Istilah-istilah Singkat Yang Biasa Digunakan Oleh Para Penuntut Ilmu Syar’i

Oleh Lisa Urmila

92,4 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Istilah-istilah Singkat Yang Biasa Digunakan Oleh Para Penuntut Ilmu Syar’i

Bismillah, berikut ini adalah istilah-istilah singkat yang biasa digunakan oleh para penuntut ilmu syar’i : … Afwan = maaf. Tafadhdhol = silahkan (untuk umum Tafadhdholiy = silahkan (untuk perempuan) Mumtaz : Hebat, Nilai sempurna, bagus banget Na’am : iya La adri = tidak tahu Syukron : terima kasih Zadanallah ilman wa hirsha = smoga ALLAH manambah kita ilmu & semangat Yassarallah/sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna = semoga ALLAH mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun berada Allahummaghfir lana wal muslimin = ya ALLAH ampunilah kami & kaum muslimin Laqod sodaqta = dengan sebenarnya Ittaqillaah haitsumma kunta = Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada Allahul musta’an = hanya ALLAH-lah tempat kita minta tolong Barakallah fikum = semoga ALLAH memberi kalian berkah Wa iyyak = sama-sama Wa anta kadzalik = begitu jg antum Ayyul khidmah = ada yg bisa dibantu ? Nas-alullaha asSalamah wal afiah = kita memohon kepada ALLAH keselamatan dan kebaikan Jazakumullah khayran = semoga ALLAH memmbalas kalian dengan lebih baik Jazaakallahu khayran = semoga ALLAH membalasmu (laki2) dengan lebih baik Jazaakillahu khayran = semoga ALLAH memmbalasmu (perempuan) dengan lebih baik Allahumma ajurny fi mushibaty wakhlufly khairan minha = ya ALLAH berilah pahala pada musibahku dan gantikanlah dg yg lebih baik darinya. Rahimakumullah = smoga ALLAH merahmati kalian Hafizhanallah = semoga ALLAH menjaga kita Hadaanallah = semoga ALLAH memberikan kita petunjuk/hidayah. Allahu yahdik = semoga Allah memberimu petunjuk/hidayah ‘ala rohatik = ‘ala kaifik = tereserah anda… (biasanya digunakan dalam percakapan bebas, atau lebih halusnya silahkan dikondisikan saja..) ana = y = saya anta = ka = kamu laki2 anti = ki = kamu prempuan (maksudnya ==> kalau untuk kepada kamu laki2= kaifa haluka ? ; Kalau kepada kamu perempuan : kaifa haluki?) antum = kum = kalian laki2 antunna = kunn = kalian prempuan huwa = hu = dia laki2 hiya = ha = dia prempuan === maa dza ta’malu ? = apa yg sedang kamu kerjakan ? maa dza ta’maluna ? = apa yg sedang kalian kerjakan ? qoro’tu fiil madi = aku telah membaca ahfadhuhaa mahlan mahlan = saya akan menghafalnya pelan-pelan ‫ ﻣِ ْﻦ ﺃَﻳْﻦَ ﺃ َ ْﻧﺖَ ﻗَﺎﺩِﻡ ﻳَﺎ ﺃَﺧِ ﻲ؟‬:‫ﺃَﺣْ َﻤﺪ‬ Min aina anta qaadim, ya akhii? / Dari mana Anda berasal, wahai Saudaraku? َّ ‫ ﺃَﻧَﺎ ﻗَﺎﺩِﻡ ﻣِ ْﻦ َﺟ َﺎﻭﻯ ﺍﻟ‬:‫ُﻣ َﺤ َّﻤﺪ‬ ‫ﺸﺮْ ﻗِﻴَّﺔ‬ Anaa qaadim min Jaawaa asy-syarqiyyah / Saya berasal dari Jawa Timur َ َ‫ َﻫﻞْ ﺃَ ْﻧﺖ‬:‫ﺃَﺣْ َﻤﺪ‬ ‫ﻃﺎﻟِﺐ؟‬ Hal anta thaalib? / Apakah Anda seorang mahasiswa? َّ ‫ ﻻَ ﺃَﻧَﺎ ُﻣ َﻮ‬:‫ُﻣ َﺤ َّﻤﺪ‬ ‫ﻇﻒ‬ Laa, anaa muwadhdhaf / Tidak, saya seorang karyawan ‫ ﺃَﻳْﻦَ َﻣ ْﻜﺘَﺒُﻚَ ؟‬:‫ﺃَﺣْ َﻤﺪ‬ Aina maktabuka? / Di mana kantormu? َّ ‫ َﻣ ْﻜﺘَﺒِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟ‬:‫ُﻣ َﺤ َّﻤﺪ‬ ‫ﺎﺭﻉ ﺳُﻮﺩِﺭْ َﻣﺎﻥ‬ ِ ‫ﺸ‬ Maktabii fisy-syaari’ Sudirman / Kantorku di jalan Sudirman ‫ ﺑِ َﻤﺎﺫَﺍ ﺗ َ ْﺬﻫَﺐ ِﺇﻟَﻰ ْﺍﻟ َﻤ ْﻜﺘ َﺐ؟‬:‫ﺃَﺣْ َﻤﺪ‬ Bimaadzaa tadzhab ilal-maktab? / Dengan apa Anda pergi ke kantor ‫َّﺎﺭﺓ‬ َّ ‫ ﺃ َ ْﺫﻫَﺐ ﺇِﻟَﻰ ْﺍﻟ َﻤ ْﻜﺘ َﺐ ﺑِﺎﻟ‬:‫ُﻣ َﺤ ّﻤﺪ‬ َ ‫ﺴﻴ‬ Adzhab ilal-maktab bis-sayyaarah / Saya pergi ke kantor dengan mobil Akalti : kamu sudah makan ana ata’allamu = saya sedang belajar nahnu nata’allamu = kami sedang belajar al idhofatu = sandaran contoh : ——— kitaabun – Muhammad –> kitaabun Muhammadin = bukunya Muhammad –> nah, ini dalam bahasa arab disebut : mudhoofun ilaih (mabniun alal kasry) lagi.. baitun – mudarrisyun –> baitu mudarrisyin/baitul mudarrisyi = rumah guru nah.. TIPS: bagaimana kalau berdiskusi dgn para ahlul bid’ah dan mereka tetap bersikeras kepada kebid’ahannya ? Cukup tutup dengan kalimat, “mau’iduna yaumal jana’iz!” = nantikanlah sampai kematian menjemput anda Setelah itu, tinggalkan tempat kejadian perkara selesai ___________________________________________ Afwan, berhubung ada yang bertanya tentang arti kalimat2 umum dan sederhana dalam bahasa Arab yang sering di gunakan di group ini, maka semoga artikel sederhana (terjemahan bebas) ini bermanfaat. - ana = saya - anta = ka = kamu laki2 - anti = ki = kamu prempuan - antum = kum = kalian laki2 - antunna = kunn = kalian prempuan - huwa = hu = dia laki2 - hiya = ha = dia perempuan - ya akhi = wahai saudaraku (laki2) - ya ukhti = wahai saudaraku (perempuan) - Akhi fillah = saudaraku seiman (kepada Allah) - Jazaakallahu khayran = smoga ALLAH memmbalasmu dengan kebaikan. - Jazakumullah khayiran = smoga ALLAH memmbalas kalian dengan kebaikan - Allahu yahdik = Semoga Allah memberimu petunjuk - Rahimahullah = Semoga Allah merahmatinya - Rahimakumullah = smoga ALLAH mrahmati kalian - Hafizhanallah = smoga ALLAH menjaga kita - Hadaanallah = semoga ALLAH memberikan kita petunjuk. - Afwan = maaf - ISTAGHFARA-YASTAGHFIRU (‫ = )استغفر‬meminta ampun. - Zadanallah ilman wa hirshan = Semoga ALLAH manambah kita ilmu & smangat - Yassarallah / sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna = Semoga ALLAH mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun berada - Allahummaghfir lana wal muslimin = ya ALLAH ampunilah kami & kaum muslimin - Allahul musta’an = hanya ALLAH lah tempat kita minta tolong - Barakallahu fiik/kum = Semoga ALLAH memberi kalian berkah - Wa iyyak/kum = sama2 - Wa anta kadzaalik = begitu jg antum - Nas-alullaha assalamah wal aafiah = kita memohon kepada ALLAH keselamatan dan kebaikan dipersilahkan bagi yg mau menambahkan / mengkoreksi, & kalo ada yg mau menambahkan dgn huruf hijaiyah itu lebih baik jazakumullah khayran ana aidon = aku juga thoyyib = baik lah.. laa bahsa = ga papa mafi musykila = ga masalah sway-sway = dikit-dikit _________________________________ kata ‘afwan dibeberapa ayat dengan beberapa makna yang saling berbeda. Antara lain: Pertama, ( ‫ )ولقد عفا هللا عنهم‬QS. Ali Imran : 155, maknanya maaf. Kedua, (‫ )إال أن يعفون أو يعفو الذي بيده عقدة النكاح‬QS. Al-Baqarah : 237, maknanya meninggalkan. Ketiga, (‫ )ث ّم بدّلنا مكان السيئة الحسنة حتى عفوا‬QS. al-A’raf : 95, maknanya tambah banyak. Keempat, (‫ )ويسألونك ما ذا ينفقون قل العفو‬QS. al-Baqarah : 219, maknanya kelebihan dari harta. Dari beberapa kata “afwan” yang ada dalam al-Quran tersebut, dapat kita tafsirkan makna dari kata “afwan”: Menurut pengertian pertama, “maafkan saya atas kekurangan saya yang tidak mampu memberikan pelayanan lebih.” Menurut pengertian kedua, “tinggalkan terimakasih tersebut, karena saya tak butuh terima kasih itu.” Menurut pengertian ketiga, “diantara kita ada yang lebih banyak dari apa yang telah saya berikan.” Menurut pengertian keempat, “apa yang telah saya berikan merupakan limpahan pemberian yang tidak berhak disyukuri.” Wallahu a’lam. penggunaan ‘afwan’ kalau dalam keseharian sama dengan ‘you welcome’ dlm bhs Inggris. juga sering digunakan sebagai permintaan maaf dalam mengusulkan sesuatu, atau kalau tidak dapat memenuhi sesuatu. (dikedua kesempatan ini kata ‘afwan’ digunakan commonly) Wallahu’aklam.. Nah, ngomong2 soal “wa iyyaka” atau “wa iyyakum”, kayaknya ada artikel bagus nih, khusus membahas masalah ucapan “wa iyyaka” atau “wa iyyakum” ——— Banyak orang yang sering mengucapkan “waiyyak (dan kepadamu juga)” atau “waiyyakum (dan kepada kalian juga)” ketika telah dido’akan atau mendapat kebaikan dari seseorang. Apakah ada sunnahnya mengucapkan seperti ini? Lalu bagaimanakah ucapan yang sebenarnya ketika seseorang telah mendapat kebaikan dari orang lain misalnya ucapan “jazakallah khair atau barakalahu fiikum”? Berikut fatwa Ulama yang berkaitan dengan ucapan tersebut: Asy Syaikh Muhammad ‘Umar Baazmool, pengajar di Universitas Ummul Quraa Mekah, ditanya: Beberapa orang sering mengatakan “Amiin, waiyyaak” (yang artinya “Amiin, dan kepadamu juga”) setelah seseorang mengucapkan “Jazakallahu khairan” (yang berarti “semoga ALLAH membalas kebaikanmu”). Apakah merupakan suatu keharusan untuk membalas dengan perkataan ini setiap saat? Beliau menjawab: Ada banyak riwayat dari sahabat dan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, dan ada riwayat yang menjelaskan tindakan ulama. Dalam riwayat mereka yang mengatakan “Jazakalahu khairan,” tidak ada yang menyebutkan bahwa mereka secara khusus membalas dengan perkataan “wa iyyaakum.” Karena ini, mereka yang berpegang pada perkataan “wa iyyaakum,” setelah doa apapun, dan tidak berkata “Jazakallahu khairan,” mereka telah jatuh ke dalam suatu yang baru yang telah ditambahkan (untuk agama). Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala ditanya: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)? Beliau menjawab: “tidak ada dalilnya, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khair” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu dido’akan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian” ,namun jika dia mengatakan “jazakalallahu khair” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.” Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi ditanya: Apa hukumnya mengucapkan, “Syukran (terimakasih)” bagi seseorang yang telah berbuat baik kepada kita? Beliau menjawab: Yang melakukan hal tersebut sudah meninggalkan perkara yang lebih utama, yaitu mengatakan, “Jazaakallahu khairan (semoga ALLAH membalas kebaikanmu.” Dan pada Allah-lah terdapat kemenangan. Menjawab dengan “Wafiika barakallah”. Apabila ada seseorang yang telah mengucapkan do’a “Barakallahu fiikum atau Barakallahu fiika” kepada kita, maka kita menjawabnya: “Wafiika barakallah” (Semoga Allah juga melimpahkan berkah kepadamu) (lihat Ibnu Sunni hal. 138, no. 278, lihat Al-Waabilush Shayyib Ibnil Qayyim, hal. 304. Tahqiq Muhammad Uyun) Menjawab dengan “jazakallahu khair”. Ada satu hadits yang menjelaskan sunnahnya mengucapkan “jazakallahu khairan”, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Alkubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi) Ada beberapa ketentuan dalam mengucapkan jazakallah: - jazakallahu khairan (engkau, lelaki) - jazakillahu khairan (engkau, perempuan) - jazakumullahu khairan (kamu sekalian) - jazahumullahu khairan (mereka) Fatwa ulama seputar ucapan “jazakallah”: Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya: Sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan “jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan), dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam, dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.? Beliau menjawab: Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini, sebab boleh jadi (orang yang didoakan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini. Boleh jadi orang yang dido’akan dengan do’a ini tidak menghendakinya. Seseorang mendoakan kebaikan, dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini. Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini, bukan berarti bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk menambah dari do’a tersebut. Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jia dia mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak mengapa. Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya, boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu. Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya: Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan” ? Beliau -hafidzahullah- menjawab: “Demi Allah, kebaikan itu tidak ada batasnya, sedangkan kata seribu itu terbatas, sementara kebaikan tidak ada batasnya. Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”, seperti ungkapan mereka ini. Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.” (transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah, kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, nomor hadits: 222) Kesimpulan: Ucapan “Waiyyak” secara harfiah artinya “dan kepadamu juga”. Ini adalah bentuk do’a `yang walaupun ulama kita tidak menemukan itu sebagai sunnah. Dalam kasus manapun, namun tidak ada ulama yang melarang berdo’a dengan selain ucapan “Jazakumullah khairan” dengan syarat tidak boleh menganggapnya merupakan bagian dari sunnah. Namun untuk lebih afdholnya kita ucapkan “jazakalla khair”, inilah sunnahnya. Ada satu kaidah ushul fiqih yang dengan ini mudah-mudahan kita bisa terhindar dari bid’ah dan kesalahan-kesalahan dalam beramal atau beribadah. Al-Imam Al-Bukhari (dalam kitab Al-Ilmu) beliau berkata, “Ilmu itu sebelum berkata dan beramal”. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19). Dari ayat yang mulia ini, Allah ta’ala memulai dengan ilmu sebelum seseorang mengucapkan syahadat, padahal syahadat adalah perkara pertama yang dilakukan seorang muslim ketika ia ingin menjadi seorang muslim, akan tetapi Allah mendahului syahadat tersebut dengan ilmu, hendaknya kita berilmu dahulu sebelum mengucapkan syahadat, kalau pada kalimat syahadat saja Allah berfirman seperti ini maka bagaimana dengan amalan lainnya? Tentunya lebih pantas lagi kita berilmu baru kemudian mengamalkannya. Kita tidak boleh asal ikut-ikutan orang lain tanpa dasar ilmu, seseorang sebelum berbuat sesuatu harus mengetahui dengan benar dalil-dalilnya. Muraja’: - sunniforum.com/forum/showthread.php?t=3105 - darussalaf.or.id/stories.php?id=1520 - Hisnul Muslim, Syaikh Said bin Ali Al Qathani Bagaimana Ucapan yang sempurna dalam menjawab Jazakallohu khoiron..? Oleh : Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah Ucapan Ini Merupakan Amal Sholeh dan Amal Sholeh pun Akan Mengucapkannya Ucapan ini bagi yang mengucapkannya adalah ibadah. Karena ucapan ini adalah sebuah doa dan doa itu adalah ibadah. Adapun bagi yang menerimanya, ucapan ini adalah sebuah kalimat yang sangat baik. Membuat wajah ingin tersenyum dan membahagiakan hati… Ucapan ini lebih manis daripada “Syukron”… Dan lebih bermanfaat daripada “terima kasih”… Dan sangat tepat diucapkan oleh seseorang yang ingin menyampaikan kepada temannya bahwa ia tidak mampu membalas kebaikannya. Ucapan yang dimaksud adalah: “JAZAKALLOHU KHOIRON” [semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan_umum/laki laki]. atau “JAZAKILLAHU KHOIRON” [jika yang diberi ucapan adalah wanita]. Ucapan ini adalah amalan sholih karena ucapan ini merupakan sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadits Usamah bin Zaid, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : ‫ َجزَ اكَ هللاُ َخي ًْرا؛ فَقَ ْد َأ ْب َل َغ فِي الثَّنَاء‬:‫وف فَقَا َل ِلفَا ِع ِل ِه‬ ُ ‫َم ْن‬ ٌ ‫صنِ َع ِإلَ ْي ِه َم ْع ُر‬ “Barang siapa yang diberi suatu kebaikan kepadanya, lalu ia mengucapkan kepada orang yang memberi kebaikan tersebut: “Jazakallohu khoiron”, maka sesungguhnya hal itu sudah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” [HR. at-Tirmidzi no. 1958, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro 6/53, dll. Dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahullohu ta’ala dalam Shohih at-Targhib wat Tarhib (969). Dalam Faidhul Qodir (172/6) dijelaskan: “telah mencukupi rasa syukurnya” maksudnya adalah hal tersebut karena pengakuan terhadap kekurangannya, dan ketidakmampuan dalam membalas kebaikannya, dan mempercayakan membalas kebaikannya pada Alloh agar ia mendapatkan balasan yang sempurna. Berkata al-allamah al-Utsaimin rohimahulloh dalam Syarah Riyadhus Sholihin : “Hal itu dikarenakan jika Alloh membalas kebaikannya dengan kebaikan, hal itu merupakan kebahagian baginya di dunia dan akhirat.” CARA MENJAWABNYA Dan yang utama dalam menjawab kalimat yang bagus ini adalah dengan mengulang kalimat tersebut yakni membalasnya dengan mengatakan : “WA ANTA FAJAZAKALLOHU KHOIRON” atau yang semisalnya. Walaupun membalasnya dengan ucapan “WA IYYAKUM” dan yang semisalnya adalah boleh-boleh saja, namun yang lebih afdhol adalah membalas dengan mengulang lafadz doa tersebut. Sebagaimana DIFATWAKAN oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafidzohulloh: ‫ هل هناك دليل على أن الرد يكون بصيغة (وإياكم)؟‬:‫السؤال‬ Pertanyaan : ... Apakah ada dalil bahwa membalasnya (ucapan jazakallohu khoiron) adalah dengan ucapan “wa iyyakum”? ‫يعني قول (وإياكم) يعني كما يحصل‬, ‫ وإن قال (وإياكم) مثال عطف على جزاكم‬,‫وجزاكم هللا خيرا) يعنى يدعى كما دعا‬ ‫ الذي ينبغي أن يقول‬, ‫ ال‬:‫فأجاب‬ ‫ أنتم جزاكم هللا خيرا ونص على الدعاء هذا ال شك أنها أوضح وأولى‬:‫لكن إذا قال‬. ‫لنا يحصل لكم‬ (222:‫رقم‬, ‫كتاب البر والصلة‬, ‫)مفرغ من شريط دروس شرح سنن الترمذي‬ Beliau menjawab : “Tidak, sepantasnya dia juga mengatakan “wa jazakallohu khoiron” (dan semoga Allah juga membalasmu dengan kebaikan), yaitu didoakan sebagaimana dia mendoakan, dan seandainya ia mengucapkan semisal “wa iyyakum” sebagai athof (mengikuti) atas ucapan “Jazakum”, yakni ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, semoga kalian juga”. Akan tetapi jika ia membalasnya dengan ucapan “antum jazakumulloh khoiron” dan mengucapkan dengan lafadz do’a tersebut, tidak diragukan lagi bahwa ini lebih jelas dan lebih utama.” [*] –selesai nukilan fatwa Syaikh Abdul Muhsin hafidzohulloh [*] Di transkrip dari kaset Durus Syarh Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Birr wash Shilah no. 222, oleh ustadz Abu Karimah hafidzohulloh. Sumber:http://ibnulqoyyim.com/content/view/36/9/, dengan perubahan dalam terjemahannya. Dan dalil apa yang difatwakan Syaikh Abdul Muhsin di atas adalah sebagaimana dalam hadits berikut : Dari Anas bin Malik rodhiyallohu anhu ia berkata: Usaid bin al-Hudhoir an-Naqib al-Asyhali datang kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, maka ia bercerita kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam tentang sebuah keluarga dari Bani Zhofar yang kebanyakannya adalah wanita, maka Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam membagi kepada mereka sesuatu, membaginya di antara mereka, lalu Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam berkata : ‫ ثم أتى رسو َل هللا‬،‫ فمكث? ما شاء هللا‬.‫ أو اذكر لي ذاك‬،‫ فإذا سمعتَ بطعام قد أتاني؛ فأتني فاذكر لي أهل ذلك البيت‬،‫ حتى ذهب ما في أيدينا‬-!‫يا أسيد‬- ‫تركت َنا‬ ‫ ثم قسم في أهل ذلك البيت‬:‫ قال‬،‫ ثم قسم في األنصار فأجزل‬:‫ قال‬،‫سلَّ َم في الناس‬ ‫شعير‬ :‫سلَّ َم طعا ٌم مِ ن خيبر‬ ٌ ٌ َ ُ‫صلَّى هللا‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ‫ فق‬،‫وتمر‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ‫ي‬ َ ُّ ‫سم النب‬ ‫معشر‬ ‫ وأنتم‬:‫سلَّ َم‬ -!‫أي رسو َل هللا‬ ‫ فقال له أسيد‬،‫فأجزل‬ ً :‫أو‬- ‫أطيب الجزاء‬ ً َ ُ‫صلَّى هللا‬ َ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ َ ‫ فقال له النبي‬: ‫ قال‬-‫خيرا؛ يشك عاصم‬ ْ - ُ‫ جزاكَ هللا‬:‫شاكرا له‬ ‫صب ٌُر‬ ُ ٌ‫ َأ ِعفَّة‬- ُ‫ فإنكم – ما علمت‬،-‫ أطيب الجزاء‬:‫ أو‬-‫خيرا‬ ً ‫األنصار! فجزاكم هللا‬ “Engkau meninggalkan kami wahai Usaid, sampai habis apa-apa yang ada pada kami, jika engkau mendengar makanan mendatangiku, maka datangilah aku dan ingatkan padaku tentang keluarga itu atau ingatkan padaku hal itu.” Maka setelah beberapa saat, datang kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam makanan dari khoibar berupa gandum dan kurma, maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam membaginya kepada manusia. Ia berkata: kemudian beliau membaginya kepada kaum Anshor lalu makanan itupun menjadi banyak, lalu ia berkata: kemudian beliau membaginya kepada keluarga tersebut lalu makanan itupun menjadi banyak. Lalu Usaid pun mengucapkan rasa syukurnya kepada Nabi: “Jazakallohu athyabal jaza’ –atau khoiron- (Semoga Alloh membalasmu -yaitu kepada Rosulullohdengan sebaik-baik balasan –atau kebaikan), Ashim (perawi hadits, pent) ragu-ragu dalam lafadznya, lalu ia berkata : Nabi shollallohu alaihi wa sallam kemudian membalasnya : “wa antum ma’syarol Anshor, fa jazakumullohu khoiron –atau athyabal jaza’- (dan Kalian wahai sekalian kaum Anshor, semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan –atau sebaik-baik balasan), sesungguhnya setahuku kalian adalah orang-orang yang sangat menjaga kehormatan lagi penyabar” [HR. an-Nasa’i no. 8345, ath-Thobroni dalam Mu’jam al-Kabir no. 567, Ibnu Hibban no. 7400 & 7402, Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnadnya no. 908, dll. Dishohihkan syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3096] Begitu pula terdapat contoh atsar para salaf yang mengamalkan ucapan ini. Imam Bukhori rohimahulloh meriwayatkan dalam al-Adabul mufrod dengan sanadnya dari Abu Murroh, maula Ummu Hani’ putri Abu Tholib: :‫ عليكِ السَّال ُم ورحمةُ هللاِ وبركاتُه يا ُأمتاه! تقول‬: ‫صاح بأعلى صوتِه‬ ‫ِب مع أبي هُريرة إلى‬ َ ْ‫ فإذا َد َخ َل أر‬،‫أرضه بالعقيق‬ ِ َ ‫أنه رك‬ َ ُ ‫ضه‬ ‫صغيرا‬ ‫ رحمكِ هللاُ؛ ربَّ ْيتِني‬:‫ يقول‬،‫وعليكَ السَّال ُم ورحمةُ هللاِ وبركاتُه‬ ً ‫كبيرا‬ ‫ ورضي عنك؛ كما بَ َررْ ت َني‬،‫خيرا‬ ً ً ُ‫ي! وأنتَ فجزاكَ هللا‬ ّ ‫ يا بُن‬:‫فتقول‬ Bahwasanya ia berkendara bersama Abu Huroiroh ke kampung halamannya di ‘Aqiiq. Ketika ia sampai di rumahnya ia berkata dengan mengeraskan suaranya: “Alaikissalam warohmatullohi wabarokatuh wahai ibuku.” Lalu ibunya berkata :” wa’alaikassalam warohmatullohi wabarokatuh.” Ia berkata (bersyukur kepada ibunya, pent) : “Rohimakillah (semoga Alloh merahmatimu wahai ibu), engkau telah merawatku ketika aku masih kecil.” Maka ibunya berkata : “Wahai anakku wa anta fajazakallohu khoiron, semoga Alloh meridhoimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku saat engkau sudah besar.” [HR. al-Bukhori dalam al-Adabul Mufrod no. 15, syaikh al-Albani rohimahulloh berkata: “sanadnya hasan” dalam shohih al-Adabul Mufrod no. 11] Dalam Thobaqot al-Hanabilah diriwayatkan: ‫ حدثني أحمد بن محمد بن مهران حدثنا أحمد بن عصمة‬:‫أنبأنا المبارك عن أبي إسحاق البرمكي حدثنا محمد بن إسماعيل الوراق حدثنا علي بن محمد قال‬ ‫ يا أهل الدار جاورناكم فأحسنتم‬:‫ عزمت على النقلة إلى مكة فبعت داري فلما فرغتها وسلمتها وقفت على بابها فقلت‬:‫النيسابوري حدثنا سلمة بن شبيب قال‬ ‫ وأنتم فجزاكم هللا خيرا‬:‫ فأجابني من الدار مجيب فقال‬:‫جوارنا جزاكم هللا خيرا ً وقد بعنا الدار ونحن على النقلة إلى مكة وعليكم السالم ورحمة هللا وبركاته قال‬ ‫ما رأينا منكم إال خيرا ونحن على النقلة أيضا ً فإن الذي اشترى منكم الدار رافضي يشتم أبا بكر وعمر والصحابة رضي هللا عنهم‬. Dari Salamah bin Syabib[**], ia berkata : aku ingin pindah ke Mekkah, lalu akupun menjual rumahku. Ketika urusannya selesai aku pamit kepada tetanggaku dan mengucapkan salam sambil berdiri di depan pintu rumahnya, aku berkata: “Wahai tetanggaku, kami telah hidup bertetangga dengan kalian dan kalianpun telah berbuat baik dalam bertetangga dengan kami, jazakumulloh khoiron, aku telah menjual rumah kami dan kami akan pindah ke Mekkah, wa’alaikumussalam warohmatulloh wa barokatuh.” Lalu seseorang dari rumah itu menjawab: “wa antum fajazakumulloh khoiron, tidaklah kami melihat pada kalian melainkan kebaikan, tapi kami mau pindah juga karena ternyata yang membeli rumah kalian adalah seorang Rofidhoh (syi’ah) yang mencela Abu Bakr, Umar dan pada shahabat rodhiyallohu anhum.” [Thobaqot al-Hanabilah 1/65, Maktabah Syamilah] [**] Salamah bin Syabib (W. 246 H) adalah seorang ulama salaf perowi hadits yang sezaman dengan imam Ahmad bin Hambal, adz-Dzahabi berkata tentang Salamah bin Syabib: “al-Hafidz, Hujjah”. DAN AMAL SHOLEH PUN MENGUCAPKANNYA Hal ini terjadi di alam kubur, sebagaimana dalam sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan alBarro’ bin Azib rodhiyallohu anhu, bahwa setelah seorang hamba yang beriman diuji (dengan pertanyaan dalam kubur, pent) dan ditetapkan dalam menjawab ujian: َ ‫سنُ ْال َوجْ ِه‬ ٍ ‫يَْأتِي ِه آ‬ ‫ِيم ُمق ٍِيم؛‬ ِّ ُ‫طيِّب‬ ٍ ‫ َأ ْبشِرْ بِك ََرا َم ٍة مِ نَ هللاِ َو َنع‬:‫ فَيَقُو ُل‬،‫ب‬ ِ ‫سنُ الثِّيَا‬ َ ‫الريحِ َح‬ َ ‫ت َح‬ َّ َ‫ َوَأ ْنتَ ؛ فَب‬:‫فَيَقُو ُل‬ ‫ َم ْن َأ ْنتَ ؟‬،‫ش َركَ هللاُ بِ َخي ٍْر‬ َ ‫س ِريعًا فِي‬ ‫صيَ ِة هللاِ؛ فَ َجزَ اكَ هللاُ َخي ًْرا‬ َّ ‫ع َملُكَ ال‬ َ ‫ بَطِ يًئا‬،ِ‫ع ِة هللا‬ َ ‫طا‬ َ ‫ ”َأنَا‬:‫فَيَقُو ُل‬. ِ ‫ع ْن َم ْع‬ َ -!ِ‫ ُك ْنتَ – َوهللا‬،‫صا ِل ُح‬ :‫ار فَيُقَا ُل‬ ِ َّ‫ث ُ َّم يُ ْفت َ ُح لَهُ بَابٌ مِ نَ ْال َجنَّ ِة َوبَابٌ مِ نَ الن‬ …‫ َأ ْب َدلَكَ هللاُ ِب ِه َهذَا‬،‫هللا‬ َ ‫َهذَا َكانَ َم ْن ِزلَكَ لَ ْو‬ َ ‫ع‬ َ َ‫صيْت‬ Datanglah seseorang dengan wajah yang baik, berbau wangi dan memakai baju yang bagus, lalu orang tersebut berkata: “Bergembiralah dengan kemuliaan dari Alloh dan kenikmatan yang abadi”, maka hamba yang beriman tersebut bertanya: “Wa anta fa basyarokallohu bi khoirin (dan semoga Alloh juga memberimu kabar gembira berupa kebaikan), siapakah anda?” lalu orang itu menjawab : “aku adalah amal sholehmu, engkau dahulu –demi Alloh- sangat cepat dalam ta’at kepada Alloh sangat lambat (menjauhi, pent) dalam maksiat kepada Alloh, fa jazakallohu khoiron”. Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu surga dan sebuah pintu neraka, lalu dikatakan: “Ini (neraka) adalah tempatmu seandainya engkau bermaksiat kepada Alloh, dan Alloh telah menggantikan untukmu dengan yang ini (surga)…” [HR. Ahmad no. 17872, Abdurrozzaq dalam Mushonnaf-nya no. 6736,dll. Dishohihkan syaikh alAlbani dalam Ahkamul Jana’iz hal.158] Maka beruntunglah seorang hamba yang diberi taufik dalam kehidupan dunianya terhadap ucapan yang baik ini, baik ia mengucapkannya maupun ia menerimanya. Dan di akhiratnya ia mendapat kabar gembira dengan ucapan ini oleh amal sholehnya. Seandainya bukan karena keutamaan dan rahmat Alloh maka ia tidak mampu beramal sholeh. Subhanalloh… Alloh Yang Maha Memberi Nikmat, memberikan nikmat berupa taufik kepada hamba-Nya untuk beramal sholeh, kemudian memberi nikmat lagi berupa menjadikan amal sholehnya memuji hamba tersebut… Subhanalloh… hadits yang mulia ini juga mengingatkan kita untuk cepat dalam ta’at kepada Alloh dan menjauhi maksiat… Semoga Alloh ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk mampu mengamalkan sifat yang mulia ini… Maroji’ : # Artikel “Hiya Amalun Sholih wa yaquluha al-Amal ash-Sholih” yang ditulis oleh salah seorang putri syaikh al-Albani, yaitu Sukainah bintu Muhammad Nashiruddin al-Albaniyyah hafidzohalloh dalam blog beliau [tamammennah.blogspot.com], dan tulisan ini banyak mengambil faidah dari sana –fa jazahallohu khoiron-. # Transkrip Fatwa Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad oleh ustadz Abu Karimah Askari hafidzohulloh di http://ibnulqoyyim.com/content/view/36/9/ # Al-Maktabah asy-Syamilah v3, dan penomoran hadits & atsar merujuk kepada software ini. Sumber : http://abu-rabbani.blogspot.com/2009/08/kekeliruan-dalam-mengucapkan-kata.html Jika ada yang mengucapkan “Ana uhibbuka fillah”, maka jawabnya adalah “ahabbakal ladzii ahbabtanii lahu” (Semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karenaNya) [HASAN. HR.Abu Daud 4/333, Syaikh Albani menghasankannya dalam Shahih Sunan Abu Daud 3/965]. Disadur dari : group FB jalan yang lurus [http://www.facebook.com/syiar.sunnah/posts/227897897244446? ref=notif¬if_t=feed_comment#!/groups/178870065487878?view=doc&id=218137768227774]

Judul: Istilah-istilah Singkat Yang Biasa Digunakan Oleh Para Penuntut Ilmu Syar’i

Oleh: Lisa Urmila

Ikuti kami