Ilmu Penyakit Dalam Veteriner "bovine Viral Diarrhea"

Oleh Ihsanul Firdaus

9 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Ilmu Penyakit Dalam Veteriner "bovine Viral Diarrhea"

TUGAS MATA KULIAH
ILMU PENYAKIT DALAM VETERINER 2
“Bovine Viral Diarrhea”

OLEH :
Ihsanul Firdaus

1509005032

Lilik Dwi Maryana

1609511027

Raisis Farah Dzakiyyah A.

1609511080

Vanesya Yulianti

1609511082

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019

BOVINE VIRAL DIARRHEA

1. PENDAHULUAN
Bovine Viral Diarrhea (BVD) atau diare ganas pada sapi merupakan salah satu
penyakit hewan penyebab kerugian ekonomi pada industri sapi perah di seluruh
dunia yang disebabkan oleh virus RNA genus Pestivirus family Flaviridae. Pertama
kali penyakit ini ditemukan di Amerika (OLAFSON et al., 1946). Ketika itu
kejadiannya adalah wabah yang bersifat akut, ditandai dengan kematian seperti
penyakit rinderpest. Tanda klinis yang terlihat berupa ulserasi pada mukosa saluran
pencernaan dan diare (Sudarisman, 2011). Konsekuensi klinis yang ditimbulkan
oleh infeksi virus BVD sangat bervariasi, mulai dari infeksi yang bersifat subklinis
hingga infeksi yang bersifat fatal. Kerugian ekonomi yang terbesar akibat infeksi
oleh Bovine Viral Diarrhea Virus (BVDV) berhubungan dengan gangguan
reproduksi. Gangguan reproduksi akibat infeksi oleh BVDV antara lain kegagalan
konsepsi, kematian awal embrio, abortus, malformasi kongenital, pedet lahir lemah,
dan pedet terinfeksi virus secara persisten (Wuryastuti et al, 2016).
Pedet yang terinfeksi BVDV secara persisten adalah konsekuensi yang paling
merugikan karena bersifat imunotoleran dan merupakan pabrik penghasil BVDV
yang menularkan virus secara cepat dan terus menerus sepanjang hidupnya melalui
kontak langsung dengan sapi-sapi yang peka dan belum divaksinasi. Faktor
lingkungan dan pengetahuan tentang manajemen sapi yang berpotensi menambah
risiko infeksi BVDV akan mempermudah kontrol dan menghalangi transmisi,
meminimalkan efek merugikan dari infeksi BVDV pada kesehatan dan
produktivitas ternak .Oleh karena itu, diagnosis yang akurat adanya infeksi
persisten BVDV sangat penting untuk menejemen kesehatan kelompok sapi di
tingkat lokal dan pengembangan program pengendalian penyakit di tingkat nasional
(Khezri, 2015).

1

2. ETIOLOGI
BVDV adalah virus bulat yang relatif kecil berukuran 40-60 nm. Genomnya
adalah molekul asam ribonukleat (RNA) beruntai tunggal sense positif, terdiri dari
sekitar 12.500 pasangan basa. BVDV mampu menginfeksi berbagai spesies
berkuku. Arah umum penularan yaitu dari sapi ke spesies hewan lain (Lindberg,
2003). Virus BVD termasuk Pestivirus yang diklasifikasikan sebagai virus RNA
famili Flaviviridae. Virus BVD dapat diklasifikasikan dalam biotipe sebagai
cytopathic (CP) dan non cytopathic (NCP) dalam hal dapat diamati atau tidak dapat
diamati perubahan sitopatik pada biakan sel yang terinfeksi. Secara genotipik virus
BVD juga dapat diklasifikasikan kedalam beberapa sub tipe (BVDV-1a, 1b dan 2a)
(Sudarisman, 2011).

Gambar 1. Morfologi Bovine Viral Dhiarrhea Virus (BVD Zero, 2019).
Biotipe sitopatogenik menginduksi apoptosis dalam sel yang dikultur,
sedangkan biotipe non-sitopatogenik tidak. Namun, BVDV non-sitopatogenik
tampaknya menjadi penyebab infeksi akut dan dapat ditularkan dalam berbagai
cairan tubuh, termasuk cairan tubuh yaitu leleran hidung, air seni, susu, air mani,
air liur, air mata dan cairan janin. Feses adalah sumber virus yang buruk. Sumber
infeksi ncp BVDV yang paling penting adalah ternak infeksi persisten (terinfeksi
sebelum lahir) (Lanyon, 2014). FULTON et al. (2000) melaporkan bahwa sapi
dengan gejala gangguan pernafasan pada waktu diambil sampelnya, virus yang
didapat adalah virus BVD dan lebih bersifat NCP (non cytopathic) dibandingkan
dengan CP (cytopathic) dan lebih bersifat BVDV-1 (bovine viral diarrhea virus
type-1) dibandingkan BVDV-2 (bovine viral diarrhea virus type-2).
Apabila dilihat dari hasil nekropsi dengan gejala klinis enteritis/kolitis, pada
sapi lebih bersifat tipe-1 dibandingkan dengan tipe-2 dan ini lebih banyak bersifat

2

CP dibandingkan dengan NCP. BVDV-2 sering dihubungkan dengan kejadian
trombositopenia dan penyakit perdarahan. Bila dilihat dari kejadiannya BVDV-2
lebih virulen dibandingkan dengan BVD-1 dan keduanya tidak bisa dibandingkan
bila ditinjau dari patologi anatominya serta histopatologinya dan untuk diagnosis
definitifnya diperlukan studi virologi dan molekular biologi (ODEON et al., 2003).
Tetapi tidak semua isolat BVDV2 menyebabkan gejala klinis yang parah. Di alam
BVDV-2 yang avirulent lebih banyak ditemui dibanding BVDV-2 yang virulent
(Sudarisman, 2011).

3. PATOGENESIS
Dalam memahami patogenesis penyakit diperlukan tes diagnostik terlebih
dahulu. Virus BVD dari biotipe cp muncul dari ncp yang secara eksklusif pada
hewan yang terinfeksi terus-menerus (Persistent infection) dan selalu dikaitkan
dengan hasil mematikan dari infeksi persisten, yang disebut sebagai penyakit
mukosa (mucosal disease). Sekitar 60% hewan yang tinggal di daerah di mana
BVDV endemik dan tidak dipengaruhi oleh tindakan control, terinfeksi secara
sementara pada beberapa tahap kehidupan mereka (Peterhans, 2010).

Gambar 2. Patogenesis Bovine Viral Dhiarrhea (Peterhans, 2010).
Pada infeksi akut, cara penyebaran infeksi paling umum diantara hewan adalah
kontak hidung ke hidung atau seksual dengan sapi yang terinfeksi. Setelah

3

masuknya virus dan kontak dengan selaput lendir mulut atau hidung, replikasi
terjadi pada tonsil palatine, jaringan limfoid dan sel epitel orofaring. CD46 telah
terbukti menjadi reseptor pada membran sel inang makrofag dan limfosit di mana
BVDV dapat masuk. Apoptosis limfosit menekan fungsi fagositik makrofag
melalui inaktivasi caspase-9 pada kelenjar getah bening, terkait dengan bronkiol
dan usus. Jaringan limfoid yang terkait mengurangi kapasitas sistem kekebalan
tubuh untuk merespons agen infeksi lain.
Virus juga dapat menyebar secara sistemik melalui aliran darah. Viremia terjadi
2-4 hari setelah terpapar dan isolasi virus dari serum atau leukosit umumnya
mungkin antara 3-10 hari pasca infeksi Selama penyebaran sistemik. Antibodi
penawar dapat dideteksi dari 10–14 hari setelah infeksi dengan titer yang terus
meningkat perlahan selama 8-10 minggu. Setelah 2–3 minggu, antibodi secara
efektif menetralkan partikel virus, meningkatkan pembersihan virus dan mencegah
penyebaran di organ target. Hewan dengan infeksi persisten atau mengalami infeksi
akut akan menyebarkan virus ini melalui leleran hidung, mata, saliva, urin dan feces
(Lanyon, 2014).
Infeksi yang terjadi pada sapi dalam stadium kebuntingan dapat menyebabkan
kematian fetus dini, aborsi, fetus yang mengalami abnormalitas pada sistim syaraf
pusat dan system ocular. Infeksi pada trisemester kebuntingan akhir tidak
mengakibatkan imunotoleran pada induk, tetapi dapat menyebabkan gangguan
imunitas pada pedet yang dilahirkan (Peterhans, 2010).
Pada infeksi kronis, virus BVD dapat dipertahankan sebagai infeksi kronis di
beberapa tempat setelah infeksi sementara. Tempat ini termasuk folikel ovarium,
jaringan testis, sistem saraf pusat dan sel darah putih. Sapi dengan infeksi kronis
mendapat respon imun yang signifikan, ditunjukkan oleh titer antibodi yang sangat
tinggi. Sapi jantan yang mengalami infeksi kronis/ persisten akan mengekskresiksn
virus dalam semen yang dihasilkan. Pada pengamatan selanjutnya virus akan
disebarkan setelah terjadi viremia, dimana glandula vesikuler dan prostate
merupakan tempat virus ini melakukan replikasi (Peterhans, 2010).

4

4. GEJALA KLINIS
Pada bentuk subklinis dari BVD, merupakan bentuk yang paling banyak
dijumpai di Amerika Serikat dan daerah enzootik lainnya. Gejalanya meliputi
demam yang yang tidak begitu tinggi, lekopenia, diare ringan dan secara serologis
ditemukan antibodi dengan titer yang tinggi. Bentuk akut penyakit terjadi pada
sapi muda umur 6 – 24 bulan. Sapi muda kurang dari 6 bulan atau sapi dewasa lebih
dari 2 tahun terserang DGS bentuk akut ini. gejala klinis yang segera terlihat adalah
turunnya produksi susu, kelesuan, nafsu makan menurun, temperatur tinggi 41oc.
Diare biasanya profuse dan berair, berbau busuk berisi mukus dan darah
(Pudjiatmoko, 2014).
Lesi pada mukosa pipi terbentuk sebagai akibat nekrosis epitel mukosa. Erosi
ini terjadi pada bagian bibir, bagian belakang langit-langit keras, gusi, sudut mulut
dan lidah. Pada kasus akut seluruh rongga mulut terlihat seperti dimasak, dengan
epithel nekrosis berwarna abu-abu menutupi bagian dasar berwarna merah muda.
Biasanya air liur dikeluarkan dalam jumlah banyak, dan bulu sekitar mulut terlihat
basah. Lesi yang sama didapatkan juga pada cuping hidung. Jika hewan cepat
sembuh, lesi pada mukosa menyembuh dalam waktu 10 - 14 hari, tetapi pada BVD
kronis erosi yang baru akan muncul kembali, terutama pada sudut mulut
(Pudjiatmoko, 2014).
Biasanya terlihat adanya leleran hidung mukopurulen akibat adanya erosi pada
hidung bagian luar dan erosi pada faring. Edema korneal dan Iakrimasi kadang
terlihat juga. Pada bentuk akut ini, dehidrasi dan kelesuan berlangsung sangat cepat,
dan kematian terjadi pada 5 - 7 hari setelah gejala klinis terlihat. Pada kasus perakut
kematian terjadi pada hari ke 2. Beberapa hewan yang sakit dapat berkembang ke
bentuk DGS kronis yang berlangsung sampai beberapa bulan. Kepincangan terlihat
pada beberapa hewan sakit akut, dan ini nampaknya akibat radang pada teracak
(Iaminitis) dan lesi erosif kulit pada celah interdigital yang umumnya terjadi pada
keempat kakinya. Radang korona kaki (coronitis) dan kelainan teracak akan terlihat
pula. Sapi betina bunting dapat mengalami keguguran sebagai akibat infeksi,
biasanya setelah fase akut terlewati, dan kadang-kadang sampai 3 bulan setelah
sembuh, tetapi keguguran ini jarang terjadi (Pudjiatmoko, 2014).

5

Pada bentuk sub akut atau kronis, sapi yang bertahan hidup, tetapi tidak
sembuh benar, terlihat diare, kekurusan yang berlangsung cepat, bulu terlihat kasar
dan kering, kembung kronis, kelainan teracak dan erosi kronis pada rongga mulut
dan pada kulit. Pada kasus kronis hewan dapat bertahan hidup hingga 18 bulan, dan
selama itu hewan mengidap dengan anemia, Ieukopenia, neutropenia dan
lymphopenia (pancitopenia). Sedangkan bentuk neonatal banyak dijumpai pada
pedet dengan umur kurang dari 1 bulan, yang ditandai dengan suhu yang tinggi,
diare, serta gangguan pernafasan. Pedet penderita kebanyakan berasal dari induk
yang sakit atau induk dengan kekebalan rendah. Infeksi umumnya terjadi pasca
kelahiran dan pada infeksi prenatal terjadi sindrom kelemahan pedet dan diikuti
dengan diare (Pudjiatmoko, 2014).

5. DIAGNOSIS
Hingga saat ini, isolasi virus merupakan gold standar untuk diagnosis BVDV.
Waktu uji yang relatif lama dan ketergantungan adanya BVDV hidup di dalam
sampel memicu terjadinya hasil uji negatif palsu. Metode deteksi BVDV yang lain
seperti capture ELISA dan

imunohistokimia memiliki keterbatasan karena

sensitivitas yang bervariasi. Metode reverse transcriptase polymerase chain
reaction (RTPCR) menggunakan pasangan primer spesifik untuk amplifikasi gen
5’-UTR virus BVD dalam sampel darah merupakan uji yang cepat dan tepat untuk
deteksi adanya infeksi persisten BVDV pada pedet karena dapat mengeliminasi
pengaruh antibodi induk yang dapat menganggu hasil (Weinstock et al., 2001.
dalam Wuryastuti et al., 2016).

6. PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN
Pengobatan secara khusus terhadap penyakit BVD tidak ada. Pengobatan dapat
dilakukan secara sistematis untuk mencegah, mengurangi infeksi sekunder dan
mengurangi kekurusan yang melanjut. Program biosekuriti dalam peternakan
memegang peranan penting dalam penyebaran penyakit BVD hal ini dikarenakan
saat ini tidak ada perawatan efektif yang tersedia untuk menyembuhkan BVD,

6

perawatan alternatif hanya antibiotik untuk mengobati infeksi sekunder yang
ditimbulkan misalnya pneumonia (Ellis, 1998., dalam Primadyawan et al.,2016).
Sapi persistent infection (PI) adalah reservoir utama BVDV, meskipun hewan
yang terinfeksi secara sementara, pada tingkat lebih rendah juga dapat berfungsi
sebagai reservoir. Oleh karena itu, pencegahan atau penghapusan PI penting untuk
kontrol BVDV. Pengembangan dan implementasi program kesehatan kelompok
yang membatasi paparan terhadap sapi bunting ke BVDV merupakan hal yang
penting untuk keberhasilan pengendalian. Beberapa pencegahan yang dapat
dilakukan meliputi, isolasi hewan yang memiliki gejala BVD. Sanitasi kandang dan
lingkungan sekitar kandang

untuk membantu mencegah penyebaran virus.

Melakukan pembersihan rutin dengan desinfektan terutama peralatan kandang
secara efektif dapat membunuh virus BVD dan untuk membantu mencegah
penyebaran virus (Brennan et al., 2008). Hal ini telah diterapkan pada kontrol
BVDV dan keberhasilan yang lebih besar dapat diharapkan ketika digunakan secara
bersamaan dalam program kontrol BVDV. Beberapa negara Eropa memiliki
program pemberantasan yang sukses, dan ini telah mendorong organisasi hewan
dan peternak.
Vaksinasi juga dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya paparan BVD.
Banyak vaksin berlisensi komersial tersedia untuk membantu mengurangi dampak
infeksi pada kawanan sapi. Sebagian besar vaksin BVD dikombinasikan dengan
virus ternak umum lainnya dalam satu suntikan yang mengandung virus yang
dimatikan atau virus hidup yang dimodifikasi. Sangat penting bahwa instruksi
untuk vaksin dipatuhi dengan tepat untuk memberikan perlindungan bagi hewan
(Ward dan Powell, 2017).

7

DAFTAR PUSTAKA

Brennan, ML., Kemp, R,. dan RM Christley. (2008). Direct And Indirect Contacts
Between Cattle Farms In North-West England. Journal Veterinary Medical.
Vol. 84 : 24-260.
Khezri, Mohammad. (2015). Bovine Viral Diarrhea (BVD): A Review Emphasizing
On Iran Perspective. Journal of Advanced Veterinary and Animal Research.
Vol. 2(3) : 240-251.
Lanyon, Sasha R., Hill, Fraser I., Reichel, Michael P., dan Joe Brownlie. (2014).
Bovine Viral Diarrhoea: Pathogenesis And Diagnosis. The Veterinary Journal.
199 : 201-209.
Lindberg, A.L.E. (2003). Bovine Viral Diarrhoea Virus Infections And Its Control
: A Review. Veterinary Quarterly. Vol 25 (1) : 1-16.
Peterhans, Ernst., Bachofen, Claudia., Stalder, Hanspeter., dan Matthias Schweizer.
(2010). Cytopathic Bovine Viral Diarrhea Viruses (BVDV) : Emerging
Pestiviruses Doomed To Extinction. Vet Res. Vol. 41 (44) : 1-14.
Primawidyawan, A., Indrawati, A., dan Lukman D.W. (2016). Deteksi Penyakit
Bovine Viral Diarrhea pada Sapi Potong Impor melalui Pelabuhan Tanjung
Priok. ACTA Veterineria Indonesiana. Vol. 4 : (7-13).
Pudjiatmoko. (2014). Manual Penyakit Hewan Mamalia. Direktorat Kesehatan
Hewan : Jakarta.
Sudarisman. (2011). Bovine Viral Diarrhea Pada Sapi Di Indonesia Dan
Permasalahannya. Wartazoa. Vo. 21 (1) : 18-24.
Walz, P. H., Grooms, D.L., Passler, T., Ridpath, J.F., Tremblay, R., Step, D.L.,
Callan, R.J., dan M.D. Givens. (2010). Control of Bovine Viral Diarrhea
Virus in Ruminants. J Vet Intern Med. Vol. 24: 476–486,
Ward, H and Powell J. (2017). Bovine Viral Diarrhea (BVD). University of
Arkansas : Arkansas.
Wuryastuti, Hastari., Wasito, Raden., dan Prabowo Purwono Putro. (2016).
Pelacakan Virus Bovine Viral Diarrhea Pada Darah Yang Dikoleksi Dengan
Kertas Saring Flinders Technology Associates. Vol. 17 (2) : 176-182.

8

Judul: Ilmu Penyakit Dalam Veteriner "bovine Viral Diarrhea"

Oleh: Ihsanul Firdaus


Ikuti kami