Konsep Ilmu Menurut Ulama Indonesia Dhea Priyanti

Oleh Dhea Priyanti

161,5 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Konsep Ilmu Menurut Ulama Indonesia Dhea Priyanti

KONSEP ILMU MENURUT ULAMA INDONESIA DHEA PRIYANTI Dheapriyantil89@gmail.com UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA ABSTRAK Pentingnya mempunyai ilmu adalah untuk membuktikan kekuasaan Allah SWT. Matlamat ini adalah untuk menguatkan kepercayaan dan keimanan manusia terhadap Allah SWT. Dengan adanya ilmu, manusia dapart membaca Al-Qur’an yang mana terkandung segala persoalan yang wujud di muka bumi ini. Ilmu juga membolehkan manusia mengkaji alam semesta ciptaan Allah ini. Ilmu merupakan perkataan yang memiliki makna lebih dari satu arti. Oleh karenanya diperlukan pemahaman dalam memaknai apa yang dimaksud. Menurut cakupannya pertamatama ilmu adalah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah dalam satu kesatuan. Dalam arti kedua ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari pokok tertentu. Maksud dari pengertian ini adalah bahwa ilmu berarti suatu cabang ilmu khusus Kata kunci : Ilmu dan islam PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan amat penting bagi setiap individu bahkan dapat meningkatkan martabat manusia. Di dalam Islam, menuntut ilmu juga merupakan suatu ibadah kepada Allah dan terdapat beberapa matlamat tertentu dalam proses menuntut ilmu. Pentingnya mempunyai ilmu adalah untuk membuktikan kekuasaan Allah SWT. Matlamat ini adalah untuk menguatkan kepercayaan dan keimanan manusia terhadap Allah SWT. Dengan adanya ilmu, manusia dapart membaca Al-Qur’an yang mana terkandung segala persoalan yang wujud di muka bumi ini. Ilmu juga membolehkan manusia mengkaji alam semesta ciptaan Allah ini. Menuntut ilmu tidak hanya terbatas pada hal-hal ke akhiratan saja, tetapi juga tentang keduniaan. Jelaslah kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat adalah ilmu. Agama Islam merupakan agama yang sangat memuliakan ilmu. Alquran dan hadis menjadi bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat mengapresiasi ilmu dan para penuntut ilmu. Islam mengangkat derajat para penuntut ilmu, dan menuntut ilmu merupakan bagian dari jihad di jalan Allah (Al Rasyidin & Ja’far, 2020). RUMUSAN MASALAH 1. Apakah terdapat perbedaan kedudukan ilmu dalam islam dengan ilmu dalam konsep islam ? 2. Bagaimana cara kita mempelajari ilmu ? PEMBAHASAN A. Pengertian Ilmu Kata “ilmu” berasal dari bahasa Arab yaitu (alima, ya’lamu, ‘ilman) yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yg dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Ilmu ialah deskripsi data pengalaman secara lengkap dan tertanggung jawabkan dalam rumusanrumusannya yang sesederhana mungkin.1 Ilmu merupakan perkataan yang memiliki makna lebih dari satu arti. Oleh karenanya diperlukan pemahaman dalam memaknai apa yang dimaksud. Menurut cakupannya pertama-tama ilmu adalah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah dalam satu kesatuan. Dalam arti kedua ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari pokok tertentu. Maksud dari pengertian ini adalah bahwa ilmu berarti suatu cabang ilmu khusus.2 Berpikir pada dasarnya merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Gerak pemikiran ini dalam kegiatannya mempergunakan lambang yang merupakan abtraksi dari objek yang sedang kita pikirkan. Bahasa adalah salah satu lambang tersebut dimana objekobjek kehidupan yang konkrit dinyatakan dengan kata-kata dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Pengetahun ini merupakan produk kegiatan berfikir yang merupakan obor peradaban dimana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna.3 B. Kedudukan Ilmu Dalam Islam Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam , hal ini terlihat dari banyaknya ayat al-Qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu. Didalam Al qur’an , kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan lebih dari 780 kali, ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari al-Qur’an sangat kental dengan nuansa-nuansa yang berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri penting dari agama Islam sebagamana dikemukakan oleh Dr Mahadi Ghulsyani sebagai berikut; Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al quran dan Al-sunah mengajak kaum muslim untuk mencari danmendapatkan Ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi. Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an yang artinya: “Allah meninggikan beberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan) dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” Ayat di atas dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut Ilmu, dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan Allah, sehingga akan tumbuh rasa kepada Allah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya. Disamping ayat Qur’an yang memposisikan Ilmu dan orang berilmu sangat istimewa, al-Qur’an juga mendorong umat Islam untuk berdo’a agar ditambahi ilmu, dan katakanlah, tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu penggetahuan. dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu ,menjadi sangat penting,dan islam telah sejak awal menekeankan pentingnya membaca , sebagaimana terlihat dari firman Allah yang pertama diturunkan yaitu surat Al-Alaq yang artinya: Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidakdiketahuinya”. (Q.S. Al-Alaq: 1-5) Ayat-ayat trersebut, jelas merupakan sumber motivasi bagi umat Islam untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu, untuk terus membaca, sehingga posisi yang tinggi dihadapan Allah akan tetap terjaga, yang berarti juga rasa takut kepada Allah akan menjiwai seluruh aktivitas kehidupan manusia untuk melakukan amal shaleh, dengan demikian nampak bahwa keimanan yang dibarengi denga ilmu akan membuahkan amal ,sehingga Nurcholis Madjd menyebutkan bahwa keimanan dan amal perbuatan membentuk segi tiga pola hidup yang kukuh ini seolah menengahi antara iman dan amal. Disamping ayat-ayat al-Qur’an , banyak juga hadist yang memberikan dorongan kuat untuk menuntut ilmu antara lain hadist berikut : Artinya: “Carilah ilmu walai sampai ke negri Cina ,karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagisetuap muslim’”(hadis riwayat Baihaqi). Carilah ilmu walau sampai ke negeri cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Artinya: “sesungguhnya Malaikat akan meletakan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rela atas apa yang dia tuntut “ (hadist riwayat Ibnu Abdil Bar). Dari hadist tersebut di atas , semakin jelas komitmen ajaran Islam pada ilmu, dimana menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi umat islam tanpa mengenal batas wilayah. Oleh kerena itu ilmu menempatkan posisi yang sangat urgen dalam Islam. C. Ilmu dalam Konsep Islam Islam sangat menghargai sekali ilmu. Allah berfirman dalam banyak ayat al-Qur’an supaya kaum Muslimin memiliki ilmu pengetahuan. Al-Qur’an, al-Hadits Dan para sahabat menyatakan supaya mendalami ilmu pengetahuan. Artinya: ”Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidakmengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Q.S. AlZumar: 9) Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman: Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orangorang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Mujadillah: 11) Selain al-Qur’an, Rasulullah saw juga memerintahkan kaum Muslimin untuk menuntut ilmu, bahwa orang yang mempelajari ilmu, maka kedudukannya sama seperti seorang yang sedang berjihad di medan perjuangan. Rasulullah saw bersabda yang artinya:“Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini, yang dia tidak mendatanginya kecuali untuk kebaikan yang akan dipelajarinya atau diajarkannya, maka kedudukannya sama dengan mujahid di jalan Allah. Dan siapa yang datang untuk maksud selain itu, maka kedudukannya sama dengan seseorang yang melihat barang perhiasan orang lain.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah).4 Rasulullah saw juga bersabda yang artinya:“Barangsiapa yang pergi menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali.” (HR. Timidzi).5 Selain al-Qur’an dan al-Hadist, para sahabat juga menyatakan bahwa sangat penting bagi kaum Muslimin memiliki ilmu pengetahuan. Seperti Ali bin Abi Talib ra., berkata:” “Ilmu lebih baik dari pada harta, oleh karena harta itu kamu yang menjaganya, sedangkan ilmu itu adalah yang menjagamu. Harta akan lenyap jika dibelanjakan, sementara ilmu akan berkembang jika diinfakkan (diajarkan). Ilmu adalah penguasa, sedang harta adalah yang dikuasai. Telah mati para penyimpan harta padahal mereka masih hidup, sementara ulama tetap hidup sepanjang masa. Jasa-jasa mereka hilang tapi pengaruh mereka tetap ada/membekas di dalam hati.”6 Mu’az bin Jabal ra. mengatakan:” “Tuntutlah ilmu, sebab menuntutnya untuk mencari keridhaan Allah adalah ibadah, mengetahuinya adalah khasyah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah dan mendiskusikannya adalah tasbih. Dengan ilmu, Allah diketahui dan disembah, dan dengan ilmu pula Alah diagungkan dan ditauhidkan. Allah mengangkat (kedudukan) suatu kaum dengan ilmu, dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan Imam bagi manusia, manusia mendapat petunjuk melalui perantaraan mereka dan akan merujuk kepada pendapat mereka.”7 Selain pentingnya ilmu, para ulama kita juga memadukan ilmu dengan amal, fikir dan zikir, akal dan hati. Kondisi tersebut tampak jelas dalam contoh kehidupan para ulama kita, seperti Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Bukhari. Al-Hakam bin Hisyam alTsaqafi mengatakan: “Orang menceritakan kepadaku di negeri Syam, suatu cerita tentang Abu Hanifah, bahwa beliau adalah seorang manusia pemegang amanah yang terbesar. Sultan mau mengangkatnya menjadi pemegang kunci gudang kekayaan Negara atau memukulnya kalau menolak. Maka Abu Hanifah memilih siksaan dari pada siksaan AllahTa’ala.”8 Al-Rabi mengatakan: “Imam Syafi‘i menghkatamkan al-Qur’an misalnya, dalam bulan Ramadhan, enam puluh kali. Semuanya itu dalam shalat.9 Imam Bukhari menyatakan:” (Aku tidak menulis hadist dalam kitab Sahih kecuali aku telah mandi sebelum itu dan telah shalat dua rakaat).10 Bukan saja dalam ilmu-ilmu agama, ulama kita yang berwibawa telah mewariskan kita berbagai karya yang sehingga kini masih selalu kita rasakan manfaatnya. Dalam bidang ilmu pengetahuan umum pun, para pemikir Muslim terdahulu sangat berperan. AlKhawarizmi, Bapak matematika, misalnya, dengan gagasan al-jabarnya telah sangat mempengaruhi perkembangan ilmu matematika. Tanpa pemikiran al-Khawarizmi, tanpa sumbangan angka-angka Arab, maka sistem penulisan dalam matematika merupakan sebuah kesulitan. Sebelum memakai angka-angka Arab, dunia Barat bersandar kepada sistem angka Romawi.11 Terbayang oleh kita betapa rumit, dan bertele-telenya sistem penulisan angka Romawi. Dengan penggunaan angka-angka Romawi, maka akan banyak memakan waktu dan tenaga untuk mengoperasikan sistem hitungan. Seandainya dunia Barat masih berkutat dengan menggunakan angka Romawi, tentunya mereka masih mundur. Sebabnya, angka Romawi tidak memiliki kesederhanaan. Namun, disebabkan sumbangan angkaangka Arab, disebabkan sumbangan pemikiran al-Khawarizmi, maka pengerjaan hitungan yang rumit pun menjadi lebih sederhana dan mudah. Menarik untuk dicermati, al-Khawarizmi menulis karyanya dalam bidang matematika karena didorong oleh motivasi agama untuk menyelesaikan persoalan hukum warisan dan hukum jual beli.12 Selain itu, masih banyak lagi pemikir Muslim yang sangat berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Salah seorang diantaranya adalah Ibn Sina. Ketika baru berusia 21 tahun, beliau telah menulis al-Hasilwa al-Mahsul yang terdiri dari 20 jilid. Selain itu, beliau juga telah menulis al-Shifa (Penyembuhan), 18 jilid; al-Qanun fi alTibb (KaidahKaidah dalam Kedokteran), 14 jilid; Al-Insaf (Pertimbangan), 20 jilid; alNajat (Penyelamatan), 3 jilid; dan Lisan al’ Arab (Bahasa Arab), 10 jilid.13 Karyanya al-Qanun fi al-Tibb telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di Toledo Spanyol pada abad ke12. Buku al-Qanun fi al-Tibb dijadikan buku teks rujukan utama di universitasuniversitas Eropa sampai abad ke17.14 Disebabkan kehebatan Ibn Sina dalam bidang kedokteran, maka para sarjana Kristen mengakui dan kagum dengan Ibn Sina.Seorang pendeta Kristen, G.C. Anawati, menyatakan: “Sebelum meninggal, ia (Ibnu Sina) telah mengarang sejumlah kurang lebih 276 karya. Ini meliputi berbagai subjek ilmu pengetahuan seperti filsafat, kedokteran, geometri, astronomi, musik, syair, teologi, politik,matematika, fisika, kimia, sastra, kosmologi dan sebagainya.” Disebabkan kehebatan kaum Muslimin dalam bidang ilmu pengetahuan, maka sebenarnya pada zaman kegemilangan kaum Muslimin, orang-orang Barat meniru kemajuan yang telah diraih oleh orang-orang islam. Jadi, kegemilangan Barat saat ini tidak terlepas dari pada sumbangan pemikiran kaum Muslimin pada saat itu. Hal ini telah diakui oleh para sarjana Barat itu, para ulama kita dahulu menguasai beragam ilmu. Fakhruddin al-Razi, misalnya, menguasai al-Qur’an, Al-Hadith, tafsir, fiqh, usul fiqh, sastra arab, perbandingan agama, logika, matematika, fisika, dan kedokteran. Bukan hanya al-Qur’an dan al-Hadits yang dihafal, bahkan beberapa buku yang sangat penting dalam bidang usul fikih seperti alShamil fi Usul al-Din, karya Imam al-Haramain al-Juwayni, al-Mu‘ tamad karya Abu al-Husain al-Basri dan alMustasfa karya al-Ghazali, telah dihafal oleh Fakhruddin al-Razi.15 Dengan melihat uraian sebelumnya ,nampak jelas bagaimana kedudukan ilmu dalam ajaran Islam. Al-Qur’an telah mengajarkan bahwa ilmu dan para ulama menempati kedudukan yang sangat terhormat, sementara hadis nabi menunjukan bahwa menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Dari sini timbul permasalahan apakah segala macam Ilmu yang harus dituntut oleh setiap muslim dengan hukum wajib (fardu), atau hanya Ilmu tertentu saja ?. Hal ini mengemuka mengingat sangat luasnya spsifikasi ilmu dewasa ini. Pertanyaan tersebut di atas nampaknya telah mendorong para ulama untuk melakukan pengelompokan (klasifikasi) ilmu menurut sudut pandang masing-masing, meskipun prinsip dasarnya sama ,bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Syech Zarnuji dalam kitab Ta’limu al-Muta‘alim ketika menjelaskan hadis bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim menyatakan: Ketahuilah bahwa sesungguhya tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah menuntut segala ilmu, tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu perbuatan (‘ilmu al-hal) sebagaimana diungkapkan, sebaik-baik ilmu adalah Ilmu perbuatan dan sebagus-bagus amal adalah menjaga perbuatan. Kewajiban manusia adalah beribadah kepada Allah, maka wajib bagi manusia (Muslim ,Muslimah) untuk menuntut ilmu yang terkaitkan dengan tata cara tersebut, seperti kewajiban shalat, puasa, zakat, dan haji, mengakibatkan wajibnya menuntut ilmu tentang hal-hal tersebut. D. Pentingnya Kita Mempelajari Ilmu Betapa pentingnya kita kita mempelajari dan memahami ilmu, yaitu : 1. Perbedaan yang jelas antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. 2. Hanya orang-orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran ( Q.S 39 : 9 ) 3. Hanya orang yang berilmu yang mempu memahami hakikat sesuatu yang disampaikan Allah melalui perumpamaan-perumpamaan ( Q.S 29 : 43 ) 4. Allah memerintahkan agar manusia berdo’a agar ilmunya bertambah. 5. Orang yang mencari ilmu berjalan dijalan Allah, telah melakukan ibadah. Pentingnya ilmu menurut agama Islam, dorongan serta kewajiban mencari dan menuntut ilmu seperti disebutkan diatas, telah menjadikan dunia Islam pada suatu masa di zaman lampau menjadi pusat pengembangan ilmu dan kebudayaan. Di masa yang akan datang kejayaan yang telah ada itu, Insyaallah akan datang kembali kalau pemeluk agama Islam menyadari makna firman allah : “kalian adalah umat terbaik yang yang dilahirkan untuk manusia, mempelajari dan mengamalkan agama Islam secara menyeluruh. Manfaat mempelajari ilmu bagi kehidupan kita, yaitu : 1. Akan mendapatkan pahala secara terus menerus bagi yang mengajarkannya. 2. Ilmu memberikan kepada yang memiliki pengetahuan untuk membedakan apa yangterlarang dan yang tidak, menerangi jalan kesurga, kawan diwaktu sepi dan temanketika kita kehilangan sahabat 3. Ilmu memimpin kita kepada kebahagiaan, menghibur kita dalam duka, perhiasan dalam pergaulan, perisai terhadap musuh. 4. Hamba Allah mencapai kebaikan, memperolah kedudukan yang mulia, dapat berhubungan dengan raja-raja di dunia, kebahagiaan akhirat. Mencari ilmu sampai kenegeri cina, peribahasa diatas mengandung arti bahwa ilmu yang dituntut yang dicari tidak hanya ilmu agama tetapi semua ilmu yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupan di dunia ini maupun di akhirat kelak. Seperti dalam sabda Nabi SAW : “ barang siapa yang menginginkan kebaikan di dunia hendaklah ia mencari ilmu, barang siapa yang menginginkan kebaikan di akhirat hendaklah ia mencari ilmu dan barang siapa yang menginginkan kedua-duanya hendaklah ia mencari ilmu.” . Sebab kebaikan kehidupan dunia dan di akhirat hanya dapat dicapai dengan ilmu. Dr. Syamsuddin Arif mengatakan sumber ilmu dalam Islam ada; persepsi indera (idrak alhawas), proses akal sehat (ta’aqqul), intuisi sehat (qalb) dan khabar shadiq. Persepsi inderawi meliputi yang lima (indera pendengar, pelihat, perasa, penyium, penyentuh), daya ingat atau memori , penggambaran dan estimasi. Proses akal mencakup nalar dan alur pikir. Dengan alur pikir kita bisa berartikulasi, menyusun proposisi, menyatakan pendapat, berargumentasi, melakukan analogi, membuat putusan dan menarik kesimpulan. Selanjutnya dengan intuisi qalbu seseorang dapat menangkap pesan-pesan isyarat ilahi, fath, ilham, kasyf dan sebagainya. Sumber lain yang tak kalah pentingnya adalah khabar shadiq, yang berasal dari dan bersandar pada otoritas. Sumber khabar shadiq, apalagi dalam urusan agama, adalah wahyu (Kalam Allah dan Sunnah Rasul-Nya) yang diterima dan diteruskan yakni ditransmit (ruwiya) dan ditransfer (nuqila) sampai ke akhir zaman.16 Dalam Islam, wahyu merupakan sumber ilmu yang primer karena ia berkaitan langsung dengan realitas absolute, yaitu Allah SWT. Bahkan penggalian ilmu pengetahuan dapat ditemukan di dalam wahyu. Hal ini berbeda dengan Barat yang menolak sama sekali wahyu sebagai sumber ilmu. Wahyu tidak dapat diverifikasi secara ilmiah. Dalam konteks epistemologi, sebenarnya konsepsi Islam lebih komprehensif daripada Barat yang membatasi pada ranah empirik saja.17 PENUTUP Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam, hal ini terlihat dari banyaknya ayat al-Qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu. Dalam konsep Islam digambarkan bahwa kewajiban manusia adalah beribadah kepada Allah, maka wajib bagi manusia (Muslim ,Muslimah) untuk menuntut ilmu. Dengan ilmu kita dapat mengatur hidup yang lebih bermanfaat dengan memahami mana yang benar dan yang salah. Daftar Pustaka Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan, Jakarta, Rineka Cipta, 2004. The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu Edisi Kedua, Yogyakarta, Liberty, 1991. Jujun S. Suriasu mantri, Ilmu dalam Perspektif, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2001. Solah Abdul Qadir, Islam Agama Segenap Umat Manusia. Jakarta: PT. Pustaka Litera. Dikutip dari buku Syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz, Keutamaan Ilmu dan Ahli Ilmu, Pen. Abu ‘Abida alQudsy, Solo : Pustaka alAlaq, 2005. Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, Pen. Ismail Yakub, Jakarta; C.V. Faizan, 1989. Ibn Hajar al‘ Asqalani, Fath al-Bari bi Sharh Sahih alBukhari, Kairo: Maktabah Misr, tt) Al-Ghazali,ihya ulum al-din , pen. Ismail yakub , Jakarta;C.V.faizan,1989. Budi Yuwono, ilmuwan islam pelopor sains modern, Jakarta : pustaka Qalami,2005 William E.Gohlman, the life of ibn sinar:A critical edition and annolated translation ,New york : State University of New York press,1979 W. Montgomery watt, islam dan peradaban Dunia : pengaruh islam atas Eropa Abad pertengahan :Gramedia, 1997 Adnin Armas, “ Fakhruddin al-razi: Ulama yang Dokter & filosof yang mufassi , “ ISLAMIA, april-juni 2005. Yusof Qardhawi , Al qur’an tentang akal dan ilmu pengetahuan , Jakarta, gema insani press,1998 Ja’far, J. (2020). Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam. Medan: Perdana Publishing.

Judul: Konsep Ilmu Menurut Ulama Indonesia Dhea Priyanti

Oleh: Dhea Priyanti


Ikuti kami