Pemijahan Buatan Dan Teknik Inkubasi Telur

Oleh Jojo Subagja

1 MB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Pemijahan Buatan Dan Teknik Inkubasi Telur

Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan Patin Indonesia, Pangasius djambal Penyusun: Jacques Slembrouck, Oman Komarudin, Maskur dan Marc Legendre © IRD-BRKP 2005, ISBN: Bab V Pembuahan buatan dan teknik inkubasi telur Slembrouck J.(a), J. Subagja(b), D. Day(c), Firdausi(d) dan M. Legendre(e) (a) IRD (Lembaga Penelitian Perancis untuk Pembangunan), Wisma Anugraha, Jl. Taman Kemang Selatan No. 32B, 12730 Jakarta, Indonesia. (b) BRPBAT (Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar), Jl. Sempur No. 1, PO. Box 150 Bogor, Indonesia. (c) BBAT (Balai Budidaya Air Tawar), Jl. Jenderal Sudirman No. 16C, The Hok, Jambi Selatan, Jambi, Sumatera, Indonesia. (d) Loka BAT Mandiangin (Lokasi Budidaya Air Tawar Mandiangin), Jl. Tahura Sultan Adam, Mandiangin, Kabupaten Banjar 70661, Kalimantan Selatan, Indonesia. (e) IRD/GAMET (Groupe aquaculture continentale méditeranéenne et tropicale) BP 5095, 34033 Montpellier cedex 1, France. Bab V Teknik pembuahan buatan yang digunakan untuk P. djambal adalah metode kering (dry method), yaitu sperma disebarkan terlebih dahulu dan dicampur secara manual dengan sel telur yang dikumpulkan. Untuk meningkatkan derajat pembuahan disarankan untuk membagi sel telur dalam kelompokkelompok kecil antara 100 – 200 g (100 – 200 mL) dalam wadah plastik. Untuk pembuahan, 5 mL sperma yang terlarut dituangkan pada 100 g (100 mL) kelompok sel telur, kemudian dicampur atau diaduk secara hatihati dengan menggunakan bulu ayam sampai sperma tersebar secara merata pada masa sel telur (Lembaran V.1). Pengaktifan spermatozoa dipicu dengan penambahan air tawar. Rasio yang biasanya digunakan adalah satu volume air tawar untuk satu volume sel telur. Air tawar harus ditambahkan secara cepat untuk mengaktifkan semua spermatozoa dalam waktu bersamaan. Disarankan mengaduk atau mencampur dengan bulu ayam selama satu menit untuk memperoleh pembuahan yang baik (Legendre dkk., 2000; Cacot dkk., 2002). Kemudian telur-telur harus dicuci dengan air bersih untuk membuang kelebihan spermatozoa sebelum memindahkannya ketempat inkubasi (Lembaran V.1). Telur-telur P. djambal sangat peka terhadap getaran mekanis. Sebagai konsekuensi, pada umumnya getaran akan menyebabkan tingkat penetasan telur yang rendah dan meningkatkan proporsi larva yang abnormal. Penanganan telur harus dilakukan secara hati-hati untuk mengoptimalkan tingkat atau derajat penetasan telur serta jumlah larva yang normal. TEKNIK INKUBASI TELUR Seperti halnya P. hypophthalmus, telur-telur P. djambal bersifat mudah tenggelam, berbentuk bulat atau sedikit lonjong dan menjadi lengket setelah berhubungan dengan air. Telur-telur tersebut menempel satu sama lain atau pada substrat melalui selaput lendir yang lengket yang menutupi seluruh permukaannya. Karena memiliki sifat-sifat ini, teknik inkubasi yang diterapkan pada P. hypophthalmus oleh pembudidaya di Indonesia (Kristanto dkk., 1999) bisa juga digunakan untuk telur-telur P. djambal. Dua dari teknik inkubasi ini sudah diujikan dan cocok untuk P. djambal; 1) inkubasi telur dalam satu lapisan dalam genangan air atau mengalir dan 2) inkubasi dalam corong-corong dengan air resirkulasi (MacDonald jars) setelah menghilangkan sifat lengket telur (Lembaran V.4). Sesuai dengan ketentuan, adalah lebih baik melakukan inkubasi telur dalam air yang mengalir guna membersihkan secara terus menerus sisa-sisa kandungan organik yang ditimbulkan oleh telur (NH 3, CO 2 ) serta mempertahankan mutu yang bagus dan menjaga kandungan oksigen air. 75 Pembuahan Buatan dan Teknik Inkubasi Telur Dalam banyak hal, air yang mengalir juga membantu membatasi perkembangan jamur atau cendawan. Akan tetapi, di Indonesia banyak pembudidaya secara umum melakukan inkubasi telur dalam air yang diam atau menggenang. Inkubasi dalam air menggenang Inkubasi dalam air menggenang (stagnant water) pada umumnya dilakukan dalam akuarium dan tidak memerlukan peralatan yang mahal. Teknologi sederhana dan murah ini merupakan sistem inkubasi yang paling banyak dilakukan di Indonesia. Namun demikian kekurangan cara ini adalah resiko pencemaran air oleh bahan-bahan organik, terutama terakumulasi dari telurtelur yang mati. Untuk membatasi masalah ini, kuantitas telur yang diinkubasi harus dibatasi dalam setiap akuarium (maksimum yang disarankan adalah 100 telur per liter). Karena itu, untuk produksi benih ikan skala besar, teknik ini memerlukan jumlah akuarium yang banyak, demikian juga memerlukan areal yang luas untuk tempat penetasan telur (hatchery). Persiapan wadah Untuk menghindari suhu yang tidak diinginkan, akuarium harus diisi dengan air sebelum memasukkan telur-telur guna menyeimbangkan suhu dan meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut (dengan aerasi). Air yang digunakan untuk inkubasi telur harus bersih dan diberi pembasmi kuman seperti formalin untuk mengontrol perkembangan jamur (Saprolegnia sp.). Untuk mencegah efek samping dari obat-obatan yang mengandung racun dan berdampak terhadap telur, pemberian desinfektan ini harus dilakukan 12 jam sebelum memasukkan telur. Dosis yang dianjurkan 10 sampai 15 mL.m-3 formalin bisa menghambat pertumbuhan jamur dan membasmi kuman dalam air inkubasi tanpa resiko bagi telur dan larva ikan. Inkubasi telur Penyebaran telur yang merata dalam satu lapisan didasar tangki sangat menentukan keberhasilan inkubasi. Ini memungkinkan setiap telur berada dalam kondisi bagus di dalam air. Dengan cara ini, telur-telur yang bagus tidak terinfeksi oleh telur yang rusak dan mulai membusuk. Setelah pembuahan dan pencucian dari kelebihan sperma, aerasi dalam akuarium dihentikan lalu kemudian telur-telur bisa disebar dengan perlahan menggunakan bulu ayam pada permukaan air (Lembaran V.2). Disarankan untuk mencampur telur-telur dan air dengan hati-hati untuk memperoleh penyebaran telur yang merata dalam akuarium. Karena telur-telur P. djambal mudah tenggelam, penyebaran secara merata akan memungkinkan telur76 Bab V telur mencapai dasar akuarium dalam formasi satu lapisan (Lembaran V.3). Setelah beberapa menit dan telur-telur telah menempel di bagian dasar kaca, aerasi dapat dibuka lagi tanpa mengganggu telur-telur yang sedang diinkubasikan. Inkubasi dalam corong-corong resirkulasi (MacDonald jar) Inkubator yang digunakan di lokasi LRPTBPAT dan BBAT Jambi adalah yang berbentuk corong-corong dengan dasar bulat terbuat dari fiberglass (Lembaran V.2). Para pembudidaya juga menggunakannya dengan bahanbahan lain seperti kaca, beton, plastik dan baja anti karat. Prinsip kerjanya menjaga agar telur tetap bergerak dengan dorongan pemasukan air melalui pipa PVC yang dipasang pada corong-corong dan mencapai dasar (Woynarovich dan Horvath, 1980). Pada umumnya dihubungkan dengan aliran air (karena gravitasi) atau sistem resirkulasi, sehingga teknik ini memberikan keuntungan di dalam penetasan telur dan mengurangi perkembangan jamur pada telur-telur selama inkubasi. Setelah penetasan telur, sistem ini juga mempermudah keluarnya larva yang baru menetas dari telur yang mati dan cangkang telur. Menghilangkan daya rekat telur Setelah pembuahan dan sebelum dimasukkan ke dalam corong inkubasi, telur terlebih dahulu dilakukan pencucian dengan larutan tanah liat yang bertujuan untuk menghilangkan daya rekatnya (Lembaran V.4). Pada dasarnya, setelah telur dicampur dengan larutan tanah liat, partikel-partikel kecil dari tanah liat menutupi lapisan penempel pada permukaan telur sehingga telur tidak dapat merekat/menempel pada substrat lainnya. Upaya menghilangkan daya rekat telur bertujuan agar telur dapat bergerak dengan adanya dorongan air selama periode inkubasi. Persiapan Larutan tanah liat terdiri dari 1 kg tanah liat merah (Latosol) dalam 2 liter air. Prosedur pembuatannya sebagai berikut: • tanah liat merah dibersihkan bebas dari bahan-bahan non organik (daun, ranting dan lainnya); • kemudian tanah tersebut diseduh dengan air yang dimasak (rasio 1 kg tanah liat merah untuk 2 liter air). Air mendidih penting untuk membunuh mikro-organisme dan parasit. Setelah dicampur suspensi tersebut hendaknya direbus kembali untuk menyempurnakan proses sterilisasi. • setelah dingin, larutan tersebut disaring menggunakan saringan dengan ukuran mata jaring 700 µm; 77 Pembuahan Buatan dan Teknik Inkubasi Telur • hasil penyaringan tersebut dimasukkan ke dalam ember plastik kemudian lakukan aerasi dengan kuat guna memperoleh hasil campuran yang merata; • larutan tanah liat siap untuk digunakan, kelebihan larutan tanah liat, larutan dapat disimpan di dalam lemari pendingin (freezer) sampai pemijahan berikut. Larutan tanah liat harus dibekukan di dalam lemari pendingin dalam volume-volume kecil untuk digunakan kembali agar sesuai dengan kebutuhan. Menghilangkan daya rekat Setelah mencampur sperma dan sel telur untuk keperluan pembuahan (lihat di atas) kelebihan sperma ikan harus dibersihkan dan digantikan dengan suspensi tanah liat dengan mengikuti prosedur berikut (Lembaran IV.4): • untuk sekitar 100 mL larutan tanah liat pada 200 g telur; • secara berhati-hati mencampur telur dengan tanah liat dengan menggunakan bulu ayam sampai telur-telur tidak lagi lengket satu sama lain, misalnya tanah liat sudah menutupi seluruh lendir yang lengket; • kemudian campuran dipindahkan ke dalam serok halus untuk membersihkan sisa tanah liat; • setelah pencucian sampai air bersih diperoleh, telur-telur dipindahkan lagi ke wadah plastik yang berisi air; • telur-telur kemudian siap untuk dimasukkan dalam inkubator MacDonald. Persiapan wadah Ketika inkubator MacDonald dihubungkan dengan sistem air resirkulasi: • prosedur khusus untuk pertama kali menggunakan sistem air resirkulasi harus sesuai dengan yang dijelaskan dalam Bab VII (lihat “persiapan tempat pembesaran”) Dalam semua hal, inkubator-inkubator harus diisi dengan air bersih dan mengalir cukup lama sebelum menerima telur-telur guna menyeimbangkan suhu serta mencapai tingkat oksigen larut yang maksimal; • pemberian formalin untuk tujuan pencegahan pada konsentrasi 10 sampai 15 mL.m-3 disarankan untuk mensucihamakan air inkubasi. Apabila inkubator dihubungkan dengan dengan aliran air secara gravitasi, air harus: • bebas dari plankton dan bahan buangan; • diberi oksigen dengan baik; • pada suhu yang stabil dan tepat (27 – 30°C); • pembagian aliran air yang konstan. Inkubasi telur Setelah menghilangkan daya rekat dari telur yang dimaksud di atas, 78 Bab V sedikitnya 200 g telur bisa dipindahkan secara hati-hati ke dalam setiap corong (kapasitas 20 L). Sebelum menuangkan telur ke dalam inkubatornya, aliran air harus dihentikan sementara waktu untuk menghindari hanyutnya telur melalui saluran pembuangan. Setelah telur-telur tenggelam ke dasar corong, aliran air bisa dibuka secara perlahan dan disesuaikan untuk menjaga agar telur-telur terus menerus bergerak. Selama inkubasi, penyesuaian debit air dan penempatan pipa PVC ditengah-tengah corong sangat penting untuk mengoptimalkan derajat penetasan telur (Lembaran V.5): • karena aliran air yang kurang memadai atau penempatan pipa tidak pada posisi tengah (bad centering) dapat menyebabkan tidak bergeraknya massa telur yang dapat mengakibatkan pasokan oksigen tidak bisa dilakukan dengan baik. Akibat lebih jauh adalah kematian sejumlah besar embrio karena kekurangan oksigen (anoxia), dimana telur yang mati berubah warna menjadi putih; • sedangkan aliran air yang keluar terlalu kuat akan menyebabkan bergeraknya massa telur secara berlebihan dan sangat beresiko bisa merusak perkembangan embrio yang dapat mengakibatkan sejumlah embrio dan larva menjadi rusak; • penyesuaian aliran air yang tepat dan penempatan pipa pada posisi tengah akan mendorong atau membuat semua telur bergerak perlahan dan terjaminnya arus air yang teratur. PERKEMBANGAN EMBRIO DAN KINETIS PENETASAN TELUR Perkembangan embrio Karena proses perkembangan embrio bukan merupakan topik utama dari petunjuk teknis ini, maka batasan-batasan dalam penyajiannya pada beberapa tahap penting yang memungkinkan para pembudidaya untuk mengenal embrio dan bisa menilai mutu telur secara benar. Lamanya inkubasi (dari pembuahan sampai penetasan telur) tergantung pada suhu air, dimana jangka waktu tersebut berkurang jika suhu meningkat (Legendre dkk., 1996). Gambaran berikut memberikan contoh waktu perkembangan pada suhu inkubasi rata-rata 29°C. Ilustrasi perkembangan telur yang berkaitan disajikan dalam Lembaran V.6. Setelah berhubungan dengan air, telur-telur mengalami hidrasi yang cepat yang mengakibatkan pembentukan ruang permulaan lapisan embrio (perivitelline). Selaput lendir dari telur juga membesar ketika berhubungan dengan air dan menjadi lengket. Pada tahap ini, apakah dibuahi atau tidak, telur-telur yang membesar berwarna kekuning-kuningan dan animal pole 79 Pembuahan Buatan dan Teknik Inkubasi Telur (kutub pada sel telur dekat inti) ditandai seperti sebuah kapsul berwarna coklat kemerah-merahan. Akan tetapi, telur yang dibuahi segera mulai berkembang dan pembelahan sel telur yang pertama (tahap dua sel) menjadi terlihat jelas 25 – 30 menit setelah pembuahan, diikuti oleh tahap-tahap 4, 8, 16 dan 32-sel (1,5 sampai 2 jam setelah pembuahan). Dari tahap 32-sel, telur berada dalam tahap morula selama lebih kurang 60 menit dan kemudian sel-sel secara cepat menjadi lebih kecil sampai tahap blastula (3 sampai 4 jam setelah pembuahan). Segera setelah itu, tahap gastrula mulai, pembelahan sel berlangsung dan sel secara progresif menutupi massa kuning telur. Langkah terakhir dari tahap gastrula terjadi sekitar 12 jam setelah pembuahan dan pergerakan embrio menjadi lebih aktif sebelum telur menetas. Perbedaan antara telur yang dibuahi dan tidak dibuahi Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, saat berhubungan dengan air, telur yang tidak dibuahi memulai proses pembesaran dan kutub sel telur dekat inti ditandai oleh kapsul kemerah-merahan seperti halnya pada telur yang dibuahi. Terlebih lagi, telur yang tidak dibuahi yang sedang dalam proses inkubasi bisa tetap tembus pandang selama beberapa jam dan tidak mudah untuk dibedakan dari telur yang dibuahi dengan mata telanjang. Hanya setelah 8 sampai 14 jam inkubasi di mana sebagian besar telur yang tidak dibuahi menjadi tidak tembus pandang dan bewarna keputihan. Ketika diamati dengan stereo miskroskop (pembesaran 25 kali), telur-telur P. djambal yang tidak dibuahi tidak menunjukkan pembelahan sel sama sekali. Untuk penilaian derajat pembuahan yang lebih mudah dan akurat, disarankan untuk mengamati telur antara tahap “4-sel” dan tahap morula; yakni dari sekitar 30 menit sampai 2 jam setelah pembuahan (Lembaran V.6). Perkiraan derajat pembuahan harus dilakukan selama tahap-tahap perkembangan awal, karena pada tahap-tahap berikut ini yakni dari tahap morula akhir ke tahap gastrula awal (antara kira-kira 2 sampai 5 jam dari pembuahan), telur-telur yang dibuahi kembali menjadi sulit untuk dibedakan dari telur-telur yang tidak dibuahi. Menentukan derajat pembuahan memungkinkan pembudidaya untuk segera mengevaluasi derajat penetasan telur dalam suatu proses pemijahan tertentu. Sebenarnya, derajat pembuahan yang rendah (< 30 – 50%) biasanya merupakan indikasi mutu sel telur/oosit yang buruk apabila sel telur diperoleh dengan semestinya dengan mengikuti semua ketentuan untuk penyimpanan sperma, pembuahan sel telur dan inkubasi telur. Akibat ketidaknormalan perkembangan embrio serta peningkatan kematiannya, derajat pembuahan yang rendah yang diakibatkan oleh mutu sel telur yang buruk umumnya mengakibatkan derajat penetasan telur lebih rendah dan 80 Bab V banyak larva yang cacat. Dalam keadaan demikian, sangat disarankan kepada pembudidaya untuk membuang telur-telur tersebut dan kembali melakukan penyuntikan induk ikan yang baru guna memperoleh telur-telur dan larva dengan mutu yang lebih baik. Jangka waktu inkubasi Pada P. djambal, sebagaimana juga spesies ikan yang lain, lamanya inkubasi telur sangat tergantung pada suhu air. Waktu penetasan telur bisa dicapai lebih cepat dalam air yang hangat dan akan lebih lambat dalam air dingin. Pada suhu air 29 – 30°C, larva mulai menetas, sekitar 33 sampai 35 jam setelah pembuahan (Gambar V.1) 50% larva sudah menetas setelah 37 – 38 jam; yakni 2 – 3 jam setelah dimulainya proses penetasan. Gambar V.1. Kinetis penetasan telur P. djambal yang diinkubasikan dalam suhu air 29 – 30°C. Larva tidak menetas secara serempak dan perbedaan antara penetasan telur pertama dengan terakhir bisa memakan waktu 40 jam (Gambar V.1). Akan tetapi, jangka waktu yang lama tersebut umumnya bertepatan dengan penetasan telur larva yang cacat dan 9 sampai 10 jam setelah penetasan pertama, lebih dari 90% larva menetas. Di berbagai keadaan, suhu inkubasi harus disesuaikan dengan kebutuhan spesies untuk memperoleh derajat penetasan maksimal. Untuk P. djambal, suhu air 27 – 30°C terlihat turun dalam rentang yang masih sesuai. PENANGANAN DAN PENYIMPANAN LARVA YANG BARU MENETAS Setelah penetasan, air pada tempat inkubasi biasanya tercemar oleh telurtelur mati yang membusuk dan sisa buangan penetasan. Air mulai menjadi tidak jernih, yang menunjukkan bahwa lingkungan bisa bersifat racun dan berbahaya bagi larva yang baru menetas. 81 Pembuahan Buatan dan Teknik Inkubasi Telur Untuk menghindari keadaan ini, larva perlu segera dipindahkan ke tempat “sementara” yang berisi air bersih yang diaerasi. Seperti akuarium (ukuran 60 sampai 120 L) atau tangki kecil. Pada tahap ini, air diam yang mengandung cukup oksigen disarankan karena larva tidak bisa berenang dan arus kecil sudah cukup untuk mendorong larva-larva tersebut keluar dari jaring (Lembaran V.7). Pemindahan ini bisa dimulai sesegera mungkin setelah sebagian besar larva sudah menetas (misalnya 40 jam setelah pembuahan atau 5 jam setelah penetasan pertama pada suhu 29 - 30°C). Wadah atau tempat “sementara” harus sudah dipersiapkan sebelum pemasukan larva untuk memaksimalkan konsentrasi oksigen larut dan menyeimbangkan suhu air. Penting untuk mencegah suhu panas atau stres pada larva. Beberapa jam setelah penetasan, perilaku larva berubah dan larva normal menjadi lebih aktif dan bersifat fotosensitif (tertarik oleh cahaya). Mulai saat ini, relatif lebih mudah untuk mengkonsentrasikan larva normal pada satu sisi akuarium atau tangki, dan memisahkannya dari larva yang cacat dan tidak bisa berenang. Tindakan ini harus diulangi sampai tidak ada lagi larva normal yang berkumpul (Lembaran V.3 dan V.7). Karena penetasan pertama terjadi sekitar 40 jam sebelum penetasan terakhir, larva yang diperoleh dari kelompok telur yang sama tidak betul-betul berada pada tahap perkembangan yang sama. Langkah ini penting untuk memulai pemeliharaan larva dalam kondisi yang baik, karena sebagian besar larva yang tidak normal akan mati sebelum umur 2 sampai 3 hari dan tubuhnya yang mulai membusuk bisa menyebabkan pertumbuhan jamur dan bakteri yang dapat mencemari tempat pemeliharaan larva. Garis besar panduan teknis Sebelum digunakan, semua bahan dan alat-alat harus dibersihkan, disucihamakan serta dikeringkan: • Setelah pembuahan dan penyimpanan telur dalam sistem inkubasi, yakni sekitar 40 jam (pada suhu 29 – 30°C) sebelum pengambilan larva, isi penuh wadah “sementara” dengan air bersih dan lakukan aerasi yang cukup. Periode ini haruslah cukup lama untuk menyeimbangkan oksigen dan suhu; • Untuk mencegah stres, sebelum memindahkan larva yang baru menetas ke dalam wadah “sementara”, kurangi pemberian aerasi dan amati suhu. Suhu air harus berada dalam kisaran yang direkomendasikan (lihat Bab VI, Tabel VI.3) dan mendekati suhu air inkubasi (± 1°C); 82 Bab V • Isi penuh wadah plastik dengan air bersih dari tangki “sementara” dan lakukan aerasi secara perlahan, kemudian tangkap larva dengan hatihati dari tempat inkubasi dengan jaring plankton yang disesuaikan (80 mm) serta pindahkan dengan pelan-pelan ke dalam wadah (Lembaran V.7); • Apabila larva yang ditangkap sudah cukup, pelan-pelan pindahkan isi wadah ke tempat “sementara” (Lembaran V.7); • Dalam tangki “sementara”, bersihkan sebagian dasar tangki dengan menyifon untuk membuang telur-telur bewarna putih dan larva yang tidak normal. Satu sampai dua jam setelah memindahkan larva, berikan sedikit cahaya pada dasar tangki yang sudah bersih tersebut. Tunggu kira-kira setengah jam untuk mengkonsentrasikan larva di bawah sorotan cahaya (Lembaran V.3 sampai V.7); • Sementara menunggu berkumpulnya larva, isi penuh ember plastik dengan air bersih dari tangki pemeliharaan dan lakukan aerasi secara perlahan. Suhu air harus berada pada kisaran yang direkomendasikan yaitu dari 27 – 31°C dengan perbedaan tidak lebih dari 1°C dari suhu air di wadah “sementara”. Sifon larva secara perlahan dengan selang plastik ke dalam ember. Tindakan ini harus diulangi sampai semua larva yang normal sudah dipindahkan (Lembaran V.7); • Sebelum memindahkan larva ke dalam setiap tangki pemeliharaan, jumlahnya harus ditentukan dengan menghitung atau setidaknya diperkirakan secara lebih akurat guna menyesuaikan takaran pakan dan penggantian air selama pemeliharaan larva (Lembaran V.7). PERLENGKAPAN DAN PERALATAN Pembuahan buatan 1 2 3 4 5 Bersihkan dan keringkan wadah plastik untuk membagi sel telur yang dikumpulkan. Bersihkan dan keringkan spuit ukuran 10 – 30 mL guna menentukan volume sperma yang terkumpul. Mangkok ukur untuk air tawar. Bulu ayam untuk mencampur sel telur, sperma dan air tawar. Air bersih untuk mencuci telur dan menghilangkan kelebihan sperma setelah pembuahan. Inkubasi dalam air tergenang 1 2 3 Akuarium 60 x 50 x 40 cm. Pompa udara dengan aerasi disetiap akuarium. Ember plastik untuk mengisi akuarium. 83 Pembuahan Buatan dan Teknik Inkubasi Telur 4 5 Tangki untuk menyimpan air bersih. Bulu ayam untuk menyebarkan telur dalam akuarium. Inkubasi dalam bejana resirkulasi 1 2 Sistem air resirkulasi dengan filtrasi biologi dan filter mekanik atau air bersih. Inkubator MacDonald yang dipasang seperti diterangkan dalam Lembaran V.5 Menghilangkan daya rekat telur 3 4 5 6 Larutan tanah liat yang disterilkan (1 kg untuk 2 L air). Mangkok plastik dan bulu ayam untuk mencampur. Serokan halus dan air bersih untuk menghilangkan kelebihan koloid tanah liat. Mangkok ukur untuk menuangkan telur dalam jumlah yang sama ke dalam setiap corong inkubasi. Penanganan dan penyimpanan larva yang baru menetas 1 2 3 4 5 6 Akuarium dengan aerasi dan air bersih. Plankton net (ukuran mata jaring 80 µm) untuk menangkap larva. Mangkok plastik untuk memindahkan larva ke akuarium. Lampu senter untuk mengkonsentrasikan larva normal dibawah sorotan cahaya. Selang plastik untuk membersihkan dasar dari putih telur dan larva yang cacat dan kemudian menyedot larva yang normal. Ember plastik untuk memindahkan larva normal ke dalam tempat pemeliharaannya. Perkiraan derajat pembuahan 1 Stereo mikroskop (pembesaran 25 kali). Kontrol mutu air (direkomendasikan) 1 2 Alat pengukur oksigen. Termometer. PUSTAKA Cacot, P., P. Eeckhoutte, D.T. Muon, T.T. Trieu, M. Legendre dan J. Lazard, 2002. Induced spermiation and milt management in Pangasius bocourti (Sauvage, 1880). Aquaculture. 215 : 66 - 67. 84 Bab V Kristanto, A. H., J. Slembrouck, J. Subagja dan M. Legendre, 1999. Effects of egg incubation techniques on hatching rates, hatching kinetics and survival of larvae in the Asian catfish Pangasius hypophthalmus (Siluroidei, Pangasiidae). In: The biological diversity and aquaculture of clariid and pangasiid catfishes in Southeast Asia. Proc. mid-term workshop of the «Catfish Asia Project» (Editors: Legendre M. and A. Pariselle), IRD/GAMET, Montpellier. 71-89. Legendre, M., O. Linhart dan R. Billard, 1996. Spawning and management of gametes, fertilized eggs and embryos in Siluroidei. In: The biology and culture of catfishes. Aquat. Living Resour., Hors série, 59-80. Legendre, M., L. Pouyaud, J. Slembrouck, R. Gustiano, A. H. Kristanto, J. Subagja, O. Komarudin dan Maskur, 2000. Pangasius djambal: A new candidate species for fish culture in Indonesia. IARD journal, 22: 1-14. Woynarovich, E. dan L. Horvath, 1980. The artificial propagation of warm-water finfishes – a manual for extension. FAO Fish. Tech. Pap., 201: 183 p. 85 Bab V Untuk mengoptimalkan tingkat pembuahan, telur dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil ukuran 100 – 200 g (100 – 200 mL). • 5 mL sperma terlarut untuk 100 g (100 mL) sel telur. • Campur dengan hati-hati sampai sperma betul-betul merata. • Aktifkan spermatozoa dengan menambahkan 1 volume air bersih untuk 1 volume sel telur. • Air tawar bersih harus dituangkan segera untuk mengaktifkan semua spermatozoa dalam waktu bersamaan. • Aduk secara perlahan selama 1 menit. • Cuci dengan air bersih untuk menghilangkan kelebihan sperma sebelum memindahkan telur kedalam inkubator. Lembaran V.1. Prosedur pembuahan sel telur. 87 Pembuahan Buatan dan Teknik Inkubasi Telur • Setelah pembuahan, hati-hati memperlakukan telur dengan menggunakan bulu ayam. • Sebarkan telur kedalam aquarium. • Campurkan atau aduk telur dengan air untuk memperoleh penyebaran telur yang merata pada semua permukaan air. Kemudian telurtelur tersebut tenggelam dengan penyebaran yang merata didasar dan lengket di permukaan kaca. • Setelah menghilangkan daya lengket (Lembaran V.4), pindahkan telur yang telah dicuci ke dalam mangkok plastik yang diisi air bersih dan secara perlahan tuangkan ke dalam inkubator MacDonald. Lembaran V.2. Pemindahan sel telur yang telah dibuahi ke tempat inkubasi. 88 Bab V Penyebaran dalam satu lapisan di dasar memungkinkan setiap telur untuk memperoleh mutu air yang bagus dan memperbaiki tingkat penetasan. Larva mulai menetas setelah 33 sampai 35 jam inkubasi pada suhu 29 – 30°C dan setelah berenang beberapa saat keseluruh badan air. Beberapa jam setelah penetasan, larva menjadi lebih aktif dan tertarik pada cahaya. 1. Aerasi. 2. Larva normal berkumpul dalam sorotan cahaya. 3. Lampu senter. Lembaran V.3. Inkubasi dalam air tergenang. 89 Pembuahan Buatan dan Teknik Inkubasi Telur • Untuk 100 mL larutan tanah liat pada 200 g telur. • Campur dan aduk dengan perlahan menggunakan bulu ayam, sampai telur tidak lagi menempel satu sama lain • Pindahkan telur secara hati-hati ke dalam serok halus untuk membersihkan sisa tanah liat. • Bilas dengan aliran air yang pelan sampai diperoleh air bilasan menjadi bersih. • Pindahkan telur ke dalam mangkok plastik yang berisi air bersih. • Telur-telur siap untuk diinkubasikan dalam inkubator MacDonald. Lembaran V.4. Prosedur menghilangkan daya lengket telur. 90 Bab V 1. Penyesuaian aliran air memungkinkan permukaan masa telur memperoleh gerakan alunan air yang pelan. 2. Penempatan pipa tidak pada posisi tengah (bad centering) dapat menyebabkan tidak bergeraknya masa telur. 3. Sedangkan aliran air yang keluar terlalu kuat akan menyebabkan bergeraknya massa telur secara berlebihan dan sangat beresiko bisa merusak perkembangan embrio. 1. Kran. 2. Pipa PVC. 3. Telur-telur bergerak. 4. Pipa pelimpasan. 5. Hapa halus untuk menampung larva yang baru menetas. 6. Tangki fiber. 7. Pipa pembuangan. Larva yang tersapu oleh arus air. Telur-telur secara terus-menerus bergerak bergelombang. Arah arus air. Lembaran V.5. Corong dalam inkubator MacDonald. 91 Pembuahan Buatan dan Teknik Inkubasi Telur Animal pole Ruang perivitelline Lapisan lengket Kulit telur Masa kuning telur Telur yang membesar • 6 sampai 25 menit untuk membuahi. • Aspek ini bisa berlangsung lebih dari 8 Tahap 2-sel 25 sampai 40 menit. jam bagi telur yang tidak dibuahi. Tahap-tahap paling tepat untuk mengevaluasi tingkat pembuahan Tahap 4-sel 30 sampai 55 menit Gastrula (waktu pertengahan) sekitar 7 jam Morula 1 sampai 2 jam Penutupan Blastopore 12 sampai 18 jam Lembaran V.6. Beberapa tahap awal perkembangan embrio P. djambal. 92 Bab V Pemindahan larva dengan jaring plankton yang disesuaikan. Untuk menghindari resiko, perlu memindahkan larva segera setelah penetasan ke wadah “sementara” yang berisi air bersih cukup udara. Menyeimbangkan suhu sangat disarankan, sebelum pelan-pelan menuangkan mangkok . Pemisahan larva normal 1. Selang plastik (Sifon). 2. Ember plastik dengan air bersih. 3. Aerasi. Sebelum dipindahkan ke tempat pemeliharannya, larva harus dihitung guna keperluan manajemen yang lebih baik distribusi pemberian pakan serta mutu air. Lembaran V.7. Panen larva yang baru menetas. 93 Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan Patin Indonesia, Pangasius djambal Oleh: JACQUES SLEMBROUCK OMAN KOMARUDIN MASKUR MARC LEGENDRE Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan Patin Indonesia, Pangasius djambal JACQUES SLEMBROUCK(a) OMAN KOMARUDIN(b) MASKUR(c) MARC LEGENDRE(d) (a) IRD (Lembaga Penelitian Perancis untuk Pembangunan), Wisma Anugraha, Jl. Taman Kemang Selatan No. 32B, 12730 Jakarta, Indonesia. (b) BRPBAT (Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar), Jl. Sempur No. 1, PO. Box 150 Bogor, Indonesia. (c) BBAT - Sukabumi (Balai Budidaya Air Tawar), Jl. Selabintana No. 17, 43114 Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. (d) IRD/GAMET (Groupe aquaculture continentale méditeranéenne et tropicale) BP 5095, 34033 Montpellier cedex 1, France. Jakarta, 2005 i Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan Patin Indonesia, Pangasius djambal Judul asli: Technical Manual For Artificial Propagation Of The Indonesian Catfish, Pangasius djambal Penyusun: JACQUES SLEMBROUCK OMAN KOMARUDIN MASKUR MARC LEGENDRE Penerjemah: ANDY SUBANDI ZAFRULLAH KHAN Penyunting: SUDARTO RUDY GUSTIANO JOJO SUBAGJA Foto: JACQUES SLEMBROUCK Sampul, tataletak dan illustrasi: BAMBANG DWISUSILO Penerbit: IRD, BRPBAT, BRPB, BRKP © IRD-BRKP Edisi 2005 ISBN: Percetakan: ii

Judul: Pemijahan Buatan Dan Teknik Inkubasi Telur

Oleh: Jojo Subagja


Ikuti kami