pendahuluan Latar Belakang Permasalahan mengenai realitas dunia yang sebenarnya telah menjadi pertanyaan yang selalu ingin dijawab oleh manusia. Banyak usaha yang telah dilakukan oleh manusia untuk mampu menjawab pertanyaan tersebut, salah satunya adalah melalui ilmu. Ilmu sekarang ini telah menjadi salah satu jawaban yang dianggap paling memuaskan bagi manusia untuk menjawab permasalahan tersebut. Hal ini dikarenakan ilmu dipandang sebagai cara paling memadai untuk menjawab permasalahan terkait dunia dan kehidupan manusia. Ilmu menurut Morits Schlick (Schlick,2001:4-6) memiliki tugas untuk mencapai pengetahuan tentang realitas. Pendapat lain dikemukakan Bakker bahwa ilmu pengetahuan merupakan perkembangan dari rasa ingin tahu manusia. Ilmu dipandang sebagai sebuah upaya khusus manusia menyingkap realitas untuk berkomunikasi satu sama lain, membangun sebuah dialog dengan mengakui yang lain, serta meningkatkan harkat kemanusiaan (Bakker, 1990: 1-3). Pendapat tersebut setidaknya memberikan gambaran kecil mengenai ilmu yang sebenarnya. Pertanyaan mengenai semesta realitas sekarang ini dikomunikasikan melalui bahasa keilmuan. Ilmu telah mendapat tempat khusus di dalam peradaban manusia sebagai karya kemajuan intelektual manusia. Rasa ingin tahu yang besar untuk mampu menjelaskan realitas dunia mendorong perkembangan ilmu. Perkembangan ilmu yang demikian pesat hingga saat ini juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan intelektual manusia. Kemampuan ilmu berkembang dapat dikatakan sejalan dengan kemampuan intelektual manusia dalam mengolah pengetahuan yang ada disekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan manusia yang terus mengembangkan ilmu untuk dapat dipergunakan sebagai alat menjawab permasalahan manusia. Kemampuan intelektual manusia yang begitu pesat dalam mengembangkan ilmu terkadang melampaui pemahaman manusia sebelumnya, bahkan tidak sedikit yang merubah pandangan lama yang telah dipercaya sejak lama. Kemajuan perkembangan intelektual manusia tersebut tidak berhenti pada satu ilmu atau pembahasan saja, namun banyak ilmu yang saat ini telah berkembang dengan sangat pesat. Salah satu ilmu yang dianggap mampu menggambarkan realitas dunia yang sebenarnya adalah ilmu fisika. Fisika dengan teori-teorinya dianggap telah mampu dan berhasil dalam menggambarkan realitas dunia utamanya realitas dunia makrofisis, salah satunya melalui gambaran yang diutarakan Newton dan Einstein. Perkembangan ilmu fisika tersebut kemudian berhasil menjangkau realitas mikrofisis yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Mekanika mengenai realitas mikrofisis itu dikenal sebagai mekanika kuantum. Salah satu fisikawan yang dianggap membesarkan mekanika kuantum adalah Niels Bohr. Prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam mekanika kuantum adalah prinsip saling melengkapi, maksudnya mekanika kuantum tidak dibangun dalam sebuah teori besar seperti mekanika klasik namun berasal dari teori-teori yang dikembangkan dari pandangan fisikawan berdasarkan sudut pandang masing- masing dalam melihat mekanika kuantum. Hal inilah yang kemudian memungkinkan mekanika kuantum menghasilkan interpretasi. Salah satu interpretasi dalam mekanika kuantum itulah yang menjadi pembahasan dalam skripsi ini. Interpretasi itu dikenal sebagai many worlds interpretation. Many worlds interpretation pertama kali diperkenalkan oleh Hugh Everett III sebagai interpretasi terhadap mekanika kuantum. Many world interpretation pada awalnya merupakan disertasi Everett untuk memperoleh gelar doktoralnya. Everett mengembangkan many worlds interpretation sebagai gagasan yang didasarkan atas pemikiran bahwa keseluruhan alam semesta dapat dilihat sebagai sebuah sistem kuantum. Gagasan Everett tersebut menghantam pemikiran lama fisikawan yang sebelumnya membagi semesta realitas dalam dua dunia yang berbeda, yaitu realitas makrofisis dan realitas mikrofisis. Realitas makrofisis merupakan dunia deterministik yang meliputi dunia pengalaman manusia, seperti objek yang besar dan hubungan kausalitas dapat terjadi di dunia tersebut. Dunia inilah yang dikenal sebagai dunia ‘klasik’, sedangkan realitas mikrofisis merupakan dunia indeterministik. Dunia mikrofisis digambarkan dengan partikel elementer yang berterbangan. Gagasan many worlds interpretation oleh Everett secara tidak langsung merupakan upaya untuk meruntuhkan pandangan fisikawan lain mengenai realitas mikrofisis. Realitas mikrofisis dalam pandangan yang dipercaya oleh fisikawan lain merupakan sebuah dunia indeterministik. Sebuah dunia yang sangat sukar untuk ditentukan keadaannya sehingga manusia tidak akan pernah mampu untuk mengetahui kejadian yang terjadi disana. Everett melalui many worlds interpretation berusaha untuk menjelaskan alasan sebuah objek makrofisis yang besar dapat muncul dari dunia kuantum yang mikrofisis (Bryne,2008). Gagasan inilah yang dimunculkan sebagai pembahasan dalam tulisan ini. Hal ini dikarenakan gagasan Everett tersebut memberikan sebuah pendekatan baru terkait dengan semesta realitas. Permasalahan yang muncul dari konsep tersebut tidak hanya berasal dari pembahasan ilmu fisika, namun juga telah menyentuh ranah filosofis mengenai gambaran tentang semesta realitas dan permasalahan filosofis lain yang muncul kemudian. Hal inilah yang mendasari many worlds interpretation dijadikan sebagai objek pembahasan dalam skripsi ini. Gagasan many worlds interpretation dalam tulisan ini dibahas dalam pendekatan filsafat ilmu kealaman. Filsafat ilmu kealaman merupakan kajian filsafat khusus yang menempatkan bidang ilmu kealaman khususnya fisika sebagai objek material kajian filosofis (Tjahyadi, 2011). Perspektif dari filsafat ilmu kealaman yang digunakan dalam tulisan ini adalah ontologis dan epistemologi. Keduanya dianggap memberikan pendekatan yang menyeluruh untuk objek pembahasan dalam tulisan ini. Hal ini didasarkan atas pendapat Katsoff dalam bukunya bahwa cara manusia mengetahui kenyataan dapat menentukan apa yang diketahui (Katsoff, 2004:74). Pendapat itu secara tidak langsung memberikan gambaran bahwa pendekatan ontologis dan epistemologi merupakan pendekatan yang saling bertautan. Keduanya dalam usaha untuk mampu memahami semesta realitas secara utuh mampu memberikan pendekatan yang menyeluruh. Hal ini didasarkan atas pemahaman mengenai semesta realitas secara utuh harus mampu memberikan pemahaman mengenai apa yang ingin diketahui serta bagaimana hal tersebut dapat diketahui. B. Metode Penelitian 1. Bahan dan Materi Penelitian Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kepustakaan dengan model penelitian mengenai teori ilmiah (Bakker, 1990; 114). Bahan dan materi penelitian didasarkan pada buku yang membahas mengenai many worlds interpretation termasuk di dalamnya gagasan mengenai dimensi paralel serta mekanika kuantum. Bahan atau materi yang digunakan dibagi menjadi dua, yaitu pustaka primer dan pustaka sekunder a. Pustaka primer 1. Buku The Many Worlds Interpretation of Quantum Mechanic dengan Bryce S. De Witt dan Neil Graham sebagai editor diterbitkan pada tahun 1973 oleh Princenton University Press 2. Buku The Hidden Reality, Parallel Universes and The Deep Laws of The Cosmos karya Brian Greene ditulis tahun 2011 dipublikasikan oleh Random House, Inc. New York. 3. Buku Parallel Worlds, A Journey Through Creation, Higher Dimensions, and the Future of the Cosmos karya Michio Kaku ditulis tahun 2005 dipublikasikan oleh Doubleday 4. Artikel Many World Interpretation of Quantum Mechanic karya Lev Vaidman dipublikasikan pada 24 Maret 2002 oleh Stanford Encylopedia of Philosophy b. Pustaka Sekunder Pustaka Sekunder yang digunakan adalah jurnal-jurnal yang membahas mengenai many world interpretation serta buku-buku filsafat yang membahas mengenai filsafat ilmu kealaman. 2. Jalannya Penelitian a. Pengumpulan Data Tahap ini digunakan untuk mengumpukan data sebanyak-banyaknya baik buku maupun jurnal terkait dengan many world interpretation. b. Klasifikasi Data Tahap ini digunakan untuk mengklasifikasikan data yang didapat menjadi data primer dan data sekunder. c. Pembahasan Data Tahap ini merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai objek formal dan objek material. Bentuknya dapat berupa deskripsi maupun analisis dari data yang didapat. d. Evaluasi Kritis. Tahap ini merupakan usaha untuk memberikan pandangan kritis terhadap objek formal maupun material yang dilakukan secara sistematis. 3. Analisis Data Data yang diperoleh kemudian dibahas secara filosofis dengan unsur metodis yang digunakan, sebagai berikut: a. Deskripsi Penjelasan secara rinci mengenai gagasan many worlds interpretation serta teori yang memiliki keterkaitan. b. Interpretasi Upaya pemahaman mengenai gagasan dalam many world interpretation untuk dapat mengetahui dasar pemikiran dalam many worlds interpretation. c. Koherensi Intern Dalam bagian ini, berusaha untuk mampu menentukan unsur filsafat tersembunyi yang melatarbelakangi many worlds interpretation. Upaya penentuan unsur yang lebih dominan dan yang lebih sedikit muncul dilakukan untuk kemudian dapat menemukan dasar filsafat yang dapat muncul. C. Permasalahan Filosofis dalam Many Worlds Interpretation a. Pandangan Dasar Realitas dalam Many Worlds Interpretation dan Kebenarannya Many worlds interpretation sebagai sebuah gagasan ilmiah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya awalnya merupakan usaha untuk menjawab permasalahan dalam mekanika kuantum, yaitu permasalahan pengukuran. Gagasan ilmiah ini pun kemudian berkembang tidak lagi semata-mata menjadi penyelesaian mengenai permasalahan pengukuran dalam mekanika kuantum namun dipandang pula sebagai sebuah bentuk gagasan ilmiah yang revolusioner dalam menggambarkan realitas dunia. Penggambaran realitas dunia yang revolusioner dapat diartikan sebagai pandangan baru mengenai realitas dunia yang pada umumnya kita kenal dan rasakan. Mekanika kuantum sebagai dasar pengembangan many worlds interpretation pada awalnya juga dipandang sebagai sebuah pandangan baru mengenai realitas dunia yang berbeda dari pandangan umumnya pada saat itu. Many worlds interpretation sebagai gagasan untuk menjawab permasalahan pengukuran dalam mekanika kuantum pada dasarnya tidak memiliki perbedaan pandangan yang mendasar dengan mekanika kuantum. Everett sendiri masih mendasarkan many worlds interpretation pada penjelasan mekanika kuantum. Ia menjelaskan bahwa gagasan yang diajukannya ini bukan merupakan usaha untuk menyangkal teori mekanika kuantum sebelumnya. Gagasan ini dimaksudkan untuk melengkapi teori yang telah ada sebelumnya. Hubungan keduanya dijelaskan oleh Everett sebagai hubungan antara meta-teori dan teori (Everett, 1957: 141). Meta-teori dalam pandangan Everett dapat digambarkan sebagai sebuah pandangan atau asumsi dasar tidak tertulis yang kemudian diejawantahkan dalam bentuk teori-teori, selain itu teori-teori tersebut diandaikan tidak saling bertentangan dan dapat dikatakan saling melengkapi. Penjelasan dalam gagasannya didasarkan pada sifat dan ketetapan serta lingkup pengejawantahan dari teori sebelumnya Pembahasan many worlds interpretation dalam penelitian ini juga didasarkan pada kedua postulat yang diajukan oleh Everett. Postulat pertama Everett seperti yang dijelaskan sebelumnya merupakan bentuk formal matematis yang diturunkan dari persamaan Schrödinger. Postulat pertama ini merupakan bentuk formal matematis yang sifatnya pasti serta sulit untuk ditemukan permasalahan filosofis di dalamnya. Postulat kedua Everett mengenai kompleksitas berbeda dengan postulat pertama, postulat kedua ini tidak memiliki deskripsi yang pasti serta dapat dikatakan sebagai gambaran Everett yang berhubungan dengan pengalaman manusia karena sistem dan alat berkaitan erat dengan pengalaman manusia sebagai pengamat (Vaidman, 2002). Hal yang perlu diketahui juga adalah many worlds interpretation memiliki dua pendekatan yang berbeda. Pendekatan ini merupakan bentuk interpretasi ulang berdasarkan sudut pandang dalam memandang many worlds interpretation. Perbedaan tersebut didasarkan atas perbedaan pendekatan dalam memandang gagasan many worlds interpretation. Kedua pendekatan tersebut dikenal dengan pendekatan many-worlds dan many-mind. Many-worlds dalam hal ini memandang dunia-banyak yang dimunculkan dari many worlds interpretation merupakan gambaran mengenai dunia yang sebenarnya, sedangkan many-minds lebih mendasarkan pandangannya bahwa gagasan dunia-banyak hanya ada di dalam pikiran saja. Konsep dunia-banyak dalam many worlds interpretation dianggap sebagai ilusi serta merupakan permasalahan psikologis. Interpretasi many-minds secara garis besar merupakan bentuk pemahaman dari beberapa tokoh yang menganggap bahwa ide Everett tentang dunia yang membelah hanya merupakan hasil dari pikiran manusia saja. Pembelahan dunia yang dimaksud oleh Everett, bagi tafsir many-minds tidak lebih dari peristiwa psikologis dari pengamat dan bukan dunia pengamat yang membelah, namun pikiran atau kesadaran pengamat lah yang membelah dan kemudian seolah-olah memunculkan dunia imajiner atau ilusi bahwa hasil pengamatan dapat muncul bersamaan. Perbedaan mendasar antara many-minds dan many-worlds secara garis besar dapat dijelaskan bahwa tafsir many-minds hanya menganggap bahwa pembelahan dunia pengamat tidak pernah terjadi secara nyata dan hanya merupakan bentuk pemahaman bahwa ada dunia yang membelah, sedangkan tafsir many-worlds memahami bahwa dunia pengamat memang benar-benar membelah dan masing-masing menghasilkan dunia dengan hasil pengamatan yang berbeda. Penegasan pendekatan dengan many-worlds dalam memandang many worlds interpretation kemudian akan dimulai dengan pertanyaan ontologis mengenai pandangan fundamental yang mendasari interpretasi many worlds interpretation dalam memandang dunia serta bentuk kebenaran lazim yang digunakan sehingga dunia makroskopis ini dapat dimunculkan berdasarkan pandangan fundamental tersebut (Hawthorne, 2010:122). Kedua pertanyaan tersebut digunakan sebagai pertanyaan pembuka dikarenakan keduanya menurut penulis dapat berguna sebagai acuan sehingga pembahasan skripsi ini tidak keluar dari permasalahan ontologis serta dapat membantu untuk menemukan jawaban mengenai realitas dunia yang hendak ditampilkan oleh many worlds interpretation. Many worlds interpretation dalam menggambarkan dunia pada dasarnya tidak memiliki perbedaan yang begitu jauh dari mekanika kuantum. Hal ini dikarenakan pada dasarnya many worlds interpretation dikembangkan dari pandangan mekanika kuantum. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari kedua postulat yang diajukan oleh Everett. Postulat yang diajukan oleh Everett tersebut dengan jelas menyertakan pandangan mengenai realitas dunia yang didasarkan atas mekanika kuantum, bahwa dunia dipercaya sebagai sebuah gambaran dari kumpulan beberapa objek matematis, yaitu vektor dan persamaan yang menjadi bagian dalam ruang Hilbert. Pendekatan berbeda yang dilakukan oleh Everett adalah usahanya untuk menjelaskan bahwa peristiwa kuantum yang umumnya terjadi pada realitas mikrofisis dapat terjadi pula di realitas makrofisis. Everett menyadari bahwa formulasi mekanika kuantum akan sulit untuk diberlakukan dalam geometri ruang-waktu, apalagi jika digunakan dalam semesta yang tertutup. Hal ini dikarenakan tidak terdapat tempat yang memungkinkan diluar sistem untuk melakukan pengamatan, serta tidak ada sesuatu hal di luar sistem yang dapat mengakibatkan perubahan dari satu keadaan ke keadaan lain. Everett menjawab permasalahan ini dengan mengajukan gagasan bahwa semuanya tadi memiliki persamaan agar dapat terjadi, dengan mengandaikan bahwa mekanika kuantum menjadi bagian internal dalam sebuah sistem tertutup (Everett, 1957:142) Pandangan yang menjadi asumsi dasar many world interpretation menurut penulis merupakan upaya Everett untuk menjembatani gagasan realitas mikrofisis dengan makrofisis. Everett berusaha untuk memberikan gambaran sebuah dunia yang objektif berdasarkan mekanika kuantum. Sebuah hal yang pada dasarnya sangat sulit untuk dilakukan. Hal ini didasarkan perbedaan konsep antara kedua dunia tersebut yang masih belum dapat ditemukan penengahnya, bahkan Bohr dengan jelas menggambarkan perbedaan tersebut dengan pendapat bahwa hanya mekanika klasik yang dapat memberikan gambaran dunia, sedangkan mekanika kuantum hanya sarana untuk memprakirakan prakiraan-prakiraan mengenai keluaran hasil pengukuran. Everett sendiri menyadari bahwa argumennya tentang dunia yang membelah ini berlawanan dengan pengalaman karena kita tidak akan pernah merasakan pembelahan dunia yang dimaksud, namun Everett berusaha menjawab permasalahan ini dengan membandingkannya pada kritik terhadap teori Kopernikan mengenai bumi yang bergerak, namun manusia tidak dapat secara sadar merasakan pergerakan bumi tersebut. Everett berpendapat bahwa argumen tersebut dikritik karena tidak memiliki kesesuaian dengan pengalaman kita, namun pada dasarnya gagasan tersebut merupakan sebuah prediksi yang tidak dapat dibantah begitu saja hanya dikarenakan gagasan tersebut tidak memiliki kesesuaian dengan pengalaman manusia. Pendapat ini dapat dikatakan menjadi gambaran bahwa Everett berusaha untuk memberikan pemahamannya mengenai realitas dunia meskipun argumennya tersebut sangat sulit untuk diterima, namun tidak tertutup kemungkinan argumen tersebut diterima ketika adanya argumen lain yang mendukung seperti yang dicontohkan oleh teori Kopernikan tersebut yang kemudian diterima setelah didukung oleh teori Newton. Pertanyaan lain yang selanjutnya akan dijawab adalah mengenai kebenaran dalam gagasan many world interpretation sebagai bentuk gambaran realitas dunia, bukan hanya sebagai salah satu interpretasi untuk menjawab permasalahan pengukuran dalam mekanika kuantum. Penulis dalam hal ini, menggunakan argumen yang diperkenalkan oleh Stephen Hawking mengenai model-dependent-realism. Hawking memperkenalkan istilah ini dalam bukunya The Grand Design yang ditulis bersama Leonard Mlodinow pada tahun 2010. Sikap ini diperkenalkan Hawking dengan mendasarkan argumennya pada gagasan bahwa tidak ada konsep realitas yang tidak bergantung pada teori. Sebuah teori atau gambaran mengenai dunia merupakan model matematis dan kaidah-kaidah korespondensi yang menghubungkan antara unsur-unsur dalam model ke pengamatan (Supelli, 2014). Pandangan Hawking ini menjadi acuan dasar penulis dalam menjawab permasalahan kebenaran dalam many world interpretation, meskipun secara kaidah many worlds interpretation belum dapat dikatakan sebagai sebuah teori, namun penggunaan model-dependent-realism ini tetap digunakan karena many worlds interpretation tetap mendasarkan gagasannya dari mekanika kuantum bahkan tidak melakukan perubahan terhadap persamaannya, sehingga meskipun many worlds interpretation belum dapat dianggap sebagai sebuah teori namun gagasan tersebut tetap mendasarkan persamaannya dari persamaan mekanika kuantum yang telah diakui sampai saat ini sehingga many worlds interpretation secara tidak langsung pada dasarnya masih bertolak dari dasar mekanika kuantum, sehingga meskipun many worlds interpretation masih belum dapat diketahui secara pasti kebenaran gagasan tersebut, namun sejauh gagasan ilmiah ini dapat membuka kajian baru keilmuan, maka gagasan ilmiah tersebut masih harus diberikan tempat. b. Probabilitas dan Posisi Pengamat dalam Many World Interpretation Probabilitas dalam many worlds interpretation dapat dikatakan mengalami pergeseran arti dari probabalitas dalam konsep klasik seperti pada mekanika kuantum. Hal ini dikarenakan probabalitas dalam many worlds interpretation memunculkan permasalahan baru yaitu mengandaikan bahwa semua kemungkinan dalam pengukuran dapat muncul sekaligus. Kemunculan hasil yang sekaligus ini pada awalnya merupakan bentuk perhitungan matematis, namun jika merujuk pada gagasan dunia yang membelah menurut Everett maka dapat dikatakan bahwa semua kemungkinan yang dapat muncul ini terjadi pula pada dunia nyata. Hal ini lah yang membedakannya dengan konsep probabilitas klasik dalam mekanika kuantum. Konsep probabilitas dalam mekanika kuantum sebelumnya selalu mengandaikan bahwa pengamatan hanya memunculkan satu hasil yang dapat ditangkap dari beberapa kemungkinan. Perbedaan gagasan dasar itulah yang membuat many world interpretation memiliki konsep probabilitas yang berbeda dengan mekanika kuantum. Pengamat memiliki kemampuan untuk mengetahui hasil yang akan muncul, meskipun dia tidak akan pernah tahu kesadaran mana yang akan muncul dalam keadaan tertentu. Pendekatan ini digagas oleh Vaidman yang berusaha menjelaskan mengenai probabilitas sebagai prediksi dalam pendekatan standar. Vaidman menyelesaikannya dalam kerangka kerja many worlds interpretation dengan menggagas ignorance probability (probabilitas kebodohan). Pendekatan ini menurut penulis dapat dijadikan sebagai salah satu dasar dalam menggambarkan probabilitas dengan pendekatan many-world. Hal ini dikarenakan pada dasarnya semua kemungkinan akan tetap dapat muncul tanpa dikaitkan dengan keadaan mental pengamat, selain itu pada akhirnya pendekatan ini tidak mengurangi keluaran probabilitas berdasarkan eksperimen kuantum dalam konteks klasik. Vaidman berpendapat bahwa hasil keluaran merupakan fakta yang telah diketahui oleh pengamat, namun pengamat berusaha untuk tidak mengetahui hasil keluaran tersebut sampai ia melakukan pengamatan. Vaidman mengajukan argumen yang disebut dengan argumen ‘sleeping pill’. Ia mengajukan contoh dengan sebuah eksperimen yang mengikutsertakan pengamat. Seorang pengamat setelah melakukan eksperimen untuk mengetahui hasil keluaran dari alat kemudian diberikan obat tidur. Pengamat tersebut lalu dipindahkan ketika sedang tertidur ke ruang A atau B berdasarkan hasil tangkapan. Pengamat tersebut tidak pernah mengetahui sebelum membuka mata mengenai hasil tangkapan yang muncul. Pengamat tersebut pada dasarnya telah mengetahui probabilitas keluaran yang akan muncul, namun pengamat tersebut berusaha untuk acuh atau tidak tahu (ignorant) ketika eksperimen dilakukan. Nilai probabilitas ini menurut Vaidman dapat dipostulatkan dengan sebuah postulat probabilitas, yaitu probabilitas keluaran dari sebuah eksperimen kuantum sepadan dengan keseluruhan pengukuran eksistensi dari semua dunia yang muncul berdasarkan tangkapan. Gagasan Vaidman ini menurut penulis merupakan bentuk pemahaman lain probabalitas dalam many worlds interpretation yang didasarkan pada pendekatan many-worlds. Hal ini dikarenakan Vaidman tetap berusaha untuk mempertahankan keberadaan kemungkinan dunia yang dapat muncul dan tidak kemudian berusaha menjelaskannya ke bentuk lain dari usaha pikiran manusia yang berkembang, meskipun demikian salah satu hal penting dari beberapa penyelesaian tadi adalah keberadaan pengamat. Posisi pengamat menjadi sangat penting dalam eksperimen kuantum yang diajukan. Pengamat dapat dikatakan menjadi salah satu faktor penentu untuk dapat menentukan hasil keluar yang muncul. c. Status Ontis dari Realitas Kuantum dalam Many Worlds Interpretation Pembahasan status ontis mengenai realitas kuantum dalam many worlds interpretation tidak dapat dilepaskan dari sudut pandang dalam melihat many worlds interpretation. Pembahasan mengenai status ontis disini maksudnya adalah usaha untuk melihat gagasan Everett sebagai gambaran mengenai keadaan alamiah yang sebenarnya. Pertanyaan utama yang muncul dalam pembahasan mengenai status ontis adalah dapatkah alam dilihat sebagai sesuatu yang benar-benar objektif dan secara independen terpisah dari pengamatan dan penjelasan berdasarkan pengamat, atau secara garis besar dapat dikatakan apakah alam akan terlihat sama meskipun tidak ada yang mengamatinya. Permasalahan mengenai status ontis ini menghasilkan dua perspektif dalam pembahasannya, yaitu perspektif ontologis dan epistemologis. Pertanyaan ontologis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya lebih membahas mengenai struktur dan sifat alamiah alam, sedangkan pertanyaan epistemologis akan lebih banyak membahas mengenai pengetahuan yang didasarkan atas informasi yang dikumpulkan serta sistem yang digunakan (Atmanspacher,2001). Many worlds interpretation yang mendasarkan gagasannya pada gagasan realitas dunia yang deterministik dalam sebuah sistem kuantum, berarti menganggap bahwa semesta realitas ini baik realitas mikrofisis dan makrofisis sebagai satu kesatuan dalam sebuah sistem kuantum. Salah satu implikasi dari argumen ini adalah pendekatan yang dilakukan untuk melihat realitas kuantum many worlds interpretation tidak sama dalam melihat realitas kuantum klasik. Many worlds interpretation secara tidak langsung digambarkan oleh Everett sebagai model mengenai realitas dunia yang deterministik dalam kerangka pendekatan mekanika kuantum. Posisi ini diambil oleh Everett, menurut penulis didasarkan pula atas usaha untuk melengkapi mekanika kuantum sebagai sebuah gagasan realitas yang lebih utuh tidak semata-mata hanya untuk menjawab permasalahan pengukuran, meskipun hal tersebut tidak dijabarkan secara eksplisit. Penulis melihat gagasan Everett mengenai many worlds interpretation, merupakan bentuk realisme yang objektif. Realisme dalam konteks ini tidak jauh berbeda dengan pandangan realisme pada umumnya. Everett melalui gagasan many worlds interpretation didasarkan atas pendapat mengenai realitas makrofisis yang dibentuk dari realitas mikrofisis dalam sebuah kesatuan kuantum yang terus berkembang. Penggambaran realitas oleh Everett tetap didasarkan pada persamaan formal matematis mekanika kuantum, namun perbedaannya adalah Everett mempercayai bahwa simbol persamaan tersebut mewakili hal-hal yang nyata. Dasar ini lah yang kemudian menjadikan penulis berasumsi bahwa Everett mempercayai simbol persamaan dalam formalisme mekanika kuantum mewakili keberadaan hal nyata. D. Penutup Kesimpulan Many worlds interpretation sebagai salah satu interpretasi untuk menjawab permasalahan pengukuran dalam mekanika kuantum, setelah dilakukan pembacaan lebih lanjut ternyata dapat dikatakan sebagai sebuah pandangan mengenai realitas dunia yang dibangun atas konsep mekanika kuantum. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah gagasan many worlds interpretation secara tidak langsung berusaha untuk menjembatani perbedaan konsep realitas dunia antara realitas dunia makrofisis dengan dunia mikrofisis, meskipun hal tersebut tidak dimunculkan secara eksplisit. Probabilitas dalam many worlds interpretation dapat dikatakan memiliki perbedaan konsep dengan probabilitas klasik dalam mekanika kuantum. Hal ini dikarenakan, secara garis besar hasil pengukuran dalam many worlds interpretation dapat ditangkap seluruhnya tanpa menghilangkan hasil pengukuran. Perbedaan konsep tersebut yang kemudian berusaha diselesaikan dengan mengajukan argumen ignorance probability, untuk dapat memberikan gambaran mengenai probabilitas dalam many worlds interpretation yang sesuai dengan konsep probabilitas dalam mekanika kuantum klasik. Status ontis realitas kuantum dalam many worlds interpretation dapat dikatakan sebagai bentuk realisme yang objektif. Dasar realisme yang objektif ini tidak berbeda jauh dengan bentuk realisme pada umumnya. Realisme dalam hal ini didasarkan many worlds interpretation jika sesuai dengan pendapat Hugh Everett III, maka gagasan realitas dunia membelah yang ditawarkannya merupakan gambaran real dari realitas dunia serta merupakan gambaran dari simbol dalam persamaan mekanika kuantum, selain itu permasalahan mengenai kebenaran gagasan many worlds interpretation bukan lagi menjadi permasalahan penting untuk dibahas dalam perkembangan ilmu dewasa ini. DAFTAR PUSTAKA Atmanspacher, Harald. 2001. ‘Determinism is Ontic, Determinability is Epistemic’. Between Chance and Choice: Interdisciplinary Perspectives on Determinism(2002) Bagus, Lorens. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Bakker, Anton. 1995. Kosmologi dan Ekologi: Filsafat tentang Kosmos Sebagai Rumahtangga Manusia. Yogyakarta: Kanisius. Bakker, Anton. Achmad Charris Zubair. 1990. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Bakker, Anton. 1992. Ontologi atau Metafisika Umum. Yogyakarta: Kanisius. Beerling, Kwee, dkk, Soejono Soemargono (terj.). 1970. Inleideng tot de Wetenscapleer.. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Tiara Wacana. Boyd, R., Gasper P., & Tourt, JD., ed., 1993. The Philosophy of Science. Cambridge. The MIT Press Boersma, David. 2009. Philosophy of Science. New York. Pearson Bryne, Peter, 2010, The Many Worlds of Hugh Everett III: Multiple Universe, Mutual Assured Destruction, and the Meltdown of a Nuclear Family, New York: Oxford University Press.Chalmers, A.F, Cuk Ananta Wijaya (terj.) 1983, Apa Itu yang Dinamakan Ilmu, Yogyakarta: Hasta Mitra Chalmers, A.F, Cuk Ananta Wijaya (terj.). 1983. Apa Itu yang Dinamakan Ilmu. Yogyakarta: Hasta Mitra Couvalis, George, 1997, The Philosophy of Science: Science and Objectivity, SAGE Publications De Witt, Bryce S. dan Neil Graham (ed), 1973, The Many World Interpretation of Quantum Mechanic, New Jersey: Pricenton University Press. Frederik Sontag, Cuk Ananta Wijaya (terj). 2002. Pengantar Metafisika. Pustaka Pelajar, Yogyakarta Greene, Brian. 2011. The Hidden Reality: Parallel Universes and the Deep of the Cosmos, New York: Corzoi Books. Hawking, Stephen W. and Leonard Mlodinov. 2010. The Grand Design. New York: Bantam Books Hempel, Carl, 1966, Philosophy of Natural Science, Prentice Hall, New Jersey. Honer M. S dan Thomas C.H. 1968. Invitation to Philosophy. Wadsworth. Kaku, Michio, 2005, Parallel Worlds: A Journey Through Creation, Higher Dimension, and The Future of the Cosmos, Doubleday, New York Meliono, Irmayanti, 2009, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Refleksi Kritis terhadap Realitas dan Objektivitas Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Kota Kita Merzbacher, Eugen, 1961, Quantum Mechanic, New York: Hamilton Printing Company. Mustanyir, Rizal dan Misnal Munir, 2001,Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Psillos, Statis, 2007, Philosophy of Science: A-Z, Edinburgh University Press Rosyid, Muhammad Farchani, 2006, Mekanika Kuantum:Model Matematis Gejala Alam Mikrosokopis-Tinjauan Takrelativistik, Yogyakarta: Jurusan Fisika MIPA UGM,. Sachs, Mendel. 1988. Einstein versus Bohr: The Continuing Controversies in Physics. Illnois: Open Court Publishing Company. Sarkar, Sahotra dan Jessica Pfeifer. 2006. Philosophy of science: An Encyclopedia, , Routledge Schlick, Moritz., Amethe von Zeppelin, terj. 1949. Philosophy of Nature. New York: Philosophical Library. Sindung, Tjahyadi. 2011. Modul Filsafat Ilmu Kealaman. Sudarminta, J. 2002. Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius. Suhartono, Suparlan, Filsafat Ilmu Pengetahuan:Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Suriasumantri, Jujun. 1981. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia Supelli, Karlina. Stephen Hawking dan Upaya Memahami Alam Semesta. 22 April 2014 dalam Seminar Great Thinkers Sekolah Pascasarjana UGM.. Tegark, Max. 5 July 2007. ‘Many Lives In Many World’, Nature 448, 23-24 The liang Gie. 1996. Pengantar filsafat ilmu. Yogyakarta: Penerbit Liberty Tim Penyusun Fakultas Filsafat UGM. 1997. Filsafat Ilmu:Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Intan Pariwara. Van Peurseun, C.A., J. Drost terj., 1989. Susunan Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu. Jakarta: Gramedia. Verhaak, C dan R. Haryono Imam, 1997. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Jakarta: Gramedia. Wahyudi, Imam. 1993. Laporan Penelitian: Filsafat Ilmu Alam. Yogyakarta: UGM Wattimena, Reza. 2008. Filsafat dan Sains: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT. Grasindo. Weinberg, S, 1992. Dreams of a Final Theory, The Scientist’s Search For The Ultimate Laws of Nature. New York: Vintage Books,. Weinberg, Steven. 2013. Lectures on Quantum Mechanics. New York: Cambridge University Press. Wospakrik, Hans J. 2005. Dari Atomos Hingga Quark. Jakarta: KPG dan Penerbit Universitas Atma Jaya. Wallace, David. 2011. ‘The Everett Interpretation’, R. Batterman (ed.), The Oxford Handbook of Philosophy of Physics (OUP, 2013).

Judul: Many Worlds Interpretation Dalam Mekanika Kuantum Ditinjau Dari Filsafat Ilmu Kealaman

Oleh: Agustinus Damar


Ikuti kami