Sistem Ekonomi Islam Makalah Ini Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Perbandingan Sistem Ekonomi

Oleh Markina Kina

11 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Sistem Ekonomi Islam Makalah Ini Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Perbandingan Sistem Ekonomi

SISTEM EKONOMI ISLAM

Makalah ini sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Perbandingan Sistem
Ekonomi

Oleh:

SUCI SAFITRI
822017035
Dosen Pengampu

Ardhina Nur Aflahah S,PdI. M.E

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAI) AL-AZHAR GOWA
2019

Kata Pengantar

Alhamdulillah, hanya bagi Allah swt. Segala puji dan syukur kita panjatkan
karena atas segala rahmat, karunia, serta hidayah dan petunjuk-Nya kita berada di atas
agama dan jalan yang lurus ini, yakni dinul islam. Dan karena kehendak-Nya jualah
hingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “system ekonomi islam”.
Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada baginda tercinta
Rasulullah saw yang telah menyampaikan risalah kebenaran, juga bagi keluarganya,
tabiin, tabi’tabiin, dan seluruh umatnya hingga akgir saman nanti.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
kesempurnaan, di sebabkan Karena kurangnya referensi dan kurangnya pengetahuan dari
penulis. Oleh karena itu, kritikan dan saran dari pembaca sangat di harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

Makassar, 9 Januari 2020
Suci Safitri

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
System perekonomian adalah cara suatu bangsa atau negara untuk mengatur
kehidupan ekonominya agar tercapai kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Sistem perekonomian dapat pula merupakan cara mengatur dan mengorganisir segalah
kegiatan ekonomi dalam suatu negara berdasarkan prinsip tertentu ntuk mencapai suatu
tujuan.
System ekonomi islam adalah system ekonomi tersendiri, bukan merupakan
perpaduan dan atau campuran antara system ekonomi kapitalis dan sosialis. System
ekonomi islam menempatkan manusia bukanlah sebagai sentral (anthroposentrism) tetapi
sebagai hamba tuhan (abid) yang harus mengabdi dan mengemban tugas yang
dipercayakanya sebagai hamba (khalifah).
System ekonomi islam adalah system pemenuhan kebutuhan hidup manusia
untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran yang didasarkan pada ajaran-ajaran islam
dalam al Qur`an dan as Sunnah yang dikembangkan oleh pemikiran manusia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian system ekonomi islam ?
2. Apa saja prinsi-prinsip ekonomi islam ?
3. Bagaimana system ekonomi islam ?
4. Jelaskan ciri-ciri ekonomi islam ?
5. Jelaskan perbedaan system ekonomi islam dan konvensional ?
C. Tujuan Penulis
Untuk memenuhi tugas mata kuliah sistem perbandingan ekonomi & untuk
mengetahui tentang sistem ekonomi islam
D. Manfaat Penulis
Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang sistem
ekonomi islam

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ekonomi Islam
Ekonomi, secarah umum didefenisikan sebagai hal yang mempelajari perilaku
manusia dalam menggunakan sumber daya yang langka untuk memproduksi barang dan
jasa yang di butuhkan manusia.1
Beberapa ahli mendefenisikan ekonomi islam sebagai suatu ilmu yang
mempelajari perilaku manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dengan alat
pemenuhan kebutuhan yang terbatas dalam kerangka syariah. Ilmu yang mempelajari
perilaku seorang muslim dalam suatu masyarakat islam yang dibingkai dengan syariah.
Defenisi tersebut mengandung kelemahan karenah menghasilkan konsep yang tidak
kompetibel dan tidak universal. Karenah dari defenisi tersebut mendorong seseorang
terperangkap dalam keputusan yang apriori (apriori judgement) benar atau salah tetap
harus diterima.2
Defenisi yang lengkap harus mengakomodasikan sejumlah persyaratan yaitu
karakteristik dari pandagan hidup islam. Syarat utama adalah memasukkan nilai-nilai
syariah dalam ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi islam adalah ilmu social yang tentu saja tidak
bebas dari nila-nilai moral. Nilai-nilai moral merupakan aspek normatik yang harus
dimasukkan dalam anlisis fenomena ekonomi serta dalam pengambilan keputusan yang
dibingkai syariah.
1. Menurut Muhammad Abdul Mannan
Islamic economics is a social science which studies the economics problems of a
people imbued with the values of islam.3 Jadi, menurut Mannan ilmu ekonomi
islam adalah ilmu pengetahuan social yang mempelajari masalah-masalah
ekonomi masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai islam.
2. Menurut Syed Nawab Haider Naqvi
Ilmu ekonomi islam singkatnya, merupakan kajian tentang perilaku ekonomi
orang islam representative dalam masyarakat muslim modern.4

1

Pusat pengkajian dan pengembangan Ekonomi Islam(P3EI), Ekonomi Islam, Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada, 2011.
2
Imamudin Yuliadi, Ekonomi Islam, Yogyakarta: LPPI, 2006.
3
Muhammad Abdul Mannan, Islamic Economics, Theory and Practice, India: Idarah
Adabiyah, 1980.
4
Syed Nawab Haider Naqvi, Menggagas Ilmu Ekonomi Islam, terj. M. Saiful Anam dan
Muhammad Ufuqul Mubin, Yogyakarta : pustaka pelajar, 2009.

Dari beberapa defenisi ekonomi islam diatas relative dapat secarah lengkap
menjelaskan dan mencangkup kriteria dari defenisi yang komprehensif adalah yang
dirumuskan oleh Hasanuzzaman yaitu :
“suatu pengetahuan dan aplikasi dari perintah dan peraturan dalam syariah yaitu untuk
menghindari ketidakadilan dalam perolehan dan pembagian sumber daya material agar
memberikan kepuasan manusia, sehingga memungkinkan manusia melaksankan
tanggung jawabnya terhadap tuhan dan masyarakat (Islamic economics is the knowledge
and application of injunctions and rules of the shari`ah that prevent injustice in the
acquition and disposal of material resources in order to provide satisfaction to human
beings and enable them to perform their obligations to Allah and the society)”.5
Hal penting dari defenisi tersebut adalah istilah “perolehan” dan “pembagian” di
mana aktifitas ekonomi ini harus dilaksanakan dengan menghindari ketidakadilan dalam
perolehan dan pembagian sumber-sumber ekonomi. Prinsip-prinsip dasar yang digunakan
untuk menghindari ketidakadilan tersebut adalah syariah yang didalamnya terkandung
perintah (injunctions) dan peraturan (rules) tentang boleh tidaknya suatu kegiatan.
Pengertian “memberikan kepuasan terhadap manusia” merupakan suatu sasaran ekonomi
yang ingin dicapai. Sedangkan pengertian “memungkinkan manusia melaksanakan
tanggung jawabnya terhadap tuhan dan masyarakat” diartikan bahwa tanggung jawab
tidaka hanya terbatas pada aspek social ekonomi saja tapi juga menyagkut peran
pemerintah dalam mengatue dan mengelola semua aktivitas ekonomi termasuk zajat dan
pajak.
Namun perlu ditegaskan disini perbedaan pengertian ilmu ekonomi islam dengan
system ekonomi islam. Ilmu ekonomi islam merupakan suatu kajian yang senantiasa
memperhatikan

rambu-rambu

metodologi

ilmiah.

Sehingga

dalam

proses

perkembanganya senantiasa mengakomodasikan berbagai aspek dan variabel dalam
analisis ekonomi. Ilmu ekonomi islam dalam batas-batas metodologi ilmia tidak berbeda
dengan ilmu ekonomi pada umumnya yang mengenal pendekatan kualitatif dan
kuantitatif. Namun berbeda hanya dengan system ekonomi islam yang merupakan bagian
dari kehidupan seorang muslim. System ekonomi islam merupakan suatu keharusan
dalam kehidupan seorang muslim dalam upaya untuk mengimplementasikan ajaran islam
dalam system ekonomi.

5

Imamudin Yuliadi, op.cit.,

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ekonomi islam adalah suatu
cabang ilmu pengetahuan yang berupayah untuk memendang, menganalisis, dan akhirnya
menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara yang islami.

B. prinsip-prinsip Ekonomi Islam
Para pemikir ekonomi islam berbeda pendapat dalam memberikan kategorisasi
terhadap prinsip-prinsip ekonomi islam. Sebagaimana dikutip Muslim H.Kara, Khurshid
Ahmad mengkategorisasi prinsipp-prinsip ekonomi islam pada: prinsip tauhid, rubbiyyah, khilafah, dan tazkiyah.6 Mahmud Muhammad Bablily menetapkan lima prinsip
yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi dalam islam yaitu : al-ukhuwa (persaudaraan),
al-ihsan (berbuat baik), al-istiqamah (teguh pendirian), al-nasihah (memberi nasihat), altaqwa (bersikap takwah).7
Menurut Metwally yang dikutip Zainal Arifin, prinsip-prinsip ekonomi islam itu
secarah garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Dalam ekonomi islam, berbagai jenis sumber daya yang dipandang sebagai
pemberian atau titipan tuhan kepada manusia. Manusia harus memanfaatkanya
seoptimal mungkin dalam produksi guna memenuhi kesejahteraan bersama
didunia, namun yang terpeting kegiatan tersebut akan di pertanggung jawabkan
diakhirat nanti.
b) Islam mengakui kepemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu, termasuk
kepemilikan alat produksi dan factor produksi. Pertama kepemilikan individu
dibatasi oleh kepentingan masyarakat, dan kedua, islam menolak setiap
pendapatan

yang

diperoleh

secarah

tidak

sah,

apalagi

usaha

yang

menghancurkan masyarakat.
c) Kekuatan penggerak utama ekonomi islam adalah kerja sama. Seorang muslim,
apakah ia sembagai pembeli, penjual, penerimah upah, pembuat keuntungan dan
sebagainya, harus berpegang pada tuntunan Allah SWT dalam Al-qur`an:
)92: ‫(الٌساء‬

6

‫ياايِاالسيي اهٌؤا الحاكلْ اهْالكن بيٌكن بالباطل االاى حكْى حجارة ءى حراض هٌكن‬

Muslimin H. Kara Bank Syariah Di Indonesia Analisis Terhadap Pemerintah Indonesia
Terhadap Perbankan Syariah, Yogyakarta: UII Press, 2005.
7
Mahmud Muhammad Bablily, Etika Bisnis: Studi Kajian Konsep Perekonomian Menurut
Al-qur`an dan As-sunnah, terj. Rosihin A.Ghani, solo: Ramadhani, 1990.

Artinya : “ hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta
sesamamu dengan jalan batil, kecuali dengan perdagangan yang dilakukan serta
suka sama suka di antara kalian”( QS.4:29).
d) Pemilikan kekayaan pribadi harus berperan sabagai capital produktif yang akan
meningkatkan besaran produk nasional dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Al-qur`an mengungkapkan bahwa “ Apa yang diberikan Allah
kepada Rasul-nya sebagai harta rampasan dari penduduk negeri itu, adalah untuk
Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak yatim, orang-orang miskin dan orangorang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orangorang kaya saja diantara kalian”. Oleh karena itu system ekonomi islam menolak
terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh beberapa orang saja.
e)

Islam menjamin kepemilikan masyarakat, dan penggunaanya direncanakan
untuk kepentingan orang banyak. Prinsip ini didasari oleh sunnah Rasulullah
yang menyatakan bahwa “Masyarakat punya hak yang sama atas air, padang
rumput dan api”. Sunnah Rasulullah tersebut menghendaki semua industry yang
ada hubunganya ekstraktif yang ada hubunganya dengan pruduksi air, bahan
tambang, bahkan bahan makanan, harus dikelolah oleh negara. Demikian juga
bahan bakar untuk keperluan dalam negeri dan industry tidak boleh dikuasai oleh
individu.

f) Seorang muslim harus takut kepada Allah dan hari akhirat, seperti diuraikan
dalam Al-qur`an:
)982: ‫ّاحقْا يْها حرجعْى فيَ الى هللا شن حْف كل ٍ ٍ ًفس ها كسبج ُّن ال يظلوْ ى (البقرة‬
Artinya : “Dan peliharalah dirimu dari azab yang terjadi pada hari yang pada
waktu itu kamu semuah dikembalikan kepada Allah. Terhadap apa yang telah
dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”.
Oleh karena itu islam mencela keuntungan yang berlebihan, perdagangan
yang tidak jujur, perlakuan yang tidak adil, dan semua bentuk diskriminasi dan
penindasan.
g) Seorang muslim yang kekayaanya melebihi ukuran tertentu (nisab) diwajibkan
membayar zakat. Zakat merupakan alat distribusi sebagian kekayaan orang kaya
(sebagai sanksi atas penguasaan harta tersebut), yang ditunjukkan untuk orang
miskin dan mereka yang membutuhkan. Menurut pendapat para ulama, zakat
dikenakan 2,5% untuk semua kekayaan yang tidak produktif (idle assets),

termasuk didalamnya uang kas, deposito, emas, perak, dan permata, pendapatan
bersi sdari transaksi (net eraning from transaction) dan 10% dari pendapatan
bersih investasi.
h) Islam melarang setiap pembayaran bunga (riba) atas berbagai bentuk pinjaman,
apakah pinjaman itu berasal dari teman, perusahaan perorangan, pemerintah atau
pun instusi lainya. Al-qur`an secarah bertahap namun jelas dan tegas
memperingatkan kita tentang bunga.8

Islam bukanlah satu-satunya agama yang melerang pembayaran bunga. Banyak
pemikir zaman dahulu yang berpendapat bahwa pembayaran bunga adalah tidak adil.
Bahkan meminjamkan uang dengan bunga dilarang pada zaman yunani kuno Aristoteles
adalah orang yang amat menentang dan melarang bunga , sedangkan Plato juga mengutuk
praktek bunga.9

C.Sistem Ekonomi Islam
System didefenisikan sebagai suatu organisasi berbagai unsur yang saling
berhubungan satu sama lain. Unsur-unsur tersebut juga saling mempengaruhi, dan saling
bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan pemehaman semacam itu, maka
kita bisa menyebutkan bahwa system ekonomi merupakan organisasi yang terdiri dan
bagian-bagian yang saling bekerja sama untuk mencapai tujuan ekonomi.10
Lalu apa yang disebut system ekonomi islam? Secarah sederhana kita bisa
mengatakan, system ekonomi islam adalah suatu system ekonomi yang didasarkan pada
ajaran dan nilai-nilai islam. Sumber dari keseluruhan nilai tersebut sudah tentu Al-qur`an,
As-sunnah, ijma dan qiyas. Nilai-nilai system ekonomi islam ini merupakan bagian
integral dari keseluruhan ajaran islam yang komperehensif dan telah dinyatakan Allah
SWT sebagai ajaran yang sempurna (QS. Al-Ma`idah ayat 3)
‫اليْم اكولج لكن ديٌكن ّاحووج عليكن ًعوخي ّرديج لكن االسالم ديٌا فوي اضطر في هخوصت غير هخجاًف الءثن‬
) 3:‫فاءى هللا غفْر رحين (الوا ءدة‬
Artinya : “pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
ku-cukupkan kepadamu ni`mat-ku, dan telah ku-ridhai islam itu jadi agama
8

Zainul Arifin ,Dasar-dasar Manajemen Bank Syari`ah, Jakarta: Alvabet, 2003.
Eko Suprayitno, Ekonomi Islam, Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional,
Yogyakarta, Graha Ilmu, 2005.
10
Mustafa Edwin Nasution dkk, Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, Jakarta, Kencana,
2006.
9

bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat
dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. AlMai`dah:3)
Karena didasarkan pada nilai-nilai ilaih, system ekonomi islam tentu saja akan
berbeda dengan system ekonomi kapitalis yang didasarkan pada ajaran kapitalisme, dan
juga berbeda dengan system ekonomi sosialis yang didasarkan pada ajaran sosalisme.
Ada beberapa hal yang mendorong perlunya mempelajari karakteristik ekonomi
islam :
1) Meluruskan

kekeliruan

pandangan

yang

menilai

ekonomi

kapitalis

(memberikan penghargaan terhadap prinsip hak milik) dan sosialis
(memberikan

penghargaan

terhadap

persamaan

dan

keadilan)

tidak

bertentangan dengan metode ekonomi islam.
2) Membantu para ekonomi muslim yang telah berkecimpung dalam teori
ekonomi konvesional dalam memahami ekonomi islam.
3) Membantu para peminat studi fiqh muamalah dalam melakukan studi
perbandingan antara ekonomi islam dan ekonomi konvensional.
Sedangkan sumber karakteristik ekonomi islam adalah islam itu sendiri yang
meliputi tiga asas pokok. Ketiganya secara asasi dan bersama mengatur teori ekonomi
dalam islam, yaitu asas aqidah, akhlak, dan asas hukum (muamalah).11

D. Ciri-Ciri Ekonomi Islam
Prinsip-prinsip ekonomi islam dalam pelaksanaanya, prinsip-prinsip tersebut
menimbulkan hal-hal sebagai berikut yang kemudian menjadi ciri ekonomi islam :
a) Pemilikan, oleh karena manusia itu berfungsi sebagai khalifah yang berkewajiban
untuk mengelolah alam ini guna kepentingamn umat manusia maka ia
berkewajiban untuk mempertanggung jawabkan pengelolaan sumber daya alam.
Dalam menjalankan tugasnya, lambat laun ia dapat membentuk kekayaan
menjadi miliknya. Miliknya ini dipergunakan untuk bekerja guna memenuhi
kebutuhanya dan keluarganya, dan sebagian lagi untuk kepentingan masyarakat.
Meskipun ia memilikinya ,namun ia tidak diperkenakan untuk merusaknya atau
membakarnya, ataupun melantarkanya, mengingat bahwa kepemilikan ini adalah
relative dan juga merupakan titipan Allah swt.

11

Nurul Huda dkk, Ekonomi Makro Islam, Jakarta: Prenada Media Group, 2008.

Pemilikan ini meskipun relative, membawa kewajiban yang harus
dipenuhi manakalah sudah sampai batas tertentu, untuk membayar zakatnya.
Pada waktu tertentu kepemilikan ini harus diwariskan kepada sanak keluarganya
dengan aturan tertentu. Pemilik ini meskipun rellatif dapat dipindah tangankan
kepada institusi islam untuk menjadi barang wakaf. Barang wakaf ini denngan
demikian menjadi milik masyarakat yang harus dihormati oleh siapa pin juga.
b) Atau dijadikan modal untuk suatu perusahaan swasta, atau ikut ambil dari bagian
modal yang ditawarkan untuk investasi. Bisa saja perusahaan memberi
keuntungan, bahkan mungkin kerugian maka pemilik memikulkan bunga modal
perusahaan. Jelas Dalam islam tidak diperkenakan. Sama halnya kita meminjam
uang ke bank kita harus membayar bunga modal, tetapi kalau modalnya
dipergunakan untuk perusahaan sendiri, dengan dalih “cost of money” ia
memeperhitungkan bunga.
Karena diperkenakan memiliki sesuatu sebagai milik pribadi, pemilik
ingin menimbunya untuk kebutuhan sewaktu-waktu atau juga untuk spekuulasi
dipasar.

Ini

tidak

diridhoi

Allah

Swt

yang

memerintahkan

untuk

membelanjakanya agar tercipta pendapatan baru bagi kalangan masyarakat.
c) Pelaksanaan perintah untuk berlomba-lomba berbuat baik. Ini dapat dimengerti
dalam dua hal ,pertama berbuat baik atau amal shaleh dan kedua perbaikan mutu
atau kualitas. Dan sekian banyak perbuatan baik untuk mendapat ridho Allah itu
adalah sadaqah baik kepada seseorang atau asrama yatim piatu.
Juga membantu perusahaan untuk ditingkatkan agar dapat mengatasi
persoalan perusahaanya. “small business service” ini sudah dilaksanakan oleh
beberapa perusahaan besar yang berkewajiban mempergunakan 5% dari
keuntunganya guna menolong mereka.
d) Tharah atau bersuci, kebersihan. Tidak hanya individu ,tetapi juga masyarakat,
pemerintah, perusahaan diwajibkan menjaga kebersihan. Karena setiap gerakan
memerlukan, sebagai masukan, maka timbullah kerusakan lingkungan. Contoh
kecil adalah kencing dibawa pohon atau didalam lubang yang dilarang dalam
islam.
e) Produk barang dan jasa harus halal. Bail cara memperoleh input, pemgolahanya
dana outputnya harus dapat dibuktikan halal. Hendaklah kita tidak begitu saja
percaya terhadap label yang mengatakan ditanggung halal. Tidaklah dapat

dibenarkan bahwa hasil usaha yang haram dipergunakan untuk membiayai yang
halal.
f) Keseimbangan. Allah tidak menghendaki seseorang menghabiskan tenaga dan
waktunya untuk beribadah dalam arti sempit, akan tetapi juga juga harus
mengusahakan kehidupanya di dunia. Dalam mengusahakan kehidupan di dunia,
ia tidak boleh boros, akan tetapi juga tidak boleh kikir. Janganlah seseorang
terlalu senang terhadap hartanya ,tetapi juga jangan terlalu bersedih manakalah ia
kekurangan rizki. Ia harus minta kepada Allah dengan cara yang sabar dan
mendirikan shalat.
g) Upah tenaga kerja, keuntungan dan bunga. Upah tenaga kerja diupayakan agar
sesuai dengan prestasi dan kebutuhan hidupnya. Ini mengakibatkan keuntungan
menjadi kecil yang diterima oleh pemilik saham yang pada umunya berkehidupan
lebih baik dari pada mereka. Akibatnya daya beli orang-orang kecil ini bertambah
besar, dan perusahaan lebih lancar usahanya.12
h) Upah harus dibayar dan jangan menunggu keringat mereka jadi kering, mereka
jadi menunggu gaji, menunggu itu semua sama dengan menderita. Jaga juga agar
harga dapat rendah karenah efesiensi, dan taka da bungaa yang dibayarkan
kepada pemilik modal yang tidak bekerja.
i)

Bekerja baik adalah ibadah, anatar lain sholat, ibadah dalam arti sempit, bekerja
baik juga ibadah, dalam arti luas. Bekerja untuk diri sendiri dan keluarga, syukur
dapat memberi kesempatan kerja bagi orang lain. Ia bekerja baik diserta rasa
bersyukur atas perolehanya serta mencari ridhoi illahi.

j)

Kejujuran dan tepat janji. Segalah perbuatan seseorang harus mengandung
kejujuran, baik berbicara, takaran dan timbangan, serta mutu, dan selalu menepati
janjinya.

k) Kelancaran pembangunan. Ciri tersebut di atas tersebut dapat menjamin bahwa
pembangunan dapat dilaksanakan dengan lancar. Pembangunan wajib dijalankan
untuk mencapai negeri yang indah, dan Allah memberi ampunan. Manusia
dilarang berkeliaran di muka bumi baik didarat mauapun di lautan untuk
membuat kejahatan dan kerusakan di mana-mana. Kerusakan dan kejahatan ini
adalah hasil tangan-tangan mereka sendiri yang akan menipa pada umat manusia.

12

Eko Suprayitno, Ekonomi Islam Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan konvesional,
Yogyakarta Graha Ilmu, 2005.

E. perbedaan Sistem Ekonomi Islam dan Konvensional
Perbedaan dasar antara ekonomi islam dan konvensionalboleh dilihat dari
beberapa sudut yaitu :
1) Sumber (epistemology)
Sebagai sebuah addin yang syumul ,sumbernya berasaskan kepada
sumber yang mutlak yaitu Al-qur`an dan As-sunnah. Kedudukan sumber yang
mutlak ini menjadikan islam itu sebagai suatu agama (addin) yang istimewah
dibanding dengan agama-agama ciptaan lain. Al-qur`an dan As-sunnah ini
menyuruh kita mempraktikan ajaran wahyu tersebut dalam semua aspek
kehidupan termasuk semuah soal muamalah. Perkara muamalah asas dijelaskan
didalam wahyu yang meliputi suruhan dan larangan.
Suruhan seperti makan dan minum menjelaskan tentang tuntutan dan keperluan asasi
manusia. Penjelasan Allah Swt. Tentang kejadianya untuk dimanfaatkan oleh manusia
(QS. Yasin ayat 34-35, 72-73), (QS. An-Nahl ayat 5-8, 14, 80), menunjukkan bahwa alam
ini disediakan begitu untuk dibangun oleh manusia sebagai khalifah Allah (QS. Albaqarah ayat 30).13
Larangan-larang Allah Swt. Seperti riba (QS. Al-Baqarah ayat 275) perniagaan
babi, judi, arak, dan lain-lain karenah perkara-perkara tersebut mencerobohi fubgsi
manusia sebagai khalifah tadi. Oleh karena itu sumber rujukan untuk manusia dalam
semua keadaan termasuk persoalan ekonomi ini adalah lengkap. Kesemuanya itu
menjurus kepada suatu tujuan yaitu pembangunan seimbang rohani dan jasmani manusia
berdasarkan tauhid. Sedangkan ekonomi konvensional tidak bersumber atau berlandaskan
wahyu. Oleh karenah itu , ia lahir dari pemikiran manusia yang bisa berubah berdasarkan
waktu atau masa sehingga diperlukan maklumat yang baru. Kalau ada etikanya diambil
dari wahyu tetapi akal memprosesnya mengikuti selera manusia sendiri karenah
tujuanyamendapat pengiktirafan manusia bukan mengambil pengiktirafan Allah Swt. Itu
bedanya antara sumber wahyu dengan sumber akal manusia atau juga dikenal sebagai
falsafah yang lepas bebas dari ikatan wahyu.
Tujuan yang tidak sama akan melahirkan implikasi yang berbeda karena itu pakar
ekonomi islam bertujuan untuk mencapai al-falah di dunia dan akhirat, sedangkan pakar
ekonomi konvensional mencoba menyelesikan segalah permasalahan yang timbul ada
13

2006.

Mustafa Edwin Nasution dkk, Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, Jakarta, Kencana,

pertimbangan mengenai soal ketuhanan dan keakhiratan tetapi lebih mengutamakan untuk
kemudahan manusia di dunia saja.
2) Tujuan Kehidupan
Tujuan ekonomi islam membawa kepada konsep al-falah (kejayaan) di
dunia dan akhirat, sedangkan ekonomi sekuler untuk kepuasan di dunia saja.
Ekonomi islam meletakkan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini segala
bahan-bahan yang ada di bumi dan di langit adalah di peruntukkan untuk
manusia. Firman Allah Swt. Dalam QS. An-Nahl ayat 12-13 :
‫) ّها زرا لكن في‬29( ‫ّسخر لكن الليل ًِّار ّالشوس ّلقور ّالٌجْم هسخراث باهرٍ اى في زلك الياث لقْم يعقلْى‬
)23( ‫االرض هخخلفا الْاًَ اى في زلك اليت لقْم يسكرّى‬
Artinya : dan dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan
bintang-bintang itu di tundukkan (untukmu) dengan perintahnya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar ada tandaa-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
memehaminya (QS. An-Nahl: 12)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ekonomi, secarah umum didefenisikan sebagai hal yang mempelajari perilaku
manusia dalam menggunakan sumber daya yang langka untuk memproduksi barang dan
jasa yang di butuhkan manusia. Ilmu ekonomi islam adalah ilmu social yang tentu saja
tidak bebas dari nila-nilai moral. Nilai-nilai moral merupakan aspek normatik yang harus
dimasukkan dalam anlisis fenomena ekonomi serta dalam pengambilan keputusan yang
dibingkai syariah.
System didefenisikan sebagai suatu organisasi berbagai unsur yang saling
berhubungan satu sama lain. Unsur-unsur tersebut juga saling mempengaruhi, dan saling
bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu , system ekonomi islam adalah suatu system
ekonomi yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai islam. Sumber dari keseluruhan nilai
tersebut sudah tentu Al-qur`an, As-sunnah, ijma dan qiyas
Prinsip-prinsip ekonomi islam al-ukhuwa (persaudaraan), al-ihsan (berbuat baik),
al-istiqamah (teguh pendirian), al-nasihah (memberi nasihat), al-taqwa (bersikap takwah)

B. Saran
Bagi para pembaca dan rekan-rekan lainya, jika ingin menambah wawasan dan
ingin mengetahui lebih jauh, maka penulis mengharapkan dengan rendah hati agar lebih
membaca buku-buku ilmiah dan buku-buku lainya yang berkaitan dengan judul “
SISTEM EKONOMI ISLAM”

DAFTAR PUSTAKA
Pusat pengkajian dan pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), Ekonomi Islam,
Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2011.
Imamudin Yuliadi, Ekonomi Islam, Yogyakarta: LPPI, 2006.
Muhammad Abdul Mannan, Islamic Economics, Theory and Practice, India:
Idarah Adabiyah, 1980.
Syed Nawab Haider Naqvi, Menggagas Ilmu Ekonomi Islam, terj. M. Saiful
Anam dan Muhammad Ufuqul Mubin, Yogyakarta : pustaka pelajar, 2009.
Muslimin H. Kara Bank Syariah Di Indonesia Analisis Terhadap Pemerintah
Indonesia Terhadap Perbankan Syariah, Yogyakarta: UII Press, 2005.
Mahmud Muhammad Bablily, Etika Bisnis: Studi Kajian Konsep Perekonomian
Menurut Al-qur`an dan As-sunnah, terj. Rosihin A.Ghani, solo: Ramadhani, 1990
Zainul Arifin ,Dasar-dasar Manajemen Bank Syari`ah, Jakarta: Alvabet, 2003.
Eko Suprayitno, Ekonomi Islam, Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan
Konvensional, Yogyakarta, Graha Ilmu, 2005.
Mustafa Edwin Nasution dkk, Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, Jakarta,
Kencana, 2006.
Nurul Huda dkk, Ekonomi Makro Islam, Jakarta: Prenada Media Group, 2008.

Judul: Sistem Ekonomi Islam Makalah Ini Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Perbandingan Sistem Ekonomi

Oleh: Markina Kina


Ikuti kami