Kritik Ekonomi Karl Marx; Gagasan Surplus Value

Oleh Fathul Purnomo

162,3 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Kritik Ekonomi Karl Marx; Gagasan Surplus Value

Kritik Ekonomi Karl Marx; Gagasan Surplus Value Fathul Purnomo ​fathul.purnomo@ui.ac.id Departemen Filsafat, Universitas Indonesia Sistem Kapitalisme Karl Marx melancarkan kritiknya terhadap sistem yang dia anggap selama ini telah menindas manusia. Tuduhan ini dilancarkan pada kapitalisme sebagai sebuah sistem. Kapitalisme hidup dengan jalan terus menerus melakukan ekspansi demi penumpukan kapital. Dengan logika demikian yang menjadi sentral dalam kapitalisme adalah pemadatan seluruh kekuatan yang menyokong sistemnya. Obsesi ini kemudian diterjemahkan dalam kosakata populer, efektif dan efisien sebagai corak kerja. Logika bahwa kapitalisme akan membawa destruksi sebagai konsekuen dari tindakannya sejatinya tidak benar, sebab dalam kerjanya sendiri, kapitalisme memang sudah dekstruktif. Bukan P → Q, namun P = Q . Kerja akumulasi adalah kerja destruksi, sebab dia akan menyerap apapun demi pemupukan kapital, seturut dengan demikian kerusakan bukanlah konsekuensi namun sama dana sebangun dengan kerja kapitalisme itu sendiri. Dari sinilah kita mendapati gambaran bahwa kapitalisme yang dikritik oleh Karl Marx, adalah dia sebagai sistem. Maka jawaban yang diberikan Karl Marx adalah sebuah solusi ilmiah yang mampu memecahkan sistem ini, sebab perlawanan yang harus dilakukan adalah secara sistemik, walaupun dalam praktiknya tetap membutuhkan agensi untuk meruntuhkannya. Alasan pertama bahwa kapitalisme sedari awal sudah destruktif dalam menjalankan kerjanya masih harus ditambahi dengan analisis kedua dari Marx, bahwa kapitalisme sebagai sistem akan berakhir dengan kontradiksi internalnya. Ini disebabkan dalam sistem kapitalisme, yang menjadi standar laku adalah tingkat profitnya, seberapa menguntungkan dia, se tinggi itulah rekomendasi untuk dilakukan. Dan dengan demikian kapitalisme tidak berurusan dengan manusia, yang mereka persoalkan adalah pasar. Pasar inilah yang dikonsentrasikan sebagai basis seluruh pijakan produksi barang. Bagi Marx, tidak pernah ada apa yang disebut sebagai permintaan, namun seluruhnya adalah bentukan dari kapitalisme, ini adalah perkara siapa yang memproduksi barang barang. Dari bahwa kapitalisme hanya memperdulikan profit, dan sedang ekonomi adalah perkara siapa yang memproduksi, kapitalisme secara inheren akan mendorong untuk memproduksi sebanyak banyaknya. Produksi yang berlimpah inilah yang nantinya akan menuntun pada tumbangnya kapitalisme itu sendiri, sebab terlalu banyak barang di pasaran sedang daya beli masyarakat rendah. Rendahnya daya beli masyarakat menyeret analisis ketiga dari Marx, yaitu soal ketimpangan. Ketimpangan ini berasal dari orientasi kapitalisme berupa hanya profit, dan dengan demikian sistem akan sebisa mungkin memangkas hal hal yang mampu mengurangi profit, seperti contoh buruh. Buruh akan ditekan, diberikan porsi kerja luar biasa tinggi untuk menghasilkan kualitas dan kuantitas barang yang sesuai standard, dengan porsi kerja dan energi yang berat pula, namun di satu sisi diberikan upah yang rendah demi tidak larinya profit. Sedang perkaranya adalah mereka yang membeli seluruh barang adalah mereka yang bekerja di perusahaan. Pemilik (kapitalis) hanya segelintir saja. Banyaknya pekerja, sebagai sasaran dari produk perusahaan, dan tidak mampunya mereka membelinya menjadikan barang membludak, membludaknya barang ini satu sebab produksi yang berlimpah, kedua sebab tidak terkonsumsinya barang di pasaran karena buruh tidak mampu membelinya. Dari sini mampu diperlihatkan bahwa kapitalisme akan menjadikan mereka yang miskin semakin miskin, dan yang kaya semakin kaya. Ketimpangan ekonomi menjadi konsekuensi logis menerapkan sistem kapitalisme. Pelipatgandaan kapital dan konsekuensi praktisnya berupa gaya hidup borju hanya akan melanggengkan mereka yang sudah berada di atas, dan sebaliknya mereka yang buruh dan hidup dalam kemiskinan akan semakin miskin. Segregasi kelas, dan semakin kerasnya batas antara kelas borju dengan proletar, dan terpaut jauhnya antara kedua kelas menandaskan adanya ketidakadilan di realitas. Dan ketidakadilan ini bersumber dari sistem kapitalisme. Kerasnya garis antar kelas menjadi pertanda pertama, sebab seharusnya seluruh manusia hidup setara, sama sama adil di dunia yang sama. Dengan kapitalisme ketimpangan semakin nampak jelas, dan hidup semakin tidak adil. Analisis kelas ini Marx adopsi demi memperlihatkan bagaimana sosial bekerja, dimana mereka yang berkuasa, memiliki kapital, akan mendikte setiap lekuk dari realitas. Terbelahnya kelas menjadi hanya borju dan proletar menjadi penting untuk diperlihatkan dalam skema bangunan pengetahuan bagaimana Karl Marx menggugat kapitalisme. Surplus Value Analisis kelas dalam tata letak alam pikiran Marxisme menempatkan buruh sebagai kelas yang tertindas. Ketertindasan ini berasal dari konsepsi akan nilai nilai yang tidak dikembalikan dan malah diserap oleh kapitalisme sebagai pemadatan modal dalam tubuh kapitalisme. Inilah yang dalam istilah terkenalnya yaitu ​surplus value​. Ketika buruh bekerja, mereka mencurahkan sekian banyak tenaga dan waktu, kerja adalah substansi nilai komoditas1. Namun mereka tidak 1 “If then we disregard the use-value of commodities, only one property remains, that of bing products of labour. But even the product of labour has already been transformed in our hands. If we make abstraction form its use-value, we abstract also from the material constituents and forms which make it as use-value. It is no longer a table, a house, a piece of yarn or any other useful thing. All its sensuous characteristics are extinguished, Nor is it any longer the product of the labour of the joiner, the mason or the spinner, or any other particular kind of productive labour. With the disappearance of the useful character of the products of labour, the useful character of the kinds of labour embodied in them also disappear; this in turn entails the disappearance of the different concrete forms of labour. They can no longer be distinguished, but are all together reduced to the same kind of labour, human labour in the abstract. Let us now look at the residue of the products of labour. There is nothing left of them in each case but the same-phantom like objectivity; they are merely congealed quantities of homogeneous human labour, i.e.off human labour-power expended without regard to the form of its expenditure. All these things now tell us is that human labour-power has been expended to produce them, human labour is mendapatkan kembalian yang setara dengan apa yang telah mereka berikan, hal ini berdasarkan dari konsepsi asali kapitalisme, pengerukan keuntungan sebanyak banyaknya. Perkaranya adalah ekonomi tidak akan berjalan dengan mencetak uang sebanyak bayaknya. Juga tidak dengan jalan memproduksi sebanyak banyaknya saja. Bagaimana caranya melipatgandakana kapital, tidak lain dan tidak bukan dengan jalan menyerap sebagian kerja kerja dari para buruh. Produksi semata tidak akan membawa kemana mana, sebab jika penawaran terlalu tinggi (S), dan akan selalu tinggi sebab kapitalisme mengingkan harga setinggi-tingginya, sedang pada praktiknya akan berbenturan dengan permintaan (D). Pertemuan kedua kurva ini yang menjadikan kapitalisme tidak bisa mengeruk keuntungan dengan mudah hanya melalui penjualan barang. Maka dua alasan tidak mungkinnya melipatgandakan kapital dengan hanya jalan mencetak uang sebab dia akan menjadikan inflasi justru, yang kedua tidak mungkinnya mendapatkan profit tinggi dari penjualan barang. Ekspansi pada alam, sebagai modal utama bisa dijadikan opsi, namun pekaranya adalah jika tidak ada kapital yang diinvestasikan, alam tetap tidak bisa digarap, sebab yang paling cepat mendapatkan pengembalian untung tinggi hanya melalui penggarapan alam, sebaliknya dengan membiarkannya melalui sewa, modal tetap dalam hal ini (lahan; tanah), atau penjual-beliannya membutuhkan waktu yang lama. Jalannya adalah dengan menyerap sebagian kerja dari buruh. Kapitalisme akan merubah bagaimana dari C menjadi M’. Komoditas (C) hanya akan bisa berubah menjadi uang atau profit semata (M), tidak akan telampau jauh dari banyaknya modal yang diperlukan untuk membuatnya, sebab barang yang bahan bahannya murahan tidak akan mampu dijual dengan harga mahal, terlebih bertemu dengan permintaan. Namun dengan jalan ini, produksi hanya sekedar produksi dan tidak membawa kapitalisme kemana mana, modal hanya akan berputar, profit dari penjualan hanya akan masuk dan habis sebagai biasa operasional produksi dan gaji pegawai. Dengan ingin tetap memiliki harga rasional, namun tetap berpendapatan tinggi, M harus diubah menjadi M’. (‘) aksen dalam hal ini berasal dari ​surplus value​, seluruh kerja yang diambil. Maka setiap kali kita mengonsumsi barang, yang ada adalah barang tersebut selalu dan sudah disubsidi oleh buruh. Buruh menyubsidinya dengan kerja yang tak terbayar, karena bahkan dalam praktinya kita akan dapati bagaimana komoditas lebih murah dibandingkan dengan harga minimal dari seluruh bahan yang diperlukan untuk memproduksi barang tersebut. Pertama ada kerja kerja yang tidak dikembalikan, kedua pun yang dibayarkan melalui mekanisme produksi dan pejualan barang sudah disunat demi memurahkan komoditas. Inilah yang disebut sebagai perubahan dari M-C-M, menjadi M-C-M’. Seluruh bahan bahan primer dalam proses pembuatan komoditas tidak akan membawa kemana mana, harus ada kerja kerja manusia agar dia berubah menjadi memiliki nilai. Batu tidak bisa dijual begitu saja, namun ketika dia diberikan merk Supreme, dia bisa melambung menjadi USD 1000 (eBay). Manusia lah yang memproduksi dan merubahnya memiliki nilai. Nilai inilah nantinya yang akan diperjualkan dalam komoditas tersebut. Komoditas menjadi komoditas sebab accumulated in them. As crystals of this social substance, which is common to them all, they are values--commodity values.”​ (Marx :128) dia memiliki nilai, bisa dipergunakan oleh konsumen. Manusia sebagai yang memberikan nilai ini bersumber dari konsepsi Marx soal manusia sebagai ​homo faber,​ yaitu manusia yang bekerja. Kerja kerja manusia akan menghasilkan nilai. Sedang buruh adalah mereka yang memproduksi bahan bahan mentah, mereka lah yang merubahnya menjadi memiliki nilai. Secara idealistik bahkan Marx melihat manusia hanya bekerja untuk dirinya sendiri dan tidak untuk orang lain. Kerja kerja untuk orang lain hanya akan mengalienasi dia, sebab bisa jadi yang dia kerjakan adalah yang tidak dia sukai. Belum lagi jika kerja kerja ini bersifat atomik dan automatik, semenjak adalah ​line production​. Dan lebih lebih ketika buruh tidak bisa membeli barang tersebut. Nilai dalam konsepsi Marx adalah nilai guna, sebab melalui kerja suatu barang menjadi berguna, memiliki utilitas. Dan sebab dia hanya bersoal mengenai nilai guna, maka nilai tukar tidaklah logis. Nilai tukar tidak pernah terjadi, sebab dia hanya ada dalam bayangan bahwa ada yang disebut sebagai penawaran asali, padahal penawaran selalu bersifat semu. Maka yang ada hanyalah produksi, dan konsekuensianya adalah nilai guna yang ada di dalamnya. Kritik Pemikiran Adam Smith dan David Ricardo Kritik mengenai nilai ini dilancarkan terhadap para pemikir pendahulunya, yaitu Adam Smith dan David Ricardo. Marx mempercayai bahwa apa yang disebut sebagai nilai hanyalah nilai guna. Seluruh barang pada mulanya tidak berguna, dia berguna hanya dalam kerangka fungsionalisme asali, berdasarkan forma yang telah ada pada dirinya, namun hal tersebut hanya berlaku dalam transaksi masyarakat primitif. Sebab manusia sudah berkembang, dan pergulatan antara manusia dengan alam terus berjalan, manusia kemudian memodfikasi dan menghasilkan barang barang yang memiliki nilai guna melebihi nilai forma asalinya. Nilai guna sabun tidak ada dalam susunan lemak, tapi sekaligus lemak berguna untuk membentuk nilai guna sabun. Nilai guna ini berguna untuk menentukan seberapa berharga barang tersebut. Dalam pikiran Marx bahkan tanpa harus dimasukkan ke dalam pasar, suatu komoditas tetap bisa dihitung harga jualnya dari nilai intriksik yang ada di dalamnya, yaitu melalui kerja kerja yang telah termampatkan dalam suatu komoditas. Tolakan ini dilakukan demi mengetengahkan buruh, sebab selama ini murahnya harga barang yang berkonsekuensi pada rendahnya upah dijadikan alasan melalui sistem pertemuan kurva permintaan penawaran. Padahal senyatanya harga barang sudah terkandung, sebab barang adalah perkara pemergunannya. Dalam skema semacam inilah Karl Marx melancarkan kritik pada David Ricardo dan Adam Smith, bahwa konsepsi dia akan barang adalah barang sebagai perkakas yang dipergunakan oleh manusia sebagai hasil buatan dari pemadatan karya dari manusia. Artinya pada posisi terasalinya, barang dipelakukan dalam ruas nilai intrinsik yang terkandung di dalamnya, bukan dalam skema nila tukarnya. Evaluasi barang melalui nilai tukar adalah sebuah kegagalan berpikir, sebab dalam skema barang sebagai nilai tukar, dia akan menghimpun sebanyak mungkin kemungkinan pertukaran, dan ketidaktermadai seluruh magnifikasi tukaran barang barang, maka dibuatlah satuan alat tukar bersama bernama uang. Dalam skema barang sebagai nilai tukar dia tidak memiliki fondasi apa apa, selain daripada keinginan untuk menukarkannya dengan benda lainnya. Dan benda ini bisa jadi memiliki nilai guna lebih tinggi dibandingkan dengan benda yang ditukarkan, saya bisa saja menukarkan sebotol cola dengan emas 4 kilo sebab adanya ketidaksimetrisan informasi yang ada. Jika nilai guna barang berasal dari kerja kerja yang termanifestasi di dalam komoditas tersebut, nilai tukar tidak memiliki landasan ontologis selain spekulasi tidak berdasar yang ada pada komoditas yang akan ditukarkan tersebut. Secara ontologis, ketiga pemikir baik Max, Smith2, dan Ricardo bersepakat soal aspek kerja yang ada di dalam suatu barang. Namun konsepsi epistemologis dan aksiologis mereka berbeda-beda. Dalam pandangan Marx, dia menganggap ekonomi sebagai perkara pengaturan bersama, artinya semua mendapatkan porsi kesejahteraan. Adam Smith juga mempercayai soal sisi ontologis dari barang, yang dalam hal ini nantinya akan dianulir oleh beberapa pemikir seperti Pareto, Samuelson, dll yang lebih cenderung untuk mengangkat sisi epsitemologis, dan bahkan mengganti yang ontologis dengan epistemologis dalam skema pemikiran ekonomi mereka. Adam Smith melalui mekanisme ​invisible hand3 sejatinya mengasumsikan soal gravitasi harga barang, konsep kunci ini seringkali diabaikan, yang menjadikan titik sitemu harga barang di realitas, jadi mekanisme pertemuan antara ​supply dengan ​demand b​ erlangsung semu yang nantinya pada akhirnya akan berakhir di harga yang stabil. Perbedaannya adalah bahwa Adam Smith luput melihat praktik pengambilan kerja yanag tak terbayarkan dalam sistem kapitalisme, dan meyakini bahwa demikianlah adanya realitas pasar bekerja, yang nantinya akan mengelevasi masyarakat. Sebab yang menjadi konsentrasi Adam Smith, tetap dengan catatan bahwa dia mengakui soal aras produksi sebagai titik berat pikirannya, namun yang paling nampak adalah bagaimana ketika barang sampai di pasar dan seluruh sirkulasi ekonomi ini mampu mengelevasi sosial, sebab sosial akan bergerak, ekonomi akan berkembang. David Ricardo yang juga percaya bahwa segala kerja kerja mekanik maupun kreatif pada akhirnya akan bertumpu pada satu konsep soal kerja, dimana ini akan kita temui dalam mekanisme produksi4. Dia tidak membedakan antara keduanya, sebab dia akan berakhir sebagai ​“In that eraly and rude state of society which preceeds both the acumulation of stock and the apropriation of land, the proportion between quantities of labour necessary for acquiring different objects seems to be the only circumtances which can afford any rule for exchanging them for one another. If among a nation of hunters, for example, it usually costs twice the labour to kill a beaver which it does to kill a deer, one beaver should naturally exchange for or be worth two deer. It is natural that what is usually produce of two days or two hours labour, should be worth double of what is usually the produce of one day’s or one hour’s labour”​ (Smith, 1937: 47) 3 ​“...he intends only his own gain, and he is in this, as in many other cases, led by an invisible hand to promote an end which was no part of this intention. By pursuing hiw own interest he frequently promote that of the society more effectually than when he really intends to promote it…”​ (Adam Smith, 1776: 292) 4 ‘It is the cost of production which must ultimately regulate the price of commodities, and not, as has been often said, the proportion between the supply and demand: the supply and demand may, indeed, for a time, affect the market value of a commodity, until it is supplied in greater or less abundance, according as the demand may have increased, or diminished, but this affect will be only temporary duration. Diminish the cost of production of hats, and their price will ultimately fall to their new natural price, although the demand should be doubled, 2 kerja semata. Senada dengan Adam Smith, dia tidak menempatkan emansipasi terhadap buruh. Dia menyetujui soal pasar yang akan menyesuaikan dirinya. Inti kritik Karl Marx terhadap para pendahulunya adalah soal pertama harga yang didapat tidak logis berasal dari mekanisme perkuatkaran, harga tidak didapat dari nilai tukar, namun nilai gunanya. Kedua tidak adanya emansipasi dalam pikiran mereka soal bagaimana sebuah komoditas diproduksi yang nyatanya mengandung kekerasan terhadap para buruh. Penutup Kritik kritik ekonomi yang dilancarkan Marx bersumber dari posisi dia melihat ekonomi sebagai landasan dari keseluruhan realitas, dia sebagai basis, sedang sisanya politik, budaya, agama adalah ekses saja yang menjadi suprastruktur yang terdeterminasi. Maka dengan demikian yang perlu diambil alih adalah bagian dari basis. Namun perlu menjadi catatan bahwa Marx sama sekali tidak hanya bersoal mengenai pengambilalihan ekonomi semata, ini bukan perkara kenaikan upah, namun kepada status ontologis manusia itu sendiri, kerja perubahan yang digagas Marx adalah kerja emansipasi pada manusia. Termasuk juga pengetahuan, sebab pengetahuan tidak boleh hanya berguna bagi dirinya sendiri, namun dia harus menjejak. Jalan revolusi yang digagas Marx adalah jalan emansipasi pada manusia. Dan bagi Marx hal tersebut adalah takdir yang akan terjadi, sebab dalam perjalanan sejarah manusia, sejarah adalah perkara konflik, dan selalu yang menang adalah mereka yang tertindas. Mulai dari fase perbudakan, feodal, industri, yang akan berakhir dengan sosialisme. Sebagai catatan selama ini revolusi tidak terjadi sebab adanya selubung ideologi yang menaungi masyarakat, sehingga mereka tidak bisa bangun tatkala diopresi. Maka tugas pengetahuan adalah tidak hanya bagi dia sendiri, namun harus berfungsi bagi sosial, mengemansipasi masyarakat. Referensi Marx, Karl (1867). ​Das Kapital (2008).​ Progress Publisher: USSR Smith, Adam (1776). ​The​ ​Wealth of Nation (2007).​ Metalibri: New York Ricardo, David (1817). ​On The Principle of Economy and Taxation (2001)​. Batoche Books: Canada ____________.(1823). ​Absolute Value and Exchangeable Value (2004). Indianapolis: Liberty Fund Rigney, Daniel (2001). ​Society as Market ​dalam ​Metaphorical Society, An Invitation to Social Theory.​ Oxford: Rowman & Littlefield Publishers trebled, or quadrapled [...] The opinion that the price of commodities depends solely on the proportion of supply to demand, or demand to supply, has become almost an axiom in political economy, and has been the source of much error in that science.”​ (Ricardo 2004: 382)

Judul: Kritik Ekonomi Karl Marx; Gagasan Surplus Value

Oleh: Fathul Purnomo

Ikuti kami