Ekonomi Di Era Covid-19 Pada Masyarakat

Oleh Nur Muhgni Indriyani

123,7 KB 11 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Ekonomi Di Era Covid-19 Pada Masyarakat

EKONOMI DI ERA COVID-19 PADA MASYARAKAT NUR MUHGNI INDRIYANI Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar, e-mail: indryaniindy64@gmail.com Abstrak Ekonomi pada saat ini sedang turun drastis akibat adanya wabah covid-19 ini. Saat ini seluruh masyarakat dunia sedang ditakuti dengan perkembangan dan penyebaran virus Covid-19 yang begitu cepat menyebar ke berbagai negara di dunia. Salah satunya Indonesia juga ikut terdampak dengan adanya wabah covid-19 ini. Dampak yang sangat bisa kita lihat selain kesehatan dan sosial masyarakat adalah ekonomi. Wabah pandemic Covid-19 dan krisis ekonomi global yang terjadi bersamaan. Pada pandemi covid-19 ini semua masyarakat merasakan dampaknya. UMKM dan perushaan-perusahaan besar merasakan dampak dari covid-19 dikarenakan besarnya kerugian mereka dan juga banyaknya biaya pemasukkan. KATA KUNCI: Covid-19, Ekonomi, Masyarakat PENDAHULUAN Virus Corona (Covid 19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus yang paling baru ditemukan. Wabah Covid-19 bermula muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019, dan ditetapkan sebagai kesehatan dunia WHO. Lebih dari pandemi oleh organisasi 620.000 kasus Covid-19 telah dilaporkan di lebih dari 190 negara, mengakibatkan lebih dari 28.800 kematian dan 137.000 diantaranya sembuh data pada saat pertengahan tahun 2020 tersebut. Masyarakat saat ini merasakan dampak ditengah wabah covid-19 ini. Tidak hanya indonesia yang merasakan dampak covid-19 ini tetapi seluruh dunia merasakan dampaknya. Meskipun begitu, pertumbuhan tersebut sangat lambat karena beberapa faktor dinilai belum terlalu efektif, salah satunya para masyarakat Indonesia di uji dengan munculnya wabah Covid19 ditengah masyarakat. Berawal dari akhir tahun 2019 munculnya wabah covid-19 ini sehingga sampai sekarang 2 bulan lagi menuju akhir tahun 2020. Fakta itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat (Emile Durkheim, 1895). Tindakan sosial yang dimaksud Max Weber dapat berupa tindakan yang nyata-nyata diarahkan kepada orang lain, dapat juga tindakan yang bersifat membatin atau bersifat subyektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu. Individu melakukan suatu tindakan berdasarkan atas pengalaman, persepsi, pemahaman dan atas suatu obyek stimulus atau situasi tertentu. Di sini Weber melihat tindakan sosial berkaitan dengan interaksi sosial. Sesuatu tidak akan dikatakan tindakan sosial jika individu tersebut tidak mempunyai tujuan dalam melakukan tindakan tersebut (Max Weber, Durkheim, dan Pareto). Dampak dari virus Corona baru (COVID-19) terhadap perekonomian Indonesia semakin terasa terutama kepada dunia usaha (Kavita Ulumiyah, 2020). Dampak wabah covid19 ini dapat dikatakan merugikan kita semua terutama para pedagang. Pendapatan masyarakat yang menurun drastis tidak berpengaruh banyak terhadap permintaan barang dan jasa yang di hasilkan. Meskipun sekarang sudah new normal tetapi masih berdampak pada ekonomi para pedagang, dan terlebih lagi banyaknya karyawan perusahaan di PHK akibat dampak covid-19 ini. Akibat dari wabah ini banyaknya keluarga yang membutuhkan pemasukkan, pekerjaan, dll. Para pedagang berjuang keras untuk memenuhi kebutuhannya walaupun tidak sebanding dengan pendapatannya sebelumnya. Pendapatan sekarang lebih sedikit keuntungannya dibandingkan dengan kerugian. Kerugiannya bisa dibilang cukup besar, belum lagi kerugian barangnya tidak laku sehingga banyaknya terbuang barang. Walaupun ada bantuan dari pemerintah atau biasa dikatakan dengan BLT perbulan tetapi bantuan itu belum mencukupi kebutuhannya sehari-hari sehingga para pedagang ini menguras tenaganya. Bantuan dari pemerintah itu pun tidak semua para pedagang mendapatkannya atau belum rata pembagian BLT Namun bagi pedagang-pedagang kecil yang harus keluar rumah untuk mencari nafkah, akan sangat kesulitan. Tindakan rasional berhubungan dengan pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan (Weber). Weber mengemukakan ada empat macam tindakan sosial sosial yaitu rasional instrumental, rasional yang berorientasi nilai, tindakan tradisional, dan tindakan afektif (Johnson, 1986; Ritzer, 2014; Ritzer, dan Goodman, 2004; Turner, 1978). Tindakan para pedagang ini merupakan tindakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Tindakan para pemerintah juga tindakan untuk membantu para pedagang yang sedang berdampak ditengah-tengah wabah covid-19 ini walaupun belum terpenuhi maksimal tetapi bisa mengurangi beban para pedagang pasar minasa maupa ini. KAJIAN TEORITIS Durkheim menolak karier tradisional dalam filsafat dan berupaya mendapatkan pendidikan ilmiah yang dapat disumbangkan untuk pedoman moral masyarakat. Meski kita tertarik pada sosiologi ilmiah, tetapi waktu itu belum ada bidang studi sosiologi sehingga antara 1882-1887 Durkheim mengajar filsafat di sejumlah sekolah di Paris. Tahun-tahun berikutnya ditandai oleh serenteran kesuksesan pribadi. Tahun 1893 ia menerbitkan tesis doktornya, The Division of Labor in Society dalam bahasa Prancis dan tesisnya tentang Montesquieu dalam bahasa. Buku metodologi utamanya, The Rules of Sociological Method, terbit tahun 1895 diikuti (tahun 1897) oleh hasil penelitian empiris. Sekitar tahun 1896 ia menjadi profesor penuh di Universitas Bordeaux. Tahun 1902 ia mendapat kehormatan mengajar di Universitas di Prancis yang terkenal, Sorbonne, dan tahun 1906 ia menjadi professor ilmu sangat terkenal lainnya, The Elementary Forins of Religious Life, diterbitkan pada tahun 1912. Durkheim meninggal pada 15 November 1917 sebagai seorang tokoh intelektual Prancis tersohor. Tetapi, karya Durkheim mulai mempengaruhi sosiologi Amerika dua puluh tahun sesduah kematiannya yakni setelah The Structure of Social Action (1973) karya Talcott Parsons. Emile Durkheim sebagai peletak dasar paradigma fakta sosial merupakan tokoh sentral dalam sejarah awal perkembangan sosiologi. Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut dengan fakta sosial. Hal yang terpenting dalam pemisahan sosiologi dari filsafat adalah ide bahwa fakta sosial dianggap sebagai “sesuatu” dan dipelajari secara empiris. Artinya, bahwa fakta sosial mesti dipelajari dengan perolehan data dari luar pikiran kita melalui metode observasi dan eksperimen. Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak baku maupun tidak yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah pakssan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manisfestasimanifestasi individual. Durkheim berpendapat bahwa fakta sosial tidak bisa direduksi kepada individu, namun mesti dipelajari sebagai realitas mereka. Durkheim menyebut fakta sosial dengan istilah Latin sui generis, yang berarti “unik”. Durkheim menggunakan istilah ini untuk menjelaskan fakta sosial memiliki karakter unik yang tidak bisa direduksi menjadi sebatas kesadaran individual. Jika fakta sosial dianggap bisa dijelaskan dengan merujuk pada individu, maka sosiologi akan tereduksi menjadi psikologi. Durkheim membedakan dua tipe ranah fakta sosial materil dan nonmateril (Syukur, 2018). Fakta sosial materil seperti gaya arsitektur bentuk teknologi, dan norma hukum atau perundang-undangan, relatif mudah dipahami karena keduanya bisa diamati secara langsung. Studi Durkheim yang paling penting dan inti dari sosiologi terletak pada fakta sosial nonmateriil. Durkheim mengungkapkan :” tidak semua kesadaran sosial mencapai eksternalisasi dan materialisasi”. Apa yang saat ini disebut dengan norma dan nilai atau budaya oleh sosiologi secara umum adalah contoh yang tepat untuk apa yang disebut Durkheim dengan fakta sosial nonmaterial. Dalam karya yang sama Durkheim menulis: pertama, bahwa “hal-hal yang bersifat sosial hanya bisa teraktualisasi melalui manusia; mereka adalah produk aktifitas manusia” Pada sebagian besar fakta sosial yang dirujuk oleh Emile Durkheim sering diasosiasikan dengan organisasi sosial. Namun, dia menjelaskan bahwa fakta sosial tidak menghadirkan diri dalam bentuk yang jelas. Durkheim menyebutnya dengan arus sosial. Arus sosial dilihat sebagai serangkaian makna yang disepakati dan dimiliki bersama oleh seluruh anggota kelompok. Karena itu sosial tidak bisa dijelaskan berdasarkan suatu pikiran individual. Arus sosial juga tidak bisa dijelaskan secara intersubjektif yaitu berdasarkan interaksi antarindividu. Arus sosial hanya akan tampak pada interaksi bukan individu. Durkheim mengemukakan dengan tegas tiga karakteristik fakta sosial, yaitu: 1. Gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu. 2. Fakta itu memaksa individu. Individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya. 3. Fakta itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat. Durkheim dalam bukunya yang berjudul “The Rules of Sociological Method” memberikan dasar-dasar metodologi dalam sosiologi. Salah satu prinsip dasar yang ditekankan Durkheim adalah bahwa fakta sosial harus dijelaskan dalam hubungannya dengan fakta sosial lainnya. Ini adalah asas mutlak, kemungkinan lain yang besar untuk menjelaskan fakta sosial adalah menghubungkannya dengan gejala individu (seperti kemauan, kesadaran, kepentingan pribadi individu, dan seterusnya) seperti yang dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dan oleh Spencer. PEMBAHASAN Ekonomi Di Era Covid-19 Pada Masyarakat Emile Durkheim mendefinisikan fakta sosial dalam teorinya ialah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa dikatakan bahwa fakta sosial adalah cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasimanifestasi individual (Emile Durkheim, 1895). Tahun 2020 menjadi tahun yang cukup sulit, tak hanya bagi Indonesia tetapi juga untuk negara-negara lain di dunia. Lebih jauh lagi ini berdampak sangat buruk bagi perekonomian dunia khsus nya negara-negara berkembang. Kinerja perekonomian Indonesia jelas akan ikut terdampak. Covid-19 telah menjerumuskan ekonomi global ke dalam kontraksi yang parah. Pandemi Covid-19 telah menciptakan efek domino dari masalah sosial dan ekonomi, dampaknya menghantam seluruh masyarakat. Sejak kemunculannya di akhir tahun 2019, virus Covid-19 telah menyebar di seluruh dunia. Penyebaran virus Corona baru cukup membuat Indonesia terpuruk. Tidak hanya menyerang kesehatan manusia, virus Corona baru juga mengganggu kesehatan ekonomi negara-negara di dunia. Dengan cepatnya penyebaran Covid-19, dampak perlambatan ekonomi global mulai dirasakan di dalam negeri. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar ke 4 di dunia. Jumlah penduduk yang besar jika tidak diikuti dengan peningkatan kualitas penduduk tentu. Indonesia juga ikut terdampak dalam wabah covid-19 . Durkheim melihat fakta sosial berada di sepanjang kontinum hal-hal yang material (Emile Durkheim, 1895) Begitupula dengan krisis ekonomi yang tidak dapat dihindari. Perubahan kondisi ekonomi ini di rasakan bagi perusahaan besar, para pekerja-pekerja kantor, para pedagang pasar, hingga pedagang kaki lima Dengan diberlakukan PSBB dan banyaknya karyawan yang terkena PHK, menyebabkan daya beli masyarakat sangat menurun, dan banyaknya UKM yang terpaksa harus ditutup usahanya terdampak wabah COVID-19. Agar memenuhi syarat sebagai fakta sosial, fenomena yang dibutuhkan untuk memenuhi hal ini terdapat dua kriteria, yaitu mereka harus ada di luar individu, dan mereka harus ada sebelum individu (Emile Durkheim, 1895). Banyak pekerja yang terancam di PHK karena ada beberapa pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk dirumahkan. Selain itu, pemberhentian hak kerja ini juga dilakukan karena berkurangnya daya beli konsumen dan dibatasinya ekspor ke Negara-negara tertentu. Sehingga perusahaan dapat mengalami kerugian. Selain itu, pengangguran bertambah akibat adanya PHK dari perusahaan-perusahaan membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia menurun yang disebabkan salah satunya adalah penurunan level konsumsi masyarakat (Firda Aulia Ariska Dewi, 2020). Pada pandemi ini ekspor yang ada di indonesia juga diperkirakan akan tercatat menurun lebih dari nilai sebelumnya, mengingat sejak tahun 2019 pertumbuhannya negatif. Begitu juga dengan nilai impor akan tetap negatif pertumbuhannya. Sektor UMKM (mikro, kecil dan menengah) adalah sektor yang paling terdampak wabah covid-19. Sebagai negara berkembang Indonesia pastinya begitu bergantung terhadap Ekspor dan Impor, saat-saat seperti ini yaitu merebak nya masalah pandemik covid-19 ini tentu saja mempengaruhi produk-produk ekspor di Indonesia khusus nya pada produk-produk pokok yang akan di ekspor karena Indonesia adalah salah satu negara yang terinfeksi wabah covid-19. Seperti yang kita ketahui pemerintah Indonesia sendiri juga memberlakukan system Physhical distancing yang mana itu menghambat produksi yang ada di Indonesia dan juga akan berdampak pada pendapatan UMKM yang ada. Adanya pembatasan dalam kegiatan ekonomi dan sosial ikut memengaruhi kemampuan UMKM, yang biasanya fleksibel menjadi lemah menghadapi kondisi saat ini Pada saat ini,UMKM terpukul paling depan karena ketiadaan kegiatan di luar rumah dengan adanya penerapan PSBB. Adanya pembatasan dalam kegiatan ekonomi dan sosial ikut memengaruhi kemampuan UMKM, yang biasanya fleksibel menjadi lemah menghadapi kondisi (Kavita Ulumiyah, 2020). Di tengah tren pandemi Covid19 yang demikian, Indonesia kemungkinan besar akan masuk ke fase resesi pada kuartal III 2020. Pasalnya, aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha yang mulai pulih sejak juni 2020 rupanya belum cukup kuat untuk mengangkat laju ekonomi Juli-September. Tugas-tugas yang samar dan tidak sistematis dengan nyata menghambat pertumbuhan ekonomi (Hummel, 2000-121). Selama ini UMKM telah membuktikan kemampuannya bertahan dalam situasi ekonomi yang sulit (Amri, 2020). Sebagian besar UMKM belum berhubungan langsung dengan sektor keuangan domestik, apalagi global. Situasi tersebut menyebabkan UMKM selama ini mampu bertahan terhadap krisis keuangan global. Durkheim yakin bahwa moralitas adalah fakta sosial, dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris, karena ia berada diluar individu, ia memaksa individu, dan bisa dijelaskan dengan fakta-fakta sosial lain (Syukur, 2018). Meskipun telah diketahui ketahanannya dalam menghadapi perlambatan ekonomi, terkait dengan kondisi terkini Ketua Umum Asosiasi Indonesia UMKM (Akumindo) Ikhsan Ingrabatun memperkirakan omset UMKM di sektor nonkuliner turun 30-35% sejak Covid-19 penyebabnya adalah penjualan produk ini mengandalkan tatap muka atau pertemuan antara penjual dan pembeli secara fisik. yang menjual produk non-kuliner menyasar wisatawan asing sebagai pasar . Ekonomi uang menumbuhkembangkan faktor-faktor kuantitatif daripada kualitatif (George Simmel, 1858). Akan tetapi perkembangan di Indonesia masih belum bisa dikatakan belum stabil hingga saat ini sehingga sebagian besar masyarakat mengalami kegagalan dan sebagian lainnya. Adanya pandemi Covid-19 ini berdampak buruk terhadapperekonomian Indonesia. Banyak yang dirugikan akibat Covid-19 ini (Firda Aulia Ariska Dewi, 2020). Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 Berbagai usaha untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19, mulai dari himbauan untuk senantiasa mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak ketika interaksi dengan orang lain, hingga PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) banyak di terapkan di kota-kota besar di Indonesia. Pemerintah saat ini sudah melakukan upaya sistem lock down, social distancing, yang dimana semua kebijakan ini dibuat untuk meminimalir penyebaran virus covid-19 ini. Pembagian kerja didalam organisasi birokratik, menurut Max Weber, dapat mengambil cara kombinasi fungsi atau cara spesialisasi fungsi (Weber 1947:225-226). Individu melakukan suatu tindakan berdasarkan atas pengalaman, persepsi, pemahaman dan atas suatu obyek stimulus atau situasi tertentu. Di sini Weber melihat tindakan sosial berkaitan dengan interaksi sosial (Weber, Durkheim dan Pareto). Para dokter umum dan spesialis angkat bicara bersama guna memberi penjelasan singkat kepada masyarakat maupun imbauan agar menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekaligus tak banyak keluar rumah (Irene, Etal, 2020). Pada saat ini pemerintah menegaskan wajib memakai masker saat keluar rumah agar mencegah penularan virus covid-19 ini. Fakta ini memiliki kekuatan untuk menekan dan memaksa individu menerima dan melaksanakannya (Emile Durkheim, 1895). Berbagai upaya pemerintah melakukan pemutusan rantai penularan covid-19 ini juga tetap akan bergantung dari kesadaran masyarakat secara bersama-sama dalam mencegah penyebaran wabah COVID-19 tersebut. Pada awal munculnya wabah covid-19 ini dari berbagai kalangan membentuk satgas covid-19 untuk memutus rantai penyebaran virus ini, dan juga dari para artis-artis, influencer, pengusaha,dll melakukan tim untuk mengumpulkan dana bagi yang terkena dampak covid19. Dana yang dikumpulkan diberikan berbagai rumah sakit yang ada di seluruh indonesia, dan juga orang yang tidak mampu. Grace Natalie Louisa sebagai tokoh politik ikut mengucapkan tanggapan secara lisan berupa usulan kepada government Indonesia agar memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada warga yang menggantungkan hidup pada pendapatan harian serta melakukan tes COVID-19 secara gratis (Louisa, 2020). Weber melihat birokrasi modern sebagai suatu bentuk organisasi sosial yang paling efisien, sistematis dan dapat diramalkan (Johnson, 1986: 232). Pada saat ini banyaknya pelaku UMKM yang sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Pemerintah juga memberikan keringanan pada masyarakat yang terdampak wabah covid-19 ini seperti pembayaran pajak selama enam bulan, sejak April 2020 hingga September 2020. Serta memasukkan pelaku UMKM dan koperasi sebagai penerima program bantuan pemerintah, seperti Kartu Prakerja, subsidi tarif listrik,dan Keluarga Harapan (Andi Amri, 2020). Adanya juga bantuan dari BRI saat ini untuk pelaku UMKM mendorong keberlangsungan usaha mikro saat pandemi Covid-19. PENUTUP Covid-19 ini dimata masyarakat sangat membawa pengaruh negatif terhadap ekonomi Indonesia. Ekonomi di Indonesia sedang menurun sehingga masyarakat berdampak pada wabah covid-19 ini. Dengan adanya virus Corona (Covid 19), eksport dan import barang akan terganggu. Selain itu, dampak krisis terhadap terhadap tingkat pengangguran menjadi relatif lebih lemah. Dengan adanya pendemi penyakit Covid-19 ini mau tidak mau beberapa perusahaan mengurangi jumlah pekerja atau karyawan sehingga terjadi PHK terhadap karyawan sebagai upaya pencegahan penyebaran penyakit dan juga banyaknya UMKM yang sedang berjuang untuk memenuhi kebutuhannya. Pemerintah melakukan pencegahan agar penularan wabah covid-19 ini tidak meningkat terus. Pemerintah Indonesia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengajurkan masyarakat Indonesia untuk mulai menerapkan Social Distancing atau pembatasan sosial dan wajib memakai masker pada saat keluar rumah. DAFTAR PUSTAKA Amri, Andi (2020). Dampak Covid-19 Terhadap UMKM di Indonesia. Jurnal Brand, Vol 2, No 1, Juni 2020. Dewi, A.A.F (2020). Dampak Covid-19 Terhadap Sektor Ekonomi dan Sektor Pajak Indonesia. Kadir, Abdul. (2017). Prinsip-Prinsip Dasar Rasionalisasi Birokrasi Max Weber Pada Organisasi Perangkat Daerah Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Syukur, M. (2018). Dasar-Dasar Teori Sosiologi. Depok: Rajawali Press. Ulumiyah, Kavita (2020). Dampak Covid-19 Terhadap Sektor Ekonomi dan Sektor Pajak Indonesia.

Judul: Ekonomi Di Era Covid-19 Pada Masyarakat

Oleh: Nur Muhgni Indriyani


Ikuti kami