Laporan Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak Acara I Anatomi Organ Reproduksi Jantan

Oleh Fahrur Rozi

262,1 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Laporan Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak Acara I Anatomi Organ Reproduksi Jantan

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU REPRODUKSI TERNAK ACARA I ANATOMI ORGAN REPRODUKSI JANTAN Disusun oleh : Ambarwati 16/394438/PT/07111 Kelompok XVI Asisten: Mohamad Fahrurrozi LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK DEPARTEMEN PEMULIAAN DAN REPRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2018 ANATOMI ORGAN REPRODUKSI JANTAN Tinjauan Pustaka Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal (fisiologi). Reproduksi secara fisiologis vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi suatu hewan berhenti, tetapi hewan tersebut masih dapat bertahan hidup. Alat reproduksi jantan terdiri dari 3 saluran yaitu, saluran primer, saluran sekunder, dan kelenjar tambahan. Saluran primer dari alat reproduksi jantan adalah testis, saluran sekunder terdiri dari epididymis, ductus deferens, penis, dan urethra, sedangkan kelenjar tambahannya terdiri dari kelenjar prostate, vesikula seminalis, dan kelenjar burbourethralislis. Anatomi alat reproduksi jantan terdiri dari testis, epididymis, ductus deferens dan penis serta kelenjar tambahan berupa kelenjar vesicularis, kelenjar prostate, dan kelenjar bulbourethralislis. Testis berfungsi sebagai tempat pembentukan spermatozoa dan penghasil hormon. Epididymis merupakan saluran spermatozoa dan berperan dalam pematangan dan penyimpanan. Ductus deferens sebagai tempat penyaluran sperma dari epididymis menuju kelenjar vesicularis dan sebagai tempat penyimpanan sementara sperma. Penis merupakan organ yang berfungsi sebagai alat kopulasi jantan yang menyalurkan semen menuju organ reproduksi betina (Fiarani, 2013). Materi dan Metode Materi Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum anatomi organ reproduksi jantan adalah kamera, pita ukur, lembar kerja, dan alat tulis. Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum anatomi organ reproduksi jantan adalah preparat basah berupa organ reproduksi Sapi PO jantan dengan berat badan 300 Kg. Metode Metode yang digunakan dalam praktikum anatomi organ reproduksi jantan adalah preparat basah organ reproduksi Sapi PO Jantan diamati untuk kemudian diketahui fungsi dari masing-masing organ reproduksi Sapi PO jantan tersebut. Masing-masing bagian organ reproduksi dibedakan, lalu dilakukan pengukuran dengan menggunakan pita ukur. Hasil dan Pembahasan Hasil pengukuran anatomi organ reproduksi sapi bangsa PO dengan umur tidak diketahui bobot badan 300 Kg yang dilakukan pada saat praktikum.disajikan pada tabel 1. sebagai berikut. Tabel 1. Hasil pengukuran organ reproduksi jantan Panjang Lebar Tinggi Nama Organ (cm) (cm) (cm) Testis 10 7 Epididymis 22 Ductus deferens 23 Ampulla ductus deferen Kelenjar vesikularis Kelenjar prostata Kelenjar cowperi Penis 23 - - Keliling (cm) 23 - Testis Hasil pengamatan menunjukkan panjang testis 10 cm, lebar testis 7 cm, dan keliling testis 23 cm. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan ukuran testis dengan Frandson (2009) yang menyatakan bahwa panjang testis berkisar 9 cm, lebar testis berkisar 6 cm, dan kelilingnya 21 cm. Faktor yang mempengaruhi perbedaan ukuran tersebut adalah umur, berat badan, dan jenis ternak Testis merupakan alat reproduksi primer ternak jantan. Normalnya jumlah testis ada dua buah dan letaknya menggantung pada spermatic cord (Khalaf, 2010). fungsi testis ada dua, yang pertama adalah memproduksi hormon testosteron dan juga steroid hormon yang lain yang diproduksi oleh sel-sel leydig (leydig cells). Sekresi hormon testosteron dikontrol oleh hormon luteinizing hormone (LH) dari bagian anterior pituitari. Cryptorchid merupakan peristiwa tidak bisa turunya testis ke dalam scrotum. Macam cryptorchid yaitu bilateral yang terjadi apabila kedua testis tidak bisa turun, dan unilateral yang terjadi apabila hanya ada satu testis yang tidak bisa turun. Uchendu et al. (2015) menyatakan bahwa testis yang tak dapat turun disebut cryptorchid testis dan hewan dengan kondisi seperti itu disebut cryptorchid. Cryptorchid dengan kedua testis tertahan di dalam rongga abdominalis mungkin menjadi steril, karena spermatogenesis biasanya tidak terjadi secara normal, kecuali jika temperatur testis lebih dingin daripada temperatur tubuh. Temperatur yang tinggi pada abdomen tidak berpengaruh terhadap produksi testosteron, sehinggga hewan cryptorchid mempunyai aktivitas dan penampilan sebagai jantan yang normal. Hasil praktikum sesuai dengan litertur. Feradis, (2010) menyatakan bahwa mekanisme saat suhu panas, otot tersebut mengendur dan testis turun menjauhi tubuh sehingga memungkinkan pelepasan panas hingga suhu testis menjadi lebih dingin. Otot lain yaitu tunica dartos yang mengelilingi kulit scrotum dapat mengerut atau mengendorkan permukaan scrotum dan hal ini akan memperluas permukaan scrotum sehingga mempengaruhi kecepatan hilangnya panas. Hasil praktikum sesuai dengan literatur. Kastrasi adalah tindakan bedah yang dilakukan pada testis, berupa pengambilan atau pemotongan testis dari tubuh. Kastrasi ini dilakukan pada hewan jantan dalam keadaan tidak sadar (anastesi umum). Thernado (2017) menyatakan bahwa kastrasi merupakan suatu usaha untuk menghilangkan fungsi reproduksi ternak jantan sebagai pejantan dengan cara menghambat proses pembentukan dan pengeluaran sperma. Kastrasi pada hewan jantan dinamakan kastrasi atau orchiectomy. Hasil pada saat praktikum sudah sesuai dengan literatur. Rete testis media stinum testis Gambar 1. Anatomi testis Epididymis Hasil pengamatan menunjukkan panjang epididymis 22 cm. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan panjang epididymis berbeda dengan literatur. Wandia (2012) menyatakan bahwa panjang epididymis berkisar 24 cm. Faktor yang mempengaruhi perbedaan ukuran tersebut adalah umur, berat badan, dan jenis ternak (Wahyuni, 2012). Epididymis terdiri atas tiga bagian, yaitu caput atau kepala, corpus atau badan, dan cauda atau ekor. Caput berfungsi sebagai tempat memasakan spermatozoa, corpus berfungsi sebagai transpor atau pengangkutan spermatozoa, cauda berfungsi sebagai tempat penimbunan spermatozoa. Kuswahyuni (2009) menyatakan bahwa epididymis mempunyai 4 fungsi yaitu pengangkutan, penyimpanan, pemasakan, dan pengentalan sperma. Struktur ini berperan untuk menyalurkan sperma dari testis ke kelenjar kelamin aksesoris. Hasil pada saat praktikum sudah sesuai dengan literatur. Epididymis merupakan pipa panjang dan berkelok – kelok yang ,menghubungkan vasa eferensia pada testis dengan ductus deferens. Cauda Corpus Caput Gambar 2. Anatomi epididymis Ductus deferens Hasil pengamatan menunjukkan panjang ductus deferens 23 cm dan ampulla ductus deferens terhitung panjang 14 cmdan lebar 4 cm. Berdasarkan hasil tersebut terdapat perbedaan pada panjang ductus deferens dengan Frandson (2009) yang menyatakan bahwa panjang ductus deferens berkisar 22 cm. Ductus deferens adalah pipa berotot yang pada saat ejakulasi akan mendorong spermatozoa dari epididymis ke ductus ejakulatoris dalam urethralis prostatic. Ductus deferens sebelum memasuki urethra mengalami penebalan atau pembesaran yang disebut ampulla. Fungsi dari saluran ini adalah sebagai transpot dan penyimpanan spermatozoa serta aktif kontraksi disaat ejakulasi atau saat kopulasi. Vasektomi merupakan pemotongan masing-masing vas deferens untuk mencegah menyatakan sperma memasuki bahwa vasektomi urethra. Syamsono dilakukan pada et sapi al., jantan (2014) yang digemukkan pada kandang koloni. Untuk ternak yang menggunakan kandang tunggal, tidak perlu vasektomi. Vasektomi pada anak sapi sebaiknya dilakukan sebelum umur sapi mencapai 3 bulan. Hasil pada saat praktikum sudah sesuai dengan literatur. Gambar 3. Anatomi ductus deferens Urethra Hasil pengamatan menunjukkan tidak adanya ukuran urethra karena urethra tidak terlihat secara langsung pada preparat. Wandi (2012) menyatakan bahwa secara normal panjang urethra berkisar 23 cm hingga 33 cm. Faktor yang mampu mempengaruhi ukuran urethra adalah umur, berat badan, dan jenis ternak. Utethra merupakan saluran pengeluaran yang dberfungsi untuk menyalurkan testes dan kelenjar pelengkap. Fungsi lain dari urethra di luar fungsi reproduksi adalah sebagai jalan keluar urin. Keberadaan urethra mulai dari daerah pelvis hingga berakhir pada ujung glans penis (Yulianto, 2014). Kelenjar tambahan Kelenjar vesicularis. Hasil pengamatan menunjukkan panjang kelenjar vesicularis, lebar kelenjar vesicularis, dan tinggi kelenjar vesicularis tidak dapat ditentukan karena tidak terdapat preparat yang tersedia. Kelenjar vesicularis terdiri atas saluran berlobul yang terletak di ekstraperotoneal di basis kandung kemih sebelah lateral ductus deferens. Kelenjar vesicularis berfungsi untuk menetralkan urin pada urethra sebelum di ejakulasikan. Wahyuni et al. (2011) menyatakan bahwa sekresi kelenjar vesicularis merupakan cairan keruh dan lengket yang mengandung protein, kalium, asam sitrat, fruktosa dan beberapa enzim yang konsentrasinya tinggi, kadang-kadang berwarna kuning karena mengandung flavin. pHnya berkisar 5,7 sampai 6,2. Hasil praktikum sesuai dengan literatur. Kelenjar prostata. Hasil pengamatan menunjukkan panjang kelenjar postata dan lebar kelenjar postata tidak dapat ditentukan karena tidak terdapat preparat yang tersedia. Kelenjar prostata dibatasi oleh epitel-epitel yang sangat responsif terhadap androgen. Awati (2007) menyatakan bahwa sekresi prostataa terdiri atas cairan encer seperti susu yang sedikit asam dan mengandung berbagai enzim, termasuk fibrinolisin dan fosfatase asam yang menghasilkan cairan mineral tinggi. Hasil praktikum sesuai dengan literatur. Kelenjar cowperi. Hasil pengamatan menunjukkan panjang kelenjar cowper, lebar kelenjar cowper, dan tinggi kelenjar cowper tidak dapat ditentukan karena tidak terdapat preparat yang tersedia. Kelenjar cowper atau disebut dengan kelenjar bulbourethralis berjumlah sepasang dan berada di muskulus bulbourethralis di atas urethra. Kelenjar cowper merupakan akar dari penis. Fungsi dari kelenjar ini adalah penghasil cairan tambahan untuk membersihkan dan melicinkan urethra pada saat persiapan ejakulasi Penis Hasil pengamatan menunjukkan panjang penis adalah 87 cm. Sumeidana (2007) menyatakan bahwa secara normal panjang penis berkisar 88 cm. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa pengamatan tidak sesuai dengan literatur.Perbedaan disebabkan oleh umur, bangsa, jenis kelamin, bobot badan. Penis adalah alat reproduksi jantan yang berfungsi sebagai transpot sperma, alat kopulasi, dan untuk mendeposisikan sperma ke dalam alat reproduksi ternak betina. Tipe-tipe penis ada dua yaitu fibroelastis dan covernosum, dimana tipe fibroelastis berbentuk kecil, panjang, saat ereksi keras, dan saat tidak ereksi membentuk huruf “S” dan terdapat pada ruminansia dan babi (Novelina, 2014). Flexura sigmoidea dapat meregang pada ereksi sehingga menjadi lebih panjang. Processus urethralis adalah urethra yang keluar dari penis dan menonjol. Kambing mulai terangsang dan semen akan diejakulasikan maka processus urethralis bergetar dan semen disemprotkan ke semua arah dalam vagina (Fiarani, 2013). Hasil sesuai dengan literatur. penis Gambar 5. Anatomi penis Praeputium Ujung distal penis terdapat suatu lipatan kulit bebas yang disebut preputium yang menutupi glans. Preputium berfungsi melindungi penis dari gesekan dengan lingkungan luar. Fornix preputii merupakan pembatas antara praeputium dan penis. Ulum et al., (2013) menyatakan bahwa praeputium merupakan kulit pembungkus yang berfungsi sebagai pelindung penis. Pencitraan ultrasonografi preputium terlihat lumen preputium warna hitam dengan batas warna kulit putih. Fornix preputii adalah daerah dimana praeputium bertaut dengan penis tepat caudal dari glans penis. Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa testis memiliki fungsi sebagai penghasil spermatozoa dan hormon kelamin (androgen dan testosteron), epididymis memiliki fungsi sebagai tempat pemasakan spermatozoa, ductus deferens befungsi untuk transpot spermatozoa, kelenjar vesicularis berfungsi sebagai menyuplai nutrien terhadap spermatozoa, kelenjar prostata berfungsi sebagai pemasok mineral anorganik, kelenjar cowper berfungsi untuk menghasilkan cairan pembersih saluran reproduksi, urethra berfungsi spermatozoa, dan penis berfungsi sebagai alat kopulasi untuk transpot Daftar Pustaka Awati, D. E. 2007. Pengetahuan dan Motivasi tentang Kontrasepsi pada Akseptor KB di 4 Taman kanak-kanak di Kecamatan Sleman. Skripsi Sarjana Farmasi. Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta. Frandson, R.D., W.L. Wilke, and A.D. Fails. 2009. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Fiarani, H. S. 2013. Pengaruh pemberian methoxychlor pada periode laktasi terhadap kualitas spermatozoa mencit (mus musculus L) strain balb C. skripsi. Universitas Jember. Jember Khalaf, A.S., and S.M. Merhish. 2010. Anatomical study of the accessory genital glands in males sheep (Ovis aris) and goats (Caprus hircus). Iraqi J. Vet. Med. 34 (2) : 1 – 8. University of Baghdad. Baghdad. Kuswahyuni I S. 2009. Pengaruh Lingkar Skrotum dan Volume Testis terhadap Volume Semen dan Konsentrasi Sperma Pejantan Simmental Limoushin dan Brahman. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang. Novelina, S., S. M. Putra, C. Nisa’, dan H. Setijanto. 2014. Tinjauan makroskopik organ reproduksi jantan musang luak (Paradoxorus hermaproditus). Jurnal Kedokteran Hewan IPB. 2(1): 26-30 Thernado, R.E. 2017. Perbedaan teknik kastrasi terhadap bobot badan, panjang dan volume skrotum pada sapi bali. Skripsi Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Palembang. Wandia, I.N., I.G. Soma, I.K. Suatha, I.G.A.A. Putra, S.K. Widyastuti, dan A.L.T. Rompis. 2012. Vasektomi dan pemotongan taring pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di kawasan wisata Pura Batu Pageh, desa Ungasan Badung. Udayana Mengabdi 11 (2) : 59 – 61. Wahyuni,Sri.,Srihadi Agungpriyono, Muhammad Agil, dan Tuty Laswardi Yusuf. 2012. Histologi dan Histomorfometri testi dan epididymis Muncak (mutiacus Munctjak Munjtak) pada periode ranggah keras. Jurnal Veteriner. Vol 13 No 3. Wahyuni S, Agungpriyono S, Agil M, Yusuf TL. 2011. Morfologi dan morfometri pertumbuhan ranggah velvet muncak jantan. Jurnal Kedokteran Hewan 5: 17-22. Syamsono, O., D. Samsudewa., dan E. T. Setiatin. 2014. Korelasi lingkar scrotum dengan bobot badan volume semen kualitas semen dan kadar testosteron pada kambing kejobong muda dan dewasa. Jurnal Buletin Peternakan. 38(3): 132-140. Sumeidiana, I., S. Wuwuh., E.Mawarti. 2007. Semen volume and sperm concentration of simmental, limousin and brahman cattles in ungaran of artificial insemination center. J.Indon.Trop.Anim.Agric. 32 (2) : 135. Uchendu, C. N., D. N. Ezeasor, I. R. Obidike,R. I. Odo, B. Francis, dan J. Ejembi. 2015. The influence of natural unilateral cryptorchidism on sperm reserves and haematology of West African Dwarf goats. IOSR Journal of Agriculture and Veterinary Science. 8(12): 21-28 Ulum, F. M., D. Paramitha, Z. Muttaqin, N. F. Utami, N. D. Utami, Gunanti, dan D. Noviana. 2013. Pencitraan ultrasonografi organ reproduksi domba jantan ekor tipis Indonesia. Acta Veterinaria Indonesiana. 1(2): 54-59

Judul: Laporan Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak Acara I Anatomi Organ Reproduksi Jantan

Oleh: Fahrur Rozi

Ikuti kami