Ekonomi Islam - Baitul Maal Wa Tamwil (bmt)

Oleh Laili Riziiq Ma'rufaa

280,6 KB 10 tayangan 1 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Ekonomi Islam - Baitul Maal Wa Tamwil (bmt)

TUGAS BMT (Baitul Maal wa Tamwil) Dosen Pembimbing Tri Ariprabowo SE.,M.Si Mata Kuliah Ekonomi Islam Diajukan Oleh : Laili Riziiq Ma’rufaa Manajemen A-Sore / 13 312 025 FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK TAHUN 2013 / 2014 Sejarah BMT Keberadaan baitul maal wa tamwil (BMT) sebagai salah satu perintis lembaga keuangan dengan prinsip syariah di Indonesia, dimulai dari ide para aktivis Masjid Salman ITBBandung yang mendirikan Koperasi Jasa Keahlian Teknosa pada 1980. Koperasi inilah yang menjadi cikal bakal BMT yang berdiri pada tahun 1984. Nama resmi yang digunakan pemerintah untuk koperasi yang bergerak di bidang keuangan syariah adalah Koperasi Jasa Keuangan Syariah disingkat KJKS. Namun, istilah BMT masih populer di kalangan praktisi dan masyarakat Indonesia. Konsep awal BMT dimulai dari tesis syar’iyah, “Dapatkah konsep Maal dan Tamwil digabungkan menjadi satu?”, satu sama lain saling melengkapi. Maal yang diambil dari ZIS dijadikan pengaman pembiayaan bagi 8 golongan yang berhak menerima zakat(ashnaf). Singkatnya, dana ZIS digunakan sebagai dana produktif. Sedangkan Tamwil, murni bisnis yang hitungannya dan akadnya jelas. Kewajiban dan hak-haknya, yang digunakan secara bisnis murni. BMT adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil (syari’ah), menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dan kecil. Secara konseptual, BMT memiliki dua fungsi : Baitul Tamwil ( Bait = Rumah, at Tamwil = Pengembangan Harta), yaitu melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil terutama dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. Baitul Maal (Bait = Rumah, Maal = Harta), yaitu menerima titipan dana zakat, infak dan shadaqah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. Visi BMT mengarah pada upaya untuk mewujudkan BMT menjadi lembaga yang mampu meningkatkan kualitas ibadah anggota (ibadah dalam arti yang luas), sehingga mampu berperan sebagai wakil pengabdi Allah SWT, memakmurkan kehidupan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.. Titik tekan perumusan Visi BMT adalah mewujudkan lembaga yang professional dan dapat meningkatkan kualitas ibadah. Misi BMT adalah membangun dan mengembangkan tatanan perekonomian dan struktur masyarakat madani yang adil berkemakmuran, serta berkeadilan berlandaskan syari’ah dan diridhoi Allah SWT. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa misi BMT bukan semata-mata mencari keuntungan dan penumpukan laba modal pada golongan orang kaya saja, tetapi lebih berorientasi pada pendistribusian laba yang merata dan adil, sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam. Teori Dana BMT Pengertian Dana BMT Dana BMT atau Financeable Fund adalah sejumlah uang yang dimiliki dan dikuasai suatu BMT dalam kegiatan operasionalnya. Dana BMT ini terdiri dari : 1. Dana Pihak Pertama Yaitu dana yang berasal dari pemilik berupa modal dan hasil usaha BMT. 2. Dana Pihak Kedua Yaitu dana yang berasal dari instrumen pasar uang dan instrumen pasar modal. 3. Dana Pihak Ketiga Yaitu dana yang berasal dari penghimpunan dana BMT berupa giro (nasabah), tabungan, deposito berjangka, sertifikat deposito berjangka, kewajiban segera lainnya. Dana BMT memiliki fungsi yakni: 1. Sebagai sumber dana biaya operasional BMT 2. Sumber dana untuk investasi primer dan sekunder BMT 3. Sebagai penyangga (cushion) dan penyerap kerugian BMT bersangkutan 4. Sebagai tolok ukur besar kecilnya suatu BMT 5. Untuk menarik masyarakat yang kelebihan dana agar menabungkan uangnya di BMT bersangkutan 6. Untuk memperbesar solidaritas masyarakat terhadap BMT bersangkutan 7. Untuk memperbesar daya saing BMT bersangkutan 8. Untuk mempermudah penarikan dan peningkatan sumber daya manusia 9. Untuk memperbanyak pembukaan kantor cabang Produk Penghimpunan Dana Pada sistem operasional BMT syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di BMT tidak dengan motif mendapatkan bunga, tetapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Produk penghimpunan dana lembaga keuangan syariah adalah (Himpunan Fatwa DSNMUI, 2003): 1. Giro Wadiah Giro Wadiah adalah produk simpanan yang bisa ditarik kapan saja. Dana nasabah dititipkan di BMT dan boleh dikelola. Setiap saat nasabah berhak mengambilnya dan berhak mendapatkan bonus dari keuntungan pemanfaatan dana giro oleh BMT. Besarnya bonus tidak ditetapkan di muka tetapi benar-benar merupakan kebijaksanaan BMT. Sungguhpun demikian nominalnya diupayakan sedemikian rupa untuk senantiasa kompetitif (Fatwa DSN-MUI No. 01/DSN-MUI/IV/2000). 2. Tabungan Mudharabah Dana yang disimpan nasabah akan dikelola BMT, untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan akan diberikan kepada nasabah berdasarkan kesepakatan nasabah. Nasabah bertindak sebagai shahibul mal dan lembaga keuangan syariah bertindak sebagai mudharib (Fatwa DSN-MUI No. 02/DSN-MUI/IV/2000). BMT NU Gapura diganjar peringkat satu (koperasi terbaik) dari sekian koperasi yang ada di Jawa Timur oleh pemerintah Jawa Timur. Pada tanggal 19/11/10, Gubernur Jawa Timur Soekarwo memberikan penghargaan prestesius atas prestasi tersebut.

Judul: Ekonomi Islam - Baitul Maal Wa Tamwil (bmt)

Oleh: Laili Riziiq Ma'rufaa


Ikuti kami