Faktor Pendukung Kekurangan Gizi Dilihat Dariaspek Ekonomi

Oleh Mayswibi Ni

130,9 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Faktor Pendukung Kekurangan Gizi Dilihat Dariaspek Ekonomi

Faktor pendukung kekurangan gizi dilihat dariaspek ekonomi Krisis ekonomi meningkatkan angka kemiskinan dan diikuti dengan penurunan kualitas gizi masyarakat. Indikatornya, di berbagai daerah terus ditemukan kasus busung lapar, gizi buruk, dan aneka penyakit rakyat karena melemahnya fisik serta menurunnya daya tahan tubuh karena kualitas gizi yang rendah, yang disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan dan ketidakberdayaan ekonomi. Banyak keluarga menghabiskan uang untuk rokok daripada untuk susu bagi anaknya. Kemiskinan memiliki hubungan yang timbal balik dengan gizi ini menyatakan bahwa, kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi kurang. Proporsi anak gizi kurang berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi prosentase anak yang kekurangan gizi. Makin tinggi pendapatan makin kecil prosentase anak yang kurang gizi, sementara itu kurang gizi pada anak akan berlanjut hingga dewasa akan berpotensi sebagai penyebab kemiskinan melalui rendahnya prestasi pendidikan pada sekolah dan rendahnya produktivitas pada sat mereka bekerja. Kemiskinan juga menjadi penyebab bagi keluarga dalam memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan . Faktor pendukung kelebihanan gizi dilihat dariaspek ekonomi Kelebihan gizi di kalangan menengah ke atas biasanya ditandai oleh kegemukan. Gemuk tak lagi menjadi simbol kemakmuran. Salah satu pemicunya adalah kehadiran junk food dan gaya hidup yang tidak sehat. Konsumsi makanan ini sangat buruk bagi kesehatan, apalagi jika tak diimbangi dengan olahraga seimbang. Ekonomi sentris, adalah pola konsumsi makanan, dimana makanan yang telah dibeli/dibayar dipaksakan untuk dikonsumsi habis tanpa memperhitungkan keseimbangan dan kecukupan gizi. Seringkali orangtua memaksa anaknya untuk menghabiskan makanan karena semata-mata telah membayar makanan tersebut. Kalangan “eksekutif muda” seringkali terjebak dalam promosi “all you can eat” akibatnya kelompok ini mencoba mengkonsumsi makanan sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan keanekaragaman makanan dan keseimbangan asupan gizi. Tuntutan ekonomi dewasa ini membuat orang-orang begitu menghargai waktunya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang produktif. Sehingga mereka akan berusaha memilih dan memilah waktu dari aspek untuk apa dan berapa lama waktu tersebut dihabiskan. Tidak terkecuali waktu untuk makan mereka. Makan (terkecuali jika diperlukan sebagai sarana lobby dengan rekanan) umumnya dilakukan dengan singkat. Karena alokasi waktu yang singkat ini, maka menimbulkan konsekuensi pemilihan makanan-makanan instan yang proses persiapannya tidak membutuhkan terlalu banyak waktu. Faktor pendukung kekurangan gizi dilihat dari aspek gengsi social tingkat pengetahuan yang belum memadai terutama pada golongan wanita, kebiasaan negatif yang berlaku di masyarakat, adat istiadat, perilaku, dan kurangnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Seperti misalnya persepsi masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan masih belum sesuai. Menurut mereka, yang disebut dengan makan adalah makan sampai kenyang, tanpa memperhatikan jenis, komposisi, dan mutu makanan, pendistribusian makanan dalam keluarga tidak berdasarkan debutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga, namun berdasarkan pantangan-pantangan yang harus diikuti oleh kelompok khusus, misalnya ibu hamil, bayi, balita, dan sebagianya. Malu karena berat badan berlebih ingin diet Faktor pendukung kelebihanan gizi dilihat dari aspek gengsi social Cara pandang terhadap penyakit, penyembuhan, makanan, dan obat merupakan proses pewarisan budaya yang terkait dengan pandangan masyarakat terhadap alam atau lingkungan sekitar. Timbullah perbedaan pada berbagai bentuk masyarakat yang didasarkan pada asumsi bahwa nilai-nilai yang mereka anut adalah yang benar dan yang terbaik. Salah satu dampak dari arus globalisasi yang paling nyata terlihat pada warga perkotaan adalah perubahan pola makan, yang termasuk didalamnya bagaiman memilih tempat makan dan jenis makanan yang dikonsumsi. Pergeseran pola makan ini terutama dipicu oleh perbaikan/peningkatan pendapatan (ekonomi), kesibukan kerja yang tinggi (waktu yang terbatas) dan promosi makanan trendy ala barat, utamanya fast food maupun health food yang populer di Amerika dan Eropa, namun tidak diimbangi dengan pengetahuan dan kesadaran gizi. Akhirnya budaya makan berubah menjadi tinggi lemak jenuh dan gula, rendah serat dan rendah zat gizi mikro. Pola makan tinggi lemak jenuh dan gula, rendah serat dan rendah zat gizi mikro akan menyebabkan masalah kegemukan, gizi lebih, serta meningkatkan radikal bebas yang akhirnya mengakibatkan perubahan pola penyakit, dari infeksi ke penyakit kronis non infeksi atau memicu munculnya penyakit degeneratif. Gengsi sentris merupakan gaya konsumsi makanan yang berorientasi pada makanan yang bergengsi tinggi seperti makanan impor khususnya fast food. Makanan tradisional yang lebih menjamin asupan gizi seimbang tidak lagi menjadi pilihan kelompok gengsi sentris, karena makanan tradisional dinilai tidak bergengsi. Disini tampak sekali bahwa makanan yang di negeri asalnya tidak memiliki gengsi, dengan trick promosi yang gencar berhasil naik peringkat menjadi makanan bergengsi di Indonesia. Faktor pendukung kekurangan gizi dilihat dari aspek suku bangsa Tabu makanan yang merupakan bagian dari budaya menganggap makanan makanan tertentu berbahaya karena alasan-alasan yang tidak logis. Hal ini mengindikasikan masih rendahnya pemahaman gizi masyarakat dan oleh sebab itu perlu berbagai upaya untuk memperbaikinya. Pantangan atau tabu adalah suatu larangan untuk mengonsumsi suatu jenis makanan tertentu karena terdapat ancaman bahaya atau hukuman terhadap yang melanggarnya. Dalam ancaman bahaya ini terdapat kesan magis yaitu adanya kekuatan supernatural yang berbau mistik yang akan menghukum orang-orang yang melanggar pantangan atau tabu tersebut. Selain itu unsur-unsur budaya mampu menciptakan suatu kebiasaan makan penduduk yang kadang bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu gizi. Faktor pendukung kelebihanan gizi dilihat dari aspek suku bangsa Begitu kuatnya kontrol kebudayaan terhadap kebiasaan makanan, mempengaruhi aspek psikologi masyarat penganut kebudayaan tersebut. Timbul perbedaan selera makan yang dipengaruhi faktor kebiasaan. Nafsu lapar sering dipicu oelh aspek psikologi yang diatur oleh budaya. Nafsu lapar akan terbit kalau melihat atau membaui makanan yang sudah dikenal, dan yang selama ini telah memberikan dampak rasa enak, selera ketika mengkonsumsi makanan tersebut. Bagi yang terbiasa makan rawon, masakan daging sapi dengan kuah berwarna hitam, atau rujak cingur yang diolah dengan bumbu petis yang berwarna hitam pekat pasti terbit seleranya melihat makana tersebut. Namun bagi yang belum pernah melihat dan merasakan, reaksi pertama mungkin akan takut untuk mencoba, mucul perasaan mual atau jijik, apalagi kalau mengetahui bahwa cingur adalah bagian dari hidung sapi.

Judul: Faktor Pendukung Kekurangan Gizi Dilihat Dariaspek Ekonomi

Oleh: Mayswibi Ni

Ikuti kami