Review Artikel Metafisika Sebagai Filsafat Pertama Dan Ilmu Utama20191024 17218 1iefpno

Oleh Kholili Hasib

604,9 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Review Artikel Metafisika Sebagai Filsafat Pertama Dan Ilmu Utama20191024 17218 1iefpno

Review Artikel What is First? Metaphysics as Prima Philosophia and Ultima Scientia in the Works of Thomas Aquinas Artikel untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metafisika Di bawah bimbingan: Dr. Syamsuddin Arif, MA Oleh: Kholili Hasib PROGRAM DOKTOR AKIDAH DAN FILSAFAT ISLAM UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR Oktober, 2018 1 Oleh: Kholili Hasib JUDUL ARTIKEL :What is First? Metaphysics as Prima Philosophia and Ultima Scientia in the Works of Thomas Aquinas Penulis : Jan Kielbasa Publikasi : Philosophia (2013). Published online 17 August 2013 Artikel ini ditulis oleh Jan Kielbasa Asissten Profesor dari Institute of Philosophy, Jagiellonian University, Grodzka Polandia. Bidang keahliannya adalah metafisika. Secara umum artikel ini mengkaji pemikiran Thomas Aquinas (1224-1274 M) tentang posisi metafisika dalam hubungannya dengan sains. Metafisika di satu sisi menduduki posisi apa seharusnya yang lebih dulu “hadir” dalam tatanan ontologis sebab-sebab pertama dari keberadaan. Maksud lebih dulu “hadir” antara lain adalah semestinya dengan posisi ilmu metafisika, lebih dulu dipelajari. Tetapi faktanya, tidak demikian. Ia dipelajari oleh pelajar yang sudah level tinggi. Tapi di sisi lain, sains bergantung padanya. Metafisika merupakan filsafat pertama. Sebagai filsafat pertama, maka metafisika menjadi faktor yang menentukan dalam sains, menjadi prinsip pertama dalam sains. Artinya, metafisika menjadi penyebab pertama. Metafisika itu prinsip pertama, sedang sains yg lain merupakan gambaran dari prinsip pertama ini. Isu penting yang dibahas adalah asal-usul munculnya sesuatu pertama kali. Apa yang pertama, ada apa yang menjadi wujud selanjutnya. Maka logikanya, semestinya Metafisika dipelajari lebih dahulu daripada sains. Namun, 2 kenapa metafisika dengan kedudukan yang utama itu justru sains dipelajari lebih dulu, sedangkan metafisika dipelajari di akhir? Inilah isu utama artikel ini. Di dalam alam terdapat sebab-sebab yang menelorkan sesuatu. Tidak ada sesuatu yang menjadi sebab yang menghasilkan diri sendiri. Jika ada, maka ada yang mendahului dirinya, dan seterusnya yang tidak mungkin tidak ada batasnya. Seperti lingkaran tidak berujung. Hal ini yang menjadi perbincangan. Dalam hal ini pemikiran Thomas Aquinas mirip dengan Filosof Arab dan Aristotles. Ibnu Sina misalnya mengatakan metafisika dimasukkan ke dalam filsafat pertama, apalagi Ibn Sina menyatakan metafisika merupakan ilmu yang paling mendasar. Metafisika adalah sumber dan prinsip pertama bagi sains. “Sebab” bagi Ibnu Sina merupakan sesuatu yang meniscayakan sesuatu yang lain, dan “akibat” mesti aktual karena keaktualan sebabnya. Thomas Aquinas yakin dengan hipotesa yang diajukan Ibnu Sina bahwa metafisika adalah filsafat pertama karena dlm metafisika ada nilai paling mendasar bagi sains lainnya. Konsekuensi dari pemikiran itu selanjutnya dijelaskan bahwa nalar berputar (circular reasoning) adalah tidak benar. Rangkaian sebab tersebut tidak berakhir adalah mustahil. Thomas Aquinas berkesimpulan bahwa “akibat” bisa dilacak ke satu “penyebab awal” yang merupakan sebab efisien yaitu Tuhan. Maka, harus ada sebab yang Pertama, yaitu Tuhan. 3 Tentang kekeliruan nalar berputar soal mana yang pertama dan mana yang akhir dijelaskan oleh Ibnu Sina, sains alam, dan ilmu pengetahuan tentang kemampuan berpikir (liberal art) menarik validitas asumsinya dari metafisika. Pada saat bersamaan asumsi-asumsi sains ini terlihat terbalik sebagai prinsip atau inspirasi bagi metafisika itu sendiri. Ilmu-ilmu ini menyediakan “Filsafat Pertama” yang diperlukan untuk melakukan studi metafisika. Maka, jika metafisika dianggap prinsip utama dan sebagai konsekuensinya prinsip utama harus diberikan kepada sains yang lain oleh metafisika. Inilah logika yang dibahas Aquinas. Untuk menyelesaikan masalah ini, Thomas Aquinas mengajukan saran; pertama, prinsip ilmu yang diberikan tidak harus menjadi prinsip di mana semua bergantung padanya. Kedua, ilmu mencakup hal-hal yang tidak perlu dibuktikan dengan menarik prinsip-prinsip yang berasal dari ilmu-ilmu lain, dan terutama prinsip-prinsip yang menjamin pengetahuan penuh dan tertentu tentang suatu fenomena tertentu (menunjukkan penyebabnya); ini adalah kasus ketika menyatakan bahwa sesuatu yang ada ada (est) tanpa membuktikan mengapa hal itu ada (quare est). Ketiga, baik metafisika dan ilmu pengetahuan lainnya memiliki aksioma mereka sendiri - prinsipprinsip otonom yang secara implisit jelas dan dengan demikian tidak harus dikonfirmasi oleh prinsip-prinsip lain yang lebih mendasar (atau pertama), juga tidak berasal darinya. Thomas Aquinas menjelaskan argumentasi Ibnu Sina, bahwa sains alam memiliki prinsip otonom (sendiri). Prinsip ini dikirimkan ke metafisika tetapi tidak mengkondisikan prinsip pertamanya. Sehingga, metafisika sebagai filsafat pertama sesungguhnya memberikan prinsip-prinsip pertama ke ilmu-ilmu lain. Ibnu Sina 4 memperkuat argumentasinya bahwa pengetahuan tentang realitas-realitas tinggi dalam kaitannya dengan penyebab-penyebab akhir dapat diungkapkan hanya dengan metode yang melekat pada metafisika. Sehingga prinsip-prinsip yang ilmu lain (seperti filsafat alam) mengambil dari filsafat pertama. Dengan demikian tidak ada lingkaran setan dalam hal ini. Thomas Aquinas menyimpulkan pendapat Ibnu Sina ini, bahwa metafisika sebagai filsafat pertama memberikan prinsip pertama pada ilmu lain. Dan bahwa prinsip-prinsip pertama ini memiliki dasar dan konfirmasi dalam metafisika, serta fakta bahwa metafisika adalah pengetahuan terakhir, menggantikan sains-sains yang lain dan dengan demikian menunjukkan tidak ada lingkaran setan. Sains, khususnya sains alam, tidak memberikan seperangkat prinsip yang lengkap yang dibutuhkan oleh metafisika, yang digunakan oleh metafisika dan disampaikan kepada sains. Sains mungkin memiliki sumber otonomnya sendiri, dan tidak harus diturunkan dari konten yang dikirim ke metafisika. Sains alam melakukan penalaran intrinsik mereka sendiri. Akan tetapi, karena kita mengetahui penyebab Utama dari sebuah pertanyaan “Karena apa”, realitas itu muncul. Dengan ini, maka sains alam memasok ke dalam metafisika. Dan karena metafisika, pinsip-prinsip sains dikonfirmasi, dan ditarik kesimpulan sementara yang dapat dimengerti dan valid. Logika ini menunjukkan, metafisika sebagai kognisi penyebab utama. Maksudnya, nalar intelektual melekat pada metafisika dan diakhiri dengannya. 5 Dalam sistem pengetahuan yang dibangun oleh Thomas Aquinas metafisika adalah yang pertama dalam esensinya, terutama dari sudut pandang materi pelajarannya. Tetapi ilmu-ilmu lain dapat menjadi pertama secara tidak sengaja (per accidens). Mengenai status metafisika dengan sains yang lain yang bisa menjelaskan konsep lingkaran (daur/lingkaran) dapat dicontohkan sebagai berikut; geometri hanya mempelajari garis yang memiliki panjang tetapi tidak lebar. Seorang ahli geometris tidak harus tahu berapa kuantitasnya, tetapi seorang metafisika harus menentukan konsep ini, karena tugasnya adalah untuk menegaskan prinsip-prinsip ilmu lain. Inilah sebabnya mengapa metafisika pertama dalam urutan kognisi yang jelas dan berbeda tetapi terakhir dalam urutan pembelajaran. Karena inilah Ibnu Sina menyatakan bahwa tidak ada lingkaran setan dalam mengetahui dan mempelajari ilmu bahkan jika ilmu lain dipelajari sebelum metafisika sementara metafisika, pada gilirannya, memungkinkan seseorang untuk mengetahui prinsip-prinsip ilmu lainnya. 6

Judul: Review Artikel Metafisika Sebagai Filsafat Pertama Dan Ilmu Utama20191024 17218 1iefpno

Oleh: Kholili Hasib


Ikuti kami