Makalah Inkontinensia Urin Profesi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas 'aisyiyah Yogyaka...

Oleh Tania Putri Dekayanti

200,7 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Inkontinensia Urin Profesi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas 'aisyiyah Yogyakarta

MAKALAH INKONTINENSIA URIN Disusun Oleh : Pratiwi Hardianti 1710306048 PROFESI FISIOTERAPI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah dan petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini. Penulis menyusun makalah ini guna melengkapi tugas dan memenuhi syarat kelulusan Program Pendidikan profesi Fisioterapi Universitas `Aisyiyah Yogyakarta dengan judul “Fisioterapi pada Inkontinensia” Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari beberapa pihak. Penulis mengharapkan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala saran dan kritik atas kekurangan makalah ini masih akan sangat membantu. Akhir kata saya selaku penulis mengucapkan terimakasih. Bandung , 27 April 2018 ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................................................................... DAFTAR ISI ....................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ....................................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi ........................................................................... B. Etiologi ................................................................................................... C. Patofisiologi ....................................................................................... D. Klasifikasi ....................................................................................... E. Assesment ................................................................. F. Intervensi Fisioterapi..................................................................... DAFTAR PUSTAKA iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan merupakan masa krisis yang dialami oleh ibu dan janinnya karena hal ini dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam kesehatan ibu dan janinnya yang dapat berakibat terjadinya kematian. Proses persalinan yang sering kali menyebabkan kematian pada ibu maupun bayi karena adanya cedera jaringan jalan lahir dan juga pada bayi. Persalinan yang lama, berat bayi lahir besar, dan paritas merupakan sebagian faktor penyebab terjadinya komplikasi persalinan. Pribakti (2006) mengatakan lamanya persalinan dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan saraf, otot dasar panggul termasuk uterus dan otot-otot kandung kemih. Inkontinensia urin merupakan masalah kesehatan yang serius yang akan mengganggu aktivitas sehari-hari, kualitas hidup serta meningkatkan resiko infeksi postpartum. Inkontinensia urin adalah salah satu komplikasi dari persalinan yang biasanya sering terjadi pada periode postpartum. Inkontinensia urin tidak mengancam jiwa penderita, namun hal ini dapat berdampak terhadap fisik dan kualitas hidup. Selain menimbulkan dampak terhadap mental, inkontinensia urin secara tidak langsung akan meningkatkan terjadinya infeksi pada periode postpartum. Menurut Susan (2008) komplikasi fisik yang umumnya terjadi pada penderita inkontinensia urin adalah infeksi kandung kemih, infeksi uretra dan iritasi vagina. Data WHO menyebutkan 200 juta penduduk di dunia mengalami inkontinensia urin. Menurut Yunizaf (1999) di Indonesia kasus inkontinensia urin belum banyak terdeteksi sehingga angka prevalensi secara pasti sulit ditentukan, karena banyak penderita menganggap peristiwa inkontinensia urin normal terjadi pada wanita, terutama setelah melahirkan dan biasanya penderita malu untuk memeriksakan dirinya ke tenaga kesehatan. Di Kalimantan Barat khususnya Kota Pontianak masih belum didapatkan data yang pasti jumlah penderita inkontinensia urin karena belum ada data statistik yang mendukung, penulis melakukan studi wawancara kepada salah satu bidan yang bekerja di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalbar yang mengatakan bahwa setiap tahunnya pasti ada ibu postpartum yang berobat dengan keluhan inkontinensia urin. 1 Berdasarkan hasil beberapa penelitian bahwa inkontinensia urin merupakan masalah kesehatan yang serius pada periode postpartum dan dapat menghambat aktivitas sehari-hari. 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Inkontinensia urin (UI) didefinisikan oleh International Continence Society sebagai "kehilangan urin tanpa disengaja yang secara objektif merupakan masalah yang dapat ditunjukkan, sosial, dan higienis. B. Etiologi Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses, maka harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein. Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi non 3 farmakologik atau farmakologik yang tepat. Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang dideritanya. Obatobatan ini bisa sebagai ‘biang keladi’ mengompol pada orang-orang tua. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian atau penggantian obat jika memungkinkan, penurunan dosis atau modifikasi jadwal pemberian obat. Golongan obat yang berkontribusi pada IU, yaitu diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis adrenergic alfa, agonic adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik. Golongan psikotropika seperti antidepresi, antipsikotik, dan sedatif hipnotik juga memiliki andil dalam IU. Kafein dan alcohol juga berperan dalam terjadinya mengompol. Selain hal-hal yang disebutkan diatas inkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul. C. Patofisiologi Inkontinensia urine bisa disebabkan oleh karena komplikasi dari penyakit infeksi saluran kemih, kehilangan kontrol spinkter atau terjadinya perubahan tekanan abdomen secara tiba-tiba. Inkontinensia bisa bersifat permanen misalnya pada spinal cord trauma atau bersifat temporer pada wanita hamil dengan struktur dasar panggul yang lemah dapat berakibat terjadinya inkontinensia urine. Meskipun inkontinensia urine dapat terjadi pada pasien dari berbagai usia, kehilangan kontrol urinari merupakan masalah bagi lanjut usia. 4 D. Klasifikasi Terdapat beberapa macam klasifikasi inkontinensia urine, di sini hanya dibahas beberapa jenis yang paling sering ditemukan yaitu : 1. Inkontinensia stres (Stres Inkontinence) Inkontinensia stres biasanya disebabkan oleh lemahnya mekanisme penutup. Keluhan khas yaitu mengeluarkan urine sewaktu batuk, bersin, menaiki tangga atau melakukan gerakan mendadak, berdiri sesudah berbaring atau duduk.Gerakan semacam itu dapat meningkatkan tekanan dalam abdomen dan karena itu juga di dalam kandung kemih. Otot uretra tidak dapat melawan tekanan ini dan keluarlah urine. Kebanyakan keluhan ini progresif perlahan-lahan; kadang terjadi sesudah melahirkan. Akibatnya penderita harus sering menganti pakaian dalam dan bila perlu juga pembalut wanita. Frekuensi berganti pakaian, dan juga jumlah pembalut wanita yang diperlukan setiap hari, merupakan ukuran kegawatan keluhan inkontinensia ini.Biasanya dalam pemeriksaan badan tidak dijumpai kelainan pada ginjal dan kandung kemih. Pada pemeriksaan vulva ternyata bahwa sewaktu mengejan dapat dilihat dinding depan vagina. Informasi yang penting bisa diperoleh dengan percobaan Marshall-Marchetti. Penderita diminta untuk berkemih di WC sampai habis. Dalam posisi ginekologis dimasukan kateter ke dalam kandung kemih. Ditentukan jumlah urine yang tersisa. Kemudian diikuti oleh pengisian kandung kemih dengan air sampai penderita merasa ingin berkemih. Dengan demikian ditentukan kapasitas kandung kemih. Normalnya seharusnya 400-450 ml. Kemudian dicoba menirukan stres yang mengakibatkan pengeluaran urine dengan meminta penderita batuk. Jika pada posisi berbaring tidak terjadi pengeluaran urine, maka percobaan diulang pada posisi berdiri dengan tungkai dijauhkan satu sama lain. Pada inkontinensia stres sejati, harus terjadi pengeluaran urine pada saat ini. Kemudian dicoba dengan korentang atau dengan dua jari menekan dinding depan vagina kanan dan kiri sedemikian rupa ke arah kranial sehingga sisto-uretrokel hilang. Penderita diminta batuk lagi. Bila sekarang pengeluaran urine terhenti maka ini menunjukkan penderita akan dapat disembuhkan dengan operasi kelainan yang dideritanya. Pemeriksaan ini 5 dapat ditambah dengan sistometri, sistoskopi serta kalibrasi pada uretra untuk menyingkirkan kemungkinan stenosis. Pada foto rontgen lateral atas sistogram miksi bisa tampak sudut terbelakang vesikouretra membesar sampai 1800 atau lebih. Normalnya sudut ini sekitar 1200. Gambaran ini menegaskan adanya sistokel pada pemeriksaan badan.Diagnosis dengan pengobatan inkontinensia pada wanita merupakan masalah interdisipliner antara urologi dan ginekologi. Di sini pengambilan keputusan yang tepat setidak-tidaknya sama penting seperti mutu pengobatan. Sering terdapat kelainan ginekologis yang juga harus diobati. Kebanyakan diagnostik yang tepat ditegakkan dari kerjasama yang baik antara urolog dan ginekolog. Pada inkontinensia stres yang ringan, misalnya yang menghabiskan 3-4 pembalut sehari, penderita bisa memperoleh perbaikan dengan fisioterapi dan senam untuk otot-otot dasar panggul 2. Inkontinensia desakan (Urgency Inkontinence) Inkontinensia desakan adalah keluarnya urine secara involunter dihubungkandengan keinginan yang kuat untuk mengosongkannya (urgensi).Biasanya terjadi akibat kandung kemih tak stabil. Sewaktu pengisian, otot detusor berkontraksi tanpa sadar secara spontan maupun karena dirangsang (misalnya batuk). Kandung kemih dengan keadaan semacam ini disebut kandung kemih tak stabil. Biasanya kontraksinya disertai dengan rasa ingin miksi. Gejala gangguan ini yaitu urgensi, frekuensi, nokturia dan nokturnal enuresis. Penyebab kandung kemih tak stabil adalah idiopatik, diperkirakan didapatkan pada sekitar 10% wanita, akan tetapi hanya sebagian kecil yang menimbulkan inkontinensia karena mekanisme distal masih dapat memelihara inkontinensia pada keadaan kontraksi yang tidak stabil. Rasa ingin miksi biasanya terjadi, bukan hanya karena detrusor (urgensi motorik), akan tetapi juga akibat fenomena sensorik (urgensi sensorik). Urgensi sensorik terjadi karena adanya faktor iritasi lokal, yang sering dihubungkan dengan gangguan meatus uretra, divertikula uretra, sistitis, uretritis dan infeksi pada vagina dan serviks. Burnett, menyebutkan penyebabnya adalah tumor pada susunan saraf pusat, sklerosis multipel, penyakit Parkinson, gangguan pada sumsum tulang, tumor/batu pada kandung kemih, sistitis radiasi, sistitis interstisial. Pengobatan ditujukan pada 6 penyebabnya. Sedang urgensi motorik lebih sering dihubungkan dengan terapi suportif, termasuk pemberian sedativa dan antikolinegrik. Pemeriksaan urodinamik yang diperlukan yaitu sistometrik. 3. Inkontinensia luapan (Overflow Incontinence) Inkontinensia luapan yaitu keluarnya urine secara involunter ketiktekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal maksimal uretra akibat dari distensi kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor. Terjadi pada keadaan kandung kemih yang lumpuh akut atau kronik yang terisi terlalu penuh, sehingga tekanan kandung kemih dapat naik tinggi sekali tanpa disertai kontraksi sehingga akhirnya urine menetes lewat uretra secara intermitten atau keluar tetes demi tetes. Penyebab kelainan ini berasal dari penyakit neurogen, seperti akibat cedera vertebra, meningomyelokel, sklerosis trauma multipel, kapitis, serta penyakit tumor serebrovaskular, otak dan medula spinalis.Corak atau sifat gangguan fungsi kandung kemih neurogen dapat berbeda, tergantung pada tempat dan luasnya luka, koordinasi normal antara kandung kemih dan uretra berdasarkan refleks miksi, yang berjalan melalui pusat miksi pada segmen sakral medula spinalis. Baik otot kandung kemih maupun otot polos dan otot lurik pada uretra dihubungkan dengan pusat miksi. Otot lurik periuretral di dasar panggul yang menjadi bagian penting mekanisme penutupan uretra juga dihubungkan dengan pusat miksi sakral. Dari pusat yang lebih atas di dalam otak diberikan koordinasi ke pusat miksi sakral. Di dalam pusat yang lebih atas ini, sekaligus masuk isyarat mengenai keadaan kandung kemih dan uretra, sehingga rasa ingin miksi disadari. E. Penatalaksanaan Fisioterapi 1. Assesment fisioterapi a. Identgitas pasien: Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan b. Keluhan utama yiatu : Keluhan yang menyebabkan pasien dibawa berobat. Keluhan utama ini tidak harus sejalan dengan diagnosa utama Minsalnya: pasien mengeluhkan sakit leher tetapi diagnosa awal post histerektomi. 7 c. Riwayat penyakit: 1) Apakah Anda buang air kecil? Ya Tidak Berapa lama Anda memiliki masalah dengan air kencing yang bocor? ________________ 2) Seberapa sering Anda mengosongkan kandung kemih Anda 3) setiap 4 jam setiap 3 jam setiap 2 jam 1 jam setiap 30 menit tidak tahu 4) Seberapa sering Anda mengosongkan kandung kemih Anda di malam hari?tidak pernah atau jarang 1 kali / malam 2 kali / malam 3 kali / malam 4 kali / malam 5 kali / malam atau lebih 5) Seberapa sering Anda buang air kecil?kurang dari 1 per minggu lebih dari 1 per minggu (#___ per minggu) 1 per harilebih dari 1 per hari (#___ per hari) terus bocor 6) Kapan bocor terjadi? terutama pada siang hari terutama pada malam hari dan malam hari 7) Bila Anda bocor, berapa banyak Anda bocor?hanya beberapa tetes kurang dari cangkir lebih dari secangkir tidak tahu 8) Apakah kamu sadar bahwa kamu telah bocor? ya Tidak 9) Apakah salah satu dari berikut menyebabkan Anda mengeluarkan air kencing? 10) Olahraga tertawa terbahak-bahak sambil berjalan sambil berlari mengangkat 11) Bila Anda buang air kecil, apakah Anda memiliki:Rasa tidak nyaman terbakar atau sakit darah dalam urine mengalir deras setelah masalah dengan memulai arus d. Pemeriksaan vital sign e. Pemeriksaan Fisik: nyeri yang dirasakn bagaimana dan seberapa, paling nyeri saat diam atau bergerakan f. Pemeriksaan Spesifik: jumping Jack (Positif apabila saat lompat keluaran kencing) 8 g. Pemeriksaan functtion: 1) Pemeriksaan postur statis Ribcage ( anterior flaring) Pelvic (anterior tilt) Spine (hiperlordosis) IAP ( pengembangannya gimana) Neck Hip-knee-feet 2) Observasi otot tight/weknes 3) Pola berjalan 2. Intervensi 1. Posisikan Pasien Tidur terlentang dan mengangkat kaki diatas bola lalu instruksikan untuk tarik nafas perut tanpa dada ikut mengembang (DNS 3 month) 2. posisikan pasien side lying dan bertumpu pada tangan satu,pinggul nempel di matras, kaki satu yang dibawah ditekuk semi flexi dan kaki atas juga ditekuk di depan kaki yang semi flexi lalu instruksikan untuk tarik nafas perut. 9 3.Pelvic muscle Exercise Duduk di kursi, kencangkan bagian belakang Anda (seolaholahmengendalikan angin), vagina dan depan bagian (uretra,angkat dan tahan selama 5-10 detik,seperti yang Anda bisa, ulangi 5-10 kali Angkat dan lepaskan dengan cepat 5-10 kaliUlangi latihan ini 3 kali DAFTAR PUSTAKA 10 Melania. E. Efektifitas Kegel Exercise Terhadap Pencegahan Inkontinensia Urin Pada Ibu Postpartum Pervaginam Di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalbar. Nanda. 2009. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC Pribakti, B., 2006, Tinjauan Kasus Retensio Urin Postpartum di RSUD Ulin Banjarmasin 2002 – 2003, Dexa Media, vol. 19 Januari – Maret 2006: 1013. World Health Organization., 2006, Maternal and Newborn Health, 11

Judul: Makalah Inkontinensia Urin Profesi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas 'aisyiyah Yogyakarta

Oleh: Tania Putri Dekayanti

Ikuti kami