Program Studidiv Bidan Pendidik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Borneobanjarbaru 2015

Oleh Rizky Widyanti

1,7 MB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Program Studidiv Bidan Pendidik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Borneobanjarbaru 2015

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN IBU HAMIL KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GAMBUT KABUPATEN BANJAR TAHUN 2015 Proposal Penelitian Diajukan Untuk Melengkapi Sebagai Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana Sains Terapan (S.Si.T) Handriyati Sukmasari 11D40033 PROGRAM STUDIDIV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA BORNEOBANJARBARU 2015 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN IBU HAMIL KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GAMBUT KABUPATEN BANJAR TAHUN 2015 Proposal Penelitian Diajukan Untuk Melengkapi Sebagai Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana Sains Terapan (S.Si.T) Handriyati Sukmasari 11D40033 PROGRAM STUDIDIV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA BORNEOBANJARBARU 2015 (HALAMAN PERSETUJUAN) (HALAMAN PENGESAHAN) KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan Kehadirat Allah SWT atas Rahmat, Magrifah dan Hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan proposal penelitian ini dengan judul “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan KEK Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar Tahun 2015”.Proposal penelitian ini disusun dan dibuat dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikan pada program DIV Bidan Pendidik di Stikes Husada Borneo Banjarbaru. Proposal penelitian ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga pembimbing kepada utama yang Ibu Saidatunnisa telah banyak S,Si,T, M.Kes, membantu saya selaku dalam menyelesaikan proposal penelitian dan Ibu Dewi Sari Yanti S.Si.T, selaku pembimbing pendamping yang telah banyak memberikan masukan dan saran dalam menyelesaikan proposal penelitian ini, tanpa adanya bantuan dari pembimbing I dan pembimbing II proposal ini tidak dapat terselesaikan dengan baik. Dan tidak lupa juga dalam kesempatan ini saya ucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada : 1. Ketua dan Pembina Yayasan Stikes Husada Borneo Banjarbaru. 2. Ketua Program Studi DIV Bidan PendidikStikes Husada Borneo Banjarbaru. 3. Seluruh staf pegawai Stikes Husada Borneo Banjarbaru yang telah membantu dalam pembuatan surat studi pendahuluan dalam penyusunan proposal penelitian ini. 4. Segenap Staf Dinas kesehatan yang telah membantu dalam pengumpulan data pada proposal penelitian ini. 5. Dosen-dosen pengajar beserta staf Pendidikan di Program Studi DIV Bidan PendidikStikes Husada Borneo Banjarbaru. 6. Kedua orang tuasayaBapak Moch. Sehan dan Ibu Wahyu Utami Handayani yang selalu berdoa dan bekerja keras serta memberikan semangat yang tiada hentinya, adik saya Moch. Syachrur Sukmana yang menjadi penyemangat saya, dan semua keluarga tersayangyang telah memberikan dukungan moril maupun meteril dengan tulus ikhlasdan mencurahkan segala kasih sayang dan semangat yang tiada henti-hentinya untuksaya. 7. Seluruh responden penelitian yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk berpartisipasi dalam proposal penelitian ini. 8. Semua pihak yang membantu saya terutama teman- teman mahasiswi DIV Bidan PendidikStikes Husada Borneo yang telah banyak membantu dukungan dan semangat sehingga proposal penelitian ini dapat terselesaikan. Semoga Allah SWT membalas budi baik semua pihak yang telah memberikan kesempatan, dukungan dan bantuan kepada saya sehingga proposal penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.Dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang saya miliki, saya menghapkan kritik dan saran dari membangun untuk kesempurnaan proposal penelitian ini. Akhirnya semoga proposal penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat menjadi pedoman dalam melakukan penelitian lain dan selanjutnya. Banjarbaru, Juni 2015 Peneliti DAFTAR ISI Halaman HALAMAN COVER..................................................................................i HALAMAN JUDUL...................................................................................ii HALAMAN PERSETUJUAN....................................................................iii HALAMAN PENGESAHAN.....................................................................iv KATA PENGANTAR................................................................................v DAFTAR ISI.............................................................................................vii DAFTAR TABEL......................................................................................ix DAFTAR GAMBAR..................................................................................x DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang........................................................................................1 2.1 Rumusan Masalah..................................................................................3 3.1 Tujuan.....................................................................................................4 4.1 Manfaat Penelitian..................................................................................4 5.1 Keaslian Penelitian.................................................................................5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kehamilan...............................................................................................6 2.2 KEK Pada Ibu Hamil...............................................................................9 2.3 Pendidikan..............................................................................................13 2.4 Pengetahuan..........................................................................................15 2.5 Prilaku.....................................................................................................18 2.6 Pendapatan Keluarga.............................................................................23 2.7 Status Perkawinan..................................................................................24 2.8 Faktor Biologis........................................................................................24 2.9 Pola konsumsi Ibu Hamil........................................................................25 2.10 Gizi Ibu Hamil.........................................................................................43 2.11 Landasan Teori.......................................................................................51 2.12 Kerangka Teori.......................................................................................52 2.13 Kerangka Konsep...................................................................................53 2.14 Hipotesis.................................................................................................53 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rangcangan Penelitian...................................................................54 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian...........................................................54 3.3 Subjek Penelitian.............................................................................54 3.4 Variabel Penelitiandan Definisi Operasional...................................55 3.5 Instrumen Penelitian........................................................................57 3.6 Teknik Pengumpulan Data..............................................................58 3.7 Teknik Analisis Data........................................................................58 3.8 Prosedur Penelitian.........................................................................60 3.9 Rincian Biaya Dan Jadwal Penelitian..............................................61 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Contoh Pengukuran Prilaku.............................................. 22 Tabel 2.2 Anjuran Makan Ibu Hamil Bahan Makanan Atau Penukarnya 30 Tabel 2.3Menu Untuk Ibu Hamil Pada Trimester Pertama............... 39 Tabel 2.4Menu Untuk Ibu Hamil Pada Trimester Dua dan Tiga....... 40 Tabel 2.5 Tanda Kecakupan Gizi Pada Wanita Dewasa Dan Ibu Hamil 42 Tabel 2.6 Peningkatan Berat Badan Selama Kehamilan.................. 45 Tabel 3.1 Deinisi Operasional........................................................... 60 Tabel 3.2 Rencana Biaya Penelitian................................................. 65 Tabel 3.3 Jadwal Penelitian.............................................................. 66 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian........................................... 52 Gambar 2.2Kerangka Konsep Penelitian.......................................... 53 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat permohonan Ijin Studi Pendahuluan Lampiran 2 Surat Ijin Studi Pendahuluan dari Puskesmas Lampiran 3 Permintaan Jadi Responden Lampiran 4 Persetujuan Jadi Responden Lampiran 5 Lembar Kuesioner Lampiran 6 Lembar Kegiatan Konsul Lampiran 7 Daftar Hadir Seminar Proposal Lampiran 8 Data Bumil dan WUS Dinkes Kab.Banjar Tahun 2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang KEK padaibuhamilyaitukeadaandimanaibumengalamikekuranganmakananberg izi yang berlangsungmenahun.Tiga faktor utama indeks kualitas hidup yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Faktor-faktor tersebut erat kaitannya dengan status gizi masyarakat yang dapat digambarkan terutama pada status gizi anak balita dan wanita hamil (Harahap, 2010). Empat masalah gizi utama di Indonesia yaitu Kekurangan Energi Protein (KEP), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kekurangan Vitamin A (KVA), dan Anemia Gizi Besi (AGB). Di Indonesia banyak terjadi kasus KEK (Kekurangan Energi Kronis) terutama yang kemungkinan disebabkan karena adanya ketidakseimbangan asupan gizi (energi dan protein), sehingga zat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak tercukupi. Hal tersebut mengakibatkan pertumbuhan tubuh baik fisik ataupun mental tidak sempurna seperti yang seharusnya. Ibu hamil yang menderita KEK mempunyai risiko kematian ibu mendadak pada masa perinatal atau risiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Pada keadaan ini banyak ibu yang meninggal karena perdarahan, sehingga akan meningkatkan angka kematian ibu dan anak (Chinue, 2010). Jika status ibu sebelum dan selama hamil normal maka kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal (Mulyaningrum, 2010). Sehingga dapat disimpulkan kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil. Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putriatauwanita mempunyai kecenderungan menderita KEK (Arismas,2010). Menurut World Health Organization (WHO,1995) menyebutkanhampir semua (98%) dari 5 juta kematian neonatal di negara berkembang atau berpenghasilan rendah. Lebih dari dua per tiga kematian adalah BBLR yaitu berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Secara global diperkirakan terdapat 25 juta persalinan per tahun dimana 17% diantaranya adalah BBLR daan hampir semua terjadi di negara berkembang ( Zaenab, 2010). Menurut data Survey DemogarafiKesehatan Indonesia (SDKI,2007) AKI di Indonesia adalah 228 per 100.000 kelahiranhidup, sedangkan data SDKI 2012 rata-rata AKI tercatat 359 per 100.000 kelahiranhidup. MenurutDepkes, 2003 untuk menanggulangi serta mengurangi bayi dengan kelahiran BBLR perlu langkah yang lebih dini. Salah satu caranya dengan mendeteksi secara dini Wanita Usia Subur (WUS) dengan risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Dinegara-negara berkembang seperti Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, Nepal Srilangka dan Thailand prevalensi wanita yang mengalami KEK adalah 15-47 % yaitu dengan BMI < 18,5. Adapun negara yang memiliki prevalensi tertinggi adalah Bangladesh yaitu 47% sedangkan Indonesia 4 menjadi urutan ke empat terbesar setelah India dengan prevalensi 35,5 % dan yang paling rendah adalah Thailand denganprevalensi 15-25 %. Hal ini terjadi karena sebagian besar wanita yang mengalami kekurangan energi disebabkan asupan makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebuah penelitian di India yang menghubungkan pengukuran antropometri kehamilan dengan berat badan lahir rendah, menemukan rata- rata ibu dengan pertambahan berat badan selama kehamilan kurang dari 10 kg terjadi pada kelompok sosial ekonomi rendah dan berdampak pada kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah. Namun para wanita hamil di Colombia dengan sosial ekonomi rendah yang mempunyai risiko kekurangan gizi dengan asupan yang kurang energinya berhubungan signifikan dengan berat bayi lahir rendah (Mulyaningrum, 2010). MenurutRiskesdas, 2007 meskipun demikian ditemukan beberapa Kabupaten kota yang mengalami prevalensi <10% yaitu Soppeng (9,4%), Pinrang (8%) Enrekang, (8,8%), Luwuk utara (7,5%), Makassar(7,7%) Pare-pare (9,75%) dan Palopo (9,1%). Kabupaten yang memiliki prevalensi KEK tertinggi adalah Tana Toraja dengan 33,7 % Meskipun secara nasional mencapai 13,6%. Secara umum di Sulawesi Selatan Prevalensi KEK hanya 12,5% namun di Kabupaten Gowa mencapai 19,9%. Di Sulawesi Selatan persentase WUS yang mempunyai risiko KEK sebesar 17,5%. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Timur Indonesia masih memerlukan perhatian yang lebih besar dalam upaya peningkatan gizi masyarakat. (Depkes, 2011). Menurut data DinkesKabupatenBanjartahun 2013 jumlahibuhamilsebanyak 12421, yang mengalami KEK sebanyak 1142 orang, dantahun 2014 sebanyak 12815, yang mengalami KEK sebanyak 1091 orang. (DinKesKab.Banjar). Data PWS KIA di PuskesmasGambutpadatahun 2013 jumlahibuhamilsebanyak 904 orang, yang mengalami KEK yaitusebanyak 63 orang. Sedangkantahun 2014 jumlahibuhamilsebanyak 924 orang, mengalami KEK sebanyak 74 orang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di PuskesmasGambutKabupatenBanjarpadabulanJanuari 2015 didapatkan data sebanyak 89 orangibuhamil, yang mengalami KEK sebanyak 24 orang. Hasil wawancara terhadap 10 orang ibu hamil di PuskesmasGambutKabupatenBanjarterdapat 7 orang ibu mengalami KEK. Fakta yang terjadi dilapangan penyebab ibu hamilmengalami KEK yaitumerekaberanggapanbahwamakananbanyaksajasudahcukupmemenu hikebutuhanmerekatanpamemikirkankandungandarimakanantersebut. Merekajugapercayadenganpantanganmakananyang diyaknisecaraturun- temurun. Hal tersebutdapat di atasidenganpemberian Informasi persepsi yang benar tentang kecakupangizibagiibuhamil. Berdasarkan hal tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Faktor-faktor Yang BerhubunganDenganIbuHamilKekuranganEnergiKronik (KEK)Di Wilayah KerjaPuskesmasGambutKabupatenBanjarTahun 2015 “. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkanuraianlatarbelakang di atas, makarumusanmasalah yang diangkatdalampenelitianiniadalah “faktor-faktorapasaja yang berhubungandenganibuhamilkekurangan energi kronik (KEK) di wilayahkerjaPuskesmasGambutKabupatenBanjartahun 2015?”. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Faktor-faktor BerhubunganDenganIbuHamilKekuranganEnergiKronik Yang (KEK) Di WilayahKerjaPuskesmasGambutKabupatenBanjarTahun 2015 “. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. MengidentifikasitingkatpedidikanibuhamilKekuranganEnergiKronik(KE K) di Wilayah Kerja PuskesmasGambutKabupatenBanjartahun 2015. 2. MengidentifikasitingkatpengetahuanibuhamilKekuranganEnergiKronik (KEK) di Wilayah Kerja PuskesmasGambutKabupatenBanjartahun 2015. 3. MengidentifikasiprilakuibuhamilKekuranganEnergiKronik (KEK) di Wilayah Kerja PuskesmasGambutKabupatenBanjartahun 2015. 4. MenganalisishubungantingkatpendidikandenganpadaibuhamilKekura nganEnergiKronik (KEK) di Wilayah Kerja Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar tahun 2015. 5. MenganalisishubungantingkatpengetahuandenganpadaibuhamilKeku ranganEnergiKronik (KEK) di Wilayah Kerja Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar tahun 2015. 6. MenganalisishubunganprilakudenganpadaibuhamilKekuranganEnergi Kronik (KEK) di Wilayah Kerja Puskesmas Gambut Kabupaten Banjartahun 2015. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 ManfaatBagiResponden Untukmeningkatkanpengetahuanibutentang status gizi, danKekuranganEnergiKronik (KEK). 1.4.2 ManfaatBagiPuskesmas Denganhasilpenelitianinidiharapkandapatmemberikanmasukanbagipe tugaskesehatan agar lebihmeningkatkanmutupelayanankesehatanterutama KEK padaibuhamil. 1.4.3 ManfaatBagiPeneliti Penelitianinidigunakansebagai media pembelajaranuntukmengaplikasikanilmupengetahuanataumenambahwaw asantentangilmukebidanan yang didapatdalamperkuliahan. 1.4.4 ManfaatBagiInstitusi Sebagaisumberbacaan di Perpustakaan STIKES HUSADA BORNEO Banjarbarudandapatmenjadibahanpertimbanganuntukmelakukanpenelitia n-penelitianlebihlanjutdenganvariabel yang belumditeliti. 1.5 Keaslian Penelitian 1.5.1 Destianti Risky, Faktor-Faktor (KurangEnergiKronik) Yang MempengaruhiKejadian PadaIbuHamil Di KEK Wilayah PuskesmasCempakaTahun 2013dari Prodi DIV BidanPendidik STIKES Husada Borneo BanjarbaruTahun 3013. Perbedaandenganpenelitianterdahuluadalah variable penelitian yang di gunakanyaitutingkatpengetahuan, tingkatpendidikan, pekerjaan, umur, dan KEK, waktu, dantempatpenelitiandilakukan di PuskesmasCempaka. 1.5.2 Erma Syarifuddin Ausa1 ,Nurhaedar Jafar1, Rahayu Indriasari dari Program Studi IlmuGizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, dengan judul Hubungan Pola Makan Dan Status Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Kek Pada Ibu Hamil Di Kabupaten Gowa Tahun 2013. Perbedaanpenelitian yang akandilakukandenganpenelitianterdahuluadalahvariabel penelitian yang digunakan yaitu pola makan, status ekonomi, dan KEK, waktu dan tempat penelitian dilakukan di Kabupaten Gowa Tahun 2013. 1.5.3 EfrinitaNurAgustianHubunganAntaraAsupan DenganKekuranganEnergiKronik KecamatanJebres (Kek) Surakartadari Protein PadaIbuHamil Prodi Di D IV KebidananFakultasKedokteranUniversitasSebelasMaretPadaTanggal Agustus 2010”. Perbedaanpenelitian 2 yang akandilakukandenganpenelitianterdahuluadalahvariabel penelitian yang digunakan yaitu pola makan, status ekonomi, dan KEK, waktu dan tempat penelitian. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kehamilan 2.1.1 Pengertian Kehamilan Kehamilan adalah suatu keadaan istimewa bagi seorang wanita sebagai calon ibu, karena pada masa kehamilan akan terjadi perubahan fisik yang mempengaruhi kehidupannya (Kristiyanasari, 2010). Kehamilan adalah suatu peristiwa yang dimulai dari konsepsi sampai adanya tanda-tanda persalinan (Wikipedia, 2010). Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterine mulai sejak konsepsi sampai permulaan persalinan (Vivin dan Sunarsih, 2011). Kehamilan adalah kondisi dimana seorang wanita memiliki janin yang sedang tumbuh didalam tubuhnya (yang pada umumnya didalam rahim).Kehamilan pada manusia berkisar 40 minggu atau 9 bulan, dihitung dari awal periode menstruasi terakhir sampai melahirkan.kehamilan dibagi dalam tiga triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan ke-4 sampai ke-6, triwulan ketiga dari bulan ke-7 sampai ke-9. Kehamilan adalah suatu peristiwa alami dan fisiologis yang terjadi pada wanita yang didahului oleh suatu peristiwa fertilisasi pembentukan zigot dan akhirnya menjadi janin yang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan didalam uterus sampai proses persalinan. 2.1.2 Pembagian Trimester Masa kehamilan adalah suatu masa yang dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari (9 bulan 7 hari, atau 40 minggu) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Masa kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu: 1) Triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan (pertambahan berat badan sangat lambat yakni sekitar 1,5kg) 2) Triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan (penambahan berat badan 4 ons perminggu). 3) Triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (penambahan berat badan keseluruhan 12kg) (Waryono, 2010). Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT).Menurut Farah (2011) kehamilan dibagi atas 3 trimester yaitu : 2.1.3 1) Trimester I (0-12 minggu) 2) Trimester II (12-28 minggu) 3) Trimester III (28-40 minggu) Kebutuhan Kehamilan 1. Kebutuhan ibu hamil trimester I a. Diet dalam kehamilan Ibu dianjurkan untuk makan makanan yang mudah dicerna dan makan makanan yang bergizi untuk menghindari adanya rasa mual dan muntah begitu pula nafsu makan yang menurun.Ibu hamil juga harus cukup minum 6-8 gelas sehari. b. Pergerakan dan gerakan badan Ibu hamil boleh mengerjakan pekerjaan sehari-hari akan tetapi jangan terlalu lelah sehingga harus di selingi dengan istirahat. Istirahat yang dibutuhkan ibu 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari. c. Hygiene dalam kehamilan Ibu dianjurkan untuk menjaga kebersihan badan untuk mengurangi kemungkinan infeksi, kebersihan gigi juga harus dijaga kebersihannya untuk menjamin pencernaan yang sempurna. d. Koitus Pada umumnya masa kehamilan jika akhir kehamilan, koitus diperbolehkan dilakukan sebaiknya dengan dihentikan pada hati-hati.Pada karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan perdarahan.Pada ibu yang mempunyai riwayat abortus, ibu dianjurkan untuk koitusnya ditunda sampai dengan 16 minggu karena pada waktu itu plasenta telah terbentuk. e. Ibu diberi imunisasi TT1 dan TT2. 2. Kebutuhan ibu hamil trimester II a. Pakaian dalam kehamilan Menganjurkan ibu untuk mengenakan pakaian yang nyaman digunakan dan yang berbahan katun untuk mempermudah penyerapan keringat.Menganjurkan ibu untuk tidak menggunakan sandal atau sepatu yang berhak tinggi karena dapat menyebabkan nyeri pada pinggang. b. Nafsu makan meningkat dan pertumbuhan yang pesat, maka ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi protein, vitamin, juga zat besi. c. Ibu diberi imunisasi TT3. 3. Kebutuhan ibu hamil trimester III a. Mempersilahkan kelahiran dan kemungkinan darurat a) Bekerja sama dengan ibu, keluarganya, serta masyarakat untuk mempersiapkan rencana kelahiran, termasuk mengidentifikasi penolong dan tempat persalinan, serta perencanaan tabungan untuk mempersiapkan biaya persalinan. b) Bekerja sama dengan ibu, keluarganya dan masyarakat untuk mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi, termasuk : - Mengidentifikasi kemana harus pergi dan transportasi untuk mencapai tempat tersebut. - Mempersiapkan donor darah. - Mengadakan persiapan financial. - Mengidentifikasi pembuat keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada ditempat. b. Memberikan konseling tentang tanda-tanda persalinan a) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur. b) Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada servik. c) Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya. d) Pada pemeriksaan dalam: servik mendatar dan pembukaan telah ada. 2.2 KEK Pada Ibu Hamil 2.2.1 Pengertian KEK Kekurangan energi kronik adalah keadaan dimana ibu menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan ibu dengan tanda-tanda atau gejala antara lain badah lemah dan muka pucat. (Depkes RI,1995 skripsi kesmas). Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan di mana seseorang mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun.Risiko Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan di mana seseorang mempunyai kecenderungan menderita KEK. Seseorang dikatakan menderita risiko KEK apabila LILA (Lingkar Lengan Atas) <23,5 cm (Chinue, 2010). KEK adalah penyebab dari ketidakseimbangan antara asupan untuk pemenuhan kebutuhan dan pengeluaran energi (Departement Gizi dan Kesmas FKMUI, 2007). Istilah KEK atau Kurang Energi Kronik adalah merupakan istilah lain dari Kurang Energi Protein (KEP) yang diperuntukkan untuk wanita yang kurus dan lemak akibat kurang energi kronik. Definisi ini diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO). Kekurangan Energi Kronik adalah keadaan dimana remaja putri atau wanita mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun. Menurut Depkes, ibu hamil yang berisiko KEK adalah ibu hamil yang mempunyai ukuran LILA <23,5 cm, sedangkan ibu KEK adalah ibu yang mempunyai ukuran LILA <23,5 cm dan dengan beberapa kriteria sebagai berikut: 1. Berat badan ibu sebelum hamil <42 kg 2. Tinggi badan ibu <145 cm 3. Berat badan ibu pada kehamilan trimester III <45 kg 4. IMT sebelum hamil <17,00 5. Ibu menderita anemia (Hb <11 gr%) Menurut WHO (2005), ibu hamil dengan risiko KEK akan meningkatkan kemungkinan kesakitan maternal, terutama pada trimester ketiga (bulan 7-9) dan meningkatkan risiko melahirkan BBLR. Ibu hamil dengan risiko KEK kemungkinan akan mengalami kesulitan pada saat persalinan, perdarahan, dan berpeluang untuk melahirkan bayi dengan BBLR yang akhirnya menyebabkan kematian pada ibu atau bayi. Risiko KEK pada ibu hamil mempunyai akibat tidak saja pada terhambatnya pertumbuhan janin, berat badan lahir, pertumbuhan bayi dan anak, tetapi juga mempunyai pengaruh buruk pada generasi selanjutnya.Siklus status gizi yang kurang baik ini berlanjut dari status gizi pada masa bayi, balita, masa remaja, dan calon ibu sebagai generasi selanjutnya. Data menunjukkan bahwa sepertiga (35,65%) wanita usia subur (WUS) KEK. Masalah ini akan menghambat pertumbuhan janin sehingga akan menimbulkan risiko BBLR (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI, 2000). Ibu hamil KEK mempunyai risiko kesakitan yang lebih besar, terutama pada trimester ketiga kehamilan, akibatnya mempunyai risiko lebih besar untuk melahirkan BBLR. Selain itu ibu hamil KEK yang telah melalui masa persalinan dengan selamat, akan mengalami masa pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan. Hal ini akan mempengaruhi produksi ASI dan menurunkan kemampuan merawat anak sertadirinya sendiri (Depkes RI). Menurut Guthrie (1995) dalam Hapni (2010), ibu hamil yang menderita KEK dapat terjadi karena jumlah makanan yang dikonsumsi tidak cukup, atau penggunaan zat gizi dalam tubuh tidak optimal, atau kedua-duanya. Hal ini menyebabkan penurunan jumlah sel darah dalam tubuh, sehingga suplai darah dan zat-zat gizi yang diberikan ke janin berkurang, maka pertumbuhan janin akan terhambat dan bayi yang dilahirkan akan BBLR. Berbagai penelitian di negara berkembang menunjukkan bahwa separuh dari penyebab terjadinya kasus BBLR adalah status gizi ibu. Hasil penelitian Rosikin di Kota Cirebon (2004), menunjukkan bahwa ibu hamil dengan risiko KEK berisiko melahirkan bayi BBLR sebanyak 3 kali dibanding ibu dengan LILA normal. Demikian juga dengan penelitian Susanto (2006) dalam Khasanah (2010) di Biak mengatakan bahwa ibu hamil dengan risiko KEK berpeluang melahirkan bayi BBLR sebanyak 7 kali dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak berisiko KEK. Berdasarkan penelitian Saraswati, dkk. di Jawa Barat, menunjukkan bahwa ibu hamil dengan KEK pada batas 23 cm mempunyai risiko 2,0087 kali untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang mempunyai LILA lebih dari 23 cm. 2.2.2 Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) Ada beberapa cara untuk dapat digunakan untuk mengetahui status gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat badan selama hamil, mengukur LILA, mengukur kadar Hb. Bentuk badan ukuran masa jaringan adalah masa tubuh. Contoh ukuran masa jaringan adalah LILA, berat badan, dan tebal lemak. Apabila ukuran ini rendah atau kecil, menunjukan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan.Pertambahan otot dan lemak di lengan berlangsung cepat selama tahun pertama kehidupan.Lingkaran Lengan Atas (LILA) mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak berpengaruh banyak oleh cairan tubuh. Pengukuran ini berguna untuk skrining malnutrisi protein yang biasanya digunakan oleh DepKes untuk mendeteksi ibu hamil dengan resiko melahirkan BBLR bila LILA < 23,5 cm. Pengukuran LILA dimaksudkan untuk mengetahui apakah seseorang menderita Kurang Energi Kronik. Ambang batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23.5 cm. Apabila ukuran kurang dari 23.5 cm atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir rendah (Arisman, 2010). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalan pengukuran LILA a. Pengukuran dilakukan dibagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri. b. Lengan harus dalam posisi bebas. c. Lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang. d. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga permukaannya tidak rata. Penggunaan LILA cukup representatif, ukuran LILA ibu hamil terkait erat dengan indeks massa tubuh (IMT) ibu hamil. Semakin tinggi LILA ibu hamil diikuti pula dengan semakin tinggi IMT ibu.Penggunaan LILA telah digunakan di banyak negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia, pengukuran LILA sebagai indikator risiko KEK telah sering digunakan dalam penelitian. Selain murah, mudah, cepat dan praktis untuk penggunaan di lapangan, LILA cukup representatif dalam menentukkan status gizi ibu hamil terutama berkaitan dengan risiko KEK (Hardinsyah, 1999 dalam Marlenywati 2010). Menurut Gibson (2005) dalam Mulyaningrum (2010), pengukuran mid-upper-arm circumference (MUAC) atau yang lebih dikenal dengan LILA dapat melihat perubahan secara pararel dalam massa otot sehingga bermanfaat untuk mendiagnosis kekurangan gizi. Pada penelitian di India didapatkan hasil yaitu besar LILA relatif stabil atau hanya sedikit perubahan selama masa hamil, dan pengukurannya independen terhadap umur kehamilan.Oleh sebab itu, LILA hanya dapat digunakan untuk penapisan (screening). Screening bermanfaat dalam program gizi dan kesehatan misalnya dalam menentukan wanita hamil yang perlu mendapatkan PMT (pemberian makanan tambahan) atau membutuhkan penyuluhan, pengobatan atau lainnya selama periode kehamilan, namun tidak disarankan untuk digunakan dalam mengevaluasi hasil intervensi (Shah, 2001 dalam Khasanah 2010). 2.2.3 Tujuan Pengukuran LILA Beberapa tujuan pengukuran LILA adalah mencakup masalah WUS baik ibu hamil maupun calon ibu, masyarakat umum dan peran petugas lintas sektoral. Adapun tujuan pengukuran LILA menurut Depkes RI (1994) adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui risiko KEK WUS, baik ibu hamil maupun calon ibu, untuk menapis wanita yang mempunyai risiko melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR). 2. Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar lebih berperan dalam pencegahan dan penanggulangan KEK. 3. Mengembangkan gagasan baru di kalangan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak. 4. Meningkatkan peran petugas lintas sektoral dalam upaya perbaikan gizi WUS yang menderita KEK. 5. Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran WUS yang menderita KEK. 2.2.4 Ambang Batas LILA Ambang batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LILA kurang 23,5 cm atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir rendah (BBLR). BBLR mempunyai risiko kematian, gizi kurang, perkembangan anak. Cara Mengukur LILA gangguan pertumbuhan dan gangguan 1) Tetapkan posisi bahu dan siku 2) Letakkan pita antara bahu dan siku. 3) Tentukan titik tengah lengan. 4) Lingkaran pita LILA pada tengah lengan. 5) Pita jangan telalu ketat. 6) Pita jangan terlalu longgar. 7) Cara pembacaan skala yang benar. (Arisman, 2010) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran LILA adalah pengukuran dilakukan di bagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri.Lengan harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang.Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga permukaannya tidak rata. 2.3 Pendidikan 2.3.1 Pengertian Pendidikan Menurut Nursalam (2003) didalam buku (Dewi dan Wawan, 2010) yaitu makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menunjukkan cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan (Dewi dan Wawan, 2010). Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara (UU No.22 th 2003). Pendidikan adalah suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup, pada umumnya semakin tinggi pendidikan maka akan semakin baik pula tingkat pengetahuannya. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendwasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, pembuatan cara mendidik, kemahiran menyerap pengetahuan akan meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikaps seseorang terhadap pengatahuan yang diserapnya. 2.3.2 Tujuan Pendidikan Pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 2.3.3 Jenjang Pendidikan Menurut Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang akan dikembangkan. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, yaitu : a) Pendidikan dasar Berbentuk sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau berbentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. b) Pendidikan Menengah Berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. c) Pendidikan Tinggi Merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan dokter yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Dari berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu hal mutlak yang harus dipenuhi dalam upaya untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia agar tidak sampai tertinggal dengan bangsa lain, karena itu sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efesiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. 2.4 Pengetahuan 2.4.1 Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba dengan sendiri. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Wawan, 2010). Pengetahuan adalah struktur organisasi pengetahuan yang biasanya merupakan suatu fakta prosedur dimana jika dilakukan akan memenuhi kinerja yang mungkin (Gordon, 2012). Pengetahuan merupakan ingatan atas bahan-bahan yang telah dipelajari dan mungkin ini menyangkut tentang mengikat kembali sekumpulan bahan yang luas dari hal-hal yang terperinci oleh teori, tetapi apa yang diberikan menggunakan ingatan akan keterangan yang sesuai (Ngatimin, 2012). 2.4.2 Tingkatan Pengetahuan Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan : 1) Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.Termasuk kedalam pengetahuan tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.Ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kinerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang ia pelajari antara lain, menyebutkan, menguraikan, menyatakan, dan sebagainya. 2) Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.Orang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. 3) Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (real). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain. 4) Analisa (analysis) Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjawab materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisa ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan/membuat bagian membedakan, mengelompokan dan sebagainya. 5) Sintesis (synthesis) Sentesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. 6) Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.Penilaianpenilaian itu didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas. 2.4.3 Pengukuran Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tetntang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Menurut arikunto (2010) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan interprestasikan dengan skala yang bersifat kuantitatif, yaitu (Wawan, 2010) : 1. Baik : Hasil Presentasi 76%-100% 2. Cukup : Hasil Presentasi 56%-75% 3. Kurang : Hasil Presentasi <50% 2.5 Prilaku 2.5.1 Pengertian Prilaku Prilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi, dan tujuan baik disadari maupun tidak.Prilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi.Sering tidak disadari bahwa berinteraksi tersebut amat kompleks sehingga kadang-kadang kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan prilaku tertentu. Karena itu amat penting untuk dapat menelaah alasan dibalik prilaku individu, sebelum ia mampu mengubah prilaku tersebut (A. Wawan dan Dewi M, 2010). Menurut suryani dalam machfoedz adalah aksi dari individu terhadap reaksi dari hubungan dengan lingkungannya. Dengan kata lain, prilaku baru terjadi apabila sesuatu rangsangan yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi. Jadi, suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi berupa prilaku tertentu. Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Jadi yang dimaksud perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan sangat luas anatara lain, berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010). 2.5.2 Konsep Prilaku Sebelum kita membicarakan tentang prilaku, terlebih dahulu akan dibuat batasan tentang prilaku itu sendiri. Prilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan.Jadi prilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri.Oleh sebab itu, prilaku manusia itu mempunyai bentangan yang cukup luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan sebagainya.Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berfikir, persepsi, dan emosi juga merupakan prilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisa dapat dikatakan bahwa prilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung. Prilaku dan gejala prilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan.Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan ini merupakan penentu dari prilaku makhluk hidup termasuk prilaku manusia. Menurut (Skinner, 1938 dalam A. Wawan dan Dewi, 2010) ada dua respon yang dikenal yaitu : a. Respondent responds atau reflexise respons, yaitu respon yang dihasilkan oleh stimulus tertentu. Stimulus seperti ini disebut elicting stimulation karena stimulus ini menimbulkan respon-respon yang tetap. b. Operant respons atau instrumental respons, yaitu timbulnya respon diikuti oleh stimulasi atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce. Reinforce artinya penguat, hal ini dikarenakan perangsang itu memperkuat respon. Menurut WHO ada empat alasan pokok yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu, yakni: 1. Pemahaman dan pertimbangandalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadapobjek (objek kesehatan). a. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. b. Kepercayaan sering atau orang tua, kakek, atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tannpa adanya pembuktian terlebih dahulu. c. Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau pun dari orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu pada pengalaman orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang. 2. Orang penting sebagai referensi Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang dia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh. 3. Sumber-sumber daya mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya. 4. Kebudayaan, kebiasaan, nilai-nilai dan tradisi Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia. 2.5.3 Prosedur Pembentukan Prilaku Seperti telah disebutkan diatas, sebagian besar prilaku manusia adalah operant respons atau prilaku ini perlu diciptakan adanya suatu kondisi tertentu yang disebut operant conditioning ini menurut Skinner adalah sebagai berikut : 1. Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau reinforce berupa hadiah-hadiah atau rewards bagi prilaku yangakan dibentuk. 2. Melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk prilaku yang dikehendaki. Kemudian komponenkomponen tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya prilaku yang dimaksud. 3. Dengan menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-tujuan sementara, mengidentifikasi reinforce atau hadiah untuk masing-masing komponen tersebut. 4. Melakukan pembentukan prilaku dengan menggunakan urutan komponen yang telah tersusun itu. Apabila komponen pertama telah dilakukan maka hadiahya diberikan. Hal ini akan mengakibatkan komponen atau prilaku (tindakan) tersebut cenderung sering dilakukan. Didalam kenyataannya prosedur ini banyak dan bervariasi sekali dan lebih kompleks dari contoh tersebut diatas. Teori Skinner ini sangat besar pengaruhya terutama di Amerika Serikat. Konsepkonsep behavior control, behavior theraphy, dan behavior modification yang dewasa ini berkembang adalah sumber pada teori ini. ( A.Wawan dan Dewi M, 2010). Bentuk perubahan perilaku menurut WHO yang disadur oleh Notoatmodjo (2010) meliputi : 1. Perubahan Alamiah(Natural Change) Bentuk perubahan perilaku yang terjadi karena perubahan alamiah tanpa pengaruh faktor- faktor lain. Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial, budaya dan ekonomi, maka anggota-anggota masyarakat didalamnya yang akan mengalami perubahan. 2. Perubahan Rencana (Planned Change) Bentuk perubahan perilaku yang terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subyek. 3. Kesediaan Untuk Berubah (Readiness to Change) Setiap orang di dalam masyarakat mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda meskipun kondisinya sama. Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut, namun sebagian lagi sangat lamban. 2.5.4 Bentuk Prilaku Secara lebih operasional prilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perlu dapat dibedakan menjadi dua macam : 1. Bentuk pasif (respon internal)adalah terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat orang lain. Misalnya berpikir, tanggapan, atau sikap batin, dan pengetahuan. Oleh sebab itu prilakunya masih terselubung atau tertutup(covert behavior). 2. Bentuk aktif yaitu apabila prilaku tersebut jelas dan dapat diobservasi secara langsung. Oleh karena itu prilaku mereka sudah tampak dalam tindakan nyata (overt behavior). Prilaku manusia sebagian besar adalah prilaku yang dibentuk , atau prilaku yang dipelajari. Tiga cara membentuk prilaku agar sesuai dengan yang diharapkan : a. Pembentukan prilaku dengan kebiasaan (conditioning) Cara pembentukan prilakunya dengan membiasakan diri untuk berprilaku seperti yang diharapkan, akan terbentuk prilaku tersebut. b. Pembentukan prilaku dengan pengertian (insight)cara pembentukan prilaku didasarkan atas teori belajar kognitif, yaitu belajar dengan disertai adanya pengertian. c. Pembentukan prilaku dengan menggunakan model. Cara ini didasarkan atas teori belajar social (Social Learning Theory) atau Observational Learning Theory. 2.5.5 Pengukuran Prilaku Tabel 2.1contoh pengukuran prilaku Klasifikasi Minum Jahe Ya Tidak Minum jahe Tidak Sumber : A. Wawan dan Dewi M, 2010 2.5.6 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prilaku Kategori prilaku Menurut Lawrence Green (1960) dalam Notoadmodjo (2010) bahwa prilaku manusia dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu sebagai berikut : a. Faktor Predisposisi (predisposing factor). Prilaku individu bisa dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap, tingkat pendidikan, kepercayaan, social ekonomi, tradisi dan sistem nilai yang ada didalam masyarakat. Sebagai contoh jika seorang individu menerima suatu nilai tertentu dari suatu objek, dia dapat menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Begitu pula faktor tradisi di masyarakat, individu yang selalu hidup dalam suasana tradisional akan sulit untuk membuka diri terhadap gagasan dan teknik-teknik baru guna meningkatkan kemampuannya dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan kesehatan. b. Faktor pemungkin (enabling factor) merupakan faktor pendukung individu untuk dapat meningkatkan prilaku positif misalnya bukubuku, brosur-brosur tentang suatu masalah kesehatan. Selain itu faktor pendukung lainnya adalah fasilitas sarana kesehatan. Sarana kesehatan merupakan faktor yang memungkinkan terwujudnya prilaku hidup sehat. Sarana kesehatan merupakan akses seseorang untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatannya. c. Faktor penguat (Reinforcing Factor). merupakan faktor penguat bagi individu untuk berprilaku sehat. Untuk berprilaku sehat individu perlu dukungan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tenaga kesehatan dalam memberikan pesan-pesan kesehatan dalam rangka meningkatkan dan mempertahankan status kesehatannya. Komponen sikap terdiri atas 3 bagian yang saling menunjang yaitu: a. Komponen Kognitif Merupakan representasi apa yang dipercaya oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe yang dimiliki individu menegnai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini) terutama apabila, menyangkut masalah suatu problem yang kontroversial. b. Kompenen Afektif Merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional ini yang biasanya berakar paling dalan sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu. c. Komponen Konatif Merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang.Dan berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.Dan berkaitan dengan obyek yang dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk tendensi perilaku. 2.6 Pendapatan Keluarga Penerimaan baik berupa uang maupun barang, baik dari pihak lain maupun pihak sendiri dari pekerjan atau aktivitas yang kita lakukan dan dengan dinilai sebuah uang atas harga yang berlaku pada saat ini. Pendapatan seorang dapat dikatakan meningkat apabila kebutuhan pokok seorangpun akan meningkat. Suatu kegiatan yang dilakukan untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan tersebut tidak ada yang mengatur dan dia bebas karena tidak ada etika yang mengatur. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga, harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat penggelolaan sumber daya lahan dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya. Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan.Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang diperoleh dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula prosentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran dan beberapa jenis bahan makanan lainnya (FKM UI, 2007). 2.7 Status Perkawinan Status Perkawinan ibu dibedakan menjadi: Kawin adalah status dari mereka yang terikat dalam perkawinan pada saat pencacahan, baik tinggal bersama maupun terpisah. Dalam hal ini tidak saja mereka yang kawin sah, secara hukum (adat, agama, negara dan sebagainya) tetapi juga mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sebagai suami istri.Cerai hidup adalah status dari mereka yang hidup berpisah sebagai suami istri karena bercerai dan belum kawin lagi.Cerai mati adalah status dari mereka yang suami atau istrinya telah meninggal dunia dan belum kawin lagi. 2.8 Faktor Biologis 2.8.1 Usia Ibu Hamil Melahirkan anak pada usia ibu yang muda atau terlalu tua mengakibatkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Karena pada ibu yang terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan.Sehingga usia yang paling baik adalah lebih dari 20 tahun dan kurang dari 35 tahun, sehingga diharapkan status gizi ibu hamil akan lebih baik. 2.8.2 Jarak Kehamilan Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak kelahiran dibawah 2 tahun. Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan energi yang cukup untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya). Dengan mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi berikut yang dikandung. 2.8.3 Paritas Menurut Mochtar paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable).Paritas diklasifikasikan sebagai berikut: a. Primipara adalah seorang wanita yang telah pernah melahirkan satu kali dengan janin yang telah mencapai batas viabilitas, tanpa mengingat janinnya hidup atau mati pada waktu lahir. b. Multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami dua atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas. c. Grande multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami lima atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas. 2.9 Pola Konsumsi Ibu Hamil 2.9.1 Pengertian pola konsumsi Konsumsi makan adalah makanan yang dimakan seseorang.Konsumsi makan merupakan jumlah makanan (tunggal atau beragam) yang dikonsumsi masyarakat, keluarga dan individu dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis, jumlah pangan yang dikonsumsi (dimakan) oleh seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. Pola konsumsi makan merupakan berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai jumlah dan jenis bahan makanan yang dimakan setiap hari oleh setiap orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Pola makan juga dikatakan sebagai suatu cara seseorang atau kelompok orang (keluarga) memilih makanan sebagai tanggapan terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, kebudayaan dan social. Di dalam susunan pola menu tersebut ada satu bahan makanan yang dianggap paling penting.Suatu hidangan dianggap tidak lengkap apabila bahan makanan tersebut tidak ada.Bahan makanan tersebut dinamakan bahan makanan pokok. Bahan makanan pokok dalam pola menu di Indonesia adalah beras dan pada beberapa daerah digunakan juga jagung, sagu dan ubi jalar. Pola konsumsi pangan merupakan hasil budaya masyarakat yang bersangkutan, dan mengalami perubahan terus menerus sesuai dengan kondisi lingkungan dan tingkat kemajuan budaya masyarakat.Pola konsumsi ini diajarkan dan bukan diturunkan secara herediter dari nenek moyang sampai generasi mendatang.Masalah pangan dan gizi di suatu daerah terkait erat dengan tingkat konsumsi perkapita.Konsumsi makanan masyarakat dapat diperkirakan dengan mengumpulkan data-data tentang kapasitas produksi seluruh makanan yang kemudian angka tersebut dikurangi jumlah yang digunakan untuk bibit, eksport, kerusakan paska panen dan distribusi serta untuk cadangan.Dalam keluarga,yaitu pengetahuan, pendapatan rendah dan jumlah anak yang banyak cenderung pola konsumsi pangan berkurang pula. Pengukuran konsumsi makanan sangat penting untuk mengetahui kenyataan makanan yang dimakan oleh masyarakat dan hal ini dapat berguna untuk mengukur status gizi dan menemukan faktor diet yang dapat menyebabkan malnutrisi. Pengukuran konsumsi makanan ini dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi.Konsumsi makanan dalam bentuk zat gizi diperoleh dari konsumsi bahan pangan yang dikonversi ke dalam bentuk zat gizi dengan menggunakan daftar.Perubahan hormonal selama kehamilan di duga sebagai pemicu terjadinya rasa mual dan muntah pada ibu hamil.Ada yang hanya berlangsung sebentar, tetapi ada juga yang sampai berminggu-minggu bahkan hingga trimester kedua. Berikut beberapa tips untuk mengurangi gejala mual dan muntah selama hamil : 1. Hindari makanan porsi besar, makan lebih sering dengan porsi kecil (2-3 jam sekali). 2. Makanan tinggi karbohidrat dan protein dapat mengurangi rasa mual seperti : biscuit, roti, dan kentang. 3. Hindari bau makanan yang menyengat. 4. Sesudah makan janga terburu-buru berbaring, tetapi segera berdiri. 5. Makan crakers 15 menit setelah bangun tidur di pagi hari. 6. Jangan menunda makan. 7. Hindari makanan terlalu berlemak dan berbumbu tajam. 8. Hindari kopi dan minuman bersoda. 9. Perbanyak minum air putih dan jus. 10. Jangan minum disaat makan, tetapi minum setengah jam sebelum dan sesudah makan. 11. Konsumsi makanan yan agak dingin akan mengurangi bau menyengat. 12. Konsumsi makanan bercita rasa agak asam, aroma jahe, dan buah segar. 13. Vitamin B6 dapat mengurangi rasa mual pada saat morning sickness, namun konsultasikan terlebih dahulu ke dokter. 14. Terdapat beberapa makanan yang perlu dihindari selama kehamilan, antara lain seperti : a.Makanan yang miskin zat besi tapi kaya kalori, seperti gula, lemak, permen, kue-kue bermentega, dank rim kental. Makanan ini dapat menyebabkan obesitas dan bersifat mengenyangkan. b.Makanan bergaram tinggi, seperti kornet, ikan asin, dan sayuran kalengan, sebab dapat meicu kenaikan tekanan darah. c. Alkohol, kopi, dan minuman bersoda yang dapat memicu hipertensi. d.Makanan yang diolah tidak sempurna dan mentah, seperti ikan salmon mentah, steak setengah matang, telur mentah atau setengah matang, dan susu segar. Makanan tersebut dikhawatirkan masih mengandung bakteri berbahaya seperti bakteri listeria monocytogenes penyebab keguguran, bakteri e.coli yang merusak usus dan sel ginjal, serta bakteri salmonella penyebab keracunan. e.Makanan yang mengandung penyedap rasa, pewarna, aditif pengawet, sintesis, pemberi pemanis, dan penambah aroma (aneka esen). f. Makanan yang terlalu manis. (gizi terapan hal 57-58). 2.9.2 Anjuran Makan Ibu Hamil seperti rasa, Konsumsi makanan yang adekuat untuk ibu hamil adalah yang jika dikonsumsi tiap harinya dapat memenuhi kebutuhan zat-zat gizi dalam kualitas maupun kuantitasnya serta mendukung kondisi fisiologis yang sedang dialami ibu hamil.Kualitas makanan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh dalam susunan makanan dan perbandingan yang satu terhadap lainnya.Kuantitas menunjukkan kuantum masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh (Sediaoetama, 1993 dalam Marlenywati 2010). Kehamilan merupakan masa kehidupan yang penting.Pada masa ini ibu harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambut kelahiran bayinya. Ibu sehat akan melahirkan bayi yang sehat. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan ibu adalah keadaan gizi ibu.Selama kehamilan ibu perlu memperhatikan makanan sehari-hari agar terpenuhi zat gizi yang dibutuhkan selama kehamilan. Menurut Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI (2000), kebutuhan gizi ibu hamil dapat terpenuhi apabila ibu mengkonsumsi makanan yang beranekaragam, dengan mengkonsumsi makanan yang beranekaragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi dari makanan lainnya. Makanan yang beranekaragam memberikan manfaat yang besar terhadap kesehatan ibu hamil, karena makin beragam yang dikonsumsi, makin baik mutu makanannya. Makanan aneka ragam adalah hidangan dengan menu yang bervariasi paling sedikit terdiri dari: 1. Satu jenis makanan pokok, misalnya nasi, jagung, roti, ubi, kentang, sagu, yang merupakan sumber zat tenaga. 2. Satu jenis lauk pauk, misalnya tempe, tahu, telur, ikan, daging, yang merupakan zat pembangun 3. Satu jenis sayuran dan buah-buahan yang merupakan sumber zat pengatur. Pola makanan yang baik bagi ibu hamil harus memenuhi sumber karbohidrat, protein dan lemak serta vitamin dan mineral. Apabila kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral yang meningkat ini tidak dapat dipenuhi melalui konsumsi makanan oleh ibu hamil, akan terjadi kekurangan gizi. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat berakibat: 1. Berat badan bayi pada waktu lahir rendah atau sering disebut Berat Badan Bayi Rendah (BBLR) 2. Kelahiran prematur (lahir belum cukup umur kehamilan) 3. Lahir dengan berbagai kesulitan, dan lahir mati (Notoatmodjo, 2010). Ibu hamil yang kekurangan gizi berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).Oleh karena itu, ibu hamil harus memahami dan mempraktikkan pola hidup sehat bergizi seimbang sebagai salah satu upaya untuk menjaga keadaan gizi ibu dan janinnya tetap sehat (Kurniasih, dkk, 2010). Hidangan bagi ibu hamil sebaiknya memperhatikan prinsip menu seimbang, yaitu mengandung semua unsur zat gizi, yaitu sumber karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan air.Bahkan makanan yang dipilih juga harus cukup mengandung serat, yaitu yang bersumber dari sayur dan buah. Jenis bahan makanan yang digunakan sebaiknya bersumber dari bahan makanan segar, hindari bahan makanan hasil awetan (Sulistyoningsih, 2011). Anjuran pembagian makanan sehari ibu hamil dapat disederhanakan dalam bentuk bahan makanan dengan memakai ukuran rumah tangga (URT) sebagai berikut: Tabel 2.2 Anjuran Makan Ibu Hamil Bahan Makanan atau Penukarnya Bahan Makanan Atau Anjuran Makanan Ibu Hamil Bahan Makanan Atau Penukarnya Penukarnya Trimester I Trimester II Nasi 5 porsi 5 porsi Sayur 4 porsi 3 porsi Buah 3 porsi 5 porsi Tempe 3 porsi 3 porsi Daging 3 porsi 4 porsi Minyak 4 porsi 4 porsi Susu 1 porsi 1 porsi Sumber: Anjuran Pembagian Makanan Sehari Ibu Hamil dalam Sehat dan Bugar Berkat Gizi Seimbang, 2010. Keterangan: 1. Nasi 1 porsi = ¾ gls = 100 gram 2. Sayur 1 porsi = 1 gls = 100 gram 3. Buah 1 porsi = 1-2 bh = 50-190 gram 4. Tempe 1 porsi = 2 ptg sdg = 50 gram 5. Daging 1 porsi = 1 ptg sdg = 35 gram 6. Minyak 1 porsi = 1 sdt = 5 gram 7. Susu bubuk 1 porsi = 4sdm Dengan mengkonsumsi makanan tersebut diperhitungan bahwa kebutuhan gizi ibu hamil dapat tercukupi. Dalam PUGS susunan makanan yang dianjurkan adalah menjamin keseimbangan zat-zat gizi.Hal ini dapat dicapai dengan mengkonsumsi beranekaragam makanan tiap hari.Tiap makanan dapat saling melengkapi dalam zat-zat gizi yang dikandungnya. Pengelompokan bahan makanan disederhanakan, yaitu didasarkan pada tiga fungsi utama zat-zat gizi, yaitu sebagai berikut: 1. Sumber zat energi/tenaga: padi-padian, tepung-tepungan, umbi-umbian, sagu. 2. Sumber zat pengatur: sayuran dan buah-buahan. 3. Sumber zat pembangun: ikan, ayam telur, daging, susu, kacang-kacangan dan hasil olahannya, seperti tempe, tahu dan oncom. Untuk mencapai prinsip gizi seimbang hendaknya susunan makanan sehari terdiri dari campuran ketiga kelompok bahan makanan tersebut yang terdiri dari: 1. Bahan Makanan Pokok Dalam susunan hidangan Indonesia sehari-hari, bahan makanan pokok merupakan bahan makanan yang memegang peranan penting.Pada umumnya porsi makanan pokok dalam jumlah (kuantitas/volume) terlihat lebih banyak dari bahan makanan lainnya.Porsi nasi dalam prinsip gizi seimbang untuk ibu hamil adalah 5 porsi untuk semua trimester.Dari sudut ilmu gizi, bahan makanan pokok merupakan sumber energi dan mengandung banyak karbohidrat. Karbohidrat dikenal sebagai zat gizi makro sumber bahan bakar (energi) utama bagi tubuh.Karena sebagian besar energi berasal dari karbohidrat, maka makanan sumber karbohidrat digolongkan sebagai makanan pokok (Kurniasih, dkk, 2010). Kebutuhan akan energi pada trimester 1 meningkat secara minimal. Setelah itu, sepanjang trimester 2 dan 3, kebutuhan akan terus membesar sampai pada akhir kehamilan. Energi tambahan selama trimester 2 diperlukan untuk pemekaran jaringan ibu, yaitu penambahan volume darah, pertumbuhan uterus dan payudara, serta penumpukan lemak.Sepanjang trimester 3, energi tambahan dipergunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta.Pertambahan energi disebabkan oleh peningkatan laju metabolisme basal.Selain itu, tambahan energi juga diperlukan untuk menjaga ketersediaan cadangan protein.Pertambahan energi ini terutama diperlukan pada 20 minggu terakhir dari masa kehamilan, yaitu ketika pertumbuhan janin berlangsung sangat pesat. Intake energi yang cukup yaitu penambahan 55.000 kkal selama 9 bulan kehamilan diperlukan untuk: 1. Fetus (pertumbuhan fetus dan aktivitas fisik fetus) 2. Ibu (peningkatan basal metabolisme, simpanan lemak, pertumbuhan uterus dan payudara, volume darah bertambah dan perubahan aktivitas) Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi.Menurut Glade B. Curtis mengatakan bahwa tidak ada satu rekomendasi yang mengatur berapa sebenarnya kebutuhan ideal karbohidrat bagi ibu hamil.Namun, beberapa ahli gizi sepakat sekitar 60% dari seluruh kalori yang dibutuhkan tubuh adalah karbohidrat.Jadi, ibu hamil membutuhkan karbohidrat sekitar 1.500 kalori (Kristiyanasari, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Syahnimar (2004), menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna antara frekuensi makan makanan pokok dengan risiko KEK, selain itu wanita yang mempunyai frekuensi makan makanan pokok yang kurang dapat berpeluang untuk mengalami risiko KEK sebanyak 3,2 kali dibanding dengan wanita dengan frekuensi makan makanan pokok cukup. Energi dalam tubuh manusia dapat timbul dikarenakan adanya pembakaran karbohidrat, protein dan lemak, dengan demikian agar selalu tercukupi energinya diperlukan pemasukan zat-zat makanan yang cukup ke dalam tubuhnya. Menurut Suhardjo di dalam Kristiyanasari (2010) dalam prinsip-prinsip ilmu gizi, seseorang tidak dapat bekerja dengan energi yang melebihi dari apa yang diperoleh dari makanan kecuali jika menggunakan cadangan energi dalam tubuh, namun apabila kebiasaan menggunakan cadangan ini terus menerus, maka akan dapat mengakibatkan keadaan kurang gizi khususnya energi dalam tubuh. Asupan energi pada trimester 1 diperlukan untuk menyalurkan makanan dan pembentukan hormon, sedangkan pada janin diperlukan untuk pembentukan organ.Asupan energi pada trimester 2 diperlukan untuk pertumbuhan kepala, badan, dan tulang janin. Trimester 3 juga terjadi pertumbuhan janin dan plasenta serta cairan amnion akan berlangsung cepat selama trimester 3 (Sulistyoningsih, 2011). Ketika jumlah makanan yang dikonsumsi tidak cukup atau tidak adekuat. Hal ini menyebabkan penurunan volume darah, sehingga aliran darah ke plasenta menurun, maka ukuran plasenta berkurang dan transfer nutrient juga berkurang yang mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat dan bayi yang dilahirkan akan BBLR. Hal ini terjadi karena pentingnya peran plasenta yaitu sebagai alat transport, menyeleksi zat-zat makanan sebelum mencapai janin, efisiensi plasenta dalam mengkonsentrasikan, mensintesis, dan transport zat gizi menentukan suplai ke janin. 2. Bahan Makanan Lauk Pauk Kadar zat makanan (gizi) pada setiap bahan makanan memang tidak sama, ada yang rendah dan ada pula yang tinggi, karena itu setiap bahan makanan akan saling melengkapi zat makanan/gizinya yang selalu dibutuhkan tubuh manusia guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik serta energi yang cukup guna melaksanakan kegiatankegiatannya. Zat makanan (gizi) yang diperlukan tubuh manusia ada yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau biasa disebut dengan lauk nabati dan ada pula yang berasal dari hewan yaitu lauk hewani. Lauk sebaiknya terdiri dari atas campuran lauk hewani dan nabati.Lauk hewani, seperti daging, ayam, ikan, udang dan telur mengandung protein dengan nilai biologi lebih tinggi daripada lauk nabati.Kacang-kacangan dalam bentuk kering atau hasil olahannya, walaupun mengandung protein dengan nilai biologi sedikit lebih rendah daripada lauk hewani karena mengandung lebih sedikit asam amino esensial metionin, merupakan sumber protein yang baik. Pengolahan kacangkacangan menjadi tempe, tahu, susu kedelai, dan oncom tidak saja meningkatkan cita rasa tetapi juga meningkatkan kecernaan dan ketersediaan zat-zat gizi bagi tubuh (Almatsier, 2011). Dalam pola makan bergizi seimbang porsi lauk-pauk sumber protein hewani ibu hamil harus lebih besar daripada ibu tidak hamil. Bila kebutuhan energy ibu hamil 2.000 kkal per hari, maka kebutuhan proteinnya 50 gram ditambah 17 gram protein, yang setara dengan 1 porsi daging (35 gram) dan 1 porsi tempe (50 gram). Adapun makanan kaya protein nabati adalah kacang-kacangan dan hasil olahnya, terutama tempe, tahu susu kedelai (Kurniasih, dkk, 2010). WHO menganjurkan tambahan protein sebanyak 0,75 g/kg berat badan bagi wanita. Sedangkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi Tahun 2004 menganjurkan tambahan protein sebesar 17 gram, baik untuk trimester I, II maupun III (Arisman, 2010). Konsumsi protein kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan terjadinya: 1. Defisiensi protein selama pertumbuhan fetus 2. Pengurangan transfer protein ke fetus 3. Penurunan jumlah sel dalam jaringan ketika lahir 4. Efek serius pada otak Hasil penelitian yang dilakukan Saraswati (2006) terhadap ibu hamil di Sukabumi menunjukkan bahwa pola konsumsi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap ibu hamil KEK. Pola konsumsi lauk hewani pada ibu hamil yaitu sebesar 27,60% ibu hamil tidak pernah mengkonsumsi daging dan diatas 65% ibu hamil tidak pernah mengkonsumsi hati, terlihat bahwa mereka mengkonsumsi makanan yang kurang dari aspek kuantitas dan kualitas. Menurut Penelitian Azma (2002) di Sukabumi, proporsi ibu dengan pola konsumsi lauk nabati tidak sesuai mengalami risiko 30,4% dan 9,4% ibu hamil dengan pola konsumsi lauk nabati sesuai. Ibu hamil dengan pola konsumsi lauk nabati tidak sesuai mempunyai risiko untuk KEK sebesar 4,225 kali dibanding dengan ibu hamil dengan pola konsumsi lauk nabati sesuai. Dalam buku ilmu gizi, protein selain akan digunakan bagi pembangun struktur tubuh (pembentukan berbagai jaringan) juga akan disimpan untuk digunakan dalam keadaan darurat, sehingga pertumbuhan terus berlangsung, akan tetapi apabila dalam keadaan terus-menerus menerima makanan yang tidak seimbang, dengan sendirinya akan terjadi pertumbuhan yang kurang baik, daya tahan tubuh menurun, rentan terhadap penyakit, dan lain-lain. Proses-proses yang berlangsung di dalam tubuh dikendalikan oleh tersedianya protein di dalam tubuh. Proses pencernaan misalnya hanya akan berlangsung secara teratur dengan dukungan hormon yang mencukupinya, sedangkan hormon itu terdiri dari protein. Untuk memenuhi kebutuhan metabolisme dan kecepatan sintesis protein, maka pangan yang dikonsumsi harus mengandung asam amino dalam jumlah dan kualitas yang cukup.Asam amino arginin dan taurin secara fungsional penting dalam perkembangan janin dan bayi. Protein yang akan dihidrolisis menjadi asam amino, diabsorpsi dan diangkut melalui sistem portae ke hati. Asam amino masuk sirkulasi sistemik dan didistribusikan ke seluruh tubuh.Hati merupakan tempat sintesis protein dari asam amino. Karena adanya penggunaan kembali asam amino maka sintesis dan degradasi protein akan terjadi setiap hari terhadap protein yang dikonsumsi. Pada saat hamil terjadi metabolisme asam amino yang cukup tinggi.Peningkatan volume darah dan pertumbuhan jaringan ibu membutuhkan sejumlah protein. Protein yang tidak memenuhi kebutuhan secara nyata akan menurunkan pertumbuhan janin yaitu penurunan berat badan ibu, penurunan jumlah sel, dan berbagai perubahan biokimia. Janin menerima asam amino dari ibu melalui plasenta dengan sistem transport tidak aktif (difasillitasi). Konsentrasi asam amino pada janin lebih tinggi dari pada ibu.Plasenta sangat aktif dalam metabolisme yang berperan penting dalam metabolisme nitrogen (Aritonang, 2010). Hampir 70% protein digunakan untuk pertumbuhan janin yang dikandung.Pertumbuhan dimulai dari pertumbuhan sebesar sel sampai tubuh janin mencapai kurang lebih 3.5 kg, protein juga digunakan untuk pembentukan plasenta.Bila asupan protein tidak mencukupi maka plasenta menjadi kurang sempurna padahal plasenta berfungsi untuk menunjang, memelihara, dan menyalurkan makanan bagi janin.Protein juga diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak dan myelin selama masa janin dan berkaitan erat dengan kecerdasan.Selain untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, protein juga dibutuhkan untuk persiapan persalinan. Sebanyak 300-500 ml darah diperkirakan akan hilang pada persalinan sehingga cadangan darah diperlukan pada periode tersebut dan hal ini tidak terlepas dari peran plasenta (Sulistyoningsih, 2011). 3. Bahan Makanan Sayuran Vitamin dan mineral terutama banyak terdapat dalam sayur dan buah, khususnya yang berwarna kuning dan hijau gelap. Vitamin dan mineral adalah zat gizi makro yang memperlancar proses pembuatan energi dan proses biologis lainnya yang diperlukan untuk mempertahankan kesehatan. Oleh sebab itu didalam tumpeng gizi seimbang, sayuran dan buah dianjurkan dikonsumsi sesering mungkin setiap hari (Kurniasih, dkk, 2010). Sayur dan buah merupakan sumber vitamin dan mineral yang diperlukan untuk mengatur metabolisme di dalam tubuh.Vitamin B1 yang terdapat dalam buah dan sayuran berfungsi sebagai enzim yang penting untuk menghasilkan energi dan metabolime karbohidrat serta membantu fungsi normal syaraf, otot dan jantung serta vitamin B6 berperan dalam pembentukan protein tubuh (Almatsier, 2001). Vitamin B6 diperlukan pada proses metabolisme protein, apabila terjadi defisensi vitamin ini, maka akan terjadi ketidak normalan pada metabolisme protein sehingga tidak dapat mengubah asam amino menjadi niasin. Vitamin B6 ini banyak terkandung pada sayur-mayur. Pada penelitian Azma (2002) di Sukabumi, terlihat prevalensi ibu hamil yang menderita risiko KEK lebih banyak dijumpai pada ibu hamil dengan frekuensi konsumsi sayur <3 kali sehari (29,6%) dan 22,4% ibu hamil yang frekuensi konsumsi sayur ≥3 kali sehari. Ibu hamil yang frekuensi konsumsi sayur <3 kali sehari mempunyai risiko untuk KEK sebesar 1,456 kali disbanding dengan frekuensi konsumsi sayur ≥3 kali sehari. Sedangkan pada penelitian Yuliani (2002) di Bogor, sebagian besar pola konsumsi sayuran pada ibu hamil tidak sesuai dengan anjuran makan ibu hamil yaitu sebesar 81,6%. 4. Bahan Makanan Buah-buahan Buah berwarna kuning seperti mangga, papaya dan pisang raja kaya akan provitamin A, sedangkan buah seperti jeruk, jambu biji, dan rambutan kaya akan vitamin C. Secara keseluruhan buah merupakan sumber vitamin A, vitamin C, kalium dan serat. Sayur dan buah merupakan sumber vitamin dan mineral yang diperlukan untuk mengatur metabolisme di dalam tubuh.Vitamin B1 yang terdapat dalam buah dan sayuran berfungsi sebagai enzim yang penting untuk menghasilkan energi dan metabolime karbohidrat serta membantu fungsi normal syaraf, otot dan jantung serta vitamin B6 berperan dalam pembentukan protein tubuh. Vitamin B1 sangat diperlukan tubuh, tersedianya dalam tubuh karena diserap usus dari makanan , selanjutnya diangkat bersama darah ke jaringan-jaringan tubuh. Vitamin B1 ditemukan sebagai cadangan dalam jumlah yang terbatas di dalam hati, jantung, otot dan otak.Sebagai cadangan diperlukan untuk memelihara fungsi alat-alat tubuh. Vitamin B1 membantu dalam pembakaran karbohidrat dan diangkat didalam darah oleh sel darah putih yang mempunyai inti dengan vitamin B1. Dari fungsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa makin banyak karbohidrat yang dikonsumsi maka kebutuhan akan vitamin B1 akan banyak pula, salah satu contoh bagi ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusui sudah tentu akan memerlukan vitamin B1 lebih banyak daripada biasanya. Pada penelitian Azma (2002), terlihat prevalensi ibu hamil yang menderita risiko KEK lebih banyak dijumpai pada ibu hamil dengan frekuensi konsumsi <2 kali sehari sebesar 30,7% dan 24,2% ibu hamil dengan frekuensi konsumsi buah ≥2 kali sehari mengalami risiko KEK. Begitu juga dengan hasil penelitian Hapni (2004) dan penelitian Yuliani (2002). 5. Susu dan Hasil Olahannya Susu merupakan makanan alami yang hampir sempurna. Sebagian besar zat gizi esensial ada dalam susu, yaitu protein bernilai biologi tinggi, kalsium, fosfor, vitamin A, dan tiamin. Susu merupakan sumber kalsium paling baik, karena disamping kadar kalsium yang tinggi, laktosa didalam susu membantu absorpsi susu didalam saluran cerna. Balita, ibu hamil dan ibu menyusui dianjurkan paling kurang minum satu gelas susu sehari, atau hasil olahannya berupa yogurt, yakult, dan keju dalam jumlah yang ekivalen (Almatsier, 2010). 2.9.3 Menu Untuk Ibu Hamil Ibu hamil memerlukan makanan yang bermutu, tidak berlebihan dan tidak kekurangan.Ibu yang sedang hamil tidak boleh hanya menuruti keinginan makanannya sendiri saja, karena selera makanan ibu belum tentu sesuai dengan kebutuhan tubuh ibu dan anak.Dengan demikian, ibu hamilmembutuhkan pola makan yang seimbang yang sesuai dengan menu sehat seimbang. Pola makan ibu hamil harus mendapat perhatian utama karena malnutrisi pada ibu hamil akan merusak perkembangan otak janin, selain memperbesar komplikasi kehamilan maupun persalinan, juga berpeluang menyebabkan kecacatan pada janin. Berikut ini disajikan berbagai menu untuk ibu hamil berdasarkan trimester, status gizi, dan jenis penyakit. 1. Menu Untuk Ibu Hamil Per Trimester Pada trimester pertama, idealnya ibu hamil bertambah berat badan sebanyak 0,5 kg setiap minggunya, atau 1-2 kg selama trimester pertama. Untuk memenuhi kebutuhan ini, ibu hamil memerlukan tambahan energi sebesar 300 kkal/hari. Sedangkan protein yang diperlukan untuk ibu hamil adalah adalah 60 g/hari atau 17 g lebih banyak dari wanita yang sedang tidak hamil. Sumber protein tersebut dapat dipenuhidari protein hewani (ikan, telur, daging, seafood, dan lain-lain) dan protein nabati (tahu, tempe, jagung, jamur, dan lain-lain). Jumlah zat besi yang diperlukan semasa kehamilan berbeda per trimesternya. Pada trimester pertama, tambahan zat besi belum dibutuhkan. Kondisi ini ternyata sangat menguntungkan bagi wanita hamil yang mengalami mual muntah. Selain pemilihan bahan pangan ibu hamil pada trimester I diperbolehkan untuk menkonsumsi makanan dengan rasa asam dan pedas (asalkan tidak berlebihan) serta berkuah untuk mengurangi rasa mual dan menambah selera makanan.Namun demikian, untuk ibu hamil dengan riwayat keguguran sebaiknya menghindari makanan pedas sebab dapat merangsang rasa mulas yang selanjutnya dapat menimbulkan konstraksi dalam rahim. Bahan makanan yang dapat di konsumsi untuk mengurangi rasa mual adalah yang banyak mengandun B1 seperti hasil laut. Bahkan hasil laut ini sangat banyak mengandung asam lemak omega 3 yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Berikut contoh menu untuk ibu hamil pada trimester pertama. Tabel 2.3 Menu untuk ibu hamil pada trimester pertama Waktu makan Pagi Daftar menu I Macaroni kukus (200g) Jus melon (250ml) Selingan Creakers goring isi daging (60g) Siang Nasi putih (150g) Sup udang asam pedas (250ml) Hot pot kangkung (60g) Daging bumbu tomat (75g) Selingan Malam Bubur kacang hijau (200ml) Nasi putih (150g0 II Kentang ongklok (200g) Jus melon (250ml) Kolak labu kuning (150g) Nasi putih (150g) Sambal goring telor toege (150g) Sup jaur kupng ( 60g) Tahu asam pedas (100g) Kroket kentang isi keju (100g) Nasi putih (150g) Capcay kembang kol (150g) Pepes ikan mas (100g) Perkedel tahu (60g) Tumis teri pedas (60g) Sup kembang tahu (150ml) Perkedel kentang (50g) Sumber : buku gizi terapan halaman 64 Pada trimester perkembangan kedua janin dan menuju ketiga adalah masa sempurna.Sedangkan pertumbuhan otak sangat pesat terjadi pada minggu ke 15-20 dan minggu ke-30.Pada saat ini, biasanya morning sickness sudah berakhir.Pada trimester kedua, biasanya berat badan bertambah 3-8 kg dengan kenaikan ideal 0,5kg setiap minggunya.Pada trimester kedua dan ketiga diperlukan juga tambahan energi sebesar 300 kkal per hari. Memasuki trimester kedua dan ketiga, tambahan kebutuhan akan zat besi masingmasing sebesar 9 dan 13 mg per hari. Bahkan pangan sumber zat besi dapat berasal dari nabati seperti beras tumbuk, kacang-kacangan, dan sayuran hijau, sedangkan dari hewani seperti hati dan daging.Hanya saja, zat besi yang terkandung dalam bahan pangan nabati sulit diserap dibandingkan dengan bahan pangan hewani. Berikut contoh menu untuk ibu hamil pada trimester kedua dan ketiga menurut Khomsan dan Sutomo (2010). Tabel 2.4 Menu untuk ibu hamil pada trimester kedua dan ketiga Waktu makan Pagi Selingan Siang Selingan Daftar menu II Bihun goring seafood (200g) Jus wortel (250ml) Pudding sari nanas (60g) Nasi putih (150g) Sup telur gulung (250ml) Kalian cah udang (100g) Dendeng masak pedas (60g) Pudding nanas roti pisang III Nasi tim ayam (200g) Jus pisang mangga (250ml) Kentang ongklok (60g) Nasi putih (150g) Ayam teriyaki (250g) Buncis masak wien (100g) Sup bola tahu (60g) Pudding soya stowberi (75g) Nasi putih (150g) Ayam goreng telur (100g) Malam Sayur tempe daun pukis (100g) Gimbal udang (60g) Sumber : Gizi Terapan halaman 65 (75g) Nasi putih (150g) Tahu kukus sayuran (150ml) Acar lobak ikan (100g) Rollade tempe (60g) 2. Menu Untuk Ibu Hamil Berdasarkan Status Gizi Bagi ibu yang memiliki berat badan ideal atau normal sebelum hamil,tidak menimbulkan masalah mengenai jenis makanan yang harus dikonsumsi setiap hari. Meskipun demikian, penambahan berat badan tetap harus diperhatikan sesuai dengan ketentuan, yaitu 11,5-16 kg selama kehamilan berlangsung. dengan Mengkonsumsi bahan makanan makanan yang bergizi bervariasi seimbang sangat dianjurkan.Utamakan makanan tersebut tinggi protein, baik hewani maupun nabati, karena protein sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan janin.Contoh makanan yang dapat dikonsumsi antara lain opor ayam, gado-gado, nasi bungkus telur dadar, dan sate salmon goreng. Pada ibu hamil dengan berat badan kurang, hendaknya meningkatkan asupan makanannya.Ibu hamil yang kurus dikhawatirkan tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Selain itu, berdampak buruk pula pada ibunya, sebab cadangan makanan dalam tubuh akan diambil oleh janin. Ibu hamil yang kurus harus menambah berat badannya 12,5-18 kg selama masa kehamilannya. Konsumsi makanan bergizi seimbang sangat dianjurkan dengan variasi makanan sesuai kebutuhan.Ciptakan atau kreasikan makanan yang menarik untuk menggugah selera makan. Contoh makanan yang dapat di konsumsi antara lain : dadar gulung sayuran dan daging, ayam panggang santan, gulai otak,dank rim fruty. Ibu hamil yang gemuk tetap membutuhkan tambahan energi sebanyak 300 kka/hari sebagaimana ibu hamil dengan berat badan normal. Kebutuhan energi ini sebaiknya diperoleh dari protein bukan dari karbohidrat dan lemak.Peningkatan jumlah protein yang dibutuhkan semasa kehamilan adalah 17g/hari. Jumlah ini setara dengan mengkonsumsi 100g (2 potong sedang) daging sapi/ayam atau 150g (4 potong sedang tempe). Disamping protein, ibu hamil yang gemuk jangan sampai mengurangi asupan vitamin dan mineral. Contoh masakan yang dapat dikonsumsi ibu hamil yang gemuk adalah sup udang, teri kukus, urap, sayur/pindang ikan patin, dan kembang tahu. 3. Menu untuk ibu hamil berdasarkan jenis penyakit Ibu hamil yang terkena anemia dianjurkan untuk memperbaiki pola makan dengan mengkonsumsi bahan makanan kaya asam folat dan zat besi yang berfungsi dalam pembentukan hemoglobin. Asam folat dan zat besi dapat diperoleh dari daging, sayuran hijau, susu dan sebagainya. Hindari makanan yang terlalu berlemak karena sulit untuk dicerna, selain itu juga dikhawatirkan dapat menimbulkan mual dan menurunkan nafsu makan.Utamakan mengkonsumsi makanan tinggi energy dan protein.Pilihlah makanan yang mudah dicerna dengan frekuensi makan sesering mungkin. Contoh masakan yang dapat di konsumsi ibu hamil dengan anemia adalah telur isi sardine, hati masak yogurt, paria isi teri, sayur bayam, dan sebagainya. Ibu hamil yang terkena penyakit diabetes mellitus, sebaiknya menerapkan prinsip diet dalam menyusun menu sebagai berikut : a. Menyusun menu dengan gizi seimbang namun tetap berupaya untuk memulihkan dan mempertahankan kadar gula darah dalam batas normal. b. Jangan berdiet, namun tetap berusaha untuk mempertahankan berat badan. c. Sebaiknya perbandingan karbohidrat 60%, protein 20%, dan lemak 20% dari total kebutuhan energi. d. Pembagian konsumsi lemak <10% dari lemak jenuh (sumber pangan : mentega, minyak kelapa, dan minyak kacang), 10% dari lemak tidak jenuh ganda (sumber pangan : minyak jagung, kedelai, minyak, dan lemak dari ikan laut), dan sisanya lemak tidak jenuh tunggal (sumber pangan : lemak hewan seperti dalam daging) e. Asupan kolesterol hendaknya dibatasi <300mg/hari (sumber pangan: hati, jeroan, uadang, kerang, kuning telor, keju, dan sebagainya) f. Hindari gula murni, gunakan gula pengganti dalam jumlah terbatas. g. Konsumsi makanan beserat tinggi, terutama serat larut air (serealia, sayuran, dan buah-buahan). h. Konsumsi vitamin dan mineral cukup. Ibu hamil memperhatikan yang menderita makanan yang hipertensi dikonsumsi hendaknya agar dapat mempertahankan tekanan darahnya tetap normal.Konsumsi garam disesuaikan dengan berat ringannya hipertensi.Selain itu, konsumsi makanan yang rendah kolesterol dan lemak rendah. Hindari makanan yang diolah dengan kadar garam tinggi, menggunakan soda kue, dan MSG. Hindari pula makanan awetan seperti makanan kalengan, telur asin, ikan asin, sayuran, dan buah-buahan yang diawetkan dengan natrium (sodium). Contoh masakan yang dapat dikonsumsi ibu hamil yang hipertensi adalah canapé tempe, oyong isi tahu, ikan gulung wortel, dan sebagainya. Tabel 2.5 Tanda Kecakupan Gizi Pada Wanita Dewasa Dan Ibu Hamil Zat Gizi Satuan Wanita dewasa Ibu hamil Energy Kkal 2200 2485 Protein Gr 48 60 Vitamin A RE 500 700 Vitamin D Ug 5 15 Vitamin E Mg 8 18 Vitamin K Mg 65 130 Thiamin Mg 1,0 1,2 Riboflavin Mg 1,2 1,4 Niacin Mg 9 9,1 Vitamin B12 Mg 1,0 1,3 Asam Folat Ug 150 300 Piridoksin Mg 1,6 3,8 Vitamin C Mg 60 70 Kalsium Mg 500 900 Fosfor Mg 450 650 Zat besi Mg 26 46 Seng Mg 15 20 Yodium Ug 150 175 Selenium Ug 55 70 Sumber :http;//lenteraimpian.wordpress.com/2010/03/17/gizi-simbang-ibuhamil/2 juli 2011; pukul 12.23 WIB (widya karya pangan dan zat gizi Indonesia) gizi reproduksi hal 111-112 2.9.4 Cara Mengolah Makanan Yang Baik Bagi Ibu Hamil Makanan yang aman untuk ibu hamil yaitu makanan kering seperti sereal, roti, tepung, dan kacang. Untuk jenis sayuran, segera dihabiskan setelah diolah, susu sebaiknya jangan terlalu lama terkena cahaya matahari karena akan menyebabkan hilangnya vitamin B, untuk daging atau ikan jangan digarami sebelum dimasak, dan untuk makanan yang mengandung kaya protein lebih baik dimasak dengan api kecil jangan terlalu panas. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menentukan gizi yang seimbang bagi ibu hamil yaitu : kebutuhan aktual selama hamil berbeda-beda untuk setiap individu dan dipengaruhi oleh status nutrisi sebelumnya dan riwayat kesehatan, kebutuhan oleh status nutrisi dapat diganggu oleh asupan yang lain, dan kebutuhan akan nutrisi tidak konsisten selama kehamilan (Proverawati, 2010). 2.10 Gizi Ibu Hamil 2.10.1 Pengertian Gizi Gizi berasal dari bahasa arab “Al Gizzai” yang artinya makanan. Ilmu gizi ialah ilmu yang mempelajari hubungan makanan dengan kesehatan, (Almatsier, Sunita. 2010). Gizi adalah suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal oleh suatu organism melalui proses digesti, absorbs, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasikan energi (Kristianasari, 2010). Ilmu gizi di definisikan sebagai suatu cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara makanan yang dimakan dengan kesehatan tubuh yang diakibatkan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sedangkan gizi adalah suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal oleh suatu organism melalui proses digesti, absorbs, transfortasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. 2.10.2 Konsep Gizi Seimbang Bagi Wanita Hamil Masa kehamilan adalah masa yang sangat penting, keadaan ibu dan janin terkait satu dengan yang lain. Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia dimasa depan,karena tumbuh kembang anak sangat di tentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. Gizi seimbang dalam masa kehamilan adalah tercukupinya kebutuhan akan zat–zat gizi semasa kehamilan dan sesuai dengan kebutuhan pada tiap trimesternya. 2.10.3 Prinsip Gizi Wanita Hamil Pada kehamilan terjadi perubahan fisik dan mental yang bersifat alami.Para calon ibu harus sehat dan mempunyai gizi yang cukup (berat badan normal) sebelum hamil dan setelah hamil. Harus mempunyai kebiasaan makan yang teratur dan bergizi, berolahraga teratur dan tidak merokok. Jika ibu tidak mendapatkan gizi yang cukup selama hamil, maka bayi yang dikandungnya akan kekurangan gizi. Meski sudah cukup bulan, bayi tersebut lahir BBLR (berat bayi lahir rendah). Saat menyusui juga akan kekurangan ASI. Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi protein sekiar 2-2,5 gram/kg. protein hewani dapat diperoleh dari: telur, susu, ikan, ikan laut. Untuk pertumbuhan maupun aktivitas janin memerlukan makanan yang disalurkan melalui plasenta, untuk itu ibu hamil harus mendapatkan gizi yang cukup untuk diri dan janinnya. Selama hamil ibu akan mengalami banyak perubahan dalam tubuhnya agar siap membesarkan janin, memudahkan kelahiran dan untuk memproduksi ASI bagi bayi yang akan dilahirkan. Keadaan gizi ibu waktu konsepsi harus dalam keadaan baik, selama hamil mendapatkan tambahan protein, mineral, seperti: zat besi dan kalsium, vitamin, asam folat dan energi. Tabel 2.6 peningkatan berat badan selama kehamilan IMT (kg/m2) Total kenaikan berat badan yang disarankan Selama trimester 2 dan 3 Kurus (IMT<18,5) Normal (IMT 18,5- 12,7-18,1 kg 11,3-15,9 kg 0,5 kg/minggu 0,4 kg/minggu 22.9) Overweight (IMT 2329,9) Obesitas (IMT>30) Bayi kembar 6,8-11,3 kg 0,3 kg/minggu 15,9-20,4 kg 0,2 kg/minggu O,7 kg/minggu Sumber : Buku Gizi Ibu Hamil halaman 46 2.10.4 Kebutuhan Gizi Ibu Hamil Menurut Hendrawan Nadesul gizi pada saat kehamilan adalah makanan atau menu yang takaran semua zat gizinya dibutuhkan tubuh ibu hamil setiap hari dan mengandung zat gizi yang seimbang, jumlah sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Menurut DR. dr. Saptawati Bardosono kebutuhan akan zat-zat gizi ibu hamil adalah : a. Kalori Selama hamil, ibu membutuhkan tambahan energi atau kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, juga plasenta, jaringan payudara, cadangan lemak, serta untuk perubahan metabolism yang terjadi.Di trimester II dan III, kebutuhan kalori tambahan ini berkisar 300 kalori perhari dibanding saat tidak hamil.Berdasarkan perhitungan, pada akhir kehamilan di butuhkan sekitar 80.000 kalori lebih banyak dari kebutuhan kalori sebelum hamil. Mendapatkan besaran energi perhari dengan penjumlahan energi yang dibutuhkan selama hamil kemudian dibandingkan dengan angka 250 (perkiraan lamanya kehamilan alam hari) sehingga di peroleh angka 300 Kkal. b. Protein Kebutuhan protein bagi ibu hamil adalah sekitar 60 gram.Artinya, wanita hamil butuh protein 10-15 gram lebih tinggi dari kebutuhan wanita yang tidak hamil.Protein tersebut dibutuhkan untuk membentuk jaringan baru, maupun plasenta dan janin.Protein juga dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan diferensiasi sel. Menurut WHO (didalam buku Kristianasari, 2010) tambahan protein untuk ibu hamil adalah 0,75 gram/kg berat badan, secara keseluruhan jumlah protein yang dibutuhkan oleh ibu hamil yaitu kurang lebih 60-76 gram setiap hari atau sekitar 925 gram dari total protein yang dibutuhkan selama kehamilan. Sumber protein diperoleh dari : daging, ikan, telur, ayam, kacang-kacangan, tahu, dan tempe. c. Lemak Pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan membutuhkan lemak sebagai sumber kalori utama.Lemak merupakan sumber tenaga yang vital dan untuk pertumbuhan jaringan plasenta. Pada kehamilan yang normal, kadar lemak dalam aliran darah akan meningkat pada akhir trimester III. Tubuh wanita hamil juga menyimpan lemak yang akan mendukung persiapannya untuk menyusui setelah bayi lahir. d. Karbohidrat Karbohidrat merupakan sumber utama untuk tambahan kalori yang dibutuhkan selama kehamilan.Pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan membutuhkan karbohidrat sebagai sumber kalori utama.Pilihan yang di anjurkan adalah karbohidrat kompleks seperti roti, serealia, nasi dan pasta.Selain mengandung vitamin dan mineral, karbohidrat kompleks juga meningkatkan asupan serat yang dianjurkan selama hamil untuk mencegah terjadinya konstipasi atau sulit buang air bersar. e. Vitamin dan Mineral Wanita hamil juga membutuhkan lebih banyak vitamin dan mineral dibanding sebelum hamil. Ini perlu untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin serta proses diferensiasi sel. Tak Cuma itu, tambahan zat gizi lain yang penting juga dibutuhkan untuk membantu proses metabolisme energi seperti : vitamin B1, vitamin B2, niasin, dan asam pantotenat. Vitamin B6 dan B12 diperlukan untuk membentuk DNA dan sel-sel darah merah.Sedangkan vitamin B6 juga berperan penting dalam metabolism asam amino.Kebutuhan vitamin A dan C juga meningkat selama hamil.Begitu juga kebutuhan mineral, terutama magnesium dan zat besi.Magnesium dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dari jaringan lunak.Sedangkan zat besi dibutukan untuk membentuk sel darah merah dan sangat penting untuk pertumbuhan dan metabolisme energi, disamping untuk meminimalkan peluang terjadinya anemia kehamilan.Kebutuhan zat besi menjadi dua kali lipat dibanding sebelum hamil dan sebagai adaptasi adanya perubahan fisiologis selama kehamilan, dengan bertambahnya volume darah pada saat hamil. Zat besi pada makanan banyak terdapat pada daging sapi,daging kambing, ayam, telur, ikan, hati, teri, tempe, kacang-kacangan, bubuk coklat, dan sayuran hijau. Menurut Hendawan Nadesul manfaat gizi bagi ibu hamil adalah : 1) Untuk ibu a) Untuk kesehatan tubuh ibu b) Untuk sumber energi bagi tubuh ibu c) Untuk menjaga kesehatan janin yang dikandung 2) Untuk janin yang dikandung a) Untuk kesehatan janin b) Untuk pertumbuhan dan perkembangan janin c) Untuk memenuhi zat gizi pada janin 2.10.5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Gizi Ibu Hamil a. Umur Lebih muda umur seorang ibu hamil, lebih banyak energi yang di perlukan. b. Berat Badan Di Negara maju pertambahan berat badan selama hamil sekitar 12-14 kg. Kalau ibu kurang gizi pertambahan BB hanya 7-8 kg, dengan akibat akan melahirkan bayi BBLR. c. Suhu Lingkungan Lebih besar perbedaan suhu tubuh dan lingkungan berarti lebih besar pula masukan enegi yang diperlukan. d. Pengetahuan Ibu Hamil dan Keluarga Tentang Zat Gizi dalam Makanan. Penyusunan menu ibu hamil di pengaruhi oleh : kemampuan keluarga membeli makanan dan pengetahuan tentan zat gizi. e. Kebiasaan dan Pandangan Wanita Terhadap Makanan. Pada umumnya kaum wanita lebih memberikan perhatian khusus pada keluarga dan anak-anaknya. f. Aktifitas Setiap aktifitas perlu energi makin banyak aktifitas yang dilakukan makin banyak energi yang di perlukan oleh tubuh. g. Status Kesehatan Pada kondisi sakit asupan gizi pada ibu hamil tidak boleh dilupakan. h. Status Ekonomi Status ekonomi dan status sosial mempengaruhi seorang wanita dalam memilih makanannya.( gizi repro 101-102 ). 2.10.6 Pengaruh Status Gizi Pada Kehamilan Seorang ibu yang sedang hamil mengalami kenaikan berat badan sebanyak 10-12kg. pada trimester 1 kenaikan BB seorang ibu tidak dapat mencapai 1kg, namun setelah mencapai trimester ke-2 pertambahan berat badan semaki banyak yaitu 3kg, dan pada trimester ke-3 sebanyak 6kg. Kenaikan tersebut disebabkan karena adanya pertumbuhan janin, plasenta, dan air ketuban. Kenaikan BB ibu hamil yang ideal pada ibu gemuk yaitu 7kg dan 12,5kg untuk ibu tidak gemk. Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang di kandung. Bila status gizi ibu normal pada masa sebelum dan sesuadah hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi sehat, cukup bulan dengan BB normal. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil. Salah satu cara untuk menilai kualitas bayi adalah dengan mengukur BB pada saat lahir. Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila tingkat kesehatan dan gizinya berada pada kondisi baik. Banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti kekurangan energi kronik (KEK) dan anemia gizi.Ibu hamil yang menderita KEK dan anemia mempunyai resiko kesakitan yang besar terutama pada trimester III dibandingkan dengan ibu hamil normal.Akibatnya mereka mempunyai resiko lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR, kematian saat persalinan, perdarahan, pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan. Bayi yang dilahirkan dengan BBLR pada umumnya kurang mampu meredam tekanan lingkungan yang baru, sehingga dapat berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya. Selain itu juga akan meningkatkan resiko kesakitan dan kematian bayi bayi karena rentan terhadap infeksi saluran pernapasan bagian bawah, gangguan belajar, masalah prilaku, dan lain-lain. Akibat ibu yang kekurangan gizi antara lain : a. Terhadap ibu : 1. Anemia 2. Perdarahan 3. Bb tidak bertambah secara normal 4. Infeksi b. Terhadap persalianan : 1. Persalianan sulit dan lama 2. Premature 3. Perdarahan post partum 4. Persalinan dengan operasi cenderung meningkat c. Terhadap janin : 1. Proses pertumbuhan janin terhambat 2. Keguguran 3. Abortus 4. Bayi lahir mati 5. Kematian neonatal 6. Cacat bawaan 7. Anemia pada bayi 8. Asfeksia intra partum 9. Lahir dengan BBLR Cara yang digunakan untuk mengetahui status gizi pada ibu hamil a. Memantau pertambahan BB selama hamil Pertambahan BB selama hamil sekitar 10-12kg.pertambahan BB juga sekaligus memantau pertumbuhan janin. b. Mengukur LILA (Lingkar Lengan Atas) Untuk mengetahui apakah menderita Kekurangan Energi Kronis (KEK). c. Mengukur kadar HB (Hemoglobin) Maksud pengukuran HB ini untuk mengetahui kondisi ibu apakah menderita anemia gizi. Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, sistem reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat dari pada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. 2.11 LANDASAN TEORI Kehamilan terjadi jika ada pertemuan dan persenyawaan antara sel telur (ovum) dan sel mani (spermatozoa). Perubahan pada wanita hamil meliputi perubahan fisiologis dan perubahan psikologis (Saminem,2010). Kekurangan energi kronis adalah keadaan dimana ibu menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan ibu dengan tanda-tanda atau gejala antara lain badah lemah dan muka pucat. (Depkes RI,1995 skripsi kesmas). Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara (UU No.22 th 2003). Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba dengan sendiri. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Wawan, 2010). Prilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi, dan tujuan baik disadari maupun tidak.Prilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi.Sering tidak disadari bahwa berinteraksi tersebut amat kompleks sehingga kadang-kadang kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan prilaku tertentu. Karena itu amat penting untuk dapat menelaah alasan dibalik prilaku individu, sebelum ia mampu mengubah prilaku tersebut (A. Wawan dan Dewi M, 2010). 2.12 KERANGKA TEORI Dalam penelitian ini dikemukakan oleh para ahli tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan KEK pada ibu hamil : Green Faktor Predisposisi 1. Pengetahuan 2. Sikap 3. Umur 4. pendidikan Prilaku Faktor Pendorong Dukungan tenaga kesehatan WHO 1. Pengetahuan 2. Kepercayaan 3. Sikap 4. Prilaku 5. Sumber daya Sumber : Lawrence W.Green, WHO, Healt Program Planning An Educational and Ecological Approach 2005 2.13 KERANGKA KONSEP Variabel Independen 1. Pendidikan 2. Pengetahuan 3. Prilaku Variabel Dependen KEK Pada Ibu Hamil 1. Pendapatan 2. Perkawinan 3. Faktor biologis 4. Pola Konsumsi Gambar 2.2 Kerangka Konsep 5. Gizi Ibu Hamil = Diteliti = Tidak diteliti 2.14 HIPOTESIS Hipotesis dalam Penelitian ini adalah : 1. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan ibu hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) di Wilayah Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar Tahun 2015. 2. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan ibu hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) di Wilayah Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar Tahun 2015. 3. Ada hubungan antara prilaku dengan ibu hamilKekurangan Energi Kronik (KEK) di Wilayah Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar Tahun 2015. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakandesainpenelitian survey analitikdenganpendekatanstudi cross sectional, yaitusuatupenelitian yang mempelajarihubunganantarafaktorresiko (indipenden) denganfaktor efek (dependen), dimanamelakukanobservasiataupengukuran variable sekalidansekaliguspadawaktu yang sama. Rancanganpenelitianinidigunakanuntukmengetahuifaktor-faktor yang berhubungandenganibuhamilKekuranganEnergiKronik (KEK) di Wilayah KerjaPuskesmasGambutKabupatenBanjartahun 2015. 3.2 Lokasi Dan WaktuPenelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakanpadaWilayah Kerja Puskesmas GambutKabupatenBanjarTahun 2015. 3.2.2 Waktu penelitian Waktu penelitian adalah rentang waktu yang digunakan untuk pelaksanaan penelitian (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulanJuni 2015. 3.3 Populasi Dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruhibuhamilyang berkunjung ke Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar pada bulan Januari sampai dengan bulan Mei 2015, yaitu berjumlah 904 orang. 3.3.2 Sampel Sampeladalahsebagiandaripopulasi representative populasi (Riyanto, 2011). yang diharapkanmewakiliatau Subjekpenelitianiniadalahsebagiandarijumlahpopulasi yang diambildenganteknikaccedental sampling.Accedental sampling adalah suatu cara pengambilan sampel yang kebetulan ada pada saat itu, tanpa memperhatikan strata dalam anggota populasi tersebut. Sampeldalampenelitianiniadalahibuhamilyang datangkePuskesmasGambutpadabulanJuni 2015. Padapenelitianinipengambilansampeldidasarkanpada criteria inklusidaneksklusi, yaiitu : a. KriteriaInklusi Kriteriainklusiadalahkarakteristikumumharusdipenuhiolehsubjeks ehinggadapatdiikutsertakandalampenelitian.Kriteriainklusidalampeneli tianiniadalah: 1) Ibuhamildengan KEK (LILA <23,5cm) yang datangkePuskesmasGambutpadabulanJuni 2015. 2) BeratBadanibusebelumhamil<42kg. 3) IbuhamilKEK yang bersediamenjadiresponden (subyekpenelitian). 4) IbuHamil KEK yang bertempattinggal di Wilayah KerjaPuskesmasGambutKabupatenBanjar. b. KriteriaEksklusi Kriteriaeksklusiadalahhal-hal yang menyebabkansampeltidakmemenuhicriteria sehinggatidakdiikutsertakandalampenelitian.Kriteriaeksklusidalampen elitianiniadalah: 1) Ibuhamildengan KEK yang tidakdatangkePuskesmasGambutPadabulanJuni 2015. 2) BeratBadansebelumhamil>45kg. 3) Ibu-ibu yang termasukdalam criteria inklusitetapimenolakberpartisipasidalampenelitian. 4) Ibuhamil KEK yang bertempattinggal KerjaPuskesmasGambutKabupatenBanjar. 3.4 VariabelPenelitian Dan DefinisiOperasional 3.4.1 VariabelPenelitian di luar Wilayah Variabeladalahsuatusifat yang akandiukurataudiamati nilainyabervariasiantarasatuobjek-keobjek yang yang lainnyadanterukur (Riyanto, 2011). 1. VariabelIndependen (variabel bebas) Merupakanvariabel yang mempengaruhiatau yang menjadisebabperubahannyaatautimbulnyavariabelterikat (Dependen). Variabelbebasdalampenelitianiniadalahpendidikanibuhamil, pengetahuanibuhamil, danprilakuibuhamil. 2. VariabelDependen (variabelterikat) Merupakanvariabel yang dipengaruhiatauakibatkarenaadanyavariabelbebas. VariabelterikatdalampenelitianiniadalahKekuranganEnergiKronik (KEK)padaibuhamil. 3.4.2 DefinisiOperasional Definisioperasionaldigunakanuntukmembatasiruanglingkupataupenge rtianvariabel-variabel yang diamatiatauditeliti.Definisioperasionaljugadigunakanuntukmengarahkanke padapengukuranataupengamatanterhadapvariabel-variabel yang bersangkutansertapengembangan instrument ataualatukur. (Notoatmojo, 2010) Tabel 3.1 Definisi Operasional N o 1 Variabel DefinisiOperasional AlatUkur HasilUkur Skala Variabelterikat KEK padaIbuHamil Keadaandimanaibu hamilmengalamikek urangangizi (kaloridan protein), dikatakan KEK bila LILA <23,5cm Mengukurl ingkarleng anatas (LILA) 1 = KEK, jika LILA <23,5cm 2 = Tidak KEK, jika LILA 23,5cm Ordinal VariabelBebas Pendidikan Pernyataanmengen aijenjangpendidikan formal diselesaikanolehres ponden Kuesioner 2 1 = Pendidikanting gi (SMA, S1) 2 = Pendidikanren dah (SD,SMP) Ordinal Pengetahuan Hasildari tau seseorangtentangp emilihanasupangizi padaibuhamil, yaitupengetahuan yang dimilikirespondente ntangasupangizipa damasakehamilan : pengertiangizi,pola konsumsiseharihari. Kuesioner 3 1 = Baik, jika 75%-100% 2 = Kurang, jika< 75% Ordinal Prillaku Kebiasaanseharihari yang dilakukanolehibuha mil. ceklist 3 1 = Baik, jikaibumakans esuaigiziseimb ang. 2 = Tidakbaik, jikaibumakanti daksesuaigizis eimbang. Ordinal 3.5 InstrumenPenelitian Instrumen yang digunakanpadapenelitianiniadalahberupakuesioner.Kuesioner di adopsidaripenelitianriny di PuskesmasLianganggang. (2012), dansudahdilakukanujivaliditas 3.6 TekhnikPengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian adalah melalui pengumpulan: 3.6.1 Data Primer Data primer adalah data yang secara langsung diperoleh dariwawancarasecaralangsungdenganmenggunakankuesioner. 3.6.2 Data sekunder Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung, data sekunder dalam penelitian ini berasal: a. Studi kepustakaan Pada penelitian ini mengambil studi kepustakaan dari buku-buku, jurnal. b. Studi dokumentasi Dokumentasi dalam penelitian ini diambil dari cara pengumpulan data yang diambil dari buku register gizipadaibuhamil di puskesmasgambutpadatahun 2015. 3.7 TekhnikAnalisis Data 3.7.1 Pengolahan data Dalam proses pengolahan data terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh yaitu: a. Editing Padatahapini, penulismelakukanpenilaianterhadap data yang diperoleh, kemudianditelitiapakahterdapatkekeliruanatautidakdalampengisiannya . b. Coding Setelahdilakukan editing, selanjutnyadilakukanpemberianangkaterhadap data sehinggamemudahkandalamanalisis data. c. Scoring Padatahapini, jawaban-jawabanakandiberikanskor sudahditentukankepadamasing-masingkuesioner. d. Tabulating yang Padatahapinijawaban-jawabandikelompokandengantelitidanteratur, laludihitungdandijumlahkankemudiandituliskandalambentuktabeltabel. e. Data Entry Padatahapiniyaitumemasukkansemua data yang telahdiberikodekedalam program atau software. 3.7.2 Analisis Data Analisis digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis: a. Analisis Univariat AnalisisUnivariatadalahanalisis yang dilakukanterhadapsetiapvariabeldarihasilpenelitian yang akanmenghasilkandistribusidanpresentasidarisetiapvariabel. Padapenelitianinidistribusifrekuensirespondenberdasarkanpendidik an, pengetahuan, danprilaku. Rumus : P = (f/n)x100 P = jumlahpresentasi yang dicari f = jumlahfrekuensi yang menjawabbenar n = jumlahseluruhpertanyaan b. Analisis Bivariat AnalisisBivariatadalahanalisis yang dilakukanterhadap 2 variabel yang didugaberhubunganatauberkorelasi, yaituantaraVariabelDependen (ibuhamil denganVariabelIndependen danprilakuibuhamil).Uji (pendidikan, yang KEK) pengetahuan, digunakanadalahstatistikchi squareuntukmencariadatidaknyahubunganantarvariabel. Nilaitingkatkepercayaan 95% dantingkatkemaknaan 0,005%. Rumus : = (Hidayat, 2010) Keterangan : Oij= frekuensiteramatidariselbariske-I dankolomke-j Eij= frekuensiharapandariselbariske-I dankolomke-j Denganderajatbebas : (r-1)(c-1), r= garis, c= kolom Prosedurpenelitian chi square menurutRiyanto, A (2011) sebagaiberikut : 1. Mempormulasikanhipotesisnya (Ho dan Ha) 2. Memasukanfrekuensiobservasi (fo) dalam table silang 3. Menghitungfrekuensiharapan (fe) dalammasing-masingsel 4. Menghitungsesuaiaturan yang berlaku: a. Bilatabellebihdari 2x2 menggunakan person Chi Square tanpakoreksi (uncorrected). b. Bilatabelnya 2x3 dantidakadanilaife<5, menggunakanCountinity Correction. c. Bilatabelnya 3x2 danadanilaife<5, makamenggunakan FisherExact 5. Menghitungnilai p value denganmembandingkan alpha 6. Membuatkeputusan : a. Bila p value = a, Ha diterima, berarti data sampelmendukungadanyaperbedaan yang signifikan. b. Bila p value >a, Ha ditolak, sampeltidakmendukungadanyaperbedaan Berartitidakadahubungan yang antarafaktor-faktor yang padaibuhamil. Penentuannilai berarti yang bermakna signifikan. (signifikan) berhubungandengan a data KEK (alpha) tergantungdaritujuandankondisipenelitian. Untukbidangkesehatanmasyarakatbiasanyadigunakannilai (alpha) sebesar a 5%. Olehkarenaitupenelitidalampenelitianinimenggunakan level of significance (a=alpha) sebesar 5% (0,05). (Riyanto,A, 2011) 3.8 ProsedurPenelitian 3.8.1 Tahap Persiapan a. Mengurus surat izin penelitian dari Program Studi DIV BidanPenidik Di STIKES Husada Borneo Banjarbaru, kemudiankeKesbangpolKabupatenBanjar, danPuskesmasGambutKabupatenBanjar. b. Melakukan pengumpulan data awal jumlah ibuhamilpadabulanFebruari Di PuskesmasGambutKabupatenBanjar. c. Melakukan studi pendahuluan tentang Faktor-Faktor BerhubunganDenganIbuHamilKekurangaEnergiKronik (KEK) Yang Di Wilayah KerjaPuskesmasGambutKabupatenBanjarTahun 2015. 3.8.2 Tahap Pelaksanaan Melakukan koordinasi dengan para pegawai puskesmasgambut untuk melakukan seleksi pasien yang akan dijadikan sampel penelitian berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Respondenmenandatangani surat kesediaan menjadi responden Wawancara identitas sampel (nama, alamat, jenis kelamin, usia/tanggal lahir), memberikan kuesionerkepada para responden untuk mengetahui faktor-faktor berhubungandenganibuhamilKekuranganEnergiKronik (KEK). 3.9 BiayadanJadwalPenelitian Tabel 3.2RencanaBiayaPenelitian Kategori Biaya 1. Persiapan penelitian/pengambilan data 2. Biaya persiapan : a. Print b. Fotocopy c. Kertas d. Biaya penjilidan Biaya Rp. 200.000,00 Rp. 150.000,00 Rp. 250.000,00 Rp. 100.000,00 Rp. 100.000,00 3. Alat Komunikasi a. Pulsa 4. Transportasi a. Bensin Jumlah Rp. 50.000,00 Rp. 150.000,00 Rp. 1.000.000,00 yang Tabel 3.3 Jadwal Penelitian No URAIAN KEGIATAN A Persiapan 1 Pengajuan judul 2 Studi pendahuluan 3 5 Penyusunan proposal Konsultasi proposal Sidang proposal 6 Revisi proposal B 7 Pelaksanaan Pengumpulan data Pengolahan data Penyelesaian Penyusunan KTI Konsultasi KTI Sidang KTI Revisi KTI Pengumpulan KTI 4 8 C 9 10 11 12 13 BULAN Januari Maret201 Juni Agustus 2015 5 2014 2015 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 DAFTAR PUSTAKA A.Wawan dan Dewi M. 2010. Teori dan pengukuran pengetahuan, sikap dan prilaku manusia. Nuha Medika Yogyakarta. Agria Intan R, Narulita S, Irchram. 2011. Buku ajar gizi reproduksi. Cetakan II. Yogyakarta : Fitramaya. Agus, Riyanto. 2011. Aplikasi MetodologiPenelitian Kesehatan. Jakarta : MukaMedika. Almatsier, S. 2011. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia. Anonym. 2011. Upah minimum regional(http://informasi upah minimum regional (UMR) Jombang Tahun 2010 ,2011.com/) Arisman. 2010. Gizi dalam daur ulang kehidupan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran. Aritonang, & Evawany. 2010. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil. Bogor: IPB Press. Azma, N. 2003. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ibu hamil resiko KEK di kota Sukabumi. Skripsi FKM UI. Depok. Badriah Laelatul Dewi, AIFO. 2011. Buku ajar gizi dalam kesehatan reproduksi. Cetakan I. Bandung : PT Refika Aditama. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKMUI 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta. Depkes RI 2002. Pedoman penanggulangan kekurangan gizi pada ibu hamil. Jakarta. Depkes RI. 2002. Program Perbaikan Gizi Mikro. Depkes RI, 2002. Gizi seimbang menuju hidup sehat bagi ibu hamil dan menyusuibina kes. masyarakat. Jakarta. Depkes RI. 1996. Pedoman penanggulangan ibu hamil kekurangan energi kronik. Jakarta : Direktorat Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Depkes RI. 2011. Buku Kesehatan Ibu danAnak. Jakarta : DepartemenKesehatan Republik Indonesia. Hapni, Yenty. 2004. Faktor-faktor yang berhubungan dengan resiko kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil di Pulau Kelapa Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Tahun 2004. Skripsi, FKM UI. Depok. Hidayat. Metode Penelitian Kebidanan Dan Tekhnik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika; 2011. Http/www SDKI-2007.com http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/materi-konsep-dasarkehamilan-lengkap.html≠ixz23clQo2rkg.diakses 11 jui 2015 jam 17.00 WITA http://mariabalun.blogspot.com/2013/11/teori-perubahan-prilakumenurut-who.html.diakses tanggal 11 juni 2015 jam 18.00 WITA Http://www.kopi-ireng.com/2015/01/definisi-danpengertiankehamilan.html≠sthash.33seFQ5o.dpuf.diakses 11 juni 2015 jam 18.00 WITA Istiany Ari, Rusilanti. 2014. Buku ajar gizi terapan. Cetakan II. Bandung : PT Remaja Rosdekarya. Kritiyanasari Weni. 2010. Gizi ibu hamil. Cetakan I. Yogyakarta : Nuha Medika. Kurniasih, dkk. 2010. Sehat dan bugar berkat gizi seimbang. Jakarta : PT Gramedia. Marlenywati. 2010. Resiko KEK pada ibu hamil remaja di Pontianak tahun 2010. Tesis. FKM UI. Depok. Mitayani, M.Biomed dan Wiwi Sartika. 2013. Buku saku ilmu gizi. Jilid II. Jakarta : Pusat Penerbitan CV Trans Info Meda. Mulyaningrum, S. 2010. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan RisikoKurang Energi Kronis (KEK) pada Ibu Hamil di Provinsi DKI Jakarta(Analisis Data Riskesdas 2007). Universitas Indonesia. Ngatimin. 2003. Ilmu Perilaku Kesehatan. Makasar: Yayasan PK-3. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta. Notoatmodjo, S. 2010. Promosi kesehatan dan ilmu prilaku. Jakarta : PT Rineka Cipta. Riyanto, Agus. 2011. Aplikasi metodologi penelitian kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika. Sugiono. 2010. Metode penelitian pendidikan. Cerakan ke-10. Bandung: ALFABETA CV Sulistyoningsih, Hariyani. 2011. Gizi untuk kesehatan ibu dan anak. Yogyakarta : Graha Ilmu. Undang-Undang SISDIKNAS 2003 (UU RI No. 20 Thn 2003) : Jakarta, Sinar Grafika 2003. LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Umur : Alamat : Bersedia menjadi responden dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti sesuai kemampuan saya. Saya tidak akan menuntut peneliti atas hasil penelitian yang dilakukan. Demikian pernyataan ini dibuat tanpa adanya tekanan atau paksaan dari pihak manapun. Banjarbaru, Juni 2015 Responden ( LEMBAR PERMINTAAN MENJADI RESPONDEN Kepada Yth : Di tempat Dengan hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Nama : Handriyati Sukmasari ) NIM : 11D40033 Sebagai persyaratan tugas akhir mahasiswi STIKES HUSADA BORNEO BANJARBARU, saya akan melakukan penelitian tentang “ Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) Di Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar Tahun 2015 ”. Untuk keperluan tersebut saya memohon kesediaan saudari untuk menjadi responden dalam penelitian ini dan saya memohon kepada saudari untuk menjawab semua pertanyaan yang disediakan dengan kejujuran dan apa adanya. Penelitian ini tidak menimbulkan akibat yang merugikan bagi anda sebagai responden, kerahasiaan informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Jika anda telah menjadi responden dan terjadi hal-hal yang tidak memungkinkan maka diperbolehkan mengundurkan diri untuk tidak ikut serta dalam penelitian ini. Demikan permohonan ini, atas bantuan dan partisipasinya saya mengucapkan terimakasih. Banjarbaru, Juni 2015 Hormat saya, Handriyati Sukmasari KUESIONER PENELITIAN Judul Penelitian : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) Di Wilayah Kerja Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar Tahun 2015. Pelaksanaan Pengambian Data : Tanggal…..Bulan……….Tahun 2015 I. DATA IBU HAMIL A. Nama : B. Umur : C. Umur kehamilan : D. Berat Badan Ibu Sebelum Hamil : E. Berat Badan Ibu Sesudah Hamil : F. : Tinggi Badan G. LILA : H. Pendidikan :  Tidak sekolah/tidak tamat SD  SD  SMP  SMA  Perguruan Tinggi I. Pekerjaan  Ibu Rumah Tangga  PNS  Swasta  Petani : II. PENGETAHUAN Pilihlah jawaban yang menurut anda paling benar dengan member tanda (x) sesuai jawaban yang dipilih. 1. 2. Yang dimaksud dengan gizi adalah… a. Makanan yang memenuhi kecakupan gizi b. Makanan yang memenuhi kecakupan energi c. Makanan yang memenuhi sumber zat gizi d. Makanan yang dimakan mengandung zat gizi Cara mengolah makanan yang sehat dalam pengolahannya adalah… a. Bahan makanan langsung dimakan tanpa dibersihkan terlebih dahulu b. Bahan makanan dicuci dengan air mengalir terlebih dahulu sebelum diolah 3. 4. 5. c. Bahan makanan langsung diolah d. Bahan makanan dibersihkan dengan menggunakan tissue Fungsi zat tenaga yang termasuk makanan sehat terdiri dari… a. Tempe, tahu b. Ayam, ikan nila c. Nasi, roti, kentang d. Ikan, telor puyuh, sosis Sumber makanan yang lengkap adalah… a. Nasi, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan, dan susu b. Nasi, sayuran, tempe, tahu, dan buah-buahan c. Nasi, lauk-pauk, sayuran, susu d. Nasi, lauk-pauk, sayuran, tempe, tahu, dan buah-buahan Sayuran yang baik untuk ibu hamil yang menderita anemia yaitu… a. Sayuran berwarna hijau b. Sayuran berwarna coklat c. Sayuran berwarna merah d. Sayuran berwarna hijau muda 6. Cara memasak sayur yang benar agar tidak mengurangi zat gizi yang terkandung didalamnya yaitu… 7. 8. 9. a. Memasak sayur sampai warna berubah kecoklatan b. Memasak sayur sampai warna berubah hijau muda c. Memasak sayur sampai warna berubah menjadi tua d. Memasak sayur sampai warna berubah menjadi hijau kecoklatan Apa fungsi memasak bahan makanan yang benar… a. Untuk memasak dengan cara yang baik b. Untuk memasak dengan hasil yang sesuai harapan c. Untuk tidak mengurangi kadar zat gizi didalam makanan d. Untuk menghasilkan cita rasa yang baik Cara mengolah daging yang benar… a. Memasak hingga kering b. Memasak hingga berwarna kehitaman c. Memasak setengah matang d. Memasak sampai daging empuk Tablet tambah darah (Fe) yang diberikan bidan pada ibu hamil fungsinya untuk… a. Tablet untuk daya tahan tubuh b. Tablet untuk pertumbuhan janin c. Tablet untuk mencegah mual dan muntah d. Tablet untuk mencegah anemia 10. Apa tujuan ibu hamil melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran Lingkar Lengan Atas… a. Untuk mengetahui keadaan kesehatan ibu b. Ikut-ikutan orang lain c. Untuk mengetahui berat badan dan Lingkar Lengan Atas saja d. Untuk mengetahui lingkar lengan ibu 11. Ibu hamil dikatakan KEK (Kurang Energi Kronik), jika… a. LILA/Lingkar Lengan Atas Ibu <23,5cm b. LILA/Lingkar Lengan Atas ibu >23,5cm c. Berat Badan Ibu <40kg d. Berat Badan Ibu >40kg 12. Kondisi KEK (Kurang Energi Kronik) pada ibu hamil mempunyai dampak kesehatan terhadap janin, yaitu… a. Bayi Lahir Normal b. BBLR ( Berat Badan Lahir Rendah) c. Gizi Kurang d. Berat Badan Lahir Normal 13. Cara memilih bahan makanan yang benar harus memperhatikan, kecuali… a. Kesegaran b. Bau tidak sedap c. Warna d. Keutuhan 14. Kebutuhan gizi kalori pada saat hamil, berkisar antara 2200-2500 kalori/hari merupakan… a. 2-3 piring/hari b. 3-4 piring/hari c. 4-5 piring/hari d. 5-6 piring/hari 15. Secara keseluruhan jumlah protein yang diperlukan ibu hamil yaitu kurang lebih 60-76 gram setiap hari, maka total protein yang dibutuhkan selama kehamilan adalah… a. 625 gram b. 725 garm c. 825 gram d. 925 gram 16. Cara penanggulangan ibu hamil dengan kejadian KEK yaitu… a. Meminum susu b. Mengkonsumsi berbagai makanan bergizi seimbang dengan pola makan yang sehat III. c. Makan sayur-sayuran d. Makan buah-buahan PRILAKU IBU Petunjuk : Jawablah pertanyaan ini dengan memberikan tanda () pada kolom Ya jika pertanyaan kuesioner anda anggap benar, dan pada kolom Tidak jika pertanyaan kuesioner anda anggap salah. NO 1 PERTANYAAN Apakah ibu makanan YA mengkonsumsi bergizi setiap harinya? 2 Apakah ibu makan sesuai dengan seimbang? anjuran gizi TIDAK

Judul: Program Studidiv Bidan Pendidik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Borneobanjarbaru 2015

Oleh: Rizky Widyanti


Ikuti kami