Ekonomi Makro Resume Buku Adiwarman

Oleh Intan Yuliana

8 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Ekonomi Makro Resume Buku Adiwarman

NAMA
NIM
FAKULTAS/JURUSAN
SEMESTER/UNIT
MATA KULIAH

: INTAN YULIANA
: 511201211
: SYARIAH/MUAMALAH
: 6 /3
: EKONOMI MAKRO ISLAM

Tugas resume buku!

Sumber Resume:

EKONOMI MAKRO ISLAMI
(edisi kedua)
Oleh:

Ir. Adiwarman A. Karim, S. E., M.B.A., M.A.E.P
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Tahun 2007
328 hlm, 23 cm

1

BAB I
EKONOMI MIKRO DAN EKONOMI MAKRO
A. Pengertian Ekonomi Makro dan Ekonomi Mikro
Dalam ilmu ekonomi, terdapat dua cabang yaitu ekonomi makro dan ekonomi mikro.
Yang dimaksud dengan ekonomi makro adalah kajian tentang aktivitas ekonomi suatu negara,
sedangkan ekonomi mikro adalah kajian tentang tingkah laku individu dalam ekonomi.
Perbedaan yang esensial dlam kajian ekonomi mikro dan ekonomi mikro mencakup dua hal,
yaitu:
1. Adanya uang dalam ekonomi makro, sehingga nominal price menjadi faktor kajian penting.
Dalam kajian ekonomi mikro, yang terpenting adalah harga relatif (relative price, Px/Py), atau
harga relatif pendapatan (income relative price, I/Px, I/Py). Adanya uang inilah yang nantinya
akan menghasilkan cabang ilmu ekonomi moneter.
2. Adanya pembeli dan penjual raksasa dalam ekonomi makro yaitu pemerintah. Kemampuan
dan perilaku pemerintah membelanjakan dan menabung uangnya dalam jumlah yang sangat
besar menjadi kajian tersendiri yang nantinya akan menghasilkan cabang ilmu ekonomi fiskal.
B. Uang Dalam Ekonomi Makro
Ahmad hasan menjelaskan bahwa kata nuqud (uang) tidak terdapat dalam Al-Qur’an
maupun Hadits Nabi Saw., karena bangsa arab umumnya tidak menggunakan kata nuqud untuk
menunjukkan harga. Mereka menggunakan kata dinar untuk menunjukkan mata uang yang
terbuat dari emas, kata dirham untuk menunjukkan alat tukar yang terbuat dari perak. Mereka
juga menggunakan kata wariq untuk menunjukkan dirham perak, kata ‘Ain untuk menunjukkan
dinar emas. Sedangkan fulus (uang tembaga) adalah alat tukar tambahan yang digunakan untuk
membeli barang-barang murah.
Telah dijelaskan bahwa perbedaan antara konsep Islam dengan konsep konvesional
terletak pada perbedaan konsep utilitas pada sisi permintaan dan konsep produksi pada sisi
penawaran. Dengan dimasukkannya unsur uang dalam ekonomi makro, maka perbedaan antara
ekonomi makro Islam dengan ekonomi konvensional, bertambah satu lagi yaitu perbedaan

2

konsep uang. Dalam masyarakat Islam, uang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
kehidupan, bahkan keberadaan uang dapat menghadiri terjadinya riba fadhl.
Fungsi utama uang dalam konsep Islam adalah memperlancar transaksi sektor riil
sehingga tidak diperlukan adanya double coincidence needs. Fungsi ini secara konsisten
dipertahankan dalam konsep Islam, sehingga transaksi di pasar uang selalu terkait dengan
transaksi di pasar barang.
C. Dampak Uang pada Sisi Permintaan: Money Illusion dan Pola Konsumsi (Materi
Intermediate)
Dalam ekonomi makro Islami, perbedaan pada sisi permintaan terasa dampak
dimasukkannya unsur uang pada teori optimalisasi, khususnya pada budget line (minimumkan
budget line untuk mencapai tingkat utilitas tertentu, atau maksimalkan tingkat utilitas dengan
budget line tertentu). Efek akhir perubahan budget line (net effect) merupakan kombinasi dari
efek subtitusi (subtitution effect) dan efek perubahan pendapatan (income effect) efek subtitusi
terjadi akibat perubahan harga relatif (relative price) ini akan mengubah kemiringan (slope)
budget line, sehingga titik singgung dengan kurva utilitas juga berubah. Sedangkan efek
pendapatan terjadi akibat pergeseran budget line secara paralel.
Efek subtitusi (subtitution effect) dan efek perubahan pendapatan (income effect) akan berbeda
untuk tiap jenis barang: normal goods, inferior goods, dan giffen goods. Berikut adalah uraian
efek subtitusi dan efek pendapatan dari masing-masing jenis barang:
1. Normal Goods
Normal goods adalah jenis barang yang apabila pendapatan bertambah, maka jumlah barang
yang dikonsumsi juga bertambah.
2. Inferior goods
Inferior goods adalah kebalikan dari normal goods di mana jumlah barang yang dikonsumsi
akan berkurang bila pendapatan bertambah.
3. Giffen Goods
Giffen goods adalah inferior goods yang efek pendapatannya lebih besar daripada efek
subtitusi.

3

E. Dampak Uang pada Sisi Penawaran: Money Illusion dan Pilihan Teknologi (Materi
Inter Mediate)
Sedangkan pada sisi penawaran dampak dimasukkannya unsur uang terasa pada teori
biaya khususnya ketika optimalisasi penggunaan input, untuk mudahnya, katakan saja fungsi
produksi hanya terdiri dari dua jenis input yaitu tenaga kerja (labor, L) dan modal (kapital, K).
Harga tenaga kerja L adalah w, dan harga modal K adalah r. Marjinal productivity tenaga kerja
adalah MPL, dan marginal productivity modal adalah MPK.
Selama MPL > w, maka penggunaan tenaga kerja masih menguntungkan untuk terus
ditambah 1 unit tenaga kerja menghasilkan nilai output yang lebih besar daripada harga input w.
Begitu pula selama MPK > r, maka penggunaan modal masih menguntungkan untuk terus
ditambah karena tambahan 1 unit modal menghasilkan nilai output yang lebih besar daripada
harga input r. Alokasi optimal ini disebut Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS).
F. Dampak Pemerintah pada Sisi Permintaan dan sisi penawaran: Keynesian Economics
dan Supply Economics (Materi Intermediate)
Pentingnya peranan pemerintah dalam perekonomian sebenarnya telah diungkapkan oleh
ibn khaldun beratus tahun yang lalu (732 H/1332 M – 808 H/1406 M). Ibn khaldun mengatakan
bahwa pemerintah adalah pasar terbesar, ibu dari semua pasar, dalam hal besarnya pendapatan
dan penerimaannya. Jika pasar pemerintah mengalami penurunan, wajar bila pasar yang lain pun
akan ikut menurun, bahkan dalam agraret yang lebih besar. Negara adalah faktor produksi
terpenting di mana produksi bergantung pada penawaran dan permintaan terhadap produk.
G. Teori Permintaan dan Penawaran
Teori permintaan menerangkan tentang ciri hubungan antara jumlah permintaan dan
harga. Hukum pemintaan berbunyi pada harga yang lebih tinggi, jumlah barang yang diminta
akan semakin berkurang, atau sebaliknya pada harga yang lebih rendah, jumlah barang yang
semakin diminta akan semakin bertambah. Ini dapat disimpulkan bahwa jumlah yang diminta
berhubungan terbalik dengan harga barang tersebut dengan anggapan bahwa hal-hal lain konstan
pada kemungkinan harga. Ada hal lain penting yang mempengaruhi permintaan, yaitu
pendapatan, permintaan seseorang atau masyarakat ditentukan leh banyak faktor, diantara fakto –
4

faktor tersebut adalah: Harga barang itu sendiri, Harga barang lain yang berkaitan erat dengan
barang tersebut, Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat, Corak distribusi
pendapatan dalam masyarakat, Cita rasa masyarakat, Jumlah penduduk, Ramalan mengenai
keadaan dimasa akan datang.
Pendapatnya permintaan belum merupakan syarat cukup untuk mewujudkan transaksi
dalam pasar, tentunya harus ada tingkah laku penjual dalam menawarkan barang/jasa dapat yang
disebut dengan penawaran.
Faktor – faktor penentu penawaran adalah:
 Harga barang itu sendiri.
 Harga barang – barang lain.
 Biaya produksi.
 Tujuan operasi perusahaan tersebut.
 Tingkat teknologi yang digunakan.

Sebuah kesepakat harga dapat terjadi apabila permintaan dan penawaran bertemu. Ada
kemungkinan perubahan serentak permintaan dan penawaran yang dapat berlaku. Perubahan
mungkin berlaku kearah sama, yaitu sama-sama mengalami kenaikan atau sama-sama menurun.
Tapi mungkin pula ia berlaku kearah bertentangan, misalnya permintaan turun tetapi penawaran
bertambah, atau permintaan bertambah tetapi penawaran turun.
Tiap-tiap perubahan tersebut akan menimbulkan akibat yang berbeda kepada perubahan harag
dan jumlah barang yang diperjualbelikan.
1. Permintaan Dalam Ekonomi Islam
Dalam pandangan Islam sebenarnya Islam telah mengatur segenap perilaku manusia
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam perilaku konsumsi Islam terlah mengaturnya lewat
Alqur’an dan

Hadist supaya manusia dijauhkan sifat-sifat yang hina karena perilaku

konsumsinya. Seorang muslim berkonsumsi didasarkan atas pertimbangan:
 Manusia tidak kuasa sepenuhnya mengatur detail permasalahan ekinomi masyarakat atau

negara.
 Dalam konsep Islam kebutuhan yang membentuk pola konsumsi seorang muslim, dan dalam

memenuhi kebutuhan seorang muslim tidak akan melakukan konsumsi secara berlebihlebihan.
5

 Perilaku konsumsi seorang muslim diatur perannya sebagai makhluk sosial. Maka ada sikap

menghormati dan menghargai.
Untuk mengetahui tingkat kepuasan seorang muslim dapat diilustrasikan dalm bentuk
nilai guna, yaitu nilai guna total (total utility) dan nilai guna marginal (marginal utility). Nilai
guna total adalah jumlah kepuasan yang diperoleh dalam mengkonsumsi sejumlah barang
tertentu, nilai guna marginal pertambahan atau pengurangan kepuasan akibat dari pertambahan
atau pengurangan penggunaan suatu unit barang.
Hal yang ada diatas mengenai perilaku konsultan akan membentuk permintaan seorang
muslim terhadap suatu barang. Dalam mengkonsumsi barang telah ada batasan-batasan yang
ditentukan dalam konsep ekonomi Islam.
2. Penawaran dalam Ekonomi Islam
Secara umum tidak banyak perbedaan antara teori permintaan konvensional dengan
Islami sejauh hal itu dikaitkan dengan variabel atau faktor yang turut berpengaruh terhadap
posisi penawaran. Bahkan bentuk kurva secara umum pada hakekatnya sama. Satu aspek penting
yang memberikan suatu perbedaan dalam pespektyif ini kemungkinan besara berasal dari
landasan filosofi dan moralitas yang didasarkan pada premis nilai-nilai Islam.
Pertama adalah bahwa Islam memandang manusia secara umum, apakah sebagai
konsumen atau produsen, sebagai suatu objek yang terkait dengan nilai-nilai. Nilai-nilai yang
paling pokok yang didorong oleh Islam dalam kehidupan perekonomian adalah kesederhanaan,
tidak silau dengan gemerlapnya kenikmatan duniawi (zuhud) dan ekonomis (iqtishad). Inilah
nilai-nilai yang seharusnya menjadi trend gaya hidup Islamic man.
Kedua adalah norma-norma Islam yang selalu menemani kehidupan manusia yaitu halal
dan haram. Produk-produk dan transaksi pertukaran barang dan jasa tunduk kepada norma ini.
Hal-hal yang diharamkan atas manusia itu pada hakekatnya adalah barang-narang atau transaksitransaksi yang berbahaya bagi diri mereka dan kemaslahatannya. Namun demikian, bahaya yang
ditimbulkan itu tidak selalu dapat diketahui dan dideteksi oleh kemampuan indrawi atau akal
manusia dalam jangka pendek. Sikap yang benar dalam menghadapi persoalan ini adalah
kepatuhan kepada diktum disertai pencarian hikmah di balik itu.

6

BAB II
EKONOMI MAKRO SEDERHANA
Bab ini menjelaskan model ekonomi makro dari bentuk yang paling sederhana sampai
pada bentuk yang kompleks.
A.

Ekonomi Satu Pulau Satu Orang
Bayangkan perekonomian yang hanya terdiri dari satu orang yang tinggal di satu pulau.

Setiap hari ia memancing ikan untuk dimakan hari itu juga. Sehingga sampai pada suatu hari, ia
berpikir alangkah enaknya bila ia hari ini memancing berselang hari: sehari memancing, sehari
libur. Untuk itu ia harus memancing lebih banyak ikan dalam satu hari agar ia dapat menyimpan
ikan untuk keesokan harinya. Secara formal, kita dapat merumuskan keadaan ini sebagai
berikut:

f (Nt) adalah fungsi produksi yang menggambarkan banyaknya output (ikan yang dipancing)
ditentukan oleh tenaga kerja N (usaha yang dikerahkan untuk memancing ikan). Karena ia tidak
mempunyai sumber pendapatan lain, maka jumlah output (ikan yang didapat) sama dengan
jumlah pendapatannya yaitu Yt. Karena setiap hari ikan yang didapatnya (Yt) habis dimakan hari
itu juga, maka Yt sama dengan konsumsinya yaitu Ct.
Bila ia menyimpan sebagian ikan tangkapannya:

Tidak seluruh tangkapannya ia makan hari itu juga, sebagian ia simpan sebesar S t. Simpanan ini
yang akan ia makan keesokan harinya sebesar Ct+1.

7

Bila ia makan ikan simpanan itu keesokan harinya:

Semakin banyak ia bekerja, semakin banyak ikan yang ia tangkap, akan semakin besar
simpanannya; tentu saja dengan asumsi bahwa ikan yang dinakan hari itu sama banyaknya yaitu
Ct. Di sisi lain, semakin banyak ia bekerja berarti semakin sedikit waktu istirahatnya pada hari
itu. Dengan adanya simpanan, ini juga berarti semakin banyak waktu istirahatnya di keesokan
harinya (atau bahkan di hari-hari mendatang)
B. Ekonomi Satu Pulau Lima Orang
Sekarang bayangkanlah ada satu kapal tenggelam di tengah laut, semua penumpangnya
meninggal atau hilang, kecuali empat orang yang terdampar di pulau tersebut. Jadi di pulau itu
sekarang ada lima orang. Orang pertama memiliki ikan hasil tangkapannya, orang kedua
memiliki beras yang dibawanya dari kapal, orang ketiga memiliki kantong tidur (sleeping bag)
yang selalu dibawanya, orang keempat memiliki pisau kesayangannya, dan orang kelima
memiliki radio kecil.
Untuk bertahan hidup, masing-masing orang memancing ikannya sendiri-sendiri. Tentu
saja orang pertama yang telah berpengalaman memancing ikan, selalu mendapat ikan yang lebih
banyak, dan beristirahat keesokan harinya. Bila ia ingin makan ikan bakar tanpa harus susah
payah menyalakan api, maka ia meminjam pisau orang keempat dengan imbalan memberi
sebagian ikan simpanannya. Bila ia ingin makan ikan bakar sambil mendengarkan radio, ia
meminjam radio dengan memberi imbalan ikan simpanannya kepada orang kelima. Begitu
seterusnya. Tidak selamanya pertukaran itu berlangsung mulus, ada kalanya ia tidak ingin
meminjam pisau sedangkan orang keempat sangat memerlukan ikan. Atau ia sangat ingin beras,
padahal orang kedua ingin berasnya ditukar dengan radio agar dapat berhubungan dengan dunia
luar. Bukan saja tidak mulus, bahkan juga diperlukan waktu yang cukup lama untuk mencari
kecocokan apa yang akan ditukar dengan siapa. Keadaan ini dalam ilmu ekonomi disebut double
coincidence needs yaitu pertukaran hanya dapat terjadi bila ada keinginan yang cocok antara
kedua pihak.

8

C. Ekonomi Satu Pulau Lima Orang dan Uang dari Langit
Sekarang bayangkanlah, ada sebuah helicopter yang baru saja merampok bank. Untuk
jejak, uang hasil rampokan tersebut dijatuhkan ke beberapa pulau sebagai tempat penyimpanan
harta rampokan. Uang yang dijatuhkan dari helicopter tersebut (helicopter money) diantaranya
jatuh di pulau tempat kelima orang tadi, lebih tepatnya, jatuh tepat didepan orang pertama.
Katakan saja jumlah uangnya adalah M1 yaitu sebesar 1 juta rupiah. Jadi sekarang telah terjadi
perubahan jadi ekonomi tanpa uang (moneyless economy) menjadi ekonomi uang (money
economy).
Orang pertama menawarkan kepada orang kedua, inginkah ia menukar berasnya dengan
uang tersebut. Orang kedua setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya. Beralihlah uang
tersebut kepada orang kedua.
Orang kedua menawarkan kepada orang ketiga, inginkah ia menukar sleeping bag nya
dengan uang tersebut. Orang ketiga juga setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya. Beralih
pula uang tersebut kepada orang ketiga.
Orang ketiga menawarkan kepada orang keempat, inginkah ia menukar pisau miliknya
dengan uang tersebut. Orang keempat setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya. Beralih
lagi uang tersebut kepada orang keempat.
Orang keempat menawarkan kepada orang kelima, inginkah ia menukar radio miliknya
dengan uang tersebut. Orang kelima setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya. Beralih lagi
uang itu kepada orang kelima.
Orang kelima menawarkan kepada orang pertama, inginkah ia menukar ikan
tangkapannya dengan uang tersebut. Orang pertama setuju asalkan seluruh uang tersebut
untuknya. Beralih kembali uang itu kepada orang pertama.
Secara formal dikatakan bahwa jumlah uang yang beredar dalam ekonomi adalah M1
(money at time 1), berapa kali uang tersebut berpindah tangan adalah V1 (velocity of money at
time 1), harga masing-masing barang yang dipertukarkan adalah P1 (price at time 1), dan jumlah
barang yang dipertukarkan adalah T1 (goods being traded at time 1). Dalam contoh ini:
M1 = Rp 1 juta
V1 = 5 kali
P1

= Rp 1 juta

T1

= 5 (ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)
9

Bila transaksi ini dirumuskan dalam rumus matematik:
M1 x V1

=

Rp 1 juta x 5 =

P1 x T 1
Rp 1 juta x 5

Sekarang katakanlah, helicopter ini menjatuhkan lagi uang sejumlah Rp 2 juta, dan jatuh
lagi tepat didepan orang pertama. Proses yang sama terjadi, orang pertama menawarkan uang
tersebut kepada orang kedua untuk ditukar dengan beras. Orang pertama setuju asalkan seluruh
uang tersebut untuknya yaitu sejumlah Rp 3 juta (Rp 1 juta pertama dan Rp 2 juta kedua). Uang
tersebut beralih kepada orang kedua. Dan begitu seterusnya sebagaimana telah terjadi
sebelumnya. Perbedaannya adalah jumlah uang beredar sekarang M 2 jumlahnya Rp 3 juta.
Harga masing-masing barang pun sekarang berubah menjadi P 2 yaitu Rp 3 juta. Secara formal
dapat ditulis:
M2 = Rp 3 juta
V2 = 5 kali
P2 = Rp 3 juta
T2 = 5 (ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)
Bila transaksi ini dirumuskan dalam rumus matematik:
M2 x V2

=

Rp 3 juta x 5 =

P2 x T2
Rp 3 juta x 5

Jadi kenaikan jumlah uang beredar ternyata telah meningkatkan harga masing-masing barang.
Kenaikan harga-harga secara umum ini disebut inflasi.
D.

Ekonomi Satu Pulau Lima Orang, Uang dari dari Langit, dan Raja

Sekarang bayangkanlah, orang pertama sebagai orang yang pertama kali ada dipulau itu dan
paling berpengalaman menangkap ikan serta selalu saja uang dari helicopter jatuh di depan orang
pertama, menjadi orang yang paling dominan dalam perekonomian pulau itu. Demikian
dominannya sehingga keempat orang lain sepakat menunjuk orang pertama menjadi pemimpin
mereka. Ini diperlukan untuk mengatur lokasi pemancingan masing-masing orang.

10

Jadi sekarang telah terjadi perubahan dari perekonomian tanpa pemerintah menjadi
perekonomian dengan pemerintah dimana orang pertama menjadi rajanya.
Ada dua perubahan penting dalam perekonomian pulau itu dengan ditunjuknya orang pertama
sebagai raja, yaitu:
1.

Adanya Kepemimpinan

2.

Adanya efektifitas kepemimpinan

E. Ekonomi Banyak Pulau, Banyak Orang, Banyak Uang, Banyak Raja
Bayangkanlah pulau pertama mendapat devisa SR 100 (contoh paling mudahnya diberi
hibah berupa uang) oleh pulau lainnya. Dengan uang tersebut, raja pertama dapat mengeluarkan
sejumlah uang simpanannya senilai SR 100 yaitu Rp 30300 (100 x Rp 303). Namun bila hal ini
dilakukannya, maka nilai tukar uangnya akan terdepresiasi.. Itu sebabnya hibah SR 100 itu
disimpan saja oleh raja pulau pertama. Jadi dampak perubahan nilai tukar uang akibat naiknya
devisa negara di sterilisasi.

11

BAB III
KESEIMBANGAN PASAR DALAM EKONOMI MAKRO
A. Keseimbangan Pasar Ekonomi Mikro: Individu
Dalam bentuk yang paling sederhana, keseimbangan pasar digambarkan dengan kurva
demand dari satu individu yang berpotongan dengan kurva supply dari individu lain. Bentuk
kurva demand yang negatif (dari kiri atas ke kanan bawah) dan bentuk kurva supply yang positif
(dari kanan atas ke kiri bawah).
B. Keseimbangan Pasar Ekonomi Makro: Industri
Keseimbangan ini sama saja dengan keseimbangan pada ekonomi makro, yaitu dengan
menjumlahkan kurva demand individu secara horizontal yang akan menjadi permintaan industri
dan menjumlahkan kurva-kurva supply yang akan menjadi penawaran industri. Dan adanya pasar
sebagai pembeli besar tidak merubah bentuk kurva demand ataupun supply.
C. Keseimbangan Pasar Ekonomi Makro: Agregat
Bila seluruh individu dikumlahkan secara horizontal menjadi industri sehingga didapat
kuantitas barang A yang ditawarkan dalam suatu perekonomian ( Σ Qs), dan jumlah kuantitas
barang A yang diminta dalam suatu perekonomian ( ΣQd ¿ ,maka didapat kurva demand agregat
dan kurva supply agreagat dari industri A.
Selanjutnya, bila kuantitas barang dan jasa masing-masing industri di konversikan dalam satuan
yang sama, katakan saja output nasional Y, maka didapatkan Aggregate Demand (AD) dan
Aggregate Supply (AS) nasional. Secara garis sumbu vertical menggambarkan harga-harga
umum P, sedangkan sumbu horizontal menggambarkan output nasional Y.

Patut diingat bahwa sampai saat ini, kita masih mengasumsikan bahwa belum ada uang dalam
perekonomian.

12

D. Keseimbangan Pasar Ekonomi Makro : Adanya Uang Dalam Perekonomian
Masuknya uang dalam perekonomian mengakibatkan pembentukan keseimbangan umum
bertambah kompleks, meskipun pada akhirnya keseimbangan umum tetap terjadi pada saat
AD=AS.
Dalam pembentukan Aggregate Demand, ada dua keseimbangan pasar yang menentukan, yaitu:
1. Keseimbangan pasar uang
2. Keseimbangan pasar barang dan jasa
E. Keseimbangan Pasar Ekonomi Mikro: Masuknya Peran Pemerintah
Dengan wewenangnya pemerintah dapat menarik pajak dan menjadikanya sebagai
tabungan pemerintah. Selain itu, Dengan tabunganya yang besar pemerintah mempunyai
kemampuan yang besar sebagai pembeli. Katakanlah pemerintah menaikan tabungannya (Sg),
dan pada saat yang sama, menaikan belanjanya yang masuk ke dalam perekonomian.
Y=C+S
Y = (Cg+Ch) + (Sg + Sh)
dimana:
Y adalah pendapatan nasional.
Cg adalah konsumsi pemerintah
Ch adalah konsumsi rumah tangga
Sg adalah tabungan pemerintah
Sh adalah tabungan rumah tangga
F. Keseimbangan Pasar Ekonomi Mikro pada Macam-macam Aggregate Supply (Materi
Intermediate)
1. Kurva AS ber-slope positif: tanpa rigiditas dan rigiditas gaji
Pendapat Keynes yang dibangun dalam hal asumsi yang digunakan dalam kurva AS yang
ber-slope positif dalam kenyataannya adalah:
a. Pasar barang kompetitif, dan harga-harga fleksibel
b. Gaji-gaji tidak fleksibel, dengan kata lain ada rigiditas (kekakuan) gaji nominal.

13

2. Kurva AS ber-slope horizontal: rigiditas harga
Alternative lain dari asumsi Keynes adalah dengan mengasumsikan rigiditas terjadi pada
harga, bukan pada gaji. Secara lengkap, asumsi alternative ini adalah sebagai berikut:
a. Harga-harga tidak fleksibel
b. Pasar tenaga kerja kompetitif, dan gaji-gaji fleksibel. Dengan kata lain tidak ada rigiditas gaji
(kekakuan gaji).
3. Kurva AS ber-slope vertikal: rigiditas output
Alternative lain adalah dengan mengasumsikan rigiditas pada output, bukan pada gaji
atau pada harga. Kurva AS mempunyai slope yang vertical pada saat seluruh kapasitas produksi
perekonomian telah terpakai. Asumsi yang digunakan dalam kurva AS yang berslope vertical
adalah:
a. Perekonomian berada pada keadaan kapasitas penuh. Dengan kata lain, ada rigiditas output.
b. Harga-harga fleksibel, dapat turun naik. Dengan kata lain, tidak ada rigiditas harga (kekuatan
harga).
4. Keseimbangan AS-AD
Dampak dari kenaikan AD berbeda-beda pada jenis AS yang berbeda. Dengan AS yang
mempunyai slope horizontal, maka pergeseran AD hanya bedampak pada Y. Bila AD naik maka
pendapatan nasional naik, sebaliknya bila AD turun, maka pendapatan turun. Harga tetap P.
Dengan AS yang mempunyai slope positif maka pergeseran AD berdampak pada P dan Y. Bila
AD naik maka harga naik dan pendapatan nasional naik. Sebaliknya, bila AD turun maka harga
turun dan pendapatan turun.
Dengan AS yang mempunyai slope vertical maka AD hanya berdampak pada P. bila AD
Naik, maka harga naik sebaliknya, bila AD turun, maka harga turun. Pendapatan nasional tetap
Y.

14

BAB IV
UANG DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM
A.

Konsep uang dalam Islam
Konsep uang dalam ekonomi Islam berbeda dengan konsep uang dalam ekonomi

konvensional. Dalam ekonomi Islam, konsep uang sangat jelas dan tegas bahwa uang adalah
uang, uang bukan capital. Sebaliknya, konsep uang yang dikemukakan dalam ekonomi
konvensional tidak jelas. Sering kali istilah uang dalam perspektif ekonomi konvensional
diartikan secara bolak-balik (interchangeability), yaitu uang sebagai uang dan uang sebagai
capital.
Perbedaan lain adalah bahwa dalam ekonomi Islam, uang adalah sesuatu yang bersifat
flow concept dan capital adalah sesuatu yang bersifat stock concept, sedangkan dalam ekonomi
konvensional terdapat beberapa pengertian. Frederic s. Mishkin, misalnya, mengemukakan
konsep Irving fisher yang menyatakan bahwa:
MV=PT
Keterangan:
M = Jumlah uang
V = Tingkat perputaran uang
P = Tingkat harga barang
T = Jumlah barang yang diperdangkan
Dari persamaan di atas dapat diketahui bahwa semakin cepat perputaran uang (V), maka
semakin besar income yang diperoleh. Persamaan ini juga berarti juga bahwa uang adalah flow
concept. Fisher juga mengatakan bahwa sama sekali tidak ada kolerasi antara kebutuhan
memegang uang (demand for holding money) dengan tingkat suku bunga. Konsep fisher ini
hampir sama dengan konsep yang ada dalam ekonomi Islam, bahwa uang adalah flow concept,
bukan stock concept.
Dalam Islam, capital is private goods, sedangkan money is public goods. Uang yang
ketika mengalir adalah publid goods (flow concept), lalu mengendap ke dalam kepemilikan
seseorang (stock concept), uang tersebut menjadi milik pribadi (private good).

15

Untuk lebih jelasnya, konsep private dan public goods masing-masing dapat
diilustrasikan dengan mobil dan jalan tol. Mobil adalah private good (capital) dan jalan tol
adalah public good (money). Apabila mobil tersebut menggunakan jalan tol, baru kita dapat
menikmati jalan tol. Namun, apabila mobil tersebut tidak menggunakan jalan tol, maka kita tidak
akan menikmati jalan tol tersebut. Dengan kata lain, jika uang diinvestasikan dalam proses
produksi, maka kita baru akan mendapatkan lebih banyak uang. Sedangkan dalam konsep
konvensional uang dan capital dapat menjadi private goods, maka bagi mereka jika mobil
diparkir di gerasi ataupun digunakan di jalan tol, mereka tetap akan menikmati manfaat dari jalan
tol tersebut. Apakah uang diinvestasikan pada proses produksi aau tidak, mereka tetap harus
mendapat lebih banyak uang. Di sinilah letak keanehan teori bunga (interest theory) yang
dikemukakan oleh para ekonom konvensional.
B. Ekonomi Makro dengan Uang
Menurut Al-ghazali dan ibn Khaldun, definisi uang adalah apa yang digunakan manusia
sebagai standar ukuran nilai harga, media transaksi pertukaran, dan media simpanan.
1. Uang Sebagai Ukuran Harga
Abu Ubaid (w. 224 H) menyatakan bahwa dirham dan dinar adalah nilai harga sesuatu,
sedangkan segala sesuatu tidak bisa menjadi nilai harga keduanya.
Imam Ghazali (w. 505 H) menegaskan bahwa Allah menciptakan dinar dan dirham
sebagai hakim penengah diantara seluruh harta agar seluruh harta bisa diukur dengan keduanya.
Dikatakan, unta ini menyamai 100 dinar, sekian ukuran minyak za’faran ini menyamai 100.
Keduanya kira-kira sama dengan satu ukuran, maka keduanya bernilai sama.
Ibn Rusyd (w. 595 H) menyatakan bahwa, ketika seseorang susah menemukan nilai
persamaan antara barang-barang yang berbeda, jadikan dinar dan dirham untuk mengukurnya.
Apabila seseorang menjual kuda dengan beberapa baju, nilai harga kuda itu terhadap beberaba
kuda adalah nilai harga baju itu terhadap beberapa baju. Maka jika kuda itu bernilai 50, tentunya
baju-baju itu juga harus bernilai 50.

16

2. Uang Sebagai Media Transaksi
Uang menjadi media transaksi yang sah yang harus diterima oleh siapa pun bila ia
ditetapkan oleh negara. Inilah perbedaan uang dengan media transaksi lain seperti cek. Berlaku
juga cek sebagai alat pembayaran karena penjual dan pembeli sepakat menerima cek sebagai alat
bayar. Begitu pula dengan kartu debet, kartu kredit dan alat bayar lainnya. Pihak yang dibayar
dapat saja menolak penggunaan cek atau kartu kredit sebagai alat bayar sedangkan uang berlaku
sebagai alat pembayaran karena Negara mensahkannya.
3. Uang Media Penyimpanan Nilai
Al-Ghazali berkata : “kemudian disebabkan jual beli, muncul kebutuhan terhadap dua
mata uang. Seseorang yang ingin membeli makanan dengan baju, dari mana dia mengetahui
ukuran makanan dari nilai baju tersebut. Berapa? Jual beli terjadi pada jenis barang yang
berbeda-beda seperti dijual baju dengan makanan dan hewan dengan baju. Barang-barang ini
tidak sama, maka diperlukan “hakim yang adil” sebagai penengah antara kedua orang yang ingin
bertransaksi dan berbuat adil satu dengan yang lain. Keadilan itu dituntut dari jenis harta.
Kemudian diperlukan jenis harta yang bertahan lama karena kebutuhan yang terus-menerus.
Jenis harta yang paling bertahan lama adalah barang tambang. Maka dibuatlah uang dari emas,
perak, dan logam.
Ibnu khaldun juga mengisyaratkan uang sebagai alat simpanan. Ia menyatakan, kemudian
Allah Ta’ala menciptakan dari dua barang tambang, emas dan perak sebagai nilai untuk setiap
harta. Dua jenis ini merupakan simpanan dan perolehan orang-orang di dunia kebanyakannya.
Dari ketiga fungsi tersebut jelaslah bahwa yang terpenting adalah stabilitas uang, bukan
bentuk uang itu sendiri, uang dinar yang terbuat dari emas dan diterbitkan oleh raja Dinarius dari
Kerajaan Romawi memenuhi criteria uang yang nilainya stabil. Begitu pula uang dirham yang
terbuat dari perak dan diterbitkan oleh Ratu dari Kerajaan Sasanid Persia juga memenuhi criteria
uang stabil. Sehingga, meskipun dinar dan dirham diterbitkan oleh bukan Negara islam,
keduanya dipergunakan dizaman Rasulullah Saw.

17

C.

Perubahan Fungsi Uang
Fungsi uang sebagai medium of exchange dapat digunakan dan diterima sebagai alat

pembayaran. Sebelum ditemukannya koin, komoditi seperti hewan ternak berfungsi sebagai
uang, begitu juga dengan logam seperti emas dan perak yang digunakan pada masa lampau. Koin
Eropa yang dikenal modern saat itu sebenarnya berasal dari Bizantium dan Negara Muslim yang
diperkirakan ditemukan pada abad ke-17. Pada masa islam, Abdul Malik bin Marwan (65-86
H/685-705 M), seoran Khalifah dari Dinasti Umayyah, mengganti koin emas (dinar) Bizantium
dan perak (dirham) Persia yang mempunyai berat yang berbeda dengan koin Islam yang bernilai
sama dengan unit of account.
D. Uang Dalam Fungsi Utilitas
Bagaimana konsep Islam tentang utilitas? Seperti yang sudah diuraikan bahwa uang
diakui hanya sebagai intermediary form, hanya diakui sebagai medium of exchange dan unit of
account tidak lebih dari ini. Artinya fungsi uang hanya sekedar sebagai medium dari barang yang
satu berubah menjadi barang yang lain, tidak perlu adanya double coincidence needs. jadi dalam
konsep Islam, uang tidak masuk dalam fungsi utility kita, karena sebenarnya manfaat yang kita
dapatkan bukan dari uang itu sendiri, tetapi dari fungsi uang.
E. Time Value of Money
Dalam Islam tidak dikenal adanya time value of money, yang dikenal adalah economic
value of time. teori time of money adalah sebuah kekeliruan beasar karena mengambil dari ilmu
teori pertumbuhan populasi dan tidak ada di ilmu finance.
F. Economic Value of Time
Seperti yang sudah diuraikan dalam Islam tidak dikenal adanya time value of money,
yang dikenal adalah economic value of time. Contohnya dalam menghitung nisbah bagi hasil
dibank syariah, dalam penentuan nisbah ini, return on capital harus diperhitungkan. dan return
on capital ini berbeda dengan return on money. return on capital tergantung keapada jenis
bisnisnya dan berkaitan dengan sektor riil, sedangkan return on money berkaitan dengan inters
rate. penentuan nisbah bagi hasil ditentukan di awal, dan untuk itu digunakan projected return,
jika kemudian ternyata actual return dari bisnis yang dibiayai tidak sam dengan angka
18

proyeksinya, maka yang digunakan adalah angka aktual, bukan angka proyeksi. Hal ini
menunjukan bahwa Islam tidak mengenal time value money.
G. Uang Sebagai Flow Concept
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Islam, Uang adalah flow concept dan
capital adalah stock concept. semakin cepat perputaran uang, akan semakin baik, seperti aliran
air masuk dan aliran air keluar, seaktu air mengalir disebut uang, sedangkan apabila air tersebut
mengendap, maka disebut sebagai capital. wadah tempat mengendapnya adalah private goods,
sedangkan air adalah public goods., Uang seperti air, apabila air (uang) dialirkan maka air (uang)
tersebut akan bersih dan sehat (bagi ekonomi). Apabila air (uang) dibiarkan menggenang dalam
suatu tempat

(menimbun uang), maka air tersebut akan keruh/kotor, Saving harus di

investitasikan ke sektor riil. Apabila tidak, maka saving bukan saja tidak mendapat return, tetapi
juga dikenakan zakat.
H. Uang Sebagai Public Goods
Ciri dari public goods adalah barang tersebut dapat digunakan oleh masyarakat tanpa
menghalangi orang lain untuk menggunakannya, sebagai contoh : jalan raya, karena jalan raya
dapat digunakan siapa saja tanpa terkecuali, akan tetapi masyarakat yang mempunya kendaraan
akan lebih besar dalam pemanfaatan dijalan raya dibandingkan masyarakat yang tidak
mempunyai kendaraan. begitu juga dengan uang, sebagai Public goods, uang dimanfaatkan lebih
bagi masyarakat yang kaya, bukan karena simpanan mereka di bank, melainkan aset mereka,
seperti rumah, mobil, saham, dan lain2, sehingga digunakan dalam sektor produksi sehingga
akan menambah lebih banyak uang, jadi semakin tinggi tingkat produksi, maka akan semakin
besar kesempatan untuk dapat memperoleh keuntungan dari Public goods (uang) tersebut. Oleh
sebab itu penimbunan dilarang karena dapat menghalangi orang lain untuk menggunakan public
goods tersebut.

19

BAB V
STABILITAS EKONOMI DALAM BERBAGAI SISTEM
A. Pandangan Aliran Monetaris Tentang Uang
Aliran monetarist berpendapat bahwa perubahan money supply tidak hanya
mempengaruhi tingkat harga, tetapi lebih luas lagi, bahwa dalam jangka pendek money supply
juga merupakan determinan penting yang dapat mempengaruhi aktivitas perekonomian. Menurut
kaum monetarist, antara money supply dan GNP terdapat hubungan langsung dan meyakinkan.
Hubungan itu tak lain adalah monetary velocity yang dapat ditaksir. Oleh karena itu, suatu
perubahan money supply akan mengakibatkan perubahan dalam aggregat spending dan GNP
dengan jumlah yang dapat diramalkan. Jika money supply ditingkatkan selama periode resesi,
maka kenaikan spending pertama-tama akan meningkatkan kesempatan kerja dan output rill.
Sedangkan bila perekonomian sudah mendekati full employment, maka kenaikan GNP akan
disertai kenaikan harga-harga.
Dalam pembahasan tentang permintaan uang, monetarist sangat menitikberatkan
perhatian pada permintaan uang untuk tujuan transaksi.
B. Pandangan Aliran Keynesian Tentang Uang
Berbeda dengan kaum monetarist, kaum Keynesian berpendapat bahwa money supply
mempengaruhi GNP melalui jalur yang tidak langsung dan tidak meyakinkan, terutama karna
anggapan bahwa velocity tidak stabil dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Jadi kesimpulan pandangan Keynesian adalah perubahan money supply hanya dapat
mempengaruhi aggregate spending dan GNP, apabila pertama-tama tingkat bunga berubah, dan
kemudian hanya jika business spending atau consumers spending sensitive terhadap tingkat
bunga tersebut.
C. Pandangan Ekonom Austria Tentang Uang
Terhadap kenyataan adanya inflasi, krisis perbankan dan krisis ekonomi, para pemikir
ekonom dari Austria menyalahkan penggunaan flat money sebagai penyebab utama terjadinya
berbagai macam krisis tersebut. Mereka mengusulkan diterapkannya 100% reserve gold
standard. Para ekonom Austria beranggapan bahwa sistem ini lebih superior dibandingkan
20

dengan sistem flat money yang ada. Karena dapat mencegah terjadinya inflasi dan memelihara
kestabilan harga-harga secara umum. Para ekonom Austria berpendapat bahwa dengan
menggunakan flat money pemerintah akan dengan bebas dapat mencetak uang tanpa
mempertimbangkan kebutuhan dari transaksi sector rill.

21

BAB VI
ECONOMIC VALUE OF TIME
A. Kritik Atas Time Value of Money
Dalam ekonomi konvensional time value of moneydidefinisikan sebagai:
A dollar today is worth more than a dollar in the future because a dollar today can be invested
to get a return.
Definisi ini tidak akurat karena setiap investasi selalu mempunyai kemungkinan untuk
mendapat positive, negative, atau no return. Itu sebabnya dalam teori finance, selalu dikenal riskreturn relationship. Bagi ekonom konvensional ada dua hal yang menjadi alasan intuisi mereka
akan konsep time value of money:
1. Presence of inflation
Katakanlah tingkat inflasi 10% per tahun. Seseorang dapat membeli sepuluh potong
goreng pisang hari ini dengan membayar sejumlah Rp10.000,-. Namun bila ia membelinya
tahun depan, dengan sejumlah uang yang sama yaitu Rp10.000,-, ia hanya dapat membeli
sembilan pisang goreng. Oleh karena itu, ia akan meminta kompensasi untuk hilangnya daya beli
uangnya akibat inflasi.
2. Preference present consumption to future consumption.
Bagi umumnya individu, present consumption lebih disukai daripada future
consumption. Katakanlah tingkat inflasi nihil, sehingga dengan uang Rp10.000,- seseorang tetap
dapat membeli sepuluh pisang goring hari ini maupun tahun depan. Bagi kebanyakan orang,
mengkonsumsi sepuluh pisang goreng hari ini lebih disukai daripada mengkonsumsi sepuluh
pisang goreng tahun depan. Dengan argumentasi ini, meskipun suatu perekonomian tingkat
inflasinya nihil, seseorang lebih menyukai Rp10.000,- hari ini dan mengkonsumsi hari ini. Oleh
karena itu untuk menunda konsumsi, ia meminta kompensasi.
Argumen yang pertama tidak dapat diterima karena tidak lengkap kondisinya (non
exhausted condition). Dalam setiap perekonomian selalu ada keadaan inflasi dan keadaan
deflasi. Bila keberadaan inflasi menjadi alasan adanya time value of money, seharusnya
keberadaan deflasi menjadi alasan adanya negative time value of money. Katakanlah tingkat
deflasi 10% per tahun.
22

Seseorang dapat membeli sepuluh potong goreng pisang hari ini dengan membayar sejumlah
Rp10.000,-. Namun bila ia membelinya tahun depan, dengan sejumlah uang yang sama yaitu
Rp10.000,-, ia dapat membeli sebelas pisang goreng. Oleh karena itu, ia akan memberi
kompensasi untuk naiknya daya beli uangnya akibat deflasi. Inikah yang berlaku? Ternyata
tidak. Hanya satu kondisi saja yang diakomodir oleh konsep time value of money, yaitu kondisi
inflasi; sedangkan kondisi deflasi diabaikan.
Argumen yang kedua akan dijelaskan dalam bagian berikutnya bab ini, dengan berbagai
skenarionya:
1. Ketidak-pastian Return
Sebenarnya dalam ekonomi konvensional, penerapan time value of money tidak senaif
yang dibayangkan, misalnya dengan mengabaikan ketidak-pastian return yang akan diterima.
Bila unsur

ketidak-pastian return ini dimasukkan, ekonom konvensional menyebut

kompensasinya sebagai discount rate.

Jadi istilah discount rate lebih bersifat umum

dibandingkan istilah interest rate.
Dalam ekonomi syariah, penggunaan sejenis discount rate dalam menentukan harga mu’ajjal
(bayar tangguh) dapat digunakan. Hal ini dapat dibenarkan karena:
 Jual beli dan sewa menyewa adalah sektor riil yang menimbulkan economic value added
(nilai tambah ekonomis).
 Tertahannya hak si penjual (uang pembayaran) yang telah melaksanakan kewajibannya
(menyerahkan barang atau jasa), sehingga ia tidak dapat melaksanakan kewajibannya kepada
pihak lain
2. Current Good and Future Good
Perilaku orang untuk melakukan konsumsi saat ini dipengaruhi oleh harapannya di masa
depan. Meminjam akan memungkinkan seseorang untuk meningkatkan konsumsi saat ini dengan
harga-harga yang harus dibayar di kemudian hari.
B. Intemporal budget line
Perilaku konsumsi seseorang dengan melibaykan lebih satu periode waktu disebut dengan
intertemporal consumption pattern.

23

C. Deriving demand for current consumption
Yakni permintaan seseorang atas suatu barang konsumsi yang akan di konsumsi pada saat
sekarang.
D. Deriving demand for future consumption
Yakni permintaan seseorang atas suatu barang konsumsi yang akan di konsumsi pada saat
yang akan datang.
E. Perubahan Pada Endowment Point Dan Dampaknya Terhadap Permintaan
Endowment point ditentukan oleh beberapa besar current income dan beberapa besar
future income. Oleh karena itu, setiap perubahan pada current income atau setiap perubahan pada
future income atau setiap perubahan pada current dan future income akan megubah endowment
point.
Kita telah menjelaskan bahwa dari endowment point inilah kita dapat menentukan budget
line. Pada budget line itu kita akan mendapatkan titik konsumsi optimal. Nah, karena kurva
permintaan diturunkan dari titik-titik optimal pda budged line, maka setiap perubahan pada
endowment point akan mengubah kurva permintaan.
1. Perubahan dalam Current Income
Bayangkan endowment point Hafizh sebesar 1000 Kg beras saat ini dan 1000 kg beras
tahun depan. Secara garis besar, ini digrafikan oleh titik Y (1000,1000). Satu-satunya pedagang
beras di daerah itu adalah Barri. Berdasarkan pengalamannya berdagang beras, Barri
menawarkan beras kepada Hafizh dengan rasio Pt/Po = 1,25. Dengan rasio ini kita daat
menggambarkan budged line Hafizh.
Pada budget line, ini titik optimal bagi Hafizh terjadi pada titik O (800, 1250) yaitu pola
konsumsi optimal baginya adalah mengkonsumsi 800 kg beras tahun ini, dan mengkonsumsi
1250 kg beras tahun depan.
2. Perubahan dalam Future Income
Bayangkan endowment point mutia sebesar 1000 kg jagung saat ini, dan 1000 kg jagung
tahun depan. Secara garis besar, ini diperlihatkan oleh titik Y (1000, 1000). Satu-satunya
pedagang jagung di daerah itu adalah Barri.

24

Berdasarkan pengalamannya berdagang jagung, Barri menawarkan jagung kepada Mutia dengan
rasio Pt/Po = 1,25. Dengan ratio ini, kita dapat menggambar budged line Mutia.
Pada budged line ini, titik optimal bagi mutia terjadi pada titik O (1100, 875) yaitu pola
konsumsi optimal baginya adalah mengkonsumsi 1100 kg jagung tahun ini dan mengkonsumsi
875 kg jagung di tahun depan.

25

BAB VII
INFLASI: STABILITAS NILAI UANG DOMESTIK
A. Sejarah Inflasi
Semuanya mengalami apa yang dinamakan inflasi. Awal inflasi mata uang dinar dimulai
bahkan pada saat Irak sedang dalam masa puncak jayanya dan inflasi ikut mendahului
perkembangan yang cepat dari peminjaman uang (pertumbuhan kredit) serta perbankan
khususnya di Itali, yang merupakan motor pertubuhan lebih lanjut dari perekonomian. Inflasi
acap kali berbentuk kenaikan tingkat harga secara gradual daripada ledakan kekacauan ekonomi.
Lalu mengapa inflasi terjadi? Pada saat tingkat harga secara umum naik, pembeli harus
mengeluarkan lebih banyak uang untuk jumlah barang dan jasa yang sama. Dengan kata lain,
inflasi tidak akan berlanjut jika tidak dibiayai dengan berbagai cara. Jika konsumen tidak dapat
menemukan uang lebih untuk membeli barang demi mempertahankan tingkat pembelanjaannya,
mereka akan membatasi pembelian dengan membeli lebih sedikit yang kemudian pada akhirnya
akan membatasi kemampuan penjual untuk menaikkan harga.
Kaum monetaris berpendapat bahwa revolusi harga tidak akan terjadi jika tidak dibantu oleh
kenaikan penawaran uang yang berasal dari bullion emas dan perak yang diproduksi oleh new
wold yang walaupun banyak juga emas dan perak tersebut akhirnya ditumpuk oleh pribadi
sehingga keluar sirkulasi, ataupun jadi perhiasan dan ornamen-ornamen untuk bangunan istana
dan katedral serta banyak juga dari emas tersebut akhirnya dikapalkan ke Asia dan tidak pernah
kembali lagi. Bisa dikatakan bahwa inflasi terjadi dimana pun, terhadap mata uang apa pun dan
pada periode kapanpun.
B. Teori Inflasi Dalam Konvensional
Secara umum inflasi berarti kenaikan tingkat harga secara umum dari barang/komoditas
dan jasa selama suatu periode waktu tertentu. Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter
karena terjadinya penurunan nilai unit perhitungan moneter terhadapa suatu komoditas. Inflasi
diukur dengan tingkat inflasi (rate of inflation) yaitu tingkat perubahan dari tingkat harga secara
umum. Persamaanya adalah sebagai berikut:
Tingkat hargat – tingkat hargat-1 X 100 = Rate of Inflation
Tingkat hargat-1
26

Umumnya, otoritas yang bertanggung jawab dalam mencatat statistik perekonomian suatu
negara menggunakan ‘Consumer Price Index’ atau CPI dan ‘Producer Price Index’ atau PPI
sebagai pengukur tingkat inflasi. Hanya saja, kedua metode pengukuran tersebut mempunyai
kelemahan-kelemahan, yang salah satunya adalah karena menggunakan kumpulan yang
mewakili sebuah subset dari seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh keseluruhan
perekonomian, sehingga index harga tersebut tidak merefleksikan secara akurat seluruh
perubahan harga yang terjadi.
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan
likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi
(kurangnya produksi (product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi).
Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank
Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan
eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal
(perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.
C. Teori Inflasi Islam
Menurut para ekonom Islam, inflasi berakibat sangat buruk bagi perekonomian karena:
1. Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap fungsi tabungan, fungsi dari
pembayaran di muka, dan fungsi dari unit perhitungan.
2. Melemahkan semangat menabung dan sikap terhadap menabung dari masyarakat.
3. Meningkatkan kecenderungan untuk berbelanja terutama untuk non-primer dan barang-barang
mewah.
4. Mengarahkan investasi pada hal-hal yang non-produktif, yaitu penumpukkan kekayaan
seperti: tanah, bangunan, logam mulia, mata uang asing dengan mengorbankan investasi
kearah produktif seperti : pertanian, industrial, perdagangan, transportasi, dan lainnya.
Ekonom Islam Taqiuddin Ahmad ibn al-Maqrizi (1364 M – 1441 M), menggolongkan
inflasi dalam dua golongan, yaitu:
 Natural Inflation
Natural Inflation dapat diartikan sebagai :

27

 Gangguan terhadap jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu perekonomian
(T).
 Naiknya daya beli masyarakat secara riil.
 Human Error Inflation
Human Error Inflation dikatakan sebagai inflasi yang diakibatkan oleh kesalahan dari
manusia itu sendiri. Human Error Inflation dapat dikelompokkan menurut penyebabpenyebabnya sebagai berikut:
 Korupsi dan administrasi yang buruk (corruption and Bad Administration)
 Pajak yang berlebihan (Excessive Tax);
 Pencetakan uang dengan maksud menarik keuntungan yang berlebihan (Excessive
Seignorage)

28

BAB VIII
NILAI TUKAR UANG: STABILITAS NILAI UANG INTERNASIONAL
A. Teori Nilai Tukar Konvensional
Exchange rates (nilai tukar uang) atau yang lebih popular di kenal dengan sebutan kurs
mata uang adalah catatan (quotation) harga pasar dari mata uang asing (foreign currency) dalam
harga mata uang domestik (domestic currency) atau resiprokalnya, yaitu harga mata uang
domestic dalam mata uang asing. Nilai tukar uang merepresentasikan tingkat harga pertukaran
dari satu mata uang ke mata uang yang lainnya dan di gunakan dalam berbagai transaksi, antara
lain transaksi perdagangan internasional, turisme, investasi internasional ataupun aliran uang
jangka pendek antarnegara, yang melewati batas-batas geografis ataupun batas-batas hukum.
Nilai tukar suatu mata uang dapat di tentukan oleh pemerintah (otoritas moneter), seperti
pada Negara-negara yang memakai system fixed exchange rates ataupun di tentukan oleh
kombinasi antara kekuatan-kekuatan pasar yang saling berinteraksi serta kebijakan pemerintah
seperti pada Negara-negara yang memakai rezim system ‘flexible exchange rates.
Karena setiap negara memiliki hubungan dalam investasi dan perdagangan dengan negara
lain, tidak ada satu pun nilai tukar yang dapat mengukur secara memadai daya beli (purchasing
power) mata uang domestik atas mata uang asing secara umum. Oleh karena itu sejumlah konsep
nilai tukar uang yang efektif telah dikembangkan untuk mengukur rata-rata tertimbang (weighted
average) harga mata uang asing dalam mata uang domestik.
1. Purchasing Power Parity
Definisi dari purchasing power parity (paritas daya beli) atau PPP adalah suatu kondisi
dimana harga dari suatu barang yang dapat di perdagangkan (tradable goods) dalam suatu mata
uang seharusnya sama di manapun barang itu di beli.
2. Kebijakan Nilai Tukar Uang
Setiap Bank Sentral dapat memilih antara dua rezim kebijakan nilai tukar yang berbeda,
yakni:
 Rezim Nilai Tukar Dipagu (fixed Exchange Rate Ragime) : yaitu bila otoritas keuangan suatu
Negara menetapkan suatu nilai tukar uang tertentu untuk mata uangnya.

29

 Rezim Nilai Tukar Fleksibel (Flexibel Exchange Rate Regime) : yaitu apabila nilai tukar mata
uang suatu Negara adalah di tentukan oleh keseimbangan yang terjadi di pasar pertukaran
uang nya.
3. Fixed Exchange Rate Regime
Dalam sistem kebijakan ini bank sentral suatu Negara cukup mengumumkan suatu nilai
tukar tertentu untuk mata uangnya terhadap mata uang asing tertentu dimana Bank Sentral
bersedia membeli dan menjual mata uang asing dengan kuantitas berapapun.
4. Flexible Exchange Rate Regime
Rezim sistem nilai tukar mengambang ini adalah sistem yang dipakai oleh hampir
sebahagian Negara pada saat ini. Jika Bank Sentral ingin menambah penawaran uang, Bank
Sentral dapat mencetak uang dan kemudian membeli sesuatu asset (biasanya obligasi
pemerintah). Jika Bank Sentral ingin mengurangi penawaran uang, maka Bank Sentral dapat
menjual suatu asset (biasanya obligasi pemerintah juga) dan memusnahkan uang yang
didapatnya dari penjualan tersebut.
B. Teori Nilai Tukar Islam
Dalam pembahasan nilai tukar menurut Islam digolongkan dalam dua skenario yaitu :
1. Skenario 1: terjadi perubahan-perubahan harga di dalam negeri yang mempengaruhi nilai
tukar uang (faktor luar negeri dianggap tidak berubah/berpengaruh)
2. Skenario 2: terjadi perubahan-perubahan harga di luar negeri (faktor di dalam negeri dianggap
tidak berubah/berpengaruh.
Selain itu, kebijakan nilai tukar uang dalam Islam dapat dikatakan menganut sistem
managed floating. Dimana nilai tukar adalah hasil dari kebijakan-kebijakan pemerintah dan
karena pemerintah tidak mencampuri keseimbangan yang terjadi di pasar kecuali jika terjadi halhal yang mengganggu keseimbangan itu sendiri.

30

BAB IX
KEBIJAKAN MONETER
A. Pendahuluan
1. Sejarah Kebijakan Moneter Islam
Sistem moneter sepanjang zaman telah mengalami banyak perkembangan, sistem
keuangan inilah yang paling banyak di lakukan studi empiris maupun historis bila di bandingkan
dengan disiplin ilmu ekonomi lainnya.sistem keuangan pada zaman Rosulullah di gunakan
bimatalic standard yaitu emas dan perak (dirham dan dinar) karena keduanya merupakan alat
pembayaran yang sah dan beredar di masyarakat. Nilai tukar emas dan perak pada masa
Rosulallah ini relative stabil dengan nilai kurs dirham-dinar 1:10, namun demikian, setabilitas
nilai kurs pernah mengalami gangguan karena adanya disequilibrium antara supply dan demand.
Misalkan pada masa bani umayyah (41/662-132/750) rasio kurs antara dinar-dirham 1:12,
sedangkan pada masa abbasiyah (132/750-656/1258) berada pada kisaran 1:15.
Pada masa yang lain nilai tukar dirham-dinar mengalami fluktuasi dengan nilai oaling
rendah pada level 1:35 sampai dengan 1:50. Instabilitas dalam nilai tukar yang ini akan
mengakibatkan terjadinya bad coins to drive good coins out of circulations atau kualitas buruk
akan menggantikan uang kualitas baik, dalam literature konvensional peristiwa ini di sebut
hukum Gresham. Seperi yang pernah terjadi pada masa pemerintahan bany mamluk (1263-1328),
dimana mata uang yang beredar tersebut dari fulus (tembaga) mendesak keberadaan uang logam
emas dan perak . oleh ibnu taimiyah di katakana bahwa uang dengan kualitas rendah akan
menendang keluar uang kualitas baik.
Perkembangan emas sebagai standar dari uang beredar mengalami tiga kali evolusi yaitu:
2. The gold cins standard : di mana logam emas mulia sebagai uang yang aktif dalam peredaran
3. The gold bullion standard : di mana logam emas sebagai para meter dalam menentukan nilai
tukar uang yang beredar.
4. The gold exchange standard (bretton woods system): di mana otoritas moneter menentukan
nilai tukar domestic currency dengan foreign currency yang mampu di back-up secara penuh
oleh cadangan emas yang di miliki. Dengan perkembangan sistem keuangan yang demikian
pesat telah memunculkan uang fiducier (kredit money) yaitu uang yang keberadaannya tidak
diback-up oleh emas dan perak.
31

2. Manajemen Moneter Islam
Dalam Al-Quran maupun Sunnah tidak ditemukan secara spesifik keharusan untuk
menggunakan dinar (emas) dan dirham (perak) sebagai standar nilai tukar uang. Khalifah Umar
bin Khattab (23/644) telah mencoba untuk memperkenalkan jenis uang dari kulit binatang.
Beberapa fuqaha diantaranya Ahmad Ibn Hanbal, Ibn Hazm dan Ibn Taimiyah mendukung
keberadaan uang fiducier ini, namun Ibn Taimiyah mengingatkan bahwa penggunaan uang ini
akan mengakibatkan hilangnya uang dinar dan dirham dari peredaran. Sementara Imam AlGhazali memperbolehkan penggunaan uang yang tidak dikaitkan dengan emas dan perak selama
pemerintah mampu menjaga nilainya.
Hal ini membawa kita kepada dua pertanyaan yang saling berkaitan, mengenai siapa yang
berhak mengeluarkan uang fiducier dan bagaimana stabilitas nilai uang tersebut dapat dicapai
dalam sistem keuangan tanpa bunga. Secara umum, para fuqaha telah menyepakati bahwa hanya
otoritas yang berkuasa saja yang berhak untuk mengeluarkan uang, dan pemerintah wajib
menjamin terciptanya kestabilan nilai uang tersebut. Dalam hal ini, Al-Ghazali mensyaratkan
pemerintah untuk :
1. Menyatakan uang fiducier yang dicetak sebagai alat pembayaran resmi
2. Wajib menjaga nilainya dengan mengatur jumlah uang yang beredar sesuai dengan kebutuhan
3. Memastikan tidak adanya perdagangan uang.
Keberadaan uang dalam sebuah perekonomian memberikan arti yang sangat penting.
Ketidakadilan dari alat ukur yang diakibatkan adanya instabilitas nilai tukar uang, akan
mengakibatkan perekonomian tidak berjalan pada titik keseimbangan. Hal ini akan semakin
mempersulit untuk merealisasikan keadilan dalam sosial ekonomi dan kesejahteraan sosial. Ibnu
Khaldun menyatakan bahwa suatu negeri tidak akan mungkin mampu melakukan pembangunan
secara berkesinambungan tanpa adanya keadilan dalam sistem yang dianutnya.
Stabilitas harga berarti terjaminnya keadilan uang dalam fungsinya, sehingga
perekonomian akan relatif berada dalam kondisi yang memungkinkan sumber daya teralokasi
secara merata, pendapatan terdistribusi dengan baik,optimum growth, full employment, dan
stabilitas perekonomian.

32

B. Permintaan Uang
1. Teori Permintaan Uang Klasik
Teori permintaan uang klasik, tercerminkan dalam teori kuantitas uang. Padanya teori ini
diperuntukan untuk menerangkan peranan uang dalam perekonomian. Dalam teori kuantitas
uang ini Irving Fisher mengasumsikan bahwa keberadaan uang pada hakikatnya adalah Flow
Concept.
2. Teori Permintaan Uang Keyness
Penjabaran Keynes tentang individual choise Marshall-Pigou adalah keinginan seseorang
untuk mengatur uang atau asetnya yang dipengauhi oleh tiga hal:
 Money demand for transactions
 Money demand for precautionary
 Money demand for speculation
Bagi Keynes, money demand for transactions ditentukan oleh tingkat pendapatan; Money
demand for precautionary ditentukan oleh tingkat pendapatan; Money demand for speculation
ditentukan oleh tingkat suku bunga.
C. Teori Permintaan Uang Dalam Islam
1. Menurut Mazhab Iqtishaduna
Permintaan uang hanya ditunjukan untuk dua tujuan pokok, yaitu transaksi dan berjagajaga atau investasi.
2. Menurut Madzhab Mainstream
Menurut madzhab ini permintaan uang juga dikategorikan menjadi dalam dua hal yakni
permintaan uang untuk transaksi dan permintaaan uang untuk berjaga-jaga. Landasan filosofis
dari teori dasar ini adalah, bahwa Islam mengarahkan sumber-sumber daya yang ada untuk
alokasi secara maksimum dan efisien. Pelarangan penimbunan uang merupakan ‘kejahatan’
penggunaan yang harus diperangi. Pengenaan pajakaterhadap asetproduktif yang menganggur
merupakan strategi utama yang digunakan oleh madzhab ini.

33

3. Menurut Mazhab Alternatif
Permintaan uang menurut madzhab ini, sangat erat kaitannya dengan konsep endogenous
uang dalam Islam. Teori endogenous dalam Islam secara sederhana dapat diartikan sebagai
keberadaan uang pada hakikatnya adalah representasi dari volume transaksi yang ada dalam
sektor riil. Teori inilah yang kemudian menjembatani dan tidak mendikotomikan antara
pertumbuhan uang di sektor moneter dan pertumbuhan nilai tambah uang di sektor riil.
D. Manajemen Moneter Konvensional Dan Islam
1. Secara Konvensional
Adanya ketidakteraturan dan hubungan antar veriabel dalam perekonomian sering kali
menjadikan kita sulit untuk mengidentifikasi. Alur statu kebijakan moneter mencapai tujuannya.
Ada 2 paradigma dalam memahami mekanisme transmisi moneter:
a) Uang Pasif
Paradigma uang pasif percaya bahwa kesenjangan output merupakan kausal utama dalam
mekanisme transmisi. Dalam paradigma ini suku bunga jangka panjang pendek dan nilai tukar
dijadikan sebagai sasaran antara (intermediak objective) yang pada gilirannya akan
mempengaruhi perkembangan besaran pemerintahan, kesenjangan output dan ekspetasi
inflasi. Dalam paradigma uang pasif ini uang dinyatakan sebagai variable endogen yang mana
otoritas moneter tidak mempunyai kemempuan secara penuh untuk mengatur jumlah uang
beredar.
b) Uang Aktif
Paradigma uang aktif percaya bahwa likuiditas merupakan kausal utama dalam mekanisme
transmisi

moneter.

Suku

bunga

dianggap

sebagai

mekanisme

moneter.

Jumlah uang beredar merupakan sarana yang aktif dijadikan oleh pemerintah sebagai
instruyen moneter dalam mengendalikan tingkat inflasi. Sasaran pokok yang ingin dicapai
dari kebijakan dengan paradigma ini adalah terkendalinya tingkat inflasi dengan
menggunakan besaran moneter (jumlah uang beredar) sebagai sasaran operasionalnya.

34

2. Secara Islam
Dasar pemikiran dari manajemen moneter dalam konsep Islam adalah terciptanya
stabilitas

permintaan

uang

tersebut

kepada

tujuan

yang

penting

dan

produktif.

Dalam teori Keynes telah dikenal bahwa adanya permintaan spekulasi akan uang pada dasarnya
dipengaruhi oleh keberadaan suku bunga (The theory of liquidity preference). Pergerakan suku
bunga merupakan refleksi pergerakan permintaan uang untuk spekulatif. Semakin tinggi
permintaan uang untuk spekulasi, maka semakin rendah tingkat bunga yang berlaku dipasar.
Begitu juga sebaliknya apabila permintaan uang spekulatif menurun, maka suku bunga akan
relatif meningkat. Penghapusan suku bunga dan adanya kewajiban pembayaran pajak atas biaya
produktif yang menganggur, menghilangkan insentif orang untuk memegang uang idle sehingga
mendorong orang untuk melakukan:
 Qard (meminjamkan harta lepada orang lain)
 Penjualan marginal
 Mudharabah
Para pemilik dana akan menginvestasikan dananya pada kegiatan yang memberikan
keuntungan terbesar (actual return), jadi semakin tinggi permintaan uang untuk investasi
disector rill atau kebutuhan akan persediaan dana untuk investasi disector rill atau kebutuhan
akan persediaan dana investasi semakin besar, maka tingkat keuntungan harapan yang akan
diberikan akan relatif menurun. Karena besarnya tingkat actual return ini tidak berfluktuatif
seperti halnya suku bunga maka akan menjadikan permintaan uang akan lebih stabil.

35

BAB X
INSTRUMEN MONETER
A. Instrumen Moneter Konvensional
Suatu otoritas mempunyai pengaruh yang penting, walaupun secara tak langsung
terhadap arah tingkat harga, output dan nilai tukar uang suatu Negara. Otoritas moneter atau
bank sentral melakukan hal tersebut melalui kemampuannya dalam mengendalikan penawaran
uang dan kredit bank serta melalui pengaruhnya terhadap tingkat suku bunga, arus kredit dan
perkembangan sektor financial pada sebuah perekonomian. Pengaruh spesifik yang lain adalah
kemampuan bank sentral untuk mengendalikan jumlah maksimum suku bunga yang dapat
dibayarkan terhadap jumlah simpanan tersebut terhadap jumlah simpanan tertentu kepada bankbank dan menentukan proporsi saham yang dapat dibeli melalui kredit. Dalam hal-hal tertentu,
bank sentral dapat mempunyai kekuasaan temporer untuk mengendalikan kredit komersil, kredit
perumahan, dan kredit konstruksi lainnya. Bank sentral tersebut dalam melakukan implementasi
kebijakannya mempunyai empat macam instrumen utama yaitu:
1. Operasi pasar terbuka (open market operation) atau OMO yang mempengaruhi urang yang
beredar
2. Tikat diskonto (discount rate) atau fasilitas diskonto yang mempengaruhi biaya
3. Ketentuan cadangan minimum (reserve requirement) atau RR yang mempengaruhi jumlah
kewajiban minimum dan dana pihak ketiga yang harus disipan (tidak boleh disalurkan sebagai
kredit) oleh bank
4. Himbauan moral (moral suasion) yang mempengaruhi tindak-tanduk para banker dan
manager senior institusi-institusi financial dalam kegiatan operasinal keseharian bisnisnnya
searah dengan kepentingan public/pemerintah.
Dikarenakan adanya jeda waktu (time lag) antara penerapan (implementasi) kebijakan
moneter dengan akibat pada tujuan akhir yang ingin dicapai di dalam menerapkan kebijakan
moneter yang tepat untuk tujuan ekonomi tertentu, maka harus digunakan suatu sasaran antara
sasaran-sasaran antara dan indikator-indikator yang tepat adalah masalah yang mendasar dalam
implementasi kebijakan moneter sebagaimana hal tersebut juga adalah tuntunan dan panduan
bagi pembuat kebijakan dalam mencapai tujuan akhir.

36

B. Instrumen Moneter Islam
1. Mazhab Pertama (istishaduna)
Pada awal islam dapat dikatakan bahwa tidak diperlukan suatu kebijakan moneter
dikarenakan hampir tidak adanya sistem perbankan dan minimnya penggunaan uang. Jadi tidak
ada alasan yang memadai untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap penawaran uang (Ms)
melalui kebijakan diskresioner. Selain itu, kredit tidak memiliki peran dalam penciptaan uang,
karena kredit hanya digunakan diantara para pedagang saja serta peraturan pemerintah tentang
surat peminjaman (promisorry notes) dan instrumen negoisasi (negotiable instruments) dirancang
sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan sistem kredit tersebut mencipatakan uang.
Instrumen lain yang dapat digunakan pada saat ini untuk mengatur jumlah peredaran uang serta
mengatur tingkat suku bunga jangak pendek yaitu OMO(Melalui jula-beli surat berharga
pemerintah) jles belum ada pada masa awal perkembangan Islam. Selain itu, jelas tindakan
menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga tersebut bertentangan dengan ajaran Islam
karen adanya larangan yang berkenaan dengan riba dalam Islam itu sendiri.
2. Mazhab Kedua (Mainstream)
Tujuan kebijakan moneter yang diberlakukan oleh pemerintah adalah maksimisasi
sumber daya (resources) yang ada agar dapat dialokasikan pada kegiatan perkenomian yang
produkstif. Didalam Alqu’an suah jelas bahwa kita dilarang untuk melakukan penumpukan uang
(money hoarding) yang pada akhirnya akan menjadikan uang tersebut tidak memberikan manfaat
terhadap peningkatan kesejahteraan mayarakat secara keseluruhan. Kekayaan yang iddle tersebut
akan menjadikan sumber dana yang pada awalnya bersifat produktif menjadi tidak produktif.
Oleh sebab itu, mazhab kedua ini merancang sebuah instrumen kebijakan yang ditujiukan untuk
memengaruhi besar kecilnya permintaan uang(MD) agar dapat dialokasikan pada peningkatan
produktivitas perekonomian secara keseluruhan.

37

3. Mazhab Ketiga (Alternatif)
Mazhab ketiga ini sangat banyak diperngaruhi oleh pemikiran-pemikiran ilmiah dari
Dr.M.A chouldhury. Sistem yang kebijakan moneter yang dianjurkan oleh mazhab ini adalah
syuratiq process yaitu dimana suatu kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter adalah
berdasarkan musyawarah sebelumnya dengan otoritas sektor riil. Jadi keputusan-keputusan
kebijakan moneter yang kemudian dituangkan dalam bentuk instrumen moneter biasanya adalah
harmonmisasi dengan kebijakan-kebijakan disektor riil.
C. Aplikasi Instrumen Moneter Islam
1. Sudan
Pada masa sebelum dibelakukannya syariah Islam pada sistem perbankan di sudan. Bank
Sentral Sudan (BOS) sangat tergantung pada isntrumen-instrumen langsung seperti tingkat suku
bunga, plafon kredit (kredit ceiling), ketentuan rasio likuiditas(statutory liquidity ratio), dan
tingkat

diskonto. Pada awalnya instrumen-instrumen tersebut sangat efektif karena

perekonomian Sudan yang mempunyai karakteristik yaitu sistem finansial yang non-kompetitif,
pasar model primer dan sekunder yang belum berkembang, serta kelangkaan modal. Namun
karena istrumen-instrumen langsung tersebut mengakibatkan distorsi dari alokasi sumber daya
bank, interferensi terhadap mekanisme harga, pembatasan kredit, serta misalokasi dan distorsi
dari kompetisi akibat penerapan batasan-batasan pada manajemen aset bank. Pada akhirnya,
BOS lebih memilih untuk memakai instrumen-instrumen tidak langsung.
Berikut adalah instrument-instrument moneter yang digunakan oleh BOS dalam operasionalnya:
 Reserve Requirement.
 Bank-bank komersial harus mencapai dan memelihara rasio likuiditas sebesar 10% dari dana
giro dan tabungan dalam bentuk mata uang lokal.
 Plafon kredit untuk sektor-sektor prioritas tertentu.
 Marjin keuntungan minimum untuk perjanjian Murabaha (berkisar antara 10%-15%
tergantung pada sektor dan mata uang yang digunakan).
 Penyertaan minimum nasabah untuk perjanjian Musyarakah sebagai alat untuk mengatur
jumlah ketersediaan sumber daya untuk kredit (sampai dengan 1998).

38

 Jendela pembiayaan sebagai fasilitas siaga yang dapat digunakan oleh bank-bank jika mereka
memintanya baik untuk keperluan karena kekurangan likuiditas maupun pembiayaan
investasi.
 Foreign Exchange Operation sebagai alat BOS untuk menjaga stabilitas nilai tukar
uang(bukan untuk fungsi kontrol likuiditas).
 OMO dengan menggunakan instrument:


Central Bank Musharaka Certifikat(CMC).



Goverment Musharaka Certifikat(GMC)



Ijara Certificate (Sukuk)

2. Iran
Iran adalah satu-satunya negara Islam yang menerapkan sistem perekonomian dengan
mengacu pada pemikiran teori ekonomi Islam Mazhab I. Pada dasarnya, instrumen-instrumen
moneter yang ada haruslah unsur yang dapat menjauhi riba dan hal-hal yang mengandung
ketidakpastian.
Berikut adalah instrumen moneter yang dipakai oleh otoritas moneter di Iran:
 Reserve requirement ratio.
 Adjusted Open Market Operations.
 Disciount Rates.
 Credit ceiling.
 Minimum expected profit ratio of bank dan Bank’s Share of Profit in Various Contracts.
3. Indonesia
Peraturan perbankan syariah yang dikeluarkan pada tahun 1998 yang menggantikan
peraturan perbankan syariah tahun 1992 telah memungkinkan perkembangan perbankan syariah
dengan sangat cepat. Berkembangnya jumlah cabang dari bank syariah baik dari bank umum
yang berdasarkan syariah maupun divisi syariah dari bank umum konvensional, sertan
meningkatkan kemampuan dalm menyerap dana masyarakat yang terlihat dari dana simpanan
pihak ketiga yang tertera dineraca bank-bank syariah tersebut. BI menjalankan fungsi-fungsi
bank sentralnya terhadap bank-bank yang berdasarkan syariah mempunyai instrumen-instrumen
sebagai berikut:
39

 Giro Wajib Minimum(GMW).
 Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank Syariah(sertifikat IMA).
 Sertifikat Wadiah Bank Indonesia(SWBI)

40

BAB XI
PEMERINTAH SEBAGAI IBU SEGALA PASAR
A. Pasar dan Pemerintah
1. Barang dan Pasar
Jika kita menelaah teori ekonomi konvesional, kebijakan fiskal dibuat karena terjadinya
kegagalan mekanisme pasar. Jika terus berlanjut maka akan memicu timbulnya distorsi
(gangguan terhadap permintaan dan penawaran) yang dapat mengganggu keseimbanagan dari
permintaan Agregatif (AS), Penawaran Agregatif (AD) pada perekonomian tersebut. Ilmu
ekonomi dibedakan berdasarkan sifatnya yaitu:
a. Private goods adalah barang yang dapat di produksi secara lebih efisien (mobil, rumah,
pakaian, dan lain-lain)
b. Public goods adalah barang yang cenderung tidak dapat diproduksi secara efisien. Public
goods dibagi menjadi dua kategori yaitu :
1) Non-Excludable Goods adalah barang dimana orang lain tidak dilarang dari melihat atau
menikmatinya. Contoh ketika ada pertunjukan konser, bukan hanya yang membeli tiket
yang dapat menyaksikan, yang tidak membelipun bisa menyaksikan dari luar gedung dan
pihak penyelenggara tidak dapat melarangnya.
2) Non-Rivalrous Goods adalah barang yang dapat dinikmati tanpa menganggu orang lain.
Contoh ketika kita menonton TV.
2. Distribusi
Equity adalah keadilan dalam mendistribusikan sumber daya (resource). Pemerintah
dapat membantu masyarakat yang kurang beruntung dari masyarakat yang beruntung melalui
pajak, hibah, sumbangan, dan lain-lain.
3. Transfer Tunai Barang dan Jasa
Pemerintah dapat melakukan dengan dua cara yaitu, dengan melakukan transfer tunai dan
melalui bantuan secara langsung.

41

4. Kegagalan Pemerintah
Terjadi karena adanya:
a. Inefisiensi dalam proses produksi
b. Buruk atau kurangnya informasi
B. Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
Adalah gambaran terhadap kegiatan pemerintah dengan anggaran pendapatan
pengeluaran serta pemasukan.
C. Budget Deficit
Setiap perubahan terhadap pendapatan maupun penerimaan maka akan berdampak
terhadap anggaran pemerintah seperti pada rumus:
G≤T
Keterangan:
G = Belanja Negara
T = Pendapatan pajak
Jika pendapatan negara lebih besar dari pada penerimaan maka akan terjadi budget
surplus. Jika sebaliknya akan terjadi Bugdet Deficit. Untuk memenuhi kebutuhan negara jika
dalam keadaan budget deficit maka harus dipastikan untuk pengembalian akan hutang tersebut.
Berikut rumusnya:
T–G≥D
Keterangan:
G = Belanja Negara
T = Pendapatan pajak
D = Utang

42

D. Kebijakan dan Instrumen Fiskal Pemerintah Islam
Kebijakan Instrumen Fiskal Pemerintahan Islam Yang dikenal pada zaman pertengahan
(pada zaman Rasulullah SAW) yang memberikan dampak pada tingkat inflasi dan pertumbuhan
ekonomi. Ciri kebijakan fiskal Baitul Mall pada zaman Nabi SAW adalah sebagai berikut:
1. Sangat Jarang Terjadi Anggaran Defisit
Anggaran defisit akan menimbulkan persoalan yaitu melemahnya nilai uang yang beredar
pada zaman Rasulullah SAW, yang hanya sekali terjadi yaitu ketika jatuhnya kota Mekkah.
2. Sistem Pajak Proposional (Propotional Tax)
Merupakan salah satu kontribusi Islam dalam instrumen fiskal. Keunggulannya adalah
terbentuknya aotomatoc stabilizer yang digambarkan dengan amplitudo diperkecil, artinya
jika kondisi ekonomi memuncak (booming) maka tidak terjadi bubble, jika turun maka tidak
terjadi crash.
3. Besarnya Rate Kharaj Ditentukan Berdasarkan Produktivitas Lahan, bukan
Berdasarakan Zona
Produktivitas lahan diukur berdasar kesuburan tanah, jumlah produk, marketability produk
pertanaian yang ditanam di lahan tersebut dan metode irigasinya, sangatlah mungkin lahan
yang bersebelahan di kenakan kharaj yang berbeda yang menyebabkan pengusaha kecil yang
kurang produktif dapat tetap berusaha di lokasi yang baik dan tidak terpinggirkan menjadi
pedagang kaki lima.
4. Berlakunya Regressive Rate untuk Zakat Peternakan
Adalah penurunan rate karena jumlah hewan ternak yang dipelihara semakin banyak yang
mendorong peternak untuk memperbesar skala usahanya dengan biaya produksi rendah yang
mengakibatkan supply hewan ternak dengan harga yang relatif murah.
5. Perhitungan Zakat Perdagangan Berdasarkan Besarnya Keuntungan, Bukan atas
Harga jual.
Sistem ini berdasarkan keuntungan (profit atau quasi-rent) tidak berpengaruh terhadap kurva
penawaran sehingga barang yang ditawarkan tidak berkurang dan tidak terjadi kenaikan harga
jual. Yang menjadi insentif bagi pedagang untuk mencari keuntungan sejalan dengan
kewajiban membayar zakat. Jumlah zakat yang diterima akan meningkat seiring
meningkatnya keuntungan pedagang.

43

6. Porsi Besar untuk Pembangunan Infrastruktur
Pada zaman Rasulullah SAW pembangunan infrastruktur berupa sumur umum, pos, jalan
raya, jembatan, dan lain-lain.
7. Managemen Yang Baik Untuk Hasil yang Baik
Managemen yang baik akan berdampak baik. Ini terlihat pada zaman Umar bin Khattab
dimana penerimaan di Baitul Mall mencapai 180 juta dirham sehingga mampu mengatur
pemerintahan dengan baik, hingga tiap kota memberikan pajaknya ke pemerintah
8. Jaringan Kerja antar Baitul Mall Daerah
Dengan semakin meluasnya wilayah Islam maka pada zaman Khalifah Ali r.a dibuatlah
struktur anggaran pendapatan yaitu :
a. Peningkatan Pendapatan nasional dan Prtisipasi Kerja Nabi SAW menerapakn kebijakan
sbb:
 Mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar
 Mendorong terjalinnya kerjasama kaum muhajirin dan anshar
 Membagikan tanah dan membangun perumahan untuk kaum muhajirin
 Membagikan 80% Harta rampasan perang
b. Pemungutan Pajak
Pada saat stagnasi dan menurunnya permintaan agregatif (AD) dan penawaran
agregatif(AS), pajak (khususnya khums) mendorong stabilitas pendapatan dan produksi
total. Kebijakan ini juga tidak menyebabkan penurunan harga maupun jumlah produk.
c. Pengaturan Anggaran Dengan mengatur keseimbanagan sehingga tidak terjadi budget
deficit
d. Penerapan Kebijakan Fiskal khusus
Pada masa Rasulullah SAW kebijakan fiskal khusus yaitu:
1) Meminta bantuan kaum muslimin secara sukarela atas permintaan Rasulullah SAW
2) Meminjam peralatan dari kalangan non-muslim dengan jaminan pengembalian dan
ganti rugi apabila terdapat cacat atau rusak
3) Meminjam uang kepada orang tertentu dan memberikannya kepada orang yang baru
masuk Islam
4) Menerapkan kebijakan pemberian insentif.

44

E. Efektivitas Kebijakan Fiskal
Efektifitas Kebijakan Fiskal Harus diketahui terlebih dahulu efektivitas kebijakan dengan
menggunakan kurva IS-LM, dalam teori Keynesian. Kurva ini adalah alat ukur untuk mengetahui
kombinasi agregat output dan tingkat suku bunga. Seperti juga dalam kebijakan moneter sangat
bergantung pada kemiringan kurva.

45

BAB XII
PEMERINTAH SEBAGAI PENABUNG BESAR
A. Anggaran Pendapatan Pemerintah
Dalam struktur APBN terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk menghimpun
dana guna menjalankan pemerintahan, antara lain:
1. Melakukan bisnis
Pemerintah dapat melakukan bisnis seperti perusahaan lainnya, misalnya dengan mendirikan
BUMN.
2. Pajak
Penghimpunan dana yang umum dilakukan adalah dengan cara menarik pajak dari
masyarakat. Pajak dikenakan dalam berbagai bentuk seperti, pajak pendapatan, pajak
penjualan, pajak bumi dan bangunan, dll.
3. Meminjam Uang
Pemerintah dapat meminjam uang dari masyarakat atau sumber-sumber yang lainnya dengan
syarat harus dikembalikan di kemudian hari.
B. Anggaran Pendapatan Pemerintahan Islam
Sumber-sumber pendapatan Negara di zaman Rasulullah SAW tidaklah terbatas pada
zakat semata, karena zakat sendiri baru diperkenalkan pada tahun ke-8 H. Di zaman Rasulullah
SAW sisi penerimaan APBN terdiri dari:
1. Kharaj
Kharaj adalah pajak terhadap tanah, atau di Indonesia setara dengan pajak bumi dan
bangunan (PBB). Perbedaan yang mendasar antara sistem PBB dengan sistem Kharaj adalah;
bahwa Kharaj ditentukan berdasarkan tingkat produktivitas dari tanah bukan berdasarkan zoning.
2. Zakat
Terdiri dari:
 Zakat Pendapatan
 Zakat Peternakan
 Zakat pertanian
46

3. Khums
4. Jizyah
Adalah pajak yang dibayar oleh orang-orang non-Muslim sebagai pengganti fasilitas socialekonomi dan layanan kesejahteraan lainnya, serta untuk mendapatkan perlindungan keamanan
dari Negara Islam.
5. Penerimaan lain
Ada yang disebut Kafarah yaitu denda, misalnya denda yang dikenakan pada suami istri yang
berhubungan di siang hari pada bulan puasa. Mereka harus membayar denda dan denda
tersebut masuk dalam pendapatan Negara.

47

BAB XIII
PEMERINTAH SEBAGAI PEMBELI BESAR
A. Pendahuluan
Pemerintah sebagai pembeli besar dan prinsip-prinsip pembelajaan public dalam
khazanah Islam klasik selama ini tampaknya kurang mendapat perhatian dan pembahasan
khusus. Akan tetapi dalam dunia modern sekarang ini, diskusi-diskusi mengenai pembelajaan
publik dalam dunia Islam telah banyak dibicarakan. Posisi pemerintah dalam alur sirkulasi
ekonomi makro terlihat dalam persamaan berikut ini:
Y=C+S
(Yh + Yg) = (Ch + Sh) + (Cg + Sg)
S = I, asumsi Keynesian
(Yh + Yg) = (Ch + Ih) + (Cg + Ig)
(Yh + Yg) = Ch + (Ih + Ig) + Cg
Y=C+I+G
Keterangan:
Y = Pendapatan Nasional
C = Konsumsi
I = Investasi
g = government
h = household
G = Pengeluaran Pemerintah
B. Klasifikasi Belanja Pemerintah
Berdasarkan jenisnya, belanja pemerintah dapat dibedakan menjadi:
1. Wasteful Spending
Kondisi dimana belanja pemerintah memberikan manfaat yang lebih kecil dibandingkan
dengan manfaat yang dikeluarkan. Contoh: apabila pemerintah mengeluarkan biaya sebesar
Rp. 1 Milyar untuk transportasi umum ternyata kemudian manfaatnya hanya sebesar Rp 700
juta, maka dikatakan telah terjadi Wasteful Spending sebesar Rp 300 juta.

48

2. Transfer Payment
Yaitu apabila jumlah manfaat yang diterima dan biaya yang dikeluarkan sama besarnya.
Sedangkan menurut sifatnya, belanja Negara dapat dibedakan menjadi:
1. Temporary Spending
Yaitu pembiayaan yang dilakukan untuk satu kali waktu saja.
2. Permanent Spending
Yaitu pembiayaan yang dilakukan pemerintah secara terus menerus dalam periode tertentu.
C. Jenis Pengeluaran Baitul Mal
1. Penyebaran Islam
Dana yang digunakan untuk kepentingan dakwah ini jika dilihat dari sisi ekonomi
sebetulnya tidak begitu banyak pengaruhnya. Dampak ekonomi dari penyebaran Islam ini adalah
meningkatkan AD sekaligus juga AS. AD meningkat dalam artian bahwa negeri-negeri yang
ditaklukkan itu populasinya akan masuk ke daerah Islam. Dampak lain adalah dengan
ditaklukkannya Negara-negara disekitarnya sehingga mempengaruhi meningkatnya pendapatan
Baitul Mal (sebagai keuangan publik).
2. Pendidikan dan Kebudayaan
Dalam masa pemerintahan Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, pendidikan dan
kebudayaan mendapat perhatian yang penting sekali. Hal ini tetap dilakukan selama masa
pemerintahan islam selanjutnya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pada masa sekarang ini, peningkatan kemampuan dari penduduk yang miskin untuk
mengusahakan pendapatan lebih tinggi melalui akses yang lebih besar dan mudah kepada
fasilitas-fasilitas pendidikan dan pelatihan yang lebih baik serta akses pembiayaan. Hal ini
menuntut adanya prioritas dalam program pembelanjaan Negara pada pembangunan lembagalembaga pendidikan dan pelatihan keterampilan kerja di daerah pedesaan sehingga setiap orang
yang memenuhi syarat memiliki akses yang sama untuk berpartisipasi.

49

3. Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Di antara ilmu pengetahuan yang menyentuh kehidupan dunia Islam pada masa
pemerintahan Umar bin Khattab adalah ilmu manajemen yang mengatur masalah akuntansi dan
fiscal Baitul Mal. Penerimaan kaum muslimin terhadap ilmu ini berikut aplikasinya
menyebabkan dikembangkan metode modern untuk menyusun anggaran serta perhitungan
pendapatan dan pengeluaran sector-sektor publik.
4. Pembangunan Armada Perang dan Keamanan
Untuk membangun armada perang dan keamanan diperlukan dana yang cukup besar.
Seperlima harta rampasan perang yang diambil dari setiap peperangan merupakan sumber daya
Baitul Mal terpenting yang digunakan untuk memperkuat pengembangan pasukan kaum
Muslimin.
5. Penyediaan Layanan Kesejahteraan Sosial
Subsidi Negara untuk fakir miskin bukan sekedar dibagi rata dan diberikan dalam jumlah
yang kecil, tetapi juga mereka dijamin oleh pemerintah selama satu tahun agar tidak sampai
kekurangan.

50

BAB XIV
PEMERINTAH SEBAGAI INVESTOR PASAR
A. Pertumbuhan Ekonomi, Investasi dan Infrastruktur
Pertumbuhan ekonomi membutuhkan lingkungan politis yang dapat menciptakan intensif
untuk investasi, sistem hukum yang melindungi hak-hak milik, dan perlindungan masyarakat
umum terhadap korupsi, penyuapan, dan pengambilan alih hasil dari investasi mereka. Bahkan
dalam lingkungan kondusif dan tidak ada kejahatan pun keputusan politis dapat mempengaruhi
intensif untuk berinvestasi dan produktivitas dari investasi-investasi tersebut. Pertumbuhan juga
membutuhkan investasi dalam infrastruktur.
Infrastruktur adalah seluruh jenis modal yang bukan dimiliki oleh perusahaan bisnis
perorangan yang membuat produksi perusahaan menjadi lebih efisien. Di beberapa Negara
miskin, nilai dari sebuah investasi bisnis akibat jalan dan Bandar udara yang buruk, tidak adanya
jalur kereta, jaringan telepon yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memasangnya.
Seperti juga halnya keputusan-keputusan politis, infrastruktur fisik penting untuk pertumbuhan
dan jumlahnya dapat dipengaruhi oleh keputusan pemerintah.
B. Pengeluaran Agrerat
Pengeluaran Agrerat menunjukkan hubungan antara pengeluaran agrerat yang
direncanakan dan PDB rill. Pengeluaran agrerat yang direncanakan adalah jumlah dari
pengeluaran konsumsi yang telah direncanakan, investasi, belanja barang dan jasa pemerintah
seta ekspor dikurangi impor.
C. Ekspansi Fiskal dan PDB Potensial
Misalnya PDB rill sama dengan PDB potensial yang berarti bahwa pengangguran sama
dengan tingkat alaminya. Misalnya juga tingkat pengangguran dan tingkat alaminya tinggi dan
misalnya pemerintah salah memperkirakan bahwa pengangguran berada di atas tingkat alaminya
dan mencoba untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan belanjanya.

51

D. Keterbatasan Kebijakan Fiskal
Didasari oleh dua hal:
1. Lambannya proses legislatif yang berarti adalah sulit untuk mengambil tindakan kebijakan
fiscal secara cepat.
2. Perubahan di dalam permintaan agrerat.
E. Fungsi Investasi Dalam Perekonomian Islami
Dalam perekonomian Islami, tingkat bunga tidak termasuk dalam perhitungan investasi,
maka biaya kesempatan dari meminjamkan dana yang digunakan untuk kepentingan investasi
adalah zakat yang dibayarkan pada dana-dana ini. Dengan kata lain, dana atau tabungan yang
tidak dimanfaatkan pada investasi rill akan dikenakan zakat pada tingkat tertentu. Jelaslah bahwa
investasi di dalam perekonomian Islami adalah fungsi dari tingkat keuntungan yang diharapkan.

52

Judul: Ekonomi Makro Resume Buku Adiwarman

Oleh: Intan Yuliana


Ikuti kami