Politik Sebagai Ilmu Dan Politik Sebagai Seni.

Oleh Danis Harris

150,6 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Politik Sebagai Ilmu Dan Politik Sebagai Seni.

NAMA : HAMDAN HARIS NIM : 30-600-112-132 JURUSAN ( PRODI ) : ILMU POLITIK SEMESTER : VIII ( DELAPAN ) Angkatan 2012 MATA KULIAH : METODOLOGI ILMU POLITIK POLITIK SEBAGAI ILMU DAN POLITIK SEBAGAI SENI ( MATERI PERTAMA ) A. Politik sebagai Ilmu Pada tahap ini ilmu politik akan dijelaskan bagaimana proses politik itu itu memisahkan diri dari filsapah sebagai patokan atau pemishan dari study social lainya seperti sejarah ekonomi bahkan psikologi dan sosiologi .dan asal mula ilmu itu sendiri,dan bagaimana ilmu politik di akui sebagai ilmu pengetahuan itu sendiri. Untuk pertama kali ilmu politik dianggap sebagai disiplin ilmu tersendiri yang patuh mendapat tempat dalam kurikulum perguruan tinggi akan tetapi pengaruh dari ilmu hokum,filsapah sejarah,social masih terasa(masih pendekatan tradisional)sebelum perang dunia ke 2 yaitu : sejak di dirikan ecole libredes sciences politiques paris (1870) dan London school ekonomi and political science (1895), dan pada tahun 1928 ahli ahli atau sarjana berkumpul di paris sebagai tindak lanjut dari pesatnya perkembangan ilmu politik setelah perang dunia ke 2 juga disebabkan proyek beberapa badan internasional dan unesco yang memaksudkan untuk mengseragamkan dalam terminology dan metodologi dalam ilmu politik.dan inilah yang diyakini nuzurul politik memisahkan diri sebagai disiplin ilmu tersendiri. Kemudian benarkah ilmu politik bisa disebut ilmu pengetahuan ? Sebelum jauh meninjau kepada substansi politik sebagai ilmu pengetahuan sangatlah urgent terlebih dulu kita memahami makna atau arti ilmu itu sendiri dan etimologinya. Sangatlah panjang dan sistematis bagaimana ilmu itu bisa terbentuk dan di akui sebagai ilmu. Pada proses pertama adanya pengamatan terhadap fakta data dan informasi melalui logika. kemudian proses perumusan konsep, perumusan dan penyusunan proporsi, yang kemudian semua tahap di atas di generalisasi, generalisasi di induksi menjadi teori teori, Teori tori tersebut belum bisa dikatakan ilmu karena terlebih dulu harus di simpulkan sementara (hipotesis), disinilah hipotesis di uji benar salahnya melalui kaitanya terhadap fakta data dan inpormasi yang bersipat empiris melalui tahapan veripikasi barulah dapat diakui sebagai ilmu. Lalu apakah benar ilmu politik bisa dikategorikan ilmu pengetahuan ? Hal tersebut bisa kita jawab berdasarkan 2(dua) kategori. 1. Karekteristik ilmu (science) seperti penjelasan diatas bahwa ilmu pengetahuan itu adalah tantangan untuk menguji hipotesis melalui eksperimen yang dapat dilakukan dalam keadan terkontrol(controlled circumstances) seperti labolaturium eksakta ,maka pada kategori ini ilpu politik tsk bisa di klasipikasikan sebagai ilmu pengetahuan,karena ilmu politik mengkaji manusia sebagai objeknya dimana manusia sangat komplek dan memiliki prilaku yang unik,berubah ubah dan tak dapat diramalkan(tidak terkontrol). 2. Dilihat dari definisi yangumum sifatnya. Ilmu yaitu Keseluruhan dari pengetahuan yang terkoordinasi mengenai pemikiran tertentu.apabila formula ini yang jadi acuan maka ilmu politik dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini memicu munculnya pendekatan ilmu politik selain pendekatan tradisional yaitu pendekatan perilaku(behavior) dan paska perilaku(post behavior). Pemikiran pemikiran pendekatan perilaku dapat disimpulkan sebagai berikut : Perilaku manusia adalah komplek, tetapi ada pola pola dan keteraturan perilaku ini ddapat dibuktikan melalui pengamatan yang sistematis dadn teliti.dengan menggunakan statistic dan matematika dapat dirumuskan hokum yang bersifat probalitas.dan nilai tidak boleh masuk terhadap analisis keadaan social. Hal ini berbeda dengan pemikiran post behavior yang lebih menekankan bahwa nilai nilai mesti mewarnai penelitian,dan para ilmuan melibatkan diri secara aktip untuk mengatasi masalah masalah social. Perbedaan antara kaum tradisional dan behaviour Kaum tradisional Kaum behaviour Nilai nilai dan norma norma Fakta Filsafat (sejarah) Penelitian emperis Ilmu terapan Ilmu murni Historis yuridis Sosiologis psikologis Tidak kuantitatif Kuantitatif Konsep - konsep behavior dan post behavior : 1. Konsep behavior atau pendekatan perilaku. a. Prilaku politik memperlihatkan keteraturan (regularities) yang dapat di rumuskan dalam generalisasi-generalisasi. b. Generalisasi ini pada asasnya harus dapat di buktikan kebenaranya (verification) dengan menunjuk pada prilaku yang relevan. c. Untuk mengumpulkan dan menafsirkan data di perlukan teknik teknik penelitian yang cermat. d. Untuk mencapai kecermatan dalam penelitian di perlukan pengukuran dan kuantifikasi melalui ilmu statistic dan matematika e. Dalam membuat analisa politi nilai-nilai pribadi peneliti tidak main peran. f. Peneliti politik mempunyai sifat terbuka terhadap konsep konsep teori dan ilmu social lainya. 2. Konsep atau pokok pokok reaksi post behavior atau tndakan pasca perilaku. a. Dalam usaha mengadakan penelitian yang empiris dan kuantitatif ilmu politik menjadi terlalu abstrak dan tidak relevan terhadap masalah social yang di hadapi, padahal relevansidi anggap lebih penting dari pada pebelitian yang cermat. b. Karna penelitian terlalu bersifat abstrak ilmu politik kehilangan kontak dengan realitas-realitas social , padahal ilmu politik harus melibatkan diri dalam mengatasi krisis krisis yang di hadapi manusia. c. Penelitian mengenai nilai-nilai harus merupakan tugas ilmu politik d. Para cendikiawan mempunyai tugas historis dan unik untuk melibatkan diri dalam usaha mengatasi masalah masalah social . pengetahuan membawa tanggung jawab untuk bertindak harus engage atou commited untuk mencari jalan keluar dari krisis yang di hadapi. Dari uraian konsep post behavior ini dapat di simpulkan bahwa ada usaha para peneliti atau sarjana politik untuk mengubah penelitian dan pendidikan ilmu politik itu sendiri menjadi suatu ilmu pengetahuan yang murni sesuai dengan ppola ilmu eksakta yang telah di jelaskan tahapan tahapannya di depan. Esensi ilmu politik Pada bahasan ini akan sedikit di bahas mengenai definisi ilmu politik dipandang melalui etimologi dan unsure unsure yang tak dapat di pisahkan dari politik itu sendiri(hegar, kekuasaan,pengambilan keputusan,kebijakan,pembagian). Politik berasal dari kata polish yang artinya kota atau madani,jadi dari sini dapat diambil pengertian bahwa politik adalah usaha untuk mencapai masyarakat madani. Untuk mencapai masyaarakat madani sendiri (Negara) tidak akan terlepas dari kekuasaan,pengambilan keputusan,kebijakan public,pemerataan(alokasi distribusi) Pengertian politik menurut unsur unsurpendukung diatas dapat disimpulkan sebagai berikut, 1. Negara (state) Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kehidupan bermasyarakat dengan Negara sebagai bagiannya (J. Barents dalam ilmu politika). 2. Kekuasan (power) Kekuasaan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi prilaku sesuai dengan keingina para pelaku. Jadi ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam bermasyarakat, yaitu sifat hakiki dasar proses-proses ruang lingkup dan hasil hasil focus perhatian seorang sarjana ilmu politik tertuju pada perjuangan untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan melaksanakan kekuasaan atau pengaruh atas orang lain atau menentang pelaksanaan itu (W.A Robson dalam the university teching of social science). 3. Pengambilan keputusan (decision marking) Keputusan adalah hasil dari membuat pilihan diantara beberapa alternative Politik adalah mengambil keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk masyarakat seluruhnya (Joyce mitchell dalam bukunya political analysis and public polisy) 4. Kebijakan Umum (public policy,beleid) Kebijakan adalah suatu kumpulan keputusan yang di ambil oleh seorang pelaku atau kelompok politik,dalam usaha memilih dan m,encapai tujuan. Ilmu politik dilihat dari kebijakan umum adalah kebijakan pemerintah,proses terbentuknya serta akibat akibatnya .(hoogerwerf) artinya membangun masyarakat secara terarah melalui pemakaian kekuasaan 5. Pembagian(distribution) alokasi Pembagian dan alokasi ialah pembagiandan penjatahaan nilai-nilai dalam masyarakat. Politik adalah masalah siapa pendapat apa, kapan dan bagaimana (Harold D.Laswell dalam bukunya Who get what,when,how). B. POLITIK SEBAGAI SENI Apakah politik itu ? Jika mempelajari ilmu politik sangatlah beragam pengertian atau definisi dari sautu pengertian politik dan berbagai prespektif cara pandang yang digunakan. Sama hal nya penulis yang pada mulanya kebingunanan untuk mempelajari suabuah teori politik dan penerapannya. Selama ini mungkin muncul anggapan bahwa politik adalah kejam. Dalam politik tidak mengenal istilah kawan dan lawan, tidak ada teman dan musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan kekuasaan. Ketika ada kepentingan yang sama, maka menjadi kawan untuk bersama-sama mencapai tujuan. Namun ketika kepentingannya berbeda, yang tadinya kawan pun bisa menjadi musuh, siapa cepat dan pintar, dia yang mendapat kekuasaan itu. Memang hal itu tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar. Bahwa yang dimaksud kawan dan lawan tersebut bukan dalam arti hubungan antar sesama manusia secara keseluruhan. Namun kondisi itu berlaku saat terjadi hubungan antar sesama manusia sebagai makhluk politik, yang masing-masing mempunyai tujuan tersendiri untuk mencapai maksud yang diinginkannya. Masing-masing individu atau kelompok yang memiliki kepentingan yang sama, tentunya memiliki strategi dan cara-cara tertentu untuk mencapai tujuannya tersebut. Dalam politik, strategi politik itu sangat penting dan menjadi bagian tersendiri dalam berpolitik. Bahwa ketika menjalankan suatu strategi, kemudian berubah haluan atau strategi, adalah sebuah permainan yang sangat luar biasa. Seseorang yang bisa memainkan strategi politik dengan apik, maka dia bisa menyebutnya sebagai seni berpolitik. Seni tidak hanya pada sesuatu yang bisa dilihat dan disaksikan, tapi juga bisa dirasakan dalam sebuah strategi politik yang sedang berlangsung maupun sudah berlangsung. Mereka yang berhasil menang, mencapai tujuan yang diinginkan bersama, akan merasa senang. Senang menjalankan indahnya seni berpolitik. Mereka yang kalah, pasti akan merasa sakit akan kekalahannya, namun mereka tidak pernah berhenti setelah kalah tersebut. Justru akan mengatur strategi lain, bagaimana ke depan agar bisa menang dan mengalahkan musuhnya tersebut. Seni berpolitik yang telah disuguhkan menjadi evaluasi dan pembelajaran ke depan. Hal inilah yang harus disadari oleh setiap orang, yang belajar ilmu politik maupun belajar berpolitik secara langsung. Bahwa musuh dalam politik, bukan berarti musuh seperti yang terjadi dalam peperangan. Di mana dalam peperangan, harus banyak membunuh untuk menang. Membunuh dalam politik, adalah membunuh atau pun menutup karir politik maupun citra politik lawan-lawannya. Membunuh dalam peperangan adalah perbuatan kejam, tetapi itu harus dilakukan agar tetap bertahan hidup dan menang. Dalam perang, prinsip utamanya adalah membunuh atau dibunuh. Begitu juga dengan di politik, hampir sama. Membunuh lawan-lawan politiknya atau mati terbunuh lebih dulu oleh lawan-lawan politiknya. Itulah kenapa politik disebut kejam. Karena politik adalah perang strategi, untuk mencapai kekuasaan yang diinginkan. Kondisi ini bisa terjadi dalam setiap kehidupan masyarakat, di tingkat organisasi paling kecil pun politik yang dianggap kejam itu pasti ada dan itu semua membutuhkan strategi politik. Ada yang terbunuh dan ada yang membunuh. Bunuh-membunuh ini tentunya dalam pengertian membunuh kesempatan atau pun karir yang diperebutkan bersama. Bukan membunuh secara fisik, sehingga tak bernyawa. Namun jika itu terjadi, maka politik yang dimaksud pun sudah termasuk yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan. Dalam pengertian ilmu politik yang ada, sepertinya yang paling banyak dicerna adalah dalam pengertian di mana politik adalah sebagai konflik untuk mencari atau mempertahankan sumber-sumber yang dianggap penting. Padahal pengertian politik tersebut yang paling utama adalah politik sebagai ilmu tentang tata pemerintahan dan negara . Dalam bidang itu, politik tujuan utamanya adalah mencapai kebaikan bersama. Yang harus tetap dipegang seorang politisi dalam bermain politik, salah satunya adalah etika politik. Ini untuk menghindari terjadi peperangan fisik usai terjadi perang politik. Etika politik ini perlu digunakan, agar hasil-hasil yang diraih dalam peperangan politik bisa dipertanggungjawabkan secara moral. Seperti halnya dalam peperangan, seseorang yang menjadi tawanan harus tetap diperlakukan secara manusiawi, tidak boleh diperlakukan semena-mena, kekerasan bahkan dibunuh. Itu sudah menjadi salah satu klausul atau etika berperang. Di sinilah seninya berpolitik.

Judul: Politik Sebagai Ilmu Dan Politik Sebagai Seni.

Oleh: Danis Harris


Ikuti kami