Makalah Statistik Ekonomi Estimasi Sampel

Oleh Andzar Azmi

185,2 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Statistik Ekonomi Estimasi Sampel

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian merupakan proses kreatif untuk mengungkapkan suatu gejala melalui cara tersendiri sehingga diperoleh suatu informasi. Pada dasarnya, informasi tersebut merupakan jawaban atas masalah-masalah yang dipertanyakan sebelumnya. Oleh karena itu, penelitian juga dapat dipandang sebagai usaha mencari tahu tentang berbagai masalah yang dapat merangsang pikiran atau kesadaran seseorang. Penelitian bertujuan menemukan jawaban atas pertanyaan melalui aplikasi prosedur ilmiah. Prosedur ini dikembangkan untuk meningkatkan taraf kemungkinan yang paling relevan dengan pertanyaan serta menghindari adanya bias. Sebab, penelitian ilmiah pada dasarnya merupakan usaha memperkecil interval dugaan peneliti melalui pengumpulan dan penganalisaan data tau informasi yang diperoleh. Dalam melakukan penelitian, populasi dan sampel merupakan satu komponen yang sangat diperlukan. Dalam menentukan populasi dan sampel penelitian, sudah haruslah sesuai dengan langkah-langkah yang ditentukan serta harus tepat dan efisien. Kendala-kendala yang timbul selataknya dapat diantisipasi oleh peneliti. Oleh karenanya, dalam menentukan populasi dan sampel penelitian hendaklah memperhatikan hal-hal yang memang berkaitan dengan populasi dan sampel, sehinggal didapatkan sampel yang tepat. Dalam penelitian pemahaman mengenai populasi dan sampel merupakan hal yang esesial, oleh sebab itu diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang populasi dan sampel tersebut. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pengertian populasi ? 2. Bagaimana pengertian sampel ? 3. Apa saja yang digunakan dalam pemilihan sampel ? 4. Apa saja teknik samping ? 1 5. Apa penyebab kesalahan pengambilan sampel ? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian populasi. 2. Untuk mengetahui pengertian sampel. 3. Untuk mengetahui pemilihan sampel. 4. Untuk mengetahui teknik sampel. 5. Untuk mengetahui penyebab kesalahan pengambilan sampel. 2 BAB II PEMBAHASAN A. Populasi Populasi berasal dari kata bahasa inggris population yang artinya jumlah penduduk. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan1. Menurut Nawawi populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian2. Juga populasi dapat diartikan seagai seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Atau populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti unutk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya3. Populasi dirumuskan sebagai semua anggota sekelompok orang kejadian atau obyek yang telah dirumuskan secara jelas. Atau kelompok lebih besar yang menjadi sasaran generalisasi.4 Didalam buku Metodologi Penelitian, Yusuf, Muri. A menjelaskan bahwa secara umum populasi memiliki beberapa karakteristik, diantaranya:5 1. Populasi merupakan keseluruhan dari unit analisis sesuai dengan informasi yang akan diinginkan. 2. Populasi dapat berupa manusia/individu, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda atau objek maupun kejadian-kejadian yang terdapat dalam suatu area/daerah tertentu yang telah ditetapkan. 1 Sugiyono, Memahami Penelitian Kuantitatif, (Bandung: Alfabeta) 2005, hal. 55. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia) 2005, hal. 327. 3 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta) 2015. 4 Arief Furchan, Agus Mainum, Studi tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh, (Jakarta: Pustaka Pelajar) 2005, hal. 193. 5 Yusuf, Muri. A. Metodologi Penelitian. (Padang: UNP Press) 2007. 2 3 3. Populasi merupakan batas-batas (boundary) yang mempunyai sifat-sifat tertentu yang memungkinkan peneliti menarik kesimpulan dari keadaan itu. 4. Populasi memberikan pedoman kepada apa atau siapa hasil oenelitian itu dapat digeneralisasikan. Dilihat dari jumlahnya populasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: 1. Populasi yang jumlahnya terhingga/terbatas, yakni populasi yang memiliki sumber-sumber data yang jelas batasannya secara kuantitatif. Misalnya seluruh mahasiswa baru tahun 2019 di Provinsi Jawa Barat, semua dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam di kota Bandung tahun 2019. 2. Populasi yang jumlahnya tak terhingga, yakni populasi yang memiliki sumber data yang tidak dapat ditentukan batasannya secara kuantitatif, misalnya semua pengunjung pusan perbelanjaan, semua kendaraan yang melewati Jalan Jenderal Sudirman Jakarta, kelahiran manusia, dan lainlain. Dilihat dari kompleksitas obyek populasi, populasi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :6 1. Populasi homogeny, yaitu keseluruhan yang menjadi populasi, memiliki sifat-sifat yang relative sama satu sama lainnya. 2. Populasi heterogen, yakni keseluruhan individu anggota populasi relative memiliki sifat-sifat individual, dimana sifat-sifat tersebut membedakan individu anggota populasi yang satu dengan yang lainnya. Penelitian yang meneliti seluruh populasi yang diteliti, apabila peneliti ingin melihat semua liku-liku yang ada di dalam populasi, disebut penelitian populasi atau sensus.7 Penelitian jenis ini hanya dapat dilakukan pada jenis populasi yang jumlahnya terhingga dan subyeknya tidak terlalu banyak. 6 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial lainnya, (Jakarta:Kencana Prenama Media Group), 2010, hal, 100. 7 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta) 1996, hal, 116. 4 B. Sampel Menurut Supranto, sampel adalah sebagaian dari populasi,8 sedangkan menurut Sugiyono, sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan penelitian tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu, apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative.9 Margono mengatakan bahwa sampel adalah sebagai bagian dari populasi sebagai contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu. Menurut Hadi menyatakan bahwa sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan hal berikut:10 1. Penelitian bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dan besarnya jumlah populasi, sehingga harus meneliti sebagian saja. 2. Penelitian bermaksud mengadakan generalisasi dari hasil-hasil penelitiannya, dalam arti mengenakan kesimpulan-kesimpulan objek, gejala atau kejadian yang lebih luas. Menurut Burhan Bungin ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan sampel dalam suatu penelitian, agar sampel penelitian memiliki bobot yang representative yang diharapkan, yaitu:11 1. Derajat keseragaman (degree of homogeneity) populasi. Semakin kompleks populasinya semakin besar sampelnya. 2. Derajat kemampuan peneliti mengenai sifat-sifat khusus populasi. 3. Presisi (keseksamaan) yang dikehendaki penelitian. 4. Penggunaan teknik sampling yang tepat. Menurut Marzuki dalam bukunya Metodologi Riset, ada beberapa keuntungan penelitian dengan pengambilan sampel, seperti:12 8 Supranto, J, MA, Statistik Teori dan Aplikasi, Jilid I (Bandung : Erlangga) 2008, hal,22 Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta) 2012, hal. 81. 10 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta) 2004, hal. 121. 11 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatid: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial lainnya, (Jakarta: Kencana Prenama Media Group) 2010, hal. 104. 12 Marzuki, Metodologi Riset, (Yogyakarta: BPFE) 1989, hal.43. 9 5 1. Adanya penghematan biaya, biaya akan lebih murah. Penghematan waktu, wajtu yang diperlukan lebih singkat dan penghematan tenaga, artinya tenaga yang dipergunakan lebih sedikit dibandingkan dengan sensus. 2. Kemungkinan akan diperoleh hasil yang lebih baik dan lebih tepat, karena penelitian dilakukan lebih hati-hati, kesalahan yang mungkin dilakukanpun akan lebih sedikit dan adanya tenaga ahli yang mencukupi. C. Syarat Sampel yang Baik Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa pengukuran artinya sampel harus valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Kalau yang ingin diukur adalah masyarakat Sunda sedangkan yang dijadikan sampel adalah hanya orang Banten saja, maka sampel tersebut tidak valid, karena tidak mengukur sesuatu yang seharusnya diukur (orang Sunda). Sampel yang valid ditentukan oleh dua pertimbangan: 1. Akurasi atau ketepatan, yaitu tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan) dalam sampel. Dengan kata lain semakin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, semakin akurat sampel tersebut. Tolak ukur adanya “bias” atau kekeliruan adalah populasi. 2. Presisi, criteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi. Presisi mengacu pada persoalan sekekat mana estimasi kita dengan karakteristik populasi. Contoh: Dari 300 pegawai produksi, diambil sampel 50 orang. Setelah diukur ternyata rata-rata perhari setiap orang menghasilkan 50 potong produk “X”. namun berdasarkan laporan harian, pegawai bisa menghasilkan produk “X” perharinya rata-rata 58 unit. Artinya diantara laporan harian yang dihitung berdasarkan populasi dengan hasil penelitian yang dihasilkan dari sampel terdapat perbedaan 8 unit. Makin kecil tingkat perbedaan diantara rata-rata sampel, maka semakin tinggi tingkat presisi sampel tersebut. Belum pernah ada sampel yang bisa mewakili karakteristik populasi sepenuhnya. Oleh karena itu dalam setiap penarikan sampel senantiasa melekat 6 kesalahan-kesalahan yang dikenaal dengan nama :sampling error”. Presisi diukur oleh simpangan baku (Standard error). Semakin kecil perbedaan diantara simpangan baku yang diperoleh dari sampel (N) dengan simpangan baku dari populasi (n), semakin tinggi pula tingkat presisinya. Walau tidak selamanya, tingkat presisi mungkin bisa meningkat dengan cara menambahkan jumlah sampel, karena kesalahan mungkin bisa berkurang kalau jumlah sampelnya ditambah. Dari berbagai pendapat yang telah dibahas diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri sampel yang baik adalah: 1. Sampel dipilih dengan cara hati-hati, dengan menggunakan cara tertentu dan benar. 2. Sampel harus diwakili populasi, sehingga gambaran yang diberikan mewakili keseluruhan karakteristik yang terdapat pada populasi. 3. Besarnya ukuran sampel hendaknya mempertimbangkan tingkat kesalahan sampel yang dapat ditolelir dan tingkat kepercayaan yang dapat diterima secara statistik. Penggunaan sampel dalam kegiatan penelitian dilakukan dengan berbagai alasan. Antara lain:13 1. Ukuran populasi Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Kareka itu sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian pula dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok indonesia misalnya. 2. Masalah biaya Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki, semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang 13 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta) 2004, hal. 121. 7 diperlukan, lebih-lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah salah satu cara untuk mengurangi biaya. 3. Masalah waktu Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit dari pada penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu, apabila waktu yang tersedia terbatas dan kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel dalam hal ini lebih cepat. 4. Percobaan yang sifatnya merusak Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel. 5. Masalah ketelitian Ketelitian dalam penelitian meliputi pengumpulan, pencatatan dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselenggarakan, boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dalam melakukan tugasnya. Untuk menghindari itu semua, penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian. 6. Masalah ekonomi Pertnayaan yang harus diajukan oleh seseorang peneliti; apakah kegunaan dari hasil penelitian sapadan dengan biaya, waktu dan tenaga yang telah dilakukan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian dampel pada dasarnya akan lebis ekonomis dari pada penelitian populasi. 8 D. Menentukan Ukuran Sampel Menurut Radiany, ada beberapa rumus untuk menentukan ukuran sampel, antara lain:14 1. Tabel Isaac dan Michael Tabel penentuan jumlah sampel dari Isaac dan Michael memberikan kemudahan penentuan jumlah sampel berdasarkan tingkat kesalahan 1%, 5% dan 10%. Dengan tabel ini, peneliti dapat secara langsung menentukan sampel berdasarkan jumlah populasi dan tingkat kesalahan yang dihendaki. 2. Rumus Slovin Keterangan: n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolelir atau diinginkan, misalnya 2%. 3. Gay dan Diehl Gay dan Diehl berpendapat bahwa sampel haruslah sebesar-besarnya. Pendapat ini mengasumsikan bahwa semakin banyak sampel yang diambil maka akan semakin representative dan hasilnya dapat digenelisir. Namun ukuran sampel yang diterima akan sangat bergantung pada jenis penelitiannya.15 a. Jika penelitiannya bersifat deskriptif, maka sampel minimumnya adalah 10% dari populasi b. Jika penelitiannya korelasional, sampel minimumnya adalah 30 subjek. 14 Radiany, Rahmady HM, Rumus dan Contoh Penghitungan, (Surabaya) 2004, hal. 109. Menentukan Ukuran Sampel Menurut Para Ahli, https://teorionlinejurnal.wordpress.com/2012/08/20/menentukan-ukuran-sampel-menurut-paraahli/ Diakses 21 Maret 2019. 15 9 c. Apabila penelitiannya kausal perbandingan, sampelnya sebanyak 30 subjek per group. d. Apabila penelitiannya eksperimental, sampel minimimnya adalah 15 subjek per group. E. Teknik Sampling Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel.16 Adapun yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang refresentatif. 17 Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Secara skematis teknik sampling ditunjukan pada gambar sebagai berikut:18 TEKNIK SAMPLING Probability Sampling Non Probability Sampling 1. 2. 3. 4. 5. 6. 1. Simple random sampling 2. Proportionate stratified random sampling 3. Disproportionate stratified random sampling 4. Area ( cluster ) sampling ( sampling menurut daerah ) Sampling sistematis Sampling kuota Sampling incidental Purposive Sampling Sampling jenuh Snowball sampling 1. Probability Sampling 16 Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta) 2001 hal 56 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta) 2004 hal. 125 18 Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta) 2001 hal 57 17 10 1. Probability Sampling Probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsure (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik sampel ini meliputi:19 a. Simple random sampling Menurut Kerlinger, simple random sampling adalah metode penarikan dari sebuah populasi atau semesta dengan cara tertentu sehingga setiap anggota populasi atau semesta tadi memiliki peluang yang sama untuk terpilih atau terambil.20 Menurut Sugiyono dinyatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.21 Margono menyatakan bahwa simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling.22 Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogeny. Teknik ini dapat digunakan bilamana jumlah unit sampling didalam suatu populasi tidak terlalu besar. Missal, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program S1 (unit sampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik dengan cara undian, ordinal, maupun tabel bilangan random. Teknik ini dapat digambarkan dibawah ini. Populasi Homogen Diambil secara random 19 Sampel yang Representatif Ibid. Kerlinger, Asas-asas Penelitian Behavour, Edisi 3, Cetakan 7, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press) 2006, hal.188. 21 Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, (Bandung: Alfabeta) 2001, hal.57. 22 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta) 2004, hal. 126. 20 11 b. Proportionate stratified random sampling Margono menyatakan bahwa stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis.23 Menurut Sugiyono teknik ini digunakan bila populasi anggota/unsure yang tidak homogeny dan berstrata secara proporsional.24 Misalnya suatu organisasi yang mempuyai pegawai itu berstrata. Populasi berjumlah 100 orang diketahui bahwa 25 orang berpendidikan SMA, 15 orang diploma, 30 orang S1, 15 orang S2, dan 15 orang S3. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut dan diambil secara proporsional. Teknik Proportionate Stratified Random Sampling digunakan bila populasi mempunya anggota/unsure yang tidak homogeny dan berstrata secara proporsional. Misalnya, populasi nya adalah karyawan PT. Origin Coffee berjumlah 100. Dengan rumus Slovin dan tingkat kesalahan 5% diperoleh besar sampel adalah 80. Populasi sendiri terbilang ke dalam tiga bagian (marketing, produksi dan penjualan) yang masing-masing berjumlah: Marketing : 10 Produksi : 60 Penjualan : 30 Maka jumlah sampel yang diambil berdasarkan masing-masing bagian tersebut ditentukan kembali dengan rumus n=(populasi kelas / jumlah populasi keseluruhan) x jumlah sampel yang ditentukan. Marketing : 10 / 100 x 80 =8 Produksi : 60 / 100 x 80 = 48 Penjualan : 30 / 100 x 80 = 24 Sehingga keseluruhan sampel kelas tersebut adalah 8 + 48 + 24 = 80 sampel. 23 24 Ibid. Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, (Bandung: Alfabeta) 2001, hal.57. 12 c. Disproportionate stratified random sampling Sugiyono menyatakan abhwa teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah samoel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. 25 Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang lulusan S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU dan SMP. d. Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah) Teknik ini disebut juga Cluster random sampling. Menurut margini, teknik ini digunakan bikamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompokk-kelompok individu atau cluster. 26 Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu Negara, provinsi atau kabupaten. Indonesia memiliki 34 provinsi dan akan menggunakan 10 provinsi. Pengambilan 10 provinsi itu dilakukan secara random. Tetapi diingat karena provinsi-provinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Contoh tersebut dikemukakan oleh Sugiyono, sedangkan contoh lain yang dikemukakan oleh margono. Ia mencontohkan bila penelitian dilakukan terhadap populasi langsung pada semua pelajar-pelajar pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster. Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. 2. Nonprobability Sampling Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Menurut sugiyono nonprobability sampling adalah teknik 25 26 Ibid, hal. 59 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta) 2004, hal.127. 13 yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi:27 a. Sampling sistematis Sugiyono menyatakan bahwa sampling sistematis adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. 28 Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota diberi nomor urut, yaitu 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu, yang diambil sebagai sampel adalah 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100. b. Quota sampling Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Menurut Margono dalam teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok.29 Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quota tertentu terhadap kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah kuota terpenuhi, pengumpulan data dihentikan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah jumlah sampel ditentukan 100 dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang. Maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang. c. Sampling aksidental Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.30 Menurut Margono menyatakan bahwa dalam teknik ini pengambilan sampel tidak ditetapkan 27 lebih dahulu. Peneliti langsung Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta) 2001 hal.61. Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, (Bandung: Alfabeta) 2001 hal.60 29 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta:Rineka Cipta) 2004 hal.127. 30 Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta) 2001 hal 60 28 14 mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemui. 31 Msialnya penelitian tentang pendapat umum mengenai pemilu dengan mempergunakan setiap warga segara yang telah dewasa menjadi unit sampling. Peneliti mengumpulkan data langsung dari setiap orang dewasa yang dijumpainya, sampai jumlah yang diharapkan terpenuhi. d. Purposive sampling Sugiyono menyatakan bahwa sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.32 Menurut Margono pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya, dengan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan criteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian.33 Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai maka sampel yang dipilih adalah orang yang memenuhi criteria-kriteria kedisiplinan pegawai. e. Sampling jenuh Menurut Sugiyono sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.34 Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relative kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.35 f. Snowball Sampling Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilik teman temannya untuk dijadikan sampel.36 Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding, makin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel purposive dan snowball. Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya 31 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta) 2004 hal. 127. Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, (Bandung: Alfabeta) 2001 hal.61. 33 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta) 2004 hal. 128. 34 Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, (Bandung: Alfabeta) 2001 hal.61. 35 Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta) 2001 hal. 61. 36 Ibid. 32 15 bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pandangan wanita terhadap poligami. Peneliti cukup mencari satu orang wanita dan kemudian melakukan wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi minta kepada wanita tersebut untuk bisa mewawancarai teman lainnya. Responden A Responden B Keterangan: Responden C D E F G H I J K L M Responden A adalah sampel pertama yang dipilih oleh peneliti, dan responden A mewawancarai responden B dan C. lalu responden A memberikan hasil wawancaran responden B dan C kepada peneliti. Lalu responden B mewawancarai reponden D dan E, begitupun responden C mewawancarai responden F, G dan H. Lalu responden B dan C memberikan hasil wawancara nya kepada peneliti. Begitupun seterusnya. F. Kekeliruan Sampling Kekeliruan sampling adalah kekeliruan yang timbul disebabkan oleh kenyataan adanya pemeriksaan yang tidak lengkap tentang populasi dan penelitian hanya dilakukan berdasarkan sampel.37 Penelitian terhadap sampel yang diambil dari sebuah populasi dan penelitian terhadap populasi itu sendiri, kedua penelitian dilakukan dengan proseduryang sama, hasilnya akan berbeda. Perbedaan antara 37 Sudjana, Metoda Statistika Cet. 1, (Bandung: Tarsito), 2005, hal. 176. 16 hasil sampel dan hasil yang akan dicapai jika prosedur yang sama yang digunakan dalam sampling juga digunakan dalam sensus dinamakan kekeliruan sampling. Menurut Sudjana para ahli statistika telah berusaha untuk mengukur dan memperhitungkan kekeliruan ini agar supaya dapat dikontrol. Cara untuk melakukannya ialah dengan jalan mengambil sampel berdasarkan sampling acak dan memperbesar ukuran sampel.38 G. Kekeliruan Nonsampling Kekeliruan nonsampling adalah kekeliruan yang bisa terjadi dalam setiap penelitian, apakah itu berdasarkan sampling atau berdasarkan sesus. Beberapa penyebab terjadinya kekeliruan nonsampling adalah:39 1. Populasi tidak didefinisikan sebagaimana mestinya. 2. Populasi yang menyimpang dari populasi yang seharusnya dipelajari. 3. Kuesioner tidak dirumuskan sebagaimana mestinya. 4. Istilah-istilah telah didefinisikan secara tidak tepat atau telah digunakan tidak secara konsisten. 5. Para responden tidak memberikan jawab yang akurat, menolak untuk menjawab atau tidak ada ditempat ketika petugas datang untuk melakukan wawancara. Kesalahan bukan karena sampling disebabkan oleh hal-hal yang sering nonteknis sifatnya, seperti kurang sadarnya responden, kekeliruan pemeriksaan kesalahan mencatat, kelupaan karena kesalahan, kecerobohan, kesalahpahaman terhadap konsep dan definisi, salah mengukur, salah menghitung dan sebagainya. Sedangkan menurut sabri L dan Hastono, kesalahan nonsampling maksudnya adakah kesalahan yang bukan karena sampel tetapi disebabkan pelaksanaan dalam pengambilan sampel sampai analisisnya.40 38 Ibid, Ibid, 40 Hastono, L Sabri, Statistik Kesehatan, (Jakarta: Rajawali Pers), 2010. 39 17 BAB III KESIMPULAN Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwaperistiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian. Juga populasi dapat diartikan seagai seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Atau populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti unutk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan penelitian tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu, apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Pada dasarnya teknik sampling dibagi menjadi dua, yaitu probability sampling dan nonprobability sampling. Kekeliruan sampling adalah kekeliruan yang timbul disebabkan oleh kenyataan adanya pemeriksaan yang tidak lengkap tentang populasi dan penelitian hanya dilakukan berdasarkan sampel. Penelitian terhadap sampel yang diambil dari sebuah populasi dan penelitian terhadap populasi itu sendiri, kedua penelitian dilakukan dengan proseduryang sama, hasilnya akan berbeda. Perbedaan antara hasil sampel dan hasil yang akan dicapai jika prosedur yang sama yang digunakan dalam sampling juga digunakan dalam sensus dinamakan kekeliruan sampling. Sedangkan kekeliruan nonsampling adalah kekeliruan yang bisa terjadi dalam setiap penelitian, apakah itu berdasarkan sampling atau berdasarkan sesus. 18 DAFTAR PUSTAKA Bungin, Burhan. 2010. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial lainnya, Jakarta:Kencana Prenama Media Group Furchan, Arief & Agus Mainum, 2005. Studi tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh, Jakarta: Pustaka Pelajar Hastono, L Sabri, 2010. Statistik Kesehatan, Jakarta: Rajawali Pers Kerlinger, 2006. Asas-asas Penelitian Behavour, Edisi 3, Cetakan 7, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Margono, 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta Marzuki, 1989. Metodologi Riset, Yogyakarta: BPFE Muri. A. Yusuf,. 2007 Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press Nazir, 2005. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia Radiany, Rahmady HM, 2004. Rumus dan Contoh Penghitungan, Surabaya Sudjana, 2005. Metoda Statistika Cet. 1, Bandung: Tarsito Sugiyono, 2005. Memahami Penelitian Kuantitatif, Bandung: Alfabeta Sugiyono, 2012. Statistika untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta Sugiyono, 2015. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta Suharsimi Arikunto, 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta Supranto, J, MA, 2008. Statistik Teori dan Aplikasi, Jilid I, Bandung : Erlangga Menentukan Ukuran Sampel Menurut Para Ahli, https://teorionlinejurnal.wordpress.com/2012/08/20/menentukan-ukuran-sampel-menurut-paraahli/ Diakses 21 Maret 2019. 19

Judul: Makalah Statistik Ekonomi Estimasi Sampel

Oleh: Andzar Azmi


Ikuti kami