Fakta Praktik Ilmu Hitam Di Flores Dan Daya Ilahi Air Berkat

Oleh Jurnal Ledalero

348,8 KB 14 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Fakta Praktik Ilmu Hitam Di Flores Dan Daya Ilahi Air Berkat

FAKTA PRAKTIK ILMU HITAM DI FLORES DAN DAYA ILAHI AIR BERKAT Alexander Jebadu Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere 86152, Flores, NTT Pos-el: missiology2015@yahoo.com DOI: http://dx.doi.org/10.31385/jl.v18i1.152.61-85 Abstract: This article aims to present that sorcery and witchcraft is still widely practiced in Flores. It is one of the main thorny sources of social conflicts in almost every village. There have been a hot-witch hunts at many regions of the islands. Numerous witches or sorcerers caught red-handed practicing it were tried according customary laws of the villagers and then killed publicly. This article also presents that a number of paranormals can prove the existence of the sorcery practices. The mediums used by the perpetrators can be detected. These mediums were claimed to emit a kind of toxic gas which is thought to cause the victim to get sick and die. This poisonous gas will, however, disappear only if it is sprinckled by the sacramental holy water and its victim will slowely recover. Keywords: black magic, sorcery, witchcraft, paranormal, divine power, holy water. PENDAHULUAN Seperti dalam masyarakat dunia lainnya, baik dalam masyarakat primitif, masyarakat Yunani-Romawi kuno, masyarakat Eropa Abad Pertengahan maupun Eropa Zaman Pencerahan (Renaissance)1 atau 1 Seperti yang disintese secara padat oleh Donald R. Hill, “Magic in Primitive Societies”, Hans Dieter Betz, “Magic in Greco-Roman Antiquity” dan Ion PetruCulianu, “Magic in Medieval and Renaissance Europe”, semuanya dalam Mircea Eliade (ed.), Encyclopedia of Religion, Vol. 9 (New York: McMillan Publishing Company 1987), pp. 89-92, 93-97, 97-101. 62 JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 dalam masyarakat tradisional kontemporer Asia dan Afrika,2 praktik ilmu hitam, yang sekarang lazim dikenal dengan istilah sorcery and witchcraft – dua bentuk utama dari ilmu hitam (black magic), masih banyak dipraktikkan oleh warga masyarakat di Flores. Padahal praktik sorcery dan witchcraft di pulau ini sudah sejak lama dikutuk dan diberantas oleh pemerintah dan oleh masyarakat tradisional hampir di setiap kampung. Mereka yang diduga melakukan praktik ilmu hitam ini telah dihukum dengan berbagai cara, misalnya dengan diekskomunikasi. Namun, caracara ini tampaknya belum berhasil menyurutkan praktik ini. Dewasa ini, meskipun ada perasaaan tak suka dan bahkan benci terhadap mereka yang diduga merupakan pelaku ilmu hitam, warga masyarakat kerap sulit berkonfrontasi dengan mereka secara langsung. Apalagi kalau konfrontasi itu dilakukan dengan tindak kekerasan karena adanya hukum negara modern yang diilhami konsep hak asasi manusia universal. Di bawah standar hukum positif yang demikian, orang tidak bisa dengan gampang menuduh seseorang sebagai orang bersuanggi (a sorcerer atau a witch). Namun, beberapa tahun belakangan, sejumlah orang Katolik yang dikenal sebagai para pendoa bisa memburu praktik ilmu hitam di Flores. Para pendoa ini mengklaim – dan diyakini – memiliki karunia khusus untuk mendeteksi dan bahkan menjinakkan kekuatan supranatural yang tidak kelihatan dari roh-roh jahat yang dimanipulasi melalui praktik sorcery&witchcraft dengan menggunakan cara-cara tertentu. Mereka dapat menemukan medium-medium tersembunyi yang secara diam-diam disimpan oleh tukang sihir atau oleh roh jahat di rumah-rumah orang yang mau menjadi target korbannya. Bahan-bahan yang lazim digunakan sebagai medium bisa bermacam-macam, misalnya helai rambut, sepotong korek api, sebuah peniti tua atau penjepit rambut atau kancing tarik yang sudah tua dan karat, dan sebagainya. Semua pendoa di Flores mengklaim, medium-medium ini mempunyai daya destruktif. Mereka memancarkan semacam energi negatif yang menyebabkan adanya radiasi panas di sekitarnya. Diyakini, radiasi energi negatif ini menyebabkan 2 Salah satu contoh terkini adalah praktik ilmu hitam di Papua New Guinea yang diteliti oleh Melanesian Institute dan diterbitkan oleh Franco Zocca (ed.), Sangguma in Paradise: Sorcery, Witchcraft and Christianity in Papua New Guinea (Goroka: Melanesian Institute, 2009). 63 Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) penyakit dan bahkan kematian bagi korban yang ditargetkannya. Para pendoa dapat merasakan panas dari medium-medium ini.3 Namun, hal yang menarik ialah bahwa radiasi panas dan negatif dari medium-medium ini akan hilang kalau direciki dengan air dan garam berkat (sacramental holy water). Lalu setelah itu kesehatan para korban ilmu hitam ini akan perlahan-lahan membaik. Fakta-fakta ini akan menjadi fokus utama dari artikel ini. Tulisan ini ingin menjelaskan bagaimana fenomena ini harus dipahami secara luas termasuk dari perspektif teologi Katolik. METODOLOGI Artikel ini dibuat berdasarkan penelitian lapangan dan studi literatur. Penelitian lapangan dilakukan sejak Desember 2016 hingga Maret 2018. Penelitian lapangandilakukan terutama dibeberapa desa di Manggarai Raya, Ngada, Nagekeo, Ende, Lio, Sikka dan Flores. Tujuan utama studi lapangan adalah untuk pengambilan data tentang kasus-kasus aktual mengenai praktik ilmu hitam. Data yang diambil ini terutama berfungsi sebagai contoh aktual dari praktik ilmu hitam di Flores. Di antara temuan utama adalah sebagai berikut. Pertama, sorcery&witchcraft masih dipraktikkan oleh masyarakat Flores hingga saat ini. Kedua, praktik ini tetap merupakan salah satu duri yang mencederai kehidupan warga masyarakat, baik mereka yang tinggal di kampung yang sering dianggap kurang berpendidikan maupun mereka yang tinggal di kota yang dianggap lebih terdidikdan memiliki pemahaman modern tentang hidup manusia. Ketiga, praktik ilmu hitam merupakan salah satu sumber konflik sosial di hampir setiap kampung dan bahkan di beberapa kota di Flores. Tanpa disadari banyak orang, ada pelbagai usaha masyarakat di setiap kampung untuk menghabisi sesama yang dicurigai sebagai pelaku praktik ilmu hitam (There have been hot-witch-hunts). Di beberapa wilayah di Manggarai Barat, lebih dari 20 pelaku praktik ilmu hitam telah dibunuh. Beberapa dari mereka disiksa dan dirajam secara 3 Jika medium-medium dipeganga dengan tangan telanjang, mereka akan merasa seperti kena strom listrik. Karena itu sebelum digali, biasanya mereka perciki lokasi itu dengan air berkat. Lalu sesudah itu medium ini diambil dengan hati-hati dengan menggunakan parang atau kayu untuk menghindari sentuhan langsung dengan tangan. JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 64 publik di halaman kampung (antara tahun 2000 hingga 2014). Beberapa yang lain menghadapi percobaan pembunuhan dan yang lain lagi hanya dihukum. Keempat, kabar baiknya adalah bahwa ada sekelompok umat Katolik awam atau religius yang mengklaim dan diyakini memiliki karuni untuk mendeteksi kekuatan supernatural dari praktiksorcery & witchcraft dan membebaskan orang-orang sakit yang diketahui sebagai korban dari praktik ilmu hitam dengan menyandarkan diri pada kekuatan Allah Tritunggal Mahakudus melalui doa dan airberkat. PANDANGAN ORANG FLORES TENTANG ROH-ROH Seperti di kalangan suku-suku bangsa lain di mana saja di dunia, orang Flores memiliki sistem kepercayaan agamanya sendiri. Jauh sebelum kedatangan agama Kristen, setiap suku di pulau ini telah percaya akan keberadaan dari Yang Mahatinggi dan berbagai roh dunia, entah itu rohroh baik (good spirits) maupun roh-roh jahat (evil spirits) serta roh-roh orang meninggal (ancestral spirits). Roh-roh Baik (Good Spirits) Wujud Tertinggi, dalam berbagai nama - Mori Kraeng atau Ame Eta Ine Wa (Manggarai), Dewa Zeta Gae Zale atau Dewa Meze (Ngada, Nagekeo), Dua Nggae (Ende, Lio), Ama Lero Wulan Reta (Sikka) dan Rera Wulan Tana Ekan (Lamaholot)4adalah Allah Dwitunggal (Duumvirate God) yang terdiri dari Bapa Agung Dewa Langit (the Great Father Sky-God) dan Ibu Agung Dewi Bumi (the Mother Earth-God). Allah Dwitunggal ini diyakini sebagai asal dari semua kehidupan. Dia adalah pencipta segala sesuatu, baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, baik roh-roh baik (good spirits) maupun roh-roh jahat (evil spirits). Karena Allah ini adalah Pencipta, Dia mahakuasa dan oleh karena itu manusia akan pergi mencari perlindungan-Nya ketika terancam marabahaya termasuk bahaya-bahaya 4 Untuk informasi cukup lengkap tentang Wujud Tertinggi menurut orang Manggarai bisa lihat Jilis A.J. Verheijen, Manggaraidan Wujud Tertinggi (Jakarta: LIPI-RUL, 1991); menurut orang Ngada dan Nagekeo lihat aul Arndt SVD, Agama Orang Ngada: Dewa, Roh-roh Manusia dan Dunia (Maumere: Candraditya, 2015); menurut orang Ende dan Lio lihat Paul Arndt SVD, Du’aNggae: Wujud Tertinggi dan Upacara Keagamaan di Wilayah Lio Flores Tengah (Maumere: Puslit Candraditya, 2002); dan menurut orang Sikka lihat Paul Arndt Mithologie, Religion und Magie Im Sikagebiet-OstMittelflores (Germany: 1932) Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) 65 yang berasal dari roh-roh jahat. Roh-roh baik yang disapa dengan nama yang relatif sama –naga, darat, nitu atau nitung oleh orang-orang Flores – diyakini sebagai utusan Tuhan untuk menjaga manusia dan ciptaan lainnya. Di Manggarai, misalnya, roh-roh baikdiidentifikasi dalam dua kelompok besar, yaitu naga dan darat atau kakartana. Naga adalah roh-roh baik yang diyakini sebagai pelindung manusia seperti pelindung sebuah kampung dan karena itu mereka lasim dinamai sesuai dengan tempat di mana mereka melakukan tugas itu: naga beo atau naga golo (roh yang melindungi kampung). Setiap kampung diyakini memiliki sekurang-kurangnya satu nagagolo atau naga beo (naga = roh, beo atau golo = kampung). Darat atau kakartana adalah kelompok kedua dari roh-roh baik menurut orang Manggarai. Darat diyakini tinggal di hutan, gunung, batu besar, sungai atau danau dan berperan sebagai penjaga dari tempattempat ini. Karena menghuni dan menjaga kehidupan di hutan rimba, mereka juga lasim disebut kakartana,yaitu dari kata kaka de tana yang berarti “makhluk dari tanahaau dari alam”. Darat atau kakartanaumumnya bersahabat dengan manusia. Mereka akan marah hanya ketika manusia mengganggu habitat mereka, misalnya jika manusia menebang pohon di hutan tanpa mengakui kehadiran mereka, maka mereka akan datang dan secara misterius menculik seorang anak dan menyembunyikannya di hutan selama berhari-hari. Anak itu biasanya akan ditemukan dalam kehadaan hidup setelah manusia melakukan ritual rekonsiliasi dengan kakartana yang habitatnya telah diganggu atau dimasuki tanpa minta permisi dari mereka.5 Demikian juga nitu atau ngebu dari Ngada dan Nagekeo, nitu dari Ende dan Lio, naga dan nitu dari Sikka atau nitung dari Lamaholot juga diyakini memiliki peran yang sama. Mereka adalah utusan Tuhan untuk menjaga manusia dan ciptaan lainnya dan diberi nama sesuai dengan tugas yang mereka perankan. Di Ngada dan Nakekeo, misalnya, nitukazu adalah roh yang diyakini menjaga pohon-pohon hutan; nitu mbaru sao adalah roh-roh yang menjaga rumah; dan nitu mata wae adalah roh yang menjaga mata 5 Untuk informasi lanjut lihat Jilis A.J. Verheijen, ibid., pp.225-226 JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 66 air.6 Di Lamaholot, di samping peran mereka sebagai utusan Tuhan untuk melindungi manusia dan ciptaan lainnya, nitung dianggap sebagai bagian dari keluarga manusia dan karena itu mereka sering disebut sebagai kaka ari (saudara/i) dari manusia. Akan tetapi, seperti kakartana atau darat di Manggarai, nitungakan marah jika habitan mereka digannggu oleh manusia.7 Roh-roh Jahat (Evil Spirits) Orang Flores juga percaya akan keberadaan roh-roh jahat yang tak terhitung jumlahnya. Hanya sejumlah kecil dari mereka yang diidentifikasi dengan nama, misalnya, mereka disebut potiwolo dan ineweu oleh orang Manggarai; ebungiu, noa, ula dan polo oleh orang Ngada dan Nagekeo; duahela, painoa, ineleke, laihoa oleh orang Ende dan Lio; dan dua helang, duatoe robong, dua ha wu’angoleh orang Sikka.8 Orang Flores percaya bahwa roh-roh jahat ini tidak ramah terhadap manusia. Mereka sangat jahat. Mereka terus mencari pelbagai macam cara untuk mencelakakan manusia atau barang milik mereka seperti rumah, tanaman atau ternak. Ineweu, misalnya, dideskripsikan oleh orang Manggarai sebagai makhluk perempuan berleher panjang yang sangat kuat dan menggunakan susunya yang panjang untuk menangkap manusia.9 Orang Flores percaya bahwa, biarpun roh-roh jahat ini sangat jahat, mereka tetap tidak cukup kuat dibandingkan dengan Allah Dwitunggal mereka. Allah Dwitunggal yang dikenal dengan berbagai macam nama –Ame Eta Ine Wa, Dewa Zeta Ga’e Zale, Du’a Nggae, Ama Lero Wulan Reta, Rera Wulan Tana Ekan– lebih unggul dari semua roh jahat– potiwolo, ineweu , ebungiu, noa, ula, wera-polo, duahela, painoa, ineleke, laihoa, dua helang, dua 6 7 8 9 Paul Arndt, Agama Orang Ngada, Ibid., pp. 17-19. Lihat Marselinus Koka, “Konsep Suanggi pada Masyarakat Rio-Minsi [Ngada] dan Pengaruhnya bagi Penghayatan Iman Kristen” (ms) SFTK Ledalero, Maumere, Indonesia, 2012, p.28. Marselinus Narek Untung, “Suanggi dalam Kacamata Masyarakat Ile Pati dan Dampaknya bagi Karya Pastoral serta Jawaban Atasnya” (Skripsi di STFK Ledalero, Maumere, 2016), pp. 17-19. Unrtuk informasi lengkap tentang roh-roh jahat ini lihat Jilis A.J. Verheijen, ibid., p.234, Paul Arndt, Agama Orang Ngada, ibid., pp. 20-23, Rondo Rafael, “Fenomen Suanggi Menurut Orang Nae dan Dampaknya bagi Iman Mereka” (ms), STFK Ledalero, Flores, Indonesia, pp. 16-20 and Paul Arndt, Mithologie, Religion und Magie Im Sikagebiet-Ost Mittelflores, ibid., pp.141-151. Jilis A.J. Verheijen, Ibid., p.234. Lihat juga Gregory Forth, Images of the Wildman in Southeast Asia: An Anthropological Perspective (London & New York: Routledge, 2008), p.60 Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) 67 toe robong dan dua ha wu’ang. Namun orang Flores juga percaya bahwa Allah yang mahakuasa ini sering tidak akan secara langsung menolong manusia yang berada dalam bahaya apa pun termasukyang datang dari serangan roh-roh jahat tetapi melalui para pegawai-Nya – roh-roh yang baik (good spirits)–yang berkomunikasi melalui orang-orang tertentu yang mempunyai karunia khusus (the diviners). FAKTA TENTANG PRAKTIK ILMU HITAM DAN USAHA PEMBERANTASANNYA Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ilmu hitam, seperti di banyak masyarakat dunia lainnya, masih dipraktikkan secara luas oleh masyarakat Flores. Baik warga masyarakat kotamaupun warga masyarakat kampung sering membicarakannya. Orang kerap takut suanggi. Dari Desember 2016 hingga Januari 2017, saya fokuskan penelitian lapangan di desa asal saya, Rego, dan desa-desa tetangganya. Ketika keluarga dan kerabat saya tahu bahwa saya sedang meneliti praktik ilmu hitam (mbeko janto), mereka memiliki aneka perasaan. Mereka semua, di satu sisi, sangat terkejut mengapa dan untuk apa proyek studi ini dilakukan. Di sisi lain, mereka juga sangat senang karena sebagai seorang pastor ilmuwan, saya akhirnya memberikan perhatian akademis khusus pada mbeko janto (ilmu hitam)– sebuah ilmu tentang kekuatan supranatural yang masih tetap menjadi satu hal yang sangat menakutkan mereka. Ia sangat nyata namun sulit dimengerti. Ketika ditanya apakah janto(ilmu hitam) itu ada, semua orang di kampung-kampung di Manggarai secara spontan menjawab bahwa janto itu benar-benar ada. Mereka mengatakan, meskipun sulit untuk mengetahui bagaimana janto beroperasi, tetapi keberadaannya dapat diamati. Pertama, mereka yang mempraktikkan ilmu hitam secara berulang kali dilihat orang dalamsebuah mimpi setengah sadar (Manggarai: ure). Kadang-kadang para pelaku ilmu hitam tertangkap basah sedang duduk melakukan sebuah ritual aneh di makam orang lain yang barusan meninggal. Padahal orang yang meninggal itutidak mempunyai hubungan keluarga dekat dengan orang yang dicurigai sebagai pelaku praktik ilmu hitam. 68 JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 Kedua, ketegangan sangat tinggi yang dipicu oleh masalah praktik ilmu hitam di kalangan umat pada tahun 2007-2008 mendorong sebuah paroki di Keuskupan Ruteng, Flores, untuk menanganinya secara pastoral. Setelah berkonsultasi dengan para anggota Dewan Pastoral Paroki dan para tetua yang bijak di setiap kampung di paroki ini, pastor parokimenangani masalah ini dengan membuat program pastoral yang disebutcebong beo(penyucian kampung) .Selain diskusi publik tentang ilmu hitam danbersumpah untuk secara permanen membuangnya,salah satu program adalah seluruh umat harus mengaku dosa secara sukarela. Ketika ditanya apakah ada umat yang mengaku dosa, pastor paroki mengatakan: “Oh ya ada.Banyak orang yang datangmengaku dosa. Sebagian besar dari mereka yang datang mengaku dosa adalah mereka yang mempunyai ilmu hitam. Cara mereka menatap saya sangat tajam. Mata mereka sangat merah dan sangat menakutkan.10 Untuk melindungi diri, saya menyimpan Sakramen Mahakudus dalam sebuah pixes dan menggantungkannya di leher saya di dalam jubah. Salah satu hal yang mengejutkan saya adalah bahwa mereka bahkan mengakujumlah korban yang meninggal akibat ilmu destruktif mereka. Saya menasihati mereka supaya berhenti melakukan praktik ilmu destruktif ini secara total atau Allah sendiri akan mengadili dan menghukum mereka dengan masuk ke dalam api neraka.” Ketiga, seingat saya, satu-satunya peristiwa yang masih saya ingat baik adalah seorang pelaku ilmu hitamdi kampung saya dihukum berat pada tahun 1972 ketika saya berusia 5 tahun. Setelah tertangkap basah melakukan praktik ilmu hitam yang merugikan orang lain, ia dihukum dengan dipaksa makan cirit babi sambil ditonton oleh semua warga kampung. Namun ketika saya mulai melakukan penelitian ini pada bulan Desember 2016, saya terkejut. Berbagai bentuk hukuman yang diberikan kepada pelaku ilmu hitam ternyata bukan merupakan peristiwaperistiwa yang hanya terjadi pada masa lalu. Walau disinggung dengan nada sarkastik, ilmu hitam disebutkan oleh para peserta sinode pastoral 10 Menurut Philip Mayer ada tujuh tanda utama ilmu hitam yang dipraktikan di mana saja di seluruh dunia. Salah satu tanda umum adalah bahwa para pelaku praktik ilhmu hitam (sorcerers atau witches) memiliki tanda-tanda fisik seperti mata merah (red eyes). Untuk informasi lebih lanjut, lihat Philip Mayer, “Witches” dalam Max Marwick, Witchcraft and Sorcery: Selected Readings (Middlesex-England: Penguin Education), pp.47-48. Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) 69 Keuskupan Ruteng pada tahun 2013-2015 sebagai salah satu masalah pastoral yang dihadapi keuskupan. Mereka mengatakan bahwa banyak umat Keuskupan Ruteng masih cenderung mengkambinghitamkan ilmu hitam sebagai penyebab dari sakit-sakit yang mereka derita.11Mesti dikatakan bahwa ini sebuah kesimpulan tanpa premis yang cukup. Karena kenyataan menunjukkan bahwa praktik ilmu hitam dan konflik sosial yang disebabkannya hampir terjadi di setiap kampung. Para pelaku ilmu hitam di setiap kampung biasanya diwaspadai dan diawasi gerak-gerik mereka. Sejak tahun1990-an, pelaku praktik ilmu hitam yang tertangkap basah melakukannya telah menjadi korban percobaan pembunuhan, dihukum dan bahkan disiksa hingga mati di sejumlah kampung di Manggarai Raya. Pertama, selama penelitian 3 bulan pada tahun 2017, hanya di 7 dari 39 wilayah Hamentedi Manggarai Raya saya memperoleh data 26 kasus: Rego (7), Pacar (3), Kolang (5), Ndoso (7), Rahong (2), Rongga (1) dan Ndehes (1). Itu berarti bahwa jumlah witch-hunts (perburuan para pelaku ilmu hitam) di 32 Hamente lainnya di Manggarai Raya masih belum diketahui. Kedua, dari tahun 1990 hingga 2016, sekurang-kurangnya ada 26 kasus witch-hutnsdi 7 Hamente di Manggarai Raya: tujuh kasus percobaan pembunuhan, dua kasus di mana para pelaku ilmu hitam hanya dihukum berat (seperti disiksa makan cirit babi di depan umum) dan enam belas kasus di mana mereka dibunuh di depan umum dengan disiksa atau dirajam sampai mati. Dari 26 kasuswitch-hunts ini, baru empat kasus yang bisa diivestigasi. Ketiga, pengadilanseturut hukum adat terhadap seorang pelaku ilmu hitam biasanya melewati sebuah proses yang cukup panjang. Biasanya dimulai dengan mengamati kejadian dan tanda-tanda aneh di dalam masyarakat kampung. Misalnya, warga masyarakat jatuh sakit dalam jumlah besar, satu orang sesudah yang lain dan ketika mereka pergi ke rumah sakit, para dokter akan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki masalah dengan kesehatan. Padahaldalam kenyataannya mereka sangat 11 Panitia Sidone Keuskupan Ruteng, Pastoral Pendidikan dan Pastoral Sosial Ekonomi: Sinode III Sesi II Keuskupan Ruteng 28.04-01.05.2015 (Ruteng: Sekretariat Sinode III Keuskupan Ruteng, 2014), p. 129. g. JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 70 sakit. Atau dokter hanya mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengidentifikasi masalahnya. Warga masyarakat inipulang ke rumah, sakit tak kunjung sembuh danakhirnya meninggal. Setelah itu warga masyarakat kampung biasanya mengadakan pertemuan umum untuk mencari solusi. Dalam sebuah kasus di Hamente Pacar (2004), misalnya, masyarakat mengundang satu“orang pintar” (paranormal) untuk membantu mereka mengidentifikasi pelaku praktik ilmu hitam di kampung mereka. Untuk mempersingkat cerita, seorang paranormal akhirnya diundang. Dalam acara puncak semua warga kampung diminta berjabatan tangan dengannya satu per satu. Bagi mereka yang tidak memiliki ilmu hitam, tidak ada hal luar biasa yang terjadi. Namun salah satu dari mereka yang dicurigai memiliki ilmu hitamterlelanting seperti terkena sengatan listrik. Bagi paranormal, itulah yang menjadi tanda bahwa ia mempunyai ilmu hitam. Meski demikianorang ini membantah bahwa ia memilikinya. Lalu warga masyarakat kampung memintanya untuk bersumpah menurut adat sambil membunuh seekor ayam hitam. Jika dia de factomemiliki ilmu hitam, namun dalam sumpah ia menyangkalnya, maka dia dan anakistrinya akan terkutuk mati seperti ayam hitam yang akan disembelih itu. Kalau tidak, ia dan keluarganya akan tetap hidup dalam kelimpahan berkat. Pelaku yang dicurigai inipun bersumpah di rumah adat bahwa ia tidak memiliki ilmu hitam seperti yang dituduhkan. Lalu ayam hitam disembelih. Darahnya ditadahkan pada sebuah piring. Setelah itu tidak terjadi apa-apa. Lalu seorang perserta dalam rumah adat itu, iseng-iseng memintadiauntuk minum darah segar dari ayam itu. Mula-mula ditolak. Tapi akhirnya diminum juga. Beberapa detik sesudah itu, ia tiba-tiba menjadi seperti orang yang sedang mabukdan mulai mengungkapkan semua hal yang telah dilakukannya. Ia misalnya mengaku bahwa korban yangmeninggal oleh praktik ilmunya adalah 38 orang dalam kurung waktu 15 tahun terakhir dan dua dari mereka masih hidup tetapi sedang sakit berat. Warga masyarakat menuntut diasupaya ia sembuhkan dua orang sakit ini tetapi dia tidak menyanggupinya. Dia katakana bahwa Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) 71 dia hanya bisa membuat orang orang sakit tetapi tidak bisa memulihkan kesehatan mereka. Maka warga masyarakat kemudian marah dan mulai menyiksanya hingga mati di rumah adat hari itu juga.12 Keempat, dari berapa kasus yang sudah diinvestigasi, dua kasus ilmu hitam berakhir di pengadilan negara. Dalam salah satu dari kasus ini, misalnya, pelaku praktik ilmu hitam melarikan diriketika warga kampung membuat rencana untuk membunuhnya. Akibatnya, warga masyarakat desa yang diliputi api kemarahan membakar rumahnya. Keluarga dari orang yang dicurigai sebagai pelaku ilmu hitam membawa kasus ini ke pengadilan. Di sana, subyek kasus bukan lagitentang praktik ilmu hitam, tetapi tindakan pidana pembakaran rumah. Untuk mempersingkat ceritera, ilmu hitam sebagai alasan pembakaran rumah tidak dapat diterima di pengadilan. Pengadilan memutuskan enam orang yang mewakili penduduk warga kampung dipenjara selama 1 tahun.13 HAKIKAT PRAKTIK ILMU HITAM (SORCERY AND WITCHCRAFT) DI FLORES Bisa Diketahui dari Terminologi yang Digunakan Penyelidikan terhadap hakikat ilmu hitam menurut warga masyarakat Flores dapat dilakukan dengan mengamati istilah yang digunakan untuk menamai fenomena tersebut. Masing-masing dari lima kelompok suku utama di Flores mempunyai istilah tersendiri untuk menyebut ilmu hitam (sorcery & witchcraft) dan para pelakunya (a sorcerer & a witch) seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini. Suku Sorcery/ Sorcerer/ Suku Sorcery/ Sorcerer/ Witchcraft Witch Witchcraft Witch Manggarai janto ata janto 4 Sikka u’en ata u’en Ngada, agekeo polo ata polo 5 Lamaholot menaka’ang ata menaka’ang Ende, Lio polo ata polo 6 Indonesia suanggi orang bersuanggi Istilah yang digunakan untuk namai sorcery/witchcraftdan sorcerer/witcholeh suku-suku di Flores 12 13 Informasi ini diperoleh dari warga Kampung Mawe dan Kepala Dusun Mawe pada tgl 2 Januari 2017. Informasi ini diperoleh dari Kepala Desa Sasa pada tgl 20 Desember 2016. JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 72 Seperti yang ditunjukkan tabel di atas, di kalangan orang Manggarai istilah yang digunakan untuk menyebut praktik ilmu hitam adalah janto yang secara harfiah atinya racun. Istilah yang lebih lengkap adalah mbeko janto (mbeko = ilmu atau pengetahuan) yang artinya ilmu racun. Istilah yang digunakan untuk pelakunya adalah ata janto (ata = orang) atau ata mbeko janto yang artinya seseorang yang memiliki ilmu racun untuk meracuni orang lain. Tetapi racun (janto) yang dimaksudkan di sini bukanlah racun biasa. Sebaliknya ia adalah racun dari sebuah serangan roh jahat, baik langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan berbagai medium, yang diperintahkan oleh ata janto (a sorcerer or a witch). Ata mbeko janto adalah seorang yang memiliki atau berkolaborasi dengan roh jahat untuk meracuni (janto) sesamanya. Orang Manggarai, oleh karena itu, menyebut ilmu hitam (janto = racun) dengan menekankan efeknya pada korban yang ditargetkan, yaitu racun yang berbahaya (poison that harms). Di kalangan orang Ngada, Nakekeo, Ende, Lio dan Sikka, istilah yang digunakan agak berbeda. Istilah yang mereka gunakan adalah polo atau u’en yang artinya roh jahat. Sedangkan istilah yang digunakan untuk pelakunya adalah ata polo atau ata uen (ata = orang) yang artinya seseorang yang memiliki roh jahat yang ia suruh atau berkolaborasi untuk membuat orang sakit. Dibandingkan dengan orang Manggarai, maka orang Ngada, Nagekeo, Ende, Lio dan Sikka menamai praktik ilmu hitam dengan menggarisbawahi agen utama, yang digunakan pelaku ilmu hitam untuk membuat calon korbannya sakit , yaitu roh jahat. Di kalangan orang Lamaholot, istilah yang digunakan untuk ilmu hitam adalah menaka’ang. Kata ini berasal dari dua kata, mena yang secara harfiah berarti alat kelamin wanita yang sering diucapkan baik oleh wanita atau pria dengan cara kasar untuk meremehkan atau mengejek wanita (seperti “fuck you”) dan ka’ang yang berarti burung gagak dan umumnya diasosiasikan dengan roh jahat. Sedangkan ata menaka’ang (pelakunya) adalah orang yang memiliki dan berkolaborasi dengan roh jahat untuk menyakiti orang lain.14 Dibandingkan dengan kelompok-kelompok etnis 14 Informan lain mengatakan menaka’ang artinya roh jahat yang mencuri jiwa manusia. Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) 73 sebelumnya di Flores, jelas bahwa orang Lamaholot memberikan nama untuk ilmu hitam dengan meremehkan atau mengejeknya dan pada saat yang sama mengidentifikasikannya dengan kegelapan seperti burung gagak atau dengan orang jahat yang oleh karena perbuatannya diyakini hidup dalam kegelapan. Terakhir, dalam bahasa Indonesia, istilah yang digunakan untuk ilmu hitam adalah suanggi atau ilmu hitam. Istilah suanggi berarti roh jahat yang telah dimanipulasi oleh manusia untuk menyakiti orang lain. Orang yang memanipulasi atau berkolaborasi dengan roh jahat itu disebut orang bersuanggi yang secara harafiah berarti seseorang yang memiliki roh jahat yang digunakan atau disuruhnya untuk menyakiti sesama manusia. Dalam bahasa Indonesia, istilah lain yang biasa digunakan adalah ilmu hitam, yang merupakan terjemahan Indonesiauntuk istilah Inggris black magic. Penggunaan kedua istilah ini, suanggi (roh jahat) dan ilmu hitam (black science,black magic), menunjukkan bahwa sorcery& witchcraftdalam pandangan masyarakat Indonesia adalah sebuah sistem ilmu pengetahuan yang biasa digunakan untuk menyakiti orang lain dengan berkolaborasi dengan roh jahat sebagai agen utama untuk mengeksekusi misi destruktif ini. Kesimpulannya, meskipun istilah-istilah yang digunakan untuk menamai fenomena ini berbeda-beda, praktik jahat sorcery & witchcraft (ilmuh hitam), menurut pandangan orangFlores, dilakukan oleh seseorang untuk menyakiti sesama manusia atau harta milik orang lain seperti tanaman atau ternak, dengan secara misterius berkolaborasi dengan roh jahat dan kemudian mengirim roh jahat sebagai agen utama untuk mengksekusi misinya yang jahat. Kategori dari Edward Evans Pritchard Hampir semua ilmuwan duniadewasa ini, yang mengadopsi kategori yang dibuat oleh Edward Evans Pritchard berdasarkan penelitiannya di antara orang-orang Azande di Sudan Selatan, Afrika, tahun 1937, mengklaim bahwa ada dua tipe utama ilmu hitam: sorcerydan witchcraft. A.D.J. Macfarlane, misalnya, merangkum temuan Evans Pritchard yang memperlihatkan perbedaan yang jelasdan juga kesamaan antara sorcery JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 74 dan witchcraft sebagai berikut: Distingsi antara keduanya adalah menyangkut perbedaan cara yang ditempuh: sedangkan akibat akhirnya tetap mirip. Baik witches maupun sorcerers melukai korbannya. Menurut orang Azande, seorang pribadi manusia itu adalah witch. Witchcraftadalah sebuah kualitas yang melekat [dalam diri pelaku ilmu hitam], sedangkan sorcerers dapat bertindak atas satu cara. Sorcerers sadar akan aktivitasaktivitas mereka, sedangkan witches, yang kekuatannya bersifat internal, kerap tidak sadar bahwa mereka adalah witches sampai mereka dituduh demikian [oleh sesama]. Witchmerupakan kendaraan dari sebuah kekuatan yang lebih besar dari dia sendiri, sedangkan sorcerer mengontrol kekuatan yang melekat pada ‘obat-obatan’ atau obyek-obyek lain. Walaupun keduanya dipicu oleh perasaan-perasaan anti-sosial, tapi witch bersifat jahat secara permanen, kekuatan [jahatnya] diwariskan dari keluarga [orangtua atau nenek] atau diajari [ilmu hitam ini] sejak usia masih sangat kecil, sedangkan sorcererakan berbahaya hanya pada saat-saat tertentu dan memperoleh kekuatan jahat ini pada usia dewasa melalui sebuah proses transmisi diri yang lebih sadar.15 Dalam kata-katanya sendiri, Evans menggambarkan keunikan witchcraft dengan membandingkannya dengan jenis ilmu hitam lainnya (ngwa) di antara orang Azande, Sudan Selatan, sebagai berikut: Kita mengambil beberapa konsep orang Zande dan menggunakannya untuk membedakan sebuah simbol dalam bahasa Inggris. Bagi orang Zande mangu (witchcraft) dan ngwa (obatataumagic) adalah dua hal yang berbeda. Mangumerupakan sebuah turunan (hereditary trait) yang dapat ditemukan di dalam perut seorangwitch (ira mangu, pemilik dari mangu). Ia merupakan sebuah fakta fisiologis dan fungsinya tidak perlu menggunakan sihir konkret, bahan material obat, mantra, dan upacaraNgwa di sisi lain ditandai oleh atribut khusus sihir di seluruh dunia, elemen material, mantera, ritus dan kondisi pelaku.16 Beberapa burung dan hewan malam berhubungan erat denganilmu sihir dan dianggap sebagai para pelayan dari penyihir manusia dan bersekutu dengan mereka. Yang termasuk di dalamnya adalah kelelawar, yang secara universal ditakuti karena sifatnya yang jahat 15 16 A.D.J. Macfarland, “Definition of Witchcraft” dalam Max Marwick, Witchcraft and Sorcery, Ibid., p. 41. E.E. Evans Pritchard, “Sorcery and Native Opinion” in Max Marwick, Witchcraft and Sorcery, Ibid., pp. 24-25. 75 Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) dan burung hantu yang diyakini sebagai pembawa khabar buruk padamalam hari. Makhluk-makhluk malam ini kerap dikaitkan dengan para penyihir karena sihir terutama aktif di malam hari .... Penyihir sendiri tetap tertidur lelap di tempat tidurnya selama ilmu sihirnya beraksi. Ia hanya mengutus roh mangu-nya [roh jahat, polo, suanggi] ... untuk mencapai tujuannya. Roh mangu menghilangkan bagian dari dagingkorbannya .... dan melahapnya. Semua tindakan ini merupakan sebuah tindakan spiritual; roh mangu mengambil dan memakan roh dari tubuh.17 Dalam hubungan dengan dua kategori ilmu hitam, sorcerydan witchcraft, dari Evans Pritchard, Pamela J. Stewart dan Andrew Strathern secara ringkas menulis: “Witchcrat adalah ekspresi kekuatan ganas dalam tubuh seseorang dan sorcery merupakan penggunaan sarana keterampilan atau pengetahuan magis. Biasanya, apa yang diberi label witchcraftsering dianggap sebagai kekuatan yang memakan sesuatu (consuming force). Witch diyakini memakan kekuatan hidup dari korbannya (the life power of the victim).”18 Sorcery dan Witchcraf dari Orang Flores Kalau dilihat sepintas, tampaknya orang Flores tidak membedakan fenomena praktik ilmu hitam ke dalam kategori dari Evan Pritcchard:witchraft dan sorcery. Orang Flores hanya menyebut praktik ilmu hitam dengan istilah janto (Manggarai), polo (Ngada, Nagakeo, Ende dan Lio), u’en (Sikka) dan menaka’ang (Lamaholot), dan orang yang mempraktikkanya disebut ata janto ( Manggarai), ata polo (Ngada, Nagekeo, Ende dan Lio), ata u’en (Sikka) dan ata menaka’ang (Lamaholot). Singkatnya, suku-suku di Flores tidak memiliki kategori ilmu hitam yang parallel dengan kategori ilmu hitam yang dibuat oleh Evans Pritchard: sorcery dan witchcraft. Namun jika diamati dengan teliti, apa yang Evans Pritchard kategorikan sebagai sorcery dan witchcraft juga ada dalam suku-suku Flores. Ketika warga masyarakat ditanya tentang hal ini, mereka mengatakan bahwa para 17 18 E.E. Evans Pritchard, “Witchcraft among the Azande” dalam Max Marwick, Witchcraft and Sorcery, Ibid., pp.28-29. Pamela J. Steward and Andrew Strathern, Witchcraft, Sorcery, Rumors and Gossip (New York: Cambridge University Press, 2004), pp. 1-2. JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 76 pelaku ilmu hitam biasanya membuat orang lain sakit dengan berbagai cara. Mereka, misalnya, dapat meniupkan kekuatan supranaturalnya dari jarak jauh untuk menyakiti seorang yang ditargetkannya. Mereka juga dapat melakukannya hanya dengan menyentuh calon korbannya seperti bayi dan mereka akan langsung jatuh sakit seketika.19 Baik orang Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Lio maupun Sikka mengklaim bahwa roh-roh jahat dari orang-orang yang bersuanggi20 biasanya keluar pada malam hari dalam rupa binatang seperti kucing atau anjing besar atau kuda. Swaktu orang bersuanggi tidur lelap pada malam hari, roh jahat ini keluar dari tubuhnya melalui lubang pantat, dengan mengambil rupa atau wajah dari pelaku praktik ilmu hitam, telanjang sambil memancarkan cahaya berwarna merah menyala dan terus pergi mengintip-intip mencari manusia yang menjadi korbannya. Roh jahat dari orang bersuanggi ini yang kemudian disebut poti laco(setan telanjang) oleh orang Ruteng di Manggarai ataupoti mbolang(setan telanjang) oleh orang Kolang dan Ndoso di Manggarai Barat. Atau oleh orang Rego dan Pacar di Manggarai Barat disebut poti ngeping (setan pengintip) dan mata mbere (setan bermata merah). Secara harafiah hal ini artinya setan atau roh jahat telanjang bermata merah yang mengendap-endap menyelinap masuk di rumah orang untuk menyakitinya dan hal ini pada umumnya terjadi pada malam hari. Orang Ngada, Nagekeo dan Ende menyebutnya polo wera yang artinya setan merah. Orang Sikkadan Lio bahkan menyebutnya secara lebih lengkap u’en ube merak(Sikka: u’en=setan, ube=pantat, merak=merah) dan polo mburi mera (Lio: polo=setan, mburi=pantat, mera=merah) yang artinya setan merah keluar dari pantat. Selain itu, warga masyarakat Rego di Manggarai Barat percaya bahwa roh jahat yang bekerjasama dengan pelaku praktik ilmu hitam itu tinggal di dalam tubuh dari pelakunya selama 24 jam sehari. Jadi roh jahat ini sudah menjadi semacam jiwa kedua baginya (the second soul) dan hanya keluar dari tubuh orang tersebut pada malam hari melalui pantat, membawa rupa dari orang tersebut dan berjalan dalam keadaan telanjang sambil 19 20 Focus Group Discussiondengan sekelompok orang di Rego, 18 Desember 2016. Sebenarnya bukan pribadi atau roh atau jiwa dari orang yang mempraktikkan ilmu hitam, tapi roh jahat yang tinggal menyatu dalam diri orang yang mempraktikkan ilmu hitam. Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) 77 memancarkan cahaya berwarna merah. Hubungan antara keduanya, yaitu antara roh jahat dan pelaku ilmu hitam begitu intim sama seperti hubungan antara suami dan istri. Itu sebabnya, oleh orang Rego di Manggarai Barat, roh jahat ini disebut wina wa yang secara harafiah artinya istri istri simpanan (jika sang pelaku adalah seorang pria) atau rona wa yang secara harfiah artinyasuami simpanan (jika sang pelaku adalah seorang wanita). Dengan demikian, pelaku praktik ilmu hitam dan roh jahat yang bersemayam di dalam tubuhnya menjadi satu. Ketika pelaku ilmu hitam (thewitch) sedang tidur pada malam hari, maka wina wa atau rona wa (roh jahat) keluar dari tubuhnya, melalui pantat, sambil memancarkan cahaya berwarna merah, mengambil rupa dirinya, telanjang dan langsung beraksi pergi mencariseorang korban.21 Menurut Gregory L. Forth, roh jahat yang disebut wina wa atau rona wa oleh orang Manggarai Barat dikenal sebagai wa oleh orang Nage di Nagekeo. Dari penelitiannya di Nage, Forth melaporkan bahwa pada malam hari wa diyakini meninggalkan tubuh dari pelaku praktik ilmu hitam (the witch) dan dalam rupa dari sang pelaku atau hewan dan langsung pergi mencari korban. Selamawa pergi mencari korban, tubuh duniawi dari pelaku praktik ilmu hitam tetap tertidur pulas dan hanya bisa bangun setelah wa masuk kembali ke dalam tubuhnya melalui pantat.22 Para pelaku yang mempraktikkan ilmu hitam dengan cara ini dapat dimasukkan dalam kategori Evan Pritchard sebagai witches dan seluruh aktivitasnya disebut witchcraft. Sedangkan para pelaku lain yang mempraktikkan ilmu hitam dengan menggunakan berbagai medium untuk membahayakan korban mereka, baik manusia maupun harta milik seperti tanamandan ternak disebut sorcerers dan seluruh aktivitasnya disebut sorcery. Motivasi dari Praktik Sorcery danWitchcraft Seperti di masyarakat dunia lainnya, sorcerers dan witches di Flores menyihir atau menyantet (to sorcerizeor to bewitche) orang lain karena 21 22 Focuss Group Discussion dengan sekelompok orang di Rego Manggarai Barat, 18 Desember 2018. Gregory L. Forth, Beneath the Volcano: Cosmology and the Classifications of Spirits among the Nage (Verhandelingan Van Het Koninklijk Institute Voor Taal-, Land-End Volkenkunde, 1998), p.57. JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 78 cemburu, baik itu karena status sosial, status ekonomi, atau karena perselisihan dalam urusan keluarga setiap hari. Selama Focus Group Discussion (FGD) di Rego, Manggarai Barat, warga masyarakat mengatakan bahwa alasan untuk disihir (to be sorcerized or to be bewitched) sering kali sangat sepelealias tidak serius. Para sorceres atau witchestidak memiliki rasa belaskasih ketika memutuskan untuk menyihir atau menyantet orang lain. Mereka tidak memiliki pertimbangan rasional atau moral. Sehubungan dengan hal ini, seorang warga masyarakat katakan: “Jika kita orang biasa marah dengan tetangga, biarpun alasannya sangat serius, pada akhirnya kita tetap memiliki rasa belaskasihdan ada ruang untuk memaafkan. Kita tidak akan membunuh tetangga kita walaupun kita sangat marah padanya. Tetapi mereka yang ada pake-pake itu, ata janto, meskipun alasan untuk marah sangat sepele, mereka tidak akan memiliki belaskasihan dan akan menyantet orang itu sampai mati. Mengapa? Jawabannya adalah karena tindakan mereka sepenuhnya berada di bawah kendali roh jahat.”23 Pada umumnya para korban adalah para tetangga dan keluarga mereka sendiri seperti paman, bibi, keponakan, sepupu, mertua, ipar, mertua atauputeri atau putera menantu. Ke-38 korban dari ata janto (sorcerer or witch) di sebuah kampung di Manggarai Barat, misalnya, semuanya masih berhubungan keluarga dengandirinya dan tinggal di kampung yang samadengannya. Setiap korban ini juga memiliki masalah dengan ata janto mulai dari hal yang sepele sampai hal yang serius. Di sebuah kampung asal saya di Rego, saya diberitahu oleh kerabat saya pada tanggal 18 Desember 2016 bahwa seorang ibu (70 tahun), Rosalia Jojo (bukan nama sebenarnya) yang dikenal lama sebagai ata janto diceriterakan telah menyihir puteri menantunya sendiri hingga meninggal dunia. Dua hari kemudian, pada tgl 20 Desember 2016, saya pergi mengunjungi seorang pendoa (paranormal), di sebuah kampung, 8 km dari kampung saya, untuk menggali pengalamannya mengenai fenomena janto dan ata janto. Di antara sekian banyak informasi yang diperoleh, paranormal ini mengatakan bahwa ata janto Rosalia Jojo pernah secara terus terang mengaku hal ini kepadanya. 23 Focus Group discussion dengan sekelompok orang di Rego, Manggarai Barat, 18 Desember 2018. Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) 79 Pada tgl 11 Desember 2016, ata janto Rosalia Jojo pergi kepada paranormal di Kampung Munting untuk meminta kembali jimat yang pernah diserahkan secara paksa kepada paranormal ini 8 tahun sebelumnya dalam rangka operasi ilmu hitam.Paranormal ini menolak permintaannya. Paranormal ini berceritera: “Pater Alex,ata Janto Rosalia Jojo ada di sini minggu lalu tanggal 11 Desember 2016. Ia menginap semalam di rumah saya. Tanpa sadar ia membuka semuanya. Coba bayangkan. Dia katakan: ‘Saya bahkan sudah menyihir menantuku sendiri. Mana bisa. Dia selalu mempermalukan saya bahwa dia menyesal telah menikahi seorang pria dari keluarga yang sangat miskin. Saya tidak bisa tahan. Sehingga saya menyantetnya dan dia langsung meninggal setelah itu. ‘Saya katai dia waktu itu:“ Oh, jadiengkau juga ingin menyihir saya seperti kamu menyihir menantumu itu? Tidak mungkin! Tuhan Yesusku lebih kuat dari roh jahatmu itu.” Pelaku ilmu hitam juga menyantet orang lain untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Orang Manggarai cukup akrab dengan apa yang disebut mbeko janto plambar. Ini adalah praktik ilmu hitam yang membuat korban yang dituju tiba-tiba menderita sakit perut yang hebat yang diikuti dengan diare. Ketika pelaku praktik ilmu hitam akan membuat rencana untuk mengunjungi kerabatnya di sebuah kampung tetangga, dia biasanya akan mengutus roh jahat mendahuluinyadan secara acak menyerang satu atau dua orang warga di kampung yang akan dituju. Pada saat kedatangan ata janto (sorcerer), orang tentu masih sedang sibuk membantu anggota keluarga mereka yang tiba-tiba sakit perut. Dan ata janto akan menenangkan mereka.tanpa diminta, dia akan menawarkan bantuannya dengan memberikan orang sakit tersebut segelas air yang diamdiam dia doakan mantra. Dalam beberapa saat, orang sakit akan pulih lagi kesehatannya. Kemudian ata janto dengan sendirinya akan dilihat sebagai penolong yang diutus Tuhan dan pada saat keberangkatannya dia akan mendapatkan berbagai bentuk upeti sebagai balasan untuk pertolongannya. Padahal, dialah, melalui roh jahat yang disuruhnya, yang menyantet orang di kampung bersangkutan hingga sakit. Selain itu, pelaku praktik ilmu hitam juga menginginkan orang, terutama tetangga mereka, untuk mengetahui bahwa mereka memiliki 80 JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 ilmu hitam. Hal ini akan memaksa tetangga mereka untuk selalu berperilaku sopan ketika berhadapan dengan mereka. Tetangga mereka, misalnya, terpaksa akan selalu berusaha tidak bersikap kasar terhadap mereka. Jika ata janto, ata polo atau ata u’eningin meminjam sejumlah uang, orang akan takut untuk tidak memberikannya. Kesimpulannya, pelaku praktik ilmu hitam cukup sering menggunakan status mereka sebagai orang bersuanggi sebagai senjata untuk menindas atau memeras sesama demi keuntungan ekonomi. Dari segi ini mereka merupakan penindas sosial. Biarpun demikian, secara umum mereka miskin secara ekonomi. Kehidupan keluarga mereka tidak terlalu baik, tidak bahagia dan mereka umumnya tidak berhasil dalam bisnis apa pun. Anak-anak mereka gagal di sekolah dan seterusnya. PARA PENDOA DAN KEKUATAN AIR BERKAT Walaupun fenomena ilmu hitam sangat real dan faktual, menggejala secara cukup universal, karena hampir dipraktikkan oleh semua suku di mana saja di seluruh dunia, entah pada zaman kuno atau zaman modern, tetap tidak semua orang, baik dalam masyarakat Eropa modernmaupun di desa-desa miskin di Flores, percaya pada keberadaan praktik ilmu hitam. Sehubungan dengan hal ini, Max Marwick, menulis “Pendahuluan” untuk sebuah buku yang dieditnya, Witchcraft and Sorcery: Selected Readings tahun 1970, mengatakan bahwa di dunia Eropa modern pada tahun 1970-an, para pelaku ilmu hitam, witches dan sorceres, sering ditampilkan melalui mitos dan ceritera dongeng. Hal ini mendorong orang Eropa modern untuk percaya bahwa praktik ilmu hitam merupakan praktik-praktik tidak riil tetapi hanya khayalan belaka. Akan tetapi, berbeda dengan anggapan ini, laporan mengenai praktik-praktik esoteris dari pelaku ilmu hitam membuktikan bahwa praktik ilmu hitam, sorcery dan witchcraft, tidak pernah mati dalam masyarakat modern Eropa.24 Saya berargumentasi bahwa hal yang sama juga berlaku benar di seluruh Indonesia umumnya dan di Flores khususnya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, fenomena praktik ilmu hitam terjadi di hampir setiap kampung dan merupakan salah satu sumber 24 Max Marwick, “Introduction”, in Max Marwick, Witchcraft and Sorceryh, Ibid., p.11 Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) 81 konflik di setiap kampung di Flores. Ia merupakan monster tak kelihatan yang mengancam kehidupan jiwa. Akan tetapi, biarpun demikian, banyak orang di Flores meragukan keberadaan dari ilmu hitam. Orang berpendidikan seperti dokter dan perawat cenderung tidak percaya bahwa praktik ilmu hitam merupakan salah satu penyebabyang membuat orang jatuh sakit. Bahkan sejumlah orang kampung sendiri sendiri juga memiliki keraguan tentang hal ini. Mereka, misalnya, mengatakan: “Mungkinkah manusia –atajanto, ata polo, ata u’en–bisa bekerjasama dengan roh jahat yang tak kelihatan itu untuk menyakiti orang lain? Bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana mungkin Setan membuatmu sakit, membuat kepalamu sakit atau membuatmu sakit perut?” Berkenaan dengan hal ini seorang dokter pernah mengatakan:“ Pater, saya memeriksa seorang pasien di sebuah rumah sakit dan orang tersebut secara positif memiliki masalah hati – hepatitis akut. Tiga hari kemudian dia meninggal. Tapikeluarganya mengklaim bahwa praktik ilmu hitam merupakan penyebab kematiannya. Lalu seluruh keluarga pergi menuduh seorang pria yang dicurigai sebagai ata janto. Bagi saya, itu tidak masuk akal.”25 Berlawanan dengan pendapat mereka ini, pengalaman para pendoa di Flores menunjukkan bahwa janto, polo, u’en atau menaka’ang (ilmu hitam) benar-benar ada. Cara kerjanya dapat dideteksi dan kekuatannya yang mematikan dapat dikalahkan oleh kekuatan supernatural dari Tuhan sendiri. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, dalam beberapa tahun terakhir,beberapa umat Kristen Katolik, yang dikenal sebagai para pendoa, telah memburu praktik ilmu hitam di Flores dengan cara mereka sendiri. Para pendoa ini ini diyakini memiliki karunia khusus untuk mengidentifikasi dan bahkan menjinakkan kekuatan gaib ilmu hitam ini terutama yang menggunakan medium-medium. Para pendoa mengklaim mampu mendeteksi lokasi tersembunyi dari medium-medium yang diam-diam disimpan oleh praktiktisi ilmu hitam atau oleh roh-roh jahat di rumah para korban yang dituju. Bahan-bahan umum yang digunakan sebagai medium bermacam-macam, misalnya, 25 Dokter Ica chatted with me in Ruteng on the 3rd of January 2017. JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 82 beberapa helai rambut, sepotong korek api, peniti tua yang sudah, tusuk rambut tua yang sudah karat, kancing tarik tua yang sudah karat, batu, pecahan kaca, potongan bambu tajam, akar pohon aneh yang dicampur dengan minyak aneh dan sebagainya. Semua pendoa di berbagai tempat dan wilayah di Pulau Flores mengaku bahwa medium-medium ini memancarkan semacam energi negative yang kuat yang menyebabkan radiasi panas di sekitarnya dan diyakini hal ini yang menyebabkan korbannya jatuh sakit dan bahkan bisa menyebabkan kematian bagi korban yang ditargetkan atau tanaman milik mereka atau ternak. Para pendoa dapat merasakan kekuatan panas mematikan dari medium-medium ini dan radiasi ini akan reda atau menghilang hanya setelah direciki dengan air dan garam berkat. Kemudian kesehatan korbannya perlahan-lahan membaik. PENUTUP Salah satu kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kekuatan tak kelihatan dari roh-roh jahat itu sungguh ada. Ia beroperasi melalui praktik ilmu hitam, sorcery dan witchcraft. Ia amat nyata. Kekuatan Setan dan rohroh jahat lainnya dapat dimanipulasi oleh manusia yang dikenal sebagai pelaku praktik ilmu hitam dengan memohon kekuatan roh jahat yang tak kelihatan ke dalam medi-medium tertentu untuk membahayakan korban yang ditargetkan, baik secara langsung (witchcraft) maupun secara tidak langsung melalui medium (sorcery). Namun kekuatan tak keliahtan dari roh-roh jahat yang dimanipulasi ini dapat dikalahkan oleh kekuatan Allah sendiri yang ditransferkan ke dalam air suci. Menurut teologi Katolik, imam yang ditahbiskan dapat memohon kekuatan kuasa Allah yang melindungi dan menyembuhkan untuk masuk ke dalam air dan garam sehingga air dan garam ini menjadi bahan yang mengandung kekuatan Tuhan sendiri yang melindungi dan menyembuhkan. Kemudian, melalui materi yang diberkati ini, Allah sendiri dapat menghalau kekuatan jahat apa pun atas mereka yang percaya dan mau menggunakannya. Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) 83 DAFTAR RUJUKAN Arndt Paul SVD, Du’aNggae: Wujud Tertinggi dan Upacara Keagamaan di Wilayah Lio Flores Tengah. Maumere: PuslitCandraditya, 2002. --------Agama Orang Ngada: Dewa, Roh-roh Manusia dan Dunia. Maumere: Candraditya, 2015. --------Mithologie, Religion und Magie Im Sikagebiet-OstMittelflores (Germany: ……) Note: The front part of this old book is unreadable so that the year of publication and publisher cannot be identified. Baker, Yohanes SJ, “Gereja Katolik Perintis di Indonesia/Pioneer Church in Indonesia 645 – 1500,” in MUSKENS M.P.M, Sejarah GerejaKatolik Indonesia/History of Indonesian Catholic Church. Jakarta: Dokumentasi Penerangan Kantor Wali Gereja Indonesia, 1974). Beding, Marcel and Mukese, John Dami, DalamTerang Pelayanan Sabda. Ende, Indonesia: Koordinator/Ketua Komisi Komunikasi Provinsi SVD Ende, 1988. Benedict XV. Maximum Illud: Apostolic Letter on the Propagation of the Faith throughout the World. Rome, 30thof November, 1919. Catechism of the Catholic Church. Cattá del Vaticano: Libreria Editrice Vaticana, 1994. Dieter Betz Hans, “Magic in Greco-Roma Antiquity” in Mircea Eliade (ed.), Encyclopedia of Religion, Vol. 9. New York: McMillan Publishing Company, 1987. Evans Pritchard, E.E., “Sorcery and Native Opinion” in Max Marwick, Witchcraft and Sorcery. Middlesex: England, 1975. ------------------ “Witchcraft among the Azande” in Max Marwick, Witchcraft and Sorcery. Middlesex: England, 1975. “Ekaristi Dot Org” (online) http://www.ekaristi.org/index.php (accessed on the 17th of February 2017, virtual page no version. Forth, Gregory L., Beneath the Volcano: Religion, Cosmology and Spirit Classification among the Nage. Netherland/BRILL: KITLV Press, 1998. -----------, Images of the Wildman in Southeast Asia: An Anthropological Perspective.London & New York: Routledge, 2008. Hardawiryana, Robert SJ, “Asia and Indonesia,” in MOTE Mary FMM and LANG Joseph R., MM (eds.), Mission in Dialogue: The Sedos Research Seminar on the Future of Mission March 8-19, Rome-Italy, New York: MaryknollOrbis Books, 1982. 84 JURNAL LEDALERO, Vol. 18, No. 1, Juni 2019 Hill, Donald R., “Magic in Primitive Societies”, in Mircea Eliade (ed.), Encyclopedia of Religion, Vol. 9. New York: McMillan Publishing Company, 1987. “Indonesia:Statistics by Diocese,” in http://www.catholic-hierarchy.org/ country/scid1.html (accessed on 24/01/2017, virtual page no version). Ion Petru Culianu, “Magic in Medieval and Renaissance Europe”, in Mircea Eliade (ed.), Encyclopedia of Religion, Vol. 9. New York: McMillan Publishing Company, 1987. Koka, Marselinus, “Konsep Suanggi pada Masyarakat Rio-Minsi [Ngada] dan Pengaruhnya bagi Penghayatan Iman Kristen” (Skripsi di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Indonesia, 2012. Macfarland A.D.J, “Definition of Witchcraft” in Max Marwick, Witchcraft and Sorcery. Middlesex: England, 1975. Mayer, Philip, “Witches” in Max Marwick, Witchcraft and Sorcery: Selected Readings. Middlesex-England: Penguin Education. Moffett, Samuel Hugh, A History of Christianity in Asia, Vol. II: 15001900. New York, NY: Orbis Books, 2005. Molhmann Anton SVD and NDOUK Wolfgang SVD, “Kronik Sejarah 75 Tahun SVD Berkaya di Indonesia 1913 – 1988”, in DJAWA Hendrik, Beding Marcel dan Mukese John Dami, Dalam Terang Pelayanan Sabda: 75 Tahun Misi SVD di Indonesia 1913-1988. Ende, Indonesia: Koordinator/ketua Komisi Komunikasi Provinsi SVD Ende, 1988. Narek Untung Marselinus, “Suanggi dalam Kacamata Masyarakat Ile Pati dan Dampaknya bagi Karya Pastoral serta Jawaban Atasnya” (Skripsi Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Indonesia, 2016. Nation, Master, “Indonesia: Religion” in http://www.nationmaster. com/country/id-indonesia/rel-religion(accessed on the 24th of December, 2017, virtual version no page). Panitia Sidone Keuskupan Ruteng, Pastoral Pendidikan dan Pastoral Sosial Ekonomi: Sinode III Sesi II Keuskupan Ruteng 28.04-01.05.2015. Ruteng: Sekretariat Sinode III Keuskupan Ruteng, 2014. Rondo Rafael, “Fenomen Suanggi Menurut Orang Nae dan Dampaknya bagi Iman Mereka” (Skripsi STFK Ledalero, Flores, Indonesia, 1989. Seminari Koferensi Wali Gereja Indonesia, http://www.seminarikwi.org/ index.php? pilih=hal&id=3, (accessed on the 24th of January, 2017, virtual version no page). 85 Fakta Praktik Ilmu Hitam di Flores dan Daya Ilahi Air Berkat (Alexander Jebadu) Steward, Pamela J. and Strathern, Andrew, Witchcraft, Sorcery, Rumors and Gossip. New York: Cambridge University Press, 2004. Verheijen Jilis A.J. SVD, Manggarai dan Wujud Tertinggi. Jakarta: LIPIRUL, 1991. Zocca, Frans (ed.), Sangguma in Paradise: Sorcery, Witchcraft and Christianity in Papua New Guinea. Goroka: Melanesian Institute, 2009. Wawancara Andy Latu (45), Pastor Katolik di Keuskupang Ruteng, diwawancara di Ruteng pada tgl 28 Desember 2016. Aloysius Gamur (40), Pastor Katolik Kesukupang dan diwawancara di Cancara 6 Januari, 2017. Janggat Yance Janggat SH (60), Pengacara, diwawancara Manggarai, pada tgl 29 Desember, 2016. di pendoa, Ruteng, Jerhani Vinsensius (40), warga desa , diwawancara di Rego 15 Desember, 2016. Ica (30), doktrer medis, diwawancara di Ruteng pada tanggal 2 Januari, 2017. Nadjo Vinsen (60), warga desa dan pendoa, diwawancara di Rego pada tanggal 18 Desember, 2016. Pea Antonius SVD (43), Pastor Katolik dari Serikat Sabda Allah (SVD = Societas Verbi Divine) dan seorang pendoa, diwawancara di Kisol pada tanggal 7 Januari , 2017. Petronella (46), warga desan dan pendoa, diwawancara di Pacara, pada tanggal 20 Desember, 2016. Munting, Mama Rio (55), warga Desa , diwawancara di di Rego pada tanggal 14 Desember, 2016. Tarni John (45) warga desa dan pendoa, diwawancara di Rego pada tanggal 18 Desember, 2016

Judul: Fakta Praktik Ilmu Hitam Di Flores Dan Daya Ilahi Air Berkat

Oleh: Jurnal Ledalero


Ikuti kami