Makalah Filsafat Ilmu Silogisme Dan Proposisi Kategoris

Oleh Sigit Surya

9 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Filsafat Ilmu Silogisme Dan Proposisi Kategoris

MAKALAH FILSAFAT ILMU
Silogisme dan Proposisi Kategoris

Disusun oleh :
Nama

:

NPM

:

Program Studi
Fakultas
Universitas
2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Manusia dalam kehidupan sehari-hari dan disegala aktivitasnya tidak pernah
lepas dari proses berfikir di mana di dalamnya ada proses berfikir secara logis. Dalam
berfikir/bernalar manusia selalu mengeksplisitkan apa yang mereka pikirkan dalam
bentuk pernyataan-pernyataan atau bahasa yang juga dapat disebut dengan Logika.
Ilmu Logika ini mempelajari mengenai kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat,
dan teratur. Berpikir secara logis adalah berpikir secara rasional atau masuk akal yang
dinyatakan dalam pernyataan-pernyataan tertentu dan diwujudkan kedalam suatu
tindakan.
Hal yang sangat penting juga adalah belajar membuat deduksi yang berani
dengan salah satu cara untuk melahirkannya adalah silogisme. Hal ini diperlukan
karena mengajarkan kita untuk dapat melihat konsekwensi dari sesuatu pendirian atau
pernyataan yang apabila ditelaah lebih lanjut, kebenaran pendirian atau pernyataan itu
tadi.
Mungkin hal itu bisa terjadi karena tidak mau menghargai kebenaran dari sesuatu
tradisi atau tidak dapat menilai kegunaannya yang besar dari sesuatu yang berasal dari
masa lampau, ada juga sebagian orang yang mengatakan atau menganggap percuma
mempelajari seluk beluk silogisme. Tetapi mungkin juga anggapan itu didasarkan pada
kenyataan bahwa biasanya dalam proses penulisan atau pemikiran hanya sedikit orang
yang dapat mengungkapkan pikirannya dalam bentuk silogisme.
Kata logika juga sering kita dengar atau kita ketahui, logika mempelajari cara
bernalar yang benar dan kita tidak bias melaksanakannya tanpa memiliki dahulu
pengetahuan yang menjadi premisnya. didalam percakapan sehari-hari kita biasanya
mengunakan penalaran akal atau menururt akal. Logika sebagai istilah berarti suatu
metode atau teknik yang diciptakan untuk meneliti ketetapan penalaran. Sedangkan
penalaran yaitu suatu bentuk pikiran. Didalam penalaran terdapat sebuah pernyataan
atau proposisi yang dimana arti proposisi adalah sebuah pernyataan. Pernyataan

pikiran manusia adakalanya mengungkapkan keinginan, perintah, harapan, cemooh,
kekaguman dan pengungkapan realitas tertentu baik dinyatakan dalam bentuk positif
maupun bentuk negatif.

2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian silogisme ?
2. Apa pengertian proposisi ?
3. Apa pengertian proposisi kategoris?

BAB II
PEMBAHASAN

DEFINISI SILOGISME
Dilihat dari bentuknya silogisme adalah contoh yang paling tegas dalam cara
berpikir deduktif yakni mengambil kesimpulan khusus dari kesimpulan umum.
Silogisme merupakan suatu pengambilan kesimpulan dari dua macam keputusan (yang
mengandung unsur yang sama dan salah satunya harus universal) suatu keputusan
yang ketiga yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya.
Dengan kata lain silogisme adalah merupakan pola berpikir yang di susun dari dua
buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Contoh:
Keputusan 1
Semua makhluk mempuyai mata,
Keputusan 2
Reni adalah seorang mahluk
Kesimpulan
Jadi Reni mempuyai mata.
Pada contoh diatas kita melihat adanya persamaan antara keputusan pertama
dengan keputusan kedua yakni sama-sama mahkluk dan salah satu dari keduanya
universal (Keputusan pertama) oleh karena itu nilai kebenaran dari keputusan ketiga
sama dengan nilai kebenaran dua keputusan sebelumnya. Kesimpulan yang diambil
bahwa Si Reni mempuyai mata adalah sah menurut penalaran deduktif, sebab
kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Pertanyaan
apakah kesimpulan itu benar maka hal ini harus di kembalikan kepada kebenaran
premis yang mendahuluinya. Sekiranya kedua premis yang mendukungnya adalah
benar maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang ditariknya juga adalah benar.
Dengan demikian maka ketetapan penarikan kesimpulan tergantung dari tiga
hal yakni kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor dan keabsahan
pengambilan kesimpulan. Dan ketika salah satu dari ketiga unsur tersebut
persyaratannya tidak di penuhi maka kesimpulan yang ditariknya akan salah.
Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif, Argumentasi
matematik seperti: a sama dengan b dan bila b sama dengan c maka a sama dengan c
hal ini merupakan penalaran deduktif, Kesimpulan yang berupa pengetahuan baru
bahwa a sama dengan c pada hakekatnya bukan merupakan pengetahuan baru dalam
arti yang sebenarnya, melainkan sekedar konsekwensi dari dua pengetahuan yang
sudah kita ketahui sebelumnya, yakni bahwa a sama dengan b dan b sama dengan c.
BAGIAN-BAGIAN SILOGISME
1. Bagian pertama adalah keputusan pertama, yang biasanya disebut premis
mayor. Premis mempuyai arti kalimat yang di jadikan dasar penarikan

kesimpulan, ada juga yang mengatakan premis adalah kata-kata atau tulisan
sebagai pendahulu untuk menarik suatu kesimpulan atau dapat juga diartikan
sebagai pangkal pikiran. Mayor artinya besar. Primis mayor artinya pangkal
pikir yang mengandung term mayor dari silogisme itu, dimana nantinya akan
muncul menjadi predikat dalam konklusi (kesimpulan)
2. Bagian kedua adalah keputusan kedua, yang umumnya di sebut
dengan premis minor. Premis minor artinya pangkal pikiran yang
mengandung term minor (Kecil) dari silogisme itu, dimana nantinya akan
muncul menjadi subjek dalam konklusi.
3. Bagian ketiga adalah keputusan ketiga yang disebut konklusi atau
kesimpulan, adalah merupakan keputusan baru (dari dua keputusan
sebelumnya) yang mengatakan bahwa apa yang benar dalam mayor, juga benar
dalam term minor.
Bila dirumuskan secara matematis sebagai berikut:
a) Keputusan 1: (M=P)
Semua manusia bernapas dengan paru-paru (Premis Mayor)
b) Keputusan 2: (S=M)
Mahasiswa adalah manusia
(Premis Minor)
c) Keputusan 3: (S=P)
Mahasiswa bernapas dengan paru-paru
(Kesimpulan)
Silogisme dibedakan menurut bentuknya, berdasarkan pada kedudukan term
tengah (M) di dalam proposisi. Terdapat empat bentuk silogisme, yaitu:
1. Bentuk I
Term tengah (M) berkedudukan sebagai subyek di dalam premis mayor, dan
berkedudukan sebagai predikat dalam premis minor.
Maka bentuknya adalah :
M=P
S=M
S=P
S : Term Mayor misal

: Kantor Pajak

P : Term Minor misal

: Pelayan Publik

M : Term Tengah misal

: birokrasi

Contoh:
Premis Mayor (M=P

: Semua birokrasi adalah pelayan publik

Premis Minor (S=M)

: Kantor pajak adalah birokrasi

Silogisme (S=P)

: Kantor pajak adalah pelayan publik

2. Bentuk II :
Term tengah (M) berkedudukan sebagai predikat baik, di dalam premis mayor
maupun di dalam premis minor.
Maka bentuknya adalah:
P=M
S=M
S=P
Contoh:
Premis Mayor (P=M)

: Semua pelayan public adalah aparatur birokrat

Premis Minor (S=M)

: Zahra adalah aparatur birokrat

Silogisme (S=P)

: Zahra adalah pelayan publik

3. Bentuk III :
Term tengah (M) berkedudukan sebagai subyek, baik di dalam premis mayor
maupun di dalam premis minor.
Maka bentuknya adalah :
M=S
M=P
S=P
Contoh:
Premis Mayor (M=S)

: Pembuat kebijakan adalah administrator publik

Premis Minor (M=P)

: Pembuat kebijakan adalah pelayan publik

Silogisme (S=P)

: Administrator public adalah pelayan publik

4. Bentuk IV :
Term tengah (M) berkedudukan sebagai predikat di dalam premis mayor, dan
berkedudukan sebagai subyek dalam premis minor.
Maka bentuknya adalah :
S=M
M=P

S=P
Contoh:
Premis Mayor (S=M)

: Semua koruptor adalah orang tidak beretika.

Premis Minor (M=P)

: Orang yang tidak beretika adalah pelaku
kejahatan publik

Silogisme (S=P)

: Semua koruptor adalah pelaku kejahatan publik

Dari masing-masing bentuk ini jika diterapkan dengan perubahan kualitas dan
kuantitas dari premis-premisnya akan timbul 16 macam kemungkinan bentuk
silogisme baru. Sehingga bentuk silogisme ada 4x16 = 64 macam. Namun bentuk
silogisme yang benar harus sesuai dengan hukum silogisme sebagai mana diterangkan
di muka. Dari 64 bentuk silogisme yang mungkin timbul hanya 19 macam yang
ternyata sesuai dengan syarat-syarat (hukum silogisme) yang dikehendaki oleh
silogisme.
DEFINISI PROPORSISI
Proposisi adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang dapat dinilai benar dan
salahnya. Proposisi merupakan unit terkecil dari pemikiran yang mengandung maksud
sempurna. Jika kita menganalisis suatu pemikiran, taruhlah suatu buku, kita akan
mendapati suatu pemikiran dalam buku itu, dan lebih khususnya lagi dalam babbabnya, kemudian pada paragrafnya dan akhinya pada unit yang tidak dapat dibagi
lagi yakni yang disebut proposisi. Proposisi itu sendiri masih bisa di analisis lagi
menjadi kata-kata, tetapi kata-kata hanya menghadirkan pengertian sesuatu, bukan
maksud atau pemikiran sesuatu.
Dalam logika dikenal adanya dua macam proposisi, menurut sumbernya, yaitu
proposisi analitik dan proposisi sintetik. Proposisi analitik adalah predikatnya sudah
mempunyai pengertian yang sudah terkandung pada subyeknya.
Contoh

: Mangga adalah buah-buahan
Kuda adalah hewan
Ayah adalah orang laki laki

Kata ‘hewan’ pada contoh ‘kuda adalah hewan’ pengertian sudah tergantung
pada subyek ‘kuda’. Jadi predikat pada proposisi analitik tidak mendatangkan
pengetahuan baru. Untuk menilai benar tidaknya proposisi serupa kita lihat ada

tidaknya pertentangan dalam diri pernyataan itu, sebagai mana yang telah pelajari
tentang ukuran kebenaran pada bab lalu. Proposisi analitik disebut juga proposisi a
priori.
Proposisi sintetik adalah proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian
yang bukan menjadi keharusan bagi subyeknya.
Contoh : Pepaya ini manis
Gadis itu gendut
Oasis adalah kaya raya
Kata ‘manis’ pada proposisi ‘gadis ini manis’ pengertiannya belum terkandung
pada subyeknya, yaitu ‘gadis’. Jadi kata ‘manis’ merupakan pengetahuan baru yang
dapat melalui pengalaman. Proposisi sintetik adalah lukisan dari kenyataan empirik
maka untuk menguji benar salahnya diukur berdasarkan sesuai tidaknya dengan
kenyataan empiriknya. Proposisi ini di sebut juga proposisi a posteriori.
Proposisi juga dapat didefinisikan ungkapan keputusan dalam kata-kata, atau
juga manifestasi luaran dari sebuah keputusan. Secara subyektif, keputusan berarti
suatu aksi pikiran yang dengan itu kita membenarkan atau menyangkal sesuatu;
misalnya: kusni kasdut adalah penjahat ulung; wanita itu bukan pacarku. Secara
objektif, keputusan berarti sesuatu yang dapat di benarkan (affirmed) atau disangkal.
Jadi , bisa benar atau salah. Logika, seperti juga yang kita katakan tentang ide atau
konsep, pertama-tama hanya membicarakan keputusan objektif, hanya secara tidak
langsung membicarakan keputusan aksi intelek.
Apa yang dibenarkan atau disangkal dalam suatu kepautusan Selalulah
hubungan yang terdapat antara dua konsep yang objektif. Dan hubungan tersebut dapat
berwujud:
1. Hubungan identitas atau kebedaan atau juga bisa terdapat
2. Bentuk

bentuk

hubungan

lainya,

misalnya

hubungan

dependensi

(ketergantungan), dan lain-lain.
Proposisi sendiri secara umum dibagi menjadi tiga yaitu proposisi kategorik,
proposisi hipotesis, proposisi disyungtif, pertama kita akan membahas tentang
proposisi kategorik.

PROPOSISI KATEGORIK
Proposisi kategorik adalah proposisi yang mengandung pernyataan tanpa adanya
syarat, seperti :
Hasan sedang sakit
Anak-anak yang tingal diasrama adalah mahasiswa
Orang rajin akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang mereka harapan
Proposisi kategorik yang paling sederhana terdiri dari satu term subyek, satu
term predikat, satu kopula dan satu quantifier
Kita akan jelaskan satu persatu antara subyek, predikat, kopula, dan quantifier.
Baik kita akan meluai dari subyek sebagaimana kita ketahu mengenai subyek adalah
sebuah term yang menjadi pokok pembicaraan. Predikat adalah term yang
menerangkan sbuyek. Kopula adalah kata yang menyatakan hubungan antara term
subyek dan term predikat. Quantifier adalah kata yang menunjukan banyaknya satuan
yang diikat oleh term subyek.
Sebagian

Manusia

Adalah

Pemabuk

1

2

3

4

Quantifier

term subyek

kopula

term predikat

Quantifier adakalanya kepada permasalahan universal seperti kata: seluruh,
semua.; ada kalanya menunjukan permasalahan partikular , seperti: sebagian,
kebanyakan; dan ada kalanya menunjukan permasalahan singular, tetapi permasalahan
singular biasanya quantifier tidak dinyatakan.
Apabila quantifier suatu proposisi menunjukan kepada permasalahan universal
maka proposisi itu disebut proposisi universal; jika permasalahan partikular maka akan
disebut proposisi partikular, jika permasalahan singular, disebut proposisi singular.
Perlu diketahui, meskipun dalam suatu proposisi tidak dinyatakan quantifier-nya
tidak berarti subyek dari proposisi tidak mengandung pengertian banyaknya
satuanyang diikatnya. Dalam keadaan apapun sunyek selalu mengandung jumlah yang
diikat. Sekarang perhatikan dahulu proposisi yang quantifier-nya dinyatakan:
Poposisi universal

= Semua tanaman membutuhkan air

Proposisi partikular

= Sebagian manusia dapat menerima pendidikan tinggi.

Proposisi singular

= Seorang yang bernama Hasan adalah seorang guru

Poposisi universal

= Tanaman Membutuhakan air

Proposisi partikular

= Manusia dapat menerima pendidikan tinggi.

Proposisi singular

= Hasan adalah seorang guru

Proposisi tersebut dapat dinyatakan tanpa disebut quantifier-nya tanpa
mengubah kuantitas proposisinya.
Dalam proposisi ‘Tanaman membutuhkan air’, meskipun quantifiernya-nya
tidak dinyatakan, yang dimaksud adalah semua tanaman, karena tidak satupun
tanaman yang bisa tumbuh tanpa membutuhkan air. Pada proposisi ‘Manusia dapat
menerima pendidikan tingi’ yang dimaksud adalah sebagian manusia, karena tidak
semua manusia dapat menerima pendidikan tinggi. Sedangkan pada proposisi ‘Hasan
adalah guru’ yang dimaksud tentulah seorang, bukan beberapa orang.
Kopula, sebagai mana telah disebut, adalah kata yang menegaskan hubungan
term subjek dan term predikat dan term predikat baik hubungan mengiakkan maupun
hubungan mengingkari. Kopula menentukan kualitas proposisinya. Bila ia mengiakan,
proposisi positif dan bila mengingkari disebut proposisi negatif.
Proposisi positif : hasan adalah guru
Proposisi negatif : budi bukan seniman
Kombinasi antara kuantitas dan kualitas proposisi maka kita kenal enam macam
proposisi, yaitu :
Universal positif, seperti : Semua manusia akan mati
Partikular positif, seperti : Sebagian manusia adalah guru
Singular positif, seperti : Rudi adalah pemain bulu tangkis
Universal negatif, seperti : Semua kucing bukan burung
Partikular negatif, seperti : Beberapa mahasiswa tidak lulus
Singular negatif, seperti : Fatimah bukan gadis pemalu
Proposisi universal positif, kopulanya mengakui hubungan subyek dan predikat
secara keseluruhan, dalam Logika dilambangkan dengan huruf A. Proposisi partikular
positif kopula mengakui hubungan subyek dan predikat sebagian saja dilambangkan
dengan huruf I. Proposisi singular positif karena kopulanya mengakui hubungan
subyek dan predikat secara keseluruhan maka juga dilambangkan dengan huruf A.
Huruf A dan I masing-masing sebagai lambang proposisi universal positif dan

partikular positif diambil dari dua huruf hidup pertama kata Latin Affirmo yang berarti
mengakui.
Proposisi universal negatif kopulanya mengingkari hubungan subyek dan
predikatnya secara keseluruhan, dalam Logika dilambangkan dengan huruf E.
Proposisi partikular negatif kopulanya mengingkari hubungan subyek dan predikat
sebagian saja, dilambangkan dengan huruf O. Proposisi singular negatif karena
kopulanya mengingkari hubungan subyek dan predikat secara keseluruhan, juga
dilambangkan dengan huruf E. Huruf E dan O yang dipakai sebagai lambang tersebut
diambil dari huruf hidup dalam kata nEgo, bahasa Latin yang berarti menolak atau
mengingkari.
Lambang

Permasalahan

Rumus

A

Universal Positif

Semua S adalah P

I

Partikular positif

Sebagian S adalah P

E

Universal negatif

Semua S bukan P

O

Partikular negatif

Sebagian S bukan P

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Silogisme adalah suatu cara untuk melahirkan deduksi. Silogisme mengajarkan
pada kita merumuskan, menggolongkan pikiran sehingga kita dapat melihat
hubungannya dengan mudah. Dengan demikian kita belajar berfikir tertib,
jelas, tajam. Ini diperlukan karena mengajarkan kita untuk dapat melihat akibat
dari suatu pendirian atau pernyataan yang telah kita lontarkan.
2. Proposisi adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang dapat dinilai benar dan
salahnya.
3. Proposisi kategorik adalah proposisi yang mengandung pernyataan tanpa
adanya syarat.

DAFTAR PUSTAKA
Jalil, mat. Mantiq/Logika: Berfikir Logis. Lampung: CV. Citra Rafitama Production
Mundiri, 2001, Logika, RajaGrafindo Persada: Jakarta
Mundiri, 2001, Logika, RajaGrafindo Persada: Jakarta
Surajiyo, dkk, dasar-dasar logika, Jakarta, bumi aksara, 2006
W.Poespoprodjo,1999,LOGIKA SCIENTIFIKA,Pustaka Grafika.Bandung.

Judul: Makalah Filsafat Ilmu Silogisme Dan Proposisi Kategoris

Oleh: Sigit Surya


Ikuti kami