Ilmu Asbabul Wurud Disusun Oleh Kelompok 12 Kelas / Semester : Pmm-3 / 1

Oleh Siti Aisyah Sagala

211,2 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Ilmu Asbabul Wurud Disusun Oleh Kelompok 12 Kelas / Semester : Pmm-3 / 1

ILMU ASBABUL WURUD DISUSUN OLEH KELOMPOK 12 KELAS / SEMESTER : PMM-3 / 1 1. KHOIRUNNISA (0305182125) 2. LILY FADILLA MATONDANG (0305181006) 3. SITI AISYAH SAGALA (0305181048) DOSEN PENGAMPU : Dr. MUHAMMAD ROZALI,MA PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA 2018/2019 A. PENDAHULUAN Hadis adalah segala perkataan, perbuatan, persetujuan, dan segala sesuatu yang berasal dari rasulullah Saw. Hadis merupakan sumber pokok ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Hadis dan Al-Qur’an adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena Al-Qur’an dan hadis saling berkaitan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa hadis adalah sebagai penjelas hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan Al-Qur’an diturunkan masih bersifat umum, agar pelaksanaan perintah Al-Qur’an dapat dipahami dan dilaksanakan dengan tepat maka diperlukannya hadis (sebagai penjelas). Didalam ilmu hadis ada istilah Asbabul Wurud yaitu latar belakang munculnya hadis. Ketika mencoba memahami suatu hadis tidak hanya cukup melihat teks hadisnya saja, melainkan melihat konteksnya. Ketika ingin menggali pesan moral dari hadis harus dilihat konteks historinya, tanpa memperhatikan konteks historinya kita akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami suatu hadis dan dapat menjadi keliru dalam pemahamannya. Disinilah dibutuhkannya Asbabul Wurud, yang bertujuan agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang makna hadis. B. ILMU ASBABUL WURUD 1. Pengertian Ilmu Asbabul Wurud Kata asbab adalah jama’ dari sabab yang berarti saluran (segala yang menghubungkan satu benda dengan benda lainnya), sedangkan menurut istilah asbab adalah ‫ص ُل ِب ِه ِإلَى غَايَتِ ِه‬ َّ ‫َىءٍ يَت ََو‬ ْ ‫ُك ِلّى ش‬ “ Segala sesuatu yang mengantarkan pada tujuan”. Adapun kata wurud bisa berarti sampai, muncul, dan mengalir, seperti : ُ‫ْال َما ُء الَّذِي ي ُْو َرد‬ 1 “Air yang memancar, atau air yang mengalir”1 Mahmud at-Tahhan mendefinisikan ilmu asbab wurud al-hadis adalah ُ ‫ب الَّذِى َو َردَ أل َج ِل ِه ْال َح ِدي‬ ‫ان الَّذِى َجا َء ِب ِه‬ ُ َ‫سب‬ ُ ‫َع ِل َم يَ ْع َر‬ َ ‫ف ِب ِه ْال‬ ِ ‫ْث َوالزَ َم‬ “Ilmu yang menerangkan sebab-sebab (Nabi Saw) menyampaikan sabdanya dan masa-masa Nabi menuturkannya”2. Dari definisi diatas dipahami bahwa ilmu asbabul wurud adalah ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan waktu beliau menuturkan sabdanya itu.3 Asbabul wurud memiliki kaitan dengan pembahasan nasikh dan mansukh yang membantu kita untuk mengetahui yang terdahulu dan yang terkemudian.4 Asbabul wurud ini dapat berfungsi sebagai pisau analisis untuk menentukan apakah hadis itu bersifat umum atau khusus, mutlak atau muqayyad, naskh atau mansukh, dan lain sebagainya.5 Dikatakan seperti itu dikarenakan adanya peristiwa atau pertanyaan dari sahabat. Jadi, lebih singkatnya asbabul wurud adalah sebab-sebab atau latar belakang kenapa turunnya suatu hadis. Dimana asbabul wurud ini menerangkan situasi dan suasana saat Nabi Muhammad SAW menyabdakan haditsnya. 2. UrgensiIlmuAsbabul Wurud Dalam Studi Hadis Asbabul wurud mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka memahami suatu hadis. Hal ini disebabkan karena biasanya hadis yang disampaikan Nabi bersifat kasuistik, cultural bahkan temporal. Pemahaman hadis yang mengabaikan peranan asbabul wurud biasanya bersifat kaku, literalis-skriptualis, bahkan kurang akomodatif pada perkembangan zaman. Menurut Imam As-suyuthi urgensi ilmu asbabul hadis antara lain: 1 Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014) h. 39. Ahmad Zuhri, Fatimah Zahara, Ulumul Hadis, (Medan: CV.Manhaji dan Fakultas Syariah UINSU,2015) h. 72. 3 Ibid. 4 Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, Ushul al-Hadis, (Jakarta: Gaya Media Pratama Jakarta, 2003) h. 260. 5 M.Yacoeb, Media Kajian Keagamaan dan Ilmu Sosial, Sintesa, Vol. 15 No. 2, 2016, h. 82. 2 2 1. Menentukan adanya takhsish hadis yang bersifat umum 2. Membatasi pengertian hadis yang masih mutlak 3. Memerinci hadis yang masih bersifat global 4. Menentukan ada dan tidaknya nash-mansukh dalam suatu hadis 5. Menjelaskan ‘illat (sebab-sebab) ditetapkannya suatu hukum 6. Menjelaskan maksud suatu hadis yang masih musykil(sulit dipahami).6 Tetapi tidak semua hadis mempunyai asbabul wurud seperti halnya tidak semua ayat Al-Qur’an mempunyai asbabun nuzul.Ulama yang mula-mula menyusun kitab asbab wurud al-hadis adalah Kaznah Al-Jubari dan Abu Hafash ‘Umar ibn Muhammad ibn Raja’Al-Ukbari (339 H).Kitab yang terkenal adalah kitab Al-Bayan wa Al-Ta’rif yang disusun oleh Ibrahim ibn Muhammad Al-Husaini.7 Keuntungan mempelajari ilmu ini sama seperti keuntungan mempelajari ilmu asbabul nuzul, yaitu dapat memahami isi al-qur’an begitu juga dengan ilmu asbabul wurud agar dapat memahami isi kandungan hadis. 3. Contoh Aplikasi Ilmu Asbabul Wurud Ada beberapa contoh mengenai fungsi asbabul wurud, yaitu : 1) Untuk menentukan adanya takhsish pada suatu hadis. Misalnya hadis yang berbunyi ‫ف َأجْ ِر ْالقَاِئ ِم‬ ْ ِ‫صلَّى قَا ِعدًا فَلَهُ ن‬ ُ ‫ص‬ َ ‫َم ْن‬ “Shalat orang yang sambil duduk pahalanya separuh dari orang yang sholat sambil berdiri.” (H.R.Ahmad) Pengertian “shalat” dalam hadis tersebut masih bersifat umum. Artinya dapat berarti sholat fardhu atau sholat sunnat. Dilihat dari konteks asbabul wurud maka dapat dikatakan “sholat” yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah sholat sunnat. Inilah yang dimaksud dengan takhshish, 6 7 Asep Herdi, Memahami Ilmu Hadis, (Tafakur,2014) h. 64. M.Agus Solahuddin,Agus Suyadi, Ulumu Hadis, (Bandung:Pustaka Setia,2008) h.122 3 menentukan kekhususan suatu hadis yang bersifat umum dengan memperhatikan konteks asbabul wurud. Asbabul wurud dalam hadis ini adalah ketika di Madinah dan penduduknya sedang terjangkit suatu wabah penyakit. Maka kebanyakan para sahabat melakukan sholat sunnah sambil duduk pada saat itu. Pada waktu itu kebetulan Nabi datang dan tahu bahwa mereka suka melakukan sholat sunnah sambil duduk, maka kemudian Nabi bersabda: “Sholat orang yang sambil duduk pahalanya separuh dari orang yang sholat sambil berdiri.” Mendengar pernyataan Nabi tersebut akhirnya para sahabat yang tidak sakit memilih sholat sunnat sambil berdiri. 2) Membatasi pengertian yang mutlak ُ ‫َم ْن َس َّن ِفي اِإل ْسالَ ِم‬ ُ‫ فَلَهُ َأ جْ ُرهَا َو َأجْ ُر َم ْن َع ِم َل ِب َها بَ ْعدَه‬,ً‫سنَة‬ َ ‫سنَّةً َح‬ ً‫سنَّة‬ ُ ‫س َّن فِي اِإل ْسالَ َم‬ َ ‫ َو َم ْن‬,‫َي ٌء‬ َ ٌ‫ِم ْن َغي ِْر َأ ْن يَ ْنق‬ ْ ‫ص ِم ْن ُأ ُج ْو ِر ِه ْم ش‬ ‫َير َأ ْن‬ َ ِ ‫ َكا نَ َعلَي ِه ِو ْز ُرهَا َو َو ْز ُر َم ْن َع ِم َل بِ َها ِم ْن بَ ْع ِد ِه ِم ْن غ‬, ً‫س ِيَّئة‬ ‫َي ٌء‬ َ ُ‫يَ ْنق‬ ْ ‫ص ِم ْن َأ ْو زَ ا ِر ِه ْم ش‬ “Barang siapa yang memberi teladan sunnah (perbuatan yang baik), ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”. (HR. Muslim).8 Kata “sunnah” masih bersifat mutlak artinya belum dijelaskan oleh pengertian tertentu. Asbabul wurud dari hadis tersebut adalah ketika itu Nabi sedang bersama sahabat lalu datang sekelompok orang yang sangat kumuh ternyata orang miskin, pada waktu rasulullah melaksanakan sholat 8 Asep Herdi, Memahami Ilmu Hadis (Tafakur, 2014) h. 64. 4 berjama’ah.Setelah sholat selesai rasulullah berpidato tentang agar bertaqwa kepada Allah dan menginfaqkan sebagian hartanya kepada kelompok orangyang miskin tersebut. Kemudian datang dari kaum anshar keluar sambil membawa bungkusan yang berisi makanan dan memberikannya kepada orang miskin tersebut dan diikuti oleh sahabat yang lain.As-suyuti menyimpulkan bahwa sunnah yang dimaksud sunnah yang baik. 3) Menjelaskan ‘Illat (sebab-sebab) ditetapkannya Suatu Hukum ‫اجدَ هَّللا ِ َو ْليَ ْخ ُرجْ نَ ت َ ِفالَتٍز‬ َ ‫الَت َْمنَعُ ْوا اِ َما َءهَّللا ِ َم‬ ِ ‫س‬ “Janganlah kamu menghalangi para wanita pergi ke masjid Allah dan hendaklah mereka pergi dengan tidak menggunakan wangi-wangian”. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan lain-lain. Nabi menyabdakan hadis-hadis ini berkenaan karena sahabat-sahabat Nabi melarang istri-istri mereka shalat ke masjid. Pernah Ummu Humait mengatakan kepada Rasulullah bahwa para wanita ingin shalat di belakang Rasul, tetapi suami mereka melarangnya. Berkenaan dengan itu, Nabi pun menyabdakan hadis ini dan tidak ada larangan bagi wanita untuk shalat ke Masjid.9 Cara mengetahui asbabul wurud suatu hadis yaitu dengan melihat aspek riwayat atau sejarah peristiwa wurudnya suatu hadis, sebab-sebab wurudnya hadis, ada yang sudah tercantum pada matan hadis itu sendiri,ada yang tercantum pada matan hadis lain. Apabila tidak tercantum maka ditelusuri melalui riwayat atau sejarah atas dasar pemberian para sahabat.10 C. PENUTUP 9 M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis (Jakarta : Karya Unipress Jakarta, 1994), h. 299. 10 Asep Herdi, Memahami Ilmu Hadis (Tafakur, 2014), h.67. 5 Salah satu cara memahami hadis adalah melalui penelusuran sejarah yang berkaitan dengan sebab munculnya hadis tersebutyang dinamakan asbabul wurud.Sebagai salah satu pembelajaran dalam ilmu hadis, asbabul wurud memiliki peran penting dalam rangka memahami maksud suatu hadis dengan lebih baik. Pemahaman tanpa asbabul wurud cenderung dapat membawa kepada pemahaman yang keliru. 6 DAFTAR PUSTAKA ‘Ajjaj, Muhammad. 2003. Ushul Al-Hadis. Jakarta: Gaya Media Pratama Jakarta. Ash-Shiddieqy, M. Hasbi. 1994. Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis(2). Jakarta: Karya Unipress. Herdi,Asep. 2014. Memahami Ilmu Hadis. Tafakur. Solahudin, Agus, Suyadi Agus. 2009. Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka Setia. Suparta, Munzier. 2014. Ilmu Hadis. Jakarta: Rajawali Pers. Ycoeb, M. 2016. Media Kajian Keagamaan dan Ilmu Sosial. Banda Aceh: Kopertais Wilayah V Aceh. Vol. 15 No. 2. 19 November 2018. Zuhri, Ahmad, Fatimah Zahara. 2015. Ulumul Hadis. Ed.2. Medan: CV. Manhaji dan Fakultas Syariah UINSU. 7

Judul: Ilmu Asbabul Wurud Disusun Oleh Kelompok 12 Kelas / Semester : Pmm-3 / 1

Oleh: Siti Aisyah Sagala


Ikuti kami