Laporan Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah Acara Iii Derajat Kerut Tanah

Oleh Dwi Linda Wati

288,6 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Laporan Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah Acara Iii Derajat Kerut Tanah

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH (PNU 1109) ACARA III DERAJAT KERUT TANAH Oleh : Dwi Linda Wati A1D016208 / 16 PJ asisten : Agus Dianto R. KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2017 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat penting peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah. Secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan anorganik, bahan organik, udara dan air. Bahan-bahan penyusun tanah tersebut jumlahnya masing-masing berbeda untuk setiap jenis tanah ataupun setiap lapisan tanah. Pada tanah lapisan atas yang baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering (bukan sawah) umumnya mengandung 45% (volume) bahan mineral, 5% bahan organik, 20-30% udara, 20-30% air. Tanah mempunyai sifat yang mudah dipengaruhi oleh iklim, serta jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam jangka waktu tertentu. Tanah dalam pertanian mempunyai peranan sebagai media tumbuh tanaman dalam hal 44 tempat akar memenuhi cadangan makanan, cadangan nutrisi (hara) baik yang berupa ion-ion organik maupun anorganik. Berat ringannya tanah akan menentukan besarnya derajat kerut tanah. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu bahan organik tanah, bahan organik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organik tanah maka derajat kerut tanah makin kecil. Dalam praktikum acara III ini, akan diketahui bagaimana cara menentukan derajat kerut tanah, untuk mengetahui tinggi rendahnya kandungan bahan organik dalam suatu tanah. B. Tujuan Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui besarnya derajat kerut tanah dari beberapa jenis tanah dan membandingkan besarnya derajat kerut antar jenis tanah yang diamati. 45 II. TINJAUAN PUSTAKA Semenjak pertanian berkembang, konsep tanah yang sangat penting ada konsep sebagai media alami bagi pertumbuhan tanaman. Bila kota-kota besar berkembang, tanah menjadi penting sebagai bahan rekayasa guna mendukung jalan-jalan dan bangunan-bangunan. Pada saat ini tanah lebih banyak lagi mendukung fungsirekayasa, termasuk untuk menimbun bahan-bahan bangunan. Konsep tanah sebagai bahan rekayasa dikaitkan dengan tanah sebagai selimut batuan yang telah mengalami pelapukan atau regolit (Foth, 2006). Dalam analisis agihan besar zarah, bahan tanah halus dipisahkan lebih lanjut menjadi tiga fraksi utama yaitu pasir, debu dan lempung. Fraksi tanah ialah sekelompok zarah tanah berukuran diantara batas-batas tertentu (Notohadiprawiro, 1998). Fraksi tanah ialah sekelompok zarah tanah yang berukuran diantara batas-batas tertentu. Dalam analisis besar zarah, bahan tanah dapat dipisahkan lebih lanjut menjadi tiga fraksi utama. Masing-masing fraksi mempunyai ukuran dan sifat yang berbeda-beda yaitu: 1. Pasir (0,05 mm – 2,00 mm) bersifat tidak plastis dan tidak liat, daya menahan air rendah, ukurannnya yang menyebabkan pori akro lebih banyak, perkolas cepat, sehingga aerasi dan drainase tanah pasiran relatif lebih baik. 2. Debu (0,002 mm – 0,05 mm) sebenarnya merupakan pasir mikro dan sebagian besar adalah kuarsa. Fraksi debu mempunyai sedikit sifat plastis dan kohesi yang baik. 46 3. Liat ( < 0,002 mm) berbentuk mika atau lempeng bila dibasahi amat lengket dan sangat plastis, sifat mengembang dan mengerut yang besar. Bila kering menciut banyak menyerap energi panas, bila dibasahi terjadi pengembang volume dan terjadi pelepasan yang disebut sebagai panas pembasahan (Hardjowigeno, 1987). Derajat kerut tanah adalah kemampuan tanah untuk mengembang dan mengerut. Tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering).Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat (Sarief, 1986). Tanah mempunyai ciri khas dan sifat-sifat yang berbeda-beda diantara tanah di suatu tempat dengan tempat yang lain. Sifat-sifat tanah itu meliputi fisika dan sifat kimia. Beberapa sifat fisika tanah antara lain tekstur, struktur, dan kadar lengas tanah. Untuk sifat kimia menunjukan sifat yang dipengaruhi oleh adanya unsur maupun senyawa yang terdapat di dalam tanah tersebut. Beberapa contoh sifat kimia yaitu pH, kadar bahan organik dan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK). Setiap tanah memiliki sifat mengembang dan mengkerut (Notohadiprawiro, 1998). Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi 47 jelek, lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat (Sarief, 1986). Beberapa jenis tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengkerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka tanah menjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi. Besarnya pengembangan dari pengerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Coefficient Of Linear Extensibility) (Hardjowigeno, 2010). Berbagai macam ukuran,tekstur dan srtuktur yang telah disebutkan diatas, sangat mempengaruhi derajat kembang atau mengkerutnya tanah. Dipandang dari segi fisika, tanah mineral merupakan campuran yang terbentuk dari butir-butir anorganik, rapuhan bahan organik, udara dan air. Pecahan mineral yang lebih besar biasanya terdapat di dalamnya dan dilapisi seluruhnya oleh koloida, dan bahan lain yang sudah menjadi halus. Kadang-kadang butir-butir mineral yang lebih besar menguasai dan menjadikan tanah berkerikil atau berpasir. Dapat juga terjadi sebagian terbesar koloida anorganik; dalam hal ini tanah akan berciri lempung (Soegiman, 1982). 48 III. METODE PRAKTIKUM A. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah contoh tanah halus 0,5 mm. Sedangkan alat yang digunakan adalah botol semprot, air, cawan porselin, colet, cawan dakhil, jangka sorong, dan serbet B. Prosedur Kerja 1. Tanah halus diambil secukupnya dan dimasukan dalam cawan porselin, ditambahkan dengan air menggunakan botol semprot, lalu diaduk secara merata dengan menggunakan colet hingga menjadi pasta homogen. 2. Pasta yang telah homogen tadi dimasukkan ke dalam cawan dakhil yang telah diketahui diameter dalamnya menggunakan jangka sorong. 3. Cawan dakhil yang telah terisi oleh pasta tanah dijemur di bawah terik matahari, kemudian dilakukan pengukuran besarnya pengerutan tanah setiap 2 jam sekali, hingga pengerutan pada tanah konstan. 4. Perhitungan dengan menggunakan rumus dilakukan Derajat Kerut = diameter awal−diameter akhir x 100 % diameter awal 49 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Hasil pengamatan derajat kerut tanah No Jenis Tanah 1. Vertisol 2. Andisol 3. Ultisol 4. Inseptisol 5. Entisol 1 2 Ø1 35,66 33,57 Ø2 35,68 34,61 X 35,67 34,09 Ø1 34,53 34,53 Ø2 34,48 34,54 X 35,31 34,53 Ø1 35,59 34,06 Ø2 35,32 34,38 X 35,45 34,22 Ø1 35,42 32,51 Ø2 35,56 32,25 X 35,49 32,54 Ø1 35,28 34,73 Ø2 35,35 34,87 X 35,31 34,80 Pengamatan ke 3 4 5 29,1 25,9 29,12 2 7 29,5 26,9 28,46 0 2 29,3 26,4 28,79 6 4 34,1 34,0 34,10 7 0 34,5 34,0 34,25 2 3 34,3 34,0 34,17 4 1 31,0 30,1 30,18 5 7 31,5 30,3 31,09 7 0 31,3 30,2 30,63 1 3 32,5 32,2 32,19 1 3 32,2 32,1 32,22 5 1 32,3 32,1 32,20 8 7 34,0 33,8 34,07 1 8 34,4 33,9 33,75 1 5 34,2 33,9 33,91 1 1 50 6 25,77 25,95 25,86 33,94 33,84 33,88 29,68 29,86 29,77 31,72 32,02 31,87 31,70 33,24 32,47 Derajat kerut 27,73 % 27,27 % 27,5 % 2,55 % 4,19 % 3,37 % 15,22 % 14,21 % 14,71% 10,44 % 9,95 % 10,2 % 10 % 6% 8% Derajat Kerut = diameter awal−diameter akhir x 100 % diameter awal Derajat kerut Vertisol= 35,67−25,86 x 100 %=27,5 % 35,67 Derajat kerut Andisol= 35,31−33,88 x 100 %=3,37 % 35,31 Derajat kerut Ultisol= 35,45−29,77 x 100 %=14,71 % 35,45 Derajat kerut Inseptisol= 35,49−31,87 x 100 %=10,2% 35,49 Derajat kerut Entisol DK 1 = = 35,28−31,70 x 100 % 35,28 3,58 x 100 % 35,28 = 0,1 x 100% = 10 % DK 2 = = 35,35−33,24 x 100 % 35,35 2,11 x 100 % 35,35 = 0,06 x 100% =6% DK rata-rata = = DK 1+ DK 2 2 10 %+6 % 2 51 = 16 % =8% 2 B. Pembahasan Fraksi tanah ialah sekelompok zarah tanah yang berukuran diantara batasbatas tertentu. Dalam analisis besar zarah, bahan tanah dapat dipisahkan lebih lanjut menjadi tiga fraksi utama. Masing-masing fraksi mempunyai ukuran dan sifat yang berbeda-beda yaitu: a) Pasir (0,05 mm – 2,00 mm) bersifat tidak plastis dan tidak liat, daya menahan air rendah, ukurannnya yang menyebabkan pori akro lebih banyak, perkolas cepat, sehingga aerasi dan drainase tanah pasiran relatif lebih baik. b) Debu (0,002 mm – 0,05 mm) sebenarnya merupakan pasir mikro dan sebagian besar adalah kuarsa. Fraksi debu mempunyai sedikit sifat plastis dan kohesi yang baik. c) Liat ( < 0,002 mm) berbentuk mika atau lempeng bila dibasahi amat lengket dan sangat plastis, sifat mengembang dan mengerut yang besar. Bila kering menciut banyak menyerap energi panas, bila 52 dibasahi terjadi pengembang volume dan terjadi pelepasan yang disebut sebagai panas pembasahan (Hardjowigeno, 1987). Derajat kerut tanah adalah kemampuan tanah untuk mengembang dan mengerut. Tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering).Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat (Sarief, 1986). Derajat kerut tanah adalah suatu ukuran besarnya pengerutan suatu tanah yang ditentukan oleh kandungan dari tanah itu sendiri. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kerut tanah yaitu kandungan liat, bahan organik, cahaya matahari, dan kandungan air. Derajat kerut suatu jenis tanah digunakan untuk mempermudah mengetahui kandungan bahan organik dalam tanah tersebut. Secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan anorganik, bahan organik, udara dan air. Bahan anorganik secara garis besar terdiri dari golongan fraksi tanah yaitu pasir, debu, dan liat. Tanah yang mengandung pasir sifatnya sukar diolah dan memiliki derajat kerut yang kecil, sedangkan semakin berat tanahnya (liat tinggi) semakin besar derajat kerutnya. Oleh karena itu, derajat kerut perlu diketahui agar kita tahu seberapa besar kandungan bahan organik dalam suatu jenis tanah, karena semakin kecil derajat kerut tanah maka kandungan bahan organik semakin tinggi. 53 Manfaat mengetahui derajat kerut tanah adalah kita akan mengetahui kandungan penyusun tanah tersebut. mengetahui kandungan bahan penyusunnya, dan kandungan bahan organiknya. Menurut Hakim (1986), bahan organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah, baik secara fisika, kimia, maupun dari segi biologi tanah. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah. Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation (KTK) berasal dari bahan organik. Sehingga akan mudah menentukan pengolahan tanah selanjutnya maupun penentuan tanaman yang sesuai untuk jenis tanah yang sudah diketahui derajat kerutnya tersebut. Pengukuran setiap 2 jam sekali dilakukan untuk mengamati perubahan diameter tanah, pengukuran dihentikan jika diameter tanah sudah konstan. Dari data hasil pengukuran tersebut, maka diketahui nilai diameter awal dan akhir tanah, lalu dilakukan perhitungan untuk menentukan besarnya derajat kerut menggunakan rumus derajat kerut tanah. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kerut tanah adalah sebagai berikut (Hardjowigeno, 1987) : 1. Kandungan Liat Berat ringannya tanah akan menentukan besarnya derajat kerut tanah. Semakin tinggi kandungan liat, akan semakin besar derajat kerut tanah. 2. Bahan Organik Bahan organik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organiknya maka derajat kerut tanah semakin kecil. 3. Cahaya Matahari 54 Semakin banyak cahaya matahari yang mengenai tanah maka akan semakin cepat terjadi pengkerutan tanah. 4. Kandungan Air Semakin tinggi kandungan air tanah maka derajat kerut tanah semakin kecil. Setiap tanah memiliki kandungan penyusun atau fraksi tanah yang berbedabeda dan kandungan liat dan bahan organik yang berbeda pula. Hal ini akan menyebabkan perbedaan derajat kerut dari setiap jenis tanah. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, didapat hasil pengukuran derajat kerut dari masing-masing tanah adalah Vertisol 27,5 %, Ultisol 14,21 %, Inceptisol 10,2 %, Andisol 3,37, dan Entisol 8 %. Vertisol merupakan jenis tanah yang memiliki derajat kerut terbesar. Karena menurut Mega et al. (2010), vertisol adalah tanah dengan kandungan liat 30 % atau lebih, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah menjadi keras, dan retak-retak karena mengkerut, kalau basah mengembang dan lengket. Derajat kerut terbesar pada urutan kedua adalah Ultisol yaitu sebesar 14,21%. Tekstur tanah Ultisol bervariasi dan dipengaruhi oleh bahan induk tanahnya. Tanah Ultisol dari granit yang kaya akan mineral kuarsa umumnya mempunyai tekstur yang kasar seperti liat berpasir, sedangkan tanah Ultisol dari batu kapur, batuan andesit, dan tufa cenderung mempunyai tekstur yang halus seperti liat dan liat halus. Ultisol umumnya mempunyai struktur sedang hingga kuat, dengan bentuk gumpal bersudut. Ultisol merupakan tanah masam yang telah 55 mengalami pencucian basa-basa yang intensif dan umumnya dijumpai pada lingkungan dengan drainase baik (Prasetyo dan Suriadikarta, 2006). Pada urutan ketiga adalah tanah Inseptisol yaitu sebesar 10,2 %. Pada tanah Inseptisol profilnya mengandung horison yang diperkirakan terbentuk agak cepat dan kebanyakan hasil dari perubahan batuan induk. Horison tidak menggambarkan pelapukan yang hebat. Produktivitas alami inseptisol sangat bervariasi, ada yang sangat subur dan ada juga yang mengandung bahan organik rendah (Kohnke, 1968). Tanah Entisol berada pada urutan keempat dengan derajat kerut tanah sebesar 8 %. Entisol mempunyai kejenuhan basa yang bervariasi, pH dari asam, netral sampai alkalin, KTK juga bervariasi baik untuk horison A maupun C, mempunyai nisbah C/N < 20 % dimana tanah yang mempunyai tekstur kasar berkadar bahan organik dan nitrogen lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang bertekstur lebih halus. Hal ini disebabkan oleh kadar air yang lebih rendah dan kemungkinan oksidasi yang lebih baik dalam tanah yang bertekstur kasar juga penambahan alamiah dari sisa bahan organik kurang daripada tanah yang lebih halus. Meskipun tidak ada pencucian hara tanaman dan relatif subur, untuk mendapatkan hasil tanaman yang tinggi dibutuhkan pupuk N, P, dan K. Tanah ini mempunyai konsistensi lepas-lepas, tingkat agregasi rendah, peka terhadap erosi dan kandungan hara tersediakan rendah.Potensi tanah yang berasal dari abu vulkan ini kaya akan hara tetapi belum tersedia, pelapukan akan dipercepat bila terdapat cukup aktivitas bahan organik sebagai penyedia asam-asam organik (Utami dan Handayani, 2003). 56 Tanah Andisol adalah tanah dengan derajat kerut terkecil yaitu sebesar 3,37%. Andisol memiliki derajat kerut terkecil karena memiliki unsur hara yang cukup tinggi hasil dari abu vulkanik. Tanah ini sangat subur sehingga tanah jenis ini baik untuk ditanami. Selain unsur hara, tanah andisol memiliki kandungan zatzat organik yang berada di lapisan tengah dan atas sementara pada bagian tanah sangat sedikit unsur hara dan zat organiknya. Selain itu, tanah ini mapu mengikat air dalam jumlah yang tinggi, kandungan karbonnyapun sangat tinggi dibandingkan tanah yang lain (Hardjowigeno, 2010). V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Besar derajat kerut tanah pada masing-masing jenis tanah adalah: a. Vertisol = 27,5 % b. Ultisol = 14,21 % c. Inceptisol = 10,2 % d. Andisol = 3,37 % e. Entisol =8% 2. Tanah yang memiliki derajat kerut tanah terbesar adalah tanah tanah Vertisol dan tanah yang memiliki derajat kerut tanah terkecil adalah tanah Entisol. 57 B. Saran Sebaiknya praktikum dilaksanakan di bulan kemarau karena akan mendapatkan sinar matahari yang baik dan memudahkan untuk pengamatan. Selain itu juga untuk peralatan praktikum sebaiknya segera diperbaharui agar praktikan dan asisten bisa praktikum dengan jelas dan benar dan mendapatkan hasil yang maksimal dalam praktikum tersebut. DAFTAR PUSTAKA Foth, Henry. 2006. The Nature and Properties of Soils. The MacMillan Company. Hakim, Nurhajati dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung: UNILA. Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo. _____________. 2010.Dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo. Kohnke, H. 1968. Soil Physic. Bombay: Tata Mc Graw-Hill Publishingn Company Ltd. Mega, I Made, et al. 2010. Buku Ajar Klasifikasi Tanah dan Kesesuaian Lahan. Denpasar: Universitas Udayana. Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Prasetyo, B. H dan Suriadikarta, D. A. 2006. KARAKTERISTIK, POTENSI, DAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAH ULTISOL UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN KERING DI INDONESIA. Jurnal Litbang Pertanian, 25 (2). Bogor. 58 Sarief, S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Bandung: PT Pustaka Buana. Soegiman. 1982. Ilmu Tanah. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. Utami, S. N. H. Dan Suci Handayani. 2003. SIFAT KIMIA ENTISOL PADA SISTEM PERTANIAN ORGANIK. Jurnal Ilmu Pertanian. Vol. 10 No. 2, 2003 : 63-69. LAMPIRAN 59 60 61 ACARA III I. PENDAHULUAN........................................................................................44 A. Latar Belakang.........................................................................................44 B. Tujuan......................................................................................................45 II. TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................46 III. METODE PRAKTIKUM.............................................................................49 A. Bahan dan Alat.........................................................................................49 B. Prosedur Kerja..........................................................................................49 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN....................................................................50 A. Hasil.........................................................................................................50 B. Pembahasan..............................................................................................52 V. KESIMPULAN DAN SARAN....................................................................57 A. Kesimpulan...............................................................................................57 B. Saran.........................................................................................................57 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................58 LAMPIRAN...........................................................................................................59 62

Judul: Laporan Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah Acara Iii Derajat Kerut Tanah

Oleh: Dwi Linda Wati

Ikuti kami