Makalah Rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial Dalam Perspektif Islam Dan Barat.

Oleh Vicha Dita

205,5 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial Dalam Perspektif Islam Dan Barat.

BAB PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu sosial merupakan sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana upaya untuk mencari sebuah kebenaran dengan mengunakan akal budi mengenai hakekat ilmu sosial, sebab-sebab munculnya, asal usul ilmu dengan cara-cara yang sistematis, koheren dengan metode tertentu. Yang mana dalam sebuah ilmu itu terdapat permasalahan-permasalahan yang harus dicari kebenaranya. Ilmu sosial, dalam mempelajari aspek-aspek masyarakat secara subjektif, inter-subjektif, dan objektif atau struktural, sebelumnya dianggap kurang ilmiah bila dibanding dengan ilmu alam. Namun sekarang, beberapa bagian dari ilmu sosial telah banyak menggunakan metode kuantitatif. Demikian pula, pendekatan interdisiplin, dan lintas-disiplin dalam penelitian sosial terhadap perilaku manusia serta faktor sosial, dan lingkungan yang mempengaruhinya telah membuat banyak peneliti ilmu alam tertarik pada beberapa aspek dalam metodologi ilmu sosial. Penggunaan metode kuantitatif, dan kualitatif telah makin banyak diintegrasikan dalam studi tentang tindakan manusia serta implikasi, dan konsekuensinya. Karakteristik ajaran islam dapat dilihat dari ajaran di bidang ilmu sosial. Ajaran Islam dibidang ilmu sosial termasuk paling menonjol, karena seluruh bidang ajaran Islam pada akhirnya ditujukan untuk kesejahteraan manusia. Dalam ilmu Sosial ini, Islam dituntut untuk menjunjung tinggi sifat tolong menolong, saling menasehati tentang hak dan kesabaran, kesetiakawanan, egaliter (kesamaan derajat), tenggang rasa dan kebersamaan. Maka dari itu, perlu kita pelajari lebih lanjut mengenai pandangan-pandangan Islam dan Barat tentang Ilmu-ilmu sosial. B. Perumusan Masalah a. Apa yang dimaksud dengan ilmu sosial? b. Bagaimana pandangan Islam tentang ilmu-ilmu sosial? c. Bagaimana pandangan Barat tentang ilmu-ilmu sosial? A. Pengertian Ilmu Sosial Ilmu sosial pada dasarnya merupakan ilmu yang mempelajari perilaku dan aktivitas manusia dalam kehidupan bersama. Dengan demikian ilmu sosial mempelajari hubungan manusia dengan lingkungannya. Perbedaan utama antara ilmu sosial dengan ilmu alam adalah obyeknya. Obyek ilmu alam adalah fisik, sedangkan obyek ilmu sosial adalah manusia dan hubungannya dengan lingkungannya. Lingkungan ini dapat berarti manusia lain atau obyek fisik di sekitar manusia. 1 Ilmu sosial mengkaji perilaku manusia yang bermacam-macam, misalnya 1. Perilaku manusia dalam hubungannya dengan manusia lain baik pribadi atau kelompok yang nantinya melahirkan ilmu sosiologi. 2. Perilaku manusia pada masa lalu melahirkan ilmu sejarah. 3. Perilaku manusia kaitannya dengan kejiwaannya melahirkan ilmu psikologi. 4. Perilaku manusia kaitannya dengan pemenuhan kebutuhannya melahirkan ilmu ekonomi, dan sebagainya. Semua perilaku tersebut merupakan gejala sosial yang menjadi wilayah kajian utama ilmuilmu sosial. Inilah yang membedakan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu alam berhubungan dengan gejala-gejala alam yang bersifat fisik, konstan dan bisa diamati dengan kasat mata dan untuk memahaminya tidak sesulit gejala sosial. Gejala alam mudah dipilah-pilah dan bisa diukur serta pola peristiwanya senantiasa tetap. Misalnya, pola mengenai gejala gunung meletus atau gejala tsunami sejak dahulu kala hingga sekarang tidak banyak berubah. Sedangkan gejala atau peristiwa sosial terikat dengan variabel tempat, waktu, perilaku, dan settingnya lebih kompleks. Misalnya revolusi yang terjadi di Inggris, Perancis, Amerika, dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia memiliki perbedaan yang tidak konstan.2 Cabang-cabang utama dari ilmu sosial yaitu Antropologi, Akuntansi, Arkeologi, Astronomi, Demografi, Ekologi, Ekonomi, Fisika, Geografi, Geologi, Hukum, Ilmu Lingkungan, Klimatologi, Kriminologi, Linguistik, Pendidikan, Politik, Oseanografi, Paleontology, Psikologi, Sejarah dan Sosiologi 1. Supardi, Dasar-Dasar Ilmu Sosial, 2011 2 Vessuri, Hebe. (2000). "Ethical Challenges for the Social Sciences on the Threshold of the 21st Century." Current Sociology 50, no. 1 (January): 135-150. [1], Social Science Ethics: A Bibliography, Sharon Stoerger MLS, MBA Karena gejala sosial sangat kompleks, maka untuk memahaminya tidak cukup dengan satu sudut pandang atau satu disiplin ilmu, sehingga dikatakan bahwa ilmu sosial memiliki gejala sangat kompleks.3 B. Rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial dalam perspektif Barat Menurut Wallerstein, perkembangan Ilmu sosial dimulai sejak masa Yunani dan Romawi Kuno, di mana proses institusionalisasi pada Abad 19 terdapat di lima kota besar dan menunjukkan progress yang cukup tinggi, dari lima kota tersebut yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia dan Amerika Serikat. 4 Disiplin Ilmu sosial pertama yang mencapai eksistensi institusional otonom adalah Ilmu sejarah, walaupun banyak sejarawan secara antusias menolak label Ilmu sosial. Ilmu sejarah memang suatu praktik yang sudah berlangsung lama, dan terminologi sejarah juga sangatlah kuno. Dilanjut Ilmu ekonomi juga baru secara formal disebut sebagai disiplin Ilmu pada abad 19, ketika pemberlakuan teori-teori ekonomi liberal pada abad ke 19, para ekonom beragumentasi bahwa perilaku ekonomi lebih merupakan cermin suatu Psikologi individualistik universal daripada institusi-institusi yang dikonstruksikan secara sosial. Ketika itu Ilmu ekonomi menjadi sebuah disiplin ilmu yang matang di beberapa perguruan tinggi di Eropa. Bersamaan dengan itu pada abad ke 19 juga berkembang muncul disiplin ilmu sosiologi. Auguste Comte berkeyakinan bahwa ilmu tersebut harus menjadi “ ratu ilmu-ilmu”, sosiologi merupakan hasil asosiasi-asosiasi reformasi sosial yang agenda utamanya berkaitan dengan berbagai ketidakpuasan yang disebabkan oleh kekacauan populasi kelas pekerja perkotaan yang semakin besar jumlahnya seiring dengan berjalannya Revolusi Industri.5 Fase selanjutnya berkembang ilmu politik. Kemunculannya bukan karena subject matternya negara kontemporer dan perpolitikannya, juga bukan karena kurang menyetujui analisis nomotetis, tetapi karena resistensi fakultas-fakultas hukum untuk merebut monopoli kekuasaan. Begitulah empat serangkai (Sejarah, ekonomi, sosiologi dan politik) telah berhasil menjadi disiplin-disiplin ilmu sosial di Universitas-universitas di Eropa abad ke 19, Pada akhir abad ke 19 Geografi berhasil merekonstruksikan dirinya sebagai sebuah disiplin ilmu baru, terutama di beberapa Universitas di Jerman. 3 Supardi, Dasar-Dasar Ilmu Sosial, 2011 4. Dadang supardan, Pengantar Ilmu Sosial: Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. 2009, hal 35 5. Supardi, Dasar-Dasar Ilmu Sosial, 2011 Psikologi pada mulanya merupakan bagian integral dari filsafat, pada abad 19 psikologi mulai menunjukkan jati dirinya, terutama dengan kepeloporan Saint Agustint, dengan minatnya dalam melakukan intropeksi dan keingintahuannya dan fenomena psikologis. Pada abad 19 terdapat dua teori psikologi yang saling bersaing, yakni Psikologi kemampuan dan Psycology asosiasi yang lahir karena timbulnya penafsiran kemampuan khusus pada otak berbeda-beda. Pada 1879 lahirlah laboratorium Psikologi pertama di Jerman. Dalam perkembangannya psikologi sering berada pada dua tempat yakni disiplin Ilmu sosial dan ilmu alam. Hal ini bertalian erat dengan kedekatan psikologi dengan arena medis, sehingga banyak psikolog yang menyeberang psikologi dari ilmu sosial ke ilmu biologi/alam. Istilah Psikologi sosial merupakan penguatan bahwa Psikologi masih menempatkan kakinya pada ranah Ilmu sosial. C. Rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial Dalam Perspektif Islam Al–Quran dan As-Sunnah sesungguhnya tidak membedakan antara ilmu agama Islam dan ilmu pengetahuan sosial. Yang ada dalam Al-quran adalah ilmu. Pembagian adanya ilmu agama Islam dan Ilmu Pengetahuan Sosial adalah merupakan hasil kesimpulan manusia yang mengidentifikasi ilmu berdasarkan sumber objek kajiannya. Jika obyek yang dibahas dari Al-quran adalah mengenai penjelasan atas wahyu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, berupa hadis, dengan menggunakan metode ijtihad , maka yang dihasilkan adalah ilmu-ilmu agama seperti Teologi, Fiqih, Tafsir, Hadis, Tasawuf, dan lain sebagainya. Sedangkan jika yang dijadikan objek kajian perilaku manusia dan sosial dalam segala aspeknya, baik perilaku politik, perilaku ekonomi, kebudayaan, perilaku sosial dan lain sebagainya yang dilakukan dengan menggunakan metode penelitian sosial seperti wawancara, observasi, penelitian terlibat (grounded research), maka yang dihasilkan adalah ilmu-ilmu Sosial. Ilmu-ilmu tersebut seluruhnya pada hakikatnya berasal dari Allah, karena sumber-sumber ilmu tersebut berupa wahyu, alam jagat raya(termasuk hukum-hukum yang ada didalamnya), manusia dengan perilakunya, akal pikiran, dan intusi batin seluruhnya ciptaan dan anugerah Allah yang diberikan kepada manusia. Dengan demikian para ilmuwan dalam berbagai bidang ilmu tersebut sebenarnya bukan pencipta ilmu tetapi penemu ilmu, penciptanya adalah Allah SWT. Atas dasar pandangan integrated(tauhid) tersebut maka seluruh ilmu hanya dapat dibedakan dalam nama dan istilahnya saja, sedangkan hakikat dan substansi ilmu tersebut sebenarnya satu dan berasal dari Allah SWT.6 Berikut adalah beberapa contoh cabang ilmu yang didasarkan pada ayat Al-Quran, yaitu Cabang Ilmu Ayat ayat Al- Quran Antropologi Q.S 2:30-31 Geografi Q.S 18:86,90,93,96, dan 97 Sejarah Q.S 64:2, 11:61, 58:11 Ekonomi Q.S 57:5, 62:10, 2:198, 67:15, 71:15, 71:19-20 dll. Psikologi Q.S 2:256, 6:149, 76:3 dsb Sosiologi Q.S 103:2-3, 107:1-7, 102:1-8 Arkeologi Q.S 18:46, 18: 32-44, 40:82 dsb. Geologi Q.S 27:61, 67:15, 79:30-33, 16:15, 51:48, 71:19-20, dsb. Sejak kelahirannya belasan tahun yang lalu islam telah tampil sebagai agama yang memberika perhatian pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat, antara hubungan manusia dengan tuhan, antara hubungan manusia dengan manusia, dan antara urusan ibadah dengan urusan muamalah. Keterkaitan agama dengan masalah kemanusiaan menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi kemanusiaan di zaman moden ini. Dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia, manusia dapat mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban yang maju untuk dirinya sendiri, tetapi pada saat yang sama, manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri, seperti penyembahan kepada hasil ciptaannya sendiri. 6 H.Abudin Nata dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2005),hlm.68-73. Dalam keadaan demikian, harus memiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari berbagai problem tersebut, ilmu pengetahuan sosial yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan sosial yang digali dari nilai-nilai agama yang disebut sebagai ilmu sosial profetik.7 Dewasa ini ilmu sosial yang dibutuhkan tidak hanya berhenti pada menjelaskan fenomena sosial, tetapi dapat memecahkannya secara memuaskan. Menurut Kuntowijoyo, pada zaman modern ini butuh ilmu sosial profetik, yaitu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberikan petunjuk ke arah mana transformasi itu di lakukan, untuk apa dan oleh siapa. Perubahan tersebut didasarkan pada tiga hal yaitu: tujuan manusia (tujuan humanisasi), tujuan liberasi dan tujuan transendensi. Sebagaimana terkandung dalam ayat 110 surat Ali’Imran sebagai berikut. ْ ِ‫ن ب‬ ُ َّ ِ‫ت ل‬ َّ ‫خ ْي َر ُأ‬ َ ‫ه ْو‬ َ ‫م ُر ْو‬ َ ‫ن‬ ُ ‫اس تَْأ‬ ْ ‫ج‬ ْ ‫ة ُأ‬ ْ ‫ك ْن ُت‬ َ ‫وتَ ْن‬ َ ‫ف‬ َ ‫ال‬ َ ‫ر‬ َ ‫م‬ ‫ن‬ ‫لن‬ ِ ‫م ْع ُر ْو‬ ٍ ‫م‬ ِ ‫خ‬ ِ ‫ع‬ ِ ْ َ ‫م ْن‬ ُ ‫ال‬ ) ١١٠ ‫ر ( اَل عمران‬ ِ ‫ك‬ Artinya:Kamu manusia sekalian adalah sebaik-baiknya umat yang ditugaskan kepada menyuruh berbuat baik, mencegah berbuat munkar dan beriman kepada allah. (QS Al-Imran, 110). Dari firman Allah swt diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Tujuan manusia (tujuan humanisasi) Tujuan humanisasi adalah memanusiakan manusia dari proses dehumanisasi. Industrialisasi yang kini terjadi terkadang menjadikan manusia sebagai bagian dari masyarakat abstrak tanpa wilayah kemanusiaan. 2. Tujuan liberasi Tujuan liberasi adalah pembebasan manusia dari lingkungan teknologi, pemerasan kehidupan, menyatu dengan orang miskin yang tergusur oleh kekuatan ekonomi raksasa dan berusaha membebaskan manusia dari belenggu yang kita buat sendiri. 3. Tujuan transendensi 7. Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 1991), cet I. Tujuan transendensi adalah menumbuhkan transendental dalam kebudayaan. Kita sudah banyak menyerah kepada arus hedonisme, meterialisme, dan budaya dekaden lainnya. Kini yang harus dilakukan adalah membersihkan diri dengan mengikatkan kembali kehidupan pada dimensi transendentalnya.8 D. Peran Ilmu Sosial Pada Era Globalisasi Dengan ilmu sosial profetik kita bangun dari ajaran islam, kita tidak perlu takut atau khawatir terhadap dominasi sains barat dan arus globalisasi yang terjadi saat ini. Islam selalu membuka diri terhadap seluruh warisan peradaban. Sejak beberapa abad yang lalau islam mewarisi tradisi sejarah dari seluruh warisan peradaban manusia Dalam bidang ilmu pengetahuan sosial islam bukanlah agama tertutup, islam adalah sebuah paradigma terbuka, sebagai mata rantai peradaban dunia. Islam mengembangkan sistem perekonomian yang berkeadilan, politik atau system pemerintahan, ilmu sosial, sistem pertahanan sasanid, logika Yunani, dan sebagainya.9 Misalnya, untuk bidang-bidang pengkajian tertentu islam menolak bagian logika Yunani yang sangat rasional diganti dengan cara berfikir intuitif yang menekankan rasa seperti yang di kenal dalam tasawuf. Alquran sebagai sumber utama ajaran islam diturunkan bukan dalam ruang hampa, melainkan dalam setting sosial aktual. Dalam bidang ekonomi pada saat ini mengalami kesenjangan sosial yang diakibatkan oleh perbedaan tingkat ekonomi. Kesenjangan dalam bidang ekonomi tersebut menunjukkan bahwa ilmu sosial yang ada sekarang perlu ditinjau kembali, antara lain dengan menerapkan ilmu sosial profetik. Misalnya islam mengakui adanya perbedaan kelas sebagai fitrah, dimana tuhan melebihkan yang satu atas yang lain. Namun, bersamaan dengan itu islam menyuruh umatnya agar menegakkan keadilan dan egaliter. Perbedaan kelas yang ada tidak boleh diartikan bahwa islam mentolerir terjadinya ketidaadilan sosial. Islam berupaya mengikis kesenjangan tersebut dengan melalui berbagai upaya seperti melalui institusi zakat, infaq, sadaqah dan sebagainya. Dalam hubungan ini islam mengakui adanya upaya suatu gerakan kelompok yang membela kelas tertindas, tetapi gerakan ini tidak seperti gerakan komunis dan sebagainya, dan 8 . Syiama,”pandangan islam tentang ilmu sosial” , diakses dari http://sedaobagann.blogspot.com/2017/10/makalah-pandangan-islam-tentang-ilmu.html 9. IR. Poeradisastra, Sumbangan Islam terhadap Peradaban Modern, (Jakarta: P3M, 1982), hlm. 123. bukan untuk menghancurkan kelas yang menguasai alat-alat produksi.10 Dari sini terlihat dengan jelas tentang kepedulian islam terhadap upaya mengikis kesenjangan yang terjadi dimasyarakat. F. Hubungan Agama Islam Dengan Ilmu Sosial Kuntowijoyo mengatakan:” banyak orang bahkan pemeluk islam sendiri, tidak sadar bahwa islam bukan hanya agama, tetapi juga sebuah komunitas (umat) tersendiri yang mempunyai pemahaman, kepentingan dan tujuan-tujuan politik sendiri. Banyak orang beragama islam, tetapi hanya menganggap islam adalah agama individual, dan lupa kalau islam juga merupakan kolektivitas, islam memepunyai kesadaran, struktur, dan mampu melakukan aksi bersama. Keterkaitan agama islam dengan politik terdapat pada uraian yang diberikan Harun Nasution dalam bukunya islam ditinjau dari berbagai aspek jilid II. Dalam buku itu dijelaskan bahwa persoalan yang pertama-tama timbul dalam islam menurut sejarah bukanlah persoalan tentang keyakinan melainkan persoalan politik.11 Hubungan antara agama islam dari masa Rosulullah saw dengan politik terlihat pada sistem khulafaurasidin. BAB III PENUTUP 10. Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1991), cet. IV. hlm. 42-43 11. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, (Jakarta: UI Press, 1979), cet. I, hlm. 92. A. Kesimpulan Dari penjelasan diatas, jelas bahwa islam memiliki perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap masalah-masalh sosial. Karena itu, kehadiran ilmu sosial yang banyak membicarakan tentang manusia tersebut dapat diakui oleh islam. Namun islam memiliki pandangan yang khas tentang ilmu sosial yang harus dikembangkan, yaitu ilmu sosial profetik yang dibangun dari ajaran islam diarahkan untuk humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ilmu pengetahuan sosial demikian yang dibutuhkan dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya pada era globalisasi di masa yang akan datang. B. SARAN Semoga dengan pemaparan materi diatas para pembaca dapat memahami tentang HUBUNGAN AGAMA DENGAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL dan memanfaatkannya untuk kedepannya, selanjutnya pemakalah menyadari dalam makalah ini bnyak kekurangan baik itu dalam segi penulisan maupun yang lainnya, jadi kritik dan saran pemakalah harapkan untuk kedepannya menjadi lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Buku : Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, (Jakarta: UI Press, 1979), cet. I. Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1991), cet. IV. H. Abudin Nata dkk.. Integrasi ilmu Agama dan Ilmu Umum. 2005. Jakarta: Rajawali Pers. Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 1991), cet I. Poeradisastra, Sumbangan Islam terhadap Peradaban Modern, (Jakarta: P3M, 1982). Dadang Supardan. Pengantar Ilmu Sosial: Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. 2009. Jakarta: Bumi Aksara Daldjoeni. 2014. Pengantar Geografi. Yogyakarta: Penerbit Ombak Supardi. 2011. Dasar-Dasar Ilmu Sosial. Yogyakarta: Penerbit Ombak Website : Media internet www.asrofudin.blogspot.com

Judul: Makalah Rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial Dalam Perspektif Islam Dan Barat.

Oleh: Vicha Dita

Ikuti kami