Malakah Sejarah Ekonomi Dinamika Islam.docx

Oleh Atika Deswara

159,8 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Malakah Sejarah Ekonomi Dinamika Islam.docx

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah Nusantara adalah wilayah kepulauan yang letaknya sangat strategis untuk jalur perdagangan. Penduduk pesisir wilayah di Nusantara bermata pencaharian sebagai pedagang. Nusantara telah berkembang menjadi wilayah perdagangan internasional. Hal ini juga berarti adanya pembauran kebudayaan atau penyebaran pemikiran dan kebiasaan diantara berbagai kebudayaan yang ada.1 Saat itu di Nusantara salah satu pusat perniagaan yang cukup besar adalah kerajaan Sriwijaya yang bercorak Budha. Selepas keruntuhan kerajaan Sriwijaya, pusat perdagangan beralih ke kerajaan Pasai, Malaka, Johor, Patani, Aceh dan Brunei. Malaka pun saat itu membangun kerja sama perdagangan dengan India, Jawa dan Cina. Selain menjadi pusat perdagangan, Malaka juga mengkonsolidasikan politiknya menjadi pusat penyebaran Islam di Nusantara. 2 Perkembangan Islam di berbagai wilayah mana pun termasuk Nusantara sangat terpengaruh oleh perkembangan Islam di Timur Tengah, juga tidak dapat terlepas dari faktor ekonomi dan politik. Dengan adanya penyebaran agama yang pesat maka kerajaan yang bercorak Hindu mulai di taklukkan oleh kerajaan Islam. Dimana hal ini pun menjadi faktor perubahan struktur politik dan ekonomi suatu kerajaan. Maka oleh sebab itu dalam makalah ini penulis ingin membahas “DINAMIKA EKONOMI INDONESIA ZAMAN ISLAM”. 1 Yong Mun Cheong (Ed). Eksplorasi Sejarah India, Asia Tenggara Cina. (Federal Publication: Singapura, 1999) hal 81 2 Anthony Reid. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 ( Yayasan Obor Indonesia, 1992, Jakarta) hal 10 1 B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana perubahan struktur skonomi dari Zaman Hindu ke Islam? 2. Bagaimana Kerajaan Malaka dan Perkembangan ekonomi di Nusantara? 3. Bagaimana terbentuknya jaringan perdangangan Islam Nusantara menjadi akar sejarah Indonesia modren? C. TUJUAN 1. Untuk menjelaskan bagaimana perubahan struktur skonomi dari Zaman Hindu ke Islam. 2. Untuk menguraikan bagaimana Kerajaan Malaka dan Perkembangan ekonomi di Nusantara 3. Untuk menganalisis bagaimana terbentuknya jaringan perdangangan Islam Nusantara menjadi akar sejarah Indonesia modren 2 BAB II PEMBAHASAN A. Perubahan Struktur Ekonomi Dari Hindu Ke Islam Nusantara telah berkembang menjadi wilayah perdagangan internasional. Pada saat itu terdapat dua jalur perniagaan internasional yang digunakan oleh para pedagang, yaitu : 1. Jalur perniagaan melalui darat atau lebih dikenal dengan “Jalur Sutra” (Silk Road) yang dimulai dari daratan Tiongkok (Cina) melalui Asia Tengah, Turkistan hingga ke Laut Tengah. Jalur ini juga berhubungan dengan jalanjalan yang dipergunakan oleh kafilah India. Jalur ini merupakan jalur paling tua yang menghubungkan antara Cina dan Eropa. 2. Jalur perniagaan melalui laut yang dimulai dari Cina melalui Laut Cina kemudian Selat Malaka, Calicut (India), lalu ke Teluk Persia melalui Syam (Syuria) sampai ke Laut Tengah atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menuju Laut Tengah.3 Melalui jalur perniagaan laut komoditi ekspor dari wilayah Nusantara menyebar di pasaran India dan kekaisaran Romawi (Byzantium) yang terus menyebar ke wilayah Eropa. Komoditi ekspor tersebut antara lain terdiri atas rempah-rempah, kayu wangi, kapur barus dan kemenyan. Sejak masa kerajaan lama pada masa kejayaan Hindu-Budha pengaruh rajaraja atau sultan-sultan dari masing-masing kerajaan dalam dunia perdagangan cukup besar. Mereka bertindak tidak sekedar sebagai pengontrol keamanan atau penarik pajak saja, namun sering kali juga bertindak sebagai pemilik modal. Pada dasarnya dunia perdagangan di wilayah Nusantara pada waktu itu mempunyai sifat politis dan kapitialistik.4 Ada dua kerajaan utama di Nusantara yang mempunyai andil besar dalam meramaikan perniagaan Internasional pada kurun abad ke-7 hinga ke-15, yaitu Sriwijaya di Sumatera dan Majapahit di Jawa. 3 Adhuri, D.S. 1993. Hak Ulayat Laut dan Dinamika Masyarakat Nelayan di Indonesia Bagian Timur: Studi Kasus di P. Bebalang, Desa Sathean dan Demta. Masyarakat Indonesia XX (1). Hal. 143-163 4 ibid 3 Keduanya adalah kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan pantai yang kekuatan ekonominya bertumpu pada perdagangan internasional. Sriwijaya berhubungan dengan jalan raya perdagangan internasional dari Cina ke Eropa melalui Selat Malaka. Selain sebagai pusat perdagangan, Sriwijaya juga mempunyai kapal-kapal sendiri untuk perniagaannya. Pelayaran kapal-kapal niaga Sriwijaya meliputi Asia Tenggara sampai India, bahkan hingga Madagaskar. Dominasi perdagangan Sriwijaya mulai mengalami masa surut ketika mendapat serangan dari kerajaan Cola, India pada abad ke-11. Selanjutnya pada abad ke-13 kedudukannya terdesak oleh kerajaan- kerajaan di Jawa Timur, terutama Singosari dengan pemimpinnya Kertanegara yang mengirimkan ekspedisi Pamalayu hingga ke Tumasik.5 Akhirnya keberadaan Sriwijaya betul-betul hilang setelah Majapahit mengirimkan ekspedisi ke wilayah itu. Sejak 1293 sampai 1500 Majapahit yang berpusat di Jawa (Timur) tampil sebagai pengganti Sriwijaya. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, Majapahit mencapai puncak kekuasaannya. Kerajaan tersebut adalah kerajaan agraris dan sekaligus merupakan kerajaan perdagangan. Dengan angkatan laut yang kuat, wilayah kekuasaan Majapahit terbentang dari Maluku hingga Sumatera Utara. Perniagaannya tidak terbatas pada perdagangan dan pelayaran pantai saja, melainkan juga perdagangan seberang laut melalui Malaka menuju Samudera Hindia. Pada saat yang sama, menurut Marcopolo, di Sumatera terdapat kerajaan Tumasik dan Samudra Pasai. Pasai merupakan kerajaan Islam yang mempunyai posisi kuat dalam bidang politik dan ekonomi sehingga mampu mempertahankan kedaulatannya atas Malaka. Namun demikian Pasai mengakui kekuasaan kerajaan Hindhu-Budha Majapahit di Jawa dan juga kekaisaran Cina.. Sebagai pusat perdagangan, Pasai banyak melakukan hubungan dagang dengan Gujarat, Benggala serta kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa. Selain lada, Pasai juga mengekspor beberapa barang dagangan lain, diantaranya yaitu sutra, kapur barus dan emas yang diperoleh dari daerah pedalaman. Sedangkan sutra, orang-orang Pasai memperoleh kemampuan mengolah sutra dari orang-orang Cina. 5 Lapian, A.B. 2008. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke ‐16 dan 17. Jakarta: Komunitas Bambu,hal 7 4 Pada masa Islam stuktur perekonomian tidak terlalu di kontrol oleh kerajaan. Dimana pada masa Islam lebih di utamakan pada perdagangan maritim, rakyat dapat berdagang di pusat-pusat perdangangan dari berbagai kalangan. Hal ini sangat menguntungkan bagi penduduk yang berada di pesisir pantai yang melahirkan syahbandar-syahbandar. Syahbandar merupakan Salah satu jabatan yang penting dan berkaitan erat dengan perdagangan di pelabuhan. Di Malaka, terdapat empat syahbandar yang dipilih secara langsung oleh para pedagang asing dari berbagai kelompok bangsa untuk mengurusi kepentingan mereka masing-masing. B. Malaka Dan Perkembangan Ekonomi Di Nusantara Malaka pada abad ke-15 merupakan suatu kawasan yang berarti dan sangat penting dalam perkembangan sejarah di kawasan Nusantara. Malaka tidak saja berperan aktif dalam bidang politik dan perdagangan untuk kawasan ini, tetapi Malaka telah berhasil menempatkan dirinya sebagai suatu kawasan yang menjadi pusat perkembangan agama Islam, pusat pertemuan berbagai kelompok etnik yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan sebagai pusat untuk melakukan hubungan bilateral diantara kawasan tersebut, terutama hubungan diantara penguasapenguasa di Nusantara. Kebesaran dan keagungan Malaka di Nusantara sebagai negara maritim banyak dipengaruhi oleh sistem ekonomi dan perdagangan yang mereka lakukan. Malaka juga merupakan jantung penggerak di sektor ekonomi di Nusantara dan juga sebagai penggerak perkembangan agama Islam di wilayah ini6, tak hanya sebagai penggerak namun Malaka juga menjadi pusat dari perkembangan islam di nusantara pada waktu itu.7 Bandar Malaka yang berjaya saat itu tentu ada penguasanya, penguasanya adalah kesultanan Malaka yang amat kesohor pada masanya. Proses berdirinya kesultanan Malaka tidak dapat diketahui secara pasti, namun menurut berita Cina kesultanan Malaka didirikan oleh Parameswara yang berasal dari Palembang yang kemudian menyingkir karena serangan dari Tumapel. Abdul Latiff Abu Bakar (ed), Sejarah di Selat Malaka, Persatuan Sejarah Malaysia: Kuala Lumpur, 1984. hal. 3 6 7 ibid 5 Parameswara sendiri adalah pelarian dari kerajaan Majapahit, setelah berhasil lari dari pertikaian tersebut Parameswara sempat singgah di Sriwijaya namun kemudian dia juga lari dari Sriwijaya dan menetap di semenanjung Malaka.Disana dia mendirikan sebuah kesultanan baru bernama Kesultanan Malaka. Selang waktu berselang parameswara menikahi putri pasai yang membuat dia akhirnya memeluk islam sehingga kesultanan Malaka berubah menjadi kesultanan islam. Nama kota Malaka berasal dari sebuah pohon yang disebut Malaka. Ketika peranan Pasai dan pelabuhan-pelabuhan di pesisir Pantai Timur Sumatera berangsur menurun selepas berdirinya Malaka, Malaka berkembang sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam. Walaupun bukti-bukti menunjukkan bahwa Islam telah tersebar di Nusantara sejak abad ke-11 berdasarkan bukti-bukti yang didapat (prasasti, nisan), tetapi perkembangannya tidaklah meluas. Sebaliknya, pesatnya perkembangan agama Islam dimulai ketika Malaka berkembang menjadi sebuah negara yang kuat dan pusat perdagangan yang maju. Melalui Pelabuhan Malaka yang didatangi pedagang-pedagang Islam ini, tersebarlah agama Islam di Brunei, Filipina dan kepulauan nusantara. Dengan jalan bersekutu dengan orang laut yaitu perompak-prompak pengembara proto-melayu di Selat Malaka, maka Malaka berhasil menjadi suatu pelabuhan Internasional yang besar. Selain di untungkan dengan letaknya yang strategis. Usaha pertama Paramisora untuk mendapat pengakuan dan perlindungan dari Tiongkok, agar terlindungi dari bahaya Majapahit.8 Kemunculan Malaka sebagai pusat kegiatan ekonomi antar bangsa dapat dilihat dari dua segi. Yang pertama ialah mengenai penyaluran komoditi dagang yang laku di pasaran ke wilayah sekitar, lalu yang kedua memberikan kemudahan terhadap pedagang lain yang ingin berdagang disana. Sebagai daerah penghasil, Malaka sebenarnya tidak begitu berarti, namun karena letak geografisnya sangat menguntungkan, maka Malaka menjadi pusat perdagangan pada masa itu. Dengan menjadi pusat perdagangan membuat Malaka kedatangan berbagai macam orang dari berbagai belahan dunia sehingga menimbulkan suatu kemajemukan baru didalam perkotaan kota Malaka.9 Melihat bagaimana strategisnya posisi Malaka membuat banyak penduduknya lebih memilih unuk menjadi seorang pelaut dibandingkan bercocok tanam, hal ini disebabkan tanah yang ada di malaka tergolong tidak subur sehingga tidak memungkinkan bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan bercocok tanam beras pun mereka mengimpor dari negeri tetangga Siam. 8 Amri, Emiral dan Mestika. Sejarah Sosial Dan Ekonomi. IKIP Padang : Padang. 1994.Hal 186 9 A.B. Lapian. Pelayaran dan Perdagangan Nusantara Abad ke-16 dan 17. Komunitas Bambu:Jakarta. 2008. Hal 4 6 Kejayaan Malaka disebabkan karena adanya jaminan perdagangan antarbangsa yang berada dipelabuhannya, yaitu jaminan keamanan dari pemerintahan yang menjamin kepentingan perdagangan, terutama bagi pedagang- pedagang asing diantaranya Undang-undang Melaka dan Undang-Undang Laut Melak, Undangundang ini dijadikan rujukan dalam menjalankan pemerintahan, namun terkadang undang-undang ini dikesampingkan oleh para sultan yang menjalankan pemerintahan dan lebih mengikuti kehendak mereka sendiri.9 Undang-undang ini menggambarkan corak dan perkembangan yang dialami oleh masyarakat melayu lama menurut susunan lapisan masyarakat, kepercayaan yang dianut, penggunaan bahasa, adat istiadat dan nilai masyarakat melayu pada masa lalu. Malaka sendiri sebenarnya memainkan beberapa peran didalam perdagangan antar bangsa ini, pertama Malaka berperan sebagai penerima, pembeli dan pengendali barang dagangan untuk di simpan dalam gudang sebelum akhirnya barang tersebut di jual ke pasaran. Lalu yang kedua Malaka berperan sebagai pihak perantara dimana para Malaka menjembatani perdagangan yang dilakukan oleh Timur, Barat dan dari nusantara. Terakhir sebagai tempat yang menyebarkan dan menyalurkan seluruh hasil dagangan yang ada di sana, seolah- olah Malaka sendirilah yang menjual barang tersebut.10 Dengan kurun waktu tersebut bisa dibilang Malaka lama dikenal oleh asing yang menyebabkan nama Malaka juga ikut terdengar kepelosok dunia sebagai kota pelabuhan yang pada akhirnya menarik minat bangsa asing terutama dari Eropa seperti Portugis dan Belanda melalui VOC nya untuk menguasai Malaka. Akibatnya Malaka berubah jadi tempat persaingan pedagang dari Portugis dan VOC. 9 Ismail Hamid. Masyarakat dan Budaya Melayu. Dewan Bahasa dan Pustaka: Kuala Lumpur. 1988. Hal 122 10 Muh. Yusoff Hashim, Kesultanan Melayu Melaka, Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa, 1989, hal 252. 7 Penguasaan Portugis akan Malaka sendiri dimulai pada 1511 dimana pada saat itu armada kapal Portugis yang dipimpin oleh Albuquerque melakukan pelayaran dari Goa menuju Malaka. Peperangan antar Malaka dengan Portugis tidak terelakan, sepanjang perang tersebut Malaka sendiri terhambat oleh masalah internal mereka yaitu permasalahan antara Sultan Mahmud dan Putranya Sultan Ahmad yang baru diserahi kekuasaan yang pada nantinya akan dibunuh atas perintah ayahnya sendiri. Setelah digempur terus menerus oleh pasukan Portugis akhirnya Malaka takluk juga pada portugis pada 1511. Lalu dimulailah kekuasaan Portugis di Malaka yang nantinya akan diikuti oleh penguasaan VOC di Malaka. Mereka berharap dengan menguasai Malaka akan dapat merampas seluruh perdagangan merica di Asia. Namun harapan mereka tidak terpenuhi, mengingat Malaka tidak memproduksi hasil-hasil perdagangan (ekspor) apa pun, termasuk merica yang mereka cari-cari selama ini. Tetapi Malaka semata-mata emporium yang berfungsi sebagai pelabuhan transit bagi para pedagang di wilayah Asia. C. Terbentuknya Jaringan Perdagangan Islam Nusantara Akar Dari Sejarah Indonesia Modren Malaka dengan cepat menjadi suatu perlabuhan yang sangat berhasil karena negara ini dapat menguasai selat Malaka, yaitu salah satu hal yang paling menetukan dalam sistem perdagangan Internasional yang membentang dari Cina dan Maluku di timur sampai Afrika Timur dan Laut Tengah di barat. Pada pertengahan abad 15 Malaka bergerak menaklukan daerah-daerah di kedua tepi Selat yang manghasilkan bahan pangan, timah, emas dan lada sehingga meningkatkan kemakmuran dan posisi strategisnya. Pada tahun 1470-an dan 1480an kerajaan ini menguasai pusat-pusat pendduuk yang penting di seluruh Semenanjung Malaya bagian selatan dan pantai timur sumatera bagian tegah. 8 Aspek yang paling menarik dari Malaka bagi sejarah Indonesia ini ialah jaringan perdagangannya yang luas yang memebentang sampai ke pulau-pulau Indonesia. Trayek-trayek utama dan hasil-hasil yang paling penting yang tercakup adalah sebagai berikut:  Malaka - pantai timur Sumatera : emas, kapur barus, lada, sutra, damar, dan hasil-hasil hutan lainnya, madu, lilin, belerang, besi, kapas, rotan, beras serta bahan-bahan pangan lainnya. Hasil-hasil itu terutama ditukarkan dengan testil India.  Malaka - Sunda (Jawa Barat) : lada, asam jawa, emas, dan bahan pangan lainnya. Hasil ini juga ditukarkan dengan testil India.  Malaka - Jawa Tengah dan Jawa Timur : beras dan bahan-bahan paangan lainnya, lada,asam jawa, batu-batuan semi permata, emas, dan testil yang dimanfaatkan sebagai barang dagangan lebih jauh ke timur. Hasil-hasil ini ditukarkan dengan testil India yang baik mutunya dan barang-barang Cina.  Jawa Barat - Pantai Barat Sumatera : hasil-hasil yang sama dengan hasil-hasil dari pantai timur Sumatera. Terjadi pula perdagangan secara langsung dengan pedagang gujarat yang membawa testil.  Jawa Tengan dan Jawa Timur - Sumatera Selatan : kapas, madu, lilin, rotan, lada, dan emas dikapalkan ke Jawa.  Jawa - Bali, Lombok, Sumbawa : bahan-bahan pangan, testil kasar, budak dan kuda. Hasil-hasil ini ditukarkan dengan testil kasar Jawa.  Bali, Lombok, Sumbawa - Timor, Sumba : kayu cendana dari daerah-daerah timur dan Sumba di tukarkan dengan testil kasar India dan Jawa.  Timor, Sumba - Maluku : pala, cengkeh, dan bunga pala dari Maluku ditukarkan dengan testil kasar Sumbawa, mata uang jawa, dan perhiasan-perhiasan India.  Jawa dan Malaka - Kalimantan Selatan : bahan-bahan pangan, intan, emas, dan kapur barus ditukarkan dengan testil India. 9  Sulawesi Selatan - Malaka, Jawa, Brunei, Siam, Semenanjung Malaya : budak, beras, dan emas dari Makasar di tukarkan langsung oleh orang-oarang Bugis dengan testil India, damar dan lain sebagainya. Di Malaka sistem perdagangan Indonesia ini dihubungkan dengan jalur-jalur yang membentar ke barat samapai India, Persia, Arabia, Siria, Afrika Timur dan Laut Tengah, keutara samai Siam dan Pegu serta ke timur samapai Cina dan Jepang. Ini merupakan sistem perdagangan yang terbesar di dunia pada masa itu, dan dua tenpat pertukarnya yang paling penting adalah Gujarat di India Barat Laut dan Malaka. Kunci dari keberhasilna Malaka tersebut lebih banyak terletak pada kebijakan-kebijakan penguasanya yang telah berhasil membentuk suatu komunitas Internsional diantara para pedagang yang mendapatkan fasilitas-fasilitas yang menguntungkan dari pada fakta bahwa tempat itu merupakan suatu pelabuhan yang baik. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511), pedagang-pedagang Islam memindahkan kegiatannya ke pelabuhan-pelabuhan lain. Dengan cara demikian mereka tetap dapat melanjutkan usaha perdagangannya secara aman. Sehingga, penyaluran komoditas ekspor atau rempah-rempah dari daerah Indonesia ke daerah Laut Merah tetap dapat dikuasai. Pusat-pusat perdagangan dan kekuasaaan yang sudah ada sebelum Malaka jatuh kemudian menjadi berkembang pesat. Pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan yang berkembang itu antara lain, Aceh, Banten, Demak, Tuban, Gresik, Makasar, Ternate dan Tidore. Pedagang-pedagang Islam yang konflik dengan pedagang Portugis menyingkir ke Aceh, Banten dan Makasar. Mereka tetap melakukan perdagangan dan perlayaran dengan pedagang-pedagang luar. Karena jalur melalui Selat Malaka telah dikuasi Portugis, maka mereka membuka jalur perdagangan baru melalui sepanjang pantai barat Sumatera. Pedagang-pedagang Islam berangkat dari bandar Banten lalu masuk ke Selat Sunda terus berlayar ke luar melalui pantai barat Sumatera. Sebaliknya, Banten juga didatangi pedagang-pedagang dari luar seperti Gujarat, Persia, Cina, Turky, Myanmar Selatan dan Keling. 10 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Wilayah Nusantara adalah wilayah kepulauan yang letaknya sangat strategis untuk jalur perdagangan. Penduduk pesisir wilayah di Nusantara bermata pencaharian sebagai pedagang. Nusantara telah berkembang menjadi wilayah perdagangan internasional. Hal ini juga berarti adanya pembauran kebudayaan atau penyebaran pemikiran dan kebiasaan diantara berbagai kebudayaan yang ada. Kemunculan Malaka sebagai pusat kegiatan ekonomi antar bangsa dapat dilihat dari dua segi. Yang pertama ialah mengenai penyaluran komoditi dagang yang laku di pasaran ke wilayah sekitar, lalu yang kedua memberikan kemudahan terhadap pedagang lain yang ingin berdagang disana. Sebagai daerah penghasil, Malaka sebenarnya tidak begitu berarti, namun karena letak geografisnya sangat menguntungkan, maka Malaka menjadi pusat perdagangan pada masa itu. Dengan menjadi pusat perdagangan membuat Malaka kedatangan berbagai macam orang dari berbagai belahan dunia sehingga menimbulkan suatu kemajemukan baru didalam perkotaan kota Malaka. Sehingga dengan pelabuhan Malaka yang sudah menjadi pusat perdangangn menjikan akhirnya menarik minat bangsa asing terutama dari Eropa seperti Portugis dan Belanda melalui VOC menjadi salah satu akar sejarah Indonesia modren. 11

Judul: Malakah Sejarah Ekonomi Dinamika Islam.docx

Oleh: Atika Deswara


Ikuti kami