Adilita Pramanti, S.sos., M.si./mamluatul Azizah/sosiologi Pedesaan/ketahanan Sosial Desa Saat Pande...

Oleh Mamluatul Azizah

951,9 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Adilita Pramanti, S.sos., M.si./mamluatul Azizah/sosiologi Pedesaan/ketahanan Sosial Desa Saat Pandemi Covid 19/program Studi Sosiologi/fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik/universitas Nasional

UJIAN TENGAH SEMESTER KETAHANAN SOSIAL DESA SAAT PANDEMI COVID 19 TUGAS INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI SYARAT PENILAIAN UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP MATA KULIAH SOSIOLOGI PERDESAAN Nama Dosen : Adilita Pramanti, S. Sos., M.Si Disusun Oleh : Mamluatul Azizah 173112350350029 PROGRAM STUDI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA 2020 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan ujian tengah semester ini. Shalawat beserta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, hingga kepada umatnya hingga akhir zaman, Aamiin. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas dalam ujian tengah semester yang dilakukan secara online pada mata kuliah Sosiologi Perdesaan yang diampu oleh Ibu Adilita Pramanti, S.Sos., M.Si. Judul makalah ini adalah Ketahanan Sosial Desa Saat Pandemi Covid 19. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi terutama bagi penulisan makalah yang sejenis. Jakarta, 07 Mei 2020 Mamluatul Azizah NIM. 173112350350029 i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN BAB II PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Dari Desa Cangkuang  Data Desa dan Jumlah Desa  Bentuk Perubahan Sosial  Struktur Sosial-Ekonomi Desa Saat COVID 19  Kondisi Lingkungan Desa Cangkuang  Kondisi Sebelum Dan Sesudah Dana Desa  Kondisi Lingkungan & Pertanian  Tipe-Tipe Desa  Karakteristik Masyarakat  Nilai-Nilai Tradisional Yang Menonjol Pada Desa  Sejauh Mana Modernisasi Masuk Desa Cangkuang  Kekhasan Sosiologis Pada Desa Cangkuang B. Dampak Yang Ditimbulkan  Dampak Pandemic C. Kondisi Khusus Dari Desa Cangkuang  Bentuk Interaksi Sosial  Perkembangan Lembaga-Lembaga Sosial  Masyarakat Adat  Bentuk Solidaritas Mekanik & Organik Saat Pandemi D. Kondisi Secara Umum Wilayah  Kondisi Geografis Provinsi  Pendapatan Daerah  Sumber Daya Alam  Gerakan Berbasis Masyarakat Yang Muncul Saat Pandemi BAB III TINJAUAN PUSTAKA BAB IV PENUTUP  Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA ii BAB I PENDAHULUAN Pada awal tahun 2020 dunia dihebohkan dengan pemberitaan tentang virus jenis baru yang bernama virus corona disease atau yang biasa kita kenal dengan virus corona. Virus ini pertama kali muncul di Negara Cina tepatnya disebuah kota bernama Wuhan. Masuknya virus ini ke Indonesia langsung dinyatakan oleh Presiden Indonesia, Bapak Joko Widodo, pada tanggal 2 Maret 2020. Kasus pertama virus corona ini langsung mengenai dua warga negara Indonesia. diketahui kedua pasien sempat melakukan kontak dengan WNA Jepang yang datang ke Indonesia. Semenjak saat itu penularan virus corona meningkat secara drastis. Setiap harinya banyak warga yang terinfeksi dengan virus ini. Untuk saat ini data yang tercatat di dunia maupun di Indonesia yang terkena virus corona ini berjumlah1 : 1 https://covid19.go.id/ 1 Dampak yang ditimbulkan dari adanya virus corona bukan saja hanya mengenai wilayah perkotaan di Indonesia, namun wilayah desa-desa di Indonesia juga telah terkena dampak dari masuknya virus corona ini ke wilayah mereka. Desa sebagai daerah produksi yang merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhankebutuhan pokok bagi masyarakat kota dan bagi masyarakat desa itu sendiri. Dengan masuknya virus corona ini kinerja yang ada di desa tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dan perlu kita ingat bahwa orang-orang di desa cenderung lebih memiliki status sosial yang kurang mampu sehingga akan timbul masalah-masalah sosial ketika mereka menghadapi situasi dan kondisi seperti ini yang tidak terdapat waktu pasti dalam penyelesaiannya. Untuk itulah disini saya akan menganalisis salah satu desa yang ada di Indonesia mengenai bagaimana ketahanan sosial di desa tersebut dalam menghadapi masa pandemic covid 19 ini dengan studi kasus dilihat pada Desa Cangkuang, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Tujuan dari penulisan ini selain untuk memenuhi nilai tugas ujian tengah semester mata kuliah sosiologi perdesaan juga untuk memberikan pengetahuan serta informasi terkait cara-cara melakukan ketahanan sosial yang dipraktekkan dalam suatu desa sehingga cara tersebut dapat ditiru serta dilakukan bagi wilayah-wilayah desa lainnya. 2 BAB II PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Dari Desa Cangkuang  Data Desa dan Jumlah Desa Desa Cangkuang terletak di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Desa Cangkuang saat ini dipimpin oleh Kepala Desa yang Bernama Asep Nandang. Di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles ini terdiri dari 18 (Delapan Belas) RW dengan total 51 (lima puluh satu) RT. Menurut sejarah dan cerita legenda para nenek moyang masyarakat Desa Cangkuang, Desa Cangkuang berasal dari nama pohon yang banyak terdapat di sekitar makam Embah Dalem Arif Muhamad, namanya pohon Can2. Untuk menindaklanjuti penyebaran virus corona di Indonesia, saya akan menampilkan data penyebaran virus corona per hari Rabu, 6 Mei 2020 yaitu : Untuk penyebaran di wilayah Provinsi Jawa Barat tercatat pada laman resmi web covid sebagai berikut : - 2 Kasus Baru Sembuh Meninggal Dunia Terkonfirmasi : 20 orang : 177 orang : 90 orang : 1.320 orang https://petadesa.klikdesa.com/desa/profil.php?id=3205240011 3  Bentuk Perubahan Sosial Dengan semakin merebaknya penyebaran virus covid 19 di berbagai wilayah terutama di Desa Cangkuang, Jawa Barat secara tidak langsung telah membuat suatu perubahan sosial yang terjadi di masyarakat nya. Munculnya berbagai kebijakan preventif yang dibuat oleh pemerintah membuat masyarakat mau tidak mau harus mematuhinya. Dan secara tidak disengaja hal tersebut menimbulkan suatu perubahan sosial. Berikut perubahan-perubahan sosial yang secara tidak sengaja terjadi di masyarakat, yaitu3 : 1. Mengubah Pola Pikir Untuk Sehat Secara tidak langsung masyarakat seperti terbius untuk menerapkan pola hidup sehat. Seperti rajin berolahraga, cuci tangan setiap habis bepergian keluar rumah, selalu menggunakan masker, serta mengonsumsi buah dan sayur. Sebelum adanya wabah covid 19 ini hampir seluruh masyarakat tidak mengindahkan himbauan untuk melaksanakan pola hidup sehat. 2. Munculnya Perilaku Over Protektif Ketakutan terhadap virus corona menimbulkan pengaruh terhadap sikap sosial individu. Masyarakat akan mudah menaruh curiga pada orang yang batuk, bersin, atau pucat di lingkungan sekitar kita yang mana hal tersebut sebelumnya tidak pernah terjadi. 3. Meningkatkan Kerjasama Dengan adanya keinginan bersama untuk memberantas virus corona ini, masyarakat bekerjasama bahu membahu mengurangi penyebaran virus ini. Banyak pada masa sekarang aksi-aksi lembaga sosial hingga tingkatan RT dari berbagai pelosok melakukan hal semacam ini. Seperti yang dilakukan di Desa Cagkuang adanya bantuan sembaki dari BAZNAS untuk warga Desa Cangkuang Kulon yang jompo dan tidak mampu yang terdampak oleh covid 19. 4. Aktivitas Berbasis Teknologi Wabah ini telah merubah wajah peradaban. Hampir semua kegiatan dilakukan menggunakan teknologi yang sejak lama sudah ada. Aplikasi berbasis teknologi ini hadir untuk mempermudah aktivitas masyarakat. Dengan adanya covid 19 ini sudah menjadi sangat penting dan menjadi sebuah kebutuhan akan teknologi. 3 https://m.suaraaktual.co/read-10028-2020-05-01-covid19-menyebabkan-perubahan-sosial-mulai-perilakuhingga-teknologi.html 4  Struktur Sosial-Ekonomi Desa Saat COVID 19 Sosial-Ekonomi masyarakat di Desa Cangkuang saat wabah virus covid 19 ini terjadi sudah pasti terjadi perubahan struktur sosial-ekonomi nya. Dalam konsep struktur sosial dimaknai dengan adanya hubungan-hubungan yang jelas serta teratur tentang orang yang satu dengan yang lainnya. Menurut Pitirin Sorokin struktur sosial itu dibedakan menjadi struktur sosial vertikal dan struktur sosial horizontal. Struktur sosial vertikal menggambarkan kelompok-kelompok dalam pelapisan yang bersifat hierarkis, sedangkan struktur sosial horizontal menggambarkan pengelompok-pengelompokan secara beragam4. Dengan penjelasan diatas dilihat dari struktur sosial di Desa Cangkuang tentang konsep struktur sosial terjalin dengan baik. Usaha-usaha yang dilakukan oleh masyarakat Cangkuang untuk memberantas virus ini terlihat nyata. Seperti yang terlihat dari Pemerintah Desa (Pemdes) Cangkuang, secara bergelia menyalurkan bantuan sembako bagi masyarakat yang terkena dampak covid 19. Ini merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Desa pada masyarakat setempat. Bantuan sembako ini akan diberikan secara continue serta intensif dan juga akan melakukan penyemprotan disinfektan dan pemberian masker. Dalam penyaluran bantuan sembako pemerintah bekerjasama dengan Kelompok Penerima Manfaat (KPM) PKH dan KPM penerima program bantuan sembako5. Untuk struktur ekonomi masyarakat di Desa Cangkuang sudah pasti mengalami pembatasan pekerjaan. Beberapa dari masyarakat masih ada yang bekerja namun tidak 4 https://djannoveria.blogspot.com/2018/01/bentuk-konsep-struktur-sosial-dan-fisik.html?m=1 https://www.galamedianews.com/daerah/253510/ringankan-warga-terdampak-covid-19-pemdes-cangkuangsalurkan-paket-sembako.html 5 5 secara optimal. Keadaan yang memaksa masyarakat untuk tetap dirumah saja mengakibatkan struktur ekonomi pun berubah. Struktur sosial ekonomi bisa dilihat dari kedudukan atau posisi seseorang yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi, pendidikan, serta pendapatan.  Kondisi Lingkungan Desa Cangkuang Desa Cangkuang terletak kurang lebih pada jarak 2 Km dari ibu kota Kecamatan. Batas Desa Cangkuang sebagai beikut : - Sebelah utara berbatasan dengan Desa Neglasari Kecamatan Kadungora. - Sebelah timur berbatasan dengan Desa Tambak sari Leuwigoong. - Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Margaluyu dan Desa Sukarame Kecamatan Leles. - Sebelah barat berbatasan dengan Desa Talagasari Kecamatan Kadungora dan Desa Leles Kecamatan Leles. Desa Cangkuang terletak diantara kota Bandung dan Garut yang berjarak ± 2 Km dari Kecamatan Leles dan 17 Km dari Garut atau 46 Km dari Bandung. Kondisi lingkungan di kawasan ini memiliki kualitas lingkungan yang baik, kebersihan yang cukup terjaga dan juga bentang alam yang baik. Tingkat visabilitas di kawasan ini digolongkan cukup bebas dengan tingkat kebisingan yang rendah6.  Kondisi Sebelum Dan Sesudah Dana Desa Ekonomi terkait kehidupan masyarakat pasti sangat kebutuhan. Bukan hanya masyarakat di perkotaan, namun juga masyarakat di pedesaan membutuhkan itu. Mata pencaharian masyarakat pedesaan yang relatif menerima penghasilan per hari dalam keadaan seperti saatn ini, wabah virus corona menyebar, perlu pintar-pintar dalam mengatur keuangan. Bantuan-bantuan sangat mereka harapkan dari pihak manapun. Oleh sebab itu Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang masuk dalam anggaran dana desa dan mendistribusikannya ke masyarakat yang terdampak pandemi Corona7. Bantuan ini akan disalurkan kepada 12 juta keluarga miskin di desa terdampak covid 19. Untuk Desa Cangkuan sendiri sebanyak 259 keluarga miskin telah mererima bantuan ini. APBdes yang bersumber dari dana desa sebesar 460 juta akan disalurkan pada setiap keluarga miskin yang telah terdata dan akan mendapatkan Rp 600.000,- per keluarga di bulan pertama dana tersebut cair. Dengan adanya bantuan dana tersebut diharapkan dapat sedikit membantu perekonomian masyarakat untuk tetap dapat melanjutkan hidup ditenagh pandemi covid 19 ini. Pergunakan dana desa tersebut dapat digunakan untuk keperluan selama masa pandemic covid 19 ini. Bisa juga digunakan untuk mecegah penyebaran virus corona 6 http://emmarachmatika.blogspot.com/2013/12/kampung-adat-pulo.html?m=1 http://m.detik.com/news/berita/d-4992065/kemendes-blt-dana-desa-terkait-corona-cair-dari-garut-hinggamandiolo 7 6 seperti mengonsumsi makanan sehat dan mengonsumsi tanaman-tanaman herbal asli Indonesia untuk meningkatkan imun tubuh.  Kondisi Lingkungan & Pertanian Mayoritas masyarakat di Desa Cangkuang bekerja sebagai petani yang menanam berbagai jenis tanaman pangan seperti padi, singkong, dan sayur mayur. Namun ada juga yang beternak berbagai jenis binatang.  Tipe-Tipe Desa Merujuk pada Peraturan Kepala BPS No. 66 Tahun 2016 menyebut terdapat 74.754 desa dan 8.430 kelurahan di seluruh Indonesia. Perkembangan desa menjadi 4 kelompok besar8, yaitu : 1. Desa Tradisional Disebut juga dengan pra-desa adalah tipe desa pada masyarakat suku terasing yang seluruh kehidupan masyarakatnya masih sangat bergantung dengan alam. Mulai dari cara bercocok tanam, pemeliharaan kesehatan, pengobatan, dan pengolahan makanan. Pola seperti ini biasanya terjadi pada desa yang terpencil jauh dengan kelompok masyarakat lain sehinggal warganya lebih tertutup. Pola hubungan yang terjadi antar warga sangatlah erat dan masih kurangnya sarana yang layak untuk mendukung mobilitas sosial. 2. Desa Terbelakang atau Desa Swadaya Merupakan desa yang kekurangan sumber daya manusia atau tenaga kerja dan juga kekurangan dana sehingga tidak mampu memanfaatkan potensi yang ada di desanya. Desa terbelakang biasanya berada di wilayah yang terpencil jauh dari kota, taraf berkehidupan miskin dan masih tradisional serta tidak memiliki sarana dan prasarana penunjang yang mencukupi. 3. Desa Sedang Berkembang atau Desa Swakarsa Merupakan desa yang mulai menggunakan dan memanfaatkan potensi fisik dan nonfisik yang dimilikinya tetapi masih kekurangan sumber keuangan. Desa swakarsa belum banyak memiliki saranan dan prasarana desa yang biasanya terletak di daerah peralihan desa terpencil dan kota. Masyarakat pedesaan swakarsa masih sedikit yang berpendidikan tinggi serta tidak bermata pencaharian utama sebagai petani di pertanian saja serta banyak mengerjakan sesuatu secara gotong royong. 4. Desa Maju atau Desa Swasembada Merupakan desa yang berkecukupan dalam hal sumber daya alam atau sumber daya manusia dan juga dalam hal dana modal sehingga sudah dapat memanfaatkan dan menggunakan segala potensi fisik dan non fisik desa secara maksimal. Kehidupan di desa tipe ini sudah mirip kota yang modern dengan pekerjaan mata pencaharian yang beraneka ragam serta sarana dan prasaranan yang cukup lengkap untuk menunjang kehidupan masyarakat pedesaan yang maju. 8 https://www.desabisa.com/mengenal-tipe-desa-dari-sejarahnya/ 7  Karakteristik Masyarakat Pada masyarakat di Desa Cangkuang memegang teguh nilai dan norma yang sudah melekat dari dahulu kala merupakan kekhasan mereka. Sehingga dari situlah menciptakan suatu moral yang baik pada setiap masyarakat nya. Masyarakat Desa Cangkuan harus berbicara sopan santun karena karakter pada masyarakat ini mudah tersinggung perasaannya. Norma-norma yang mengikat masyarakat pun memiliki sanksi. Contoh sanksi yang bisa didapat jika melanggar suatu norma yang dipercayai yaitu mendirikan bangunan lebih atau kurang dari 7 serta dikenakan denda sebesar 15 juta rupiah dan dikurung selama 7 tahun penjara. Bahkan masih ada kepercayaan terhadap leluhur-leluhur mereka9.  Nilai-Nilai Tradisional Yang Menonjol Pada Desa Adat istiadat yang masih sangat populer dan dipercayai oleh masyarakat Desa Cangkuang serta dianggap tabu yaitu : 1. Ketika ingin berziarah ke makam-makan harus memenuhi beberapa syarat yaitu membawa bara api, kemenyan, minyak wangi, bunga-bungan, dan semtu. Hal tersebut dipercaya untuk mendekatkan diri kepada roh-roh para leluhur. 2. Tidak boleh berziarah pada hari rabu, bahkan penduduk tidak boleh melakukan aktivitas berat. Jika masyarakat melanggarnya maka akan timbul mala petaka bagi masyarakat. 3. Tidak boleh memukul Goong besar. 4. Khusus di wilayah Kampung Pulo tidak diperkenankan ternak besar berkaki empat seperti kambing, kerbau, sapi, dan lain-lain. 5. Setiap tanggal 14 bulan Maulud masyarakat melaksanakan upacara adat memandikan benda-benda pusaka seperti keris, batu aji, yang dianggap bermakna dan mendapat berkah. Yang berhak menguasai rumah-rumah adat adalah wanita dan diwariskan pula kepada anak perempuannya.  Sejauh Mana Modernisasi Masuk Desa Cangkuang Seperti yang telah kita ketahui, modernisasi dalam bentuk globalisasi sudah sangat lumrah terjadi dan mempengaruhi kebudayan-kebudayaan asli Indonesia. Namun walaupun demikian masih ada beberapa wilayah yang mempertahankan kebudayaannya di tengah-tengah era globalisasi saat ini. Sebut saja salah satu kampung yang ada di Desa Cangkuang, yaitu Kampung Pulo. Kampung Pulo merupakan kampung yang adat istiadat nya masih sangat kental. Di kampung ini terdapat sebuah situs candi yang masih ada sampai sekarang. Tidak dipungkiri masuknya media serta teknologi terbarukan juga dirasakan oleh Desa Cangkuang, dilihat dari memakai teknologi apapun pada masa pandemi covid 19 ini dalam melakukan berbagai kegiatan yang memang mau tidak mau dijalankan melalui online yang menggunakan akses internet. 9 Ratih, D. (2019) komunitas Kampung Pulo di Cangkuang Kabupaten Garut (Perkembangan Adat Istiadat Setelah Masuknya Islam). Jurnal Artefak, 3(2), 119-130. 8 Namun keadaan tersebut tidak merubah atau menghilangkan sepenuhnya kebudayaankebudayaan yang terdapat di Desa Cangkuang khususnya di Kampung Pulo. Kebudayaankebudayaan tersebut tetap dijaga untuk aset masa depan bangsa dan generasi muda yang akan datang nantinya.  Kekhasan Sosiologis Pada Desa Cangkuang Pada masyarakat Desa Cangkuang dilihat dari mata pencahariannya mereka memiliki mata pencaharian yang homogen. Mata pencaharian di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat adalah petani. Tingkah laku dan pola hidup masyarakat di Desa Cangkuang masih harmonis dan tidak invidual. Masyarakat di Desa Cangkuang masih percaya terhadap nilai dan norma adat istiadat terdahulu, walaupun memang tidak semua masyarakat nya memegang kepercayaan tersebut. Namun tidak sedikit masyarakat disana masih mempercayai adat istiadat dan memegang teguh prinsip tersebut karena tidak ingin dikenakan sanksi jika melanggarnya. Pada Desa Cangkuang sistem gotong royong saling membantu masih sangat melekat. Masyarakat nya akan saling membantu satu sama lain tanpa memandang status sosial dan lainnya. Hubungan yang terjalin antar masyarakat di Desa Cangkuang juga masih sangat intim, kekerabatan masih sangat terasa di wilayah ini. Dengan kata lain solidaritas yang terjalin dalam masyarakat Desa Cangkuang sangat erat10. 10 Modul Mata Kuliah Sosiologi Perdesaan Jilid 1 (Revisi), Nur Endah Januarti, Universitas Negeri Yogyakarta. (2017) 9 B. Dampak Yang Ditimbulkan  Dampak Pandemic Adanya keterbatasan aktivitas selama masa pandemic banyak menimbulkan permasalahan di segala aspek kehidupan, tidak terkecuali pendidikan. Pearlihan cara pembelajaran memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur yang sekiranya dapat ditempuh agar pembelajaran tetap dapat berlangsung namun banyak sekali faktor yang menghambat terlaksaanya efektivitas pola pendidikan melalui sistem daring ini terutama pada masyarakat Desa diantaranya yaitu : - Penguasaan teknologi yang masih rendah. - Keterbatasan sarana dan prasarana. - Jaringan internet yang kurang memadai. - Biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Adapun dampak yang dihasilkan terhadap pola ekonominya yaitu dengan diberlakukannya kebijakan PSBB membuat kegiatan ekonomi menjadi menurun. Ratusan ribu masyarakat yang terkena dampak berasal dari berbagai profesi. Seperti pekerja harian, pedagang, pelayan toko, sampai pelaku wisata. Kabupaten Garut terkenal dengan industri kerajinakl kulit nya yang bahkan ikut terkena dampak dari adanya virus corona ini. Aktivitas industri produk kulit di Garut mengalami gangguan karena sepinya orderan dan tidak bisanya melakukan pengiriman barang sejak ditetapkannya darurat covid 19. 10 C. Kondisi Khusus Dari Desa Cangkuang  Bentuk Interaksi Sosial Masyarakat Desa Cangkuang merupakan salah satu masyarakat penduduk Jawa Barat yang mana penduduk Jawa Barat memiliki filosofi hidup bahwa setiap manusia harus saling mengasuh dengan landasan saling mengasihi dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Dalam suatu kehidupan yang demokratis maka akarnya terletak pada suatu kesadaran dan keluhuran akal budi, yang akar filsafatnya menusuk jauh ke dalam bumi dalam pengertian harfiah. Peradaban masyarakat Desa Cangkuang yang berpenduduk asli dan berbahasa Sunda sangat dipengaruhi oleh alam yang subur dan alami. Oleh karena itu dalam interkasi sosial masyarakat di sana memegang teguh prinsip falsafah seperti itu. Selain akrab dengan alam lingkungan dan sesama manusia, masyarakat Desa Cangkuang juga dekat dengan Tuhan yang menciptakan segala isinya. Keakraban manusia dengan alam tampak pada bagaimana masyarakat memelihara kelestarian lingkungan. Masyarakat Desa Cangkuang juga relatif terbuka saat berinteraksi dengan nilai-nilai baru yang cenderung sekuler dalam suatu proses interaksi dinamis dan harmonis11.  Perkembangan Lembaga-Lembaga Sosial Suatu perubahan sosial akan mempengaruhi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku diantara kelompok-kelompok masyarakat. Perubahan sosial yang sedang terjadi saat ini di Desa Cangkuang disebabkan adanya virus corona yang mewabah daerah tersebut. Akibatnya perubahan-perubahan terjadi tidak terkecuali lembaga-lembaga sosial yang ada di Desa Cangkuang. Perkembangan lembaga-lembaga sosial yang terjadi ini bertujuan untuk lebih meningkatkan kinerja dalam usaha untuk memberantas virus corona di Desa Cangkuang. Banyak lembaga-lembaga sosial informal yang berdiri untuk membantu masyarakat seperti contohnya memberikan sumbangan sembako bagi masyarakat miskin yang terkena dampak dari adanya virus corona. 11 https://jabarprov.go.id/index.php/potensi_daerah/detail/7/4 11  Masyarakat Adat Kampung Pulo merupakan sebuah kawasan perkampungan yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, tepatnya terletak di tengah pulau suatu danau yang disekitarnya terdapat Candi Cangkuang, makam keramat, serta museum situs. Kampung Pulo tergolong memiliki karakteristik berbeda debgan desa lainnya yang berada di sekitarnya. Pada kampung ini terjadi perkembangan adat istiadat melalui proses akulturasi agama Islam. Nama kampung itu sendiri muncul karena tempat itu berada di dalam sejenis pulau yang dikelilingi oleh air. Hal unik yang nampak pada Kampung Pulo yakni adanya peraturan mengenai jumlah penduduk, yaitu maksimal 26 orang yang terdiri dari 6 kepala keluarga, dengan sistem 6 rumah yang masing-masing hanya dapat dihuni oleh 1 kepala keluarga. Hal ini lahir karena adanya nilai sistem kekeluargaan yang dijaga dari zaman leluhur dengan alasan adanya 6 kepala keluarga dan masing-masing kepala keluarga mewarisi rumah adat milik mereka kepada anak perempuan yang paling tua. Jika terdapat anak laki-laki yang sudah menikah maka dalam waktu 2 minggu setelah pernikahan maka anak laki-laki tersebut harus meninggalkan Kampung Pulo. Pemukiman ini dapat dikatakan adalah pemukiman keluarga yang didalamnya hanya boleh diisi oleh keturunan perempuan tertua dari Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, pendiri Kampung Pulo. Embah Dalem Arif Muhammad adalah panglima perang dari Kerajaan Mataram yang pada awal abad ke-17 bersama prajuritnya mencoba menyerang tentara VOC. Namun pertempuran itu menghasilkan kekalahan bagi pasukan yang beliau pimpin. Karena menahan rasa malu, maka Embah Dalem Arif Muhammad mengurungkan niat untuk kembali ke kerajaan dan menetap di kawasan Cangkuang. 12 Danau yang mengelilingi kawasan tersebut merupakan danau buatan Embah Dalem Arif sebagai persyaratan untuk menikah dengan putri penduduk asli. Mereka pun dikataruniai enam anak perempuan. Sebagai upaya mengenang keturunan dari EMbanh Dalem, maka dibuatlah enam rumah dan satu mushala yang tepat berada di belakang Candi Cangkuang. Sebelum masuknya agama Islam, masyarakat Kampung Pulo pada awalnya beragama Hindu. Setelah Embah Dalem Arif Muhammad masuk ke wilayah tersebut dan menyebarkan agama islam, proses akulturasi pun terjadi. Kebudayaan masyarakat Kampung Pulo bersifat dinamis, seiring berjalannya waktu masyarakat Kampung Pulo mengikuti perkembangan yang ada namun tetap menjaga tradisi yang sudah ada. Masyarakat Kampung Pulo sudah mengenal teknologi, namunbangunan tidak boleh berubah maka bangunan di Kampung Pulo tetap tradisional. Walaupun masyarakatnya kini telah memeluk agama islam, mereka masih melakkan kegiatan yang mengandung unsur agama Hindu. Salah satu contohnya adalah saat berziarah ke makam Embah Dalem Arif Muhammad dilakukan dengan cara yang berbeda dari agama islam yang sebenarnya. Masyarakat kampung juga masih melakukan upacara secara periodik upacara lingkaran kehidupan, seperti perkawinan, kehamilan, yang berkaitan dengan bayi baru dilahirkan, yang berkaitan dengan kematian, yang berkaitan dengan pertanian,. Selain itu saat berziarah ke makam harus mematuhi beberapa syarat yang membawa bara api, kemenyan, minyak wangi, bunga-bungaan, dan serutu. Terdapat pula rittual yang dilakukan pada bulan Maulud atau Rabiul Awal. Beberapa ritual yakni pada tanggl 1 Mulud yaitu syukuran menyambut bulan Mulud, 12 Mulud sebagai syukuran besar Mauludan yang malam harinya akan dilaksanakan kegiatan memandikan barang pusaka, 13-14 Mulud tengah bulan, dan 30 Mulud sebagai tanda habisnya bulan Mulud. Selain kebiasaan yang masih dilaksanakan oleh masyarakat, Kampung Pulo memiliki beberapa hukum adat atau larangan adat yang mesti ditaati : 13 1. Larangan bekerja dan berziarah pada hari Rabu Hari Rabu dikenal sebagai hari yang sakral dan dipercaya sebagai hari yang kelam bagi masyarakat adat Kampung Pulo. Hari Rabu dtetapkan sebagai hari untuk mengajarkan agama. Apabila aturan tersebut dilanggar maka akan timbul malapetaka. 2. Larangan menambah dan mengurangi jumlah rumah Jumlah rumah tetap harus 6 buah dengan 3 buah di kanan dan 3 buah di kiri serta jumlah kepala keluarga yang berdiam di rumah tersebut hanya dipimpin oleh 1 kepala keluarga. Hal tersebut merupakan bentuk upaya untuk menjaga keaslian dari kisah masa lampau sekaligus melestarikan kemurnian garis keturunan sebagai bentuk warisan budaya dari wilayah tersebut. 3. Larangan memelihara hewan peliharaan berkaki empat kecuali kucing Memiliki tujuan untuk menjaga kesucian dan kebersihan desa adat Kampung Pulo dari kotoran hewan serta gangguan dari peliharaan berkaki empat selain kucing. Pengecualian tersebut berkaitan dengan kepercayaan bahwa kucing adalah hewan peliharaan kesayangan Nabi Muhammad SAW. 4. Larangan membangun rumah dengan atap berbentuk prisma Larangan ini berkaitan dengan kejadian tragis yang menimpa satu-satunya anak laki-laki Embah Dalem Arief Muhammad. Dulu ada sebuah upacara khitanan dengan mengarak “raden nganten”.ia diarak dengan menggunakan tandu berbentuk prisma. Pada proses pengarakan terjadi angin kencang sehingga menyebabkan beberapa orang meninggal termasuk anak lelaki Embah Dalem Arief Muhammad. 5. Larangan memukul gong besar Hal ini juga berkaitan dengan kejadian “raden nganten”, karena gong besar tersebut digunakan sebagai pengiring alat musik gamelan. Larangan tersebut lahir dari kejadian dan kepercayaan yang diwariskan secara turun temurun. Di Kampung Pulo juga terdapat beberapa norma yang mengikat masyarakat nya. Norma tersebut memiliki sanksi misalnya kegiatan untuk mendirikan bangunan lebih atau kurang, maka sanksi yang diberikan merupakan denda sebesar 15 juta dan dikurung selama 7 tahun penjara12.  Bentuk Solidaritas Mekanik & Organik Saat Pandemi Bentuk Solidaritas Mekanik menurut Durkheim dinyatakan sebagai suatu bentuk interaksi yang masih identik dengan masyarakat tradisional. Masyarakat terikat sebuah konsep yang dinamakan dengan kesadaran kolektif dan belum mengenal adanya pembagian kerja. Bentuk solidaritas mekanin saat pandemi covid 19 yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Garut yaitu saling bekerjasama dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk memutus rantai penyebaran dari virus covid 19. Sedangkan bentuk organik lebih mengidentifikasi dengan masyarakat moder.. konsep ini terlihat dari adanya perbedaan dan pembagian kerja bagi anggota kelompoknya. Setiap 12 https://petitue.wordpress.com/2019/10/22/mendalami-filosofi-kampung-pulo-sebagai-salah-satu-warisanbudaya-kabupaten-garut/ 14 individu memiliki tugasnya masing-masing serta saling bergantung antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, solidaritas organik tidak terikat oleh kesadaran kolektif. Bentuk realita dari solidaritas organik di Kabupaten Garut pada masa pandem virus covid 19 ini yaitu adanya tim-tim khusus yang menangani serta memberikan bantuan berupa hal apapun pada masyarakat Garut. Tim itulah yang akan terjun langsung ke lapangan untuk membagikan bantuan tersebut. 15 D. Kondisi Secara Umum Wilayah  Kondisi Geografis Provinsi Desa Cangkuang terletak di wilayah Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Maka dari itu disini saya akan menjelaskan bagaimana kondisi geografis dari Provinsi Jawa Barat. Letak geografi Jawa Barat di sebelah Barat berbatasan dengan Selat Sunda, sebelah Utara dengan Laut Jawa dan daerah Khusus Ibukota Jakarta, sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, dan di sebeleh Selatan dibatasi oleh Samudera Indonesia. Letak geografi selengkapnya dapat dikatakan dengan Bujur 104o8’ – 108o41’ BT dan Lintang 5o50’ – 7050’ LS. Keadaan topografi Jawa Barat terdiri dari dataran rendah di sebelah utara, dataran tinggi berhunung-gunung di sebelah tengah, dan daerah berbukit-bukit dengan sedikit pantai di sebelah selatan. Daerah Jawa Barat terletak pada jalur Circum Pacific dan Mediteran, sehingga daerahnya termasuk daerah labil yang ditandai dengan masih banyaknya gunung berapi yang masih aktif bekerja dan sering terjadi gempa bumi13. 13 http://bkd.jabarprov.go.id/page/10-geografi-dan-topografi-jawa-barat 16  Pendapatan Daerah Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Keuangan Pemerintah Desa 2018 mencatat total Pendpatan Asli Desa (PADesa) Provinsi Jawa Barat sebesat Rp 377 miliar. Angka tersebut meningkat 2,53% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 367,6 miliar14. 14 https://databoks.katadata.co.id?datapublish/2019/10/03/berapa-pendapatan-asli-desa-di-provinsi-jawa-barat 17  Sumber Daya Alam Kabupaten Garut memiliki pantai ± 80 km, dengan pantai selatan yang memiliki potensi berupa Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dengan areal penangkapan sekitar 28 km yang diperkirakan memiliki potensi lestari sebesar 166.667 ton/tahun dan luas areal teritorial sekitar 12 mil laut dengan MSY sebesar 10.000 ton/tahun. Umumnya perikanan yang ditangkap di daerah perairan selatan Kabupaten Garut adalah Baronang, Bawal Hitam, Cakalang, Cumi-cumi, Cucut Botol, Tuna, Tongkol, Lobster, Kerapu, dan Ikan hias. Rumput laut pun menjadi cukup potensial di wilayah ini. Sumberdaya mineral nya juga tidak kalah dengan daerah-daerah lain. Adanya hasil biji timah, pasir, besi, pasir pantai, batu, koblat, mangan, tembaga, dan lain-lain. Garut juga memiliki kandungan emas yang tersebar di 15 lokasi berdeposit 30 ton. Garut juga kaya akan obsidian, perlit, andesit, batu setengah permata, dan masih banyak lagi.  Gerakan Berbasis Masyarakat Yang Muncul Saat Pandemi Adanya gerakan mandiri yang dilakukan oleh PT Sabda Alam dengan cara melakukan pembagian ribuan paket sembako kepada masyarakat di sekitar kawasan objek wisata Cipanas, Kecamatan Tarogong Kaler. Sembako yang dibagikan totalnya berjumlah 1.100 paket. Ada juga gerakan yang dilakukan oleh pemuda-pemuda Garut dari berbagai golongan dan komunitas. Mereka melakukan aksi bakti sosial dengan cara membagi-bagikan minuman herbal dan masker di jalanan. Aksi ini mengambil sasaran untuk pekerja yang masih bekerja khususnya dari kalangan bawah. 18 BAB III TINJAUAN PUSTAKA - Kondisi Sosial Ekonomi  Pengertian Kondisi Sosial Menurut Mulyono (2005) Kondisi Sosial adalah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita. Kondisi sosial yang mempengaruhi individu melalui dua cara yaitu langsung dan tidak langsung15. Linton (2000) mengatakan kondisi sosial masyarakat memiliki 5 indikatir, yaitu umur dan jenis kelamin, pekerjaan, prestise, family atau kelompok rumah tangga, dan keanggotaan dalam kelompok perserikatan.  Status Sosial Status sosial merupakan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. Status seorang individu dalam masyarakat dapat dilihat dari dua aspek yakni : 1. Aspek Statis, status kedudukan dan derajat seseorang di dalam suatu kelompok yang dapat dibedakan menjadi derajat atau kedudukan individu lainnya. 2. Aspek Dinamis, berhubungan erat dengan peranan sosial tertentu yang berhubungan dengan pengertian jabaran, fungsi, dan tingkah laku yang formal serta jasa yang diharapkan dari fungsi dan jabatan tersebut. Pada prinsipnya setiap individu dalam pergaulan hidupnya memiliki status sosial yang pokok berupa : 1. Pekerjaan seseorang 2. Status dalam sistem kekerabatan 3. Status religius dan status politik  Pengertian Kondisi Ekonomi Menurut Sumardi dan Evers (2001) keadaan ekonomi adalah suatu kedudukan yang secara rasional dan menetapkan seseorang pada posisi tertentu di dalam masyarakat. Pemberian posisi itu disertai pula dengan seperangkat hak dan kewajiban yang harus dimainkan oleh si pembawa status.  Kondisi Sosial Ekonomi Menurut Sumardi dan Evers (2002) keadaan Sosial Ekonomi yaitu sebagai berikut : 1. Lebih berpendidikan 2. Mempunyai status sosial yang ditandai dengan tingkat kehidupan, kesehatan, pekerjaan, pengenalan diri terhadap lingkungan. 3. Mempunyai tingkat mobilitas ke atas lebih besar 4. Mempunyai ladang luas 15 HASTUTI, U. Y. V. (2015). KAJIAN KONDISI SOSIAL EKONOMI PEDAGANG MAKANAN DIOBYEK WISATA PANTAI INDAH WIDARAPAYUNG KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN CILACAP (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO) 19 5. Lebih berorientasi pada ekonomi komersial produk 6. Memiliki sikap yang lebih berkenaan dengan kredit 7. Pekerjaan lebih spesifik Kondisi sosial ekonomi menurut Sastropradja (2000) adalah keadaan dan kedudukan seseorang dalam masyarakat di sekelilingnya. - Desa Desa menurut PP No. 72/2005 adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adar istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)16. - 16 Ramadana, C. B. (2013). Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagai Penguatan Ekonomi Desa. Jurnal Administrasi Publik, 1(6), 1068-1076. 20 BAB IV PENUTUP  Kesimpulan Dalam menghadapi wabah virus corona ini perlu adanya ketahan sosial ekonomi yang baik supaya keberlangsungan kehidupan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Penguatanpenguatan sektor formal maupun informal sangat penting dilakukan. Hal ini berkaitan dengan terjalinnya suatu kerjasama antar masyarakat untu mempertahankan kondisi sosial ekonomi pada masa pandemi covid 19 ini. Tetap jalinlah kerjasama yang baik antar masyarakat, jangan sampai ada perpecahan yang dapat memecah belah dan menimbulkan suatu konflik yang berkepangan untuk kedepannya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dan mohon maaf apabila terdapat isi yang salah. Kritik serta saran akan sangat saya terima. 21 DAFTAR PUSTAKA - https://covid19.go.id/ - https://petadesa.klikdesa.com/desa/profil.php?id=3205240011 - https://m.suaraaktual.co/read-10028-2020-05-01-covid19-menyebabkan-perubahan-sosial- - - mulai-perilaku-hingga-teknologi.html https://djannoveria.blogspot.com/2018/01/bentuk-konsep-struktur-sosial-dan-fisik.html? m=1 https://www.galamedianews.com/daerah/253510/ringankan-warga-terdampak-covid-19pemdes-cangkuang-salurkan-paket-sembako.html http://emmarachmatika.blogspot.com/2013/12/kampung-adat-pulo.html?m=1 http://m.detik.com/news/berita/d-4992065/kemendes-blt-dana-desa-terkait-corona-cairdari-garut-hingga-mandiolo https://www.desabisa.com/mengenal-tipe-desa-dari-sejarahnya/ Ratih, D. (2019) komunitas Kampung Pulo di Cangkuang Kabupaten Garut (Perkembangan Adat Istiadat Setelah Masuknya Islam). Jurnal Artefak, 3(2), 119-130. Modul Mata Kuliah Sosiologi Perdesaan Jilid 1 (Revisi), Nur Endah Januarti, Universitas Negeri Yogyakarta. (2017) https://petitue.wordpress.com/2019/10/22/mendalami-filosofi-kampung-pulo-sebagaisalah-satu-warisan-budaya-kabupaten-garut/ http://bkd.jabarprov.go.id/page/10-geografi-dan-topografi-jawa-barat https://databoks.katadata.co.id?datapublish/2019/10/03/berapa-pendapatan-asli-desa-diprovinsi-jawa-barat HASTUTI, U. Y. V. (2015). KAJIAN KONDISI SOSIAL EKONOMI PEDAGANG MAKANAN DIOBYEK WISATA PANTAI INDAH WIDARAPAYUNG KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN CILACAP (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO) Ramadana, C. B. (2013). Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagai Penguatan Ekonomi Desa. Jurnal Administrasi Publik, 1(6), 1068-1076. 22

Judul: Adilita Pramanti, S.sos., M.si./mamluatul Azizah/sosiologi Pedesaan/ketahanan Sosial Desa Saat Pandemi Covid 19/program Studi Sosiologi/fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik/universitas Nasional

Oleh: Mamluatul Azizah


Ikuti kami