Makalah Sosiologi Ekonomi Dosen Pengampu : Nuryanti, Me

Oleh Andre Budyman

174,8 KB 9 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Sosiologi Ekonomi Dosen Pengampu : Nuryanti, Me

MAKALAH SOSIOLOGI EKONOMI DOSEN PENGAMPU : NURYANTI, ME UANG DAN MONETISASI KONSUMERISME DAN BUDAYA KONSUMEN OLEH KELOMPOK 10 : 1. AHMAD MUSYIRUL KHAIRI (180501170) 2. SEPTIAN AHMAD EFENDI (180501188) 3. NADIRA CANTIKA PUTRI (180501195) EKONOMI SYARIAH / III E FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM (UIN) PEMBAHASAN UANG DAN MONETISASI A. Pengertian Uang Dalam ilmu Ekonomi tradisional uang adalah sesuatu yang biasa diterima oleh masyarakat umum sebagai alat pembayaran dan sebagai alat tukar menukar. Alat tukar yang bisa berupa berupa benda apa saja yang dapat diterma oleh setap orang dimasyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Sebelum uang diciptakan, masyarakat pada zaman dahulu melakukan perdagangan barter. Barter merupakan pertukaran barang dengan barang. B. Sejarah Uang Manusia adalah makhluk sosial. Pada masyarakat yang sederhana atau masyarakat primitif setiap anggota masyarakat selalu berusaha untuk menghasilkan segala apa yang dibutuhkan. Seiring berkembangnya zaman, uang yang kita kenal sekarang telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada mulanya masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang memenuhi kebutuhannya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buhan untuk dikonsumsi sendiri, singkatnya apa yang mereka peroleh itulah yang di manfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya menghadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup uuntuk memenuhi seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat di hasilkan sendri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimilki dengan dengan barang lain yang dibutuhkan. Akibatnya munculah system Barter yaitu barang yang ditukar dengan barang. Namun pada akhirnya, banyak kesuulitan-kesulitan yang dirsakan dengan sistem ini. Diantaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikiinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama dengan nilainya. Untuk mengatasi, mulailah timbulah pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digubakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang di tetapkan sebgai alat pertukaran itu adalah benda-benda yang diterima oleh umum. Benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari seperti garam yang oleh orang romawi digunakan sebagai alat tukar maupun sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang romawi tersebut masih berpengaruh sampai sekarang. Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran masih ada. Kesulitan-kesulitan itu antara lain karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga penentuan nilai uang, penyimpanan (stonger), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama. Kemudian muncul yang namanya uang logam. Logam dipilh sebagai alat tukar karna memiliki nilai yang tinggi, sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dipecah dan tidak mengurangi nilai, dan mudah diipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan alat tukar tersebuut karena memenuhi syarat-syarat tersebut yaitu emas dan perak. Uang logam, emas dan perak juga disebut uang penuh (full bodied money) artinya, nilai intrinsic (nilai bahan) uang sama dengannilain nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam. Sejalan dengan perembangan perekonomian, timbul suatu anggapan kesulitan ketika perkembangan tukar menukar yang harus dilayani degan uang logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga dicptakanlah Uang Kertas mula-mula uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Degan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan dipandai emas dan perak yang sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas dan perak (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Seiring dengan perkembangan zaman, uang mengalami evolusi. Uang yang semula adalah sekedar alat, sekarang berubah menjadi tujuan. Uang bahkan menjadi sumber berbagai masalah. Kemajuan peradaban manusia membuat manusia lupa diri akan barang yang diciptakannya. Setiap orang terdorong untuk mencaro uang, bahkan mengakumulasinya secara berlebihan. Pada posisi seperti ini uang telah menjadi tujuan. C. Fungsi Uang Berikut merupakan fungsi uang :  Alat Tukar Menukar, fungsi uang sebagai alat tukar menukar didasarkan pada kebutuhan manusia yang mempunya barang dan kebutuhan manusia yang tidak mempunyai barang dimana uang adalah sebagai perantara diantara mereka.  Satuan Hitung, maksudnya adalah uang sebagai alat yan digunakan untuk menunjukkan nilai barang dan jasa yang diperjual belikan dipasar dan besarnya kekayaan yang bisa dihitung berdasarkan penentuan harga dari barang tersebut.  Alat Penimbun Kekayaan, sebagian orang biasanya tida menghabiskan semua uang yang dimilikinya untuk keperluan konsumsi. Ada sebagian unag yang disisihkan dan ditabung untuuk keperluan dimasa datang.  Sebagai Alat Transaksi, uang dapat berfungsi sebagai alat tukar untuk mendapatkan suatu produk barang atau jasa dengan catatan harus diterima dengan tulus ikhlas dan dijamin oleh pemerintah serta dijaga keamanannya dari tindak pemalsuan uang. Pembeli akan menyerahkan sejumlah uang kepada penjual atas produk yang ia terima, sedangkan penjual akan menerima sejumlah uang dari pembeli produk yang dijualnya sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. D. Pengertian Monetisasi Monetisasi merupakan proses ketika uang semakin menjadi faktor yang mendeterminasi relasi (hubungan) sosial.  Dalam masyarakat modern, harus diakui uang memang merupakan determinan kelas sosial yang penting.  Demi prestige dan status sosial, orang terdorong untuk mengkonsumsi suatu objek yang menandai kelas sosialnya. Di era industri digital seperti sekarang monetisasi merupakan sesuatu hal yang lumrah yang acapkali kita temukan. Monetisasi bukan hanya sekedar "pemasukan (income)" melainkan pula magnet atau daya tarik. Dalam pemahaman seperti ini dengan diterapkan monetisasi pada blog maka akan mendorong penanggungjawab blog tersebut untuk terus berkreativitas agar dapat terus menghasilkan uang. Contohnya sebuah acara TV yang diproduksi, baik itu sinetron, hiburan music, komedi situasi, atau apa pun selalu diukur dari rating dan market sharenya. Dipercaya semakin tinggi pula minat masyarakat menontonnya, maka semakin banyak pula iklan yang dapat diperoleh, baik itu produsen acara maupun stasiun TV pernyiarnya. Uraian diatas menunjukkan bahwa masyarakat modern telah mengalami monetisasi. Yaitu suatu proses ketika uang menjadi faktor yang mendeterminasi relasi social (hubungan sosial). PEMBAHASAN KONSUMERISME DAN BUDAYA KONSUMEN A. Pengertian Konsumerisme Konsumerisme yaitu paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok yang menjalankan suatu proses konsumsi barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya dan dilakukan secara sadar dan berkelanjutan. B. Sejarah Budaya Konsumerisme Seiring perkembangan kehidupan setiap manusia pastilah mengalami perubahanperubahan dan perubahan sudah terjadi sejak jaman dahulu kala. Sampai-sampai banyaknya perubahan yang ada, manusia juga kadang kala juga kerepotan menghadapinya. Perubahan dengan maksudnya yaitu proses perubahan masyarakat berserta dengan kebudayaan dari hal-hal yang bersifat tradisional ke modern atau istilahnya disebut modernisasi. Namun, globalisasi pun juga salah satu faktor mempengaruhi juga, karena penyeragaman budaya bagi seluruh masyarakat dunia. Globalisasi muncul karena adanya arus informasi dan komunikasi secara online. Sehingga dapat menjangkau semua masyarakat. Akibatnya, manusia yang ada di dunia ini seolah-olah saling berdekatan dan menjadi satu sistem pergaulan dan budaya yang sama. Akan menimbulkan, ketidaksiapan manusia dalam menghadapi perubahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar dan adanya problem sosial. Dengan begitu, akan menimbulkan salah satu yaitu konsumerisme. Sedikit asal usul konsumerisme, konsumerisme dilatar belakangi oleh munculnya masa kapitalisme yang diusung oleh Karl Marx yang kemudian disusul liberialisme. Sehingga konsumerisme merupakan jantung dari kapitalisme. Kapitalisme global mulai berkembang pesat, segera setelah ‘Perang Dingin’ yang berakhir tahun 1980-an. Hal-hal tersebut merupakan pemicu utama berkembangnya kapitalisme global atau globalisasi ekonomi yang diawali dengan pertemuan GATT di Maroko. Budaya merupakan hasil dari proses sosial yang dilakukan manusia tetapi pada kenyataan sekarang ini budaya yang ada menjadi pembentuk diri manusia. Batasan tipis antara kebutuhan dan keinginan yang menjadikan pemikiran masyarakat sekarang ini lebih kearah keinginan dan budaya atau mode yang sedang berkembang, proses konsumsi dari masysrakat sekarang ini tidak tergantung pada substansi kebutuhan tetapi adanya pelekatan mode serta budaya yang sedang berkembang dalam masyarakat. C. Ciri-Ciri Budaya Konsumerisme  Materialistis, mengungkapkan kemiskinan rohaniah dan mementingkan konsumsi barang  Mengglobalnya supermarket, minimarket, mall, pasar raya dll  Berperannya media massa seperti surat kabar, majalah, tv yang mampu menciptakan danmenyebarkan kesan tanpa henti D. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi : Pertama, konsumen individu biasanya melakukan pemilihan merk atau brand yang dipengaruhi meliputi kebutuhan konsumen, peresepsi atas karakteristik merk, sikap ke ara pilihan, demografi konsumen, dan gaya hidup dan karateristik personalia (berhubungan orang atau nama orang). Kedua, pengaruh lingkungan yang meliputi budaya (kemasyarakatan, norma, kesukuan), kelas sosial (keluasan grup sosial ekonomi atas harta milik konsumen), grup tata muka (anggota keluarga, teman), dan faktor penentu yang situasional (situasi dimana produk dibeli seperti keluar yang menggunakan mobil dan kalangan usaha). Ketiga, pengaruh iklan yang meliputi mempengaruhi konsumen, harga yang menonjol, distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan, dan barang yang menarik. Adanya kelas dalam masyarakat juga dapat dijadikan perkembangan dalam adanya budaya konsumerisme, adanya kelas sosial memberikan dampak budaya yang seharusnya ada dalam masing-masing kelas sehingga pelekatan fashion serta mode yang ada haruslah sesuai dengan budaya yang berkembang pada masing-masing kelas, sehingga masyarakat kelas atas ketika mereka membeli barang haruslah bermerk dan mempunyai kelas sesuai kelasnya. Serta masyarakat yang berada pada kelas yang lain yang ingin dimasukan dalam kelasnya haruslah mengikuti kelas pada budaya yang diinginkan. Peran media yang merupakan sarana pengkodean merupakan hal yng menjadi budaya konsumerisme dapat berkembang, karena adanya iklan yang berkembangpada masyarakat yang menjadikan orang tidak berpikir secara rasional kebutuhan tetapi berdasarkan penerimaan pengkodean yang telah terframe dalam pikiran yang diungkapkan sebagai budaya yang ada dalam masyarakat. Dalam masyarakat konsumsi, terdapat kecenderungan orang membeli barang bukan karena nilai kemanfaatannya, melainkan karena gaya hidup (life style), demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi, tayangan sinetron, acara infotaiment, dan berbagai media lain. Apa yang ditawarkan dan diiklankan lewat media massa meliputi barang dan jasa yang memberikan citra sebagai ikon modernitas, kemewahan, dan glamour, terlepas dari nilai kemanfaatannya. Orang sebagai konsumen pun tidak lagi melihat apakah barang yang dikonsumsinya tersebut memiliki nilai kemanfaatan atau tidak, tetapi apakah barang dan jasa tersebut dapat mencitrakan dirinya sudah memiliki gaya hidup modern. Konsumen pada dasarnya tidak membeli produk, tetapi citra (image). Dalam berbelanja, tujuan utamanya bukan untuk memenuhi kebutuhan, melaikan lebih sebagai sarana untuk mengonsumsi tanda (sign), yaitu untuk meraih petanda (signified) berupa mendapatkan gengsi dan pengakuan sosial. Disini nilai guna barang telah bergeser menjadi nilai tanda barang, yaitu untuk mendapatkan atau menaikkan citra pribadi atau dianggap “gaul” dan “modern”. E. Dampak konsumerisme Dampak Positif  Dapat meningkatkan pendapatan nasional  Budaya konsumerisme dapat meningkatkan orang untuk giat berusaha Dampak Negatif  Hidup boros dan enggan untuk berbagi  Bersikap pamer dan menimbulkan prilaku sombong  Bersikap individual  Orang tsb akan selalu mencari kesenangan dan kepuasan hidup  Uniformitas dan AlienasiUniformitas diambil dari kata uniform yang berarti seragam, sedang uniformitas itusendiri adalah membuat suatu kelompok entah itu mayarakat lokal atau komunitasinternasional menjadi sama atau seragam. Akibat adana uniformitas inilah mereka yang tidak sama atau menolak untuk menjadi sama menjadi teralienasi dan dianggapasing dari suatu kelompok. Konsumerisme secara tidak langsung membuat pola yang kemudian akan mendorong kita pada uniformitas. Contohnya penggunaan Handphone dikalangan remaja kini sangat marak bahkan jika tidak menggunakanatau tak memiliki Handphone dinilai rendah oleh kawan di sekitarnya. F. Masyarakat harus bersikap positif dalam menunjukkan bentuk perubahan social Diantaranya sebagai berikut : 1) Penerimaan secara terbuka (open minded), 2) Mengembangkan sikap antisipatif dan selektif, 3) Adaptif (menyesuaikan diri dengan keadaan), 4) Tidak meninggalkan unsur-unsur budaya asli. Budaya konsumerisme muncul sebagai dampak dari perubahan makna konsumsi yang disebabkan oleh sikap, pandangan dan pola hidup konsumtif, yaitu kegiatan konsumsi yang berlebihan demi mengejar status sosial dan harga diri (prestige). DAFTAR PUSTAKA http://riskaameliapuang.blogspot.com/2016/10/makalah-tentang-uang.html https://www.kompasiana.com/santarosa/5bd658e843322f55446d0816/monetisasi-lumrah-tetapi? page=all http://faisalmaulana09.blogspot.com/2015/02/Monetisasi-Budaya-Konsumerisme.html https://www.kompasiana.com/jovian_057/57d98931a523bd1a4315feb8/konsumerisme-budayamanusia-atau-sekadar-gejala?page=all Haryanto, Sindung. 2016. Sosiologi Ekonomi. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media https://www.academia.edu/6638386/Budaya_Konsumerisme http://eliskamayorita.blogspot.com/2015/07/budaya-konsumerisme-yang-terjadi-di_98.html

Judul: Makalah Sosiologi Ekonomi Dosen Pengampu : Nuryanti, Me

Oleh: Andre Budyman


Ikuti kami