Adilitta Pramanti, S.sos, M,si / Muhammada Nata Nugraha / 173112350350009 / Sosiologi Perdesaan / Ke...

Oleh Nata Nugraha

12 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Adilitta Pramanti, S.sos, M,si / Muhammada Nata Nugraha / 173112350350009 / Sosiologi Perdesaan / Ketahanan Ekonomi Desa Saat New Normal / Sosiologi / Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik / Universitas Nasional

KETAHANAN EKONOMI DESA SAAT NEW NORMAL COVID-19 DI
YOGYAKARTA,JAWA TENGAH

Dosen Pengampu :
Adilitta Pramanti, S.Sos, M,Si
Disusun Oleh :
Muhammad Nata Nugraha // 173112350350009

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2020

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT, atas segala
nikmat dan karunia nya sehingga penulis mampu menyelesaikan Ujian Tengah Semester ini
dalam Mata Kuliah Sosiologi Perdesaan dengan baik dan tepat waktu. Dalam hal ini penulis
mengambil judul KETAHANAN EKONOMI DESA SAAT NEW NORMAL COVID-19
DI KOTA YOGYAKARTA, JAWA TENGAH. Makalah ini disusun dengan tujuan
memenuhi nilai Ujian Akhir Semester pada Mata Kuliah Sosiologi Perdesaan yang
dibimbing oleh Ibu Adilita Pramanti, S.Sos, M,Si
Penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada dosen mata kuliah ini yang telah
memberikan ilmu yang bermanfaat hingga penulis bisa mengerjakan Ujian Akhir Semester
ini.
Walaupun demikian, penulis menyadari bahwa dalam menulis makalah Ujian Akhir
Semester ini banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran dari berbagai pihak guna akan penulis jadikan semua ini sebagai bahan evaluasi
dalam mengerjakan kedepannya untuk meningkatkan kualitas diri.
Penulis berharap semoga dari tulisan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua
orang untuk menuntut ilmu.

Jakarta, 23 Juli 2020
Muhammad Nata Nugraha
173112350350009

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................1


1.1 Latar Belakang............................................................................................................1



1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................3



1.3 Tujuan Penelitian........................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN ..............................................................................................................4


2.1 Faktor Penyebab Penurunan Harga Komoditas Pertanian...........................................4





2.2 Upaya Dan Solusi Di Dalam Ketahanan Ekonomi Desa ............................................6
2.3 Optimalisasi Ketahanan Pangan Desa Saat New Normal...........................................8
2.4 Perubahan Sosial Di Masa New Normal.....................................................................9

KESIMPULAN ...........................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................14

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada bulan desember tahun 2019, negara china diidentifikasi sebagai penyebar salah
satu wabah virus yang mematikan, virus mematikan ini disebut Pandemi Corona Virus
(COVID 19). Virus corona ini telah menyebar luas ke seluruh penjuru negara termasuk
Indonesia. Virus ini terkesan menakutkan karena penyebarannya yang sangat meluas. Virus
corona ini secara resmi di deklarasikan sebagai pandemic pada tanggal 9 maret 2020 oleh
WHO (World Health Organization atau Badan Kesehatan Dunia). Virus Covid-19 ini
diduga berasal dari hewan kelelawar, hal ini dibuktikan oleh sebuah penelitian yang
diterbitkan pada 30 januari 2020 lalu yang menemukan bukti bahwa kelelawar-lah yang
sebenarnya menjadi asal dari infeksi virus Covid-19 ini.
Sedangkan virus Covid-19 ini mulai masuk ke Negara Indonesia sejak januari 2020.
Kasus pertama Covid-19 di Indonesia ini membuat kepanikan seluruh masyarakat,
kepanikan ini muncul karena penyebaran virus Covid-19 ini yang sangat cepat dan tidak
terlihat. Kepanikan yang dirasakan masyarakat ini semakin kuat karena semakin hari
jumlah kasus virus Covid-19 ini semakin bertambah. kasus Virus Covid-19 hingga bulan
juni 2020 terdapat (28.818) positif terkena virus Covid-19, angka kesembuhan (8.892), dan
angka kematian akibat virus Covid-19 (1.721).
Selain memiliki dampak terhadap kesehatan masyarakat, dampak Pandemi Covid19 ini juga berpengaruh terhadap ketahanan pangan dasar dan nutrisi khusus nya di desa
yang terdapat di Kota Yogyakarta, Jawa Tengah. Krisis pangan ini dapat menciptakan
kemiiskinan jangka panjang dan juga berpotensi menimbulkan pergolakan sosial-politik
seperti kerusuhan sosial, perubahan rezim, perang saudara, dan lain sebagainya. Persoalan
pokok bagi para petani di daerah pedesaan, termasuk diYogyakarta, seperti meningkatnya

1

jumlah masyarakat yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan jatuhnya harga jual
hasil pertanian.
Di masa pandemi Covid-19 ini, kekurangan akses terhadap sumber-sumber pangan
akhirnya menyebabkan kepanikan atau panic buying dan penimbunan bahan makanan.
Perilaku tersebut didorong oleh kecemasan dan keinginan untuk berusaha keras
menghentikan ketakutan tersebut. Perilaku ini dianggap wajar oleh beberapa ahli psikologi
karena hal ini merupakan respon kekhawatiran publik dan sebagai upaya penyelamatan diri.
Tetapi, panic buying ini juga memiliki dampak terburuk yaitu terjadinya kelangkaan barang
yang disebabkan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran dan akan
menimbulkan terhadap kenaikan harga-harga sembako yang kemudian semakin
memberatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya.
Masalah ketahanan pangan menjadi sangat penting sekaligus rentan bermasalah
pada situasi bencana, termasuk bencana wabah penyakit seperti pandemi COVID-19.
Ketahanan pangan mengindikasikan pada ketersediaan akses terhadap sumber makanan
sehingga dapat memenuhi kebutuhan dasar (Rosales & Mercado, 2020). Kondisi pandemi
COVID-19 ini mengakibatkan ketersediaan akses terhadap makanan akan diperparah
dengan semakin memburuknya pandemi itu sendiri serta larangan-larangan perpindahan
penduduk yang mengikutinya. Hal ini juga sesuai dengan dengan Burgui (2020), yang
menyatakan bahwa wabah suatu penyakit yang terjadi di dunia akan meningkatkan jumlah
penduduk yang mengalami kelaparan dan malnutrisi.
Petani di wilayah perdesaan di beberapa wilayah Jawa seperti Yogyakarta dan Jawa
Tengah mengalami penurunan harga berbagai komoditas pertanian seperti cabe
merah/hijau, terong, sawi, timun, tomat, dan buah-buahan. Sebagai contoh, berdasarkan
aplikasi cek harga pasar milik Kementerian Pertanian, SIHARGA, harga cabe merah
keriting di berbagai pasar di Yogyakarta yang sebelumnya mencapai Rp. 70.000/ kg pada
awal bulan Februari 2020 turun drastis menjadi Rp. 17.500/kg pada April 2020, sementara
di tingkat petani harga cabe merah keriting hanya Rp. 7.000,00 per kilogram per 30 April

2

2020. Tentu saja hal ini berdampak pada petani di beberapa wilayah di Indonesia terutama
Jawa karena mengalami kerugian yang cukup besar dan terancam tidak bisa menanam lagi.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah faktor penyebab penurunan harga Komoditas Pertanian?
2. Bagaimanakah solusi yang dilakukan untuk mengatasi penurunan harga komoditas
pertanian?
3. Bagaimana peran desa disaat kebijakan New Normal?

1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui faktor penyebab penurunan harga komoditas pertanian di desa
2. Mengetahui solusi dalam mengatasi penurunan harga komoditas
3. Mengetahui peran desa saat masa New Normal

3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Faktor Penyebab Penurunan Harga Komoditas Pertanian

Para petani yang ada di wilayah pedesaan di wilayah Yogyakarta, Jawa tengah
mengalami penurunan harga berbagai komoditas pertanian seperti sayur-sayuran dan buahbuahan, berdasarkan aplikasi milik Kementrian Pertanian (SIHARGA), pada awal bulan
februari 2020 harga cabe di pasar Yogyakarta mencapai Rp. 70.000/kg, namun pada bulan
April 2020 harga cabe di pasar Yogyakarta mengalami penurunan harga mencapai Rp
17.500/kg, sedangkan harga cabe di tingkat petani seharga Rp. 7.000,00/kg (per 30 April
2020). Hal ini berdampak terhadap pertani yang terdapat di wilayah Jawa Tengah khusus
nya petani di Yogyakarta yang mengalami kerugian yang cukup besar dan terancam tidak
bisa melakukan penanaman lagi.
Menyikapi hal ini, pemerintah beserta beberapa pihak sangat khawatir dengan
penurunan dan kelangkaan bahan pangan yang ternyata tidak memudahkan petani sebagai
penyedia pangan untuk masyarakat. Sebagai produsen makanan, petani justru menjadi salah
satu pihak yang paling terdampak dalam terancamnya krisis ketahanan pangan, padahal
petani merupakan pekerja utama dalam penyediaan pangan yang seharusnya tetap bertahan
di tengah wabah Virus Covid-19. Fakta nya yang terjadi hari ke hari adalah menurun nya
harga komoditas pangan hingga ke level yang sangat rendah di berbagai wilayah
Yogyakarta.
Penurunan harga komoditas pertanian ini sangat merugikan pertani di saat pandemi
yang sedang berlangsung, petani yang di golongkan sebagai tumpuan dalam produsen
penyedia pangan bagi berlangsungnya kehidupan masyarakat di tengah pandemi ini, justru

4

mengalami ancaman kerugian yang berdampak pada ketidakmampuan dalam membeli bibit
dan melakukan pembaharuan tanaman yang mereka miliki.
Terdapat tiga kelompok yang paling rentan terdampak dari Pandemi Covid-19 ini,
yaitu orang miskin, petani, dan anak-anak. Kehadiran petani dalam golongan yang rentan,
merupakan salah satu fenomena yang sangat tidak di duga. Karena petani merupakan salah
satu produsen bahan-bahan pangan yang memiliki peran penting untuk keberlangsungan
kehidupan masyarakat. Disaat pandemi ini, petani kecil tidak mempunyai akses terhadap
pasar yang luas, sehingga hasil produksi pertaniannya hanya dijual seadanya di pasar
terdekat dengan nominal harga yang sangat murah dibandingkan harga normal. Harga
kebutuhan lainnya yang semakin menaik termasuk harga bahan pertanian dapat menambah
kerentanan yang dirasakan pada petani.
Terdapat beberapa faktor sebagai penyebab penurunan harga komoditas dalam
pertanian, yaitu :
1. Pembatasan terhadap transportasi dan ekonomi sebagai penyebab terhambatnya
sistem pangan yang berjalan di tengah Pandemi Covid-19. 80% konsumen yang
terdapat di negara berkembang terutama perkotaan sangat mengandalkan pasar
sebagai sumber pangan

mereka, sehingga dengan di terapkan suatu kebijakan

Pembatasan Sosial dan tranportasi akan menganggu berjalannya suatu proses
pendistrisibusian pangan tersebut. Tentu saja hal ini dapat semakin meningkat
dengan dikeluarkannya beberapa kebijakan yang diterapkan sebagai upaya
mengurangi penyebaran kasus Covid-19, salah satu kebijakan yang dimaksud
seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sedang diterapkan di
berbagai wilayah yang ada di Indonesia. Penutupan perbatasan yang dilakukan
berdampak pada terlambatnya proses distribusi pangan serta mempengaruhi kualitas
produk pertanian yang sebelumnya segar dan berdampak pada penurunan harga
komoditas pertanian di beberapa wilayah yang ada di Indonesia.

5

2.

Munculnya wabah virus Covid-19 ini menyebabkan terjadinya Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK) massal atau hilangnya pekerjaan bersama-sama yang
dirasakan oleh banyak masyarakat di Indonesia. Menurut Wakil Ketua Umum
Kamar Dagang dan Industri Indonesi Bidang UMKM, jumlah pemutusan hubungan
kerja (PHK) yang diakibatkan oleh Pandemi Covid-19 ini mencapai 15 juta jiwa.
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ini memiliki dampak terhadap menurunnya
daya beli masyarakat serta permintaan yang terjadi di lingkup pasar dan dapat
berimbas kepada komoditas pertanian yang semakin terancam.

3.

Berbagai aktivitas sosial yang dilakukan masyarakat dan berdampak terhentinya
ekonomi seperti hajatan, kumpul-kumpul, serta silahturahmi yang biasanya
dilakukan hampir setiap akhir pekan oleh masyarakat dan pada umumnya
membutuhkan logistik yang cukup besar dalam aktivitasnya tersebut. terlebih disaat
bulan ramadhan, biasanya hampir seluruh masjid yang terdapat di Indonesia
mengadakan rutinitas buka buasa bersama namun saat Pandemi Covid-19 tidak
dapat dilakukan, sehingga berdampak kepada menurunnya permintaan bahan
makanan semakin menurun. Saat bulan puasa selain masjid mengadakan aktivitas
buka puasa, kebutuhan rumah tangga yang terbatas karena adanya larangan keluar
rumah menjadi salah satu permaslahan berkurangnya permintaan terhadap bahan
makanan.

2.2 Upaya dan Solusi di dalam Ketahanan Ekonomi Desa saat New Normal
Menurunnya suatu harga yang sangat signifikan terhadap hasil pertanian hanya
terdapat di Pulau Jawa, khususnya Yogyakarta. Sedangkan pada wilayah diluar jawa yang
terjadi sebaliknya. Jika dilihat lebih dalam lagi, didapati jika Pulau Jawa khusus nya
Yogyakarta merupakan salah satu sentra produksi pangan di Indonesia, hal ini ditunjukkan
bahwa permaslahan yang sedang terjadi berada pada siklus distribusi. Salah satu
6

permasalahan yang kemungkinan terjadi pada siklus distribusi ini dapat diperparah dengan
perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah. Walaupun arus
logistik merupakan salah satu aspek yang termasuk dalam pengecualian, tetapi hal ini tetap
berpotensi menganggu kelancaran proses distribusi, terutama semakin meningkatnya waktu
tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini, pemerintah (Kementrian
Pertanian) melakukan pemetaan ulang stok-stok komoditas yang terdapat di masing-masing
daerah guna memetakan arah pendistribusian pangan secara nasional.
Pendataan dilakukan mulai tingkat kabupaten/kota yang terdapat di Pulau Jawa dan
melihat apa saja komoditas yang dihasilkan serta menghitung kebutuhan pangan masingmasing penduduk yang terdapat di berbagai daerah Yogyakarta. Pengoptimalisasi fungsi
kelompok-kelompok pertani dan koperasi juga dilakukan guna menyeimbangkan kebijakan
yang dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah juga memanfkaatkan ketersediaan data dan
melakukan uji validitas dari kebijakan yang telah dibuat dalam satu peta yang sedang
dilakukan,

sehingga

dapat

dimanfaatkan

secara

maksimal

dalam

melakukan

pendistribusian pangan di seluruh Indonesia, khusus nya Yogyakarta,Jawa Tengah.
Solusi penting yang dilakukan ialah mengawasi harga-harga pangan mulai dari
tingkat produsen (petani) hingga di tangan konsumen, sehingga produksi pangan yang
dilakukan tetap berjalan dengan baik dan optimal walaupun dalam kondisi pandemi Covid19 saat ini. Pemerintah kembali dapat mengaktifkan sistem-sitem ketahanan petani dari
mulai level desa dengan memberikan bantuan-bantuan koperasi desa. Di wilayah Indonesia
terdapat beberapa yang telah menerapkan sistem koperasi untuk mengkontrol harga di
tingkat petani, sehingga harga yang di dapatkan petani tidak berbeda jauh dengan harga
pasaran.
Selain itu, diperlukan kerjasama dengan flatform-flatform jual beli produk pertanian
secara online. Seperti flatform sayur box, TaniHub dan Kecipir yang telah beriperasi di
Jabodetabek dan siklus penjualannya mengalami peningkatan di dalam kondisi Pandemi
Covid-19 dan kebijakan PSBB di wilayah jabodetabek. Masyarakat yang digolongkan kelas

7

ekonomi menengah sangat mengandalkan aplikasi online tersebut untuk berbelanja, bahkan
mereka harus mengantri 2-3 hari dari waktu pesan yang mereka lakukan hingga produk di
kirim ke rumah mereka masing-masing. Tentu saja hal ini dapat menjadi perantara antara
petani dengan konsumen dengan membayar harga sesuai harga pasaran dan mungkin perlu
diperluas lagi.jangkauannya. Selain itu terdapat solusi yang dianjurkan oleh FAO yaitu
pemerintah dapat mendorong masyarakat untuk melakukan aktivitas pembelian bahan
makanan pada produsen-produsen kecil, sehingga terdapat kestabilan harga dan
mengurangi permainan harga di tingkat distributor.
2.3 Optimalisasi Ketahanan Pangan Desa Disaat masa New Normal
Terdapat beberapa ketahanan pangan yang ada di desa saat New Normal, yaitu :
1. Lumbung Desa
2. BUMDES
3. Koperasi
Manfaat dari ketahanan pangan di desa ini ialah menciptakan lapangan pekerjaan di
wilayah pedesaan, penyangga ketahanan pangan yang ada di desa, meningkatkan potensi
pendapatan asli desa (PAD), serta memfasilitasi penjualan produk hasil tani. S
Disaat pandemi Covid-19, daerah daerah khusus nya di wilayah pedesaan kembali
membuka lumbung yang terdapat di desa-desa agar tidak bergantung kepada bantuan yang
diberikan oleh pemerintah. Sedangkan BUMDES merupakan salah satu kekuatan yang
dapat mendorong terciptanya peningkatan pendapatan dengan meningkatkan produktivitas
oleh desa. BUMD juga dapat berjalan berdasarkan kearifan lokal, ragam dan potensi yang
dimiliki desa. Untuk koperasi yang terdapat di desa, bergerak di penyediaan kebutuhan
masyarakat desa terkait dengan aktivitas pertanian. Dapat disimpulkan bahwa koperasi ini
sangat baik untuk dikembangkan pada pedesaan.

8

Peluang agribisnis di daerah pedesaan pada saat New Normal dengan menerapkan
deglobalisasi, pengembangan pertanian yang sehat, optimalisasi DD dan ADD,
Pengembangan bisnis petani milenial serta peningkatan modal sosial.
a) Deglobalisasi yaitu investasi mulai dilakukan dengan bergeser ke lokasi baru
dengan optimalisasi pasar di dalam negeri. Dengan melakukan kegiatan pertanian
lebih ke kebutuhan di dalam negeri yang di produksi di dalam negeri.
b) Pertanian sehat dilakukan dengan perlindungan hewan peliharaan , pengembangan
suatu produk pertanian organik dan mengendalikan agribisnis dari hulu hingga hilir
serta distribusi yang sehat.
c) Petani Milenial dikembangkan untuk menarik minat kaum muda agar terjun ke
dunia pertanian, oleh karena itu, pengembangan bisnis petani harus di kembangkan
dengan cara pertanian digital, dukungan permodalan dan perbankan, serta
pembangunan pola kemitraan petani.
d) Optimalisasi DD dan ADD agar ketahanan pangan di suatu desa sesuai dengan
potensi yang ada, selain dari itu dperlukan revitalisasi penyuluhan pertanian di suatu
desa.
e) Sedangkan hal yang paling penting ialah modal sosial, modal sosial yang dimaskud
ini ialah terdapat gotong royong yang tinggi, menguatkan perlindungan perdesaan,
memperkuat lumbung desa, dan memperkuat kelompok tani.

2.4 Perubahan Sosial di Masa New Normal
Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan dunia dalam waktu yang singkat, secara
sosiologis, pandemi Covid-19 ini menyebabkan perubahan sosial yang tidak direncanakan.
Artinya perubahan sosial yang terjadi secara sporadis dan tidak di inginkan kehadirannya
oleh masyarakat. Dampaknya, ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi pandemi
Covid-19 ini pada gilirannya telah menyebabkan disorganisasi sosial di segala aspek
kehidupan masyarakat.
9

Untuk mengurangi serta menekan penyebaran virus Covid-19, Pemerintah telah
memberikan intruksi kepada seluruh masyarakat untuk mengikuti anjuran yang telah
diberikan seperti membatasi interaksi sosial (Social Distancing) , membatasi kontak fisik
(physical Distancing) serta memberikan intruksi kepada para pekerja untuk melakukan
aktivitas pekerjaannya dirumah saja (Work From Home). Namun seiring berjalannya aturan
serta penerapan protokol kesehatan, masih tedapat masyarakat yang tidak mentaati anjran
tersebut, sehingga angka kasus Covid-19 terus menaik dikarenakan diacuhkannya seluruh
kebijakan serta sikap acuh masyarakat terhadap protokol kesehatan. Hal ini membuat
pemerintah pasrahkan semuanya kepada masyarakat dengan mengeluarkan kebijakan New
Normal dengan hidup berdampingan dengan Virus Covid-19 ini.
New Normal sendiri menurut Sosiolog dan juga dosen di Universitas Nasional
Adilitta Pramanti, S.Sos., M,Si. Merupakan upaya pemerintah dalam memutus rantai
penyebaran wabah Virus Covid-19 dengan menerapkan tatanan kehidupan yang baru dalam
berdampingan dengan Virus Covid-19. Ia meyakini bahwa segala bentuk perubahan gaya
hidup serta perilaku masyarakat dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan
menerapkan protokol kesehatan agar memberikan perlindungan kepada diri masing-masing.
Meskipun angka kasus Covid-19 terus bertambah, Adilitta Pramanti sebagai sosiolog
menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu pesimis dalam menghadapi pandemi Covid-19
ini.
Ia juga mengatakan walaupun Kebijakan New Normal sudah diterapkan,
masyarakat tetap harus menerapkan aturan-aturan kesehatan di dalam keberlangsungan
aktivitasnya dan juga memberikan kepercayaan penuh kepada pemerintah dalam
menanggulangi penyebaran Virus Covid-19 ini.
Menurut WHO, kemungkinan Covid-19 ini tidak akan pernah hilang dari muka
bumi ini atau dapat dikatakan sulit untuk menghilangkannya, sedangkan dalam penemuan
dan disribusi vaksin diperkirakan baru hadir sekitar 1-2 tahun yang akan datang bahkan ada
yang menyebutkan bahwa vaksin Covid-19 tidak akan pernah ditemukan.

10

Kebijakan-kebijakan yang telah diatur oleh pemerintah dalam menekan penyebaran
kasus Covid-19 terhadap masyarakat mengalami pro dan kontra. Hal ini dapat dilihat dari
adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat pekerja ojek online harus
merasakan

dampak

yang sangat besar

dikarenakan

aturan

PSBB yang tidak

memperbolehkan transportasi ojek online membawa penumpang, terhambatnya proses
pengiriman barang yang dilakukan oleh masyarakat, terhalangnya kegiatan masyarakat
yang harus keluar karena ada kepentingan, terhambatnya masyarakat yang sedang
merasakan duka dikarenakan adanya kerabat atau saudara di kampung yang meninggal
dunia, sehingga tidak dapat menemui kerabat serta keluarga nya tersebut secara langsung.
Kebijakan New Normal dengan menerapkan protokol kesehatan sendiri mebuat
akses pelayanan publik kepada masyarakat mengalami penghambatan, hal ini dapat
dijadikan upaya bagi penyelenggara pelayanan publik agar memperhatikan kendala yang
terjadi dalam melakukan pelayanannya secara profesional dengan adanya pembatasan
kepada masyarakat.

KESIMPULAN

Pertanian merupakan sektor utama ketahanan pangan (food Security) yang akan
sangat berpengaruh di saat perekonomian sedang bermasalah. Bukan hanya sebatas
bertahan hidup, melainkan juga masalah terhadap asupan gizi masyarakat. Pemerintah
harus dapat menghindari krisis Covid-19 yang akan berubah menjadi krisis pangan.
Kemiskinan yang intensitasnya tinggi di suatu pedesaan, mempertahankan segala bentuk
aktivitas ekonominya di pedesaan sangat sangat relevan agar kenaikan angka kemiskinan
yang sedang dialami dapat di tanggulangi. Di sektor pertanian, resiko terpapar Virus
Corona sebagai hal yang tidak bisa di abaikan. Karena dalam aktivitas produksinya tidak

11

seperti sektor lain yang dilakukan di dalam ruangan. Petani melakukan aktivitasnya di luar
ruangan atau di lahan yang luas.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan penurunan harga komoditas pertanian, yaitu :
a) Pembatasan terhadap transportasi dan ekonomi sebagai penyebab terhambatnya
sistem pangan yang berjalan di tengah Pandemi Covid-19. 80% konsumen yang
terdapat di negara berkembang terutama perkotaan sangat mengandalkan pasar
sebagai sumber pangan

mereka, sehingga dengan di terapkan suatu kebijakan

Pembatasan Sosial dan tranportasi akan menganggu berjalannya suatu proses
pendistrisibusian pangan tersebut.
b) Menurut Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesi Bidang UMKM,
jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diakibatkan oleh Pandemi Covid-19
ini mencapai 15 juta jiwa. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ini memiliki dampak
terhadap menurunnya daya beli masyarakat serta permintaan yang terjadi di lingkup
pasar dan dapat berimbas kepada komoditas pertanian yang semakin terancam.
c) Berbagai aktivitas sosial yang dilakukan masyarakat dan berdampak terhentinya
ekonomi seperti hajatan, kumpul-kumpul, serta silahturahmi yang biasanya
dilakukan hampir setiap akhir pekan oleh masyarakat dan pada umumnya
membutuhkan logistik yang cukup besar dalam aktivitasnya tersebut

Jika dilihat lebih dalam lagi, didapati jika Pulau Jawa khusus nya Yogyakarta merupakan
salah satu sentra produksi pangan di Indonesia, hal ini ditunjukkan bahwa permaslahan
yang sedang terjadi berada pada siklus distribusi. Salah satu permasalahan yang
kemungkinan terjadi pada siklus distribusi ini dapat diperparah dengan perpanjangan
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah. Walaupun arus logistik
merupakan salah satu aspek yang termasuk dalam pengecualian, tetapi hal ini tetap
berpotensi menganggu kelancaran proses distribusi, terutama semakin meningkatnya waktu
tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini, pemerintah
12

(KementrianPertanian) melakukan pemetaan ulang stok-stok komoditas yang terdapat di
masing-masing daerah guna memetakan arah pendistribusian pangan secara nasional.
Solusi penting yang dilakukan ialah mengawasi harga-harga pangan mulai dari tingkat
produsen (petani) hingga di tangan konsumen, sehingga produksi pangan yang dilakukan
tetap berjalan dengan baik dan optimal walaupun dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini.
Pemerintah kembali dapat mengaktifkan sistem-sitem ketahanan petani dari mulai level
desa dengan memberikan bantuan-bantuan koperasi desa. Di wilayah Indonesia terdapat
beberapa yang telah menerapkan sistem koperasi untuk mengkontrol harga di tingkat
petani, sehingga harga yang di dapatkan petani tidak berbeda jauh dengan harga pasaran.
Disaat pandemi Covid-19, daerah daerah khusus nya di wilayah pedesaan kembali
membuka lumbung yang terdapat di desa-desa agar tidak bergantung kepada bantuan yang
diberikan oleh pemerintah. Sedangkan BUMDES merupakan salah satu kekuatan yang
dapat mendorong terciptanya peningkatan pendapatan dengan meningkatkan produktivitas
oleh desa. BUMD juga dapat berjalan berdasarkan kearifan lokal, ragam dan potensi yang
dimiliki desa. Untuk koperasi yang terdapat di desa, bergerak di penyediaan kebutuhan
masyarakat desa terkait dengan aktivitas pertanian. Dapat disimpulkan bahwa koperasi ini
sangat baik untuk dikembangkan pada pedesaan.
Kebijakan New Normal dengan menerapkan protokol kesehatan sendiri mebuat
akses pelayanan publik kepada masyarakat mengalami penghambatan, hal ini dapat
dijadikan upaya bagi penyelenggara pelayanan publik agar memperhatikan kendala yang
terjadi dalam melakukan pelayanannya secara profesional dengan adanya pembatasan
kepada masyarakat.

13

DAFTAR PUSTAKA

Web Resmi
 https://yogyakarta.bps.go.id/
 https://www.unas.ac.id/berita/new-normal-sosiolog-unas-upaya-pemerintah-dalammemutus-rantai-penyebaran-covid-19/
 https://kependudukan.lipi.go.id/id/berita/53-mencatatcovid19/879-ketahananpangan-dan-ironi-petani-di-tengah-pandemi-covid-19
Jurnal
 Anisya, A. P. M., & Waluyati, L. R. (2020). Peluang Desa Lumbung Pangan dalam
Meningkatkan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Tani.
 Muin, M. F. (2020). Ketahanan Ekonomi Rumah Tangga Pertanian di Wilayah
Terkena Erupsi Merapi 2010 Melalui Indeks Standar Hidup yang Disesuaikan
Berita
 https://jogja.antaranews.com/berita/435798/sektor-pertanian-bantul-tidakterdampak-pandemi-covid-19
 https://www.jawapos.com/opini/05/06/2020/tantangan-berperilaku-new-normal/
 https://imcnews.id/penurunan-harga-komoditas-pengaruhi-nilai-tukar-petani
 https://semarang.bisnis.com/read/20190214/536/888789/harga-bawang-dan-cabaiturun-ganjar-pranowo-cari-pasar-luar-jawa

14

Judul: Adilitta Pramanti, S.sos, M,si / Muhammada Nata Nugraha / 173112350350009 / Sosiologi Perdesaan / Ketahanan Ekonomi Desa Saat New Normal / Sosiologi / Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik / Universitas Nasional

Oleh: Nata Nugraha


Ikuti kami