Universalitas Agama Vs Universalitas Ilmu Pengetahuan Perspektif Empiris Habibi Muttaqin Reviewed

Oleh Habibi Muttaqin

176,8 KB 11 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Universalitas Agama Vs Universalitas Ilmu Pengetahuan Perspektif Empiris Habibi Muttaqin Reviewed

UNIVERSALITAS AGAMA VS UNIVERSALITAS ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF EMPIRIS Tugas Makalah Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kuliah pada Mata Kuliah “Filsafat Ilmu” Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam Pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta NAMA : HABIBI MUTTAQIN NIM : 21160221000002 DOSEN : DR. HALID, M.Ag MAGISTER SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2016 M/ 1437 H UNIVERSALITAS AGAMA (ISLAM) VS UNIVERSALITAS ILMU PENGETAHUAN (BARAT) PERSPEKTIF EMPIRIS A. PENGANTAR  Pengertian empiris menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sesuatu yang dikaji berdasarkan pengalaman, terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang telah dilakukan oleh para peneliti baik secara ilmiah maupun secara alami.1  Empiris adalah suatu kajian dalam ilmu filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Kajian empiris ini menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.2  Para penganut aliran empiris dalam berfilsafat bertolak belakang dengan para penganut aliran rasionalisme. Mereka menentang pendapat-pendapat para penganut rasionalisme yang didasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Menurut pendapat penganut empirisme, metode ilmu pengetahuan itu bukanlah bersifat a priori tetapi posteriori, yaitu metode yang berdasarkan atas hal-hal yang datang, terjadinya atau adanya kemudian.  Bagi penganut empirisme sumber pengetahuan yang memadai itu adalah pengalaman. Yang dimaksud dengan pengalaman disini adalah pengalaman lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman bathin yang menyangkut pribadi manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur dan mengolah bahan-bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman.  Dalam perspektif empiris, Universalitas Agama (Islam) dan Universalitas Ilmu Pengetahuan (Barat) disini membahas tentang bagaimana keuniversalan agama dan keuniversalan ilmu pengetahuan ditinjau dari pengalamanpengalam diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang telah dilakukan oleh manusia ( secara empiris).  Pembahasan universalitas Agama vs universalitas Ilmu pengetahuan disini membahas tentang pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam suatu kajian, yaitu kajian agama yang bersifat universal dan ilmu pengetahuan yang juga bersifat universal sehingga pada bagian ujungnya menghasilkan integrasi antara agama dan ilmu. B. UNIVERSALITAS AGAMA  Kata universal menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sesuatu yang berlaku untuk semua orang atau untuk seluruh dunia secara keseluruhan.3  Sedangkan universalitas menurut bahasa berasal dari bahasa inggris yaitu universal ,yang berarti: Semesta dunia, Universally, yaitu: Disukai di seluruh 1 2 3 h.45. ? “Kamus besar bahasa Indonesia”, http://kbbi.web.id/empiris. ? Bambang Anees, dkk, “Filsafat Umum”, (cet.I Jakarta: Prenada Media, 2003) hlm. 314 ? Alwi, Hasan, dkk, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, ( Jakarta: Balai Pustaka, 2003),     dunia atau Universe, berarti mencakup Seluruh bidang. Dalam kamus AlMunjid As-syaml, Universalitas adalah: Sesuatu yang luas dan mencakup dari segala hal. kata agama dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa sangsekerta yang terdiri dari dua kata, yaitu: “a” yang berarti “Tidak” dan “Gama” yang berarti “berantakan”. Jadi kata “Agama” adalah tidak berantakan, atau dalam pengertian lain berarti teratur. Yang dimaksud agama adalah suatu peraturan yang mengatur keadaan manusia, maupun sesuatu yang gaib, ataupun mengenai budi-pekerti, pergaulan hidup bersama dan lainnya.4 Muhammad Abdul Qadir mengatakan agama yang diambil dari pengertian din al-haq ialah sistem hidup yang diterima dan diredai Allah ialah sistem yang hanya diciptakan Allah sendiri dan atas dasar itu manusia tunduk dan patuh kepada-Nya. Sistem hidup itu mencakup berba-gai aspek kehidupan, termasuk akidah, akhlak, ibadah dan amal perbuatan yang disyari`atkan Allah untuk manusia.5 Jadi, Universalitas agama disini khususnya agama Islam berarti membahas tentang fenomena-fenomena alam atau kejadian agama yang terkait dengan ilmu pengetahuan secara universal berdasarkan pengalaman-pengalaman, penemuan, dan penelitian (empiris). Mehdi Golshani selalu mengawali dengan penegasan bahwa Islam tidak membedakan antara ilmu pengetahuan dan agama karena masing-masing diorientasikan untuk memahami Tuhan. Allah adalah pusat dari segala aktivitas manusia, meskipun aktivitas tersebut tidak berbentuk peribadatan formal namun ketika ia menjadi penjuru dan tujuan utama maka ilmu pengetahuan pun mempunyai kedudukan yang sama dengan ilmu agama.6Golshani memandang aktivitasnya selama ini, sebagai fisikawan, adalah bagian dari ibadah, maka dalam pandangannya tidak ada relasi yang bernuansa konflik atau independen dalam ilmu pengetahuan dan agama.7  Lima hak dasar dalam agama Islam yang dikenal dengan istilah Al Ushulliyyah Al-khamsah yaitu: 1. Hifdzu al-Din (Hak penghormatan atas kebebasan beragama) Islam memberikan penghormatan dan kebebasan berkeyakinan dan beribadah. Setiap pemeluk agama berhak atas agama dan madzhabnya. Seseorang tidak boleh dipaksa untuk meninggalkan agamanya menuju agama atau madzhab lainya dan tidak seorangpun boleh memaksa dan menekan orang lain untuk berpindah dari keyakinanya untuk masuk Islam (Q.S. al-Baqarah : 256). 4 ? 5 ? Seyyed Hossein Nasr, “The Heart of Islam”, (Bandung: Mizan, 2003), hal. 355. Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, terjemahan dari Turuq al-Ta`lim al-Tarbiyah al-Islamiyyah, (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1984-1985), hlm. 8. 6 Golshani mencoba menunjukkan bahwa Islam tidak membedakan antara ilmu umum (Ilmu Pengetahuan) dengan agama selama keduanya berporos pada Tuhan.Penegasan itu dilakukannya karena banyak kalangan Muslim yang menempatkan dengan biologi, fisika, sosiologi, dan lain sebagainya. Lihat dalam karyanya The Holy Qur‟an and The Science of Nature, (New York:Global Scholarly Publication, 2003) h.39. 7 W. Mark Wichardson, Faith is Science: Scientists Search for Truth, (New York:Routledge, 2001), h.121. 2. Hifdzu al-Mal (Hak penghormatan atas harta benda) Dalam ajaran islam harta adalah milik Allah SWT yang dititipkan-Nya pada alam dan manusia sebagai anugerah. Seluruh bumi beserta segala yang terkandung di dalamnya, dan apa yang berada di atasnya telah dijadikan Allah SWT untuk seluruh manusia.“Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-Nya.” (Q.S. ArRahman: 10) “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (QS. Al-Hadid: 7). 3. Hifdzu al-Nafs wa al-‘Ird (Hak penghormatan atas jiwa, hak hidup dan kehormatan individu)Dalam ajaran Islam, penghormatan atas jiwa, hak hidup dan kehormatan individu merupakan hak dasar dan tumpuan dari semua hak. Hak-hak lain tidak akan ada dan relevan tanpa perlindungan hak hidup. Maka perlindungan al-Qur’an terhadap hak ini sangat jelas dan tegas:“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguhsungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”(Q.S AlMaidah : 32)Karena penghargaan yang tinggi terhadap jiwa dan kehidupan maka al-Qur’an memberikan sangsi yang tegas terhadap siapapun yang mengingkarinya. Qishas atau hukuman mati terlahir dari spirit perlindungan ini. Al-Qur’an menegaskan:“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqoroh: 179). 4. Hifdzu al-‘Aql (Hak penghormatan atas kebebasan berfikir) Penghormatan atas kebebasan berfikir serta hak atas pendidikan merupakan penjabaran yang amat penting dari prinsip hifdz al-aql. Menjaga akal budi dari zat-zat yang memabukan merupakan perlindungan primer, maka pendidikan merupakan pemenuhan hak-hak sekunder untuk pengembanganya. Tanpa pendidikan yang memadai akal sebagai anugerah penting dari Tuhan kurang bernilai dan menyia-nyiakan anugerah Tuhan. 5. Hifdzu al-Nasl (Hak keharusan untuk menjaga keturunan): Dalam ajaran Islam menjaga dan memelihara keturunan di manifestasikan dengan disyariatkan lembaga pernikahan. Islam memandang lembaga pernikahan sebagai cara melindungi eksistensi manusia secara terhormat dan bermartabat. Islam tidak menganjurkan, meski tidak mengharamkan secara mutlak hidup celibat/membujang. Bagi yang menjalankan pernikahan secara penuh tanggungjawab dijanjikan dengan kemuliaan. Sebab dengan pernikahan yang penuh tanggungjawab dan harmonis, generasi manusia yang saleh dapat dibina dari satu generasi kegenerasi secara berkesinambungan. Pernikahan merupakan peristiwa kontraktual dan sakral. Hampir setiap keyakinan agama termasuk ajaran Islam mengatur secara serius mengurus pernikahan sampai detail, bukan sekedar syarat dan rukunnya melainkan sekaligus prosesinya. Memiliki keturunan melalui jalinan pernikahan yang sah untuk melanjutkan keturunan manusia secara terhormat dan bermartabat.8  Universalitas agama ditinjau dari konteks ontologi, Epistemologi, dan aksiologi.  Ontologi, secara sederhana dapat dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Hakikat kenyataan atau realitas dapat dilihat dengan dua macam sudut pandang. Yang pertama, kauntitatif dan kualitatif. Konsep tentang wujud adalah sulit didefinisikan dengan tepat mengingat wujud sudah ada terlebih dahulu sebelum konsep tentang segalanya muncul.9 Secara ontologis, universal agama membahas tentang apa yang menjadi bukti dalam Al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan atau sains.  Epistemologi, Epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu yang membahas tentang pengetahuan, hakikat pengetahuan dan sumber pengetahuan. Dengan kata lain epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata-cara, teknik atau prosedur, mendapat ilmu dan keilmuan.10 Di dalam pembahasan universal agama ini, pembahasannya adalah membahas tentang bagaimana kebenaran dan pembuktian ayat-ayat Al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan atau sains yang dibuktikan secara ilmiah oleh ilmuan Barat.  Aksiologi, Adalah cabang dari filsafat yang membicarakan tentang nilai kegunaan ilmu yang dikaji serta orientasi yang dapat menjadi sarana manusia dalam usaha menjawab suatu pertanyaan yang amat fundamental. Jadi, dilihat dari segi aksiologinya universal agama ini memberikan jawaban oleh para ilmuwan dan pembuktian yang dilakukan oleh para ilmuan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.  Eksistensi agama Islam selain sebagai sistem kepercayaan yang mengharuskan adanya kebenaran, juga digunakan sebagai sumber ilmu pengetahuan dari sejak terjadinya manusia pertama yaitu Nabi Adam as, sejarah para Rasul, hingga berhubungan erat dengan perkembangan sains yang kita rasakan pada saat ini. Ada beberapa ayat terdapat dalam kitab suci Al-qur’an yang menjelaskan soal agama dan ilmu pengetahuan yaitu dalam surat Yunus ayat 101 dan Al-Alaq ayat 3-5 yaitu:  Artinya : “katakanlah wahai Muhammad: perhatikanlah (telitilah) apa-apa yang ada di langit dan di bumi” (QS. Yunus : 101). “Bacalah dan tuhanmulah yang maha pemurah, yang mengajari (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. AlAlaq :3-5). Dari kandungan al-Qur’an ini menggambarkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan merupakan tugas manusia, karena terus mengkaji dan meneliti untuk 8 ? Baharuddin Lopa, Al Quran dan Hak-Hak Asasi Manusia, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1996), hlm. 119 9 ? Amroini Drajat, Kritik Falsafah Peripatetik, (Yogyakarta: LKIS Yogyakarta, 2005), hlm.120. 10 ? Amroini Drajat, Kritik Falsafah Peripatetik, (Yogyakarta: LKIS Yogyakarta, 2005), hlm. 74. mendapatkan ilmu baru adalah sebuah kewajiban bagi manusia. Di samping itu, Allah menugaskan manusia untuk terus belajar dari apa yang diperoleh dari hasil kajian itu. Allah memerintahkan agar manusia terus berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan itu menjadi teknologi guna meningkatkan taraf hidup dan kualitas hidup manusia,karena upaya peningkatan taraf hidup adalah tanggung jawab manusia. Oleh karena itu, Allah memberikan manusia kemampuan berfikir dan bekerja untuk menghasilkan ilmu pengetahuan baru dari apa yang mereka dapat dari hasil kajian ilmiah itu.11  Beberapa contoh fakta ilmiah yang dibuktikan Al-qur’an dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan: 1. Salah satu fakta tentang alam semesta sebagaimana yang dinyatakan oleh sains (ilmu pengetahuan) bahwa langit terdiri atas tujuh lapisan.12 Fakta ini terbukti dijelaskan dalam (QS. Al-Baqarah: 29). “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” 2. Selanjutnya fakta mengenai penemuan teori relativitas waktu oleh Albert Einstein. Teori ini menjelaskan bahwa waktu dapat ditentukan oleh massa dan kecepatan. Waktu dapat berubah sesuai dengan keadaannya. Fakta ini dijelaskan dalam surat (Al-Hajj ayat 47), (As-Sajdah:5), dan (AlMa’arij:4) yaitu: ‘’Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Al Hajj: 47).‘’Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS As Sajdah:5).“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS Al Ma’arij:4). Beberapa ayat Alquran lainnya menjelaskan, manusia terkadang merasakan waktu secara berbeda, waktu yang singkat dapat terasa lama dan begitu juga sebaliknya. 3. Fakta selanjutnya adalah salah satu fenomena keunggulan Al-qur’an dari pada sains (ilmu pengetahuan). Yaitu tentang para ilmuan astronomi yang menyebutkan eksistensi jagat raya atau Big Bang dalam sebutan Barat. Mereka mengatakan pada awalnya ada satu nebula utama, kemudian ada pemisahan yang menghasilkan galaksi, bintang-bintang, planet-planet, dan bumi kita berpijak saat ini. Inilah yang ditemukan ilmuan pada 45-50 tahun yang lalu. Padahal dalam Al-qur’an ini sudah disebutkan sekitar 1400 tahun yang lalu dalam surat Al-Anbiyya ayat 21 yang berbunyi 11 Hasan Basri Jumin, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 33. 12 ? Maskoeri Jasin, “Ilmu Alamiah Dasar”, (Jakarta: Pt. Gramedia,1986), hlm. 13. “apakah orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu berpadu, lalu kami pisahkan keduanya“ 4. Sebelumnya kita tidak tahu seperti apakah bentuk bumi itu. Baru pada tahun 1577, ketika Sir Francis Drake berkelana keliling bumi, dia menemukan dan membuktikan bahwa bumi itu bulat. Fenomena ini sebenarnya sudah ada pejelasannya didalam Al-qur’an yaitu pada (QS. An-Naaziat ayat 27), sejak dari 1400 tahun yang lalu yang bunyinya “Dan bumi sesudah itu dibuat berbentuk seperti telur”. Artinya adalah ayat ini terbukti sudah menjelaskan terlebih dahulu tentang bentuk bumi itu yang berbentuk bulat, sedangkan ilmu pengetahuan (sains) baru menemukan ini sekitar 500 tahun yang lalu.13 C. UNIVERSALITAS ILMU  Perbedaan dan persamaan antara universalitas Agama dan universalitas Ilmu pengetahuan.  Perbedaan Universalitas Agama dan Universalitas ilmu Pengetahuan Barat: Universalitas Agama adalah produk Tuhan yang bersifat dogmatik dan tidak selalu bisa diterima dengan sistem ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu pengetahuan Barat adalah rangkaian aktifitas berfikir dan memahami dengan mengikuti prosedur sistematika metode dan memenuhi langkah-langkah klasifikasi.  Persamaan Universalitas Agama dan Universalitas ilmu Pengetahuan barat: Universalitas Agama dan Ilmu Pengetahuan mempunyai peran masingmasing yang sangat mendukung satu sama lain untuk memberikan kehidupan yang berkualitas dan integritas satu sama lainnya.  Ilmu pengetahuan adalah suatu sistem pengetahuan dari berbagai pengetahuan, mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu, yang disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu, hingga menjadi kesatuan atau sistem dari berbagai pengetahuan. James menjelaskan, ilmu pengetahuan adalah rangkaian konsep dan kerangka konseptual yang saling berkaitan dan telah berkembang sebagai hasil percobaan dan pengamatan.14  Ilmu (Knowledge) merujuk kepada kefahaman manusia terhadap sesuatu perkara, dimana ilmu merupakan kefahaman yang sistematik dan diusahakan secara sedar. Pada umumnya, ilmu mempunyai potensi untuk dimanfaatkan demi kebaikan manusia. Ilmu adalah sesuatu yang membedakan kita dengan makhluk tuhan lainnya seperti tumbuhan dan hewan.  Universalitas Ilmu (ilmu pengetahuan) disini membahas tentang fenomenafenomena pencapaian sains yang terkait atau berhubungan dengan ilmu agama khususnya Islam berdasarkan empiris (pengalaman-pengalaman, penemuan-penemuan, dan penelitian-penelitian) secara universal.  Albert Einstein menyatakan bahwa Ilmu pengetahuan) Sains mengandung nilai-nilai intrinsik, yaitu: nilai praktis, intelelktual, sosio-politik-ekonomi, pendidikan, dan nilai religi. Nilai-nilai intrinsik Sains adalah nilai-nilai yang dimiliki oleh Sains itu sendiri, dan bukan dampak dari Sains terhadap kehidupan manusia. Berdasarkan pandangan ini, pembelajaran Sains pun 13 ? 14 ? Zakir Naik, “Fakta besar kebenaran Al-Qur’an dan Sains Modern” . Qadir, Ilmu Pengetahuan dan Metodenya, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1938), 37 tidak hanya memahami apa, mengapa, dan bagaimana Sains itu, tetapi juga harus dapat menanamkan nilai-nilai tersebut untuk pembelajaran manusia. Hal ini disebutkan dalam QS. Al-Ankabut:43, yaitu: ”Dan Kami jadikan amtsal-amtsal (perumpamaan) di dunia untuk pelajaran bagi manusia, tetapi kebanyakan tidak memahaminya, kecuali dengan ilmu”. Dalam firman ini sudah jelas bahwa manusia adalah alat untuk membuka rahasia atau tanda-tanda yang ada di dalam penjelasan Al-qur’an.  Penerapan ilmu pengetahuan dalam dunia modern telah menghasilkan banyak teknologi yang membuat kehidupan manusia lebih baik, lebih nyaman dan aman. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan merupakan sebuah karunia dari Allah SWT.15  Berikut adalah beberapa contoh fenomena universalitas ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi manusia dan agama: 1. Adanya alat pengingat waktu (Jam), teknologi ini sangat membantu manusia sebagai pengingat ketika waktu-waktu ibadah telah tiba. 2. Kendaraan bermotor, membantu manusia untuk bepergian jauh. 3. Handphone, mempermudah manusia untuk berkomunikasi agar tetap terjaga tali silaturrahim. 4. Komputer dan internet, membantu manusia untuk menggali informasi dan ilmu pengetahuan. Dan fenomena ilmu pengetahuan yang lainnya.16 D. KESIMPULAN UNIVERSALITAS AGAMA DAN UNIVERSALITAS ILMU PENGETAHUAN PERSPEKTIF EMPIRIS  Universalitas Agama adalah fenomena-fenomena alam atau kejadian agama yang terkait dengan ilmu pengetahuan secara universal berdasarkan pengalaman-pengalaman, penemuan, dan penelitian (empiris).  Uiversalitas Ilmu pengetahuan adalah fenomena-fenomena pencapaian sains yang terkait atau berhubungan dengan ilmu agama khususnya Islam berdasarkan empiris (pengalaman-pengalaman, penemuan-penemuan, dan penelitian-penelitian) secara universal.  Universalitas Agama dan universalitas Ilmu Pengetahuan meskipun diantara kedua nya memiliki perbedaan satu sama lain, universalitas agama dan ilmu pengetahuan juga mempunyai peran masing-masing yang sangat mendukung satu sama lain untuk memberikan kehidupan yang berkualitas dan bersifat universal antara satu dengan yang lainnya bagi setiap kehidupan manusia di bumi ini.17 Daftar Pustaka 15 ? Ian G. Barbour, Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, (Bandung: Mizan), Hal. 9 16 ? Budi Handrianto, Islamisasi Sains Sebagai Upaya dalam Meislamkan Sains Barat Modern (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar) hal. 39 17 ? Azra, Integrasi Ilmu dalam Islam dalam buku Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi, (Yogyakarta : Mizan , 2005), Ceatakan Pertama, h. 210-211 Abdul Qadir Ahmad, Muhammad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, terjemahan dari Turuq al-Ta`lim al-Tarbiyah al-Islamiyyah, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1984-1985. Anees, Bambang, dkk, “Filsafat Umum”, cet.I Jakarta: Prenada Media, 2003. Azra, Integrasi Ilmu dalam Islam dalam buku Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi, Yogyakarta : Mizan , 2005. Basri Jumin, Hasan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2012. Drajat Amroini, Kritik Falsafah Peripatetik, Yogyakarta: LKIS Yogyakarta, 2005. G. Barbour, Ian Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, Bandung: Mizan. Golshani The Holy Qur‟an and The Science of Nature, New York:Global Scholarly Publication, 2003. Handrianto Budi, Islamisasi Sains Sebagai Upaya dalam Meislamkan Sains Barat Modern Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hasan, Alwi Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2003. Hossein Nasr, Seyyed, “The Heart of Islam”, Bandung: Mizan, 2003. Jasin, Maskoeri, “Ilmu Alamiah Dasar”, Jakarta: Pt. Gramedia,1986. Lopa, Baharuddin, Al Quran dan Hak-Hak Asasi Manusia, Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1996. Qadir, Ilmu Pengetahuan dan Metodenya, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1938. W. Mark Wichardson, Faith is Science: Scientists Search for Truth, (New York:Routledge, 2001. Zakir Naik, “Fakta besar kebenaran Al-Qur’an dan Sains Modern”, Youtube.

Judul: Universalitas Agama Vs Universalitas Ilmu Pengetahuan Perspektif Empiris Habibi Muttaqin Reviewed

Oleh: Habibi Muttaqin


Ikuti kami