Bilamana Tradisi Lisan Menjadi Media Pendidikan Ilmu Sosial Di Masyarakat Gunungpati

Oleh Ganda Febri Kurniawan

23 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Bilamana Tradisi Lisan Menjadi Media Pendidikan Ilmu Sosial Di Masyarakat Gunungpati

BILAMANA TRADISI LISAN MENJADI MEDIA PENDIDIKAN ILMU
SOSIAL DI MASYARAKAT GUNUNGPATI
Dr. Cahyo Budi Utomo, M. Pd., Ganda Febri Kurniawan, S. Pd.
Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang
cahyo.bu@mail.unnes.ac.id

Abstract
This study aims to see how far the oral tradition plays a role in becoming a social science
education media in Gunungpati society Begining from the problem of social change which is
increasingly happening has changed the social orientation of the original traditional
Gunungpati community into a semi-modern society with the mastery of technology and modern
science. The question is how the oral tradition in the 21st Century is able to provide value
education in society. The discussion is not address formal social science education, but social
science education in society. The research method used is qualitative method with case study
design. This design is chosen, given the object being studied is very distinctive and needs to be
participated in participating to obtain accurate data. Key findings in this study include; 1)
Basically an oral tradition has benefits in social science education in society, since humans are
basically educandum beings which means can be educated and must get education from an
early age and wherever located, and 2) Gunungpati society still feel the usefulness of the oral
tradition in the transmission process social values that function for entertainment, education,
recollections of the Past (historical learning), solidarity and togetherness, social control,
protest function and social criticism, and finally religious functions.
Keywords: Oral Tradition, Social Science Education, Society.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana tradisi lisan berperan dalam menjadi media
pendidikan ilmu sosial di masyarakat Gunungpati. Berangkat dari permasalahan tentang
perubahan sosial yang semakin cepat terjadi telah merubah orientasi sosial masyarakat
Gunungpati yang semula tradisional menjadi masyarakat yang semi modern dengan
penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Pertanyaannya adalah bagaimana tradisi
lisan di Abad 21 ini mampu memberikan pendidikan nilai di masyarakat. Pembicaraan tidak
menyinggung soal pendidikan ilmu sosial secara formal, melainkan pendidikan ilmu sosial di
masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan desain studi
kasus. Desain ini dipilih, mengingat objek yang diteliti sangat khas dan perlu di dalami secara
partisipatif untuk memperoleh data yang akurat. Temuan penting dalam penelitian ini meliputi;
1) Pada dasarnya tradisi lisan memiliki manfaat dalam pendidikan ilmu sosial di masyarakat,
mengingat manusia pada dasarnya merupakan makhluk educandum yang berarti bisa dididik
dan harus mendapat pendidikan sedari dini dan dimanapun berada, dan 2) Masyarakat
Gunungpati masih merasakan kebermanfaatan dari tradisi lisan dalam proses transmisi nilai
sosial yang berfungsi untuk hiburan, pendidikan, mengenang Masa Lalu (belajar
sejarah), solidaritas dan kebersamaan, pengendalian sosial, fungsi protes dan kritik
sosial, dan terakhir fungsi religius.
Kata kunci : Tradisi Lisan, Pendidikan Ilmu Sosial, Masyarakat.

HARMONY VOL. 2 NO. 2

169

PENDAHULUAN
Meskipun sudah berkurang di jaman
modern ini, tradisi lisan masih bisa
dijumpai di tengah masyarakat. Tradisi
lisan
yang
berkembang
dalam
masyarakat merupakan media untuk
mengajarkan nilai-nilai masa lalu yang
sudah ada pada masyarakat. Seni tradisi
lisan yang bersumber dari budaya rakyat
masa lalu sebagai warisan budaya makin
kurang mendapat perhatian lantaran
kurangnya pewarisan kepada generasi
penerus. Padahal tradisi lisan banyak
mengandung pendidikan dan kearifan
lokal
yang
berkembang
dalam
masyarakat. Kurangnya pewarisan
berdampak pada generasi penerus lebih
mengenal budaya pop ketimbang
budaya lokalnya. Media pewarisan yang
kurang bisa diterima oleh generasi
penerus menjadi kendala yang harus
segera dicari solusinya.
Lintas waktu dan lintas generasi dalam
sebuah tadisi lisan, menandakan bahwa
ingatan mampu merekam berbagai
ekspresi
kelisanan
mengenai
perkembangan masyarakatnya pada saat
itu.
Hefner,
misalnya
telah
memperlihatkan peranan ludruk dalam
membangun sebuah forum sosial politik
yang penting dan memberikan komentar
atas isu-isu sosial, kekuasaan, otoritas,
dan identitas lokal sebuah masyarakat
pada suatu periode tertentu (Hefner,
1994:68). Ludruk dipandang sebagai
dinamika
yang
secara
efektif
membangkitkan
anggapan-anggapan
yang mendasar yang terdapat dalam

pandangan dunia pendukungnya. Kajian
tentang Ludruk, yang terdapat di Jawa
Timur seperti itu, hampir sama dengan
kesenian jepin yang berkembang pada
masyarakat campuran Melayu Madura
di pesisir Kalimantan Barat. Ludruk,
jepin dan seni pertunjukan lainnya sama
dilekatkan dalam studi-studi tentang
tradisi lisan dalam bentuk seni sebagai
sebuah serpihan budaya kelisanan dalam
masyarakat.
Tradisi lisan menjadi topik menarik
ketika
dihubungkan
dengan
perkembangan dunia kesejarahan dan
ilmu sosial. Pertama, sejarah tulis sangat
minim jika dibandingkan dengan sejarah
lisan dalam tataran kesejarahan. Kedua,
menariknya
sejarah
lisan
yang
berkembang didominasi oleh tradisi
lisan. Di Jawa, khususnya Jawa Tengah,
sangat kaya dengan tradisi lisan, bahkan
setiap daerah, kabupaten, kecamatan,
desa bahkan dusun memiliki tradisi lisan
yang berbeda-beda. Tradisi lisan yang
berkembang acapkali dihubungkan
dengan eksistensi asal-muasal suatu
tempat, keberadaan dan kemunculan
suatu tokoh, epos hiburan, dan
sebagainya. Oleh karena itu, tradisi lisan
di daerah pedesaan di Jawa Tengah
kadang dianggap sebagai sejarah lisan
itu sendiri.
Keberadaan tokoh tradisi lisan dalam
sisipan sejarah lisan tidak lepas dari sifat
yang melegenda, selalu diwariskan dari
generasi
ke
generasi.
Kadang
keberadaan tokoh sejarah yang nyata
seringkali menghubungkan diri dengan

HARMONY VOL. 2 NO. 2

170

tokoh legenda yang sulit dilacak
kebenarannya. Tradisi lisan yang
berkembang di masyarakat Jawa banyak
berisi tentang alam sekitar dan dikaitkan
denga kejadian masa lampau dengan
fenomena yang sudah ada, misalnya
sejarah berdirinya atau munculnya suatu
tempat, dukuh, desa, atau sebuah
kadipaten.

dan nilai-nilai lain yang merupakan
warisan leluhur, maka perlu digali lagi
tradisi lisan yang berkembang dalam
masyarakat. Dalam hal ini kajian
tentang folklor lisan yang berkembang
di suatu daerah dapat dimanfaatkan dan
digali kembali. Penggalian tradisi lisan
bertujuan untuk penanaman pendidikan
karakter pada anak melalui mitos,
legenda, dan dongeng yang terdapat di
Berbagai ekspresi masyarakat yang
daerah.
dinyatakan dalam tradisi lisan memang
tidak hanya berisi cerita dongeng, Pewarisan tradisi lisan, selain melalui
mitologi, atau legenda, tetapi juga pendidikan sehari-hari seperti di
mengenai sistem religi dan kepercayaan, lingkungan rumah tangga inti dan batih,
pembentukan dan peneguhan adat, juga tempat di mana seorang
sejarah, hukum, pengobatan, asal-usul beraktivitas dan bekerja. Pendidikan
masyarakat,
dan
kearifan
lokal tradisi lisan ini terjadi secara alamiah,
mengenai
lingkungannya. wajar, dan apa adanya. Misalnya
Pengungkapan kelisanan disampaikan pewarisan tradisi lisan di masyarakat
terutama dengan mengandalkan faktor Melayu,
seorang
yang
ingin
ingatan dari sang penutur. Penutur atau mempelajari tradisi lisan syair gulung
tukang cerita memang mengingat bukan Ketapang, maka ia harus datang kepada
menghafalkan
apa
yang
akan seorang guru/petutur syair gulung,
disampaikannya Meskipun ingatan kemudian melihat, menirukan, dan
sangat berperan, selalu dapat dijumpai mempraktikan. Dalam membuat artefak
perubahan-perubahan dalam tradisi budaya seperti rumah Melayu, sampan
lisan di samping bentuk-bentuknya yang dan perahu, kuliner Melayu, songket dan
tetap (Rubin, 1995:26).
lain-lainnya diajarkan dan diwariskan
melalui kelisanan. Selaras dengan
Tradisi lisan yang terdapat dalam
perkembangan zaman, maka orangmasyarakat kini mulai menghilang.
orang Melayu dalam proses pewarisan
Perannya tergantikan oleh berbagai
tradisi lisannya menggunakan sistem
media seperti televisi, surat kabar,
pendidikan formal dan non formal.
handphone dan internet. Masyarakat
Lebih jauh, penelitian ini akan
sekarangpun mulai kehilangan nilaimengupas proses transmisi nilai sosial
nilai sosial lokal yang bersumber pada
dalam tradisi lisan di masyarakat
tradisi lokal. Untuk menanamkan
Gunungpati Semarang.
kembali
nilai
sosial,
seperti:
kebersamaan, keramahan, kepedulian

HARMONY VOL. 2 NO. 2

171

Di balik itu, tradisi lisan memiliki 7
fungsi yaitu: 1) Fungsi Hiburan, 2)
Fungsi
Pendidikan,
3)
Fungsi
Mengenang Masa Lalu, 4) Fungsi
Solidaritas dan Kebersamaan, 5) Fungsi
Pengendalian Sosial, 6) Fungsi Protes
dan Kritik Sosial, dan 7) Fungsi Religius
(Mantra, 2014:8). Sejauh mana tradisi
lisan yang berkembang di masyarakat
Gunungpati mampu memenuhi fungsi
dari tradisi lisan sebagaimana di atas
akan dikaji di dalam artikel ini.
Bagaimanapun
juga
kehidupan
masyarakat Gunungpati tidak dapat
terlepaskan dari kebudayaan jawa, dan
bagaimana
kebudayaan
jawa
mempengaruhi proses transmisi nilai
sosial di masyarakat (Utomo, 2017).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dikaji menggunakan
pendekatan kualitatif dengan desain
studi kasus. Desain tersebut dipilih
karena beberapa kriteria, yaitu; 1)
Tradisi lisan yang berkembang di
masyarakat Gunungpati bukan sekedar
cerita lisan semata, 2) Ada muatan nilai
sosial yang menjadikan masyarakat
Gunungpati tetap eksis hingga saat ini,
dan 3) Nilai sosial itu yang kemudian
akan dikombinasi dengan muatan
edukasi dalam tradisi lisan di
Masyarakat Gunungpati. Menururt
Lincoln dan Guba (dalam Dedy
Mulyana, 2004:201) penggunaan studi
kasus sebagai suatu metode penelitian
kualitatif
memiliki
beberapa
keuntungan, yaitu: 1) Studi kasus dapat
menyajikan pandangan dari subjek yang

diteliti, 2) Studi kasus menyajikan
uraian yang menyeluruh yang mirip
dengan apa yang dialami pembaca
kehidupan sehari-hari, 3) Studi kasus
merupakan sarana efektif untuk
menunjukkan hubungan antara peneliti
dan responden, dan 4) Studi kasus dapat
memberikan uraian yang mendalam
yang diperlukan bagi penilaian atau
transferabilitas.
PEMBAHASAN
Tradisi Lisan dan Manusia sebagai
Animal educandum

Tradisi lisan merupakan unsur-unsur
budaya yang dihasilkan oleh masyarakat
di masa lampau yang mencakup bentuk
ujaran, adat-istiadat, atau perilaku
lainnya, di antaranya adalah cerita
rakyat (folklor), nyanyian rakyat
(folksong), tarian, permainan, peralatan
atau benda seperti bangunan, tembok,
dan lain-lain (Taylor, 1965:34).
Manusia
adalah
makhluk
yang
berkebudayaan. Dengan kebudayaan
yang dimilikinya manusia tidak hanya
dapat menyelaraskan tetapi juga dapat
merubah
lingkungannya
demi
kelangsungan hidupnya. Hal ini karena
kebudayaan itu, merupakan keseluruhan
kompleks yang meliputi pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum
dan kemampuan-kemampuan lainnya
serta kebiasaan yang diperoleh manusia
sebagai anggota masyarakat. Dengan
demikian dapatlah dipahami bahwa
dengan kebudayaan yang berisi
seperangkat pengetahuan tersebut oleh

HARMONY VOL. 2 NO. 2

172

manusia dapat dijadikan alternatif untuk pendukungnya tentang bagaimana
menanggapi lingkungannya, baik fisik bersikap dan berperilaku yang sesuai
maupun sosial.
dengan norma-norma kesusilaan dan
sikap moral yang baik sehingga menjadi
Gunungpati sebagai sebuah wilayah
manusia yang berguna bagi kehidupan
memiliki corak yang khas daripada
sendiri dan masyarakat.
wilayah di Kota Semarang lainnya.
Walaupun lahirnya Gunungpati sebagai Di
lingkungan
sosial
mereka,
dampak dari pemekaran wilayah yang masyarakat akan belajar bagaimana cara
dilakukan
pemerintah,
namun hidup bermasyarakat, membaur, dan
Gunungpati sebagai daerah dalam dari bergotong royong. Tradisi lisan yang
pesisiran Semarang tetap menjadi berkembang di masyarakat merupakan
daerah
yang
berlatarbelakang salah satu media yang dapat digunakan
kebudayaan yang syarat akan makna untuk
mendidik
masyarakat
di
sejarah
dan
tradisi
tutur/lisan lingkungan
sosialnya.
Tilbury
masyarakat Jawa. Selain itu menarik (1995:199)
mengatakan
bahwa
pula
membincangkan
mengenai pendidikan lingkungan tidak hanya
kekhasan tradisi lisan masyarakat terkait dengan masalah fisik biologis,
Gunungpati yang berakar dari sejarah.
tetapi juga berhubungan dengan aspek
estetika, ekonomi, politik, sosial,
Setelah melalui pengamatan, ternyata
historis dan budaya, karena faktor
tradisi lisan memiliki fungsi edukasi.
historis menjadi bagian dari pendidikan
Teks Lisan sebagai bagian dari ekspresi
lingkungan, maka ada kaitan antara
budaya mengandung nilai yang
pembelajaran
sejarah
dengan
pemakaiannya
berfungsi
untuk
lingkungan.
sejarah
lingkungan
mengajar dan mendidik masyarakat
mengkaji tentang relasi, hubungan
pemiliknya. Teks Lisan merupakan
timbal balik antara manusia dengan
sarana untuk membentuk dan mengubah
lingkungan di mana dia tinggal.
tingkah laku guna mencapai kehidupan
yang beradab. Fungsi pendidikan yang Proses penyampaian tradisi lisan dari
tersirat dalam Teks Lisan sering mulut ke mulut ternyata memiliki
digunakan dalam pemakaian sehari-hari dampak yang luar biasa. Tradisi lisan
sebagai nasihat dan ajaran hidup bagi adalah cermin dari keadaan sosial
anggota masyarakat. Selanjutnya, fungsi masyarakat pemilikinya. Di balik itu,
Teks Lisan dalam kedudukannya tradisi lisan memiliki peranan dalam
sebagai pembentuk sikap, moral dan proses penanaman karakter yang
ilmu pengetahuan masyarakat. Nilai merupakan cikal bakal seorang anak
pendidikan dapat dilihat dalam contoh menjadi pribadi yang lebih baik dapat
syair gulung (terlampir). tradisi lisan dibentuk dengan cerita-cerita yang
memberikan nasehat kepada masyarkat berkembang di masyarakat. Dari folklor

HARMONY VOL. 2 NO. 2

173

lisan yang terdapat di tengah
masyarakat, tentu tidak semuanya dapat
dituturkan kepada anak. Orangtua harus
pandai memilah dan memilih cerita
mana yang seharusnya dituturkan. Hal
tersebut tentu dapat didasarkan atas
muatan nilai moral yang terdapat di
dalamnya.
Teks lisan merupakan hasil ekspresi
kehidupan mayarakat pada masa lalu
yang perlu dikenang yang sering
dikaitkan dengan kehidupan saat
sekarang. Keperluan untuk mengenang
masa lalu dilakukan agar mendapatkan
pembanding dan cerminan dari
kehidupan masa lalu jika dibandingkan
dengan kehidupan sekarang. Hal ini
dapat dipahami karena kehidupan lalu
yang terjadi merupakan cerminan
kehidupan pada saat itu yang dapat
dibandingkan
dengan
kehidupan
sekarang yang bisa dijadikan acuan
untuk
menghadapi
berbagai
permasalahan yang ada pada saat ini
dengan harapan kehidupan menjadi
lebih baik.
Tradisi

Lisan
Gunungpati

dan

Masyarakat

Masyarakat Gunungpati yang mayoritas
sebagai pedagang dan petani ladang
menganggap tradisi sebagai sebuah
warisan yang keramat, tidak terkecuali
pada tradisi lisan. Seperti yang
dituturkan
oleh
Kepala
Desa
Gunungpati yang biasa disapa Bapak
Mulyono,
bahwa
Masyarakat
Gunungpati masih menganggap tradisi

sebagai sebuah warisan suci dari
leluhur. Maka tidak heran kalau
masyarakat Gunungpati sangat taat adat,
dan
menjunjung
tinggi
aspek
religiusitas. Kurang lebih seperti itu
penuturannya (Wawancara pada 29 Juni
2017).
Tidak jauh berbeda dengan corak
kebudayaan masyarakat Jawa lainnya,
masyarakat Gunungpati sebagai sebuah
komunitas telah memantapkan identitas
sosialnya melalui interpretasi pada
kehidupan sosial mereka melalui
beberapa hal. Penuturan Pak Haji Sukari
yang juga Mantan Kepala Desa
Gunungpati dari Tahun 1982 hingga
1992 membuka mata peneliti bahwa
selain kaya akan sumber alam,
Gunungpati juga kaya akan nilai-nilai
sosial yang ditransmisikan melalui
sebuah tradisi. Diantaranya; 1) Khoul
Kyai Pati, 2) Sedekah Bumi, 3)
Nyadran, 4) Tedhak Siten, dan 5)
Slamatan (Wawancara pada 25 Mei
2017).
Transmisi nilai sosial memiliki fokus
dan konsentrasi pada tiga aspek, yaitu:
1) Transmisi nilai sosial bersifat
menanamkan
nilai
sosial
(juga
menggagas, mengkreasi, apabila publik
belum memiliki bibit dan potensi
keunggulan), 2) Transmisi nilai sosial
bersifat mewariskan dan memindahkan
nilai dan norma sosial (dengan interaksi,
apa yang ada pada masyarakat itu sudah
semestinya diteruskan oleh generasi
yang baru), 3) Transmisi nilai sosial
bersifat mengembangkan perilaku sosial

HARMONY VOL. 2 NO. 2

174

(dengan inovasi dan adaptasi, apabila
masyarakat telah memiliki benih-benih
keunggulan yang kemudian diperluas
dan ditingkatkan); dan 4) Transmisi
bersifat nilai sosial memantapkan
identitas sosial (juga melestarikan dan
konservasi, apabila masyarakat telah
mengembangkan tradisi keunggulan
secara padu dan bersama).
Biasanya dalam keadaan yang paling
lazim transmisi nilai sosial terjadi oleh
komunikasi dari dua interaktor yang
berbeda usia. Misalnya oleh ayah
kepada anak, ibu kepada anak, kakek
kepada anak atau cucu, nenek kepada
anak atau cucu atau pola interaksi top
down lainnya yang biasanya ceritacerita yang disampaikan berisikan
pengalaman
dan
pesan
tentang
kehidupan. Interaksi sosial semacam itu
merupakan proses pewarisan nilai sosial
yang
tradisional
dan
masih
dipertahankan
di
masyarakat
Gunungpati secara umum. Meskipun
keadaan masyarakat Gunungpati saat ini
telah mengalami perubahan besar,
terutama dalam hal kebudayaan.
Masyarakat Gunungpati yang juga
merupakan bagian dari masyarakat Jawa
Muslim memiliki karakter yang alim
dan patuh kepada pemerintah. Seperti
yang pernah dikemukakan oleh Geertz,
bahwa para pedagang muslim biasanya
memiliki kehidupan yang apa adanya,
tidak serta merta menuntut untuk naik
menjadi masyarakat kelas atas.
Kehidupan mereka sederhana, tidak di
bawah dan juga tidak di atas. Tetapi

mereka adalah kelas menengah, yang
kesehariannya
dihabiskan
untuk
mencari nafkah dengan asumsi bahwa
bekerja sebagai ibadah, bukan lainnya
(Geertz, 1986:67).
Haji Sukari sebagai mantan lurah
memang mengetahui banyak informasi
sejarah tentang masyarakat Gunungpati
dalam dinamikanya. Perlu diketahui
juga komunikasi awal antara peneliti
dengan Pak Haji Sukari dimulai saat
peneliti bertemu dengan Pak Mulyono
sekali waktu dalam sebuah wawancara.
Pak Mulyono menuturkan bahwa Kalau
di Gunungpati hingga kini masih ada
satu orang yang memang mengetahui
sejarah masyarakat Gunungpati, yaitu
Pak Haji Sukari selaku mantan lurah
Gunungpati. Beliau adalah tokoh
masyarakat yang masih sehat hingga
saat ini, beliau berperan besar dalam
menyebarluaskan tradisi lisan kepada
masyarakat Gunungpati seperti asal usul
masyarakat Gunungpati yang sering
dibahas pada waktu Khoul Mbah Kyai
Pati (Wawancara pada 29 Juni 2017).
Soal Mbah Kyai Pati, adalah cerita yang
lebih cenderung kepada mitologis
masyarakat Jawa. Erat kaitannya dengan
sejarah kerajaan-kerajaan besar Jawa.
Dalam hal ini adalah Mataram Islam.
Sebagai sebuah kerajaan terakhir yang
berdiri di Pedalaman Jawa, wilayah
kekuasaan
Mataram
menghampar
hingga daratan Pati. Dari sanalah,
kemudian Kyai Pati berasal, lahir
dengan nama Wasis Joyokusumo. Kyai
Pati menyandang gelar Adipati pada

HARMONY VOL. 2 NO. 2

175

akhir
hayatnya.
Sebuah
gelar
kehormatan masyarakat Jawa yang
terpilih sebagai perwakilan dari
Kerajaan
Mataram
di
daerah
kekuasaanya (Wawancara dengan Pak
Haji Sukari pada 29 Juni 2017).
Mbah Kyai Pati merupakan simbol dari
keberadaan masyarakat Gunungpati dari
masa silam hingga sekarang. Meskipun
pada mulanya ia menetap di Gunungpati
adalah karena alasan protes pada
penguasa Mataram. Keberadaan Mbah
Kyai Pati hingga hari ini masih menjadi
satu
kebersyukuran
masyarakat
Gunungpati. Masyarakat di sana sangat
menjunjung tinggi nama Adipati Wasis
Joyokusumo yang juga merupakan
Mbah Kyai Pati itu. Siapa sangka tokoh
besar yang hidup dan berhasil
membangun sebuah desa yang bernama
Gunungpati ini adalah salah satu orang
penting di Bumi Pesisir Jawa, Pati
tepatnya. Hingga hari ini, masyarakat
Pati sering berkunjung ke Gunungpati
hanya
sekedar
untuk
menemui
leluhurnya di Pusara, lebih jauh mereka
mendoakan, agar supaya dari alam yang
berbeda Mbah Kyai Pati juga ikut
berdoa untuk kemaslahatan anak dan
cucunya di dunia.

dalam tradisi lisan. Pertanyaannya ialah
bagaimana membalikan pemahaman
dasar pengetahuan linguistik menjadi
sebuah fungsi leksikon. Jawaban dari
pertanyaan tersebut, menurut Foley
ialah dengan mencari tahu maksud dari
“words”.

Seperti telah dibahas, tradisi lisan pada
masyarakat
Gunungpati
sangatlah
kental akan nuansa religi, Islam
khususnya. Adapula yang menganut
Islam Kejawen. Kedatangan Islam di
Jawa bersamaan dengan goncangan
kosmologis
sebagaimana
bunyi
sengkala “sirna ilang ketaning bumi”,
yang menyandera tanda-tanda zaman
waktu itu, yakni hilangnya kemakmuran
di bumi yang terjadi pada tahun-tahun
1400-an (Ahmad Jaenuri, 2002:34).
Salah satu penyebab keberhasilan proses
Islamisasi di Jawa tidak lain adalah
karena para dai berusaha untuk melebur
dengan kultur yang sudah mengakar di
dalam masyarakat agar dapat selaras
dengan kemampuan penangkapan dan
pemahaman masyarakat yang akan
dimasukinya dalam pengakuan dunia
Islam. Proses akulturasi tersebut pada
akhirnya melahirkan konsep beragama
yang baru sehingga memunculkan
tradisi ritual keagamaan yang tidak
Dengan faktor-faktor penentu di atas,
ditemui dalam tradisi Islam sebelumnya
diharapkan
dapat
menghindari
juga dalam tradisi jawa yang telah ada.
kemungkinan salah tafsir dalam melihat
kesenian sebagai sebuah mekanisme Hasil
pengamatan
menunjukan
belaka. Sederhananya, faktor-faktor eksistensi Islam Kejawen sangatlah
tersebut, atau dapat disebut juga sebagai lemah di Desa Gunungpati. Pada
Oral-Formulatic Theory, lebih jauh umumnya masyarakat lebih memilih
melihat bentuk dan morfologi “words” memeluk agama Islam yang moderat

HARMONY VOL. 2 NO. 2

176

daripada Islam Kejawen. Atau bahkan
mereka yang memeluk Islam Kejawen
hanya sisa-sisa dari transisi budaya pada
zaman lama. Kini masyarakat sudah
mulai rasional sehingga Islam yang
dipeluk adalah Islam yang bercorak
agama Muhammad. Penjelasan tersebut
sejalan dengan keterangan dari Haji
Sukari, yang juga mantan Lurah.
Masyarakat Gunungpati yang religius
tidak bisa melepaskan tradisi mereka
dari hal keagamaan, Islam terutama.
Sehingga tradisi Khoul di Makam Kyai
Pati yang diselingi dengan tutur sejarah
adalah tradisi yang masih populer di
masyarakat (Wawancara pada 29 Juni
2017).

Transmisi nilai sosial dalam tradisi lisan
telah berperan dalam membentuk
identitas kewarganegaraan. Tradisi lisan
juga berguna untuk membentuk
warganegara yang baik. Seperti kata
Barr (2003:21) seorang warganegara
yang baik itu adalah seorang yang
menyesuaikan diri dengan lingkungan,
menganut keyakinan tertentu, dan
menyesuaikan diri pada norma-norma
yang merupakan karakteristik lokal.
Dengan kata lain untuk menjadi
warganegara yang baik, seseorang tidak
dapat melepaskan dirinya dari normanorma lokal. Di balik itu, tradisi lisan
telah mengandung norma-norma lokal
yang dapat dijadikan pelajaran pada
setiap warga masyarakat. Sehingga
Pendidikan Ilmu Sosial melalui Tradisi
penting untuk dilakukan langkah
Lisan di Masyarakat Gunungpati
konservatif dengan mentransmisikan
Nilai-nilai sosial tidak diperoleh begitu nilai sosial dalam tradisi lisan.
saja saat ia lahir, namun dengan sistem
nilai yang diajarkan oleh orang tua Faktor yang menyebabkan terjadinya
kepada anaknya dengan 30 penyesuaian transmisi nilai sosial adalah sebagai
sana-sini. Setiap individu saat ia dewasa berikut: 1) kebutuhan eksistensi pada
membutuhkan sistem yang mengatur suatu kelompok masyarakat atau etnik
atau semacam arahan untuk bertindak tertentu, 2) transmisi lebih mengarah
guna
menumbuhkembangkan kepada konservasi nilai sosial, karena
menunjukkan
aktivitas
kepribadian yang baik dalam bergaul prosesnya
dan berinteraksi dengan masyarakat pewarisan nilai dan norma yang
(Nottingham, 1994:45). Secara singkat berkembang dalam satu komunitas
nilai sosial juga dapat dimaknai sebagai masyarakat, dan 3) transmisi nilai
sebuah
konsep
abstrak
dalam tersebut berdampak kepada sifat
diri manusia
pada
sebuah konservatif dan preservatif terhadap
masyarakat mengenai
apa
yang nilai itu sendiri, sehingga konstruksi
dianggap baik dan
apa
yang yang ada lebih bersifat defensif.
dianggap buruk, indah atau tidak indah, Proses transmisi dapat digambarkan
dan benar atau salah.
sebagai sebuah perubahan yang
berlangsung

cepat

karena

proses

HARMONY VOL. 2 NO. 2

177

transmisi dapat dilakukan dengan
medium yang lebih variatif seperti;
kelas/sekolah, masyarakat, keluarga,
maupun kantor tempat bekerja.
Sebenarnya nilai sosial pada masyarakat
Gunungpati kemungkinan besar dapat
ditransmisikan di semua tempat
tersebut, tetapi karena peneliti tidak
masuk ke ranah pendidikan formal
sehingga peneliti hanya menyampaikan
hasil
tinjauan
dari
penelitian
masyarakat. Di masyarakat Gunungpati
sendiri transmisi nilai biasanya terjadi
pada skup yang informal seperti pada
waktu berinteraksi di Pasar, Warung,
Masjid atau dalam keadaan yang tidak
menentu lainnya. Sedangkan dalam
skala yang formal, transmisi nilai sosial
terjadi pada perkumpulan yang massal
seperti pada saat Khoul, Pengajian,
Selamatan
atau
Hajatan
dan
Perkumpulan lainnya yang sifatnya
terkoordinir.
Dapat dijelaskan pula, Khoul sebagai
sebuah tradisi merupakan medium yang
baik untuk masyarakat yang sudah lanjut
usia memberikan pemahaman sejarah
kepada generasi yang baru tumbuh. Dari
sana pula akan ada semacam proses atau
ritual penanaman nilai sosial dan budaya
seperti gotong royong, tepo seliro,
tenggang rasa, toleransi dan sebagainya.
Dari sana, anak-anak yang diajak hadir
akan mendengarkan petuah dari para
sesepuh dan pemuka agama. Semuanya
berdialog, mendiskusikan romantisme
zaman. Nilai sosial tidak diberikan
secara mentah, namun harus ada proses

berpikir di sana. Anak-anak yang hadir
memperhatikan
dan
akan
membayangkan bagaimana cerita yang
disampaikan akan berlangsung di
kehidupan yang nyata.
Menurut penuturan Pak Mulyono, Kalau
sekarang ini proses penyebarannya
dilakukan pada waktu Khoul Mbah Kyai
Pati, di sela acara biasanya ada pidato
yang menceritakan sejarah Gunungpati
oleh tokoh masyarakat. Sedangkan nilai
yang terkandung dan berkembang
adalah nilai gotong royong, tepo seliro,
andap ashor, aji marang sesepuh. Pak
Haji Sukari menguatkan bahwa Kalau
dilihat, maka akan nampak nilai
religiusitas dalam setiap aktivitas tradisi
masyarakat di Gunungpati, selain itu
terselip juga nilai sejarah dan sosial khas
masyarakat Jawa seperti gotong royong
dan tepo seliro. Di balik itu, Khoul
Mbah Kyai Pati merupakan momentum
yang tepat dalam penyampaian sejarah
masyarakat
Gunungpati,
seperti
Nyadran. Dulu sempat hilang, namun
setelah Khoul Kyai Pati mendapatkan
sumbangan atau bantuan dari Bupati
Pati, tradisi nyadran yang tidak populer
itu kini kembali populer dan dilakukan
setiap
menjelang
Hari
Raya
(Wawancara pada 6 Juli 2017).
Proses transmisi nilai diawali oleh
sebuah kesepakatan bersama, guna
menjaga kebudayaan beserta sistem
nilai yang ada dan mengakar di suatu
entitas tertentu. Kesepakatan yang ada
biasanya bersifat alamiah, pada
masyarakat Gunungpati saja sebenarnya

HARMONY VOL. 2 NO. 2

178

proses kesepakatan itu tidak nampak,
melainkan ada semacam perasaan saling
mengatahui saja. Jadi tidak perlu di
angkat menjadi skala formal, cukup
saling mengerti dan memahami saja.
Tradisi lisan sendiri sangat berpengaruh
bagi masyarakat dalam komunitas
kebudayaan manapun, di masyarakat
Gunungpati sendiri, seperti yang
dituturkan oleh Haji Sukari, bahwa bagi
masyarakat
tradisi
lisan
sangat
berpengaruh, karena itu merupakan asal
usul masyarakat mengenal dirinya.
Sehingga perlu diketahui kalau tradisi
ini hilang maka masyarakat Gunungpati
juga hilang sebenarnya. Saat ini saya
tengah khawatir, generasi muda sudah
jarang memperdulikan tradisinya. Pak
Mulyono menambahkan, kalau tradisi
lisan saat sekarang maupun yang akan
datang sangat berpengaruh, misalnya
saja kita tidak memiliki tradisi maka
otomatis masyarakat tidak memiliki
identitas sosialnya. Maka, saya sangat
berharap masyarakat mau mengingat
darimana mereka berasal (Wawancara
pada 6 Juli 2017).
Pak Mulyono juga menambahkan,
bahwa transmisi nilai sosial melalui
tradisi lisan biasanya terjadi melalui
tutur tinular pada masyarakat, entah di
pasar, di warung ataupun di serambi
rumah proses itu bisa berlangsung.
Sejalan dengan apa yang disampaikan
oleh Haji Sukari, bahwa ia masih
meyakini tutur tinular, di Pasar,
Pengajian, Slamatan dan di tempat
umum lainnya biasanya masyarakat

berkomunikasi, bercerita sejarah dan
tradisinya (Wawancara pada 6 Juli
2017).
Sebenarnya perlu dipahami juga
mengapa nilai sosial di masyarakat
sangat perlu untuk ditransmisikan, Pak
Haji Sukari menjawab Masyarakat Jawa
itu berbudaya, kalau tradisi lisan tidak
ditransmisikan maka akan hilang akar
kebudayaannya.
Pak
Mulyono
memberikan tambahan, Hal ini perlu
dilakukan karena supaya masyarakat
mengingat akar budayanya dan dengan
demikian maka masyarakat memiliki
identitas sosialnya. Identitas sosial di
sini berarti ciri khusus sebuah komunitas
masyarakat
yang
di
dalamnya
terkandung unsur nilai dan budaya
(Wawancara pada 29 Juni 2017).
Biasanya sebuah transmisi nilai sosial
terjadi secara berkesinambungan dan
sistemik. Maksudnya adalah proses itu
terus terjadi berulang-ulang, hingga
menjadi
satu
kebiasaan.
Tanpa
terkecuali di masyarakat Gunungpati.
Sebagai misal, Khoul Kyai Pati
dilakukan setiap tahun sekali. Itu terjadi
setiap menjelang lebaran haji. Maka
dengan demikian ini sudah menjadi
sebuah pola penanaman nilai yang
mentradisi, tanpa terkecuali nilai sosial
didalamnya. Juga perlu dipahami
bahwa, dalam transmisi tidak ada
perubahan, karena prosesnya lebih
kepada internalisasi satu nilai yang
memang sudah ada dan berkembang di
tengah satu entitas tertentu.

HARMONY VOL. 2 NO. 2

179

Lebih lanjut, sebenarnya transmisi nilai
sosial melalui tradisi lisan berguna
sebagai penjaga akar budaya masyarakat
supaya identitas masyarakat Gunungpati
tidak menghilang. Hal ini sejalan
dengan pengamatan yang dilakukan
peneliti dalam partisipasi langsung di
masyarakat, bahwa tradisi lisan itu
penting bagi masyarakat. Namun
demikian kehidupan sosial masyarakat
saat ini tidak mendukung berseminya
nilai-nilai sosial melaui sebuah tradisi.
Sehingga
perlu
direvisi
sikap
pemerintah dan warga masyarakat
tentunya
dalam
menjaga
dan
melestarikan kebudayaannya. Jangan
sampai bangsa ini satu masa kehilangan
identitas sosialnya.
Haji Sukari memberikan nasihat pada
statmen akhir wawancara tanggal 29
Juni, yaitu masyarakat harusnya lebih
peduli pada tradisi lisanya. Bukan saja
itu, masyarakat juga perlu nguri-uri atau
melestarikan kebudayaannya sendiri
melalui tindakan sosial. Misalnya saja
turut berperan aktif dalam menjaga
tradisi-tradisi di sekitar rumahnya yang
dilandaskan pada akar budaya. Seperti
gotong royong, tepo seliro, tenggang
rasa, hormat ke orang yang lebih tua dan
sebagainya. Keluarga adalah medium
yang tepat untuk menjaga tradisi-tradisi
itu.
Lebih lanjut, secara implisit peran
masyarakat yang dimaksudkan di sini
adalah bagaimana negara dan atau
pemerintah menempatkan masyarakat
sebagai
mitra
atau
bagaimana

masyarakat diperlakukan sebagai mitra
kerja
pemerintah.
Pengelolaan
kemitraan berbasis masyarakat berarti
melibatkan potensi masyarakat dan
memberi tempat yang signifikan pada
aktivitas mereka. Sejalan dengan makin
menguatnya peran negara beberapa
waktu yang lampau, potensi masyarakat
pernah dianggap sebagai ancaman.
Akibatnya,
secara umum terjadi
kevakuman
atau
ketidakpedulian
masyarakat luas, khususnya akan halhal yang berkaitan dengan budaya.
Situasi dan paradigma pembangunan
yang pernah berjalan yang menekankan
pada pentingnya pembangunan ekonomi
mengatasi yang lain amat berperan
dalam membentuk ketidakpedulian dan
sekaligus ketidaktahuan masyarakat
akan berbagai hal yang bersangkut paut
dengan budaya dan peran utamanya
sebagai salah satu sumber pembentukan
identitas kemanusiaan dan salah satu
media efektif dalam penyampaian nilainilai.
KESIMPULAN DAN SARAN
Proses transmisi dapat digambarkan
sebagai sebuah perubahan yang
berlangsung cepat karena proses
transmisi dapat dilakukan dengan
medium yang lebih variatif seperti;
kelas/sekolah, masyarakat, keluarga,
maupun kantor tempat bekerja.
Sebenarnya nilai sosial pada masyarakat
Gunungpati kemungkinan besar dapat
ditransmisikan di semua tempat
tersebut, tetapi karena peneliti tidak
masuk ke ranah pendidikan formal

HARMONY VOL. 2 NO. 2

180

sehingga peneliti hanya menyampaikan
hasil
tinjauan
dari
penelitian
masyarakat. Di masyarakat Gunungpati
sendiri transmisi nilai biasanya terjadi
pada skup yang informal seperti pada
waktu berinteraksi di Pasar, Warung,
Masjid atau dalam keadaan yang tidak
menentu lainnya. Sedangkan dalam
skala yang formal, transmisi nilai sosial
terjadi pada perkumpulan yang massal
seperti pada saat Khoul, Pengajian,
Selamatan
atau
Hajatan
dan
Perkumpulan lainnya yang sifatnya
terkoordinir.
Dapat dijelaskan pula, Khoul sebagai
sebuah tradisi merupakan medium yang
baik untuk masyarakat yang sudah lanjut
usia memberikan pemahaman sejarah
kepada generasi yang baru tumbuh. Dari
sana pula akan ada semacam proses atau
ritual penanaman nilai sosial dan budaya
seperti gotong royong, tepo seliro,
tenggang rasa, toleransi dan sebagainya.
Dari sana, anak-anak yang diajak hadir
akan mendengarkan petuah dari para
sesepuh dan pemuka agama. Semuanya
berdialog, mendiskusikan romantisme
zaman. Nilai sosial tidak diberikan
secara mentah, namun harus ada proses
berpikir di sana. Anak-anak yang hadir
memperhatikan
dan
akan
membayangkan bagaimana cerita yang
disampaikan akan berlangsung di
kehidupan yang nyata.
Menurut penuturan Pak Mulyono, Kalau
sekarang ini proses penyebarannya
dilakukan pada waktu Khoul Mbah Kyai
Pati, di sela acara biasanya ada pidato

yang menceritakan sejarah Gunungpati
oleh tokoh masyarakat. Sedangkan nilai
yang terkandung dan berkembang
adalah nilai gotong royong, tepo seliro,
andap ashor, aji marang sesepuh. Pak
Haji Sukari menguatkan bahwa Kalau
dilihat, maka akan nampak nilai
religiusitas dalam setiap aktivitas tradisi
masyarakat di Gunungpati, selain itu
terselip juga nilai sejarah dan sosial khas
masyarakat Jawa seperti gotong royong
dan tepo seliro. Di balik itu, Khoul
Mbah Kyai Pati merupakan momentum
yang tepat dalam penyampaian sejarah
masyarakat
Gunungpati,
seperti
Nyadran. Dulu sempat hilang, namun
setelah Khoul Kyai Pati mendapatkan
sumbangan atau bantuan dari Bupati
Pati, tradisi nyadran yang tidak populer
itu kini kembali populer dan dilakukan
setiap
menjelang
Hari
Raya
(Wawancara pada 6 Juli 2017).
Proses transmisi nilai diawali oleh
sebuah kesepakatan bersama, guna
menjaga kebudayaan beserta sistem
nilai yang ada dan mengakar di suatu
identitas tertentu. Kesepakatan yang ada
biasanya bersifat alamiah, pada
masyarakat Gunungpati saja sebenarnya
proses kesepakatan itu tidak nampak,
melainkan ada semacam perasaan saling
mengatahui saja. Jadi tidak perlu di
angkat menjadi skala formal, cukup
saling mengerti dan memahami saja.
Tradisi lisan sendiri sangat berpengaruh
bagi masyarakat dalam komunitas
kebudayaan manapun, di masyarakat
Gunungpati sendiri, seperti yang

HARMONY VOL. 2 NO. 2

181

dituturkan oleh Haji Sukari, bahwa bagi
masyarakat
tradisi
lisan
sangat
berpengaruh, karena itu merupakan asal
usul masyarakat mengenal dirinya.
Sehingga perlu diketahui kalau tradisi
ini hilang maka masyarakat Gunungpati
juga hilang sebenarnya. Saat ini saya
tengah khawatir, generasi muda sudah
jarang memperdulikan tradisinya. Pak
Mulyono menambahkan, kalau tradisi
lisan saat sekarang maupun yang akan
datang sangat berpengaruh, misalnya
saja kita tidak memiliki tradisi maka
otomatis masyarakat tidak memiliki
identitas sosialnya. Maka, saya sangat
berharap masyarakat mau mengingat
darimana mereka berasal (Wawancara
pada 6 Juli 2017).

kebudayaannya.
Pak
Mulyono
memberikan tambahan, Hal ini perlu
dilakukan karena supaya masyarakat
mengingat akar budayanya dan dengan
demikian maka masyarakat memiliki
identitas sosialnya. Identitas sosial di
sini berarti ciri khusus sebuah komunitas
masyarakat
yang
di
dalamnya
terkandung unsur nilai dan budaya
(Wawancara pada 29 Juni 2017).
Biasanya sebuah transmisi nilai sosial
terjadi secara berkesinambungan dan
sistemik. Maksudnya adalah proses itu
terus terjadi berulang-ulang, hingga
menjadi
satu
kebiasaan.
Tanpa
terkecuali di masyarakat Gunungpati.
Sebagai misal, Khoul Kyai Pati
dilakukan setiap tahun sekali. Itu terjadi
setiap menjelang lebaran haji. Maka
dengan demikian ini sudah menjadi
sebuah pola penanaman nilai yang
mentradisi, tanpa terkecuali nilai sosial
di dalamnya. Juga perlu dipahami
bahwa, dalam transmisi tidak ada
perubahan, karena prosesnya lebih
kepada internalisasi satu nilai yang
memang sudah ada dan berkembang di
tengah satu identitas tertentu.

Pak Mulyono juga menambahkan,
bahwa transmisi nilai sosial melalui
tradisi lisan biasanya terjadi melalui
tutur tinular pada masyarakat, entah di
pasar, di warung ataupun di serambi
rumah proses itu bisa berlangsung.
Sejalan dengan apa yang disampaikan
oleh Haji Sukari, bahwa ia masih
meyakini tutur tinular, di Pasar,
Pengajian, Slamatan dan di tempat
umum lainnya biasanya masyarakat
Lebih lanjut, sebenarnya transmisi nilai
berkomunikasi, bercerita sejarah dan
sosial melalui tradisi lisan berguna
tradisinya (Wawancara pada 6 Juli
sebagai penjaga akar budaya masyarakat
2017).
supaya identitas masyarakat Gunungpati
Sebenarnya perlu dipahami juga tidak menghilang. Hal ini sejalan
mengapa nilai sosial di masyarakat dengan pengamatan yang dilakukan
sangat perlu untuk ditransmisikan, Pak peneliti dalam partisipasi langsung di
Haji Sukari menjawab Masyarakat Jawa masyarakat, bahwa tradisi lisan itu
itu berbudaya, kalau tradisi lisan tidak penting bagi masyarakat. Namun
ditransmisikan maka akan hilang akar demikian kehidupan sosial masyarakat

HARMONY VOL. 2 NO. 2

182

saat ini tidak mendukung berseminya
nilai-nilai sosial melaui sebuah tradisi.
Sehingga
perlu
direvisi
sikap
pemerintah dan warga masyarakat
tentunya
dalam
menjaga
dan
melestarikan kebudayaannya. Jangan
sampai bangsa ini satu masa kehilangan
identitas sosialnya.

kevakuman
atau
ketidakpedulian
masyarakat luas, khususnya akan halhal yang berkaitan dengan budaya.
Situasi dan paradigma pembangunan
yang pernah berjalan yang menekankan
pada pentingnya pembangunan ekonomi
mengatasi yang lain amat berperan
dalam membentuk ketidakpedulian dan
sekaligus ketidaktahuan masyarakat
akan berbagai hal yang bersangkut paut
dengan budaya dan peran utamanya
sebagai salah satu sumber pembentukan
identitas kemanusiaan dan salah satu
media efektif dalam penyampaian nilainilai.

Haji Sukari memberikan nasihat pada
statemen akhir wawancara tanggal 29
Juni, yaitu masyarakat harusnya lebih
peduli pada tradisi lisanya. Bukan saja
itu, masyarakat juga perlu nguri-uri atau
melestarikan kebudayaannya sendiri
melalui tindakan sosial. Misalnya saja
turut berperan aktif dalam menjaga DAFTAR PUSTAKA
tradisi-tradisi di sekitar rumahnya yang
Barr, Robert dkk. Hakekat Studi
dilandaskan pada akar budaya. Seperti
Sosial: The Nature of Social Studies.
gotong royong, tepo seliro, tenggang
Terjemahan Buchari Alma dan M.
Harlasgunawan
Ap.
Bandung:
rasa, hormat ke orang yang lebih tua dan
Penerbit
Alfabeta,
2003.
sebagainya. Keluarga adalah medium
yang tepat untuk menjaga tradisi-tradisi
Utomo, Cahyo Budi. Tradisi Lisan
itu.
sebagai Transmisi Nilai Sosial pada
Masyarakat Gunungpati Semarang.
Lebih lanjut, secara implisit peran
Penelitian Fakultas Ilmu Sosial
masyarakat yang dimaksudkan di sini
Universitas Negeri Semarang, 2017.
adalah bagaimana negara dan atau
Geertz,
Clifford.
Mojokuto:
pemerintah menempatkan masyarakat
Dinamika Sosial Sebuah Kota di
sebagai
mitra
atau
bagaimana
Jawa. Jakarta: PT Pustaka Grafiti
masyarakat diperlakukan sebagai mitra
Pers, 1986.
kerja
pemerintah.
Pengelolaan
Hefner, Carl J. Ludruk folk theatre of
kemitraan berbasis masyarakat berarti
East Java: toward a theory of
melibatkan potensi masyarakat dan
symbolic action. University of
memberi tempat yang signifikan pada
Hawaii, 1994.
aktivitas mereka. Sejalan dengan makin
Jainuri, Ahmad. Ideologi Kaum
menguatnya peran negara beberapa
Reformis:
Melacak
Pandangan
waktu yang lampau, potensi masyarakat
Keagamaan Muhammadiyah Periode
pernah dianggap sebagai ancaman.
Awal. Surabaya: LPAM, 2002.
Akibatnya,
secara umum terjadi

HARMONY VOL. 2 NO. 2

183

Mantra, I.B.N. dan Sri Widiastuti.
Fungsi dan Makna Tradisi Lisan
Genjek Kadong Iseng. Jurnal Bakti
Saraswati.Vol.
03,
No.
02.
(September 2014): 2088-2149.

Rubin, David C. Memory in Oral
Traditions:
The
Cognitive
Psychology of Epic, Ballads, and
Counting-out Rhymes. New York:
Oxford University Press, 1995.

Mulyana,
Deddy.
Metodologi
Penelitian Kualitatif: Paradigma
Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu
Sosial Lainnya. Bandung: Remaja
Rosda Karya, 2004

Taylor, A. Folklore and The Student
of Literature. New York: PrenticeHell, 1965.

Nottingham, Elizabeth K. Agama dan
Masyarakat. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1994.

Tilbury, D. Environmental Education
for Sustainability: Defining the New
Focus of Environmental Education in
the 1990’s. Environmental Education
Research. Vol. 1, No. 2 (Maret 1995):
3-21.

HARMONY VOL. 2 NO. 2

184

Judul: Bilamana Tradisi Lisan Menjadi Media Pendidikan Ilmu Sosial Di Masyarakat Gunungpati

Oleh: Ganda Febri Kurniawan


Ikuti kami