Bilamana Tradisi Lisan Menjadi Media Pendidikan Ilmu Sosial Di Masyarakat Gunungpati

Oleh Ganda Febri Kurniawan

314,9 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Bilamana Tradisi Lisan Menjadi Media Pendidikan Ilmu Sosial Di Masyarakat Gunungpati

BILAMANA TRADISI LISAN MENJADI MEDIA PENDIDIKAN ILMU SOSIAL DI MASYARAKAT GUNUNGPATI Dr. Cahyo Budi Utomo, M. Pd., Ganda Febri Kurniawan, S. Pd. Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang cahyo.bu@mail.unnes.ac.id Abstract This study aims to see how far the oral tradition plays a role in becoming a social science education media in Gunungpati society Begining from the problem of social change which is increasingly happening has changed the social orientation of the original traditional Gunungpati community into a semi-modern society with the mastery of technology and modern science. The question is how the oral tradition in the 21st Century is able to provide value education in society. The discussion is not address formal social science education, but social science education in society. The research method used is qualitative method with case study design. This design is chosen, given the object being studied is very distinctive and needs to be participated in participating to obtain accurate data. Key findings in this study include; 1) Basically an oral tradition has benefits in social science education in society, since humans are basically educandum beings which means can be educated and must get education from an early age and wherever located, and 2) Gunungpati society still feel the usefulness of the oral tradition in the transmission process social values that function for entertainment, education, recollections of the Past (historical learning), solidarity and togetherness, social control, protest function and social criticism, and finally religious functions. Keywords: Oral Tradition, Social Science Education, Society. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana tradisi lisan berperan dalam menjadi media pendidikan ilmu sosial di masyarakat Gunungpati. Berangkat dari permasalahan tentang perubahan sosial yang semakin cepat terjadi telah merubah orientasi sosial masyarakat Gunungpati yang semula tradisional menjadi masyarakat yang semi modern dengan penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Pertanyaannya adalah bagaimana tradisi lisan di Abad 21 ini mampu memberikan pendidikan nilai di masyarakat. Pembicaraan tidak menyinggung soal pendidikan ilmu sosial secara formal, melainkan pendidikan ilmu sosial di masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan desain studi kasus. Desain ini dipilih, mengingat objek yang diteliti sangat khas dan perlu di dalami secara partisipatif untuk memperoleh data yang akurat. Temuan penting dalam penelitian ini meliputi; 1) Pada dasarnya tradisi lisan memiliki manfaat dalam pendidikan ilmu sosial di masyarakat, mengingat manusia pada dasarnya merupakan makhluk educandum yang berarti bisa dididik dan harus mendapat pendidikan sedari dini dan dimanapun berada, dan 2) Masyarakat Gunungpati masih merasakan kebermanfaatan dari tradisi lisan dalam proses transmisi nilai sosial yang berfungsi untuk hiburan, pendidikan, mengenang Masa Lalu (belajar sejarah), solidaritas dan kebersamaan, pengendalian sosial, fungsi protes dan kritik sosial, dan terakhir fungsi religius. Kata kunci : Tradisi Lisan, Pendidikan Ilmu Sosial, Masyarakat. HARMONY VOL. 2 NO. 2 169 PENDAHULUAN Meskipun sudah berkurang di jaman modern ini, tradisi lisan masih bisa dijumpai di tengah masyarakat. Tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat merupakan media untuk mengajarkan nilai-nilai masa lalu yang sudah ada pada masyarakat. Seni tradisi lisan yang bersumber dari budaya rakyat masa lalu sebagai warisan budaya makin kurang mendapat perhatian lantaran kurangnya pewarisan kepada generasi penerus. Padahal tradisi lisan banyak mengandung pendidikan dan kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat. Kurangnya pewarisan berdampak pada generasi penerus lebih mengenal budaya pop ketimbang budaya lokalnya. Media pewarisan yang kurang bisa diterima oleh generasi penerus menjadi kendala yang harus segera dicari solusinya. Lintas waktu dan lintas generasi dalam sebuah tadisi lisan, menandakan bahwa ingatan mampu merekam berbagai ekspresi kelisanan mengenai perkembangan masyarakatnya pada saat itu. Hefner, misalnya telah memperlihatkan peranan ludruk dalam membangun sebuah forum sosial politik yang penting dan memberikan komentar atas isu-isu sosial, kekuasaan, otoritas, dan identitas lokal sebuah masyarakat pada suatu periode tertentu (Hefner, 1994:68). Ludruk dipandang sebagai dinamika yang secara efektif membangkitkan anggapan-anggapan yang mendasar yang terdapat dalam pandangan dunia pendukungnya. Kajian tentang Ludruk, yang terdapat di Jawa Timur seperti itu, hampir sama dengan kesenian jepin yang berkembang pada masyarakat campuran Melayu Madura di pesisir Kalimantan Barat. Ludruk, jepin dan seni pertunjukan lainnya sama dilekatkan dalam studi-studi tentang tradisi lisan dalam bentuk seni sebagai sebuah serpihan budaya kelisanan dalam masyarakat. Tradisi lisan menjadi topik menarik ketika dihubungkan dengan perkembangan dunia kesejarahan dan ilmu sosial. Pertama, sejarah tulis sangat minim jika dibandingkan dengan sejarah lisan dalam tataran kesejarahan. Kedua, menariknya sejarah lisan yang berkembang didominasi oleh tradisi lisan. Di Jawa, khususnya Jawa Tengah, sangat kaya dengan tradisi lisan, bahkan setiap daerah, kabupaten, kecamatan, desa bahkan dusun memiliki tradisi lisan yang berbeda-beda. Tradisi lisan yang berkembang acapkali dihubungkan dengan eksistensi asal-muasal suatu tempat, keberadaan dan kemunculan suatu tokoh, epos hiburan, dan sebagainya. Oleh karena itu, tradisi lisan di daerah pedesaan di Jawa Tengah kadang dianggap sebagai sejarah lisan itu sendiri. Keberadaan tokoh tradisi lisan dalam sisipan sejarah lisan tidak lepas dari sifat yang melegenda, selalu diwariskan dari generasi ke generasi. Kadang keberadaan tokoh sejarah yang nyata seringkali menghubungkan diri dengan HARMONY VOL. 2 NO. 2 170 tokoh legenda yang sulit dilacak kebenarannya. Tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Jawa banyak berisi tentang alam sekitar dan dikaitkan denga kejadian masa lampau dengan fenomena yang sudah ada, misalnya sejarah berdirinya atau munculnya suatu tempat, dukuh, desa, atau sebuah kadipaten. dan nilai-nilai lain yang merupakan warisan leluhur, maka perlu digali lagi tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat. Dalam hal ini kajian tentang folklor lisan yang berkembang di suatu daerah dapat dimanfaatkan dan digali kembali. Penggalian tradisi lisan bertujuan untuk penanaman pendidikan karakter pada anak melalui mitos, legenda, dan dongeng yang terdapat di Berbagai ekspresi masyarakat yang daerah. dinyatakan dalam tradisi lisan memang tidak hanya berisi cerita dongeng, Pewarisan tradisi lisan, selain melalui mitologi, atau legenda, tetapi juga pendidikan sehari-hari seperti di mengenai sistem religi dan kepercayaan, lingkungan rumah tangga inti dan batih, pembentukan dan peneguhan adat, juga tempat di mana seorang sejarah, hukum, pengobatan, asal-usul beraktivitas dan bekerja. Pendidikan masyarakat, dan kearifan lokal tradisi lisan ini terjadi secara alamiah, mengenai lingkungannya. wajar, dan apa adanya. Misalnya Pengungkapan kelisanan disampaikan pewarisan tradisi lisan di masyarakat terutama dengan mengandalkan faktor Melayu, seorang yang ingin ingatan dari sang penutur. Penutur atau mempelajari tradisi lisan syair gulung tukang cerita memang mengingat bukan Ketapang, maka ia harus datang kepada menghafalkan apa yang akan seorang guru/petutur syair gulung, disampaikannya Meskipun ingatan kemudian melihat, menirukan, dan sangat berperan, selalu dapat dijumpai mempraktikan. Dalam membuat artefak perubahan-perubahan dalam tradisi budaya seperti rumah Melayu, sampan lisan di samping bentuk-bentuknya yang dan perahu, kuliner Melayu, songket dan tetap (Rubin, 1995:26). lain-lainnya diajarkan dan diwariskan melalui kelisanan. Selaras dengan Tradisi lisan yang terdapat dalam perkembangan zaman, maka orangmasyarakat kini mulai menghilang. orang Melayu dalam proses pewarisan Perannya tergantikan oleh berbagai tradisi lisannya menggunakan sistem media seperti televisi, surat kabar, pendidikan formal dan non formal. handphone dan internet. Masyarakat Lebih jauh, penelitian ini akan sekarangpun mulai kehilangan nilaimengupas proses transmisi nilai sosial nilai sosial lokal yang bersumber pada dalam tradisi lisan di masyarakat tradisi lokal. Untuk menanamkan Gunungpati Semarang. kembali nilai sosial, seperti: kebersamaan, keramahan, kepedulian HARMONY VOL. 2 NO. 2 171 Di balik itu, tradisi lisan memiliki 7 fungsi yaitu: 1) Fungsi Hiburan, 2) Fungsi Pendidikan, 3) Fungsi Mengenang Masa Lalu, 4) Fungsi Solidaritas dan Kebersamaan, 5) Fungsi Pengendalian Sosial, 6) Fungsi Protes dan Kritik Sosial, dan 7) Fungsi Religius (Mantra, 2014:8). Sejauh mana tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Gunungpati mampu memenuhi fungsi dari tradisi lisan sebagaimana di atas akan dikaji di dalam artikel ini. Bagaimanapun juga kehidupan masyarakat Gunungpati tidak dapat terlepaskan dari kebudayaan jawa, dan bagaimana kebudayaan jawa mempengaruhi proses transmisi nilai sosial di masyarakat (Utomo, 2017). METODE PENELITIAN Penelitian ini dikaji menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Desain tersebut dipilih karena beberapa kriteria, yaitu; 1) Tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Gunungpati bukan sekedar cerita lisan semata, 2) Ada muatan nilai sosial yang menjadikan masyarakat Gunungpati tetap eksis hingga saat ini, dan 3) Nilai sosial itu yang kemudian akan dikombinasi dengan muatan edukasi dalam tradisi lisan di Masyarakat Gunungpati. Menururt Lincoln dan Guba (dalam Dedy Mulyana, 2004:201) penggunaan studi kasus sebagai suatu metode penelitian kualitatif memiliki beberapa keuntungan, yaitu: 1) Studi kasus dapat menyajikan pandangan dari subjek yang diteliti, 2) Studi kasus menyajikan uraian yang menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca kehidupan sehari-hari, 3) Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti dan responden, dan 4) Studi kasus dapat memberikan uraian yang mendalam yang diperlukan bagi penilaian atau transferabilitas. PEMBAHASAN Tradisi Lisan dan Manusia sebagai Animal educandum Tradisi lisan merupakan unsur-unsur budaya yang dihasilkan oleh masyarakat di masa lampau yang mencakup bentuk ujaran, adat-istiadat, atau perilaku lainnya, di antaranya adalah cerita rakyat (folklor), nyanyian rakyat (folksong), tarian, permainan, peralatan atau benda seperti bangunan, tembok, dan lain-lain (Taylor, 1965:34). Manusia adalah makhluk yang berkebudayaan. Dengan kebudayaan yang dimilikinya manusia tidak hanya dapat menyelaraskan tetapi juga dapat merubah lingkungannya demi kelangsungan hidupnya. Hal ini karena kebudayaan itu, merupakan keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum dan kemampuan-kemampuan lainnya serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa dengan kebudayaan yang berisi seperangkat pengetahuan tersebut oleh HARMONY VOL. 2 NO. 2 172 manusia dapat dijadikan alternatif untuk pendukungnya tentang bagaimana menanggapi lingkungannya, baik fisik bersikap dan berperilaku yang sesuai maupun sosial. dengan norma-norma kesusilaan dan sikap moral yang baik sehingga menjadi Gunungpati sebagai sebuah wilayah manusia yang berguna bagi kehidupan memiliki corak yang khas daripada sendiri dan masyarakat. wilayah di Kota Semarang lainnya. Walaupun lahirnya Gunungpati sebagai Di lingkungan sosial mereka, dampak dari pemekaran wilayah yang masyarakat akan belajar bagaimana cara dilakukan pemerintah, namun hidup bermasyarakat, membaur, dan Gunungpati sebagai daerah dalam dari bergotong royong. Tradisi lisan yang pesisiran Semarang tetap menjadi berkembang di masyarakat merupakan daerah yang berlatarbelakang salah satu media yang dapat digunakan kebudayaan yang syarat akan makna untuk mendidik masyarakat di sejarah dan tradisi tutur/lisan lingkungan sosialnya. Tilbury masyarakat Jawa. Selain itu menarik (1995:199) mengatakan bahwa pula membincangkan mengenai pendidikan lingkungan tidak hanya kekhasan tradisi lisan masyarakat terkait dengan masalah fisik biologis, Gunungpati yang berakar dari sejarah. tetapi juga berhubungan dengan aspek estetika, ekonomi, politik, sosial, Setelah melalui pengamatan, ternyata historis dan budaya, karena faktor tradisi lisan memiliki fungsi edukasi. historis menjadi bagian dari pendidikan Teks Lisan sebagai bagian dari ekspresi lingkungan, maka ada kaitan antara budaya mengandung nilai yang pembelajaran sejarah dengan pemakaiannya berfungsi untuk lingkungan. sejarah lingkungan mengajar dan mendidik masyarakat mengkaji tentang relasi, hubungan pemiliknya. Teks Lisan merupakan timbal balik antara manusia dengan sarana untuk membentuk dan mengubah lingkungan di mana dia tinggal. tingkah laku guna mencapai kehidupan yang beradab. Fungsi pendidikan yang Proses penyampaian tradisi lisan dari tersirat dalam Teks Lisan sering mulut ke mulut ternyata memiliki digunakan dalam pemakaian sehari-hari dampak yang luar biasa. Tradisi lisan sebagai nasihat dan ajaran hidup bagi adalah cermin dari keadaan sosial anggota masyarakat. Selanjutnya, fungsi masyarakat pemilikinya. Di balik itu, Teks Lisan dalam kedudukannya tradisi lisan memiliki peranan dalam sebagai pembentuk sikap, moral dan proses penanaman karakter yang ilmu pengetahuan masyarakat. Nilai merupakan cikal bakal seorang anak pendidikan dapat dilihat dalam contoh menjadi pribadi yang lebih baik dapat syair gulung (terlampir). tradisi lisan dibentuk dengan cerita-cerita yang memberikan nasehat kepada masyarkat berkembang di masyarakat. Dari folklor HARMONY VOL. 2 NO. 2 173 lisan yang terdapat di tengah masyarakat, tentu tidak semuanya dapat dituturkan kepada anak. Orangtua harus pandai memilah dan memilih cerita mana yang seharusnya dituturkan. Hal tersebut tentu dapat didasarkan atas muatan nilai moral yang terdapat di dalamnya. Teks lisan merupakan hasil ekspresi kehidupan mayarakat pada masa lalu yang perlu dikenang yang sering dikaitkan dengan kehidupan saat sekarang. Keperluan untuk mengenang masa lalu dilakukan agar mendapatkan pembanding dan cerminan dari kehidupan masa lalu jika dibandingkan dengan kehidupan sekarang. Hal ini dapat dipahami karena kehidupan lalu yang terjadi merupakan cerminan kehidupan pada saat itu yang dapat dibandingkan dengan kehidupan sekarang yang bisa dijadikan acuan untuk menghadapi berbagai permasalahan yang ada pada saat ini dengan harapan kehidupan menjadi lebih baik. Tradisi Lisan Gunungpati dan Masyarakat Masyarakat Gunungpati yang mayoritas sebagai pedagang dan petani ladang menganggap tradisi sebagai sebuah warisan yang keramat, tidak terkecuali pada tradisi lisan. Seperti yang dituturkan oleh Kepala Desa Gunungpati yang biasa disapa Bapak Mulyono, bahwa Masyarakat Gunungpati masih menganggap tradisi sebagai sebuah warisan suci dari leluhur. Maka tidak heran kalau masyarakat Gunungpati sangat taat adat, dan menjunjung tinggi aspek religiusitas. Kurang lebih seperti itu penuturannya (Wawancara pada 29 Juni 2017). Tidak jauh berbeda dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa lainnya, masyarakat Gunungpati sebagai sebuah komunitas telah memantapkan identitas sosialnya melalui interpretasi pada kehidupan sosial mereka melalui beberapa hal. Penuturan Pak Haji Sukari yang juga Mantan Kepala Desa Gunungpati dari Tahun 1982 hingga 1992 membuka mata peneliti bahwa selain kaya akan sumber alam, Gunungpati juga kaya akan nilai-nilai sosial yang ditransmisikan melalui sebuah tradisi. Diantaranya; 1) Khoul Kyai Pati, 2) Sedekah Bumi, 3) Nyadran, 4) Tedhak Siten, dan 5) Slamatan (Wawancara pada 25 Mei 2017). Transmisi nilai sosial memiliki fokus dan konsentrasi pada tiga aspek, yaitu: 1) Transmisi nilai sosial bersifat menanamkan nilai sosial (juga menggagas, mengkreasi, apabila publik belum memiliki bibit dan potensi keunggulan), 2) Transmisi nilai sosial bersifat mewariskan dan memindahkan nilai dan norma sosial (dengan interaksi, apa yang ada pada masyarakat itu sudah semestinya diteruskan oleh generasi yang baru), 3) Transmisi nilai sosial bersifat mengembangkan perilaku sosial HARMONY VOL. 2 NO. 2 174 (dengan inovasi dan adaptasi, apabila masyarakat telah memiliki benih-benih keunggulan yang kemudian diperluas dan ditingkatkan); dan 4) Transmisi bersifat nilai sosial memantapkan identitas sosial (juga melestarikan dan konservasi, apabila masyarakat telah mengembangkan tradisi keunggulan secara padu dan bersama). Biasanya dalam keadaan yang paling lazim transmisi nilai sosial terjadi oleh komunikasi dari dua interaktor yang berbeda usia. Misalnya oleh ayah kepada anak, ibu kepada anak, kakek kepada anak atau cucu, nenek kepada anak atau cucu atau pola interaksi top down lainnya yang biasanya ceritacerita yang disampaikan berisikan pengalaman dan pesan tentang kehidupan. Interaksi sosial semacam itu merupakan proses pewarisan nilai sosial yang tradisional dan masih dipertahankan di masyarakat Gunungpati secara umum. Meskipun keadaan masyarakat Gunungpati saat ini telah mengalami perubahan besar, terutama dalam hal kebudayaan. Masyarakat Gunungpati yang juga merupakan bagian dari masyarakat Jawa Muslim memiliki karakter yang alim dan patuh kepada pemerintah. Seperti yang pernah dikemukakan oleh Geertz, bahwa para pedagang muslim biasanya memiliki kehidupan yang apa adanya, tidak serta merta menuntut untuk naik menjadi masyarakat kelas atas. Kehidupan mereka sederhana, tidak di bawah dan juga tidak di atas. Tetapi mereka adalah kelas menengah, yang kesehariannya dihabiskan untuk mencari nafkah dengan asumsi bahwa bekerja sebagai ibadah, bukan lainnya (Geertz, 1986:67). Haji Sukari sebagai mantan lurah memang mengetahui banyak informasi sejarah tentang masyarakat Gunungpati dalam dinamikanya. Perlu diketahui juga komunikasi awal antara peneliti dengan Pak Haji Sukari dimulai saat peneliti bertemu dengan Pak Mulyono sekali waktu dalam sebuah wawancara. Pak Mulyono menuturkan bahwa Kalau di Gunungpati hingga kini masih ada satu orang yang memang mengetahui sejarah masyarakat Gunungpati, yaitu Pak Haji Sukari selaku mantan lurah Gunungpati. Beliau adalah tokoh masyarakat yang masih sehat hingga saat ini, beliau berperan besar dalam menyebarluaskan tradisi lisan kepada masyarakat Gunungpati seperti asal usul masyarakat Gunungpati yang sering dibahas pada waktu Khoul Mbah Kyai Pati (Wawancara pada 29 Juni 2017). Soal Mbah Kyai Pati, adalah cerita yang lebih cenderung kepada mitologis masyarakat Jawa. Erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan besar Jawa. Dalam hal ini adalah Mataram Islam. Sebagai sebuah kerajaan terakhir yang berdiri di Pedalaman Jawa, wilayah kekuasaan Mataram menghampar hingga daratan Pati. Dari sanalah, kemudian Kyai Pati berasal, lahir dengan nama Wasis Joyokusumo. Kyai Pati menyandang gelar Adipati pada HARMONY VOL. 2 NO. 2 175 akhir hayatnya. Sebuah gelar kehormatan masyarakat Jawa yang terpilih sebagai perwakilan dari Kerajaan Mataram di daerah kekuasaanya (Wawancara dengan Pak Haji Sukari pada 29 Juni 2017). Mbah Kyai Pati merupakan simbol dari keberadaan masyarakat Gunungpati dari masa silam hingga sekarang. Meskipun pada mulanya ia menetap di Gunungpati adalah karena alasan protes pada penguasa Mataram. Keberadaan Mbah Kyai Pati hingga hari ini masih menjadi satu kebersyukuran masyarakat Gunungpati. Masyarakat di sana sangat menjunjung tinggi nama Adipati Wasis Joyokusumo yang juga merupakan Mbah Kyai Pati itu. Siapa sangka tokoh besar yang hidup dan berhasil membangun sebuah desa yang bernama Gunungpati ini adalah salah satu orang penting di Bumi Pesisir Jawa, Pati tepatnya. Hingga hari ini, masyarakat Pati sering berkunjung ke Gunungpati hanya sekedar untuk menemui leluhurnya di Pusara, lebih jauh mereka mendoakan, agar supaya dari alam yang berbeda Mbah Kyai Pati juga ikut berdoa untuk kemaslahatan anak dan cucunya di dunia. dalam tradisi lisan. Pertanyaannya ialah bagaimana membalikan pemahaman dasar pengetahuan linguistik menjadi sebuah fungsi leksikon. Jawaban dari pertanyaan tersebut, menurut Foley ialah dengan mencari tahu maksud dari “words”. Seperti telah dibahas, tradisi lisan pada masyarakat Gunungpati sangatlah kental akan nuansa religi, Islam khususnya. Adapula yang menganut Islam Kejawen. Kedatangan Islam di Jawa bersamaan dengan goncangan kosmologis sebagaimana bunyi sengkala “sirna ilang ketaning bumi”, yang menyandera tanda-tanda zaman waktu itu, yakni hilangnya kemakmuran di bumi yang terjadi pada tahun-tahun 1400-an (Ahmad Jaenuri, 2002:34). Salah satu penyebab keberhasilan proses Islamisasi di Jawa tidak lain adalah karena para dai berusaha untuk melebur dengan kultur yang sudah mengakar di dalam masyarakat agar dapat selaras dengan kemampuan penangkapan dan pemahaman masyarakat yang akan dimasukinya dalam pengakuan dunia Islam. Proses akulturasi tersebut pada akhirnya melahirkan konsep beragama yang baru sehingga memunculkan tradisi ritual keagamaan yang tidak Dengan faktor-faktor penentu di atas, ditemui dalam tradisi Islam sebelumnya diharapkan dapat menghindari juga dalam tradisi jawa yang telah ada. kemungkinan salah tafsir dalam melihat kesenian sebagai sebuah mekanisme Hasil pengamatan menunjukan belaka. Sederhananya, faktor-faktor eksistensi Islam Kejawen sangatlah tersebut, atau dapat disebut juga sebagai lemah di Desa Gunungpati. Pada Oral-Formulatic Theory, lebih jauh umumnya masyarakat lebih memilih melihat bentuk dan morfologi “words” memeluk agama Islam yang moderat HARMONY VOL. 2 NO. 2 176 daripada Islam Kejawen. Atau bahkan mereka yang memeluk Islam Kejawen hanya sisa-sisa dari transisi budaya pada zaman lama. Kini masyarakat sudah mulai rasional sehingga Islam yang dipeluk adalah Islam yang bercorak agama Muhammad. Penjelasan tersebut sejalan dengan keterangan dari Haji Sukari, yang juga mantan Lurah. Masyarakat Gunungpati yang religius tidak bisa melepaskan tradisi mereka dari hal keagamaan, Islam terutama. Sehingga tradisi Khoul di Makam Kyai Pati yang diselingi dengan tutur sejarah adalah tradisi yang masih populer di masyarakat (Wawancara pada 29 Juni 2017). Transmisi nilai sosial dalam tradisi lisan telah berperan dalam membentuk identitas kewarganegaraan. Tradisi lisan juga berguna untuk membentuk warganegara yang baik. Seperti kata Barr (2003:21) seorang warganegara yang baik itu adalah seorang yang menyesuaikan diri dengan lingkungan, menganut keyakinan tertentu, dan menyesuaikan diri pada norma-norma yang merupakan karakteristik lokal. Dengan kata lain untuk menjadi warganegara yang baik, seseorang tidak dapat melepaskan dirinya dari normanorma lokal. Di balik itu, tradisi lisan telah mengandung norma-norma lokal yang dapat dijadikan pelajaran pada setiap warga masyarakat. Sehingga Pendidikan Ilmu Sosial melalui Tradisi penting untuk dilakukan langkah Lisan di Masyarakat Gunungpati konservatif dengan mentransmisikan Nilai-nilai sosial tidak diperoleh begitu nilai sosial dalam tradisi lisan. saja saat ia lahir, namun dengan sistem nilai yang diajarkan oleh orang tua Faktor yang menyebabkan terjadinya kepada anaknya dengan 30 penyesuaian transmisi nilai sosial adalah sebagai sana-sini. Setiap individu saat ia dewasa berikut: 1) kebutuhan eksistensi pada membutuhkan sistem yang mengatur suatu kelompok masyarakat atau etnik atau semacam arahan untuk bertindak tertentu, 2) transmisi lebih mengarah guna menumbuhkembangkan kepada konservasi nilai sosial, karena menunjukkan aktivitas kepribadian yang baik dalam bergaul prosesnya dan berinteraksi dengan masyarakat pewarisan nilai dan norma yang (Nottingham, 1994:45). Secara singkat berkembang dalam satu komunitas nilai sosial juga dapat dimaknai sebagai masyarakat, dan 3) transmisi nilai sebuah konsep abstrak dalam tersebut berdampak kepada sifat diri manusia pada sebuah konservatif dan preservatif terhadap masyarakat mengenai apa yang nilai itu sendiri, sehingga konstruksi dianggap baik dan apa yang yang ada lebih bersifat defensif. dianggap buruk, indah atau tidak indah, Proses transmisi dapat digambarkan dan benar atau salah. sebagai sebuah perubahan yang berlangsung cepat karena proses HARMONY VOL. 2 NO. 2 177 transmisi dapat dilakukan dengan medium yang lebih variatif seperti; kelas/sekolah, masyarakat, keluarga, maupun kantor tempat bekerja. Sebenarnya nilai sosial pada masyarakat Gunungpati kemungkinan besar dapat ditransmisikan di semua tempat tersebut, tetapi karena peneliti tidak masuk ke ranah pendidikan formal sehingga peneliti hanya menyampaikan hasil tinjauan dari penelitian masyarakat. Di masyarakat Gunungpati sendiri transmisi nilai biasanya terjadi pada skup yang informal seperti pada waktu berinteraksi di Pasar, Warung, Masjid atau dalam keadaan yang tidak menentu lainnya. Sedangkan dalam skala yang formal, transmisi nilai sosial terjadi pada perkumpulan yang massal seperti pada saat Khoul, Pengajian, Selamatan atau Hajatan dan Perkumpulan lainnya yang sifatnya terkoordinir. Dapat dijelaskan pula, Khoul sebagai sebuah tradisi merupakan medium yang baik untuk masyarakat yang sudah lanjut usia memberikan pemahaman sejarah kepada generasi yang baru tumbuh. Dari sana pula akan ada semacam proses atau ritual penanaman nilai sosial dan budaya seperti gotong royong, tepo seliro, tenggang rasa, toleransi dan sebagainya. Dari sana, anak-anak yang diajak hadir akan mendengarkan petuah dari para sesepuh dan pemuka agama. Semuanya berdialog, mendiskusikan romantisme zaman. Nilai sosial tidak diberikan secara mentah, namun harus ada proses berpikir di sana. Anak-anak yang hadir memperhatikan dan akan membayangkan bagaimana cerita yang disampaikan akan berlangsung di kehidupan yang nyata. Menurut penuturan Pak Mulyono, Kalau sekarang ini proses penyebarannya dilakukan pada waktu Khoul Mbah Kyai Pati, di sela acara biasanya ada pidato yang menceritakan sejarah Gunungpati oleh tokoh masyarakat. Sedangkan nilai yang terkandung dan berkembang adalah nilai gotong royong, tepo seliro, andap ashor, aji marang sesepuh. Pak Haji Sukari menguatkan bahwa Kalau dilihat, maka akan nampak nilai religiusitas dalam setiap aktivitas tradisi masyarakat di Gunungpati, selain itu terselip juga nilai sejarah dan sosial khas masyarakat Jawa seperti gotong royong dan tepo seliro. Di balik itu, Khoul Mbah Kyai Pati merupakan momentum yang tepat dalam penyampaian sejarah masyarakat Gunungpati, seperti Nyadran. Dulu sempat hilang, namun setelah Khoul Kyai Pati mendapatkan sumbangan atau bantuan dari Bupati Pati, tradisi nyadran yang tidak populer itu kini kembali populer dan dilakukan setiap menjelang Hari Raya (Wawancara pada 6 Juli 2017). Proses transmisi nilai diawali oleh sebuah kesepakatan bersama, guna menjaga kebudayaan beserta sistem nilai yang ada dan mengakar di suatu entitas tertentu. Kesepakatan yang ada biasanya bersifat alamiah, pada masyarakat Gunungpati saja sebenarnya HARMONY VOL. 2 NO. 2 178 proses kesepakatan itu tidak nampak, melainkan ada semacam perasaan saling mengatahui saja. Jadi tidak perlu di angkat menjadi skala formal, cukup saling mengerti dan memahami saja. Tradisi lisan sendiri sangat berpengaruh bagi masyarakat dalam komunitas kebudayaan manapun, di masyarakat Gunungpati sendiri, seperti yang dituturkan oleh Haji Sukari, bahwa bagi masyarakat tradisi lisan sangat berpengaruh, karena itu merupakan asal usul masyarakat mengenal dirinya. Sehingga perlu diketahui kalau tradisi ini hilang maka masyarakat Gunungpati juga hilang sebenarnya. Saat ini saya tengah khawatir, generasi muda sudah jarang memperdulikan tradisinya. Pak Mulyono menambahkan, kalau tradisi lisan saat sekarang maupun yang akan datang sangat berpengaruh, misalnya saja kita tidak memiliki tradisi maka otomatis masyarakat tidak memiliki identitas sosialnya. Maka, saya sangat berharap masyarakat mau mengingat darimana mereka berasal (Wawancara pada 6 Juli 2017). Pak Mulyono juga menambahkan, bahwa transmisi nilai sosial melalui tradisi lisan biasanya terjadi melalui tutur tinular pada masyarakat, entah di pasar, di warung ataupun di serambi rumah proses itu bisa berlangsung. Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Haji Sukari, bahwa ia masih meyakini tutur tinular, di Pasar, Pengajian, Slamatan dan di tempat umum lainnya biasanya masyarakat berkomunikasi, bercerita sejarah dan tradisinya (Wawancara pada 6 Juli 2017). Sebenarnya perlu dipahami juga mengapa nilai sosial di masyarakat sangat perlu untuk ditransmisikan, Pak Haji Sukari menjawab Masyarakat Jawa itu berbudaya, kalau tradisi lisan tidak ditransmisikan maka akan hilang akar kebudayaannya. Pak Mulyono memberikan tambahan, Hal ini perlu dilakukan karena supaya masyarakat mengingat akar budayanya dan dengan demikian maka masyarakat memiliki identitas sosialnya. Identitas sosial di sini berarti ciri khusus sebuah komunitas masyarakat yang di dalamnya terkandung unsur nilai dan budaya (Wawancara pada 29 Juni 2017). Biasanya sebuah transmisi nilai sosial terjadi secara berkesinambungan dan sistemik. Maksudnya adalah proses itu terus terjadi berulang-ulang, hingga menjadi satu kebiasaan. Tanpa terkecuali di masyarakat Gunungpati. Sebagai misal, Khoul Kyai Pati dilakukan setiap tahun sekali. Itu terjadi setiap menjelang lebaran haji. Maka dengan demikian ini sudah menjadi sebuah pola penanaman nilai yang mentradisi, tanpa terkecuali nilai sosial didalamnya. Juga perlu dipahami bahwa, dalam transmisi tidak ada perubahan, karena prosesnya lebih kepada internalisasi satu nilai yang memang sudah ada dan berkembang di tengah satu entitas tertentu. HARMONY VOL. 2 NO. 2 179 Lebih lanjut, sebenarnya transmisi nilai sosial melalui tradisi lisan berguna sebagai penjaga akar budaya masyarakat supaya identitas masyarakat Gunungpati tidak menghilang. Hal ini sejalan dengan pengamatan yang dilakukan peneliti dalam partisipasi langsung di masyarakat, bahwa tradisi lisan itu penting bagi masyarakat. Namun demikian kehidupan sosial masyarakat saat ini tidak mendukung berseminya nilai-nilai sosial melaui sebuah tradisi. Sehingga perlu direvisi sikap pemerintah dan warga masyarakat tentunya dalam menjaga dan melestarikan kebudayaannya. Jangan sampai bangsa ini satu masa kehilangan identitas sosialnya. Haji Sukari memberikan nasihat pada statmen akhir wawancara tanggal 29 Juni, yaitu masyarakat harusnya lebih peduli pada tradisi lisanya. Bukan saja itu, masyarakat juga perlu nguri-uri atau melestarikan kebudayaannya sendiri melalui tindakan sosial. Misalnya saja turut berperan aktif dalam menjaga tradisi-tradisi di sekitar rumahnya yang dilandaskan pada akar budaya. Seperti gotong royong, tepo seliro, tenggang rasa, hormat ke orang yang lebih tua dan sebagainya. Keluarga adalah medium yang tepat untuk menjaga tradisi-tradisi itu. Lebih lanjut, secara implisit peran masyarakat yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana negara dan atau pemerintah menempatkan masyarakat sebagai mitra atau bagaimana masyarakat diperlakukan sebagai mitra kerja pemerintah. Pengelolaan kemitraan berbasis masyarakat berarti melibatkan potensi masyarakat dan memberi tempat yang signifikan pada aktivitas mereka. Sejalan dengan makin menguatnya peran negara beberapa waktu yang lampau, potensi masyarakat pernah dianggap sebagai ancaman. Akibatnya, secara umum terjadi kevakuman atau ketidakpedulian masyarakat luas, khususnya akan halhal yang berkaitan dengan budaya. Situasi dan paradigma pembangunan yang pernah berjalan yang menekankan pada pentingnya pembangunan ekonomi mengatasi yang lain amat berperan dalam membentuk ketidakpedulian dan sekaligus ketidaktahuan masyarakat akan berbagai hal yang bersangkut paut dengan budaya dan peran utamanya sebagai salah satu sumber pembentukan identitas kemanusiaan dan salah satu media efektif dalam penyampaian nilainilai. KESIMPULAN DAN SARAN Proses transmisi dapat digambarkan sebagai sebuah perubahan yang berlangsung cepat karena proses transmisi dapat dilakukan dengan medium yang lebih variatif seperti; kelas/sekolah, masyarakat, keluarga, maupun kantor tempat bekerja. Sebenarnya nilai sosial pada masyarakat Gunungpati kemungkinan besar dapat ditransmisikan di semua tempat tersebut, tetapi karena peneliti tidak masuk ke ranah pendidikan formal HARMONY VOL. 2 NO. 2 180 sehingga peneliti hanya menyampaikan hasil tinjauan dari penelitian masyarakat. Di masyarakat Gunungpati sendiri transmisi nilai biasanya terjadi pada skup yang informal seperti pada waktu berinteraksi di Pasar, Warung, Masjid atau dalam keadaan yang tidak menentu lainnya. Sedangkan dalam skala yang formal, transmisi nilai sosial terjadi pada perkumpulan yang massal seperti pada saat Khoul, Pengajian, Selamatan atau Hajatan dan Perkumpulan lainnya yang sifatnya terkoordinir. Dapat dijelaskan pula, Khoul sebagai sebuah tradisi merupakan medium yang baik untuk masyarakat yang sudah lanjut usia memberikan pemahaman sejarah kepada generasi yang baru tumbuh. Dari sana pula akan ada semacam proses atau ritual penanaman nilai sosial dan budaya seperti gotong royong, tepo seliro, tenggang rasa, toleransi dan sebagainya. Dari sana, anak-anak yang diajak hadir akan mendengarkan petuah dari para sesepuh dan pemuka agama. Semuanya berdialog, mendiskusikan romantisme zaman. Nilai sosial tidak diberikan secara mentah, namun harus ada proses berpikir di sana. Anak-anak yang hadir memperhatikan dan akan membayangkan bagaimana cerita yang disampaikan akan berlangsung di kehidupan yang nyata. Menurut penuturan Pak Mulyono, Kalau sekarang ini proses penyebarannya dilakukan pada waktu Khoul Mbah Kyai Pati, di sela acara biasanya ada pidato yang menceritakan sejarah Gunungpati oleh tokoh masyarakat. Sedangkan nilai yang terkandung dan berkembang adalah nilai gotong royong, tepo seliro, andap ashor, aji marang sesepuh. Pak Haji Sukari menguatkan bahwa Kalau dilihat, maka akan nampak nilai religiusitas dalam setiap aktivitas tradisi masyarakat di Gunungpati, selain itu terselip juga nilai sejarah dan sosial khas masyarakat Jawa seperti gotong royong dan tepo seliro. Di balik itu, Khoul Mbah Kyai Pati merupakan momentum yang tepat dalam penyampaian sejarah masyarakat Gunungpati, seperti Nyadran. Dulu sempat hilang, namun setelah Khoul Kyai Pati mendapatkan sumbangan atau bantuan dari Bupati Pati, tradisi nyadran yang tidak populer itu kini kembali populer dan dilakukan setiap menjelang Hari Raya (Wawancara pada 6 Juli 2017). Proses transmisi nilai diawali oleh sebuah kesepakatan bersama, guna menjaga kebudayaan beserta sistem nilai yang ada dan mengakar di suatu identitas tertentu. Kesepakatan yang ada biasanya bersifat alamiah, pada masyarakat Gunungpati saja sebenarnya proses kesepakatan itu tidak nampak, melainkan ada semacam perasaan saling mengatahui saja. Jadi tidak perlu di angkat menjadi skala formal, cukup saling mengerti dan memahami saja. Tradisi lisan sendiri sangat berpengaruh bagi masyarakat dalam komunitas kebudayaan manapun, di masyarakat Gunungpati sendiri, seperti yang HARMONY VOL. 2 NO. 2 181 dituturkan oleh Haji Sukari, bahwa bagi masyarakat tradisi lisan sangat berpengaruh, karena itu merupakan asal usul masyarakat mengenal dirinya. Sehingga perlu diketahui kalau tradisi ini hilang maka masyarakat Gunungpati juga hilang sebenarnya. Saat ini saya tengah khawatir, generasi muda sudah jarang memperdulikan tradisinya. Pak Mulyono menambahkan, kalau tradisi lisan saat sekarang maupun yang akan datang sangat berpengaruh, misalnya saja kita tidak memiliki tradisi maka otomatis masyarakat tidak memiliki identitas sosialnya. Maka, saya sangat berharap masyarakat mau mengingat darimana mereka berasal (Wawancara pada 6 Juli 2017). kebudayaannya. Pak Mulyono memberikan tambahan, Hal ini perlu dilakukan karena supaya masyarakat mengingat akar budayanya dan dengan demikian maka masyarakat memiliki identitas sosialnya. Identitas sosial di sini berarti ciri khusus sebuah komunitas masyarakat yang di dalamnya terkandung unsur nilai dan budaya (Wawancara pada 29 Juni 2017). Biasanya sebuah transmisi nilai sosial terjadi secara berkesinambungan dan sistemik. Maksudnya adalah proses itu terus terjadi berulang-ulang, hingga menjadi satu kebiasaan. Tanpa terkecuali di masyarakat Gunungpati. Sebagai misal, Khoul Kyai Pati dilakukan setiap tahun sekali. Itu terjadi setiap menjelang lebaran haji. Maka dengan demikian ini sudah menjadi sebuah pola penanaman nilai yang mentradisi, tanpa terkecuali nilai sosial di dalamnya. Juga perlu dipahami bahwa, dalam transmisi tidak ada perubahan, karena prosesnya lebih kepada internalisasi satu nilai yang memang sudah ada dan berkembang di tengah satu identitas tertentu. Pak Mulyono juga menambahkan, bahwa transmisi nilai sosial melalui tradisi lisan biasanya terjadi melalui tutur tinular pada masyarakat, entah di pasar, di warung ataupun di serambi rumah proses itu bisa berlangsung. Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Haji Sukari, bahwa ia masih meyakini tutur tinular, di Pasar, Pengajian, Slamatan dan di tempat umum lainnya biasanya masyarakat Lebih lanjut, sebenarnya transmisi nilai berkomunikasi, bercerita sejarah dan sosial melalui tradisi lisan berguna tradisinya (Wawancara pada 6 Juli sebagai penjaga akar budaya masyarakat 2017). supaya identitas masyarakat Gunungpati Sebenarnya perlu dipahami juga tidak menghilang. Hal ini sejalan mengapa nilai sosial di masyarakat dengan pengamatan yang dilakukan sangat perlu untuk ditransmisikan, Pak peneliti dalam partisipasi langsung di Haji Sukari menjawab Masyarakat Jawa masyarakat, bahwa tradisi lisan itu itu berbudaya, kalau tradisi lisan tidak penting bagi masyarakat. Namun ditransmisikan maka akan hilang akar demikian kehidupan sosial masyarakat HARMONY VOL. 2 NO. 2 182 saat ini tidak mendukung berseminya nilai-nilai sosial melaui sebuah tradisi. Sehingga perlu direvisi sikap pemerintah dan warga masyarakat tentunya dalam menjaga dan melestarikan kebudayaannya. Jangan sampai bangsa ini satu masa kehilangan identitas sosialnya. kevakuman atau ketidakpedulian masyarakat luas, khususnya akan halhal yang berkaitan dengan budaya. Situasi dan paradigma pembangunan yang pernah berjalan yang menekankan pada pentingnya pembangunan ekonomi mengatasi yang lain amat berperan dalam membentuk ketidakpedulian dan sekaligus ketidaktahuan masyarakat akan berbagai hal yang bersangkut paut dengan budaya dan peran utamanya sebagai salah satu sumber pembentukan identitas kemanusiaan dan salah satu media efektif dalam penyampaian nilainilai. Haji Sukari memberikan nasihat pada statemen akhir wawancara tanggal 29 Juni, yaitu masyarakat harusnya lebih peduli pada tradisi lisanya. Bukan saja itu, masyarakat juga perlu nguri-uri atau melestarikan kebudayaannya sendiri melalui tindakan sosial. Misalnya saja turut berperan aktif dalam menjaga DAFTAR PUSTAKA tradisi-tradisi di sekitar rumahnya yang Barr, Robert dkk. Hakekat Studi dilandaskan pada akar budaya. Seperti Sosial: The Nature of Social Studies. gotong royong, tepo seliro, tenggang Terjemahan Buchari Alma dan M. Harlasgunawan Ap. Bandung: rasa, hormat ke orang yang lebih tua dan Penerbit Alfabeta, 2003. sebagainya. Keluarga adalah medium yang tepat untuk menjaga tradisi-tradisi Utomo, Cahyo Budi. Tradisi Lisan itu. sebagai Transmisi Nilai Sosial pada Masyarakat Gunungpati Semarang. Lebih lanjut, secara implisit peran Penelitian Fakultas Ilmu Sosial masyarakat yang dimaksudkan di sini Universitas Negeri Semarang, 2017. adalah bagaimana negara dan atau Geertz, Clifford. Mojokuto: pemerintah menempatkan masyarakat Dinamika Sosial Sebuah Kota di sebagai mitra atau bagaimana Jawa. Jakarta: PT Pustaka Grafiti masyarakat diperlakukan sebagai mitra Pers, 1986. kerja pemerintah. Pengelolaan Hefner, Carl J. Ludruk folk theatre of kemitraan berbasis masyarakat berarti East Java: toward a theory of melibatkan potensi masyarakat dan symbolic action. University of memberi tempat yang signifikan pada Hawaii, 1994. aktivitas mereka. Sejalan dengan makin Jainuri, Ahmad. Ideologi Kaum menguatnya peran negara beberapa Reformis: Melacak Pandangan waktu yang lampau, potensi masyarakat Keagamaan Muhammadiyah Periode pernah dianggap sebagai ancaman. Awal. Surabaya: LPAM, 2002. Akibatnya, secara umum terjadi HARMONY VOL. 2 NO. 2 183 Mantra, I.B.N. dan Sri Widiastuti. Fungsi dan Makna Tradisi Lisan Genjek Kadong Iseng. Jurnal Bakti Saraswati.Vol. 03, No. 02. (September 2014): 2088-2149. Rubin, David C. Memory in Oral Traditions: The Cognitive Psychology of Epic, Ballads, and Counting-out Rhymes. New York: Oxford University Press, 1995. Mulyana, Deddy. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004 Taylor, A. Folklore and The Student of Literature. New York: PrenticeHell, 1965. Nottingham, Elizabeth K. Agama dan Masyarakat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994. Tilbury, D. Environmental Education for Sustainability: Defining the New Focus of Environmental Education in the 1990’s. Environmental Education Research. Vol. 1, No. 2 (Maret 1995): 3-21. HARMONY VOL. 2 NO. 2 184

Judul: Bilamana Tradisi Lisan Menjadi Media Pendidikan Ilmu Sosial Di Masyarakat Gunungpati

Oleh: Ganda Febri Kurniawan

Ikuti kami