Relevansi Perang Pada Masa Nabi Muhammad Saw Dengan Strategi Dalam Ilmu

Oleh Yunia Damayanti

170 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Relevansi Perang Pada Masa Nabi Muhammad Saw Dengan Strategi Dalam Ilmu

PAPER AKHIR AGAMA ISLAM II – YUNIA DAMAYANTI -- 071311233066 Relevansi Perang Pada Masa Nabi Muhammad SAW Dengan Strategi Dalam Ilmu Hubungan Internasional Kehidupan Nabi Muhammad s.a.w tidak terlepas dari berbagai pelajaran yang dapat dipetik di dalamnya. Memang segala pelajaran yang dicontohkan Rasulullah s.a.w adalah hal-hal yang menyangkut tentang amalan di dunia untuk bekal di akhirat. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu, Rasulullah s.a.w juga mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan yang berguna bagi terlaksananya berbagai aktivitas duniawi yang dilakukan oleh umat manusia. Seperti halnya pada tulisan ini, penulis akan membahas mengenai relevansi strategi perang Rasulullah s.a.w di dalam ilmu hubungan internasional. Perang yang dibahas di dalamnya adalah Perang Khaibar, yang mana berlangsung pada fase baru dalam dakwah Rasulullah di Madinah. Perjanjian Hudaibiyah merupakan fase baru dalam proses kehidupan Islam dan kaum Muslimin, serta perlawanan Quraisy yang awalnya sangat gencar menentang persebaran Islam di Jazirah Arab. Namun, sejak perjanjian tersebut perlawanan Kaum Quraisy menurun drastis dan digantikan oleh perlawanan dari golongan Yahudi (al-Mubarakfuri, 2014: 401). Hal tersebut dikarenakan ketika golongan Yahudi telah terusir dari Yastrib, mereka menjadikan Khaibar sebagai tempat untuk hidup dan membangun pertahanan. Sehingga, rencana Rasulullah s.a.w setelah Perjanjian Hudaibiyah adalah menyerang markas pertahanan golongan Yahudi tersebut. Perjanjian tersebut telah memberikan kesempatan besar bagi kaum Muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah s.a.w, sehingga penyebaran dakwah Islam semakin digencarkan. Semangat menyebarkan dakwah semakin meningkat, maka dari itu pada akhir tahun 6 Hijriyah, Rasulullah s.aw menulis banyak surat untuk raja-raja di dunia untuk mengajak agar dapat masuk Islam. Terdapat kurang lebih 8 surat yang dituju oleh Rasulullah s.a.w, yaitu surat kepada Raja Najasyi dari Habasyah, surat kepada Raja Muqauqis dari Mesir, surat kepada Raja Kisra dari Persia, surat kepada Kaisar Romawi, surat untuk Mundzur ibn Sawi seorang Gubernur Bahrain, surat kepada Haudzah ibn Ali seorang Penguasa Yamamah, surat untuk Harits ibn Abu Syamir al-Ghassani seorang Pemimpin Damaskus, dan surat untuk Raja Oman (al-Mubarakfuri, 2014: 402-14). Dapat dikatakan bahwa respons mengenai surat yang dikirim Rasulullah s.a.w berbeda-beda, ada raja yang menerima ajakan tersebut, masih memikirkan kembali ajakan Rasulullah, hingga pada penolakan secara keras atas surat tersebut. Tetapi, yang lebih penting adalah Rasulullah masih PAPER AKHIR AGAMA ISLAM II – YUNIA DAMAYANTI -- 071311233066 mengajak raja-raja di Jazirah Arab untuk memeluk Islam dengan cara damai sebelum munculnya peperangan. Walaupun Perjanjian Hudaibiyah membawa keadaan kaum Muslimin pada kemudahan untuk mengajak seluruh umat memeluk agama Islam. Perang masih terus berlanjut sebagai salah satu cara Rasulullah untuk menyebarkan agama Islam. Perang Khaibar menjadi perang besar pada masa sesudah Perjanjian Hudaibiyah. Penulis akan membahas terlebih dahulu mengenai Perang Khaibar yang mana Khaibar merupakan sebuah kota besar yang memiliki benteng-benteng yang kokoh (al-Mubarakfuri, 2014: 420). Namun, Khaibar juga merupakan pusat pesengkokolan dan pengkhianatan, sekaligus pusat permusuhan dan pemicu peperangan. Alasan tersebut lah yang membawa kaum Muslimin untuk mengincar Kota Khaibar yang dihuni oleh kaum Yahudi. Jumlah pasukan Muslimin diperkirakan sebanyak 1,400 orang, dan perjalanan menuju Khaibar ditempuh oleh Rasulullah s.a.w beserta yang lainnya melewati Gunung Ashr. Golongan munafik yang dipimpin oleh Abdullah ibn Ubay memberitahukan kepada kaum Yahudi bahwa Rasulullah s.a.w berserta balatentaranya, maka dari itu kaum Yahudi meminta bantuan kepada Ghathafan untuk sama-sama melawan pasukan Rasulullah s.a.w. Kota Khaibar memiliki dua wilayah besar, yaitu Nathat dan Katibah yang mana masing-masing wilayah tersebut memiliki benteng terkuat, di wilayah Nathat terdapat benteng Na’im, Sha’b ibn Mu’adz, Qal’at Zubair, Ubay, dan Nazar. Sedangkan di wilayah Katibah terdapat benteng Qamush, Wathih, dan Sulalim. Walaupun begitu, bentrokan antara kaum Muslimin dan Yahudi Khaibar hanya terjadi di wilayah Nathat. Strategi perang yang digunakan oleh Rasulullah s.a.w adalah dengan tidak membangun markas terlalu dekat dengan benteng Nathat dan berencana untuk menyerang kota Khaibar dengan mendadak. Serangan pertama yang dilakukan oleh pasukan Muslimin adalah ke Benteng Na’im di wilayah Nathat, yang mana benteng tersebut adalah tombak pertahanan kaum Yahudi yang paling utama (al-Mubarakfuri, 2014: 426). Serangan bertubi-tubi membuat pasukan Yahudi tidak dapat mempertahankan benteng tersebut, Ali ibn Abu Thalib memberikan pilihan untuk masuk Islam, namun pasukan Yahudi menolak mentah-mentah. Setelah serangan selama beberapa hari, akhirnya pasukan Muslimin dapat menaklukan Benteng Na’im. Pasukan Muslimin tidak hanya menaklukan Benteng Na’im, Benteng Sha’b ibn Mu’adz pun tidak luput dari pengepungan pasukan Muslimin. Benteng tersebut adalah benteng kedua di wilayah Nathat yang proposinya kokoh dan kuat, kaum Muslimin mengepung benteng tersebut selama tiga hari PAPER AKHIR AGAMA ISLAM II – YUNIA DAMAYANTI -- 071311233066 dipimpin oleh Hubbab ibn Mundzir al-Anshari. Pasukan Muslimin harus berjuang dengan gigih untuk menaklukan benteng ini, hal tersebut karena benteng ini merupakan tempat penyimpanan makanan dan harta kekayaan. Namun, walaupun begitu atas ijin Allah s.w.t, Benteng Sha’b ibn Mu’adz berhasil ditaklukan. Pada dasarnya peperangan di kota Khaibar memiliki hasil akhir yang baik, yaitu bahwa pasukan Muslimin dapat menaklukan benteng-benteng lainnya seperti Benteng Zubair, Benteng Ubay, dan Benteng Nazar. Setelah itu pasukan Muslimin juga menyerang wilayah kedua Katibah yang mana hasil akhirnya juga sama, yaitu kemenangan untuk pasukan Muslimin. Setelah perang Khaibar berakhir, Ibnu Abul Huqaiq menjadi negosiator bagi pihak Yahudi untuk berunding dengan Rasulullah s.a.w, yang mana meminta perlindungan bagi wanita dan anak-anak di wilayah benteng tersebut. Rasullullah s.a.w tentu mengabulkannya dan memberikan perlindungan, maka dari itu ditandai dengan penyerahan semua benteng kepada kubu Muslimin dan terbukanya seluruh wilayah Khaibar (al-Mubarakfuri, 2014: 426-30). Setelah berakhirnya Perang Khaibar, hal-hal mengenai harta rampasan perang. Allah berfirman dalam QS. Al-Fath ayat 20 tentang hal mengenai rampasan perang, sebagaimana berikut: Artinya: “Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orangorang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.” Rasulullah s.a.w ingin membersihkan Khaibar dari kaum Yahudi, namun Rasulullah kesulitan untuk mobilisasi ke wilayah tersebut. Maka tanah di wilayah Khaibar dikelola dan dibagi hasil dengan kaum Yahudi. Rasulullah membagi Khaibar ke dalam 36 wilayah bagian, yang mana masing-masing dibagi ke dalam 100 bagian yang totalnya menjadi 3,600 bagian. Rasulullah PAPER AKHIR AGAMA ISLAM II – YUNIA DAMAYANTI -- 071311233066 membagi 1,800 bagian untuk kaum Muslimin, dan setengahnya lagi untuk wakil-wakil beliau yang menangani urusan umat Islam (al-Mubarakfuri, 2014: 431). Fase Perang Khaibar yang dimenangkan oleh Rasulullah menjadikan adanya ilmu pengetahuan mengenai strategi perang yang digunakan oleh pasukan Muslimin di dalam caranya memenangkan perang tersebut. Strategi yang digunakan oleh pasukan Muslimin dapat ditarik relevansinya dengan strategi perang ala Clausewitz. Strategi tersebut memiliki paling tidak 3 pandangan, yakni; (1) peperangan berhasil memaksa pihak yang kalah untuk menuruti keinginan pihak yang kalah dan konsep ini dikenal dengan istilah “Brinkmanship”; (2) pihak yang menang berhasil menghilangkan kekuatan lawan untuk menyerang balik di kemudian hari atau dalam kata lain pihak yang menang berhasil melucuti pihak yang kalah dan konsep ini dikenal dengan istilah “Disarmament”; (3) dan terakhir adalah akan terjadi perlombaan peningkatan kemampuan. Karena peperangan terjadi dalam ketidakpastian atau uncertainty, maka untuk lebih mudahnya Clausewitz membagi peperangan menjadi dua, yaitu Perang Absolut atau Perang Ideal yang mana di dalamnya terjadi pemikiran pemikiran serta prediksi dan terdapat berbagai kemungkinan akan muncul secara tidak terbatas dan yang kedua adalah Perang Real atau Perang Terbatas, yaitu perang yang benar-benar terjadi di lapangan yang mana dalam peperangan tersebut muncul batasan batasan dari tujuan yang hendak dicapai (Gray, 1999). Clausewitz kemudian mencetuskan konsep “Center of Gravity” yang kemudian dapat dijadikan pegangan bagi para pakar strategi untuk menyukseskan strategi. Clausewitz mendefinisikan Centre of Gravity sebagai hub atau penghubung dari semua pergerakan dan kekuatan yang dimiliki kekuatan lawan. Dengan definisi yang sedemikian rupa, Clausewitz tidak memberikan batasan yang kaku. Dengan tidak adanya kekakuan, maka strategi diharapkan dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan tepat guna. Konsep penting yang juga ditekankan oleh Clausewitz adalah dalam pengoperasian strategi sering kali terdapat friksi. Frisksi adalah yang membedakan perang Absolut/Ideal dengan Perang Real/Terbatas. Friksi juga diterjemahkan sebagai hal yang sering diabaikan namun memiliki dampak yang besar terhadap keefektivitasan tindakan yang diambil. Sementara itu, Clausewitz lebih sering dalam berbagai kesempatan menggambarkan friksi sebagai daya yang membuat frustasi dan membuat segala hal terlihat menjadi susah terjadi. Namun dengan memperhatikan friksi dari tindakan dalam strategi yang diambil tentu efektivitas dapat diperjuangkan. PAPER AKHIR AGAMA ISLAM II – YUNIA DAMAYANTI -- 071311233066 Selain strategi dari Clausewitz, strategi dari Sun Tzu juga dapat dianalisis kerelevansiannya terhadap pergerakan kaum Muslimin dalam menyerang kota Khaibar. Strategi Sun Tzu terdiri dari 13 bab yang ditulis oleh Sun Tzu ke dalam kitab The Art of War. 13 bab tersebut adalah; (1) Estimasi; (2) melakukan perang; (3) strategi ofensif ; (4) watak; (5) postur pasukan; (6) kehampaan dan aktualitas; (7) manuver; (8) 9 variabel; (9) barisan; (10) keadaan alam; (11) 9 variabel; (12) penggunaan api dalam penyerangan; (13) dan penggunaan mata-mata. Dari bab – bab tersebut Sun Tzu tidak menganggap peperangan sebagai tujuan dan cara utama dalam mencapai kemenangan. Lebih lanjut , Sun Tzu menekankan bahwa unsur utama dalam peperangan adalah deception alias mengelabui lawan. Strategi yang diajarkan Sun Tzu lebih mementingkan cara tentang bagaimana mempengaruhi kondisi mental dan moral pasukan yang dimiliki dan bagaimana cara untuk mempengaruhi musuh. Oleh karena itu, faktor kebijaksanaan yang dimiliki oleh pemimpin menjadi sangat penting karena seorang pemimpin diharuskan mampu mengendalikan dirinya serta menjaga kondisi pikiran dari pasukannya. Selain itu, berbeda dengan para perumus strategi lainnya, Sun Tzu sangat menekankan kalkulasi yang matang. Kalkulasi yang matang bertujuan tidak hanya untuk menyelesaikan tujuan dengan cepat namun juga mengontrol sumber daya yang ada dengan tepat guna. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa relevansi perang yang dilakukan pada masa Rasulullah s.a.w dapat dijadikan ilmu pengetahuan yang akan bermanfaat hingga saat ini. Penulis berpendapat bahwa strategi yang diungkapkan oleh Clausewitz dan Sun Tzu relevan dengan yang dilakukan oleh pasukan Rasulullah. Walaupun ilmu strategi perang Clausewitz baru muncul pada abad ke19. Hal-hal yang relevan yang sehubungan dengan strategi perang Rasulullah s.a.w dengan ilmu strategi dalam hubungan internasional adalah bahwa di dalam peperangan hal yang harus diperhatikan adalah kebijaksanaan dari pemimpin perang itu sendiri, hal tersebut bertujuan agar pemimpin perang memiliki pasukan yang loyal dan tepercaya. Selain itu pula, dibutuhkan serangan ofensif langsung yang mana membuat pertahanan musuh langsung runtuh dan dari hal tersebut dapat diambil keuntungan kemenangan yang telak. Referensi: al-Mubarakfuri, Syafiyurrahman. 2014. Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Nabi Muhammad SAW. Qisthi Press: Jakarta. PAPER AKHIR AGAMA ISLAM II – YUNIA DAMAYANTI -- 071311233066 Gray, Colin S. 1999. “the Strategist’s Toolkit: the Legacy of Clausewitz”, dalam Modern Strategy, Oxford: Oxford University Press, pp. 15-30. ______. 2007. “Carl von Clausewitz and the Theory of War”, dalam War, Peace and International Relations: an Introduction to Strategic History, New York: Routledge, pp. 15-30. Tzu, Sun and John Minford, 2002. “the Art of War”, New England Review, Vol. 23, No. 3, pp. 528.

Judul: Relevansi Perang Pada Masa Nabi Muhammad Saw Dengan Strategi Dalam Ilmu

Oleh: Yunia Damayanti


Ikuti kami