Tugas Essay (pengembangan Ilmu Pengetahuan Pendekatan Positivistik

Oleh Puja Kusuma

124,4 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Essay (pengembangan Ilmu Pengetahuan Pendekatan Positivistik

TUGAS ESSAY (Pengembangan Ilmu Pengetahuan Pendekatan Positivistik) Nama : Dian Popi Oktari NIM : 1707376 Mata Kuliah : Filsafat Ilmu Dosen Pengampu: Dr. H. Ahmad Syamsu Rizal, M. Pd A. Aliran Filsafat Positivisme Semua pikiran filsafat saling mempengaruhi, sehingga suatu teori dapat ditelusuri pada para pendahulunya. Wittgenstein misalnya lebih dulu mengatakan bahwa proporsi yang menggambarkan suatu realitas dunia yang memiliki struktur logis. Pengaruh Wittgenstein tampak pada kelompok Wina atau Vienna circle (1922) yang disebut aliran neopositivism atau positivisme logis. Positivisme berasal dari kata “positif”yang artinya faktual, sesuatu yang berdasar fakta atau kenyataan, menurut positivism, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta yang ada, sehingga dalam bidang pengetahuan, ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Positivisme (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neopositivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali. Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satusatunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Positivismemerupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Positivisme logis menggunakan teknik analisi untuk mencapai dua tujuan , yaitu : (1) menghilangkan atau menolak metafisika, dan (2) demi penjelasan bahasa ilmiah dan bukan untuk menganalisis pernyataan-pernyataan fakta ilmiah. Aliran ini lebih menaruh perhatian pada upaya menentukan bermakna atau tidak bermaknanya suatu pernyataan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, bukan pernyataan apakah benar atau salah. Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama terhadap pendekatan neopositivis ini. Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham realisme, materialisme , naturalisme, filsafat dan empirisme. B. Teori Perkembangan Auguste Comte dan Hierarki Ilmu Pengetahuan Munculnya aliran filsafat positivisme ini dipelopori oleh seorang filsuf yang bernama August Comte. Bernama lengkap Isidore Marrie Auguste Francois Xavier Comte, lahir di Montepellier, Perancis (1798). Keluarganya beragama khatolik yanga berdarah bangsawan. Dia mendapat pendidikan di Ecole Polytechnique di Paris dan lama hidup disana. Auguste Comte memulai karier professionalnya dengan memberi les dalam bidang Matematika. Walaupun demikian, perhatian yang sebenarnya adalah pada masalah-masalah kemanusiaan dan sosial. Tahun 1844, dua tahun setelah dia menyelesaikan enam jilid karya besarnya yang berjudul “Clothilde Course of Positive Philosophy”. Auguste Comte juga memiliki pemikiran Altruisme. Altruisme merupakan ajaran Comte sebagai kelanjutan dari ajarannya tentang tiga zaman. Altruisme diartikan sebagai “menyerahkan diri kepada keseluruhan masyarakat”. Bahkan, bukan “salah satu masyarakat”, melainkan “humanite” suku bangsa manusia” pada umumnya. Jadi, Altruisme bukan sekedar lawan “egoisme”(Juhaya S. Pradja, 2000 : 91). Keteraturan masyarakat yang dicari dalam positivisme hanya dapat dicapai kalau semua orang dapat menerima altruisme sebagai prinsip dalam tindakan mereka. Sehubungan dengan altruisme ini, Comte menganggap bangsa manusia menjadi semacam pengganti Tuhan. Kailahan baru dan positivisme ini disebut Le Grand Eire “Maha Makhluk” dalam hal ini Comte mengusulkan untuk mengorganisasikan semacam kebaktian untuk If Grand Eire itu lengkap dengan imam-imam, santo-santo, pesta-pesta liturgi, dan lainlain. Ini sebenarnya dapat dikatakan sebagai “Suatu agama Katholik tanpa agma Masehi”. Dogma satu-satunya agama ini adalah cinta kasih sebagai prinsip, tata tertib sebagai dasar, kemajuan sebagai tujuan. Perlu diketahui bahwa ketiga tahap atau zaman tersebutdi atas menurut Comte tidak hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, tetapi juga berlaku bagi perkembangan perorangan. Misalnya sebagai kanak-kanak seorang teolog adalah seorang positivis. Mulai abad 20-an sampai dengan saat ini, aliran positivisme mampu mendominasi wacana ilmu pengetahuan. Aliran ini menetapkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh ilmu-ilmu manusia maupun alam untuk dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan yang benar, yaitu berdasarkan kriteria-kriteria eksplanatoris dan prediktif. Untuk dapat memenuhi kriteria-kriteria dimaksud, maka semua ilmu harus mempunyai pandangan dunia positivistik, yaitu : - Objektif. Teori-teori tentang semesta haruslah bebas nilai. - Fenomenalisme. Ilmu pengetahuan hanya bicara tentang semesta yang teramati.Substansi metafisis yang diandaikan berada di belakang gejala-gejala penampakan disingkirkan. - Reduksionisme.Semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamati dan - Naturalisme. Alam semesta adalah obyek-obyek yang bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam. Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte(1798-1857) dalam buku utamanya yang berjudul Cours de Philosophic Positive, yaitu kursus tentang filsafat positif (1830-1842)yang diterbitkan dalam enam jilid. Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organik yang kenyataanya lebih daripada sekedar jumlah bagia-bagian yang saling bergantung ,tetapi untuk mengerti kenyataan ini,metode penelitian empiris harus digunakan dengan keyakinan bahwa nasyarakat adalah suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik.Comte melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiah sebagai puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis yang telah dilewati oleh ilmu-ilmu lainya.kemajuan ini mencakup kemajuan teologis purba,penjelasan metafisik,dan akhirnya sampai terbentuknya hukum-hkum ilmiah yang positif. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya da sedikit perbedaan (jika ada )antara ilmu sosial dan ilmu alam,karena masyarakat kehidupan sosial berdasarkan aturan-aturan,demikian juga alam. dan C. Demarkasi Pengetahuan Ilmiah dan Non-ilmiah Pendekatan Positivistik mengandalkan kemampuan pengamatan secara langsung (empiris) penalaran yang digunakan induktif.Ilmu pengetahuan juga filsafat yang menyelidiki fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta.Model pendekatan positivistik terilhami dari gerakan keilmuan masa modern, yang mengharuskan adanya kepastian dalam suatu kebenaran. Syarat objek ilmu yaitu dapat: diamati (observable), diulang-ulang (repeatable), diukur (measurable),diuji (testable), diramalkan(predicable). Dan penelitiannya berpusat pada eksperimen data-data particular, dan ditafsirkan oleh rasio, dan pengalaman (aposteriori). pernyataan-pernyataan metafisik tidak bermakna. Pernyataan itu tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan tautologi yang berguna. Tidak ada cara yang mungkin untuk mentukan kebenarannya ( atau kesalahannya ) dengan mengacu pada pengalaman. Tidak ada pengalaman yang mungkin yang pernah dapat mendukung pertanyaan-pertanyaan metafisik seperti : “ Yang tiada itu sendiri tiada” ( The nothing it self nothing- Das Nichts selbst nichest, Martin Heidegger ), “ yang mutlak mengatasi Waktu”, “ allah adalah Sempurna “, ada murni tidak mempunyai ciri “, pernyataan-pernyataan metafisik adalah semu. Metafisik berisi ucapan-ucapan yang tak bermakna. Auguste Comte ( 1798-1857 ) ia memiliki peranan yang sangat penting dalam aliran ini. Istilah “positivisme” ia populerkan. Ia menjelaskan perkembangan pemikiran manusia dalam kerangka tiga tahap. Pertama,tahap teologis. Disini , peristiwa-peristiwa dalam alam dijelaskan dengan istilah-istilah kehendak atau tingkah dewa-dewi. Kedua, tahap metafisik. Disini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan melalui hukum-hukum umum tentang alam. Dan ketiga, tahap positif.Disini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan secara ilmiah. Upaya-upaya kaum positivis untuk mentransformasikan positivisme menjadi semacam “agama baru”,cendrung mendiskreditkan pandangan-pandangannya. Tetapi tekanan pada fakta-fakta, indentifikasi atas fakta-fakta dengan pengamatan-pengamatan indera,dan upya untuk menjelaskan hukum-hukum umum dengan induksi berdasarkan fakta,diterima dan de ngan cara berbeda-beda diperluas oleh J.S Mill ( 1806-1873 ).E.Mach (1838-1916 ), K.Pierson ( 1857-1936 ) dan P.Brdgeman ( 1882-1961 ). D. Verifikasionisme dan Falsifikasionisme Aliran positivisme ini lebih menaruh perhatian pada upaya menentukan bermakna atau tidaknya suatu pernyataan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, bukan pada pertanyaan apakah benar atau salah. Tugas filsafat adalah melakukan analisis logis terhadap pengetahuan ilmiah. Untuk maksud itu, mereka mengembangkan prinsip yang disebut verifikasi atau kriteria kebermaknaan. Berikut ini adalah beberapa prinsip verifikasi sebagai elaborasi, yaitu :  Suatu proporsi dianggap bermakna manakala secara prinsip dapat diverifikasi. Arti suatu pernyataan adalah sama dengan metode verifikasinya yang berdasarkan pengalaman empiris.  Yang mesti dilakukan itu adalah verifikasi bukan menghasilkan suatu pernyataan yang musti benar. Proposisi “Di rumah itu ada tiga orangg pencuri” adalah bermakna walaupun setelah diverifikasi ketiga pencuri itu tidak ada. Ungkapan “John tidak akan mati” bermakna sebab kalimat itu dapat diverifikasi untuk membuktikan ketidakbenaranya secara empiris. Sebaliknya ungkapan “hari ini cuaca lebih baik daripada diluar” tidak bermakna, sebab dalam ungkapan itu sendiri terdapat kontradiksi.  Setiap pernyataan yang secara prinsip tidak dapat diverifikasi pada hakikatnya pernyataan itu tidak bermakna. Pernyataan-pernyataan metafisik tidaklah bermakna karena secara empirik tidak dapa diverifikasi atau tidak dapat dianalisis secara empirik. Kalimat metafisik God Exist bukanlah kalimat yang secara faktual bermakna. Demikian pula halnya kalimat God does not exist. Alfred Jules Ayer dengan karyanya yang terkenal Language, Truth, and Logic (1939), membedakan dua jenis verifikasi, yakni verifikasi keras dan verifikasi lunak seperti tampak dalam kutipan dibawah ini. Akan anda lihat bahwa aku membedakan antara arti yang “keras” dan arti yang “lunak” dari kata “verifiable” dan aku menjelaskan perbedaan tersebut sebaga berikut. Suatu proposisi dapat dikatakan “verifiable” dalam arti yang keras, hanya jika kebenarannya dapat dibuktikan dalam pengalaman secara meyakinkan. Suatu proposisi “verifiable” dalam arti lunak adalah proposisi yang pengalaman hanya dapat menjadikannya “sangat mungkin (probable)” (dikutip Titus dkk. 1984 : 374). Referensi Alwasilah, A Chaedar. (2010). Filsafat Bahasa dan Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya. Bandung http://dhanalana11.blogspot.com/2013/06/positivisme.html http://sabanhukum.blogspot.com/2012/03/makalah-pendekatan-positivistik_20.html

Judul: Tugas Essay (pengembangan Ilmu Pengetahuan Pendekatan Positivistik

Oleh: Puja Kusuma


Ikuti kami