Adilita Pramanti, S.sos, M.si - Virra Aurellia - Sosiologi Pedesaan 173112350350001 - Ujian Akhir Se...

Oleh Virra Aurellia

109,1 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Adilita Pramanti, S.sos, M.si - Virra Aurellia - Sosiologi Pedesaan 173112350350001 - Ujian Akhir Semester Tahun 2019/2020 - Program Studi Sosiologi , Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas

Nama : Virra Aurellia NPM : 173112350350001 Mata Kuliah : Sosiologi Perdesaan Dosen Pengampu : ADILITA PRAMANTI, S.Sos, M.Si Jawaban Ujian Akhir Semester Tahun 2019/2020 Sosiologi Perdesaan 1. Konsep dasar perkembangan dari teori sosiologi klasik, teori sosiologi kontemporer dan teori sosiologi pedesaan yang berkaitan untuk menjelaskan fakta dan krisis dari pedesaan:  Teori Sosiologi Klasik Dalam hal ini konsep mengenai perkembangan kriris pedesaan di mulai dari teori sosiologi klasik, diantaranya Solidaritas dan Struktural Fungsional dari Durkheim. Dalam The Division of Labour in Society, Solidaritas sosial merupakan landasan yang kuat dalam hubungan dan keteraturan sosial. Karena solidaritas berfungsi sebagai perekat sosial, meliputi nilai, adat istiadat, dan kepercayaan yang dianut bersama dalam ikatan dan kesadaran kolektif. Pergeseran dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik merupakan pembagian kerja yang diakibatkan oleh pertambahan jumlah penduduk yang mengakibatkan individualisme semakin meningkat karena adanya spesialisasi kerja. Selanjutnya, struktural fungsional. Dalam perkembangan krisis desa yang dilihat dari teori ini yaitu memandang sumber daya alam dan manusia dalam kesatuan yang holistic dan memanfaatkan institusi sebagai penataan dalam ekosistem atau ekologi.  Teori Sosiologi Kontemporer Dalam perkembangan pedesaan, teori Strukturasi dari Anthony Giddens dapat menjelaskan betapa struktur sosial pedesaan tidak dapat dilepas oleh tipe agensi, misalnya masyarakat paternalistic primordial yang membentuk struktur sosial asimetris, dan juga tindakan agensi paternalistik yang dibangun oleh struktur sosial kekuasaan asimetris yang mendukungnya.Dan selanjutnya dari teori kontemporer lain adalah Mazhab Frankfurt dari Habermas. Dalam perkembangan pedesaan memanfaatkan teoretisasi Habermas pada analisis tentang kejadian – kejadian sosial yang memiliki resiko benturan kepentingan antar pihak yang sulit dicari titik temunya, kecuali terbentuknya agreement atau rational consensus yang dikonstruksi via public sphere.  Teori Sosiologi Pedesaan Perkembangan teori sosiologi perdesaan yang berkaitan menjelaskan fakta dan krisis dari pedesaan, diantaranya Politik Ekonomi Agraria dari KJ. Pelzer dan Moral Ekonomi dari JC. Scott serta Mazhab Bogor. Dalam teori Politik Ekonomi Agraria menjelaskan ketimpangan penguasaan sumberdaya alam dan sumberdaya agrarian, yaitu kemiskinan struktural, kemiskinan yang terjadi karena tiadanya akses dan penguasaan atas sumberdaya oleh masyarakat local, karena sudah dikuasai oleh pihak asing. Dalam pemikiran Scott mengenai Moral Ekonomi merupakan awal pemikiran modal sosial beraliran, marxian karena mengaitkan dua entitas. Teoretis Scott pada ekonomi petani, menggunakan konsep rasionalitas Weber yang kritis untuk memahami konfigurasi sosiologis tahapan dalam menjamin sosial dan keamanan petani di Asia Tenggara. Dalam Mazhab Bogor, menjelaskan krisis pedesaan dengan melihat kemiskinan akan memberikan suatu gambaran organisasi sosial untuk survival yang lebih kompleks dari pada masyarakat mapan secara ekonomi. 2. Desa yang berkarakteristik homogen adalah masyarakat yang memiliki kesamaan dalam hal mata pencaharian seperti agama, adat istiadat dan juga kesamaan lainnya yang membuat suatu desa tersebut unik. Kesamaan lainnya yang menjadi ciri-ciri masyarakat desa adalah kesamaan kesukuan yang mana juga memberikan ikatan yang semakin kuat pada masyarakat desa. Oleh karena itu, hubungan masyarakat desa ini berorientasi pada nilai-nilai kebersamaan yang saling menjaga kerukunan. Perubahan solidaritas mekanik dan organik yang terjadi pada Desa Mlandi  Solidaritas Mekanik merupakan rasa kebersamaan yang berdasarkan pada kesadaran kolektif. Pada solidaritas mekanik ini bercirikan pada masyarakat tradisional. Bentuk solidaritas mekanik ini tergantung pada masing – masing individu yang memiliki sifat yang sama dan menganut kepercayaan serta pola normatif yang sama juga. Solidaritas mekanik ini muncul pada masyarakat pedesaan, dimana karena solidaritas tersebut akan terbangun pada kelompok masyarakat yang sederhana. Pada masa pandemic hingga new normal banyak perubahan yang terjadi pada Desa Mlandi Wonosobo. Dalam solidaritas mekanik yang terjadi pada Desa Mlandi, Desa Mlandi memiliki program pada era tatanan new normal ini yaitu pembagian masker dan edukasi APD, Pemberian edukasi tentang bahaya Covid-19 kepada masyarakat, dan memberikan sosialisasi mengenai perilaku pola hidup bersih dan sehat yang baik kepada masyarakat. Pada masyarakat yang memiliki solidaritas mekanik akan bersatu karena memiliki rasa yang sama dengan orang dilingkungan dan semua orang.  Solidaritas Organik merupakan solidaritas yang berkembang dalam kelompok masyarakat yang kompleks. Dalam solidaritas organik ini pembagian kerja sudah jelas untu semua anggota kelompok. Di dalam solidaritas organik ini masyarakat dapat saling membutuhkan dan berhubungan untuk memenuhi kebutuhan masing masing. Pada masa pandemic hingga new normal banyak perubahan yang terjadi pada Desa Mlandi Wonosobo. Dalam solidaritas organik yang terjadi pada Desa Mlandi yaitu adanya jalur distribusi produksi pertanian satu pintu untuk menghindari adanya kerumunan antar warga. Hal ini dilakukan sebagai upaya meminimalisir pencegahan virus Covid-19 dengan menjaga jarak fisik atau yang disebut sebagai physical distancing. 3. Ringkasan dari Gallardo, R. Responsive Countryside : The Digital Age and Rural Communities Roberto Gallardo meninjau pedesaan responsif pada era digital dan masyarakat pedesaan. Dalam hal ini Pedesaan adalah konsep geografis yang menjelaskan lokasi dan gaya hidup. Di Amerika Serikat, ada perubahan besar di daerah pedesaan (mereka yang tidak memiliki inti perkotaan setidaknya 10.000 penduduk) dan kota kecil (mereka yang memiliki inti perkotaan 10.000 untuk 49.999 penduduk).Gallardo berpendapat bahwa pedesaan saat ini mengalami perubahan, perubahan ini disebabkan oleh adanya teknologi baru, tidak sedikit secara revolusi digital. Revolusi digital terutama mencakup broadband dan aplikasinya. Dalam hal ini Gallardo juga menjelaskan mengenai konsep Digital Age (juga dikenal sebagai Umur komputer atau usia informasi atau media baru Usia) adalah tentang teknologi digital yang akan terus untuk diciptakan dan diadopsi, dengan perubahan dalam cara manusia berinteraksi lain dan, mungkin lebih penting, dengan Mesin secara real time. Dengan munculnya komputer, kita dapat mencari berbagai informasi melalui digital tersebut. Dalam hal ini teknologi yang sering digunakan saat ini ialah Gadget. Dimana Gadget yang semakin canggih mengalami peningkatan kapasitas penyimpanan pada perangkat yang digunakan. Gallardo juga menguraikan manfaat digital di pedesaan Amerika Serikat. Dalam hal ini Gallardo membahas peningkatan risiko dalam dunia digital. Seperti Cyber Insecurity, CyberBullying, Surveilans, killer robot dan drone. Pertama, Gallardo mendiskusikan aplikasi broadband, seperti website, Layanan Cloud, dan media sosial, mengidentifikasi bagaimana mereka dapat meningkatkan kehadiran online pedesaan warga, produsen utama, konsumen, Bisnis, dan organisasi masyarakat. Kedua, Gallardo menyoroti telecommuting sebagai fenomena yang meningkat bekerja dari rumah yang membantu mengatasi beberapa tantangan di pedesaan, kurangnya pekerjaan lokal, kepadatan penduduk yang rendah, dan tenaga kerja yang lebih kecil. Ketiga, kursus online,materi praktik yang tersedia secara bebas melalui Khan Academy dan besar-besaran Open online kursus (juga dikenal sebagai MOOCs), memberikan pelatihan pendidikan yang mungkin secara fisik tidak tersedia di pedesaan.Keempat, telehealth sudah meningkatkan akses ke layanan kesehatan berkualitas di daerah pedesaan, yang seharusnya tetap kurang dilayani. Kelima, akses ke Internet telah memungkinkan untuk pertanian digital. Presisi pertanian, atau penggunaan digital teknologi untuk operasi pertanian dan manajemen telah menciptakan peluang baru bagi petani, seperti menargetkan dan meminimalkan penggunaan Agrochemicals. Dua aplikasi penting digital imaging melalui satelit atau drone, dan menggunakan sensor untuk memantau situasi tanaman (misalnya penyakit, kekeringan, banjir, kerusakan satwa liar, dan lain lain). Autosteering untuk tugas seperti tanah yg dikerjakan, penyemaian, dan irigasi sudah besar digunakan dalam pertanian. Maka dalam hal ini kontribusi untuk terlibat secara digital dalam pengembangan masyarakat pedesaan pengecualian ekonomi dan isolasi fisik masih menjadi pertanyaan penting saat ini. Menurut Gallardo, Digital Age sudah dalam perubahan pada keterlibatan masyarakat, dimana pengembangan konten berbasis pengguna dan komunikasi multi-arah yang dimungkinkan kehadiran online dan media sosial. Ini adalah keberangkatan yang luar biasa dari metode tradisional komunikasi massa satu arah dan tampilan keterlibatan publik. Gallardo menyajikan berbasis aset pengembangan masyarakat (ABCD, lihat http://www.abcdinstitute.org) sebagai perpanjangan baru model yang melibatkan penyelidikan yang menghargai kekuatan masyarakat pedesaan, seperti apa yang sosial, politik, fisik, manusia, budaya, alam, atau aset keuangan yang telah mereka miliki, menantang praktek konvensional bertanya tentang masalah dan kebutuhan. Buku Gallardo adalah salah satu dari beberapa teks baru-baru ini tersedia pada topik ekonomi pedesaan digital. Pada buku Gallardo tersebut membuat kontribusi penting untuk terlibat secara digital masyarakat pedesaan dalam hal pengembangan. Persoalan pada desa – desa yang ada di Indonesia saat ini, beberapa desa sudah menerapkan adanya desa digital dimana semua akses layanan mengenai desa dapat dilihat melalui internet. Karena dalam hal ini pemerintah desa memiliki cita – cita untuk memajukan desa dengan menerapkan desa digital. Dalam hal ini contohnya pada Desa Lamahu yang ditetapkan sebagai Desa Digital. Dimana konsep digital pada desa ini yaitu sebagai penerapan command center sebagai pusat layanan bagi masyarakat desa. Konsep command center disini dibuat sebagai pusat pelayanan digital pemerintah desa yang banyak memberikan manfaat dalam melayani kebutuhan pada masyarakat yang ada di desa tersebut. Desa digital ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar desa tersebut, karena memanfaatkan layanan ini sangat mudah yaitu dengan menggunakan aplikasi pada Gadget yang dimiliki masyarakat pada desa tersebut. Nantinya masyarakat diminta untuk memasukan nomor induk kependudukan, setelah itu semua layanan yang ada pada aplikasi tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat. Masyarakat dapat mengakses semua layanan yang telah disiapkan, seperti layanan keamanan kesehatan serta pelayanan pengurusan berkas kependudukan dan perijinan. Konsep desa digital ini didukung dengan sejumlah peralatan seperti tiga puluh dua tiang cerdas atau smart pole, yang dilengkapi cctv, lampu otomatis, serta sensor cahaya dan gerak. Tiang tiang ini dipasang pada sejumlah titik diwilayah permukiman warga hingga ke lokasi persawahan. Program ini juga memberdayakan masyarakat sebagai karyawan di Badan Usaha Milik Desa, yang kemudian mempromosikan semua jenis usaha melalui market place secara online.Sejak adanya command center di Desa Lamahu, angka kriminal di desa ini dalam selang waktu dua tahun terakhir nyaris tidak ada. Desa ini kini menjadi desa percontohan nasional sebagai desa digital, yang kini banyak dikunjungi untuk studi banding. Fakta lain nya pada desa di Indonesia yang menerapkan The Digital Age and Rural Communities yaitu pada Desa Brosot dan Desa Sidorejo yang telah mampu menerapkan program Sistem Informasi Potensi Kreatif Desa (Sipkades). Dalam Program Sipkades menyasar kalangan pemuda di Desa Brosot, Kecamatan Galur dan Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah. Lokasi yang dipilih adalah desa karena desa kaya akan potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Menu rut Daljoeni, desa adalah permukiman manusia yang letaknya di luar kota dan penduduknya bermatapencaharian di bidang agraris dan memiliki jumlah penduduk sedikit dengan wilayah yang relatif luas, sehingga memungkinkan adanya bidang-bidang kehidupan seperti persawahan, perladangan, dan perkebunan. 4. Berikut merupakan tabel mengenai perkembangan indeks keparahan dan indeks kedalaman kemiskinan perdesaan dan perkotaan tahun 2014 – 2017. Bln/Tgl Indeks Keparahan Indeks Keparahan Indeks Kedalaman Indeks Kedalaman Kota Desa Kota Desa Mar17 0,31 0,67 1,23 2,49 Sep17 0,3 0,65 1,24 2,43 Mar18 0,29 0,63 1,17 2,37 Tabel Perkembangan Indeks Keparahan dan Indeks Kedalaman Kemiskinan Perdesaan dan Perkotaan 2014-2017 Dalam data Perkembangan Indeks Keparahan dan Indeks Kedalaman Kemiskinan Perdesaan dan Perkotaan Tahun 2014-2017 menghasilkan data yang fluktuatif. Indeks Keparahan Kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, maka semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Jika dilihat antara Indeks Keparahan Kota dan Indeks Keparahan Desa terjadi ketimpangan yang besaran perbedaannya hampir mencapai 50%. Untuk Indeks Keparahan Kota per tanggal maret 2017, September 2017, hingga maret 2018 mengalami penurunan indeks dimana ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin di kota mengalami penurunan hingga Maret 2018. Sedangkan Indeks Keparahan Desa dari maret 2017, September 2017, hingga maret 2018 juga mengalami penurunan nilai indeks, namun penurunan angka tersebut masih relative tinggi dibandingkan dengan indeks keparahan kota. Sedangkan Indeks Kedalaman Kemiskinan merupakan rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Jika kita melihat Indeks Kedalaman Kota maka kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin tidak terlalu signifikan dan bahkan pada Maret 2018 nilai Indeks Kedalaman Kota mengalami penurunan dari data terakhir di bulan September 2017. Sedangkan untuk Indeks Kedalaman Desa terlihat data yang disajikan masih cukup tinggi dibandingkan Indeks Kedalaman Kota, berarti kesenjangan pengeluaran penduduk miskin masih lebih tinggi di desa daripada di kota.

Judul: Adilita Pramanti, S.sos, M.si - Virra Aurellia - Sosiologi Pedesaan 173112350350001 - Ujian Akhir Semester Tahun 2019/2020 - Program Studi Sosiologi , Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas

Oleh: Virra Aurellia


Ikuti kami